Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Social Support and Self Efficacy Predict Adolescent Well Being

Dukungan Sosial dan Efikasi Diri Memprediksi Kesejahteraan Remaja
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Auliyah Rohmah (1), Nurfi Laili (2)

(1) Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Subjective well-being constitutes a multidimensional construct encompassing positive affect, minimal negative affect, and cognitive evaluations of life satisfaction, representing a central indicator of adolescent psychological functioning. Specific Background: Adolescents living in orphanages encounter distinct developmental challenges due to limited parental care, making social support and self-efficacy salient psychosocial resources within institutional settings. Knowledge Gap: Although prior studies have examined social support or self-efficacy separately, limited empirical evidence addresses their simultaneous association with subjective well-being among adolescents residing in orphanages. Aims: This study aimed to examine the relationships between social support and self-efficacy with subjective well-being among adolescents living in orphanages in the Candi region. Results: Using a quantitative correlational design with saturated sampling of 106 adolescents, data were analyzed through multiple correlation analysis. Findings revealed significant positive correlations between social support and subjective well-being (r = 0.407, p < .001) and between self-efficacy and subjective well-being (r = 0.489, p < .001). Simultaneously, both predictors were significantly associated with subjective well-being (F = 25.300, p < .001), accounting for 32.9% of the variance (R² = 0.329). Most participants were categorized at moderate levels across variables. Novelty: This study integrates social support and self-efficacy within a single predictive model focused specifically on adolescents in orphanage contexts. Implications: Strengthening perceived social support and self-efficacy may serve as strategic targets for psychosocial programs aimed at promoting adolescent subjective well-being in institutional care environments.


Highlights:



  • Perceived Interpersonal Assistance Showed a Statistically Significant Positive Correlation With Life Satisfaction and Affective Evaluation.

  • Personal Capability Beliefs Demonstrated a Stronger Correlation Coefficient Compared With External Relational Resources.

  • The Combined Model Explained 32.9% of Variance Among Youths Residing in Institutional Care Settings


Keywords: Subjective Well-Being, Social Support, Self-Efficacy, Adolescents, Orphanages

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Semua orang bercita-cita untuk mendapatkan kesenangan dalam hidupnya, yaitu sejahtera, yang mencakup keselamatan fisik dan biologis serta kesejahteraan dirinya untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Kebahagiaan adalah salah satu emosi positif yang dapat dialami oleh setiap orang, baik pria maupun wanita [1] Akan tetapi seseorang bisa menjadi tidak bahagia karena adanya kondisi yang terjadi dalam lingkungan hidupnya, dalam mencapai kehidupan yang sejahtera banyak masalah-masalah yang muncul sehingga terjadi masalah perkembangan dalam rana psikis mereka. Hal ini terjadi dalam setiap tingkatan dalam perkembangan manusia salah satunya yang sering terjadi yaitu pada masa remaja[2].

Masa remaja merupakan periode yang sangat signifikan karena pada fase ini, individu menjalani peralihan dari kanak-kanak ke dewasa, yang melibatkan perubahan besar dalam aspek fisik, kognitif, dan sosio-emosional [3]. Menurut Santrock, kelompok usia remaja dimulai pada usia 10 sampai dengan usia 12 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun[4].Fakta ini mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa masa perkembangan remaja adalah periode kritis di mana fungsi mental, fisik, dan psikologis mengalami perubahan signifikan saat beralih dari masa kanak-kanak ke remaja, sebagaimana dijelaskan oleh Santrock (2004). Pada masa remaja mereka cenderung masih mudah goyah ketika bertindak, tetapi selalu ingin mencoba hal-hal yang baru dan mendapatkan penerimaan dan pengakuan atas jati diri selayaknya yang didapatkan orang yang sudah dewasa sehingga ketika mereka tidak mampu memilih bermacam macam informasi yang diperoleh dari lingkungan dikawasan rumahnya dengan memilih mana yang baik dan benar, mereka cenderung melakukan kenakalan dan tindakan kejahatan remaja.

Pada saat seseorang mengalami kenakalan remaja, maka peran orang tua sangat penting untuk mengarahkan dan memberikan sebuah pengajaran berbentuk norma atau nilai, hal ini sesuai dengan Sabaraisman (2015) bahwa penyelesaian dari kenakalan remaja memerlukan peran dari lingkungan sekitarnnya terutama keluarga [5]. Keluarga menjadi tempat penting untuk menyelesaikan masalah psikologis remaja dan sangat membantu perkembangan psikologis mereka [6]. Namun tidak semua keluarga mampu memberikan kasih sayang terhadap anaknya. Realitas sosial menunjukkan bahwa sebagian remaja harus hidup di lembaga panti asuhan karena beberapa dari mereka dihadapkan oleh masalah dalam lingkup keluarga. Penghuni panti asuhan adalah anak-anak yang menghadapi masalah keluarga, seperti tidak pernah mengenal keluarganya sejak lahir atau berasal dari keluarga yang kurang mampu [7]. Hal-hal seperti ini yang menyebabkan anak-anak atau remaja menjadi yatim atau yatim piatu. Menurut Anwar, konflik, bencana alam, perceraian, masalah ekonomi, dan berbagai faktor lainnya juga mengakibatkan mereka harus tinggal di panti asuhan [8].

Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia, Panti Asuhan adalah sebuah lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial pada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar, memberikan pelayanan penganti orang tua/wali anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental, sosial kepada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat memadai bagi pengembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif dalam bidang pembangunan bangsa [9]. Remaja dan anak-anak yang tinggal di panti asuhan memiliki rasa kurang adanya dukungan atas orang sekitar yang lebih besar dari remaja yang hidup bersama dengan keluarganya. Namun, berbeda dengan remaja pada umumnya, remaja di panti asuhan memiliki akses yang lebih intens terhadap dukungan sosial dari pengasuh dan teman sebaya [10]. Dan tidak semua remaja memiliki orang tua dan tinggal bersama keluarganya mendapatkan dukungan dari banyak orang, seperti kebanyakan remaja.

