Login
Section Education

Project Based Learning Improves Elementary Science Cognitive Achievement


Pembelajaran Berbasis Proyek Meningkatkan Prestasi Kognitif Ilmu Pengetahuan Alam pada Tingkat Sekolah Dasar
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Halimatus Sadafiyah Widiarto (1), Noly Shofiyah (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Cognitive learning outcomes in elementary science are a key indicator of educational success and students’ conceptual understanding. Specific Background: In many classrooms, science instruction still relies on conventional teacher-centered approaches, resulting in passive participation, low motivation, and superficial comprehension, particularly in abstract topics such as energy transformation. Knowledge Gap: Empirical evidence from controlled classroom implementation regarding how project-based approaches relate to measurable cognitive outcomes in elementary science contexts remains limited. Aims: This study aims to determine the effect of the Project Based Learning (PjBL) model on fourth-grade students’ cognitive learning outcomes in science. Results: Using a quantitative pre-experimental one-group pretest–posttest design with 27 students, the mean score increased from 78 to 88 after treatment, surpassing the minimum competency criterion of 75; paired t-test analysis showed statistical significance (p = 0.001; t = 8.832 > 2.045). Students also demonstrated high enthusiasm and active participation during project activities. Novelty: The study provides classroom-based empirical evidence linking PjBL implementation to measurable gains in cognitive achievement on the topic of energy transformation in an Indonesian elementary school setting. Implications: The findings support the use of project-centered inquiry as an instructional alternative to conventional methods for improving science learning outcomes and fostering meaningful learning experiences at the primary level.


Highlights:










  1. Mean test performance rose from pre-instruction to post-instruction levels above the competency threshold.




  2. Statistical testing confirmed a significant difference between initial and final measurements.




  3. Learners displayed strong engagement and active involvement during project activities.









Keywords:

Project Based Learning; Cognitive Learning Outcomes; Elementary Science Education; Energy Transformation; Pre-Experimental Study




Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan adalah bidang yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena dengan adanya Pendidikan sumber daya manusia yang berkualitas dapat ditingkatkan dan dikembangkan dengan baik. Melalui pendidikan, seseorang individu bisa meningkatkan kualitas yang terdapat pada dirinya, sehingga dengan terpenuhinya kualitas diri yang unggul seorang individu akan bisa bersaing secara maksimal di era modern yang semakin berkembang ini [1]. Fungsi dan tujuan pendidikan di Indonesia telah diatur didalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan nasional.

Didalam undang-undang tersebut memuat segala hal yang bersangkutan dengan pelaksanaan pendidikan nasional di Indonesia yang meliputi dari pengertian Pendidikan fungsi dan tujuan pendidikan, jenis-jenis pendidikan, jenjang pendidikan, standart penddidikan dan lain sebagainya. Dengan demikian arah Pendidikan di Indonesia sudah ditentukan dengan sedemikian rupa [2].

Secara etimologi hasil belajar merupakan gabungan dari kata hasil dan belajar. Menurut kamus Bahasa Indonesia, hasil berarti sesuatu yang ada atau terjadi akibat usaha. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu untuk merubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Jadi, hasil belajar adalah kemampuan atau perubahan tingkah laku yang dimiliki oleh peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran, yang wujudnya berupa kemampuan kognitif, afektif, yang disebabkan oleh pengalaman [3]. Adapun permasalahan pada saat proses pembelajaran berlangsung yakni sering terjadi proses pembelajaran dengan metode ceramah, pemberian tugas serta tanya-jawab antara guru dan peserta didik saat pembelajara. Menyebabkan pemahaman materi yang didapat bersifat semu. Yang mana nantinya menjadikan peserta didik kurang memperoleh kesempatan untuk mengimplementasikan inovasi penemuan konsep yang sudah didapat sehingga pengetahuan yang didapatkan peserta didik kurang bermakna [4].

