<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>An Analysis of the Impact of Fatherlessness on Early Childhood Social-Emotional Development (At Mutiara Cita Hati Kindergarten, Sidoarjo) </article-title>
        <subtitle>Analisis Dampak Fatherless pada Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini ( Di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo ) </subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Ramadhina</surname>
            <given-names>Lailatul</given-names>
          </name>
          <email>lailatulramadhina78@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Salim</surname>
            <given-names>Agus</given-names>
          </name>
          <email>agussalim@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-01-26">
          <day>26</day>
          <month>01</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>10</day><month>02</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>Pendahuluan </title>
      <p id="_paragraph-10">Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini merupakan proses belajar pada diri anak tentang cara berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan mengendalikan perasaanya<xref id="_xref-1" ref-type="bibr" rid="bib1">[1]</xref>. Hurlock mendefinisikan perkembangan sosial sebagai kemampuan anak untuk bersikap atau berperilaku dalam interaksi sosial, yang diperoleh melalui berbagai kesempatan dan pengalaman, seperti dalam keluarga, lingkungan teman sebaya, dan sebagainya <xref id="_xref-2" ref-type="bibr" rid="bib2">[2]</xref>. Indikasi perkembangan sosial anak usia dini termasuk percaya diri, kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, dan kemampuan untuk mengenali jati diri. Proses anak-anak untuk belajar mengendalikan diri dan berinteraksi dengan teman sebaya secara efektif dan sehat, termasuk rasa senang, bangga, malu, sedih, marah, kecewa, dan empati dikenal sebagai perkembangan emosi. Perkembangan emosional adalah proses di mana anak melatih rangsangan sosial, terutama dalam kegitan kelompok <xref id="_xref-3" ref-type="bibr" rid="bib3">[3]</xref>. Indikasi perkembangan emosi anak usia dini seperti dapat menunjukkan emosi yang wajar, disiplin, mentaati aturan dan bertanggung jawab <xref id="_xref-4" ref-type="bibr" rid="bib4">[4]</xref>.</p>
      <p id="_paragraph-11">Proses bimbingan dan arahan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial dan tanggungjawab dapat memengaruhi perkembangan sosial emosional anak. Perkembangan sosial emosional adalah proses interaksi anak dengan orang tua, teman sebaya, dan lingkungan sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari, perkembangan sosial emosional dapat terjadi melalui mendengarkan, mengamati, dan meniru, sehingga orang tua dan keluarga sangat memengaruhi perkembangan sosial emosional anak <xref id="_xref-5" ref-type="bibr" rid="bib5">[5]</xref>. </p>
      <p id="paragraph-976f04f22a2f926176e9ec8f037501ad">Keluarga merupakan ikatan dari pernikahan yang terdiri atas suami istri dan anak, yang menjalani kehidupan bersama-sama untuk mendirikan bahtera rumah tangga yang sakinah Mawaddah Warohma <xref id="_xref-6" ref-type="bibr" rid="bib6">[6]</xref>. Anggota keluarga harus saling memahami, menjaga, mencintai, dan menjalankan tanggung jawab masing-masing <xref id="_xref-7" ref-type="bibr" rid="bib7">[7]</xref>. Perkembangan sosial-emosional anak usia dini sangat penting untuk pembentukan kepribadian dan kemampuan bersosial mereka di masa depan <xref id="_xref-8" ref-type="bibr" rid="bib8">[8]</xref>. Peran orang tua dalam pengasuhan sangat penting untuk anak, tidak hanya ibu melainkan sosok ayah sangat penting dalam hal pengasuhan, seorang ayah juga memiliki peran dan kewajiban untuk mendidik anaknya.</p>
      <p id="paragraph-f0fec7807ad26d614eb7de5e8d45b8c7">Dalam keluarga, ayah berfungsi sebagai role model, sumber cinta kasih, dan pendorong untuk membangun rasa percaya diri dan kemandirian anak, yang sangat penting untuk perkembangan sosial-emosional anak. Pengaruh ayah terhadap perkembangan sosial-emosional anak mencakup pengembangan fungsi otak, pengajaran seks, dan menjadi teman bermain dan sahabat anak <xref id="_xref-9" ref-type="bibr" rid="bib9">[9]</xref>. Karakter dan akhlak anak mencerminkan kesuksesan ayah dalam memimpin keluarga <xref id="_xref-10" ref-type="bibr" rid="bib10">[10]</xref>.  Keberadaan seorang ayah memiliki pengaruh penting terhadap kehidupan anak.</p>
