Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Peer Support and Self Efficacy Predict Student Engagement

Dukungan Teman Sebaya dan Efikasi Diri Memprediksi Keterlibatan Siswa
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Muhammad hatta (1), Ghozali Rusyid Affandi (2)

(1) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Student engagement represents the quality and quantity of students’ cognitive, behavioral, and emotional involvement in learning processes and is closely associated with academic achievement. Specific Background: Low participation in classroom activities is linked to negative student behaviors and reduced academic and non-academic outcomes, making engagement an important concern in elementary education contexts. Knowledge Gap: Empirical studies examining the combined contribution of peer support and self-efficacy toward engagement among Indonesian elementary school students remain limited, particularly using simultaneous statistical analysis. Aims: This study aimed to examine the role of peer support and self-efficacy in relation to student engagement among students at State Elementary School Suko 2 Sidoarjo. Results: A quantitative correlational design was applied to 195 students selected through stratified random sampling from a population of 590 students. Data collected using peer support, self-efficacy, and student engagement scales were analyzed through multiple linear regression with SPSS version 29. The analysis indicated that peer support and self-efficacy simultaneously showed a significant relationship with student engagement (F=69.734, p=0.001). Partial testing also demonstrated significant relationships for peer support (p<0.001) and self-efficacy (p<0.001). Novelty: The study provides integrated statistical evidence demonstrating the simultaneous contribution of social and psychological variables to learning engagement within an elementary school setting. Implications: The findings highlight the importance of strengthening supportive peer environments and students’ confidence in learning abilities to foster active participation in educational processes.


Highlights:



  • Social Encouragement Among Classmates Is Significantly Associated With Higher Classroom Involvement.

  • Strong Personal Confidence in Learning Abilities Corresponds With Greater Participation in Academic Activities.

  • Combined Psychosocial Variables Show Statistically Significant Relationships Based on Regression Analysis Results.


Keywords: Peer Support, Self-Efficacy, Student Engagement, Elementary Education, Learning Participation

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Sekolah merupakan suatu lembaga yang memanajemen proses kegiatan pembelajaran bagi siswa untuk mencapai suatu tujuan atau harapan yang diinginkan serta berfungsi sebagai salah satu wadah untuk mengasah keterampilan, bakat, sikap, dan membangun kecerdasan siswa dalam menghadapi kehidupan sesungguhnya [1]. Partisipasi aktif seorang siswa di dalam lingkungan kelas atau sekolah memiliki peran yang sangat penting, dengan memperkenalkan dan menerapkan proses pembelajaran yang efektif, hal ini mampu meningkatkan motivasi siswa untuk tercapainya berbagai tujuan pada bidang pendidikan, seperti pengembangan kecerdasan moral, pengendalian diri, spiritualitas atau keagamaan, pembentukan karakter, dan berbagai keahlian yang diperlukan untuk masa depan siswa [2]. Sekolah juga merupakan salah satu lingkungan sosial selain keluarga dan tetangga yang ada dalam mikrosistem atau lingkungan terdekat individu (siswa), hal itu mampu mempengaruhi perkembangan individu. Adanya interaksi secara langsung antara satu siswa dengan siswa lainnya dan siswa dengan guru. Interaksi yang terjadi tersebut mampu memberi pengaruh terhadap perkembangan kognisi, emosi, relasi sosial dan fisik siswa [3]. Fungsi serta tujuan tersebut tidak akan dapat dicapai dengan maksimal apabila siswa merasa tidak nyaman dengan interaksi yang berlangsung antara siswa atau guru maupun dengan lingkungan sekolah, sebuah perasaan nyaman akan membuat siswa merasa aman dan gembira sehingga mampu memunculkan keterlibatan siswa ketika menjalani kegiatan pembelajaran di dalam lingkungan sekolah. Keterlibatan seorang siswa memiliki definisi yaitu keterlibatan terhadap kegiatan-kegiatan yang terdapat di dalam lingkungan sekolah. Seperti keterlibatan terhadap proses pembelajaran yang tidak semata-mata tercermin pada kegiatan akademik, namun juga pada berbagai kegiatan non akademik seperti ekstrakurikuler, hal ini bisa diamati melalui perilaku, respons emosional, dan proses kognitif yang ditampilkan oleh siswa ketika berada di lingkungan sekolah [4]. Hal tersebut dapat ditandai dengan adanya minat, investasi, perhatian, dan usaha seorang siswa yang diberikan ketika proses pembelajaran di sekolah [5]. Keterlibatan yang tinggi dapat membantu mencegah siswa dari terjerumus ke dalam perilaku delinkuensi remaja atau kenakalan remaja, karena mereka lebih dapat mematuhi aturan, mengembangkan harga diri yang positif, dan mengambil keputusan yang lebih baik secara keseluruhan [6]. Hasil penelitian Poskitt dan Gibbs (2010) menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah mengalami penurunan yang dimulai pada saat perpindahan dari jenjang sekolah dasar (SD) kemudian ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP) hingga jenjang sekolah menengah atas (SMA). Keterlibatan siswa yang rendah dapat terlihat dari perilaku negatif yang ditampilkan siswa seperti membolos, di skorsing dari sekolah hingga dikeluarkan secara paksa dari sekolah, kasus tersebut mengalami peningkatan pada kelas XI [7]. Seperti pada penelitian [8] diperoleh hasil bahwa kurangnya keterlibatan siswa dalam belajar pada sekolah dasar (SD), hanya 48% siswa dari 261 siswa sekolah dasar X di kota Bandung yang terlibat dalam pembelajaran.

