Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Peranan Efikasi Diri dan Kontrol Peranan Efikasi Diri dan Kontrol Diri Terhadap Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

The Role of Self-Efficacy and Self-Control on Academic Procrastination of Students at Muhammadiyah University of Sidoarjo
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Salwa Rosamarta Firmanti (1), Gozali Rusyid Affandi (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Academic procrastination is a prevalent behavioral issue in higher education that affects students’ task completion and academic responsibility. Specific Background: Psychological constructs such as self-control and self-efficacy are frequently associated with students’ tendencies to delay academic tasks. Knowledge Gap: Although prior studies have examined these variables separately, limited empirical evidence simultaneously analyzes their relationship with academic procrastination within a unified quantitative framework. Aims: This study aims to examine the relationship between self-control and self-efficacy with academic procrastination among university students. Results: The findings indicate that self-control and self-efficacy are significantly related to academic procrastination, showing that students with higher levels of self-regulation and confidence in their abilities tend to demonstrate lower procrastination behavior. Novelty: This study provides integrated empirical evidence highlighting the combined role of self-control and self-efficacy in explaining academic procrastination in a university context. Implications: The results suggest the importance of developing psychological interventions and academic guidance programs focusing on strengthening students’ regulatory capacity and personal belief systems to reduce procrastination tendencies in higher education settings.


Keywords: Academic Procrastination, Self-Control, Self-Efficacy, University Students, Quantitative Study


Key Findings Highlights:




  1. Higher regulatory capacity is associated with lower delay in completing academic tasks.




  2. Strong personal belief in academic ability corresponds to reduced postponement behavior.




  3. Both psychological variables jointly contribute to explaining student delay patterns.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan jenjang Strata 1 dengan kisaran usia 19-23 tahun sedang berada dalam fase peralihan dari remaja menuju dewasa. Fase tersebut menuntut mahasiswa menjalani peran ataupun tuntutan baru seperti eksplorasi gaya hidup, penyesuaian diri terhadap pola hidup baru, dan juga kemampuan dalam mengatur dirinya sendiri termasuk tuntutan-tuntutan akademik dalam perkuliahan. Mahasiswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, termasuk dosen . Pengetahuan dibagikan dalam hubungan dua arah antara dosen dan mahasiswa. Dosen memberikan pengetahuan dengan mentransfernya melalui berbagai metode, termasuk bimbingan belajar, diskusi, tugas, dan membaca banyak buku dan referensi. Hal ini dilakukan dengan harapan pengetahuan akan berhasil ditransfer . Karena hal ini terjadi, para pengajar sekarang diharuskan untuk memberikan tugas rumah kepada para mahasiswa. Tingkat kesulitan tugas yang diberikan dosen dapat berubah dari satu tugas ke tugas lainnya. Mahasiswa membawa lebih dari satu beban mata kuliah, yang menyiratkan bahwa mereka dapat menyelesaikan lebih dari satu tugas untuk setiap tugas. Mahasiswa yang memiliki banyak tugas akan kesulitan untuk memutuskan tugas mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan siswa menunda-nunda pekerjaan akademis mereka atau menunda penyelesaian tugas mereka. Beban tugas yang semakin banyak dapat mengakibatkan prokrastinasi akademik .

Prokrastinasi akademik adalah tindakan menunda atau menangguhkan sesuatu dengan alasan yang tidak masuk akal . Kondisi menunda-nunda akan membuat prokrastinasi atau penunda merasa tidak nyaman. Selain motivasi yang tidak rasional, perilaku menunda juga dapat disengaja . Meskipun mereka sadar akan konsekuensi dan potensi kerugian bagi diri mereka sendiri, orang yang menunda-nunda tetap melakukannya. Orang yang menunda-nunda menyadari apa yang perlu dilakukan namun memilih untuk tidak melakukannya.

Menurut data, 80% hingga 95% siswa telah mengakui menunda-nunda, 75% lainnya percaya bahwa hal tersebut telah menjadi kebiasaan umum, dan 50% percaya bahwa hal tersebut terjadi secara bertahap, yang mengarah pada munculnya masalah akademis lainnya . Menurut penelitian yang dilakukan oleh Izzati didapatkan bawah tingkat prokrastinasi akademik berdasarkan program studi menunjukkan semua mahasiswa FPIP memiliki presentase perilaku prokrastinasi akademik sebesar 60,5% menemukan gambaran tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa ditinjau dari program studi di FPIP menunjukkan presentase di setiap prodi berkisar 60,5% hingga 100%. Semua partisipan program studi melakukan prokrastinasi akademik, sesuai dengan gambaran prokrastinasi akademik pada mahasiswa berdasarkan program studi di Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Tingkat prokrastinasi akademik tertinggi di seluruh program studi di FPIP ditemukan di antara mahasiswa psikologi, yaitu sebesar 60,5%, dengan kecenderungan yang signifikan . Konsekuensi masa depan dari penundaan yang berlebihan akan merugikan pelaku. Tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa universitas Muhammadiyah Sidoarjo berdasarkan kategori menunjukkan 22 % mahasiswa melakukan prokrastinasi akademik dengan tingkatan rendah, 58% mahasiwa termasuk dalam kategori sedang dan 20% lainnya termasuk dalam kategori tinggi. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan sebagian besar mahasiswa cenderung melakukan prokrastinasi dalam kategori sedang Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti, terhadap 10 mahasiswa universitas Muhammadiyah sidoarjo, 9 diantaranya mengaku melakukan prokrastinasi akademik berupa penundaan tugas kuliah. Berdasarkan keterangan subjek mengaku perilaku yang dilakukan tersebut berdampak pada nilai akademik.