      <p id="paragraph-15cf641663a58306771b97f29366f3c4">Saat ini banyak anak yang kekurangan bahkan kehilangan sosok ayah yang disebabkan oleh beberapa faktor, kondisi tersebut dikenal dengan istilah <italic id="_italic-27">Fatherless</italic>. <italic id="_italic-28">Fatherless</italic> berarti tidak adanya peran ayah dalam keluarga, termasuk menjalankan tanggung jawab, mendidik, dan memberikan perlindungan. Beberapa penyebabnya antara lain usia pernikahan yang lebih muda, kematian, perpisahan, kehilangan ayah, atau bahkan ada keberadaannya tetapi tidak berpartisipasi secara aktif. Selain itu, budaya yang dianggap patriarki menyebabkan ayah hanya bertanggung jawab untuk mencari nafkah, dan ibu dianggap bertanggung jawab penuh untuk menjaga anak-anak mereka <xref id="_xref-11" ref-type="bibr" rid="bib11">[11]</xref>. Perkembangan sosial dan emosional anak usia dini yang kehilangan peran ayah akan berbeda dengan anak yang tumbuh dalam keluarga harmonis . </p>
      <p id="paragraph-5f95d471b11456847a753835302f1e82">Riset menunjukkan bahwa budaya patriarki menjadi dalah satu penyebab fenomena <italic id="_italic-29">Fatherless</italic>.  Orang tua perlu memiliki pengetahuan dasar sebelum membina keluarga <xref id="_xref-12" ref-type="bibr" rid="bib12">[12]</xref>.  Karakter anak mencerminkan keberhasilan orang tua dalam menciptakan keluarga yang sejahtera dan hamonis <xref id="_xref-13" ref-type="bibr" rid="bib13">[13]</xref>. Masa usia dini merupakan periode penting pembentukan karakter anak karena rasa ingin tahunya yang tinggi; orang tua berperan penting dalam memberikan pengetahuan dan pendidikan anak yang memengaruhi perkembangan sosial-emosional. Kesiapan usia, mental, fisik, emosional, intelektual dan finansial sangat penting untuk mencegah <italic id="_italic-30">Fatherless</italic>, oleh karena itu, persiapkan diri sebelum menikah untuk membangun kehidupan yang untuk layak di masa mendatang. Masa anak usia dini, khususnya masa golden age, merupakan periode krusial pembentukan karakter; mendidik anak bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan seluruh anggota keluarga. Kurangnya kasih sayang orang tua dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.</p>
      <p id="paragraph-421946a90ea27118e926299cfb4c04dc">Anak-anak yang tidak memiliki figur ayah yang kuat dapat menghadapi kesulitan dalam membangun rasa percaya diri, mengontrol emosi, dan membangun hubungan sosial yang positif <xref id="_xref-14" ref-type="bibr" rid="bib14">[14]</xref><bold id="_bold-10">.</bold>Anak memiliki kemampuan akademis yang rendah, sulit menentukan keputusanSelain itu, mereka berisiko mengalami masalah fisik dan psikologis, seperti diskriminasi dan perundungan, serta pengucilan dari lingkungan mereka <xref id="_xref-15" ref-type="bibr" rid="bib15">[15]</xref>. Sehingga mengakibatkan perkembangan sosial emosionalnya sedikit terlambat dari teman sebaya.</p>
      <p id="paragraph-fcde63588443f2ffef86cf33e183c81e">Menurut Saif Indonesia menempati peringkat ke tiga Negara dengan kasus <italic id="_italic-31">Fatherless</italic> terbanyak dalam pengasuhan anak <xref id="_xref-16" ref-type="bibr" rid="bib16">[16]</xref>. Menurut McBride dkk, bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan mencakup lima aspek yaitu : 1. Tanggung jawab membagi tugas mengurus anak, 2. Memberikan kehangatan dan afeksi pada anak, 3. Pekerjaan rumah diselesaikan secara bersama-sama, 4. Aktivitas bersama yang berpusat pada anak, 5. Pengawasan kedua orang tua <xref id="_xref-17" ref-type="bibr" rid="bib17">[17]</xref>. Dengan demikian ayah dapat bertanggung jawab secara menyeluruh untuk berbagi tugas mengasuh anak bersama dengan ibu. Bedasarkan data UNICEF 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa sosok ayah, menurut mahen et al fatherles juga berdampak pada perkembangan psikoogis dan sosial emosional anak <xref id="_xref-18" ref-type="bibr" rid="bib18">[18]</xref>.</p>
      <p id="paragraph-5cd12476f7dd9d5d5298c56f4dde5eaf">TK Mutiara Cita Hati terletak di tengah kota Sidoarjo. <italic id="_italic-32">Fatherless</italic> merupakan salah satu masalah yang terjadi di TK tersebut, berbagai alasan yang mendasari terjadinya fenomena tersebut antara lain perceraian, tidak memiliki peran, tidak mendidik dan lepas tangungjawab. Anak yang mengalami <italic id="_italic-33">Fatherless</italic> memiliki perkembangan yang berbeda dari teman sebaya terutama pada perkembangan sosial emosional, mereka cenderung memiliki emosi yang kurang stabil, egosentris, berani mempertahankan diri dan berperilaku agresif. Perilaku ini dapat diinterpretasikan sebagai upaya mencari perhatian karena kurangnya kasih sayang. Sebaliknya, anak dari keluarga harmonis cenderung menunjukkan karakter yang lebih positif, seperti saling mengingatkan, menasehati bahkan bisa memecahkan masalahnya sendiri dan <italic id="_italic-34">self-control</italic> pada dirinya sendiri. </p>
