<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Analisis Rasch Model Bystander Effect Pada Bullying di SMP Negeri Mojokerto</article-title>
        <subtitle>(Rasch Model Analysis of Bystander Effect on Bullying in Junior High School in Mojokerto)</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Sandeva</surname>
            <given-names>Arfida Reta</given-names>
          </name>
          <email>192030100199@mhs.umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Widyastuti</surname>
            <given-names>Widyastuti</given-names>
          </name>
          <email>wiwid@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-10-02">
          <day>02</day>
          <month>10</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>10</day><month>02</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-897ba90299e1949146adf9a2413b7270">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="heading-43fb8431ee5a46d4ba84eecea1281f6d">Perundungan atau <italic id="italic-1">bullying </italic>merupakan suatu fenomena yang sudah tidak terdengar asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Perilaku ini merupakan perilaku penindasan, perundungan, atau pengintimidasian yang dapat terjadi kepada seseorang dengan bentuk perilaku penindasan baik secara fisik, verbal, psikologis, atau sosial. Perilaku perundungan<italic id="italic-2"> </italic>ini biasanya dimulai di sekolah pada usia muda yang dikarenakan berbagai alasan, seperti ingin mencari perhatian dari orang tua atau teman sebaya, merasa dirinya lebih unggul, ingin menjadi pemegang kendali, atau dikarenakan meniru tindakan yang dilakukan oleh orang lain di sekitarnya, di media sosial, atau di televisi [1]. Perilaku perundungan<italic id="italic-3"> </italic>ini dikategorisasikan menjadi dua, antara lain <italic id="italic-4">direct bullying</italic>, yakni perundungan<italic id="italic-5"> </italic>yang dilakukan secara fisik dan verbal, dan <italic id="italic-6">indirect bullying</italic>, yakni perundungan<italic id="italic-7"> </italic>yang dilakukan secara psikologis &amp; sosial [2]<bold id="bold-1">. </bold>Seorang remaja yang menjadi korban perundungan<italic id="italic-8"> </italic>dapat memperoleh dampak negatif sehingga Ia dapat menderita masalah psikologis dan perilaku serta dapat memunculkan gangguan depresi, PTSD (<italic id="italic-9">Post Traumatic</italic> <italic id="italic-10">Stress Disorder</italic>), atau bahkan berujung pada tindakan bunuh diri [3].</p>
      <p id="paragraph-2">Realita kasus perundungan yang terjadi di tingkat SMP di Indonesia ditunjukkan dalam penelitian terhadap 188 siswa SMP dari tiga sekolah yang berada di wilayah Surabaya Timur. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa jenis perundungan yang paling sering dilakukan adalah <italic id="italic-11">direct bullying</italic> secara verbal dengan cara menyindir dengan persentase sebesar 37,8% dan melabrak sebesar 35,6%. Subjek penelitian mengakui bahwa mereka pernah terlibat perilaku perundungan, baik itu menjadi pelaku, korban, ataupun keduanya. Lebih jauh, para pelaku bullying mengaku bahwa mayoritas target perundungan<italic id="italic-12"> </italic>adalah teman yang sulit bergaul dan teman yang berperilaku atau berpenampilan berbeda, sedangkan korban mengaku bahwa pelaku perundungan<italic id="italic-13"> </italic>sering dilakukan oleh sekelompok teman dan teman yang berkuasa di kelas atau sekolah [2]. Temuan lain mengenai gambaran perilaku perundungan juga ditunjukkan oleh penelitian kuantitatif <italic id="italic-14">cross sectional </italic>terhadap 92 siswa SMP kelas VII &amp; VIII di Kota Denpasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk perilaku perundungan yang paling dominan adalah <italic id="italic-15">direct bullying</italic> dengan bentuk perundungan verbal yang memiliki persentase 67,3%, yang kemudian diikuti <italic id="italic-16">indirect bullying</italic> dengan bentuk perundungan sosial dengan persentase sebesar 19,6%, lalu <italic id="italic-17">direct bullying</italic> dengan bentuk perundungan fisik dengan persentase sebesar 13,1%. Sebagian besar korban dari perilaku perundungan berjenis kelamin perempuan (58,8%) dan sebagian besar pelaku perundungan berjenis kelamin laki-laki (66,6%) [4].</p>
      <p id="paragraph-3">Perilaku yang diharapkan teman sebaya adalah memberikan pertolongan kepada siswa yang menjadi korban dan menghentikan perilaku perundungan [5]. Meski demikian, studi menunjukkan bahwa terdapat siswa yang hanya menjadi penonton pasif dan tidak berusaha untuk menolong korban atau menghentikan perilaku tersebut [6]. Salah satu faktor yang menjadikan seseorang lebih memilih untuk bersikap menjadi penonton pasif adalah karena adanya <italic id="italic-18">bystander effect</italic> [7].</p>
      <p id="paragraph-4"><italic id="italic-19">Bystander effect</italic> merupakan suatu fenomena sosial dimana terjadi penurunan kecenderungan sikap seseorang dalam memberikan bantuan, apabila terdapat orang lain yang juga hadir pada situasi tersebut [8]. Dalam hal ini, penurunan kecenderungan sikap seseorang dalam memberikan bantuan terjadi dalam konteks perundungan. Orang lain atau <italic id="italic-20">bystander</italic> pada konteks ini merupakan individu yang menyaksikan atau mengetahui tindakan perundungan namun bukan sebagai pelaku ataupun korban [9]. </p>
      <p id="paragraph-5">Analisis yang dilakukan dalam perilaku perundungan di kalangan pelajar SMP menemukan bahwa terdapat tiga jenis kelompok <italic id="italic-21">bystander</italic> di kalangan siswa yakni: (1) <italic id="italic-22">bystander probully</italic>, adalah siswa yang mendukung perilaku perundungan dengan melakukan tindakan seperti menertawakan korban, mendukung pelaku perundungan, atau bahkan mulai ikut serta menjadi pelaku perundungan, (2) <italic id="italic-23">bystander pasif</italic>, merupakan siswa yang memilih untuk bersikap hanya menonton, tidak melakukan apapun untuk menolong korban, atau berusaha menjauh ketika menemui perilaku perundungan; (3) <italic id="italic-24">defender bystander</italic>, adalah siswa yang bersikap sebagai pihak yang memberikan pertolongan atau melindungi korban dengan cara menghentikan perilaku perundungan yang terjadi, memotivasi korban untuk bercerita dan mencari bantuan, mendorong teman lain untuk membela korban, serta melaporkannya kepada guru jika diperlukan. Hasil analisis ini kemudian dirumuskan sehingga <italic id="italic-25">bystander</italic> <italic id="italic-26">effect </italic>dalam perilaku perundungan dioperasionalisaskan menjadi tiga aspek, yakni <italic id="italic-27">bystander</italic> pasif, <italic id="italic-28">defender</italic>, dan <italic id="italic-29">probully</italic> [10].</p>
      <p id="paragraph-6">Terdapat tiga aspek psikologis yang berkontribusi terhadap terjadinya fenomena ini yakni : (1) difusi tanggung jawab, yang merupakan pembagian tanggung jawab seorang individu karena adanya kehadiran orang lain di sekitar, yang mana jika semakin banyak orang lain yang hadir dalam situasi tersebut, maka difusi tanggung jawab yang terjadi akan semakin besar; (2) <italic id="italic-30">evaluation apprehension</italic>, yang merujuk kepada adanya perasaan khawatir seorang individu terhadap penilaian orang lain ketika melakukan tindakan di hadapan publik yang dapat mengakibatkan seorang individu menjadi ragu untuk memberikan pertolongan; (3) <italic id="italic-31">pluralistic ignorance</italic>, adalah ketidakpedulian yang terjadi dalam lingkup sosial, yang mana hal ini merupakan hasil dari akumulasi kemampuan tiap individu dalam mendefinisikan situasi ambigu. Respon orang lain yang ditunjukkan di depan publik berpengaruh dalam memberikan definisi situasi yang ambigu tersebut pada seorang individu. <italic id="italic-32">Bystander effect</italic> akan sangat besar apabila tidak ada seorangpun yang menganggap perlunya uluran tangan di dalam situasi yang membutuhkan bantuan [11].</p>
      <p id="paragraph-7">Adanya kebutuhan akan peran positif bystander dalam perundungan dijelaskan dalam penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa sebanyak 65,2% korban perilaku perundungan<italic id="italic-33"> </italic>di kalangan para siswa SMP menyatakan bahwa mereka mencari bantuan dari teman sebaya atau orang lain yang menyaksikan ketika mereka menjadi korban perundungan [4]. Selain itu, studi terdahulu terhadap 537 siswa SMP di Kota Bandung menunjukkan bahwa adanya peran positif bystander terhadap korban perundungan akan memunculkan persepsi dalam diri korban bahwa akan ada teman yang memberikan pertolongan ketika seorang siswa mengalami perundungan membuat siswa merasa lebih bahagia [12]. </p>
      <p id="paragraph-8">Fenomena <italic id="italic-34">bystander effect </italic>pada perundungan<italic id="italic-35"> </italic>di kalangan siswa SMP merupakan salah satu topik yang penting dan masih relevan untuk diteliti. Temuan penelitian terdahulu terhadap 48 siswa SMP dengan rentang usia 11-15 tahun di Makassar menunjukkan bahwa persepsi terhadap <italic id="italic-36">bystander </italic>mengakibatkan intensitas perilaku perundungan<italic id="italic-37"> </italic>meningkat dengan nilai sumbangan efektif sebesar 11,8%. Adapun maksud dari persepsi terhadap <italic id="italic-38">bystander </italic>adalah anggapan pelaku perundungan<italic id="italic-39"> </italic>terhadap teman-teman sebayanya bahwa mereka takut kepada pelaku bullying dan segan membantu sehingga mereka akan membiarkan pelaku atau bahkan mendukung perilaku perundungan<italic id="italic-40"> </italic>di sekolah [13]. Temuan ini memiliki arti bahwa peran yang dipilih bystander turut menentukan berhentinya atau tidaknya suatu tindakan perundungan. Hal ini juga ditegaskan oleh penelitian lain yang menyatakan bahwa peran bystander dalam perundungan memiliki kontribusi dalam mengurangi atau memperparah perilaku perundungan. Sebagai contoh, ketika semakin banyak teman sekelas yang mendukung dan membela korban perundungan, maka perilaku perundungan akan semakin berkurang, dan begitu pula sebaliknya [14].</p>
      <p id="paragraph-9">Meskipun <italic id="italic-41">bystander effect </italic>bukanlah topik baru, penelitian terdahulu tentang topik ini dalam konteks perundungan berdasarkan perspektif <italic id="italic-42">bystander</italic> dalam lingkup siswa SMP masih sedikit kami jumpai. Selain itu, suatu norma dan nilai yang berlaku di suatu tempat belum tentu berlaku juga di tempat lain, yang mana hal ini akan mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak. Pengelompokan perilaku <italic id="italic-43">bystander</italic> menjadi penting dilakukan sehingga berguna untuk mendapatkan gambaran mendetail mengenai bagaimana suatu populasi menyikapi perilaku perundungan yang terjadi. Berdasarkan hal ini penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran <italic id="italic-44">bystander effect</italic> dalam konteks perundungan di SMP Negeri 2 Pungging.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-56681abff6da88525f0d24ca04ab8d9e">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-13">Perundungan atau <italic id="_italic-92">bullying </italic>merupakan suatu fenomena yang sudah tidak terdengar asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Perilaku ini merupakan perilaku penindasan, perundungan, atau pengintimidasian yang dapat terjadi kepada seseorang dengan bentuk perilaku penindasan baik secara fisik, verbal, psikologis, atau sosial. Perilaku perundunganini biasanya dimulai di sekolah pada usia muda yang dikarenakan berbagai alasan, seperti ingin mencari perhatian dari orang tua atau teman sebaya, merasa dirinya lebih unggul, ingin menjadi pemegang kendali, atau dikarenakan meniru tindakan yang dilakukan oleh orang lain di sekitarnya, di media sosial, atau di televisi <xref id="_xref-1" ref-type="bibr" rid="bib1">[1]</xref>. Perilaku perundunganini dikategorisasikan menjadi dua, antara lain <italic id="_italic-93">direct bullying</italic>, yakni perundunganyang dilakukan secara fisik dan verbal, dan <italic id="_italic-94">indirect bullying</italic>, yakni perundunganyang dilakukan secara psikologis &amp; sosial <xref id="_xref-2" ref-type="bibr" rid="bib2">[2]</xref><bold id="_bold-19">. </bold>Seorang remaja yang menjadi korban perundungandapat memperoleh dampak negatif sehingga Ia dapat menderita masalah psikologis dan perilaku serta dapat memunculkan gangguan depresi, PTSD (<italic id="_italic-95">Post Traumatic</italic> <italic id="_italic-96">Stress Disorder</italic>), atau bahkan berujung pada tindakan bunuh diri <xref id="_xref-3" ref-type="bibr" rid="bib3">[3]</xref>.</p>
      <p id="_paragraph-14">Realita kasus perundungan yang terjadi di tingkat SMP di Indonesia ditunjukkan dalam penelitian terhadap 188 siswa SMP dari tiga sekolah yang berada di wilayah Surabaya Timur. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa jenis perundungan yang paling sering dilakukan adalah <italic id="_italic-97">direct bullying</italic> secara verbal dengan cara menyindir dengan persentase sebesar 37,8% dan melabrak sebesar 35,6%. Subjek penelitian mengakui bahwa mereka pernah terlibat perilaku perundungan, baik itu menjadi pelaku, korban, ataupun keduanya. Lebih jauh, para pelaku bullying mengaku bahwa mayoritas target perundunganadalah teman yang sulit bergaul dan teman yang berperilaku atau berpenampilan berbeda, sedangkan korban mengaku bahwa pelaku perundungansering dilakukan oleh sekelompok teman dan teman yang berkuasa di kelas atau sekolah <xref id="_xref-4" ref-type="bibr" rid="bib2">[2]</xref>. Temuan lain mengenai gambaran perilaku perundungan juga ditunjukkan oleh penelitian kuantitatif <italic id="_italic-98">cross sectional </italic>terhadap 92 siswa SMP kelas VII &amp; VIII di Kota Denpasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk perilaku perundungan yang paling dominan adalah <italic id="_italic-99">direct </italic><italic id="_italic-100">bullying</italic> dengan bentuk perundungan verbal yang memiliki persentase 67,3%, yang kemudian diikuti <italic id="_italic-101">indirect </italic><italic id="_italic-102">bullying</italic> dengan bentuk perundungan sosial dengan persentase sebesar 19,6%, lalu <italic id="_italic-103">direct </italic><italic id="_italic-104">bullying</italic> dengan bentuk perundungan fisik dengan persentase sebesar 13,1%. Sebagian besar korban dari perilaku perundungan berjenis kelamin perempuan (58,8%) dan sebagian besar pelaku perundungan berjenis kelamin laki-laki (66,6%) <xref id="_xref-5" ref-type="bibr" rid="bib4">[4]</xref>.</p>
      <p id="_paragraph-15">Perilaku yang diharapkan teman sebaya adalah memberikan pertolongan kepada siswa yang menjadi korban dan menghentikan perilaku perundungan <xref id="_xref-6" ref-type="bibr" rid="bib5">[5]</xref>. Meski demikian, studi menunjukkan bahwa terdapat siswa yang hanya menjadi penonton pasif dan tidak berusaha untuk menolong korban atau menghentikan perilaku tersebut <xref id="_xref-7" ref-type="bibr" rid="bib6">[6]</xref>. Salah satu faktor yang menjadikan seseorang lebih memilih untuk bersikap menjadi penonton pasif adalah karena adanya <italic id="_italic-105">bystander effect</italic> <xref id="_xref-8" ref-type="bibr" rid="bib7">[7]</xref>.</p>