Menunda-nunda pekerjaan secara berlebihan akan memberikan dampak jangka panjang yang negatif bagi pelakunya. Beberapa dampaknya dapat diamati dalam berbagai konteks, seperti dalam bidang akademis, di mana dampak tersebut dapat terlihat dalam bentuk nilai yang lebih rendah atau kesulitan dalam menyelesaikan tugas. Selain itu, dampak negatif juga dapat terlihat pada domain kesehatan fisik dan mental, seperti mengalami depresi dan membutuhkan perhatian medis yang lebih sering, terutama menjelang akhir semester . Dampak prokrastinasi akademik pada mahasiswa dapat berdampak pada beberapa aspek: 1) aspek afektif (berupa perasaan gelisah, rasa takut, kecemasan, perasaan sedih, stress serta emosi yang sulit dikontrol; 2) aspek kognitif (perasaan gagal dan terbayang akan tugas yang belum tuntas); 3) perilaku (meliputi ketidaksesuaian dalam menjalankan tugas dan penyimpangan perilaku); 4) fisik (meliputi penurunan nafsu makan, mudah lelah, penurunan metabolism tubuh): akademik (seperti pekerjaan tertunda, nilai menurun, tugas menumpuk); 5) moral (seperti menyontek); 6) interpersonal (meliputi stigma negative oleh orang lain, munculnya perasaan tidak enak) .

Aspek-aspek prokrastinasi akademik dapat diukur berdasarkan karakteristiknya. Ada empat aspek yang dapat diteliti: menunda memulai pekerjaan dan menyelesaikan tugas hingga selesai, datang terlambat atau tidak lengkap untuk tugas, membutuhkan waktu lebih lama dari yang diharapkan untuk menyelesaikan tugas, dan memilih kegiatan yang lebih menyenangkan. Banyak penyebab, yang dapat dibagi menjadi penyebab internal dan lingkungan, yang berkontribusi terhadap tingginya persentase penundaan. Keadaan fisik dan psikologis adalah pengaruh internal. Harga diri, kontrol diri, dan efikasi diri adalah contoh gangguan psikis. Pengaruh eksternal meliputi hal-hal seperti lingkungan sekitar dan terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan .

Faktor internal prokrastinasi akademik meliputi efikasi diri, yang merupakan bagian dari elemen kondisi psikologis. Menurut Bandura, efikasi diri adalah gagasan bahwa seseorang dapat merencanakan dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mengelola masalah pada tingkat tertentu. Efikasi diri memiliki dampak pada pemikiran, perasaan, dan tindakan seseorang, yang memungkinkan mereka untuk mengatasi rintangan dan mencapai tujuan mereka. Besarnya tingkat kesulitan dari efikasi diri dapat merujuk pada persepsi seseorang terhadap tugas yang dihadapinya . Efikasi diri juga dapat dipahami sebagai penilaian seseorang terhadap kapasitasnya dalam mengelola dan melakukan tindakan untuk mencapai tujuan.

Efikasi diri merupakan salah satu komponen internal yang membentuk komponen kondisi psikologis. Efikasi diri, menurut Bandura, adalah keyakinan bahwa seseorang dapat mengatur dan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu situasi sampai batas tertentu . Pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh tingkat efikasi diri mereka, yang memungkinkan mereka untuk mengatasi tantangan dan mencapai tujuan mereka. Perspektif seseorang terhadap pekerjaan yang sedang dihadapi dapat disebut sebagai tingkat kesulitan dari efikasi diri. Efikasi diri juga dapat dianggap sebagai evaluasi individu terhadap kemampuan mereka untuk mengarahkan dan melakukan tindakan untuk mencapai tujuan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Venanda mengenai hubungan antara efikasi diri dan prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi mahasiswa menunjukkan bahwa ada korelasi negatif yang signifikan antara keduanya. Semakin tinggi tingkat efikasi diri mahasiswa, semakin rendah kemungkinan mereka melakukan hal-hal yang tidak perlu dalam kuliah dan sebaliknya. Selain itu, penelitian Tuaputimain tentang hubungan antara efikasi diri dan prokrastinasi akademik menunjukkan bahwa siswa dengan efikasi diri tinggi dan prokrastinasi akademik sedang; ada korelasi negatif yang signifikan antara keduanya.

