Asna Dewiyanti (1), Anita Puji Astutik (2)
General Background Da’wah constitutes a fundamental pillar in the dissemination and internalization of Islamic teachings within society. Specific Background One form of da’wah that has grown in Indonesian Muslim communities is the majlis sholawat, which integrates devotional practices with religious education and social engagement. Knowledge Gap Although studies have examined da’wah through sholawat assemblies and religious arts, limited attention has been given to the structured strategies applied by the Shiddiqiyyah Sholawat Assembly within a local community context. Aims This study aims to analyze the da’wah strategies implemented in the Shiddiqiyyah Sholawat Assembly and to describe their role in religious life and social practices. Results Using a qualitative approach through literature study, field observation, and in-depth interviews, the findings show that the assembly applies emotional–spiritual approaches, educational activities, and social media utilization to convey Islamic messages. These strategies are associated with increased religious participation, deeper understanding of Islamic teachings, and strengthened social solidarity among participants. Novelty This study presents a contextual analysis of da’wah strategies centered on a specific sholawat assembly, highlighting the integration of spiritual expression, education, and community engagement. Implications The findings provide practical insights for da’wah practitioners and contribute to the development of adaptive Islamic preaching strategies aligned with contemporary social contexts.
Spiritual and emotional approaches shape community engagement
Educational sessions support religious understanding
Social activities strengthen communal solidarity
Islam merupakan agama dakwah, yaitu agama yang menugaskan umatnya untuk menyebarkan islam kepada seluruh umat manusia sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia, bila mana ajaran islam yang mencakup segenap aspek kehidupan dijadikan sebagai pedoman hidup dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Usaha menyebarluaskan islam dengan realisasi terhadap ajarannya yaitu dengan berdakwah.[1]
Dakwah pada hakikatnya adalah suatu seruan kebenaran kepada manusia yang segalanya ditujukan kepada Allah. Walaupun begitu dalam agama Islam tidaklah bersifat memaksa kepada manusia untuk mengikuti agama Islam dengan segala macam bentuk pemaksaan, akan tetapi Islam lebih bersifat persuasif dan meluruskan atau penyempurnaan.[2] Abdullah dalam artikelnya “Analisis SWOT Dakwah di Indonesia”, menyebutkan bahwa dakwah harus bertolak belakang dari perubahan sosial dan kondisi objektif kehidupan masyarakat dan umat. Maka disini peran dai dan organisasi dakwah perlu melakukan upaya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam mengatasi berbagai persoalan dakwah (Abdullah, 2012).[3]
Dakwah merupakan tugas mulia yang diemban oleh setiap Muslim untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia. Aktivitas dakwah tidak hanya terbatas pada penyampaian ceramah di masjid-masjid, tetapi juga melibatkan berbagai metode yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi sosial masyarakat.[4] Salah satu bentuk dakwah yang berkembang pesat di Indonesia adalah melalui majlis sholawat.
Keindahan dan seni dalam Islam termasuk didalamnya majlis sholawat bukan sekedar seni yang hanya mengalun atau terpampang dengan cover yang menarik, melainkan seni yang seharusnya memiliki makna spiritual, menyampaikan pesan yang lebih tinggi dalam setiap media ekspresinya. Di dunia modern ini seni seakan terdegradasi menjadi tak berarti, yang ada hanya seni yang mengejar kebebasan berekspresi material semata, mengabaikan esensi makna dan pesan moral luhur yang terkandung dalam ekspresinya. Sumber spiritual Islam dari Alquran dan Sunnah sebagian besar dilupakan. Seniman cenderung duniawi dalam ekspresi estetiknya (M.Sn dan Sumardjo 2021:66).[5]
Majlis sholawat Assidiqiyyah menawarkan pendekatan unik dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan melalui lantunan sholawat yang dipenuhi dengan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Majlis ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya umat Islam untuk melantunkan sholawat, tetapi juga sebagai sarana untuk mendalami ilmu agama, memperkuat tali silaturahmi, dan meningkatkan kualitas spiritualitas individu. Majlis sholawat Assidiqiyyah memadukan kegiatan ibadah dengan pendidikan agama, yang melibatkan tausiyah atau ceramah dari para ulama dan cendekiawan Muslim. Sesi-sesi ini memberikan pencerahan dan pemahaman mendalam tentang berbagai aspek ajaran Islam, mulai dari aqidah, fiqh, akhlak, hingga sejarah Islam. Melalui pendekatan ini, majlis sholawat Assidiqiyyah berhasil menarik minat berbagai kalangan masyarakat untuk terlibat aktif dalam kegiatan dakwah dan meningkatkan kualitas keagamaan mereka.
