Rifatul Fitriya Dewiningsih (1), Moch.Bahak Udin By Arifin (2)
General Background: Character education in elementary schools plays a fundamental role in shaping disciplined and socially responsible learners. Specific Background: Students at the elementary level often demonstrate tardiness, rule violations, and limited social awareness, indicating weaknesses in discipline and social character development. Knowledge Gap: Although various character-building activities have been implemented in schools, limited studies examine how systematic program management contributes to strengthening both discipline and social character simultaneously. Aims: This study aims to analyze the management of the Good Habits program in fostering student discipline and social character at SDS Muhammadiyah Ngoro. Results: Using a qualitative descriptive case study with observation, structured interviews, and documentation, the findings reveal that structured planning, implementation, and evaluation of activities such as morning greetings with 5S, Dhuha prayer, Healthy Friday, Charity Friday, Quran recitation monitoring, and congregational worship supervision are associated with improved punctuality, rule compliance, responsibility, empathy, and respectful interaction among students. Novelty: The study highlights an integrated school management approach that systematically organizes habitual character-based activities within a collaborative framework involving teachers and parents. Implications: These findings provide practical insights for elementary school management in designing structured character programs to cultivate disciplined behavior and strong social values among learners.
Keywords: Good Habits Program, Discipline, Social Character, Elementary School Management, Character Education
Key Findings Highlights:
Structured school planning and evaluation procedures support consistent character-building routines.
Regular religious and social activities are associated with improved punctuality and responsibility.
Collaborative involvement of teachers and parents sustains positive behavioral development.
Dalam membangun karakter dan jati diri penerus bangsa diperlukan usaha yang terarah dan berkelanjutan. Pentingnya karakter dibentuk dengan baik yakni dapat membentuk pribadi yang tidak hanya pandai secara akademis, tetapi juga cerdas secara moral dan emosional. Pendidikan merupakan salah satu jalan untuk membentuk martabat, karakter, serta wawasan manusia. Pendidikan juga merupakan pondasi yang penting untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berbudi pekerti luhur[1]. Lembaga pendidikan formal yang pertama kali akan diterima oleh anak-anak adalah sekolah maka dari itu untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut diperlukan adanya peran penting dari guru serta lembaga sekolah untuk berupaya mengoptimalkan karakter yang baik bagi peserta didik.
Problematika siswa yang masih menjadi sebuah kebiasaan buruk saat ini diantaranya adalah siswa yang tidak menaati peraturan sekolah yaitu terlambat masuk sekolah, ramai dalam kelas saat pembelajaran berlangsung, tidur dalam kelas saat pembelajaran berlangsung, membuang sampah sembarangan, memakai seragam tidak lengkap, tidak mengerjakan tugas, dan juga mengganggu teman saat pembelajaran berlangsung. Beberapa masalah ini sudah diupayakan oleh guru kelas dengan memberi hukuman pada siswa yang tidak tertib namun masih tetap melanggar, beberapa pelanggaran yang dilakukan siswa ini menunjukkan bahwa karakter disiplin siswa ini masih kurang baik. Kedisiplinan adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih teratur. Kedisiplinan bisa dilakukan dengan cara melatih diri untuk mematuhi segala aturan dalam kehidupan sehari-hari baik melalui peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis seperti peraturan sekolah, didikan keluarga, serta aturan dalam hidup bermasyarakat. Namun, untuk mencapai keberhasilan membentuk karater disiplin ini juga diperlukan kesadaran dalam diri siswa untuk mau menaati peraturan yang ada dalam sekolah[2]. Indikator kedisiplinan siswa sekolah dasar meliputi memakai seragam sekolah lengkap, datang ke sekolah tepat waktu, mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik[3]. Ketepatan siswa dalam mengumpulkan tugas,mengikuti aturan kelas juga merupakan sikap disiplin yang harus dimiliki oleh siswa[4]. Keberhasilan dalam sikap disiplin dapat ditandai dengan sikap bertanggung jawab atas ucapan dan tindakannya, mematuhi tata tertib, selalu tepat waktu, menepati janji, dan konsisten dalam prinsip hidupnya[5].
