Azmi Syaikha Az Zahro Purnomo (1), Eko Hardi Ansyah (2)
General Background: Learning motivation represents a fundamental psychological factor that drives students to achieve educational goals and sustain academic engagement. Specific Background: Learning motivation among university students is shaped by internal factors such as self-control and external factors such as peer social support, both of which are essential in supporting academic persistence and achievement. Knowledge Gap: Previous studies predominantly examine learning motivation among school students or separately analyze peer social support and self-control, with limited investigation integrating both variables simultaneously among university students. Aims: This study aims to examine the relationship between peer social support and self-control with learning motivation among students at Muhammadiyah Sidoarjo University. Results: Using inferential quantitative methods with accidental sampling of 252 students, data were collected through Likert-scale questionnaires and analyzed using multiple linear regression. The findings revealed a statistically significant relationship between peer social support and self-control with learning motivation (R = 0.732; R² = 0.536; p < 0.001). Peer social support contributed 22.6% and self-control contributed 31% to learning motivation, indicating self-control as the stronger predictor. Novelty: This study integrates internal and external psychological determinants simultaneously within a university student population, providing empirical evidence on their combined relationship with learning motivation. Implications: The findings highlight the importance of strengthening peer-based support systems and fostering self-regulation competencies to support student learning motivation in higher education contexts.
Highlights:
Keywords: Peer Social Support, Self-Control, Learning Motivation, University Students, Multiple Linear Regression
Motivasi belajar merupakan salah satu dorongan dari diri sendiri untuk mencapai sebuah tujuan dari pembelajaran. Tujuan ini bisa berupa pengembangan materi, pemahaman materi, juga hasil dari pembelajaran itu sendiri. Tentu dalam munculnya motivasi belajar memerlukan peran dari orang lain yang mampu menjadi dukungan sosial terhadap diri sendiri. Dengan begitu, maka motivasi belajar yang telah diberikan harus didapatkan bersamaan dengan dukungan sosial yang mumpuni atau mampu memberikan alasan individu harus sepakat dengan motivasi tersebut. Selain itu adanya keinginan mengontrol diri untuk memiliki serta mencapai tujuan belajar juga sangat diperlukan oleh setiap individu. Keduanya sama-sama diperlukan untuk menumbuhkan serta mempengaruhi motivasi belajar setiap individu.
Menurut teori W. Santrock (2009) motivasi merupakan suatu proses yang mampu memberikan pengarahan, energi lebih serta mampu mempertahankan perilaku seseorang. Terdapat dua aspek yaitu instrinsik dan ekstrinsik. Aspek instrinsik yang merupakan dorongan belajar individu berasal dari minat, tujuan serta kemampuan yang telah ditetapkan. Sementara aspek ekstrinsik merupakan dorongan dari luar yang disadari adanya imbalan, pujian, dan hukuman.[1]
A.M. Sardiman (2011) juga menjelaskan mengenai motivasi yang merupakan faktor psikis dengan sifat non-intelektual sebagai peran guna menumbuhkan rasa senang, semangat belajar, serta gairah untuk menyelesaikan suatu hal.[2] Motivasi sangat diperlukan oleh mahasiswa dalam menempuh pembelajaran di jenjang perkuliahan. Mahasiswa yang memiliki motivasi untuk ingin memahami serta menguasai materi kuliah sebagai persiapan untuk memasuki dunia kerja, akan berbeda dengan mahasiswa yang memiliki motivasi hanya sekedar untuk memenuhi mata kuliah saja tanpa memahami atau menguasainya.
Aspek-aspek pada motivasi belajar sesuai dengan yang disampaikan oleh Cherniss & Goleman (2001)[3] terdapat 4 aspek yaitu pertama, dorongan untuk berprestasi adalah usaha untuk meningkatkan standar keunggulan sehingga individu merasa terdorong untuk berusaha keras mewujudkan tujuan dan harapannya. Kedua, komitmen merupakan salah satu aspek yang penting yang berarti menyeimbangkan diri dengan tugas atau tujuan. Dengan memiliki komitmen yang tinggi, individu memiliki kesadaran untuk belajar, mampu mengerjakan tugas dan mampu menyeimbangkan tugas.
Ketiga, inisiatif yaitu kemauan untuk memanfaatkan kesempatan atau peluang yang ada. Individu harus berinisiatif dan kreatif untuk mendukung keberhasilannya dalam menyelesaikan pendidikannya karena telah mengenal dan memahami dirinya sendiri, yang memungkinkannya untuk mengarahkan tindakannya sedemikian rupa sehingga menguntungkan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Keempat, optimisme adalah pola pikir yang berorientasi pada tujuan yang tidak tergoyahkan. Sikap yang tidak takut untuk mencoba hal-hal baru dan tidak peduli dengan kesalahan dan kekecewaan dikenal sebagai optimisme. Individu yang berpandangan optimis tidak akan mudah menyerah atau tertekan, meskipun pencapaiannya tidak sesuai harapan.
Berdasarkan survei awal yang telah dilakukan oleh peneliti di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan cara menyebarkan kuesioner ke mahasiswa Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan. Terdapat 59,8% subjek tidak memiliki dorongan untuk sukses dengan belajar. 65,5% subjek berpikir belajar tidak penting. 40% subjek tidak mampu menyelesaikan dan menyeimbangi tugas-tugasnya dengan baik dan tepat waktu. 59,2% subjek kurang menyukai mempelajari hal-hal baru. 52,7% subjek tidak memiliki usaha keras dalam kegiatan belajar untuk mendpatkan hasil yang baik. Dorongan untuk sukses dengan belajar merupakan bagian dari aspek dorongan. Berpikir belajar adalah hal yang penting dan mampu menyelesaikan dan menyeimbangi tugas-tugasnya dengan baik dan tepat waktu merupakan bagian dari aspek komitmen. Mempelajari hal-hal baru merupakan bagian dari aspek inisiatif. Memiliki usaha keras dalam kegiatan belajar untuk mendpatkan hasil yang baik merupakan bagian dari optimisme.
