Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Pengendalian Diri dan Gaya Hidup Hedonis dalam Perilaku Konsumtif Mahasiswa

Self Control and Hedonistic Lifestyle in Student Consumptive Behavior
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Muhamad Gustaf adijaya Atmaja (1), Lely Ika Mariyati (2)

(1) Universitas Muhammadiyah sir, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo , Indonesia

Abstract:

General Background: Consumptive behavior among university students has become a significant issue in contemporary socio-economic and psychological discourse, particularly in relation to self-regulation and lifestyle orientation. Specific Background: Students are frequently exposed to hedonistic lifestyle patterns and digital consumption trends that shape spending behavior beyond primary needs. Knowledge Gap: Although previous studies have examined self control or hedonistic lifestyle separately, limited empirical research integrates both variables simultaneously in explaining student consumptive behavior within the same analytical model. Aims: This study aims to analyze the relationship between self control and hedonistic lifestyle with consumptive behavior among university students. Results: The findings indicate that self control is negatively associated with consumptive behavior, while hedonistic lifestyle shows a positive association. Simultaneously, both variables contribute significantly to explaining variations in student spending patterns. Novelty: This research offers an integrated empirical examination of self control and hedonistic lifestyle as concurrent predictors within a single quantitative framework. Implications: The results provide a conceptual basis for developing educational interventions and financial awareness programs targeting students to foster responsible consumption patterns.


Keywords: Self Control, Hedonistic Lifestyle, Consumptive Behavior, University Students, Quantitative Analysis


Key Findings Highlights:




  1. Self regulation capacity is inversely related to excessive spending tendencies among respondents.




  2. Pleasure oriented life patterns are positively linked to non-essential purchasing decisions.




  3. Combined predictors statistically explain variation in student expenditure patterns.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Indonesia adalah salah satu negara berkembang di tingkat dunia yang terdampak pada gaya hidup masyarakatnya, seperti gaya hidup komsumtif[1]. Untuk bersenang-senang, mahasiswa harus menghabiskan uang, waktu, dan tenaga untuk pergi, nongkrong, dan lain-lain. Sehingga keinginan mereka untuk membeli barang mewah akan meningkat. Perilaku membeli dan keinginan dipengaruhi oleh gaya hidup. Gaya hidup adalah cara yang baik untuk menunjukkan sikap, nilai, dan kekayaan seseorang. Seiring dengan sejarah modernisasi ekonomi dan transformasi kapitalisme konsumsinya, populasi konsumen Indonesia tampaknya tumbuh seiring dengan perkembangan pusat perbelanjaan modern, mode, kecantikan, makanan, dan iklan produk mewah, serta dunia belanja teknologi online. Gaya hidup membantu menunjukkan sikap, nilai, dan kekayaan.[2]. Peneliti telah melakukan survey awal pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan mengacu pada teori perilaku konsumtif komsumtif menurut Rizky, dihasilkan bahwa adanya 64% pertimbangan kebutuhan dalam membeli barang, 62% lebih mengedepankan gaya hidup dibanding kebutuhan, 48% suka membeli barang untuk mengikuti trend kekinian, 56% menabung untuk berinvestasi, 52% Membeli sesuatu barang agar menaikan pandangan orang lain terhadap dirinya, 88% membeli barang karena diskon dan bonus yang ditawarkan, 58% Membeli sesuatu untuk memenuhi keinginan gaya hidup yang lebih baru agar tidak tertinggal zaman, 72% suka membeli barang karena kemasan unik, lucu, dan menarik dan 56% mengoleksi jam tangan atau sepatu secara berlebihan.

