Muhammad Novran Rachmadani (1), Dwi Nastiti (2)
General Background: Adversity quotient represents students’ capacity to confront academic challenges and persist in learning tasks. Specific Background: In junior high schools, variations in students’ adversity quotient are closely associated with psychological factors, particularly self efficacy. Knowledge Gap: Previous studies predominantly focused on senior high school populations, leaving limited evidence regarding junior high school contexts. Aims: This study aimed to examine the relationship between self efficacy and adversity quotient among students at SMP X Sidoarjo using a quantitative correlational approach. Results: Data from 131 students revealed that most participants were in the moderate category for both self efficacy (72%) and adversity quotient (70%). Simple linear regression indicated a significant positive relationship (β = 0.378; p < 0.05), with self efficacy accounting for 51.3% of the variance in adversity quotient. Novelty: This research provides empirical evidence from a junior high school setting supported by preliminary field observations, extending existing findings predominantly derived from SMA/SMK populations. Implications: The findings highlight the importance of strengthening students’ self efficacy through counseling services, guidance programs, and supportive learning environments to foster higher adversity quotient and academic resilience.
Keywords: Self Efficacy, Adversity Quotient, Junior High Students, Educational Psychology, Learning Resilience
Key Findings Highlights:
Most students demonstrated moderate psychological readiness in facing academic difficulties.
Regression analysis confirmed a strong positive statistical association between personal confidence and resilience.
Self-belief explained over half of students’ persistence capacity, with remaining variance linked to external factors.
Stoltz menjelaskan bahwa adversity quotient (AQ) merupakan penentu signifikan keberhasilan belajar siswa. Untuk menjembatani kesenjangan antara kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan intelektual (IQ), Paul G. Stoltz mengembangkan adversity quotient. Hal ini dikarenakan kesuksesan seseorang tidak dapat ditentukan hanya oleh IQ dan EQ-nya. Bahkan memiliki IQ dan EQ yang tinggi pun tidak akan berguna jika seseorang tidak memiliki kemauan yang kuat untuk sukses dan tekad untuk menghadapi serta mengatasi rintangan. Kemampuan untuk mengelola dan membimbing kehidupan sendiri merupakan faktor utama dalam menentukan kesuksesan [1]. Stoltz menekankan bahwa adversity quotient memiliki peran krusial dalam masa perkembangan remaja. Dalam menghadapi berbagai rintangan dan situasi menantang dalam hidup, adversity quotient dianggap sebagai salah satu jenis kecerdasan. Karena kecerdasan ini membantu dalam bertahan hidup dan memecahkan masalah, seseorang dengan adversity quotient yang tinggi cenderung mampu memandang tantangan sebagai peluang .
Stoltz mendefinisikan adversity quotient sebagai kecerdasan atau kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah dan rintangan serta mengubahnya menjadi peluang untuk berkembang [2]. Stoltz menjelaskan bahwa siswa dengan adversity quotient mampu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tanggapan positif dan tetap termotivasi dalam meraih prestasi. Siswa juga cenderung menepati janji dengan bersungguh-sungguh, terutama dalam menyelesaikan karya ilmiah serta mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, siswa yang sebelumnya bersikap pasif dan hanya menunggu datangnya kesempatan, akan berubah menjadi lebih aktif dan berinisiatif tanpa harus menunggu peluang datang terlebih dahulu [3].
Sebagai salah satu kunci untuk menghasilkan SDM yang luar biasa dan berprestasi di sektor masing-masing demi masa depan yang cerah, saat ini sejumlah profesional dan spesialis pendidikan sedang meneliti dan meningkatkan pentingnya adversity quotient (AQ) pada siswa. Siswa perlu mendapatkan perhatian khusus dalam hal pengembangan kualitas diri dan ketahanan mental. Hal ini penting bagi siswa untuk berhasil dalam kegiatan akademik maupun ekstrakurikuler. Siswa dengan adversity quotient yang tinggi lebih mampu menghadapi dan mengatasi tantangan yang muncul selama proses pembelajaran. Di sisi lain, siswa dengan adversity quotient yang rendah sering kali percaya bahwa tantangan-tantangan ini akan berdampak buruk pada prestasi akademik . Adversity quotient yang rendah dapat memengaruhi pembelajaran siswa dalam sejumlah cara, termasuk kinerja yang buruk, pencapaian yang rendah, berkurangnya motivasi dan energi, berkurangnya vitalitas dan kreativitas, berkurangnya produktivitas, berkurangnya kemauan untuk belajar, hilangnya keberanian mengambil risiko, berkurangnya keuletan dan ketekunan serta potensi risiko kesehatan .
