Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Peran Psikoedukasi Kepercayaan Diri Untuk Meningkatkan Pengetahuan Pencegahan Bullying Pada Anak Panti Asuhan

The Role of Psychoeducation on Self-Confidence to Enhance Knowledge of Bullying Prevention among Orphanage Children
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

RISA WULAN MEI ASTUTI (1), Effy Wardati Maryam (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Bullying is a repetitive aggressive behavior that generates serious physical, emotional, and psychological consequences among vulnerable children. Specific Background: Children living in orphanages are particularly at risk due to limited supervision and imbalanced caregiver–child ratios, which may contribute to insufficient understanding of bullying prevention and reduced self-confidence. Knowledge Gap: Despite growing concern regarding bullying in institutional care settings, structured psychoeducational programs targeting self-confidence and bullying prevention knowledge among orphanage children remain limited. Aims: This study aimed to examine changes in bullying-related knowledge after a psychoeducational intervention focused on strengthening self-confidence among orphanage children. Results: Using a quantitative pre-experimental one-group pretest–posttest design involving 38 participants, statistical analysis with the Wilcoxon signed-rank test revealed a significant difference between pretest and posttest scores (p < .001), with mean scores increasing from 9.842 to 11.474. Novelty: This study provides empirical evidence of structured psychoeducation delivered within an orphanage setting using a controlled pre–post assessment framework. Implications: The findings support the integration of psychoeducational programs as an initial preventive strategy to foster awareness, strengthen self-confidence, and promote safer social environments in institutional childcare contexts.


Keywords: Psychoeducation, Bullying Prevention, Self Confidence, Orphanage Children, Pre-Experimental Design


Key Findings Highlights:




  1. Significant score difference observed between pretest and posttest assessment




  2. Statistical testing confirmed non-normal distribution requiring Wilcoxon analysis




  3. Knowledge gains demonstrated measurable change after structured intervention



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Panti asuhan adalah sebuah lembaga yang mengemban tanggung jawab untuk menyediakan layanan kesejahteraan sosial bagi anak-anak yang kurang beruntung, dengan memberikan perawatan dan menggantikan perwalian anak untuk memenuhi kebutuhan fisik, sosial dan mental anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas, memadai, dan tepat bagi perkembangan kepribadiannya. Namun, karena ketidakseimbangan jumlah pengasuh yang berperan sebagai orang tua dengan jumlah anak asuh, kualitas perhatian yang diberikan kepada anak-anak tersebut cenderung menurun. Sehingga mereka menjadi lebih rentan mendapatkan perilaku bullying [1].

Meningkatnya insiden bullying semakin mengkhawatirkan. Tingginya angka kejadian bullying yang terjadi berulang kali dan mengakibatkan korban merupakan indikasi dari kurangnya pengetahuan mengenai bullying, atau sistem peraturan yang tidak dirancang dengan cukup hati-hati, dan rendahnya pengetahuan mengenai cara menangani bullying [2]. Bullying merujuk pada tindakan agresif yang dilakukan seseorang dengan sengaja dan berulang kali, yang bertujuan untuk menyerang individu yang dianggap lemah, rentan terhadap penghinaan, dan tidak mampu membela diri .

Bentuk-bentuk bullying yang pertama ada bullying secara fisik meliputi mencubit, memukul, mendorong, menarik atau mencabut rambut, menendang, menarik kursi saat anak hendak duduk, menabrak orang lain, mempermainkan barang milik orang lain, meminta uang secara paksa atau biasa disebut palak, hingga menjegal kaki orang lain. yang ke dua ada bullying secara verbal, seperti menghina, mengejek, berkata kasar dan keras serta mengolok-ngolok. Dan yang ketiga ada bullying psikologis, bullying ini contohnya seperti mengabaikan seseorang, menjaga jarak serta menyebarkan berita hoaxs korban atau biasa disebut dengan memfitnah [3].

