Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Hubungan antara Dukungan Sosial Wali Kamar dengan Penyesuaian Diri Santri pada Tahun Pertama di SMPIT Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo

The Relationship between Dormitory Supervisors’ Social Support and The Students Self-Adjustment of in The First Year at Islamic Integrated Junior High School (SMPIT) Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Erinda Shofatil Himmah (1), Effy Wardati Maryam (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Student self-adjustment in Islamic boarding schools represents a critical developmental process, particularly during the first year of residence in a structured dormitory environment. Specific Background: At SMPIT Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo, first-year students face academic, social, and psychological demands requiring adaptive capacity supported by dormitory supervisors. Knowledge Gap: Limited empirical studies specifically examine the correlation between dormitory supervisors’ social support and self-adjustment among first-year junior high school students in Islamic boarding school settings. Aims: This study aims to analyze the relationship between dormitory supervisors’ social support and students’ self-adjustment. Results: Using a quantitative correlational design involving 94 first-year students and psychological scales measuring social support and self-adjustment, the findings reveal a significant positive correlation (r = 0.964; p < 0.001), with social support explaining 93% of the variance in self-adjustment. Social support includes emotional encouragement, appreciation, instrumental assistance, and informational guidance. Novelty: This study specifically highlights the central role of dormitory supervisors as daily social support providers within an Islamic integrated junior high school boarding context. Implications: The findings underscore the importance of strengthening dormitory-based support systems to facilitate adaptive processes among new students and suggest broader investigations across multiple boarding institutions to improve external validity.


Keywords: Dormitory Supervisors, Social Support, Self-Adjustment, Islamic Boarding School, First-Year Students


Key Findings Highlights:




  1. Social assistance from residential mentors accounts for 93% variance in adaptive capacity.




  2. Emotional, informational, appreciation, and practical guidance are strongly associated with students’ adaptation.




  3. Residential mentoring systems are central to psychological adjustment during the initial boarding year.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pesantren adalah institusi pendidikan islami yang menyediakan hunian bagi santri di dalam lingkungan yang kondusif sebagai penunjang kegiatan serta kelancaran proses pembelajaran [1]. Asrama inilah yang sedikit membedakan antara tempat pendidikan lain, dan pondok pesantren. Dengan hal ini para santri diharapkan untuk dapat lebih banyak belajar mengenai kegiatan sehari-hari di luar sekolah. Secara tidak langsung pondok pesantren mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, kebersamaan, dan kegiatan keagamaan dengan intensitas yang lebih banyak. Lingkungan di pesantren sangat berbeda dengan lingkungan di rumah. Ketika di rumah anak biasa memulai aktivitas ketika adzan subuh. Sedangkan di pesantren santri diharuskan bangun lebih awal, bahkan sebelum subuh, untuk melaksanakan sholat malam. Santri juga dilatih bersabar dalam hal mengantri mandi atau mengambil makanan. Adanya peraturan di pondok, juga turut menjadi media bagi santri untuk melatih tanggung jawab. Karena setiap peraturan yang dilanggar, santri akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati. Oleh karena itu pesantren dapat dikatakan salah satu lembaga pendidikan yang dapat berperan sebagai pembentuk karakter [2].

Usia SMP atau yang biasa kita sebut remaja, merupakan usia pada fase perkembangan [3]. Dalam fase perkembangannya, keingintahuan yang tinggi dimiliki oleh usia remaja. Tak jarang juga mereka mengesampingkan peraturan yang ada, untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Hal ini yang mungkin menjadi alasan remaja susah untuk menaati peraturan. Pada tahun pertama di pesantren, merupakan tahun yang berat untuk para remaja. Karena mereka diminta untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan pondok. Dengan menaati peraturan-peraturan yang ada, jadwal yang padat, juga tuntutan-tuntutan dari pondok. Seperti belajar pelajaran diniyah, yang belum pernah diajarkan di

