Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Business and Economics
DOI: 10.21070/acopen.3.2020.1150

Effect of Firm Size Firm Growth Firm Age and Independent Commissioner on Intellectual Capital Disclosure in Banking Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange in the period 2014 – 2018


Pengaruh Firm Size Firm Growth Firm Age dan Independent Commissioner terhadap Intellectual Capital Disclousure pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2014 – 2018

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Firm Size Firm Growth Firm Age Independent Commissioner Intellectual Capital Disclousure

Abstract

The purpose of the study was to determine and analyze the effect of Firm Size, Firm Growth, Firm Age and Independent Commissioner on Intellectual Capital Disclousure partially and simultaneously to determine a model that can be used to measure Intellectual Capital Disclousure in companies by using panel data regression in Registered Banking companies on the Indonesia Stock Exchange. This study applies quantitative method and the object of this research is done by population and sample randomly (purposive sampling), which are 11 consumer goods companies that were Listed on the Indonesia Stock Exchange in the period 2014 - 2018. The technique of collecting data used annual financial statements from the period 2014 - 2018 and analysis used panel data regression method with common model approach using Eviews 9 program.The results of this study showed that simultaneously and partially variables Firm Size, Firm Growth, Firm Age and Independent Commissioner have a significant effect on Intellectual Capital Disclousure

I. Pendahuluan

Perkembangan teknologi dan informasi yang pesat pada masa kini menyebabkan banyak perusahaan merubah strategi bisnis mereka yang awalnya berdasarkan tenaga kerja (laborbased business) berubah menjadi bisnis yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge-based business) [1]. Modal intelektual kini dirujuk sebagai faktor penyebab sukses yang penting, karena itu menimbulkan tantangan bagi para akuntan untuk mengidentifikasi, mengukur dan mengungkapkannya dalam laporan keuangan agar perusahaan dapat mencapai tujuannya yaitu memperoleh keuntungan [2]. Pengungkapan modal intelektual atau intellectual capital disclosure dalam laporan tahunan akan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, seperti membantu perusahaan dalam memformulasikan strategi, menilai strategi perusahaan, membantu proses pembuatan keputusan ekspansi dan diversifikasi, serta digunakan sebagai dasar untuk menentukan kompensasi bagi external stakeholders[1]. Bagi perusahaan yang sebagian besar asetnya dalam bentuk modal intelektual seperti perusahaan jasa keuangan dan kantor akuntan publik (KAP) tidak adanya informasi dalam laporan keuangan akan menyesatkan, karena dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan. Oleh karena itu laporan keuangan harus mampu menyajikan informasi aktiva tidak berwujud dan besarnya nilai yang diakui.

Berdasarkan orientasi operasional perusahaan, pengungkapan modal intelektual pada perusahaan perbankan dianggap lebih tinggi intensitasnya karena perusahaan ini menjadikan pengetahuan dan sumber daya manusia sebagai sumber utama pendapatan operasional perusahaan. Hal ini ditemukan dalam penelitian [1] bahwa industri keuangan yang didalamnya termasuk perbankan mempunyai pengungkapan modal intelektual yang lebih tinggi dibandingkan dengan industri lain seperti information, customer product dan trading/services. Secara ringkas fenomena keunggulan modal intelektual yang berkembang diperusahaan perbankan dapat dilihat pada perkembangan rata-rata pertumbuhan harga saham perbankan untuk periode 2014-2016, data tersaji pada tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1

Data Pertumbuhan Rata-Rata Harga Saham 2014 - 2016

No Nama Perusahaan Harga Saham per Periode perusahaan Rata-rata Pertumbuhan
2014 2015 2016
12345 Bank BCA, TbkBank BRI, TbkBank BTN, TbkBank BJBR, TbkBank Mandiri, Tbk Rp13.375Rp10.750Rp1.405Rp730Rp10.100 Rp10.100Rp8.725Rp1.315Rp755Rp. 9.250 Rp16.200Rp12.200Rp2.100Rp3.390Rp11.575 Rp1.312,50Rp725Rp347,50Rp1.330Rp737,50

Gambar 1

Rata-rata Pertumbuhan Harga Saham 2014-2016

Sumber : Data diolah 2019

Berdasarkan tabel 1 dapat dirincikan perkembangan pertumbuhan rata-rata harga saham beberapa perbankan yang mewakilkan sektor perbankan dengan nilai perusahaan yang baik untuk tahun 2014 sampai 2016. Pemilihan lima perusahaan perbankan ini karena memiliki rata-rata pertumbuhan harga saham yang positif, sehingga diindikasi adanya ukuran modal intelektual dan pengungkapannya yang baik pada nilai perusahaan tesebut. Menurut laporan tahunan Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJBR) (2016:132) menyebutkan fenomena ini dilatarberlakangi, adanya pertumbuhan ekonomi di Indonesia sebesar 5,02% dibandingkan pada tahun 2015 sebesar 4,79%. Indikator-indikator penting makro ekonomi memperlihatkan ekonomi yang stabil di tahun 2016, sehingga berdampak pada perusahaan perbankan sebagai pengakomodir utama kegiatan ekonomi negara. Pertumbuhan rata-rata harga saham pada Bank BJB mengalami pertumbuhan rata-rata harga saham tertinggi sebesar Rp 1.330 dari kelima perusahaan yang tersaji di tabel atas. Perusahaan ini mengalami kenaikan harga saham sejak tahun 2014 sampai 2016, hal ini sejalan dengan fakta pertumbuhan ekonomi yang berlangsung di Indonesia. Bank BJBR tercatat di BEI dengan laporan perusahaan yang lengkap, sehingga menyediakan sumber informasi yang dibutuhkan investor dalam mengambil keputusan berinvestasi.