Meninjau faktor internal prokrastinasi akademik yang kedua yaitu kontrol diri, Kontrol Diri merupakan kemampuan untuk bertahan dari gejolak emosi yang jelas. Ketegangan saat menghadapi stres atau menghadapi seseorang yang bermusuhan tanpa menunjukkan perilaku atau sikap yang sebanding adalah beberapa contoh gejala kontrol diri . Ada beberapa komponen indikator kontrol yang dapat dilihat pada diri seseorang, menurut Averill Di antara elemen-elemen tersebut adalah kontrol perilaku, yang melibatkan kapasitas untuk mengontrol bagaimana rangsangan diterapkan dan digunakan. Kontrol keputusan, yang melibatkan kapasitas untuk membuat pilihan yang mengarah pada perilaku moral, kontrol kognitif, yang mencakup kapasitas untuk menangani pengetahuan dan menghasilkan penilaian yang bijaksana. Faktor pertama adalah kapasitas untuk regulasi implementasi. Kapasitas seseorang untuk mengelola kondisi atau situasi disebut sebagai regulasi implementasi. Untuk menentukan apakah dia, atau aturan perilaku yang memanfaatkan kekuatannya, lebih mampu mengendalikan keadaan. Jika seseorang tidak dapat mengendalikan rangsangan mereka sendiri, mereka akan menggunakan kapasitas untuk mengenali ketika input tidak sesuai dengan yang mereka inginkan dan bagaimana mengaturnya. Kapasitas untuk memproses informasi adalah faktor ketiga. Kapasitas seseorang dalam memproses informasi memungkinkan mereka untuk menarik kesimpulan tentang suatu kejadian buruk dari fakta-fakta yang mereka miliki. Pikiran dan perspektif positif juga menjadi dasar bagaimana setiap orang menafsirkan situasi. Membuat keputusan atau memiliki pengaruh atas keputusan tersebut adalah komponen terakhir. Jika seseorang dapat memilih suatu tindakan berdasarkan keyakinannya sendiri, mengendalikan keputusan atau keterampilan membuat keputusan dikatakan bermanfaat. Dalam situasi ini, melatih pengendalian diri akan membuka pintu dan menawarkan fleksibilitas kepada individu untuk memilih dari berbagai pilihan yang tersedia.

Penelitian lain menemukan pengaruh yang signifikan antara penundaan akademis dan pengendalian diri. Menurut penelitian ini, mahasiswa yang memiliki kontrol diri yang baik lebih kecil kemungkinannya untuk melakukan penundaan akademik. Di sisi lain, mahasiswa yang memiliki kontrol diri yang lemah atau rendah lebih mungkin untuk melakukan prokrastinasi akademik. Penelitian ini menggunakan istilah kontrol diri perilaku, kognitif, dan keputusan secara bergantian .

Berdasarkan informasi latar belakang yang diberikan di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan apakah efikasi diri dan kontrol diri berperan dalam prokrastinasi akademik pada mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hipotesis mayor dari penelitian ini adalah prokrastinasi akademik pada mahasiswa psikologi di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dipengaruhi oleh efikasi diri dan kontrol diri. Hipotesis minor yang dibuat dalam penelitian ini meliputi:(H1) Terdapat pengaruh yang signifikan antara efikasi diri mahasiswa dengan prokrastinasi akademik; dan (H2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara kontrol diri mahasiswa dengan prokrastinasi akademik.

Metode

Peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis korelasional. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh efikasi diri dan kontrol diri terhadap prokrastinasi akademik mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo peneliti menggunakan teknik regresi linier berganda untuk memastikan pengaruh antara dua atau lebih variabel independent .

Populasi penelitian ini terdiri dari 7.326 Mahasiwa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Data jumlah mahasiswa tersebut didapatkan dari Direktorat Akademik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Sampel yang digunakan berjumlah 334 mahasiswa. Sampel meliputi mahasiswa semester 2-8 yang tercatat aktif sebagai Mahasiwa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Untuk menghitung jumlah sampel digunakan tabel Isaac dengan tingkat kesalahan 5%. Metode pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling.

Instrumen penelitian yang digunakan peneliti meliputi 3 skala psikologi, antara lain skala efikasi diri, skala control diri dan skala prokrastinasi akademik. Skala efikasi diri, skala kontrol diri, dan skala prokrastinasi akademik yang digunakan dalam peneitian ini berbentuk skala likert. Dalam penelitian ini, skala yang digunakan merupakan skala adaptasi yang telah diuji dari peneliti-peneliti sebelumnya.

