Lailatul Ramadhina (1), Agus Salim (2)
General Background: Early childhood social emotional development constitutes a foundational aspect of personality formation and future adjustment within family and educational environments. Specific Background: The phenomenon of fatherless families has increasingly drawn scholarly attention due to concerns regarding children’s behavioral regulation, emotional expression, and social interaction patterns. Knowledge Gap: Despite growing discussions on parental roles, limited qualitative exploration has focused specifically on how father absence relates to social emotional characteristics in early childhood within contextual family settings. Aims: This study aims to analyze the social emotional development of early childhood experiencing fatherless conditions and to describe observable behavioral patterns in daily interactions. Results: The findings indicate variations in emotional regulation, social responsiveness, self-confidence, and peer interaction, reflecting the centrality of paternal presence in shaping children’s socio-emotional experiences. Novelty: The study provides contextualized qualitative evidence highlighting the lived experiences of children in father-absent families within early childhood education settings. Implications: These results contribute to the discourse on parental involvement and offer practical considerations for educators and families in supporting children’s socio-emotional growth in father-absent contexts.
Keywords: Fatherless, Early Childhood, Social Emotional Development, Parental Involvement, Qualitative Study
Key Findings Highlights:
Children displayed distinct emotional regulation patterns in father-absent families.
Peer interaction tendencies varied according to family structure conditions.
Self-confidence and social responsiveness reflected differences in paternal presence.
Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini merupakan proses belajar pada diri anak tentang cara berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan mengendalikan perasaanya[1]. Hurlock mendefinisikan perkembangan sosial sebagai kemampuan anak untuk bersikap atau berperilaku dalam interaksi sosial, yang diperoleh melalui berbagai kesempatan dan pengalaman, seperti dalam keluarga, lingkungan teman sebaya, dan sebagainya [2]. Indikasi perkembangan sosial anak usia dini termasuk percaya diri, kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, dan kemampuan untuk mengenali jati diri. Proses anak-anak untuk belajar mengendalikan diri dan berinteraksi dengan teman sebaya secara efektif dan sehat, termasuk rasa senang, bangga, malu, sedih, marah, kecewa, dan empati dikenal sebagai perkembangan emosi. Perkembangan emosional adalah proses di mana anak melatih rangsangan sosial, terutama dalam kegitan kelompok [3]. Indikasi perkembangan emosi anak usia dini seperti dapat menunjukkan emosi yang wajar, disiplin, mentaati aturan dan bertanggung jawab [4].
Proses bimbingan dan arahan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial dan tanggungjawab dapat memengaruhi perkembangan sosial emosional anak. Perkembangan sosial emosional adalah proses interaksi anak dengan orang tua, teman sebaya, dan lingkungan sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari, perkembangan sosial emosional dapat terjadi melalui mendengarkan, mengamati, dan meniru, sehingga orang tua dan keluarga sangat memengaruhi perkembangan sosial emosional anak [5].
Keluarga merupakan ikatan dari pernikahan yang terdiri atas suami istri dan anak, yang menjalani kehidupan bersama-sama untuk mendirikan bahtera rumah tangga yang sakinah Mawaddah Warohma [6]. Anggota keluarga harus saling memahami, menjaga, mencintai, dan menjalankan tanggung jawab masing-masing [7]. Perkembangan sosial-emosional anak usia dini sangat penting untuk pembentukan kepribadian dan kemampuan bersosial mereka di masa depan [8]. Peran orang tua dalam pengasuhan sangat penting untuk anak, tidak hanya ibu melainkan sosok ayah sangat penting dalam hal pengasuhan, seorang ayah juga memiliki peran dan kewajiban untuk mendidik anaknya.
Dalam keluarga, ayah berfungsi sebagai role model, sumber cinta kasih, dan pendorong untuk membangun rasa percaya diri dan kemandirian anak, yang sangat penting untuk perkembangan sosial-emosional anak. Pengaruh ayah terhadap perkembangan sosial-emosional anak mencakup pengembangan fungsi otak, pengajaran seks, dan menjadi teman bermain dan sahabat anak [9]. Karakter dan akhlak anak mencerminkan kesuksesan ayah dalam memimpin keluarga [10]. Keberadaan seorang ayah memiliki pengaruh penting terhadap kehidupan anak.