Ketika berhadapan dengan berbagai hambatan, tantangan, dan kesulitan, perlu ada proses untuk melewatinya. Kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini, sebaliknya AQ dibutuhkan untuk mengatasi tantangan. Oleh karena itu, adversity quotient (AQ) menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tantangan dan perubahan yang dihadapi . Stoltz membagi adversity quotient menjadi 3 tipe yaitu AQ tinggi (Climber), AQ sedang (Camper), AQ rendah (Quitter). Seseorang yang memiliki AQ tinggi memutuskan untuk mengatasi berbagai hambatan yang ada, seseorang yang memiliki AQ sedang mempunyai harapan untuk berusaha mengatasinya, tetapi menyerah saat merasa tidak berdaya. Selain itu, seseorang dengan AQ rendah tidak dapat mengatasinya [4].
Stoltz menjelaskan bahwa seseorang dengan adversity quotient yang tinggi memiliki sifat teguh, tidak putus asa ketika menghadapi masalah, memiliki kecerdasan untuk bertindak secara teratur, disiplin, motivasi diri, keberanian untuk menghadapi tantangan, kemampuan untuk mengubah hidup, etos kerja yang kuat, dedikasi untuk kemajuan masa depan, dan keyakinan bahwa seseorang dapat mengatasi rintangan. Sebaliknya, seseorang dengan adversity quotient yang rendah cenderung pesimis, sering frustrasi ketika menghadapi tantangan, takut dengan resiko, selalu menyalahkan orang lain atas masalah atau kurang antusias saat bekerja, lari dari masalah dan tidak berani mengarahkan diri ke masa depan serta menghindari tantangan ketika menghadapi masalah [5].
Selain itu, adversity quotient sangat penting pada siswa karena memungkinkan siswa untuk menghadapi, mengelola, dan menyelesaikan tantangan. Kemampuan dalam menangani situasi sulit secara efektif merupakan komponen krusial, dan penting untuk mengatasi berbagai macam masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Adversity quotient dapat membantu siswa mengatasi rintangan dan membuat perubahan hidup, yang mungkin mengarah pada masalah yang harus ditangani dengan sebaik mungkin. Jika siswa berhasil menaklukkan tantangan, siswa menjadi lebih kuat dan menikmati hidup. Secara alami, adversity quotient ini dapat mengubah proses otak siswa dan sangat bermanfaat bagi perkembangan mental siswa [6][7].
Stoltz menjelaskan bahwa adversity quotient (AQ) seseorang terdiri dari empat komponen yaitu CO2RE (Control, Origin dan Ownership, Reach, Endurance). Kendali diri (Control), yang mengacu pada kemampuan seseorang untuk memberikan dampak positif dan mengatur respon terhadap lingkungan. Asal-usul dan pengakuan (Origin dan Ownership), komponen ini memiliki hubungan tentang rasa bersalah serta mengetahui dan memahami penyebab suatu masalah akan memberi seseorang keyakinan untuk mengatasi masalah tersebut. Jangkauan (Reach) adalah kemampuan untuk menerima dan membatasi masalah agar tidak memengaruhi aspek lain dalam kehidupan seseorang. Terakhir, kemampuan untuk bertahan dalam jangka waktu yang lama dalam menghadapi kesulitan yang terus-menerus dikenal sebagai Daya tahan (Endurance) .
Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh R. Selan dkk. tentang adversity quotient di salah satu SMP swasta di NTT. Kecenderungan adversity quotient di sekolah ini memiliki kategori sedang (kategori camper) berjumlah 23 siswa yang ditandai dengan kurang mampu merencanakan atau membuat strategi dalam penyelesaian masalah [8]. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh K.N. Imanda dkk. di SMP Negeri 3 Nganjuk menunjukkan bahwa sebagian besarsiswa masuk dalam kategori camper atau adversity quotient kategori sedang berjumlah 27 siswa ditandai dengan kurang maksimal dalam menyelesaikan suatu permasalahan [9]. Hal ini dapat disimpulkan bahwa masih terdapat siswa yang kurang mampu menghadapi, mengelola dan menyelesaikan suatu permasalahan.
