Deinira Putri Febrianti (1), Zaki Nur Fahmawati (2)
General Background: Juvenile delinquency represents a growing social concern characterized by behaviors that violate social norms, laws, and community expectations during adolescence. Specific Background: Internal factors such as emotional maturity and external factors such as parenting style are frequently associated with adolescent behavioral development, particularly within family environments that shape emotional regulation and social adjustment. Knowledge Gap: Despite increasing reports of adolescent delinquency, empirical evidence simultaneously examining authoritarian parenting and emotional maturity in relation to delinquent behavior tendencies among Indonesian high school students remains limited. Aims: This study aimed to determine the relationship between authoritarian parenting and emotional maturity with tendencies toward juvenile delinquent behavior among senior high school and vocational students in Krian District. Results: Using a quantitative correlational design with quota sampling of 337 students and multiple linear regression analysis, findings indicated that authoritarian parenting and emotional maturity jointly showed a significant relationship with juvenile delinquency tendencies, accounting for 53% of variance. Authoritarian parenting demonstrated a stronger positive relationship with delinquent behavior, whereas emotional maturity showed a significant negative relationship. Novelty: The study provides integrated empirical evidence highlighting the simultaneous contribution of parenting style and emotional developmental factors within a single regression model among adolescents in a local educational context. Implications: These findings underscore the importance of reducing authoritarian parenting practices and promoting emotional maturity development through family and school-based interventions to address adolescent delinquency tendencies and support healthier psychosocial development.
Highlights:
Keywords: Authoritarian Parenting, Emotional Maturity, Juvenile Delinquency, Adolescent Behavior, Parenting Style
Maraknya pemberitaan tentang perilaku kenakalan remaja menimbulkan kekhawatiran di banyak kalangan masyarakat dan orang tua. Banyak kasus tindakan perilaku kenakalan pada remaja yang sekarang kita ketahui. Beberapa remaja menganggap berbagai tindakan menyimpang atau negatif sebagai hal yang biasa, apalagi bagi mereka yang menganggapnya sebagai suatu kebanggan[1]. Di Indonesia tingkat perilaku kenakalan remaja ini cukup tinggi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan perilaku kenakalan remaja yang mencakup kekerasan fisik dan psikis. 3.145 remaja di bawah usia 18 tahun tercatat menjadi pelaku kenakalan dan tidak kriminal pada tahun 2018. Angka ini meningkat menjadi 3.280 hingga 4.123 remaja pada tahun 2019 dan 2020, sehinga kenakalan remaja di Indonesia mencapai 6.325 kasus pada tahun 2021 dengan peningkatan 10.7% dari data sebelumnya dan dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan jumlah kenakalan remaja yang terjadi setiap tahunnya[2]. Kenakalan remaja merujuk pada gejala sosial patologis pada remaja yang timbul akibat pengabaian terhadap norma-norma sosial yang mengarah pada perilaku yang menyimpang[3]. Kenakalan remaja adalah tindakan yang dilakukan remaja bertetangan dengan hukum, agama, dan norma masyarakat yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain[1]. Kecenderungan kenakalan remaja juga dapat diartikan sebagai perikaku yang melanggar aturan yang dapat menimbulkan kerugian dan kerusakan baik bagi diri sendiri maupun orang lain[4]. Rentang luas dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial hingga pelanggaran status atau tindakan krimilan disebut sebagai kenakalan remaja, Remaja adalah masa transisi dari masa anak menjadi dewasa. Pada titik ini remaja sangat mungkin mulai mencari identitas diri mereka. Sanjiwani & Budisetiyani menyatakan bahwa remaja saat ini sering mencoba melakukan hal – hal baru karena rasa ingin tahu yang tinggi dan emosi yang tidak stabil. Mereka juga cenderung tidak mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang sebelum mengambil keputusan untuk bertindak[5]. Hurlock mengemukakan masa remaja anak mulai saat anak mengalami kedewasaan seksual dan berakhirnya ketika mencapai usia dewasa legal. Masa remaja dibagi menjadi dua kategori, masa remaja awal dan masa remaja akhir. Masa remaja awal berlangsung antara umur 13 tahun hingga 17 tahun, sedangkan masa remaja akhir berlansung dar usia 18 tahun sampai usia dimana seseorang dianggap dewasa oleh hukum[6]. Fase remaja ini ditandai dengan timbulnya harga diri yang kuat, ekspresi kegirangan, keberanian yang berlebihan. Seorang anak harus menghadapi berbagai perubahan yang telah terjadi pada usia ini sendirian. Karena itu, remaja di fase ini cenderung membuat kegaduhan dan menganggu. Selain itu, remaja pada tahap ini sangat memperhatikan bagaimana orang lain melihat mereka, sehingga mereka mungkin merasa ucapan yang biasa mereka ucapkan terasa menyakitkan atau menyedihkan [7]. Seorang remaja belum cukup dewasa dan juga tidak lagi dianggap sebagai anak-anak. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai dengan dirinya, kekhawatiran bagi lingkungnnya dan orang tua sering disebabkan oleh kesalahan yang mereka lakukan[8].
