Login
Section Education

Think Pair Share Model for Cultural Literacy Learning Outcomes in Elementary IPAS


Model Think Pair Share untuk Hasil Pembelajaran Literasi Budaya di Sekolah Dasar IPAS
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Benita Batul Maulidiyah (1), Machful Indrakurniawan (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Cultural literacy and collaborative learning are essential competencies in elementary social and science education to prepare students for diverse societal contexts. Specific Background In grade IV IPAS classes at SDN Krian II, student achievement on cultural diversity material was low, with an average score of 50% and most learners not meeting the minimum mastery criteria. Knowledge Gap Conventional teacher-centered instruction limited student participation and discussion, indicating the need for a structured cooperative learning approach. Aims This study aimed to improve learning outcomes and cultural literacy through the application of the Think Pair Share model. Results Using Classroom Action Research with two cycles involving 34 students, mastery increased from 6% in the pre-cycle to 47% in Cycle I and 74% in Cycle II, with average scores rising from 50% to 64% and 79%. Novelty The study documents a cycle-based implementation of Think Pair Share in IPAS cultural diversity learning within an authentic elementary classroom context. Implications The findings support the integration of cooperative discussion stages to foster active participation and measurable academic progress in primary education settings.


Keywords: Think Pair Share, IPAS Learning, Cultural Literacy, Learning Outcomes, Classroom Action Research


Key Findings Highlights:




  1. Mastery level rose across two intervention cycles




  2. Average scores moved from low to sufficient category




  3. Cooperative discussion increased student participation



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pada era Global seperti saat ini, perkembangan zaman juga dapat mempengaruhi peradaban serta kehidupan sosial yang membuat nilai- nilai serta kearifan lokal budaya masing-masing daerah kian redup [1]. Sehingga memunculkan suatu dampak pada ketertarikan penerus bangsa Indonesia terhadap budaya yang sudah ada [2]. Selain itu, adanya gangguan dari sekelompok orang yang tidak menginginkan adanya perbedaan dari keragaman bangsa, bahasa, adat istiadat serta adanya keinginan membuka kekayaan budaya yang dipunya oleh bangsa ini [3]. Oleh karena itu, kemampuan dalam memahami keberagaman serta tanggung jawab warga negara yang merupakan bagian dari suatu bangsa termasuk kecakapan yang wajib dimiliki oleh setiap individu pada abad ke-21 ini [4].

Keberhasilan dalam suatu pembelajaran dapat membuktikan kesuksesan dari guru dan sekolah dalam Pendidikan. Namun sebaliknya, ketidakberhasilan dalam suatu pembelajaran membuktikan bahwa buruknya pembelajaran yang diberikan oleh guru dan sekolah dalam Pendidikan [5]. Hasil belajar merupakan suatu kemampuan yang didapat siswa setelah mengikuti sebuah kegiatan pembelajaran [6]. Menurut Sudjana (dalam Sukriswati, 2016) hasil belajar ialah kemampuan yang dimiliki siswa setelah melewati pembelajaran [7].