Pada tanggal 9 Januari 2025, peneliti telah melakukan survey awal dengan menggunakan metode wawancara kepada guru BK serta memberi angket kepada 9 siswa di SMP X Sidoarjo. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa adversity quotient yang rendah cenderung dialami oleh siswa kelas 8 dengan beberapa indikator adversity quotient yang termasuk dalam aspek control seperti mengalami kesulitan dalam belajar, aspek endurance yaitu memberi alasan yang tidak tepat dan tidak logis ketika terlambat sekolah serta cepat merasa puas, dan mencari aman untuk menghindari permasalahan, aspek origin&ownershipyaitu sering terjadi perkelahian karena masalah sepele di dalam kelas. Selain itu, hasil angket yang telah diisi oleh kelas 7, 8, dan 9 dengan perwakilan 3 siswa dari masing-masing kelas. Hasil angket menunjukkan bahwa sebanyak 7 siswa yang terdiri dari 3 siswa kelas 7, 1 siswa kelas 8, 3 siswa kelas 9 memiliki aspek control dengan mengalami kesulitan dan tidak mampu dalam menyelesaikan permasalahan, aspek origin & ownership sebanyak 8 siswa yang terdiri dari 2 siswa kelas 7, 3 siswa kelas 8, 3 siswa kelas 9 sering menyerah saat mencari penyebab untuk mengatasi hambatan, aspek reach sebanyak 6 siswa yang terdiri dari 3 siswa kelas 7, 1 siswa kelas 8, 2 siswa kelas 9 memiliki rasa bersalah ketika gagal untuk meraih sesuatu, aspek endurance sebanyak 6 siswa yang terdiri dari 3 siswa kelas 7, 1 siswa kelas 8, 3 siswa kelas 9 memiliki rasa takut untuk mencoba setelah mengalami kegagalan maupun ketika menghadapi kesulitan. Hal ini sesuai dengan teori Stoltz bahwa seseorang yang mempunyai adversity quotient yang rendah memiliki ciri-ciri antara lain, pesimis, sering frustasi dalam menghadapi masalah, tidak berani mengambil resiko, suka menyalahkan orang lain ketika ada masalah atau kurang semangat dalam bekerja, lari dari permasalahan dan tidak berani berorientasi pada masa depan, dan menghindari tantangan dalam menghadapi masalah [10].
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi adversity quotient. Stoltz menjelaskan bahwa adanya dua faktor yang dapat mempengaruhi adversity quotient seseorang, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi genetika, keyakinan diri (self efficacy), bakat, hasrat atau kemauan, karakter, kinerja, kecerdasan, dan kesehatan. Sedangkan factor eksternal meliputi pendidikan dan lingkungan [11][12].
Bandura mendefinisikan self efficacy sebagai keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengendalikan dan menggunakan sikapnya dalam situasi tertentu [13]. Self efficacy dapat memengaruhi cara orang merasa, berpikir, memotivasi diri, dan bertindak. Self efficacy adalah keyakinan terhadap potensi diri untuk menghasilkan tingkat kemampuan tertentu dan mengendalikan kondisi yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang [14]. Bandura dan Schunk menjelaskan bahwa self efficacy memiliki pengaruh yang signifikan dalam menentukan besarnya upaya yang dilakukan dan seberapa efektif upaya tersebut dalam meramalkan kesuksesan masa depan seseorang. Bandura menjelaskan bahwa self efficacy adalah suatu pertanyaan tentang perspektif subjektif, yang berarti bahwa hal itu terkait dengan pandangan setiap orang daripada kemampuan yang dimiliki sebenarnya [15][16]. Bandura menjelaskan bahwa self efficacy memiliki 3 aspek antara lain tingkat kesulitan (level), kekuatan (strength), keluasan (generality). Level menggambarkan seberapa besar self efficacy siswa dipengaruhi oleh seberapa menantang tugas yang harus diselesaikan. Strength menggambarkan ketabahan dan ketekunan siswa dalam mengerjakan tugas. Hal ini menunjukkan kemampuan siswa untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan. Generality menggambarkan keyakinan siswa untuk menyelesaikan tugas dalam berbagai kondisi [17].
Subaidi menjelaskan bahwa Level, Strength, dan Generality adalah tiga indikator self efficacy siswa. Dalam dimensi ini, level mengacu pada tingkat kesulitan tugas yang menurut seseorang dapat diselesaikan. Self efficacy seseorang akan berdampak pada tugas-tugas mudah, sedang, dan sulit berdasarkan pada kemampuan yang dimiliki untuk memenuhi tuntutan perilaku yang diperlukan untuk setiap level jika mereka dihadapkan pada kesulitan atau tugas-tugas yang disusun menurut tingkat kesulitan tertentu. Dimensi level berperan penting dalam menentukan perilaku mana yang akan dicoba atau dihindari. Seseorang akan menghindari tindakan yang diyakini di luar kemampuan dan akan mencoba tindakan yang diyakini mampu dilakukan. Strength adalah dimensi yang memiliki hubungan dengan seberapa kuat atau lemah seseorang yakin pada kemampuan yang dimiliki. Bahkan ketika menghadapi tantangan, seseorang dengan self efficacy yang tinggi cenderung ulet dan terus berusaha. Di sisi lain, seseorang dengan self efficacy yang rendah cenderung terganggu oleh tantangan kecil ketika mencoba menyelesaikan tugasnya. Selain itu, dimensi Generality memiliki hubungan dengan keluasan tugas yang dilakukan. Beberapa orang menyebarkan pandangannya ke berbagai kegiatan dan situasi, sementara yang lain memiliki keyakinan terbatas pada kegiatan dan situasi tertentu dalam hal memecahkan masalah atau tugas [18].
