Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Analisis Rasch Model Bystander Effect Pada Bullying di SMP Negeri Mojokerto

Rasch Model Analysis of Bystander Effect on Bullying in Junior High School in Mojokerto
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Arfida Reta Sandeva (1), Widyastuti Widyastuti (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

Background: Bullying remains a critical issue in Indonesian junior high schools, where bystanders play a central role in either reinforcing or preventing aggressive behavior. Understanding students’ bystander tendencies is essential for developing effective school-based interventions. Objective: This study aimed to analyze the bystander effect in bullying cases among junior high school students using the Rasch measurement model. Methods: A descriptive quantitative design was employed involving 278 students from SMP Negeri 2 Pungging, Mojokerto, selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using the School Bullying Bystander Scale (SBBS), adapted into Indonesian. Responses were analyzed using the Rasch Model to examine person measures, item functioning, and Wright maps. Differences across grade levels were tested using the Kruskal–Wallis method. Results: The findings indicate that most students tend to assume the defender role in bullying situations. However, significant differences were identified across grade levels, particularly in probully tendencies, with Grade VIII students showing higher scores compared to Grades VII and IX (p < 0.05). Rasch analysis revealed that 62 respondents were misfitting, suggesting response inconsistencies. One student demonstrated extreme probully behavior, while five students showed uncertainty in responding. Overall instrument reliability was acceptable, supporting the use of SBBS for assessing bystander roles. Conclusion: Although defender behavior predominates, the presence of probully tendencies—especially among Grade VIII students—highlights the need for targeted school interventions. The Rasch Model effectively mapped student bystander profiles and identified atypical response patterns. Future studies should involve broader samples and integrate intervention-based approaches to strengthen anti-bullying programs.


Keywords: Bystander Effect, School Bullying, Junior High School, Rasch Model, Student Behavior


Key Findings Highlights:


• Most students exhibited defender tendencies in bullying situations.
• Grade VIII students showed significantly higher probully behavior than other grades.
• Rasch analysis detected 62 misfitting respondents, indicating response inconsistency and measurement noise.

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Perundungan atau bullying merupakan suatu fenomena yang sudah tidak terdengar asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Perilaku ini merupakan perilaku penindasan, perundungan, atau pengintimidasian yang dapat terjadi kepada seseorang dengan bentuk perilaku penindasan baik secara fisik, verbal, psikologis, atau sosial. Perilaku perundungan ini biasanya dimulai di sekolah pada usia muda yang dikarenakan berbagai alasan, seperti ingin mencari perhatian dari orang tua atau teman sebaya, merasa dirinya lebih unggul, ingin menjadi pemegang kendali, atau dikarenakan meniru tindakan yang dilakukan oleh orang lain di sekitarnya, di media sosial, atau di televisi [1]. Perilaku perundungan ini dikategorisasikan menjadi dua, antara lain direct bullying, yakni perundungan yang dilakukan secara fisik dan verbal, dan indirect bullying, yakni perundungan yang dilakukan secara psikologis & sosial [2]. Seorang remaja yang menjadi korban perundungan dapat memperoleh dampak negatif sehingga Ia dapat menderita masalah psikologis dan perilaku serta dapat memunculkan gangguan depresi, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), atau bahkan berujung pada tindakan bunuh diri [3].

Realita kasus perundungan yang terjadi di tingkat SMP di Indonesia ditunjukkan dalam penelitian terhadap 188 siswa SMP dari tiga sekolah yang berada di wilayah Surabaya Timur. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa jenis perundungan yang paling sering dilakukan adalah direct bullying secara verbal dengan cara menyindir dengan persentase sebesar 37,8% dan melabrak sebesar 35,6%. Subjek penelitian mengakui bahwa mereka pernah terlibat perilaku perundungan, baik itu menjadi pelaku, korban, ataupun keduanya. Lebih jauh, para pelaku bullying mengaku bahwa mayoritas target perundungan adalah teman yang sulit bergaul dan teman yang berperilaku atau berpenampilan berbeda, sedangkan korban mengaku bahwa pelaku perundungan sering dilakukan oleh sekelompok teman dan teman yang berkuasa di kelas atau sekolah [2]. Temuan lain mengenai gambaran perilaku perundungan juga ditunjukkan oleh penelitian kuantitatif cross sectional terhadap 92 siswa SMP kelas VII & VIII di Kota Denpasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk perilaku perundungan yang paling dominan adalah direct bullying dengan bentuk perundungan verbal yang memiliki persentase 67,3%, yang kemudian diikuti indirect bullying dengan bentuk perundungan sosial dengan persentase sebesar 19,6%, lalu direct bullying dengan bentuk perundungan fisik dengan persentase sebesar 13,1%. Sebagian besar korban dari perilaku perundungan berjenis kelamin perempuan (58,8%) dan sebagian besar pelaku perundungan berjenis kelamin laki-laki (66,6%) [4].

Perilaku yang diharapkan teman sebaya adalah memberikan pertolongan kepada siswa yang menjadi korban dan menghentikan perilaku perundungan [5]. Meski demikian, studi menunjukkan bahwa terdapat siswa yang hanya menjadi penonton pasif dan tidak berusaha untuk menolong korban atau menghentikan perilaku tersebut [6]. Salah satu faktor yang menjadikan seseorang lebih memilih untuk bersikap menjadi penonton pasif adalah karena adanya bystander effect [7].

Bystander effect merupakan suatu fenomena sosial dimana terjadi penurunan kecenderungan sikap seseorang dalam memberikan bantuan, apabila terdapat orang lain yang juga hadir pada situasi tersebut [8]. Dalam hal ini, penurunan kecenderungan sikap seseorang dalam memberikan bantuan terjadi dalam konteks perundungan. Orang lain atau bystander pada konteks ini merupakan individu yang menyaksikan atau mengetahui tindakan perundungan namun bukan sebagai pelaku ataupun korban [9].