Variabel independen pertama dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan. Dimana ukuran perusahaan dianggap sebagai faktor penting dalam pengungkapan intellectual capital, karena perusahaan besar didukung dengan sumber daya yang memadai akan mengungkapkan lebih banyak informasi dimana pengungkapan yang lebih luas akan memberi gambaran perusahaan kepada pengguna informasi. Pengaruh signifikan ukuran perusahaan terhadap intellectual capital ditunjukkan dalam penelitian[3]. Perusahaan berskala besar menunjukkan bahwa perusahaan mengalami perkembangan yang sangat cepat, sebaliknya perusahaan skala kecil akan cenderung tidak membuat pengungkapan lengkap. Ini berhubungan dengan perusahaan kecil mengalami persaingan yang ketat dalam pengembangan bisnis mereka. Jika yang lebih besar ukuran perusahaan, semakin tinggi permintaan akan informasi pengungkapan dibandingkan dengan perusahaan kecil, dengan mengungkapkan lebih banyak informasi, perusahaan berusaha untuk menekankan bahwa perusahaan telah menerapkan manajemen perusahaan yang baik prinsip Deskripsi menjelaskan perusahaan itu. Ukuran dapat digunakan untuk memoderasi pengaruh profitabilitas, pertumbuhan laba, dan komisaris independen pada pengungkapan modal intelektual.

Penelitian mengenai hubungan antara variabel ukuran perusahaan dengan pengungkapan modal intelektual didukung oleh penelitian [4], [5] yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan positif terhadap pengungkapan modal intelektual. Namun hasil penelitian tersebut bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh [6], yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan modal intelektual.

Variabel independen kedua dalam penelitian ini adalah pertumbuhan perusahaan. Variabel ini digunakan karena perusahaan dengan pertumbuhan yang signifikan tentu akan melakukan pengungkapan modal intelektual secara lebih luas dibandingkan dengan bank yang kurang pertumbuhannya sebagai bentuk pemberian sinyal positif yang diberikan bank kepada pengguna laporan keuangan.

Hasil penelitian [7] di Malaysia menemukan adanya pengaruh yang signifikan pertumbuhan perusahaan terhadap pengungkapan intellectual capital. Di pihak lain, [8] tidak berhasil menemukan adanya pengaruh secara signifikan pertumbuhan perusahaan terhadap pengungkapan intellectual capital.

Variabel independen ketiga dalam penelitian ini adalah usia perusahaan Alasan yang mendasari memasukan umur perusahaan ini adalah bahwa semakin tua usia perusahaan, maka memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam pengelolaan dan pemeliharaan modal intelektual akan menjadi lebih optimal dan dengan sendirinya dapat meningkatkan kinerja modal intelektual tersebut. Sehingga kinerja akan meningkat nilai reputasi perusahaan pun akan semakin tinggi pula. Dengan peningkatan kinerja dan nilai reputasi maka manajer akan mengungkapkan modal intelektual secara sukarela.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh [9] menemukan adanya pengaruh signifikan negatif antara umur perusahaan terhadap pengungkapan intellectual capital. Sementara penelitian yang dilakukan oleh [10] adanya hubungan yang signifikan umur perusahaan terhadap pengungkapan intellectual capital.

Variabel independen keempat dalam penelitian ini adalah komisaris independen. Dalam upaya meningkatkan kualitas pengawasan dari tindakan oportunistik manajemen perusahaan, penerapan pengendalian internal keberadaan komisaris independen sangat diperlukan sehingga menghindari adanya informasi peruahaan yang tidak diungkapkan. [11] menyatakan bahwa semakin banyak jumlah komisaris independen dalam dewan, maka semakin besar memiliki pengaruhnya yang tinggi dalam hal pengungkapan informasi.

Penelitian dilakukan oleh [12] menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan positif komisaris independen terhadap pengungkapan modal intelektual. Tidak seperti itu hasil penelitian dari [13 ]komisaris independen tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan modal intelektual.

Pada penelitian ini menggunakan sektor perusahaan jasa keuangan khususnya pada sub sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan pada sektor jasa keuangan bersifat knowledge intensive karena aktivitasnya lebih banyak memanfaatkan intellectual capital dibandingkan dengan industri manufaktur yang lebih banyak menggunakan aset fisik [14]. Perusahaan sektor jasa keuangan, manufaktur, maupun sektor lainnya semuanya pasti melakukan pelatihan dan pendidikan terhadap karyawannya, tujuannya agar pengetahuan karyawan bertambah sesuai bidang yang dikerjakannya. Perusahaan jasa keuangan lebih mengedepankan intelektual dari karyawannya, karena kinerja perusahaan dapat tergambar jelas dari intelektual yang dimiliki karyawannya. Karena itu, perusahaan jasa keuangan sekiranya merupakan perusahaan yang paling menggambarkan pentingnya modal intelektual dalam meningkatkan nilai perusahan, dimana pelayanan merupakan hal terpenting dalam perusahaan. Bagi perusahaan jasa keuangan keuangan, turn off karyawan menjadi salah satu penentu nilai perusahaan.

Perusahaan jasa keuangan mengutamakan citra dan nama baik untuk mempertahankan pelanggan dan untuk menarik stakeholder. Hal itu menjadikan pelayanan sebagai modal utama pembangunan citra pada masyarakat, karenanya modal intelektual merupakan hal penting yang sepatutnya diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan jasa keuangan. Perbedaan objek penelitian bertujuan untuk mengembangkan penelitian tentang pengungkapan modal intelektual dengan menggunakan jenis perusahaan yang berbeda. Maka dari itu peneliti menggunkan perusahaan pada sektor jasa keuangan yaitu sub sektor perbankan konvensional maupun syariah karena dianggap perusahaan pada sektor ini lebih banyak mengungkapkan aset tidak berwujudnya yaitu intellectual capital.

