Masyitah Ilmi Budiarti (1), Dwi Nastiti (2)
General Background Adversity Quotient reflects students’ capacity to cope with academic and psychosocial challenges during adolescence. Specific Background Junior high school students frequently encounter complex developmental demands that require psychological resilience, where optimism is assumed to play an important role. Knowledge Gap Empirical evidence on the relationship between optimism and adversity quotient among Indonesian junior high students remains limited, particularly within evolving educational contexts. Aims This study aimed to examine the correlation between optimism and adversity quotient among students at SMP X. Using a quantitative correlational design, data were collected from 132 students selected through stratified random sampling. Results Pearson correlation analysis revealed a significant positive relationship between optimism and adversity quotient (r = 0.385, p < 0.05), indicating that higher optimism is associated with stronger adversity quotient. Most students were categorized at moderate levels of both variables. Novelty This research provides updated empirical findings within a contemporary junior high school setting, considering current student characteristics and contextual dynamics. Implications The findings suggest that strengthening students’ optimism may support their capacity to face academic difficulties, encouraging schools to implement psychoeducational programs and collaborative support involving teachers and parents to foster psychological resilience
Keywords: Adversity Quotient, Optimism, Junior High Students, Psychological Resilience, Educational Psychology
Key Findings Highlights:
Optimism shows a significant positive association with students’ adversity quotient.
Most participants demonstrate moderate levels of both psychological variables.
Optimistic perspectives are linked with stronger coping capacity in academic contexts.
Pendidikan merupakan sebuah hal yang dianggap penting pada saat ini dikarenakan melalui pendidikan dapat tercipta individu yang cerdas dan dapat bersaing dengan individu lainnya [1]. SMP merupakan salah satu jenjang pendidikan yang ada di Indonesia. Siswa SMP sendiri termasuk kedalam kategori remaja, dimana salah satu ciri utama dari masa perkembangan remaja adalah adanya kegelisahan dan juga pertentangan diakibatkan proses mencari identitas diri, namun juga diikuti dengan keinginan yang besar untuk dapat mencapai potensi diri [2]. Selain itu, remaja adalah masa yang dekat dengan kenalan remaja, dimana banyak perilaku maladaptif yang terjadi seperti membolos, merokok, dan kenakalan remaja lainnya yang tidak jarang dilakukan sebagai bentuk coping terhadap masalah yang dihadapi siswa [3]. Masa remaja ini juga berpotensi menimbulkan beberapa permasalahan khususnya permasalahan akademik dimana apabila tidak teratasi dengan baik akan membuat remaja kesulitan menghadapi permasalahan tersebut.
Individu dalam proses kehidupannya akan selalu menghadapi beberapa permasalahan. Bagaimana individu merasakan dan menyikapi permasalahan yang dihadapi menjadi landasan ketahanan individu terhadap kesulitan tersebut [4]. Meskipun beberapa tekanan yang mampu memberikan perasaan stress, beberapa individu dapat bertahan, menghadapi, menguatkan, dan berhasil melewati beberapa tekanan tersebut dan menjalani hidup sebagaimana mestinya [5]. Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan masa remaja awal yaitu sebuah
masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, yang dicirikan dengan adanya tuntutan” di bidang akademik, sosial, dan emosional yang
lebih kompleks jika dibandingkan dengan masa perkembangan sebelumnya [6]. Sehingga muncul urgensi untuk mengkaji lebih dalam mengenai tingkat ketahanan siswa SMP, dimana ketahanan tersebut berkorelasi dengan tantangan yang dihadapi remaja, dan juga bisa berperan dalam kesehanan mental dari siswa SMP sehingga remaja dapat berperilaku lebih positif dalam menghadapi tantangan dan selanjutnya berhasil dalam menghadapi tantangan tersebut. Kemampuan untuk dapat menghadapi permasalahan dan tetap menjalankan hidup ini sering disebut sebagai adversity quotient.
Lebih lanjut, Adversity quotient dapat didefinisikan sebagai kegigihan dan ketangguhan yang dimiliki oleh seorang individu terhadap masalah sampai individu dapat menemukan solusi dan akhirnya mengatasi rintangan dan kesulitan yang dihadapi [7]. AdversityQuotientadalah penjelaskan mengapa beberapa individu dapat bertahan ketika berada dalam kesulitan dan beberapa individu lainnya menyerah atau melakukan beberapa perilaku maladaptif ketika dihadapkan dengan kesulitan [8]. Adversity Quotient juga terceminkan dalam sikap dan respon seseorang ketika dihadapkan kepada permasalahan bergantung kepada kondisi, situasi, masalah, dan juga emosi yang akan mempengaruhi bentuk penyelesaian dan perilaku apa yang akan dimunculkan individu [9].