      <p id="paragraph-5e454d8a45a0903ce9ac451b537ead47">Ketidakhadiran seorang ayah sering ditutupi dengan ibu yang mengantikan perannya, sehingga keluarga besar beranggapan seolah tidak ada dampak yang akan terjadi pada anak. Pada faktanya ayah menjadi peran utama dalam suatu keluarga. Oleh kerena itu penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dampak yang terjadi pada anak yang mengalami <italic id="_italic-35">Fatherless</italic> di TK Mutiara Cita Hati.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-12">Jenis penelitian menggunakan penelitian kualitatif jenis fenomenologi. Fenomenologi merupakan pengalaman dari sebuah kejadian dan atau studi menurut perspektif seseorang <xref id="_xref-19" ref-type="bibr" rid="bib19">[19]</xref>. Penelitian ini dilaksanakan di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo. Subjek penelitian melibatkan satu guru, empat wali murid serta empat siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk pengumpulan data dari yang terjadi secara langsung diruang kelas. Wawancara digunakan untuk mendapatkan data secara valid dengan cara mengajukan pertanyaan pada guru mengenai perkembangan sosem dan karakter anak serta  mengajukan pertanyaan pada orang tua mengenai keterlibatan ayah dalam proses perkembangan anak. Dokumentasi digunakan untuk proeses pengumpulan data yang berkaitkan dengan hasil wawancara dan gambar. Triangulasi data menggunakan triangulasi Teknik.</p>
      <p id="_paragraph-13">Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Hubberman, yang meliputi 4 tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi dan Kesimpulan <xref id="_xref-20" ref-type="bibr" rid="bib20">[20]</xref>.  Reduksi data dilakukan untuk pengumpulan semua data dan informasi terkait dampak <italic id="_italic-36">Fatherless</italic> yang terjadi di TK Mutiara Cita Hati, dengan cara merangkum hasil observasi dan wawancara yang sudah penulis lakukan. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian atau deskripsi untuk mempermudah dalam memahami dan menelaah dampak dari <italic id="_italic-37">Fatherless</italic> itu sendiri.Verifikasi dilakukan untuk memastikan data yang dimasukan penulis sama dengan data dari narasumber dengan cara validasi responden. Kesimpulan, Setelah melakukan reduksi data dan penyajian data dihasilkan  data yang valid, maka disimpulkan bahwasanya dampak fatherless pada anak sangat berpegaruh terutama dalam perkembangan sosial dan emosional.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="heading-5130768f4d58672606b50310a1f6bc8b">
        <bold id="bold-1">A. </bold>
        <bold id="bold-2">Hasil Penelitian di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-14">TK Mutiara Cita hati merupakan suatu lembaga tingkat kanak-kanak dalam bentuk pendidikan formal yang menyelengarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun. Tenaga pengajar di lembaga tersebut memiliki latar belakang pendidikan psikologi dan menerima layanan inklusi anak usia dini. Pada setiap tahunnya akan membuka rombel kelas TK A dan TK B, terdapat dua bunda pada setiap kelasnya yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana pendidikan dan satu kelas terdiri dari delapan belas siswa dengan berbagai macam perkembangan sosial emosional yang dimiliki anak.</p>
      <p id="_paragraph-15">Hasil penelitian ini akan diuraikan lebih lanjut untuk melihat dampak <italic id="_italic-38">Fatherless</italic> pada perkembangan sosial emosional anak-anak usia dini di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan guru, wali murid, dan peserta didik. Observasi dilakukan mulai tanggal 1 Agustus hingga 31 September 2025, dan wawancara dilakukan mulai tanggal 1 hingga 22 September 2025. Data kemudian dianalisis secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk deskripsi.</p>
      <p id="_paragraph-16">Wawancara dilakukan sebanyak dua kali terhadap subjek penelitian. Wawancara pertama dilakukan untuk memastikan bahwa siswa di TK B memiliki indikasi <italic id="_italic-39">Fatherless</italic>. Pada wawancara kedua dilakukan secara mendalam tentang faktor penyebab terjadinya <italic id="_italic-40">Fatherless</italic>. Indikasi anak usia dini yang mengalami <italic id="_italic-41">Fatherless</italic> diantara lain memiliki ganggungan emosional yang belum sempurna, sulit beradaptasi di lingkungan sosial, tidak percaya diri dan belum mengenal jati dirinya sendiri. Hasil wawancara pertama menunjukkan bahwa empat siswa mengalami indikasi <italic id="_italic-42">Fatherless</italic>, termasuk kesulitan berinteraksi di lingkungan sosial dan kematangan emosi yang belum sempurna. Ini dapat disebabkan oleh kurangnya peran ayah dalam kehidupan sehari-hari, seperti memberikan pengasuhan, pendampingan, dan dukungan emosional yang tidak konsisten.</p>