Berdasarkan hasil observasi serta wawancara yang dilakukan di SDN Krian II pada siswa Kelas IV, hasil belajar siswa pada pelajaran IPAS masih sangat rendah yaitu dengan rata rata skor 50%, terutama pada materi keberagaman budaya dikarenakan minimnya pengetahuan tentang keberagaman budaya sehingga menjadikan siswa kurang minat untuk mempelajari keberagaman budaya di Indonesia. Dengan adanya hal tersebut, menjadikan guru seringkali menyisipkan pembelajaran budaya lokal dalam proses pembelajaran IPAS dengan menyanyikan lagu nasional dan daerah, menyisipkan jadwal penggunaan bahasa lokal seperti bahasa Jawa dan bahasa Madura sebagaimana bahasa yang ada di lingkungan sekolah. Selain itu, guru juga memberikan edukasi siswa melalui poster-poster yang berisi keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia. Dengan begitu adanya hasil dari upaya tersebut, ketertarikan siswa terhadap keragaman budaya sedikit meningkat, tak banyak siswa yang sedikit demi sedikit mengetahui keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Keberagaman budaya yang dijadikan sebagai materi pembelajaran juga perlu diajarkan dengan baik melalui model pembelajaran yang tepat sehingga dapat mendukung tingkat berfikir siswa [8]. Namun dalam hal ini, masih diperlukan adanya strategi dalam meningkatkan hasil belajar siswa, guru juga perlu mengintegrasikan aktivitas yang melibatkan siswa secara aktif, seperti diskusi kelompok, pemetaan pemahaman, dan refleksi, untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa. Melalui pendekatan yang holistik dan berpusat pada siswa, pembelajaran di SD dapat menjadi proses yang menyenangkan, bermakna, dan mendukung peningkatan hasil belajar yang berkelanjutan. Salah satu model yang dapat diterapkan dalam rangka upaya dalam meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran TPS (Think, Pair, Share). Cohen (2014) menyatakan bahwa model pembelajaran TPS (Think, Pair, Share) merupakan model pembelajaran yang mendorong siswa untuk membangun pemahaman bersama melalui proses kolaborasi dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, keterampilan komunikasi,dan keterampilan sosial melalui diskusi dan refleksi kolaboratif. Sylvester (2020) menyatakan bahwa model pembelajaran TPS dapat membantu siswa membangun pemahaman dengan kolaborasi serta mengembangkan kemampuan sosial [9]. Strategi Think Pair Share merupakan suatu strategi diskusi berkelompok menggunakan konsep pendagogik yang bersifat partisipatif dengan melalui interaksi sosial, komunikasi dan kebersamaan yang berorientasi terhadap tindakan [10].

Dengan menggunakan strategi pengajaran inovatif seperti Think-Pair-Share (TPS) telah diciptakan untuk menjawab kesulitan-kesulitan tersebut guna membantu siswa menjadi pembaca yang lebih mahir. Siswa dapat berpikir secara mandiri, melakukan percakapan dengan pasangannya, kemudian mempresentasikan hasil percakapan tersebut kepada kelompok yang lebih besar dengan menggunakan model TPS, yang merupakan metode kolaboratif. Selain mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan mereka, metode ini juga menumbuhkan kemampuan mereka untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan memahami sudut pandang orang lain [11].

Adapun kelebihan model Think Pair Share yakni menciptakan situasi belajar yang komunikatif antar siswa yang mana siswa tersebut dapat berbagi informasi terhadap siswa lainnya yang masih didalam satu kelompok tersebut (Rianingsih dkk., 2019). Model Think Pair Share ini juga memberikan peluang terhadap siswa untuk mengembangkan proses dalam berpikir dan saling bertukar pendapat dalam menyelesaikan sebuah masalah yang ada. Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa model ini efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa dikelas [12]. Selain itu model Think Pair Share ini memiliki keunggulan lainnya yaitu dapat mendorong siswa dalam mengajukan sebuah pertanyaan mengenai kesulitan yang terdapat dalam materi yang sedang dibahas, secara tidak langsung hal ini dapat membuat siswa menjadi lebih aktif dikarenakan siswa tersebut akan dibagi menjadi kelompok kecil dan siswa dapat bertukar pikiran serta pendapat untuk memecahkan suatu permasalahan yang disajikan, sehingga siswa mempunyai rasa tanggung jawab lebih untuk mepresentasikan hasil diskusi kelompok dalam tahap Share tersebut[13].

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bloom (2010) mengemukakan bahwa hasil belajar mencakup ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif [14]. Sedangkan Hamalik (2001:30) mengemukakan bahwa hasil belajar didapat ketika seorang siswa telah terjadi perubahan setelah melakukan kegiatan belajar, seperti berawal tidak tahu menjadi tahu, serta dari tidak paham menjadi paham[15]. Hasil penelitian menurut DePorter (2014:32) model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share merupakan model pembelajaran yang berlangsung secara meriah dengan segala nuansanya [16]. Sedangkan menurut R.D Handayani & Yanti (2007) bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) dapat menjadikan siswa berfikir secara mandiri serta dapat diskusi bersama teman, selain itu juga dapat menjadikan siswa menjadi lebih aktif [17].