Terdapat 4 aspek bullying antara lain: 1. Ketidaksetaraan kekuatan, 2. Maksud atau Niat, 3. Ancaman, 4. Intimidasi [4]. Beberapa faktor yang menjadi penyebab tindakan bullying misalnya seperti faktor individu, faktor sekolah, faktor keluarga, serta faktor sosial. Dari aspek individu, pelaku bullying seringkali mengalami kesulitan dalam mengatur emosinya, kurangnya rasa empati, atau bahkan memiliki dorongan untuk menguasai orang lain [5]. Sedangkan pada faktor keluarga penyebab seseorang melakukan tindak bullying adalah pengawasan orang tua yang kurang, ketidaktepatan pola asuh, atau mungkin ia pernah mengalami kekerasan di lingkungan keluarganya. Lingkungan yang kurang aman, pengawasan yang kurang, serta budaya kekerasan yang terjadi pada anak-anak juga menyebabkan bullying terjadi .

Korban bullying yang sering mendapatkan pembulian mereka cenderung menjadi pendiam, karena mereka berfikir bahwa melaporkan kejadian tersebut kepada orang lain justru akan memperburuk masalah, dengan kemungkinan pelaku bullying kembali menantang mereka [6]. Bullying adalah sebuah penyakit yang memungkinkan untuk disembuhkan dan diatasi. Karena itu, untuk mengatasi perilaku bullying, sangat penting untuk melaksanakan pencegahan dan penanganan yang efektif [7].

Fenomena bullying telah menyebar luas di seluruh dunia dan pada dasarnya, tindakan ini dapat menimbulkan dampak negatif, terutama bagi korban. [8]. Dampak tindakan bullying tidak hanya berpengaruh pada perkembangan emosional dan perilaku seorang anak, tetapi juga memengaruhi prestasi akademik serta hubungan sosial mereka [7]. Berdasarkan data dari survei Programme for International Student Assessment, sekitar 42% usia 15 tahun di Indonesia melaporkan mengalami bullying dan kekerasan dalam jangka waktu satu bulan. Rinciannya, 14% merasa terancam, 15% merasa terintimidasi, 18% mengalami kekerasan fisik seperti pemukulan dan dorongan, 19% mengalami penculikan, dan 22% mengalami perundungan berupa penghinaan. Berdasarkan data statistik, korban bullying terhadap anak di tahun 2022 berjumlah 21.241 korban bullying [9].

Berdasarkan hasil Community Need Assesment (CNA) dengan menggunakan metode wawancara diperoleh data  bahwa  perilaku bullying masih sering ditemui di lingkungan panti asuhan, di antaranya berupa ejekan, penggunaan sebutan nama orang tua yang merendahkan, tindakan pemukulan, pengucilan terhadap teman yang tidak sekelompok, serta penghinaan terhadap bentuk fisik seseorang. Perilaku-perilaku tersebut merupakan tindakan bullying [10].

Perilaku bullying tidak dapat memberikan rasa aman kepada korban melainkan perilaku bullying ini membuat anak terancam, takut, merasa rendah diri dan tak ada berguna, belajar juga menjadi sulit karena susah untuk konsentrasi, sulit untuk bersosialisai dengan orang lain atau  lingkungannya, serta menjadi seseorang yang kekurangan rasa kepercayaan dirinya [6].

Kepercayaan diri adalah keyakinan bahwa seseorang dapat berhasil dengan usaha dan usahanya sendiri. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri akan membentuk nilai-nilai positif bagi diri sendiri, lingkungan, dan keadaan yang dialaminya [11]. Kepercayaan diri memiliki peranan penting pada kehidupan seorang individu, di mana jika kepercayaan diri seseorang tersebut kurang maka ia akan cenderung memiliki pandangan negatif terhadap lingkungan sekitarnya, terkait apa pun yang dilakukan oleh orang lain. Bagi remaja, untuk meningkatkan kepercayaan dirinya perlu dilakukan latihan dan pengembangan, yang dapat diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan sekitar serta proses hubungan sosial dalam kelompok. Hal ini penting karena rasa percaya diri merupakan sumber utama potensi hidup seseorang [12]. Kepercayaan diri juga memainkan peran penting dalam mencapai kesuksesan seseorang [13].