      <p id="_paragraph-16"><italic id="_italic-106">B</italic><italic id="_italic-107">ystander effect</italic> merupakan suatu fenomena sosial dimana terjadi penurunan kecenderungan sikap seseorang dalam memberikan bantuan, apabila terdapat orang lain yang juga hadir pada situasi tersebut <xref id="_xref-9" ref-type="bibr" rid="bib8">[8]</xref>. Dalam hal ini, penurunan kecenderungan sikap seseorang dalam memberikan bantuan terjadi dalam konteks perundungan. Orang lain atau <italic id="_italic-108">b</italic><italic id="_italic-109">ystander</italic> pada konteks ini merupakan individu yang menyaksikan atau mengetahui tindakan perundungan namun bukan sebagai pelaku ataupun korban <xref id="_xref-10" ref-type="bibr" rid="bib9">[9]</xref>. </p>
      <p id="_paragraph-17">Analisis yang dilakukan dalam perilaku perundungan di kalangan pelajar SMP menemukan bahwa terdapat tiga jenis kelompok <italic id="_italic-110">bystander</italic> di kalangan siswa yakni: (1) <italic id="_italic-111">bystander probully</italic>, adalah siswa yang mendukung perilaku perundungan dengan melakukan tindakan seperti menertawakan korban, mendukung pelaku perundungan, atau bahkan mulai ikut serta menjadi pelaku perundungan, (2) <italic id="_italic-112">bystander pasif</italic>, merupakan siswa yang memilih untuk bersikap hanya menonton, tidak melakukan apapun untuk menolong korban, atau berusaha menjauh ketika menemui perilaku perundungan; (3) <italic id="_italic-113">defender bystander</italic>, adalah siswa yang bersikap sebagai pihak yang memberikan pertolongan atau melindungi korban dengan cara menghentikan perilaku perundungan yang terjadi, memotivasi korban untuk bercerita dan mencari bantuan, mendorong teman lain untuk membela korban, serta melaporkannya kepada guru jika diperlukan. Hasil analisis ini kemudian dirumuskan sehingga <italic id="_italic-114">bystander</italic> <italic id="_italic-115">effect </italic>dalam perilaku perundungan dioperasionalisaskan menjadi tiga aspek, yakni <italic id="_italic-116">bystander</italic> pasif, <italic id="_italic-117">defender</italic>, dan <italic id="_italic-118">probully</italic> <xref id="_xref-11" ref-type="bibr" rid="bib10">[10]</xref>.</p>
      <p id="_paragraph-18">Terdapat tiga aspek psikologis yang berkontribusi terhadap terjadinya fenomena ini yakni : (1) difusi tanggung jawab, yang merupakan pembagian tanggung jawab seorang individu karena adanya kehadiran orang lain di sekitar, yang mana jika semakin banyak orang lain yang hadir dalam situasi tersebut, maka difusi tanggung jawab yang terjadi akan semakin besar; (2) <italic id="_italic-119">evaluation apprehension</italic>, yang merujuk kepada adanya perasaan khawatir seorang individu terhadap penilaian orang lain ketika melakukan tindakan di hadapan publik yang dapat mengakibatkan seorang individu menjadi ragu untuk memberikan pertolongan; (3) <italic id="_italic-120">pluralistic ignorance</italic>, adalah ketidakpedulian yang terjadi dalam lingkup sosial, yang mana hal ini merupakan hasil dari akumulasi kemampuan tiap individu dalam mendefinisikan situasi ambigu. Respon orang lain yang ditunjukkan di depan publik berpengaruh dalam memberikan definisi situasi yang ambigu tersebut pada seorang individu. <italic id="_italic-121">Bystander effect</italic> akan sangat besar apabila tidak ada seorangpun yang menganggap perlunya uluran tangan di dalam situasi yang membutuhkan bantuan .</p>
      <p id="_paragraph-19">Adanya kebutuhan akan peran positif bystander dalam perundungan dijelaskan dalam penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa sebanyak 65,2% korban perilaku perundungandi kalangan para siswa SMP menyatakan bahwa mereka mencari bantuan dari teman sebaya atau orang lain yang menyaksikan ketika mereka menjadi korban perundungan <xref id="_xref-12" ref-type="bibr" rid="bib4">[4]</xref>. Selain itu, studi terdahulu terhadap 537 siswa SMP di Kota Bandung menunjukkan bahwa adanya peran positif bystander terhadap korban perundungan akan memunculkan persepsi dalam diri korban bahwa akan ada teman yang memberikan pertolongan ketika seorang siswa mengalami perundungan membuat siswa merasa lebih bahagia . </p>
      <p id="_paragraph-20">Fenomena <italic id="_italic-122">bystander effect </italic>pada perundungandi kalangan siswa SMP merupakan salah satu topik yang penting dan masih relevan untuk diteliti. Temuan penelitian terdahulu terhadap 48 siswa SMP dengan rentang usia 11-15 tahun di Makassar menunjukkan bahwa persepsi terhadap <italic id="_italic-123">bystander </italic>mengakibatkan intensitas perilaku perundunganmeningkat dengan nilai sumbangan efektif sebesar 11,8%. Adapun maksud dari persepsi terhadap <italic id="_italic-124">bystander </italic>adalah anggapan pelaku perundunganterhadap teman-teman sebayanya bahwa mereka takut kepada pelaku bullying dan segan membantu sehingga mereka akan membiarkan pelaku atau bahkan mendukung perilaku perundungandi sekolah <xref id="_xref-13" ref-type="bibr" rid="bib11">[11]</xref>. Temuan ini memiliki arti bahwa peran yang dipilih bystander turut menentukan berhentinya atau tidaknya suatu tindakan perundungan. Hal ini juga ditegaskan oleh penelitian lain yang menyatakan bahwa peran bystander dalam perundungan memiliki kontribusi dalam mengurangi atau memperparah perilaku perundungan. Sebagai contoh, ketika semakin banyak teman sekelas yang mendukung dan membela korban perundungan, maka perilaku perundungan akan semakin berkurang, dan begitu pula sebaliknya <xref id="_xref-14" ref-type="bibr" rid="bib12">[12]</xref>.</p>
      <p id="_paragraph-21">Meskipun <italic id="_italic-125">bystander effect </italic>bukanlah topik baru, penelitian terdahulu tentang topik ini dalam konteks perundungan berdasarkan perspektif <italic id="_italic-126">bystander</italic> dalam lingkup siswa SMP masih sedikit kami jumpai. Selain itu, suatu norma dan nilai yang berlaku di suatu tempat belum tentu berlaku juga di tempat lain, yang mana hal ini akan mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak. Pengelompokan perilaku <italic id="_italic-127">bystander</italic> menjadi penting dilakukan sehingga berguna untuk mendapatkan gambaran mendetail mengenai bagaimana suatu populasi menyikapi perilaku perundungan yang terjadi. Berdasarkan hal ini penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran <italic id="_italic-128">bystander effect</italic> dalam konteks perundungan di SMP Negeri 2 Pungging.</p>
      <p id="_paragraph-22">
        <bold id="_bold-20">II. METODE</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-23">Penelitian ini adalah penelitian deskriptif noneksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha memaparkan mengenai suatu gejala, peristiwa, atau kejadian sebagaimana adanya. Pada penelitian deskriptif noneksperimen, tidak terdapat suatu tindakan atau perlakuan khusus terhadap variabel yang akan dideskripsikan dan hanya berfokus untuk meneliti data yang sudah ada. Pendekatan kuantitatif sendiri merupakan pendekatan yang menggunakan data dalam bentuk angka-angka untuk dapat meramalkan kondisi populasi atau kecenderungan di masa depan <xref id="_xref-15" ref-type="bibr" rid="bib13">[13]</xref>. Adapun variabel yang akan diteliti pada penelitian ini adalah <italic id="_italic-129">bystander effect</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-24">Populasi penelitian berasal dari SMP Negeri 2 Pungging, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dengan jumlah 741 siswa. Agar dapat mewakili populasi, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik <italic id="_italic-130">proportionate stratified random sampling</italic>. Teknik ini digunakan apabila penelitian memiliki populasi yang heterogen dan berstrata secara proposional. Jumlah sampel disesuaikan dari tiap jumlah sub populasi yang kemudian dipilih secara acak sehingga setiap individu dalam suatu sub populasi memiliki kesempatan yang sama <xref id="_xref-16" ref-type="bibr" rid="bib14">[14]</xref>. Teknik tersebut sesuai untuk penelitian ini dikarenakan siswa SMP Negeri 2 Pungging memiliki populasi yang heterogen dan memiliki strata kelas (VII, VIII, dan IX). Selain itu, batasan jumlah sampel ditentukan sesuai ketentuan toleransi kesalahan 5%, sehingga peneliti menentukan jumlah batasan sampel sebanyak 251 siswa. Adapun jumlah siswa per kelas dibagi dalam tabel berikut :</p>
      <table-wrap id="tbl1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title><bold id="_bold-21">Tabel 1</bold>. Jumlah populasi dan sampel</title>
          <p id="_paragraph-26"/>
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-61cdb7c694caf570a54475a1df3f3c6b">
              <td id="b4fc623a4ee655d40c3ccf593c55e4c8">
                <bold id="_bold-22">K</bold>
                <bold id="_bold-23">elas</bold>
              </td>
              <td id="1d7628db86fbb393d0ef606f9dc02174">
                <bold id="_bold-24">J</bold>
                <bold id="_bold-25">umlah </bold>
                <bold id="_bold-26">S</bold>
                <bold id="_bold-27">iswa</bold>
              </td>
              <td id="e594384f442b1b6a8349ac25d2e8ff6e">
                <bold id="_bold-28">J</bold>
                <bold id="_bold-29">umlah </bold>
                <bold id="_bold-30">S</bold>
                <bold id="_bold-31">ampel</bold>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-d25f77f253c2b70383853daff52f6276">
              <td id="5a0fc2c5edf3cd659d8e1b1b872a14f0">VII</td>
              <td id="50a55a1cd194718ede3bea0719ef952f">251</td>
              <td id="e7cdd5c5c5ea3a47e59bab3cb0619319">87</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-ddc35503288b7918cdfe3efd733fcaf3">
              <td id="819181f79ed45f962910ad29d381276f">VIII</td>
              <td id="2e4ff85ceaf74fa34e58442a133ba347">244</td>
              <td id="7cb0a4ac17e3bc73f0e6327d375381fc">80</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-ccae6fd366b5bdbabf812d7e1806961b">
              <td id="60ed59b98fe529c5e70558d47c3b9601">IX</td>
              <td id="57fdd156f84fbb291de1e0661ded08ad">246</td>
              <td id="b1db088edea2a77c5ff2f0fa9688d07f">84</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-ed45c8fc6befeb8a7100588e96c702b6">
              <td id="9c08892dc4d218628b91db2830ee4a97">Jumlah</td>
              <td id="a665c6369aae049929a643374ed348fe">741</td>
              <td id="9766f147087d20b57292dd1669badf94">251</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-27">Pelaksanaan pengumpulan data dilaksanakan dengan instrumen yang disusun melalui metode adaptasi dari instrumen <italic id="_italic-131">School Bystander Behavior Scale</italic>(SBBS) yang disusun oleh Suárez-García, dkk. Berdasarkan instrumen yang dikembangkan oleh  Thornberg &amp; Jungert. Instrumen tersebut memenuhi standar dengan memiliki model-fit N = 347; CFI = .92; S-BSS = 258.44 df = 144; RMSEA = .048, 90% CI [0.04, 0.06] <xref id="_xref-17" ref-type="bibr" rid="bib15">[15]</xref>. Instrumen ini dapat mengklasifikasikan perilaku siswa menjadi tiga jenis, yakni perilaku <italic id="_italic-132">bystander</italic> pasif, <italic id="_italic-133">defender</italic>, dan<italic id="_italic-134">pro</italic><italic id="_italic-135">bully</italic><xref id="_xref-18" ref-type="bibr" rid="bib10">[10]</xref>. Adaptasi instrumen disusun denggan menggunakan 4 poin skala Likert dengan skor 1 sebagai nilai terendah dan skor 4 sebagai nilai tertinggi. Jawaban diisi dengan ceklist terhadap 4 pilihan pernyataan, yakni Sangat Tidak Sesuai (STS), Tidak Sesuai (TS), Sesuai (S), dan Sangat Sesuai (SS).</p>
      <p id="_paragraph-28">Analisis data menggunakan rasch model untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas instrumen dan gambaran <italic id="_italic-136">bystander effect</italic> siswa dalam perundungan yang terjadi dalam lingkup siswa SMP. Selain itu, digunakan pula uji komparatif untuk mendapatkan perbandingan kecenderungan sikap siswa dengan perbandingan berdasarkan sikap dan strata kelas. Rekapitulasi data mentah dilakukan dengan bantuan <italic id="_italic-137">software</italic> Microsoft Excel. Untuk pengujian rasch model, analisis data dilakukan dengan bantuan <italic id="_italic-138">software </italic>Winstep, sedangkan untuk pengujian komparatif, analisis data dilakukan dengan bantuan <italic id="_italic-139">software</italic> SPSS.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-262ea7583498bd25f89c8a5023d39ec7">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-e6ce63204f612e100b29966f4285949e">
        <title>
          <bold id="_bold-33">1. Hasil Penelitian</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-31">Hasil penelitian memuat analisis dan pembahasan mengenai hasil pengujian aitem dan <italic id="_italic-140">person</italic>. Hasil pengujian aitem memuat hasil uji reliabilitas &amp; validitas untuk menilai kualitas instrumen. Di sisi lain, hasil pengujian <italic id="_italic-141">person</italic> memuat hasil uji Wright <italic id="_italic-142">map</italic>, <italic id="_italic-143">person measure</italic>, <italic id="_italic-144">person misfit order</italic>, dan uji komparatif.</p>
        <p id="_paragraph-32">
          <bold id="_bold-34">A</bold>
          <bold id="_bold-35">. </bold>
          <bold id="_bold-36">
            <italic id="_italic-145">Summary Statistics</italic>
          </bold>
          <bold id="_bold-37">dan Reliablitas Instrumen</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-33"><italic id="_italic-146">Summary statistics</italic> pada rasch model menunjukkan hasil pengujian kualitas instrumen secara keseluruhan dan interaksi siswa dengan instrumen penelitian yang digunakan <xref id="_xref-19" ref-type="bibr" rid="bib16">[16]</xref>. </p>
        <fig id="fig1">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-38">Gambar 1</bold>. Hasil <italic id="_italic-147">summary statistics</italic></title>
            <p id="_paragraph-34"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-1" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image1.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-36">Berdasarkan hasil uji <italic id="_italic-148">summary statistics</italic> yang ditunjukkan oleh gambar 1, didapatkan nilai rata-rata siswa = -0,45, yang mana lebih kecil daripada nilai standard logit = 0. Hal ini menunjukkan bahwa para siswa dalam penelitian ini memiliki kemampuan yang lebih rendah daripada tingkat kesulitan aitem pada instrumen penelitian.</p>