sekolah sebelumnya. Selama tahun pertama menjadi santri, masalah yang sering muncul ialah penyesuaian diri. Para Santri dimohon menyesuaikan diri agar tidak bergantung pada orang lain melalui tuntutan fisik, sosial, dan psikologis. Tuntutan fisik seperti mandiri dalam melaksanakan aktivitas, tuntutan sosial yaitu mampu berinteraksi dengan antar kawan serta guru, dan tuntutan psikologis yaitu merasa rindu dengan orang tua karena hidup tidak berdampingan [4]. Menurut Schneiders, penyesuaian diri adalah kemampuan seseorang untuk merespons kebutuhan, tekanan, dan konflik secara mental dan perilaku positif, sehingga mereka dapat menemukan keseimbangan antara tuntutan lingkungan dan tuntutan batin [5]. Kemampuan ini sangat penting bagi remaja untuk menghadapi perubahan, mengatasi masalah, dan menjalani kehidupan yang harmonis dalam berbagai lingkungan [6]. Perbedaan lingkungan di rumah dan di pondok, menjadi sebab santri melakukan penyesuaian diri. Ketika santri melalui proses dimana ia berusaha untuk menyelesaikan masalah yang ada, maka santri tersebut sedang dalam proses penyesuaian diri. Proses

penyesuaian diri santri juga terhadap tuntutan-tuntutan yang diberikan kepada setiap santri.

Menurut Runyon dan Haber penyesuaian diri diri mencakup lima elemen; a. Memiliki persepsi yang objektif pada realitas, yakni kemampuan mengenali tingkah laku, konsekuensi, dan mampu mengetahui konsekuensi atas tingkah laku tersebut b. memiliki Kemampuan untuk mengatasi stress atau tekanan dengan baik, kemampuan untuk menyelesaikan persoalan dan masalah dengan tidak cemas ataupun rasa khawatir yang berlebihan serta dapat menunda kepuasan demi meraih sasaran yang lebih besar c. Memiliki pandangan yang positif tentang diri sendiri, individu dapat menerima dirinya apa adanya, dan memiliki keselarasan dan konsistensi dalam dirinya. d. Pintar dalam menunjukkan perasaan, yakni kemampuan untuk memahami dan mengakui emosi serta mampu menanggapi secara realitas dan tetap terkontrol. e. Membangun hubungan koneksi yang baik, yakni kemampuan individu berinteraksi secara positif dengan lingkungan sosial [7].

Santri dapat mengenal kekurangan dan kelebihan diri dengan munculnya kesadaran diri. Setelah itu, santri juga bersikap realistik sudah mengenal kekurangan dan kelebihan hingga muncul penerimaan diri. Santri diharap dapat mengarahkan emosi yang dirasakan diregulasikan hingga emosi yang diregulasikan menjadi pribadi yang lebih matang. Munculnya rasa puas terhadap hal-hal yang telah terlaksana dan terpenuhi hingga muncul rasa puas. Makna penyesuaian diri diartikan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri berdasarkan pengetahuan mereka tentang lingkungannya sehingga mereka dapat berpenyesuaian diri dan mengatasi tantangan dan konflik di tempat baru.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ruzilawati menggarap jurnal penelitian berjudul Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Santri Baru di Asrama Putri Pondok Pesantren Al-Islam [8]. Pengelompokan yang dihasilkan dari skala penyesuaian diri pada santri Pondok Pesantren Al-Islam sedang (41%), rendah (40%), dan tinggi (19%). Santri dalam kategori rendah mendapat skor kurang 35, untuk kategori sedang menerima skor antara 45 dan 36, sedangkan kategori tinggi menerima skor lebih dari 45. Berdasarkan temuan riset Ruzilawati dan Udzma, dapat ditarik kesimpulan bahwa dukungan sosial memainkan peran penting dalam proses penyesuaian diri santri baru di lingkungan pesantren putri. Signifikansi statistik yang dilaporkan Udzma (p<0,05) memperkuat keyakinan akan adanya pengaruh positif dukungan sosial terhadap penyesuaian diri [9].