Selain membentuk kedisiplinan, menumbuhkan jiwa sosial juga merupakan aspek penting dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berbudi pekerti luhur. Manusia memiliki kodrat sebagai makhluk yang saling membutuhkan satu sama lain atau biasa disebut dengan makhluk sosial[6]. Sikap sosial yang baik perlu dikembangkan untuk menjalani kehidupan yang rukun, damai, dan jauh dari pertikaian maupun perselisihan. Beberapa masalah sosial yang ada dalam lingkup sekolah saat ini adalah konfik teman sebaya, perilaku bullying, dan kurangnya percaya diri untuk berinteraksi dengan orang lain. Peran interaksi ini sangat penting bagi siswa untuk belajar memahami orang lain dan lebih mengerti cara untuk berkomunikasi serta menghormati lawan bicaranya dengan membedakan bagaiman cara yang tepat untuk berinteraksi dengan teman sebaya atau dengan orang yang lebih tua[7]. Salah satu indikator meningkatnya jiwa sosial seseorang adalah saling mengenal untuk menjaga hubungan yang baik dengan teman maupun guru, serta membantu dalam hal kebaikan[8]. Siswa yang memiliki jiwa sosial yang tinggi akan semakin dihargai dan disenangi orang lain, mudah bergaul, dan membuat permasalahan sosial juga menurun. Siswa dengan jiwa sosial yang tinggi ditandai dengan sikap ramah, saling menyapa, saling membantu ketika ada yang membutuhkan, memiliki sikap tenggang rasa dan toleransi terhadap orang lain[9].
Good habits atau pembiasaan baik merupakan salah satu metode yang digunakan untuk membentuk karakter individu yang baik. Good habits ini merupakan sebuah tindakan dan perilaku yang dilakukan dengan rutin dan berulang-ulang hingga menjadi sebuah kebiasaan yang akan terus ada dalam diri seseorang. Pengelolaan program good habitsadalah salah satu usaha sekolah untuk mengatur dan mengoptimalkan pembentukan karakter disiplin dan jiwa sosial peserta didik[10]. Program dari good habbits ini meliputi datang sekolah dengan salim pada guru, sholat dhuha sebelum kegiatan belajar mengajar, jumat sehat, jumat sedekah, sholat jumat berjamaah. Pelaksanaan pengelolaan program good habits ini sebagai bentuk monitor terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik secara konsisten dan berulang, kegiatan ini akan berperan penting untuk peserta didik dalam membangun karakter kedisiplinan dan jiwa sosial[11]. Kedisiplinan akan membawa seseorang kearah yang lebih baik dengan karena disiplin adalah suatu tindakan dimana seseorang akan bertindak adil, taat peraturan, dan disinilah karakter yang berkualitas akan mulai terbentuk[12]. Sedangkan, pembentukan jiwa sosial siswa dengan berupaya menciptakan interaksi dengan orang lain melalui saling berkomunikasi dengan teman maupun guru. Tata tertib sekolah maupun dengan didikan orang tua saat dirumah, karena keduanya memiliki peran penting dalam mencapai keberhasilan perkembangan jiwa sosial anak agar kelak bisa mengatasi emosi yang ada pada dirinya dan terjauh dari sikap yang tercela yang dapat merugikan dirinya sendiri[6].
Adapun beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu, pada penelitian sebelumnya, dijelaskan bahwa praktik baik dan pembinaan karakter melalui analisis psikososial dan implementasi pancasila sila kedua memiliki dampak perubahan bagi karakter siswa[13]. Selanjutnya penelitian serupa ini menunjukkan bahwa program good habits pembiasaan baik berdampak positif dengan karakter siswa[11]. Selanjutnya penelitian serupa yang dilakukan pada penelitian ini mengatakan bahwa keaktifan siswa dalam mengikuti eksrakulikuler pramuka dengan ikut melaksanaan setiap program yang disusun dalam ekstrakulikuler pramuka mampu meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab siswa. Hal ini menunjukkan rangkaian kegiatan yang ada dalam suatu kegiatan dapat memperbaiki karakter disiplin dan tanggung jawab siswa[1].