        <p id="_paragraph-37">Gambar 1 juga memuat dua jenis nilai <italic id="_italic-149">separation</italic>, yakni <italic id="_italic-150">item</italic> <italic id="_italic-151">separation</italic> dan <italic id="_italic-152">person separation</italic>. <italic id="_italic-153">I</italic><italic id="_italic-154">tem</italic> <italic id="_italic-155">separation</italic> menunjukkan rentang tingkat kesulitan aitem pada instrumen penelitian sedangkan <italic id="_italic-156">person separation</italic> menunjukkan variasi kemampuan siswa <xref id="_xref-20" ref-type="bibr" rid="bib17">[17]</xref>. Dalam hal ini, nilai <italic id="_italic-157">item</italic> <italic id="_italic-158">separation</italic> yang didapatkan = 14,37 (&gt; 5) dan nilai <italic id="_italic-159">person separation</italic> = 0,69 (&lt; 2). Nilai <italic id="_italic-160">item</italic><italic id="_italic-161"> separation</italic> yang didapatkan memberikan definisi bahwa aitem pada instrumen penelitian menunjukkan rentang tingkat kesulitan yang beragam, sedangkan nilai <italic id="_italic-162">person separation</italic> memiliki arti bahwa kemampuan yang dimiliki para siswa kurang beragam.</p>
        <p id="_paragraph-38">Terdapat dua jenis reliabilitas pada <italic id="_italic-163">summary statistics</italic>, yakni <italic id="_italic-164">item reliability</italic> dan <italic id="_italic-165">person reliability</italic>. <italic id="_italic-166">Item reliability</italic> menunjukkan konsistensi aitem dalam mengukur kemampuan siswa dengan nilai ideal mendekati angka 1 <xref id="_xref-21" ref-type="bibr" rid="bib18">[18]</xref>. Nilai <italic id="_italic-167">item reliability</italic> yang didapatkan = 1,00 (&gt;0,94), memberikan pengertian bahwa aitem pada instrumen ini bersifat sangat reliabel. Kemudian, <italic id="_italic-168">person reliability</italic> menunjukkan konsistensi interaksi respon siswa terhadap aitem pada instrumen yang juga memiliki nilai ideal mendekati angka 1 . Nilai <italic id="_italic-169">person reliability</italic> yang didapatkan = 0,33 (&lt; 0,67), menunjukkan bahwa interaksi antara respon para siswa dengan aitem memiliki konsistensi yang lemah.</p>
        <p id="_paragraph-39">Lebih lanjut, didapatkan pula nilai <italic id="_italic-170">item Infit</italic> MNSQ = 1,00 dan <italic id="_italic-171">item</italic> <italic id="_italic-172">Outfit</italic> MNSQ = 1,00, yang mana nilai tersebut sesuai dengan nilai ideal (1,00) <xref id="_xref-22" ref-type="bibr" rid="bib17">[17]</xref>. Didapatkan pula nilai <italic id="_italic-173">item</italic> <italic id="_italic-174">Infit</italic> ZSTD = -0,2 dan <italic id="_italic-175">item</italic> <italic id="_italic-176">Outfit</italic> ZSTD = -0.2 yang mana cukup dekat dengan nilai ideal (0,00) <xref id="_xref-23" ref-type="bibr" rid="bib17">[17]</xref>. Berdasarkan hal ini, didapatkan pengertian bahwa statistik <italic id="_italic-177">inlier</italic> dan <italic id="_italic-178">outlier</italic> pada aitem cukup sesuai dengan ekspektasi rasch model. Selain itu, nilai <italic id="_italic-179">person</italic> <italic id="_italic-180">Infit</italic> MNSQ = 0,99 dan <italic id="_italic-181">person </italic><italic id="_italic-182">Outfit</italic> MNSQ = 1,00. Masing-masing nilai <italic id="_italic-183">Infit</italic> MNSQ dan <italic id="_italic-184">Outfit</italic> MNSQ yang didapatkan mendekati nilai ideal (1,00) <xref id="_xref-24" ref-type="bibr" rid="bib17">[17]</xref>. Didapatkan pula nilai <italic id="_italic-185">person Infit</italic> ZSTD = -0,3 dan <italic id="_italic-186">person </italic><italic id="_italic-187">Outfit</italic> ZSTD = -0.2. Masing-masing nilai <italic id="_italic-188">Infit</italic> ZSTD dan <italic id="_italic-189">Outfit </italic>ZSTD yang didapatkan masih cukup dekat dengan nilai ideal (0,00) <xref id="_xref-25" ref-type="bibr" rid="bib17">[17]</xref>. Berdasarkan nilai <italic id="_italic-190">Infit</italic> MNSQ dan <italic id="_italic-191">Outfit</italic> MNSQ serta <italic id="_italic-192">Infit</italic> ZSTD dan <italic id="_italic-193">Outfit</italic> ZSTD yang didapatkan, menunjukkan bahwa statistik <italic id="_italic-194">inlier</italic> dan <italic id="_italic-195">outlier</italic> para siswa masih cukup sesuai dengan ekspektasi rasch model.</p>
        <p id="_paragraph-40">
          <bold id="_bold-39">B</bold>
          <bold id="_bold-40">. Validitas</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-41">Suatu instrumen penelitian harus memiliki validitias yang baik agar mendapatkan data yang akurat dan terhindar dari bias. Dalam rasch model, untuk mengetahui validitas instrumen penelitian yang digunakan, dilakukan pengujian unidimensionalitas, <italic id="_italic-196">item misfit order</italic> dan <italic id="_italic-197">category function</italic>.</p>
        <table-wrap id="table-figure-fd17aaa655f0c1478fd9c09491f8a964">
          <label>Table 2</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-41">Tabel </bold><bold id="_bold-42">2</bold>. Hasil pengujian validitas</title>
            <p id="paragraph-33c021ef67449b8d0e6b15542ff87012"/>
          </caption>
          <table id="table-3ea08e351cd5cb6d9b4460341645e153">
            <tbody>
              <tr id="table-row-8d366f4883173a1c4ac03a020385b91d">
                <td id="table-cell-3ee3218cf66f988e5204340e074e0b60"> Jenis Pengujian </td>
                <td id="table-cell-874948a73ef9e0b201a9e7e1ae4d07d7"> Jenis Parameter </td>
                <td id="table-cell-784fc3a4ab2d5f27a9a195da55eb893c" colspan="2"> Hasil </td>
                <td id="table-cell-926a4645a3841a4ee0a79a7525da1b83"> Keterangan </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8cae297228d35a4cd94d9188828dbb7e">
                <td id="table-cell-0f0fd459cd5488e132c3fbdac57c96d5" rowspan="2"> Unidimensionalitas </td>
                <td id="table-cell-9591bc7285973adc9676b9ade999f41a"> Raw variance explained by measures </td>
                <td id="table-cell-9a9744ad14817e21a08f2799e5be1220" colspan="2"> 59,9%   (50-60%) </td>
                <td id="table-cell-e0e9abce238c37eccbf010e41f65a188"> Diterima </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-5d5c0b7e18a8f5aa0481f9b0396bdda4">
                <td id="table-cell-d6c9ca64e4cb7f1e3dbaca6dca33000b"> Unexplained variance in contrast terbesar </td>
                <td id="table-cell-f5a5b04ba0cdced64f37ba1507fb0b16" colspan="2"> 11,9%   (10-15%) pada 1st contrast </td>
                <td id="table-cell-44d0fc62540c33bed3cf89b3bd106ce6"> Diterima </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f725ad6f2aa39760c97af6f877565b05">
                <td id="table-cell-0fff86095982eca1320a1f100734afcf" rowspan="13"> Item Misfit Order </td>
                <td id="table-cell-6cffa9b80ea44cf8dbfde2b34e3147c5" rowspan="7"> Outfit ZSTD (-2,0 ≤ x ≤ 2,0) </td>
                <td id="table-cell-20eb0065a0573f24b1607ad0dc184b86"> Diterima </td>
                <td id="table-cell-a45732e456c2be975304d4741b5b29d9"> Ditolak </td>
                <td id="table-cell-23ae0ea15a26a99ad4540b8910921d16" rowspan="7"> Sebagian diterima </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-daa974f6e993255345a4bac1d6aa820f">
                <td id="table-cell-ce6db690f0e87fa54e98581dedbe6d7d"> B1 = 1,79 </td>
                <td id="table-cell-c0e4e113a576e33f071802cd3d6f91da"> B2 = -2,38 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-30851c1ffa57fec243dcc487bd5303d7">
                <td id="table-cell-e1f4a24bf3f1b95ea0ac417e6d10ca3e"> D1 = -0,82 </td>
                <td id="table-cell-d2de5c3a843f96dfbe20e25deb3db2c2"> B3 = -3,17 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-165396a623f69860026a909113c3e9ed">
                <td id="table-cell-9043b10bf92dea83b0fecdade60e43c1"> D4 = -1,79 </td>
                <td id="table-cell-24864d9ab731f46ec6d0a42cee6bc7ff"> D2 = 2,91 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-0d48e94af539eb47cbff1e44e40f28e3">
                <td id="table-cell-4cb9a59a832db034925a24c094202161"> P1 = -0,50 </td>
                <td id="table-cell-442ded28a73a95f24fd8e9e6c5beb398"> D3 = 4,76 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-3139d158a27a629a6ee050bba53ee0ba">
                <td id="table-cell-12d18dbd42b356c051371e5b9c8c47ff"> P2 = -1,43 </td>
                <td id="table-cell-bbef5ce29527cd18f35bf38f3f02c6be"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-2485b60aab6d27d8fb7d0ae70e7140e5">
                <td id="table-cell-b753894e8d302157bec0188cc71c631e"> P3 = -1,16 </td>
                <td id="table-cell-2ba0e3923aa85e678c978ab6b32d2db7"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-c32ebc56e6fa037f847cad6c5f791800">
                <td id="table-cell-af2aabcdd323f7b6e58ae9a3f67ef15c" rowspan="6"> Point measure correlation (0,4 ≤ x ≤ 0,85) </td>
                <td id="table-cell-fda86fd0608dc353def1e5e6c183d1fc"> Diterima </td>
                <td id="table-cell-8007ef11964b0527b2241cbe2ffcb9ab"> Ditolak </td>
                <td id="table-cell-2f5456ca9d79fe425e5912e368f8e05c" rowspan="6"> Sebagian diterima </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-9ff195665b8f33eabcfcc9be607ee46f">
                <td id="table-cell-8d13f29142d2f0c187aeb75aad18e9ee"> B2 = 0,60 </td>
                <td id="table-cell-17909711fd2a35d0ce34c8eb4b7dadab"> B1 = 0,17 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-dfcd2cc4311c1a151c61ea74e17a9751">
                <td id="table-cell-6351b6fb75f23ff3da0b4e590ce4430c"> B3 = 0,60 </td>
                <td id="table-cell-d8fc25255f2fe51985f33b0f3c6fc82f"> D1 = 0,14 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-2c8394b434af7ee1b666db2f330d18f9">
                <td id="table-cell-05073999f1d22a0089030a38e12a93ed"> P1 = 0,52 </td>
                <td id="table-cell-aef8756c0f7d21d794f465dcf5d2d2fb"> D2 = 0,22 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f4be08dfefa5a5192bc6176a7c5fafaa">
                <td id="table-cell-61a1b2a100dec2188aae320a3cd0cbe9"> P2 = 0,68 </td>
                <td id="table-cell-34e9ef1426a81d1cac84ff56964faaeb"> D3 = 0,15 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-5b067e028dc4c6f401db8866fa740bb9">
                <td id="table-cell-8f4fae7e665d5a256bae642a3d97d470"> P3 = 0,54 </td>
                <td id="table-cell-9041f52dcd3a19f676c7b1d49b520e63"> D4 = 0,30 </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4f0eafcfa962b71f87a48bc91a9ee2a8">
                <td id="table-cell-5ed734f5fe143f72af9fb54a66c26220" rowspan="4"> Category Function </td>
                <td id="table-cell-dacfe3ce10d0b5524f1eea549a43c46a" rowspan="4"> Category Measure </td>
                <td id="table-cell-906c6aa75ec3476603bc5cdb5a47bd33" colspan="2"> Skor 1 = -2,71 </td>
                <td id="table-cell-6937ceffbe0db4318810a12dbc080bdb"> Diterima </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-79c9c9efafd03610b8c263f1201fcb03">
                <td id="table-cell-089c2769e22fe742d71c2ced877f7abd" colspan="2"> Skor 2 = -0,88 </td>
                <td id="table-cell-433d39cad252d598e36cf5a2a763a229"> Diterima </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-7c456ac15e0cadb0f638d4f52f82bca5">
                <td id="table-cell-6b7f8bb31b779ff65973bc2d753b3a50" colspan="2"> Skor 3 = 0,82 </td>
                <td id="table-cell-d6051253058420ef1104178b28a1d9d2"> Diterima </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-5b2ddfa831c1ff436b40211539f3f4c4">
                <td id="table-cell-c034f9eadb44ff7c71fad5ce656b46a4" colspan="2"> Skor 4 = 2,82 </td>
                <td id="table-cell-506617fafc2c4774df7b9fabec1b7256"> Diterima </td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-44">Instrumen penelitian memiliki unidimensionalitas yang baik apabila instrumen tersebut tidak mengukur lebih dari satu konstruk yang dimaksud <xref id="_xref-26" ref-type="bibr" rid="bib19">[19]</xref>. Hasil uji unidimensionalitas pada tabel 2 menunujukkan nilai <italic id="_italic-208">raw variance explained by measures</italic> = 59,9% (50-60%) yang menunjukkan bahwa instrumen cukup berhasil dalam mengukur hanya satu konstruk yang dimaksud. Selain itu, nilai terbesar <italic id="_italic-209">unexplained variance in contrast</italic> terdapat pada <italic id="_italic-210">1</italic><italic id="_italic-211"><sup id="_superscript-7">st</sup></italic><italic id="_italic-212"> contrast</italic> dengan nilai = 11,9% (10-15%) yang menunjukkan bahwa faktor lain yang turut terukur bersama konstruk yang ingin diukur masih dalam batas wajar sehingga instrumen penelitian memiliki <italic id="_italic-213">local independence</italic> yang cukup.</p>
        <p id="_paragraph-45">Uji <italic id="_italic-214">i</italic><italic id="_italic-215">tem</italic><italic id="_italic-216"> misfit order</italic> bertujuan untuk mengevaluasi kecocokan (<italic id="_italic-217">fit</italic>) dari setiap aitem dalam instrumen ini yang mana aitem yang tidak <italic id="_italic-218">fit</italic> akan mengganggu pengukuran konstruk karena menjukkan pola respon yang tidak konsisten dengan prediksi rasch model <xref id="_xref-27" ref-type="bibr" rid="bib20">[20]</xref>. Hasil pengujian <italic id="_italic-219">item misfit order</italic> pada tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat empat aitem yang memiliki nilai Outfit ZSTD lebih dari standar (std. -2,0 ≤ x ≤ 2,0) . Aitem-aitem tersebut yakni aitem B2 = -2,38, B3 = -3,17, D2 = 2,91 dan D3 = 4,76. Ini menunjukkan bahwa aitem-aitem tersebut memiliki <italic id="_italic-220">outlier</italic> inferensial yang tidak sesuai dengan ekspektasi rasch model. Selain itu, terdapat pula <italic id="_italic-221">p</italic><italic id="_italic-222">oint measure correlation</italic> yang memberikan pemahaman mengenai daya beda aitem dengan rentang nilai standar 0,4 hingga 0,85 <xref id="_xref-28" ref-type="bibr" rid="bib21">[21]</xref>. Dalam hal ini, terdapat lima aitem yang memiliki nilai point measure correlation yang tidak memenuhi standar, yakni aitem B1 = 0,17, D1 = 0,14, D2 = 0,22, D3 = 0,15, dan D4 = 0,30. Perlu diperhatikan bahwa seluruh aitem memiliki tujuan untuk mengukur perilaku <italic id="_italic-223">defender</italic> siswa telah tereliminasi. Nilai dari kelima aitem tersebut lebih rendah daripada 0,4, sehingga memiliki arti bahwa aitem-aitem tersebut kurang dapat membedakan tingkat kemampuan siswa karena memiliki daya beda yang kurang baik.</p>
        <p id="_paragraph-46">Analisis rasch model pada instrumen dengan <italic id="_italic-224">rating scale</italic> memerlukan pengujian <italic id="_italic-225">category function</italic> untuk menilai seberapa baik setiap pilihan butir respon jawaban <xref id="_xref-29" ref-type="bibr" rid="bib22">[22]</xref>.<italic id="_italic-226">Category </italic><italic id="_italic-227">measure</italic> menunjukkan bahwa skor 1-4 memiliki nilai yang naik secara berkala serta tidak terdapat butir skor yang terbalik. Hal ini menunjukkan bahwa butir respon sesuai dengan tingkat kemampuan siswa sehingga siswa yang memiliki kemampuan tinggi akan cenderung menjawab skor 4. Lebih lanjut, susunan butir skor respon yang tidak terbalik menunjukkan bahwa secara umum, butir respon tidak membingungkan para siswa.</p>
