Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Art and Humanities
DOI: 10.21070/acopen.3.2020.1329

The Influence of Leadership Communication in Socialization of Occupational Health and Safety Program on Employee Safety 


Pengaruh Komunikasi Pimpinan Dalam Sosialisasi Program K3 Terhadap Keselamatan Karyawan

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

leadership communication OHS program employee safety

Abstract

Worker activities are very important for the company's productivity, especially for large-scale industrial sectors such as PT. Pabrik Kertas Indonesia, Mojokerto.  The purpose of this research is to find out the influence of heavy equipment pool leaders on employee safety simultaneously and partially with the theory of superior communication in organizational communication. This quantitative research uses statistical testing of two variables namely independent variable (X) and dependent variable (Y). the independent variable used by researchers is leadership communication (X), while the dependent variable is employee safety (Y). This research is in the Heavy Equipment Pool (HEP) section of PT. Pakerin in the Bangun, Pungging Mojokerto. This study used 50 respondents to answer the questionnaire given. The results of the questionnaire were then processed using simple linear regression analysis techniques using the SPSS 16.0 program. The results showed that there is an influence of leadership communication in the socialization of OHS program on employee safety at HEP of PT. Pakerin is positive and significant with R of 0.285 which belongs to the weak category. The amount of influence or determination value (R square) is indicated at 8.1%. From the results of the F test and T Test can be concluded that H1 can be accepted with the meaning of communication leadership has an influence in the socialization of the OHS program on the safety of employees in the Heavy Equipment Pool section of PT. Pakerin Mojokerto.

I. Pendahuluan

Perkembangan perusahaan dalam era industri saat ini sangatlah pesat. Perusahaan dituntut untuk memiliki sumber daya manusia dan alam yang dapat diorganisasi dengan baik. Terutama sumber daya manusia sebagai faktor utama dalam menjalankan berbagai proses dalam perusahaan. Dalam melaksanakan tugas, seorang karyawan mendapat tanggung jawab dan wewenang sesuai kebijakan dari perusahaan. Sehingga kualitas dan kuantitas produksi perusahaan dapat bertahan atau bahkan menjadi lebih baik. Selain itu terdapat beberapa faktor yang mendukung kelancaran aktivitas produksi dalam perusahaan seperti hubungan antar karyawan, antar pimpinan, karyawan dengan pemimpin, pelaksanaan tugas, kejelasan informasi dan juga keselamatan kerja karyawan.

Tanpa adanya salah satu faktor tersebut, maka aktivitas produksi akan terhambat. Pada keselamatan kerja karyawan harus mendapat perhatian yang baik dari perusahaan untuk menjaga keselamatan karyawan. Sebab menurut Permenaker No. 1 Tahun 1985 pada Bab VIII mengenai kesepakatan kerja bersama perihal keselamatan dan kesehatan kerja disebutkan bahwa kedua belah pihak wajib untuk mentaati peraturan keselamatan dan kesehatan kerja dan menggunakan atau menyediakan alat pelindung diri yang ditujukan untuk mencegah adanya kecelakaan atau sakit akibat aktivitas kerja.

Komunikasi juga berperan penting dalam pencapaian tujuan organisasi, pemecahan masalah, kelancaran proses dalam organisasi, dan juga penyampaian informasi yang tepat. Setiap pemimpin diharuskan dapat mengatasi berbagai permasalahan yang mungkin saja dihadapi bersama anggotanya. Salah satunya dapat dilihat dari komunikasi seorang pemimpin. Komunikasi menurut Harold D. Laswell yaitu proses seseorang yang sedang mengatakan sesuatu dengan menggunakan media yang ditujukan kepada orang lain beserta dampak dari pesan tersebut [10]. Gerald Miller menganggap komunikasi merupakan suatu situasi dimana sumber melakukan transmisi pesan kepada penerima untuk mempengaruhi perilaku secara sadar [10]. Dari pengertian tersebut, komunikasi memang ditujukan kepada penerima yang diharapkan sesuai dengan keinginan pengirim pesan.