Individu yang dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan dapat menigkatkan status sosial di Lingkungannya[3]. Mahasiswa dalam perkembangannya berada pada kategori remaja akhir yang rentang usia 18 sampai 21 tahun. Menurut Papalia, dkk. fase ini berada dalam tahap perkembangan dari remaja menuju young adulthood yang meliputi pada usia perkembangan remaja akan dapat mempengaruhi dari lingkungan sosial, serta mencari jati diri yang kuat[4]. Disisi lain mahasiswa berada pada proses pencarian jati diri dan sangat gampang terpengaruh terhadap lingkungan sekitar, sehingga sifat konsumtif terjadi pada mahasiswa karena mereka terpengaruh trend dan menaikan gaya hidup untuk mengangkat status dalam pergaulan mereka. Kadeni dan Srijani (2018) mengatakan bahwa, perilaku konsumtif didefinisikan sebagai kebiasaan mengonsumsi barang dan jasa mahal dengan intensitas yang konsisten dalam upaya mendapatkan barang dan jasa yang lebih baru, lebih baik, dan lebih banyak daripada kebutuhan nyata untuk menunjukkan status sosial, prestige, kekayaan, dan keistimewaan serta untuk mendapatkan kepuasan dari kepemilikan[5].

Menurut International Coffee Organization, jumlah kopi di Indonesia meningkat, terutama oleh remaja Jakarta yang hampir setiap hari minum kopi di coffee house favorit mereka. Sayangnya, kebiasaan ini menghasilkan pola hidup konsumtif[6]. Perilaku konsumtif ini terus berkembang karena banyak faktor yang dapat menyebabkannya. Timbulnya gaya hidup barat adalah salah satunya. Munculnya pusat perbelanjaan yang menampilkan berbagai merek asing, munculnya restoran fast food yang membuat orang lebih memilih makanan internasional daripada makanan lokal, dan munculnya kafe yang cenderung digunakan oleh remaja untuk berkumpul dan bersosialisasi.[7].

Terdapat Aspek-aspek perilaku konsumtif menerangkan bahwa aspek perilaku konsumtif terbagi menjadi 4 bagian yaitu: Pemenuhan keinginan, mahasiswa akan selalu mengkonsumsi dan membeli barang untuk memenuhi kepuasan semata, Barang diluar jangkauan perilaku konsumtif yang dilakukan mahasiswa secara terus menerus akan menjadi komplusif dan tidak rasional, Barang tidak produktif, semakin banyak jumlah pengonsumsian barang yang dilakukan individu maka semakin tidak jelas pula kegunaan konsumsi barang tersebut dan yang terakhir adalah Pertimbangan status, mahasiswa berperilaku konsumtif karena adanya perimbangan status ,dimana mahasiswa membeli barang secara berlebehan bukan karena kebutuhan dan fungsi barang yang dibeli tetapi untuk menaikan status mereka melalui barang yang mereka beli tersebut[8]. Lubis menjelaskan bahwa perilaku konsumtif merupakan perilaku berbelanja yang tidak lagi berdasarkan pertimbangan yang rasional hanya karena keinginan telah mencapai tingkat yang tidak rasional lagi.[9]. Sementara Anggarasari mendefinisikan perilaku konsumtif sebagai membeli barang yang tidak berguna atau kurang penting sehingga menjadi berlebihan, artinya seseorang menjadi mementingkan faktor keinginan (want) daripada kebutuhan (need) dan cenderung dikuasai oleh hasrat keduniawian dan kesenangan material semata.Kata "konsumtif" berasal dari kata "boros", yang berarti seseorang melakukan perilaku yang boros dengan mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. Faktor internal termasuk motivasi, harga diri, kepribadian, gaya hidup, pengamatan dan proses belajar, dan konsep diri. Faktor eksternal termasuk budayaKelas sosial, kelompok referensi, keluarga, dan jumlah penduduk. Sifat konsumtif meliputi perasaan tidak enak pada penjual, mudah terbujuk oleh rayuan penjual, banyak mempertimbangkan, dan hanya karena keinginan sesaat[10].