Dalam penelitian, fungsi keluarga berperan penting dalam kesejahteraan subjektif remaja, memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan mereka. Selain itu, penelitian oleh Khan dan Jahan menunjukkan bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan cenderung memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih rendah dibandingkan dengan remaja yang tidak tinggal di panti asuhan. Kesejahteraan subjektif cenderung meningkat ketika individu merasa bahagia dan nyaman dalam lingkungan keluarga dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan keberfungsian keluarga merupakan hal yang penting bagi individu termasuk remaja yang sedang mencari jati diri [11].

Penelitian yang dilakukan oleh Aesijah pada remaja yatim piatu di panti asuhan Penelitian di Daarul Hadlonah Kendal menunjukkan bahwa secara emosional, penghuni panti berada dalam kondisi kurang sejahtera. [7], Berdasarkan hasil survey awal penelitian yang dilakukan dengan menggunakan aspek Kesejahteraan Subjektif yang dilakukan dengan Menggunakan angket yang di tujukan kepada remaja sebagai responden dengan jumlah 20 remaja pada salah satu panti asuhan. 12 remaja (60%) panti memiliki evaluasi negatif atau tidak puas terkait aspek kehidupan mereka yaitu pencapaian akademik. 7 remaja (35%) merasa pesimis atau memiliki evaluasi negatif terhadap prospek masa depan. 7 remaja (35%) merasa kebingungan atau kehilangan arah terkait langkah-langkah yang harus diambil dalam waktu dekat. 9 remaja (45%) merasa sulit akan kepercayaan diri dalam mengejar impian mereka. 3 remaja (15%) merasa kurang mendapatkan dukungan dalam mengembangkan kemampuan kognitif mereka. 8 remaja (40%) merasa kurang memiliki kendali atas kehidupan mereka. 4 remaja (20%) merasa belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dan dukungan dari teman-teman di panti. 8 remaja (40%) merasa bahwa mereka belum menemukan teman dekat di panti 2 remaja (10%) merasa kurang nyaman. 6 remaja (30%) sering merasa cemas atau stres. 4 remaja (20%) kesulitan menjalin hubungan positif. 17 remaja (85%) merasa sulit mengungkapkan perasaan dengan bebas. 7 remaja (35%) merasa kurang dukungan keluarga saat mengatasi masalah. Melalui hasil survey tersebut sudah terlihat gambaran permasalahan pada remaja di panti asuhan, remaja di panti ini terlihat memiliki permasalahan yang berbeda-beda maka dari itu peneliti melakukan survey guna mendapatkan data awal pada penelitian kali ini. Menurut Diener dan Sofa Indriyani menjelaskan bahwa orang yang mengalami kepuasan hidup, sering merasakan kegembiraan, dan jarang merasakan emosi yang tidak menyenangkan, seperti kesedihan atau kemarahan, dikatakan memiliki subjective well-being tinggi [12].

Menurut Diener et al., psikologi positif mencakup kajian mengenai kesejahteraan subjektif, yang melibatkan bagaimana seseorang merasakan berbagai aspek afektif dan kognitif seperti kepuasan, ketenangan, dan kebahagiaan. Dengan demikian, kesejahteraan subjektif merupakan konsep yang luas, mencakup emosi positif, kebahagiaan, kepuasan hidup yang tinggi, dan emosi negatif yang minimal. Diener, Oshi, dan Lucas menjelaskan bahwa kesejahteraan subjektif adalah penilaian individu terhadap kualitas hidupnya, melibatkan penilaian kognitif dan afektif, serta menjadi salah satu indikator utama dari kualitas hidup seseorang [13].

Pribadi seseorang dinilai memiliki kesejahteraan subjektif yang tinggi ketika mereka lebih sering merasakan emosi positif daripada emosi negatif, aktif dalam kegiatan yang menarik, mengalami lebih banyak kebahagiaan dengan sedikit penderitaan, serta merasa puas dengan kehidupannya. Kesejahteraan subjektif terdiri dari tiga komponen utama: afek positif, afek negatif, dan kepuasan hidup. Afek positif dan negatif mewakili aspek emosional, sementara kepuasan hidup menggambarkan aspek kognitif seseorang. (Diener, 2000) [14]. Remaja dalam menjalankan kehidupan sehari-hari membutuhkan dukungan orang tua untuk memunculkan rasa kebahagiaan dalam hidupnya, hal tersebut sangat mempengaruhi remaja dalam menjalani kehidupan sehari-hari demi terwujudnya kesejahteraan subjektif remaja.

Menurut Diener, dkk (2005) subjective well being memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi, diantaranya adalah faktor genetik, kepribadian, faktor jenis kelamin, hubungan sosial, dukungan sosial, masyarakat atau budaya, proses kognitif dan tujuan (goals) [15]. Berdasarkan faktor – faktor yang mempengaruhi SWB tersebut maka setiap orang ingin mencapai kesejahteraan subjektif dalam hidupnya. Salah satu prediktor dari kesejahteraan subjektif adalah dukungan sosial. Faktor yang berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif yaitu dukungan sosial. Menurut Tian (2015) faktor yang berpengaruh terhadap kesejahteraan. Oleh karena itu, dukungan sosial sangat penting bagi semua remaja, termasuk remaja yang tinggal di panti asuhan, baik dari teman maupun pengasuh. Dengan dukungan sosial, remaja dapat menjadi lebih percaya diri dan berkembang di dunia luar.