Berdasarkan uraian yang dijelaskan diatas maka peneliti termotivasi untuk mengambil judul “ Pengaruh Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner terhadap Intellectual Capital Disclousure pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2014 – 2018 ”.

II. Metode

Penelitian ini tidak dilakukan secara langsung di perusahaan, melainkan data diambil dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berada di kampus universitas Muhammadiyah Sidoarjo Jln. Mojopahit-Sidoarjo.

Populasi yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan (konvensional) yang terdaftar di bursa efek Indonesia (BEI) sebanyak 35 Perusahaan. Sedangkan Sampel yang digunakan adalah sebanyak 11 Perusahaan perbankan (konvensional) yang terdaftar di bursa efek Indonesia (BEI).

Jenis data penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistic dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan sumber data sekunder. Data dalam penelitian ini sudah dipublikasikan dan diperoleh melalui BEI Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan situs resmi bursa efek Indonesia .

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Cara dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder dari berbagai sumber, baik secara pribadi maupun kelembagaan. Data dalam penelitian ini diperoleh dari galeri Bursa Efek Indonesia (BEI) di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Gambar 2 Kerangka Konseptual

  • Lokasi Penelitian
  • Populasi dan Sampel
  • Jenis Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Kerangka Konseptual
  • Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penelitian, tinjaun teoritis, dan kerangka konseptual yang dipaparkan diatas, maka anggapan sementaranya adalah diduga sebagai berikut :

H1 = Firm Size berpengaruh secara signifikan terhadap Intellectual Capital Disclousure

H2 = Firm Growth berpengaruh secara signifikan terhadap Intellectual Capital Disclousure

H3 = Firm Age berpengaruh secara signifikan terhadap Intellectual Capital Disclousure

H4 = Independent Commissioner berpengaruh secara signifikan terhadap Intellectual Capital Disclousure

H5 = Firm Size, Firm Age, Firm Growth dan Independent Commissioner berpengaruh secara signifikan terhadap Intellectual Capital Disclousure

III. Hasil dan Pembahasan

Deskriptif Statistik digunakan untuk melihat gambaran umum atau deskripsi dari masing-masing variabel dari data yang digunakan dalam penelitian. Di dalam penjelasan analisis tersebut dapat diketahui berapa banyak sampel yang digunakan, nilai minimun, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), dan deviasi standar (standart deviation) dari masing-masing variabel.

Variabel yang digunakan dalam penelitian, yakni variabel independen yang terdiri dari Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner. Sedangkan variabel dependen yang digunakan yaitu Intellectual Capital Disclousure. Berikut pengujian deskriptif statistik yang disajikan dalam tabel dibawah ini :

Tabel 2

Pengujian Deskriptif Statistik

ICD Firm Size Firm Growth Firm Age Independent Commissioner
 Mean  0.77702  19.10500  1684.346  55.00000  0.543109
 Median  0.72201  18.88335  752.0000  56.00000  0.500000
 Maximum  0.86135  20.98324  9520.000  123.0000  0.800000
 Minimum  0.66130  17.45305  7.000000  15.00000  0.330000
 Std. Dev.  0.132308  0.969828  2196.953  26.61801  0.086102
 Skewness  0.401664  0.495273  1.784409  0.911145  1.321670
 Kurtosis  3.879513  2.263132  5.350003  4.338582  5.539500
 Jarque-Bera  3.251601  3.492858  41.84350  11.71624  30.79154
 Probability  0.196754  0.174396  0.000000  0.002857  0.000000
 Sum  39.96500  1050.775  92639.04  3025.000  29.87100
 Sum Sq. Dev.  1.357259  50.79054  2.614908  38260.00  0.400329
 Observations  55  55  55  55  55

Berdasarkan uji deskriptif statistik dapat diketahui infornasi bahwa jumlah data yang valid dalan penelitian ini yakni 55 sampel dan hasil analisis deskriptif yaitu empat (4) variabel independen Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner. Dan Satu (1) variabel dependen yaitu Intellectual Capital Disclousure dapat dilihat sebagai berikut :

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa variabel Firm Size memiliki rentan nilai yakni, nilai terendah sebesar 17.45305 dengan nilai tertinggi sebesar 20.98324. Nilai rata-rata (mean) sebesar 19.10500 dan nilai deviasi standar (standart deviation) sebesar 0.969828.

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa variabel Firm Growth memiliki rentan nilai yakni, nilai terendah sebesar 7.000.000 dengan nilai tertinggi sebesar 9.520.000. Nilai rata-rata (mean) sebesar 1684.346 dan nilai deviasi standar (standart deviation) sebesar 2196.953.

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa variabel Firm Age memiliki rentan nilai yakni, nilai terendah sebesar 15.00000 dengan nilai tertinggi sebesar 123.0000. Nilai rata-rata (mean) sebesar 55.00000 dan nilai deviasi standar (standart deviation) sebesar 26.61801.

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa variabel Independent Commissioner memiliki rentan nilai yakni, nilai terendah sebesar 0.330000 dengan nilai tertinggi sebesar 0.800000. Nilai rata-rata (mean) sebesar  0.543109 dan nilai deviasi standar (standart deviation) sebesar 0.086102.

  • Firm Size
  • Firm Growth
  • Firm Age
  • Independent Commissioner
  • Intellectual Capital Disclousure

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa variabel Intellectual Capital Disclousure memiliki rentan nilai yakni, nilai terendah sebesar  116.1300 dengan nilai tertinggi sebesar 156.5000. Nilai rata-rata (mean) sebesar 130.9027 dan nilai deviasi standar (standart deviation) sebesar  8.132308.