Kenakalan remaja bisa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor internal yang mempengaruhi kenakalan remaja adalah kematangan emosi, karena masa remaja sering kali ditandai dengan gejolak emosi yang intens dan kurangnya pengendalian diri [9]. Faktor eksternal yang memperngaruhi kenakalan remaja salah satunya adalah pola asuh orang tua, bahwa keluarga yang mengalami masalah dan berantakan akan mengalami kesedihan dan memiliki pandangan negatif tentang situasi mereka saat ini. Anak tersebut menjadi individu yang tidak bahagia dan bermasalah, yang menghasilkan emosional yang mudah terbakar dan kesulitan menyesuaikan diri dengan masyarakat. Akibatnya, anak-anak mencari pengganti di luar lingkungan keluarganya untuk mengatasi kesedihan mereka, yang sering kali mengarah pada perilaku agresif [10].
Jika kenakalan remaja tidak ditangani dengan segera, remaja tersebut akan tumbuh menjadi individu dengan kepribadian buruk. Banyak orang akan menghindari atau mengucilkan remaja yang melakukan hal-hal buruk. Selain itu, banyak keluarga yang menghadapi konsekuensi malu akibat kenakalan remaja. Para remaja yang melakukan kenakalan akan memiliki masa depan yang tidak menentu dan suram. Jika seorang remaja terjebak dalam pergaulan dan tidak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya, maka hampr dipastikan tidak akan memiliki masa depan yang cerah[11]. Apabila remaja melakukan kesalahan dalam kehidupan masyarakat, itu akan berdampak buruk pada diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Remaja akan dinggap oleh masyarakat sebagai orang orang yang sering membuat gaduh, ricuh, atauh bahkan menganggu ketentraman masyarakat. Mereka akam dipandang sebagai remaja yang tidak bermoral, dan padangan masyarakat terhadap remaja ini akan buruk. Dan perlu membutuhkan waktu serta keikhlasan untuk dapat mengubah semuanya menjadi normal kembali [8].
Pada laman berita DetikJatim terdapat berita terkait aksi gengster turun ke jalan dengan mengacungkan senjata tajam yang terjadi di perempatan wonoayu. Mapolresta Sidoarjo, Selasa (14\3\2023), Kombes Kusumo Wahyu Bintaro, Kapolresta Sidoarjo, mengungkapkan bahwa dua tersangka yang ditangkap telah mengakui bahwa mereka berasal dari geng Warung Belakang (Warkang) dan terlibat dalam tantangan tawuran dengan geng Warung Pojok (Warjok). Mereka diketahui sebagai anggota geng Warkang dan dianggap sebagai gengster murni. Polisi telah mengamankan sejulah pemuda yang melakukan teror dengan membawa senjata tajam di Wonoayu, Sidoarjo. Mereka yang ditangkap adalah FS (18 tahun), beralamat di Desa Kemangsen, Kecamatan Balongbendo, dan D (20 tahun), beralamat di Desa Jeruk Gamping, Kecataman Krian, Sidoarjo.
Radarsidoarjo.id memuat berita tentang aksinya yang sok jagoan dengan senjata tajam oleh anggota gengster di jalanan Krian, kejadian serupa kembali terjadi. Kali ini, polisi Krian berhasil menangkap beberapa pemuda yang diduga terlibat dalam kelompok gengster. Sejauh yang kami ketahui pada Senin (10/4) dini hari. Sejumlah pemuda memulai aksinya di area Jalan Raya Krian. Saat dikonfirmasi Iptu Tri Novi Handono Kasi Humas Polresta Sidoarjo, mengatakan bahwa mereka telah ditangkap oleh anggota Polsek Krian karena membawa sajam yang dianggap mengganggu ketertiban di jalan. Menurut Kapolsek Krian Gatot Setyo Budi, tiga pemuda telah ditahan terkait kejadian tersebut. Saat kejadian terjadi, mereka melintasi Jalan Raya Krian. Yang jelas, salah satu masih ditahan karena membawa senjata tajam. Selain itu, pada 12 maret lalu, gerombolan pemuda yang diduga gangster telah menganiaya seseorang di kawasan Kecamatan Krian.