Analisis yang dilakukan dalam perilaku perundungan di kalangan pelajar SMP menemukan bahwa terdapat tiga jenis kelompok bystander di kalangan siswa yakni: (1) bystander probully, adalah siswa yang mendukung perilaku perundungan dengan melakukan tindakan seperti menertawakan korban, mendukung pelaku perundungan, atau bahkan mulai ikut serta menjadi pelaku perundungan, (2) bystander pasif, merupakan siswa yang memilih untuk bersikap hanya menonton, tidak melakukan apapun untuk menolong korban, atau berusaha menjauh ketika menemui perilaku perundungan; (3) defender bystander, adalah siswa yang bersikap sebagai pihak yang memberikan pertolongan atau melindungi korban dengan cara menghentikan perilaku perundungan yang terjadi, memotivasi korban untuk bercerita dan mencari bantuan, mendorong teman lain untuk membela korban, serta melaporkannya kepada guru jika diperlukan. Hasil analisis ini kemudian dirumuskan sehingga bystander effect dalam perilaku perundungan dioperasionalisaskan menjadi tiga aspek, yakni bystander pasif, defender, dan probully [10].

Terdapat tiga aspek psikologis yang berkontribusi terhadap terjadinya fenomena ini yakni : (1) difusi tanggung jawab, yang merupakan pembagian tanggung jawab seorang individu karena adanya kehadiran orang lain di sekitar, yang mana jika semakin banyak orang lain yang hadir dalam situasi tersebut, maka difusi tanggung jawab yang terjadi akan semakin besar; (2) evaluation apprehension, yang merujuk kepada adanya perasaan khawatir seorang individu terhadap penilaian orang lain ketika melakukan tindakan di hadapan publik yang dapat mengakibatkan seorang individu menjadi ragu untuk memberikan pertolongan; (3) pluralistic ignorance, adalah ketidakpedulian yang terjadi dalam lingkup sosial, yang mana hal ini merupakan hasil dari akumulasi kemampuan tiap individu dalam mendefinisikan situasi ambigu. Respon orang lain yang ditunjukkan di depan publik berpengaruh dalam memberikan definisi situasi yang ambigu tersebut pada seorang individu. Bystander effect akan sangat besar apabila tidak ada seorangpun yang menganggap perlunya uluran tangan di dalam situasi yang membutuhkan bantuan [11].

Adanya kebutuhan akan peran positif bystander dalam perundungan dijelaskan dalam penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa sebanyak 65,2% korban perilaku perundungan di kalangan para siswa SMP menyatakan bahwa mereka mencari bantuan dari teman sebaya atau orang lain yang menyaksikan ketika mereka menjadi korban perundungan [4]. Selain itu, studi terdahulu terhadap 537 siswa SMP di Kota Bandung menunjukkan bahwa adanya peran positif bystander terhadap korban perundungan akan memunculkan persepsi dalam diri korban bahwa akan ada teman yang memberikan pertolongan ketika seorang siswa mengalami perundungan membuat siswa merasa lebih bahagia [12].

Fenomena bystander effect pada perundungan di kalangan siswa SMP merupakan salah satu topik yang penting dan masih relevan untuk diteliti. Temuan penelitian terdahulu terhadap 48 siswa SMP dengan rentang usia 11-15 tahun di Makassar menunjukkan bahwa persepsi terhadap bystander mengakibatkan intensitas perilaku perundungan meningkat dengan nilai sumbangan efektif sebesar 11,8%. Adapun maksud dari persepsi terhadap bystander adalah anggapan pelaku perundungan terhadap teman-teman sebayanya bahwa mereka takut kepada pelaku bullying dan segan membantu sehingga mereka akan membiarkan pelaku atau bahkan mendukung perilaku perundungan di sekolah [13]. Temuan ini memiliki arti bahwa peran yang dipilih bystander turut menentukan berhentinya atau tidaknya suatu tindakan perundungan. Hal ini juga ditegaskan oleh penelitian lain yang menyatakan bahwa peran bystander dalam perundungan memiliki kontribusi dalam mengurangi atau memperparah perilaku perundungan. Sebagai contoh, ketika semakin banyak teman sekelas yang mendukung dan membela korban perundungan, maka perilaku perundungan akan semakin berkurang, dan begitu pula sebaliknya [14].

Meskipun bystander effect bukanlah topik baru, penelitian terdahulu tentang topik ini dalam konteks perundungan berdasarkan perspektif bystander dalam lingkup siswa SMP masih sedikit kami jumpai. Selain itu, suatu norma dan nilai yang berlaku di suatu tempat belum tentu berlaku juga di tempat lain, yang mana hal ini akan mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak. Pengelompokan perilaku bystander menjadi penting dilakukan sehingga berguna untuk mendapatkan gambaran mendetail mengenai bagaimana suatu populasi menyikapi perilaku perundungan yang terjadi. Berdasarkan hal ini penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran bystander effect dalam konteks perundungan di SMP Negeri 2 Pungging.

Metode

Perundungan atau bullying merupakan suatu fenomena yang sudah tidak terdengar asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Perilaku ini merupakan perilaku penindasan, perundungan, atau pengintimidasian yang dapat terjadi kepada seseorang dengan bentuk perilaku penindasan baik secara fisik, verbal, psikologis, atau sosial. Perilaku perundunganini biasanya dimulai di sekolah pada usia muda yang dikarenakan berbagai alasan, seperti ingin mencari perhatian dari orang tua atau teman sebaya, merasa dirinya lebih unggul, ingin menjadi pemegang kendali, atau dikarenakan meniru tindakan yang dilakukan oleh orang lain di sekitarnya, di media sosial, atau di televisi [1]. Perilaku perundunganini dikategorisasikan menjadi dua, antara lain direct bullying, yakni perundunganyang dilakukan secara fisik dan verbal, dan indirect bullying, yakni perundunganyang dilakukan secara psikologis & sosial [2]. Seorang remaja yang menjadi korban perundungandapat memperoleh dampak negatif sehingga Ia dapat menderita masalah psikologis dan perilaku serta dapat memunculkan gangguan depresi, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), atau bahkan berujung pada tindakan bunuh diri [3].