Pentingnya penelitian ini untuk dilakukan yaitu karena pelaksanaan program good habbits di sekolah dasar memberikan hasil positif terhadap karakter disipin siswa sehingga mampu mengembangkan dan meningkatkan karakter siswa menjadi lebih baik. Oleh karena itu, cara pengelolaan program good habits ini perlu diketahui untuk memaksimalkan pelaksanaan dan hasil dari progam good habbits di sekolah. Sehingga penelitian ini dapat berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, terutama dalam penanaman karakter disiplin dan jiwa sosial peserta didik di lingkungan sekolah.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini akan membahas mengenai pengelolaan program good habit disekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan good habits di sekolah dapat meningkatkan kedisiplinan dan jiwa sosial siswa, dan bagaimana dampak pengelolaan good habits di sekolah dapat meningkatkan kedisiplinan dan jiwa sosial siswa.
Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kualitatif dengan metode studi kasus kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis lapangan secara langsung dengan mengolah data yang relevan dengan kenyataan di lapangan[10]. Lokasi penelitian ini dilakukan di SD Muhammadiyah Ngoro yang berlokasi di Jl. Gempol - Mojokerto No.48, Sembong, Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Penelitian akan dilakukan pada bulan Agustus 2024. Jenis data yang digunakan untuk memeroleh informasi adalah data primer dan data sekunder untuk memecahkan masalah yang sedang diteliti[5]. Data primer berupa hasil observasi dan wawancara saat penelitian berlangsung dilapangan. Sedangkan data sekunder berupa dokumen lainnya yang mendukung.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah; observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik observasi yang digunakan peneliti dengan melakukan pengamatan serta pencatatan langsung terhadap objek penelitian. Teknik Wawancara, yang dilakukan menggunakan wawancara terstruktur dengan menyiapkan daftar pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti. Wawancara dilakukan peneliti dengan berinteraksi langsung untuk mengetahui informasi, teknik ini dikatakan meyakinkan untuk menemukan fakta karena dilakukan dengan tanya jawab langsung dengan responden.[2] Sedangkan dokumentasi berupa lembar peraturan pengelolaan dan pelaksaaan program good habbits.
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan prosedur Miles dan Huberman yang melibatkan empat kegiatan utama yaitu yang pertama, pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara serta dokumentasi. Kedua, reduksi data yaitu data yang sudah ada disederhanakan kemudian dianalisis. Ketiga, penyajian data yaitu data yang telah dianalisis disajikan dalam bentuk narasi. Dan yang keempat, penarikan kesimpulan peneliti menyimpulkan berdasarkan analisis data yang telah disajikan.
Figure 1. Gambar 1. Prosedur analisis data Miles & Huberman (Sumber:Sugiyono;2012)
A. Pengelolaan Good Hab i t di S DS Muhammadiyah Ngoro
Good habit diartikan sebagai pola perilaku baik yang dilakukan secara konsisten dan terus menerus. Untuk siswa sekolah dasar program ini juga diharapkan mampu membentuk karakter baik seperti disiplin dan akhlak yang baik. Karena dengan penanaman sikap dan perilaku yang baik maka siswa akan mampu beradaptasi serta menerapkan norma lingkungan tempat tinggal yang berlaku. Pengelolaan berasal dari kata “Kelola”, istilah pengelolaan berarti proses atau tindakan untuk mengadministrasikan, mengatur dan mengendalikan sesuatu secara efektif dan efisien agar berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang diinginkan[10].
