Riki Adimas Fitrianto (1), Lely Ika Mariyati (2)
General Background: The growth of eco-tourism development requires psychological insights to support sustainable environmental management at the community level. Specific Background: Gunung Petung Village, particularly the Sumber Nyonya Waterfall area, represents a developing rural tourism destination where residents’ environmental awareness plays a central role. Knowledge Gap: Limited empirical studies examine how subjective well-being and altruism jointly relate to environmental awareness within local tourism development contexts. Aims: This study investigates the role of subjective well-being and altruism in shaping environmental awareness among village residents. Results: Using a quantitative approach with 172 participants selected from a population of 336 residents, findings indicate that subjective well-being (r=0.313) and altruism (r=0.319) are positively correlated with environmental awareness, and jointly show significant statistical contribution (F=16.087, p=0.001). Novelty: The study integrates psychological well-being and prosocial orientation within a rural eco-tourism setting. Implications: The findings provide theoretical insight into psychological determinants of environmental consciousness and inform community-based strategies for sustainable tourism development.
Keywords: Environmental Awareness, Subjective Well-Being, Altruism. Sustainable Tourism, Community Psychology
Key Findings Highlights:
Subjective life satisfaction correlates positively with ecological consciousness.
Prosocial orientation is associated with stronger community-based conservation attitudes.
Psychological factors jointly contribute to sustainable rural tourism development.
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dan sangat kaya akan sumber daya alam, seni, budaya dan adat istiadat. Indonesia juga terdiri dari beberapa daerah/provinsi, dan setiap daerah/provinsi terdiri dari beberapa kabupaten/kota. Pertumbuhan perekonomian Indonesia saat ini didorong oleh sektor-sektor utama yang mempunyai peranan sangat penting dalam pembangunan perekonomian, termasuk sektor pariwisata[1]. Desa Tutur atau dikenal juga dengan nama Nongkojajar merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Tutur, sebelah barat Pegunungan Bromo. Desa ini terbagi menjadi 5 dusun, diantaranya yaitu: Gunung Petung, Kadipaten, Krajang 1, Krajang 2, dan Tutur Wetan.Dusun Gunung Petun mempunyai objek wisata alam yang indah berupa Air Terjun bernama Sumber Nyonya, Sumber Nyonya adalah salah satunya Air Terjun alami yang belum pernah dijamah banyak orang ini sangat cocok bagi sebagian orang yang menyukai wisata ekstrim melihat keindahan alam Indonesia. Air terjun ini merupakan salah satu keindahan alam Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Air mancur di Air Terjun Sumber Nyonya tingginya kurang lebih 15 meter. Uniknya, sumber Air Terjun Sumber Nyonya menyatu dengan singkapan bebatuan air terjun itu sendiri sebelum jatuh ke hulu sungai. Hal ini membuat air pancuran air terjun terbelah menjadi dua bagian saat mencapai kolam alami di bawahnya sehingga terlihat semakin eksotis. Menurut KPH Perhutani Pasuruan[2], air terjun tersebut masih dalam tahap mewujudkan potensinya untuk eksplorasi atau wisata. Oleh karena itu, fasilitas pendukung di sekitar kawasan Air Terjun belum dikembangkan, dan promosi pariwisata belum berjalan. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke air terjun ini masih sedikit, wisatawan sebagian besar merupakan warga lokal dan pecinta alam. Tidak ada loket tiket di kawasan air terjun ini, sehingga belum ada data pasti jumlah pengunjungnya. Namun sebagai kawasan wisata air terjun ini belum ada yang mengelola dan termasuk belum aktif sebagai kawasan wisata yang terbuka untuk umum, serta karena kurangnya kesadaran masyarakat akan potensi alamnya, Air Terjun Sumber Nyonya masih sepi sejak tahun 2018 hingga saat ini.
Lingkungan hidup yang bersih membawa kenyamanan dan kesehatan bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya. Kewajiban masyarakat salah satunya adalah membangun kehidupan bermasyarakat yang tenteram, aman, dan sejahtera dimana masyarakat dapat berpartisipasi dan terlibat untuk pengembangan desa wisata dan pemberdayaan lingkungan[3]. Hal ini erat kaitannya dengan perlunya peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan warga. Hassel[4] menjelaskan bahwa kesadaran adalah sebuah pikiran sadar yang menggambarkan akal, kesadaran, dan tercermin dalam perilaku kesadaran, di sisi lain, adalah keadaan atau keadaan sadar dan memiliki pengetahuan sadar[5]. Kesadaran lingkungan juga merupakan kombinasi dari unsur-unsur berikut: motivasi, pengetahuan dan keterampilan. Kesadaran lingkungan hidup adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai pengetahuan tentang lingkungan hidup dan permasalahannya, motivasi untuk menjaga lingkungan hidup, dan keterampilan yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan lingkungan hidup[5].