Realita kasus perundungan yang terjadi di tingkat SMP di Indonesia ditunjukkan dalam penelitian terhadap 188 siswa SMP dari tiga sekolah yang berada di wilayah Surabaya Timur. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa jenis perundungan yang paling sering dilakukan adalah direct bullying secara verbal dengan cara menyindir dengan persentase sebesar 37,8% dan melabrak sebesar 35,6%. Subjek penelitian mengakui bahwa mereka pernah terlibat perilaku perundungan, baik itu menjadi pelaku, korban, ataupun keduanya. Lebih jauh, para pelaku bullying mengaku bahwa mayoritas target perundunganadalah teman yang sulit bergaul dan teman yang berperilaku atau berpenampilan berbeda, sedangkan korban mengaku bahwa pelaku perundungansering dilakukan oleh sekelompok teman dan teman yang berkuasa di kelas atau sekolah [2]. Temuan lain mengenai gambaran perilaku perundungan juga ditunjukkan oleh penelitian kuantitatif cross sectional terhadap 92 siswa SMP kelas VII & VIII di Kota Denpasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk perilaku perundungan yang paling dominan adalah direct bullying dengan bentuk perundungan verbal yang memiliki persentase 67,3%, yang kemudian diikuti indirect bullying dengan bentuk perundungan sosial dengan persentase sebesar 19,6%, lalu direct bullying dengan bentuk perundungan fisik dengan persentase sebesar 13,1%. Sebagian besar korban dari perilaku perundungan berjenis kelamin perempuan (58,8%) dan sebagian besar pelaku perundungan berjenis kelamin laki-laki (66,6%) [4].

Perilaku yang diharapkan teman sebaya adalah memberikan pertolongan kepada siswa yang menjadi korban dan menghentikan perilaku perundungan [5]. Meski demikian, studi menunjukkan bahwa terdapat siswa yang hanya menjadi penonton pasif dan tidak berusaha untuk menolong korban atau menghentikan perilaku tersebut [6]. Salah satu faktor yang menjadikan seseorang lebih memilih untuk bersikap menjadi penonton pasif adalah karena adanya bystander effect [7].

Bystander effect merupakan suatu fenomena sosial dimana terjadi penurunan kecenderungan sikap seseorang dalam memberikan bantuan, apabila terdapat orang lain yang juga hadir pada situasi tersebut [8]. Dalam hal ini, penurunan kecenderungan sikap seseorang dalam memberikan bantuan terjadi dalam konteks perundungan. Orang lain atau bystander pada konteks ini merupakan individu yang menyaksikan atau mengetahui tindakan perundungan namun bukan sebagai pelaku ataupun korban [9].

Analisis yang dilakukan dalam perilaku perundungan di kalangan pelajar SMP menemukan bahwa terdapat tiga jenis kelompok bystander di kalangan siswa yakni: (1) bystander probully, adalah siswa yang mendukung perilaku perundungan dengan melakukan tindakan seperti menertawakan korban, mendukung pelaku perundungan, atau bahkan mulai ikut serta menjadi pelaku perundungan, (2) bystander pasif, merupakan siswa yang memilih untuk bersikap hanya menonton, tidak melakukan apapun untuk menolong korban, atau berusaha menjauh ketika menemui perilaku perundungan; (3) defender bystander, adalah siswa yang bersikap sebagai pihak yang memberikan pertolongan atau melindungi korban dengan cara menghentikan perilaku perundungan yang terjadi, memotivasi korban untuk bercerita dan mencari bantuan, mendorong teman lain untuk membela korban, serta melaporkannya kepada guru jika diperlukan. Hasil analisis ini kemudian dirumuskan sehingga bystander effect dalam perilaku perundungan dioperasionalisaskan menjadi tiga aspek, yakni bystander pasif, defender, dan probully [10].

Terdapat tiga aspek psikologis yang berkontribusi terhadap terjadinya fenomena ini yakni : (1) difusi tanggung jawab, yang merupakan pembagian tanggung jawab seorang individu karena adanya kehadiran orang lain di sekitar, yang mana jika semakin banyak orang lain yang hadir dalam situasi tersebut, maka difusi tanggung jawab yang terjadi akan semakin besar; (2) evaluation apprehension, yang merujuk kepada adanya perasaan khawatir seorang individu terhadap penilaian orang lain ketika melakukan tindakan di hadapan publik yang dapat mengakibatkan seorang individu menjadi ragu untuk memberikan pertolongan; (3) pluralistic ignorance, adalah ketidakpedulian yang terjadi dalam lingkup sosial, yang mana hal ini merupakan hasil dari akumulasi kemampuan tiap individu dalam mendefinisikan situasi ambigu. Respon orang lain yang ditunjukkan di depan publik berpengaruh dalam memberikan definisi situasi yang ambigu tersebut pada seorang individu. Bystander effect akan sangat besar apabila tidak ada seorangpun yang menganggap perlunya uluran tangan di dalam situasi yang membutuhkan bantuan .

Adanya kebutuhan akan peran positif bystander dalam perundungan dijelaskan dalam penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa sebanyak 65,2% korban perilaku perundungandi kalangan para siswa SMP menyatakan bahwa mereka mencari bantuan dari teman sebaya atau orang lain yang menyaksikan ketika mereka menjadi korban perundungan [4]. Selain itu, studi terdahulu terhadap 537 siswa SMP di Kota Bandung menunjukkan bahwa adanya peran positif bystander terhadap korban perundungan akan memunculkan persepsi dalam diri korban bahwa akan ada teman yang memberikan pertolongan ketika seorang siswa mengalami perundungan membuat siswa merasa lebih bahagia .

Fenomena bystander effect pada perundungandi kalangan siswa SMP merupakan salah satu topik yang penting dan masih relevan untuk diteliti. Temuan penelitian terdahulu terhadap 48 siswa SMP dengan rentang usia 11-15 tahun di Makassar menunjukkan bahwa persepsi terhadap bystander mengakibatkan intensitas perilaku perundunganmeningkat dengan nilai sumbangan efektif sebesar 11,8%. Adapun maksud dari persepsi terhadap bystander adalah anggapan pelaku perundunganterhadap teman-teman sebayanya bahwa mereka takut kepada pelaku bullying dan segan membantu sehingga mereka akan membiarkan pelaku atau bahkan mendukung perilaku perundungandi sekolah [11]. Temuan ini memiliki arti bahwa peran yang dipilih bystander turut menentukan berhentinya atau tidaknya suatu tindakan perundungan. Hal ini juga ditegaskan oleh penelitian lain yang menyatakan bahwa peran bystander dalam perundungan memiliki kontribusi dalam mengurangi atau memperparah perilaku perundungan. Sebagai contoh, ketika semakin banyak teman sekelas yang mendukung dan membela korban perundungan, maka perilaku perundungan akan semakin berkurang, dan begitu pula sebaliknya [12].