Berdasarkan hasil analisis observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti di SDS Muhamadiyah Ngoro pada gambar 1.2 dalam mengatur pengelolaan program good habit di sekolah. SDS Muhamadiyah Ngoro telah menerapkan kebijakan pendidikan sesuai dengan Peraturan Presiden (PerPres) No. 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter. Sebagaimana program good habit ini dilaksanakan disekolah guna untuk meningkatkan karakter disiplin dan jiwa sosial siswa. Hal ini sependapat dengan[14] bahwa program sekolah memiliki peran penting bagi sekolah untuk mencetak generasi penerus bangsa yang mandiri dan bertanggung jawab. Disiplin penting untuk membentuk kemandirian siswa, membentuk pola pikir yang teratur dan mengembangkan kepribadian positif. Hasil analisis diperoleh bahwa ada beberapa kegiatan yang menjadi program good habbit disekolah sesuai pada gambar 1.1.
Figure 2. Gambar 1.1 Program good habbit disekolah
Peranan sekolah membuat program ini dilakukan untuk meningkatan karakter disiplin dan jiwa sosial siswa, diketahui bahwa kebiasaan yang dilakukan secara rutin dapat membentu karakter yang baik untuk seseorang[15]. Adapun tujuan dari setiap aktivitas good habit yang dilaksanakan di SDS Muhammadiyah Ngoro antara lain:
1. Penyambutan siswa oleh guru
Kegiatan ini dilakukan pagi hari dengan guru menyambut siswa di gerbang masuk sekolah dengan menerapkan 5S. Aktivitas ini bertujuan untuk membangun kedekatan emosional antar guru dan siswa serta menumbuhkan semangat positif sebelum kegiatan beajar mengajar.
2. Jumat sehat
Seluruh warga sekolah akan melakukan kegiatan senam atau berolahraga bersama dipagi hari. Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran siswa serta interaksi antar teman terjalin dengan baik.
3. Jumat sedekah
Kegiatan yang dilakukan untuk menanamkan pada peserta didik kepedulian sosial dan spiritual. Pserta didik akan diminta membawa barang atau uang secara suka rela untuk dibagikan secara langsung kepada orang yang membutuhkan di lingkungan sekitar sekolah.
4. Jumat tasmiq
Kegiatan ujian baca Al Quran dengan cara sambung ayat dan membaca surat tertentu dengan guru tahfidz
5. Sholat Dhuha
Kegiatan yang dilakukan secara berjamaah sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Kegiatan ini mendidik siswa untuk disiplin waktu dan memperkuat keimanan
6. Monitoring sholat jumat berjamaah
Untuk siswa laki laki, pihak sekolah melakukan pemantuan dan pendampingan terhadap siswa saat sholat jumat. Monitoring ini brtujuan memastikan bahwa siswa melaksanakan kewajiban agama dengan baik dan penuh tanggung jawab.
7. 5S
Aktivitas 5S (Senyum, Sapa, Salam, Salim, Sopan). Gerakan ini sebagai budaya sekolah yang ditekankan dalam interaksi sehari hari dengan tujuan membangun hubungan sosial yang rukun antar siswa dan guru.
SDS Muhammadiyah Ngoro menerapkan pogram good habit sebagai bentuk usaha memperbaiki karakter disiplin dan jiwa sosial pesrta didik, program ini akan menjadi pembelajaran dan pengalaman yang memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan otak serta pembentukan kepribadian anak Tahapan yang dilakukan sekolah mengenai program good habit ini meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pengelolaan program good habit dirancang secara kolaboratif melalui rapat kerja yang dilakukan oleh pihak sekolah pada awal semester dengan menyusun rencana program sekolah, mengevaluasi program yang telah dilaksanakan sebelumnya dan menetapkan langkah perbaikan.
Penyusunan dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik untuk mencapai kebutuhan yang diinginkan. Pernyataan ini didukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa perencanaan yang baik akan meningkatkan indikator keberhasilan tujuan program secara efektif dan memudahkan evaluasi program berdasarkan fakta kondisi peserta didik dan menentukan kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan[16]. Selain itu pihak administasi sekolah juga ikut andil dalam pengelolaan program sebagai bentuk dokumentasi sekolah. Dengan managemen administrasi program good habit yang dikelola dengan baik dapat meningkatkan mutu sekolah secara keseluruhan[17].