Saat ini banyak anak yang kekurangan bahkan kehilangan sosok ayah yang disebabkan oleh beberapa faktor, kondisi tersebut dikenal dengan istilah Fatherless. Fatherless berarti tidak adanya peran ayah dalam keluarga, termasuk menjalankan tanggung jawab, mendidik, dan memberikan perlindungan. Beberapa penyebabnya antara lain usia pernikahan yang lebih muda, kematian, perpisahan, kehilangan ayah, atau bahkan ada keberadaannya tetapi tidak berpartisipasi secara aktif. Selain itu, budaya yang dianggap patriarki menyebabkan ayah hanya bertanggung jawab untuk mencari nafkah, dan ibu dianggap bertanggung jawab penuh untuk menjaga anak-anak mereka [11]. Perkembangan sosial dan emosional anak usia dini yang kehilangan peran ayah akan berbeda dengan anak yang tumbuh dalam keluarga harmonis .
Riset menunjukkan bahwa budaya patriarki menjadi dalah satu penyebab fenomena Fatherless. Orang tua perlu memiliki pengetahuan dasar sebelum membina keluarga [12]. Karakter anak mencerminkan keberhasilan orang tua dalam menciptakan keluarga yang sejahtera dan hamonis [13]. Masa usia dini merupakan periode penting pembentukan karakter anak karena rasa ingin tahunya yang tinggi; orang tua berperan penting dalam memberikan pengetahuan dan pendidikan anak yang memengaruhi perkembangan sosial-emosional. Kesiapan usia, mental, fisik, emosional, intelektual dan finansial sangat penting untuk mencegah Fatherless, oleh karena itu, persiapkan diri sebelum menikah untuk membangun kehidupan yang untuk layak di masa mendatang. Masa anak usia dini, khususnya masa golden age, merupakan periode krusial pembentukan karakter; mendidik anak bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan seluruh anggota keluarga. Kurangnya kasih sayang orang tua dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.
Anak-anak yang tidak memiliki figur ayah yang kuat dapat menghadapi kesulitan dalam membangun rasa percaya diri, mengontrol emosi, dan membangun hubungan sosial yang positif [14].Anak memiliki kemampuan akademis yang rendah, sulit menentukan keputusanSelain itu, mereka berisiko mengalami masalah fisik dan psikologis, seperti diskriminasi dan perundungan, serta pengucilan dari lingkungan mereka [15]. Sehingga mengakibatkan perkembangan sosial emosionalnya sedikit terlambat dari teman sebaya.
Menurut Saif Indonesia menempati peringkat ke tiga Negara dengan kasus Fatherless terbanyak dalam pengasuhan anak [16]. Menurut McBride dkk, bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan mencakup lima aspek yaitu : 1. Tanggung jawab membagi tugas mengurus anak, 2. Memberikan kehangatan dan afeksi pada anak, 3. Pekerjaan rumah diselesaikan secara bersama-sama, 4. Aktivitas bersama yang berpusat pada anak, 5. Pengawasan kedua orang tua [17]. Dengan demikian ayah dapat bertanggung jawab secara menyeluruh untuk berbagi tugas mengasuh anak bersama dengan ibu. Bedasarkan data UNICEF 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa sosok ayah, menurut mahen et al fatherles juga berdampak pada perkembangan psikoogis dan sosial emosional anak [18].
TK Mutiara Cita Hati terletak di tengah kota Sidoarjo. Fatherless merupakan salah satu masalah yang terjadi di TK tersebut, berbagai alasan yang mendasari terjadinya fenomena tersebut antara lain perceraian, tidak memiliki peran, tidak mendidik dan lepas tangungjawab. Anak yang mengalami Fatherless memiliki perkembangan yang berbeda dari teman sebaya terutama pada perkembangan sosial emosional, mereka cenderung memiliki emosi yang kurang stabil, egosentris, berani mempertahankan diri dan berperilaku agresif. Perilaku ini dapat diinterpretasikan sebagai upaya mencari perhatian karena kurangnya kasih sayang. Sebaliknya, anak dari keluarga harmonis cenderung menunjukkan karakter yang lebih positif, seperti saling mengingatkan, menasehati bahkan bisa memecahkan masalahnya sendiri dan self-control pada dirinya sendiri.