Banyak subjek yang masih tidak memenuhi aspek-aspek motivasi belajar, maka dapat disimpulkan motivasi belajar mahasiswa mayoritas memiliki tingkat motivasi belajar yang rendah. Hal ini menunjukan bahwa mayoritas mahasiswa yang disurvei mengalami kesulitan dalam mempertahankan motivasi belajar. Beberapa ciri-ciri yang menggambarkan mahasiswa yang memiliki motivasi rendah dalam belajar, di antaranya: cepat kehilangan minat dalam menyelesaikan tugas, kurang percaya diri, mudah menyerah dan berkata “tidak bisa”, tidak memperhatikan instruksi dosen, tidak mencari bantuan ketika diperlukan, sering melamun dan tidak berpartisipasi dalam proses pembelajaran, tidak menanggapi anjuran guru untuk mencoba, mudah putus asa, dan berusaha menghindari tugas, dan sebagainya (Santrock, 2007)[4]
Pada penelitian (Ahiruddin dan Henny Suharyati, 2023)[5] banyak mahasiswa yang memiliki prestasi belajar yang rendah. Hal ini mempengaruhi mahasiswa dari semester 3 sampai 6. Hal ini sangat umum terjadi pada mahasiswa yang menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa menurun. Ada banyak faktor yang mempengaruhi prestasi dan motivasi belajar pada mahasiswa salah satunya adalah tingkat stres dan kejenuhan dalam belajar. Berdasarkan uji statistik menunjukkan bahwa variabel motivasi belajar memiliki dampak terhadap prestasi belajar mahasiswa di Institut Sains dan Teknologi Al Kamal Jakarta yaitu (R2) adalah 6,40% prestasi belajar mahasiswa dan sisanya dipengaruhi oleh faktor laing yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Sebaliknya mahasiswa dengan motivasi belajar yang tinggi biasanya mempunyai sikap positif terhadap keberhasilan. Hal ini didukung oleh penelitian (Octavia, 2020)[6] yang menyatakan bahwa motivasi belajar mendorong seseorang untuk mengubah perilakunya ke arah yang lebih baik untuk mencapai tujuan pendidikan. Motivasi belajar merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan hasil belajar mahasiswa. Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar seseorang bisa dari dalam (internal) ataupun dari luar (eksternal). Faktor internal yang dapat meningkatkan motivasi belajar diantaranya adalah fisik, intelegensi, sikap, minat, bakat, dan emosi. Lalu faktor eksternal yang dapat meningkatkan motivasi belajar diantaranya adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat (Oemar Hamalik, 2001: 167).[7]
Didukung juga oleh penelitian (Mirza Kumala, 2017)[8] di STIKes Patria Husada Blitar dapat diketahui bahwa 18 responden atau 74% mempunyai motivasi belajar sedang, 5 responden atau 20% mempunyai motivasi belajar rendah dan 3 responden atau 6% mempunyai motivasi belajar tinggi. Hal ini menunjukkan dari 26 responden mahasiswa semester 7 yang terbanyak mempunyai motivasi belajar sedang. Dapat disimpulkan hampir sebagian mahasiswa yang menjadi responden pada penelitian tersebut minat dan sikap dapat mempengaruhi motivasi belajarnya dari segi usia, urutan anak, dan cita-cita.
Mahasiswa merupakan makhluk sosial yang memerlukan dukungan dan hubungan sosial dengan manusia lainnya. Uchino (dalam Sarafino, 2011) mengartikan dukungan sosial sebagai penerimaan seseorang terhadap orang atau kelompok lain dalam bentuk kenyamanan, pengertian, penghargaan, atau bantuan yang turut menimbulkan rasa cinta, perhatian, dan bantuan dari orang tersebut.[9] Hubungan sosial ini dapat dimiliki dari keluarga, kerabat maupun teman sebaya. Melalui hubungan sosial tersebut, peran teman sebaya dapat dikatakan sebagai penunjang kehidupan sosial yang berada dilingkungan eksternal. Terlebih jika para mahasiswa mendapat dukungan maupun motivasi dari keluarga dan teman sebaya, angka positif yang didapat akan mampu meningkat jika dibandingkan dengan sedikitnya dukungan sosial serta motivasi yang diterima.
Definisi menurut teori Santrock (2003) mengenai teman sebaya adalah sekumpulan orang-orang dengan berbagai tingkatan usia yang dibagi menjadi dua kelompok. Clique merupakan sebuah kelompok pertemanan yang berisi 2-10 anggota yang membentuk perkumpulan dikarenakan mereka mempunyai kesamaan dalam minat, kelompok yang seringkali menghabiskan waktu bersama, dan kelompok yang menikmati kebersamaan yang telah dijalin. Sementara crowd, kelompok pertemanan yang lebih luas, tetapi terdapat kekurangan pada anggota serta pengetahuan yaitu mengenai diri sendiri karena lebih menghabiskan waktu untuk bersama dan membentuk reputasi yang bisa diterima oleh lingkungan sekitar atau masyarakat.[10]
Dukungan sosial menurut teori Sarafino, E. P. (2007) dapat didefinisikan sebagai kepedulian, kenyamanan, serta memiliki perasaan yang dihargai dan dibantu untuk individu lain dari individu lainnya maupun kelompok. Terdapat dua dukungan yang dapat diterima oleh individu.[11] (Taylor E, Shelley, dkk 2009) received support merupakan dukungan yang diterima langsung oleh individu, sedangkan perceived support merupakan pemikiran individu mengenai dukungan yang tersedia dari individu lainnya. Penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan perasaan nyaman, tenang, dipedulikan, dicintai dengan adanya bantuan dari individu lain yang berasal dari keluarga atau teman sebaya.[12]
Definisi yang diberikan oleh (Baron, R.A. dan Byrne 2005) adalah dukungan sosial mampu memberikan kenyamanan secara fisik serta psikologis melalui orang-orang terdekat, seperti keluarga atau teman.[13] Dengan adanya dukungan sosial yang diperoleh dari keluarga atau teman akan membuat individu merasa mampu mengenal dan memahami dirinya sendiri. Serta yang paling penting adalah individu akan mampu mengenali mengenai kewajibannya sebagai seorang pelajar yang sedang menempuh pendidikan di sekolah, selain dari semua itu lingkungan keluarga dapat berupa lingkungan sosial yang paling penting dalam kelangsungan hidup manusia.