Dalam pelaksanaan kegiatan akan ada kesinambungan keterlibatan guru dan peserta didik berupa bentuk pengawasan pelaksanaan kegiatan agar dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Apabila peserta didik diketahui tidak melaksanakan program good habbit dengan baik dan sesuai aturan yang berlaku disekolah, maka akan ada hukuman yang akan diterima peserta didik yang diberikan oleh guru kesiswaan. Peran guru kesiswaan ini sebagai pendidik dalam pelaksanaan program dituntut untuk memiliki kepribadian yang unggul yakni tanggung jawab dan disiplin pada tugas pengawasan, pelaksanaan program tidak membeda-bedakan hukuman siswa yang melanggar peraturan sekolah[18]. Hukuman yang diterapkan di SDS Muhammadiyah Ngoro berupa hukuman yang sifatnya mendidik siswa yakni menghafal 5 ayat Al Quran yang dipilih oleh guru kesiswaan saat itu juga, berdzikir 100 kali, dan mengerjakan soal. Selain itu, SDS Muhammadiyah Ngoro juga memberikan fasilitas seminar untuk orang tua dengan mendatangkan narasumber psikolog parenting sebagai bentuk dukungan kepada wali murid untuk menindak lanjuti program good habit bisa tetap dilakukan dirumah. Karena proses pelaksanaan program juga akan tercapai dengan baik sesuai dengan tujuan apabila fasilitas memadai.
Figure 3. Gambar 1.2 gambar analisis hasil wawancara program good habbits
B. Dampak Pengelolaan Program Good Habbit Terhadap Kedisiplinan dan Jiwa Sosial Siswa
Kedisiplinan terbentuk ketika seseorang melakukan rangaian tindakan yang menampilkan nilai ketaatan, keteraturan dan ketertiban[12]. Dengan pengelolaan program good habit yang sistematis memberi dampak utama terhadap kedisiplinan dan jiwasosial peserta didik. Peran guru sebagai pendamping pelaksaanaan program guru bertanggung jawab untuk mendampingi dan mengarahkan pertumbuhan serta perkembangan peserta didik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik[19].
Berdasarkan observasi keadaan lingkungan sekolah dan wawancara pada pihak SDS Muhamadiyah Ngoro. Dengan adanya rutinitas penyambutan pagi, siswa menjadi lebih sadar akan pentingnya hadir tepat waktu. Guru menyatakan bahwa keterlambatan hampir hilang, karena setiap keterlambatan siswa akan ditindaklanjuti oleh guru kesiswaan. Kegiatan tahfid dan BTQ setiap bembelajaran akan berlangsung juga mengajarkan anak-anak untuk belajar dan menghafal bagian dari bacaan tahfid yang menjadi tanggung jawabnya. Kegiatan jumat sehat berdampak dengan interaksi siswa dengan siswa lain semakin erat, kegiatan penyambutan siswa oleh guru memberikan dampak pada siswa untuk lebih mengerti bahwa apabila bertemu dengan guru atau orang yang lebih tua untuk salam, salim dan senyum. Diketahui siswa menjadi lebih ramah kepada guru dengan setiap bertemu guru diluar jam pembelajaran belangsung siswa akan menyapa dengan mengucap salam dan salim kepada guru. Jumat sedekah adalah kegiatan dimana siswa akan diminta untuk membawa sembako dalam jumlah tertentu utuk dibagikan kepada masyarakat sekitar lingkungan sekolah yang membutuhkan kegiatan ini terbukti mampu mengajarkan peserta didik pentingnya berbagi pada orang yang membutuhkan dan memiliki rasa empati dan simpati pada orang lain. Tumbuhnya rasa empati dan simpati sebagai wujud peningkatan jiwa social siswa. Anak akan memiliki peningatan karakter disiplin dan jiwa sosial baik jika program kebiasaan baik dilakukan secara rutin dan optimal[20].