Individu yang memiliki rasa percaya diri yang positif umumnya memiliki ciri-ciri berikut: 1. Rasa aman, yaitu terbebas dari rasa takut. 2. Ambisi yang realistis dan sesuai dengan kapasitas diri. 3. Keyakinan pada kemampuan diri sendiri. 4. Toleransi terhadap orang lain. 5. Sikap optimis. 6. Mandiri. [14]. Kepercayaan diri seseorang muncul akibat pengaruh dari berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam diri individu maupun dari luar dirinya. Faktor internal, seperti motivasi dan keinginan yang kuat, dapat memicu timbulnya rasa percaya diri dalam diri seseorang [6].

Memberikan edukasi mengenai bullying adalah salah satu langkah efektif untuk mengurangi terjadinya bullying [3]. Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yakni Efektifitas Psikoedukasi Dalam Peningkatan Pengetahuan Tentang Bullying Pada Remaja yang dilakukan oleh [15] menunjukkan bahwa kegiatan psikoedukasi yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman mengenai bullying. Tindakan bullying berkaitan erat dengan kepercayaan diri seseorang . Individu dengan kepercayaan diri yang rendah sering merasa tidak cukup kuat membela diri, sehingga mereka lebih rentan menjadi sasaran perilaku bullying. Sementara itu, seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang baik cenderung memiliki kepribadian yang tangguh secara emosional, kognitif, dan perilaku, sehingga individu tersebut tidak mudah menjadi target tindakan bullying [16]. Seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi memiliki kemungkinan lebih rendah untuk mendapatkan perilaku bullying dari orang lain [17]. Penelitian lain yang dilakukan oleh [16] yakni Kejadian Bullying dan Kepercayaan Diri Pada Remaja dimana terdapat hubungan antara bullying dan kepercayaan diri yang mana semakin tinggi intensitas bullying yang didapat seseorang, semakin rendah kepercayaan diri yang dimiliki. Begitupun sebaliknya, semakin rendah intensitas bullying akan semakin tinggi kepercayaan dirinya [18]. Penelitian ini diperkuat dengan penelitian lain yakni Hubungan Kepercayaan Diri dengan Perilaku Bullying pada Siswa Kelas XI SMAN 3 Pati yang dilakukan oleh [18] dimana antara kepercayaan diri dan bullying terdapat hubungan yang signifikan.

Berdasarkan pemaparan masalah di atas, maka psikoedukasi tentang meningkatkan kepercayaan diri untuk mencegah bullying perlu dilakukan di panti asuhan guna memberikan pemahaman kepada anak-anak panti asuhan dalam menghadapi serta mencegah tindakan bullying yang dilakukan oleh orang lain. Tujuan dari kegiatan psikoedukasi ini adalah meningkatkan pemahaman tentang bullying serta mengembangkan rasa kepercayaan diri yang kuat untuk menghadapi tindakan bullying agar lebih sensitif dan tanggap terhadap tindakan yang dapat merugikan orang lain [19].

Metode Penelitian

Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan pre-eksperimental, yaitu desain one-group pretest-posttest untuk mengukur perubahan pengetahuan anak panti asuhan sebelum dan setelah diberikan perlakuan dalam satu kelompok yang sama. Desain one-group pretest-posttest adalah mengevaluasi efek intervensi pada sampel yang telah diberikan [20].

Pretest Perlakuan Posttest
Eksperimental Group 01 X 02
Table 1.

Keterangan :

01: Pengukuran sebelum diberikan perlakuan

02: Pengukuran setelah diberikan perlakuan

X : Perlakuan

Subjek P enelitian

Subjek pada penelitian kali ini adalah 38 anak asuh panti asuhan Mahabbatur Rosul. Penelitian ini menggunakan metode teknik sampling jenuh dimana jumlah seluruh populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Subjek penelitian terdiri dari 5 anak berusia 7-12 tahun, sedangkan 33 anak lainnya berada dalam rentang usia 13-19 tahun.

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini memanfaatkan kuesioner sebagai sarana untuk mengumpulkan data, yang disusun untuk memperoleh informasi yang relevan dari para responden. Nilai reliabilitas kuesioner adalah 0.784. Materi psikoedukasi terdiri dari dua topik utama yang akan disampaikan oleh pemateri. Topik pertama membahas secara mendalam mengenai bullying beserta dampaknya, sementara topik kedua mengupas pentingnya pengembangan kepercayaan diri sebagai langkah pencegahan terhadap bullying.