Berdasarkan hasil survey awal dengan melakukan observasi dan wawancara kepada beberapa warga sekitar yang dilakukan selama tiga bulan dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T), sehingga menghasilkan survey awal yang didapat yaitu masih rendahnya kesadaran lingkungan warga dalam membuang sampah, hal tersebut diketahui dari aliran air terjun yang masih tercemar di sebabkan limbah rumah tangga dan limbah peternakan yang dibuang begitu saja. Melihat dari survey awal tersebut, peran adanya sikap kepedulian terhadap sesama warga serta lingkungan hidupnya. Dari temuan survey awal didapatkan pendapat dari Jimenez dan Lafuente mengidentifikasi empat dimensi kesadaran lingkungan: Afektif, Kognitif, Konatif, dan Aktif. Dimensi afektif mencerminkan keprihatinan terhadap masalah lingkungan, dengan fokus pada tingkat keparahan, perhatian pribadi, prioritas, dan kepatuhan terhadap nilai-nilai lingkungan. Dimensi kognitif berkaitan dengan pengetahuan tentang isu-isu lingkungan, termasuk informasi umum, pengetahuan khusus, dan kebijakan lingkungan. Dimensi konatif menunjukkan kesiapan untuk bertindak sesuai prinsip ekologi dan menerima peraturan pemerintah, mencakup persepsi, keinginan untuk bertindak, dan kesediaan menanggung biaya. Dimensi aktif melibatkan tindakan individu dan kolektif dalam perilaku ramah lingkungan serta pemulihan ekosistem[6]. Dembowski dan Hammerroyd merumuskan tiga komponen utama kesadaran lingkungan yang banyak digunakan untuk mengukur kesadaran lingkungan dalam berbagai penelitian oleh banyak peneliti, 3 komponen tersebut adalah: 1). Cognitive Component (Komponen Kognitif), unsur kognitif meliputi pengetahuan, proses ingatan, kecerdasan, kemampuan mengambil keputusan, dan perilaku pemecahan masalah. 2). Affective Component (Komponen Afektif), Komponen emosional adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan dan emosi. Komponen emosional dari kesadaran lingkungan meliputi ketakutan, harapan, emosi, dan reaksi emosional terkait isu lingkungan. 3). Conative Component (Komponen Konatif), tindakan yang mengarah pada kontribusi individu dalam memecahkan masalah lingkungan[5]
Diener, Oishi, dan Tay mendeskripsikan subjective well-being sebagai penilaian individu terhadap kehidupan dan lingkungannya, baik secara kognitif maupun afektif [7]. Salah satu penjelasan adanya keterkaitan ini dikarenakan beberapa individu yang memandang bahwa lingkungan yang baik dan nyaman dapat meningkatkan kesehatan fisik atau mental dari dalam jangka panjang, sehingga mereka menunjukkan kesadaran lingkungan demi kebertahanan kesehatan fisik dan mental yang mereka miliki[8]. Salah satu unsur dari subjective well-being sendiri adalah adanya keselarasan antara individu dengan lingkungan sosial atau lingkungan alam[9]. Bedasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan pula kesadaran lingkungan dapat dipengaruhi oleh subjective well-being.
Dalam psikologi positif, kesejahteraan disebut sebagai “subjective well-being”. Orang dengan subjective well-being yang tinggi ditandai dengan perasaan sejahtera dan emosi positif. Menurut Argyle, orang dengan subjective well-being yang tinggi justru merasa bahagia dan puas dengan teman, keluarga, dan lingkungannya. Selain itu, Argyle menyatakan bahwa orang dengan subjective well-being yang tinggi lebih kreatif, optimis, pekerja keras, tidak mudah menyerah, dan lebih banyak tersenyum dibandingkan orang yang menggambarkan dirinya tidak bahagia[10]. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya SWB seseorang. Contohnya termasuk diskriminasi, penyakit mental, membesarkan anak, pekerjaan yang baik, kehidupan rumah tangga, kualitas udara yang baik, lingkungan yang hijau, perbedaan usia, dan perilaku lingkungan[11].
Subjective well-being terkait dengan rasa puas seseorang akan kondisi hidupnya, seringkali seseorang merasakan emosi positif dan jarang merasakan emosi negatif. Banyak orang yang merasa puas dengan penghasilan yang didapat sehingga dapat merasakan kesenangan dan ketenangan dalam hidupnya, namun ada juga yang merasa tidak pernah puas dengan penghasilan yang didapat, sehingga tidak dapat merasakan kesenangan dan ketenangan dalam hidupnya[12]. Subjective well-being adalah evaluasi individu terhadap kehidupannya, termasuk evaluasi kognitif terhadap kepuasan hidup dan evaluasi afektif terhadap suasana hati dan emosi. Reaksi emosional individu, kepuasan domain, dan penilaian global terhadap kepuasan hidup, ide-ide spesifik yang perlu dipahami setiap individu.[13].