Masalah penyesuaian diri seringkali dialami oleh santri baru pada tahun pertama mereka tinggal di pesantren. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem belajar yang ketat, serta kehidupan kolektif di asrama dapat menjadi tantangan tersendiri. Sebagaimana dijelaskan pada penelitian Nurhalimah, Setiap tahun 5–10 persen santri baru Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam Surakarta menghadapi masalah penyesuaian diri, seperti tidak mengikuti sistem belajar di kelas, tidak bisa tinggal di asrama santri karena tidak bisa tinggal terpisah dari orang tua, dan perbuatan yang dilarang oleh peraturan pesantren [10]. Hal serupa juga ditemukan di Pondok Pesantren Al-Amien Putra, di mana pada kelas santri baru di tahun 2019, berdasarkan keterangan ketua shof kelas 1 Reguler Putra, sebanyak 27 santri tidak kembali setelah pulang ke rumahnya pasca liburan Maulid Nabi [7]. Fenomena ini mengindikasikan bahwa penyesuaian diri merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan dalam proses pembinaan santri baru di lingkungan pesantren.

Dari survei yang dilakukan sebelumnya menggunakan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap 3 santri kelas 7 yang berada di Pondok Pesantren SMPIT Darul Fikri Sidoarjo, diperoleh hasil bahwa santri pada tahun pertama masih kesulitan untuk menyesuaikan kebiasaan-kebiasaan baru di pondok. Santri juga dihadapkan dengan teman yang beragam sifatnya. Dalam menghadapi suasana baru di pondok pesantren, santri terkadang merasa cemas dan takut. Santri merasa sulit untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya sehingga membuat banyak menangis dan menyendiri. Saat berkomunikasi dengan teman yang kurang disenangi, santri terkadang kehilangan kontrol emosi. Karenanya santri belum bisa menjalin hubungan dengan banyak teman dan tidak terlalu dekat dengan guru ataupun wali kamar. Berdasarkan survei, teridentifikasi adanya isu terkait penyesuaian diri diri.

Penyesuaian diri penting bagi santri tahun pertama karena dapat membantu berpenyesuaian diri dengan lingkungan baru, sehingga dapat menjalankan peran dan kewajiban sebagai santri [11]. Ketika santri memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan dan masalah dengan tidak cemas ataupun rasa khawatir yang berlebihan, dapat menunjukkan respons perasaan yang relevan dengan realitas dan tetap terkontrol, serta dapat membangun relasi yang harmonis dengan lingkungan sosial maka termasuk santri yang baik dalam penyesuaian dirinya [12].

Kemampuan individu menyesuaikan diri sangat dipengaruhi oleh dua aspek, yakni aspek internal dan aspek eksternal [13]. Kepercayaan diri merupakan satu diantara contoh aspek internal yang dapat berpengaruh pada proses penyesuaian diri santri, ketika santri memiliki kepercayaan diri yang kuat akan lebih efisien dalam berkomunikasi serta tidak sulit untuk berpenyesuaian diri dengan lingkungan baru. Satu diantara aspek eksternal yang paling berpengaruh terhadap penyesuaian diri diri mencakup dukungan sosial wali kamar, yang mana ketika santri mendapat dukungan dari wali kamar akan memudahkan penyesuaian dirinya [5]. Dukungan sosial merujuk pada bantuan dari lingkungan sekitar yang memberikan rasa nyaman, kasih sayang, dan apresiasi kepada individu [14]. Cohen, Gottlieb & Underwood memaparkan bahwa dukungan sosial adalah sebuah prosedur yang berlangsung dalam interaksi sosial yang bisa memperbaiki kualitas kesehatan dan kesejahteraan dengan mendatangkan keamanan, kerinduan, cinta, dan harga diri [15].