Akan ada beberapa dampak negatif yang muncul ketika seorang remaja memiliki adversity quotient yang rendah. Remaja memang telah memiliki tingkat berpikir yang lebih baik dari masa perkembangan sebelumnya yaitu anak-anak, namun tidak jarang remaja juga mudah terpengaruh lingkungan, sehingga remaja akan sangat rentan melakukan kenakalan remaja [10]. Hal ini didukung oleh data BNN yang menjelaskan 20% dari sekitar 90 ribu orang pengguna narkoba merupakan remaja dan siswa sekolah [11]. Hal ini menandakan bahwa apabila remaja/pelajar tidak memiliki adversity quotient yang cukup, maka akan ada kecenderungan dimana mereka akan melakukan kenakalan remaja sebagai bentuk coping strategy yang sebenarnya lebih tergolong kepada perilaku maladaptif. Adversity quotient juga dalam bidang pendidikan berkorelasi secara signifikan kepada academic stress atau stress yang muncul akibat adanya tekanan selama proses akademik, individu dengan adversity quotient yang lebih tinggi cenderung menunjukkan tingkat yang lebih rendah academic stress yang dirasakan oleh siswa, sehingga dia dapat lebih fokus pada proses belajarnya [12]. Pencapaian dan prestasi dari siswa juga sangat bergantung kepada bagaimana siswa menghadapi permasalahan dalam proses belajarnya dan strategi apa yang akan dia terapkan untuk menghadapi permasalah tersebut [13]. Adversity quotient juga penting untuk dimiliki oleh siswa remaja dikarenakan dapat meningkatkan beberapa aspek psikologi positif seperti motivasi, kepercayaan diri, tujuan yang jelas, antusiasme, kreatifitas dan produktivitas [14]. Sebaliknya, siswa yang tidak dapat menghadapi dan menyusun strategi yang efektif untuk menghadapi permasalahan akan kesulitan dalam proses belajar yang dia jalani.
Stoltz adalah orang yang mencetuskan konstruk psikologis adversity quotient, dimana dia membagi kontruk tersebut menjadi 4 aspek yaitu aspek kendali (control), aspek daya tahan (endurance), jangkauan (reach), dan kepemilikian (origin/ownership). Aspek kendali dapat didefinisikan sebagai seberapa besar seseorang merasa dapat mengendalikan permasalahan yang dia hadapi. Semakin besar kendali yang dirasaan oleh individu, maka akan semakin besar pula kemungkinan individu tersebut dapat bertahan dan begitu juga sebaliknya.Selanjutnya aspek daya tahan dapat didefinisikan sebagai persepsi individu terkait seberapa lama sebuah masalah akan berlangsung. Individu dengan tingkat daya tahan yang tinggi cenderung lebih tangguh dalam menghadapi permasalahan. Aspek jangkauan dapat didefinisikan sebagai persepsi individu terkait seberapa jauh sebuah permasalahan akan berdampak kepada bidang-bidang lain dalam kehidupan individu tersebut. Semakin individu dapat mengendalikan permasalahan agar tidak merambah ke bidang kehidupannya lain, maka akan semakin tahan individu tersebut. Terakhir aspek kepemilikan yaitu bagaimana individu menilai siapa atau apa yang menjadi sumber masalah serta sejauh mana dirinya berperan dalam memengaruhi masalah tersebut. [15].
Beberapa penelitian terdahulu yang relevan juga membahas mengenai adversity quotient pada siswa SMP. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hidayah et al [16] terhadap 27 siswa SMP, maka dapat ditemukan sebanyak 9 siswa termasuk kepada kategori adveristyquotient yang rendah. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Utami et al [17] kepada 151 sampel penelitian menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 35 siswa berada pada kategori yang lebih rendah jika dibandingkan rekan sampelnya yang lain. Hal ini menandakan bahwa beberapa siswa SMP VII masih memiliki kendala adversity quotient yang rendah.