Ketidakhadiran seorang ayah sering ditutupi dengan ibu yang mengantikan perannya, sehingga keluarga besar beranggapan seolah tidak ada dampak yang akan terjadi pada anak. Pada faktanya ayah menjadi peran utama dalam suatu keluarga. Oleh kerena itu penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dampak yang terjadi pada anak yang mengalami Fatherless di TK Mutiara Cita Hati.
Jenis penelitian menggunakan penelitian kualitatif jenis fenomenologi. Fenomenologi merupakan pengalaman dari sebuah kejadian dan atau studi menurut perspektif seseorang [19]. Penelitian ini dilaksanakan di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo. Subjek penelitian melibatkan satu guru, empat wali murid serta empat siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk pengumpulan data dari yang terjadi secara langsung diruang kelas. Wawancara digunakan untuk mendapatkan data secara valid dengan cara mengajukan pertanyaan pada guru mengenai perkembangan sosem dan karakter anak serta mengajukan pertanyaan pada orang tua mengenai keterlibatan ayah dalam proses perkembangan anak. Dokumentasi digunakan untuk proeses pengumpulan data yang berkaitkan dengan hasil wawancara dan gambar. Triangulasi data menggunakan triangulasi Teknik.
Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Hubberman, yang meliputi 4 tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi dan Kesimpulan [20]. Reduksi data dilakukan untuk pengumpulan semua data dan informasi terkait dampak Fatherless yang terjadi di TK Mutiara Cita Hati, dengan cara merangkum hasil observasi dan wawancara yang sudah penulis lakukan. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian atau deskripsi untuk mempermudah dalam memahami dan menelaah dampak dari Fatherless itu sendiri.Verifikasi dilakukan untuk memastikan data yang dimasukan penulis sama dengan data dari narasumber dengan cara validasi responden. Kesimpulan, Setelah melakukan reduksi data dan penyajian data dihasilkan data yang valid, maka disimpulkan bahwasanya dampak fatherless pada anak sangat berpegaruh terutama dalam perkembangan sosial dan emosional.
A. Hasil Penelitian di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo
TK Mutiara Cita hati merupakan suatu lembaga tingkat kanak-kanak dalam bentuk pendidikan formal yang menyelengarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun. Tenaga pengajar di lembaga tersebut memiliki latar belakang pendidikan psikologi dan menerima layanan inklusi anak usia dini. Pada setiap tahunnya akan membuka rombel kelas TK A dan TK B, terdapat dua bunda pada setiap kelasnya yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana pendidikan dan satu kelas terdiri dari delapan belas siswa dengan berbagai macam perkembangan sosial emosional yang dimiliki anak.
Hasil penelitian ini akan diuraikan lebih lanjut untuk melihat dampak Fatherless pada perkembangan sosial emosional anak-anak usia dini di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan guru, wali murid, dan peserta didik. Observasi dilakukan mulai tanggal 1 Agustus hingga 31 September 2025, dan wawancara dilakukan mulai tanggal 1 hingga 22 September 2025. Data kemudian dianalisis secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk deskripsi.
Wawancara dilakukan sebanyak dua kali terhadap subjek penelitian. Wawancara pertama dilakukan untuk memastikan bahwa siswa di TK B memiliki indikasi Fatherless. Pada wawancara kedua dilakukan secara mendalam tentang faktor penyebab terjadinya Fatherless. Indikasi anak usia dini yang mengalami Fatherless diantara lain memiliki ganggungan emosional yang belum sempurna, sulit beradaptasi di lingkungan sosial, tidak percaya diri dan belum mengenal jati dirinya sendiri. Hasil wawancara pertama menunjukkan bahwa empat siswa mengalami indikasi Fatherless, termasuk kesulitan berinteraksi di lingkungan sosial dan kematangan emosi yang belum sempurna. Ini dapat disebabkan oleh kurangnya peran ayah dalam kehidupan sehari-hari, seperti memberikan pengasuhan, pendampingan, dan dukungan emosional yang tidak konsisten.
Hasil wawancara mendalam kedua menunjukkan bahwa keempat siswa tersebut mengalami Fatherless. Ada dua penyebab Fatherless: ayah terlalu sibuk bekerja dan tidak memiliki waktu luang untuk bermain dan berinteraksi dengan anak-anak. Oleh karena itu, anak-anak tidak tertarik dengan dunia sekitar mereka.Selain itu, ayah tidak selalu menggurus anak secara adil dan memiliki kepribadian yang sedikit tegas, sehingga tidak ada chemistry antara anak dan ayah. Kedua, perceraian, menyebabkan anak-anak mengalami kekosongan emosional dan kesulitan untuk mengembangkan emosinya di lingkungan sosial. Hasil wawancara yang dilakukan secara berulang dan mendalam menunjukkan bahwa di kelas TK B terdapat siswa yang mengalami indikasi Fatherless. Ini disebabkan oleh ketidakterlibatan ayah dalam proses pengasuhan dan pembentukan, yang berdampak pada perkembangan sosial emsosional anak yang belum sempurna.