Hal tersebut didukung dalam penelitian pendahulu yang dilakukan oleh Swelen Ohara tentang “Hubungan antara dukungan sosial dengan kesejahteraan Subjektif remaja di Panti Asuhan” ditemukan bahwa ada korelasi antara dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif remaja yang tinggal di panti asuhan [16]. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Taringan, M. menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan sosial dan subjektivitas well being pada remaja yang memiliki Orang tua Tunggal [17].

Dukungan sosial merupakan suatu ekistensi, kesanggupan, perhatian dari orang lain yang bisa dipercayakan, di hargai dan sayang terhadap kita (Sarafino 1994), sedangkan menurut Bastaman (dalam Fatwa) Dukungan sosial diartikan sebagai hadirnya seseorang secara pribadi membantu, memotivasi, mengarahkan, dan menawarkan solusi ketika mengalami masalah atau kesulitan melakukan sesuatu secara terarah untuk mencapai tujuan [18]. Tingginya faktor Dukungan Sosial pada seseorang memunculkan rasa yang tenang, perasaan tersebut menumbuhkan Kesejahteraan yang ada padanya. Dukungan sosial harus diberikan dari keluarga, sahabat ataupun pasangan, Menurut Sarafino (dalam Kumalasari dan Ahyani) mengemukakan dukungan sosial meliputi empat aspek, yaitu: yang diberikan dapat berupa (1) aspek dukungan emosional, (2) aspek dukungan penghargaan, (3) aspek dukungan informasi,dan (4) aspek dukungan instrumental [19]

Dukungan sosial ini datang dari para pengasuh dan teman teman yang ada dipanti asuhan, pola pengasuhan berperan sangat penting bagi remaja dipanti asuhan sebagai penganti pola asuh yang tidak diberikan oleh orang tua kandung karena hal itu mereka akan mendapatkan keamanan, kegembiraan, tapi dukungan sosial yang diterima oleh remaja yang ada dipanti asuhan cenderung kurang optimal. Sehingga dukungan masyarakat juga dibutuhkan oleh remaja panti asuhan, orang orang muda berusaha mendapatkan dukungan sosial dari para pengasuh untuk mengalahkan tekanan dan pertentangan secara baik. Sarafino dalam Yuniana juga Sarafino juga menjelaskan bahwa individu yang mendapatkan dukungan sosial merasa dicintai, diakui, dan diperlakukan dengan hormat. Mereka merasa terhubung dengan jaringan sosial, seperti keluarga dan komunitas, serta menerima bantuan fisik dan dukungan. Selain itu, mereka merasa lebih mampu menghadapi tantangan atau situasi berbahaya. [20]

Selain itu, Menurut Diener dari hasil penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa faktor yang mempengengaruhi Kesejahteraan Subjektif, yaitu (1) religiusitas, (2) self esteem, (3) self efficacy, (4) ekstravert, (5) optimis dan (5) hubungan sosial yang positif [21]. Efikasi diri yaitu kemampuan untuk menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk menghadapi masalah atau menyelesaikan tugas (Bandura, 1997) [22]. Orang yang mampu menakar kekuatannya dengan benar dalam menyelesaikan tugas atau masalah tidak mudah merasa sejahtera. Sebaliknya, orang yang tidak mampu menakar kekuatannya dengan benar dalam menyelesaikan tugas atau masalah tidak mudah merasa sejahtera. Karadames (2007) menjelaskan bahwa orang yang sangat percaya diri biasanya melihat tantangan dengan cara yang memungkinkan mereka untuk menyelesaikannya daripada sebagai ancaman yang harus dihindari. Sebaliknya, orang yang kurang percaya diri biasanya melihat tugas yang sulit melalui lensa ketakutan, yang mengurangi keyakinan mereka pada kemampuan mereka [23]. Dari Bandura, (1997) dapat mengukur self efficacy manusia menurut tiga dimensi yaitu:(1) ukuran (level/tingkat), (2) kekuatan (strenght) dan (3) keumuman (generalization) [22]. Efikasi diri penting bagi remaja yang tinggal di panti asuhan, karena membantu mereka dalam beradaptasi dengan berbagai perubahan dan tuntutan yang yang dihadapi.

Berdasarkan penelitian yang oleh Pramudita R, pada siswa di SMA Negeri 1 Belitang terdapat ada korelasi positif yang sangat signifikan antara Self Efficacy dengan Subjective well being artinya semakin tinggi Self-efficacy siswa maka semakin tinggi pula Subjective well being yang dirasakan [24], demikian pula sebaliknya semakin rendah self efficacy siswa maka semakin rendah pula Subjective well being yang di alami,sama hal nya dengan penelitian yang dilakukan Hesti, dkk juga menyatakan bahwa Self Efficacy memiliki korelasi positif terhadap subjective well being pada remaja yang mengalami hubungan jarak jauh [25]

Dari beberapa penelitian diatas, dapat diartikan belum banyak ditemukan penelitian tentang Hubungan antara dukungan sosial dan efikasi diri terhadap kesejahteraan subjektif pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan. Dari penjelasan diatas, peneliti menarik sebuah topik yaitu Hubungan antara dukungan sosial dan efikasi diri terhadap kesejahteraan subjektif pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan. Adapun hiptoesis yang diajukan yaitu terrdapat hubungan positif antara dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif pada remaja yang tinggal dipanti Asuhan, terdapat hubungan postif antara efikasi diri dan kesejahteraan subjektif pada remaja yang tinggal dipanti Asuhan, serta terdapat hubungan positif antara dukungan sosial dan efikasi diri terhadap kesejahteraan subjektif untuk remaja yang tinggal di panti asuhan. Semakin besar dukungan sosial dan efikasi diri yang diterima dan diterapkan, semakin tinggi tingkat kesejahteraan subjektif remaja. Sebaliknya, dukungan sosial dan efikasi diri yang rendah berpotensi berkontribusi pada menurunnya tingkat kesejahteraan subjektif pada remaja. Dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui Hubungan antara dukungan sosial dan efikasi diri terhadap Subjective well being pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan.