2. Uji Hipotesis

a. Uji Asumsi Klasik

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat variabel dependen dan independen mempunyai distribusi normal atau tidak. Uji normalitas data menyebutkan bahwa bila asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid, berikut hasil uji normalitas dalam penelitian ini :

Gambar 3 Uji Normalitas

Dalam menentukan normal atau tidaknya data dapat dilihat pada nilai probability dari Jarque-Bera, berdasarkan hasil pengujian normalitas diatas dapat menunjukkan bahwa nilai probability dari jarque bera sebesar 0.079296 yang berarti lebih besar dari 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas. Berikut hasil uji multikolinearitas dalam penelitian ini :

Tabel 3

Uji Multikolonieritas

Variable CoefficientVariance UncenteredVIF CenteredVIF
C  412.1213  21452.11  NA
Firm Size  0.217822  111.2133  1.114321
Firm Growth  2.215689  21678.99  1.312429
Firm Age 0.216509 911.4285 1.195821
Independent Commissioner 0.317852 109.3332 1.092176

Berdasarkan tabel 3 diatas dapat disimpulkan bahwa nilai Centered VIF dari masing-masing variabel independen (dapat dilihat pada Centered VIF) lebih kecil dari 10 maka dapat disimpulkan bahwa data tidak terjadi masalah multikolonieritas.

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Berikut hasil uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini :

Tabel 4

Uji Heteroskedastisitas

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -3.714665 14.58069 -0.254766 0.7999
Firm Size -0.198417 0.723576 -0.274217 0.7850
Firm Growth 5.592105 0.000338 0.165508 0.8692
Firm Age 0.001089 0.028557 0.038130 0.9697
Iii Independent Commissioner 4.501348 0.833328 0.129383 0.0529

Berdasarkan tabel 4 diatas menunjukkan bahwa nilai probability dari masing-masing variabel independen secara berturut-turut adalah 0.7850, 0.8692, 0.9697, dan 0.0529 yang menunjukkan bahwa semua nilai berada diatas 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa data tidak terjadi gejala heteroskedastisitas pada model penelitian ini.

  • Uji Normalitas
  • Uji Multikolonieritas
  • Uji Heteroskedastisitas
  • Uji Autokorelasi

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui adanya korelasi antara data yang diurutkan menurut waktu atau ruang tertentu. Untuk mendeteksi adanya autokorelasi, pengujian ini melakukan Durbin-Watson. Berikut hasil uji autokorelasi dalam penelitian ini :

Tabel 5

Uji Autokorelasi

R-squared 0.739150 Mean dependent var 1684.346
Adjusted R-squared 0.647852 S.D. dependent var 2196.953
S.E. of regression 1303.717 Akaike info criterion 17.41083
Sum squared resid 67987071 Schwarz criterion 17.95828
Log likelihood -463.7977 Hannan-Quinn criter. 17.62253
F-statistic 8.096054 Durbin-Watson stat 1.712031
Prob(F-statistic) 0.000000

Berdasarkan tabel 5 diatas dapat diketahui bahwa nilai Durbin-Watson beradadiantara dL < dw < 4-dU = 1.4136 < 1.712031 < 2.2760 maka dapat disimpulkan bahwa data tidak terjadi gejala autokorelasi pada model penelitian ini.

b. Analisis Regresi Data Panel

Berdasarkan pengujian analisis dapat ditunjukkan hasil pengujian estimasi common effect di bawah ini :

Dependent Variable: Intellectual Capital Disclousure
Method: Panel Least Squares
Date: 07/28/20 Time: 07:31
Sample: 2014 2018
Periods included: 5
Cross-sections included: 11
Total panel (balanced) observations: 55
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 140.2360 22.23656 6.306552 0.0000
Firm Size 0.438340 1.103503 0.397226 0.6929
Firm Growth 0.001850 0.000515 3.590185 0.0008
Firm Age 0.081740 0.043552 1.876829 0.0664
Independent Commissioner 30.06514 11.94637 2.516676 0.0151
R-squared 0.263271     Mean dependent var 130.9027
Adjusted R-squared 0.204333     S.D. dependent var 8.132308
S.E. of regression 7.254033     Akaike info criterion 6.887500
Sum squared resid 2631.050     Schwarz criterion 7.069985
Log likelihood -184.4063     Hannan-Quinn criter. 6.958069
F-statistic 4.466892     Durbin-Watson stat 1.173515

Persamaan yang digunakan dalam penelitian ini dapat terlihat sebagai berikut :

𝑌𝑖𝑡= α + 𝛽1Firm Size + 𝛽2Firm Growth + 𝛽3Firm Age + 𝛽4Independent Commissioner + e𝑖𝑡

ICD = 140.2360 + 0.438340 Firm Size + 0.001850 Firm Growth + 0.081740 Firm Age + 30.06514 Independent Commissioner

Pada nilai R-squared diatas dapat ditunjukkan sebesar 0.204333 atau 20,4333% dimana variabel Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner dapat menjelaskan variabel ICD sedangkan sisanya sebesar 0.263271 dijelaskan oleh variabel lain.

Berdasarkan pengujian analisis dapat ditunjukkan hasil pengujian estimasi fixed effect di bawah ini :

Tabel 6

Estimasi Fixed Effect

Dependent Variable: Intellectual Capital Disclousure
Method: Panel Least Squares
Date: 07/28/20 Time: 10:52
Sample: 2014 2018
Periods included: 5
Cross-sections included: 11
Total panel (balanced) observations: 55
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 23725.69 6472.140 -3.665818 0.0006
Firm Size 272.7341 267.6570 3.018969 0.0131
Firm Growth 110.7674 30.85283 3.590185 0.0008
Firm Age 35.67186 9.803049 3.638854 0.0006
Independent Commissioner 6882.126 2945.936 2.336143 0.0235
R-squared 0.739150     Mean dependent var 1684.346
Adjusted R-squared 0.647852     S.D. dependent var 2196.953
S.E. of regression 1303.717     Akaike info criterion 17.41083
Sum squared resid 67987071     Schwarz criterion 17.95828
Log likelihood -463.7977     Hannan-Quinn criter. 17.62253
F-statistic 8.096054     Durbin-Watson stat 1.712031
Prob(F-statistic) 0.000000