Tentunya penyampaian informasi dalam perusahaan dilakukan oleh pemimpin, baik setiap bagian, divisi, ataupun pusat. Seorang pemimpin harus memiliki sikap yang bijak dalam setiap hal. Misalnya saja memberikan tugas kepada anggota dan juga memastikan keamanan dari pelaksanaan tugas tersebut. Sebab, setiap karyawan wajib mendapatkan perlindungan dalam menjalankan pekerjaan yang diberikan dengan dasar program K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang sudah disosialisasikan oleh perusahaan. Program K3 yaitu bentuk kegiatan dari perlindungan atas keamanan kerja baik fisik ataupun mental yang dialami oleh pekerja dalam lingkungan kerja (Bangun, 2012) [5]. K3 juga telah diatur dalam UU No. 1 Tahun 1970 tentang kewajiban pimpinan beserta pekerjanya untuk melaksanakan keselamatan kerja. Selain itu dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan juga menyebut segala hal yang berhubungan dengan ketenagakerjaan seperti upah, keselamatan dan kesehatan kerja, jam kerja serta hak pekerja. Penyampaian informasi ini juga menjadi tanggung jawab perusahaan yang diwakilkan oleh setiap pimpinan bagian. Sikap seorang pimpinan sangat penting dalam penyampaian informasi mengenai keselamatan kerja karyawan. Pimpinan diharuskan memiliki kemampuan untuk memecahkan permasalahan dengan komunikasi yang baik antara atasan dengan bawahan. Menurut hasil penelitian Yanar menyebutkan bahwa peran pimpinan yang aktif mendukung secara langsung dapat mengurangi resiko kecelakaan kerja [19]. Selain itu juga pimpinan menjadi cara efektif untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi semua karyawan.

Penelitian ini dilakukan di PT. Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) yang beralamatkan di Desa Bangun Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Berdiri sejak tahun 1977, dengan hasil produk kertas berupa kraft (kardus) dan duplex berkapasitas 700.000 ton per tahun. Perusahaan ini juga memiliki hasil produksi berupa cairan kimia seperti caustic soda, liquid chlorine, hydro cloric acid dan sodium hypochlorite. PT. Pakerin juga menjadi salah satu pelopor perusahaan penunjang lingkungan hidup di Indonesia. Hal ini dikarenakan penggunaan olahan kertas bekas sebagai bahan baku utama produksi kertas.

Sebagai perusahaan yang besar dengan target produksi tinggi serta penggunaan berbagai peralatan yang mumpuni, keselamatan kerja juga harus diperhatikan. Melalui komunikasi yang dilakukan perusahaan maupun pimpinan di setiap bagian mengenai informasi K3, tentunya diharapkan mampu meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja. Dari data yang dicatat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mengenai kecelakaan kerja dilaporkan 123.041 kasus pada tahun 2017 dan meningkat menjadi 173.105 kasus pada tahun 2018 di Indonesia.

Seperti pada penelitian sebelumnya mengenai keselamatan kerja, pemimpin memiliki pengaruh besar dalam perilaku keselamatan dan resiko kecelakaan kerja. Berdasarkan prasurvei yang telah dilakukan peneliti di PT. Pakerin terlihat bahwa pelaksanaan K3 oleh karyawan masih belum maksimal meskipun perusahaan sudah memberi informasi dan kelengkapan alat. Hal ini bisa ditunjukkan dengan hasil penilaian perusahaan mengenai pelaksanaan program K3 di bagian Pool Alat Berat pada tahun 2020 yakni sebesar 79,23 pada periode pertama (Januari-April 2020) dan 79,79 pada periode kedua (Mei-Agustus). Sedangkan periode ketiga (September-Desember) belum mencapai hasil penilaian saat penelitian ini dilakukan. Selain itu juga, pada tahun 2018 bagian PAB termasuk ke dalam peringkat 10 besar terbaik pada pelaksanaan program K3 dari 32 bagian perusahaan. Bagian Timbangan, Gudang Suku Cadang, Marketing Kimia dan Automation Instrument dapat dikatakan sangat baik dalam pelaksanaan program K3. Mengingat bagian-bagian tersebut memang berfokus pada pelaksanaan kerja di satu lokasi yang sama, sedangkan bagian PAB melaksanakan pekerjaan hampir di seluruh bagian perusahaan. Sehingga pengawasan oleh PAB mengenai pekerjaan maupun K3 juga sangat luas dan tidak mudah. Seperti pemahaman mengenai informasi atau tanda batasan area kerja dan pelaksanaan tugas kerja di setiap bagian perusahaan yang perlu diperhatikan.

