Agustin Deliya Sari (1), Agus Salim (2)
General Background Early childhood represents a critical period for the formation of social and emotional competencies that shape children’s behavior and future learning readiness. Specific Background Family environments and parenting practices play a central role in guiding children’s emotional regulation, cooperation, and social interaction. Knowledge Gap Despite numerous discussions on early childhood development, contextual evidence describing how different parenting patterns relate to children’s social emotional behavior in local settings remains limited. Aims This study aims to analyze the relationship between parental parenting patterns and the social emotional development of early childhood learners. Results Findings indicate that democratic and supportive parenting is associated with positive behaviors such as confidence, empathy, and cooperation, while inconsistent or permissive approaches correspond with lower emotional control and social difficulties. Novelty The study provides field-based qualitative insights that integrate observations, interviews, and documentation to portray parenting practices within a specific educational community. Implications The results suggest that strengthening parent involvement and informed caregiving practices can support balanced social emotional growth in early childhood education settings.
Keywords: Parenting Patterns, Social Emotional Development, Early Childhood Education, Family Environment, Qualitative Study
Key Findings Highlights:
Supportive caregiving linked with cooperative and confident behaviors
Inconsistent supervision associated with weaker emotional regulation
Home practices aligned with classroom social readiness
Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia 0 sampai dengan 6 tahun, atau biasa disebut dengan masa kanak-kanak awal yang memiliki perbedaan dalam pertumbuhan dan perkembangannya pada setiap anak. Anak usia dini merupakan individu yang unik dan mengalami perkembangan secara cepat yang membawanya pada perubahan dalam kemampuan dan keterampilannya. Anak usia dini disebut sebagai masa kritis, sebab jika dalam masa ini anak kurang mendapat perhatian dalam hal pendidikan, pengasuhan dan lingkungan serta kebutuhan gizinya dikhawatirkan anak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak usia dini juga dapat diartikan sebagai usia prasekolah, dimana masa ini sangat tepat untuk anak diberikan stimulasi dari lingkungan yang dapat merangsang, sehingga dapat mencapai keberhasilan dalam perkembangan anak. Perkembangan anak usia dini mencakup banyak aspek yang berbeda, meliputi perkembangan nilai agama moral, motorik, kognitif, bahasa, seni dan sosial emosional [1].
Perkembangan sosial emosional merupakan salah satu bagian dari anak usia dini. Anak-anak dengan keterampilan sosial emosional yang kuat akan memiliki hubungan sosial yang lebih efektif dengan lingkungannya karena mereka dapat memilih dan menjalankan perilaku yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Keterampilan seorang anak untuk mengendalikan dan mengkomunikasikan emosinya merupakan bagian dari perkembangan sosial anak usia dini. Anak-anak juga lebih mungkin belajar dengan cara berinteraksi dengan teman sebaya dan orang tua, serta mengeksplorasi lingkungan mereka sehingga mendorong perkembangan sosial emosional [2]. Anak yang memiliki kecerdasan sosial emosional biasanya menunjukkan kemampuan beradaptasi yang tinggi, interaksi interpersonal yang kuat, dan memiliki bakat untuk memimpin. Menurut Gresham, kesuksesan dalam interaksi sosial membutuhkan kompetensi sosial. Anak-anak dengan perilaku sosial rendah akan menghadapi masalah-masalah seperti penolakan, masalah perilaku, menurunkan status pendidikan ketika memasuki sekolah. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang di lingkungan, baik dari pola asuh orang tua, saudara atau teman sebaya [3].
Keterampilan sosial emosional yang dikembangkan di usia kanak-kanak, terutama antara usia 4-5 tahun, akan membentuk karakter individu yang tangguh dan siap menghadapi rintangan sosial di masa depan. Keterampilan sosial emosional ini akan memungkinkan siswa untuk terlibat, berkolaborasi, dan berempati dengan orang lain [4]. Emosi anak merupakan indikator yang diyakini mempunyai dampak signifikan terhadap orang lain. Hal sebaliknya juga terjadi, respon emosional anak juga dipengaruhi oleh perilaku orang lain. Anak-anak terus belajar untuk mengatur emosi dan interaksi sosial mereka. Sebagian anak yang telah mengikuti prasekolah sangat percaya diri, ingin ikut serta, kemandirian serta mengembangkan rasa empati. Selain itu, perkembangan sosial juga merupakan salah satu penunjang emosional anak yang optimal. Pentingnya keterampilan sosial diantaranya yaitu, kerja sama, kompetisi, kemurahan hati, keinginan untuk diterima secara sosial, simpati, empati, ketergantungan persahabatan, penyangkalan diri, peniruan dan keterikatan perilaku yang memungkinkan anak untuk mengeskpresikan perasaan dan pikiran mereka[5]. Keterampilan sosial anak berkembang melalui interaksi dengan berbagai bagian kehidupan, seperti pola asuh orang tua, lingkungan sekitar, teman sebaya, kegiatan rekreasi, sekolah formal, dan pengalaman berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan beradaptasi juga merupakan aspek kunci dalam membangun keterampilan sosial yang kuat. Gunarsa mengatakan bahwa anak merupakan individu yang peka terhadap rangsangan sekitar yang nantinya akan menjadi individu yang baik atau buruk tergantung siapa yang mengisinya [6]. Pernyataan tersebut dapat menjadikan salah satu alasan perlunya pola asuh yang diberikan orang tua terhadap anak yang dibentuk sejak usia dini.