Meskipun bystander effect bukanlah topik baru, penelitian terdahulu tentang topik ini dalam konteks perundungan berdasarkan perspektif bystander dalam lingkup siswa SMP masih sedikit kami jumpai. Selain itu, suatu norma dan nilai yang berlaku di suatu tempat belum tentu berlaku juga di tempat lain, yang mana hal ini akan mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak. Pengelompokan perilaku bystander menjadi penting dilakukan sehingga berguna untuk mendapatkan gambaran mendetail mengenai bagaimana suatu populasi menyikapi perilaku perundungan yang terjadi. Berdasarkan hal ini penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran bystander effect dalam konteks perundungan di SMP Negeri 2 Pungging.

II. METODE

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif noneksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha memaparkan mengenai suatu gejala, peristiwa, atau kejadian sebagaimana adanya. Pada penelitian deskriptif noneksperimen, tidak terdapat suatu tindakan atau perlakuan khusus terhadap variabel yang akan dideskripsikan dan hanya berfokus untuk meneliti data yang sudah ada. Pendekatan kuantitatif sendiri merupakan pendekatan yang menggunakan data dalam bentuk angka-angka untuk dapat meramalkan kondisi populasi atau kecenderungan di masa depan [13]. Adapun variabel yang akan diteliti pada penelitian ini adalah bystander effect.

Populasi penelitian berasal dari SMP Negeri 2 Pungging, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dengan jumlah 741 siswa. Agar dapat mewakili populasi, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik proportionate stratified random sampling. Teknik ini digunakan apabila penelitian memiliki populasi yang heterogen dan berstrata secara proposional. Jumlah sampel disesuaikan dari tiap jumlah sub populasi yang kemudian dipilih secara acak sehingga setiap individu dalam suatu sub populasi memiliki kesempatan yang sama [14]. Teknik tersebut sesuai untuk penelitian ini dikarenakan siswa SMP Negeri 2 Pungging memiliki populasi yang heterogen dan memiliki strata kelas (VII, VIII, dan IX). Selain itu, batasan jumlah sampel ditentukan sesuai ketentuan toleransi kesalahan 5%, sehingga peneliti menentukan jumlah batasan sampel sebanyak 251 siswa. Adapun jumlah siswa per kelas dibagi dalam tabel berikut :

K elas J umlah S iswa J umlah S ampel
VII 251 87
VIII 244 80
IX 246 84
Jumlah 741 251
Table 1. Tabel 1. Jumlah populasi dan sampel

Pelaksanaan pengumpulan data dilaksanakan dengan instrumen yang disusun melalui metode adaptasi dari instrumen School Bystander Behavior Scale(SBBS) yang disusun oleh Suárez-García, dkk. Berdasarkan instrumen yang dikembangkan oleh Thornberg & Jungert. Instrumen tersebut memenuhi standar dengan memiliki model-fit N = 347; CFI = .92; S-BSS = 258.44 df = 144; RMSEA = .048, 90% CI [0.04, 0.06] [15]. Instrumen ini dapat mengklasifikasikan perilaku siswa menjadi tiga jenis, yakni perilaku bystander pasif, defender, danprobully[10]. Adaptasi instrumen disusun denggan menggunakan 4 poin skala Likert dengan skor 1 sebagai nilai terendah dan skor 4 sebagai nilai tertinggi. Jawaban diisi dengan ceklist terhadap 4 pilihan pernyataan, yakni Sangat Tidak Sesuai (STS), Tidak Sesuai (TS), Sesuai (S), dan Sangat Sesuai (SS).

Analisis data menggunakan rasch model untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas instrumen dan gambaran bystander effect siswa dalam perundungan yang terjadi dalam lingkup siswa SMP. Selain itu, digunakan pula uji komparatif untuk mendapatkan perbandingan kecenderungan sikap siswa dengan perbandingan berdasarkan sikap dan strata kelas. Rekapitulasi data mentah dilakukan dengan bantuan software Microsoft Excel. Untuk pengujian rasch model, analisis data dilakukan dengan bantuan software Winstep, sedangkan untuk pengujian komparatif, analisis data dilakukan dengan bantuan software SPSS.

Hasil dan Pembahasan

1. Hasil Penelitian

Hasil penelitian memuat analisis dan pembahasan mengenai hasil pengujian aitem dan person. Hasil pengujian aitem memuat hasil uji reliabilitas & validitas untuk menilai kualitas instrumen. Di sisi lain, hasil pengujian person memuat hasil uji Wright map, person measure, person misfit order, dan uji komparatif.

A . Summary Statistics dan Reliablitas Instrumen

Summary statistics pada rasch model menunjukkan hasil pengujian kualitas instrumen secara keseluruhan dan interaksi siswa dengan instrumen penelitian yang digunakan [16].

Figure 1. Gambar 1. Hasil summary statistics

Berdasarkan hasil uji summary statistics yang ditunjukkan oleh gambar 1, didapatkan nilai rata-rata siswa = -0,45, yang mana lebih kecil daripada nilai standard logit = 0. Hal ini menunjukkan bahwa para siswa dalam penelitian ini memiliki kemampuan yang lebih rendah daripada tingkat kesulitan aitem pada instrumen penelitian.

Gambar 1 juga memuat dua jenis nilai separation, yakni item separation dan person separation. Item separation menunjukkan rentang tingkat kesulitan aitem pada instrumen penelitian sedangkan person separation menunjukkan variasi kemampuan siswa [17]. Dalam hal ini, nilai item separation yang didapatkan = 14,37 (> 5) dan nilai person separation = 0,69 (< 2). Nilai item separation yang didapatkan memberikan definisi bahwa aitem pada instrumen penelitian menunjukkan rentang tingkat kesulitan yang beragam, sedangkan nilai person separation memiliki arti bahwa kemampuan yang dimiliki para siswa kurang beragam.

Terdapat dua jenis reliabilitas pada summary statistics, yakni item reliability dan person reliability. Item reliability menunjukkan konsistensi aitem dalam mengukur kemampuan siswa dengan nilai ideal mendekati angka 1 [18]. Nilai item reliability yang didapatkan = 1,00 (>0,94), memberikan pengertian bahwa aitem pada instrumen ini bersifat sangat reliabel. Kemudian, person reliability menunjukkan konsistensi interaksi respon siswa terhadap aitem pada instrumen yang juga memiliki nilai ideal mendekati angka 1 . Nilai person reliability yang didapatkan = 0,33 (< 0,67), menunjukkan bahwa interaksi antara respon para siswa dengan aitem memiliki konsistensi yang lemah.