Bentuk dari informasi yang dilakukan perusahaan melalui sosialisasi program K3 seperti diskusi mengenai K3, workshop, penggunaan media komunikasi seperti papan instruksi, papan larangan/himbauan, penggunaan simbol dan juga kesadaran pimpinan untuk tetap mengingatkan keselamatan kerja dalam aktivitas kerja karyawan. Mulai dari penggunaan peralatan keselamatan kerja seperti sarung tangan, baju pelindung, dan sepatu yang kurang diperhatikan oleh sebagian karyawan. Buku mengenai pelaksanaan K3 juga sudah diberikan perusahaan kepada setiap pimpinan bagian dengan harapan materi dan pembahasan di dalamnya dapat disampaikan kepada setiap anggota atau karyawan pada bagian masing-masing.

Mengingat bahwa perusahaan ini sangat berkaitan dengan alat berat dan proses produksi yang berjalan 24 jam, ketersediaan peralatan penunjang keselamatan dan penggunaannya sangat perlu diperhatikan. Berangkat dari penjelasan di atas, maka peneliti mengambil judul penelitian “Pengaruh Komunikasi Pimpinan Dalam Sosialisasi Program K3 Terhadap Keselamatan Karyawan Di PT. Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) Mojokerto (Studi Kuantitatif Pada Bagian Pool Alat Berat PT. Pakerin)”.

II. Metode

Penelitian ini mengutamakan penggunaan angka dalam pengambilan data hingga pemaparan hasil yang dikenal dengan penelitian kuantitatif [1]. Metode ini juga disertai penjelasan yang dapat menunjukkan hasil dari komunikasi yang dilakukan oleh pimpinan dalam sosialisasi K3 yang dilaksanakan di PT. Pakerin mengenai keselamatan karyawan. Dalam penelitian ini menggunakan definisi konseptual yang bertujuan untuk memberi gambaran mengenai variabel-variabel penelitian dengan lebih jelas. Komunikasi pimpinan adalah proses penyampaian pesan yang dilakukan pimpinan kepada anggotanya untuk menyampaikan tugas, merubah sikap, mencegah kesalahan dan menentukan tujuan. Sedangkan pengertian dari keselamatan karyawan yaitu aktivitas yang ditunjukkan individu untuk menjaga keamanan dan keutuhan diri dengan mengikuti aturan yang ada guna mencegah berbagai bentuk kecelakaan atau kejadian yang tidak diinginkan oleh setiap orang.

Kemudian pada definisi operasional ditunjukkan beberapa indikator tiap variabel dalam penelitian. Pada komunikasi pimpinan ada lima yaitu instruksi tugas, rasional, ideologi, informasi dan balikan. Untuk variabel keselamatan karyawan ada dua yakni safety compliance dan safety participant. Penelitian ini dilakukan pada bagian Pool Alat Berat PT. Pabrik Kertas Indonesia di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden. Teknik sampling yang digunakan peneliti yaitu random sampling. Sedangkan Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Pengujian validitas dan reliabilitas juga dilakukan untuk mendukung kelancaran penelitian. Teknik penganalisisan data menggunakan regresi linier sederhana yang didampingi dengan pengujian hipotesis.

III. Hasil dan Pembahasan

PT. Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) Mojokerto berdiri sejak tahun 1977 yang beralamatkan di Desa Bangun Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Lokasi perusahaan ini yaitu sebagai pabrik utama dari proses produksi. Di samping itu juga memiliki kantor pusat di Jalan Kertopaten No. 3 Sidodadi Kecamatan Simokerto, Surabaya. Perusahaan ini juga memiliki pabrik di lokasi lain, tepatnya di Desa Ngimbangan Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto. Dengan area produksi yang sangat besar, perusahaan ini mampu menghasilkan berbagai produk kertas dan juga hasil cairan kimia.

Produk kertas dapat berupa kertas kraft (kardus) dan duplex berkapasitas 700.000 ton per tahun. Sedangkan hasil cairan kimia seperti caustic soda, liquid chlorine, hydro cloric acid dan sodium hypochlorite. Pakerin juga menjadi salah satu pelopor perusahaan penunjang lingkungan hidup di Indonesia. Hal ini dikarenakan penggunaan olahan kertas bekas sebagai bahan baku utama produksi.