Pengaruh pola asuh orang tua sangatlah penting dalam pembentukan karakter dan perkembangan sosial emosional anak. Pola asuh orang tua adalah suatu cara orang tua dalam mengasuh dan mendidik, serta membina anaknya dengan penuh kasih sayang agar perilaku sosialnya dapat berkembang dengan baik. Pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak, yaitu bagaimana cara sikap atau perilaku orang tua dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan pada anak [7]. Menurut Baumrind, menyatakan bahwa secara umum pola asuh dikategorikan menjadi 3 jenis, yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif dan pola asuh demokratis. Pola asuh Otoriter memiliki ciri-ciri mengatur dan memaksa kehendak anak, membatasi perilaku anak dengan runtut, mendapatkan hukuman jika anak berperilaku kurang memuaskan dalam memenuhi keinginan orang tua tanpa berfikir untuk memberikan kebebasan pada anak yang memberikan dampak negatif dalam kemandirian anak, kurangnya percaya diri, tidak dapat membuat keputusan dan melampiaskan emosi anak di luar rumah. Anak juga dapat memahami konsekuensi saat melanggar aturan dan menjadi lebih cenderung memiliki perasaan benar dan salah yang kuat [8]. Pola asuh Permisif, orang tua cenderung memanjakan, tidak mendisiplinkan perilaku dan tidak banyak memberikan batasan dan bimbingan pada anak. Orang tua merasa senang dengan menyediakan fasilitas kepada anak meskipun tidak sesuai dengan kebutuhannya dapat menjadikan anak lebih agresif, tidak memiliki disiplin yang kuat, berperilaku sesuai keinginan tanpa ada batasan dari orang tua, kurang dalam bersosialisasi. Namun, anak menjadi lebih mandiri, memiliki percaya diri dan bereksperimen sesuai dengan keinginannya [9]. Pola asuh Demokratis merupkan pola asuh yang mendorong anak untuk mandiri namun masih dalam batas dan kontrol orang tua dalam menghargai minat dan keputusan anak, memberikan ruang partisipasi pada perilaku dan saat mengambil keputusan. Pola asuh demokratis mendorong anak untuk yakin terhadap diri sendiri, bertanggung jawab, dan menghargai kebebasan anak, namun akan membutuhkan lebih banyak waktu berdiskusi saat mengambil keputusan, kurangnya rasa disiplin anak dan tidak memiliki batasan kebebasan perilaku yang jelas [10].
Menurut Lestari, pola asuh demokratis adalah pola asuh yang mengutamakan hasil musyawarah yang dilakukan antara orang tua dengan anak. Karena orang tua tidak selalu dibenarkan untuk memaksa anak, namun orang tua juga tidak membiarkan anak tanpa memberikan pengawasan. Dimana pola asuh demokratis orang tua dipahami sebagai bentuk pendidikan yang menghargai anak dan menghargai kebebasan anak, namun tetap menunjukkan pengertian terhadap anak. Sehingga dalam pola asuh ini saran dan pendapat antara orang tua dan anak dijadikan sebagai cara untuk memunculkan inisiatif dan kreativitas dalam mewujudkan kepentingan bersama [11]. Pola asuh demokratis mampu dijadikan cara untuk membimbing anak, karena orang tua masih memberikan peraturan pada anak namun masih bersifat elastis sehingga masih mampu mengamati keadaan dan kebutuhan anak.
Berdasarkan hasil observasi pendahuluan yang dilakukan di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage, menunjukkan bahwa sebagian anak usia 4-5 tahun memiliki kemampuan sosial emosional yang optimal. Anak mampu mengendalikan perilaku sosial emosionalnya dengan baik, seperti; mudah beradaptasi, memiliki antusias dalam kegiatan yang dilakukan, mandiri, percaya diri untuk menjawab pertanyaan yang diberikan, memiliki rasa empati, saling tolong menolong dengan teman sebaya, tidak mengejek teman dan saling menghargai, mampu mentaati peraturan yang berlaku dalam suatu permainan, serta anak mendapatkan kebebasan menyampaikan apa yang dirasakan dan arahan dalam tingkah laku melalui komunikasi yang anak lakukan dengan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis pengaruh pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap aspek perkembangan sosial emosional anak, serta mendeskripsikan hubungan pola asuh orang tua dengan kemampuan anak dalam berinteraksi sosial, mengelola emosi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, selain itu juga mengetahui perkembangan sosial emosional anak usia 4-5 tahun.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, khususnya pendekatan deskriptif kualitatif. Metode kualitatif juga disebut sebagai penelitian naturalistik yang dilakukan secara alamiah dengan memperhatikan lingkungan penelitian. Penelitian kualitatif biasanya bersifat dinamis dan mengalami modifikasi setelah penerapannya di lapangan. Penelitian kualitatif digunakan untuk menganalisis permasalahan yang pelik dengan menyajikan informasi faktual melalui penalaran yang logis dan selaras dengan penemuan penelitian. Data yang diperoleh dari melakukan penelitian lapangan, yang meliputi observasi dan wawancara, memberikan bukti yang mendukung teknik ini. Metodologi penelitian ini tergolong penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menyelidiki suatu gejala atau kejadian yang sedang terjadi. Penelitian deskriptif berfokus pada mempelajari permasalahan nyata yang ada pada saat penyelidikan [12]. Penelitian deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran rinci tentang peristiwa dan kejadian yang menarik perhatian, tanpa bias atau sikap preferensial terhadap peristiwa tersebut.
Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun 2025 di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage. Subyek penelitian dalam penelitian kualitatif ini diantaranya peserta didik kelompok A usia 4-5 Tahun dan orang tua peserta didik. Sumber data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Data primer yang dihasilkan dari data observasi dan wawancara untuk memperoleh sebuah informasi dari pola asuh orang tua dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak usia 4-5 tahun di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hal ini juga ditegaskan oleh Kaharudin dalam penelitiannya yaitu teknik pengumpulan data kualitatif tiga ciri utama yang harus dilakukan terutama melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pada penelitian kualitatif dalam pemeriksaan keabsahan data sebagai tahapan yang tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan mengenali penelitian kualitatif, karena pemeriksaan keabsahan data merupakan kebenaran untuk pencarian data. Ada pun penjelasan dari beberapa metode pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut: a) Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri-ciri tertentu dibandingkan dengan teknik lainnya. Observasi dalam penelitian ini yaitu melakukan pengamatan langsung di lapangan untuk mengetahui kondisi peserta didik dengan orang tua yang sebenarnya mengenai aspek perkembangan sosial emosionalnya di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage. b) Wawancara adalah peristiwa atau proses interaksi antara pewawancara dengan sumber informasi melalui komunikasi secara langsung atas pertanyaan terhadap obyek yang diteliti. Peneliti dapat melakukan wawancara terhadap orang tua peserta didik untuk mendapatkan informasi tentang pola asuh yang diterapkan pada anak. c) Dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh informasi dalam bentuk buku, catatan, dokumen gambar tertulis dan gambar dalam bentuk laporan informasi yang dapat mendukung penelitian. Penelitian ini menggunakan dokumentasi pribadi yaitu dokumentasi foto saat melakukan kegiatan wawancara dan observasi [13]. Dalam penelitian ini dalam menggunakan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber, yang berarti membandingkan antara apa yang dikatakan pada saat wawancara baik secara umum atau pribadi dan observasi secara langsung antara interaksi orang tua dengan anak secara langsung.
Figure 1. Gambar 1. Bagan Teknik Pengumpulan Data
Analisis data pada penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman yang dibagi menjadi empat tahap, yaitu; (1) pengumpulan data merupakan salah satu tahap analisis yang mengumpulkan data relevan pada penelitian. (2) Reduksi data ialah proses pemilihan, penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. (3) Penyajian data adalah penyusunan laporan hasil penelitian yang dilakukan agar mudah dipahami sesuai dengan tujuan yang dibutuhkan. (4) Kesimpulan merupakan inti dari sebuah laporan yang berisi keteraturan, penjelasan, alur, sebab dan akibat.
Figure 2. Gambar 2. Alur Analisis Model Miles dan Huberman
Pada hasil penelitian ini akan diuraikan lebih lanjut untuk menganalisis pola asuh orang tua dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak usia 4-5 tahun di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara serta dokumentasi yang melibatkan peserta didik kelompok A usia 4-5 tahun dengan orang tua. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan terdapat variasi pola asuh yang diterapkan oleh orang tua di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage, meliputi pola asuh otoriter, pola asuh permisif dan pola asuh demokratis.
1.Pola Asuh Otoriter
Orang tua dalam proses pembentukan karakter dan kepribadian anak yang kuat dan positif melakukan aturan yang tegas dan anak harus mematuhinya namun jika peraturan yang dibuat orang tua tersebut tidak dilakukan anak dengan baik, orang tua memberikan konsekuensi yang bersifat mendidik atas tindakan atau perilaku yang dilakukan, konsekuensi tersebut terkadang dilakukan secara emosional maupun secara fisik seperti memarahi dengan nada tinggi, mencubit, menjewer telinga, ataupun mendapatkan ancaman untuk tinggal bersama neneknya. Namun menurut orang tua yang melakukan hukuman ini bermaksud sebagai sarana pembelajaran yang bertujuan untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kedisiplinan, serta kesadaran atas akibat dari setiap tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh anak. Misalnya, ketika anak melanggar aturan bermain yang telah disepakati bersama, orang tua memberi konsekuensi jika anak melanggar batasan waktu yang ditentukan saat bermain dan juga anak tidak ingin membereskan mainan yang telah digunakan. Kurangnya komunikasi dua arah antara anak dengan orang tua, misalnya anak tidak diberi ruang untuk bercerita terkait kegiatan apa atau perilaku yang dilakukan hari ini. Sedikitnya kasih sayang dan rasa empati orang tua yang terbuka kepada anak, seperti tidak memberikan pujian saat anak melakukan perilaku yang baik seperti membereskan mainannya sendiri, saat anak berhasil memakai sepatu tanpa bantuan, hal ini sering terjadi pada orang tua karena orang tua merasa itu sudah menjadi salah satu kewajiban atau tanggung jawab anak sehingga tidak perlu diapresiasi dengan bentuk pujian.
Selain itu, beberapa orang tua tidak selalu menuruti permintaan atau keinginan anak karena orang tua juga menyadari bahwa memberikan pola asuh yang baik pada anak bukan berarti harus memenuhi atau menuruti semua keinginan anak tanpa mempertimbangan konsekuensi yang ada. Jika anak sering dipenuhi keinginannya secara berlebihan justru dapat berdampak negatif terhadap pembentukan karakter anak, seperti halnya anak akan menjadi lebih manja, kurangnya rasa bersyukur, ingin menang sendiri dan sulit menghadapi penolakan. Hal ini memiliki dampak penting dalam mendidik anak untuk memiliki rasa dispilin, tanggung jawab, mampu mengikuti peraturan yang dijumpai. Pada pola asuh ini terdapat 4 orang tua yang menerapkannya pada anak, dalam aspek emosionalnya anak-anak terlihat berhati-hati secara berlebihan dalam melakukan beberapa hal karena terbiasa hidup dalam aturan yang ketat dan adanya konsekuensi hukuman. Kondisi ini menimbulkan rasa cemas, takut salah yang cukup kuat dan kurang percaya diri, namun sebagian anak dapat menunjukkan sikap penurut.
Dari sisi hubungan sosial, anak merasa kurang dalam beradaptasi dengan lingkungan kelompok, mereka mampu mengikuti aturan tetapi kesulitan menyesuaika diri ketika pada situasi yang membutuhkan empati dan kerjasama. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pola asuh otoriter meskipun efektif dalam menanamkan kedisiplinan kepada anak, tetapi juga memiliki kekurangan dalam mendukung perkembangan kemandirian, rasa percaya diri pada anak.