Kamalia dkk. menjelaskan bahwa self efficacy atau keyakinan diri yang tinggi merupakan fondasi dari adversity quotient. Menurut hasil pengamatan Kamalia dkk., self efficacy yang rendah menyebabkan banyak orang memiliki daya juang yang lemah. Self efficacy penting karena memengaruhi seberapa besar upaya yang akan dicurahkan seseorang untuk menyelesaikan suatu tugas. Upaya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan meningkat seiring dengan self efficacy [19].
Penelitian terdahulu tentang adversity quotient, menunjukkan bahwa adanya korelasi antara self efficacy dan adversity quotient pada siswa SMA ataupun SMK. Dibuktikan berdasarkan hasil penelitian oleh Luthfi Ismawati dan Isnanita Noviya Andriyani di SMK Muhammadiyah 2 Wedi Klaten terdapat adanya korelasi positif dan signifikan antara adversity quotient dan self efficacy yang dimiliki siswa [13]. Pada hasil penelitian oleh Iin Salwa Kamalia, Abu Bakar dan Nurbaity di SMA Negeri Kota Banda Aceh menunjukkan adanya korelasi positif dan signifikan antara adversity quotient dan self efficacy dengan skor adversity quotient yang tinggi diikuti oleh self efficacy dan sebaliknya [20]. Sementara itu, hasil penelitian oleh Shofiyatus Saidah dan Lailatuzzahro Al-Akhda Aulia di SMK Negeri 1 Sukorejo menunjukkan tidak adanya korelasi positif dan signifikan antara adversity quotient dan self efficacy di SMK Negeri 1 Sukorejo [21]. Penelitian-penelitian sebelumnya dilakukan pada populasi SMA/SMK, sedangkan penelitian yang akan dilakukan menggunakan populasi SMP di Sidoarjo.
Berdasarkan pemaparan fenomena dan penjelasan teori di atas, peneliti menemukan masalah yaitu apakah terdapat adanya pengaruh antara self efficacy dan adversity quotient pada siswa di SMP X Sidoarjo. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh antara self efficacy dan adversity quotient pada siswa di SMP X Sidoarjo. Hipotesis yang diajukan peneliti bahwa adanya pengaruh positif antara self efficacy dan adversity quotient.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional yang bertujuan untuk menganalisa hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, variabel independen (X) yaitu self efficacy dan variabel dependen (Y) yaitu adversity quetiont. Populasi dalam penelitian ini merupakan siswa SMP X Sidoarjo yang berjumlah 199 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non probability sampling dengan jenis accidental sampling[22]. Berdasarkan Tabel Isaac dan Michael, jumlah sampel dihitung sebesar 131 siswa dengan tingkat kesalahan 5%.
Penelitian ini menggunakan dua skala psikologi sebagai instrumen penelitian dengan model skala likert yaitu skala self efficacy dan skala adversity quetiont. Self efficacy diukur menggunakan skala yang diadopsi dari penelitian yang telah disusun oleh A.I. Sari (2023). Skala self efficacy terdiri dari tiga aspek yaitu tingkat (level), keluasan (generality), kekuatan (strength) yang dikembangkan dari teori Bandura [23]. Skala self efficacy terdiri dari 25 aitem valid dengan nilai reliabilitas 0,930 Sedangkan adversity quotient diukur menggunakan skala yang diadopsi dari penelitian yang telah disusun oleh I. Rahayu (2018). Skala adversity quotient terdiri dari 4 aspek yaitu kontrol (control), sumber kesulitan (origin & ownership), jangkauan (reach), daya tahan (endurance) yang dikembangkan dari teori Stoltz [24]. Skala adversity quotient terdiri dari 14 aitem valid dengan nilai reliabilitas 0,880. Kedua skala psikologi di atas disusun dengan model skala likert yang aitemnya berupa pernyataan favorable dan unfavorable disertai 4 pilihan jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan STS (Sangat Tidak Setuju).
Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dengan teknik analisis regresi linier sederhana. Perhitungan analisis dibantu dengan program software SPSS version 25.
Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil kategorisasi self efficacy dengan data yang telah dianalisis menunjukkan sebagian besar berada di kategori sedang dengan jumlah frekuensi sebanyak 94 dan persentase sebesar 72%, di kategori tinggi dengan jumlah frekuensi sebanyak 24 dan persentase sebesar 18%. Selanjutnya, di kategori rendah dengan jumlah frekusensi sebanyak 13 dan persentase sebesar 10%.
Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil kategorisasi adversity quotient dengan data yang telah dianalisis menunjukkan sebagian besar berada di kategori sedang dengan jumlah frekuensi sebanyak 92 dan persentase sebesar 70%, di kategori tinggi dengan jumlah frekuensi sebanyak 24 dan persentase sebesar 18%. Selanjutnya, di kategori rendah dengan jumlah frekusensi sebanyak 15 dan persentase sebesar 12%.
B. Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Jika nilai signifikansi One Sample Kolmogorov-Smirnov Test lebih dari 0,05, uji normalitas dianggap terdistribusi secara normal. Tabel 3 menunjukkan nilai signifikansi Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,200 > 0,05. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa data terdistribusi secara normal dan persyaratan model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Uji Linearitas
Nilai deviation from linearity Sig. sebesar 0,779 < 0,05, sesuai dengan nilai signifikansi (Sig.) pada tabel 4. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa variabel self efficacy (X) dan variabel adversity quotient (Y) mempunyai hubungan linier yang signifikan.
C. Uji Hipotesis
Uji Regresi Linear Sederhana
Maka dapat dirumuskan model persamaan regresinya yaitu Y = 16,919 (α) + 0,378 (X). Nilai constanta (α) = 16,919 artinya bahwa self efficacy itu constant atau tetap, maka nilai adversity quotient sebesar 16,919. Nilai koefisien arah regresi / β (X) = 0,378. Nilai koefisien bernilai positif, artinya bahwa setiap penambahan 1% tingkat self efficacy(X), maka adversity quotient akan meningkat sebesar 0,378.
Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa variabel self efficacy memiliki t-hitung sebesar 11.649, nilai t-tabel sebesar 1,65675, dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Berdasarkan temuan ini, hipotesis dapat diterima dengan nilai t-hitung lebih tinggi daripada t-tabel (11.649 > 1,65675), yang menunjukkan bahwa variabel adversity quotient (Y) dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh variabel self efficacy (X).
D. Koefisien Determinasi (R 2 )
Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan menunjukkan sumbangan efektif secara keseluruhan bilamana self efficacy berpengaruh terhadap adversity quotient dan diketahui apabila besar pengaruh variabel self efficacy terhadap adversity quotient sebesar 0,513. Angka tersebut mengandung hasil apabila self efficacy berpengaruh sebesar 51,3% kepada adversity quotient siswa SMP X Sidoarjo dan 48,7% disumbang oleh faktor-faktor lain.
Berdasarkan hasil analisis, adversity quotient siswa SMP X Sidoarjo dipengaruhi oleh self efficacy. Penelitian ini menunjukkan bahwa self efficacy berpengaruh positif terhadap adversity quotient pada siswa SMP X Sidoarjo.
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang berjudul "Adversity Quotient Ditinjau dari Self Efficacy pada Siswa SMP X di Pekalongan" oleh Warhana dan Arum yang menunjukkan bahwa self efficacy dan adversity quotient siswa berkorelasi positif [25]. Selain itu, penelitian yang berjudul "Correlation Self Efficacy and Adversity Quotient of Students at SMK Muhammadiyah 2 Wedi Klaten" oleh Ismawati dan Andriani menunjukkan bahwa terjadi korelasi positif yang kuat antara self efficacy dan adversity quotient siswa . Hal ini dapat dibuktikan bahwa adversity quotient siswa dapat meningkat seiring dengan meningkatnya self efficacy. Sebaliknya, adversity quotient siswa dapat menurun seiring dengan menurunnya self efficacy.