Karena berkaitan dengan olahan kertas bekas, maka tidak dapat dihindari dengan hasil limbah yang ditimbulkan. Namun perusahaan ini juga memiliki pusat pengolahan limbah yang terintegrasi dengan perusahaan. Pengolahan ini bertujuan untuk menghindari pencemaran lingkungan di sekitar perusahaan.

Dengan jumlah produksi dan operasional 24 jam sehari, perusahaan ini memiliki karyawan sekitar 2.200 orang yang bekerja dengan tiga pembagian jam kerja atau shift. Tentunya operasional produksi juga membutuhkan kesinambungan antar bagian dalam perusahaan. misalnya saja pada penggunaan alat berat untuk mendukung proses produksi.

Bagian Pool Alat Berat terbentuk sejak tahun 2015 karena permintaan alat berat yang begitu komplek. Sebab penggunaan alat berat berada di berbagai divisi atau bagian dalam 2 lokasi perusahaan. Namun perawatan dan perbaikan dilakukan terpusat di bagian Pool Alat Berat. ada berikut adalah bagan perusahaan. Dengan 116 alat berat yang terdiri dari berbagai jenis seperti baleclamp lift, roleclamp lift, forklift, wheel loader, tractor, dozer dan excavator.

Pemeliharaan secara berkala juga sangat diperhatikan dalam bagian ini. Pelayanan perbaikan alat berat juga dilaksanakan secepat mungkin untuk mendukung kelancaran produksi perusahaan. Perbaikan difokuskan dilaksanakan di bengkel PAB. Lokasi PAB sangat strategis bagi mobilitas penggunaan alat berat karena berada di tengah perusahaan. Dengan luas sekitar 5.0000m2, PAB mampu menampung 40 alat berat. Pengaturan waktu, tenaga dan tempat yang tepat sangat mendukung kelancaran produktivitas.

Dengan visi perusahaan yaitu menjadi perusahaan yang terkemuka dengan kemampuan bersaing, daya tahan dan keharmonisan yang terbaik di segala bidang. PT. Pakerin juga memiliki misi yaitu 1) bertahan menghadapi persaingan global dengan kemampuan bersaing secara maksimal dalam segala bidang: kualitas produk, pelayanan pelanggan dan efisiensi, 2) secara intensif meningkatkan ketangguhan di dalam segala kondisi untuk bertahan mencapai perkembangan dan mengupayakan keselarasan yang universal dengan stakeholders.

Berikut adalah data dari setiap karakteristik responden yang digunakan dalam penelitian.

Tabel 1 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini seluruhnya adalah laki-laki dengan jumlah 50 orang. Hal ini ditunjukkan dengan persentase yakni 100%.

Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa jumlah responden yang berusia kurang dari 25 tahun yaitu 2 orang atau 4%, berusia antara 25 hingga 35 tahun berjumlah 12 orang atau 24%. Sedangkan yang berusia 36 hingga 45 tahun berjumlah 32 orang atau 64% dan yang berusia lebih dari 45 tahun berjumlah 4 orang atau 8%.

Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki pendidikan terakhir SD sebanyak 1 orang atau 2%, SMP/MTS sebanyak 8 orang atau 16%. Sedangkan yang berpendidikan hingga SMA/SMK berjumlah 39 orang atau 78% dan orang berpendidikan diploma/sarjana/magister berjumlah 2 orang atau 4%. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian didominasi oleh responden yang memiliki pendidikan terakhir SMA/SMK dengan jumlah 39 orang atau 78%.

Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah responden yang menjabat sebagai staff yaitu 3 orang atau 6% dan administrasi dengan jumlah 3 orang atau 6%. Sedangkan operator berjumlah 40 orang atau 80%. Mekanik berjumlah 3 orang atau 6% dan jabatan lainnya diisi oleh 1 orang atau 2%. Dari tabel di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa responden didominasi oleh operator dengan jumlah 40 orang atau 80%.

Penelitian ini dapat menyajikan data dari kedua variabel yang telah diteliti dengan memperlihatkan rata-rata penilaian dari setiap variabel.

Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata dari komunikasi pimpinan yang terjadi di bagian Pool Alat Berat PT. Pakerin termasuk ke dalam kategori baik dengan hasil sebesar 79,24%.

Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa nilai rata-rata dari keselamatan karyawan pada bagian Pool Alat Berat PT. Pakerin dapat dikategorikan baik dengan nilai sebesar 85,86%.

Berikut adalah hasil pengujian validitas dan reliabilitas data dalam penelitian.

Berdasarkan dari tabel tersebut mengenai hasil uji validitas setiap variabel, dapat disimpulkan bahwa semua item dalam setiap variabel yang digunakan sebagai alat ukur penelitian dinyatakan valid. Hal ini didasari dengan nilai r hitung memiliki nilai lebih dari r standar yang ditentukan yaitu 0,3.

Berdasarkan Tabel 8, nilai reliabilitas pada kolom Cronbach’s Alpha pada variabel komunikasi pimpinan (X) ditunjukkan dengan angka 0,925 yang berarti bahwa instrument yang digunakan sudah reliabel dalam penelitian. Begitu pula dengan variabel keselamatan karyawan (Y) juga dianggap reliabel karena menunjukkan nilai 0,880 dan bisa digunakan pada analisis selanjutnya. Hal tersebut didasari dengan nilai hitung yang didapat lebih dari 0,6 sebagai standar reliabilitas penelitian.

Tabel 9. Hasil Regresi Linier Sederhana
Model Unstandardized Coefficients St andardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 20.708 2.486 8.330 .000
Komunikasi Pimpinan .128 .062 .285 2.056 .045
a. Dependent Variable: keselamatan karyawan

Tabel 9 menunjukkan hasil dari uji regresi linier sederhana berupa persamaan sebagai berikut:

Y = a + BX

Y = 20,708 + 0,128X

Persamaan di atas menunjukkan bahwa:

a. Nilai Constant (a) sebesar 20,708 yang berarti bila tidak ada variabel komunikasi pimpinan, maka nila variabel terikat yaitu keselamatan karyawan sebesar 20,708.

b. Nilai koefisien variabel komunikasi pimpinan (X) bernilai positif dengan 0,128 yang memiliki arti setiap penambahan satu satuan variabel komunikasi pimpinan (X) akan meningkatkan nilai keselamatan karyawan (Y) sebesar 0,128.

Pada koefisien determinasi (R Square) ditujukan untuk mengetahui variasi besarnya pengaruh variabel variabel X terhadap variabel Y seperti dalam tabel berikut.

Tabel 10. Hasil Uji Determinasi (R Square)
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .285 .081 .062 2.68712
a. Predictors: (Constant), komunikasi pimpinan

Dari tabel 10 dapat dilihat nilai koefisien R square atau koefisien determinasi ditunjukkan nilai 0,081 atau 8,1% dengan arti bahwa komunikasi pimpinan memiliki pengaruh sebesar 8,1% terhadap keselamatan karyawan. Sedangkan persentase sisanya (100%-8,1%) dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian.

Selanjutnya pada pengujian koefisien korelasi yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar variabel dengan pedoman derajat kekuatan koefisien korelasi, dapat diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 11. Hasil Koefisien Korelasi
Komunikasi Pimpinan Keselamatan Karyawan
Komunikasi Pimpinan Pearson Correlation 1 .285*
Sig. (2-tailed) .045
N 50 50
Keselamatan Karyawan Pearson Correlation .285* 1
Sig. (2-tailed) .045
N 50 50
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Menurut Tabel 11 menujukkan bahwa nilai koefisien korelasi antara variabel komunikasi pimpinan (X) dengan keselamatan karyawan (Y) sebesar 0,285. Nilai tersebut memiliki arti hubungan antara kedua variabel berada pada posisi yang lemah yaitu antara 0,21-0,40.

Pada pengujian hipotesis menggunakan uji F atau simultan dan uji T atau parsial. Berikut adalah hasil dari pengujian hipotesis penelitian ini.

Tabel 12. Hasil Uji F (Simultan)
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 30.532 1 30.532 4.228 .045a
Residual 346.588 48 7.221
Total 377.120 49
a. Predictors: (Constant), komunikasi pimpinan
b. Dependent Variable: keselamatan karyawan

Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa hasil perhitungan analisis regresi sederhana secara simultan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Dengan f hitung sebesar 4,228 > f tabel yaitu 4,04 dan nilai signifikan sebesar 0,045 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal tersebut dapat diartikan bahwa variabel komunikasi pimpinan (X) secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keselamatan karyawan (Y).