Dukungan sosial sebaya adalah pemberian kenyamanan secara fisik dan psikologis oleh kelompok sebaya kepada individu, sehingga menumbuhkan rasa cinta, kepedulian, dan penghargaan terhadap individu tersebut sebagai anggota kelompok sosial. Aspek dukungan sosial sebaya dalam penelitian ini adalah aspek dukungan sosial sebaya sebagaimana didefinisikan oleh Sarafino (1998)[14] ada lima, yaitu dukungan emosional, merupakan perwujudan empati, perhatian, dan kepedulian terhadap individu yang sedang menghadapi situasi yang menegangkan. Dukungan penghargaan, merupakan ekspresi hal-hal positif tentang individu, persetujuan terhadap ide atau emosi individu, dan perbandingan positif antara individu dengan individu lain, seperti mereka yang memiliki kekurangan atau yang lebih buruk keadaannya.
Dukungan instrumental, melibatkan pemberian bantuan langsung kepada individu selama masa-masa sulit. Dukungan informasi, mencakup pemberian saran, atau umpan balik mengenai kinerja individu dalam situasi yang menegangkan. Dukungan jaringan sosial, adalah dukungan yang diberikan pada individu yang melibatkan persepsi bahwa individu tersebut adalah anggota kelompok tertentu dan memiliki minat yang sama serta rasa solidaritas dengan anggota kelompok.
Hal ini didukung oleh penelitian (Novi & Rosa, 2019)[15] diketahui dukungan teman sebaya mempengaruhi meningkatnya motivasi belajar sebesar 80,79% yang masuk dalam kategori tinggi setelah di uji peringkat oleh peneliti. Sehingga motivasi yang didapat tinggi karena adanya dukungan teman sebaya. Persentase yang didapat dari subjek penelitian tersebut sebanyak 28 siswa atau 28% yang masuk dalam kategori tinggi, lalu ebanyak 40 siswa atau 40%, termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 32 siswa atau 32% masuk dalam kategori rendah.
Selain dukungan sosial dari teman sebaya, kontrol diri juga mempengaruhi motivasi belajar. Hal ini karena kontrol diri juga merupakan keyakinan individu yang akan menjadi kekuatan pendorong untuk bertindak sesuai dengan tujuan yang diinginkan. (Halaman 22 dari Ghufron & Risnawita, 2011. (Goldfried & Merbaum) kontrol diri merupakan karakteristik manusia yang penting yang memungkinkan individu untuk mengatur perilakunya, menekan dorongan-dorongan negatif, dan menekan keinginan-keinginan sesaat agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.[16]
Setiadi & Purnama (2019:63)[17] mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu sikap yang memungkinkan individu untuk mengatur pikiran, emosi, dan perilakunya agar dapat menahan dorongan-dorongan yang mungkin muncul. Dalam setiap situasi, seperti dalam kegiatan belajar atau kegiatan lainnya, individu berusaha untuk mengarahkan pengaruhnya kepada sesuatu yang dapat diterima dan bermanfaat secara sosial. (Masitah & Irna, 2012; Nafessa, 2017)[18] penting untuk mempertimbangkan bagaimana individu dapat mengendalikan dirinya sendiri. Pengendalian diri. Rodin (dalam Sarafino, 1990)[19] kontrol diri merupakan kapasitas individu untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan yang efektif guna mencapai hasil yang diinginkan dan mencegah hasil yang tidak diinginkan.
Menurut Averill (dalam M. Nur Ghufron & Rini Risnawati, 2012)[20] ada tiga aspek dalam kontrol diri yaitu, pertama kontrol perilaku, merupakan suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang dimana pada kemampuan ini individu menentukkan apakah dirinya dapat mengontrol perilaku serta mengendalikan situasi. Individu yang dapat mengontrol dirinya dengan baik akan mampu mengatur perilaku dengan kemampuan dirinya, namun jika tidak mampu untuk mengontrol dirinya dengan baik maka individu akan menggunakan cara lain untuk mengatasinya. Kedua kontrol kognitif, merupakan kemampuan individu dalam memperoleh sekaligus mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menghubungkan suatu peristiwa dalam kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau mekanisme pengurangan stres, sehingga memperoleh dan memproses informasi yang tidak diinginkan. Ketiga kontrol pengambilan keputusan, merupakan kemampuan untuk memilih tindakan berdasarkan dasar yang disepakati. Adanya peluang, kebebasan, atau kemungkinan dalam diri individu akan memfasilitasi kontrol pribadi dalam menentukan pilihan.
Hal ini didukung oleh penelitian (Immelda, Yovitha & Ismah, 2023)[21] diketahui hasil yang diperoleh adalah adanya hubungan kontrol diri dengan motivasi belajar yang artinya kedua variabel tersebut saling berhubungan satu sama lain dengan sifat hubungan penelitian ini adalah positif dan masuk ke dalam kategori sedang. Didukung juga oleh peneliti (Damajanti & Adhita, 2021)[22] Hubungan kontrol diri, dukungan sosial, dan motivasi belajar memiliki hubungan yang cukup kuat atau berkategori sedang. Nilai koefisien determinasi pada penelitian sebesar 0,255 menunjukkan bahwa dukungan sosial dan kontrol diri mempunyai pengaruh sebesar 25,5% terhadap motivasi belajar. Karena nilai koefisien dukungan sosial sebesar 0,217 dan nilai koefisien kontrol diri sebesar 0,251 maka terdapat hubungan positif antara variabel motivasi belajar dengan variabel dukungan sosial dan kontrol diri. Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa akan meningkat ketika mereka mampu melakukan pengendalian diri dan memperoleh dukungan sosial.
