MOCH NUR HUDA (1), Zaki Nur Fahmawati (2)
General Background: The rapid expansion of smartphone use among students has become a significant concern in educational and developmental psychology due to its association with social behavior and interpersonal competence. Specific Background: Excessive gadget engagement during school age may be related to students’ social intelligence, which includes the ability to interact, empathize, and adapt within peer environments. Knowledge Gap: Although numerous studies discuss smartphone addiction and learning motivation, limited empirical evidence specifically examines its statistical relationship with students’ social intelligence in formal school settings. Aims: This study aims to analyze the correlation between smartphone use and students’ social intelligence. Results: The findings indicate a statistically significant relationship between the intensity of smartphone use and the level of social intelligence, as demonstrated by correlation analysis. Novelty: The study provides empirical data focusing specifically on social intelligence as a developmental construct within the context of contemporary digital behavior. Implications: These findings underline the importance of parental supervision, balanced digital habits, and educational guidance to support students’ interpersonal development in the digital era.
Keywords: Smartphone Use, Social Intelligence, Students, Digital Behavior, Quantitative Correlation
Key Findings Highlights:
Statistical analysis reveals a significant association between device engagement and interpersonal competence.
Higher intensity of mobile technology exposure corresponds with variations in peer interaction ability.
Empirical evidence supports the relevance of digital behavior in developmental psychology research.
Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat di era modern telah menghadirkan berbagai inovasi yang memengaruhi kehidupan manusia secara menyeluruh [1]. Salah satu inovasi tersebut adalah hadirnya smartphone atau gawai pintar yang kini telah menjadi bagian penting dari keseharian banyak orang, terutama remaja [2]. Smartphone tidak lagi hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga telah berkembang menjadi media hiburan, pembelajaran, bahkan alat penunjang aktivitas sosial sehari-hari [3]. Dengan berbagai aplikasi seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya, remaja dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi serta berinteraksi dengan lingkungan global tanpa batas waktu dan tempat [4].
Namun, di balik manfaatnya, penggunaan smartphone juga memunculkan berbagai tantangan baru, terutama dalam hal perilaku sosial remaja [5]. Remaja merupakan individu yang berada dalam fase perkembangan penting, di mana mereka mulai membangun jati diri, kemandirian, dan identitas sosial [6]. Pada fase ini, peran lingkungan sangat penting, termasuk dalam membentuk bagaimana mereka berinteraksi dan merespons dinamika sosial [7]. Sayangnya, penggunaan smartphone yang tidak terkontrol justru dapat berdampak negatif terhadap pola interaksi langsung antarindividu [8]. Banyak remaja lebih memilih berkomunikasi melalui gawai ketimbang melakukan percakapan tatap muka, sehingga menurunkan intensitas dan kualitas interaksi sosial [9].
Fenomena ini tidak hanya terjadi secara umum, tetapi juga teramati secara spesifik di lingkungan SMA 4 Bojonegoro [10]. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan, terlihat bahwa banyak siswa cenderung sibuk menggunakan smartphone bahkan ketika berada dalam situasi sosial seperti saat istirahat atau dalam kegiatan belajar di kelas [11]. Dalam beberapa kasus, siswa terlihat lebih fokus pada layar ponsel masing-masing meskipun sedang berada di tengah-tengah kelompok teman [12]. Bahkan, saat proses pembelajaran berlangsung, sejumlah siswa diketahui tidak memperhatikan guru dan justru bermain ponsel [13]. Hal ini menjadi indikator menurunnya keterlibatan sosial siswa yang berkaitan erat dengan aspek kecerdasan sosial [14].
Kecerdasan sosial merupakan kemampuan individu untuk memahami dan mengelola hubungan sosial secara efektif [15]. Kecerdasan ini mencakup kesadaran diri, kemampuan komunikasi, kerja sama, empati, dan kemampuan memecahkan masalah dalam konteks sosial [16]. Ketika remaja terlalu tenggelam dalam dunia digital, ada kemungkinan aspek-aspek tersebut tidak berkembang secara optimal [17]. Mereka bisa menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar, cenderung menyendiri, atau bahkan kesulitan bekerja dalam kelompok [18].
Salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi perkembangan kecerdasan sosial adalah pola asuh orang tua [19]. Pola asuh demokratis, sebagai salah satu jenis pola pengasuhan, diyakini memiliki peran besar dalam mendukung perkembangan sosial anak [20]. Dalam pola asuh ini, orang tua memberikan kebebasan kepada anak, tetapi tetap dalam pengawasan dan batasan yang jelas [21]. Anak diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, dilibatkan dalam pengambilan keputusan, serta diajarkan tanggung jawab sejak dini [22]. Sikap ini mendorong anak untuk tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, komunikatif, dan mampu bersosialisasi dengan baik [23].
Orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis biasanya juga memberikan pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara bijak [24]. Remaja yang dibesarkan dalam pola ini cenderung mampu membatasi diri dalam menggunakan smartphone dan tetap menjalin hubungan sosial secara langsung [24]. Sebaliknya, ketika pola asuh yang diterapkan cenderung permisif atau otoriter, anak bisa mengalami kebingungan dalam bersikap dan memilih pelarian melalui gawai, yang akhirnya berdampak pada menurunnya kemampuan berinteraksi secara sehat [25].
Temuan awal di SMA 4 Bojonegoro menunjukkan bahwa sejumlah siswa mengalami kesulitan dalam membaca isyarat sosial, tidak sensitif terhadap norma yang berlaku, serta cenderung sulit bekerja sama dalam kelompok. Mereka juga menunjukkan ketergantungan terhadap smartphone dan kurang mampu mengelola interaksi secara langsung. Fenomena ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap faktor-faktor yang membentuk kecerdasan sosial remaja, termasuk di dalamnya pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua di rumah.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pola asuh demokratis dan kecerdasan sosial pada remaja yang menggunakan smartphone di SMA Negeri 4 Bojonegoro. Penelitian ini juga berfokus pada bagaimana pengaruh pola asuh demokratis terhadap kemampuan remaja dalam berinteraksi sosial, terutama di tengah tantangan penggunaan teknologi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memahami faktor-faktor yang mendukung perkembangan kecerdasan sosial remaja, serta menjadi bahan pertimbangan bagi orang tua, pendidik, dan praktisi pendidikan dalam membina generasi muda di era digital.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasi, yang bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara dua hal, yaitu pola asuh demokratis sebagai variabel bebas (X) dan kecerdasan sosial sebagai variabel terikat (Y) pada remaja yang menggunakan smartphone [26]. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII di SMA Negeri 4 Bojonegoro yang berusia antara 15 hingga 18 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampel jenuh, yaitu seluruh populasi dijadikan sampel penelitian karena jumlahnya yang relatif terbatas dan memungkinkan untuk diteliti secara menyeluruh. Jumlah total sampel dalam penelitian ini adalah 135 siswa, yang terdiri dari kelas XII MIPA 1, XII MIPA 2, XII MIPA 3, dan XII IPS 1.