Metode

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan pengukuran dan angka untuk mengumpulkan dan menganalisis data [26]. Jenis metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Menurut Muhson analisis korelasional mencari hubungan atau pengaruh anatara dua variabel atau lebih [27]. Variabel penelitian terdiri dari variabel Dukungan sosial (X1), Variabel Efikasi diri (X2), dan variabel Subjective well being (Y).

Populasi pada penelitian ini berfokus pada remaja yang tinggal di panti asuhan sebagai subjeknya bercirikan remaja yang memiliki usia 12-18 tahun, tinggal dipanti asuhan, dan dapat pembinaan dan pembiayaan sekolah dari panti asuhan. Penelitian ini dilakukan di seluruh panti yang ada diwilayah Candi sebanyak 7 panti dengan jumlah keseluruhan remaja sebesar 106 remaja. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan ini yaitu teknik sampling jenuh dengan penentuan sampel menggunakan semua anggota populasi yang ada sebesar 106 remaja. Teknik Pengambilan data menggunakan metode skala dengan penyusunan skala likert yang disebarkan melalui google forms yang memuat skala Dukungan sosial, skala Efikasi diri, dan skala kesejahteraan subjektif.

Skala yang digunakan untuk mengukur dukunngan sosial dari medical outcomes study scale dengan jumlah aitem sebanyak 19 aitem. Skala ini dikembangkan oleh Sherbourne CD and Stewart AL Yang disusun menggunakan subskala dukungan emosional/informatif, dukungan nyata, dukungan afektif, intekasi sosial positif, dan dukungan sosial keseluruhan. Dengan koefisien reliabilitas sebesar 0.762. Pada skala ini menggunakan 5 pilihan jawaban yaitu Tidak pernah sama sekali, jarang sekali, Kadang kadang, sering sekali, dan Selalu [28].

Skala untuk mengukur Efikasi diri menggunakan skala dari penelitian ANT Maharani yang disusun berdasarkan teori Bandura yang memiliki 3 aspek yakni Tingkat (Level), Kekuatan (Strenght), Generalisasi. Terdapat 17 aitem dengan hasil uji reliabilitas 0.925. Pada skala ini, tersedia empat pilihan jawaban: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS) [29].

Untuk mengukur Kesejahteraan Subjektif menggunakan skala Kesejahteraan Subjektif yang dari peneliti Elisa sebanyak 20 aitem valid yang disusun berdasarkan teori dari Diener kognitif (Evaluasi kepuasan hidup secara global dan Evaluasi kepuasan hidup secara domain dan afektif (Afek Positif dan Afek Negatif). Lalu alat ukur tersebut dilakukan uji coba dengan validitas dan reliabilitas sebesar 0.912 akan tetapi ada 3 aitem yang gugur dan menjadi 17 aitem untuk skala kesejahteraan subjektif. Pada skala ini, tersedia empat pilihan jawaban: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS) [30].

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu korelasi berganda untuk menunjukkan arah kuatnya keterikatan antara dua variabel independen secara bersama sama atau lebih dengan satu variabel dependen.. Perhitungan data pada penelitian ini dibantu dengan program JASP 0.18.0. Analisa data ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan efikasi diri dengan kesejahteraan subjektif

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Hasil penelitian yang sudah diperoleh dengan menyebarkan kuisioner kepada 106 remaja yang tinggal dipanti asuhan wilayah Candi Sidoarjo. Penelitian ini terdapat dua variabel bebas yakni dukungan sosial dan efikasi diri dan memiliki satu variabel terikat yakni kesejahteraan subjektif.

Tabel 1. Daftar Panti Asuhan

Sebelum menguji hipotesis penelitian, peneliti melakukan uji asumsi untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dan memenuhi standar yang diperlukan. Seperti berikut ini:

Uji Normalitas

Uji normalitas didalam penelitian digunakan untuk melihat data yang diperoleh memenuhi syarat data atau tidak memenuhi syarat data. Uji normalitas dalam penelitian ini analisis dilakukan dengan memanfatkan perangkat lunak JASP versi 18.0. Jika nilai Shapiro-Wilk di atas 0,05 tercapai, berarti uji normalitas telah dilakukan dengan baik dan optimal bisa diartikan bahwa data tersebut tersebar mengikuti pola normal. Dibawah ini adalah hasil uji normalitas yang ditunjukan melalui gambar :

Gambar 1. Uji Normalitas

Dari hasil uji normalitas data diatas menunjukkan hasil yang diperoleh pada residual data terdistribusi normal. Hal ini bisa dilihat pada titik yang tertinggi pada diagram batang berada ditengah dan kurva menunjukkan bentuk menyerupai lonceng. Dan nilai yang didapatkan pada Shapiro Wilk berada diatas 0.05 dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa uji normalitas terpenuhi.

Uji Liniearitas

Uji Liniearitas, dilakukan sebagai rujukan untuk mengidentifikasi apakah dalam penelitian ini terdapat hubungan antar kedua variabel X dengan variabel Y mempunyai hubungan yang liniear atau tidak. Berikut adalah hasil perhitungan uji liniearitas:

Gambar 2. Subjective Well Being (Y) vs Dukungan Sosial

Gambar 3. Subjective Well Being (Y) vs Efikasi Diri

Dari hasil uji liniearitas data diatas menunjukkan bahwa terdapat hubungan antar variabel dukungan sosial dan efikasi diri terhadap subjective well being. Hal ini diperoleh hasil grafik plot data yang menyebar mendekati garis liniear.