Menurut Sarafino terdapat empat aspek utama Dukungan sosial dalam psikologi: a. Dukungan Emosional: Melibatkan empati, perhatian, dan kasih sayang yang membuat individu merasa diterima dan diperhatikan. b. Dukungan Penghargaan: Memberikan dorongan positif dan pengakuan terhadap kemampuan individu, membantu meningkatkan harga diri. c. Dukungan Instrumental: Menyediakan bantuan fisik atau material yang diperlukan untuk mengatasi masalah. d. Dukungan Informatif: Memberikan informasi dan nasihat yang membantu individu dalam menghadapi tantangan [16].

Santri yang baru masuk ke pondok belum sepenuhnya menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan masyarakatnya. Jika santri memiliki dukungan sosial dari orang tua, teman dekat, wali kamar, dan orang lain di sekitar mereka, mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri [17]. Dengan lingkungan yang menerima atau mendukung, santri akan lebih mudah dalam melalui proses penyesuaian diri. Untuk mengetahui identitas dan perilaku santri di pondok pesantren, wali kamar adalah sumber data yang paling efektif. Berbeda di sekolah, tanggung jawab ini dipegang oleh konselor sekolah. Wali kamar menjadi penting dalam mekanisme kehidupan di pesantren dan membantu santri menjadi pribadi yang mampu menghadapi masalah sebagai seorang santri [18]. Dengan seseorang yang hadir dalam aktivitas santri setiap hari, wali kamar juga berperan dalam dukungan sosial terhadap santri yang menyesuaikan diri, terutama di tahun pertama [6].

Terdapat penelitian terdahulu tentang penyesuaian diri dan dukungan sosial. Utami melaksanakan kajian dengan tajuk Pengaruh penyesuaian diri dan dukungan sosial terhadap homesicknesspada santri [19]. Sebuah riset oleh Fitri menyoroti relasi antara bantuan sosial dari wali asrama dengan proses penyesuaian diri santri di Pondok Pesantren Modern Subulussalam [20]. Lantaran terbatasnya kajian mengenai korelasi antara dukungan sosial wali kamar dan penyesuaian diri santri, peneliti merasa perlu untuk melakukan investigasi lebih lanjut terkait hubungan ini pada santri kelas VII SMPIT Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo. Penelitian ini berfokus pada pemahaman hubungan antara kedua variabel tersebut, dengan harapan dapat memperkaya pengetahuan dan berkontribusi pada pengembangan studi ilmiah.

Metode

Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kuantitatif dan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, untuk menganalisis keeratan hubungan satu variasi dalam variabel dengan satu variasi dalam variabel lainnya. Penelitian ini melibatkan dua variabel yang menjadi objek kajian, yakni dukungan sosial dan penyesuaian diri.

Subjek kajian ini adalah populasi santri tahun pertama di SMPIT Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo sebanyak 94 santri. Karena jumlah responden kurang dari 100, sampel yang dipergunakan mencakup metode sampel jenuh atau teknik pengambilan sampel ketika semua populasi bertindak sebagai sampel kajian.

Instrumen yang dipergunakan pada kajian ini mencakup skala psikologi yang mengukur penyesuaian diri dan dukungan sosial. Skala ini terdiri dari pernyataan unfavorable dan favorable dengan opsi jawaban SS, S, TS, dan STS. Pada penelitian ini terdapat dua instrumen sebagai fokus utama untuk mengambil data dari populasi yang sudah ditentukan. Pada instrumen skala penyesuaian diri memakai skala adopsi yang disusun oleh Yulianto yang terdiri dari 28 aitem pernyataan yang merujuk pada elemen yang disampaikan oleh Runyon dan Haber yaitu objektif terhadap realitas, berpenyesuaian diri terhadap tekanan, memiliki persepsi diri yang baik, mampu mengungkapkan perasaan dengan baik, dan menjalin relasi interpersonal yang efektif [7]. Skala tersebut mempunyai reliabilitas 0,89 untuk mengukur aspek-aspeknya. Pada instrumen skala dukungan sosial wali kamar peneliti menggunakan skala adaptasi. Peneliti mengadaptasi skala dukungan sosial yang dihimpun oleh Nada, dengan jumlah aitem 24 pernyataan. Skala tersebut merujuk pada elemen dukungan sosial yang disampaikan oleh Sarafino yaitu dukungan perasaan, penghargaan, bantuan praktis, dan informasi [21]. Dengan reliabilitas 0,864 untuk menilai aspek-aspek tersebut.