Metode Pelaksanaan

Pelaksanaan program psikoedukasi ini dilaksanakan melalui tiga tahap yang sistematis, yaitu dimulai dari persiapan lalu pelaksanaan dan setelah itu evaluasi kegiatan. Tahap persiapan meliputi mengidentifikasi kebutuhan, perencanaan dan perancangan materi, yang terakhir adalah penyusunan rencana dan waktu kegiatan. Tahap pelaksanaan mencakup penyampaian materi melalui presentasi diikuti dengan diskusi kelompok untuk mendalami materi yang telah disampaikan. Terakhir yakni evaluasi yang bertujuan untuk menilai sejauh mana keberhasilan program psikoedukasi dengan cara menganalisis hasil kuesioner serta mengamati peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan. Kuesioner penelitian dapat diakses melalui tautan berikut https://drive.google.com/file/d/1y77_iIxnlNLWXrIXNOYqKqOhkETiZQyp/view?usp=sharing. Dan modul psikoedukasi dapat diunduh melalui tautan berikut https://drive.google.com/file/d/1hzytn9n8etWmqgIc7CY4MAFGHPQb2_yu/view?usp=sharing

Tahap 1 (Persiapan)
Aktivitas : Melakukan survei dan wawancara guna identifikasi masalah atau kebutuhan
Menganalisis data untuk memahami permasalahan
Perencanaan dan penyusunan program psikoedukasi yang sesuai dengan kebutuhan
Tujuan : Mengidentifikasi masalah dan merancang program psikoedukasi
Waktu : Sebulan sebelum pelaksanaan kegiatan
Peralatan : Ponsel, buku, pulpen
Table 2. Tabel 2. Tahapan Kegiatan Psikoedukasi
Tahap 2 (Pe laksanaan )
Aktivitas : Pembukaan kegiatan psikoedukasi
Penyampaian materi
: Diskusi dan tanya jawab
Tujuan : Peserta memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kesadaran terhadap topik yang dibahas
Waktu : Dua jam saat kegiatan
Peralatan : Laptop, proyektor, materi PPT, pengeras suara, mikrofon
Table 3. Tabel 2. Tahapan Kegiatan Psikoedukasi
Tahap 3 ( Evaluasi )
Aktivitas : Pengisian kuesioner oleh peserta
Menganalisis hasil kuesioner dan umpan balik dari peserta
Tujuan : Menilai tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang sudah diberikan
Waktu : Satu jam setelah penyampaian materi
Satu hari setelah kegiatan untuk menganalisis hasilnya
Peralatan : Kuesioner, Alat tulis
Table 4. Tabel 2. Tahapan Kegiatan Psikoedukasi

Analisa Data

Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner yang telah dibagikan sebelumnya oleh peneliti. Kuesioner tersebut berisi pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan, yang dijawab dengan pilihan "iya" atau "tidak". Sebanyak 15 pernyataan diberikan kepada anak panti asuhan. Data yang diperoleh kemudian dikumpulkan, dianalisis, dan ditafsirkan. Data dari 38 peserta penelitian dianalisis menggunakan teknik sampling jenuh, dan hasil analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak JASP versi 0.18.1.0.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Di bawah ini disajikan hasil analisis statistik mengenai efektivitas program psikoedukasi yang diterapkan, dengan fokus utama pada upaya peningkatan kepercayaan diri sebagai langkah pencegahan terhadap bullying:

Figure 1. Tabel 3. Distribusi umur responden

Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah responden terbagi dalam dua kelompok umur, yakni 7-12 tahun dan 13-19 tahun. Dari total 38 responden, sebanyak 5 orang (13,16%) berada dalam kelompok umur 7-12 tahun, sementara 33 orang (86,84%) termasuk dalam kelompok umur 13-19 tahun. Data ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berada dalam kelompok umur 13-19 tahun.

