<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Hubungan antara Dukungan Sosial Wali Kamar dengan Penyesuaian Diri Santri pada Tahun Pertama di SMPIT Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo</article-title>
        <subtitle>The Relationship between Dormitory Supervisors’ Social Support and The Students Self-Adjustment of in The First Year at Islamic Integrated Junior High School (SMPIT) Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Himmah</surname>
            <given-names>Erinda Shofatil</given-names>
          </name>
          <email>shofe21@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Maryam</surname>
            <given-names>Effy Wardati</given-names>
          </name>
          <email>effywardati@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-09-04">
          <day>04</day>
          <month>09</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>10</day><month>02</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-10">Pesantren adalah institusi pendidikan islami yang menyediakan hunian bagi santri di dalam lingkungan yang kondusif sebagai penunjang kegiatan serta kelancaran proses pembelajaran [1]. Asrama inilah yang sedikit membedakan antara tempat pendidikan lain, dan pondok pesantren. Dengan hal ini para santri diharapkan untuk dapat lebih banyak belajar mengenai kegiatan sehari-hari di luar sekolah. Secara tidak langsung pondok pesantren mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, kebersamaan, dan kegiatan keagamaan dengan intensitas yang lebih banyak. Lingkungan di pesantren sangat berbeda dengan lingkungan di rumah. Ketika di rumah anak biasa memulai aktivitas ketika adzan subuh. Sedangkan di pesantren santri diharuskan bangun lebih awal, bahkan sebelum subuh, untuk melaksanakan sholat malam. Santri juga dilatih bersabar dalam hal mengantri mandi atau mengambil makanan. Adanya peraturan di pondok, juga turut menjadi media bagi santri untuk melatih tanggung jawab. Karena setiap peraturan yang dilanggar, santri akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati. Oleh karena itu pesantren dapat dikatakan salah satu lembaga pendidikan yang dapat berperan sebagai pembentuk karakter [2].</p>
      <p id="_paragraph-11">Usia SMP atau yang biasa kita sebut remaja, merupakan usia pada fase perkembangan [3]. Dalam fase perkembangannya, keingintahuan yang tinggi dimiliki oleh usia remaja. Tak jarang juga mereka mengesampingkan peraturan yang ada, untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Hal ini yang mungkin menjadi alasan remaja susah untuk menaati peraturan. Pada tahun pertama di pesantren, merupakan tahun yang berat untuk para remaja. Karena mereka diminta untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan pondok. Dengan menaati peraturan-peraturan yang ada, jadwal yang padat, juga tuntutan-tuntutan dari pondok. Seperti belajar pelajaran diniyah, yang belum pernah diajarkan di</p>
      <p id="_paragraph-12">sekolah sebelumnya. Selama tahun pertama menjadi santri, masalah yang sering muncul ialah penyesuaian diri. Para Santri dimohon menyesuaikan diri agar tidak bergantung pada orang lain melalui tuntutan fisik, sosial, dan psikologis. Tuntutan fisik seperti mandiri dalam melaksanakan aktivitas, tuntutan sosial yaitu mampu berinteraksi dengan antar kawan serta guru, dan tuntutan psikologis yaitu merasa rindu dengan orang tua karena hidup tidak berdampingan [4]. Menurut Schneiders, penyesuaian diri adalah kemampuan seseorang untuk merespons kebutuhan, tekanan, dan konflik secara mental dan perilaku positif, sehingga mereka dapat menemukan keseimbangan antara tuntutan lingkungan dan tuntutan batin [5]. Kemampuan ini sangat penting bagi remaja untuk menghadapi perubahan, mengatasi masalah, dan menjalani kehidupan yang harmonis dalam berbagai lingkungan [6]. Perbedaan lingkungan di rumah dan di pondok, menjadi sebab santri melakukan penyesuaian diri. Ketika santri melalui proses dimana ia berusaha untuk menyelesaikan masalah yang ada, maka santri tersebut sedang dalam proses penyesuaian diri. Proses</p>
      <p id="_paragraph-13">penyesuaian diri santri juga terhadap tuntutan-tuntutan yang diberikan kepada setiap santri.</p>