Hasil belajar adalah suatu peralihan yang timbul dalam individu peserta didik, seperti perubahan yang mencakup bidang psikomotor, bidang afektif serta bidang kognitif yang menjadi hasil dari aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan. Hasil belajar ialah capaian belajar peserta didik secara menyeluruh, yang menjadi parameter kemampuan dasar serta Tingkat perlaihan sikap yang bersangkutan [5]. Pada masa ini pemikiran anak masih terbatas hanya ada pada apa yang mereka alami melalui pengalaman langsung. Oleh karena itu, pada masa sekarang guru perlu menggunakan kemampuan yang dimiliki siswa sehingga siswa mampu berkembang secara optimal. Pada materi IPA masih bersifat abstrak dan tidak disertakan dengan hal-hal yang dapat membantu siswa dalam memahami materi, maka hasil yang dicapai oleh siswa hanya berupa hafalan materi saja [6].

Hasil belajar kognitif merupakan kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan pembelajaran. Umumnya, pengukuran suksesnya pembelajaran dilihat dari hasilnya. Peserta didik yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Proses belajar mengajar berhasil apabila daya serap terhadap materi Pelajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok, dan perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran telah dicapai siswa, baik secara individu maupun kelompok. Guru merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya peserta didik dalam belajar. Peran guru dalam pendidikan tidak terlepas dari kemampuan guru dalam menyampaikan materi pada peserta didik. Kemampuan guru sebagai salah satu usaha meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat dan bervariasi [7].

Proses pembelajaran yang melibatkan peserta didik aktif sebagai tuntutan utama saat belajar, dengan melakukan kegiatan yang mudah dipahami dan diingat dalam waktu yang cukup lama sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa. Hasil belajar kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pendidikan yang harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar dapat diperoleh dari suatu tindak belajar dan tindak mengajar. Oleh karena itu, hasil belajar memfokuskan pada pemahaman, perilaku, dan kemampuan [8].

Berdasarkan Observasi di SD Negeri Kenongo I ditemukan beberapa hal, yakni 1) peserta didik sulit untuk menjawab soal-soal yang sudah diberikan oleh guru sehingga hal tersebut mempengaruhi ketuntasan pada hasil belajar kognitif peserta didik khususnya pada pelajaran IPA, 2) kurangnya motivasi pada peserta didik dalam belajar IPA, 3) peserta didik masih banyak yang cenderung pasif di dalam kelas. 4) guru lebih sering menggunakan model pembelajaran konvensional dan monoton sehingga sangat jarang menggunakan model pembelajaran berkelompok dalam pemecahan masalah. Pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa merupakan hal yang penting, karena berpengaruh terhadap pemerolehan pengetahuan siswa pada jenjang Pendidikan selanjutnya. Keberhasilan dalam hal belajar bergantung bukan hanya pada lingkungan atau kondisi belajar tetapi pada pengetahuan awal siswa [9].

Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut maka dalam penelitian ini menggunakan model pembelajaran yang bersifat scientific inquiry yaitu Project Based Learning. Karena fokus pembelajaran terletak pada konsep dan prinsip inti dari suatu pembelajaran, melibatkan peserta didik dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain, memberi kesempatan pada peserta didik agar bekerja secara otonom untuk menggali pengetahuan mereka sendiri, mampu meningkatkan motivasi siswa, sikap kerjasama dan keterampilan dalam mengelola sumber belajar peserta didik. Dengan upaya tersebut diharapkan hasil belajar kognitif IPA siswa bisa meningkat. [10]. Proses pembelajaran berbasis proyek ini dapat membuat peserta didik lebih mudah memahami materi, karena peserta didik langsung menerapkan ilmunya ke dalam sebuah proyek yang mereka susun. Proyek tersebut akan membuat peseta didik lebih mudah mengingat konsep yang telah diperoleh. PjBl merupakan salah satu alternatif pembelajaran yang bisa digunakan tidak hanya untuk menilai aspek kognitif, tetapi juga untuk kerja peserta didik [11].