      <p id="_paragraph-17">Hasil wawancara mendalam kedua menunjukkan bahwa keempat siswa tersebut mengalami <italic id="_italic-43">Fatherless</italic>. Ada dua penyebab <italic id="_italic-44">Fatherless</italic>: ayah terlalu sibuk bekerja dan tidak memiliki waktu luang untuk bermain dan berinteraksi dengan anak-anak. Oleh karena itu, anak-anak tidak tertarik dengan dunia sekitar mereka.Selain itu, ayah tidak selalu menggurus anak secara adil dan memiliki kepribadian yang sedikit tegas, sehingga tidak ada <italic id="_italic-45">chemistry</italic> antara anak dan ayah. Kedua, perceraian, menyebabkan anak-anak mengalami kekosongan emosional dan kesulitan untuk mengembangkan emosinya di lingkungan sosial. Hasil wawancara yang dilakukan secara berulang dan mendalam menunjukkan bahwa di kelas TK B terdapat siswa yang mengalami indikasi Fatherless. Ini disebabkan oleh ketidakterlibatan ayah dalam proses pengasuhan dan pembentukan, yang berdampak pada perkembangan sosial emsosional anak yang belum sempurna.</p>
      <fig id="figure-panel-5d0abb508a9457b025b54114938ed2c1">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-1a36af7aefe3a1c3d88843f1258b714e"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-2892db63f709b07eaa07ff23c57e38f0" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12358-01.png"/>
      </fig>
      <p id="paragraph-aef579db9c99e60bc2ba3ad7db6a0ad4">B. <bold id="_bold-18">Dampak </bold><bold id="_bold-19"><italic id="_italic-46">Fatherless</italic> </bold><bold id="_bold-20">pada Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini di</bold> <bold id="_bold-21">TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo</bold> </p>
      <p id="_paragraph-19">Hasil penelitian di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo menunjukkan bahwa dampak ketidakhadiran orang tua pada keempat anak memiliki dampak perkembangan sosial emosional yang belum berkembang dan karakter masing-masing anak berbeda. Maola et al. menyatakan bahwa perkembangan sosial anak usia dini menjadi ciri khas anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, terutama dengan teman sebaya mereka. Perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungannya, baik secara positif maupun negatif, terutama perkembangan sosial anak, yang dapat diamati melalui interaksi mereka dengan teman sebaya. Perkembangan sosial pada anak termasuk pemahaman diri, rasa cemas yang berlebihan, tanggung jawab, dan keinginan untuk berinteraksi dengan teman sebaya.<xref id="_xref-21" ref-type="bibr" rid="bib21">[21]</xref>. </p>
      <p id="_paragraph-20">Sehubungan dengan perkembangan sosial yang belum berkembang dengan baik, tiga anak yang mengalami <italic id="_italic-47">Fatherless</italic> menunjukkan sikap yang sulit beradaptasi di lingkungan baru, duniannya sendiri, sulit memahami aturan, sulit bekerja sama, tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya, egosentris, tidak bisa mengungkapkan perasaannya, dan cenderung menyimpan semuanya sendiri, tidak percaya diri, dan kurangnya empati. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya peran ayah dalam mendorong anak untuk bersosialisasi, seperti mengajarkan mereka aturan bermain dan mengajarkan mereka untuk berkenalan dengan orang lain. Ayah juga tidak akan mendorong anak untuk mencoba semua kegiatan yang membangun dan berkelompok. Anak-anak yang tidak percaya diri adalah hasil dari peran ayah yang kurang terlibat dalam membangun identitas mereka.</p>
      <p id="_paragraph-21">Salah satu siswa yang mengalami <italic id="_italic-48">Fatherless</italic> menunjukkan perkembangan sosial yang baik; dia biasanya suka berbagi, sangat peduli dengan teman, mengikuti kegiatan dengan baik, dan ramah pada semua orang. Ini semua disebabkan oleh keluarganya yang mengenalkannya secara teratur dengan kegiatan sosial seperti berbagi berkah Jumat dan memberikan bantuan kepada anak yatim piatu. Perkembangan sosial emosional anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga mereka. Santrock menyatakan bahwa emosi adalah perasaan yang sangat penting bagi anak ketika berada dalam suatu situasi atau terlibat dalam interkasi. Reaksi yang dihasilkan dari kebutuhan, motivasi, dan minat individu. Tampaknya emosi seseorang terihat dari reaksi psikologis, perasaan, dan perlilaku, yang menyebabkan perilaku emosional. <xref id="_xref-22" ref-type="bibr" rid="bib22">[22]</xref>.</p>