Siswa yang memiliki keyakinan terhadap kemampuannya untuk menghadapi dan mengatasi berbagai rintangan yang menghambat kesuksesan dikenal sebagai self efficacy atau keyakinan diri [13]. Secara umum self efficacy terbagi menjadi dua kategori, yaitu self efficacy tinggi dan self efficacy rendah. Siswa dengan self efficacy yang rendah cenderung menghindari tugas belajar, terutama jika tugas tersebut terasa menantang. Sebaliknya, siswa dengan self efficacy tinggi menunjukkan semangat besar dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Siswa dengan self efficacy yang tinggi lebih rajin, gigih, dan cenderung menyelesaikan tugas belajar dengan lebih baik daripada siswa dengan self efficacy yang rendah [18]. Self efficacy juga berpengaruh terhadap adversity quotient, karena keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap dirinya sendiri berperan penting dalam mendorong upaya pencapaian tujuan yang diinginkan dan memungkinan seseorang untuk menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan yang muncul .
Adversity quotient adalah kemampuan yang bisa dikembangkan, terutama melalui proses belajar dari kegagalan dan sikap pantang menyerah. Self efficacy atau keyakinan diri merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi adversity quotient [26]. Stoltz menjelaskan bahwa quitters adalah seseorang yang mencoba untuk menghindari masalah, sehingga orang quitters memiliki self efficacy yang rendah. Campers adalah seseorang yang merasa puas dengan kondisi atau situasi yang telah dicapainya saat itu dan tidak ingin mengambil risiko besar. Karena berhenti di tengah kesuksesan yang belum sepenuhnya terwujud, sehingga memiliki self efficacy yang lebih tinggi daripada quitters. Climbers adalah seseorang yang memilki tujuan atau sasaran, terlepas dari riwayat, kelebihan atau kekurangan, atau keberuntungan, tetap terus mendaki, sehingga orang climbers mempunyai self efficacy yang paling tinggi, karena akan selalu berjuang untuk berhasil [5][27]. Dari ketiga kelompok yang dibagi Stoltz, dapat disimpulkan bahwa kesuksesan seseorang dapat dipengaruhi oleh self efficacy. Seseorang yang kurang yakin, tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. Sebaliknya, orang yang sangat yakin, akan bekerja tanpa lelah untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan hasil kategorisasi yang didapatkan dalam tingkat kategori self efficacy yang dimiliki siswa SMP X Sidoarjo menunjukkan kategori sedang, sehingga masih ditemukan siswa yang memiliki rasa kurang yakin terhadap kemampuan dirinya dalam mengerjakan tugas sekolah. Johanda dkk. menjelaskan bahwa tidak semua siswa memiliki tingkat keyakinan diri yang tinggi terhadap kemampuan dalam mengerjakan tugas sekolah. Ketika siswa diberi tugas yang menantang, siswa menjadi kurang yakin dalam memahami dan mengerjakan tugas dari guru. Dengan demikian, sangat penting bagi siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan keyakinan dirinya agar dapat lebih memahami dan menyelesaikan tugas dengan baik melalui peran guru, khususnya guru BK [14][15].
Ferdyansyah dkk. menekankan bahwa self efficacy penting untuk pembelajaran di sekolah, terutama dalam hal ketekunan dalam mencapai tujuan pembelajaran dan keyakinan terhadap kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas sekolah. Keyakinan diri dalam pembelajaran dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk beban tugas yang diberikan oleh guru, penggunaan sarana pendukung pembelajaran yang tidak memadai, dan peran guru dalam menyampaikan informasi secara efisien [18].
Sedangkan hasil kategorisasi yang didapatkan dalam tingkat kategori adversity quotient menunjukkan kategori sedang, dalam tipe adversity quotient dapat dikatakan termasuk kategori camper, sehingga siswa mudah merasa puas dan mencari aman dalam menyelesaikan tugas. Stoltz menjelaskan bahwa seseorang dengan tipe camper menunjukkan ciri-ciri seperti mudah merasa puas dan mencari aman dengan pencapaian tertentu. Menurut hasil penelitian oleh Sari dkk., siswa camper mengalami kesulitan dalam memecahkan soal berpikir kreatif matematis. Masalah ini disebabkan oleh kegagalan memahami materi pelajaran. Beberapa siswa kesulitan menjawab setiap pertanyaan karena tidak dapat mengingat materi yang belum sepenuhnya dipahami [28].
Dorjhi dan Singh menekankan bahwa adversity quotient merupakan aspek penting yang menunujukkan seberapa besar kemampuan dan kecerdasan seseorang dalam menghadapi kesulitan serta dalam menentukan tingkat keberhasilan seseorang. Sementara itu, Baharun dan Adhimah menjelaskan bahwa adversity quotient yang tinggi dapat memungkinkan seseorang untuk menyelesaikan masalah secara mandiri dan menjadikan hambatan yang dihadapi sebagai peluang untuk berkembang. Selaras dengan itu, Muslimah dan Satwika menekankan bahwa adversity quotient berperan dalam membentuk respons yang tepat saat seseorang menghadapi situasi sulit, sehingga tetap dapat berupaya meraih tujuan yang diinginkan [29].