Fenomena rendahnya adversity quotient juga ditemukan pada siswa sekolah SMP X. Peneliti melakukan survei awal untuk mengukur tingkatan adversity quotient pada 5 siswa sekolah SMP X dengan memberikan kuesioner yang berdasar pada 4 aspek adversity quotient oleh Stoltz. Alternatif jawaban yang disediakan adalah ya dan tidak. Bedasarkan hasil survei awal yang dilakukan maka dapat ditemukan bahwa tiap siswa cenderung menjawab tidak terkait pernyataan diri yang menyatakan adversity quotient yang baik. Peneliti juga melakukan wawancara singkat dengan beberapa narasumber, dimana sebagian menunjukkan tidak adanya perilaku adversity quotient seperti merasa kesulitan dan tidak memiliki kendali ketika menghadapi tantangan (aspek control), tidak berusaha untuk memahami tantangan akademik secara mendalam (origin dan ownership), dan ada kecenderungan siswa akan merasa masalah tersebut akan berketerusan dan berpengaruh kepada kehidupannya secara keseluruhan (reachdanendurance).Hal ini menandakan bahwa terdapat kecenderungan adversityquotientyang rendah pada
sampel penelitan sehingga hal ini dapat menjadi justifikasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait adversity quotient pada siswa SMP X. Berikut hasil survei awal yang telah dilakukan.
Figure 1. Grafik 1. Survei Awal Penelitian
Bedasarkan beberapa literatur, optimisme memiliki hubungan dengan variabel adversityquotient[18]–[20]
. Optimisme dapat didefinisikan sebagai bentuk berpikir positif dimana individu percaya bahwasannya kebahagiaan akan muncul dari hal baik yang telah dilakukan, sehingga optimisme merupakan sebuah komponen yang penting dalam individu ketika dihadapkan dengan tekanan [21]. Adanya optimisme dapat membawa individu kepada tujuan yang diinginkan, mempercayai kemampuan yang dimiliki, dan sekaligus dapat membawa seseorang keluar dari permasalahannya dengan lebih cepat [22]. Sikap optimisme memegang peranan penting dalam proses pendidikan, sebab dengan adanya optimisme seseorang akan memiliki ketekunan yang lebih tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di lingkungan kelas maupun di luar kelas [23]
Menurut Seligman, Optimisme dapat tergambarkan melalui 3 dimensi yaitu permanen, pervasif, dan personalisasi. Dimensi permanen merupakan gambaran bagaimana individu melihat permasalahan yang dihadapi apakah bersifat sementara atau tetap. Orang yang merasa pesimis akan memiliki kecenderungan untuk melakukan pengelihatan permasalahan sebagai sebuah hal yang tetap sedangkan individu yang optimis akan melihat permasalahan sebagai sebuah hal yang sementara dan akan tergantikan dengan hal baik. Selanjutnya dimensi pervasif yang menggambarkan pola pikir individu terhadap dampak suatu masalah terhadap kehidupannya. Individu yang pesimis melihat bahwa sebuah masalah akan berdampak kepada kehidupannya secara keseluruhan, sedangkan individu yang optimis akan melihat masalah bukan hanya dari sisi negatif tetapi juga pada sisi positif yang dapat berdampak kepada kehidupannya. Terakhir, dimensi personalisasi merupakan dimensi yang menggambarkan yaitu bagaimana individu mempersepsikan sumber masalah yang terjadi apakah terjadi karena faktor internal individu atau eksternal individu. Orang optimis akan memiliki kecenderungan melihat kejadian baik bersifat internal sedangkan kejadian buruk bersifat eksternal [24].