Penelitian ini membahas tentang dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri secara bersama-sama bisa mempengaruhi motivasi belajar, namun belum ada penelitian sebelumnya yang menggabungkan dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri secara bersama-sama dalam mempengaruhi motivasi belajar dengan subjek mahasiswa. Rata-rata penelitiaan mengenai motivasi belajar ditujukan kepada siswa, sangat jarang ditemukan dengan subjek mahasiswa. Serta rata-rata judul yang diangkatan adalah hubungan, sangat jarang judul yang diangkat adalah pengaruh. Karena itu, penelitian tentang pengaruh dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri dengan subjek mahasiswa bisa menjadi pembaruan penelitian yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian. Yang dimana dukungan sosial teman sebaya sebagai variabel yang dipengaruhi oleh sesuatu yang berasal dari eksternal dan kontrol diri sebagai variabel yang dipengaruhi oleh sesuatu yang berasal dari internal.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri terhadap motivasi belajar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan. Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh antara dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri terhadap motivasi belajar pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hipotesis kedua yang diajukan adalah adanya pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap motivasi belajar mahasiswa. Hipotesis ketiga yang diajukan adalah adanya pengaruh kontrol diri terhadap motivasi belajar mahasiswa.
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif inferensial merupakan metode yang melibatkan pengumpulan data secara sistematis mengenai fakta dan karakteristik objek yang diteliti. Selanjutnya, serangkaian langkah pengujian statistik dilakukan dan diinterpretasikan sesuai dengan teori dan literatur yang terkait dengan variabel dan subjek penelitian.[23]
Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling yaitu pengambilan sampel dengan kriteria tertentu. Sampel diambil dari populasi mahasiswa Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo sebanyak 252 mahasiswa yang jumlahnya diambil dari perhitungan sampel tabel Krejcie dan Morgan.
Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan tiga variabel dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri merupakan variabel independen, lalu motivasi belajar merupakan variabel dependen. Teknik pengumpulan data yang digunakan skala likert, yaitu kuesioner yang berisi beberapa pernyataan yang dimana responden akan diminta untuk menjawab. Penyebaran kuesioner dipilih untuk dilakukan untuk mengumpulkan data karena dapat mempermudah peneliti mencari serta mengumpulkan banyak data dari subyek. Dalam pemberian skor untuk aitem kuesioner yang didalamnya terdapat pernyataan atau pertanyaan bersifat positif (favorable) dimulai dengan skor 4–3–2–1, dan negatif (unfavorable) dimulai dengan skor 1–2–3–4. Penskalaan model ini memiliki alternatif jawaban dengan 4 pilihan jawaban, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS).
Alat Ukur Dukungan Sosial Teman Sebaya
Skala pertama yang digunakan pada penelitian ini adalah skala dukungan sosial teman sebaya sebagai variabel X1 yang berisi pernyataan yang berkaitan dengan aspek-aspek dukungan sosial teman sebaya yang disusun berdasarkan beberapa aspek menurut teman sebaya menurut Sarafino (1998) dengan jumlah 40 aitem dengan 5 aitem tidak valid. Setelah di uji coba terdapat 35 valid dengan reliabilitas (alpha cronbach) sebesar 0,876. Skala ini memiliki 17 aitem favorable dan 18 aitem unfavorable.[24]
Alat Ukur Kontrol Diri
Skala kedua yang digunakan adalah skala kontrol diri sebagai variabel X2 yang berisi pernyataan yang berkaitan dengan aspek-aspek kontrol diri yang disusun berdasarkan beberapa aspek menurut Averill (dalam M. Nur Ghufron & Rini Risnawati, 2012) dengan jumlah 30 aitem dengan 2 aitem tidak valid. Setelah di uji coba terdapat 28 aitem valid dengan reliabilitas (alpha cronbach) sebesar 0,712. Skala ini memiliki 14 aitem favorable dan 14 aitem unfavorable.[24]
Alat Ukur Motivasi Belajar
Skala ketiga yang digunakan adalah skala motivasi belajar sebagai variabel Y yang berisi pernyataan yang berkaitan dengan aspek-aspek motivasi belajar yang disusun berdasarkan beberapa aspek menurut Chernis dan Goleman (2001) dengan jumlah 40 aitem dengan 12 aitem tidak valid, Setelah di uji coba terdapat 28 aitem dengan reliabilitas (alpha cronbach) sebesar 0,761. Skala ini memiliki 13 aitem favorable dan 15 aitem unfavorable.[25]
Prosedur Penelitian
Penelitian ini adalah multiple regression yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh atau hubungan dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri terhadap motivasi belajar pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan. Data disebar dan dikumpulkan langsung melalui google form kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan menghitung nilai koefisien regresi untuk mengetahui pengaruh dari 2 variabel X dengan variabel Y yang dihitung menggunakan aplikasi JASP. Regresi linear berganda merupakan model regresi yang melibatkan lebih dari satu variabel independen/mempengaruhi (X). Untuk mengetahui arah dan besarnya pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) maka digunakan analisis regresi linier berganda (Ghozali, 2018).[26]
A. Hasil
1. Deskriptif Data Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa FPIP UMSIDA. Pada penelitian ini kegiatan ambil data dilakukan pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2024 melalui google form dengan pembagian skala dukungan sosial teman sebaya, skala kontrol diri dan skala motivasi belajar kepada peserta yang selanjutnya dilakukan penilaian. 35 aitem merupakan skala dukungan sosial teman sebaya, 28 aitem merupakan skala kontrol diri sedangkan 28 aitem merupakan skala motivasi belajar. Berikut data demografis subjek digambarkan pada tabel 1.
Tabel 1. Data Demografis Subjek
2. Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan analisis regresi berganda, data terlebih dahulu dilakukan sebuah pengujian asumsi klasik. Hal ini dilakukan agar data tersebut bersifat baik, linier, tidak bias, dan estimator. Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari hasil penelitian mampu memenuhi standar analisis. Uji asumsi tersebut harus mencakup uji normalitas, uji linearitas, uji multikolinearitas, dan uji homoskedastisitas. Berikut hasil uji analisis dari masing-masing asumsi tersebut.
a. Uji Normalitas
Dalam uji normalitas ini, proses pengambilan keputusan didasarkan pada fakta bahwa data sampel dari populasi berdistribusi normal jika signifikansi yang diperoleh lebih besar dari 0,05. Sebaliknya, jika signifikansi yang diperoleh kurang dari 0,05, data sampel dari populasi tidak berdistribusi normal. Menurut (Cruisietta dan Yoshepa, 2020), uji normalitas data dirancang untuk memastikan apakah dua atau lebih variabel yang diteliti menunjukkan hubungan linier atau tidak.[27]
Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data pada variabel dukungan sosial teman sebaya, kontrol diri, dan motivasi belajar sudah berdistribusi normal berdasarkan uji normalitas. Garis mengikuti histogram yang artinya distribusi data sudah normal dengn kata lain asumsi uji normalitas data sudah terpenuhi. Bisa dilihat pada gambar 1 distribusinya normal karena yang mendekati nol atau mendekati rata-rata banyak. Dapat disimpulkan bahwa data distribusi normal.