Teknik pengumpulan data atau Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua buah skala psikologi, yaitu skala pola asuh demokratis dan skala kecerdasan sosial. Skala pola asuh demokratis disusun berdasarkan teori dari Lestari [27] yang mencakup aspek kebebasan yang terkendali, pengarahan dari orang tua, musyawarah dalam keluarga, bimbingan dan perhatian, serta bimbingan dan pengarahan. Berdasarkan uji validitas, dari 20 item yang disusun, terdapat 16 item yang dinyatakan valid dengan nilai korelasi item ≥ 0,25 dan nilai reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,644. Sementara itu, skala kecerdasan sosial disusun berdasarkan teori dari Safaria [28], yang mencakup lima aspek, yaitu kesadaran diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan berkomunikasi, empati, dan kemampuan memecahkan masalah. Dari 20 item yang diuji, diperoleh 16 item yang valid dengan nilai korelasi item ≥ 0,25 dan nilai reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,649. Kedua skala telah melalui uji coba sebelum digunakan dalam penelitian untuk memastikan validitas dan reliabilitas instrumen. Teknik analisis data, Sebelum dilakukan analisis hubungan antarvariabel, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi berupa uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji linearitas. Hasil dari uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal, sehingga teknik analisis data yang digunakan adalah uji korelasi Spearman’s Rho. Uji ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh demokratis dan kecerdasan sosial. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS versi terbaru. Kriteria signifikan ditentukan pada p < 0,05, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi dengan menggunakan uji normalitas Kolmogorov-smirnov dan uji linearitas. Berikut merupakan hasil uji normalitas dalam penelitian ini:
Merujuk pada luaran uji normalitas di atas didapatkan nilai Signifikan sebesar 0,002 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa dapat data dalam penelitian ini tidak berdistribusi normal. Selanjutnya, dilakukan uji linearitas untuk mengetahui adanya korelasional antara polasasuh demokratis dengan kecerdasan sosial yang linear. Berikut merupakan hasil uji linearitas dalam penelitian ini:
Berdasarkan hasil uji linearitas pada tabel di atas didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,348 (p>0,05) dengan memberikan proyeksi adanya hubungan yang linear antara pola asuh demokratis dengan kecerdasan sosial. Kemudian, langkah tepat yang dapat dilakukan adalah melakukan analisis data dengan menggunakan uji korelasi productmomentSpearman’s Rho. Berikut ini hipotesis yang diajukan peneliti yaitu adanya hubungan pola asuh demokratis dengan kecerdasan sosial pada remaja pengguna smartphone di SMA 4 Bojonegoro. Berikut merupakan hasil uji korelasi pada penelitian ini:
Berdasarkan dari hasil tabel 4. Hasil Uji Hipotesis, didapatkan koefisien korelasi sebesar 0,169 dengan nilai signifikansi 0,049 (p < 0,05) yang dapat diartikan terdapat hubungan antara pola asuh demokratis dengan kecerdasan sosial. Hubungan yang terjadi antar kedua variabel mengarah pada hubungan positif dengan sumbangan efektif sebesar 16,9% dimana hubungan yang terjadi bersifat lemah. Semakin tinggi tingkat pola asuh demokratis yang diberikan orang tua, maka semakin tinggi pula kecerdasan sosial anak. Sebaliknya, jika pola asuh demokratis rendah, maka kecerdasan sosial anak juga cenderung rendah. Selain menguji hipotesis, penelitian ini juga mengelompokkan masing-masing variabel, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut:
Berdasarkan dari hasil analisa pada variabel pola asuh demokratis terdapat 1 siswa dengan kategori rendah, 124 siswa dengan kategori sedang, dan terdapat 10 siswa dengan kategori tinggi. Sedangkan, pada variabel kecerdasan sosial terdapat 2 siswa kategori rendah, 126 siswa kategori sedang, dan 7 siswa kategori tinggi. Dari hasil analisa tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar remaja di SMA 4 Bojonegoro mempunyai pola asuh demokratis dan kecerdasan sosial pada tingkat sedang
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh demokratis berkaitan dengan kecerdasan sosial remaja yang menggunakan smartphone di SMA Negeri 4 Bojonegoro. Hubungan ini tergolong lemah, namun tetap signifikan secara statistik. Hal ini menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang diterapkan orang tua di rumah tetap memiliki peran dalam membentuk kemampuan sosial anak, meskipun tidak menjadi satu-satunya faktor.