Teknik analisis yang diaplikasikan dalam penelitian ini adalah korelasi product moment dengan bantuan perangkat lunak JASP for Windows. Dalam proses analisis, uji asumsi klasik yang diperlukan meliputi uji normalitas dan linieritas.

Hasil dan Diskusi

Penelitian ini dimulai dengan menguji hipotesis-hipotesis dasar terlebih dahulu yaitu pengujian normalitas dan pengujian linearitas. Data yang diperoleh jika memenuhi kriteria yang memiliki distribusi normal dan bersifat linier, maka analisis dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Standardized Residuals Histogram

Figure 1. Gambar 1. Uji Normalitas

Temuan uji normalitas yang tertera pada gambar 1 menggambarkan bahwa data berdistribusi normal, yang ditandai dengan kurva melengkung membentuk lonceng dengan hanya memiliki satu titik tertinggi.

Penyesuaian Diri (Y) vs. Dukungan Sosial (X)

Figure 2. Gambar2.Uji Linieritas

Dilihat pada gambar 2 hasil analisis uji linieritas variabel dukungan sosial bersifat linier yang ditandai dengan sebaran data mengikuti garis.

Model Summary - Penyesuaian Diri (Y)
Model R Adjusted R² RMSE
H₀ 0.000 0.000 0.000 0.321
H₁ 0.964 0.930 0.929 0.086
Table 1. Tabel1.Uji Hipotesis

Hasil analisis data pada tabel 1 memperlihatkan nilai dari R 0,964dan R2 0,930. Hasil ini mengindikasikan bahwa proporsi varians yang diterangkan oleh variabel tidak terpaku terhadap variabel terpaku mencapai 93%. Artinya dukungan sosial mampu menjelaskan 93% varians dalam penyesuaian diri, sementara selebihnya diberi pengaruh oleh sejumlah aspek lain yang tidak dikaji pada studi ini.

Pearson's Correlations
Variable Dukungan Sosial (X) Penyesuaian Diri (Y)
1. Dukungan Sosial (X) Pearson's r
p-value
2. Penyesuaian Diri (Y) Pearson's r 0.964
p-value < .001
Table 2. Tabel 2. Uji Korelasional

Berdasarkan hasil analisis pada tabel 2 memperlihatkan dukungan sosial mempunyai keterkaitan yang berarti dengan penyesuaian diri. Dalam hasil pengujian hipotesis menunjukkan angka koefiensi korelasi sebesar r = 0,964 dengan p<0,001. Hasil positif pada koefisiensi korelasi menunjukkan tungkat dukungan sosial yang tinggi berkorelasi positif dengan penyesuaian diri diri yang lebih baik pada santri baru tahun pertama SMPIT Darul Fikri Sidoarjo. Sebaliknya, apabila dukungan sosial yang diterima berkurang, kemampuan penyesuaian diri mereka juga akan menurun. Penting bagi santri tahun pertama untuk menyesuaian diri, karena dapat membantu berpenyesuaian diri dengan lingkungan baru, sehingga bisa menjalankan peran dan kewajiban sebagai santri [11]. Santri yang memiliki dukungan sosial dari orang tua, teman dekat, wali kamar, dan orang lain di sekitar mereka, mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri [22]. Ini senada dengan kajian Nadiya dukungan wali kamar dapat berperan sebagai orang tua, pembimbing, dan teman sehingga membantu santri baru untuk menyesuaikan diri [23]. Dukungan emosional dengan melibatkan empati, perhatian, serta kasih sayang dapat membuat santri merasa dihargai dan diperhatikan. Ketika santri merasa diterima dan diperhatikan membuat merasa lebih nyaman dengan lingkungan barunya. Akibatnya, santri baru lebih mudah menyesuaikan diri di pondok.