Lebih lanjut, didapatkan pula nilai item Infit MNSQ = 1,00 dan item Outfit MNSQ = 1,00, yang mana nilai tersebut sesuai dengan nilai ideal (1,00) [17]. Didapatkan pula nilai item Infit ZSTD = -0,2 dan item Outfit ZSTD = -0.2 yang mana cukup dekat dengan nilai ideal (0,00) [17]. Berdasarkan hal ini, didapatkan pengertian bahwa statistik inlier dan outlier pada aitem cukup sesuai dengan ekspektasi rasch model. Selain itu, nilai person Infit MNSQ = 0,99 dan person Outfit MNSQ = 1,00. Masing-masing nilai Infit MNSQ dan Outfit MNSQ yang didapatkan mendekati nilai ideal (1,00) [17]. Didapatkan pula nilai person Infit ZSTD = -0,3 dan person Outfit ZSTD = -0.2. Masing-masing nilai Infit ZSTD dan Outfit ZSTD yang didapatkan masih cukup dekat dengan nilai ideal (0,00) [17]. Berdasarkan nilai Infit MNSQ dan Outfit MNSQ serta Infit ZSTD dan Outfit ZSTD yang didapatkan, menunjukkan bahwa statistik inlier dan outlier para siswa masih cukup sesuai dengan ekspektasi rasch model.

B . Validitas

Suatu instrumen penelitian harus memiliki validitias yang baik agar mendapatkan data yang akurat dan terhindar dari bias. Dalam rasch model, untuk mengetahui validitas instrumen penelitian yang digunakan, dilakukan pengujian unidimensionalitas, item misfit order dan category function.

Jenis Pengujian Jenis Parameter Hasil Keterangan
Unidimensionalitas Raw variance explained by measures 59,9% (50-60%) Diterima
Unexplained variance in contrast terbesar 11,9% (10-15%) pada 1st contrast Diterima
Item Misfit Order Outfit ZSTD (-2,0 ≤ x ≤ 2,0) Diterima Ditolak Sebagian diterima
B1 = 1,79 B2 = -2,38
D1 = -0,82 B3 = -3,17
D4 = -1,79 D2 = 2,91
P1 = -0,50 D3 = 4,76
P2 = -1,43
P3 = -1,16
Point measure correlation (0,4 ≤ x ≤ 0,85) Diterima Ditolak Sebagian diterima
B2 = 0,60 B1 = 0,17
B3 = 0,60 D1 = 0,14
P1 = 0,52 D2 = 0,22
P2 = 0,68 D3 = 0,15
P3 = 0,54 D4 = 0,30
Category Function Category Measure Skor 1 = -2,71 Diterima
Skor 2 = -0,88 Diterima
Skor 3 = 0,82 Diterima
Skor 4 = 2,82 Diterima
Table 2. Tabel 2. Hasil pengujian validitas

Instrumen penelitian memiliki unidimensionalitas yang baik apabila instrumen tersebut tidak mengukur lebih dari satu konstruk yang dimaksud [19]. Hasil uji unidimensionalitas pada tabel 2 menunujukkan nilai raw variance explained by measures = 59,9% (50-60%) yang menunjukkan bahwa instrumen cukup berhasil dalam mengukur hanya satu konstruk yang dimaksud. Selain itu, nilai terbesar unexplained variance in contrast terdapat pada 1st contrast dengan nilai = 11,9% (10-15%) yang menunjukkan bahwa faktor lain yang turut terukur bersama konstruk yang ingin diukur masih dalam batas wajar sehingga instrumen penelitian memiliki local independence yang cukup.

Uji item misfit order bertujuan untuk mengevaluasi kecocokan (fit) dari setiap aitem dalam instrumen ini yang mana aitem yang tidak fit akan mengganggu pengukuran konstruk karena menjukkan pola respon yang tidak konsisten dengan prediksi rasch model [20]. Hasil pengujian item misfit order pada tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat empat aitem yang memiliki nilai Outfit ZSTD lebih dari standar (std. -2,0 ≤ x ≤ 2,0) . Aitem-aitem tersebut yakni aitem B2 = -2,38, B3 = -3,17, D2 = 2,91 dan D3 = 4,76. Ini menunjukkan bahwa aitem-aitem tersebut memiliki outlier inferensial yang tidak sesuai dengan ekspektasi rasch model. Selain itu, terdapat pula point measure correlation yang memberikan pemahaman mengenai daya beda aitem dengan rentang nilai standar 0,4 hingga 0,85 [21]. Dalam hal ini, terdapat lima aitem yang memiliki nilai point measure correlation yang tidak memenuhi standar, yakni aitem B1 = 0,17, D1 = 0,14, D2 = 0,22, D3 = 0,15, dan D4 = 0,30. Perlu diperhatikan bahwa seluruh aitem memiliki tujuan untuk mengukur perilaku defender siswa telah tereliminasi. Nilai dari kelima aitem tersebut lebih rendah daripada 0,4, sehingga memiliki arti bahwa aitem-aitem tersebut kurang dapat membedakan tingkat kemampuan siswa karena memiliki daya beda yang kurang baik.

Analisis rasch model pada instrumen dengan rating scale memerlukan pengujian category function untuk menilai seberapa baik setiap pilihan butir respon jawaban [22].Category measure menunjukkan bahwa skor 1-4 memiliki nilai yang naik secara berkala serta tidak terdapat butir skor yang terbalik. Hal ini menunjukkan bahwa butir respon sesuai dengan tingkat kemampuan siswa sehingga siswa yang memiliki kemampuan tinggi akan cenderung menjawab skor 4. Lebih lanjut, susunan butir skor respon yang tidak terbalik menunjukkan bahwa secara umum, butir respon tidak membingungkan para siswa.

D . Person Statistics

Person statistics merupakan analisis untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki para siswa [17]. Hasil pengujian person statistics memuat analisis Wright map, hasil person measure dan hasil person misfit order.

a . Wright Map

Wright map merupakan peta distribusi item-person yang menunjukkan distribusi tingkat kesulitan aitem dan kemampuan individu serta hubungan antara keduanya [23].

Figure 2. Gambar 2. Wright Map

Figure 3. Gambar 3. Hasil uji mean person

Gambar 2 menunjukkan Wright map dengan distribusi person (bagian kiri peta) yang cenderung berada di bagian bawah. Ini menggambarkan bahwa secara garis besar, para siswa memiliki kemampuan lebih rendah daripada tingkat kesulitan aitem. Hal ini dipertegas oleh gambar 3 yang menunjukkan nilai rata-rata logit siswa = -45 yang mana lebih rendah daripada nilai logit aitem = 0,0. Selain itu, dari Wright map dapat diketahui bahwa mayoritas siswa cenderung bersikap sebagai defender.

b . Person Measure Order

Person measure order berguna untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa. Nilai pada JMLE measure menunjukkan nilai logit setiap siswa, yang mana semakin tinggi nilai yang didapatkan, maka semakin tinggi pula kemampuan yang dimiliki siswa [24].