        <p id="_paragraph-47">
          <bold id="_bold-51">D</bold>
          <bold id="_bold-52">. </bold>
          <bold id="_bold-53">
            <italic id="_italic-228">Person Statistics</italic>
          </bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-48"><italic id="_italic-229">Person statistics</italic> merupakan analisis untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki para siswa <xref id="_xref-30" ref-type="bibr" rid="bib17">[17]</xref>. Hasil pengujian <italic id="_italic-230">person statistics</italic> memuat analisis Wright <italic id="_italic-231">map</italic>, hasil <italic id="_italic-232">person measure</italic> dan hasil <italic id="_italic-233">person misfit order</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-49">
          <bold id="_bold-54">a</bold>
          <bold id="_bold-55">. </bold>
          <bold id="_bold-56">Wright </bold>
          <bold id="_bold-57">
            <italic id="_italic-234">Map</italic>
          </bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-50">Wright <italic id="_italic-235">m</italic><italic id="_italic-236">ap</italic> merupakan peta distribusi <italic id="_italic-237">item-person</italic> yang menunjukkan distribusi tingkat kesulitan aitem dan kemampuan individu serta hubungan antara keduanya <xref id="_xref-31" ref-type="bibr" rid="bib23">[23]</xref>. </p>
        <fig id="fig2">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-58">Gambar </bold><bold id="_bold-59">2</bold>. Wright <italic id="_italic-238">Map</italic></title>
            <p id="_paragraph-51"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-2" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image2.png"/>
        </fig>
        <fig id="figure-panel-a658fcdfc3a260716990eea759d2166e">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-60">Gambar 3</bold>. Hasil uji <italic id="_italic-239">mean person</italic></title>
            <p id="paragraph-0aed84d33eac6380363df50611742aae"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-b8d9a54c740aab0eef21016d1900ae77" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12721-01.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-57">Gambar 2 menunjukkan Wright map dengan distribusi <italic id="_italic-240">person</italic> (bagian kiri peta) yang cenderung berada di bagian bawah. Ini menggambarkan bahwa secara garis besar, para siswa memiliki kemampuan lebih rendah daripada tingkat kesulitan aitem. Hal ini dipertegas oleh gambar 3 yang menunjukkan nilai rata-rata logit siswa = -45 yang mana lebih rendah daripada nilai logit aitem = 0,0. Selain itu, dari Wright <italic id="_italic-241">map</italic> dapat diketahui bahwa mayoritas siswa cenderung bersikap sebagai <italic id="_italic-242">defender</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-58">
          <bold id="_bold-61">b</bold>
          <bold id="_bold-62">. </bold>
          <bold id="_bold-63">
            <italic id="_italic-243">Person Measure</italic>
          </bold>
          <bold id="_bold-64">
            <italic id="_italic-244">Order</italic>
          </bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-59"><italic id="_italic-245">Person</italic><italic id="_italic-246"> measure </italic><italic id="_italic-247">order</italic> berguna untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa. Nilai pada JMLE <italic id="_italic-248">m</italic><italic id="_italic-249">easure</italic> menunjukkan nilai logit setiap siswa, yang mana semakin tinggi nilai yang didapatkan, maka semakin tinggi pula kemampuan yang dimiliki siswa <xref id="_xref-32" ref-type="bibr" rid="bib24">[24]</xref>.</p>
        <fig id="fig6">
          <label>Figure 4</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-65">Gambar 4a</bold>. Hasil uji <italic id="_italic-250">person</italic> <italic id="_italic-251">measure</italic> – tertinggi</title>
            <p id="_paragraph-60"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-6" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image7.png"/>
        </fig>
        <fig id="fig7">
          <label>Figure 5</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-66">Gambar 4b</bold>. Hasil uji <italic id="_italic-252">person</italic> <italic id="_italic-253">measure</italic> – terendah</title>
            <p id="_paragraph-62"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-7" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image8.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-64">Pada gambar 4a, terdapat 1 siswa yang memiliki kemampuan sangat tinggi, yakni siswa nomor 232 yang memiliki nilai logit = +243. Ini menunjukkan bahwa siswa nomor 232 dapat menjawab sebagian besar soal dengan benar. Hal ini juga mengindikasikan bahwa siswa menunjukkan kecenderungan yang tinggi sebagai <italic id="_italic-254">probully</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-65">Berdasarkan gambar 4b, dari keseluruhan siswa, terdapat 5 siswa yang memiliki nilai logit terendah = -187, yakni siswa nomor 107, 176, 195, 220, dan 226. Meski demikian, hanya siswa nomor 107 dan 220 yang tidak dapat menjawab benar pada semua soal yang tersedia, sedangkan siswa nomor 226 dapat menjawab benar pada 2 soal serta siswa nomor 176 dan 195 dapat menjawab benar hanya pada 1 soal. Rendahnya kemampuan kelima siswa tersebut menunjukkan bahwa siswa kebingungan dalam memilih sikap ketika menyaksikan perundungan.</p>
        <p id="_paragraph-66">
          <bold id="_bold-67">c</bold>
          <bold id="_bold-68">. </bold>
          <bold id="_bold-69">
            <italic id="_italic-255">Person Misfit Order</italic>
          </bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-67"><italic id="_italic-256">Person misfit </italic><italic id="_italic-257">order</italic> merupakan statistik rasch model yang berfungsi untuk mengidentifikasi siswa yang tidak <italic id="_italic-258">fit</italic> dengan rasch model. Nilai <italic id="_italic-259">Infit</italic> MNSQ dan <italic id="_italic-260">Outfit</italic> MNSQ menjadi acuan dalam mengidentifikasi siswa yang tidak fit. Dalam hal ini, apabila salah satu dari <italic id="_italic-261">Infit</italic> MNSQ atau <italic id="_italic-262">Outfit</italic> MNSQ melebihi standar (x &lt; -1 atau x &gt; 1), maka siswa dinyatakan tidak <italic id="_italic-263">fit</italic> <xref id="_xref-33" ref-type="bibr" rid="bib25">[25]</xref>.</p>
        <fig id="fig8">
          <label>Figure 6</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-70">Gambar 5</bold>. Hasil uji <italic id="_italic-264">person misfit order</italic></title>
            <p id="_paragraph-68"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-8" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image9.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-70">Pada gambar 5, terdapat sebanyak 62 siswa yang tidak <italic id="_italic-265">fit</italic> dengan rasch model. Menurut Karabatsos (2003) terdapat 5 hal yang menyebabkan seseorang tidak <italic id="_italic-266">fit</italic>, yakni, 1) menyontek; 2) memberikan respon dengan kurang teliti; 3) menebak dengan benar; 4) respon kreatif yang berlebihan terhadap aitem; 5) respon acak <xref id="_xref-34" ref-type="bibr" rid="bib26">[26]</xref>. Adapun siswa dengan nomor 147 menempati posisi tertinggi dengan nilai <italic id="_italic-267">Infit</italic> MNSQ = 6,43 dan <italic id="_italic-268">Outfit</italic> MNSQ = 7,28.</p>
        <p id="_paragraph-71">
          <bold id="_bold-71">E</bold>
          <bold id="_bold-72">. </bold>
          <bold id="_bold-73">Hasil Uji Komparatif</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-72">Hasil uji komparatif memuat perbandingan sikap siswa yang dibagi menjadi dua, yakni perbandingan sikap siswa yang dibagi berdasarkan sikap (<italic id="_italic-269">bystander</italic>pasif, <italic id="_italic-270">defender</italic>, dan <italic id="_italic-271">probully</italic>) dan pembagian berdasarkan strata kelas. Hasil uji komparatif ini juga menggambarkan bagaimana kecenderungan sikap yang dipilih oleh siswa.</p>
        <p id="_paragraph-73">
          <bold id="_bold-74">a</bold>
          <bold id="_bold-75">. </bold>
          <bold id="_bold-76">Perbandingan Berdasarkan Sikap</bold>
        </p>
        <table-wrap id="table-figure-c64310d6e1f9b311e2e225183b389e50">
          <label>Table 3</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-77">Tabel </bold><bold id="_bold-78">3</bold>. Hasil pengujian normalitas uji komparatif berdasarkan sikap</title>
            <p id="paragraph-2e2850f6a1bd82ced49dd025f723a02d"/>
          </caption>
          <table id="table-50cb389a4352bb34df7e5ab676379fa6">
            <tbody>
              <tr id="table-row-259d4e2de7cccb1f97cc7d2703b09e0f">
                <td id="table-cell-23498ce8208a06dbaf7c68d491ac9625" colspan="8"> Tests of Normality </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-aa7728fcf3cc34b3114b1ac3b6453098">
                <td id="table-cell-b3ab77068df68523fa525c41e558abd2"/>
                <td id="table-cell-0ebf2d385c084a68506187389ce25acc"/>
                <td id="table-cell-fe91bdf744cc00a555e206598c8dc52d" colspan="3">Kolmogorov-Smirnova</td>
                <td id="table-cell-60f15a57cdafa096c4a4b7838513b2a3" colspan="3">Shapiro-Wilk</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-223f7b6ca228e9d72f55f37a867a3064">
                <td id="table-cell-5507c6ed928868dab9285205f58e1524"/>
                <td id="table-cell-acb33f88343e613b744429558e8195dd">Sikap</td>
                <td id="table-cell-d92ecf114cac6c06d84bc9d83de74f26"> Statistic </td>
                <td id="table-cell-d8821122e62dccc6abd92fad8d48e7df">df</td>
                <td id="table-cell-52c6d0af7546cf866102f278024796b5">Sig.</td>
                <td id="table-cell-ee65788c652fa7c3875e062cce7943a1"> Statistic </td>
                <td id="table-cell-e0cd6d64ae4cdab3faf4903285b3e529">df</td>
                <td id="table-cell-0a4b72db6aec74b6ed3c4ce16de34d7a">Sig.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-6664a85cff44b1ff44db704c542b784f">
                <td id="table-cell-522af9d3c33f40d8fd2ecbd0a0feabf9" rowspan="3">Nilai</td>
                <td id="table-cell-0701e86bf9307b634dff5c12c0f6d5c3">Bystander pasif</td>
                <td id="table-cell-af4bdceb3c384bd42e2273e1a5764202">.177</td>
                <td id="table-cell-0ba646df0dc24334c0f3f551602d7469">251</td>
                <td id="table-cell-1e21fc067f0aaf1fe7424ceb7f3479f8">.000</td>
                <td id="table-cell-da8607e7d3b1316311e67b69d4640da8">.949</td>
                <td id="table-cell-6bb23e55a0896de68bea2cf66922f42a">251</td>
                <td id="table-cell-b279c34cdc0a7d9de2cd1a407175b5a2">.000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-0ab883a78743a0cc6811dc43cc867f5a">
                <td id="table-cell-eb509490c4e3c45d0e0fcbf048a14e2e"> Defender </td>
                <td id="table-cell-1a2d969ed6cc13c4cd0dea08a3316a9e">.150</td>
                <td id="table-cell-21b5252bdf320256503bef0652c45c5a">251</td>
                <td id="table-cell-bd312223dbbcbc621ab30d304efcd698">.000</td>
                <td id="table-cell-84a60b97fefc679366f38b0219dbea82">.954</td>
                <td id="table-cell-badb765901767a84170d7890b2a39c64">251</td>
                <td id="table-cell-8a46223844d8592d32466596d45efde4">.000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-2bcae66c34240fe2a43d2cf6c141a7bc">
                <td id="table-cell-638289a9a829a777df33be42ebdc60eb"> Probully </td>
                <td id="table-cell-f9e22e358519989e3bcada6063731113">.233</td>
                <td id="table-cell-45b04d90c6774ed1387d3d5d9118e9c2">251</td>
                <td id="table-cell-a1aa34b73f44ccb0584b870c8e4f2d93">.000</td>
                <td id="table-cell-4675b9649fb3bce9a5169032b54f9d31">.794</td>
                <td id="table-cell-749c8fb22c32da7a9b8d97377a7474e6">251</td>
                <td id="table-cell-6ac2e27693d0b47019fb21e81aa07a4f">.000</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-76">Berdasarkan hasil uji normalitas dengan Shapiro-Wilk pada tabel 3, didapatkan hasil bahwa seluruh nilai sig. = 0,000 (&lt; 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal sehingga dilanjutkan dengan menggunakan uji nonparametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis.</p>
        <table-wrap id="tbl4">
          <label>Table 4</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-80">Tabel </bold><bold id="_bold-81">4</bold>. Hasil pengujian Kruskal-Wallis berdasarkan sikap</title>
            <p id="_paragraph-78"/>
          </caption>
          <table id="_table-4">
            <tbody>
              <tr id="table-row-a8abfd4987bc1a7abf9c9287390be108">
                <td id="8b558f4beac1bbd98496093048f6662e" colspan="2">
                  <bold id="_bold-82">
                    <italic id="_italic-278">Test Statistics</italic>
                  </bold>
                  <bold id="_bold-83">
                    <italic id="_italic-279">
                      <sup id="_superscript-9">a,b</sup>
                    </italic>
                  </bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-18cb863ead8ff9e4b3a9c85bf48f7670">
                <td id="9ccce4ac57a105f9034fc4ee3888528e"/>
                <td id="41c42e68fdafffb6ac4febdb383f3905">Nilai</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e7c6cc5ccff50e3ffa273fca460e8c59">
                <td id="ed958979c104da6cc0e66183042b0793">Kruskal-Wallis H</td>
                <td id="22cc99d509e215c571b62fb96cbe30dc">541.051</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-cb4b79d8444712cc3142053f080c8fcf">
                <td id="8f97d6b2af22a1dd11a070380c73cd6e">df</td>
                <td id="e85afa90a83bc2e5db495f43aee1ab69">2</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-60a9940bf65cd92a4b2ef309a22e1b92">
                <td id="e37b61017d53843023c7f93dc2c6538d">Asymp. Sig.</td>
                <td id="88b941a94255d773edc0c80a7b3d02f8">.000</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-79">Hasil uji Kruskal-Wallis pada tabel 4 menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig. = 0,000 (&lt; 0,05). Nilai ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan terhadap pilihan sikap siswa dalam kasus perundungan.</p>
        <table-wrap id="table-figure-d13a7b33647a01f8649858f33da05859">
          <label>Table 5</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-84">Tabel </bold><bold id="_bold-85">5</bold>. Hasil pengujian ranks berdasarkan sikap</title>
            <p id="paragraph-8a92c6b6a84d988da86919256695805d"/>
          </caption>
          <table id="table-02a94d91bbc977fb23d70e90e761206a">
            <tbody>