Skala efikasi yang digunakan merupakan skala yang diadaptasi dari skala efikasi diri Zahratul Fazila . Disusunnya skala tersebut berlandaskan aspek Bandura yaitu dalamnya aspek level, strength, dan generalisasi. Contoh item yang digunakan “Saya memilih diam daripada menggunjing orang”. Hasil uji validitas menggunakan SPSS didapatkan 5 item dinyatakan gugur dan 16 item dinyatakan valid. Nilai koefisien alpha Cronbach sebesar 0,956.

Skala kontrol diri yang digunakan merupakan skala adaptasi dari skala kontrol diri yang disusun oleh Zulfatul meliputi aspek kontrol perilaku, kontrol kognitif dan kontrol keputusan. Contoh item yang digunakan “Saya yakin dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan benar” Hasil uji validitas menggunakan SPSS didapatkan 4 item dinyatakan gugur dan 17 item dinyatakan valid. Nilai koefisien alpha Cronbach sebesar 0,945.

Skala ketiga yaitu skala Prokrastinasi Akademik merupakan skala yang diadaptasi oleh peneliti dari skala Durrotu Rosyidah yang mengacu pada teori Ferrari meliputi aspkek penundaan, kelambanan, kesenjangan waktu dan pengabaian . Contoh item yang digunakan “Saya sulit menjalankan jadwal yang sudah saya buat sendiri” Hasil uji validitas menggunakan SPSS didapatkan 7 item dinyatakan gugur dan 19 item dinyatakan valid. Nilai koefisien alpha Cronbach sebesar 0,945

Skala yang sudah ditentukan kemudian terlebih dahulu dilakukan uji coba/try out yaitu uji coba alat ukur yang telah diadaptasi untuk kemudian dilakukan cek validitas dan reliabilitas. Hingga pada akhirnya alat ukur dirasa mampu mengukur sesuai variabel yang telah ditentukan, dan yang terakhir pelaksanaan penelitian. Uji coba atau try out yang sudah dilakukan dan mendapatkan hasil kemudian diajukan kembali kepada sampel penelitian dengan cara yang sama, namun item-item yang gugur dihilangkan.

Penelitian ini menggunakan teknik regresi linear sebagai teknik Analisa data dengan bantuan spss statistic 20.0 . pemilihan teknik ini didasari pada tujuan peneliti yang ingin mengetahui peranan efikasi diri dan kontrol diri terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa universitas muhammdiyah sidoarjo. Teknik regresi linear berganda juga dilakukan untuk memenuhi uji asumsi sebelum dilakukan uji hipotesis.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Analisis Deskriptif

Tabel 1 berisi hasil analisis deskriptif skala efikasi diri berdasarkan 3 kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Dalam kategori rendah diperoleh sebanyak 43 responden termasuk dalam kategori rendah dengan presentase 12,9 %, sebanyak 217 responden termasuk dalam kategori sedang dengan presentase 65 % dan 74 responden termasuk dalam kategori tinggi dengan presentase 22,1 %. Berdasarkan tabel hasil dari kategorisasi skala efikasi diri yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam variabel efikasi diri cenderung berada pada kategori sedang.

Kategori Interval kelas F %
Rendah X< 26 43 12,9 %
Sedang 26 ≤ X < 50 217 65%
Tinggi 50 ≤ X 74 22,1 %
Total 100 %
Table 1. Tabel 1 . Kategorisasi Efikasi Diri

Tabel 2 berisi hasil analisis deskriptif skala kontrol diri berdasarkan dari 3 kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Dalam kategori rendah diperoleh sebanyak 52 responden termasuk dalam kategori rendah dengan presentase 15,5 %, sebanyak 218 responden termasuk dalam kategori sedang dengan presentase 65,3 % dan 64 responden termasuk dalam kategori tinggi dengan presentase 19,2 %. Berdasarkan tabel hasil dari kategorisasi skala kontrol diri yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam variabel kontrol diri cenderung berada pada kategori sedang.

Kategori Interval kelas F %
Rendah X< 28 52 15,5 %
Sedang 28 ≤ X < 49 218 65,3 %
Tinggi 49 ≤ X 64 19,2 %
Total 100 %
Table 2. Tabel 2 . Kategorisasi Kontrol Diri

Tabel 3 berisi hasil analisis deskriptif prokrastinasi akademik berdasarkan dari 3 kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Diketahui dalam kategori rendah diperoleh sebanyak 55 responden termasuk dalam kategori rendah dengan presentase 16,5 %, sebanyak 239 responden termasuk dalam kategori sedang dengan presentase 71.5 % dan 40 responden termasuk dalam kategori tinggi dengan presentase 12 %. Berdasarkan tabel hasil dari kategorisasi skala prokrastinasi akademik yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam variabel prokrastinasi akademik cenderung berada pada kategori sedang.