Penyesuaian diri adalah adalah kemampuan seseorang untuk merespons kebutuhan, tekanan, dan konflik secara mental dan perilaku positif, sehingga mereka dapat menemukan keseimbangan antara tuntutan lingkungan dan tuntutan batin [6]. Pondok pesantren merupakan lingkungan yang mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, kebersamaan, dan kegiatan keagamaan dengan intensitas yang lebih banyak. Oleh karena itu pesantren dapat dikatakan salah satu lembaga pendidikan yang dapat berperan sebagai pembentuk karakter [2]. Penelitian ini memperkuat hasil studi sebelumnya oleh Zahra yang mengungkapkan bahwa salah satu elemen yang memfasilitasi penyesuaian diri santri di lingkungan pondok adalah dukungan sosial dari wali kamar [24]. Kemampuan penyesuaian diri santri baru dibutuhkan agar memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan dan masalah dengan tidak cemas ataupun rasa khawatir yang berlebihan, dapat menunjukkan respons emosional yang selaras dengan kenyataan dan tetap terkendali, serta mampu menjalin hubungan dengan lingkungan sosial. Dukungan sosial dari wali kamar berupa dukungan penghargaan, pengakuan terhadap kemampuan individu, memberikan dorongan yang positif, dan memberikan informasi ketika santri menghadapi tantangan. Dengan seseorang yang hadir dalam aktivitas santri setiap hari, wali kamar juga berperan dalam dukungan sosial terhadap santri yang menyesuaikan diri, terutama di tahun pertama [25]. Walaupun penelitian ini mampu mengungkap dengan baik hubungan antara dukungan sosial wali kamar dengan penyesuaian diri santri baru namun memiliki keterbatasan objek penelitian fokus pada satu pondok pesantren, sehingga hasil dan kesimpulan tidak dapat digeneralisasi secara luas ke populasi lain. Perlu penelitian lanjutan dengan demografi subjek yang lebih luas untuk memperkuat temuan dan meningkatkan validitas eksternal. Penelitian ini memiliki keterbatasan waktu karena peneliti baru melaksanakan penelitian pada akhir tahun pertama santri, sehingga mungkin tidak dapat menangkap dinamika atau perubahan yang terjadi sepanjang tahun tersebut. Keterbatasan lainnya pada penelitian ini adalah hanya meneliti satu faktor eksternal dari penyesuaian diri yaitu dukungan sosial wali santri.

Pada kajian mendatang dapat mempertimbangkan variabel lain, seperti kepercayaan diri, kecerdasan emosi, dan proses belajar untuk analisis yang lebih komprehensif.

Kesimpulan

Analisis penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan sosial wali kamar memiliki hubungan yang besar dalam penyesuaian diri santri baru di SMPIT Darul Fikri Sidoarjo. Dukungan sosial wali kamar yang berupa dukungan emosional, dorongan positif, dan nasihat dapat mendukung proses menyesuaikan diri santri baru ketika menghadapi lingkungan pondok. Berdasarkan temuan ini, santri baru disarankan untuk menjalin hubungan yang baik dengan wali kamar guna membantu penyesuaian diri di pondok. Menjadikan wali kamar sebagai sosok yang dapat memberikan dukungan dan bimbingan selama proses penyesuaian diri. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar memperluas sampel penelitian dengan melibatkan responden dari berbagai pondok pesantren dan demografis sampel. Selain itu, eksplorasi lebih lanjut terhadap variabel lain, seperti kepercayaan diri, kecerdasan emosi, dan proses belajar, dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai fenomena ini.