Subjective well-being dapat dibagi menjadi dua aspek: evaluasi kognitif dan evaluasi emosional. Penilaian kognitif merupakan penilaian terhadap kepuasan hidup seseorang. Penilaian emosional merupakan evaluasi terhadap suasana hati dan emosi yang sering dirasakan orang dalam hidupnya, berikut adalah komponen : 1.) Dimensi Kognitif, merupakan penilaian atau penilaian terhadap kepuasan individu. Penilaian aspek kognitif dapat dikategorikan menjadi penilaian global dan penilaian spesifik atau domain, penilaian kepuasan hidup secara global merupakan penilaian atau evaluasi terhadap kehidupan individu yang mencerminkan kepuasan hidup individu tersebut. Kepuasan pribadi secara umum mengacu pada evaluasi keseluruhan seseorang. 2.) Dimensi afektif, dimensi afektif mencerminkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan individu dengan mengkaji jenis-jenis reaksi emosional yang hadir. Peneliti dapat memahami bagaimana individu mengevaluasi situasi dan peristiwa dalam kehidupannya. Secara umum aspek emosi dapat dibedakan menjadi evaluasi adanya emosi positif dan evaluasi emosi negative menggambarkan emosi positif sebagai kombinasi kegembiraan (arousal) dan kesenangan (pleasure). Emosi meliputi keaktifan, kesiapan, dan kebahagiaan. Emosi negatif adalah kombinasi dari kegembiraan dan ketidaknyamanan. Emosi negatif mencakup perasaan seperti kecemasan, kesedihan, dan ketakutan[13].
Adapun definisi dari altruisme sendiri melibatkan perilaku - perilaku yang dilakukan oleh seorang individu untuk meningkatkan well-being orang lain tanpa harapan akan adanya balasan yang diterima[14]. Menambahkan hal tersebut, Stern menjelaskan bahwa perilaku individu atau kelompok terhadap lingkungannya merupakan sebuah hasil dari altruisme yang dimiliki[15]. Hal ini mengisyarakatkan adanya keterkaitan antara kesadaran lingkungan dan juga perilaku altruisme. Altruisme diyakini ada pada sebagian besar manusia, bermanifestasi pada tingkat yang lebih besar atau lebih kecil tergantung pada situasi atau keadaan di mana individu tersebut berada. Konsep altruisme sering disalahartikan dengan konsep perilaku membantu dan memberi, namun keduanya merupakan konsep yang berbeda. Konsep pertolongan mengacu pada tindakan menolong atau mendampingi seseorang dengan tujuan tertentu dan mungkin menyiratkan suatu keuntungan[16]. Adapun beberapa karakteristik yang terdapat pada altruisme diantaranya :1). Memberikan perhatian kepada orang lain, 2). Mempunyai rasa tolong menolong dan membantu, 3). Meletakan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri. Perilaku yang mengutamakan kepentingan umum atau orang lain di atas kepentingan pribadi disebut juga dengan perilaku altruisme. Altruisme adalah tindakan sukarela memberikan bantuan kepada orang lain guna meningkatkan kesejahteraannya, tanpa menghiraukan kepentingan pribadi. Altruisme merupakan ideologi yang pada dasarnya mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Altruisme adalah motivasi untuk secara tidak sadar meningkatkan well-being orang lain demi keuntungan pribadi. Orang dengan sifat altruistik masih peduli dan mau membantu[17]. Altruisme terdiri dari tiga aspek diantaranya 1) Perhatian terhadap orang lain, orang membantu orang lain karena cinta, pengabdian, dan kesetiaan tanpa mencari imbalan bagi dirinya sendiri. 2) Keinginan menolong orang lain, menolong orang lain berdasarkan keinginan hati nurani yang tulus, tanpa dipengaruhi orang lain. 3) Membantu orang lain dan mendahulukan kepentingan mereka di atas kepentingan anda sendiri[18].
Orang yang tidak egois dan tulus peduli terhadap orang lain serta mau membantu orang lain disukai orang lain. Dari perasaan kasih sayang inilah muncul penerimaan dan rasa cinta dari orang yang ditolong. Orang yang diterima dan dicintai orang lain akan lebih puas dengan kehidupannya. Selain itu, membantu orang lain memberi Anda kepuasan karena mengetahui bahwa Anda masih bisa membantu orang lain, dan perasaan bahwa ada orang lain yang tidak berada dalam kondisi yang lebih baik dari Anda. Perasaan ini memungkinkan Anda untuk lebih menerima situasi hidup Anda sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh Hurlock, kepuasan hidup seseorang dipengaruhi oleh beberapa aspek, antara lain penerimaan terhadap keadaan diri, penerimaan dan kasih sayang dari orang lain, dan pada akhirnya kinerja. Kepuasan hidup merupakan evaluasi kognitif individu mengenai seberapa baik dan puasnya mereka terhadap pencapaian dan kemampuan menikmati pengalaman sepanjang hidupnya[19].
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Visita dan Priyanti yang menyatakan bahwa well-being dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkatan kesadaran lingkungan pada individu[20]. Selanjutnya penelitian yang dilakukan Tamar et al menunjukkan bahwa terdapat perilaku prososial, termasuk altruism secara konsisten menjadi prediktor dari perilaku dan juga sikap yang ditunjukkan individu terhadap lingkungan[21]. Namun demikian masih jarang ditemukan penelitian yang mencoba untuk menjelaskan fenemona kesadaran lingkungan jika ditinjau dari perspektif psikologi positif seperti subjective well-being dan altruism. Bedasarkan penjelasan tersebut maka peneliti menilai bahwa topik penelitian ini menarik dan memiliki nilai kebaruan untuk diteliti lebih lanjut. Berdasakan uraian diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan subjective well-being dan altruisme terhadap kesadaran lingkungan. Maka diambil hipotesa sebagai berikut; Hipotesis 1, Subjective well-being dan altruisme secara bersama berperan terhadap kesadaran lingkungan. Hipotesis 2 Subjective well-being berperan terhadap kesadaran lingkungan. Hipotesis 3, Atruisme berperan terhadap kesadaran lingkungan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian korelasional untuk mengetahui keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh warga daerah Gunung Petung dengan jumlah 336 orang. Penentuan jumlah sampel menggunakan tabel Isaac dan Michael dengan taraf kesalahan 5% sehingga didapakan jumlah sampel yang harus dikumpulkan sebanyak 172 penduduk. Teknik Sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis non probability dengan teknik Accidental Sampling. Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini menggunakan skala yang telah digunakan dalam penelitian terdahulu. Skala ini berjenis skala likert dengan alternatif jawaban berupa Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Setuju (S), Sangat Setuju (SS).