Test of Normality (Shapiro-Wilk)
W p
Pre-Test - Post-Test 0.903 0.003
Note.  Significant results suggest a deviation from normality.
Table 5. tas (Shapiro-Wilk)

Diketahui bahwa p-value sebesar 0.003 dan ini lebih kecil dari 0.05, maka hal ini menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal. Maka dari itu, uji asumsi yang digunakan ialah uji non-parametrik. Uji non-parametrik menggunakan uji Wilcoxon.

Descriptives
N Mean SD SE Coefficient of variation
Pre-Test 38 9.842 3.054 0.495 0.310
Post-Test 38 11.474 2.037 0.330 0.178
Table 6. Tabel 5. Deskriptif Statistik Skor Pre-Post test Psikoedukasi

Tabel 5 menampilkan hasil statistik deskriptif skor pre-test dan post-test dari 38 anak panti asuhan terkait dengan kepercayaan diri dalam upaya pencegahan bullying. Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada rata-rata skor sebelum dan setelah mengikuti psikoedukasi. Sebelum mengikuti psikoedukasi, rata-rata skor pre-test adalah 9.842, yang mencerminkan pengetahuan anak panti asuhan sebelum mengikuti psikoedukasi. Setelah mengikuti psikoedukasi, terjadi peningkatan yang signifikan pada rata-rata skor post-test menjadi 11.474. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pada anak panti asuhan setelah mengikuti psikoedukasi, yang dapat dilihat pada grafik 1 di bawah ini.

Figure 2. Grafik 1. Deskriptif Statistik Skor

Paired Samples T-Test
Measure 1 Measure 2 W z df p
Pre-Test - Post-Test 27.500 -3.996 < .001
Note. Wilcoxon signed-rank test.
Table 7.

Diketahui bahwa p-value adalah < .001 yang mana nilai ini lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada pre-test dan post-test. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan psikoedukasi berdampak pada perubahan pengetahuan peserta.

Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk menilai sejauh mana psikoedukasi dapat meningkatkan pemahaman anak panti asuhan mengenai meningkatkan kepercayaan diri untuk pencegahan bullying. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa psikoedukasi yang dilakukan efektif dalam meningkatkan pengetahuan partisipan terkait pentingnya meningkatkan kepercayaan diri untuk mencegah bullying di lingkungan panti asuhan. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh [21] bahwa psikoedukasi mengenai gerakan anti-bullying memberikan dampak positif dalam meningkatkan sikap anti-bullying. Hasil analisis menunjukkan bahwa psikoedukasi anti-bullying memberikan dampak positif. Dampak positif ini terlihat dari peningkatan wawasan dan pemahaman tentang bullying, antara lain berupa mengetahui apa itu bullying, bentuk-bentuk bullying, faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan bullying, cara mencegah terjadinya bullying, serta menghentikan perilaku bullying yang terjadi terutama di lingkungan panti asuhan. Temuan ini juga didukung oleh [19] yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan psikoedukasi terhadap peningkatan pengetahuan tentang bullying dan pentingnya pengetahuan menyeluruh terhadap bullying.

Psikoedukasi yang dilaksanakan berperan sebagai pendekatan intervensi untuk membangun kesadaran bahwa bullying merupakan perilaku buruk dan merugikan [15]. Bullying menyebabkan kecemasan, ketakutan, sulit konsentrasi saat belajar, merasa terancam, dan kepercayaan diri yang menurun bahkan hilang . Sehingga jika seseorang sering mengalami bullying maka kepercayaan dirinya akan rendah [22]. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh [23] bahwa seseorang yang pernah menjadi korban bullying dalam bentuk yang ringan, ia memiliki kepercayaan diri yang buruk. Kepercayaan diri dan bullying memiliki hubungan yang erat, di mana seseorang dengan kepercayaan diri yang rendah cenderung lebih rentan menjadi sasaran bullying, karena mereka kurang mampu untuk membela dirinya sendiri. Sedangkan seseorang dengan kepercayaan diri yang baik umumnya memiliki ketangguhan emosional sehingga mereka cukup sulit untuk dijadikan sasaran bullying [16]. Ketangguhan emosional memungkinkan seseorang untuk mengatasi dan beradaptasi dengan tantangan hidup secara efektif, termasuk dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan seperti bullying. Individu dengan ketangguhan emosional yang baik memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosi dalam berbagai situasi, yang sangat penting ketika dihadapkan dengan perilaku bullying. Mereka mampu tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh hinaan atau perlakuan negatif dari pelaku bullying. Selain itu, mereka memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan baik, mencari cara untuk melindungi diri mereka, dan tetap menjaga kepercayaan diri meskipun berada dalam situasi yang menantang [24].

Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, seseorang memiliki kemungkinan lebih rendah untuk menerima perilaku bullying dari orang lain [17]. Kepercayaan diri yang tinggi dapat mengurangi risiko seseorang menjadi korban bullying karena individu yang percaya diri cenderung menunjukkan sikap tegas, bahasa tubuh yang kuat seperti badan tegak dan ekspresi wajah yang tenang dan yakin, serta kemampuan untuk bersikap asertif dalam menghadapi tekanan sosial. Mereka tidak mudah terintimidasi, sehingga pelaku bullying melihat mereka bukan sebagai target yang mudah [25].

Oleh karena itu, peran pengelola panti asuhan dan keluarga sangat penting dalam mengawasi tindakan bullying. Pengawasan yang efektif akan memastikan bahwa proses pembelajaran dan kegiatan lainnya tetap berjalan lancar, serta mencegah terjadinya penurunan rasa kepercayaan diri yang disebabkan oleh bullying .

Psikoedukasi dinilai efektif karena memberikan pendidikan psikologi kepada individu, kelompok, ataupun komunitas dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan mereka [21]. Mencegah dan mengatasi bullying di panti asuhan merupakan tantangan yang kompleks dan memerlukan proses yang panjang. Program psikoedukasi ini merupakan langkah awal yang harus terus dilanjutkan. Pihak pengelola panti asuhan, pengasuh, serta seluruh anak-anak panti harus terus bersikap proaktif dalam menciptakan lingkungan yang aman, saling mendukung, bebas dari tindak kekerasan serta menumbuhkan rasa empati terhadap orang lain.

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah subjek yang terbatas, dimana hanya sejumlah kecil anak panti asuhan yang menjadi responden, sehingga hasil penelitian mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke panti asuhan lainnya yang memiliki karakteristik atau kondisi berbeda. Selain itu, metode penelitian yang digunakan hanya bersifat kuantitatif, yang berfokus pada pengukuran dan data numerik, sehingga kurang dapat menggali pemahaman mendalam tentang pengalaman dan perasaan subjek yang berpartisipasi dalam program psikoedukasi.

Simpulan

Berdasarkan hasil pelaksanaan psikoedukasi mengenai bullying, dapat disimpulkan bahwa setelah menerima psikoedukasi telah terjadi perubahan signifikan dalam pemahaman terkait dengan perilaku bullying. Hasil analisis menunjukkan p-value < 0,001, yang lebih kecil dari 0,05, menandakan adanya perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah pemberian psikoedukasi. Ini mengindikasikan bahwa psikoedukasi tentang bullying efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta mengenai perilaku bullying. Program psikoedukasi ini terbukti berpengaruh dalam meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan terhadap perilaku bullying. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam pemahaman anak-anak di panti asuhan mengenai bullying, mencakup pemahaman tentang definisi bullying, bentuk-bentuknya, serta cara untuk mencegah dan menghentikan perilaku bullying.

Sebagai bagian dari upaya untuk mencegah bullying dan menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan saling mendukung, disarankan agar seluruh anak-anak panti asuhan dapat terus mengaplikasikan sikap empati, peduli terhadap sesama, serta berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari bullying. Pihak pengelola panti asuhan dan pengasuh juga diharapkan tetap aktif dalam mendukung terciptanya suasana yang saling menghargai, aman, dan bebas dari tindak kekerasan. Saran untuk penelitian selanjutnya dapat berfokus pada pengembangan model intervensi yang lebih terintegrasi misalnya dengan pendekatan holistik. Model ini melibatkan seluruh komunitas yang ada di panti asuhan dalam program psikoedukasi. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat menciptakan perubahan yang lebih mendalam dan berkelanjutan di lingkungan panti asuhan. Dengan kolaborasi antara anak-anak, pengasuh, dan pengelola panti, diharapkan dapat terwujud lingkungan yang aman dan terbebas dari tindakan bullying.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Panti Asuhan Mahabbatur Rasul yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di panti asuhan yang dipimpin. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pengasuh dan anak-anak yang tinggal di panti asuhan yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