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPAS, salah satunya bisa menggunakan model Think Pair Share. Model ini merupakan salah satu cara guna menciptakan kerja sama siswa dalam kelompoknya, serta memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling bekerja sama. Dengan melalui tahapan “Think” yang berarti berfikir, siswa diberikan waktu untuk mencoba merenungkan sebuah masalah atau pertanyaan secara individu. Lalu pada tahap “Pair” yang berarti pasangan, siswa diarahkan untuk membentuk kelompok diskusi untuk menukarkan ide yang sudah di renungkan masing masing siswa. Pada tahap terakhir yaitu “Share” atau yang berarti berbagi, siswa diberi waktu untuk mempresentasikan hasil diskusi yang telah dilakukan didepan kelas. Dengan menggunakan pendekatan ini, siswa diharap mampu menunjukkan interaksi sosial yang positif, menumbuhkan rasa percaya diri serta mampu mengembangkan kemampuan dalam hal berkomunikasi antar siswa [18]. dengan adanya rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model Think Pair Share pada pembelajaran IPAS.

Metode

Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas ini berorientasi terhadap pemecahan masalah yang terjadi di dalam kelas [19]. Masalah bisa saja terjadi dikarenakan model atau metode dalam sebuah pembelajaran yang ada saat ini sudah tidak relevan dengan kebutuhan dari sasaran tersebut, lingkungan belajar, teknologi serta karakteristik [20].

Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu : Tes, Observasi dan Dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari lembar Tes, Modul Ajar dan juga lembar dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu analisis data kualitatif dan analisis data kuantitatif.

Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk memperoleh kesimpulan dari berhasilnya model Think Pair Share dalam proses pembelajaran. Analisis skor hasil dari nilai pretest dan posttest yang berjumlah 20 dapat dihitung menggunakan rumus berikut ini.

Figure 1.

hasil perhitungan skor yang diperoleh dicari nilai rata-rata, selanjutnya untuk melihat Presentase kriteria ketuntasan hasil skor yang diperoleh berpatokan pada tabel 2.

No. Skor Kriteria Ketuntasan Kategori Penilaian
1 > 85% Sangat Tinggi
2 80-84% Tinggi
3 75-79% Cukup
4 70-74% Rendah
5 < 69% Sangat Rendah
Table 1. Tabel 2. Presentase Skor Kriteria Ketuntasan

Penelitian ini dilaksanakan di SDN KRIAN II. Dengan subjek yang dimuat dalam penelitian ini merupakan seluruh siswa kelas IV dengan total 34 siswa, dimana jumlah siswa laki-laki 18 siswa dan jumlah siswa perempuan 16 siswa. Dimana ada 4 siswa yang dapat dikatakan tidak bisa membaca, yaitu 1 siswa yang belum bisa membaca, 1 siswa masih tahap mengeja dan 2 siswa yang sudah bisa membaca namun belum lancar. objek yang tertera dalam penelitian ini ialah upaya peningkatan Literasi Budaya dalam pembelajaran IPAS melalui model Think Pair Share. Dengan target rata rata skor diatas 80% dengan kategori penilaian tinggi.

Model Penelitian Tindakan Kelas yang di terapkan dalam penelitian ini yakni model PTK menurut Kemmis & Mc Taggart yang mempunyai 4 tahapan yaitu : 1. Perencanaan 2. Tindakan 3. Pengamatan dan 4. Refleksi [21]. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam bagan berikut ini.

Figure 2.