Tabel 13. Hasil Uji T (Parsial)
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 20.708 2.486 8.330 .000
Komunikasi pimpinan .128 .062 .285 2.056 .045
a. Dependent Variable: keselamatan karyawan

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa nilai thitung = 2,056 > ttabel 2,0106 dan nilai signifikan sebesar 0,045 < 0,05 maka H0 ditolah dan H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komunikasi pimpinan (X) berpengaruh secara parsial terhadap keselamatan karyawan (Y).

  • Karakteristik Obyek Penelitian
  • Karakteristik Responden
  • Penyajian Data
  • Penganalisisan Data
  • Pembahasan

Setelah melakukan analisis data dari kuesioner yang disebar kepada sejumlah responden, peneliti berhasil mendapatkan hasil penelitian. Hasil ini menunjukkan bahwa komunikasi pimpinan yang dilakukan dalam bagian Pool Alat Berat PT. Pakerin memiliki pengaruh positif terhadap keselamatan karyawan. Pengaruh tersebut dapat dibuktikan dengan melihat hasil koefisien determinasi yang menunjukkan nilai 0,081 atau 8,1% dan dapat diartikan bahwa komunikasi pimpinan berpengaruh sebesar 8,1% terhadap keselamatan karyawan. Selain itu, dalam pengujian hipotesis juga menunjukkan hasil thitung 2,056 > ttabel 2,0106 dan fhitung 4,228 > ftabel 4,04 yang dapat diartikan bahwa H0 ditolak sedangkan H1 diterima dengan makna bahwa ada pengaruh variabel komunikasi pimpinan terhadap keselamatan karyawan.

Penelitian ini menggunakan satu variabel X dan satu variabel Y. Variabel X dalam penelitian ini yaitu komunikasi pimpinan. Suatu proses menyampaikan pesan oleh pimpinan kepada anggotanya untuk melakukan tugas, merubah sikap, mencegah kesalahan dan menentukan tujuan adalah pengertian komunikasi pimpinan menurut Lewis (1987) [8]. Dalam komunikasi pimpinan ini ada lima klasifikasi yaitu instruksi tugas, rasional, ideologi, informasi dan balikan atau respon. Sedangkan variabel Y yang digunakan dalam penelitian ini yaitu keselamatan karyawan. Menurut Miner (1994) keselamatan diartikan sebagai hal yang dilakukan untuk menghindari tindakan tidak aman seperti menyingkirkan peralatan kerja, mengoperasikan pekerjaan dengan bahaya dan kurangnya pengetahuan pekerja dalam bekerja [6]. Adapun pembagian keselamatan karyawan dalam bekerja menurut Borman (1993) yaitu compliance (pemenuhan) dan participant (peserta) [6].

Bentuk komunikasi pimpinan dalam perusahaan mengenai keselamatan karyawan bisa dilihat dalam berbagai kegiatan berupa diskusi mengenai keselamatan kerja yang dilakukan secara rutin, kesadaran pimpinan untuk tetap menjaga keselamatan dan kelancaran dalam pekerjaan juga dilakukan dengan tepat serta media dan peralatan K3 sudah lengkap tersedia. Selain itu pemeliharaan alat dan lingkungan kerja setiap saat juga sangat diperhatikan guna mendukung terlaksananya pekerjaan dengan lancar dan maksimal.

Para pekerja di bagian tersebut juga sudah memperhatikan tanda-tanda peringatan maupun arahan pimpinan. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai jawaban responden yang sebagian besar setuju dengan komunikasi yang dilakukan pimpinan. Dari 50 responden penelitian diperoleh jawaban yang bervariasi karena didasari dengan pengalaman yang berbeda-beda. Penelitian ini berfokus pada komunikasi pimpinan yang dilakukan pada bagian Pool Alat Berat PT. Pakerin Mojokerto mengenai K3. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui adanya pengaruh atau tidak atas komunikasi pimpinan yang dilakukan dalam sosialisasi program K3 terhadap keselamatan karyawan. Hal ini dapat dijelaskan menurut hasil perhitungan berbagai analisis yang diperlukan dalam penelitian.