              <tr id="table-row-8731b29c19a00e5cefa08ee857d0b5a7">
                <td id="table-cell-eca8b51fc46565699389fa4fed2e18a0" colspan="4"> Ranks </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-9b076e4537f998b99c6de3326ea78a97">
                <td id="table-cell-24273cc8190b957b6744292c89afe258"/>
                <td id="table-cell-1fa22e32a465f5cfb0676935445ae905">Sikap</td>
                <td id="table-cell-acea71b3e3b20017eba43c8b97056600">N</td>
                <td id="table-cell-1f68a9ef6e6d7aa125b9f670c4105a6b"> Mean Rank </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-93ed45f68dabebd7727ae108c71f6532">
                <td id="table-cell-67aacb35e6c65ecb8ccbc4d2390f7ecf" rowspan="3">Nilai</td>
                <td id="table-cell-9b463a72dac8d6331dc5b045f51798c8">Bystander pasif</td>
                <td id="table-cell-76d5e1af234471dc4e26174849221512">251</td>
                <td id="table-cell-6e322524cd8e88b47573febbae1001fc">315.04</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-c2afcdbcc588ca07b65ad9537b0413ed">
                <td id="table-cell-aa08ebe6633d9e9d1ae317b1cfe4fd18"> Defender </td>
                <td id="table-cell-f2fc9f86038796efce87a105bc320dcc">251</td>
                <td id="table-cell-add55be716204defab6fbe2bd83d8ca8">625.77</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-852ec05db94e313b88d78c99b80b4098">
                <td id="table-cell-3a05108ea20c02bf71130460d0416a28"> Probully </td>
                <td id="table-cell-fc94cee7be11a470aef6e45fa6199154">251</td>
                <td id="table-cell-db3dac1bb99acb53c1868313f502d6cb">190.19</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <fig id="figure-panel-557246805cc256dd4a944ee57776379f">
          <label>Figure 7</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-87">Gambar </bold><bold id="_bold-88">6</bold>. Grafik perbandingan kecenderungan antar sikap</title>
            <p id="paragraph-17bcc8a241c4861b292bf44d6a1c11ed"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-a25c8633ea89dd26f48af02778e9f531" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12721-02.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-83">Tabel 5 menunjukkan <italic id="_italic-285">ranks</italic> dari dari masing-masing sikap <italic id="_italic-286">bystander </italic>pasif<italic id="_italic-287">, defender, </italic>dan <italic id="_italic-288">probully</italic> siswa. Berdasarkan hal ini, <italic id="_italic-289">defender </italic>adalah sikap tertinggi dengan <italic id="_italic-290">mean rank </italic>= 625,77 yang berarti sikap ini lebih cenderung dipilih oleh mayoritas siswa ketika mereka menyaksikan perundungan. Sebagai ilustrasi, gambar 6 menunjukkan grafik perbandingan antara ketiga sikap tersebut. Berdasarkan tabel 5 dan grafik pada gambar 6, tampak bahwa sikap <italic id="_italic-291">bystander </italic>pasif dan <italic id="_italic-292">probully </italic>kurang diminati oleh mayoritas siswa.</p>
        <p id="_paragraph-84">
          <bold id="_bold-89">b</bold>
          <bold id="_bold-90">. </bold>
          <bold id="_bold-91">Perbandingan </bold>
          <bold id="_bold-92">Berdasarkan</bold>
          <bold id="_bold-93">Strata</bold>
          <bold id="_bold-94">Kelas</bold>
        </p>
        <table-wrap id="table-figure-50e4c5d78cacaa615a07dce15cc74650">
          <label>Table 6</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-95">Tabel </bold><bold id="_bold-96">6</bold>. Hasil pengujian normalitas uji komparatif berdasarkan strata kelas</title>
            <p id="paragraph-8209b5053075aeec9b679c7f37d24b9d"/>
          </caption>
          <table id="table-f2ee0eff5e29564d8a9c113ad97aa01d">
            <tbody>
              <tr id="table-row-395c4a0f208b0bf37e52dd0870d665d6">
                <td id="table-cell-e16c2d0322c0142bdbb4c4e9921de52f" colspan="8"> Tests of Normality </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-59e79012ac175fb13622829223e752b3">
                <td id="table-cell-3ab158dfff7e85609cfe7e80e05cc75c"/>
                <td id="table-cell-0c660d00c2c674b425dd81487207fa37"/>
                <td id="table-cell-ff34cf17b73cb76f77bbebd99f4e4319" colspan="3">Kolmogorov-Smirnova</td>
                <td id="table-cell-499f516b46355c01d5801ed7916ff809" colspan="3">Shapiro-Wilk</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-37cf93d97597dc5539548509306352df">
                <td id="table-cell-1a451af5e2b1fe1601c43ed821dbf81a"/>
                <td id="table-cell-3c4d00d2a302c3563e223e165f0c19ee">Kelas</td>
                <td id="table-cell-12763f45cdfc9a957a9066051c5dd31f"> Statistic </td>
                <td id="table-cell-d05d6df535a9bdef90f6b91fb69d90e6">df</td>
                <td id="table-cell-29ee9b9b4c4a41bc6d9bb9d6155c6de0">Sig.</td>
                <td id="table-cell-a29fdbc725ef364f91ba5b0be4f496b4"> Statistic </td>
                <td id="table-cell-c14d7e2976fbde4bfec2ac5da9eb13e8">df</td>
                <td id="table-cell-f089ded762fb05bf0c0967d45c9528a3">Sig.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f6bafe818e32574b7606228a89afcba8">
                <td id="table-cell-69f3dbbaa2f9fadbb6db483f27685591" rowspan="9">Bystanderpasif</td>
                <td id="table-cell-970bb35a2d0558a93e8883132d72ba10">Kelas 7</td>
                <td id="table-cell-8057e2a5ab82b2805dd8dfa588034fe8">.202</td>
                <td id="table-cell-13f21281209bea1860e3f91432b55e6b">87</td>
                <td id="table-cell-48d5d7fe5d2ef62937e825cacb30305e">.000</td>
                <td id="table-cell-11056ec8394b6f3798eff74c0a8e836f">.929</td>
                <td id="table-cell-c943ec4c37ec957ddf76005dd118d70a">87</td>
                <td id="table-cell-68b9ad8e77d642f1c85c371d01b082ff">.000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8a8f24749617cc2279fa32fd447014a3">
                <td id="table-cell-77d9c1bcdfa94c6497e7479fdf3a94a4"/>
                <td id="table-cell-4fa438cd2b48b0ebf4d719f66ed3a416">Kelas 8</td>
                <td id="table-cell-9e441a9157d6b63fc8bb4389ad427d1c">.168</td>
                <td id="table-cell-fe6be37dedbf225705d77380a5094cb9">80</td>
                <td id="table-cell-5bfd698af081ee55da93de9bcc725d20">.000</td>
                <td id="table-cell-f84e6dc7b1bcc6639ee15ec6701651b7">.954</td>
                <td id="table-cell-570c7f0fd9fade0e5503988e5ea9f721">80</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-0f50dbb0eb012992fbd5115c544b9c50">
                <td id="table-cell-adacdf832e16f2a77e1c7bf487bb3286"/>
                <td id="table-cell-56bdf402c9a05d94df582bd961fefb51">Kelas 9</td>
                <td id="table-cell-2432a4c58de464b4ece3f39599021268">.174</td>
                <td id="table-cell-233f5f50533961c81a5671fd90601e37">84</td>
                <td id="table-cell-a435853238a07423b73a894d6dc7a599">.000</td>
                <td id="table-cell-5236e2efbf4c54d26618beff7394a17b">.935</td>
                <td id="table-cell-2420703fd431e4883fa5019d784132aa">84</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-bee6ad308e096565dc30875dd240c327">
                <td id="table-cell-0399df3db5f35de1e00610fa510743bb" rowspan="6"> Defender </td>
                <td id="table-cell-5090823f4e496ec00796f4afb5fca1e3">Kelas 7</td>
                <td id="table-cell-c953a18af0e3e2b5eaf0f4724ece1934">.166</td>
                <td id="table-cell-a8f60872b3b23488d5e8f34b63e30d72">87</td>
                <td id="table-cell-5fa80ac1488bda605d4260464a482fbd">.000</td>
                <td id="table-cell-63682da5ccd498b55ea78c3bb58a1972">.927</td>
                <td id="table-cell-916e176420ddc5e7eb1335d246e478a5">87</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-948abe41cc5132f80baf099cbaf9d6e9">
                <td id="table-cell-430b0efd719f48a40c0ed4656c308491"/>
                <td id="table-cell-1462a4a762071b46e23a8a9b7a8a0a84">Kelas 8</td>
                <td id="table-cell-d03da1daa7aa939b9c0d3c72a6c15b46">.177</td>
                <td id="table-cell-4db5f564af88e31f8defdb2ed12c9024">80</td>
                <td id="table-cell-a1cb36d4f6482267d936bdb1855623ef">.000</td>
                <td id="table-cell-1206704434e4299d8d614d5dd282b7b5">.948</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-5caea944e3758b732ef6a76dcb07938f">
                <td id="table-cell-e3884f5dded6bfda2bed61e78c67601c"/>
                <td id="table-cell-2c23d777b5c28ed37aaaa4dee00017c5">Kelas 9</td>
                <td id="table-cell-20dff3655f4110ca5768fb525ccc0cfa">.164</td>
                <td id="table-cell-03da32f1a699f9a14b955d9816dd291d">84</td>
                <td id="table-cell-ec5cc103a3f803409ed995cce2985b1c">.000</td>
                <td id="table-cell-48495739ae69bcbda6d15d699997dab2">.958</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8a4caa59eeec6684c4643021fc721eea">
                <td id="table-cell-e7044ba5733261551c92c1ea32479795" rowspan="3"> Probully </td>
                <td id="table-cell-67faf58d54436af6fd88601e1c0118f0">Kelas 7</td>
                <td id="table-cell-c9df3d1e75b801806a58695a5c5108a3">.236</td>
                <td id="table-cell-9def01be1d79b3adba954274ff50b1e0">87</td>
                <td id="table-cell-353b7e1582b489cf3bc4f1d5d065527b">.000</td>
                <td id="table-cell-5c0f280d1c67fe525eb28a07d7dfdd31">.824</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-913fba51a7963d53ad3a1ab783f62304">
                <td id="table-cell-d0bdcd93de660d4ccb983efcebb7b73d"/>
                <td id="table-cell-959ceb74ee3d1ae7a3d395ac120804ab">Kelas 8</td>
                <td id="table-cell-f403fad0c6e25ec0132650fd9a2581a9">.188</td>
                <td id="table-cell-5ed492927610e1626bf50780b40c83da">80</td>
                <td id="table-cell-81df840efae0904d63784e4aff37e78f">.000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-157c9c58638c1d106007c80a6c1823af">
                <td id="table-cell-e631c22bb4436c51ef5d6fc3adffb3b0"/>
                <td id="table-cell-85eac8366eaa9a43db8ef22dcfe2fe11">Kelas 9</td>
                <td id="table-cell-167d182312819fe26430297d79e70be3">.273</td>
                <td id="table-cell-bf177930c1a9ba4ab0203ddc52300530">84</td>
                <td id="table-cell-b79052ed3d023de8eb0ce61bdae8ff21">.000</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-87">Tabel 6 menunjukkan uji normalitas Shapiro-Wilk dengan didapatkan hasil bahwa seluruh nilai sig. = 0,000 (&lt; 0,05) yang mengindikasikan bahwa tidak terdistribusi normal. Oleh karena itu, pengujian komparatif dilanjutkan dengan uji nonparametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis.</p>
        <table-wrap id="tbl7">
          <label>Table 7</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-98">Tabel </bold><bold id="_bold-99">7</bold>. Hasil pengujian Kruskal-Wallis berdasarkan strata kelas</title>
            <p id="_paragraph-89"/>
          </caption>
          <table id="_table-7">
            <tbody>
              <tr id="table-row-c0c25fe5decdbdf5352bceddbdce1098">
                <td id="d167110d08fa110aee514da9f508ec78" colspan="5">
                  <bold id="_bold-100">
                    <italic id="_italic-299">Test Statistics</italic>
                  </bold>
                  <bold id="_bold-101">
                    <italic id="_italic-300">
                      <sup id="_superscript-11">a,b</sup>
                    </italic>
                  </bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-aa11184d46fd2a2e4e13b6b54b64a2e6">
                <td id="bcf39a640edc3f4838d1e83dd78d6fc4"/>
                <td id="c8ec27ffce1f40d851d42a086cd1003b"><italic id="_italic-301">Bystander</italic>pasif</td>
                <td id="bbf56d6c676cd7cab2651a13c499e19b"/>
                <td id="dba5be3684310d855a3142f9651cbe53">
                  <italic id="_italic-302">Defender</italic>
                </td>
                <td id="3d8694e95d179bce95f140086b68cacc">
                  <italic id="_italic-303">Probully</italic>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-06ddeb9894e1d728831eb53f22f91144">
                <td id="d7e95e6fd84376ee48929d17fdedb06b">Kruskal-Wallis H</td>
                <td id="a78ef7ec74f585007513cf9e297d6b10" colspan="2">3.185</td>
                <td id="1c0d406d654780d646658cc993befd44">3.432</td>
                <td id="b796ac2c5809249d1e4fcf2650a97599">7.293</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-0a6be7125d1b9c9ee4fd73d8ef383cda">
                <td id="f1a52f8258738a609ed329029595140d">df</td>
                <td id="d9ec51861cfc7d5919c63f8463745ea7" colspan="2">2</td>
                <td id="0a2a71d86b3e7e6a2e8a372d65b9b9fd">2</td>
                <td id="c487862799e0371d9beee7f4feec3353">2</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-b18d82bb4b198aae083f0792eeb3e4df">
                <td id="b1110d135b7434eb34d9bbcc9e205a0a">Asymp. Sig.</td>
                <td id="e4d39f6060bdebe827547789ff071a02" colspan="2">.203</td>
                <td id="363b8e885673d23523a32552c314d3bb">.180</td>
                <td id="aee326085d9585092510efa2d0181756">.026</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-90">Hasil uji Kruskal-Wallis pada tabel 7 menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig. <italic id="_italic-304">bystander </italic>pasif = 0,203 (&gt; 0,05), Asymp. Sig. <italic id="_italic-305">defender</italic> = 0,180 (&gt; 0,05), dan Asymp. Sig. <italic id="_italic-306">probully </italic>= 0,026 (&lt; 0,05). Nilai yang didapatkan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas 7, 8, dan 9 terhadap sikap <italic id="_italic-307">bystander</italic> pasif dan <italic id="_italic-308">defender</italic>, namun terdapat perbedaan yang signifikan terhadap sikap <italic id="_italic-309">probully</italic> antar strata kelas.</p>
        <table-wrap id="tbl8">
          <label>Table 8</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-102">Tabel</bold><bold id="_bold-103"> 8</bold>. Hasil pengujian <italic id="_italic-310">ranks</italic> berdasarkan strata kelas</title>
            <p id="_paragraph-92"/>
          </caption>
          <table id="_table-8">
            <tbody>
              <tr id="table-row-b321fad66a57683d0dd37c6de0f885dc">
                <td id="9fc74ef4c53c53c5e83699999d0b37c3" colspan="10">
                  <bold id="_bold-104">
                    <italic id="_italic-311">Ranks</italic>
                  </bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-ec516101db13c29f04273e518411e164">
                <td id="c9beb15774b86d0cb903ebaf658283e9"/>
                <td id="69317250ecde6b1b22fb931e8d7129dd" colspan="3"><italic id="_italic-312">Bystander</italic> pasif</td>
                <td id="d985239e63bc10eab8ac2174be9d7757" colspan="3">
                  <italic id="_italic-313">Defender</italic>
                </td>
                <td id="a2316fe691e9019008dbcec529b457ee" colspan="3">