Berdasarkan laman berita diatas, jenis kenakalan yang dilakukan oleh remaja dibeberapa sekolah tersebut seperti, merokok, minum minuman keras diluar jam sekolah, bertengkar dengan temannya, tawuran, dan juga konvoi membawa senjata tajam. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Baumrim [12] bahwa bentuk - bentuk kenakalan remaja dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu: (1) Kenakalan umum, seperti: suka berkelahi dengan teman, keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tidak pamit, (2) Kenakalan yang berfokus pada pelanggaran dan kejahatan, seperti: mengendarai mobil atau sepeda motor tanpa SIM, mengambil barang tidak izin, mencuri, dan kebut-kebutan, dan (3) Kenakalan khusus seperti: penyalahgunaan narkoba, sex bebas, pemerkosaan, aborsi, dan juga bisa sampai dengan pembunuhan. Wilis mengemukakan kenakalan remaja adalah tindakan remaja yang melanggar hukum, agama, dan norma masyarakat, dapat menganggu ketentraman, dan dapat merusak dirinya sendiri.
Setiap anak memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Menurut Santrock orang tua tidak sebaiknya menghukum atau mengucilkan anak, sebaliknya, orang tua sebaiknya mengembangkan aturan yang jelas dan memberikan kasih sayang kepada anak-anak mereka. Orang tua juga harus menyesuaikan perilaku mereka terhadap anak mereka berdasarkan kedewasaan perkembangan anak. Kehidupan seorang anak sangat dipengaruhi oleh pola asub orang tua mereka. Namun, seringkali banyak orang tua yang tidak menyadari dampak dari tindakan-tindakan mereka terhadap anak-anak. Pola asuh yang tidak tepat kepada anak masih banyak diterapkan oleh orang tua saat ini, mereka masih menerapkan pola asuh sesuai dengan pengalaman masa lalu yang sudah dilewati oleh orang tua pada saat mereka masih kecil. Pengalaman tersebut melibatkan kepatuhan terhadap aturan yang disertaui ancaman, di mana setiap anak diwajibkan mematuhi peraturan tanpa memiliki hak untuk menentangnya[13]. Menurut Baumrind ada 3 jenis pola asuh orang tua, yaitu, pola asuh demokratif, pola asuh otoriter, dan pola asuh permisif [14]. Pola asuh otoriter adalah pendekatan mengandalkan aturan yang ketat, yang memaksa anak untuk berperilaku dan bersikap sesuai keinginan orang tua mereka. Dalam pola asuh ini, anak diharapkan selalu menuruti keinginan orang tua, dengan adanya pembatasan dan hukuman yang mendorong anak untuk mengikuti perintah dan menghormati usaha orang tua [13]. Remaja yang dibesarkan denga pola asuh otoriter sering kali tidak bahagia, merasa takut, dan kurang percaya diri saat membandingkan diri dengan orang lain. mereka cenderung memiliki kemampuan komunikasi yang lemah dan berperilaku agresif[3]. Oleh karena itu pola asuh memiliki peranan penting dalam perkembangan anak. Keluarga adalah lingkungan pertama yang membentuk perilaku remaja. Perilaku orang tua yang diamati sejak lahir akan menjadi bagian dalam diri mereka.
Sementara itu, kematangan emosi merupakan kemampuan untuk memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, memotivasi diri, serta mengelola juga mengontrol emosi dengan baik. Remaja yang mampu mengedalikan diri dan menghindari perilaku impulsif dalam lingkungan sosial adalah remaja yang memiliki kematangan emosi yang baik. Mereka juga tahu cara meminta maaf, mengakui kesalahan, dan berusaha memperbaiki situasi. Dengan kematangan emosi, remaja cenderung menunjukkan sikap yang lebih positif dan tidak impulsif [15]. Kematangan emosi pada remaja dapat ditandai dengan kemampuan untuk beradaptasi, semakin matang emosi seseorang, semakin baik ia dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang menimbulkan tekanan emosional. Remaja yang telah mencapai kematangan emosional mampu menilai situasi secara kritis sebelum beraksi, sehingga tidak bereaksi impulsif tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu [16].