Septiana dan Arifiana dalam penelitiannya pada mahasiswa yang bekerja menemukan adanya korelasi positif yang signifikan antara optimisme dengan adversity quotient (r=0,760, p<0,001) [25]. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Ismei dengan populasi siswa SMA menemukan bahwa optimisme dan adversity quotient berkorelasi secara positif dan signifikan (r=0,755, p<0,001) [26]. Penelitian yang dilakukan Rahayu et al pada populasi siswa SMA juga menemukan bahwa optimisme dan adversity quotient dapat berkorelasi secara positif dan signifikan (r=0,787, p<0,001) [27]. Beberapa penelitian terdahulu tersebut menunjukkan bahwa optimisme dan adversity quotient memiliki keterkaitan yang signifikan, namun demikian tetap diperlukan beberapa penelitian empiris terbaru untuk menguatkan posit tersebut. Adapun beberapa nilai kebaruan dari penelitian ini adalah karakteristik, budaya, dan era yang terus berkembang pada sampel penelitian sehingga memungkinkan adanya hasil yang mungkin dapat memberikan pandangan baru kepada kajian adversity quotient pada siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur korelasi antar variabel x optimisme dan y adversity quotient pada siswa di SMP X. Peneliti mengajukan hipotesis bahwa ada hubungan positif antara optimisme dan adversity quotient pada subjek penelitian ini.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional untuk mengukur hubungan antara variabel X (optimisme) dan variabel Y (adversity quotient). Populasi penelitian berjumlah 201 siswa SMP X, yang terdiri atas 72 siswa kelas VII, 52 siswa kelas VIII, dan 77 siswa kelas IX. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan tabel Krejcie-Morgan dengan taraf signifikansi 0,05, sehingga diperoleh ukuran sampel sebanyak 132 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling, dengan distribusi sampel sebanyak 47 siswa dari kelas VII, 34 siswa dari kelas VIII, dan 51 siswa dari kelas IX.
Alat ukur yang digunakan menggunakan 2 skala psikologi yaitu skala optimisme dan adversity quotient yang mengadposi dari penelitian sebelumnya. Skala optimisme mengadopsi dari penelitian oleh Bangun [24] dan mengacu pada teori optimisme selignman dengan aspek permanen, pervasif, dan personalisasi. Hasil tryout dan uji validitas dan reliabilitas yang dilakukan oleh peneleiti menunjukkan alat ukur reliabel dengan nilai reliabilitas α = 0,890 dan total aitem valid 25 aitem. Selanjutnya skala adversity quotient mengadopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Rahayu [15] dan mengacu pada teori adversity quotient Stoltz yaitu kendali, daya tahan, jangkauan, dan kepemilikan. Setelah dilakukan tryout dan uji validitas dan reliabilitas, alat ukur dianggap valid dan reliabel dengan nilai reliabilitas α = 0,828 dengan total aitem yang valid sebanyak 16 aitem . Alat ukur penelitian terdiri dari 4 alternatif yang bergerak dari Sangat Tidak Setuju (STS) hingga Sangat Setuju (SS). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi pearson product moment correlation. Software yang digunakan untuk melakukan analisa data dalam penelitian ini adalah program JASP versi 18.2.
Berdasarkan pengambilan data yang sudah dilakukan, berikut data demografi dari sample yang telah dikumpulkan.
Figure 2. Tabel 1. Data Demografi
Berdasarkan tabel tersebut, maka dapat ditemukan bahwa jumlah antara siswa laki-laki dan perempuan tidak terlalu jauh dengan selisih sebanyak 6 orang. Selanjutnya juga ditemukan bahwa anggota terbanyak dari sampel ada siswa kelas IX dengan total 51 orang.
Berikut uji asumsi normalitas yang telah dilakukan dengan menggunakan metode shapiro wilk
Figure 3.
Uji normalitas dengan metode Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data penelitian terdistribusi normal, ditunjukkan dengan nilai p-value sebesar 0,902. Nilai tersebut memenuhi kriteria normalitas karena lebih besar dari 0,05 (p > 0,05). Dengan demikian, data layak digunakan untuk tahap pengujian hipotesis dengan sebaran membentuk kurve normal.
Selanjutnya dilakukan uji Linearitas untuk mengukur apakah terdapat hubungan linear antara variabel x dan
y. Berikut hasil uji linearitas yang telah dilakukan:
Figure 4. Tabel 3. Uji Linearitas
Berdasarkan pengujian yang dilakukan, ditemukan bahwa optimisme dan adversity quotient memiliki hubungan linear yang signifikan (p-value < 0,05). Dengan demikian, dapat dipastikan kedua variabel berhubungan secara linear.
Berikut hasil uji korelasi dengan menggunakan metode pearson correlation
Figure 5. Tabel 3. Uji Korelasi Pearson
Uji korelasi dengan uji pearsoncorrelation menghasilkan hubungan positif signifikan antara kedua variabel (r = 0,385; p < 0,05). Sehingga semakin tinggi salah satu, maka akan tinggi pula variabel lainnya.