                  <italic id="_italic-314">Probully</italic>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-7164a4c48f77501bd33295c50e4f1511">
                <td id="cdfc83c95e3640d9775d31475c1b0d0f">Kelas</td>
                <td id="a0fccd2160a51adb4490fd0b38e27457">Kelas 7</td>
                <td id="dce2c6250516fdcf33eccae15588c920">Kelas 8</td>
                <td id="b3b958186ffd8483dfc26e34fc5ba2b1">Kelas 9</td>
                <td id="125b93a4c14c6b1013aeda47c0656bf4">Kelas 7</td>
                <td id="f244ba3e4f5184763b06b2267e9f8b28">Kelas 8</td>
                <td id="1662e541af6e3e2821de5026054a69f8">Kelas 9</td>
                <td id="871b1197f0915db9d904ed19fe6d741e">Kelas 7</td>
                <td id="b01a79009cacf53d992127ee23279070">Kelas 8</td>
                <td id="9aa59eda6f1b94b809adc9c9d363f544">Kelas 9</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-c7a278b5cc058a2f355a0ab6b6a2a538">
                <td id="47b8159708f8a9292bf6f9d4584ec502">N</td>
                <td id="94c19310a253d3020ec46ef528291e1f">87</td>
                <td id="9e7ca040186878280cf7066e76dd2f44">80</td>
                <td id="17f3488780df2c05f3a4ee80391929e3">84</td>
                <td id="903c4a416349be560be471304ab1c0e8">87</td>
                <td id="c088453ccf3d94a3026c32a2b25b4e1d">80</td>
                <td id="6b09a37f2bc3162761c6977207031871">84</td>
                <td id="4a8999d3f7af01623ef26e36b08afb01">87</td>
                <td id="0fc074c2ba5cba8ae029e6c661c187b5">80</td>
                <td id="1a6f8a5e249e3c8ddd5f91cba7473d12">84</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-44873ecbadcfe449685a7495877ae363">
                <td id="aac3ce324963c4df796df1feca0f0205">
                  <italic id="_italic-315">Mean</italic>
                  <italic id="_italic-316">Rank</italic>
                </td>
                <td id="d9b97ab45e3fe80e4c1c909c4e034e1e">122.95</td>
                <td id="934c8e0d9a6b28d12f1a0dace469b8bc">137.36</td>
                <td id="1b24ab210d39afe82f19bbd7db4fbed8">118.35</td>
                <td id="f211f21ac83cb32a746691e23cf96a6c">129.16</td>
                <td id="2ca8aca65f1bef321b2146fa6b0c3cb3">134.47</td>
                <td id="628f2938b35470c58451db695f1efdd0">114.66</td>
                <td id="e04c62b909b94dee81be22b687cb1020">126.11</td>
                <td id="5850f3cac40dec724911ecd2b922279b">140.86</td>
                <td id="9ef4285636f4304e4810f9662136cb2a">111.73</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-93">Tabel 8 menunjukkan bahwa kelas 8 memiliki nilai rata-rata tertinggi pada setiap sikap dibandingkan kelas lainnya. Hal ini juga diilustrasikan pada gambar 7 yang menunjukkan grafik bahwa kelas 8 memiliki nilai tertinggi dibandingkan kelas lainnya. Meski demikian, tabel 7 menunjukkan bahwa perbedaan pada sikap <italic id="_italic-317">bystander </italic>pasif dan <italic id="_italic-318">defender </italic>tidak signifikan. Jika nilai <italic id="_italic-319">mean rank </italic>yang diperoleh oleh kelas 8 dibandingkan antar sikapnya, nilai <italic id="_italic-320">mean rank </italic>pada sikap <italic id="_italic-321">probully </italic>pada kelas 8 lebih tinggi dibandingkan <italic id="_italic-322">bystander </italic>pasif dan <italic id="_italic-323">defender </italic>dengan nilai = 140,86. Kembali mengacu pada tabel 7 dengan disertai perbandingan nilai <italic id="_italic-324">mean rank </italic>dengan kelas lain pada sikap <italic id="_italic-325">probully</italic>, tampak bahwa kelas 8 memiliki perbedaan yang signifikan. Sehingga, hal ini memberikan pengertian bahwa kelas 8 memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk bersikap sebagai <italic id="_italic-326">probully </italic>ketika menyaksikan perundungan.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-9abe92976aca0e9f1647951d1eb6418c">
        <title>
          <bold id="_bold-105">2. Pembahasan</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-95">Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penelitian ini mampu memberikan gambaran mengenai kecenderungan sikap siswa <italic id="_italic-327">bystander</italic> ketika mereka menyaksikan siswa lain menjadi korban kasus bullying. Hal ini ditunjukkan dari temuan penelitian pada Wright <italic id="_italic-328">map </italic>yang menunjukkan bahwa mayoritas siswa cenderung bersikap sebagai defender. Hasil uji Kruskal-Wallis juga menunjukkan bahwa mayoritas siswa lebih banyak bersikap sebagai <italic id="_italic-329">defender</italic> daripada <italic id="_italic-330">bystander</italic> pasif atau <italic id="_italic-331">probully</italic> dengan perbedaan yang signifikan dengan nilai mean rank = 625,77 dan Asymp. Sig. = 0,000 (&lt; 0,05). Hasil analisis pada Wright <italic id="_italic-332">map </italic>juga menunjukkan bahwa terdapat satu orang siswa yang memiliki kecenderungan tinggi untuk menjadi <italic id="_italic-333">probully </italic>dan lima orang siswa yang bingung dalam menentukan sikapnya ketika menyaksikan atau mengetahui perundungan. Dalam hal ini, penelitian terdahulu menjelaskan bahwa apabila seorang siswa kelas menjunjung tinggi norma anti-<italic id="_italic-334">bullying</italic>, maka siswa akan dengan otomatis bertindak sebagai defender ketika mereka mendapati siswa lain menjadi korban bullying. Seorang siswa atau suatu kelas yang menjunjung tinggi norma anti-<italic id="_italic-335">bullying </italic>memiliki empati yang tinggi sehingga sensitivitas moral dapat berkembang dengan optimal. Lebih lanjut, penelitian terdahulu juga menjelaskan keputusan siswa untuk menjadi <italic id="_italic-336">defender </italic>ketika menyaksikan perilaku perundungan menandakan bahwa siswa memiliki <italic id="_italic-337">self efficacy </italic>yang tinggi, sehingga mereka yakin dengan kemampuannya dan berusaha membela korban atau bahkan menghentikan perilaku perundungan <xref id="_xref-35" ref-type="bibr" rid="bib27">[27]</xref>. Dalam hal ini, siswa yang memiliki kecenderungan <italic id="_italic-338">probully </italic>yang tinggi memiliki sensitivitas moral yang belum berkembang. Selain itu, siswa yang kebingungan menentukan sikap mengindikasikan bahwa mereka belum memiliki sensitivitas moral dan <italic id="_italic-339">self efficacy </italic>yang mumpuni. Lebih lanjut, studi terdahulu juga menunjukkan bahwa empati berkorelasi positif dengan sikap <italic id="_italic-340">defender</italic> dan berkorelasi negatif dengan sikap <italic id="_italic-341">bystander</italic> pasif dan <italic id="_italic-342">probully</italic> <xref id="_xref-36" ref-type="bibr" rid="bib15">[15]</xref>.</p>
        <p id="_paragraph-96">Hasil penelitian ini juga mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan kecenderungan sikap yang diambil yang ditinjau berdasarkan strata kelas 7, 8, dan 9. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecenderungan sikap probully yang dibandingkan berdasarkan strata kelas dengan kelas 8 sebagai kelas yang memiliki kecenderungan sikap probully tertinggi dengan mean rank = 140,86 dan nilai signifikansi Asymp. Sig. = 0,026 (&lt; 0,05). Penelitian terdahulu menjelaskan bahwa siswa SMP merupakan usia di mana seorang remaja sedang dapam proses pencarian jati dirinya sehingga seorang individu pada masa ini akan berusaha membangun pengakuan teman sebaya atau mendapatkan status di kelompoknya dan salah satu caranya adalah dengan berpihak kepada siswa yang dominan dan mendukung sikap <italic id="_italic-343">probully</italic> <xref id="_xref-37" ref-type="bibr" rid="bib2">[2]</xref>. Selain itu, studi terdahulu menjelaskan bahwa seorang siswa yang telah melewati masa adaptasi di sekolah akan menunjukkan dinamika dominasi dan perilaku terkait perundungan yang lebih menonjol <xref id="_xref-38" ref-type="bibr" rid="bib28">[28]</xref>. Dalam hal ini, kelas 8 merupakan masa di mana seorang siswa merasa lebih berkuasa daripada juniornya (kelas 7) dan merasa sudah cukup mapan di lingkungan sekolah. </p>
        <p id="_paragraph-97">Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kelas 9 memiliki kecenderungan yang lebih rendah pada sikap <italic id="_italic-344">probully </italic>dibandingkan kelas 8. Hal ini dibahas dalam penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa kesadaran moral dan efikasi diri meningkat seiring bertambahnya usia selama remaja . Hal ini sesuai dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa kelas 9 memiliki kecenderungan probully lebih rendah dibandingkan kelas 8 karena kelas 9 memiliki usia yang lebih matang sehingga memiliki lebih banyak pemahaman mengenai moralitas dan keyakinan pada kemampuannya untuk membantu korban bullying. Selain itu, penelitian terdahulu juga menjelaskan bahwa kelas 9 cenderung lebih khawatir tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik guna mempersiapkan pendidikan ke jenjang berikutnya  Di sisi lain, studi terdahulu menjelaskan bahwa sikap <italic id="_italic-345">probully </italic>kelas 7 lebih rendah dibandingkan kelas 8 dikarenakan kelas 7 lebih banyak berfokus untuk beradaptasi di lingkungan sekolah barunya <xref id="_xref-39" ref-type="bibr" rid="bib29">[29]</xref>. </p>
        <p id="_paragraph-98">Meski demikian penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 62 siswa yang tidak <italic id="_italic-346">fit </italic>dengan rasch model karena memiliki nilai <italic id="_italic-347">infit </italic>dan <italic id="_italic-348">outfit </italic>MNSQ di luar <italic id="_italic-349">range</italic>standar. Hal ini mengakibatkan adanya <italic id="_italic-350">noise </italic>pada konsistensi jawaban responden. <italic id="_italic-351">Noise </italic>ini juga mengakibatkan kemampuan beberapa individu menjadi tidak dapat diukur karena <italic id="_italic-352">noise </italic>menyulitkan proses membedakan kemampuan seorang individu dalam suatu kelompok. Selain itu, <italic id="_italic-353">noise </italic>ini juga menjadikan instrumen mengukur faktor lain diluar konstruk yang ingin diukur. </p>
        <p id="_paragraph-99">Berdasarkan hal tersebut, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk meminimalisir <italic id="_italic-354">noise </italic>sehingga penelitian yang dihasilkan dapat dengan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang <italic id="_italic-355">bystander effect </italic>dalam perundungan di kalangan siswa SMP. Direkomendasikan pula untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan populasi yang berbeda karena nilai dan norma yang berlaku di populasi yang lain belum tentu sama yang mana dapat menghasilkan kecenderungan sikap yang berbeda. Penelitian di luar populasi juga perlu dilakukan karena akan semakin memperkaya gambaran <italic id="_italic-356">bystander</italic> <italic id="_italic-357">effect</italic> siswa dalam konteks perundungan.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-4eb508f777a6f6f920ba9d44a6f4cab4">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-101">Penelitian ini menunjukkan gambaran bahwa bahwa mayoritas siswa SMP pada tiap strata kelas lebih banyak berperan sebagai <italic id="_italic-358">defender</italic> daripada <italic id="_italic-359">bystander</italic> pasif atau <italic id="_italic-360">probully</italic> ketika menyaksikan perundungan. Meski demikian, terdapat satu orang siswa yang memiliki kecenderungan <italic id="_italic-361">probully </italic>yang tinggi dan lima siswa yang kebingungan dalam menentukan sikap ketika mereka mengetahui atau menyaksikan perilaku perundungan. Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelas 7, 8, dan 9 dalam kecenderungan untuk bersikap sebagai <italic id="_italic-362">bystander</italic> pasif dan <italic id="_italic-363">defender</italic>. Namun, pada kecenderungan sikap sebagai <italic id="_italic-364">probully</italic>, kelas 8 menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan kelas 7 dan 9. Hal ini yang berarti bahwa kelas 8 memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk bersikap sebagai <italic id="_italic-365">probully</italic> dibandingkan kelas lainnya. Meski demikian, penelitian ini tidak dapat mengukur secara sempurna seluruh kemampuan siswa dikarenakan terdapat <italic id="_italic-366">noise </italic>berupa 62 siswa yang tidak <italic id="_italic-367">fit </italic>dengan rasch model pada temuan hasil uji <italic id="_italic-368">person misfit order</italic>. Oleh karena itu, perlu penelitian lebih lanjut untuk meminimalisir <italic id="_italic-369">noise </italic>sehingga hasil penelitian dapat menggambarkan <italic id="_italic-370">bystander effect </italic>siswa SMP pada perundungan dengan lebih baik. Penelitian lebih lanjut dengan populasi yang berbeda juga penting untuk dilakukan karena nilai dan norma yang berlaku di populasi yang lain belum tentu sama sehingga dapat menghasilkan kecenderungan sikap yang berbeda. Direkomendasikan pula agar dilakukan penelitian di luar populasi ini sehingga akan semakin memperkaya gambaran <italic id="_italic-371">bystander</italic> <italic id="_italic-372">effect</italic> siswa dalam konteks perundungan. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan oleh sekolah untuk menyusun program anti-<italic id="_italic-373">bullying </italic>sehingga dapat meminimalisir perilaku perundungan yang terjadi di kalangan siswa. </p>
      <p id="_paragraph-102">
        <bold id="_bold-110">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-103">Peneliti menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada SMP Negeri 2 Pungging, Mojokerto, atas izin pelaksanaan penelitian di institusi ini dan seluruh siswa SMP Negeri 2 Pungging, Mojokerto, yang berpartisipasi dalam pengumpulan data.</p>
    </sec>
  </body><back>
    <ref-list>
      <ref id="bib1">
        <element-citation publication-type="book">
          <publisher-loc>Banjarmasin</publisher-loc>
          <year>2018</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Budhi</surname>
              <given-names>Setia</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Kill Bullying</source>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib2">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>1</day>
          <issue>1</issue>
          <month>9</month>
          <page-range>Hal. 1-17</page-range>
          <volume>3</volume>
          <year>2014</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Tumon</surname>
              <given-names>Matraisa Bara Asie</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>CALYPTRA</source>
          <article-title>STUDI DESKRIPTIF PERILAKU BULLYING PADA REMAJA</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib3">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>1</day>
          <month>1</month>
          <page-range>19-26</page-range>
          <volume>4</volume>
          <year>2014</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.20885/tarbawi.vol4.iss1.art2</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Prasetyo</surname>