Figure 4. Gambar 4a. Hasil uji person measure – tertinggi

Figure 5. Gambar 4b. Hasil uji person measure – terendah

Pada gambar 4a, terdapat 1 siswa yang memiliki kemampuan sangat tinggi, yakni siswa nomor 232 yang memiliki nilai logit = +243. Ini menunjukkan bahwa siswa nomor 232 dapat menjawab sebagian besar soal dengan benar. Hal ini juga mengindikasikan bahwa siswa menunjukkan kecenderungan yang tinggi sebagai probully.

Berdasarkan gambar 4b, dari keseluruhan siswa, terdapat 5 siswa yang memiliki nilai logit terendah = -187, yakni siswa nomor 107, 176, 195, 220, dan 226. Meski demikian, hanya siswa nomor 107 dan 220 yang tidak dapat menjawab benar pada semua soal yang tersedia, sedangkan siswa nomor 226 dapat menjawab benar pada 2 soal serta siswa nomor 176 dan 195 dapat menjawab benar hanya pada 1 soal. Rendahnya kemampuan kelima siswa tersebut menunjukkan bahwa siswa kebingungan dalam memilih sikap ketika menyaksikan perundungan.

c . Person Misfit Order

Person misfit order merupakan statistik rasch model yang berfungsi untuk mengidentifikasi siswa yang tidak fit dengan rasch model. Nilai Infit MNSQ dan Outfit MNSQ menjadi acuan dalam mengidentifikasi siswa yang tidak fit. Dalam hal ini, apabila salah satu dari Infit MNSQ atau Outfit MNSQ melebihi standar (x < -1 atau x > 1), maka siswa dinyatakan tidak fit [25].

Figure 6. Gambar 5. Hasil uji person misfit order

Pada gambar 5, terdapat sebanyak 62 siswa yang tidak fit dengan rasch model. Menurut Karabatsos (2003) terdapat 5 hal yang menyebabkan seseorang tidak fit, yakni, 1) menyontek; 2) memberikan respon dengan kurang teliti; 3) menebak dengan benar; 4) respon kreatif yang berlebihan terhadap aitem; 5) respon acak [26]. Adapun siswa dengan nomor 147 menempati posisi tertinggi dengan nilai Infit MNSQ = 6,43 dan Outfit MNSQ = 7,28.

E . Hasil Uji Komparatif

Hasil uji komparatif memuat perbandingan sikap siswa yang dibagi menjadi dua, yakni perbandingan sikap siswa yang dibagi berdasarkan sikap (bystanderpasif, defender, dan probully) dan pembagian berdasarkan strata kelas. Hasil uji komparatif ini juga menggambarkan bagaimana kecenderungan sikap yang dipilih oleh siswa.

a . Perbandingan Berdasarkan Sikap

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Sikap Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Nilai Bystander pasif .177 251 .000 .949 251 .000
Defender .150 251 .000 .954 251 .000
Probully .233 251 .000 .794 251 .000
Table 3. Tabel 3. Hasil pengujian normalitas uji komparatif berdasarkan sikap

Berdasarkan hasil uji normalitas dengan Shapiro-Wilk pada tabel 3, didapatkan hasil bahwa seluruh nilai sig. = 0,000 (< 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal sehingga dilanjutkan dengan menggunakan uji nonparametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis.

Test Statistics a,b
Nilai
Kruskal-Wallis H 541.051
df 2
Asymp. Sig. .000
Table 4. Tabel 4. Hasil pengujian Kruskal-Wallis berdasarkan sikap

Hasil uji Kruskal-Wallis pada tabel 4 menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig. = 0,000 (< 0,05). Nilai ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan terhadap pilihan sikap siswa dalam kasus perundungan.

Ranks
Sikap N Mean Rank
Nilai Bystander pasif 251 315.04
Defender 251 625.77
Probully 251 190.19
Table 5. Tabel 5. Hasil pengujian ranks berdasarkan sikap

Figure 7. Gambar 6. Grafik perbandingan kecenderungan antar sikap

Tabel 5 menunjukkan ranks dari dari masing-masing sikap bystander pasif, defender, dan probully siswa. Berdasarkan hal ini, defender adalah sikap tertinggi dengan mean rank = 625,77 yang berarti sikap ini lebih cenderung dipilih oleh mayoritas siswa ketika mereka menyaksikan perundungan. Sebagai ilustrasi, gambar 6 menunjukkan grafik perbandingan antara ketiga sikap tersebut. Berdasarkan tabel 5 dan grafik pada gambar 6, tampak bahwa sikap bystander pasif dan probully kurang diminati oleh mayoritas siswa.

b . Perbandingan Berdasarkan Strata Kelas

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Kelas Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Bystanderpasif Kelas 7 .202 87 .000 .929 87 .000
Kelas 8 .168 80 .000 .954 80
Kelas 9 .174 84 .000 .935 84
Defender Kelas 7 .166 87 .000 .927 87
Kelas 8 .177 80 .000 .948
Kelas 9 .164 84 .000 .958
Probully Kelas 7 .236 87 .000 .824
Kelas 8 .188 80 .000
Kelas 9 .273 84 .000
Table 6. Tabel 6. Hasil pengujian normalitas uji komparatif berdasarkan strata kelas

Tabel 6 menunjukkan uji normalitas Shapiro-Wilk dengan didapatkan hasil bahwa seluruh nilai sig. = 0,000 (< 0,05) yang mengindikasikan bahwa tidak terdistribusi normal. Oleh karena itu, pengujian komparatif dilanjutkan dengan uji nonparametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis.

Test Statistics a,b
Bystanderpasif Defender Probully
Kruskal-Wallis H 3.185 3.432 7.293
df 2 2 2
Asymp. Sig. .203 .180 .026
Table 7. Tabel 7. Hasil pengujian Kruskal-Wallis berdasarkan strata kelas

Hasil uji Kruskal-Wallis pada tabel 7 menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig. bystander pasif = 0,203 (> 0,05), Asymp. Sig. defender = 0,180 (> 0,05), dan Asymp. Sig. probully = 0,026 (< 0,05). Nilai yang didapatkan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas 7, 8, dan 9 terhadap sikap bystander pasif dan defender, namun terdapat perbedaan yang signifikan terhadap sikap probully antar strata kelas.