Figure 1.
B. Dampak Fatherless pada Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo
Hasil penelitian di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo menunjukkan bahwa dampak ketidakhadiran orang tua pada keempat anak memiliki dampak perkembangan sosial emosional yang belum berkembang dan karakter masing-masing anak berbeda. Maola et al. menyatakan bahwa perkembangan sosial anak usia dini menjadi ciri khas anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, terutama dengan teman sebaya mereka. Perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungannya, baik secara positif maupun negatif, terutama perkembangan sosial anak, yang dapat diamati melalui interaksi mereka dengan teman sebaya. Perkembangan sosial pada anak termasuk pemahaman diri, rasa cemas yang berlebihan, tanggung jawab, dan keinginan untuk berinteraksi dengan teman sebaya.[21].
Sehubungan dengan perkembangan sosial yang belum berkembang dengan baik, tiga anak yang mengalami Fatherless menunjukkan sikap yang sulit beradaptasi di lingkungan baru, duniannya sendiri, sulit memahami aturan, sulit bekerja sama, tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya, egosentris, tidak bisa mengungkapkan perasaannya, dan cenderung menyimpan semuanya sendiri, tidak percaya diri, dan kurangnya empati. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya peran ayah dalam mendorong anak untuk bersosialisasi, seperti mengajarkan mereka aturan bermain dan mengajarkan mereka untuk berkenalan dengan orang lain. Ayah juga tidak akan mendorong anak untuk mencoba semua kegiatan yang membangun dan berkelompok. Anak-anak yang tidak percaya diri adalah hasil dari peran ayah yang kurang terlibat dalam membangun identitas mereka.
Salah satu siswa yang mengalami Fatherless menunjukkan perkembangan sosial yang baik; dia biasanya suka berbagi, sangat peduli dengan teman, mengikuti kegiatan dengan baik, dan ramah pada semua orang. Ini semua disebabkan oleh keluarganya yang mengenalkannya secara teratur dengan kegiatan sosial seperti berbagi berkah Jumat dan memberikan bantuan kepada anak yatim piatu. Perkembangan sosial emosional anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga mereka. Santrock menyatakan bahwa emosi adalah perasaan yang sangat penting bagi anak ketika berada dalam suatu situasi atau terlibat dalam interkasi. Reaksi yang dihasilkan dari kebutuhan, motivasi, dan minat individu. Tampaknya emosi seseorang terihat dari reaksi psikologis, perasaan, dan perlilaku, yang menyebabkan perilaku emosional. [22].
Hasil observasi dari keempat anak yang mengalami Fatherless menunjukkan bahwa mereka belum mampu mengolah emosinya dengan baik. Mereka tidak bisa mengungkapkan perasaan seperti bahagia, marah, dan kecewan, tidak bisa mengendalikan rasa sabar, tidak bisa menerima kekalahan, tidak mampu mengendalikan diri atau tantrum, egosentris, dan tidak mau meminta maaf. Peran ayah sangat penting dalam mengolah emosi anak untuk mengajarkan mereka bahwa mereka harus berani dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Selain itu, jika anak tidak dapat melindungi barang-barangnya, peran ayah membantu mengajarkan anak bahwa mereka memiliki hak.
Terdapat tiga jenis Fatherless yang terjadi, pertama Long Distance Marriage menjadi salah satu penyebab anak mengalami Fatherless diamana jarak memisahkan anak dengan ayah, kurangnya komunikasi dan kedekataan anak dengan ayah. Pada anak yang mengalami Fatherles dengan jenis ini berdampak pada perkembangan emosionalnya diamana anak tersebut cenderung sulit mengendalikan perasaan, belum bisa menerima kekalahan, ingin selalu di lihat, dan kurangnya rasa sabar. Hal tersebut bisa terjadi di sebabkan oleh kurangnya peran ayah dalam mangasuh dan memberikan perhatian pada anak sehingga menimbulkan emosional yang kurang baik. Pada perkembangan sosialnya memilik perkemanan yang cukup baik karena anak tersebut terlibat aktif pada kegiatan – kegiatan sosial.