Studi ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurniati et al. pada tahun 2019 dengan judul "Hubungan Antara Pola Asuh otoriter dan kematangan emosi dengan perilaku agresif pada siswa SMP Negeri 2 Medan." Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara pola asuh otoriter dan perilaku agresif, yang berarti bahwa lebih banyak pola asuh otoriter, lebih banyak perilaku agresif. Sumbangannya sebesar 14,7% adalah kontribusi efektif, dan 85,3% lainnya dipengaruhi oleh komponen tambahan yang belum diteliti. Ada korelasi antara kematangan emosi dan perilaku agresif. Ini menunjukkan bahwa tidak ada hipotesis alternatif. Artinya, kematangan emosi siswa tidak secara signifikan diikuti dengan perilaku agresif yang lebih tinggi. Ada korelasi antara variabel perilaku agresif dan variabel pola asuh otoriter.
Zubaida 2023 melakukan penelitian sebelumnya tentang hubungan antara pola asuh otoriter dan kenakalan remaja di SMK PAB 2 Helvtia Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi moment produk yang signifikan, dengan rxy = 0,95 dan p = 0,000. Dengan koefisien determinasi (r2) hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat sebesar 0,911, maka pola asuh otoriter berpengaruh terhadap kenakalan remaja 91,1%. Selain itu, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rianda 2023 dengan judul hubungan kematangan emosi dengan kecenderungan agresif pada remaja di MAN 3 Banda Aceh. Hasil analisis uji hipotesis data menunjukkan koefesien korelasi -0,455 dengan p = 0.00, yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara keduanya.
Berdasarkan fenomena yang dijumpai berkaitan dengan kenakalan remaja dan beberapa hal yang mempengaruhi, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang keterkaitan antara Pola asuh otoriter dengan kematangan emosi dan perilaku kenakalan pada remaja. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui hubungan antara pola asuh otoriter, kematangan emosi dengan perilaku kenakalan remaja kenakalan pada remaja SMA di Kecamatan Krian Sidoarjo.
Penelitan ini adalah penelitian kuantitatif korelasional. Menurut Arikunto, penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara pola asuh otoriter dengan kematangan emosi dengan kecenderungan perilaku delinkuen pada remaja, dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atu tidak hubungan itu.
Instrumen pada penelitian ini menggunakan skala psikologi yang terdiri dari 3 skala, yaitu, skala pola asuh otoriter yang digunakan dalam penelitian ini merupakan adopsi dari skala Mano & Soetjiningsih [17] yang disusun berdasarkan aspek Bumrind (1971) yaitu, kontrol, tuntutan dewasa, komunikasi orang tua, anak, dan kasih sayang yang terdiri dari 23 item pernyataan. Kedua skala kematangan emosi merupakan modifikasi dari skala Rusdian (2023) yang disusun berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh Walgito (30 aitem, α = 0,928) dan skala kenakalan remaja adaptasi dari skala Saraswati & Dinardinata[18] yang disusun berdasarkan aspek yang dikemukakan Jensen (dalam Sarwono, 2010) (32 aitem, α = 0,879).
Populasi penelitian ini adalah siswa SMA di kecamatan Krian berdasarkan hasil data dapodik 2023 siswa SMA dan SMK di kecamatan Krian sebanyak 9.417 siswa. Dalam penelitian ini menetukan ukuran sampel menimum menggunakan tabel isaq & Michel Krecji pada taraf signifikasi α 10% dan didapatkan sampel 337 siswa untuk penelitian ini. Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan teknik kuota sampling. Menurut Sugiono, teknik ini digunakan untuk menentukan sampel sampai jumlah (kuota) sampel terpenuhi. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi linear bergada dengan menggunakan JASP 0.18.3.0
Hasil
A. Uji Normalitas
Uji normalitas menunjukkan bahwa grafik data memiliki distribusi normal, ditandai dengan bentuk piramida yang simetris dan pola garis lurus dalam tabel.