Persamaan yang digunakan dalam penelitian ini dapat terlihat sebagai berikut :𝑌𝑖𝑡= α + 𝛽1Firm Size + 𝛽2Firm Growth + 𝛽3Firm Age + 𝛽4Independent Commissioner + e𝑖𝑡

ICD = 23725.69 + 272.7341 Firm Size + 110.7674 Firm Growth + 35.67186 Firm Age + 6882.126 Independent Commissioner

Pada nilai R-squared diatas dapat ditunjukkan sebesar 0.647852 atau 64,7852% dimana variabel Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner dapat menjelaskan variabel ICD sedangkan sisanya sebesar 0.739150 dijelaskan oleh variabel lain.

  • Estimasi Common Effect
  • Estimasi Fixed Effect
  • Estimasi Random Effect

Berdasarkan pengujian analisis dapat ditunjukkan hasil pengujian estimasi random effect di bawah ini :

Tabel 7

Estimasi Random Effect

Dependent Variable: Intellectual Capital Disclousure
Method: Panel EGLS (Cross-section random effects)
Date: 07/28/20 Time: 07:32
Sample: 2014 2018
Periods included: 5
Cross-sections included: 11
Total panel (balanced) observations: 55
Swamy and Arora estimator of component variances
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 153.6408 32.39316 4.743002 0.0000
Firm Size 0.594054 1.705638 0.348289 0.7291
Firm Growth 0.001441 0.000537 2.684165 0.0098
Firm Age 0.061960 0.067543 0.917339 0.3634
Independent Commissioner 19.16364 12.06510 1.588354 0.1185
Effects Specification
S.D.   Rho  
Cross-section random 4.696619 0.4068
Idiosyncratic random 5.672012 0.5932
Weighted Statistics
R-squared 0.132134     Mean dependent var 62.20639
Adjusted R-squared 0.062704     S.D. dependent var 6.273716
S.E. of regression 6.073837     Sum squared resid 1844.575
F-statistic 1.903141     Durbin-Watson stat 1.549943
Prob(F-statistic) 0.124488
Unweighted Statistics
R-squared 0.223246     Mean dependent var 130.9027
Sum squared resid 2773.991     Durbin-Watson stat 1.030640

Persamaan yang digunakan dalam penelitian ini dapat terlihat sebagai berikut :𝑌𝑖𝑡= α + 𝛽1Firm Size + 𝛽2Firm Growth + 𝛽3Firm Age + 𝛽4Independent Commissioner + e𝑖𝑡 ICD = 153.6408 + 0.001441 Firm Size + 0.001441 Firm Growth + 0.061960 Firm Age + 19.16364 Independent Commissioner

Pada nilai R-squared diatas dapat ditunjukkan sebesar 0.062704 atau 6,2704% dimana variabel Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner dapat menjelaskan variabel ICD sedangkan sisanya sebesar 0.132134 dijelaskan oleh variabel lain.

c. Pengujian Model Data Panel

Pengujian ini digunakan untuk mengetahui model mana yang terbaik untuk digunakan antara model Common Effect atau model Fixed Effect. Uji Chow ini dapat dilihat dari nilai probabilitas (prob) untuk cross-section F. Jika nilainya > 0,05 maka model yang terpilih adalah Common Effect. Tetapi jika < 0,05 maka model yang terpilih adalah Fixed Effect. Berikut ini adalah hasil Uji Chow :

Tabel

Uji Chow

Redundant Fixed Effects Tests
Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic   d.f.  Prob. 
Cross-section F 4.178146 (10,40) 0.0005
Cross-section Chi-square 39.334412 10 0.0000

Berdasarkan hasil pengujian tabel 8 diatas dapat dilihat bahwa model ini memiliki nilai probabilitas Chi-square lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima, yang artinya model yang paling tepat digunakan adalah fixed effect.

  • Uji Chow
  • Uji Hausman

Pengujian ini digunakan untuk mengetahui model mana yang terbaik untuk digunakan diantara model Fixed Effect atau Random Effect. Dalam pengujian ini, jika nilai probabilitas (prob) untuk Cross Section Random nilainya lebih besar dari nilai signifikansi 0,05 maka model yang di pilih adalah Random Effect. Begitu pula sebaliknya, jika nilai probabilitas (prob) untuk Cross Section Random lebih kecil dari nilai signifikansi 0,05, maka model yang terpilih adalah Fixed Effect. Hasil Uji Hausman dapat dilihat dari tabel berikut ini :

Tabel 9

Uji Hausman

Correlated Random Effects - Hausman Test
Equation: Untitled
Test cross-section random effects
Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob. 
Cross-section random 11.335299 4 0.0230

Berdasarkan tabel 9 diatas hasil uji hausman menunjukkan nilai Prob Cross-Section random 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05. Maka H0 diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat diartikan bahwa model Fixed Effect lebih baik daripada model Random Effect. Karena kedua hasil uji Chow dan Hausman sudah memiliki kesamaan yaitu model yang tepat adalah Fixed Effect maka tidak perlu dilanjutkan ke pengujian Langrange Multiplier.

Dari dua (2) pengujian diatas, menunjukkan hasil bahwa model terbaik yang dapat digunakan untuk regresi data panel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model Fixed Effect.