Tiga instrumen penelitian digunakan untuk mengambil data sempel yang telah di tentukan tersebut. Pada instrumen skala kesadaran lingkungan variabel Y dengan mengambil 3 aspek meliputi general belief, personal attitude dan information/knowledge serta indikator yang di kembangkan oleh Shancez dan Lafuente[1], yang terdiri dari 23 aitem meliputi favorable dan unfavorable dengan nilai reliabilitas 0.937. Pada instrumen subjective well-being variabel X1 Diener[2] yang terdiri dari 20 aitem favorable dan unfavorable yang terdiri dari 8 aitem dimensi kognitif meliputi kepuasan hidup dan 12 aitem dimensi afektif yaitu 6 aitem afektif positif meliputi perasaan bahagia, semangat dan fokus terhadap perhatian dan 6 aitem afek negatif yang meliputi kesedihan, kecemasan dan mudah tersinggung. Diperoleh hasil akhir dengan nilai reliabilitas dengan validitas konstruk bernilai chi-square = 1646.00, df = 170 , p-value = 0.00000, RMSEA = 0,202. Pada instrumen altruisme variabel X2 dengan mengambil 5 aspek meliputi Empati, Mempercayai dunia yang adil, Tanggung jawab sosial, Locus of control internal serta Egosentrime rendah dan indikator yang di kembangkan oleh Ruston terdiri dari 37 aitem favorable dan unfavorable dengan mempunyai nilai reliabilitas 0.945.Tehnik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisa regresi berganda. Adapun software yang digunakan untuk melakukan analisa data adalah JASP 0.16 versi 0.16.0
1. Deskriptif Data Penelitian
Tujuan dari analisis deskriptif data penelitian adalah untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang respons dari sampel penelitian terhadap variabel Subjective Well-Being, Altruisme, dan Kesadaran Lingkungan yang dikumpulkan selama penelitian lapangan.
Tabel 1. Menunjukkan bahwa nilai minimum Kesadaran Lingkungan adalah 34, Subjective Well-Being adalah 34, sementara Altruisme adalah 46. Sedangkan nilai maksimum untuk Kesadaran Lingkungan adalah 88, Subjective Well-Being adalah 74, sementara untuk Altruisme adalah 90. Nilai mean untuk variabel Kesadaran Lingkungan sebesar 63.48, Subjective Well-Being sebesar 56.33, lalu untuk Altruisme sebesar 72.56. Standar deviasi untuk variabel Kesadaran Lingkungan sebesar 11.25, untuk Subjective Well-Being sebesar 9.205, sementara untuk variabel Altruisme sebesar 9.405.
2. Uji Asumsi
Uji asumsi dilaksanakan untuk menilai apakah data yang dikumpulkan dalam hasil penelitian memenuhi persyaratan analisis atau tidak. Prosedur uji asumsi harus meliputi pengujian normalitas, linieritas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas. Berikut hasil uji analisis dari masing-masing asumsi tersebut:
a. Uji Normalitas
Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan untuk menentukan apakah data yang diperoleh memiliki distribusi normal, serta untuk memastikan apakah sampel penelitian mewakili populasi dengan standar yang memadai. Berikut adalah ringkasan tabel hasil uji normalitas dari penyebaran data penelitian. Hasil uji normalitas variabel dapat dilihat dalam grafik berikut:
Figure 1.
Gambar 1.menampilkan histogram yang disebut normal ketika distribusi datanya menyerupai kurva lonceng. Tidak condong ke sisi kanan ataupun kiri. Histogram tersebut menunjukkan pola lonceng yang simetris tanpa kecenderungan kea rah mana pun dan garis membentuk lurus di dalam tabel sehingga dianggap histogram yang normal.
b. Uji Linieritas
Uji linieritas dilakukan untuk menentukan apakah ada hubungan yang signifikan antara variabel dependen dan independen dalam penelitian ini, dengan nilai signifikansi p< 0,05.
Pada tabel 3. Diperoleh nilai Sig. Linierity adalah 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan ada peranan linier secara signifikan antara variabel Subjective Well-Being (X1) dan Variabel Altruisme (X2) dengan Kesadaran Lingkungan (Y)
c. Uji Multikolenieritas
Uji multikolinearitas dilaksanakan untuk menentukan apakah terdapat keterkaitan yang signifikan antara variabel independen dalam model regresi. Model regresi dikatakan bebas dari multikolinearitas jika nilai VIF < 10,00 dan nilai Tolerance > 0,01. Berikut adalah hasil uji multikolinearitas.