      <p id="_paragraph-14">Menurut Runyon dan Haber penyesuaian diri diri mencakup lima elemen; a. Memiliki persepsi yang objektif pada realitas, yakni kemampuan mengenali tingkah laku, konsekuensi, dan mampu mengetahui konsekuensi atas tingkah laku tersebut b. memiliki Kemampuan untuk mengatasi stress atau tekanan dengan baik, kemampuan untuk menyelesaikan persoalan dan masalah dengan tidak cemas ataupun rasa khawatir yang berlebihan serta dapat menunda kepuasan demi meraih sasaran yang lebih besar c. Memiliki pandangan yang positif tentang diri sendiri, individu dapat menerima dirinya apa adanya, dan memiliki keselarasan dan konsistensi dalam dirinya. d. Pintar dalam menunjukkan perasaan, yakni kemampuan untuk memahami dan mengakui emosi serta mampu menanggapi secara realitas dan tetap terkontrol. e. Membangun hubungan koneksi yang baik, yakni kemampuan individu berinteraksi secara positif dengan lingkungan sosial [7].</p>
      <p id="_paragraph-15">Santri dapat mengenal kekurangan dan kelebihan diri dengan munculnya kesadaran diri. Setelah itu, santri juga bersikap realistik sudah mengenal kekurangan dan kelebihan hingga muncul penerimaan diri. Santri diharap dapat mengarahkan emosi yang dirasakan diregulasikan hingga emosi yang diregulasikan menjadi pribadi yang lebih matang. Munculnya rasa puas terhadap hal-hal yang telah terlaksana dan terpenuhi hingga muncul rasa puas. Makna penyesuaian diri diartikan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri berdasarkan pengetahuan mereka tentang lingkungannya sehingga mereka dapat berpenyesuaian diri dan mengatasi tantangan dan konflik di tempat baru.</p>
      <p id="_paragraph-16">Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ruzilawati menggarap jurnal penelitian berjudul Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Santri Baru di Asrama Putri Pondok Pesantren Al-Islam [8]. Pengelompokan yang dihasilkan dari skala penyesuaian diri pada santri Pondok Pesantren Al-Islam sedang (41%), rendah (40%), dan tinggi (19%). Santri dalam kategori rendah mendapat skor kurang 35, untuk kategori sedang menerima skor antara 45 dan 36, sedangkan kategori tinggi menerima skor lebih dari 45. Berdasarkan temuan riset Ruzilawati dan Udzma, dapat ditarik kesimpulan bahwa dukungan sosial memainkan peran penting dalam proses penyesuaian diri santri baru di lingkungan pesantren putri. Signifikansi statistik yang dilaporkan Udzma (p&lt;0,05) memperkuat keyakinan akan adanya pengaruh positif dukungan sosial terhadap penyesuaian diri [9].</p>
      <p id="_paragraph-17">Masalah penyesuaian diri seringkali dialami oleh santri baru pada tahun pertama mereka tinggal di pesantren. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem belajar yang ketat, serta kehidupan kolektif di asrama dapat menjadi tantangan tersendiri. Sebagaimana dijelaskan pada penelitian Nurhalimah, Setiap tahun 5–10 persen santri baru Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam Surakarta menghadapi masalah penyesuaian diri, seperti tidak mengikuti sistem belajar di kelas, tidak bisa tinggal di asrama santri karena tidak bisa tinggal terpisah dari orang tua, dan perbuatan yang dilarang oleh peraturan pesantren [10]<italic id="_italic-129">. </italic>Hal serupa juga ditemukan di Pondok Pesantren Al-Amien Putra, di mana pada kelas santri baru di tahun 2019, berdasarkan keterangan ketua shof kelas 1 Reguler Putra, sebanyak 27 santri tidak kembali setelah pulang ke rumahnya pasca liburan Maulid Nabi [7]. Fenomena ini mengindikasikan bahwa penyesuaian diri merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan dalam proses pembinaan santri baru di lingkungan pesantren.</p>