Menurut Ghufron & Risnawati, kontrol diri merupakan Kemampuan untuk membaca situasi dan mengendalikan faktor perilaku yang sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam sosialisasi adalah kontrol diri. Ini termasuk kemampuan untuk mengontrol perilaku, menarik perhatian orang lain, merubah perilaku agar menyenangkan orang lain, menyenangkan orang lain, dan selalu menyesuaikan diri dengan orang lain dan menutupi perasaannya[11]. Aspek- aspek kontrol diri menurut Averil, yaitu kontrol perilaku (behavior control), kontrol kognitif (cognitive control) dan kontrol keputusan (decisional control) [12]. Penelitian Ance M yang dimana adanya hubungan yang bermakna antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa program studi ners di STIKES Santa Elisabeth Medan[13]. Selanjutnya oleh Bagas yang menyatakan bahwa mahasiswa teknik industri ini memiliki kontrol diri yang sangat baik karena mereka merasa cukup dengan perangkat yang mereka pakai untuk memenuhi kebutuhan akademik mereka setiap hari, sehingga mereka tidak perlu membeli gadget yang paling baru.[14]. Penelitian Kori menyatakan bahwa kontrol diri terdapat hubungan yang signifikan dengan perilaku konsumtif yang dimana masih bisa membatasi diri untuk tidak terlalu bergaya hidup hedonis dan konsumtif[15]. Penelitian Husniaa menyatakan bahwa kontrol diri sangat penting saat membeli sesuatu, mahasiswa psikologi di Universitas Islam Raden Rahmat Malang memiliki dampak negatif terhadap perilaku konsumtif online mereka.[16].

Berdasarkan pemaparan fenmena dan kajian teori yang telah dilakukan maka, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan kontrol diri kepada perilaku konsumtif pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hipotesis yang diajukan peneliti bahwa permasalahan pada penelitian ini adalah munculnya individu yang berada dalam masa perilaku konsumtif yaitu individu yang ada pada fase merasa suka dengan hidup bermewah mewahan, hidup dengan gengsi, dan suka membeli barang yang tidak terlalu penting. Apakah adanya hubungan kontrol diri dan perilaku pada mahasiswa Univeritas Muhammadiyah Sidoarjo. Hal ini seiring dengan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah adanya hubungan antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional dengan variabel kontrol diri dan perilaku konsumtif. Artinya dalam penelitian ini melibatkan variabel X yakni kontrol diri serta variabel Y yaitu perilaku konsumtif. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif di universitas muhammadiyah Sidoarjo. Yang dimana munculnya perilaku konsumtif pada saat melakukan survei awal kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Sampel dari penelitian ini sejumlah 311 mahasiswa dari populasi sejumlah 8000 mahasiswa berdasarkan data tahun ajaran Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 2023/2024. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling yang dimana memberikan kesempatan yang sama kepada populasi untuk dijadikan sampel, dimana anggota populasi tidak memiliki strata sehingga relative homogen. Penentuan sejumlah 311 sampel mempertimbangkan tabel Issac & Michael dengan taraf kesalahan 5%.

Penelitian ini menggunakan model skala likert, 2 skala untuk pengambilan data berupa 1) aspek kontrol diri, dan 2) skala perilaku konsumtif. Skala kontrol diri menggunakan skala yang diadaptasi dari Ibun Arzad yang meliputi dari tiga aspek,diantaranya keemampuan mengontrol perilaku,kontrol kognitif & kemampuan mengontrol kepuasan.Skala terdiri dari 16 aitem yang berdaya beda tinggi aitem 0,401 sampai 0,813 dengan koefisiansi reabilitas 0,903[8]. Skala perilaku konsumtif diadaptasi juga oleh Ibun Arzad yang didasarkan oleh aspek aspek perilaku konsumtif menurut fromm, yaitu pemenuhan keinginan barang diluar jangkauan barang tidak produktif dan pertimbangan status.Skala terdiri dari 25 aitem yang berdaya beda tinggi aitem 0,302 sampai 0,759 dengan niai reabilitas sejumlah 0,829.[8]. Dalam penelitian ini, analisis informasi dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data korelasi product moment Pearson. Teknik analisis data metode inferensial yang merupakan menggunakan nilai numerik dan statistik deskriptif untuk mengubah angka mentah menjadi pengetahuan yang berguna. Tujuannya adalah untuk membuat prediksi tentang hasil yang mungkin terjadi dari data yang dianalisis. Dengan menggunakan data uji-T yang merupakan cara untuk membandingkan rata-rata dua kelompok dan menentukan perbedaan satu sama lain. [17].