      <p id="_paragraph-22">Hasil observasi dari keempat anak yang mengalami <italic id="_italic-49">Fatherless</italic> menunjukkan bahwa mereka belum mampu mengolah emosinya dengan baik. Mereka tidak bisa mengungkapkan perasaan seperti bahagia, marah, dan kecewan, tidak bisa mengendalikan rasa sabar, tidak bisa menerima kekalahan, tidak mampu mengendalikan diri atau tantrum, egosentris, dan tidak mau meminta maaf. Peran ayah sangat penting dalam mengolah emosi anak untuk mengajarkan mereka bahwa mereka harus berani dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Selain itu, jika anak tidak dapat melindungi barang-barangnya, peran ayah membantu mengajarkan anak bahwa mereka memiliki hak.</p>
      <p id="_paragraph-23">Terdapat tiga jenis <italic id="_italic-50">Fatherless</italic> yang terjadi, pertama Long Distance Marriage menjadi salah satu penyebab anak mengalami <italic id="_italic-51">Fatherless </italic>diamana jarak memisahkan anak dengan ayah, kurangnya komunikasi dan kedekataan anak dengan ayah. Pada anak yang mengalami Fatherles dengan jenis ini berdampak pada perkembangan emosionalnya diamana anak tersebut cenderung sulit mengendalikan perasaan, belum bisa menerima kekalahan, ingin selalu di lihat, dan kurangnya rasa sabar. Hal tersebut bisa terjadi di sebabkan oleh kurangnya peran ayah dalam mangasuh dan memberikan perhatian pada anak sehingga menimbulkan emosional yang kurang baik. Pada perkembangan sosialnya memilik perkemanan yang cukup baik karena anak tersebut terlibat aktif pada kegiatan – kegiatan sosial. </p>
      <p id="_paragraph-24">Kedua Ayah Tidak berpartisipasi secara aktif, keterlibatan ayah dalam proses mengasuh dan mendidik anak menjadi pondasi utama dalam proses berkembangnya anak terutama perkembangan sosial emosional, pada anak yang mengalami jenis <italic id="_italic-52">Fatherless</italic> ini berdampak pada perkembangan sosial emosionalnya anak tersebut cenderung sulit bersosial dengan teman sebaya, memiliki dunianya sendiri, belum berani mengungkapkan perasaan, kurangnya empati, egosentris, tidak mengenali barang miliknya dan tidak percaya diri, hal tersebut dapat terjadi karena kurangnya keterlibatan ayah dalam proses pembentukkan jati diri anak, anak cenderung mencari jati dirinya sendiri disertai dengan keterlambatan pada perkembangnnya.</p>
      <p id="_paragraph-25">Ketiga Perpisahan orang tua yang berujug pada tidak hadiran figur ayah dalam pengasuhan anak menjadi salah satu faktor utama munculnya kondisi Fatherless yang berdampak pada permebangan sosial emosionalnya. Pada anak yang mengalami jenis <italic id="_italic-53">Fatherless</italic> ini anak cenderung sulit untuk berosial, kebingungan memahami dirinya sendiri, tidak percaya diri, sulit memahai kesepakatan, sulit untuk bekerjasama dan tidak tertarik pada kegiatan yang melibatkan banyak orang. Dampak yang terjadi pada jenis <italic id="_italic-54">Fatherless</italic> perpisahan perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat mempengaruhi keberlangsungan proses tumbuh kembang anak secara menyeluruh.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-26">Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo, dapat di simpulkan bahwasanya kehadiran sosok ayah secara fisik maupun psikologi memiliki dampak pada perkembangan anak salah satunya pada perkembangan sosial emosionalnya. Dampak kerhadiran ayah dalam perkembangan sosial anak meliputi mampu menyesuaikan diri di lingkungan sosial, mengenal perbedaan keadaan yang berbahaya tahu tidak, sedangkan pada perkembangan emosionalnya peran ayah sebagai mengenalkan hak miliknya, bertanggung jawab, mengendalikan perasaanya, dan mengikuti kesepakatan bermain.  Hal ini sangat berdampak pada anak-anak yang mengalami <italic id="_italic-55">Fatherless</italic>. Anak-anak ini biasanya memiliki emosi yang tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat bersosial dengan baik. Namun, jika mereka terlibat dalam kegiatan yang positif, dampak yang mereka alami akan sedikit berkurang, tetapi kekosongan peran ayah dalam kehidupan mereka akan tetap dirasakan. Jadi, ibu dan ayah harus bekerja sama untuk membesarkan anak, karena keduanya dapat membangun anak yang matang secara sosial dan emosional.</p>
      <p id="paragraph-5c7e0f83a068c4307192521faeb872eb">