2.Pola Asuh Permisif
Orang tua memberikan banyak kebebasan tanpa membuat aturan yang tegas dan jelas kepada anak untuk dapat mengekspresikan pendapat dan perasaan yang dimilikinya, misalnya anak dibiarkan untuk bermain handphone seharian dan orang tua tidak membatasi dengan alasan “yang penting anak senang dan tidak rewel”, anak tidak ingin belajar dengan alasan capek namun orang tua membiarkan dengan alasan kasihan kepada anaknya, membiarkan anak berteriak di depan umum yang dapat mengganggu orang lain yang sedan beraktivitas, secara tidak langsung orang tua sangat memberi kebebasan dalam setiap hal yang dilakukan oleh anak. Namun pada pola asuh permisif ini orang tua memberikan kasih sayang secara terbuka pada anak seperti anak sering diberikan reward atau hadiah mainan meskipun anak tidak menginginkan atau meminta, menuruti semua keinginan anak tanpa resiko yang diterima. Hal ini berdampak pada anak sehingga menjadi sulit mengontrol diri, anak menjadi impulsif dan merasa tidak puas dalam hal yang dilakukan, kurangnya disiplin akibat tidak terbiasa mengikuti aturan, kesulitan dalam bersosial anak akan menjadi lebih egois dalam menerima penolakan atau aturan dari lingkungan luar, serta kurangnya tanggung jawab karena anak tidak terbiasa belajar bahwa tindakan yang dilakukan memiliki konsekuensi tersendiri.
Kasih sayang dan pemberian penghargaan juga sering dilakukan oleh setiap orang tua, hal ini dilakukan saat keadaan emosi anak sedang sedih, senang, marah. Kasih sayang ini ditunjukkan dengan adanya interaksi orang tua dengan anak seperti memberi pelukan, perhatian, pemberian hadiah kecil dan pemberian pujian seperti “wah kamu hebat, keren sekali kamu sudah bisa membereskan mainan setelah selesai bermain” saat anak melakukan perilaku yang positif, pujian yang tepat akan membuat anak merasa dihargai dan termotivasi untuk terus belajar dan berkespresi dengan baik. Tujuan orang tua melakukan pola asuh seperti ini karena ingin memberikan kasih sayang yang besar kepada anak namun, penerapan pola asuh ini nyatanya berdampak kurang baik pada perkembangan anak dalam hal kedisplinan, sulit mengelola emosinya, anak akan kesulitan dalam mengambil keputusan dengan baik, tidak terbiasa mengelola waktu yang dibutuhkan, kurangnya tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan mengakibatkan anak menjadi lebih manja.
Pola asuh permisif memperlihatkan perkembangan sosial emosional anak yang berbeda dibandingkan dengan pola asuh lainnya, terdapat 3 orang tua yang menerapkan pola asuh ini pada anak. Dalam interaksi sosial, anak terlihat mudah bergaul dan memiliki inisiatif dalam membangun hubungan dengan teman sebaya, akan tetapi, sikap ini kadang diikuti dengan kecenderungan kurang mematuhi aturan kelompok, hal ini terjadi karena anak terbiasa mendapatkan kebebasan di rumah tanpa bimbingan disiplin yang konsisten. Secara emosional, anak lebih ekspresif tetapi juga lebih mudah marah, menangis atau menunjukkan tantrum ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola asuh permisif memberi ruang bagi anak untuk berkembang secara terbuka dan percaya diri, namun pada saat yang sama kurang mendukung terbentuknya disiplin, pengendalian emosi serta kemampuan menyesuaikan diri dengan aturan sosial.
3.Pola Asuh Demokratis
Komunikasi antara orang tua bersama dengan anak, baik melalui percakapan ringan seperti bertanya “ingin makan apa hari ini, apakah hari ini senang, gembira atau bersedih, bagaimana tadi belajarnya di sekolah”, mendengarkan anak yang sedang bercerita tentang kegiatan dari pagi berangkat sekolah hingga waktu pulang sekolah selesai dan mendengarkan serta memberi respon yang baik saat anak bercerita tentang teman dan guru baru yang dikenalnya, selain itu juga orang tua sering mengajak berdiskusi sederhana kepada anak, misalnya “kamu suka warna apa, sebelum tidur mau dibacakan buku cerita yang mana, besok mau bawa bekal apa ke sekolah, apa yang kamu lakukan saat disekolah tadi pagi” beberapa orang tua merasa cerita anak harus selalu didengarkan tanpa memotong pembicaraan anak sebelum mereka selesai bercerita, sehingga anak merasa sangat dihargai. Anak-anak juga memiliki aktivitas atau kegiatan yang dilakukan bersama dengan orang tua, misalnya bermain bersama, belajar, bercakap-cakap dengan menyenangkan, mengajak anak jalan-jalan pergi ke suatu tempat dan bercerita, aktivitas tersebut merupakan salah satu sarana anak untuk belajar bersosialisasi untuk mengembangan keterampilan sosial mereka serta membangun hubungan emosional yang baik antara anak dengan orang tua.
Orang tua memberikan kebebasan kepada anak namun masih dalam batas pengawasan untuk dapat mengekspresikan pendapat dan perasaan yang dimilikinya, contoh menanyakan atau memberi pilihan anak mau sarapan menggunakan nasi atau roti dan susu, mendengarkan keinginan yang dibutuhkan anak dan juga beberapa dari orang tua memberikan ruang kepada anak untuk menyampaikan atau meluapkan emosinya baik itu ketika anak sedang marah, sedih, kecewa, senang dan gembira. Pada saat anak merasa marah, sedih dan kecewa orang tua membiarkan anak meluapkan amarahnya terlebih dahulu seperti membiarkan anak menangis, menyendiri di dalam kamar namun masih dalam pantauan orang tua, ketika amarah anak sudah mereda orang tua menghampirinya untuk menenangkan dengan memberikan pelukan kasih sayang, bertanya kepada anak tentang apa yang membuat mereka marah, sedih, serta memberikan nasehat untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi anak dan memberi motivasi yang baik menggunakan bahasa yang mudah difahami oleh anak.