Hasil dan Pembahasan

Sebelumnya telah dilakukan uji asumsi sebagai syarat untuk melakukan uji hipotesis dengan jumlah subyek 311 mahasiswa dengan perilaku konsumtif mayoritas terdapat pada kategori menengah dengan besar persentase 18,33% sebanyak 57 mahasiswa, kemudian pada kategori tinggi sebanyak 136 mahasiswa dengan persentase sebesar 43,73%%, kategori rendah sebanyak 102 mahasiswa dengan persentase sebesar 32,80%, sisanyaa pada kategori sangat rendah sebanyak 13 mahasiswa dengan 4,18% dan kategori sangat tinggi sebanyak 3 mahasiswa dengan persentase sebanyak 0,96% . Berdasarkan hasil uji asumsi normalitas dengan shapiro-wilk yang telah dilakukan menunjukkan bahwa data telah terdistribusi secara normal dengan p =,15 yang menandakan telah terpenuhinya kriteria normalitas yaitu p > ,5. Oleh sebab itu maka analisis parametrik pearson dapat dilakukan. Hasil uji korelasi pearsons telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif r = 0.79 p < .001. Hal ini menandakan bahwa semakin tinggi tingkatan kontrol diri maka akan semakin rendah tingkatan perilaku konsumtif yang dimiliki oleh sampel penelitian dan begitu juga sebaliknya. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa jika adanya kontrol diri dari individu maka dengan menjauhkan diri dari tingkah laku yang implusif, menunda kepuasan, mengantisipasi peristiwa, dan dapat mengambil keputusan.Sehingga individu dapat permasalahan yang ada pada perilaku konsumtif

Uji Asumsi Normalitas

Shapiro-Wilk Test for Multivariate Normality
Shapiro-Wilk p
0.993 0.151
Table 1.

Hasil uji asumsi normalitas dengan shapiro-wilk yang telah dilakukan menunjukkan bahwa data telah terdistribusi secara normal dengan p = ,15 yang menandakan telah terpenuhinya kriteria normalitas yaitu p > ,5. Oleh sebab itu maka analisis parametrik pearson dapat dilakukan.

Uji Korelasi Pearsons

Pearson's Correlations
Pearson's r p
Kontrol Diri - Perilaku Konsumtif -0.797 < .001
Table 2.

Hasil uji korelasi pearsons telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif r = 0.79 p < .001. Hal ini menandakan bahwa akan semakin tinggi tingkatan kontrol diri maka akan semakin rendah tingkatan perilaku konsumtif yang dimiliki oleh sampel penelitian dan begitu juga sebaliknya.

Uji Asumsi Lineritas

Perilaku Konsumtif vs. Kontrol Diri

Figure 1.

Bedasarkan hasil uji linearitas yang digambarkan dengan grafik, maka didapatkan titik scatterplot terkumpul dengan arah miring kebawah dan juga menyerupai bentuk elips jika ditarik garis melingkar diantaranya. Bedasarkan grafik tersebut maka dapat disimpulkan bahwa telah terdapat hubungan linear antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif.

Model Summary - Perilaku Konsumtif
Model R Adjusted R² RMSE
H₀ 0.000 0.000 0.000 8.698
H₁ 0.797 0.635 0.634 5.265
Table 3.

Hasil Sumbangan Efektif yang diberikan kontrol diri kepada perilaku konsumtif sebesar 63,5% (R2=0.635). Bedasarkan hal tersebut maka sebanyak 36,5% fenomena kontrol diri pada sampel penelitian dipengaruhi oleh faktor lain yang berada diluar variabel kontrol diri.

Descriptive Statistics Laki-Laki Perempuan
Valid 122 188
Missing 0 0
Mean 41.303 37.202
Std. Deviation 7.851 8.879
Minimum 20.000 20.000
Maximum 53.000 53.000
Table 4.

Figure 2.

Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, maka ditemukan nilai mean perilaku konsumtif dari laki-laki lebih tinggi (41,303) jika dibandingkan dengan nilai mean dari Perempuan (37,202). Hasil ini mengimplikasikan bahwa pada sampel penelitian ini, sampel laki-laki memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku konsumtif lebih tinggi jika dibandingkan sampel perempuan.

Kategorisasi Data Empirik

Kategorisasi Kategorisasi Jumlah Persentase
Sangat Tinggi >52 3 0,96%
Tinggi 52-43 136 43,73%
Menengah 42-34 57 18,33%
Rendah 33-26 102 32,80%
Sangat Rendah <26 13 4,18%
Total 311 100%
Table 5.

Hasil kategorisasi empiric yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tingkatan perilaku konsumtif pada sampel penelitian dapat dikatakan masih tinggi. Sampel penelitian yang memiliki tingkatan perilaku konsumtif menengah menuju tinggi memiliki persentase sebesar 63,02 %. Persentase tersebut menujukkan bahwa perilaku konsumtif merupakan sebuah perilaku yang dominan dan banyak ditemukan pada kelompok sampel penelitian yaitu mahasiswa.

Hasil analisa Penelitian in berdasarkan tabel diatas yaitu kontrol diri memiliki signifikan yang negatif dengan variable perilaku konsumtif (r = 0.7 ; p < .00). Hasil kategorisasi empiric yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tingkatan perilaku konsumtif pada sampel penelitian dapat dikatakan masih tinggi. Sampel penelitian yang memiliki tingkatan perilaku konsumtif menengah menuju tinggi memiliki persentase sebesar 63,02 %. Persentase tersebut menujukkan bahwa perilaku konsumtif merupakan sebuah perilaku yang dominan dan banyak ditemukan pada kelompok sampel penelitian yaitu mahasiswa. Kondisi itu memperlihatkan terdapatnya hubungan negatif yang signifikan Pada variabel kontrol diri. Bisa dikatakan tingkat kontrol diri Rendah dan pada perilaku konsumtif banyak ditemukan pada mahasiswa mampu membuat perilaku konsumtif mahasiswa.

Penelitian diatas sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya bahwa,mhasil dari uji hipotesis menunjukan korelasi rxy sebesar -0,390 disertai signifikansi 0,000 (P < 0,05) dengan sumbangan efektif sejumlah 12,5% kemudian sisanya sebesar 79,4% dipengaruhi oleh faktor lain Terdapatnya hubungan negatif yang signifikan diantara kontrol diri dan perilaku konsumtif. Bisa dikatakan tingkat kontrol diri semakin tinggi pada mahasiswa mampu membuat perilaku konsumtif mahasiswa untuk berbelanja pada online shop juga semakin rendah[8]. Hasil penelitian juga sejalan dengan penelitian sebelumnya Perilaku konsumtif menimbulkan dampak psikologis yang menyebabkan kecanduan dalam berbelanja[16]. Hasil penelitian sebelumnya menurut Luh gede Penelitian Ini menunjukkan bahwa mahasiswa dari golongan milenial lebih suka berbelanja secara e-commerce dan kebanyakan membayar dengan uang elektronik [18]. Jika individu Kontrol diri yang tinggi menekan nilai perilaku konsumtif yang rendah, dan kontrol diri yang rendah akan menekan nilai perilaku konsumtif yang tinggi.

Bedasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, ditemukan nilai mean perilaku konsumtif dari laki-laki lebih tinggi (41,303) jika dibandingkan dengan nilai mean dari Perempuan (37,202) Studi ini menunjukkan bahwa laki-laki lebih konsumtif dibandingkan dengan wanita, dan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa mahasiswa laki-laki cenderung memiliki perilaku konsumtif karena mereka sering bertransaksi secara online, yang memudahkan mereka untuk membeli sesuatu sesuai keinginan mereka daripada karena kebutuhan.[19]. Walaupun perilaku konsumtif laki-laki dan perempuan dinilai tinggi, laki-laki cenderung lebih konsumtif daripada perempuan. Hal ini pada saat wawancara menunjukkan bahwa perbedaan perilaku konsumsi ini disebabkan oleh hobi, gengsi, dan ketidakmampuan laki-laki untuk mengelola keuangan mereka sendiri. Beberapa orang mengatakan mereka menghabiskan banyak uang untuk hobi mereka, seperti mengambil fotografi, memelihara reptile, bermain game, mereka juga merasa gengsi ketika mereka jalan-jalan bersama pacarnya, dan si pacar yang membayari mereka dan laki-laki juga lebih sering nongkrong daripada perempuan[20].