PjBlbertujuan untuk memfokuskan peserta didik pada permasalahan yang memfokuskan peserta didik pada permasalahan kompleks yang diperlukan dalam melakukan investigasi dan memahami pelajaran dengan investigasi. PjBL juga memberikan kesempatan kepada guru untuk mengelola pembelajaran dikelas dengan melibatkan kerja proyek. PjBL dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik [12].

Model pembelajaran PjBlmembuat suasana belajar mengajar menjadi lebih aktif karena pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta didik dapat belajar dari pengalamannya sendiri secara langsung dengan menjadikan project sebagai media belajar. Peserta didik dapat merencanakan, melaksanakan rancangannya, dan menginformasikan/ menyampaikan proyek yang telah dibuat. Sehingga menimbulkan memory jangka Panjang dari hasil yang telah dipelajarinya dan nantinya dapat mempengaruhi hasil belajar terutama hasil belajar IPA [13].

Mendukung untuk memberikan solusi atas permasalahan tersebut maka peneliti menemukan penelitian terdahulu Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kreativitas dan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran Project Based Learning (PjBl) dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPA kelas 5 SD [14]. Berdasarkan peneliti yang sudah didapatkan bahwa dengan model PBL dan PJBL siswa lebih bisa memahami pembelajaran yang di sampaikan karena ketertarikan dan antusias mereka selama pembelajaran sangat meningkat. PJBL mampu mengajak siswa menjadi aktif dalam belajar. Hal tersebut juga relevan dengan peneliti dimana model PJBL fokus pada aktivitas siswa dalam membuat suatu produk yang bermanfaat bagi kehidupannya. Model ini juga mampu meningkatkan Kerjasama antar siswa dalam menyelesaikan proyek yang akan dibuat dalam kelompok [15]. Berdasarkan permasalahan dari fenomena yang ada sebelumnya yakni hasil belajar siswa yang rendah terutama pada pembelajaran IPA, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian guna mengetahui “Pengaruh Model Project Based Learning (PjBL) Terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Sekolah Dasar

Metode

Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode pre-eksperimen. Metode pre-eksperimen merupakan metode penelitian yang dilakukan untuk memberikan suatu perlakuan kepada suatu kelompok penelitian, namun terlebih dahulu diuji atau diukur (pre-test) kemudian diuji lagi (post-test) [16]. Desain yang digunakan adalah one group pretest-posttest Design. Dengan menggunakan satu kelas eksperimen. Berikut desain penelitian yang digunakan:

Pretest Perlakuan Posttest
O1 X O2
Table 1. Desain Penelitian [17]

Keterangan:

O1= Nilai Pretest (sebelum diberi perlakuan)

X= Model Pembelajaran Project Based Learning (PjbL)

O2= Nilai Postest (sesudah diberi perlakuaan)

Populasi pada penelitian ini adalah peserta didik kelas IV SDN Kenongo 1 sebanyak 80 peserta didik. Dengan teknik pengambilan sampel random sampling yamg mana pada pengambilan sampel adalah salah satu kelas yakni IV-B sebanyak 27 peserta didik dari semua anggota populasi di kelas IV [18]. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan tes berupa soal pretest dan posttest. Penelitian inimenggunakan instrumen tes dengan 20 soal pilihan ganda dengan materi transformasi energi disekitar kita. Tujuan dari pretest dan posttest adalah untuk mengukur pengetahuan peserta didik setelah mempelajari materi baik sebelum maupun sesudah diajarkan pada kelas eksperimen. Dimana penggunaan model pembelajaran PjBL yang diterapkan pada kelas eksperimen. Dalam tahap uji coba soal ini akan menghasilkan beberapa kriteria yaitu uji PjBL. Untuk bentuk tes yang digunakan adalah soal pilihan ganda sebanyak 20 butir. Kognitif C1 (Mengingat) terdapat di soal nomor 1, 3, 5, 6, 9, 11, dan 16. Kognitif C2 (Memahami) terdapat di soal nomor 4, 7, 8, 12, 13, 17, dan 20. Kognitif C3 (Mengaplikasikan) terdapat di soal nomor 2, dan 19. Kognitif C4 (Menganalisis) terdapat di soal nomor 10, 14, 15, dan 18.