Gambar 1. Uji Normalitas
B. Uji Heretoskesdaktisitas
Penyebaran residu standar dapat digunakan untuk menguji homoskedasitas. Data tidak harus menyebar satu sama lain; mereka tidak harus membentuk pola yang dapat ditarik dari kiri bawah ke kanan atas. Gambar 2 menunjukkan bahwa heteroskedasitas atau homoskedasitas tidak terjadi karena pola penyebaran data adalah acak.
Gambar 2. Uji Heteroskesdaktisitas
Uji Regresi
Berdasarkan hasil analisis yang terdapat pada tabel 2. menunjukkan hipotesis yang mengatakan bahwa secara bersama-sama pola asuh otoriter dan kematangan emosi dapat mempengaruhi kenakalan remaja diterima (F= 188.679; sig. < .001 < 0.05).
Tabel 1. Anova
Adapun besaran effect size (besaran efek) kedua variabel (pola asuh otoriter dan kematangan emosi) terhadap kenakalan remaja sebesar 53%, sisanya dipengaruhi oleh variabel lain, sebagaimana tertuang pada tabel 2. Berdasarkan uji multikulinieritas menunjukkan bahwa (VIF = 1.194 < 10) yang berarti tidak terjadi multikulinieritas. Hasil tersebut bisa dilihat pada tabel 5Dari kedua variabel yaitu pola asuh dan kematangan emosi, yang paling mempengaruhi terhadap kenakalan remaja adalah pola asuh otoriter (t = 2.885; dengan nilai signifikan p = 0.005 > 0.05). sedangkan kematangan emosi berpengaruh terhadap kenakalan remaja (t= -16.432; dengan nilai signifikan p < .001 < 0.05). sebagaimana dituangkan pada tabel 3.
Tabel 2. Model summary - kenakalan remaja
Tabel 3. Coefficients
Tabel 4. Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan data pada tabel 4, dapat disimpulkan bahwa responden penelitian terbagi berdasarkan jenis kelamin sebagai berikut: 114 siswa (33,83%) merupakan siswa berjenis kelamin Laki-laki, sementara siswa berjenis kelamin Perempuan berjumlah 223 siswa (66,17%).
Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana pola asuh otoriter dan kematangan emosi berkorelasi dengan kecenderungan perilaku kenakalan pada remaja. Berdasarkan hasil uji regresi berganda disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara pola asuh otoriter dengan perilaku kenakalan remaja. berdasarkan kedua variabel yaitu pola asuh dan kematangan emosi, yang paling mempengaruhi terhadap kenakalan remaja adalah pola asuh otoriter (t = 428; sig. = 0.001 < 0.05). sedangkan kematangan emosi berpengaruh terhadap kenakalan remaja (t= -16.432; sig. < .001 < 0.05). Semakin tinggi pola asuh otoriter yang diterapkan, maka semakin besar kemungkinan remaja melakukan perilaku kenakalan remaja, penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumya yang dilakukan oleh Aurelia dan Indrawati yang berjudul hubungan antara kematangan emosi dan pola asuh otoriter dengan perilaku agresif siswa di sman 1 jambi mengemukakan bahwa ada 18.1% kontribusi pola asuh otoriter untuk perilaku agresif, menurut koefisien determinan. Variabel dominan pertama, pola asuh otoriter memiliki Rsquare = 0.181, dan variabel dominan kedua kematangan emosi, memiliki Rsquare change = 0.064, sehingga semakin tinggi tingkat pola asuh otoriter yang diterapkan maka semakin tinggi pula perilaku kenakalan remajanya. Sikap orang tua yang sering memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan orang tua dijelaskan pada pola asuh otoriter ini. Penerapan pola asuh otoriter ini bersifat disiplin sebagai orang tua dan anak harus dibuat untuk mematuhi peraturan yang ada tanpa diberikan penjelasan mengapa harus patuh, serta anak tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat meskipun peraturan yang diberikan tidak masuk akal[19]. Sejalan juga dengan penelian terdahulu yang dilakukan oleh Maghfirawati, dkk dengan judul hubungan antara pola asuh otoriter orang tua dengan kecenderungan munculnya kenakalan remaja pada siswa sman 4 kota jambi. Hasil uji spearman menunjukkan nilai p-value 0.006 dan nilai r = 0.275, yang menunjukkan tingkat korelasi yang signifikan dan positif [20].