Berdasarkan analisis regresi yang telah dilakukan, sumbangan efektif yang diberikan variable kontrol diri kepada perilaku konsumtif sebanyak 63,5% (R2=0.635). Bedasarkan hal tersebut maka sebanyak 36,5% fenomena kontrol diri pada sampel penelitian dipengaruhi oleh faktor lain yang berada diluar variabel kontrol diri seperti motivasi, harga diri, pengamatan dan belajar tentang kepribadian, pemahaman diri, dan gaya hidup [21].

Ketika siswa tidak memiliki kontrol diri yang baik, mereka cenderung berperilaku konsumtif. Namun, memiliki kontrol diri dapat membantu mereka menghindari perilaku menyimpang. Penelitian di atas menunjukkan bahwa kurangnya kontrol diri menyebabkan perilaku konsumtif. 1) Individu mudah terpengaruh oleh rayuan penjual, 2) mudah terpengaruh oleh iklan, 3) tidak berpikir hemat, dan 4) tidak realistis adalah ciri-ciri perilaku konsumtif. Seperti yang ditunjukkan oleh karakteristik tersebut, faktor keinginan merupakan dasar bagi individu untuk melakukan perilaku tersebut. Mahasiswa membutuhkan beberapa pakaian, celana, sepatu, dan aksesoris karena mereka pasti akan terlihat lebih menarik. Mereka juga harus dapat mendapatkan barang-barang ini dengan mudah[13].

Kesimpulan

Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa adanya perilaku konsumtif melakukan uji hipotesis dengan jumlah subyek 360 mahasiswa dengan perilaku konsumtif mayoritas terdapat pada kategori menengah dengan besar persentase 18,33% sebanyak 57 mahasiswa, kemudian pada kategori tinggi sebanyak 136 mahasiswa dengan persentase sebesar 43,73%%, kategori rendah sebanyak 102 mahasiswa dengan persentase sebesar 32,80%, sisanyaa pada kategori sangat rendah sebanyak 13 mahasiswa dengan 4,18% dan kategori sangat tinggi sebanyak 3 mahasiswa dengan persentase sebanyak 0,96%. Bedasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, maka ditemukan nilai mean perilaku konsumtif dari laki-laki lebih tinggi (41,303) jika dibandingkan dengan nilai mean dari Perempuan (37,202). Hasil ini mengimplikasikan bahwa pada sampel penelitian ini, sampel laki-laki memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku konsumtif lebih tinggi jika dibandingkan sampel perempuan. Sehingga hasil penelitian adanya peilaku konsumtif yang tinggi pada mahasiswa laki-laki, yang dimana perilaku konsumtif yang meliputiMudah tertipu oleh rayuan dari penjual, merasa tidak enak pada penjual, banyak mempertimbangkan, dan hanya karena keinginan sesaat. Dengan adanya kontrol diri, seseorang dapat mengatur dan mengarahkan perilaku yang dapat menghasilkan hasil yang baik, seperti membuat anggaran belanja, memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan, tidak membandingkan diri dengan orang lain, dan memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih disampaikan kepada pimpinan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan izin penelitian, juga kepada seluruh responden dalam penelitian ini yang telah berkontrbusi dalam pengisian instrumen penelitian.

References

[1] M. Nisak and T. Sulistyowati, “Consumptive Lifestyle of Female Students in Fashion Trends (Case Study of Management Students at Universitas Islam Lamongan),” Jurnal Sosial Humaniora Terapan, vol. 4, no. 2, pp. 86–96, 2022.