Kedua Ayah Tidak berpartisipasi secara aktif, keterlibatan ayah dalam proses mengasuh dan mendidik anak menjadi pondasi utama dalam proses berkembangnya anak terutama perkembangan sosial emosional, pada anak yang mengalami jenis Fatherless ini berdampak pada perkembangan sosial emosionalnya anak tersebut cenderung sulit bersosial dengan teman sebaya, memiliki dunianya sendiri, belum berani mengungkapkan perasaan, kurangnya empati, egosentris, tidak mengenali barang miliknya dan tidak percaya diri, hal tersebut dapat terjadi karena kurangnya keterlibatan ayah dalam proses pembentukkan jati diri anak, anak cenderung mencari jati dirinya sendiri disertai dengan keterlambatan pada perkembangnnya.
Ketiga Perpisahan orang tua yang berujug pada tidak hadiran figur ayah dalam pengasuhan anak menjadi salah satu faktor utama munculnya kondisi Fatherless yang berdampak pada permebangan sosial emosionalnya. Pada anak yang mengalami jenis Fatherless ini anak cenderung sulit untuk berosial, kebingungan memahami dirinya sendiri, tidak percaya diri, sulit memahai kesepakatan, sulit untuk bekerjasama dan tidak tertarik pada kegiatan yang melibatkan banyak orang. Dampak yang terjadi pada jenis Fatherless perpisahan perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat mempengaruhi keberlangsungan proses tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo, dapat di simpulkan bahwasanya kehadiran sosok ayah secara fisik maupun psikologi memiliki dampak pada perkembangan anak salah satunya pada perkembangan sosial emosionalnya. Dampak kerhadiran ayah dalam perkembangan sosial anak meliputi mampu menyesuaikan diri di lingkungan sosial, mengenal perbedaan keadaan yang berbahaya tahu tidak, sedangkan pada perkembangan emosionalnya peran ayah sebagai mengenalkan hak miliknya, bertanggung jawab, mengendalikan perasaanya, dan mengikuti kesepakatan bermain. Hal ini sangat berdampak pada anak-anak yang mengalami Fatherless. Anak-anak ini biasanya memiliki emosi yang tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat bersosial dengan baik. Namun, jika mereka terlibat dalam kegiatan yang positif, dampak yang mereka alami akan sedikit berkurang, tetapi kekosongan peran ayah dalam kehidupan mereka akan tetap dirasakan. Jadi, ibu dan ayah harus bekerja sama untuk membesarkan anak, karena keduanya dapat membangun anak yang matang secara sosial dan emosional.
Ucapan Terima Kasih
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesikan tugas akhir ini. Dengan kerendahan hati, tiada kata yang dapat mewakili betapa besar rasa syukur ini, selain ucapan terimakasih yang setulus-tulusnya penulis sampaian kepada pihak yang telah menajdi bagian penting dalam proses perjalanan penulisan tugas akhir ini. Pertama penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo atas kesempatan dan kerja sama yang diberikan selama proses penelitian berkangsung, serta bantuan informasi yang sangat membantu penulis dalam proses pengeumpulan data. Kedua, penulis ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya secara mendalam kepada orang tua dan siswa siswi atas kerja sama , partisipasi dan dukungan untuk proses observasi dan pengumpulan data yang berperan penting dalam penelitian ini. Ketiga , penulis haturkan rasa hormat dan terimakasih kepada Bapak/Ibu dosen atas bimbingan, arahan,kesabaran, kerja sama dan waktu yang telah diluangkan. Dan yang terakhir penulis ucapkan terimakasih kepada kedua orang tua, adik dan teman yang sangat di sayangi atas motivasi , dorongan dan kontribusi serta senantiasa mendoakan memberikan kasih sayang dan kekuatan untuk terus berusaha menjadi lebih baik lagi.
[1] N. N. Fuadia, “Perkembangan Sosial Emosi Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 3, pp. 31–47, 2022.
[2] J. G. Age and U. Hamzanwadi, “Perilaku Sosial Emosional Anak Usia Dini,” Jurnal Golden Age, vol. 4, no. 1, pp. 181–190, 2020.