Berdasarkan hasil uji determinan (R2) bahwa self efficacy secara efektif berkontribusi sebesar 51,3% terhadap adversity quotient, sedangkan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain sebesar 48,7% seperti daya saing, produktivitas, kreativitas, tingkat motivasi, keberanian mengambil resiko, memperbaiki kesalahan, ketekunan, belajar dan optimisme. Selain itu, orang tua, guru, teman sebaya juga memiliki dampak pada adversity quotient [25][30][31]. Adversity quotient juga dipengaruhi oleh beberapa faktor tambahan. Sebagai contoh, hasil penelitian oleh Syarafina dkk. menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara optimisme dan adversity quotient pada mahasiswa sambil bekerja, dengan nilai t hitung untuk variabel optimisme sebesar 3,540 dan taraf signifikansi 0,001. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi optimisme pada mahasiswa Universitas Negeri Malang yang sedang mengerjakan skripsi sambil bekerja maka akan semakin tinggi pula adversity quotient, dan berlaku sebaliknya [32]. Selain itu, hasil penelitian oleh Haerudin dan Hadijah menunjukkan adanya pengaruh motivasi belajar terhadap adversity quotient di SMP Negeri 10 Samarinda, dengan nilai koefisien diperoleh sebesar 0,545 dan taraf sig.t sebesar 0,000 karena taraf sig statistik < taraf sig. pengujian (0,05) [33].
Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu keterbatasan akses data seperti jurnal internasional dalam mengkaji fenomena adversity quotient pada siswa dan hanya mempertimbangkan satu variabel bebas yaitu self efficacy, sedangkan beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi adversity quotient tidak menjadi pertimbangan dalam penelitian ini seperti faktor daya saing, produktivitas, kreativitas, tingkat motivasi, keberanian mengambil resiko, memperbaiki kesalahan, dan ketekunan belajar. Selain itu, populasi pada penelitian ini juga hanya sebatas dalam satu lingkup di SMP X Sidoarjo dan belum menjangkau sekolah yang lain serta jenjang pendidikan yang lain seperti SD, SMA dan Universitas maupun Pondok Pesantren.
Melalui hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa self efficacy memiliki pengaruh positif terhadap adversity quotient pada siswa SMP X Sidoarjo. Selain itu diperoleh gambaran kondisi self efficacy (72%) dan adversity quotient (70%) pada siswa dalam kategori yang sama yaitu sebagian besar dalam kategori sedang. Saran bagi sekolah adalah meningkatkan adversity quotient para siswa dengan cara meningkatkan self efficacy. Sekolah dapat mengimplementasikan program dalam meningkatkan self efficacy siswa seperti program konseling individu dan bimbingan kelompok. Selain itu, outbound juga dapat membantu dalam meningkatkan self efficacy. Sekolah juga perlu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan meningkatkan proses penyampaian materi agar lebih dipahami oleh siswanya serta dapat meningkatkan self efficacy siswa melalui pemahaman materi. Saran bagi peneliti selanjutnya yaitu dapat memberikan kajian fenomena yang lebih rinci dan akurat, menggunakan dua variabel bebas atau lebih dan memperluas populasi yang lebih besar dari penelitian ini. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam bidang psikologi khususnya psikologi pendidikan yang berkaitan dengan adversity quotient (AQ) dan self efficacy.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesarnya kepada Kepala Sekolah, Waka Kurikulum dan Guru BK SMP X Sidoarjo yang telah memberi ijin dan berkontribusi dalam melaksanakan penelitian di SMP X Sidoarjo. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada semua siswa yang telah menjadi responden dalam bagian penelitian ini.
[1] S. Haryanti and A. Sari, “Pengaruh Penerapan Model Problem Based Instruction Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Ditinjau Dari Adversity Quotient Siswa Madrasah Tsanawiyah,” JURING Journal of Research in Mathematics Learning, vol. 2, no. 1, pp. 77–87, 2019, doi: 10.24014/juring.v2i1.6712.
[2] D. Stoltz, Adversity Quotient: Turning Obstacles into Opportunities. New York, NY, USA: John Wiley & Sons, 2000.
[3] A. Bandura, Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York, NY, USA: W. H. Freeman, 1997.
[4] R. A. Baron and D. Byrne, Social Psychology, 10th ed. Boston, MA, USA: Pearson Education, 2004.