[2] T. H. S. Achirudin and A. Adnan, “The Relationship Between Hedonistic Lifestyle and Consumptive Behavior in Female Students,” Al-Qalb: Jurnal Psikologi Islam, vol. 9, no. 2, pp. 130–139, 2019, doi: 10.15548/alqalb.v9i2.861.

[3] J. Taluke, L. Lesawengen, and E. S. A. A. Suwu, “The Effect of Parents’ Socioeconomic Status on Student Achievement in Buo Village, West Halmahera,” Jurnal Holistik, vol. 14, no. 2, pp. 1–16, 2021.

[4] I. D. Kurniati et al., Buku Ajar Psikologi Perkembangan. Sidoarjo, Indonesia: UMSIDA Press, 2015.

[5] S. T. Linda, “The Role of Social Media Use on Consumptive Behavior of Economic Education Students at UNIMED,” JERUMI: Journal of Education, Religion, Humanities and Multidisciplinary, vol. 1, no. 2, pp. 79–85, 2023, doi: 10.57235/jerumi.v1i2.1223.

[6] D. Safitri, F. Nurikhsan, and W. S. Indrianie, “Coffee Shop Phenomenon Among Adolescent Consumers,” Widya Komunika, vol. 9, no. 2, pp. 137–145, 2019, doi: 10.20884/1.wk.2019.9.2.1962.

[7] R. Razali and Fuadi, “Hedonistic Lifestyle in Lhokseumawe Community,” Jurnal EMT KITA, vol. 7, no. 1, pp. 215–222, 2023, doi: 10.35870/emt.v7i1.839.

[8] A. Ibun, “The Relationship Between Self Control and Online Shopping Consumptive Behavior in Psychology Students,” 2021.

[9] L. E. Putri, “Differences in Consumptive Behavior Between Male and Female Muslim Students at Universitas Bina Darma,” 2017.

[10] D. Felica, “Family Economic Education and Shopaholic Lifestyle in Female Students,” 2021.

[11] R. D. Marsela and M. Supriatna, “Self Control: Definition and Factors,” 2019.

[12] W. Mukti and Y. Lestari, “Self Control and Hedonistic Lifestyle on Consumptive Behavior of Students at Universitas Muhammadiyah Surakarta,” 2022.

[13] A. M. Siallagan and I. Derang, “Self Control and Consumptive Behavior Among Nursing Students,” Jurnal Darma Agung Husada, 2021.

[14] B. Tripambudi and E. S. Indrawati, “Self Control and Consumptive Behavior in Gadget Purchases Among Engineering Students,” Jurnal EMPATI, vol. 7, no. 2, pp. 597–603, 2020, doi: 10.14710/empati.2018.21683.

[15] K. T. Handayani, “Hedonistic Lifestyle and Self Control in K-Pop Consumptive Behavior Among Students,” 2020.

[16] H. Annafila et al., “Self Control and Online Shopping Consumptive Behavior in Students,” vol. 2, no. 1, pp. 20–27, 2022.

[17] D. Atrizka, “Consumptive Behavior Reviewed from Self Control in Accounting Students,” vol. 3, pp. 666–681, 2023.

[18] L. G. K. Dewi, N. T. Herawati, and I. M. P. Adiputra, “E-Money Usage and Student Consumptive Behavior Mediated by Self Control,” EKUITAS: Jurnal Ekonomi dan Keuangan, vol. 5, no. 1, pp. 1–19, 2021, doi: 10.24034/j25485024.y2021.v5.i1.4669.

[19] L. Penelitian et al., “Consumptive Behavior in Gender Perspective,” JIUBJ, vol. 23, no. 2, pp. 2274–2281, 2023, doi: 10.33087/jiubj.v23i2.3540.

[20] Romadloniyah and Setiaji, “Parents’ Socioeconomic Status, Conformity, and Financial Literacy on Consumptive Behavior in Gender Perspective,” Economic Education Analysis Journal, vol. 9, no. 1, pp. 50–64, 2020, doi: 10.15294/eeaj.v9i1.37224.

[21] E. Eva, “Self Control and Online Shopping Consumptive Behavior in Psychology Students,” 2016.