      <p id="_paragraph-18">Dari survei yang dilakukan sebelumnya menggunakan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap 3 santri kelas 7 yang berada di Pondok Pesantren SMPIT Darul Fikri Sidoarjo, diperoleh hasil bahwa santri pada tahun pertama masih kesulitan untuk menyesuaikan kebiasaan-kebiasaan baru di pondok. Santri juga dihadapkan dengan teman yang beragam sifatnya. Dalam menghadapi suasana baru di pondok pesantren, santri terkadang merasa cemas dan takut. Santri merasa sulit untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya sehingga membuat banyak menangis dan menyendiri. Saat berkomunikasi dengan teman yang kurang disenangi, santri terkadang kehilangan kontrol emosi. Karenanya santri belum bisa menjalin hubungan dengan banyak teman dan tidak terlalu dekat dengan guru ataupun wali kamar. Berdasarkan survei, teridentifikasi adanya isu terkait penyesuaian diri diri.</p>
      <p id="_paragraph-19">Penyesuaian diri penting bagi santri tahun pertama karena dapat membantu berpenyesuaian diri dengan lingkungan baru, sehingga dapat menjalankan peran dan kewajiban sebagai santri [11]. Ketika santri memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan dan masalah dengan tidak cemas ataupun rasa khawatir yang berlebihan, dapat menunjukkan respons perasaan yang relevan dengan realitas dan tetap terkontrol, serta dapat membangun relasi yang harmonis dengan lingkungan sosial maka termasuk santri yang baik dalam penyesuaian dirinya [12].</p>
      <p id="_paragraph-20">Kemampuan individu menyesuaikan diri sangat dipengaruhi oleh dua aspek, yakni aspek internal dan aspek eksternal [13]. Kepercayaan diri merupakan satu diantara contoh aspek internal yang dapat berpengaruh pada proses penyesuaian diri santri, ketika santri memiliki kepercayaan diri yang kuat akan lebih efisien dalam berkomunikasi serta tidak sulit untuk berpenyesuaian diri dengan lingkungan baru. Satu diantara aspek eksternal yang paling berpengaruh terhadap penyesuaian diri diri mencakup dukungan sosial wali kamar, yang mana ketika santri mendapat dukungan dari wali kamar akan memudahkan penyesuaian dirinya [5]. Dukungan sosial merujuk pada bantuan dari lingkungan sekitar yang memberikan rasa nyaman, kasih sayang, dan apresiasi kepada individu [14]. Cohen, Gottlieb &amp; Underwood memaparkan bahwa dukungan sosial adalah sebuah prosedur yang berlangsung dalam interaksi sosial yang bisa memperbaiki kualitas kesehatan dan kesejahteraan dengan mendatangkan keamanan, kerinduan, cinta, dan harga diri [15].</p>
      <p id="_paragraph-21">Menurut Sarafino terdapat empat aspek utama Dukungan sosial dalam psikologi: a. Dukungan Emosional: Melibatkan empati, perhatian, dan kasih sayang yang membuat individu merasa diterima dan diperhatikan. b. Dukungan Penghargaan: Memberikan dorongan positif dan pengakuan terhadap kemampuan individu, membantu meningkatkan harga diri. c. Dukungan Instrumental: Menyediakan bantuan fisik atau material yang diperlukan untuk mengatasi masalah. d. Dukungan Informatif: Memberikan informasi dan nasihat yang membantu individu dalam menghadapi tantangan [16].</p>
      <p id="_paragraph-22">Santri yang baru masuk ke pondok belum sepenuhnya menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan masyarakatnya. Jika santri memiliki dukungan sosial dari orang tua, teman dekat, wali kamar, dan orang lain di sekitar mereka, mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri [17]. Dengan lingkungan yang menerima atau mendukung, santri akan lebih mudah dalam melalui proses penyesuaian diri. Untuk mengetahui identitas dan perilaku santri di pondok pesantren, wali kamar adalah sumber data yang paling efektif. Berbeda di sekolah, tanggung jawab ini dipegang oleh konselor sekolah. Wali kamar menjadi penting dalam mekanisme kehidupan di pesantren dan membantu santri menjadi pribadi yang mampu menghadapi masalah sebagai seorang santri [18]. Dengan seseorang yang hadir dalam aktivitas santri setiap hari, wali kamar juga berperan dalam dukungan sosial terhadap santri yang menyesuaikan diri, terutama di tahun pertama [6].</p>