Dari hasil dari uji regresi linier sederhana diperoleh persamaan Y = 20,708 + 0,128X. Persamaan itu dapat dimaknai bahwa bila tidak ada variabel bebas (X) maka nilai variabel terikat (Y) hanya sebesar 20,708. Sedangkan nilai koefisien variabel komunikasi pimpinan (X) bernilai positif dengan 0,128 yang memiliki arti setiap penambahan satu satuan variabel komunikasi pimpinan (X) akan meningkatkan nilai keselamatan karyawan (Y) sebesar 0,128.

Selanjutnya pada koefisien determinasi (R Square) digunakan untuk mengetahui variasi besarnya pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Diperoleh nilai 0,081 atau 8,1% dengan arti bahwa komunikasi pimpinan memiliki pengaruh sebesar 8,1% terhadap keselamatan karyawan. Sedangkan persentase sisanya (100%-8,1%) dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian. Nilai koefisien korelasi antara variabel komunikasi pimpinan (X) dengan keselamatan karyawan (Y) menunjukkan angka 0,285. Nilai tersebut memiliki arti hubungan antara kedua variabel berada pada posisi yang lemah yakni berada pada interval 0,21-0,40. Berdasarkan hasil uji parsial maupun simultan mengenai pengaruh komunikasi pimpinan terhadap keselamatan karyawan, diperoleh thitung 2,056 > ttabel 2,0106 dengan nilai signifikan sebesar 0,045 < 0,05 dan fhitung 4,228 > ftabel 4,04 dengan nilai signifikan sebesar 0,045 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Maka dapat diartikan bahwa komunikasi pimpinan memiliki pengaruh secara positif terhadap keselamatan karyawan.

Hasil penelitian di atas menunjukkan kesamaan dengan hasil dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Khalifatul dengan kesimpulan bahwa peran pengawas berpengaruh secara signifikan secara simultan maupun parsial terhadap perilaku keselamatan kerja karyawan PT. Buma Site Kja Kab. Paser [4]. Selain itu juga pada penelitian oleh Megarini juga menghasilkan kesimpulan bahwa sosialisasi yang dilakukan mengenai keselamatan berpengaruh positif terhadap keselamatan penumpang dalam maskapai penerbangan Garuda Airlines [16].

IV. Kesimpulan

Dari berbagai analisis data dan pembahasan yang sudah disuguhkan peneliti mengenai “Pengaruh Komunikasi Pimpinan Dalam Sosialisasi Program K3 Terhadap Keselamatan Karyawan di PT. Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) Mojokerto (Studi Kuantitatif Pada Bagaian Pool Alat Berat PT. Pakerin)” dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil uji regresi menunjukkan variabel X dan variabel Y memiliki pengaruh positif dengan persamaan Y = 20,708 + 0,128X yang berarti nilai koefisien variabel komunikasi pimpinan (X) bernilai positif dengan 0,128. Kemudian nilai R Square didapat angka 0,081 dengan makna 8,1% komunikasi pimpinan berpengaruh terhadap keselamatan karyawan Pool Alat Berat PT. Pakerin Mojokerto. Kemudian, komunikasi pimpinan (X) berpengaruh signifikan terhadap keselamatan karyawan (Y) dengan melihat nilai thitung 2,056 > t tabel 2,0106 dengan nilai signifikan sebesar 0,045 < 0,05 dan fhitung 4,228 > f tabel 4,04 dengan nilai signifikan sebesar 0,045 < 0,05. Maka H1 dapat diterima dan menyatakan bahwa ada pengaruh komunikasi pimpinan terhadap keselamatan karyawan Pool Alat Berat PT. Pakerin Mojokerto.

Ucapan Terima Kasih

Penelitian ini tidak lepas dari adanya dukungan dari berbagai pihak. Para pimpinan direksi PT. Pabrik Kertas Indonesia yang telah memberi kesempatan yang luar biasa dalam penelitian ini. Tim P2K3 dan seluruh karyawan bagian Pool Alat Berat PT. Pakerin yang selalu mendukung dan bersedia dalam pemenuhan data guna kelancaran penelitian. Tidak lupa juga kedua orang tua dan semua teman yang memberikan dukungan semangat untuk menyelesaikan penelitian. Dengan demikian, penulis dapat menyampaikan rasa terima kasih yang sangat besar untuk semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Besar harapan penulis untuk dapat berguna dan menjadikan penelitian ini terus bermanfaat bagi kita semua.