Kategori Interval kelas F %
Rendah X< 41 55 16.5 %
Sedang 41 ≤ X < 65 239 71.5 %
Tinggi 65 ≤ X 40 12 %
Total 100 %
Table 3. Tabel 3 . Kategorisasi Prokrastinasi Akademik

UJI ASUMSI

Hasil pengujian menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Dengan demikian, variable kontrol diri dan efikasi diri dengan prokrastinasi akademik dapat memenuhi syarat uji asumsi normalitas. Hal ini didukung dengan uji normalitas sebaran variable control diri dan efikasi diri yang dilakukan dengan menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov menghasilkan nilai signifikansi p = 0,200 (p>0,05)

Variabel sig. Ket
Efikasi diri dan kontrol diri dengan prokrastinasi akademik 0.200 Normal
Table 4. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas

Hasil uji linearitas antara efikasi diri dengan prokrastinasi akademik dan kontrol diri dengan prokrastinasi akademik menunjukkan adanya hubungan linear antara kedua variabel. Nilai f = 844.907 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 untuk variabel pertama dan nilai f = 291.855 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 untuk variabel kedua menunjukkan bahwa terdapat hubungan linear antara kedua variabel.

Variabel F sig. Ket
Efikasi diri – Prokrastinasi Akademik 844.907 .000 Linear
Kontrol diri – Prokrastinasi Akademik 291.855 .000 Linear
Table 5. Tabel 5. Hasil Uji Linieritas

Berdasarkan analisis data, tidak ditemukan adanya multikolinearitas pada variabel independen yaitu kontrol diri dan efikasi diri yang ditunjukkan dengan nilai toleransi sebesar 0,768 > 0,10 dan nilai VIF sebesar 1,302 < 10,0 yang diperoleh dari uji multikolinieritas antara kedua variabel tersebut.

Variabel Tolerance VIF Ket
Efikasi diri .768 1.302 Tidak terjadi multikolinearitas
Kontrol diri .768 1.302 Tidak terjadi multikolinearitas
Table 6. Tabel 6. Hasil Uji Multikolinearitas

UJI HIPOTESIS

Bedasarkan uji korelasi pearson correlation yang dilakukan. Maka ditemukan efikasi diri memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap prokrastinasi akademik (r = -.781, sig<.001) dengan demikian H1 diterima Selanjutnya ditemukan pula pengaruh negatif yang signifikan antara konrol diri dengan prokrastinasi akademik (r = -.614, sig<.001) dengan demikia H2 diterima. Bedasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkatan variabel independent, maka akan semakin rendah tingkatan variabel dependen dan begitu juga sebaliknya.

Variabel Prokrastinasi Akademik Efikasi diri Kontrol diri
Prokrastinasi Akademik Pearson correlation 1 -.781 -.614
Sig. . .000 .000
Efikasi diri Pearson correlation -.781 1 482
Sig. .000 . .000
Kontrol diri Pearson correlation -.614 482 1
Sig. .000 .000
Table 7. Tabel 7. Hasil Uji Korelasi

Hasil uji regresi linear berganda yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara simultan, efikasi diri dan prokrastinasi akademik dapat berpengaruh secara signifikan kepada prokrastinasi akademik (F = 357.235, sig=.000). Lebih lanjut analisis secara individual dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa efikasi diri dapat berdampak secara signifikan kepada prokrastinasi akademik (t = -17.890, sig<.001) dan begitu juga dengan kontrol diri (t = -8.780, sig<.001). Maka bedasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa baik secara simultan atau individual, efikasi diri dan kontrol diri dapat berdampak secara signifikan kepada prokrastinasi akademik.

F Sig.
Regression 357.235 .000
Table 8. Tabel 8. Hasil Uji F
Variabel T Sig.
Efikasi diri -17.890 .000
Kontrol diri -8.780 .000
Table 9. Tabel 9. Hasil Uji T

Hasil sumbangan efektif yang diberikan efikasi diri dan kontrol diri kepada prokrastinasi akademik sebesar 68,3%. Maka, sebanyak 31,7% fenomena prokrastinasi akademik pada sampel penelitian dipengaruhi oleh variabel lain yang berada diluar variabel efikasi diri dan kontrol diri.

Model R R Square Adjusted R Square
1 .827 .683 .681
Table 10. Tabel 10. Sumbangan Efektif

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan sebesar 71,5 % responden (239 mahasiwa) memiliki tingkat prokrastinasi akademik dalam kategori sedang. Prokrastinasi akademik sendiri dapat terjadi karena beberapa faktor. Dalam penelitian ini ditemukan ada 2 faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik yaitu efikasi diri dan kontrol diri.

Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa efikasi diri dan kontrol diri memiliki pengaruh yang negative terhadap prokrastinasi akademik. Efikasi diri memililiki pengaruh negatif yang signifikan antara prorkrasi akademik dengan nilai r = -.781, sig<.001 sedangkan kontrol diri memiliki pengaruh negatif yang signifikan antara dengan prokrastinasi akademik dengan nilai r = -.614, sig<.001 Hal ini berarti semakin rendah efikasi diri dan kontrol diri yang dimiliki mahasiswa maka semakin tinggi tingkat prokrastinasi akademik yang dilakukan oleh mahasiswa. Adanya pengaruh yang signifikan dengan arah yang negatif ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pertiwi . Dalam penelitiannya ditemukan bahwa variable efikasi diri dan kontrol diri memiliki hubungan yang kuat terhadap prokrastinasi akademik. Penelitian lain yang dilakukan Mudalifah juga menunjukkan adanya hubungan yang negative antara efikasi diri dan kontrol diri dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Menurutunya semakin tinggi efikasi diri maka akan semakin rendah nilai prokrastinasi akademiknya. Ini juga berlaku pada variable kontrol diri, semakin tinggi kontrol diri yang dimiliki maka akan semakin rendak tingkat prokrastinasi akademik yang dilakukan oleh mahasiswa.

Prokrastinasi yang terjadi sebagian besar dipengaruhi oleh faktor psikis, beberapa diantaranya adalah efikasi diri dan kontrol diri. Berkenaan dengan rendahnya efiksi diri yang berpengaruh terhadap tingginya prokrastinasi akademik. Penundaan tersebut tidak dilakukan dengan sengaja atau dengan niatan, melainkan indivisu tersebut yakin bahwa keputusan yang diambil dengan matang akan menhasilkan hasil yang memuaskan meskipun selesai tidak tepat waktu. Mahasiswa dengan tingkat efikasi diri dan konrol diri yang rendah dinilai belum mampu mengerjakan tugas akademik tepat waktu. Efikasi diri dapat dilihat berdasarkan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan diri dalam mengahadapi hambatan di berbagai situasi yang tergolong rendah serta kecenderungan putus asa yang timbul akibat individu belum mampu mengatasi masalah yang dihadapi. Rendahnya efikasi diri pada mahasiswa mengakibatkan tidak adanya dorongan dalam menyelesaikan tugas akademik dan menyebabkan prokrastinasi akademik pada mahasiswa . Tingginya prokrastinasi akademik memeiliki berbagai damak negative bagi pelakunya. Dampak-dampak tersebut antara lain timbulnya perasaan takut gagal, kecemasan dalam hubungan sosial, perasaan bersalah dan menyesal serta kesulitan dalam mengerjakan sesuatu sesuai ketentuan

Efikasi diri yang baik akan membantu mahasiswa dalam menghadapi tekanan serta tuntutan yang dihadapinya melalui keyakinan dalam dirinya. Keyakinan akan kemampuan diri dalam mahasiswa juga membantu mendorong pikiran positif sehingga mahasiswa semakin siap dalam melakukan kegiatan yang akan datang. Dengan kondisi-kondisi yang demikian pada akhirnya mahasiswa akan mampu mengambil keputusan akan tindakan yang harus dilakukan.. Dalam temuan peneliti, tingkat efikasi diri mahasiswa Universitas Muhammdiyah Sidoarjo dalam ketegori sedang dengan presentase 62 % dan kontrol diri dalam kategori sedang degan presentase 53,8%. Hal ini menunjukkan lebih dari 50% mahasiswa masih memiliki efikasi diri serta kontrol diri yang kurang.

Mahasiswa dengan kontrol diri yang baik akan mampu mengatur dan memprioritaskan pekerjaan apa yang lebih utama. Mahasiswa dengan kontrol diri yang rendah akan cenderung lebih mengutamaka hal yang dirasa lebih menyenangkan. Hal ini lah yang akhirnya mendorong mahasiswa untuk melakukan prokrastinasi akademik. Kontrol diri yang rendah juga menandakan mahasiswa tidak mampu memahami situasi serta mempertimbangkan konsekuensi yang akan terjadi . Secara tidak langsung mahasiswa harus memiliki kontrol diri yang baik untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan. Hal ini juga akan menghindarakan mahasiswa dari perilaku prokrastinasi akademik dan dapat mencapai keberhasilan akademik dengan maksimal.

Kontrol diri dipengaruhi 3 faktor yang sangat berperan. 3 faktor tersebuat adalah kontrol perilaku, kontrol kognitif serta kontrol keputusan. Dalam bidang akademik, kontrol diri dapat menunjang beberapa proses di dalamnya, salah satunya dalam pengerjaan tugas. Kontrol diri yang baik menjadikan mahasiswa mempu menghadapi kondisi sosial yang terjadi sehingga minim kemungkinan mahasiswa akan melakukan penyimpangan seperti prokrastinasi akademik . Pentingnya kontrol diri juga disebutkan oleh Khoirotun bahwa kontrol diri yang baik membantu individu mendapatkan pencapaian belajar yang baik. Hal ini karena kontrol diri dalam individu berperan dalam menangani tuntutan-tuntutan akademik. Ketercapaian ini juga berlaku sebaliknya, kontrol diri yang rendah mengakibatkan individu sulit mendapatkan ketercapaian yang baik dalam bidang akademik.