      <p id="_paragraph-23">Terdapat penelitian terdahulu tentang penyesuaian diri dan dukungan sosial. Utami melaksanakan kajian dengan tajuk <italic id="_italic-130">Pengaruh penyesuaian diri dan dukungan sosial terhadap homesickness</italic><italic id="_italic-131">pada santri </italic>[19]. Sebuah riset oleh Fitri menyoroti relasi antara bantuan sosial dari wali asrama dengan proses penyesuaian diri santri di Pondok Pesantren Modern Subulussalam [20]. Lantaran terbatasnya kajian mengenai korelasi antara dukungan sosial wali kamar dan penyesuaian diri santri, peneliti merasa perlu untuk melakukan investigasi lebih lanjut terkait hubungan ini pada santri kelas VII SMPIT Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo. Penelitian ini berfokus pada pemahaman hubungan antara kedua variabel tersebut, dengan harapan dapat memperkaya pengetahuan dan berkontribusi pada pengembangan studi ilmiah.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-24">Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kuantitatif dan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, untuk menganalisis keeratan hubungan satu variasi dalam variabel dengan satu variasi dalam variabel lainnya. Penelitian ini melibatkan dua variabel yang menjadi objek kajian, yakni dukungan sosial dan penyesuaian diri.</p>
      <p id="_paragraph-25">Subjek kajian ini adalah populasi santri tahun pertama di SMPIT Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo sebanyak 94 santri. Karena jumlah responden kurang dari 100, sampel yang dipergunakan mencakup metode sampel jenuh atau teknik pengambilan sampel ketika semua populasi bertindak sebagai sampel kajian.</p>
      <p id="_paragraph-26">Instrumen yang dipergunakan pada kajian ini mencakup skala psikologi yang mengukur penyesuaian diri dan dukungan sosial. Skala ini terdiri dari pernyataan unfavorable dan favorable dengan opsi jawaban SS, S, TS, dan STS. Pada penelitian ini terdapat dua instrumen sebagai fokus utama untuk mengambil data dari populasi yang sudah ditentukan. Pada instrumen skala penyesuaian diri memakai skala adopsi yang disusun oleh Yulianto yang terdiri dari 28 aitem pernyataan yang merujuk pada elemen yang disampaikan oleh Runyon dan Haber yaitu objektif terhadap realitas, berpenyesuaian diri terhadap tekanan, memiliki persepsi diri yang baik, mampu mengungkapkan perasaan dengan baik, dan menjalin relasi interpersonal yang efektif [7]. Skala tersebut mempunyai reliabilitas 0,89 untuk mengukur aspek-aspeknya. Pada instrumen skala dukungan sosial wali kamar peneliti menggunakan skala adaptasi. Peneliti mengadaptasi skala dukungan sosial yang dihimpun oleh Nada, dengan jumlah aitem 24 pernyataan. Skala tersebut merujuk pada elemen dukungan sosial yang disampaikan oleh Sarafino yaitu dukungan perasaan, penghargaan, bantuan praktis, dan informasi [21]. Dengan reliabilitas 0,864 untuk menilai aspek-aspek tersebut.</p>
      <p id="_paragraph-27">Teknik analisis yang diaplikasikan dalam penelitian ini adalah korelasi product moment dengan bantuan perangkat lunak JASP for Windows. Dalam proses analisis, uji asumsi klasik yang diperlukan meliputi uji normalitas dan linieritas.</p>
    </sec>
    <sec id="_heading-1">
      <title>Hasil dan Diskusi</title>
      <p id="_paragraph-28">Penelitian ini dimulai dengan menguji hipotesis-hipotesis dasar terlebih dahulu yaitu pengujian normalitas dan pengujian linearitas. Data yang diperoleh jika memenuhi kriteria yang memiliki distribusi normal dan bersifat linier, maka analisis dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.</p>
      <p id="_paragraph-29">
        <bold id="_bold-8">Standardized</bold>
        <bold id="_bold-9">Residuals</bold>
        <bold id="_bold-10">Histogram</bold>
      </p>
      <fig id="fig1">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>Gambar 1. Uji Normalitas</title>
          <p id="_paragraph-30"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-1" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image1.jpeg"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-31">Temuan uji normalitas yang tertera pada gambar 1 menggambarkan bahwa data berdistribusi normal, yang ditandai dengan kurva melengkung membentuk lonceng dengan hanya memiliki satu titik tertinggi.</p>
      <sec id="sec-1_1_1">
        <title>Penyesuaian Diri (Y) vs. Dukungan Sosial (X)</title>
        <fig id="fig2">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-11">Gambar</bold><bold id="_bold-12">2.</bold>Uji Linieritas</title>