Kategorisasi data penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus kategorisasi berikut :
Keterangan
M : Nilai Mean
Sd : Standar Deviasi
Maka selanjutnya dapat ditentukan kategorisasi data penelitian yang didapatkan adalah sebagai berikut :
Berdasarkan data penelitian, maka dapat ditemukan bahwa populasi memiliki tingkatan kategorisasi pada variabel optimisme sebagai berikut : Rendah sebanyak 20 orang, menengah sebanyak 92 orang, dan tinggi sebanyak 20 orang. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa siswa masih menunjukkan tingkat optimisme yang rendah, sehingga dapat dilakukan analisis lebih lanjut pada penelitian selanjutnya mengenai data ini.
Selanjutnya pada data adversity Quotient, dapat ditemukan bawa populasi penelitian memiliki tingkatan kategorisasi sebagai berikut : Rendah sebanyak 22 Orang, menengah sebanyak 92 orang, dan tinggi sebanyak 18 orang. Data ini menunjukkan bahwa beberapa siswa memiliki tingkatan adversity quotient yang lebih rendah jika dibandidngkan dengan rekan populasinya. Sehingga hasil ini bisa menjadi referensi penelitian selanjutnya untuk meneliti adversity quotient pada populasi ini.
Analisis data menunjukkan hubungan positif signifikan untuk optimisme terhadap adversity quotient (r = ,385; p < 0,05). Sehingga ada hubungan linear dan searah mengenai meningkatnya variabel x dan y dan sebaliknya. Sehingga hipotesis penelitian ini terbukti benar.
Berdasarkan hasil studi sebelumnya juga menunjukkan hasil relevan, Sudata [28] melaportkan hubungan positif antara kedua variabel pada siswa. Selanjutnya penelitian oleh Afrianti [29] juga menghasilkan hubungan signifikan positif antar variabel x dan y. Adapun Muslimah dan Satwika [30] dengan subjek penelitian yang sama dengan penelitian ini juga menemukan hasil yang sama.
Individu dengan tingkat optimisme yang tinggi akan memiliki harapan yang baik dan berpandangan semua yang terjadi didalam kehidupan dapat diatasi meskipun terlihat berat [31]. Siswa dengan optmisme yang tinggi ketika menemukan masalah dalam kehidupan akademiknya, seperti nilai ujian yang buruk, mendapatkan feedback yang negatif, atau mengalami masalah dalam hal lainnya akan lebih mudah untuk memproses dan menghadapi masalah tersebut. Kecerdasan seseorang dalam menghadapi masalah sebagian besar dipengaruhi oleh keyakinan positif individu tersebut kepada masalah tersebut dan pandangannya juga kepada masa depan [32]. Sehingga keyakinan positif atau optimisme siswa akan mempengaruhi kecerdasannya dalam menghadapi masalah.
Adversity quotient sebagai bagian dari respon individu terhadap kesulitan tidak terlepas pula dari bagaimana cara pandang individu tersebut kepada kehidupannya [33] sehingga siswa yang memiliki cara pandang yang baik terhadap kehidupannya, baik secara akademik ataupun secara keseluruhan akan cenderung memiliki adversity quotient yang baik. Optimisme juga berkaitan dengan cara pandang yang realistis kepada permasalahan, sehingga memungkinkan seseorang untuk melihat permasalahan secara objektif [34]. Adanya optimisme pada siswa tentunya dapat membuat siswa melihat permasalahan sebagai sebuah hal yang objektif dan realistis, sehingga selanjutnya dapat mengambil tindakan sesuai dengan hal yang dia hadapi, dan menunjukkan advesity quotient dalam prosesnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel terbanyak adalah siswa perempuan dengan total 69 siswa. Hal ini mungkin dapat mempengaruhi hasil dari penelitian ini sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Somaratne et al [35], yang menemukan bahwa faktor demografi seperti jenis kelamin dapat memberikan kontribusi peningkatan prediksi adversity quotient pada individu. Meskipun, secara individual, jenis kelamin tidak memberikan dampak yang signifikan secara individual.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan diantaranya metode penelitian yang sederhana, sehingga disarankan penelitian selanjutnya menggunakan metode regresi linear atau penelitian terkait. Selanjutnya penelitian ini juga hanya menggunakan 2 variabel sehingga disarankan penelitian selanjutnya menggunakan 3 atau lebih variabel untuk menganalisis lebih dalam mengenai variabel adveristy quotient.