        <bold id="bold-30224381ccdfd84b0ea498532972aa07">Ucapan Terima Kasih </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-27">Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesikan tugas akhir ini. Dengan kerendahan hati, tiada kata yang dapat  mewakili betapa besar rasa syukur ini, selain ucapan terimakasih yang setulus-tulusnya penulis sampaian kepada pihak yang telah menajdi bagian penting dalam proses perjalanan penulisan tugas akhir ini.  Pertama penulis menyampaikan terimakasih   yang sebesar-besarnya kepada TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo atas kesempatan dan kerja sama yang diberikan selama proses penelitian berkangsung, serta bantuan informasi yang sangat membantu penulis dalam proses pengeumpulan data. Kedua, penulis ucapkan terimakasih  yang sebanyak-banyaknya secara mendalam kepada orang tua dan siswa siswi atas kerja sama , partisipasi dan dukungan untuk proses observasi dan pengumpulan data yang berperan penting dalam penelitian ini. Ketiga , penulis haturkan rasa hormat dan terimakasih kepada Bapak/Ibu dosen atas bimbingan, arahan,kesabaran, kerja sama dan waktu yang telah diluangkan. Dan yang terakhir penulis ucapkan terimakasih kepada kedua orang tua, adik dan teman  yang sangat di sayangi atas motivasi , dorongan dan kontribusi serta senantiasa mendoakan memberikan kasih sayang dan kekuatan untuk terus berusaha menjadi lebih baik lagi. </p>
    </sec>
  </body><back>
    <ref-list>
      <ref id="bib1">
        <element-citation publication-type="journal">
          <page-range>31-47</page-range>
          <volume>3</volume>
          <year>2022</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Fuadia</surname>
              <given-names>Nazia Nuril</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Perkembangan sosial emosi anak usia dini</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib2">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>181-190</page-range>
          <volume>04</volume>
          <year>2020</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Age</surname>
              <given-names>Jurnal Golden</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Hamzanwadi</surname>
              <given-names>Universitas</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Perilaku sosial emosional anak usia dini</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib3">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <volume>2</volume>
          <year>2019</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Pendidikan</surname>
              <given-names>Jurnal</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Anak</surname>
              <given-names>Islam</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Dini</surname>
              <given-names>Usia</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Utara</surname>
              <given-names>Sumatera</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Mengembangkan sosial emosional anak usia dini melalui bermain</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib4">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>32-37</page-range>
          <volume>1</volume>
          <year>2003</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Dari</surname>
              <given-names>Ditinjau</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Yang</surname>
              <given-names>I B U</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>No Title</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib5">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>49-61</page-range>
          <volume>2</volume>
          <year>2024</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Ismawati</surname>
              <given-names>Dwi</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Puspita</surname>
              <given-names>Yenda</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Raharjo</surname>
              <given-names>Semiono</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Jurnal Edusiana : Jurnal Ilmu Pendidikan Dampak Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial-Emosional Anak Usia Dini</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib6">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>16-29</page-range>
          <volume>3</volume>
          <year>2019</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.19109/ra.v3i1.3200</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>NOVELA</surname>
              <given-names>TIA</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Raudhatul Athfal: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini</source>
          <article-title>Dampak Peran Ayah Terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib7">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>73-83</page-range>
          <volume>3</volume>
          <year>2021</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.55076/didache.v3i1.49</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Banu</surname>