            <p id="_paragraph-32"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-2" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image2.jpeg"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-34">Dilihat pada gambar 2 hasil analisis uji linieritas variabel dukungan sosial bersifat linier yang ditandai dengan sebaran data mengikuti garis.</p>
        <table-wrap id="tbl1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-13">Tabel</bold><bold id="_bold-14">1.</bold>Uji Hipotesis</title>
            <p id="_paragraph-36"/>
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-d0078469346ca65f9ff0d557c738560a">
                <td id="93dca5dce2df960d0845b92c6c57d565" colspan="10">
                  <bold id="_bold-15">Model Summary - Penyesuaian Diri (Y) </bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f8ff4e02993184b1091ef76d04e60847">
                <td id="441800b3030c2c1ebe12826d371e5c99" colspan="2">
                  <bold id="_bold-16">Model</bold>
                </td>
                <td id="44e41523066f3abd34a83eb1ac14b7b7" colspan="2">
                  <bold id="_bold-17">R</bold>
                </td>
                <td id="61782f1363b43ec8a93f13e205890546" colspan="2">
                  <bold id="_bold-18">R²</bold>
                </td>
                <td id="9a3628cc13c47c352fe830dba999c671" colspan="2">
                  <bold id="_bold-19">Adjusted R²</bold>
                </td>
                <td id="394a991dccb7e3b6989cd6f2dd2da9f6" colspan="2">
                  <bold id="_bold-20">RMSE</bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-604680eef021e2365350f5bdf9687b65">
                <td id="5a9e1d9f23545ef4367de50330fa443d">H₀</td>
                <td id="87a9a032a63c33fa9f6c7709e625a4fd"/>
                <td id="380e2065974f44df8bea4cc2349c233a">0.000</td>
                <td id="d26128652567f776e7ccaa9d7fdc1822"/>
                <td id="3a34b6fefdbc1fe1c57446c17ead080a">0.000</td>
                <td id="a7a6f133337232a6912135b19251bd96"/>
                <td id="b1e001a11fa1968ba8d010f23a7bff1b">0.000</td>
                <td id="2a3f463437db48de2a470c9c3b01a24d"/>
                <td id="7d17a94b4103e0ef9d36cf08419b9b64">0.321</td>
                <td id="1edc37826995cda01cf780239454e4e2"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-fd1716d0162d5143b6de19e9a56c0ade">
                <td id="c9625f304f7f70a599ef8997e26e236b">H₁</td>
                <td id="3aed4d2cb93edb305af947847d984985"/>
                <td id="12b80ea92b1c949a833a4865da298b08">0.964</td>
                <td id="59e5d0f61402ef5e1c92345aae2dfec2"/>
                <td id="ab95eab8ce660821ebd66d2e62d56548">0.930</td>
                <td id="f765cd957f02b4a2f4800ce9bda458c2"/>
                <td id="38cb1d4228f720fa6024232a6d2f7483">0.929</td>
                <td id="c2210fae86f5e88379221d940d4a9d28"/>
                <td id="ca79283b7447f654845cf9b16e893183">0.086</td>
                <td id="74bc38c5ff2c7339858f47b581c46717"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-5f0bae7cf0dd1a04f493914bb10673fb">
                <td id="381c516261e19342871a95baa4cc9123" colspan="10"/>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-37">Hasil analisis data pada tabel 1 memperlihatkan nilai dari R 0,964dan R<sup id="_superscript-1">2</sup> 0,930. Hasil ini mengindikasikan bahwa proporsi varians yang diterangkan oleh variabel tidak terpaku terhadap variabel terpaku mencapai 93%. Artinya dukungan sosial mampu menjelaskan 93% varians dalam penyesuaian diri, sementara selebihnya diberi pengaruh oleh sejumlah aspek lain yang tidak dikaji pada studi ini.</p>
        <table-wrap id="tbl2">
          <label>Table 2</label>
          <caption>
            <title><bold id="_bold-21">Tabel 2</bold>. Uji Korelasional</title>
            <p id="_paragraph-39"/>
          </caption>
          <table id="_table-2">
            <tbody>
              <tr id="table-row-cc3b12cd95c75eef0b4a32cf1842eb64">
                <td id="bbcdc12ff854bf7353dc100227079ca8" colspan="8">
                  <bold id="_bold-22">Pearson's Correlations </bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8488c19c00e5157118c96951e78ce3c2">