Anak dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan sederhana oleh orang tua seperti hari minggu besok anak-anak ingin bermain apa atau ingin pergi kemana, namun ada juga beberapa orang tua yang tidak melibatkan anak dalam mengambil keputusan dengan alasan bahwa keputusan ini dianggap sepenuhnya tanggung jawab orang tua. Selain itu orang tua juga menerapkan kedisiplinan secara sederhana kepada anak, peneraan ini dilakukan melalui pemberian nasehat ketika anak sedang melakukan perilaku yang kurang baik terhadap temannya ataupun kepada dirinya sendiri, misalnya anak sedang ingin meminjam mainan namun temannya tidak ingin berbagi sehingga anak tersebut memukulnya. Orang tua memberikan pengertian dan pengarahan pada anak untuk mengambil mainan yang tidak digunakan temannya saja serta mengajarkan temannya untuk saling berbagi mainan bersama dengan tujuan agar anak tidak berebut mainan seperti yang sudah terjadi. Selain itu ada juga orang tua yang membatasi anak untuk melakukan aktivitas seperti tidak boleh bermain dengan temannya agar anak fokusnya tidak hanya bermain saja. Selain itu orang tua memberikan fasilitas yang memadai terhadap anak juga akan membantu orang tua untuk mendukung minat dan bakat anak seperti halnya memberikan hadiah krayon ketika anak sedang menyukai aktivitas mewarnai dan mengikutkan les berenang sesuai dengan keinginan dan minat anak.
Orang tua juga menyediakan waktu yang berkualitas untuk anak sekitar 1-4 jam sehari hingga waktu yang tidak terbatas, waktu ini digunakan untuk bermain, bercerita, maupun bercengkrama. Pada pola asuh ini terdapat 5 orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis terhadap anak, secara emosional anak terbiasa mengelola perasaan dan lebih terkontrol saat menghadapi masalah, mereka tidak menangis atau marah melainkan mencoba mencari solusi dengan bantuan orang dewasa. Ekspresi mereka lebih terbuka namun tetap dalam batas yang wajar, selain itu anak menunjukkan sikap mandiri, sikap ini terjadi dari pola pengasuhan yang memberikan kebebasan sekaligus bimbingan sehingga anak belajar memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Dengan demikian, pola asuh demokratis mendukung tumbuh rasa percaya diri, kemandirian, keterampilan komunikasi, serta kemampuan mengendalikan emosi.
1.Analisis Pola Asuh Orang Tua Dalam Mengembangkan Aspek Sosial Emosional Anak Usia 4-5 Tahun Di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage
Berdasarkan hasil penelitian di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage menunjukkan bahwa pola asuh orang tua cenderung mengarah kepada model pola asuh demokratis, pola asuh ini ditandai dengan adanya komunikasi yang terbuka, pemberian kasih sayang, penghargaan serta keterlibatan anak dalam berbagai kegiatan. Menurut teori Baumrind, pola asuh demokratis dapat menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri yang besar dan kemampuan anak untuk terus berinteraksi secara positif dengan lingkungan yang ditemuinya[14]. Dari sisi perkembangan sosial emosional anak yang diasuh dengan pola demokratis menunjukkan kemampuan beradaptasi, percaya diri, disiplin, empati, dan kerja sama mudah bergaul, serta dapat mengekspresikan emosi dengan lebih sehat, hal ini sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa keterilbatan orang tua, komunikasi yang efektif serta pemberian kasih sayang berkontribusi signifikan terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini.
Orang tua dengan pola asuh otoriter, cenderung menekankan aturan yang ketat dan memberikan konsekuensi apabila anak melakukan pelanggaran. Hukuman yang diberikan bisa berupa teguran keras secara verbal maupun hukuman fisik, dengan tujuan agar anak belajar disiplin dan bertanggung jawab. Akan tetapi, hasil pengamatan menunjukkan bahwa anak-anak dalam pola asuh ini justru terlihat berhati-hati secara berlebihan, mudah cemas, dan takut melakukan kesalahan. Rasa percaya diri anak cenderung rendah, meskipun sebagian menunjukkan sikap penurut. Dalam hubungan sosial, mereka dapat mengikuti aturan, tetapi kurang fleksibel dalam situasi yang menuntut kerjasama dan empati. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pola asuh otoriter efektif dalam menanamkan disiplin, namun kurang mendukung perkembangan emosi dan kemampuan adaptasi sosial anak.
Lain hal dengan orang tua yang menerapkan pola asuh permisif, orang tua memberikan kebebasan yang luas tanpa batasan atau aturan yang tegas. Anak dibiarkan mengekspresikan keinginannya, bahkan tidak jarang semua permintaan anak dipenuhi demi membuat anak merasa senang. Anak-anak yang tumbuh dalam pola asuh ini terlihat lebih ekspresif, percaya diri, dan berinisiatif dalam menjalin interaksi sosial. Namun, hasil temuan juga memperlihatkan adanya kelemahan, seperti kurangnya disiplin, kesulitan mengendalikan emosi, serta kecenderungan menjadi impulsif dan egois. Anak mudah marah, menangis, atau tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi, dan sering kali kesulitan menyesuaikan diri dengan aturan kelompok. Dengan demikian, pola asuh permisif memberi ruang ekspresi yang luas, tetapi kurang membantu anak dalam membangun kedisiplinan, tanggung jawab, dan kontrol emosi.
Sementara itu, pada orang tua dengan pola asuh demokratis, ditemukan adanya komunikasi yang terbuka dan hubungan yang hangat antara orang tua dan anak. Orang tua melibatkan anak dalam pengambilan keputusan sederhana, memberi ruang untuk menyampaikan perasaan, serta tetap memberikan arahan dan bimbingan yang konsisten. Anak-anak dalam pola asuh ini menunjukkan perkembangan sosial emosional yang lebih seimbang. Mereka percaya diri dalam menyampaikan pendapat, mampu mengendalikan emosi, serta menunjukkan sikap mandiri. Dalam interaksi sosial, anak lebih mudah bekerja sama, berempati, dan mencari solusi saat menghadapi masalah. Hal ini menunjukkan bahwa pola asuh demokratis mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, serta keterampilan sosial emosional anak secara optimal.