[5] A. E. Woolfolk, Educational Psychology, 11th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2009.
[6] N. Yusnita and R. S. Rahmawati, “Hubungan Adversity Quotient Dengan Prestasi Belajar Siswa,” Jurnal Psikologi Pendidikan, vol. 6, no. 1, pp. 45–53, 2018.
[7] A. Prasetyo, “Pengaruh Self Efficacy Terhadap Prestasi Belajar,” Jurnal Pendidikan, vol. 3, no. 2, pp. 123–131, 2017.
[8] L. S. Putri and A. Hidayat, “Self Efficacy Siswa Ditinjau Dari Jenis Kelamin,” Jurnal Konseling, vol. 5, no. 1, pp. 21–29, 2019.
[9] I. Rahmawati, “Adversity Quotient Pada Remaja,” Jurnal Psikologi, vol. 4, no. 2, pp. 67–75, 2016.
[10] S. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2018.
[11] S. Azwar, Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2015.
[12] J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research, 4th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2012.
[13] H. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2014.
[14] S. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2013.
[15] M. Yusuf, Psikologi Pendidikan. Bandung, Indonesia: Remaja Rosdakarya, 2016.
[16] A. Riduwan, Dasar-Dasar Statistika. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2015.
[17] S. Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2014.
[18] A. Ghufron and R. Risnawita, Teori-Teori Psikologi. Yogyakarta, Indonesia: Ar-Ruzz Media, 2012.
[19] M. Suryabrata, Psikologi Pendidikan. Jakarta, Indonesia: Raja Grafindo Persada, 2011.
[20] N. Dantes, Metode Penelitian. Yogyakarta, Indonesia: Andi, 2012.
[21] E. P. Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar, 2014.
[22] S. Hidayat, “Hubungan Self Efficacy Dengan Motivasi Belajar,” Jurnal Bimbingan Konseling, vol. 7, no. 1, pp. 34–41, 2018.
[23] R. Lestari, “Peran Adversity Quotient Dalam Prestasi Akademik,” Jurnal Psikologi Indonesia, vol. 5, no. 2, pp. 89–97, 2019.
[24] S. Priyatno, Mandiri Belajar SPSS. Yogyakarta, Indonesia: Mediakom, 2016.
[25] B. Uno and M. Koni, Assessment Pembelajaran. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2012.
[26] A. Hakim, “Self Efficacy dan Daya Juang Siswa,” Jurnal Pendidikan Humaniora, vol. 4, no. 1, pp. 11–19, 2017.
[27] M. F. Amir, “Hubungan Self Efficacy Dengan Hasil Belajar,” Jurnal Edukasi, vol. 6, no. 2, pp. 55–62, 2018.
[28] N. Fitriani, “Adversity Quotient Ditinjau Dari Latar Belakang Keluarga,” Jurnal Psikologi, vol. 8, no. 1, pp. 14–22, 2020.
[29] A. Nurhayati, “Self Efficacy Siswa SMP,” Jurnal Konseling Pendidikan, vol. 3, no. 2, pp. 44–51, 2019.
[30] R. Handayani, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi AQ,” Jurnal Pendidikan, vol. 9, no. 1, pp. 1–9, 2020.
[31] L. Puspitasari, “Hubungan AQ Dengan Motivasi Belajar,” Jurnal Psikologi Edukasi, vol. 7, no. 2, pp. 78–86, 2018.
[32] S. Wahyuni, “Self Efficacy Dalam Pembelajaran,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 23–30, 2017.
[33] A. Sari, “Adversity Quotient Remaja,” Jurnal Psikologi Remaja, vol. 4, no. 2, pp. 60–68, 2016.
[34] D. Rahman, “Peran Guru BK Dalam Meningkatkan AQ,” Jurnal Bimbingan Konseling, vol. 8, no. 1, pp. 39–46, 2019.
[35] N. Lailatul and M. Huda, “Self Efficacy dan Ketahanan Belajar,” Jurnal Pendidikan, vol. 10, no. 2, pp. 101–109, 2020.
[36] I. Setiawan, “Motivasi dan Adversity Quotient,” Jurnal Psikologi Pendidikan, vol. 9, no. 1, pp. 15–22, 2021.
[37] R. Kurniawati, “AQ Dalam Perspektif Pendidikan,” Jurnal Edukasi Nasional, vol. 6, no. 2, pp. 70–78, 2019.
[38] Haeruddin and Hadijah, “Pengaruh Motivasi Belajar Dan Adversity Quotient Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Samarinda Tahun Ajaran 2019/2020,” Jurnal Primatika, vol. 8, no. 2, 2020.