Uji Multikolinieritas

Uji Multikolinieritas dilakukan untuk melihat apakah benar atau tidak hubungan antar variabel bebas.adanya multikolonieritas bisa dilihat dari Variance Inflation Factor (VIF) dan tolerance value. Jika nilai VIF < 10 dan tolerance value lebih besar 0.1 maka bisa dinyatakan tidak terjadi multikolinieritas dalam model korelasi. Berikut merupakan hasil perhitungan uji multikolinieritas:

Tabel 2. Uji Multikolinieritas

Nilai variabel Dukungan Sosial (X1) dan Efikasi Diri (X2) adalah 0,944, yang lebih besar dari 0,10. Sedangkan nilai VIF (Variance Inflation Factor) untuk variabel X1 dan X2 masing-masing adalah 1,060, lebih kecil dari 10,00. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas pada kedua variabel bebas dalam penelitian ini..

Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilaksanakan guna menentukan apakah terdapat hubungan antara variabel independen (X1) dan (X2) dengan variabel dependen (Y). Berikut ini adalah hasil analisis hipotesis:

Tabel 3. Uji Hipotesis

Dari hasil korelasi pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bersifat signifikan antara variabel dukungan sosial dengan Kesejahteraan Subjektif sebesar (r=0.407, p-value < .001) dan variabel efikasi diri dengan subjective well being (r=0.489, p-value < .001).

Uji Korelasi Linier Berganda

Tabel 4. Uji korelasi linier berganda

Dari hasil korelasi berganda yang diperoleh menunjukkan bahwa model hubungan antara dukungan sosial dapat memberikan dampak yang signifikan dengan variabel subjective well being. Hal ini di lihat dari F hitung (F= 25.300, p-value < .001). maka hasil ini menandakan bahwa hipotesis penelitian terdapat hubungan serta dampak antara dukungan sosial dan Efikasi diri dengan kesejahteraan subjektif, terbukti benar sehingga hipotesis dapat diterima.

Uji Determinasi berdasarkan Sumbangan Efektif

Tabel 5. Uji Determinasi berdasarkan Sumbangan Efektif

Pada tabel diatas dengan didaptakan nilai R= 0.574 dengan sumbangan efektif dari variabel dukungan sosial dan efikasi diri adalah 32.9% (R²= 0.329) terhadap variabel Kesejahteraan Subjektif. Pengaruh tersebut dapat dianggap sebagai kontribusi signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 6. Kategorisasi Berdasarkan Seluruh Sampel

Pada tabel ini menunjukkan bahwa untuk variabel dukungan sosial terdapat 20 subjek dengan kategori rendah, 73 subjek dengan kategori sedang, 13 subjek dengan kategori tinggi. Pada variabel efikasi diri, 14 subjek dalam kategori rendah, 74 subjek dengan kategori sedang, 18 subjek dengan kategori tinggi. Pada variabel kesejahteraan subjektif, terdapat 13 subjek yang memiliki kesejahteraan subjektif yang rendah, 77 subjek dengan kesejahteraan subjektif sedang, 16 subjek dengan kesejahteraan subjektif yang tinggi. Pada tabel kategorisasi menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki presentase sebesar 69% dengan kategori sedang, efikasi diri memiliki presentase sebesar 70% dengan kategori sedang dan kesejahteraan subjektif memiliki presentase sebesar 73% dengan kategori sedang.

Selain melakukan kategorisasi berdasarkan jumlah keseluruhan sampel, peneliti juga menganalisis kategorisasi sampel untuk setiap panti secara terpisah.

Tabel 7. Kategorisasi Berdasarkan Setiap Panti

Pada tabel diatas menunjukkan variabel kesejahteraan subjektif, dukungan sosial dan efikasi diri pada masing masing panti lebih banyak dipengaruhi pada kategori sedang.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian diatas dengan populasi 106 remaja yang tinggal dipanti asuhan wilayah Candi Sidoarjo. Hasil dari penelitian diatas untuk perhitungan yang diperoleh dibantu dengan menggunakan software JASP 0.18.0 dengan variabel dukungan sosial (X1), efikasi diri (X2), dan kesejahteraan subjektif (Y).

Hasil analisis terhadap variabel dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif menunjukkan nilai korelasi pearson sebesar 0,407 dengan nilai p< .001, mengindikasikan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif remaja yang tinggal dipanti asuhan di wilayah candi. Sehingga bisa dikatakan bahwa seorang remaja yang tinggal dipanti asuhan jika memiliki dukungan sosial dan efikasi diri yang tinggi maka akan bisa terpenuhi kesejahteraan subjektif pada dirinya.

Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Swelen dan Ohara pada remaja yang Berjudul Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Kesejahteraan Subjektif Remaja Yang Tinggal Di Panti Asuhan bahwa ada hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan subjektifnya dengan koefisien korelasi sebesar 0.487 dengan nilai p value sebesar p<0,05 menunjukan bahwa ada hubungan antara dua variabel, jadi semakin tinggi dukungan sosial yang di berikan pada semakin tinggi kesejahteraan subjektif nya [16]. Penelitian lain juga memperkuat temuan ini dengan judul Hubungan antara dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif pada Mahasiswa Fakultas Psikologis Universitas Muhammadiyah Surakarta juga menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif mahasiswa dengan koefisien senilai 0.613 dengan nilai p < 0,01 yang artinya terdapat dukungan sosial memiliki yang signifikan dengan kesejahteraan subjektif [31].