Pola asuh demokratis adalah cara orang tua mendidik anak dengan memberikan kebebasan untuk berbicara, membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah sendiri, tetapi tetap diawasi dan dibimbing oleh orang tua [29]. Dalam pola ini, orang tua tetap hadir sebagai pendamping dan pembimbing, bukan sebagai pihak yang otoriter atau sebaliknya terlalu membebaskan [30]. Bagi remaja, terutama yang sedang berada pada masa pencarian jati diri dan membangun hubungan sosial, pola asuh yang seperti ini memberikan ruang untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka, bertanggung jawab, dan mampu memahami situasi sosial di sekitarnya [31]. Hal ini tentu sangat penting di tengah maraknya penggunaan smartphone yang sering kali membuat remaja lebih sibuk dengan dunia digital daripada interaksi langsung dengan lingkungan sekitar [32].
Fenomena yang ditemukan di SMA 4 Bojonegoro memperkuat temuan tersebut. Banyak siswa yang tampak lebih fokus pada smartphone mereka, bahkan saat berada di kelas atau saat sedang bersama teman-teman. Mereka lebih memilih bermain gawai daripada berbicara atau berinteraksi langsung. Hal ini bisa menjadi salah satu indikasi rendahnya kecerdasan sosial, terutama jika hal ini berlangsung terus-menerus tanpa bimbingan dari orang tua atau guru. Dari wawancara yang dilakukan dengan guru, diketahui bahwa ada kecenderungan siswa kurang peka terhadap norma sosial di lingkungan sekolah, seperti tidak memperhatikan guru saat mengajar, bermain ponsel saat diskusi kelompok, atau tidak memahami sikap dan perasaan teman sebayanya. Ini menunjukkan bahwa kemampuan sosial mereka masih perlu ditingkatkan, dan salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui pendekatan pengasuhan yang tepat dari keluarga [33]. Temuan ini juga sesuai dengan teori yang digunakan dalam penelitian, yaitu teori kecerdasan sosial menurut Safaria, dan teori pola asuh dari Lestari. Kedua teori ini menjelaskan bahwa perkembangan kemampuan sosial sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama pola komunikasi dan hubungan antara anak dengan orang tua. Dengan kata lain, ketika orang tua terbiasa melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, mendengarkan pendapat mereka, dan memberikan arahan tanpa memaksa, maka anak akan belajar cara berinteraksi, memahami perasaan orang lain, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya [34]. Di masa remaja, hal ini menjadi bekal penting agar mereka tidak hanya cerdas dalam hal akademik, tetapi juga mampu bersosialisasi secara sehat, baik di dunia nyata maupun digital.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pola asuh demokratis berhubungan dengan kecerdasan sosial pada remaja yang menggunakan smartphone di SMA Negeri 4 Bojonegoro. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan bahwa memang ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Hasil uji menunjukkan nilai signifikansi 0,049 (p < 0,05), yang berarti secara statistik hubungan ini dinyatakan signifikan. Meskipun hubungan yang ditemukan tergolong lemah, arah hubungan yang terjadi adalah positif. Artinya, semakin sering orang tua menerapkan pola asuh demokratis, maka anak cenderung memiliki kecerdasan sosial yang lebih baik. Sebaliknya, jika pola asuh demokratis jarang diterapkan, kecerdasan sosial anak juga cenderung lebih rendah. Selain itu, hasil kategorisasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada dalam kategori sedang, baik dalam hal pola asuh demokratis maupun kecerdasan sosial. Ini menunjukkan bahwa remaja memang sedang dalam proses berkembang, dan pola pengasuhan yang diterapkan di rumah memiliki peran besar dalam membantu mereka membentuk keterampilan sosial, terutama di era sekarang yang penuh dengan penggunaan teknologi seperti smartphone. Dari temuan ini bisa disimpulkan bahwa peran orang tua sangat penting dalam membimbing anak, termasuk dalam hal penggunaan smartphone. Dengan pola asuh yang terbuka, penuh komunikasi, dan tetap memberikan batasan yang jelas, anak-anak bisa lebih mudah belajar bersosialisasi, memahami orang lain, dan membangun hubungan yang sehat dengan lingkungannya.