              <given-names>Sriwadi</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Manik</surname>
              <given-names>Novida Dwici Yuanri</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani</source>
          <article-title>Pengaruh Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Pada Keluarga Yang Tidak Memiliki Ayah</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib8">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>9</issue>
          <page-range>1689-1699</page-range>
          <volume>53</volume>
          <year>2013</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Sundari</surname>
              <given-names>Arie Rihardini</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Herdajani</surname>
              <given-names>Febi</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Prosiding Seminar Nasional Parenting 2013</source>
          <article-title>Dampak Fatherlesness Terhadap Perkembangan Psikologis Anak</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib9">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>1-8</page-range>
          <volume>3</volume>
          <year>2019</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.29313/ga.v3i1.4809</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Rohmalina</surname>
              <given-names>Rohmalina</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Lestari</surname>
              <given-names>Ririn Hunafa</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Alam</surname>
              <given-names>Syah Khalif</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Golden Age: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini</source>
          <article-title>Analisis Keterlibatan Ayah dalam Mengembangkan Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib10">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>20-28</page-range>
          <volume>3</volume>
          <year>2023</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.32665/abata.v3i1.1425</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <collab>
              <named-content content-type="name">Arsyia Fajarrini</named-content>
            </collab>
            <name>
              <surname>Umam</surname>
              <given-names>Aji Nasrul</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Abata : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini</source>
          <article-title>Dampak Fatherless Terhadap Karakter Anak Dalam Pandangan Islam</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib11">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>3</issue>
          <page-range>261</page-range>
          <volume>11</volume>
          <year>2023</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.20961/kc.v11i3.77789</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Nurjanah</surname>
              <given-names>Novita Eka</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Jalal</surname>
              <given-names>Fasli</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Supena</surname>
              <given-names>Asep</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Kumara Cendekia</source>
          <article-title>Studi Kasus Fatherless: Peran Ayah Dalam Pengasuhan Anak Usia Dini</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib12">
        <element-citation publication-type="journal">
          <page-range>3064-3073</page-range>
          <volume>3</volume>
          <year>2023</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Sari</surname>
              <given-names>Rosalia Permata</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Puspitasari</surname>
              <given-names>Enda</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Solfiah</surname>
              <given-names>Yeni</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Journal Of Social Science Research</source>
          <article-title>Pengaruh Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Terhadap Penyesuaian Diri Pada Anak Usia 4-6 Tahun Di TT IT El-Azzam Kota Pekanbaru</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib13">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>67-87</page-range>
          <volume>1</volume>
          <year>2024</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Syarefa</surname>
              <given-names>Adis</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Bakhitah</surname>
              <given-names>Lubna Rafif</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Adaptasi : Jurnal Sosial Humaniora dan Keagamaan</source>