Dari tabel tersebut, diperoleh nilai Tolerance sebesar 0,938 > 0,01 dan VIF sebesar 1,067 < 10,00. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak ada tanda-tanda multikolinearitas antara kedua variabel independen dalam penelitian ini.
4. Uji Heteroskedaktisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menentukan apakah ada deviasi saat melakukan uji linier, serta apakah titik titiknya tersebar secara acak dan tidak membentuk pola tertentu.
Figure 2. Tabel 5. Hasil Uji Heteroskedaktisitas
Dari grafik tersebut, dapat dilihat bahwa garis merah memiliki kemiringan yang rendah dan titik-titik tersebar secara acak, menunjukkan bahwa residual dalam penelitian tidak dipengaruhi oleh variabel lain.
3. Uji Hipotesis
a. Uji Korelasi
Uji hipotesis ini menggunakan korelasi Pearson menunjukkan bahwa Subjective Well-Beingdengan Kesadaran Lingkungan memiliki skor 0,313 (p < 0,001), sedangkan Altruisme dengan Kesadaran Lingkungan memiliki skor 0.319 (p < 0,001). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan terdapat peranan signifikan antara Subjective Well-BeingdanAltruisme terhadap Kesadaran Lingkungan.
b. Uji Regresi
Dari hasil uji hipotesis yang tercantum dalam tabel, dapat disimpulkan bahwa nilai R = ,400 dan nilai F = 16,087 dengan tingkat signifikansi p < .001. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis pertama dalam penelitian dapat diterima, yang berarti terdapat peranan yang signifikan serta masuk kategorisasi cukup antara Subjective Well-Beingdan Altruisme dengan Kesadaran Lingkungan di pemukiman Gunung Petung. Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, dapat dilihat dari nilai R-Square, yaitu sebesar ,160 atau 16%. Ini berarti Subjective Well-Being dan Altruisme berkontribusi sebesar 16% terhadap Kesadaran Lingkungan, sementara 84% sisanya dipengaruhi oleh faktor atau variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berikut adalah hasil uji hipotesis kedua dan ketiga.
Pada tabel 7. Nilai koefisien Subjective Well-Being menunjukkan t-hitung sebesar = (3.426 >1.974). Ini menandakan bahwa hipotesa kedua terdapat pengaruh yang positif signifikan antara Subjective Well-Being dan Kesadaran Lingkungan di pemukiman Gunung Petung, yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi Ini menegaskan bahwa semakin tinggi subjective well-being, semakin tinggi pula Kesadaran Lingkungan dalam populasi tersebut. Begitupun juga terdapat pengaruh yang signifikan antara Altruisme dengan Kesadaran Lingkungan di pemukiman Gunung Petung, yang ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar t-hitung = 3.522 >1.974). Ini menegaskan bahwa semakin tinggi Altruisme, semakin tinggi pula tingkat Kesadaran Lingkungan dalam populasi tersebut
Hasil analisis diketahui (F(16,087); p <0,05), yang artinya subjective well-being dan altruisme secara bersama-sama memiliki peranan secara signifikan pada kesadaran lingkungan. Hubungannya berpengaruh secara kuat. Terdapat pula arah peranan antara subjective well-being dengan kesadaran lingkungan, dilihat dari hasil koefisien ß = 0.313, begitu juga dengan arah peranan antara altruisme dengan kesadaran lingkungan dengan hasil koefisien ß = 0,319. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi subjective well-being dan altruisme maka akan semakin tinggi kesadaran lingkungan pada warga dusun Gunung Petung.
Temuan sebelumnya menjelaskan orang dengan tingkat subjective well-being yang lebih tinggi menunjukkan kesadaran lingkungan, perhatian terhadap kesehatan, dan kepedulian terhadap generasi mendatang yang lebih besar, sehingga mereka lebih bersedia untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dengan lebih sering melakukan tindakan berkelanjutan [3]. Kellert dan Wilson berpendapat bahwa orang yang menunjukkan kepedulian terhadap kepunahan spesies biasanya lebih menikmati alam dan merasakan peningkatan well-being saat berinteraksi dengan lingkungan [4]. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Princen dkk, Individu yang aktif dalam kegiatan sukarela lingkungan dan yang memprioritaskan tujuan intrinsik cenderung memiliki subjective well-being lebih tinggi namun mereka yang hanya peduli namun tidak terlibat dalam kegiatan sukarela menunjukkan tingkatan yang lebih rendah [5]. Penelitian oleh Kellert dan Wilson, kesadaran lingkungan berkorelasi dengan subjective well-being seseorang. Hal ini terjadi karena kesadaran lingkungan seseorang mempunyai manfaat psikologis yang positif, yaitu mempengaruhi peningkatan subjective well-being [6].