Suryana menjelaskan bahwa perkembangan sosial emosional anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orang tua, teman sebaya, ataupun orang yang lebihi dewasa[16]. Apabila lingkungan tersebut memberikan fasilitas atau peluang terhadap perkembangan anak secara positif maka anak akan mencapai perkembangan sosial emosional secara matang dan optimal. Namun apabila lingkungannya kurang kondusif seperi perlakuan orang tua kasar, sering dimarahi, acuh tak acuh dan tidak memberi motivasi atau perlakuan yang baik anak akan cenderung lebih memperlihatkan perilaku yang bersifat minder, egois dan kurang percaya diri. Perkembangan sosial emosional merupakan dasar perkembangan kepribadian pada masa yang akan datang, setiap anak memiliki emosi rasa senang, sedih, marah, kesal dalam menghadapi lingkungan sehari-hari dan setiap anak menunjukkan ekspresi yang berbeda di setiap perkembangannya. Seperti kesadaran diri yang dimana anak dapat mengenali perasaan ini sewaktu-waktu terjadi, mengelola emosi agar perasaan anak dapat diungkapkan dengan tepat dan baik, memotivasi diri sendiri juga merupakan kemampuan yang dapat untuk menjadi tujuan menata emosi dengan baik, rasa empati juga bergantung pada kesadaran diri anak yang mudah bergaul atau bersosialisasi serta membangun hubungan dengan teman sebaya untuk memudahkan komunikasi dengan orang lain selain keluarga.
Namun terdapat berbagai faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi keberhasilan dalam pola asuh orang tua, faktor-faktor ini berperan besar terhadap aktivitas sosial anak sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Salah satu faktor pendukung utama adalah kondisi kesehatan anak sehingga lebih memudahkan anak untuk berinteraksi, bermain dan belajar keterampilan sosial emosional mereka. Komunikasi intensif orang tua dengan anak juga merupakan salah satu faktor pendukung pola asuh, komunikasi ini memungkinkan anak belajar untuk mengungkapkan pendapat, mengekspresikan perasaan, serta merasa di dengar dan di hargai, komunikasi yang terbuka ini akan menjadi wadah bagi anak untuk melatih keterampilan emosionalnya dalam mengelola amarah atau kesedihan[17]. Selain itu, waktu berkualitas atau yang biasa disebut dengan quality time juga dapat menjadikan pendukung pola asuh dalam memperkuat ikatan emosional anak serta membuat anak merasa diperhatikan dalam setiap kegiatannya seperti bermain, bercerita, belajar dan jalan-jalan. Selain itu juga ada dukungan minat dan bakat anak yang membantu anak untuk memilisi rasa percaya diri, dihargai dan memiliki kesempatan dalam mengembangkan potensinya. Pemberian kasih sayang dan penghargaan juga merupakan faktor pendukung terkait pola asuh orang tua, dengan adanya perilaku kasih sayang orang tua terhadap anak akan berdampak anak menjadi termotivasi dan leih mudah dalam mengelola emosinya.
Faktor lain yang menjadi penghambat dalam berhasilnya pola asuh orang tua adalah perbedaan karakter anak, setiap anak memiliki gaya regulasi emosi yang berbeda-beda sehingga hal ini membutuhkan pendekatan pengasuhan yang lebih personal. Selain itu kesulitan emosi dalam setiap anak juga berbeda, beberapa anak belum mampu menyalurkan emosi secara tepat, misalnya ketika anak sedang marah ia meluapkan amarahnya sengan cara fisik, melukai dirinya sendiri seperti memukulkan benda pada anggota tubuhnya[18]. Hal ini dapat menjadi tantangan bagi orang tua untuk lebih sabar dalam membimbing, mengenali dan mengendalikan perasaan anak. ketidakkonsistenan dalam melibatkan anak juga merupakan salah satu faktor penghambat pola asuh, Sebagian orang tua yang tidak membiasakana anak dalam pengambilan keputusan di rumah merupakan penghambat dalam perkembangan kemampuan anak dalam hal negosiasi, menyampaikan pendapat dan belajar tanggung jawab.
2.Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-5 Tahun Di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage
Anak-anak di TK Kemala Bhayangkari mayoritas dalam keadaan kondisi sehat tanpa memiliki gangguan secara khusus, kondisi kesehatan yang baik ini juga manjadi salah satu dasar penting dalam pendukung tumbuh kembang sosial dan emosional anak secara optimal serta aktivitas atau kegiatan yang dilakukan anak. Misalnya, anak mudah beradaptasi dengan lingkungannya, saat awal masuk sekolah tahun ajaran baru yang biasa disebut dengan masa pengenalan lingkungan sekolah, anak-anak sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan dengan percaya diri masuk ke sekolah yang cukup diantar oleh orang tua sampai di depan gerbang sekolah. Rasa anak-anak memiliki rasa antusias yang sangat tinggi dalam melakukan kegiatan yang disediakan oleh sekolah saat masa pengenalan lingkungan sekolah tersebut. Kegiatan yang dilakukan saat pertama kali berupa pengenalan guru dan anak-anak. mereka memiliki rasa percaya diri yang kuat, mampu berkenalan didepan teman-temanya sambil menyebutkan namanya dengan suara yang lantang tanpa ada hal yang ditakutinya serta anak mampu melakukan kegiatan menjadi pemimpin membaca pancasila di dalam kelas sebelum memulai kelas. Anak-anak merasa gembira, senang, bahagia sebab pada hari itu mereka bertemu dengan banyak teman baru. Tidak hanya anak mudah dalam beradaptasi tetapi juga dapat mengikuti dan mematuhi aturan yang telah disepakati oleh anak-anak dan guru, misalnya saat kegiatan makan dan minum anak-anak diusahakan untuk tidak keliling-keliling saat makan, berbudaya antri dengan sabar tanpa mendahului temannya saat melakukan cuci tangan, bermain dan merapikan alat mainan di dalam kelas yang sudah digunakan, aturan saat memasuki kelas dengan melepas sepatu dan melakukan kegiatan circle time bersama-sama.