Strategi merupakan cara yang akan digunakan oleh seseorang atau kelompok untuk melakukan suatau kegiatan atau pekerjaan baik cara tersebut sudah direncanakan atau belum direncanakan sebelumnya (otodidak). Mintzberg, et.al. menyebutkan strategi sebagai usaha yang telah direncanakan oleh seseorang atau organisasi untuk mecapai apa yang mereka inginkan. Dua hal penting dari pengertian tersebut bahwa pertama strategi sebagai usaha, bahwa strategi dakwah yang dibuat oleh seorang da’i berbentuk sebuah usaha dimana usaha tersebut dapat berupa cara, keputusan, program, kebijakan, peraturan, dan lain sebagainya yang dimanfaatkan da’I untuk menyiarkan ajaran agama Islam. Kedua strategi perlu direncakan, strategi dakwah yang direncanakan dengan matang akan sangat bermanfaat bagi seorang da’i dalam hal meminimalisir kesalahan dan resiko saat pengaplikasian strategi dakwah. Strategi dakwah yang dibuat dapat berjalan secara terarah, seorang da’i tidak akan mengulangi beberapa tindakan atau aksi terkait dengan pengaplikasian strategi dakwah yang dilakukan, serta memudahkan seorang da’i dalam melakukan evaluasi terhadap strategi dakwah yang telah diaplikasikan.[6]
Strategi merupakan proses penentuan rencana para pemimpin yang memusatkan perhatian pada tujuan jangka panjang organisasi, dengan menyusun upaya bagaimana agar tujuan organisasi dapat dicapai. Dalam menentukan strategi,kita men-jawab pertanyaan ’‘kemana arah organisasi menuju”yang arah-nya akan dipahami juga para bawahan. Dalam menetapkan strategi, tidak hanya berimajinasi, tetapi kita juga merancang masa depan organisasi, mencari arah yang relevan bagi organisasi untuk meraih keberhasilan. Strategi juga memerlukan proses seleksi ide-ide secara pragmatis dari sumber daya yang dimiliki (uang, tenaga manusia, dan kemampuan organisasi).
Artikel yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Surianto,2020: "Dakwah Bershalawat Melalui Media Sosial Perspektif Hadis (Studi Kasus Prank Shalawat di Channel YouTube Gus Aldi)". Kesimpulannya: Artikel ini mengkaji metode dakwah shalawat melalui media sosial dengan pendekatan "prank" di channel YouTube Gus Aldi. Pendekatan ini menggabungkan unsur hiburan dengan dakwah, sehingga lebih menarik bagi audiens. Metode ini dianggap efektif dalam menarik perhatian dan partisipasi pengguna media sosial, meskipun tetap perlu berhati-hati agar tidak melanggar batas-batas syariat Islam.[7]
Artikel yang kedua adalah penelitian oleh Abdul Fatah Ark,2022: "Strategi Dakwah Majelis Dzikir dan Sholawat El Muhibbin dalam Menyebarkan Pesan Dakwah melalui Kesenian Hadrah”. Dan kesimpulan dari penelitian ini adalah: Penelitian ini membahas penggunaan kesenian Hadrah oleh Majelis Dzikir dan Sholawat El Muhibbin sebagai sarana dakwah. Strategi dakwah melalui seni Hadrah efektif dalam menyampaikan pesan-pesan agama karena menggabungkan unsur budaya dan religi. Metode ini berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat dan memperkuat pemahaman keagamaan mereka.[8]
Kedua artikel tersebut menyoroti berbagai pendekatan dalam strategi dakwah melalui majelis sholawat, baik melalui media sosial, kesenian tradisional, maupun dampaknya terhadap peningkatan kualitas ibadah dan ikatan sosial jamaah. Hal ini menunjukkan keberagaman metode dakwah yang dapat disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan masyarakat.