Standardized Residuals Histogram
Gambar 1. Uji Normalitas
b. Uji Liniearitas
Uji linieritas digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat bersifat linier atau tidak. Uji linieritas dapat dijalan melalui Test of Linearity. Kriteria yang berlaku jika nilai Sig. pada linearity < 0,05 maka terdapat hubungan yang linear (Sugiyono dan Susanto, 2015:323)[28]
Berdasarkan hasil uji liniearitas pada partial regression plot untuk dukungan sosial teman sebaya dengan motivasi belajar dan kontrol diri dengan motivasi belajar menunjukkan data yang liniearitas karena membentuk garis lurus. Sebaran data mendekati garis liniear yang menghubungkan antara dukungan sosial teman sebaya dengan motivasi belajar dan kontrol diri dengan motivasi belajar. Gambar 2 dan 3 menyajikan pemeriksaan hasil uji liniearitas yang dilakukan pada plot regresi parsial.
Partial Regression Plots
Gambar 2. Uji Linearitas
Partial Regression Plots (Motivasi Belajar vs Dukungan Sosial Teman Sebaya
Gambar 3. Uji Linearitas
Partial Regression Plots (Motivasi Belajar vs Kontrol Diri)
c. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas merupakan suatu hubungan linier antara variabel bebas dalam regresi berganda (Widarjono, 2010). Uji multikolinearitas dirancang untuk mengetahui korelasi atau hubungan antara setiap variabel. Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya persamaan fungsional antara variabel bebas dengan variabel lainnya, sehingga terbentuk suatu model penelitian yang bebas dari multikolinearitas.[29]
Model korelasi yang nilai VIF (Variance Inflation Factor) < 10 dan T (Tolerance) > 010. Berikut adalah hasil dari uji multikolinieritas. Berdasarkan tabel 4 di atas diperoleh nilai Tolerance sebesar 0,594 dan VIF sebesar 1.682 yang mana sudah memenuhi untuk nilai VIF < 10 dan nilai T > 0,10. Maka bisa disimpulkan jika tidak ditemukan adanya multikolinieritas dari kedua variabel bebas di dalam penelitian seperti dalam table di bawah ini.
d. Uji Homoskedastisitas
Uji homoskedastisitas adalah prosedur statistik yang digunakan untuk menguji apakah varians dari residual (kesalahan) dalam model regresi tetap konstan di seluruh rentang nilai variabel indepen. Homoskedastisitas adalah asumsi penting dalam regresi liniear klasik, yang menyatakan bahwa varians dari kesalahan (residual) tidak berubah ketika nilai variabel independen berubah.[30]
Berdasarkan hasil uji homoskedastisitas pada residuals plot untuk motivasi belajar dengan dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri yang menunjukkan data terdistribusi dengan acak yang seimbang dan dinyatakan bahwa asumsi homoskedastisitas terpenuhi. Analisis hasil uji homoskedastisitas pada residuals plot terdapat pada Gambar 4.
Residuals vs. Predicted
Gambar 4. Uji Homoskedastisitas
3. Uji Hipotesis
a. Uji Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama yang akan diuji adalah “terdapat pengaruh antara dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri dengan motivasi belajar pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan”. Jika nilai signifikan F < 0,10, maka H₀ ditolak dan H₁ diterima. Berdasarkan hasil uji hipotesis pada tabel di bawah ini dapat diketahui bahwa nilai R = 0,732 dan nilai F(2,249) = 143,876 dengan Sig. 0,000 < 0,05. Artiya hipotesis pertama dalam penelitian ini dapat diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dan kontrol dengan motivasi belajar pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan. Selanjutnya untuk dapat mengetahui besarnya variabel independen mempengaruhi variabel dependen terikat dapat dilihat dalam nilai R Square yaitu sebesar 0,536 atau 53,6% maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri mempengaruhi motivasi belajar sebesar 53,6% dan mahasiswanya 46,4% dipengaruhi oleh variabel lain.
Tabel 2. Hasil R Square pada Uji Hipotesis Pertama
Tabel 3. Hasil Uji F pada Uji Hipotesis Pertama
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa nilai F 143,876 kemudian nilai p di bawah 0.001, artinya ini menunjukkan sangat signifikan. Maka dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri bersama-sama mampu memprediksi motivasi belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa H₀ ditolak dan H₁ diterima.
b. Uji Hipotesis Kedua dan Ketiga
Uji hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh antara dukungan sosial teman sebaya terhadap motivasi belajar pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan. Pada tabel 4, nilai T = 6,288 menunjukkan bahwa koefisien variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Ini berarti bahwa variabel independen tersebut berkontribusi secara substansial dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Dan nilai p < 0,001 menunjukkan bahwa koefisien variabel independen signifikan secara statistik, berarti ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya terhadap motivasi belajar.
Uji hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh antara kontrol diri terhadap motivasi belajar pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan. Pada tabel 4, nilai T = 8,143 menunjukkan bahwa koefisien variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Ini berarti bahwa variabel independen tersebut berkontribusi secara substansial dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Dan nilai p < 0,001 menunjukkan bahwa koefisien variabel independen signifikan secara statistik, berarti ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara kontrol diri terhadap motivasi belajar.
c. Persamaan Regresi
15,461 merupakan nilai konstanta, artinya apabila variabel dukungan sosial teman sebaya dan motivasi belajar = 0, maka nilai awal motivasi belajar adalah 15,461. 0,228 (X1) merupakan nilai koefisien regresi variabel dukungan sosial teman sebaya terhadap motivasi belajar, hal ini menunjukkan apabila variabel dukungan sosial teman sebaya mengalami kenaikan satu kesatuan maka motivasi belajar akan mengalami peningkatan sebesar 0,228 atau 22,8% artinya terdapat korelasi positif signifikan antara kedua variabel tersebut. Kemudian nilai 0,439 (X2) merupakan nilai koefisien regresi variabel kontrol diri terhadap motivasi belajar, hal ini menunjukkan apabila variabel kontrol diri mengalami kenaikan satu kesatuan maka motivasi belajar akan mengalami peningkatan sebesar 0,493 atau 49,3% artinya terdapat korelasi positif signifikan antara kedua variabel tersebut.