Gambar 1 : Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis & Mc Taggart

Pada tahap siklus pertama terdapat 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tahap perencanaan, peneliti akan menyusun RPP IPAS dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS), menyiapkan teks bacaan tentang budaya lokal dan lembar kerja siswa, menyusun instrument penelitian seperti soal pretest dan posttest tentang literasi budaya, serta menentukan indikator literasi budaya yang ingin di capai. Tahap pelaksanaan, peneliti ada 3 tahap yaitu yang pertama tahap Think, yang mana guru memberikan bacaan atau materi tentang budaya lokal, lalu siswa diminta untuk membaca dan berfikir secara mandiri. Yang kedua yaitu tahap Pair, yang mana siswa diminta berkelompok kecil untuk mendiskusikan hasil dari pemahaman mereka. Lalu tahap Share yaitu tiap kelompok diminta untuk menyampaikan hasil diskusi di depan seluruh siswa secara bergantian. Pada tahap pelaksanaan ini, guru memberikan arahan dalam kegiatan diskusi dan memberikan penguatan tentang nilai nilai budaya yang telah disampaikan oleh siswa.

Pada tahap pengamatan, peneliti akan mengamati keaktifan siswa dalam setiap tahapan TPS, mencatat partisipasi siswa dalam diskusi dan juga menyampaikan pendapatnya, dan juga merekam perubahan pemahaman siswa berdasarkan hasil post test dan pengamatan langsung. Pada tahap refleksi, peneliti menganalisis hasil pengamatan dan posttest, mengidentifikasi kekurangan pada pelaksanaan siklus 1, serta merencanakan perbaikan untuk siklus 2, seperti memberikan penguatan pada tahap Pair atau memberikan stimulus visual tambahan.

Pada tahap siklus kedua, di tahap perencanaan peneliti merevisi RPP dan media pembelajaran berdasarkan refleksi siklus 1, selain itu juga menambahkan strategi untuk meningkatkan keaktifan siswa saat berdiskusi dengan memberikan pertanyaan pemantik atau permainan budaya, serta menyusun instrument baru atau memperbaiki instrument yang telah digunakan sebelumnya. Pada tahap pelaksanaan, terdapat 3 tahap, yang pertama yaitu Tahap Think yang mana siswa membaca teks tentang budaya yang berbeda dari siklus 1 , tahap kedua yaitu Tahap Pair yang mana siswa diminta untuk mendiskusikan secara berkelompok kecil, pada tahap ketiga yaitu Tahap Share , siswa mempresentasikan dalam bentuk yang menarik seperti bentuk poster atau mini drama budaya. Tugas guru dalam tahap ini yaitu membimbing dan mengevaluasi kegiatan yang sedang dilakukan. Tahap selanjutnya yaitu Pengamatan, pada tahap ini peneliti mengamati peningkatan dari keterlibatan serta pemahaman siswa, mencatat peningkatan sikap toleransi dan apresiasi terhadap budaya lokal dan budaya lain, serta melakukan penilaian formatif dan sumatif. Dan pada tahap yang terakhir yaitu Tahap Refleksi, yang mana peneliti menganalisis peningkatan hasil posttest dan angket literasi budaya, menyimpulkan bahwa model Think Pair Share dapat meningkatkan literasi budaya siswa, serta menyusun rekomendasi untuk mengimplementasi lebih lanjut tentang mengembangkan model pembelajaran.

Hasil dan Pembahasan

A. Pra-Tindakan

Figure 3. Diagram 1. Presentase Hasil Belajar Siswa pada pra-siklus

Berdasarkan diagram di atas dapat digambarkan bahwa tingkat keberhasilan siswa kelas IV SDN Krian II yang dinyatakan tuntas hanya 2 siswa atau 6% dari 34 siswa, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 32 siswa atau 94%. Dengan nilai KKM sebesar 75, dengan rata rata berjumlah 50% yang mana artinya siswa kelas IV masih banyak yang belum tuntas dalam pembelajaran IPAS. Maka untuk memperbaiki proses pembelajaran ini, dibutuhkan penerapan model pembelajaran Think Pair Share yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga peneliti melaksanakan tindak lanjut dengan melaksanakan siklus I

B. Siklus I

Figure 4. Diagram 2. Presentase Hasil Belajar Siswa pada Siklus I

Berdasarkan gambar diagram di atas dapat dijelaskan bahwa jumlah siswa yang tuntas sebanyak 16 siswa atau 47% dan 18 siswa atau 53% yang tidak tuntas. Dengan nilai KKM sebesar 75, dengan rata rata 64% pada kategori sangat rendah dalam proses pembelajaran IPAS. Maka untuk memperbaiki hasil pembelajaran ini, peneliti melaksanakan tindakan lanjutan dengan melaksanakan siklus II.