Dalam artikel ini, penulis akan mengkaji strategi dakwah yang diterapkan dalam majlis sholawat Assidiqiyyah yang berada di Desa Wanengpaten Rt/Rw 07/04, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, serta pengaruhnya terhadap kehidupan religius masyarakat. Penelitian ini akan mengidentifikasi metode-metode yang digunakan dalam majlis ini, serta dampak positif yang dirasakan oleh jamaah dalam peningkatan kualitas ibadah, pemahaman keagamaan, dan pemberdayaan sosial. Diharapkan kajian ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan strategi dakwah Islam yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Rumusan Masalah dari penelitian ini adalah:
1.Bagaimana strategi dakwah yang diterapkan dalam majlis sholawat Assidiqiyyah?
2.Bagaimana pengaruh majlis sholawat Assidiqiyyah terhadap peningkatan kualitas ibadah jamaah?
3.Bagaimana majlis sholawat Assidiqiyyah mempengaruhi pemahaman keagamaan jamaah?
4.Bagaimana peran majlis sholawat Assidiqiyyah dalam pemberdayaan sosial masyarakat
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1.Untuk menganalisis strategi dakwah yang diterapkan dalam majlis sholawat Assidiqiyyah.
2.Untuk mengidentifikasi pengaruh majlis sholawat Assidiqiyyah terhadap peningkatan kualitas ibadah jamaah.
3.Untuk mengevaluasi bagaimana majlis sholawat Assidiqiyyah mempengaruhi pemahaman keagamaan jamaah.
4.Untuk menilai peran majlis sholawat Assidiqiyyah dalam pemberdayaan sosial masyarakat.
Kegunaan dari penelitian ini adalah:
1.Kegunaan Teoritis
a.Menambah wawasan dan literatur mengenai metode dakwah melalui majlis sholawat, khususnya majlis sholawat Assidiqiyyah.
b.Memberikan kontribusi akademis dalam bidang studi dakwah dan komunikasi Islam.
2.Kegunaan Praktis
a.Memberikan panduan bagi para da’i dan pengelola majlis sholawat dalam mengembangkan strategi dakwah yang efektif.
b.Menyediakan informasi yang berguna bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kualitas ibadah dan pemahaman keagamaan melalui majlis sholawat.
c.Mendorong majlis sholawat lainnya untuk mengadopsi praktik-praktik yang sukses dari majlis sholawat Assidiqiyyah dalam kegiatan dakwah mereka.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan observasi lapangan untuk mengkaji strategi dakwah Islam melalui majlis sholawat Assidiqiyyah serta pengaruhnya terhadap masyarakat. Berikut adalah rincian metode yang digunakan:
1. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin memahami fenomena dakwah dalam konteks majlis sholawat Assidiqiyyah secara mendalam. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengkaji pengalaman, pemahaman, dan persepsi jamaah terhadap kegiatan dakwah di majlis tersebut.[9]
2. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan mengkaji literatur terkait dakwah, majlis sholawat, dan metode dakwah dalam Islam. Sumber-sumber literatur meliputi buku, jurnal ilmiah, artikel, dan karya tulis lainnya yang relevan dengan topik penelitian.[10] Studi pustaka ini bertujuan untuk memahami konsep-konsep dasar, teori, dan penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan strategi dakwah dan majlis sholawat.