Penelitian sebelumnya Ghazali dan Stern juga menyatakan bahwa altruisme dapat meningkatkan kesadaran akan dampak masalah lingkungan [7]. Kentaka menjelaskan bahwa individu yang mengenali urgensi masalah lingkungan cenderung lebih sering melakukan tindakan altruistik dalam kehidupan sehari-hari mereka. Implikasinya adalah bahwa kelompok lingkungan mungkin bisa mendorong orang untuk lebih aktif secara lingkungan dengan meningkatkan kesadaran mereka tentang masalah lingkungan . Kim & Stepchenkova, altruisme berhubungan dengan kesadaran lingkungan seseorang, nilai-nilai altruisme yang menekankan kesetaraan dan well-being bagi orang lain dan lingkungan [8]. Sesuai dengan pemikiran Ojea dkk yang menekankan pentingnya nilai-nilai altruisme dalam membentuk sikap terhadap lingkungan. Individu dengan nilai altruisme cenderung percaya bahwa melindungi lingkungan adalah suatu kewajiban yang penting [9].
Menurut Chow, bahwa tingkat subjective well-being dari faktor internal dan eksternal, termasuk hubungan individu dengan lingkungannya, berdampak pada seberapa puas mereka dengan kehidupan mereka[10]. Menurut Darmayanti, Subjective well-being seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal yang mencakup religiusitas, kepribadian tangguh, harga diri, dan optimisme, serta faktor eksternal yang mencakup kondisi situasional dan lingkungan, seperti dukungan sosial[11]. Menurut Diener, ada dua aspek dalam subjective well-being, yang pertama aspek kognitif yaitu evaluasi yang dilakukan individu pada kepuasan hidup. Aspek afektif yaitu cara individu dalam merefleksikan suatu pengalaman yang dialami di kehidupannya.[12]. Lingkungan dan udara yang bersih menunjukkan peningkatan subjective well-being yang lebih signifikan dalam perasaan positif dan penurunan yang lebih besar dalam perasaan marah dibandingkan dengan mereka yang berada di lingkungan perkotaan (Hartig, Evans, Jamner, Davis, & Garling). Menurut Schwartz, Model aktivasi norma Schwartz tentang altruisme menyatakan bahwa individu bertindak berdasarkan kewajiban moral ketika mereka percaya bahwa tindakan mereka dapat mencegah atau memperbaiki konsekuensi merugikan bagi orang lain dan bahwa mereka bertanggung jawab atas tindakan tersebut. Model dari ini telah digunakan untuk menjelaskan perilaku terkait lingkungan seperti pembelian bensin bebas timbal, konservasi energi, daur ulang, pembakaran pekarangan. Steg et al., Individu dengan altruisme tinggi lebih peduli terhadap lingkungannya dan cenderung memilih barang ramah lingkungan yang berdampak rendah terhadap lingkungan[13]. Panda et al., menyimpulkan kesadaran lingkungan seseorang akan meningkatkan sifat altruisme .
Nilai sumbangan efektif R2 variabel independen terhadap variabel dependen yaitu sebesar 0,160 atau 16%. Ini berarti subjective well-being dan altruisme berkontribusi sebesar 16% terhadap Kesadaran Lingkungan, sementara 84% sisanya dipengaruhi oleh faktor atau variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Variabel lain yang dapat mempengaruhi kesadaran lingkungan meliputi sense of belonging. Individu yang menyadari bahwa lingkungan hidup sangatlah luas dan perlu dikelola dengan baik layaknya milik pribadi. Pengalaman berinteraksi dengan lingkungan sedemikian rupa sehingga seseorang merasa menjadi bagian dari lingkungan tersebut yang dikenal sebagai rasa memiliki[14]. Oleh sebab itu, pendidikan lingkungan hidup sangat penting dalam meningkatkan kesadaran lingkungan pada individu serta meningkatkan pemahaman mengenai perlindungan lingkungan. Pendidikan yang diberikan secara kelompok cenderung lebih efektif dalam mempengaruhi perubahan perilaku. Littledyke menjelaskan bahwa seseorang dapat meningkatkan kesadaran lingkungannya melalui berbagai tingkatan, termasuk kesadaran diri, yang meliputi: a) persepsi dampak individu, yang melibatkan gaya hidup dan pilihan konsumen; b) kesadaran sosial, yang mempertimbangkan persepsi terhadap dampak lingkungan akibat interaksi sosial; dan c) kesadaran lingkungan, yang mencakup persepsi tentang bagaimana masyarakat secara umum memberikan dampak terhadap ekosistem[15]. Orang yang memiliki kesadaran lingkungan akan dengan sengaja mengambil keputusan untuk mengurangi jejak ekologisnya. Mereka mungkin akan memilih produk yang memiliki dampak lingkungan lebih rendah, mengurangi limbah, dan menghemat sumber daya .
Penelitian ini memberikan beberapa manfaat yang mendukung pemahaman dan pelaksanaan keberlanjutan lingkungan. Pertama, penelitian ini menjelaskan keterkaitan antara subjective well-being dan altruisme dengan kesadaran lingkungan, yang dapat dijadikan landasan untuk mengembangkan program edukasi dan kampanye yang lebih efektif dalam mendorong perilaku ramah lingkungan. Kedua, temuan penelitian ini dapat memberikan wawasan berharga bagi para pembuat kebijakan dalam merancang intervensi yang tidak hanya fokus pada aspek lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan well-being masyarakat. Ketiga, dengan menggabungkan temuan ini ke dalam kebijakan publik dan program komunitas, diharapkan dapat tercipta sinergi antara well-being individu dan upaya pelestarian lingkungan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup dan keberlanjutan lingkungan. Selain itu, penelitian ini membuka peluang untuk studi lanjutan yang dapat meneliti lebih dalam mekanisme bagaimana subjective well-being dan altruisme mempengaruhi kesadaran lingkungan.