Uji-t sampel berpasangan adalah prosedur statistik yang biasa digunakan dalam pengujian hipotesis, khususnya ketika data yang dianalisis tidak independen melainkan terdiri dari observasi berpasangan [19]. Dengan menggunakan aplikasi SPSS 23, uji paired sample t-test digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah:

  1. H0 : μ1 = μ2, tidak terdapat perbedaan hasil pretest dan postest
  2. H1 : μ1 ≠ μ2, terdapat perbedaan antara hasil pretest dan postest

Interpretasi yang digunakan untuk pengambilan keputusan adalah:

  1. Nilai tingkat signifikansi 0,05
  2. H0 diterima apabila nilai signifikasi > nilai tingkat signifikan

H0 ditolak apabil nilai signifikasi < nilai tingkat signifikan

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan penjelasan penelitian di atas penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif jenis pre-experimental. Adapun tujuan penelitiannya yaitu untuk mengetahui pengaruh model PjBL terhadap hasil belajar kognitif IPA peserta didik di SDN Kenongo 1. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 08-09 Agustus 2025, peserta didik diberikan soal pretest untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik sebelum perlakuan, sedangkan untuk lembar soal posttest untuk mengetahui kemampuan peserta didik sesudah perlakuan. Berikut data hasil belajar peserta didik dari nilai pretest dan posttest.

No Pretest Posttest
1. 45 75
2. 85 90
3. 90 95
4. 85 95
5. 85 90
6. 80 90
7. 85 95
8. 85 95
9. 80 85
10. 85 95
11. 70 85
12. 90 95
13. 80 95
14. 75 85
15. 80 90
16. 80 90
17. 80 95
18. 85 90
19. 70 85
20. 75 80
21. 80 85
22. 80 85
23. 75 90
24. 55 75
25. 80 85
26. 80 85
27. 80 90
Jumlah 2120 2390
Rata-rata 78 88
Table 2. Hasil nilai pretest dan posttest siswa

Berdasarkan tabel. 3 diperoleh bahwa rata-rata nilai dari 27 siswa kelas IV-B sebelum diberi perlakuan sebesar 78 (nilai pretest) dan rata-rata nilai sesudah diberi perlakuan sebesar 88 (nilai posttest). Nilai yang diperoleh peserta didik pada lembar soal pretest diketahui peserta didik yang belum tuntas sebanyak 7 peserta didik dari 27 peserta didik sedangkan peserta didik yang tuntas sebanyak 20 peserta didik. Selanjutnya setelah diterapkan Model PjBL diperoleh hasil nilai posttest terendah sebesar 75 dari tertinggi 95. Acuan KKM yang digunakan pada mata pelajaran IPA di SDN Kenongo 1 sebesar 75. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh hasil belajar kognitif peserta didik setelah diterapkan Model PjBl.

Figure 1. Grafik Hasil Pretest dan Posttest peserta didik

Pada grafik hasil nilai pretest dan posttest diatas, menunjukkan bahwa kategori nilai 0-70 pretest sebanyak 2 peserta didik dan posttest tidak ada. Kategori nilai 71-80 pretest sebanyak 16 peserta didik dan posttest sebanyak 3 peserta didik. Kategori nilai pretest 81-90 sebanyak 9 peserta didik dan posttest sebanyak 16 peserta didik. Kategori nilai 91-100 pretest tidak ada dan posttest 8 peserta didik. Kategori nilai 90-100 pretest sebanyak 2 peserta didik dan posttest sebanyak 3 peserta didik.

    Figure 2. Hasil percobaan membuat sumber energi listrik alternatif dari buah

    Figure 3. Hasil percobaan membuat alat pemanas sederhana menggunakan energi matahari

    1 . Uji Normalitas

    Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah sebaran dari masing-masing variabel mempunyai distribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini menggunakan Shapiro Wilk. Teknik ini digunakan untuk mencari normalitas sebaran skor jika skala yang digunakan adalah interval [20]. Hasil dari uji normalitas dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa setiap variabel dalam penelitian ini berdistribusi normal. Adapun hasil uji normalitas disajikan pada tabel 4.