Hasil sumbangan efektif yang diberikan efikasi diri dan kontrol diri kepada prokrastinasi akademik sebesar 68,3%. Maka, sebanyak 31,7% fenomena prokrastinasi akademik pada sampel penelitian dipengaruhi oleh variabel lain yang berada diluar variabel efikasi diri dan kontrol diri. Terdapat 2 kategori faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat meliputi iterrole conflict, self regulated learning, kontrol diri, self efficacy dan manajemen waktu yang buruk. Faktor kedua yaitu faktor eksternal meliputi tingginya tigkat keakifan mahasiswa dalam kegiatan organisasi, peer group dan komformitas

Penelitian ini hanya mengkaji variable efikasi diri dan kontrol diri terhadap prokrastinasi akademik sehingga beberapa faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik lainnya belum dapat diungkapkan. Adapun beberapa faktor lain yang ditemukan pada penelitian-penelitian sebelumnya dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain kondisi fisik dan kondisi psikologis, sedangkan faktor eksternal yaitu kondisi lingkungan. Kondisi psikologis yang ada pada setiap diri dapat berbeda-beda, oleh karena ini penelitian selanjutnya diharap mampu mengkaji variable yang belum diungkap dalam perannya terhadap prokrastinasi akademik.

Simpulan

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian diterima. Terdapat pengaruh yang signifikan antara efikasi dan kontrol diri terhadap prokrastinasi akademik di Universitas Muhammdiyah Sidoarjo. Berdasarkan uji korelasi, menunjukkan rendahnya efikasi diri dapat mengakibatkan tingginya tingkat prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Hal ini juga terjadi pada kontrol diri, rendahnya kontrol diri menyebabkan tingginya tingkat prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Dengan hasil kategori diketahui mahasiswa termasuk dalam kategori sedang. Harapannya agar mahasiswa Universitas Muhammdiyah Sidoarjo dapat lebih meningkatkan efikasi diri dan kontrol diri guna meminimalisir prokrastinasi akademik yang akan berdampak bagi keberlangsungan kegiatan akademik.

Berdasarkan temuan penelitian, saran yang diberikan kepada universitas agar lebih serius dalam mengurangi prokrastinasi akademik mahasiswa dengan meningkatkan efikasi diri serta kontrol diri. Saran yang diberikan kepada mahasiswa yaitu agar mahasiswa mampu meningkatkan efikasi diri serta kontrol diri. Meningkatkan efikasi diri dapat dilaukan dengan berbagai cara, beberapa diantaranya pelatihan komunikasi efektif, mencari lingkungan yang penuh dorongan dan lain-lain sedangkan meningkatkan kontrol diri dapat dilakukan dengan membuat to do list terkait jadwal dan rencana-rencana yang ingin dicapai, melakukan meditasi dan lain-lain.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada seluruh responden yang telah bersedia memberikan data serta meluangkan waktu untuk kelancaran penelitian. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan ilmu serta data yang sangat membantu dalam kelancaran penelitian.

References

[1] F. A. Chairunnisa, A. L. Susanti, and L. K. Budianto, “Perbandingan Indeks Eritrosit Darah K3EDTA Setelah Lama Penyimpanan 2 Jam, 4 Jam, dan 6 Jam,” Bandung: Universitas Jenderal Achmad Yani, 2017.

[2] H. Hartosujono, “Perilaku Prokrastinasi Mahasiswa Ditinjau dari Locus of Control,” Jurnal Spirits, vol. 3, no. 1, pp. 28–42, 2012, doi: 10.30738/spirits.v3i1.1123.

[3] H. H. Fauziah, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung,” Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 2, no. 2, pp. 123–132, 2016, doi: 10.15575/psy.v2i2.453.

[4] I. Sebastian, “Never Be Afraid: Hubungan antara Fear of Failure dan Prokrastinasi Akademik,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, vol. 2, no. 1, pp. 1–8, 2013.

[5] A. Haryanti and R. Santoso, “Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa yang Aktif Berorganisasi,” Sukma: Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 1, no. 1, pp. 41–47, 2020.

[6] E. W. Maryam and G. Affandi, “Sense of Community dan Self-Regulated Learning sebagai Prediktor Prokrastinasi Akademik Mahasiswa,” Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi, vol. 4, no. 2, pp. 182–200, 2019, doi: 10.33367/psi.v4i2.867.

[7] R. Izzati and D. Nastiti, “Academic Procrastination for Students of the Faculty of Psychology and Educational Sciences,” Indonesian Journal of Education Methods Development, vol. 19, pp. 1–6, 2022, doi: 10.21070/ijemd.v19i.659.

[8] O. Orsy and D. Nastiti, “Hubungan antara Self-Regulated Learning dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo,” 2022.