Ucapan Terima Kasih
Saya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh civitas akademika SMAN 4 Bojonegoro atas kesempatan dan dukungan yang telah diberikan selama proses pelaksanaan penelitian saya di sekolah ini. Selama masa penelitian, saya merasakan sambutan yang hangat serta kerja sama yang sangat baik dari Bapak/Ibu guru, staf tata usaha, dan juga para siswa-siswi. Hal ini sangat membantu kelancaran proses pengumpulan data yang menjadi bagian penting dalam penyusunan skripsi saya. Saya sangat menghargai segala bentuk bantuan, arahan, serta waktu yang telah diberikan. Suasana akademik yang kondusif serta keterbukaan dari pihak sekolah memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya, baik secara akademis maupun secara pribadi.
Semoga hasil dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi, walaupun kecil, bagi pengembangan pendidikan di SMAN 4 Bojonegoro maupun sebagai referensi dalam bidang yang saya teliti. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang tulus dan semoga kerja sama serta silaturahmi ini dapat terus terjaga dengan baik di masa yang akan datang.
[1] J. Marpaung, “Pengaruh Penggunaan Gadget dalam Kehidupan,” KOPASTA Journal of Counseling Study Program, vol. 5, no. 2, 2018, doi: 10.33373/kop.v5i2.1521.
[2] S. Maulina and S. Faradina, “Kecenderungan Adiksi Smartphone Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Usia,” Psikoislamedia Journal of Psychology, vol. 5, no. 1, pp. 24–37, 2020, doi: 10.22373/psikoislamedia.v5i1.6252.
[3] W. Senge, “Pemanfaatan Smartphone sebagai Media Pembelajaran Mandiri pada Anak di Kabupaten Kupang,” PENSOS Journal of Research and Community Service in Sociology Education, vol. 1, no. 1, pp. 1–7, 2023, doi: 10.59098/pensos.v1i1.942.
[4] S. Widayani and K. Astuti, “Character Building Through Democratic Parenting to Prevent Adolescent Gadget Addiction in the Era of Industrial Revolution 4.0,” Psycho Idea, vol. 18, no. 1, pp. 74–81, 2020.
[5] P. Hyangsewu et al., “Efek Penggunaan Gadget terhadap Social Behavior Mahasiswa dalam Dimensi Globalisasi,” Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, vol. 14, no. 2, pp. 127–136, 2021.
[6] M. D. Sari and M. Kamal, “Pengaruh Penggunaan Smartphone terhadap Kecerdasan Sosial Remaja,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 5, no. 3, 2021.
[7] R. Novianti, H. Hukmi, and I. Maria, “Generasi Alpha Tumbuh dengan Gadget dalam Genggaman,” Journal Educhild Pendidikan dan Sosial, vol. 8, no. 2, pp. 65–70, 2019.
[8] R. Fajarwati, “Penguatan Karakter melalui Strategi Wisdom Massage pada Generasi Milenial,” Kalam Cendekia, vol. 8, no. 1, 2020.
[9] R. Marliani, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Pustaka Setia, 2016.
[10] A. Suswani and N. Asnidar, “Reliability Level in Gadget with Student Behavior,” Journal of Life and Birth, vol. 4, no. 1, pp. 16–24, 2020.
[11] D. Agusta, “Faktor-Faktor Risiko Kecanduan Smartphone pada Siswa,” Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, vol. 5, no. 3, 2016.
[12] R. Mansyur et al., “Smartphone Addiction dan Hubungan Sosial dalam Keluarga,” vol. 13, no. 1, pp. 1–8, 2023.
[13] N. Nasehudin, “Mengembangkan Kecerdasan Sosial dalam Proses Pendidikan,” Edueksos Journal of Social and Economic Education, vol. 4, no. 2, 2016.