Tidak semua orang tua tahu bagaimana menangani perubahan anak mereka. Banyak orang tua mencoba untuk memahaminya, tetapi para orang tua justru membuat seorang remaja menjadi lebih buruk. Misalnya, orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter dan kemudian mengeluhkan perilaku tidak dapat diatur anak-anak mereka, bahkan bertindak melawan mereka. Karena itu konflik keluarga, pemberontakan yang menyebabkan beberapa remaja sekarang ini berperilaku menyimpang atau yang disebut dengan perilaku kenakalan remaja [2].
Hasil uji regresi disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kematangan emosi dan kenakalan remaja. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nimas gandadari dengan judul pengaruh asertivitas dan kematangan emosi terhadap perilaku kenakalan remaja pada siswa semarang yogyakarta, bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara kematangan emosi dan perilaku kenakalan remaja dengan sumbangan 6,5%. Ini sejalan degan penelitian sebelumnya oleh astuti dan widiarti dimana nilai t hitung variabel kematangan emosi adalah -3.694 dan nilai signifikansinya 0.001 < 0.05, menunjukkan bahwa kenakalan remaja dapat dipengaruhi oleh kematangan emosi. Remaja dengan kematangan emosi tinggi cenderung lebih mampu menghindari perilaku yang mengarah pada kenakalan remaja, sementara remaja dengan kematangan emosi rendah memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk terlibat dalam perilaku kenakalan remaja [21]. Kematangan emosi mencakup kemampuan untuk mengontrol, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara tepat dan wajar, serta pengendalian diri yang baik untuk menghindari perilaku impulsif, terutama dalam konteks lingkungan sosial. Remaja yang memiliki kemampuan ini akan berkembang mencapai kedewasaan yang baik. Seseorang yang sudah matang secara emosional mampu memotivasi diri sendiri, belajar tentang emosi mereka sendiri dan orang lain, mampu mengelola emosi mereka dengan baik. Mereka juga tidak mudah terbawa emosi atau marah [22]. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh emosinya. Jika seseorang dapat mengelola emosinya dengan baik, mereka akan dapat mengatasi masalahnya dengan mudah [23].
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh otoriter dan kematangan emosi berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Dengan perhatian orang tua yang begitu besar, cenderung dapat menghindari perilaku yang menunjukkan kenakalan remaja. Selain kurangnya dukungan dan perhatian dari orang tua, lingkungan keluarga remaja juga dapat menyebabkan kenakalan remaja. Remaja dengan kematangan emosi yang tinggi cenderung lebih peka terhadap perhatian orang tua. Dengan kesadaran yang baik, mereka dapat menghindari perilaku kenakalan. Keluarga memainkan peran penting dalam pembentukan karakter remaja, kematangan emosi, dan kepribadian remaja di lingkungan sosial. Mengingat kepribadian remaja masih labil, pengawasan dan perhatian dari keluarga sangat diperlukan. Jika anak mendapat pengawasan dan perhatian yang tepat, mereka akan menjadi lebih hati-hati, bertanggung jawab dalam bertindak, dan mampu memotivasi diri untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Dengan demikian, remaja yang memiliki kematangan emosi yang baik dapat memberikan pengaruh positif bagi dirin sendiri, orang tua, dan lingkungan sekitar.