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara optimisme dengan adversity quotient pada siswa SMP X. Temuan tersebut sejalan dengan hipotesis yang diajukan, yaitu terdapat keterkaitan yang signifikan antara kedua variabel, sehingga hipotesis penelitian dapat diterima. Berdasarkan temuan ini, peneliti merekomendasikan perlunya upaya untuk meningkatkan optimisme siswa, misalnya melalui program pelatihan dan psikoedukasi. Sekolah bersama guru dapat berkolaborasi dengan lembaga konseling serta orang tua siswa dalam menyelenggarakan psikoedukasi maupun seminar untuk mendukung peningkatan optimisme. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi riset-riset berikutnya yang membahas mengenai adversity quotient, sehingga pemahaman mengenai konsep ini dapat dikembangkan secara lebih mendalam dan menyeluruh.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi siswa dalam meningkatkan adversity quotient melalui pengembangan sikap optimis, misalnya dengan berpartisipasi dalam kegiatan positif seperti ekstrakurikuler sekolah maupun aktivitas remaja lainnya. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan mendorong pihak sekolah untuk menyediakan layanan pendidikan yang lebih berkualitas sebagai upaya mendukung peningkatan adversity quotient siswa. Untuk penelitian berikutnya, disarankan agar melibatkan variabel lain yang memiliki keterkaitan dengan adversity quotient sehingga kajian mengenai topik ini dapat lebih mendalam dan komprehensif.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Kepala Sekolah SMP X yang telah memberikan izin pelaksanaan penelitian di lingkungan sekolah tersebut. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada para wali siswa serta siswa yang telah berpartisipasi dan berkontribusi dalam penelitian ini.
[1] D. Atrizka, K. Sanjaya, D. Vanthera, W. Wulandari, K. S. Limbong, and R. Yusfasari, “Differences in Adversity Quotient Based on Coping Stress and Self-Efficacy,” Psyche 165 Journal, vol. 13, no. 2, pp. 263–268, 2020, doi: 10.35134/jpsy165.v13i2.89.
[2] S. L. Nishfi and A. Handayani, “Social Support and Adolescent Adjustment at SMA Pondok Modern Selamat 2 Batang,” Journal of Psychology Perspective, vol. 3, no. 1, 2021, doi: 10.47679/jopp.311132021.
[3] N. K. C. Cahyadewi and L. K. A. Susilawati, “Social, Family, and Psychological Factors of Juvenile Delinquency: A Literature Review,” RIGGS Journal of Artificial Intelligence and Digital Business, vol. 4, no. 2, pp. 7493–7500, 2025, doi: 10.31004/riggs.v4i2.1882.
[4] A. A. Padli, S. Marwiyah, and H. Kulle, “Adversity Quotient of Islamic Junior High School Students Based on Boarding Status,” Journal of Teacher and Learning Studies, vol. 7, no. 1, pp. 104–113, 2024, doi: 10.30605/jsgp.7.1.2024.3044.
[5] E. D. Aprilia, “Adversity Quotient of Late Adolescence,” Proceedings of ICECED, pp. 332–343, 2018.
[6] N. A. A. Sulhan, “Adolescent Development Periodization,” Behavior Journal, vol. 1, no. 1, pp. 9–36, 2024.
[7] M. N. Refizal and D. Nastiti, “Adversity Quotient and Learning Motivation,” Indonesian Journal of Innovation Studies, vol. 13, no. 2, pp. 1–12, 2020, doi: 10.21070/ijis.v5i0.1590.
[8] Y. Wardani and A. Mahmudi, “Vocational Students’ Adversity Quotient Toward Mathematics,” Journal of Physics: Conference Series, vol. 1320, p. 012062, 2019, doi: 10.1088/1742-6596/1320/1/012062.
[9] H. R. Juwita, Roemintoyo, and B. Usodo, “Adversity Quotient in Education: A Literature Review,” International Journal of Educational Methodology, vol. 6, no. 3, pp. 507–515, 2020, doi: 10.12973/ijem.6.3.507.
[10] A. Mahesha, D. Anggraeni, and M. I. Adriansyah, “Juvenile Delinquency: Causes, Impacts, and Solutions,” Primer Journal of Multidisciplinary Studies, vol. 2, no. 1, pp. 16–26, 2024.
[11] A. Singh, K. Sharmila, and S. Agarwal, “Strategies Used by Adolescents to Overcome Adversity,” Asian Pacific Journal of Health Sciences, vol. 9, no. 2, pp. 221–225, 2022.
[12] P. E. E. Aung and A. A. San, “Adversity Quotient and Academic Stress,” Journal of Myanmar Academy of Arts and Science, vol. 18, no. 9B, pp. 647–658, 2020.