C. Siklus II

Figure 5. Diagram 3. Presentase Hasil Belajar Siswa pada Siklus II

Dalam diagram diatas dapat dilihat presentase hasil belajar siswa bahwa jumlah siswa yang tuntas sebanyak 25 siswa atau 74% dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 9 siswa atau 26%. Dengan nilai KKM sebesar 75, dengan rata rata 79% pada kategori cukup dalam proses pembelajaran IPAS namun telah menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dengan menerapkan model Think Pair Share dalam pembelajaran IPAS pada siswa kelas IV SDN Krian II.

Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan sebagai bentuk upaya dalam peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPAS dengan menerapkan model Think Pair Share (TPS) yang mana dalam penerapan ini menjadikan siswa menjadi lebih cepat memahami materi keberagaman budaya melalui tahapan diskusi bersama teman dan membagikan pendapatnya [22]. Seperti penelitian yang dilaksanakan oleh Natalliasari (2013) yang mana dalam hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang signifikan dari pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap kemampuan penalaran dan pemecahan masalah [23].

Pembahasan dalam penelitian ini merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Peneliti memulai kegiatan penelitian ini dengan tindakan observasi dan wawancara terhadap wali kelas mengenai hasil belajar siswa. Informasi yang didapat peneliti dari hasil wawancara mengenai nilai siswa yang sangat rendah dari KKM, menjadikan banyak siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran IPAS ini. siswa yang tuntas dalam pembelajaran IPAS hanya berjumlah 2 siswa saja, sedangkan 32 siswa lainnya dinyatakan tidak tuntas. Dengan rata rata 50% yang berkategori masih sangat rendah. Hal ini menjadikan mengubah pemikiran guru tidaklah mudah, dikarenakan pengalaman mengajar guru tersebut sudah bertahun tahun dengan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersebut masih konvensional [24], yang mana pembelajaran ini masih berpusat pada guru, sehingga menjadikan proses belajar siswa menjadi mudah bosan. Dari hasil tersebut menjadikan peneliti melanjutkan dengan melaksanakan siklus I dengan memberikan perbaikan pada proses pembelajaran melalui model pembelajaran yang inovatif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa [17].

Pada siklus I ini, peneliti melakukan proses pembelajaran dengan menerapkan model Think Pair Share (TPS). Dengan pelaksanaan proses pembelajaran tersebut, terbukti adanya peningkatan terhadap hasil belajar siswa dengan presentase siswa yang tuntas mencapai 16 siswa atau 47% dari 34 siswa, sedangkan 18 siswa atau 53% lainnya masih belum tuntas. Dengan rata rata 64% yang berkategori masih sangat rendah. Hal ini membuktikan bahwa dengan adanya siklus I dalam penelitian ini belum berjalan dengan baik sehingga belum mencapai indikator ketuntasan yang ditentukan. Penyebabnya disebabkan karena siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) yang diterapkan oleh peneliti.

Setelah terlaksananya siklus I yang belum mencapai indikator ketuntasan, peneliti melanjutkan dengan pelaksanaan siklus II dengan tetap menerapkan model Think Pair Share (TPS) dalam materi Keberagaman Budaya di kelas IV. Adapun dalam siklus II ini menunjukkan peningkatan dari siklus sebelumnya, hal ini diperoleh dari presentase hasil belajar siswa yang mana sejumlah 25 siswa atau 74% dari total 34 siswa telah tuntas dan 9 orang siswa atau 26% siswa tidak tuntas. Dengan rata rata 79% yang berkategori cukup. Peningkatan ini merupakan pengaruh dari pemahaman siswa yang disebabkan oleh model pembelajaran yang di terapkan, yang mana siswa belum pernah mendapatkan variasi dalam model pembelajaran, salah satunya yaitu dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)[25]. Pembahasan tersebut merupakan bukti adanya peningkatan hasil belajar siswa dari penerapan Model Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran IPAS materi Keberagaman Budaya.

Sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Murni, H pada SD Negeri 19 Palembang yang menujukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) mempunyai dampak yang positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, dengan bukti pra siklus yang memperoleh presentase 45.16%, siklus I dengan presentase 70.97% dan siklus II dengan presentase 87.10%, ketuntasan pada siklus II mengalami peningkatan yang sangat baik [26]. Selain itu adapun penelitian yang dilakukan oleh Fahrozi,M pada MI Al-Khairiyah Kaliawi Bandar Lampung yang dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Think Pair Share mampu meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari peningkatan skala ketuntasan belajar siswa pada pretest hanya 43,75% yang tuntas, pada siklus I terjadi peningkatan sebesar 69,4% dan pada siklus II mencapai 86,7%. Dengan demikian, metode Think Pair Share terbukti efektif dalam peningkatan keterlibatan siswa, pemahaman materi, dan hasil belajar IPA secara menyeluruh [27].

Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti mengemukakan saran dan masukan agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Krian II yaitu dengan perancangan RPP yang sesuai, memberikan model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya model Think Pair Share sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, khususnya siswa yang belum bisa membaca diberikan bimbingan lebih intensif agar tidak menghambat proses pembelajaran kedepannya.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti di SDN Krian II maka dapat disimpulkan bahwa model Think Pair Share (TPS) dapat dijadikan model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan literasi budaya melalui hasil belajar siswa kelas IV dalam pembelajaran IPAS materi Keberagaman Budaya. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan presentase hasil belajar siswa kelas IV pada setiap siklus. Mulai dari pra tindakan yang hanya 2 siswa saja yang tuntas dengan rata rata 50% berkategori sangat rendah, setelah siklus I dilaksanakan terlihat adanya peningkatan terhadap presentase hasil belajar menjadi 16 siswa atau 47% siswa yang tuntas dengan rata rata 64% yang masih berkategori sangat rendah. Namun hal itu masih menunjukkan bahwa banyak siswa yang belum mengalami peningkatan sehingga menjadikan peneliti melakukan tindak lanjut dengan malaksanakan Siklus II. Pada siklus II jumlah siswa yang tuntas juga meningkat menjadi 25 siswa atau 74% siswa dengan rata rata 79% berkategori cukup.

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penelitiam ini dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. penulis juga menyampaikan terima kasih kepada yang sebesar-besarnya kepada kedua Orang Tua tercinta atas doa, kasih sayang, dan dukungannya yang tiada henti, serta kepada Dosen Pembimbing dan Dosen Penguji atas bimbingan, arahan, dan masukan yang sangat berharga. Tak lupa penulis ucapkan juga ucapan terimakasih kepada para staf dan rekan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo atas segala bantuan dan dukungannya. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada para siswa dan juga dewan guru SDN Krian II yang telah membantu penulis dalam kelancaran penelitian ini. Serta tak lupa ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada para sahabat yang selalu memberi semangat, dukungan dan doa dalam proses penyusunan karya ini. Semoga segala bantuan dan dukungan kebaikan yang telah diberikan mendapat berkah dari Allah SWT.

References

[1] A. C. O. R. Lake, H. F. Lipikuni, and K. S. Jenahut, “Development of Flipbook Learning Media of East Nusa Tenggara Folklore to Improve Students’ Cultural Literacy,” Cakrawala Journal, 2023.

[2] T. S. Nurazizah, Z. Ulfiah, and Y. Wahyuningsih, “Analysis of Social Studies Cultural Diversity Content in the Film Adit dan Sopo Jarwo,” Journal of Education, vol. 5, no. 2, pp. 2840–2847, 2023.