References

[1] F. Wahyuningsing, S. Aini, dan U. Azmi, “Strategi Pengembangan Kurikulum Pesantren Berbasis Asrama pada Lembaga Pendidikan Islam,” J. Kewarganegaraan, vol. 6, no. 2, Art. no. 2, Sep 2022, doi: 10.31316/jk.v6i2.4014.

[2] A. Manaf, “Rekonstruksi Pendidikan Boarding School di Indonesia,” Ad-DAWAH, vol. 20, no. 1, Art. no. 1, Mar 2022, doi: 10.59109/addawah.v20i1.21.

[3] S. Afifah dan G. Saloom, “DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DAN SELF-EFFICACY DALAM PENYESUAIAN DIRI SANTRI BARU,” Dialog, vol. 41, no. 2, Art. no. 2, 2018, doi:

10.47655/dialog.v41i2.309.

[4] E. Sujadi, M. O. Meditamar, dan B. Ahmad, “Pengaruh Stres Akademik dan Self-Efficacy terhadap Penyesuaian Diri Santriwati Pondok Pesantren Tahun Pertama: Efek Mediasi Self-Esteem,” Indones. J. Guid. Couns. Theory Appl., vol. 11, no. 2, Art. no. 2, Des 2022, doi: 10.15294/ijgc.v11i3.60895.

[5] N. Saadah, “Dukungan Sosial Teman Sebaya dan Kepercayaan Diri Terhadap Penyesuaian Diri Santri Baru Kelas Vii Di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran,” CENDEKIA J. Studi Keislam., vol. 9, no. 1, Art. no. 1, Jun 2023, doi: 10.37348/cendekia.v9i1.255.

[6] L. Enjjelina dan U. D. Rosada, “PROBLEMATIKA PENYESUAIAN DIRI SANTRI PUTRA DAN PUTRI DI

PONDOK PESANTREN MODERN KOTA YOGYAKARTA,” Pros. Semin. Nas. Penelit. DAN Pengabdi. Kpd. Masy. SNPP, vol. 4, hlm. 77–91, 2025.

[7] A. Poerwanto dan H. Murdiyani, “Hubungan antara Konsep Diri, Regulasi Diri dan Tingkat Religiusitas dengan Penyesuaian Diri pada Santri Pondok Pesantren Al-Berr Pasuruan,” Indones. Psychol. Res., vol. 3, no. 2, Art. no. 2, Jul 2021, doi: 10.29080/ipr.v3i2.511.

[8] C. M. Ruzilaati, “Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Santri Baru di Asrama Putri Pondok Pesantren Al-Islam,” diploma, IAIN Ponorogo, 2024. Diakses: 1 Agustus 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://etheses.iainponorogo.ac.id/28861/

[9] I. M. Udzma, Hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri santri baru Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Tarub Tegal. 2020.

[10] R. Nurhalimah, Salim, dan C. Marhan, “Kecerdasan Spiritual dalam Penyesuaian Diri Remaja yang Tinggal di Pondok Pesantren,” J. Sublimapsi, vol. 6, no. 2, Art. no. 2, Apr 2025, doi: 10.36709/sublimapsi.v6i2.18.

[11] D. Nuraini, “Manajemen Strategi dalam Meningkatkan Karakter Disiplin Santri di Pondok Pesantren Al- Barokah Ponorogo,” diploma, IAIN Ponorogo, 2023. Diakses: 1 Agustus 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://etheses.iainponorogo.ac.id/24079/

[12] H. Alfi, “PENGARUH BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP PENINGKATAN PENYESUAIAN DIRI DAN PERENCANAAN KARIR SANTRIWATI BARU PONDOK PESANTREN AL-ISLAM JORESAN

MLARAK KABUPATEN PONOROGO,” bachelorThesis, Falkultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi, 2024. Diakses: 2 Agustus 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/83606

[13] A. Safira, “PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DAN KONSEP DIRI TERHADAP PENYESUAIAN DIRI PADA SANTRIWATI REMAJA YANG TINGGAL DI PONDOK PESANTREN NURUL QUR’AN KENDAL,” undergraduate, UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG, 2023. Diakses: 3

Agustus 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://repository.unissula.ac.id/32191/

[14] A. Amalia, Z. Muna, dan M. fikri J. Pratama, “Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Resiliensi Akademik pada Santri Akhir Pesantren Modern Al-Zahrah,” INSIGHT J. Penelit. Psikol., vol. 2, no. 2, Art. no. 2, Agu 2024, doi: 10.2910/insight.v2i2.15210.