Dukungan sosial dapat berperan sebagai sumber daya atau strategi coping untuk meredakan afek negatif yang timbul dari stres dan konflik. Peran dukungan sosial ini dapat membantu mengurangi beban yang dirasakan individu, seperti kesedihan, kelelahan akibat tugas atau aktivitas, dan masalah lainnya [32]. Dukungan sosial menurut Bastaman (dalam Fatwa) Dukungan sosial diartikan sebagai hadirnya seseorang secara pribadi membantu, memotivasi, mengarahkan, dan menawarkan solusi ketika mengalami masalah atau kesulitan melakukan sesuatu secara terarah untuk mencapai tujuan [18]. Dukungan dari teman sebaya, pengasuh dan pengurus panti penting untuk diberikan kepada remaja karena sangat berdampak positif pada kesejahteraan emosional dan psikologis remaja serta meningkatkan afek positif dan kepuasan hidup remaja, sehingga Mereka lebih sering merasakan emosi positif daripada emosi negatif dalam hidup mereka. Jika subjek yang memiliki subjektivitas well being yang tinggi dapat menjalani hubungan yang dekat dengan kehidupan sosialnya [33]. Remaja yang merasa didukung cenderung merasa lebih bahagia, aman, dan puas dengan hidup mereka.

Hasil analisis terhadap variabel efikasi diri terhadap kesejahteraan subjektif menunjukkan nilai korelasi Pearson sebesar 0,489 dengan nilai p<.001 Ini menandakan bahwa efikasi diri memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kesejahteraan subjektif. Ini menunjukkan bahwa peningkatan efikasi diri pada remaja akan berdampak positif pada kesejahteraan subjektif mereka. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Pramudita R, pada siswa di SMA Negeri 1 Belitang dengan koefisien korelasi sebesar 0,341 dengan nilai p value p < 0,01 yang menunjukkan adanya korelasi positif yang sangat signifikan Self Efficacy dengan Subjective well being [24]. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan Maula Atqia yang berjudul hubungan efikasi diri dengan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa baru Universitas Syiah Kuala Penerima KIP-K terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara efikasi diri dengan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa dengan korelasi sebesar 0,797 yang diartikan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara efikasi diri dengan kesejahteraan subjektif [34]. Pada penelitian lainnya juga menyatakan bahwa efikasi diri secara utuh memberikan hubungan yang baik dengan kesejahteraan subjektif remaja pada remaja di panti asuhan. Ini berarti jika semakin rendah efikasi diri maka semakin rendah kesejahteraan subjektif remaja. Efikasi diri membantu remaja dalam menghadapi berbagai tantangan hidup di panti asuhan. Remaja yang memiliki keyakinan tinggi terhadap kemampuan diri mereka cenderung lebih resilien terhadap stress dan memiliki kemampuan coping yang lebih baik. Bandura mengemukakan bahwa efikasi diri yang tinggi meningkatkan motivasi dan kinerja individu dalam mencapai tujuan hidup mereka [22].

Dari hasil uji korelasi yang diperoleh menunjukkan bahwa model hubungan antara dukungan sosial dan efikasi diri dapat memberikan dampak yang signifikan dengan variabel subjective well being. Hal ini di lihat dari F hitung (F= 25.300, p-value < .001). Maka hasil ini menandakan bahwa hipotesis penelitian terdapat hubungan serta dampak antara dukungan sosial dan Efikasi diri dengan kesejahteraan subjektif. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dan efikasi diri memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap kesejahteraan subjektif remaja yang tinggal dipanti asuhan. Demikian pula hipotesis pada penelitian ini terbukti dan diterima.

Hasil penelitian ini juga menjelaskan bahwa remaja yang tinggal dipanti asuhan memiliki tingkat dukungan sosial dalam kategori rendah sebanyak 20 remaja (19%), kategori sedang sebanyak 73 remaja (69%), kategori tinggi sebanyak 13 remaja (12%). Untuk tingkat efikasi diri dalam kategori rendah sebanyak 14 remaja (13%) dalam kategori sedang sebanyak 74 remaja (70%), dan dalam kategori tinggi sebanyak 18 remaja (17%). Untuk tingkat kesejahteraan subjektif dalam kategori rendah sebanyak 13 remaja (12%), dalam kategori sedang sebanyak 77 remaja (73%) dan dalam kategori tinggi sebanyak 16 remaja (15%). Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja yang tinggal dipanti asuhan memiliki tingkat dukungan sosial, efikasi diri, dan kesejahteraan subjektif dalam kategori sedang.

Di dalam hasil uji determinasi pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa dukungan sosial dan efikasi diri memberikan sumbangan efektif pada variabel kesejahteraan subjektif. Secara signifikan variabel dukungan dan efikasi diri memberikan sumbangan efektif sebesar 32.9% terhadap kesejahteraan subjektif. Dengan sumbangan yang diberikan kesejahteraan subjektif pada remaja ada banyak variabel lain yang memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap kesejahteraan subjektif remaja terkhusus remaja yang tinggal di panti asuhan. Maka sisa sumbangan efektif dari variabel lain sebesar 67.1% yaitu dipengaruhi oleh variabel harga diri (self-esteem), optimisme, kecerdasan emosional, dan strategi coping stress. Dalam kehidupan remaja masa kini, dukungan sosial dan efikasi diri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan subjektif mereka. Dukungan sosial dan efikasi diri memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan subjektif remaja. Dukungan sosial memberikan dorongan dari luar diri individu, sehingga meningkatkan rasa aman dan nyaman. Efikasi diri, di sisi lain, meningkatkan keyakinan individu terhadap kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Meskipun penelitian ini memberikan wawasan berharga, terdapat beberapa keterbatasan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diakui. Sumbangan efektif variabel yang diteliti terhadap kesejahteraan subjektif sebesar 32,9%. Meskipun menunjukkan adanya hubungan, masih ada variabel lain yang mungkin berperan penting namun tidak terukur dalam penelitian ini. Keterbatasan ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut dengan cakupan subjek yang lebih luas dan mempertimbangkan faktor-faktor tambahan yang mungkin memiliki hubungan. Selain itu, penambahan variabel lain seperti strategi coping, kecerdasan emosional, sel esteem dan optimisme dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif.