    Test of Normality
    Kode Shapiro Wilk
    N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
    Hasil Belajar Pretest 27 45 90 78.52 9.689
    Posttest 27 75 95 88.52 5.853
    Table 3. Hasil Uji Normalitas

    Dari tabel 4.4 dan tabel 4.5 dapat dikatakan bahwa data nilai pretest signifikasinya sebesar 90 > 45 dan data nilai posttest signifikasinya sebesar 95 > 75. Karena signifikasi data nilai pretest dan posttest lebih dari 45 dan 75 maka kedua data berdistribusi normal dengan uji normalitas. Maka bisa disimpulkan bahwa seluruh variabel memiliki distribusi normal, sehingga syarat uji normalitas telah terpenuhi.

    2. Uji Hipotesis

    Setelah melakukan uji normalitas, diketahui bahwa soal nilai pretest dan posttest berdistribusi normal, oleh karena itu uji hipotesis digunakan untuk membandingkan hasil belajar kognitif peserta didik yang diperoleh dari soal nilai pretest dan soal posttest [21]. Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh Model Project Based Learning terhadap hasil belajar kognitif IPA Sekolah Dasar”. Analisis yang digunakan uji-t paired menggunakan SPSS 23. Syarat data bersifat signifikan apabila Thitung > Ttabel.

    Paired Differences t df Significance
    Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference One-Sided p Two-Sided p
    Lower Upper
    Pair 1 Pretest- Posttest -10.000 5.883 1.132 -12.327 -8.832 -8.832 26 <,001 <,001
    Table 4. Hasil Uji Paired Sample T-Test

    (Sumber: Output IBM SPSS 23)

    Hipotesis penelitian diuji dengan menggunakan t-test berpasangan yang menghasilkan nilai signifikansi 0,001 atau nilai signifikansi < Tingkat signifikansi yang digunakan 0,05. Diperoleh hasil thitung 8.832 > ttabel 2,045 yang dimaksud bahwa H0 ditolak dan H1 diterima dan hal tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh model Project Based Learning terhadap hasil belajar kognitif IPA peserta didik dari hasil sebelum dan setelah diberikannya tes. Konsisten dengan penelitian yang menunjukkan peningkatan hasil belajar kognitif peserta didik dari model Project Based Learning terhadap hasil belajar kognitif IPA siswa dengan thitung>ttabel (4,60>2,00) yang berarti hipotesis kerja (Ha) dalam penelitian ini diterima [22].

    Hal ini menunjukkan bahwa model PjBL dapat digunakan dan ditingkatkan sebagai metode untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik, sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar kognitif mereka. Sejalan dengan penelitian Saidatul dkk menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Project Based Learning mampu memberikan peningkatan terhadap minat dan hasil belajar siswa kelas 4 di Sekolah Dasar [23]. Model Project Based Learning dirancang untuk digunakan pada permasalahan kompleks yang diperlukan peserta didik dalam melakukan investigasi dan memahaminya. Model pembelajaran PjBL telah terbukti sangat menguntungkan bagi peserta didik, yang mengarah pada peningkatan hasil belajar, karena model ini mendorong tumbuhnya kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, dan kepercayaan diri [24].

    Adapun peningkatan hasil belajar peserta didik dikarenakan dalam proses pelaksanaannya model PjBL ini menggunakan proyek sebagai kegiatan pembelajaran yang mendorong semangat peserta didik dalam menerima Pelajaran serta peserta didik dapat mencari tahu sendiri berbagai informasi dan pengetahuan dengan terlibat aktif dalam proses pembelajaran, sebagai karakteristik dari model pembelajaran PjBL, beberapa karakteristik model pembelajaran PjBL yaitu berpusat pada peserta didik dengan membuat produk dan melakukan percobaan. Dibandingkan dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran konvensional Tingkat partisipasi peserta didik sangar rendah mengakibatkan peserta didik mudah melupakan materi yang diajarkan.