References

[1] A. T. Sari, “Implementasi Mindfulness Remaja Korban Bullying di Panti Asuhan Daerah Kota Surakarta,” At-Tawassuth: Jurnal Ekonomi Islam, vol. 8, no. 1, pp. 1–19, 2023.

[2] N. F. Pamungkas, “Analisis Yuridis Penegakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Korban Bullying di Sekolah,” vol. 15, no. 1, pp. 37–48, 2024.

[3] G. J. K. B. Ginting and F. U. Ritonga, “Strategi dalam Peningkatan Kepercayaan Diri Remaja terhadap Pembullying di Rumah Pintar YAFSI,” Literasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi, vol. 4, no. 2, pp. 159–165, 2024, doi: 10.58466/Literasi.V4i2.1516.

[4] I. S. Panggalo, Y. Padallingan, and G. A. M. P., “Psikoedukasi Kesehatan Mental Stop Bullying Start Caring,” Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti, vol. 5, no. 3, pp. 851–861, 2024, doi: 10.38048/Jailcb.V5i3.3629.

[5] E. T. Wahani, S. P. Isroini, and A. Setyawan, “Pengaruh Bullying terhadap Kesehatan Mental Remaja,” Jurnal Ilmiah Global Education, vol. 4, no. 3, pp. 1819–1824, 2023, doi: 10.55681/Jige.V4i3.1250.

[6] S. N. Oktaviani and Syawaluddin, “Peran Pengasuh Panti Asuhan dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 2, no. 1, pp. 30–33, 2023.

[7] B. G. R. Maryono, M. Abubakar, and K. E. Waluyo, “Manajemen Bimbingan Konseling dalam Penanganan Bullying di Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu Nurul Fajri,” Indonesian Research Journal of Education, vol. 4, no. 2, pp. 119–125, 2024, doi: 10.31004/Irje.V4i2.502.

[8] M. A. Zulqurnain and M. Thoha, “Analisis Kepercayaan Diri pada Korban Bullying,” Edu Cons: Jurnal Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam, vol. 3, no. 2, pp. 69–82, 2022, doi: 10.19105/Ec.V3i2.6737.

[9] A. Havid, “Peran Pembimbing dalam Menangani Bullying di Panti Asuhan Tiara Putri Sukarame Bandar Lampung,” 2022.

[10] Munawir, R. F. Fitriyah, and S. A. Khairunnisa, “Fenomena Bullying dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam,” Studia Religion: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, vol. 8, no. 1, pp. 29–39, 2024, doi: 10.30651/Sr.V8i1.22136.

[11] C. Asyifah, M. A. Firmansyah, and D. A. Budiman, “Kasus Bullying Dunia Pendidikan di Indonesia dari Perspektif Media dan Pemberitaannya,” Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, vol. 9, no. 1, pp. 374–383, 2024, doi: 10.36418/Syntax-Literate.V9i1.14855.

[12] I. U. Azmi et al., “Studi Komparasi Kepercayaan Diri Siswa yang Mengalami Verbal Bullying dan yang Tidak Mengalami Verbal Bullying di Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 5, pp. 3551–3558, 2021, doi: 10.31004/Basicedu.V5i5.1389.

[13] N. Susanti, “Bimbingan Keagamaan untuk Membangun Kepercayaan Diri Santri di Pondok Pesantren Daruth Tholibin Way Mengaku Liwa Lampung Barat,” 2023.

[14] F. Yusri et al., “Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak di Panti Asuhan Muhammadiyah Koto Baru Kabupaten Solok,” Concept: Journal of Social Humanities and Education, vol. 3, no. 1, 2024.