3. Observasi Lapangan
Observasi lapangan dilakukan dengan mengikuti kegiatan majlis sholawat Assidiqiyyah di berbagai lokasi. Peneliti menghadiri majlis secara langsung untuk mengamati pelaksanaan kegiatan, interaksi antara jamaah, serta metode dakwah yang diterapkan. Observasi ini bertujuan untuk mendapatkan data empiris mengenai praktik dakwah di majlis sholawat Assidiqiyyah.[11]
4. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam dilakukan dengan beberapa tokoh utama dalam majlis sholawat Assidiqiyyah, seperti pemimpin majlis, ulama yang memberikan tausiyah, dan jamaah yang aktif. Wawancara ini bertujuan untuk menggali informasi lebih detail mengenai strategi dakwah, motivasi jamaah, serta dampak kegiatan majlis terhadap kehidupan mereka. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur untuk memberikan fleksibilitas dalam menggali informasi yang lebih mendalam.[12]
5. Analisis Data
Data yang diperoleh dari studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam dianalisis secara deskriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari data.[13] Data dianalisis untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan, yaitu mengenai strategi dakwah, peningkatan kualitas ibadah, pemahaman keagamaan, dan pemberdayaan sosial melalui majlis sholawat Assidiqiyyah.
6. Triangulasi Data
Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas penelitian, dilakukan triangulasi data dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dan metode.[14] Hasil observasi, wawancara, dan studi pustaka dibandingkan dan diverifikasi untuk memastikan konsistensi dan akurasi data.
Prosedur Penelitian
1. Persiapan Penelitian
- Menyusun proposal penelitian dan instrumen penelitian (pedoman wawancara, lembar observasi).
- Memperoleh izin dan persetujuan dari pihak terkait untuk melakukan observasi dan wawancara di majlis sholawat Assidiqiyyah.
2. Pengumpulan Data
- Melakukan studi pustaka untuk mengkaji literatur yang relevan.
- Menghadiri dan mengamati kegiatan majlis sholawat Assidiqiyyah.
- Melakukan wawancara mendalam dengan tokoh utama dan jamaah majlis.
3. Analisis Data
- Menganalisis data secara deskriptif untuk mengidentifikasi tema dan pola yang muncul.
- Melakukan triangulasi data untuk memverifikasi dan mengkonfirmasi temuan penelitian.
4. Pelaporan Hasil Penelitian
- Menyusun laporan penelitian berdasarkan analisis data yang telah dilakukan.
- Membahas temuan penelitian dalam konteks strategi dakwah Islam melalui majlis sholawat Assidiqiyyah dan pengaruhnya terhadap masyarakat.
Dengan metode penelitian ini, diharapkan penelitian dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai strategi dakwah dalam majlis sholawat Assidiqiyyah serta dampaknya terhadap peningkatan kualitas ibadah, pemahaman keagamaan, dan pemberdayaan sosial masyarakat.
1. Strategi Dakwah yang Diterapkan dalam MajlisSholawatAssidiqiyyah
Majlis Sholawat Assidiqiyyah menggunakan beberapa strategi dakwah yang efektif untuk menyampaikan ajaran Islam kepada jamaahnya:
a. Pendekatan Personal dan Emosional
Pendekatan ini melibatkan penggunaan lantunan sholawat yang diiringi dengan perasaan cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Lantunan sholawat yang penuh dengan kecintaan ini menciptakan suasana emosional yang mendalam, yang dapat menyentuh hati jamaah. Hal ini memudahkan para dai dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan dengan cara yang lebih personal dan menyentuh.
b. Pendidikan dan Pencerahan
Selain melantunkan sholawat, majlis ini juga menyediakan sesi tausiyah atau ceramah yang disampaikan oleh ulama dan cendekiawan Muslim. Sesi ini bertujuan untuk memberikan pencerahan dan pendidikan agama kepada jamaah, dengan topik-topik yang meliputi aqidah, fiqh, akhlak, dan sejarah Islam. Dengan demikian, jamaah tidak hanya mendapatkan pengalaman spiritual melalui sholawat tetapi juga pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran Islam.
c. Penggunaan Media Sosial
Untuk menjangkau audiens yang lebih luas, majlis ini memanfaatkan media sosial sebagai platform dakwah. Melalui video sholawat dan ceramah yang diunggah di YouTube dan platform media sosial lainnya, majlis ini berhasil menarik perhatian banyak kalangan, terutama generasi muda yang aktif di media sosial.