              <given-names>Ahmad</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>el-Tarbawi</source>
          <article-title>Bullying di Sekolah dan Dampaknya bagi Masa Depan Anak</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib4">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>20</day>
          <issue>1</issue>
          <month>1</month>
          <page-range>47-52</page-range>
          <volume>5</volume>
          <year>2022</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Sulistiowati</surname>
              <given-names>Ni Made Dian</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Wulansari</surname>
              <given-names>I. Gusti Ayu Ngurah Feranayanti</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Swedarma</surname>
              <given-names>Kadek Eka</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Purnama</surname>
              <given-names>Alit Putra</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Kresnayanti</surname>
              <given-names>Ni Putu</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa</source>
          <article-title>GAMBARAN PERILAKU BULLYING DAN PERILAKU MENCARI BANTUAN REMAJA SMP DI KOTA DENPASAR</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib5">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>24</day>
          <month>9</month>
          <page-range>133-147</page-range>
          <volume>21</volume>
          <year>2020</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.33830/jp.v21i2.951.2020</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Sulfemi</surname>
              <given-names>Wahyu</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Yasita</surname>
              <given-names>Okti</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Jurnal Pendidikan</source>
          <article-title>DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU BULLYING</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib6">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>1</day>
          <month>12</month>
          <page-range>614-620</page-range>
          <volume>1</volume>
          <year>2022</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.56248/educativo.v1i2.83</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Permata</surname>
              <given-names>Juwita</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Nasution</surname>
              <given-names>Fenty</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Educativo: Jurnal Pendidikan</source>
          <article-title>Perilaku Bullying Terhadap Teman Sebaya Pada Remaja</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib7">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>17</day>
          <month>11</month>
          <page-range>2278-2286</page-range>
          <volume>11</volume>
          <year>2011</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1100/2011/531474</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Tsang</surname>
              <given-names>Sandra K. M.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Hui</surname>
              <given-names>Eadaoin K. P.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Law</surname>
              <given-names>Bella C. M.</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>The Scientific World Journal</source>
          <article-title>Bystander Position Taking in School Bullying: The Role of Positive Identity, Self-Efficacy, and Self-Determination</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib8">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>4, Pt.1</issue>
          <page-range>377-383</page-range>
          <volume>8</volume>
          <year>1968</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1037/h0025589</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Darley</surname>
              <given-names>John M.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Latane</surname>
              <given-names>Bibb</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Journal of Personality and Social Psychology</source>
          <article-title>Bystander intervention in emergencies: Diffusion of responsibility</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib9">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>1</issue>
          <page-range>1-15</page-range>
          <volume>22</volume>
          <year>1996</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Salmivalli</surname>
              <given-names>Christina</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Lagerspetz</surname>
              <given-names>Kirsti</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Björkqvist</surname>
              <given-names>Kaj</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Österman</surname>
              <given-names>Karin</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Kaukiainen</surname>
              <given-names>Ari Olavi</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Aggressive Behavior</source>
          <article-title>Bullying as a Group Process: Participant Roles and Their Relations to Social Status Within the Group</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib10">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>23</day>
          <month>3</month>
          <page-range>475-483</page-range>
          <volume>36</volume>
          <year>2013</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.adolescence.2013.02.003</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Thornberg</surname>
              <given-names>Robert</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Jungert</surname>
              <given-names>Tomas</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Journal of Adolescence</source>
          <article-title>Bystander behavior in bullying situations: Basic moral sensitivity, moral disengagement and defender self-efficacy</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib11">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>8</day>
          <month>8</month>
          <page-range>129</page-range>
          <volume>42</volume>
          <year>2015</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.22146/jpsi.7168</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Halimah</surname>
              <given-names>Andi</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Khumas</surname>
              <given-names>Asniar</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Zainuddin</surname>
              <given-names>Kurniati</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Jurnal Psikologi</source>
          <article-title>Persepsi pada Bystander terhadap Intensitas Bullying pada Siswa SMP</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib12">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>1</day>
          <month>3</month>
          <page-range>112-120</page-range>
          <volume>15</volume>
          <year>2010</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1016/j.avb.2009.08.007</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Salmivalli</surname>
              <given-names>Christina</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Aggression and Violent Behavior</source>
          <article-title>Bullying and the peer group: A review</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib13">
        <element-citation publication-type="book">
          <day>2</day>
          <month>1</month>
          <publisher-loc>Surabaya</publisher-loc>
          <publisher-name>CV. Jakad Media Publishing</publisher-name>
          <year>2021</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Mukhid</surname>
              <given-names>M. Pd</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor">
            <name>
              <surname>Wahyuningrum</surname>
              <given-names>M. Si</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>METODOLOGI PENELITIAN PENDEKATAN KUANTITATIF</source>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib14">
        <element-citation publication-type="book">
          <month>8</month>
          <publisher-loc>Yogyakarta</publisher-loc>
          <publisher-name>Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta</publisher-name>
          <year>2021</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Machali</surname>
              <given-names>Imam</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Metode Penelitian Kuantitatif (Panduan Praktis Merencanakan, Melaksanakan, dan Analisis dalam Penelitian Kuantitatif)</source>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib15">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>18</day>
          <month>10</month>
          <page-range>623-630</page-range>
          <volume>33</volume>
          <year>2021</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.7334/psicothema2021.140</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Suárez-García</surname>
              <given-names>Zara</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Thornberg</surname>
              <given-names>Robert</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Álvarez-García</surname>
              <given-names>David</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Psicothema</source>
          <article-title>Validation of a Scale for Assessing Bystander Responses in Bullying</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib16">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>30</day>
          <issue>2</issue>
          <month>12</month>
          <page-range>29</page-range>
          <volume>12</volume>
          <year>2015</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.18860/psi.v12i2.6402</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Aziz</surname>
              <given-names>Rahmat</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam</source>
          <article-title>Aplikasi Model RASCH dalam Pengujian Alat Ukur Kesehatan Mental di Tempat Kerja</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib17">
        <element-citation publication-type="book">
          <day>21</day>
          <month>11</month>
          <publisher-loc>Surabaya</publisher-loc>
          <year>2014</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Sumintono</surname>
              <given-names>Bambang</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Widhiarso</surname>
              <given-names>Wahyu</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Model Rasch untuk Penelitian Sosial Kuantitatif</source>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib18">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>2</day>
          <issue>1</issue>
          <month>8</month>
          <page-range>73-100</page-range>
          <volume>3</volume>
          <year>2018</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Suryani</surname>
              <given-names>Yulinda Erma</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi</source>
          <article-title>Aplikasi Rasch Model dalam Mengevaluasi Intelligenz Structure Test (IST)</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib19">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>30</day>
          <issue>2</issue>
          <month>9</month>
          <page-range>159-170</page-range>
          <volume>5</volume>
          <year>2020</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.23917/reaksi.v5i2.8918</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Larasati</surname>
              <given-names>Meita</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Mukri</surname>
              <given-names>Cotoro</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Riset Akuntansi dan Keuangan Indonesia</source>
          <article-title>Application of The Rasch Model in The Development of Dimension of The Measurement of Tax Fairness Perception Measurement of Tax Fairness Perception</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib20">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>31</day>
          <issue>1</issue>
          <month>3</month>
          <page-range>61-74</page-range>
          <volume>9</volume>
          <year>2020</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.23887/jpi-undiksha.v9i1.20884</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Hamdu</surname>
              <given-names>Ghullam</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Fuadi</surname>
              <given-names>F. N.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Yulianto</surname>
              <given-names>A.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Akhirani</surname>
              <given-names>Y. S.</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>JPI (Jurnal Pendidikan Indonesia)</source>
          <article-title>Items Quality Analysis Using Rasch Model To Measure Elementary School Students’ Critical Thinking Skill On Stem Learning</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib21">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>21</day>
          <issue>1</issue>
          <month>7</month>
          <volume>13</volume>
          <year>2024</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.22373/ji.v13i1.24873</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Hayati</surname>
              <given-names>Salma</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Hidayanti</surname>
              <given-names>Sri Wahyuni</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Rizki</surname>
              <given-names>Aulia</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Intelektualita</source>
          <article-title>Analisis Rasch Model: Mengukur Kualitas Butir Soal Tes Tashrif Lughawi</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib22">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>26</day>
          <issue>1</issue>
          <month>5</month>
          <page-range>20-29</page-range>
          <volume>6</volume>
          <year>2022</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.23887/jpk.v6i1.45338</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Rivaldo</surname>
              <given-names>Ifan</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Sutrisno</surname>
              <given-names>Hari</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Manik</surname>
              <given-names>Alusti Cundo</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia</source>
          <article-title>The Use of The Rasch Model to Develop Students' Conception of Chemistry Learning Instruments During the Covid-19 Pandemic</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib23">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>5</day>
          <issue>2</issue>
          <month>8</month>
          <volume>7</volume>
          <year>2023</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.20961/jdc.v7i2.75625</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Apriani</surname>