[14] I. L. Nafisah and D. D. Basuki, “Peran Pola Asuh Orang Tua untuk Meningkatkan Kecerdasan Sosial,” Attadrib Journal of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education, vol. 6, no. 2, pp. 272–282, 2023.
[15] Y. S. Karomah and A. Widiyono, “Hubungan Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecerdasan Emosional Siswa,” SELING Journal, vol. 8, no. 1, pp. 54–60, 2022.
[16] L. M. Nahak et al., “Hubungan antara Penggunaan Gadget dengan Kecerdasan Anak Usia Sekolah,” Jurnal Sahabat Keperawatan, vol. 1, no. 2, pp. 16–25, 2019.
[17] R. Rusdani and S. F. Sihombing, “Keterkaitan Kecerdasan Sosial dengan Kesepian pada Remaja,” Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 4, no. 3, 2022.
[18] P. I. Lestari et al., “Bermain dan Permainan Anak Usia Dini,” in Seminar Nasional Aplikasi Iptek, 2018.
[19] J. Adison and S. Suryadi, “Peranan Keluarga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak,” Jurnal Inovasi Penelitian, vol. 1, no. 6, pp. 1131–1138, 2020.
[20] N. Agustina and A. Priambodo, “Penggunaan Gadget dan Motivasi Belajar Siswa Selama Covid-19,” Jurnal Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, vol. 9, no. 1, pp. 365–371, 2021.
[21] R. Retalia et al., “Penggunaan Smartphone dan Interaksi Sosial Remaja,” School Journal Pendidikan dan Kebudayaan, vol. 12, no. 2, pp. 139–149, 2022.
[22] D. P. Islamy, “Penggunaan Smartphone pada Pembelajaran Jarak Jauh dan Interaksi Sosial,” Sosiohumaniora Journal, vol. 7, no. 1, pp. 49–60, 2021.
[23] R. Robbiyah et al., “Pola Asuh Ibu dan Kecerdasan Sosial Anak Usia Dini,” Jurnal Obsesi, vol. 2, no. 1, p. 74, 2018.
[24] K. Kholifah, “Pola Asuh Orang Tua dan Kecerdasan Emosional AUD,” Jurnal Pendidikan Anak, vol. 7, no. 1, pp. 61–75, 2018.
[25] S. Murti and H. Heryanto, “Kualitas Interaksi Sosial Keluarga dan Prestasi Belajar,” Al Ibtida Journal, vol. 3, no. 2, pp. 253–268, 2016.
[26] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2019.
[27] S. Lestari, Psikologi Keluarga. Jakarta: Prenada Media, 2016.
[28] I. D. K. A. Saputra et al., “Korelasi Kecerdasan Interpersonal dengan Hasil Belajar IPS,” Mimbar Ilmu, vol. 23, no. 1, pp. 43–52, 2018.
[29] F. S. Mukaromah et al., “Pola Komunikasi Orang Tua dalam Pembentukan Kecerdasan Sosial,” FOKUS Journal, vol. 5, no. 1, pp. 95–120, 2020.
[30] L. Zakiah, “Hubungan Kecerdasan Sosial dan Hasil Belajar Siswa,” Parameter Journal, vol. 32, no. 1, pp. 30–52, 2020.
[31] D. Efendi, “Penggunaan Smartphone dan Kecerdasan Emosional Remaja,” Institut Agama Islam Negeri Metro, 2022.
[32] C. Halim and A. M. Masykur, “Kecerdasan Emosional dan Kecemasan Jauh dari Smartphone,” Jurnal Empati, vol. 11, no. 6, pp. 432–441, 2022.
[33] A. D. Mulyanti et al., “Kecanduan Gadget dan Kecerdasan Emosional pada Remaja,” Jurnal Keperawatan Florence Nightingale, vol. 7, no. 1, pp. 149–156, 2024.
[34] A. D. Yolandika et al., “Penggunaan Media Sosial dan Kecerdasan Sosial Siswa,” Jurnal Papeda, vol. 6, no. 2, pp. 191–202, 2024.