                <td id="e9a513a6584df7ff280aac2ab4b8596b" colspan="2">
                  <bold id="_bold-23">Variable</bold>
                </td>
                <td id="68610716c95c00f03ec0f7954e4b3caf" colspan="2">
                  <bold id="_bold-24"/>
                </td>
                <td id="16b90bbc327436fa1bedb6d077fc0fa6" colspan="2">
                  <bold id="_bold-25">Dukungan Sosial (X)</bold>
                </td>
                <td id="a2e746dc32e4ede7837a1db46f2012ed" colspan="2">
                  <bold id="_bold-26">Penyesuaian Diri (Y)</bold>
                </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-3e86076cb3f840c23352a3c6cd878909">
                <td id="99b09a0e0569a007384121ede4c301c0">1. Dukungan Sosial (X)</td>
                <td id="51b10873bf1756442777399a8f5d2d61"/>
                <td id="3b75bb919d5ac5d5cdb822a6bc3c310a">Pearson's r</td>
                <td id="790b2b1a6d39128bb3ac467112b93dd8"/>
                <td id="dd446c58216450a8ba1ed5631e8131c9">—</td>
                <td id="db0ae0651bad725181295765a8982db7"/>
                <td id="aab82827726b2d52faae1619084863c0"/>
                <td id="86e025f177bf77c371fa8aefe11cc268"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-91840bd0655155de1591781ab33b997a">
                <td id="4c3df664a6a889a7c284675ba82a45fd"/>
                <td id="59fa260a693b04f673c7a1d7594d9c13"/>
                <td id="f453841ebacb5d45d7136777ed0aba9d">p-value</td>
                <td id="3db11c4f6a27bddabd676b7c0c91add4"/>
                <td id="e067ba752ba8549bfbcd5bf9f500cf33">—</td>
                <td id="18823fb35cae74b79697ee108e647249"/>
                <td id="c4e44ad538c75ef24494699ccca371d2"/>
                <td id="d5c99f9534cae79929aa3958ae26ad19"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-9ae6d27d87b546bf6e7484dd9fd7ed99">
                <td id="966a6ac868c80be267471f1895fee901">2. Penyesuaian Diri (Y)</td>
                <td id="b9fad673b071393440d844bda4a9fa17"/>
                <td id="2edb989e8713ee402259cc26d06e9096">Pearson's r</td>
                <td id="4b7d65a1c9d557ee9540fef2708db88e"/>
                <td id="edde315f21a1037eb18f5cb41ce57174">0.964</td>
                <td id="070e4404ac2ef74aebb1bf0560a222cd"/>
                <td id="4f78cf810388689417b17cf5d544d8b4">—</td>
                <td id="cd416eb472516008e6888c9f2eb5910f"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-fce8e5a6add71548c82076c85a5527c8">
                <td id="d2b288fe4b9c2b33a0375bab564e514c"/>
                <td id="71dbdc9acfbcba1bd861203a544294a3"/>
                <td id="63e702f42a400f52d200dd761f96c1d7">p-value</td>
                <td id="244372c8dee69f127417610d0b41e09f"/>
                <td id="3284a93c5513873639d0ab303e8adab6">&lt; .001</td>
                <td id="c449902645242afacef2186902de46de"/>
                <td id="e9baabe04b5a566620f56fdb7a1aee4a">—</td>
                <td id="318e8eea1c3ee2352daacb3293079340"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-a6ed573b0f0e2eac9da0edeb43d0d877">
                <td id="3253078e0b0b86a3206d806617948131" colspan="8"/>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-40">Berdasarkan hasil analisis pada tabel 2 memperlihatkan dukungan sosial mempunyai keterkaitan yang berarti dengan penyesuaian diri. Dalam hasil pengujian hipotesis menunjukkan angka koefiensi korelasi sebesar r = 0,964 dengan p&lt;0,001. Hasil positif pada koefisiensi korelasi menunjukkan tungkat dukungan sosial yang tinggi berkorelasi positif dengan penyesuaian diri diri yang lebih baik pada santri baru tahun pertama SMPIT Darul Fikri Sidoarjo. Sebaliknya, apabila dukungan sosial yang diterima berkurang, kemampuan penyesuaian diri mereka juga akan menurun. Penting bagi santri tahun pertama untuk menyesuaian diri, karena dapat membantu berpenyesuaian diri dengan lingkungan baru, sehingga bisa menjalankan peran dan kewajiban sebagai santri [11]. Santri yang memiliki dukungan sosial dari orang tua, teman dekat, wali kamar, dan orang lain di sekitar mereka, mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri [22]. Ini senada dengan kajian Nadiya dukungan wali kamar dapat berperan sebagai orang tua, pembimbing, dan teman sehingga membantu santri baru untuk menyesuaikan diri [23]. Dukungan emosional dengan melibatkan empati, perhatian, serta kasih sayang dapat membuat santri merasa dihargai dan diperhatikan. Ketika santri merasa diterima dan diperhatikan membuat merasa lebih nyaman dengan lingkungan barunya. Akibatnya, santri baru lebih mudah menyesuaikan diri di pondok.</p>