              <given-names>Ika Fitri</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Muharram</surname>
              <given-names>Rijal Wahid</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Rachmawati</surname>
              <given-names>Irni</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Susilawati</surname>
              <given-names>Lilis</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Islamati</surname>
              <given-names>Ginna</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik</source>
          <article-title>Kemampuan Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah Menggunakan RASCH Model untuk Siswa Kelas IV SD</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib24">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>4</issue>
          <page-range>rm4</page-range>
          <volume>15</volume>
          <year>2016</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1187/cbe.16-04-0148</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Boone</surname>
              <given-names>William J.</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>CBE Life Sciences Education</source>
          <article-title>Rasch Analysis for Instrument Development: Why, When, and How?</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib25">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>8</day>
          <issue>2</issue>
          <month>7</month>
          <page-range>301-311</page-range>
          <volume>7</volume>
          <year>2023</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Rahman</surname>
              <given-names>Yenni Arif</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Rentina</surname>
              <given-names>Leny Hikmah</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Dhini</surname>
              <given-names>Ulfa Rahma</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>JURNAL PENDIDIKAN GLASSER</source>
          <article-title>PERSON FIT ANALYSIS FOR ASSESSING ACADEMIC WRITING PERFORMANCE USING RASCH MODEL</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib26">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>4</issue>
          <page-range>277-298</page-range>
          <volume>16</volume>
          <year>2003</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1207/S15324818AME1604_2</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Karabatsos</surname>
              <given-names>George</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Applied Measurement in Education</source>
          <article-title>Comparing the Aberrant Response Detection Performance of Thirty-Six Person-Fit Statistics</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib27">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>10</day>
          <month>8</month>
          <page-range>1-24</page-range>
          <volume>37</volume>
          <year>2021</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1177/08862605211037427</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Thornberg</surname>
              <given-names>Robert</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Pozzoli</surname>
              <given-names>Tiziana</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Gini</surname>
              <given-names>Gianluca</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Journal of interpersonal violence</source>
          <article-title>Defending or Remaining Passive as a Bystander of School Bullying in Sweden: The Role of Moral Disengagement and Antibullying Class Norms</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib28">
        <element-citation publication-type="journal">
          <issue>2</issue>
          <page-range>259-280</page-range>
          <volume>20</volume>
          <year>2002</year>
          <pub-id pub-id-type="doi">10.1348/026151002166442</pub-id>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Pellegrini</surname>
              <given-names>A. D.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Long</surname>
              <given-names>Jeffrey D.</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>British Journal of Developmental Psychology</source>
          <article-title>A longitudinal study of bullying, dominance, and victimization during the transition from primary school through secondary school</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib29">
        <element-citation publication-type="journal">
          <day>29</day>
          <issue>1</issue>
          <month>6</month>
          <page-range>77-82</page-range>
          <volume>1</volume>
          <year>2024</year>
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Aurora</surname>
              <given-names>Maria Jireh</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Dayita</surname>
              <given-names>Hema</given-names>
            </name>
          </person-group>
          <source>Prosiding Seminar Psikologi Pendidikan</source>
          <article-title>Gambaran Profil Pelaku dan Korban Bullying di SMPN X Kota Bekasi</article-title>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="bib30">
        <mixed-citation publication-type="journal">[2]M. B. A. Tumon, “Studi Deskriptif Perilaku Bullying Pada Remaja,” Calyptra, vol. 3, no. 1, Art. no. 1, Sept. 2014.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib31">
        <mixed-citation publication-type="journal">[3]A. Prasetyo, “Bullying di Sekolah dan Dampaknya bagi Masa Depan Anak,” El-Tarbawi, vol. 4, pp. 19–26, Jan. 2014.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib32">
        <mixed-citation publication-type="journal">[4]N. M. D. Sulistiowati, I. G. A. N. F. Wulansari, K. E. Swedarma, A. P. Purnama, and N. P. Kresnayanti, “Gambaran Perilaku Bullying Dan Perilaku Mencari Bantuan Remaja SMP Di Kota Denpasar,” J. Ilmu Keperawatan Jiwa, vol. 5, no. 1, Art. no. 1, Jan. 2022.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib33">
        <mixed-citation publication-type="journal">[5]W. Sulfemi and O. Yasita, “Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Perilaku Bullying,” J. Pendidik., vol. 21, pp. 133–147, Sept. 2020.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib34">
        <mixed-citation publication-type="journal">[6]J. Permata and F. Nasution, “Perilaku Bullying Terhadap Teman Sebaya Pada Remaja,” Educ. J. Pendidik., vol. 1, pp. 614–620, Dec. 2022.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib35">
        <mixed-citation publication-type="journal">[7]S. K. M. Tsang, E. K. P. Hui, and B. C. M. Law, “Bystander Position Taking in School Bullying: The Role of Positive Identity, Self-Efficacy, and Self-Determination,” Sci. World J., vol. 11, pp. 2278–2286, Nov. 2011.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib36">
        <mixed-citation publication-type="journal">[8]J. M. Darley and B. Latane, “Bystander intervention in emergencies: Diffusion of responsibility,” J. Pers. Soc. Psychol., vol. 8, no. 4, Pt.1, Art. no. 4, Pt.1, 1968.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib37">
        <mixed-citation publication-type="journal">[9]C. Salmivalli, K. Lagerspetz, K. Björkqvist, K. Österman, and A. O. Kaukiainen, “Bullying as a Group Process: Participant Roles and Their Relations to Social Status Within the Group,” Aggress. Behav., vol. 22, no. 1, pp. 1–15, 1996.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib38">
        <mixed-citation publication-type="journal">[10]R. Thornberg and T. Jungert, “Bystander behavior in bullying situations: Basic moral sensitivity, moral disengagement and defender self-efficacy,” J. Adolesc., vol. 36, pp. 475–483, Mar. 2013.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib39">
        <mixed-citation publication-type="journal">[11]P. Fischer et al., “The bystander-effect: A meta-analytic review on bystander intervention in dangerous and non-dangerous emergencies.,” Psychol. Bull., vol. 137, no. 4, Art. no. 4, 2011.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib40">
        <mixed-citation publication-type="journal">[12]S. F. D. Maharani and I. S. Borualogo, “Hubungan antara Iklim Sekolah dan Subjective Well-Being Siswa SMP Korban Perundungan Siber di Kota Bandung,” Bdg. Conf. Ser. Psychol. Sci., Sept. 2022.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib41">
        <mixed-citation publication-type="journal">[13]A. Halimah, A. Khumas, and K. Zainuddin, “Persepsi pada Bystander terhadap Intensitas Bullying pada Siswa SMP,” J. Psikol., vol. 42, p. 129, Aug. 2015.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib42">
        <mixed-citation publication-type="journal">[14]C. Salmivalli, “Bullying and the peer group: A review,” Aggress. Violent Behav., vol. 15, pp. 112–120, Mar. 2010.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib43">
        <mixed-citation publication-type="journal">[15]M. P. Mukhid, Metodologi Penelitian Pendekatan Kuantitatif. Surabaya: CV. Jakad Media Publishing, 2021. </mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib44">
        <mixed-citation publication-type="journal">[16]I. Machali, Metode Penelitian Kuantitatif (Panduan Praktis Merencanakan, Melaksanakan, dan Analisis dalam Penelitian Kuantitatif). Yogyakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2021. </mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib45">
        <mixed-citation publication-type="journal">[17]Z. Suárez-García, R. Thornberg, and D. Álvarez-García, “Validation of a Scale for Assessing Bystander Responses in Bullying,” Psicothema, vol. 33, pp. 623–630, Oct. 2021.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib46">
        <mixed-citation publication-type="journal">[18]R. Aziz, “Aplikasi Model Rasch dalam Pengujian Alat Ukur Kesehatan Mental di Tempat Kerja,” Psikoislamika J. Psikol. Dan Psikol. Islam, vol. 12, no. 2, p. 29, Dec. 2015.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib47">
        <mixed-citation publication-type="journal">[19]B. Sumintono and W. Widhiarso, Model Rasch untuk Penelitian Sosial Kuantitatif. Surabaya, 2014.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib48">
        <mixed-citation publication-type="journal">[20]Y. E. Suryani, “Aplikasi Rasch Model dalam Mengevaluasi Intelligenz Structure Test (IST),” Psikohumaniora J. Penelit. Psikol., vol. 3, no. 1, Art. no. 1, Aug. 2018.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib49">
        <mixed-citation publication-type="journal">[21]M. Larasati and C. Mukri, “Application of The Rasch Model in The Development of Dimension of The Measurement of Tax Fairness Perception Measurement of Tax Fairness Perception,” Ris. Akunt. Dan Keuang. Indones., vol. 5, no. 2, Art. no. 2, Sept. 2020.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib50">
        <mixed-citation publication-type="journal">[22]G. Hamdu, F. N. Fuadi, A. Yulianto, and Y. S. Akhirani, “Items Quality Analysis Using Rasch Model To Measure Elementary School Students’ Critical Thinking Skill On Stem Learning,” JPI J. Pendidik. Indones., vol. 9, no. 1, Art. no. 1, Mar. 2020.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib51">
        <mixed-citation publication-type="journal">[23]Y. Handayani, R. Rahmawati, and W. Widiasih, “Using Rasch Model to Analyze Reliability and Validity of Concept Mastery Test on Electricity and Magnetism Topic,” JIPF J. Ilmu Pendidik. Fis., vol. 8, no. 2, pp. 226–239, May 2023.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib52">
        <mixed-citation publication-type="journal">[24]S. Hayati, S. W. Hidayanti, and A. Rizki, “Analisis Rasch Model: Mengukur Kualitas Butir Soal Tes Tashrif Lughawi,” Intelektualita, vol. 13, no. 1, Art. no. 1, July 2024.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib53">
        <mixed-citation publication-type="journal">[25]I. Rivaldo, H. Sutrisno, and A. C. Manik, “The Use of The Rasch Model to Develop Students’ Conception of Chemistry Learning Instruments During the Covid-19 Pandemic,” J. Pendidik. Kim. Indones., vol. 6, no. 1, Art. no. 1, May 2022.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib54">
        <mixed-citation publication-type="journal">[26]I. F. Apriani, R. W. Muharram, I. Rachmawati, L. Susilawati, and G. Islamati, “Kemampuan Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah Menggunakan Rasch Model untuk Siswa Kelas IV SD,” Dwija Cendekia J. Ris. Pedagog., vol. 7, no. 2, Aug. 2023.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib55">
        <mixed-citation publication-type="journal">[27]W. J. Boone, “Rasch Analysis for Instrument Development: Why, When, and How?,” CBE Life Sci. Educ., vol. 15, no. 4, Art. no. 4, 2016.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib56">
        <mixed-citation publication-type="journal">[28]Y. A. Rahman, L. H. Rentina, and U. R. Dhini, “Person Fit Analysis For Assessing Academic Writing Performance Using Rasch Model,” J. Pendidik. Glas., vol. 7, no. 2, Art. no. 2, July 2023.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib57">
        <mixed-citation publication-type="journal">[29]G. Karabatsos, “Comparing the Aberrant Response Detection Performance of Thirty-Six Person-Fit Statistics,” Appl. Meas. Educ., vol. 16, no. 4, pp. 277–298, 2003.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib58">
        <mixed-citation publication-type="journal">[30]R. Thornberg, T. Pozzoli, and G. Gini, “Defending or Remaining Passive as a Bystander of School Bullying in Sweden: The Role of Moral Disengagement and Antibullying Class Norms,” J. Interpers. Violence, vol. 37, pp. 1–24, Aug. 2021.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib59">
        <mixed-citation publication-type="journal">[31]A. D. Pellegrini and J. D. Long, “A longitudinal study of bullying, dominance, and victimization during the transition from primary school through secondary school,” Br. J. Dev. Psychol., vol. 20, no. 2, pp. 259–280, 2002.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib60">
        <mixed-citation publication-type="journal">[32]L. J. Lambe and W. M. Craig, “Peer defending as a multidimensional behavior: Development and validation of the Defending Behaviors Scale,” J. Sch. Psychol., vol. 78, pp. 38–53, Feb. 2020.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib61">
        <mixed-citation publication-type="journal">[33]W. Azwar, R. Jayadi, and Z. Zulkifli, “Investigasi Strategi Pelayanan Bimbingan Konseling terhadap Penanganan Kasus Bulliying pada Siswa di Sekolah Menengah,” Educ. Soc. Sci. Linguist. Conf. Ser., vol. 1, no. 1, pp. 14–21, Mar. 2025.</mixed-citation>
      </ref>
      <ref id="bib62">
        <mixed-citation publication-type="journal">[34]M. J. Aurora and H. Dayita, “Gambaran Profil Pelaku dan Korban Bullying di SMPN X Kota Bekasi,” Pros. Semin. Psikol. Pendidik., vol. 1, no. 1, Art. no. 1, June 2024.</mixed-citation>
      </ref>
    </ref-list>
  </back></article>