Sebagian besar anak-anak juga memiliki rasa ingin tahu yang besar saat melihat suatu benda yang belum pernah dijumpai oleh mereka, mereka mampu berbicara dan bertanya apabila saat diajak diskusi bersama dalam suatu kegiatan. Sikap tolong menolong dengan teman sebaya merupakan salah satu perkembangan sosial yang dapat berkembang sesuai harapan, misalnya temannya kesulitan mengambil suatu benda ada anak yang membantunya untuk mengambilkan. Ketika ada temannya yang terjatuh anak yang sedang bermain bersamanya pun bergegas untuk menolong dengan rasa empatinya yang tinggi dan membawanya untuk diberikan obat. Anak-anak dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman sebaya, misalnya saat bermain lego, balok, meronce,dan bombik mereka membuat sebuah circle kecil dengan berbagai temannya untuk menyelesaikan masalah seperti menyusun lego membentuk sebuah menara, membuat rumah-rumahan dari balok, serta menyusun bombik untuk dibentuk suatu benda. Hal ini mengakibatkan anak mampu untuk bersosialisasi, saling menghargai melatih kemampuan berbicara atau komunikasi, bekerja sama, tanggung jawab dan mampu menyelesaikan masalah dengan penyelesaian secara sederhana oleh anak. Anak yang menunjukkan sikap mandiri juga dapat memahami apa yang dibutuhkan pada dirinya, hal ini biasanya ditunjukkan saat anak mampu memakai sepatu sendiri, menyelesaikan kegiatan sekolah yang dilakukan tanpa bantuan, mampu merapikan diri sendiri, seperti menyimpan tas, sepatu dan topi. Benari berbicara dan menyampaikan pendapat yang ada dalam pemikirannya, berani menentukan pilihannya sendiri, mampu bertanggung jawab atas pilihannya dan berani bergaul dengan teman sebaya maupun orang yang lebih dewasa.
Emosional anak usia 4-5 tahun cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka, sikap marah, iri hati dan saling merebutkan mainan yang sering terjadi dan dijumpai oleh setiap anak, terkadang saat hal itu terjadi anak mampu menyelesaikan sendiri dengan rasa percaya dirinya untuk menyampaikan rasa tidak nyaman tersebut kepada temannya sehingga emosi yang dirasakan tidak sampai meluap besar yang berakibatkan bertengkar. Emosi dapat digolongkan dalam beberapa hal seperti, marah, senang, sedih, takut, terkejut, kasih sayang dan benci. Pada saat anak merasa sedih mereka akan menangis hingga tantrum saat hal yang membuatnya sedih tidak terpenuhi, namun beberapa anak di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage ini mereka dapat mengontrol kesedihan terhadap dirinya sehingga hanya sedih dalam waktu yang singkat dan tidak sampai tantrum. Misalnya saat pagi baru memasuki gerbang hatinya sudah merasa tidak nyaman dan menangis tidak ingin berangkat ke sekolah, namun anak dibiarkan menangis sehingga ia merasa capek dan ketika ditanya alasan tidak ingin sekolah memang sempat dimarahi oleh orang tua di rumah sehingga anak sakit hati dan bersedih yang mengakibatkan tidak ingin berangkat ke sekolah.
Mayoritas orang tua di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage menilai perkembangan sosial emosional anak berkembang dengan baik dan optimal, hal ini dapat ditunjukkan melalui anak mudah bergaul, mampu berinteraksi dengan teman sebaya, serta mulai belajar mengelola emosi terhadap dirinya sendiri. Meski demikian terdapat beberapa anak yang masih kesulitan misalnya mudah marah, memukul namun orang tua tetap mendampingi dan memberikan pengertian dengan penuh kesabaran. Pada lingkungan sosial juga tidak ada anak yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi, hampir semua anak sangat mudah untuk berinteraksi dengan orang baru serta memiliki percaya diri yang besar.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh demokratis, hal ini dapat terlihat dari kemampuan beradaptasi, interaksi sosial, kepatuhan terhadap aturan, rasa empati dan tolong menolong yang tinggi, kerjasama, percaya diri, tanggung jawab serta kemandirian sosial, mampu mengelola emosi secara terbuka namun cukup terkendali dengan baik dan sehat. Meskipun pola asuh demokratis lebih dominan, masih terdapat Sebagian kecil orang tua yang menerapkan pola asuh permisif maupun otoriter. Pola asuh permisif ditunjukkan dengan pemberian kebebasan penuh bagi anak untuk mengekspresikan emosi tanpa batasan, sedangkan pola asuh otoriter ditunjukkan melalui pemberian hukuman fisik, kedua pola asuh ini menimbulkan tantangan tersendiri dalam pembentukan regulasi emosi anak. Secara umum, perkembangan sosial emosional anak usia 4-5 tahun di TK Kemala Bhayangkari 99 wage dapat dikatakan berkembang baik dan optimal berkat dominannya penerapan pola asuh demokratis oleh orang tua. Namun penting bagi setiap orang tua untuk terus mendampingi, memberi stimulasi positif, serta menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung demi tercapainya perkembangan sosial emosional yang matang, selain itu orang tua harus tepat untuk memilih dan menerapkan pola asuh tehadap anak agar dapat berkembang aspek sosial emosionalnya pada usia 4-5 tahun secara baik dan optimal. Karena gaya pengasuhan orang tua terhadap anak akan mempengaruhi perkembangan anak, pola asuh yang baik akan membawa pengaruh yang baik pula begitupun dengan sebaliknya.