Berdasarkan pembahasan dalam penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa hipotesa mayor diterima yang artinya variabel subjective well-being dan altruisme berpengaruh signifikan terhadap kesadaran lingkungan warga dalam membangun wisata air terjun sumber nyonya dusun gunung petung. Lalu hipotesa minor pertama diterima yaitu variabel subjective well-being berpengaruh signifikan terhadap kesadaran lingkungan warga dalam membangun wisata air terjun sumber nyonya dusun gunung petung. Selanjutnya hipotesa minor kedua diterima yaitu altruisme berpengaruh signfikan terhadap kesadaran lingkungan warga dalam membangun wisata air terjun sumber nyonya dusun gunung petung. Keterbatasan penelitian ini yaitu dari minimnya subyek yang hanya mencakup satu dusun, diharapkan penelitian selanjutnya memperluas subjek penelitian di area yang lebih luas seperti melakukan perbandingan antar dusun guna meninjau tiap variabel begitupun menambahkan hal-hal yang kurang seperti intervensi dan mediasi antar variabel sense of belonging, pendidikan lingkungan hidup guna menambahkan sumbangan efektif yang diperoleh pada variabel kesadaran lingkungan. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi teoritis mengenai bagaimana faktor psikologis dan tingkat kepuasan hidup berpengaruh dalam meningkatkan kesadaran lingkungan, serta sebagai intervensi berbasis kesadaran lingkungan guna meningkatkan pengembangan wisata yang berkelanjutan.
Saran pada penelitian ini yaitu harapan ntuk meningkatkan subjective well-being dan altruisme yang mendukung kesadaran lingkungan, warga dapat berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan bersama komunitas, seperti penanaman pohon atau program daur ulang, dapat meningkatkan well-being individu melalui interaksi sosial dan rasa pencapaian. Memotivasi dan mempraktekkan tindakan altruistik sehari-hari dengan mengajak keluarga dan tetangga untuk melakukan tindakan ramah lingkungan, seperti mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah. Bentuk kelompok warga yang fokus pada isu-isu lingkungan lokal untuk berbagi pengalaman dan merencanakan kegiatan bersama yang menguntungkan lingkungan dan well-being kolektif. Selenggarakan lokakarya atau seminar dengan melibatkan ahli lingkungan dan psikolog untuk mengajarkan warga tentang hubungan antara subjective well-being, altruisme, dan kesadaran lingkungan. Gunakan media sosial untuk menyebarkan informasi dan inspirasi melalui grup atau halaman yang fokus pada tips dan cerita inspiratif tentang kesadaran lingkungan. Ajak keluarga dan anak-anak untuk terlibat dalam kegiatan lingkungan sejak dini untuk meningkatkan kesadaran mereka serta memperkuat ikatan keluarga dan well-being individu melalui aktivitas yang bermakna. Dengan mengikuti saran-saran ini, diharapkan warga dapat lebih memahami pentingnya subjective well-being dan altruisme dalam meningkatkan kesadaran dan tindakan mereka terhadap lingkungan, yang pada akhirnya berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak kepala dusun serta warga yang telah memberikan ijin serta terlibat menjadi responden pada penelitian ini.
[1] I. D. Purwanti, “Hubungan Antara Pola Asuh Demokratis Dengan Kematangan Emosi Pada Siswa SMA Negeri 9 Samarinda,” E-Jurnal Untag, 2016.
[2] K. Tutur et al., “Implementasi Kebijakan Pariwisata di Desa Kalipucang,” Jurnal Agama dan Perubahan Sosial, vol. 5, no. 2, pp. 219–239, 2021.
[3] D. Rahmawati, H. Idajati, and E. Umilia, “Pengembangan Konsep Kelembagaan sebagai Upaya Rejuvenasi Kawasan Wisata Alam Ranu Grati di Kabupaten Pasuruan,” Jurnal Penataan Ruang, vol. 13, no. 1, pp. 1–10, 2018.
[4] M. S. Wibowo and L. A. Belia, “Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan,” Jurnal Manajemen Perhotelan dan Pariwisata, vol. 6, no. 1, pp. 25–32, 2023.
[5] R. Lathifah, Hubungan Antara Kesadaran Lingkungan dan Nilai Personal Dengan Perilaku Membuang Sampah Sembarangan, 2020.
[6] R. E. Olivares Sánchez and N. A. Leyva Aguilar, “Theoretical Bases of Environmental Awareness as a Strategy for Sustainable Development,” Revista Alfa, vol. 7, no. 21, pp. 619–629, 2023.
[7] N. Rahmi, Subjektif Dengan Burnout Pada Mahasiswa Medan Area, 2022.
[8] N. Kaida and K. Kaida, “Pro-Environmental Behavior Correlates with Present and Future Subjective Well-Being,” Environment, Development and Sustainability, vol. 18, no. 1, pp. 111–127, 2016.
[9] E. Alatartseva and G. Barysheva, “Well-Being: Subjective and Objective Aspects,” Procedia Social and Behavioral Sciences, vol. 166, pp. 36–42, 2015.