    Pembelajaran dengan menggunakan model PjBL ini juga dapat melatih peserta didik untuk berpikir kreatif dan aktif. Hal ini dapat diamati pada saat kegiatan diskusi kelompok dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan proyek yang sudah diberikan. Dalam diskusi kelompok dapat terjalin Kerjasama antar peserta didik sehingga peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran dan memahami materi yang dipelajari. Selain itu, secara tidak langsung peserta didik belajar untuk saling memahami dan menghormati pendapat orang lain. Dengan demikian, Kerjasama dalam diskusi kelompok dan pengerjaan proyek dapat mengembangkan dan mempraktekkan keterampilan komunikasi peserta didik.

    Hasilnya, pembelajaran yang dicapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pemanfaatan model pembelajaran yang beragam dan ditingkatkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik meliputi strategi seperti membangkitkan minat, menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik melalui penerapan model pembelajaran, dan termasuk latihan praktikum. Komponen praktikum dalam model pembelajaran PjBL melibatkan pemanfaatan benda-benda yang sudah tersedia di lingkungan peserta didik sebagai alat pendidikan. Model pembelajaran PjBL dianggap sesuai untuk digunakan didalam kelas, karena memiliki potensi untuk meningkatkan hasil belajar kognitif peserta didik.

    Simpulan

    Berdasarkan hasil analisis data maka diperoleh kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada penerapan model PjBL terhadap hasil belajar kognitif peserta didik pada mata Pelajaran IPA materi Transformasi Energi disekitar Kita. Berdasarkan dari analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini, maka peneliti menyimpulkan: Ada Pengaruh Model PjBL terhadap hasil belajar kognitif peserta didik kelas IV di SDN Kenongo 1 dibuktikan dengan perhitungan uji t, bahwa thitung 8.832 > ttabel 2,045 dengan taraf signifikan 5%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima.

    Ucapan Terima Kasih

    Terima kasih kepada Allah SWT. Terima kasih kepada kedua orang tua saya yang telah membimbing dan mensuport saya saat penegerjaan artikel ini. Terima kasih kepada teman-teman saya yang telah membantu dan memberikan saran kepada saya hingga artikel ini selesai. Terima kasih kepada kepala sekolah, guru wali kelas IV-B, serta peserta didik kelas IV-B di SDN Kenongo 1 yang telah bersedia berkonstribusi secara langsung dalam pengumpulan data pada penelitian ini. Terima kasih.

References

[1] T. S. Windasari and H. Syofyan, “Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 10, no. 1, pp. 1–12, 2019.

[2] I. W. C. Sujana, “Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Indonesia,” Adi Widya: Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 4, no. 1, pp. 29–39, 2019.

[3] Y. Yanti, “Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN 09 Kubu Dalam Mata Pelajaran PAI Pada Materi Mengenal Kitab-Kitab Allah Melalui Strategi Gallery Of Learning,” Borneo: Journal Of Islamic Studies, vol. 2, no. 2, pp. 148–160, 2022.

[4] F. Adawiyah, “Variasi Metode Mengajar Guru Dalam Mengatasi Kejenuhan Siswa Di Sekolah Menengah Pertama,” Jurnal Paris Langkis, vol. 2, no. 1, pp. 68–82, 2021.

[5] O. Friskilia and H. Winata, “Regulasi Diri (Pengaturan Diri) Sebagai Determinan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Kejuruan,” Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, vol. 3, no. 1, pp. 36–43, 2018.

[6] A. P. Surya, S. C. Relmasira, and A. T. A. Hardini, “Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Kreativitas Siswa Kelas III SD Negeri Sidorejo Lor 01 Salatiga,” Pesona Dasar: Jurnal Pendidikan Dasar Dan Humaniora, vol. 6, no. 1, 2018.

[7] D. Gunawan, “Pengaruh Media Video Interaktif Terhadap Hasil Belajar Kognitif Kelas IV SD Negeri 2 Karangrejo Trenggalek,” Eduproxima: Jurnal Ilmiah Pendidikan IPA, vol. 2, no. 1, 2020.