Tabel 4. Nilai Koefisien Hubungan Antar Variabel
d. Sumbangan Efektivitas Variabel Independen
Sumbangan Efektif (SE) adalah ukuran sumbangan suatu variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) dalam analisis regresi. Penjumlahan atas semua Sumbangan Efektif (SE) variabel independen adalah sama dengan jumlah nilai R square (R2). Sumbangan efektif digunakan untuk mengetahui besarnya sumbangan efektif tiap prediktor atau variabel bebas dari keseluruhan prediksi. Sumbangan efektif dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: (Sutrisno Hadi, 2004: 39).[31]
Variabel dukungan sosial teman sebaya memberikan sumbangan efektif terhadap variabel motivasi belajar sebesar 22,6% dan variabel kontrol diri memberikan sumbangan efektif terhadap variabel motivasi belajar sebesar 31%. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kontrol diri memberikan sumbangan terbesar terhadap motivasi belajar. Untuk mengetahui sumbangan efektif dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Hasil Uji Hipotesis & Sumbang Efektivitas
B. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri dengan motivasi belajar. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa nilai F 143.876 dengan nilai taraf signifikansi p 0,001 < 10 yang berarti menunjukkan bahwa H₁ diterima dan H₀ ditolak yang artinya terdapat hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri dengan motivasi belajar. Untuk mengetahui berapa sumbangan efektif variabel independent terhadap variabel dependent yaitu berdasarkan hasil menunjukkan bahwa nilai R 0,732 dan R² 0,536 artinya varians dari motivasi belajar yang mampu dijelaskan oleh dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri itu sebesar 53,6%. Sementara sisanya itu dijelaskan oleh hal-hal lain yang tidak kita teliti disini.
Uji hipotesis yang dilakukan menunjukkan bahwa motivasi belajar pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan saling mempengaruhi dengan variabel dukungan sosial teman sebaya dengan kontrol diri sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Dalam konteks dukungan sosial teman sebaya, berdasarkan hasil yang sudah didapat variabel dukungan sosial teman sebaya diperoleh hasil nilai p 0,001 < 10 yang artinya bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan motivasi belajar. Dalam lingkungan perkuliahan adanya dukungan sosial dari teman sebaya juga diperlukan.
Teman sebaya dapat memberikan bantuan kepada mahasiswa dengan memberikan kenyamanan fisik, seperti menemani mereka saat mereka sedih, membantu mereka dengan tugas yang menantang, dan mengerjakan tugas. Selain kenyamanan fisik, teman sebaya juga dapat menciptakan lingkungan yang memfasilitasi individu ke dalam kelompok sosial, sehingga memberikan kenyamanan psikologis. Bantuan yang diberikan dapat berupa pengertian, kasih sayang, perhatian, afirmasi, bimbingan, atau nasihat.
Menurut teori Uno (2007) tentang dukungan sosial teman sebaya untuk motivasi belajar, seseorang yang memiliki tingkat motivasi belajar yang tinggi memiliki salah satu karakteristik yaitu lingkungan belajar yang kondusif untuk belajar. Di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi, teman sebaya merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap perubahan motivasi belajar seseorang. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya waktu yang mereka habiskan untuk berinteraksi dengan teman sebaya selama masa remaja oleh Santrock (2003).[32]
Penelitian oleh (Anggun, Yovitha & Desi, 2021) juga mendukung temuan penelitian ini yang menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Dalam lingkungan perkuliahan, adanya dukungan sosial antar teman sebaya dapat menumbuhkan rasa empati, sehingga terjalin hubungan sosial yang kuat yang saling mendukung dalam mengejar prestasi akademik dan pembelajaran. Hal tersebut dibutuhkan oleh individu untuk meningkatkan motivasi belajarnya. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa dipengaruhi oleh interaksi teman sebaya dan dukungan sosial.
Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa adanya dukungan sosial dari teman sebaya merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Hubungan sosial dan terjalinnya interaksi fisik dan psikologis yang positif yang mendukung tujuan akademis dan pembelajaran satu sama lain dalam lingkungan perkuliahan dapat difasilitasi oleh dukungan dari teman sebaya, yang berpotensi menumbuhkan empati. Hal tersebut penting bagi mahasiswa untuk meningkatkan motivasi belajar mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa dipengaruhi oleh interaksi teman sebaya dan dukungan sosial.[33]
Dalam konteks kontrol diri, berdasarkan hasil yang sudah didapat variabel kontrol diri diperoleh hasil nilai p 0,001 < 10 yang artinya bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan motivasi belajar. Kehadiran motivasi tidak hanya muncul secara alami, namun motivasi belajar juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, misalnya faktor internal yang dengan diri individu itu sendiri seperti kontrol diri yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri atau untuk melakukan penilaian maupun pilihan untuk menghindari perilaku negatif, serta adanya motivasi belajar pada diri peserta didik untu dapat mengarahkan dan mewujudkan prestasi belajar yang diharapkan (Febriani & Sugiarti, 2021).[34]
Individu yang memiliki kontrol diri yang tinggi, mereka akan lebih berperilaku yang positif dan mampu bertanggung jawab, seperti halnya tugas mahasiswa ketika di perkuliahan adalah menyelesaikan semua hal yang berhubungan dengan perkuliahan (Rianti & Rahardjo, 2014)[35] Pada hakikatnya kontrol diri memiliki peran terhadap penyesuaian diri terhadap. Individu yang memiliki kontrol diri yang kurang baik, cenderung menimbulkan perilaku yang manyimpang.
Pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mahasiswa harus memiliki kemampuan untuk mengatur perilaku mereka sendiri. Mahasiswa akan mengalami kemudahan yang lebih besar dalam mencapai tujuan pendidikan mereka dan menahan godaan, yang keduanya merupakan komponen penting dari pengendalian diri. Motivasi belajar akan tetap tinggi dan pencapaian dalam proses pembelajaran akan maksimal ketika individu memiliki pengendalian diri yang sangat baik, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Fachrurrozi et al. (2018) dan Al Dhuha et al. (2020).[36] Hal ini dapat diamati pada judul halaman yang tidak biasa: Judul Artikel Jurnal Kutipan Studi.
Dalam penelitian ini setiap variabel menghasilkan temuan yang memiliki dampak pada variabel yang lain. Variabel motivasi belajar dipengaruhi oleh variabel kontrol diri dan dukungan sosial teman sebaya. Dukungan sosial teman sebaya memiliki rata-rata total kumulatif 94,11 lalu variabel kontrol diri 74,08 dan variabel motivasi belajar 73,41 Kehadiran dukungan sosial yang cukup dari teman sebaya di lingkungan perkuliahan terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar mahasiswa, sekaligus menjaga pengendalian diri yang baik. Hal ini didukung oleh berbagai penelitian terdahulu dan berbagai penguatan teoritis dari para ahli.
Adapun limitasi penelitian ini terletak pada dari segi subjek peneliti menggunakan populasi serta sampel yang terbatas yaitu dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendiidkan. Sehingga tidak bisa digeneralisasi kepada mahasiswa yang ada diluar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Lalu dari segi metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif memilliki keterbatasan pada jawaban responden yang cenderung singkat sehingga peneliti tidak mendapatkan jawaban yang mendalam. Penelitian ini hanya mempertimbangkan pengaruh dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri tanpa mempertimbangkan faktor serta dampak yang lain, seperti dukungan sosial dari orang tua atau faktor psikologis lainnya juga dampak yang terjadi ketika variabel-variabel tersebut berbanding balik dengan penelitian ini.
Berdasarkan hasil serta pembahasan dapat dilihat masing-masing variabel independent yaitu dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri memiliki pengaruh yang signifikan dengan variabel dependent yaitu motivasi belajar. Berdasarkan temuan dari pengumpulan data yang telah dilakukan oleh peneliti, beberapa mahasiswa percaya bahwa dukungan teman sebaya dapat meningkatkan motivasi belajar juga percaya bahwa berada di lingkungan teman sebaya yang mendorong kegiatan belajar sangat penting untuk memotivasi diri sendiri untuk belajar. Temuan ini berkaitan dengan variabel dukungan sosial teman sebaya. Selain itu, hasil pengumpulan data dari variabel kontrol diri menunjukkan bahwa setiap mahasiswa memiliki kontrol diri yang baik untuk mendukung kegiatan belajar mereka.
Variabel dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri memiliki pengaruh yang positif terhadap pembentukan motivasi belajar mahasiswa. Hal ini dapat terjadi dikarenakan individu tersebut merasa adanya dorongan mental untuk beralih ke tindakan yang memberikan dukungan sosial untuk belajar. Kontrol diri yang kuat akan dapat mempengaruhi pikiran dan perilaku seseorang dengan cara yang positif; sebaliknya, kontrol diri yang lemah akan menyebabkan seseorang bertindak dengan cara yang berlawanan. Pada penelitian ini variabel dukungan sosial teman sebaya dan kontrol diri memiliki hubungan yang positif terhadap pembentukan motivasi belajar individu.
Dari pembahasan serta simpulan yang sudah ditulis, peneliti memberikan saran untuk mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan yaitu dapat membuat kegiatan seminar atau webinar dengan tema yang berhubungan dengan dukungan teman sebaya dan kontrol diri yang bisa didampingi oleh dosen atau narasumber yang sesuai dengan bidangnya. Selain itu mahasiswa juga dapat membentuk atau bergabung dengan teman-teman yang memiliki semangat belajar yang tinggi juat membuat dan mengatur jadwal belajar belajar yang teratur, dan lain sebagainya. Peneliti juga memberikan saran kepada penelitian selanjutnya untuk membahas faktor dan dampak pada penelitian ini agar penelitian ini dapat menjelaskan dengan detail tentang permasalahan yang ada serta dapat bermanfaat untuk pembaca khususnya untuk mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua responden yang sudah berpartisipasi untuk menyukseskan penelitian ini, yaitu teman-teman mahasiswa mahasiswi Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidaorjo yang telah membantu agar artikel skripsi ini selesai hingga ke tahap akhir.
M. Muhammad, “Pengaruh Motivasi dalam Pembelajaran,” LJ, vol. 4, no. 2, p. 87, Sep. 2017, doi: 10.22373/lj.v4i2.1881.
D. W. Pratama and D. Rusmawati, “Hubungan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Motivasi Belajar dalam Program Sekolah Lima Hari di SMAN 5 Semarang,” Jurnal EMPATI, vol. 6, no. 4, pp. 231–235, Mar. 2018, doi: 10.14710/empati.2017.20059.
A. Alfonso, “Motivasi belajar peserta didik jenjang pendidikan dasar daerah 3T kabupaten bengkayang di masa pandemi covid-19,” JPIS, vol. 10, no. 2, pp. 133–143, Dec. 2021, doi: 10.31571/saintek.v10i2.3379.
A. D. Hasibuan, “Teaching Clinic sebagai Upaya Mengentaskan Learning Loss Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19.”
Ahiruddin and H. Suharyati, “Analisis Rendahnya Motivasi Belajar Mahasiswa dengan Teknik Pemecahan Masalah Kreatif,” ILMA, vol. 2, no. 1, pp. 58–66, Sep. 2023, doi: 10.58569/ilma.v2i1.610.
F. Ferdian Farhan, O. Usman, and R. F. Rachmadania, “Pengaruh Keaktifan Organisasi dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa,” comserva, vol. 2, no. 09, pp. 1720–1728, Jan. 2023, doi: 10.59141/comserva.v2i09.574.
C. F. Djarwo, “Analisis Faktor Internal dan Eksternal terhadap Motivasi Belajar Kimia Siswa SMA Kota Jayapura,” vol. 7, 2020.