        <p id="_paragraph-41">Penyesuaian diri adalah adalah kemampuan seseorang untuk merespons kebutuhan, tekanan, dan konflik secara mental dan perilaku positif, sehingga mereka dapat menemukan keseimbangan antara tuntutan lingkungan dan tuntutan batin [6]. Pondok pesantren merupakan lingkungan yang mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, kebersamaan, dan kegiatan keagamaan dengan intensitas yang lebih banyak. Oleh karena itu pesantren dapat dikatakan salah satu lembaga pendidikan yang dapat berperan sebagai pembentuk karakter [2]. Penelitian ini memperkuat hasil studi sebelumnya oleh Zahra yang mengungkapkan bahwa salah satu elemen yang memfasilitasi penyesuaian diri santri di lingkungan pondok adalah dukungan sosial dari wali kamar [24]. Kemampuan penyesuaian diri santri baru dibutuhkan agar memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan dan masalah dengan tidak cemas ataupun rasa khawatir yang berlebihan, dapat menunjukkan respons emosional yang selaras dengan kenyataan dan tetap terkendali, serta mampu menjalin hubungan dengan lingkungan sosial. Dukungan sosial dari wali kamar berupa dukungan penghargaan, pengakuan terhadap kemampuan individu, memberikan dorongan yang positif, dan memberikan informasi ketika santri menghadapi tantangan. Dengan seseorang yang hadir dalam aktivitas santri setiap hari, wali kamar juga berperan dalam dukungan sosial terhadap santri yang menyesuaikan diri, terutama di tahun pertama [25]. Walaupun penelitian ini mampu mengungkap dengan baik hubungan antara dukungan sosial wali kamar dengan penyesuaian diri santri baru namun memiliki keterbatasan objek penelitian fokus pada satu pondok pesantren, sehingga hasil dan kesimpulan tidak dapat digeneralisasi secara luas ke populasi lain. Perlu penelitian lanjutan dengan demografi subjek yang lebih luas untuk memperkuat temuan dan meningkatkan validitas eksternal. Penelitian ini memiliki keterbatasan waktu karena peneliti baru melaksanakan penelitian pada akhir tahun pertama santri, sehingga mungkin tidak dapat menangkap dinamika atau perubahan yang terjadi sepanjang tahun tersebut. Keterbatasan lainnya pada penelitian ini adalah hanya meneliti satu faktor eksternal dari penyesuaian diri yaitu dukungan sosial wali santri.</p>
        <p id="_paragraph-42">Pada kajian mendatang dapat mempertimbangkan variabel lain, seperti kepercayaan diri, kecerdasan emosi, dan proses belajar untuk analisis yang lebih komprehensif.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="_heading-2">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-43">Analisis penelitian ini menyimpulkan bahwa dukungan sosial wali kamar memiliki hubungan yang besar dalam penyesuaian diri santri baru di SMPIT Darul Fikri Sidoarjo. Dukungan sosial wali kamar yang berupa dukungan emosional, dorongan positif, dan nasihat dapat mendukung proses menyesuaikan diri santri baru ketika menghadapi lingkungan pondok. Berdasarkan temuan ini, santri baru disarankan untuk menjalin hubungan yang baik dengan wali kamar guna membantu penyesuaian diri di pondok. Menjadikan wali kamar sebagai sosok yang dapat memberikan dukungan dan bimbingan selama proses penyesuaian diri. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar memperluas sampel penelitian dengan melibatkan responden dari berbagai pondok pesantren dan demografis sampel. Selain itu, eksplorasi lebih lanjut terhadap variabel lain, seperti kepercayaan diri, kecerdasan emosi, dan proses belajar, dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai fenomena ini.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