Hasil skor R2 = 0,530 menunjukkan kontribusi efektifitas hubungan variabel pola asuh otoriter dan kematangan emosi terhadap kenakalan remaja. Ini menunjukkan bahwa sebanyak 53% dari pengaruh pola asuh demokratis dan kematangan emosi besara terhadap kenakalan remaja, sementara sisanya 47% dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kurangnya pertahanan diri remaja, pemahaman nilai-nilai agama pada diri remaja, dan kurangnya kasih sayang.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, dan peneliti selanjutnya mungkin harus mempertimbangkan faktor-faktor ini untuk memperbaiki penelitian sebelumya. Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini antara lain : 1) Selama pengambilan data, informasi yang disampaikan oleh responden melalui kuesioner terkadang tidak mencerminkan atau menggambarkan kondisi responden yang sesungguhnya, hal ini disebabkan oleh perbedaan cara berpikir, persepsi, dan pemahaman masing-masing responden, serta faktor lain seperti kejujuran dalam mengisi kuesioner. 2) variabel yang dianalisis terkait dengan perilaku kenakalan remaha hanya meliputi dua variabel, yaitu pola asuh otoriter dan kematangan emosi. Mengingat bahwa penelitian ini hanya mencakup dua variabel, sementara masih banyak variabel lain yang berhubungan dengan perilaku kenakalan remaja, diharapkan penelitian berikutnya dapat memasukkan variabel tambahan selain kedua variabel tersebut agar menghasilkan penelitian yang lebih bervariasi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesa umum pola asuh otoriter dan kematangan emosi berhubungan dengan kenakalan remaja: ada hubungan positif yang signifikan antara pola asuh otoriter dan kenakalan remaja, yang berarti semakin banyak pola asuh otoriter yang diberikan orang tua, semakin banyak perilaku kenakalan remaja yang muncul. Selain itu, ada hubungan negatif yang signifikan antara kematangan emosi dan pola asuh otoriter dengan kenakalan remaja. Jika nilai kematangan emosi lebih tinggi, kemungkinan perilaku kenakalan remaja akan lebih rendah. Sebaliknya, jika nilai kematangan emosi lebih rendah, kemungkinan perilaku kenakalan remaja akan semakin tinggi. Dengan memberikan informasi empiris tentang hubungan antara pola asuh otoriter dan kematangan emosi dengan perilaku kenakalan remaja, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur dalam bidang psikologi perkembangan dan pendidikan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu orang yang mengelola pendidikan remaja di sekolah untuk meningkatkan kematangan emosi siswa dan mengurangi atau mengurangi kenakalan remaja. Selain itu, orang tua diharapkan dapat mengurangi sikap otoriter mereka dengan mengikuti kursus atau pelatihan tentang pentingnya pola asuh yang baik pada anak.
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak SMA dan SMK di Kecamatan Krian yang memberikan kesempatan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat penelitian. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada seluruh siwa \ siswi SMA dan SMK yang sudah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.
L. Karlina, “Fenomena Terjadinya Kenakalan Remaja,” Jurnal Edukasi Nonformal, vol. 1, no. 1, Art. no. 1, Mar 2020.
D. E. S. Murni dan F. Feriyal, “Hubungan pola asuh otoriter dengan kenakalan remaja pada kelas XI di SMK Telematika Sindangkerta Kabupaten Indramayu,” Nautical : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, vol. 1, no. 12, Art. no. 12, Mar 2023.
A. C. N. Utami dan S. T. Raharjo, “Pola Asuh Orang Tua Dan Kenakalan Remaja,” Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial, vol. 4, no. 1, Art. no. 1, Agu 2021, doi: 10.24198/focus.v4i1.22831.
B. Weya dan E. A. Suwu, “Peran orang tua dalam menanggulangi kenakalan remaja di kelurahan Kembu Distrik Kembu kabupaten Tolikara,” Jurnal Holistik, vol. 8, no. 16, hlm. 971, 2015.
T. P. Anggraeni dan R. Rohmatun, “Hubungan Antara Pola Asuh Permisif dengan Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency) Kelas XI di SMA 1 Mejobo Kudus,” Psisula: Prosiding Berkala Psikologi, vol. 1, no. 0, Art. no. 0, Jan 2020, doi: 10.30659/psisula.v1i0.7705.
S. A. Octavia, Motivasi Belajar Dalam Perkembangan Remaja. Deepublish, 2020.
A. Diananda, “Psikologi Remaja Dan Permasalahannya,” Istigna: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, vol. 1, no. 1, Art. no. 1, Jan 2019, doi: 10.33853/istighna.v1i1.20.
D. S. Sumara, S. Humaedi, dan M. B. Santoso, “Kenakalan Remaja Dan Penanganannya,” Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, vol. 4, no. 2, Art. no. 2, Jul 2017, doi: 10.24198/jppm.v4i2.14393.
K. U. Febrianti dan E. Indrawati, “Kematangan Emosi dan Kontrol Diri dengan Kenakalan Remaja,” ikraith-humaniora, vol. 7, no. 3, hlm. 142–148, Okt 2023, doi: 10.37817/ikraith-humaniora.v7i3.3368.
R. Kurniati, A. Menanti, dan S. Hardjo, “Hubungan Antara Pola Asuh Otoriter dan Kematangan Emosi Dengan Perilaku Agresif Pada Siswa SMP Negeri 2 Medan,” Tabularasa: Jurnal Ilmiah Magister Psikologi, vol. 1, no. 1, Art. no. 1, Jan 2019, doi: 10.31289/tabularasa.v1i1.277.