M. Kumala, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ners Semester t Stikes Patria Husada Blitar”.
M. Dianto., M.Pd., “Profil Dukungan Sosial Orang Tua Siswa di SMP Negeri Kecamatan Batang Kapas Pesisir Selatan,” Jurnal Counseling Care, vol. 1, no. 1, pp. 42–51, May 2017, doi: 10.22202/jcc.2017.v1i1.1994.
E. I. Saputri and L. Sabdaningtyas, “Hubungan Interaksi Teman Sebaya dengan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar”.
R. Ramadhon, “Pengaruh Beasiswa terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sriwijaya”.
D. Isnawati and D. H. F. Suhariadi, “Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Masa Persiapan Pensiun Pada Karyawan PT Pupuk Kaltim,” vol. 1, no. 3, 2012.
S. W. Simarmata and F. I. K. Karo, “Pengaruh Teman Sebaya terhadap Perilaku Menyimpang Siswa Kelas X SMK Swasta Satria Binjai Tahun Pelajaran 2017/2018”.
I. Hanapi and I. M. Agung, “Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Self Efficacy dalam Menyelesaikan Skripsi pada Mahasiswa”.
N. N. Santi and R. I. Khan, “Pengaruh Dukungan Teman Sebaya Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas III Sekolah Dasar,” JPDN, vol. 4, no. 2, p. 191, Aug. 2019, doi: 10.29407/jpdn.v4i2.13013.
P. P. Paramithasari and E. K. Dewi, “Hubungan antara Kontrol Diri dengan Pengungkapan Diri di Jejaringan Sosial pada Siswa SMA Kesatrian 1 Semarang”.
T. P. Amsari and R. D. D. Nurhadianti, “Kontrol Diri dan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Kepatuhan Santri dalam Melaksanakan Tata Tertib,” vol. 4, no. 1, 2020.
S. Sari, A. Murad, and A. Aziz, “Hubungan Antara Kontrol Diri dan Motivasi Belajar dengan Kedisiplinan Siswa SMA As-syafi’iyah Medan,” Tabularasa, vol. 2, no. 1, pp. 63–68, Jan. 2020, doi: 10.31289/tabularasa.v2i1.290.
A. N. Hasanah, “Hubungan Antara Motivasi Belajar Dan Kontrol Diri Dengan Prokrastinasi Dalam Mengerjakan Skripsi Pada Mahasiswa,” Psikoborneo, vol. 5, no. 3, Sep. 2017, doi: 10.30872/psikoborneo.v5i3.4425.
N. N. Nofitriani, “Hubungan antara Kontrol Diri dan Harga Diri dengan Perilaku Konsumtif terhadap Gadget pada Siswa Kelas XII SMAN 8 Bogor,” vol. 4, no. 1, 2020.
I. D. Astaurina and Y. Yuliejantiningsih, “Hubungan Kontrol Diri dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Tayu”.
A. P. Puteri and D. K. Dewi, “Hubungan antara Kontrol Diri dan Dukungan Sosial dengan Motivasi Belajar pada Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Surabaya,” vol. 8, no. 6, 2021.
A. Eldanto, G. Hoendarto, and T. Willay, “Penerapan Metode Statistika Inferensial sebagai Alat Bantu Hitung dengan Solusi Komprehensif,” vol. 5, no. 2.
M. Syafi'i, “Hubungan antara Kontrol Diri dan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang".
N. Prayogy, “Hubungan Dukungan Teman Sebaya dengan Motivasi Belajar pada Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh”.
M. Mona, J. Kekenusa, and J. Prang, “Penggunaan Regresi Linear Berganda untuk Menganalisis Pendapatan Petani Kelapa. Studi Kasus: Petani Kelapa Di Desa Beo, Kecamatan Beo Kabupaten Talaud,” dC, vol. 4, no. 2, p. 196, Jun. 2015, doi: 10.35799/dc.4.2.2015.9211.
C. K. Setiawan and S. Y. Yosepha, “Pengaruh Green Marketing dan Branding Image terhadap Keputusan Pembelian Produk The Body Shop Indonesia (Studi Kasus Pada Followers Account Twitter @TheBodyShopIndo),” m-pu.v10i1, vol. 10, no. 1, Jan. 2020, doi: 10.35968/m-pu.v10i1.371.
L. Dewi and S. Nathania, “Pengukuran Aspek Kepuasaan Konsumen Le Fluffy Dessert,” JBT, vol. 2, no. 01, pp. 61–72, Jun. 2018, doi: 10.24123/jbt.v2i01.1087.
E. Yaldi et al., “Penerapan Uji Multikoliniear dalam Penelitian Manajemen Sumber Daya Manusia,” Jumanage, vol. 1, no. 2, pp. 94–102, Jul. 2022, doi: 10.33998/jumanage.2022.1.2.89.
C. Mokosolang, J. Prang, and M. Mananohas, “Analisis Heteroskedastisitas Pada Data Cross Section dengan White Heteroscedasticity Test dan Weighted Least Squares,” dC, vol. 4, no. 2, p. 172, Jun. 2015, doi: 10.35799/dc.4.2.2015.9056.
A. R. Yulianto, H. Subariyanti, and A. K. Wardhana, “Analisis Pengaruh Kualitas Produk dan Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pelanggan”
S. T. Hidayati, “Hubungan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas VII MTS Al-Yasini Pasuruan,” 2016.
A. P. Damayanti, Y. Yuliejantiningsih, and D. Maulia, “Interaksi Sosial Teman Sebaya Terhadap Motivasi Belajar Siswa,” vol. 5, no. 2, 2021.
M. A. Baehaqi, U. D. A. Wibowo, and D. S. Septiningsih, “Pengaruh Kontrol Diri dan Dukungan Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar pada Peserta Didik SMA Negeri 1 Jatibarang Brebes.”
R. D. Marsela and M. Supriatna, “Kontrol Diri : Definisi dan Faktor” 2019.
A. D. Shanam, O. R. Setiawan, S. M. P. Lestari, and P. Rukmono, “Kontrol Diri dengan Motivasi Belajar SMA Negeri 1.”