Ranks
Bystander pasif Defender Probully
Kelas Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9
N 87 80 84 87 80 84 87 80 84
Mean Rank 122.95 137.36 118.35 129.16 134.47 114.66 126.11 140.86 111.73
Table 8. Tabel 8. Hasil pengujian ranks berdasarkan strata kelas

Tabel 8 menunjukkan bahwa kelas 8 memiliki nilai rata-rata tertinggi pada setiap sikap dibandingkan kelas lainnya. Hal ini juga diilustrasikan pada gambar 7 yang menunjukkan grafik bahwa kelas 8 memiliki nilai tertinggi dibandingkan kelas lainnya. Meski demikian, tabel 7 menunjukkan bahwa perbedaan pada sikap bystander pasif dan defender tidak signifikan. Jika nilai mean rank yang diperoleh oleh kelas 8 dibandingkan antar sikapnya, nilai mean rank pada sikap probully pada kelas 8 lebih tinggi dibandingkan bystander pasif dan defender dengan nilai = 140,86. Kembali mengacu pada tabel 7 dengan disertai perbandingan nilai mean rank dengan kelas lain pada sikap probully, tampak bahwa kelas 8 memiliki perbedaan yang signifikan. Sehingga, hal ini memberikan pengertian bahwa kelas 8 memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk bersikap sebagai probully ketika menyaksikan perundungan.

2. Pembahasan

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penelitian ini mampu memberikan gambaran mengenai kecenderungan sikap siswa bystander ketika mereka menyaksikan siswa lain menjadi korban kasus bullying. Hal ini ditunjukkan dari temuan penelitian pada Wright map yang menunjukkan bahwa mayoritas siswa cenderung bersikap sebagai defender. Hasil uji Kruskal-Wallis juga menunjukkan bahwa mayoritas siswa lebih banyak bersikap sebagai defender daripada bystander pasif atau probully dengan perbedaan yang signifikan dengan nilai mean rank = 625,77 dan Asymp. Sig. = 0,000 (< 0,05). Hasil analisis pada Wright map juga menunjukkan bahwa terdapat satu orang siswa yang memiliki kecenderungan tinggi untuk menjadi probully dan lima orang siswa yang bingung dalam menentukan sikapnya ketika menyaksikan atau mengetahui perundungan. Dalam hal ini, penelitian terdahulu menjelaskan bahwa apabila seorang siswa kelas menjunjung tinggi norma anti-bullying, maka siswa akan dengan otomatis bertindak sebagai defender ketika mereka mendapati siswa lain menjadi korban bullying. Seorang siswa atau suatu kelas yang menjunjung tinggi norma anti-bullying memiliki empati yang tinggi sehingga sensitivitas moral dapat berkembang dengan optimal. Lebih lanjut, penelitian terdahulu juga menjelaskan keputusan siswa untuk menjadi defender ketika menyaksikan perilaku perundungan menandakan bahwa siswa memiliki self efficacy yang tinggi, sehingga mereka yakin dengan kemampuannya dan berusaha membela korban atau bahkan menghentikan perilaku perundungan [27]. Dalam hal ini, siswa yang memiliki kecenderungan probully yang tinggi memiliki sensitivitas moral yang belum berkembang. Selain itu, siswa yang kebingungan menentukan sikap mengindikasikan bahwa mereka belum memiliki sensitivitas moral dan self efficacy yang mumpuni. Lebih lanjut, studi terdahulu juga menunjukkan bahwa empati berkorelasi positif dengan sikap defender dan berkorelasi negatif dengan sikap bystander pasif dan probully [15].

Hasil penelitian ini juga mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan kecenderungan sikap yang diambil yang ditinjau berdasarkan strata kelas 7, 8, dan 9. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecenderungan sikap probully yang dibandingkan berdasarkan strata kelas dengan kelas 8 sebagai kelas yang memiliki kecenderungan sikap probully tertinggi dengan mean rank = 140,86 dan nilai signifikansi Asymp. Sig. = 0,026 (< 0,05). Penelitian terdahulu menjelaskan bahwa siswa SMP merupakan usia di mana seorang remaja sedang dapam proses pencarian jati dirinya sehingga seorang individu pada masa ini akan berusaha membangun pengakuan teman sebaya atau mendapatkan status di kelompoknya dan salah satu caranya adalah dengan berpihak kepada siswa yang dominan dan mendukung sikap probully [2]. Selain itu, studi terdahulu menjelaskan bahwa seorang siswa yang telah melewati masa adaptasi di sekolah akan menunjukkan dinamika dominasi dan perilaku terkait perundungan yang lebih menonjol [28]. Dalam hal ini, kelas 8 merupakan masa di mana seorang siswa merasa lebih berkuasa daripada juniornya (kelas 7) dan merasa sudah cukup mapan di lingkungan sekolah.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kelas 9 memiliki kecenderungan yang lebih rendah pada sikap probully dibandingkan kelas 8. Hal ini dibahas dalam penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa kesadaran moral dan efikasi diri meningkat seiring bertambahnya usia selama remaja . Hal ini sesuai dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa kelas 9 memiliki kecenderungan probully lebih rendah dibandingkan kelas 8 karena kelas 9 memiliki usia yang lebih matang sehingga memiliki lebih banyak pemahaman mengenai moralitas dan keyakinan pada kemampuannya untuk membantu korban bullying. Selain itu, penelitian terdahulu juga menjelaskan bahwa kelas 9 cenderung lebih khawatir tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik guna mempersiapkan pendidikan ke jenjang berikutnya Di sisi lain, studi terdahulu menjelaskan bahwa sikap probully kelas 7 lebih rendah dibandingkan kelas 8 dikarenakan kelas 7 lebih banyak berfokus untuk beradaptasi di lingkungan sekolah barunya [29].

Meski demikian penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 62 siswa yang tidak fit dengan rasch model karena memiliki nilai infit dan outfit MNSQ di luar rangestandar. Hal ini mengakibatkan adanya noise pada konsistensi jawaban responden. Noise ini juga mengakibatkan kemampuan beberapa individu menjadi tidak dapat diukur karena noise menyulitkan proses membedakan kemampuan seorang individu dalam suatu kelompok. Selain itu, noise ini juga menjadikan instrumen mengukur faktor lain diluar konstruk yang ingin diukur.