          <article-title>ADAPTASI : Jurnal Sosial Humaniora Dan Keagamaan</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib14">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>2</issue>
          <page-range>193-208</page-range>
          <volume>4</volume>
          <year>2023</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.46773/usrah.v4i2.765</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Zarkasyi</surname>
              <given-names>Ezra Salwa Wahyu</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Badri</surname>
              <given-names>Muhammad Arifin</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>USRAH: Jurnal Hukum Keluarga Islam</source>
          <article-title>Fenomena Fatherless Dalam Keluarga Perspektif Hukum Islam</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib15">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>3</issue>
          <volume>1</volume>
          <year>2024</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Kusumawati</surname>
              <given-names>Mei Ariani</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Pola Pengasuhan Ayah Terhadap Kemampuan Fisik Motorik Dan Sosial Emosional Pada Anak Usia Dini</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib16">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>94-99</page-range>
          <volume>7</volume>
          <year>2024</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Putri Fajriyanti</surname>
              <given-names>Aura</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Saputri</surname>
              <given-names>Desy</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>The Indonesian Journal of Social Studies Fenomena Fatherless di Indonesia</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib17">
        <element-citation publication-type="journal">
          <page-range>11440-11453</page-range>
          <volume>4</volume>
          <year>2024</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Utami</surname>
              <given-names>Lia Dwi</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Achadi</surname>
              <given-names>Muh Wasith</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Mustafid</surname>
              <given-names>Fuad</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>11440-11453</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib18">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>1</page-range>
          <volume>12</volume>
          <year>2023</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.31000/ceria.v12i1.9019</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Wulandari</surname>
              <given-names>Hayani</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Shafarani</surname>
              <given-names>Mariya Ulfa Dwi</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Ceria: Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini</source>
          <article-title>Dampak Fatherless Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib19">
        <element-citation publication-type="book">
          <volume>53</volume>
          <year>2019</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Dr. Umar Sidiq, M.Ag Dr. Moh. Miftachul Choiri</surname>
              <given-names>MA</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan</source>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib20">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>02200925</issue>
          <year>2022</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Nurindah</surname>
              <given-names>Fitri</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif Yang diampu oleh : Rafika Ulfa , M . Pd , OLEH : JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib21">
        <element-citation publication-type="journal">
          <page-range>127-131</page-range>
          <volume>9</volume>
          <year>2021</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Melinda</surname>
              <given-names>Aprilia Elsye</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Perkembangan Sosial Anak Usia Dini Melalui Teman Sebaya</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib22">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>1-11</page-range>
          <volume>1</volume>
          <year>2022</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Asy-syamsa</surname>
              <given-names>Widya Dewi</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Zulfa</surname>
              <given-names>Eva Soraya</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <article-title>Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
    </ref-list>
  </back></article>