Mayoritas anak usia 4-5 tahun di TK Kemala Bhayangkari 99 Wage menunjukkan perkembangan sosial emosional yang baik dan optimal. Dalam aspek sosial, anak mampu berdaptasi dengan lingkungan baru, menjalin hubungan positif,mematuhi aturan, menunjukkan sikap empati, tolong menolong, bekerjasama serta kemandirian anak yang berkembang. Selain itu dalam aspek emosionalnya anak dapat mengekspresikan perasaan mereka dengan terbuka, baik rasa senang, sedih, marah, maupun kecewa. Meskipun masih terdapat anak yang mudah marah atau menangis, sebagian besar mampu mengendalikan emosi dengan baik dan menyelesaikan konflik secara mandiri.
Ucapan Terima Kasih
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan kasih sayang, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Dengan kerendahan hati, tiada kata yang dapat mewakili betapa besar rasa syukur ini, selain ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah menjadi bagian penting dalam proses perjalanan penulisan tugas akhir ini. Pertama, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada TK Kemala Bhayangkari 99 Wage atas kesempatan dan kerja sama yang diberikan selama proses penelitian berlangsung, serta bantuan informasi yang sangat membantu penulis dalam proses pengumpulan dan pengolahan data. Kedua, penulis ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya secara mendalam kepada orang tua dan siswa-siswi atas kerja sama, partisipasi dan dukungan untuk proses observasi dan pengumpulan data yang berperan penting dalam penelitian ini. Ketiga, penulis haturkan rasa hormat dan terima kasih kepada Bapak/Ibu dosen atas bimbingan, arahan,kesabaran, kerja sama dan waktu yang telah diluangkan. Dan yang terakhir penulis ucapkan terima kasih kepada orang tua dan kakak yang sangat disayangi atas motivasi, dorongan dan kontribusi senantiasa mendoakan serta memberi kasih sayang serta kekuatan untuk terus berusaha menjadi semakin lebih baik.
Lampiran Dokumentasi
Figure 3.
Figure 4.
[1] S. Anonim, “Pengaruh Lingkungan Keluarga terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini,” Jurnal Selaras Pendidikan Anak Usia Dini, 2024.
[2] J. G. Age and U. Hamzanwadi, “Perilaku Sosial Emosional Anak Usia Dini,” Journal Golden Age, vol. 4, no. 1, pp. 181–190, 2020, doi: 10.29408/jga.v4i01.2233.
[3] A. R. T. Dewi, M. Mayasarokh, and E. Gustiana, “Perilaku Sosial Emosional Anak Usia Dini,” Journal Golden Age, vol. 4, no. 1, pp. 181–190, 2020.
[4] A. R. Nisa, P. Patonah, Y. Prihatiningrum, and R. Rohita, “Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4–5 Tahun: Tinjauan Aspek Kesadaran Diri,” Journal Anak Usia Dini Holistik Integratif, vol. 4, no. 1, pp. 1–9, 2021, doi: 10.36722/jaudhi.v4i1.696.
[5] M. Y. Lubis, “Mengembangkan Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Bermain,” Generasi Emas, vol. 2, no. 1, pp. 47–58, 2019, doi: 10.25299/GE.2019.VOL2(1).3301.
[6] P. P. Sari and S. Mulyadi, “Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 4, no. 1, pp. 157–170, 2020.
[7] K. D. Dhiu and Y. M. Fono, “Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini,” Edukids Journal of Early Childhood Education Innovation, vol. 2, no. 1, pp. 56–61, 2022, doi: 10.51878/edukids.v2i1.1328.
[8] M. S. Ummah, “Peran Orang Tua dalam Pengasuhan Anak,” Sustainability Education Journal, vol. 11, no. 1, pp. 1–14, 2019.
[9] F. Rohayani, W. Murniati, T. Sari, and A. R. Fitri, “Pola Asuh Permisif dan Dampaknya kepada Anak Usia Dini,” Islamic EduKids Journal, vol. 5, no. 1, pp. 25–38, 2023, doi: 10.20414/iek.v5i1.7316.
[10] N. M. Aprily, S. A. Purwanti, and A. Prehanto, “Pola Asuh Demokratis terhadap Karakter Jujur Anak Usia Dini,” Jurnal PAUD Agapedia, vol. 6, no. 1, pp. 129–134, 2022.
[11] N. Izza and L. I. Mariyati, “Hubungan Pola Asuh Demokratis Orang Tua dengan Kesiapan Anak Masuk Sekolah Dasar,” UMSIDA Preprint Archive, pp. 1–9, 2021.
[12] S. Anonim, “Penggunaan Metode Kualitatif dengan Pendekatan Deskriptif Analitis dalam PAUD,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2025.
[13] A. Ahmad and M. Muslimah, “Memahami Teknik Pengolahan dan Analisis Data Kualitatif,” Proceedings of Palangka Raya International Conference on Islamic Studies, vol. 1, no. 1, 2021.
[14] D. H. Eem, E. Elminah, and Syafwandi, “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Perilaku Sosial Anak Usia Dini,” Jurnal Sosial Teknologi, vol. 2, no. 7, pp. 574–580, 2022.
[15] S. M. Sari et al., “Peran Pola Komunikasi Orang Tua terhadap Perkembangan Emosi Anak Usia 4–5 di Masa New Normal,” Jurnal Obsesi, vol. 6, no. 1, pp. 401–409, 2022, doi: 10.31004/obsesi.v6i1.1334.
[16] H. Ramelan and D. Suryana, “Analisis Kemampuan Kerjasama dalam Perilaku Sosial Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 4, no. 2, pp. 88–97, 2021.
[17] S. Anonim, “Memahami Pengasuhan Digital: Faktor Pendukung dan Tantangan bagi Orang Tua,” Journal Psikologi Pendidikan, 2025.
[18] S. Anonim, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketidakteraturan Perkembangan Sosial Emosional Anak,” Jurnal Prepotif Kesehatan Masyarakat, 2024.