Kesimpulan dari penelitian “Program Good Habits Sebagai Upaya Meningkatkan Kedisiplinan dan Jiwa Sosial Peserta Didik: Analisis Studi Pengelolaan di Sekolah Dasar”. Program good habits adalah program yang dirancang oleh sekolah untuk dilaksanakan peserta didik secara konsisten dan berulang hingga menjadi kebiasaan yang tertanam pada peserta didik yang bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan dan jiwa sosialnya. Pengelolaan program good habits atau pembiasaan baik terbukti efektif dalam meningkatkan kedisiplinan dan jiwa sosial peserta didik. Program ini dilaksanakan secara terstruktur melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang melibatkan seluruh elemen sekolah, termasuk guru, siswa, dan wali murid.
Kegiatan pembiasaan seperti penyambutan pagi dengan 5S, sholat dhuha, jumat sehat, jumat sedekah, jumat tasmi’, dan monitoring sholat jumat berjamaah secara konsisten memberikan dampak positif terhadap perilaku siswa. Siswa menjadi lebih disiplin, tepat waktu, bertanggung jawab, serta memiliki empati dan kepedulian sosial yang tinggi. Selain itu, keterlibatan guru dan peran aktif orang tua juga menjadi faktor pendukung keberhasilan program. Dengan demikian, pengelolaan program good habits dapat dijadikan strategi pembinaan karakter yang efektif di sekolah dasar untuk membentuk generasi yang berakhlak mulia, disiplin, dan memiliki jiwa sosial yang kuat.
Ucapan Terima Kasih
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan rahmat-Nya, yang memungkinkan artikel ini dapat diselesaikan dengan baik. Keberhasilan dalam penulisan artikel ini tidak lepas dari dukungan, bantuan, serta kontribusi dari berbagai pihak yang telah memberikan peran penting selama proses penelitian. Saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu, memberikan bimbingan, arahan, serta masukan yang sangat berharga dalam menyempurnakan artikel ini. selain itu, saya juga berterima kasih kepada narasumber, khususnya Kepala Sekolah dan Guru di SDS Muhammadiyah Ngoro, yang dengan sukarela meluangkan waktunya untuk membantu jalannya proses penelitian. Tidak lupa, saya juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua serta teman-teman saya yang telah memberikan dukungan moral, doa, serta semangat tselama proses penelitian berlangsung. Saya juga berharap agar artikel ini dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya serta menjadikan referensi yang bermanfaat bagi peneliti selanjutnya dalam mengembangkan wawasan dan hasil kajian yang lebih relevan.
[1] B. Kurniawan, K. Aryaningrum, and S. F. Selegi, “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka Dalam Membentuk Kedisiplinan Siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Teluk Kijing,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 130–138, 2023, doi: 10.37216/badaa.v5i1.877.
[2] M. S. A. Saputro, “Gambaran Kedisiplinan Pada Siswa SMK Murni 1 Surakarta,” Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran, vol. 2, no. 2, pp. 21–29, 2024.
[3] S. Mardikarini and L. C. K. Putri, “Pemantauan Kedisiplinan Siswa Melalui Penetapan Indikator Perilaku Disiplin Siswa Kelas III,” Jurnal Ilmiah Kontekstual, vol. 2, no. 1, pp. 30–37, 2020, doi: 10.46772/kontekstual.v2i01.246.
[4] N. A. Siahaan and Y. R. P. Tantu, “Penerapan Peraturan Dan Prosedur Kelas Dalam Membentuk Sikap Disiplin Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 8, no. 1, pp. 127–133, 2022, doi: 10.31949/educatio.v8i1.1682.
[5] N. H. P. K. Nisa and M. B. U. B. Arifin, “Pengaruh Kebiasaan Sarapan Pagi Terhadap Konsentrasi Dan Hasil Belajar Bahasa Jawa Kelas 5 MINU Durung Bedug Candi Sidoarjo,” Didaktis: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Pengetahuan, vol. 21, no. 2, pp. 152–163, 2021, doi: 10.30651/didaktis.v21i2.7598.