2. Pengaruh MajlisSholawatAssidiqiyyah terhadap Peningkatan Kualitas Ibadah Jamaah
Majlis Sholawat Assidiqiyyah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas ibadah jamaah:
a. Motivasi Beribadah
Jamaah yang rutin mengikuti majlis sholawat Assidiqiyyah menunjukkan peningkatan dalam semangat dan motivasi beribadah. Lantunan sholawat yang diiringi dengan suasana spiritual yang mendalam menumbuhkan kecintaan dan semangat dalam melaksanakan ibadah sehari-hari seperti sholat, puasa, dan zikir.
b.Kedisiplinan dalam Beribadah
Kegiatan rutin yang dilakukan dalam majlis, seperti sholawat bersama dan tausiyah, membantu jamaah untuk lebih disiplin dalam melaksanakan ibadah. Kehadiran dalam majlis secara teratur menciptakan pola kebiasaan positif yang mempengaruhi rutinitas ibadah harian jamaah.
3. Pengaruh MajlisSholawatAssidiqiyyah terhadap Pemahaman Keagamaan Jamaah
Majlis Sholawat Assidiqiyyah juga berperan penting dalam meningkatkan pemahaman keagamaan jamaah:
a. Pencerahan Melalui Tausiyah
Sesi tausiyah yang diadakan dalam setiap majlis memberikan pengetahuan yang mendalam tentang berbagai aspek ajaran Islam. Ceramah yang disampaikan oleh ulama dan cendekiawan Muslim memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang aqidah, fiqh, akhlak, dan sejarah Islam.
b. Diskusi dan Tanya Jawab
Selain ceramah, majlis ini juga sering mengadakan sesi diskusi dan tanya jawab yang memungkinkan jamaah untuk mengajukan pertanyaan dan mendapatkan penjelasan langsung dari para ulama. Hal ini membantu jamaah untuk lebih memahami dan menginternalisasi ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
4. Peran MajlisSholawatAssidiqiyyah dalam Pemberdayaan Sosial Masyarakat
Majlis Sholawat Assidiqiyyah juga memiliki peran penting dalam pemberdayaan sosial masyarakat:
a. Kegiatan Sosial dan Kemanusiaan
Majlis ini sering mengadakan kegiatan sosial seperti santunan kepada yatim piatu, bantuan kepada fakir miskin, dan kegiatan kemanusiaan lainnya. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya membantu masyarakat yang membutuhkan tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian sosial di antara jamaah.
b. Penguatan Ukhuwah Islamiyah
Melalui kegiatan bersama seperti berbuka puasa, kajian rutin, dan kegiatan sosial, majlis ini berhasil mempererat ukhuwah Islamiyah antar jamaah. Hal ini menciptakan komunitas yang solid dan saling mendukung dalam menjalankan ajaran Islam.
Ucapan Terima Kasih
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga artikel ini dapat terselesaikan dengan baik. Terima kasih kepada keluarga dan teman-teman atas dukungan moralnya. Kami juga berterima kasih kepada Majlis Sholawat Assidiqiyyah, pengurus, dan jamaah yang telah membantu selama penelitian ini. Ucapan terima kasih khusus untuk narasumber dan partisipan yang memberikan wawasan berharga. Kami menghargai bimbingan dari para dosen dan pembimbing yang telah memberikan arahan dan kritik membangun. Terima kasih juga kepada rekan peneliti dan staf akademik yang memberikan dukungan teknis serta perpustakaan yang menyediakan akses ke sumber informasi. Semoga artikel ini bermanfaat dan Allah SWT senantiasa memberkahi kita semua. Amin.