[10] N. H. Sucipto and A. R. Saleh, “Individual Needs Toward Subjective Well-Being,” Tazkiya, 2019.
[11] R. P. Fadiyah and M. Yanuvianti, “Hubungan antara Subjective Well-Being dengan Perilaku Pro-Lingkungan,” Bandung Conference Series Psychology Science, vol. 3, pp. 851–859, 2023.
[12] R. U. Depi, “Hubungan Religiusitas dengan Kesejahteraan Subjektif,” 2020.
[13] A. Istiqlal, “Pengaruh Hope, Perceived Social Support, Syukur dan Faktor Demografi terhadap Kesejahteraan Subjektif Nelayan,” 2018.
[14] P. Hartmann et al., “Warm Glow vs. Altruistic Values,” Journal of Environmental Psychology, vol. 52, pp. 43–55, 2017.
[15] A. Levy et al., “Variables that Influence Environmental Behavior of Adults,” Environmental Education Research, vol. 24, no. 3, pp. 307–325, 2018.
[16] Y. Xu et al., “Altruism, Environmental Concerns, and Pro-Environmental Behaviors,” Frontiers in Psychology, vol. 12, 2021.
[17] W. A. Permadi, Perbedaan Pengaruh Tingkat Altruisme, 2019.
[18] R. D. Nursalmah and S. Rositawati, “Hubungan antara Altruisme dengan Well-Being,” Prosiding Psikologi, vol. 5, no. 2, 2019.
[19] A. R. Saputra and Sueb, “Hubungan Etika Lingkungan dan Kesadaran Lingkungan,” Jurnal Psikologi Jambi, vol. 5, no. 1, pp. 31–36, 2020.
[20] S. V. Here and P. H. Priyanto, “Subjective Well-Being pada Remaja Ditinjau dari Kesadaran Lingkungan,” Psikodimensia, vol. 13, no. 1, pp. 10–21, 2014.
[21] M. Tamar et al., “Predicting Pro-Environmental Behaviours,” Management of Environmental Quality, vol. 32, no. 2, pp. 328–343, 2021.
[22] S. H. B. Lubis, Hubungan Self-Esteem dengan Subjective Well-Being, 2011.
[23] N. P. Rismayanto, Pengaruh Big Five Personality terhadap Altruisme, 2019.
[24] X. Ouyang et al., “Does Subjective Well-Being Promote Pro-Environmental Behaviors?,” International Journal of Environmental Research and Public Health, vol. 19, 2022.
[25] A. Ferrer-i-Carbonell and J. M. Gowdy, “Environmental Degradation and Happiness,” Ecological Economics, vol. 60, no. 3, pp. 509–516, 2007.
[26] M. Suárez-Varela et al., “Do Pro-Environmental Behaviors Contribute to Subjective Well-Being?,” Applied Research in Quality of Life, vol. 11, no. 2, pp. 429–444, 2016.
[27] N. Yurtsever and D. E. Angin, “Mediating Role of Altruism,” Center for Educational Policy Studies Journal, vol. 12, no. 1, pp. 217–239, 2022.
[28] K. Aruga, “Is Environmental Awareness a Predictor of Altruism?,” Sustainability, vol. 12, no. 19, 2020.
[29] M. S. Kim and S. Stepchenkova, “Altruistic Values and Environmental Knowledge,” Current Issues in Tourism, vol. 23, no. 13, pp. 1575–1580, 2020.
[30] Nurlasera et al., “Relationship between Personal Values and Environmental Awareness,” Systematic Reviews in Pharmacy, vol. 12, no. 1, pp. 960–968, 2021.
[31] N. Firdaus et al., “Kesejahteraan Subjektif pada Mahasiswa Perantau,” Journal of Psychology Research, vol. 2, no. 4, pp. 925–933, 2023.
[32] F. A. Rahayu, Kesejahteraan Subjektif pada Remaja Jalanan, 2022.
[33] A. B. Rohmansyah, Kesejahteraan Subjektif pada Petani, 2019.
[34] E. Diener et al., “Advances in the Science of Subjective Well-Being,” Collabra Psychology, vol. 4, no. 1, 2018.
[35] S. H. Schwartz, “Normative Influences on Altruism,” Advances in Experimental Social Psychology, vol. 10, pp. 221–279, 1977.
[36] H. Li et al., “Environmental Awareness and Green Purchase Intentions,” Revista Argentina de Clinica Psicologica, vol. 29, 2020.
[37] T. K. Panda et al., “Social and Environmental Sustainability Model,” Journal of Cleaner Production, vol. 243, 2020.
[38] F. S. Bukhari and R. Rosyidah, “Peran Sense of Belonging dalam Kesadaran Lingkungan,” Jurnal Psikologi Hangtuah, vol. 6, no. 1, pp. 1–13, 2023.
[39] V. Acibuca and A. Kaya, “Environmental Awareness and Attitudes of University Students,” 2024.
[40] T. Costa et al., “Are Altruists Environmentally Responsible?,” Brazilian Business Review, vol. 18, no. 5, pp. 585–604, 2021.
[41] F. Liu and G. R. Madni, “Moderating Role of Policy Incentive in Green Consumption,” PLoS One, vol. 19, no. 2, 2024.