Berdasarkan hal tersebut, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk meminimalisir noise sehingga penelitian yang dihasilkan dapat dengan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang bystander effect dalam perundungan di kalangan siswa SMP. Direkomendasikan pula untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan populasi yang berbeda karena nilai dan norma yang berlaku di populasi yang lain belum tentu sama yang mana dapat menghasilkan kecenderungan sikap yang berbeda. Penelitian di luar populasi juga perlu dilakukan karena akan semakin memperkaya gambaran bystander effect siswa dalam konteks perundungan.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan gambaran bahwa bahwa mayoritas siswa SMP pada tiap strata kelas lebih banyak berperan sebagai defender daripada bystander pasif atau probully ketika menyaksikan perundungan. Meski demikian, terdapat satu orang siswa yang memiliki kecenderungan probully yang tinggi dan lima siswa yang kebingungan dalam menentukan sikap ketika mereka mengetahui atau menyaksikan perilaku perundungan. Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelas 7, 8, dan 9 dalam kecenderungan untuk bersikap sebagai bystander pasif dan defender. Namun, pada kecenderungan sikap sebagai probully, kelas 8 menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan kelas 7 dan 9. Hal ini yang berarti bahwa kelas 8 memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk bersikap sebagai probully dibandingkan kelas lainnya. Meski demikian, penelitian ini tidak dapat mengukur secara sempurna seluruh kemampuan siswa dikarenakan terdapat noise berupa 62 siswa yang tidak fit dengan rasch model pada temuan hasil uji person misfit order. Oleh karena itu, perlu penelitian lebih lanjut untuk meminimalisir noise sehingga hasil penelitian dapat menggambarkan bystander effect siswa SMP pada perundungan dengan lebih baik. Penelitian lebih lanjut dengan populasi yang berbeda juga penting untuk dilakukan karena nilai dan norma yang berlaku di populasi yang lain belum tentu sama sehingga dapat menghasilkan kecenderungan sikap yang berbeda. Direkomendasikan pula agar dilakukan penelitian di luar populasi ini sehingga akan semakin memperkaya gambaran bystander effect siswa dalam konteks perundungan. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan oleh sekolah untuk menyusun program anti-bullying sehingga dapat meminimalisir perilaku perundungan yang terjadi di kalangan siswa.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada SMP Negeri 2 Pungging, Mojokerto, atas izin pelaksanaan penelitian di institusi ini dan seluruh siswa SMP Negeri 2 Pungging, Mojokerto, yang berpartisipasi dalam pengumpulan data.

References

[1] P. Fischer et al., “The Bystander Effect: A Meta-Analytic Review on Bystander Intervention in Dangerous and Non-Dangerous Emergencies,” Psychological Bulletin, vol. 137, no. 4, pp. 517–537, 2011.

[2] J. Hudson and A. Bruckman, “The Bystander Effect: A Lens for Understanding Patterns of Participation,” Journal of the Learning Sciences, vol. 13, pp. 165–195, 2004.

[3] A. Halimah et al., “Bystander Perceptions of Bullying Intensity Among Junior High School Students,” Jurnal Psikologi, vol. 42, p. 129, 2015.

[4] E. Haru, “Bullying Behavior Among Students,” Alternatif Wacana Ilmiah Interkultural, vol. 11, no. 2, 2022.

[5] A. Prasetyo, “School Bullying and Its Impact on Children’s Future,” El-Tarbawi, vol. 4, pp. 19–26, 2014.

[6] N. Karisma et al., “Adolescent Mental Health and Suicide Trends,” Edu Cendikia, vol. 3, pp. 560–567, 2024.

[7] W. D. Lestari et al., “Empathy and Bystander Effect on Prosocial Behavior,” Proc. Nat. Seminar Guidance Counseling, vol. 4, no. 1, 2022.

[8] M. B. A. Tumon, “Bullying Behavior in Adolescents,” Calyptra, vol. 3, no. 1, 2014.

[9] R. Thornberg and T. Jungert, Journal of Adolescence, vol. 36, pp. 475–483, 2013.

[10] R. Thornberg et al., Journal of Interpersonal Violence, 2021.

[11] C. Salmivalli, Aggression and Violent Behavior, vol. 15, pp. 112–120, 2010.

[12] S. Padgett and C. Notar, Universal Journal of Educational Research, vol. 1, pp. 33–41, 2013.

[13] N. M. D. Sulistiowati et al., Journal of Psychiatric Nursing, vol. 5, no. 1, 2022.

[14] S. Maharani and I. Borualogo, Bandung Conference Series Psychology, 2022.

[15] R. Sestiani and A. Muhid, Tematik, vol. 2, no. 1, 2022.

[16] A. Nickerson et al., Journal of Adolescence, vol. 37, 2014.

[17] M. Demaray et al., Journal of School Violence, 2014.

[18] F. Goossens and T. Olthof, SAGE Journals, 2017.

[19] Z. Suárez-García et al., Psicothema, 2021.

[20] A. Costa et al., Current Directions in Psychological Science, 2017.

[21] Y. Suryani, Psikohumaniora, 2018.

[22] D. Beaton et al., Spine, 2000.

[23] Sugiyono, Research Methods, Bandung: Alfabeta, 2017.

[24] I. Machali, Quantitative Research Methods, Yogyakarta, 2021.

[25] B. Sumintono and W. Widhiarso, Rasch Model, Surabaya, 2014.

[26] S. Golia and E. Brentari, Statistica, 2007.

[27] F. Hamzah et al., Int. J. Innovation, 2019.

[28] G. Hamdu et al., Jurnal Pendidikan Indonesia, 2020.

[29] K. Prayoga et al., G-Couns Journal, 2024.

[30] Y. Handayani et al., Jurnal Ilmu Pendidikan Fisika, 2023.

[31] S. Hayati et al., Intelektualita, 2024.

[32] I. Apriani et al., Dwija Cendekia, 2023.

[33] I. Rivaldo et al., Indonesian Journal of Chemistry Education, 2022.

[34] Y. Rahman et al., Jurnal Pendidikan Bahasa, 2023.

[35] G. Karabatsos, Applied Measurement in Education, 2003.

[36] A. Anggraini and M. Muntazhimah, Aksioma, 2021.