Berdasarkan penjelasan dari Uji ChowdanUji Hausman maka dilakukan analisis regresi data panel yang fokus ke model Fixed Effect. Hasil regresi data panel dengan menggunakan Eviews versi 9 memakai metode pendekatan Fixed Effect dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 10

Hasil Uji Regresi dengan Model Fixed Effect

Dependent Variable: Intellectual Capital Disclousure
Method: Panel Least Squares
Date: 07/28/20 Time: 10:52
Sample: 2014 2018
Periods included: 5
Cross-sections included: 11
Total panel (balanced) observations: 55
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 23725.69 6472.140 3.665818 0.0006
Firm Size 272.7341 267.6570 3.018969 0.0131
Firm Growth 110.7674 30.85283 3.590185 0.0008
Firm Age 35.67186 9.803049 3.638854 0.0006
Independent Commissioner 6882.126 2945.936 2.336143 0.0235
R-squared 0.739150     Mean dependent var 1684.346
Adjusted R-squared 0.647852     S.D. dependent var 2196.953
S.E. of regression 1303.717     Akaike info criterion 17.41083
Sum squared resid 67987071     Schwarz criterion 17.95828
Log likelihood -463.7977     Hannan-Quinn criter. 17.62253
F-statistic 8.096054     Durbin-Watson stat 1.712031
Prob(F-statistic) 0.000000

d. Pengujian terhadap Hipotesis

Adapun hasil pengujian hipotesis secara simultan atau uji F dapat ditunjukkan sebagai berikut :

Tabel 11

Uji F (Simultan)

R-squared 0.739150     Mean dependent var 1684.346
Adjusted R-squared 0.647852     S.D. dependent var 2196.953
S.E. of regression 1303.717     Akaike info criterion 17.41083
Sum squared resid 67987071     Schwarz criterion 17.95828
Log likelihood -463.7977     Hannan-Quinn criter. 17.62253
F-statistic 8.096054     Durbin-Watson stat 1.712031
Prob(F-statistic) 0.000000

Berdasarkan hasil analisis tabel 11 diatas menunjukkan bahwa nilai F statistic sebesar 8.096054 dengan probabilitas 0.000000. Karena probabilitas dibawah 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel independen Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen Intellectual Capital Disclosure secara signifikan.

  • Uji F (Simultan)
  • Uji T (Parsial)

Adapun hasil pengujian hipotesis secara parsial atau uji t dapat ditunjukkan sebagai berikut :

Tabel 12

Uji T (Parsial)

Dependent Variable: Intellectual Capital Disclousure
Method: Panel Least Squares
Date: 07/28/20 Time: 10:52
Sample: 2014 2018
Periods included: 5
Cross-sections included: 11
Total panel (balanced) observations: 55
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 23725.69 6472.140 3.665818 0.0006
Firm Size 272.7341 267.6570 3.018969 0.0131
Firm Growth 110.7674 30.85283 3.590185 0.0008
Firm Age 35.67186 9.803049 3.638854 0.0006
Independent Commissioner 6882.126 2945.936 2.336143 0.0235

Berdasarkan hasil analisis tabel 12 diatas dapat dijelaskan bahwa pengujian secara parsial pada variabel Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner secara parsial berpengaruh terhadap Intellectual Capital Disclosure dapat ditunjukkan sebagai berikut :

  • Nilai Konstanta sebesar 23725.69 menunjukkan jika variabel independen (Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner) dianggap konstan atau tetap maka rata-rata Intellectual Capital Disclosure sebesar 23725.69
  • Variabel Firm Size berpengaruh terhadap variabel Intellectual Capital Disclosure karena memiliki nilai probabilitas 0.0131 < 0.05. maka disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Nilai koefisiensi sebesar 272.7341 menunjukkan bahwa setiap kenaikan Firm Size sebesar 1% maka Transfering Pricing akan meningkat sebesar 272.7341 persen.
  • Variabel Firm Growth berpengaruh terhadap variabel Intellectual Capital Disclosure karena memiliki nilai probabilitas 0.0008 < 0.05. maka disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Nilai koefisiensi sebesar 110.7674 menunjukkan bahwa setiap kenaikan Firm Growth sebesar 1% maka Intellectual Capital Disclosure akan meningkat sebesar 110.7674 persen.
  • Variabel Firm Age berpengaruh terhadap variabel Intellectual Capital Disclosure karena memiliki nilai probabilitas 0.0006 < 0.05. maka disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Nilai koefisiensi sebesar 35.67186 menunjukkan bahwa setiap kenaikan Firm Age sebesar 1% maka Intellectual Capital Disclosure akan meningkat sebesar 35.67186 persen.
  • Variabel Independent Commissioner berpengaruh terhadap variabel Intellectual Capital Disclosure karena memiliki nilai probabilitas 0.0235 < 0.05. Maka disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Nilai koefisiensi sebesar 6882.126 menunjukkan bahwa setiap kenaikan Independent Commissioner sebesar 1% maka Intellectual Capital Disclosure akan meningkat sebesar 6882.126 persen.

Adapun hasil pengujian koefisien determinasi yang digunakan untuk mengetahui seberapa konsisten variabel yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner terhadap Intellectual Capital Disclosure.

Tabel 13

Uji Koefisien Determinasi

R-squared 0.739150     Mean dependent var 1684.346
Adjusted R-squared 0.647852     S.D. dependent var 2196.953
S.E. of regression 1303.717     Akaike info criterion 17.41083
Sum squared resid 67987071     Schwarz criterion 17.95828
Log likelihood -463.7977     Hannan-Quinn criter. 17.62253
F-statistic 8.096054     Durbin-Watson stat 1.712031
Prob(F-statistic) 0.000000

Berdasarkan tabel 13 diatas berarti variasi ketiga variabel independen Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner mampu menjelaskan 73.9% variasi variabel dependen Intellectual Capital Disclosure sedangkan sisanya 26.1% dijelaskan oleh variabel lain diluar model yang tidak diteliti. Uji koefisien determinan merupakan model regresi baik.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada bab sebelumnya variabel Firm Size yang diukur dengan SIZE , Firm Growth yang diukur dengan market to book value ratio, Firm Age yang diukur dengan AGE dan Independent Commissioner yang diukur dengan Independent Commissioner. Dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang signifikan positif secara simultan terhadap Intellectual Capital Disclosure.