[9] S. Suhadianto and N. Pratitis, “Eksplorasi Faktor Penyebab, Dampak dan Strategi Penanganan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa,” Jurnal RAP, vol. 10, no. 2, pp. 204–223, 2020, doi: 10.24036/rapun.v10i2.106672.

[10] N. Sitompul, “Conflict Resolution dan Subjective Well-Being Pasangan Suami Istri Masa Awal Pernikahan,” STIKes Santa Elisabeth Medan, 2021.

[11] M. Elvira, “Analisis Faktor Dominan Penyebab Perilaku Prokrastinasi Akademik pada Anggota HIMAJIP,” Universitas Lampung, 2021.

[12] A. Salim, “Perbedaan Self-Efficacy Ditinjau dari Keikutsertaan Mahasiswa dalam Berorganisasi,” Universitas Muhammadiyah Malang, 2016.

[13] Y. A. Venanda, “Hubungan Self-Efficacy dengan Prokrastinasi Akademik dalam Penyelesaian Skripsi,” Jurnal Psikologi Tabularasa, vol. 17, no. 1, pp. 40–55, 2022, doi: 10.26905/jpt.v17i1.8090.

[14] H. Tuaputimain, “Korelasi antara Self-Efficacy dan Prokrastinasi Akademik,” Jurnal Teologi Berita Hidup, vol. 4, no. 1, pp. 180–191, 2021, doi: 10.38189/jtbh.v4i1.187.

[15] H. Ahmad, “Hubungan Kestabilan Emosi dengan Kontrol Diri Siswa Sekolah Menengah Pertama,” Realita: Jurnal Bimbingan dan Konseling, vol. 6, no. 2, pp. 1354–1364, 2021, doi: 10.33394/realita.v6i2.4495.

[16] Averill, “Hubungan Kontrol Diri dengan Prokrastinasi Kerja pada Pegawai PT PLN Rayon Samarinda Ilir,” Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 2, no. 4, pp. 214–221, 2014, doi: 10.30872/psikoborneo.v2i4.3667.

[17] E. Susanti and D. Nurwidawati, “Hubungan antara Kontrol Diri dan Konformitas dengan Prokrastinasi Akademik,” Character, vol. 2, no. 3, pp. 1–7, 2014.

[18] P. R. Agustianti et al., Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Tohar Media, 2022.

[19] Z. Fazila, “Hubungan antara Self-Efficacy dengan Stres Akademik pada Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh di Masa Pandemi COVID-19,” UIN Ar-Raniry, 2021.

[20] Z. Khoirssani, “Hubungan Kontrol Diri dengan Kecerdasan Emosional pada Santriwati,” Walisongo nstitutional Repository, 2017.

[21] D. Rosyidah, “Hubungan antara Adversity Quotient dengan Perilaku Prokrastinasi Akademik,” 2021.

[22] S. Pertiwi and E. Darminto, “Hubungan antara Prokrastinasi Akademik dengan Self-Efficacy dan Kontrol Diri Peserta Didik SMA,” Teraputik: Jurnal Bimbingan dan Konseling, vol. 6, no. 2, pp. 248–260, 2022, doi: 10.26539/teraputik.621185.

[23] K. Mudalifah, N. I. Madhuri, and S. PGRI Tulungagung, “Kontrol Diri dan Self-Efficacy terhadap Prokrastinasi Akademik,” Jurnal Inovasi Pendidikan Ekonomi, vol. 9, no. 2, pp. 91–98, 2019, doi: 10.24036/0110052050.

[24] D. F. Aisy and S. Sugiyo, “Kontrol Diri terhadap Prokrastinasi Akademik Siswa,” Konseling Edukasi: Journal of Guidance and Counseling, vol. 5, no. 2, pp. 157–168, 2021, doi: 10.21043/konseling.v5i2.12068.

[25] M. Herawati and I. Suyahya, “Self-Efficacy terhadap Prokrastinasi Akademik Peserta Didik,” Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Kaluni, vol. 2, 2019, doi: 10.30998/prokaluni.v2i0.148.

[26] M. Manan and W. G. Widyarto, “Hubungan antara Self-Efficacy dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam,” vol. 8, no. 2, pp. 129–149, 2022, doi: 10.22373/je.v8i2.13063.

[27] Suhartini, “Hubungan antara Kontrol Diri dengan Prokrastinasi Akademik dalam Mengerjakan Skripsi,” Universitas Islam Riau, 2019.

[28] F. K. Chisan and M. Jannah, “Hubungan antara Kontrol Diri dengan Prokrastinasi Akademik pada Siswa Sekolah Menengah Atas,” 2020.

[29] K. Agung, C. Dinata, and F. A. Nurcahyo, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik Mahasiswa yang Mengikuti Organisasi,” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, vol. 10, no. 8, pp. 619–628, 2024, doi: 10.5281/zenodo.11109471.