[8] R. Hidayah and P. Pujiastuti, “Pengaruh PBL Terhadap Keterampilan Proses Sains Dan Hasil Belajar Kognitif IPA Pada Siswa SD,” Jurnal Prima Edukasia, vol. 4, no. 2, pp. 186–197, 2016.

[9] H. Hanifah, S. Susanti, and A. S. Adji, “Perilaku Dan Karakteristik Peserta Didik Berdasarkan Tujuan Pembelajaran,” Manazhim, vol. 2, no. 1, pp. 105–117, 2020.

[10] D. Widiastutik, K. Fajriyah, V. Purnamasari, and S. Raharjo, “Penerapan Model PjBL Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Tlogosari Kulon 01,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 7, no. 1, pp. 4090–4096, 2023.

[11] Y. A. U. Ansya, “Upaya Meningkatkan Minat Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Pada Pembelajaran IPA Menggunakan Strategi PjBL (Project-Based Learning),” Jurnal Ilmu Manajemen Dan Pendidikan, vol. 3, no. 1, pp. 43–52, 2023.

[12] P. L. Antari, I. W. Widiana, and I. M. C. Wibawa, “Modul Elektronik Berbasis Project Based Learning Pembelajaran IPAS Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dan Pembelajaran, vol. 7, no. 2, pp. 266–275, 2023.

[13] N. N. Rizka and F. A. Pratama, “Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching Melalui Strategi TANDUR Untuk Meningkatkan Kompetensi Kognisi Siswa,” Jurnal Edukasi (Ekonomi, Pendidikan Dan Akuntansi), vol. 6, no. 1, pp. 183–192, 2018.

[14] Y. Budiarti and K. N. Putri, “Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran IPA Siswa Di Sekolah Dasar,” Pedagogik: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 10, no. 1, pp. 64–78, 2022.

[15] I. W. Darmayoga and I. K. Suparya, “Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Berbantuan Media Visual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SD N 1 Penatih Tahun Pelajaran 2019/2020,” Pendidikan: Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 2, no. 1, pp. 41–50, 2021.

[16] N. Hayati, “Pengaruh Metode Eksperimen Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Jaddih 04,” Repository STKIP PGRI Bangkalan, 2021.

[17] M. I. Syahroni, “Prosedur Penelitian Kuantitatif,” Jurnal Al Musthafa, vol. 2, no. 3, pp. 43–56, 2022.

[18] S. M. Farihatun and R. Rusdarti, “Keefektifan Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Peningkatan Kreativitas Dan Hasil Belajar,” Jurnal Analisis Pendidikan Ekonomi, vol. 8, no. 2, pp. 635–651, 2019.

[19] D. A. Rahmani, R. Risnawati, and M. F. Hamdani, “Uji T-Student Dua Sampel Saling Berpasangan (Paired Sample T-Test),” Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, vol. 4, no. 2, pp. 568–576, 2025.

[20] R. H. Kaban, D. Anzelina, R. Sinaga, and P. J. Silaban, “Pengaruh Model Pembelajaran PAKEM Terhadap Hasil Belajar Siswa Di Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 1, pp. 102–109, 2021.

[21] R. Damayanti, K. Yudiana, and P. A. Antara, “Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Paired Storytelling Dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas V Sekolah Dasar,” Indonesian Journal Of Instruction, vol. 3, no. 2, pp. 81–91, 2022.

[22] I. K. Suardika, H. Heni, and L. Anse, “Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar,” Autentik: Jurnal Pengembangan Pendidikan Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 10–20, 2021.

[23] R. A. Siregar, “Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning Berbantu Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Peserta Didik Kelas IV SD 101244 Muhammadiyah Parsorminan Tapanuli Selatan,” Doctoral Dissertation, UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, 2023.

[24] N. Hanipa, “Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning Siswa Kelas IV SD Negeri 100314 Huraba Kabupaten Tapanuli Selatan,” Doctoral Dissertation, UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, 2024.