  • Pengujian Hipotesis Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner berpengaruh simultan terhadap Intellectual Capital Disclosure.
  • Pengujian Hipotesis Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner berpengaruh Parsial terhadap Intellectual Capital Disclosure.

Berdasarkan hasil hipotesis analisis variabel Firm Size yang diukur dengan SIZE dalam penelitian ini berpengaruh signifikan positif terhadap Intellectual Capital Disclosure. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh [15] dan Manolopoulou, Dimitrism (2014) menunjukkan pengaruh signifikan antara ukuran perusahaan dan pengungkapan modal intelektual.

Ukuran perusahaan dianggap sebagai faktor penting dalam pengungkapan intellectual capital, karena perusahaan besar didukung dengan sumber daya yang memadai akan mengungkapkan lebih banyak informasi dimana pengungkapan yang lebih luas akan memberi gambaran perusahaan kepada pengguna informasi.

Hal ini menunjukkan bahwa besar ukuran perusahaan dapat dinyatakan dalam total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar. Pada umumnya perusahaan yang lebih besar memiliki aktivitas bisnis yang lebih kompleks. Perusahaan besar dengan jumlah aset yang besar memiliki dana lebih banyak untuk diinvestasikan dalam modal intelektual. Ketersediaan dana dalam jumlah yang besar akan membuat pengelolaan dan pemeliharaan modal intelektual menjadi semakin optimal dan akan menghasilkan pengungkapan modal intelektual yang lebih tinggi. Dengan mengungkapkan lebih banyak informasi, perusahaan berusaha untuk menekankan bahwa perusahaan telah menerapkan manajemen perusahaan yang baik.

Berdasarkan hasil hipotesis analisis variabel Firm Growth yang diukur dengan market to book value ratio dalam penelitian ini berpengaruh signifikan positif terhadap Intellectual Capital Disclosure. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh [16] bahwa pertumbuhan memiliki pengaruh signifikan efek positif pada pengungkapan intelektual modal.

Pertumbuhan adalah tingkat pertumbuhan perusahaan, baik dalam hal penjualan, pendapatan maupun pertumbuhan dalam kepemilikan aset. Perusahaan dalam kondisi bertumbuh memerlukan pengungkapan yang lebih memadai karena untuk mengurangi terjadinya informasi asimetri. Jadi jika pertumbuhan perusahaan yang pesat akan cenderung semakin memuat lebih banyak pengungkapan kepada pemegang saham baik informasi keuangan dan non-keuangan. Dengan meningkatnya pertumbuhan perusahaan maka pengungkapan yang dilakukan akan lebih optimal dan ketertarikan investor akan perusahaan juga akan baik karena perusahaan mampu tumbuh dengan baik dan mampu mengungkapkan intelectual capital dengan maksimal.

Berdasarkan hasil hipotesis analisis variabel Firm Age yang diukur dengan AGE dalam penelitian ini berpengaruh signifikan positif terhadap Intellectual Capital Disclosure. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan [1] menunjukkan bahwa umur perusahaan berpengaruh signifikan positif terhadap pengungkapan intellectual capital.

Umur perusahaan didefinisikan seberapa jauh perusahaan dapat mempertahankan eksistensinya di dunia bisnis mulai dari awal beroperasi. semakin tua usia perusahaan, maka memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam pengelolaan dan pemeliharaan modal intelektual akan menjadi lebih optimal dan dengan sendirinya dapat meningkatkan kinerja modal intelektual tersebut. Sehingga kinerja akan meningkat nilai reputasi perusahaan pun akan semakin tinggi pula. Dengan peningkatan kinerja dan nilai reputasi maka manajer akan mengungkapkan modal intelektual secara sukarela.

Umur perusahaan memiliki hubungan terhadap pengungkapan informasi perusahaan karena perusahaan berumur lebih lama memiliki pengalaman serta pengetahuan yang banyak, semakin banyak pengalaman perusahaan dalam menjalankan bisnis. Jika perusahaan itu mampu hidup lama adalah sebuah perusahaan yang menjadikan ilmu sebagai modal mereka. Jadi semakin lama umur perusahaan maka semakin banyak pula pengalaman serta pengetahuan akan kebutuhan perusahaannya sehingga dapat mengungkapkan informasi yang optimal yang berguna untuk meyakinkan investor agar berinvestasi di perusahaan.

  • Pengujian Hipotesis Pengaruh Firm Size terhadap Intellectual Capital Disclosure
  • Pengujian Hipotesis Pengaruh Firm Growth terhadap Intellectual Capital Disclosure
  • Pengujian Hipotesis Pengaruh Firm Age terhadap Intellectual Capital Disclosure
  • Pengujian Hipotesis Pengaruh Independent Commissioner terhadap Intellectual Capital Disclosure

Berdasarkan hasil hipotesis analisis variabel Independent Commissioner yang diukur dengan Independent Commissioner dalam penelitian ini berpengaruh signifikan positif terhadap Intellectual Capital Disclosure. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh [17] membuktikan bahwa independen komisaris berpengaruh signifikan positif terhadap pengungkapan modal intelektual.

Hal ini berarti keahlian dan pengalaman yang lebih luas dari para dewan komisaris akan mendorong manajemen dalam mengambil suatu posisi pengungkapan melewati suatu ketaatan pada aturan keagamaan, ketaatan tanpa kritik pada norma yang ditentukan, pada suatu posisi yang lebih proaktif yang mencerminkan keterkaitan nilai intellectual capital disclousure kepada stakeholders. [11] menyatakan bahwa semakin banyak jumlah komisaris independen dalam dewan, maka semakin besar memiliki pengaruhnya yang tinggi dalam hal pengungkapan informasi.