References

  1. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2013.
  2. Hardjana, Andre, Komunikasi Organisasi: Strategi dan Kompetensi. Jakarta: Kompas, 2016.
  3. Introducing Training: Handbook for Trainee. T&D PT. Pakerin.
  4. Karimah, Khalifatul, “Pengaruh Sikap Kerja dan Peran Pengawas Terhadap Perilaku Keselamatan Studi Pada Karyawan PT. Buma Site Kja Kab. Paser. Psikoborneo,” Vol.5 No.2, 2017. [Online]. http://ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id. [Diakses 11 Desember 2019].
  5. Kumalasari, Winda, “Pengaruh Komunikasi Interpersonal, Etos Kerja Dan K3 (Keselamatan Dan Kesehatan Kerja) Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Kudus Karya Prima,” Skripsi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muria Kudus, 2018. [Online]. http://eprints.umk.ac.id. [Diakses 3 Januari 2020].
  6. Lisnanditha, Yudithia, “Pengaruh Kepemimpinan, Budaya Keselamatan Kerja, dan Iklim Keselamatan Kerja Terhadap Perilaku Keselamatan Kerja : Studi Kasus di PT. Krama Yudha Ratu Motor (KRM),” Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, 2012. [Online]. http//… [Diakses 2 Februari 2021].
  7. Max, Taufick dan Yuwono, B.E, “Pengaruh Komunikasi Internal Terhadap Sikap Pekerja Dalam Penerapan Manajemen K3 Pada Proyek Konstruksi (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Apartemen Senopati Suites 2 & 3 Senayan Jakarta oleh PT. NKE)”. Jurnal Sipil, Vol. 14 No. 2, 2014. [Online]. http://libprint.trisakti.ac.id. [Diakses 3 Januari 2020].
  8. Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi. Jakarta: Aksara Baru, 1995.
  9. Nazir, Mohammad, Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia, 2017.
  10. Nurudin, Ilmu Komunikasi: Ilmiah dan Populer. Jakarta: Rajawali Pers, 2016.
  11. Panduan Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT. Pakerin Mojokerto
  12. Pramono, A.F, “Hubungan Budaya Organisasi Dan Program Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Disiplin Kerja Dalam Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) Pada Karyawan PT. Komatsu Remanufacturing Asia Balikpapan”. Jurnal Psikoborneo, Vol. 5 No.1, 2017. [Online]. http://ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id. [Diakses 12 Desember 2019].
  13. Rashid, R.A. Dkk, “Impact of Safety Communication on Safety Commitment with Leader-Member Exchange Quality as A Moderating Factor: A Conceptual Framework”. Global Business and Management Research International Journal, Vol. 6, No. 4, 2014. [Online]. http://www.gbmrjournal.com. [Diakses 3 Januari 2020].
  14. Riduwan, Dasar-Dasar Statistika. Bandung: Alfabeta, 2013.
  15. Sujianto, A.E, Aplikasi Statistik dengan SPSS 16.0. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2009.
  16. Sulistyo, Megarini, “Pengaruh Demonstrasi Sosialisasi Keselamatan Terhadap Perilaku Keselamatan Penumpang Di Maskapai Penerbangan Garuda Airlines,” Skripsi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercubuana, Yogyakarta, 2016. [Online]. http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id. [Diakses 3 Januari 2020].
  17. Syarbaini, Syahrial, Teori Sosiologi: Suatu Pengantar. Bogor: Ghalia Indonesia, 2016.
  18. Wardhani, A. Adhitya, “Iklim Organisasi dan Disiplin Kerja (Studi Tentang Hubungan Iklim Organisasi dan Disiplin Kerja di Lingkungan Badan Kepegawaian Daerah Kota Surakarta),” Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2009. [Online]. http://eprints.uns.ac.id. [Diakses 2 Februari 2021].
  19. Yanar, Basak. Dkk, “The Interplay Between Supervisor Safety Support And Occupational Health And Safety Vulnerability On Work Injury”. Occupational Safety and Health Research Institute, Vol.10, 2019. Ontario Canada. [Online]. http://www.e-shaw.org. [Diakses 3 Januari 2020]