[13] D. V. Sigit, A. Suryanda, E. Suprianti, and I. Z. Ichsan, “Adversity Quotient, Gender, and Learning Outcomes,” International Journal of Innovative Technology and Exploring Engineering, vol. 8, no. 6, pp. 34–37, 2019.
[14] H. Jumareng and E. Setiawan, “Self-Esteem, Adversity Quotient, and Self-Handicapping,” Cakrawala Pendidikan, vol. 40, no. 1, pp. 147–157, 2021.
[15] I. F. Rahayu, Adversity Quotient and Achievement Motivation Moderated by Gender. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim, 2018.
[16] M. L. A. Hidayah, A. Mashuri, and A. D. Rahmawati, “Algebraic Thinking Ability Viewed from Adversity Quotient,” Jendela Matematika Journal, vol. 2, no. 1, pp. 67–74, 2024.
[17] O. W. Utami, Y. Fitriani, and Y. W. Pertiwi, “Adversity Quotient and School Wellbeing,” Adiba Journal of Education, vol. 4, no. 4, pp. 51–61, 2025.
[18] D. P. Rahmadina, R. R. Jamain, and N. Novitawati, “Optimism and Social Support Toward Adversity Quotient,” Konselor, vol. 12, no. 3, pp. 119–125, 2023.
[19] D. R. Hariyati and D. K. Dewi, “Optimism and Adversity Quotient Among Fresh Graduates,” Character Journal of Psychology Research, vol. 8, no. 8, pp. 153–164, 2021.
[20] M. R. Khair, Work Motivation, Optimism, and Adversity Quotient of Honorary Teachers. Medan: Universitas Medan Area, 2024.
[21] M. Biagi, M. Uyun, and F. Palembang, “Self-Concept, Optimism, and Confidence,” Motivation Journal of Psychology, vol. 6, no. 1, pp. 35–43, 2023.
[22] R. N. Sidabalok, W. Marpaung, and Y. S. Manurung, “Optimism and Self-Esteem in Senior High Students,” Philanthropy Journal of Psychology, vol. 3, no. 1, p. 48, 2019.
[23] A. Nurmalasari and R. Isfahani, “Learning Motivation, Future Optimism, and English Achievement,” Journal of Education Review and Research, vol. 4, no. 1, pp. 6–13, 2021.
[24] A. S. Bangun, Optimism and Science Achievement. Pekanbaru: Universitas Lancang Kuning, 2016.
[25] D. Septiana, Suroso, and I. Y. Arifiana, “Adversity Quotient in Working Students,” Inner Journal of Psychology Research, vol. 2, no. 4, pp. 734–742, 2023.
[26] M. Ismei, “Optimism and Adversity Quotient,” Journal of Psychological Research, vol. 6, no. 1, pp. 1–7, 2019.
[27] P. E. Rahayu, F. S. Ade, and H. Gunawan, “Optimism and Adversity Quotient,” Journal of Education, vol. 5, no. 2, pp. 4849–4860, 2023.
[28] G. Sudata, Optimism and Adversity Quotient of Senior High Students. Padang: Universitas Putra Indonesia YPTK, 2024.
[29] D. Afrianti, Optimism and Adversity Quotient of Grade XI Students. Padang: Universitas Putra Indonesia YPTK, 2024.
[30] I. Muslimah and Y. W. Satwika, “Optimism and Adversity Quotient,” Character Journal of Psychology Research, vol. 6, no. 1, 2019.
[31] O. N. Ifania and I. Sugiasih, “Optimism and Adversity Quotient in Working University Students,” Psisula Proceedings, vol. 3, pp. 284–292, 2021.
[32] B. Setyadi and C. H. Seotjiningsih, “Optimism and Adversity Intelligence,” Journal of Guidance and Counseling, vol. 13, no. 3, 2022.
[33] L. G. Nasution, Optimism and Adversity Quotient in Thesis Completion. Pekanbaru: UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 2019.
[34] C. Anggreani, Interpersonal Communication, Optimism, and Adversity Quotient. Medan: Universitas Medan Area, 2021.
[35] C. S. N. Somaratne, L. N. A. C. Jayawardena, and B. M. K. Perera, “Adversity Quotient and Perceived Stress of Managers,” Kelaniya Journal of Management, 2020, doi: 10.4038/kjm.v8i2.7603.