Jika pengawasan telah dilakukan oleh komisaris independen dengan efektif, maka pengelolaan perusahaan akan dilakukan dengan baik pula, dan manjemen akan mengungkapan semua informasi yang ada, termasuk informasi tentang intellectual capital. Hal tersebut dilakukan demiuntuk melindungi kepentingan investor terkait untuk pengambilan keputusan dan untuk memastikan bahwa kebijakan manajemen sejalan dengan minat investor. Semakin banyak pengungkapan dapat mengurangi ketidakpastian untuk investor dan informasi asimetri.

VII. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan dan pembahasan yang dikemukakan , maka diperoleh kesimpulan bahwa Firm Size, Firm Growth, Firm Age dan Independent Commissioner berpengaruh secara signifikan terhadap Intellectual Capital Disclosure.

Ucapan Terima Kasih

Penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini antara lain Bapak Drs. Hidayatullah, M.Si selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Bapak Wisnu P. Setiyono, SE., M.Si., Ph.D selaku Dekan Fakultas Bisnis, Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

References

  1. -[1] Taliyang, S.M., Latif, R.A dan Mustafa, N.H., Abidin, Z. (2011). The Determinants Of Intellectual Capital Disclosure Among Malaysian Listed Companies. International Journal Of Management And Marketing Research 4(3).
  2. Oktavia, M.C dan Daljono. (2014). Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan, Pertumbuhan, Dan Nilai Pasar Perusahaan. Diponegoro Journal Of Accounting 3 (3) : 1 ISSN (Online): 2337-3806
  3. Arifin, J., Suhadak, Astuti, E.S dan Arifin, Z. (2014). The Influence of Corporate Governance, Intellectual Capital on Financial Performance and Firm Value of Bank Sub-Sector Campanies Listed at Indonesia Stock Exchange in Period 2008-2012. European Journal of Business and Management 6 (26). ISSN 2222-2839.
  4. Kateb, I. (2014). The determinants of intellectual capital disclosure : evidence from French stock exchange. International Journal of Accounting and Financial Reporting 4 (2) : 628-646. ISSN 2162-3082. http://dx.doi.org/10.5296/ ijafr.v4i2.6579
  5. Al-Hamadeen, A dan Suwaidan, M. (2014). Content and determinant of intellectual capital disclosure : Evidence from annual report of the Jordanian industrial public listed companies. International Journal of Business and Social Science 5( 8):165-175.
  6. Rashid, A. A. Ibrahim, M. K., Othman, R., dan See, K. F. (2012). IC disclosures in IPO prospectuses : evidence from Malaysia. Journal of Intellectual Capital 13 (1) : 1469-1930. DOI 10.1108/14691931211196213
  7. Branco, M.C., Delgado, C., Manuel Sá, C.S. (2011),"Intellectual capital disclosure media in Portugal", Corporate Communications. An International Journal 16 (1) : 38 – 52. http://dx.doi.org/10.1108/13563281111100962
  8. Utama, A.A.G.S dan Mirhard, R.R. (2016).The Influence of Sustainability Report Disclosure as Moderating Variable towards the Impact of Intellectual Capital on Company’s Performance. International Journal of Economics and Financial Issues 6 (3) : 1262-1269 ISSN: 2146-4138
  9. Mondal, A dan Ghosh, S.K. (2014). Determinants of intellectual Capital Disclosure Practices of Indian Companies. Journal of Commerce & Accounting Research 3 (3).
  10. Ibrahim, K. (2014). Firm Characteristics and Voluntary Segments Disclosure Among the Largest Firms in Nigeria. International Journal of Trade, Economics and Finance 5 (4).
  11. Noradiva, H., Parastou, A., & Azlina, A. (2016). The Effects of Managerial Ownership on the Relationship between Intellectual Capital Performance and Firm Value. International Journal of Social Science and Humanity, 6(7) : 514–518. https://doi.org/10.7763/IJSSH.2016.V6.702
  12. Rasmini, Ni Ketut., Wirakusuma. MG dan Yuniasih, N.W. (2014). The Effect Of Board Diversity On The Extent Of Intellectual Capital Disclosure (Empirical Study In Indonesian Stocks Exchange). Asia Pacific Journal of Accounting and Finance 3 (1).
  13. Arifin, J., Suhadak, Astuti, E.S dan Arifin, Z. (2014). The Influence of Corporate Governance, Intellectual Capital on Financial Performance and Firm Value of Bank Sub-Sector Campanies Listed at Indonesia Stock Exchange in Period 2008-2012. European Journal of Business and Management 6 (26). ISSN 2222-2839.
  14. Saifudin dan Agung, N. (2017). Determinasi Intellectual Capital Disclosure pada Perusahaan Keuangan yang Listing di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Ilmu Akuntansi Keuangan dan Pajak 1 (1).
  15. Ghorbel, H dan Hela, E (2016). Determinants of intellectual capital disclosure in initial public offerings: case of Canadian firms. International Journal of Accounting and Economics Studies 4 (1) : 52-59. Doi : 10.14419/ijaes.v4i1.6007
  16. Hatane, S.E., Wijaya, A.T ., William, A dan Haryanto, A.D. (2018).Factors Affecting Intellectual Capital Disclosures : A Case of Primary Sectors in Thailand. The Asian Institute of Research. Journal of Economics and Business 1(4) : 513-523. ISSN 2615-3726. DOI: 10.31014/aior.1992.01.04.46.
  17. Uzliawati, L dan Djati, K. (2015). Intellectual capital disclosure, corporate governance structure and firm value in Indonesian banking industry. Int. J. Monetary Economics and Finance 8 (2).