[6] A. Siti Anisah, S. Katmajaya, and W. L. Zakiyyah, “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Sikap Sosial Pada Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan UNIGA, vol. 15, no. 1, p. 434, 2021, doi: 10.52434/jp.v15i1.1178.
[7] D. O. Nadia, N. Suhaili, and Irdamurni, “Peran Interaksi Sosial Dalam Perkembangan Emosional Anak Sekolah Dasar,” Jurnal Pendas, vol. 8, no. 1, pp. 2727–2738, 2023.
[8] S. Di, M. Ma, and A. Balong, “Efektivitas Ekstra Banjari Dalam Meningkatkan Akidah Akhlak Dan Jiwa Sosial Siswa Di MTs Maarif Balong Ponorogo,” 2023.
[9] N. M. Apriyani, D. A. Soleh, and M. S. Sumantri, “Tingkat Kepedulian Sosial Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, vol. 7, no. 2, pp. 110–117, 2021, doi: 10.31932/jpdp.v7i2.1231.
[10] D. C. Wiguna and M. Muhroji, “Analisis Pelaksanaan Pengelolaan Kelas Di Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 6524–6532, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i4.3292.
[11] E. Maela, V. Purnamasari, I. Purnamasari, and S. Khuluqul, “Metode Pembiasaan Baik Untuk Meningkatkan Karakter Disiplin Peserta Didik Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 9, no. 2, pp. 931–937, 2023, doi: 10.31949/educatio.v9i2.4820.
[12] N. Sari, J. Januar, and A. Anizar, “Implementasi Pembelajaran Akidah Akhlak Sebagai Upaya Mendidik Kedisiplinan Siswa,” Educativo: Jurnal Pendidikan, vol. 2, no. 1, pp. 78–88, 2023, doi: 10.56248/educativo.v2i1.107.
[13] F. H. Islamiyah, M. Turhan Yani, and R. R. N. Setyowati, “Praktik Baik Pembiasaan Dan Pembinaan Karakter Sebagai Inovasi Pendidikan Di Sekolah Dasar,” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 8, no. 1, pp. 898–907, 2023, doi: 10.23969/jp.v8i1.7576.
[14] D. I. Mi, H. Najah, A. H. Tuban, I. A. I. Al, and H. Tuban, “Implementasi Program Daily Report Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Kelas 3B,” 2023.
[15] A. Harita, B. Laia, and S. F. L. Zagoto, “Peranan Guru Bimbingan Konseling Dalam Pembentukan Karakter Disiplin Siswa SMP Negeri 3 Onolalu Tahun Pelajaran 2021/2022,” Counsellia: Jurnal Bimbingan Dan Konseling, vol. 2, no. 1, pp. 40–52, 2022, doi: 10.57094/jubikon.v2i1.375.
[16] I. Mika and S. Manap, “Manajemen Pendidikan Dalam Pengelolaan Sekolah,” Jurnal Manajer Pendidikan, vol. 15, no. 3, pp. 1–9, 2020.
[17] N. Andriani and M. Hidayat, “Pengelolaan Administrasi Sekolah,” Jurnal Pelita Nusantara, vol. 1, no. 2, pp. 215–220, 2023, doi: 10.59996/jurnalpelitanusantara.v1i2.195.
[18] E. Nurhasanah, S. Aisah, and M. Yusnarti, “Peran Guru Sekolah Dasar Dalam Pembentukan Karakter Siswa,” Jurnal Evaluasi Dan Kajian Strategi Pendidikan Dasar, vol. 1, no. 1, pp. 21–26, 2024, doi: 10.54371/jekas.v1i1.325.
[19] S. Kirana, S. Wiwikananda, and A. Briansyah, “Peran Guru Terhadap Keterampilan Membaca Melalui Gerakan Literasi Sekolah Peserta Didik Sekolah Dasar,” JESE: Journal of Elementary School Education, vol. 1, no. 1, pp. 50–59, 2024.
[20] A. Yuniardi, “Implementasi P5 Dengan Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Kedisiplinan Peserta Didik Pada PKBM,” Proceeding Umsurabaya, pp. 41–45, 2023.