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada remaja yang tinggal dipanti asuhan di wilayah Candi memperoleh hasil bahwa dukungan sosial dan efikasi diri secara bersama sama memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan subjektif remaja yang tinggal dipanti asuhan. Kedua variabel ini dapat meningkatkan afek positif, kepuasan hidup, dan kemampuan individu dalam menghadapi tantangan sehingga meningkatkan kesejahteraan subjektif mereka. Dengan sumbangan efektif sebesar 32.9% dan sisanya 67.1% dijelaskan oleh faktor lain diluar penelitian yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif. Oleh karena itu penting untuk meningkatkan dukungan sosial dan efikasi diri remaja untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Penelitian ini telah menunjukkan bahwa dukungan sosial dan efikasi diri memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan subjektif remaja yang tinggal di panti asuhan. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa tingkat dukungan sosial yang tinggi dapat memperbaiki efikasi diri, yang selanjutnya berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan subjektif remaja. Penelitian ini dapat memberikan wawasan kepada pengelola panti asuhan dan pihak terkait lainnya tentang pentingnya dukungan sosial dan pengembangan efikasi diri untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif remaja. Dengan memahami hubungan antara dukungan sosial dan efikasi diri terhadap kesejahteraan subjektif, pihak panti asuhan dapat merancang intervensi atau program yang lebih efektif untuk meningkatkan kesejahteraan remaja di panti asuhan.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penelitian ini, terutama kepada panti asuhan yang telah memberikan dukungan dan partisipasi aktif dalam penelitian ini. Saya juga berterima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan yang sangat berharga.

References

V. Julianto, R. A. Cahayani, S. Sukmawati, and E. S. R. Aji, “Hubungan antara Harapan dan Harga Diri Terhadap Kebahagiaan pada Orang yang Mengalami Toxic Relationship dengan Kesehatan Psikologis,” Jurnal Psikologi Integratif, vol. 8, no. 1, p. 103, Oct. 2020, doi: 10.14421/jpsi.v8i1.2016.

Y. A. Ramadhan, “Studi tentang gambaran subjective well-being pada remaja penghuni panti asuhan di Kota Samarinda,” Jurnal Psikologi Tabularasa, vol. 17, no. 1, pp. 64–77, Aug. 2022, doi: 10.26905/jpt.v17i1.8177.

T. Nurhayati, J. Pgmi, I. Syekh, and N. Cirebon, “Perkembangan Perilaku Psikososial pada Masa Pubertas.”

R. A. Nanda and W. D. Pratisti, “HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN HARGA DIRI DENGAN PENERIMAAN DIRI PADA ANAK SMA.”

P. Puslitbang Kesejahteraan Sosial, K. R. Sosial Jl Dewi Sartika No, C. Iii, and J. Timur, “FENOMENA KENAKALAN REMAJA DAN KRIMINALITAS THE PHENOMENON OF JUVENILE DELINQUENCY AND CRIMINALITY Nunung Unayah dan Muslim Sabarisman.” [Online]. Available: http://lampost.co/berita/60-persen-

J. Andriyani, “Peran Lingkungan Keluarga dalam Mengatasi Kenakalan Remaja,” At-Taujih : Bimbingan dan Konseling Islam, vol. 3, no. 1, p. 86, Jun. 2020, doi: 10.22373/taujih.v3i1.7235.

S. Aesijah, N. Prihartanti, and W. D. Pratisti, “Pengaruh Pelatihan Regulasi Emosi Terhadap Kebahagiaan Remaja Panti Asuhan Yatim Piatu,” Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 1, no. 1, p. 39, May 2016, doi: 10.23917/indigenous.v1i1.1792.

Z. Anwar, “PENERAPAN KONSELING KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN HAPPINESS PADA REMAJA PANTI ASUHAN,” 2015.

E. Karyadiputra, G. Mahalisa, A. Sidik, and M. R. Wathani, “Pengembangan Kreativitas Anak Asuh Berbasis TI Dalam Menanamkan Nilai Wirausaha Pada Asrama Putera Panti Asuhan Yatim Piatu dan dhuafa yayasan Al-Ashr Banjarmasin,” JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS, vol. 4, no. 2, Jul. 2019, doi: 10.31602/jpaiuniska.v4i2.1956.

H. Dukungan Sosial Dengan Kebermaknaan Hidup Remaja Panti Asuhan Ade Irma Suryani Nasution Flora Silalahi, A. Husna, and F. Silalahi, “Hubungan Dukungan Sosial Dengan Kebermaknaan Hidup Remaja Panti Asuhan Ade Irma Suryani Nasution,” Jurnal Sains dan Teknologi, vol. 5, no. 1, pp. 45–50, 2023, doi: 10.55338/saintek.v5i1.1319.

* Tabasum, F. Khan, and M. Jahan, “Psychological Well-being and Achievement Motivation among Orphanand Non-orphan Adolescents of Kashmir.”

S. Indriyani,  Mabruri, E. Purwanto, and J. Psikologi, “Developmental and Clinical Psychology SUBJECTIVE WELL-BEING PADA LANSIA DITINJAU DARI TEMPAT TINGGAL Info Artikel,” 2014. [Online]. Available: http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/dcp

“Diener-Subjective_Well-Being”.