F. Fusnika, D. T. Relita, A. Hartini, dan S. Sarayati, “Peran Perguruan Tinggi Dalam Mensosialisasikan Dampak Kenakalan Remaja Di Smpn 03 Peniti Kabupaten Sekadau,” Jurnal Pekan : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, vol. 4, no. 1, Art. no. 1, Apr 2019, doi: 10.31932/jpk.v4i1.378.
T. Rofiqah dan H. Sitepu, “Bentuk Kenakalan Remaja Sebagai Akibat Broken Home Dan Implikasinya Dalam Pelayanan Bimbingan Konseling,” Kopasta: Journal of the Counseling Guidance Study Program, vol. 6, no. 2, Art. no. 2, Nov 2019, doi: 10.33373/kop.v6i2.2136.
C. W. P. Sari, “Pengaruh Pola Asuh Otoriter Orang Tua Bagi Kehidupan Sosial Aank,” Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), vol. 2, no. 1, Art. no. 1, Apr 2020, doi: 10.31004/jpdk.v2i1.597.
A. W. U. Santosa dan A. Marheni, “Perbedaan kemandirian berdasarkan tipe pola asuh orang tua pada siswa SMP Negeri di Denpasar,” Jurnal Psikologi Udayana, vol. 1, no. 1, hlm. 54–62, 2013.
Y. W. Astuti dan L. R. Sugiarti, “Pengaruh Asertivitas Dan Persepsi Perhatian Orangtua Terhadap Kenakalan Remaja Pada Siswa SMK Dengan Kematangan Emosi Sebagai Variabel Moderasi,” Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), vol. 5, no. 2, Art. no. 2, Apr 2023, doi: 10.31004/jpdk.v5i2.13518.
K. Komarudin, “Membentuk Kematangan Emosi Dan Kekuatan Berpikir Positif Pada Remaja Melalui Pendidikan Jasmani,” Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, vol. 12, no. 2, hlm. 67–75, 2016.
H. J. A. Mano dan C. H. Soetjiningsih, “Pola Asuh Otoriter Dan Kecerdasan Emosi Remaja Di Jayapura,” Jurnal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha, vol. 13, no. 1, Art. no. 1, Jul 2022, doi: 10.23887/jibk.v13i1.42441.
M. N. Saraswati dan A. Dinardinata, “Hubungan Antara Keterlibatan Siswa Dengan Kenakalan Remaja Pada Siswa Kelas XI Di SMA Taruna Nusantara,” Jurnal Empati, vol. 12, no. 1, Art. no. 1, Feb 2023, doi: 10.14710/empati.2023.28820.
B. Taib, D. M. Ummah, dan Y. Bun, “Analisis Pola Asuh Otoriter Orang Tua Terhadap Perkembangan Moral Anak,” Jurnal Ilmiah Cahaya Paud, vol. 2, no. 2, Art. no. 2, Nov 2020, doi: 10.33387/cahayapd.v2i2.2090.
O. Maghfirawati, K. Kamariyah, L. Mekeama, dan S. Imran, “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kecenderungan Munculnya Kenakalan Remaja Di Sekolah Pada Siswa SMAN 4 Kota Jambi,” Jurnal Ners, vol. 7, no. 2, Art. no. 2, Okt 2023, doi: 10.31004/jn.v7i2.16466.
H. Widyawati, “Hubungan Tingkat Status Sosial Ekonomi Dan Kematangan Eemosi Dengan Perilaku Agresif Remaja,” Dwijaloka Jurnal Pendidikan Dasar dan Menengah, vol. 3, no. 2, Art. no. 2, Sep 2022, doi: 10.35473/dwijaloka.v3i2.1763.
N. Gandadari, “Pengaruh Asertivitas Dan Kematangan Emosi Terhadap Perilaku Kenakalan Remaja Pada Siswa Smsr Yogyakarta,” Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling, vol. 4, no. 6, Art. no. 6, 2015, Diakses: 6 April 2024. [Daring]. Tersedia pada: https://journal.student.uny.ac.id/index.php/fipbk/article/view/192
L. S. Nisya dan D. Sofiah, “Religiusitas, Kecerdasan Emosional, Dan Kenakalan Remaja,” Jurnal Psikologi Tabularasa, vol. 7, no. 2, Art. no. 2, 2012, doi: 10.26905/jpt.v7i2.196.