[15] I. Amalia, Y. A. Anastasya, and E. Suzanna, “Psikoedukasi Upaya Peningkatan Self Confidence pada Siswa SMKN 5 Lhokseumawe,” Gotong Royong: Jurnal Pengabdian, Pemberdayaan dan Penyuluhan kepada Masyarakat, vol. 1, no. 2, pp. 34–36, 2022, doi: 10.51849/Jp3km.V1i2.9.

[16] K. Fiorentika, D. Santoso, and I. Simon, “Keefektifan Teknik Self-Instruction untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa SMP,” Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, vol. 1, no. 3, pp. 104–111, 2016, doi: 10.17977/Um001v1i32016p104.

[17] R. U. Irwanti and A. H. B. Haq, “The Effectiveness of Psychoeducation in Increasing Adolescents’ Knowledge About Bullying,” Journal of Islamic Contemporary Psychology, vol. 3, no. 1S, pp. 214–220, 2023, doi: 10.25299/jicop.v3i1s.12362.

[18] A. A. Permana, F. S. Rahman, and N. Ermasaroh, “The Relationship Between Bullying Behavior and Self-Confidence Level,” Journal of Practice Learning and Educational Development, vol. 1, no. 1, pp. 6–10, 2021, doi: 10.58737/jpled.v1i1.2.

[19] E. Oktavianto, D. W. Melinda, and E. Timiyatun, “Bullying Incidents and Self-Confidence Among Adolescents,” Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Dan Ilmu Kesehatan Masyarakat, vol. 18, no. 1, pp. 8–15, 2023, doi: 10.32504/sm.v18i1.745.

[20] A. B. R. Novilia, “The Relationship Between Self-Confidence Factors and Bullying Behavior Among Adolescents at SMP Negeri 5 Samarinda,” Borneo Student Research, vol. 2, no. 3, pp. 1539–1546, 2021.

[21] A. I. Syahputra, S. Fitriana, and M. A. P. Dian, “The Relationship Between Self-Confidence and Bullying Behavior of Grade XI Students at SMA Negeri 3 Pati,” Jurnal Bimbingan Konseling Dan Psikologi, vol. 4, no. 3, pp. 152–159, 2024.

[22] Nurmina and F. V. Julia, “The Effectiveness of Psychoeducation as a Strategy to Improve Bullying Understanding Among Adolescents in Orphanage X Padang,” Masaliq: Jurnal Pendidikan Dan Sains, vol. 4, no. 6, pp. 1150–1159, 2024, doi: 10.58578/masaliq.v4i6.4064.

[23] O. D. Kumala, E. P. Sari, and T. P. Widayaningsih, “Psychoeducation to Reduce Bullying Behavior and the Formation of Anti-Bullying Cadres at SD Y,” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2023.

[24] T. Sulastri, A. F. A. A., A. N. M. M., A. P. Amalia, V. W. Ayuningsih, and F. H. Rura, “Psychoeducation ‘Gerakan Anti Bullying’ and Bullying Behavior Among Students of SMP Unismuh Makassar,” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, vol. 8, pp. 31072–31076, 2024.

[25] T. Stupuris, “Relationship Between 12–16-Year-Old Athletes’ Self-Esteem, Self-Confidence and Bullying,” Baltic Journal of Sport and Health Sciences, vol. 2, no. 2, pp. 76–82, 2012.

[26] T. P. Muliyah, D. Aminatun, S. S. Nasution, T. Hastomo, and S. S. W. Sitepu, “Factors Related to Bullying Behavior Among Adolescents at SMP Negeri 5 Samarinda,” Jurnal Geej, vol. 7, no. 2, pp. 119–132, 2022, doi: 10.33859/dksm.v13i1.768.

[27] R. Utami, “Bullying Behavior and Adolescent Mental Health,” Jurnal Kesehatan Dr. Soebandi, vol. 8, no. 1, pp. 27–33, 2020, doi: 10.36858/jkds.v8i1.164.

[28] C. R. Pradana and D. S. Putri, “Application of Behavioral Theory Using Assertive Training Technique to Build Adolescents’ Self-Confidence,” Jurnal Ilmiah Bimbingan Dan Konseling, vol. 9, no. 4, pp. 277–294, 2024.