[1] U. Fatori, Strategi Dakwah Badan Kontak Majelis Taklim BKMT Provinsi Riau Dalam Menjalin Ukhuwah Islamiyah. Riau, Indonesia: 2018.
[2] A. Mujib and B. Sholihin, “Pattern and Strategy of Da’wah in Religious Moderation,” Journal of Islamic Communication Studies, vol. 3, no. 2, pp. 229–244, 2022.
[3] I. Istikomah, D. A. Romadlon, and B. Hariyanto, “Strategi Dakwah Muhammadiyah Melalui FKMMS Forum Komunikasi Masjid Muhammadiyah Sidoarjo,” Komunika Journal of Dakwah and Communication, vol. 14, no. 1, pp. 111–124, 2020, doi: 10.24090/komunika.v14i1.3341.
[4] E. Sumanto, “Pemikiran Dakwah M. Natsir,” Siducat Journal of Dakwah, vol. 2, no. 1, pp. 1–10, 2021.
[5] A. Yaqin, “Majelis Shalawat Dalam Perspektif Seni Seyyed Hossein Nasr Studi Kasus Majelis Shalawat Al Hasanain Genggong Probolinggo,” vol. 10, no. 1, pp. 1–15, 2024.
[6] A. Baidowi and M. Salehudin, “Strategi Dakwah Di Era New Normal,” Muttaqien Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, vol. 2, no. 1, pp. 58–74, 2021, doi: 10.52593/mtq.02.1.04.
[7] B. Haryanto, “Strategi Perguruan Tinggi Swasta Berbasis Agama Membangun Budaya Organisasi Untuk Meraih Keunggulan Kompetitif,” Halaqa Islamic Education Journal, vol. 3, no. 1, pp. 67–73, 2019, doi: 10.21070/halaqa.v3i1.2119.
[8] Surianto, “Dakwah Bershalawat Melalui Media Sosial Perspektif Hadis Studi Kasus Prank Shalawat Di Channel Youtube Gus Aldi,” Al Hikmah Journal of Dakwah, vol. 14, no. 2, pp. 161–174, 2020. [Online]. Available: https://jurnaliainpontianak.or.id/index.php/alhikmah/article/view/1882
[9] A. F. Ark and A. Asror, “Strategi Dakwah Majelis Dzikir Dan Sholawat El Muhibbin Melalui Kesenian Hadrah,” Icon Journal of Islamic Communication, vol. 1, no. 2, pp. 131–142, 2022.
[10] F. E. Jelahut, Aneka Teori dan Jenis Penelitian Kualitatif. Yogyakarta, Indonesia: 2022.
[11] A. E. Putri, “Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Sebuah Studi Pustaka,” JBKI Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia, vol. 4, no. 2, pp. 39–45, 2019, doi: 10.26737/jbki.v4i2.890.
[12] R. M. Simanjorang, “Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Pendidikan,” Jurnal Informatika Sumatera Utara, vol. 4, no. 2, pp. 45–53, 2023.
[13] E. Kurniawati, Y. Arafat, and Y. Puspita, “Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Melalui Manajemen Berbasis Sekolah,” Journal of Education Research, vol. 1, no. 2, pp. 134–137, 2020, doi: 10.37985/joe.v1i2.12.
[14] C. Rofiah, “Analisis Data Kualitatif Manual Atau Dengan Aplikasi,” Develop Journal of Community Development, vol. 6, no. 1, pp. 33–46, 2022, doi: 10.25139/dev.v6i2.4389.
[15] A. Alfansyur and Mariyani, “Penerapan Triangulasi Teknik Sumber Dan Waktu Pada Penelitian Pendidikan Sosial,” Historis Journal of Social Education, vol. 5, no. 2, pp. 146–150, 2020.