[3] Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini UIN Sumatera Utara, “Mengembangkan Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Bermain,” vol. 2, no. 1, 2021.
[4] D. Dari and I. B. U. Yang, “Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 1, no. 1, pp. 32–37, 2023.
[5] D. Ismawati, Y. Puspita, and S. Raharjo, “Dampak Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial-Emosional Anak Usia Dini,” Jurnal Edusiana: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 2, no. 1, pp. 49–61, 2024.
[6] T. Novela, “Dampak Peran Ayah Terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini,” Raudhatul Athfal: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 3, no. 1, pp. 16–29, 2020, doi: 10.19109/ra.v3i1.3200.
[7] S. Banu and N. D. Y. Manik, “Pengaruh Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Pada Keluarga Yang Tidak Memiliki Ayah,” Didache: Journal of Christian Theology and Education, vol. 3, no. 1, pp. 73–83, 2021, doi: 10.55076/didache.v3i1.49.
[8] A. R. Sundari and F. Herdajani, “Dampak Fatherlessness Terhadap Perkembangan Psikologis Anak,” Prosiding Seminar Nasional Parenting, vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2023.
[9] R. Rohmalina, R. H. Lestari, and S. K. Alam, “Analisis Keterlibatan Ayah Dalam Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini,” Golden Age: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 3, no. 1, pp. 1–8, 2021, doi: 10.29313/ga.v3i1.4809.
[10] A. Fajarrini and A. N. Umam, “Dampak Fatherless Terhadap Karakter Anak Dalam Pandangan Islam,” Abata: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 3, no. 1, pp. 20–28, 2023, doi: 10.32665/abata.v3i1.1425.
[11] N. E. Nurjanah, F. Jalal, and A. Supena, “Studi Kasus Fatherless: Peran Ayah Dalam Pengasuhan Anak Usia Dini,” Kumara Cendekia, vol. 11, no. 3, p. 261, 2023, doi: 10.20961/kc.v11i3.77789.
[12] M. S. Gita and A. Parapat, “Dampak Fatherless Terhadap Kemampuan Komunikasi Anak Usia 5–6 Tahun,” Innovative Journal of Social Science Research, vol. 4, pp. 8881–8889, 2024.
[13] R. P. Sari, E. Puspitasari, and Y. Solfiah, “Pengaruh Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Terhadap Penyesuaian Diri Anak Usia 4–6 Tahun,” Journal of Social Science Research, vol. 3, pp. 3064–3073, 2023.
[14] A. Syarefa and L. R. Bakhitah, “Kajian Sosial Humaniora dan Keagamaan,” Adaptasi: Jurnal Sosial Humaniora dan Keagamaan, vol. 1, no. 1, pp. 67–87, 2024.
[15] E. S. W. Zarkasyi and M. A. Badri, “Fenomena Fatherless Dalam Keluarga Perspektif Hukum Islam,” Usrah: Jurnal Hukum Keluarga Islam, vol. 4, no. 2, pp. 193–208, 2023, doi: 10.46773/usrah.v4i2.765.
[16] M. A. Kusumawati, “Pola Pengasuhan Ayah Terhadap Kemampuan Fisik Motorik dan Sosial Emosional Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 1, no. 3, 2024.
[17] A. P. Fajriyanti and D. Saputri, “Fenomena Fatherless di Indonesia,” The Indonesian Journal of Social Studies, vol. 7, no. 1, pp. 94–99, 2024.
[18] L. D. Utami, M. W. Achadi, and F. Mustafid, “Kajian Perkembangan Anak Usia Dini,” Journal of Early Childhood Studies, vol. 4, pp. 11440–11453, 2024.
[19] H. Wulandari and M. U. D. Shafarani, “Dampak Fatherless Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini,” Ceria: Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 12, no. 1, p. 1, 2023, doi: 10.31000/ceria.v12i1.9019.
[20] U. Sidiq and M. M. Choiri, Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan. Ponorogo: CV Nata Karya, 2021.
[21] F. Nurindah, “Analisis Data Penelitian Kualitatif,” 2022.
[22] A. E. Melinda, “Perkembangan Sosial Anak Usia Dini Melalui Teman Sebaya,” Jurnal Obsesi, vol. 9, pp. 127–131, 2021.
[23] W. D. Asy-Syamsa and E. S. Zulfa, “Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 1, no. 1, pp. 1–11, 2022.