[3] F. D. C. Putri and N. Nurhasanah, “Implementation of Cultural and Civic Literacy in Elementary Schools,” JIMPS, vol. 8, no. 3, pp. 2167–2173, 2023.

[4] A. N. Fradana, Basic Literacy Toward a Literate Society. Ilmi Publisher, 2023.

[5] N. Ramadhan and Khairunnisa, “Use of Big Book Learning Media on Cultural Diversity,” Tarbiyah wa Ta’lim Journal, vol. 8, no. 1, pp. 49–60, 2021.

[6] S. Artama et al., Learning Outcomes Evaluation. PT Mifandi Mandiri Digital, 2023.

[7] M. Ariyanto, “Improving Science Learning Outcomes Using Scramble Model,” Profesi Pendidikan Dasar, vol. 3, no. 2, p. 133, 2018.

[8] I. Fuziani, T. Istianti, and M. H. Arifin, “Application of RADEC Model in Cultural Diversity Learning,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 5, no. 3, pp. 8319–8326, 2021.

[9] N. A. Bahar, M. Hamkah, and P. Prajabatan, “Application of TPS Model with CRT Approach,” Global Journal Teaching Professional, 2023.

[10] H. Wijaya, Think Pair Share Learning Model Based on Character Education. 2018.

[11] K. Sudiatmika and I. M. A. Winangun, “Think-Pair-Share for Student Literacy,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 5, no. 2, pp. 151–158, 2024.

[12] B. Sadipun, “Cooperative TPS to Improve Social Studies Achievement,” Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 1, pp. 11–16, 2020.

[13] O. Antoneta et al., “Use of Picture Media to Improve Student Learning Outcomes,” 2023.

[14] A. Yulianto, “Cooperative TPS to Improve Learning Outcomes,” Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, vol. 1, no. 2, pp. 6–11, 2021.

[15] A. M. Alfahmi and G. Gunansyah, “Cooperative TPS for Social Studies Learning,” JPGSD, vol. 2, 2014.

[16] S. M. Z. A. Rachman, “Implementation of Cooperative TPS in Social Studies,” Jurnal Pendidikan Dasar Flobamorata, vol. 2, pp. 226–236, 2021.

[17] N. P. M. Cahyani, N. Dantes, and N. W. Rati, “Cooperative TPS and Learning Outcomes,” Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, vol. 4, no. 3, p. 362, 2020.

[18] R. I. Leonardo, “Improving Student Cooperation Through TPS,” Jurnal Pendidikan Matematika, vol. 3, no. 1, p. 5, 2013.

[19] A. Kistian, “Problem Based Learning in Elementary School,” Genta Mulia Journal, vol. 10, no. 1, pp. 92–104, 2019.

[20] N. Rahman, N. K. Dewi, and N. Nurhasanah, “Pop-Up Book Media Development,” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidik, vol. 7, no. 3, pp. 1846–1852, 2022.

[21] P. B. Purba et al., Classroom Action Research. Yayasan Kita Menulis, 2021.

[22] A. A. N. Dinaqi, C. Rakhmat, and F. Nugraha, “TPS for Social Studies Learning,” SHES Conference Series, vol. 2, no. 2, p. 80, 2019.

[23] L. Jasdilla, U. Kuswendi, and S. Ramdhani, “Learning Outcomes and TPS,” Jurnal Pendidikan Indonesia, vol. 6, no. 1, pp. 96–105, 2017.

[24] D. W. Arukah, I. Fathurohman, and M. S. Kuryanto, “Improving Learning Outcomes Using TPS,” EduBase Journal, vol. 1, no. 2, p. 54, 2020.

[25] A. Purnomo and Suprayitno, “Improving Critical Thinking Skills,” Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 1, no. 2, 2013.

[26] H. Murni, “Improving Civics Learning Outcomes Through TPS,” Jurnal Pendidikan, vol. 16, no. 3, pp. 298–307, 2018.

[27] M. Fahrozi, “TPS Method in Science Learning,” Undergraduate Thesis, 2018.