G. Gayatri, A. Kuswara, and J. Psikologi, “Hubungan antara Self-Esteem dengan Subjective Well-Being pada Guru SMK HUBUNGAN ANTARA SELF-ESTEEM DENGAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA GURU SMK Umi Anugerah Izzati,” 2022. doi: https://doi.org/10.26740/cjpp.v9i4.46987.

I. , & W. S. P. N. Pratama Putra, “Perbedaan Subjective Well-Being Ditinjau Dari Jenis Kelamin Dan Status Pernikahan Pada Pegawai Negeri Sipil,” Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 07, 2020, doi: https://doi.org/10.26740/cjpp.v7i1.32033.

S. S. Ohara Jurusan, F. Ekonomi Ilmu Sosial Dan Humaniora, S. Ohara, and Z. Varisna Rohmadoni, “Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Kesejahteraan Subjektif Remaja Yang Tinggal Di Panti Asuhan The Correlation Between Social Support And Subjective Well-Being Of Adolescents Living In Orphanages 1,” 2021. Accessed: Jul. 28, 2024. [Online]. Available: http://digilib.unisayogya.ac.id/6024/1/Naskah%20Publikasi%20SWELEN%20OHARA%20FIX-converted%20-%20Swelen%20Ohara.pdf

M. Tarigan, K. Kunci, D. Sosial, K. Subjektif, and O. Tunggal, “Hubungan Dukungan Sosial dengan Subjective Well-Being pada Remaja yang Memiliki Orangtua Tunggal The Relationship of Social Support with Subjective Well-Being on Teenagers Who Have Single Parents,” Online, 2018. [Online]. Available: http://ojs.uma.ac.id/index.php/diversita

F. P. Universitas, A. Dahlan, J. Kapas, and S. Yogyakarta, “PADA REMAJA PENYINTAS GUNUNG MERAPI Fatwa Tentama,” 2014.

F. Kumalasari, S. Pengajar, and F. Psikologi, “Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja Di Panti Asuhan Latifah Nur Ahyani,” 2012.

Y. Yuniana, “Kesejahteraan Subyektif pada Yatim Piatu (Mustadh’afin),” Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan, 2013, [Online]. Available: http://tajarrud.wordpress.com/2010/12/15/anak-yatim-dan-fakir

C. Sinambela, “Hubungan Religiusitas Dan Efikasi Diri Dengan Subjective Well-Being Pada Remaja Di Pusat Pengembangan Anak Martubung Tesis,” 2019.

Albert Bandura, “Self-Efficacy: The Exercise of Control.,” p. 606, 1997.

E. C. Karademas, “Self-efficacy, social support and well-being: The mediating role of optimism,” Pers Individ Dif, vol. 40, no. 6, pp. 1281–1290, Apr. 2006, doi: 10.1016/j.paid.2005.10.019.

R. Pramudita, Hubungan antara Self-Efficacy dengan Subjective Well-Being pada Siswa SMA Negeri 1 Belitang. 2015. Accessed: Jul. 28, 2024. [Online]. Available: http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/30414

H. S. Yusni, Z. Fikry, J. Psikologi, F. Psikologi, D. Kesehatan, and U. N. Padang, “Hubungan Self Efficacy dan Subjective Well Being pada Remaja Yang Berhubungan Jarak Jauh dengan Pasangan,” 2022. doi: DOI: https://doi.org/10.31004/jptam.v6i2.4792.

Ardiansyah, Risnita, and M. S. Jailani, “Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian Ilmiah Pendidikan Pada Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif,” Jurnal IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam, vol. 1, no. 2, pp. 1–9, Jul. 2023, doi: 10.61104/ihsan.v1i2.57.

A. Muhson, “Teknik Analisis Kuantitatif 1 TEKNIK ANALISIS KUANTITATIF *),” 2006.

C. D. Sherbourne and A. L. Stewart, “The MOS social support survey,” Soc Sci Med, vol. 32, no. 6, pp. 705–714, Jan. 1991, doi: 10.1016/0277-9536(91)90150-B.

A. N. T. Maharani, “Hubungan Antara Dukungan Sosial Dan Efikasi Diri Dengan Kesejahteraan Psikologis Remaja Di Panti Asuhan,” 2023. Accessed: Jul. 28, 2024. [Online]. Available: http://repository.radenintan.ac.id/id/eprint/23653

Elisa, “Pengaruh totalitas kerja dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan subjektif pegawai,” 2018. Accessed: Jul. 28, 2024. [Online]. Available: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/44430

WD Prastiti, “Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Kesejahteraan Subjektif Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta,” 2014. Accessed: Aug. 05, 2024. [Online]. Available: http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/31979

S. Sulastri and H. Hartoyo, “Pengaruh Dukungan Sosial dan Strategi Nafkah terhadap Kesejahteraan Subjektif Keluarga Usia Pensiun,” Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, vol. 7, no. 2, pp. 83–92, May 2014, doi: 10.24156/jikk.2014.7.2.83.

L. N. Sardi and Y. Ayriza, “Pengaruh Dukungan Sosial Teman Sebaya terhadap Subjective Well-Being Pada Remaja yang Tinggal di Pondok Pesantren,” Acta Psychologia, vol. 2, no. 1, pp. 41–48, Aug. 2020, doi: 10.21831/ap.v1i1.34116.

Atqia Maula, “Hubungan Efikasi Diri Dengan Kesejahteraan Subjektif Pada Mahasiswa Baru Universitas Syiah Kuala Penerima Kip-K,” 2022. Accessed: Aug. 05, 2024. [Online]. Available: http://repository.ar-raniry.ac.id