[15] U. Khuzaimah, Y. Anggraini, Z. R. Hinduan, H. Agustiani, dan A. G. P. Siswadi, “Dukungan Sosial dan Kebahagiaan Lansia Penghuni Panti Sosial di Medan,” Psikologika J. Pemikir. Dan Penelit. Psikol., vol. 26, no. 1, Art. no. 1, Jan 2021, doi: 10.20885/psikologika.vol26.iss1.art7.

[16] S. Maimunah, “Pengaruh Dukungan Sosial dan Efikasi Diri Terhadap Penyesuaian Diri,” Psikoborneo J. Ilm. Psikol., vol. 8, no. 2, Art. no. 2, Jun 2020, doi: 10.30872/psikoborneo.v8i2.4911.

[17] S. L. Nishfi dan A. Handayani, “Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di SMA Pondok Modern Selamat 2 Batang,” J. Psychol. Perspect., vol. 3, no. 1, hlm. 23–26, Jun 2021, doi: 10.47679/jopp.311132021.

[18] A. Kadir, Psikologi perkembangan peserta didik, Juni 2021. Sleman: Deepublish.

[19] F. S. Utami, “Pengaruh penyesuaian diri dan dukungan sosial terhadap homesickness pada santri,” other, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2024. Diakses: 3 Agustus 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://digilib.uinsgd.ac.id/88728/?utm_source=chatgpt.com

[20] A. Fitri, “HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL WALI ASRAMA DENGAN PENYESUAIAN DIRI SANTRI DI PONDOK PESANTREN MODERN SUBULUSSALAM KABUPATEN PADANG PARIAMAN,”

diploma, Universitas Andalas, 2020. Diakses: 1 Agustus 2025. [Daring]. Tersedia pada: http://scholar.unand.ac.id/61005/

[21] S. Q. Nada, “Pengaruh dukungan sosial terhadap penyesuaian diri pada santri baru Pondok Pesantren Roudhotul Muta’allimat 3 Jabon Sidoarjo,” undergraduate, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Isbrahim, 2021. Diakses: 1 Agustus 2025. [Daring]. Tersedia pada: http://etheses.uin-malang.ac.id/42333/

[22] Nuraini dan A. Fitriani, “Pengaruh Penyesuaian Diri dan Dukungan Sosial terhadap Stres Akademik pada Santri Baru Pondok Pesantren Ibnu Kholdun Al-Hasyimi Besuki Situbondo,” Psychospiritual J. Trends Islam. Psychol. Res., vol. 2, no. 2, Art. no. 2, 2023, doi: 10.35719/psychospiritual.v2i2.29.

[23] K. Nadiya, Z. Zalikha, dan A. Azhari, “Peran Pengurus Dayah dalam Penyesuaian Diri Santri Baru di Dayah Darul Muta’allimin Desa Meulayo,” J. Curr. Res. Manag. Policy Soc. Stud., vol. 1, no. 1, Art. no. 1, Jul 2024.

[24] F. Az Zahra, “Pengaruh kecerdasan emosional dan dukungan sosial musyrifah terhadap penyesuaian diri pada santri tahun pertama,” other, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2023. Diakses: 1 Agustus 2025. [Daring].

Tersedia pada: https://digilib.uinsgd.ac.id/77765/

[25] M. A. Kafi dan S. P. M. A. Permata Ashfi Raihana, “Hubungan Kecerdasan Emosi dan Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Santri,” s1, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2023. Diakses: 2 Agustus 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://eprints.ums.ac.id/116432/