Engagement menggambarkan seseorang dapat terlibat dalam momen pada suatu aktivitas atau pengaturan kontekstual dengan sepenuh hati, mengikat diri secara sukarela, dan sering mengambil risiko pada suatu hubungan dengan orang lain, sekelompok, ataupun suatu tujuan, visi yang bermakna bagi diri individu [9]. Definisi student engagement mencakup kualitas dan kuantitas dalam sejumlah komponen psikologi pelajar seperti perilaku, emosi dan juga kognisi di dalam suatu proses belajar, aktivitas akademik serta hubungan sosial di sekolah untuk dapat tercapainya hasil akademik yang baik [10]. Trowler (2010) bahwasanya keterlibatan siswa atau student engagement merupakan keikutsertaan seorang siswa secara afeksi maupun kognisi saat melakukan kegiatan belajar di kelas atau lingkungan sekolah dengan tujuan untuk mencapai hasil belajar yang baik bagi siswa. Secara garis besar meskipun seorang siswa sudah sukses memenuhi standar di kelas, akan tetapi jika tanpa disertai adanya student engagement maka dapat menimbulkan sebuah masalah [11]. Student engagement melibatkan tiga dimensi, yaitu behavioral engagement yang mencakup perilaku siswa di sekolah yang dapat dideskripsikan ke dalam tiga cara berbeda. Pertama yaitu keterlibatan siswa dalam perilaku positif. Kedua yaitu berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik yang meliputi tindakan seperti usaha, ketekunan, konsentrasi, perhatian, bertanya, dan berpartisipasi dalam diskusi kelas. Ketiga yaitu melibatkan partisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan sekolah seperti partisipasi dalam kegiatan non akademik atau ekstrakurikuler dan manajemen kelas atau sekolah. Emotional engagement merujuk pada minat, nilai, dan respon emosional terhadap sekolah dan guru. Beberapa individu menggambarkannya sebagai identifikasi dengan sekolah yang dapat memunculkan perasaan menjadi penting dan berharga bagi sekolah. Hal ini mengevaluasi perasaan siswa terhadap sekolah dan meliputi pertanyaan tentang apakah siswa menyukai atau tidak menyukai sekolah, guru, dan mata pelajaran, kemudian pertanyaan tentang apakah siswa merasa senang atau sedih ketika berada di dalam lingkungan sekolah dan merasa bosan atau tertarik pada kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah. Cognitive engagement yang mencakup motivasi, usaha, dan strategi belajar. Seperti, konseptualisasi tentang keterlibatan kognitif mencakup fleksibilitas dalam pemecahan masalah, preferensi untuk usaha yang tekun, dan kemampuan untuk mengatasi kegagalan secara positif. Dengan menggunakan strategi-strategi pembelajaran seperti berlatih, siswa memiliki kesempatan untuk terus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Merangkum materi dapat membantu siswa untuk menyusun informasi secara terstruktur, untuk lebih mudah memahami dan mengingatnya. Kemudian elaborasi memungkinkan siswa untuk membuat hubungan yang mendalam antara konsep-konsep yang dipelajari, dapat membantu mereka memahami konteks yang luas dan mengintegrasikan informasi baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada[12].

Tabel 1. Ilustrasi Student Engagement

Positive engagement ialah keterlibatan siswa yang memberikan dampak positif pada proses pembelajaran, sehingga dapat mendukung hasil belajar dan prestasi mereka, sebaliknya negative engagement ialah keterlibatan siswa yang memberikan dampak negatif pada proses pembelajaran yang dapat menurunkan minat belajar dan mempengaruhi hasil belajar. Positive engagement dan negative engagement masing-masing mewakili bentuk keterlibatan yang berada di antara kondisi non engagement misalnya, seperti penarikan diri, atau sikap apatis [13]. Terdapat faktor yang mempengaruhi student engagement yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dapat mempengaruhi student engagement meliputi beberapa kebutuhan individual, seperti kebutuhan akan otonom, kebutuhan untuk merasa kompeten, dan kebutuhan akan keterhubungan dengan orang lain. Sementara itu, faktor eksternal yang mempengaruhi student engagement meliputi faktor lingkungan, salah satunya dari lingkungan sekolah seperti kualitas sekolah dan sistem pendidikan yang diterapkan dapat memperkuat kemampuan siswa dengan melalui kesempatan yang diberikan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan yang ada di sekolah. Selain itu, di dalam lingkup kelas, dukungan yang diperoleh dari guru, teman sebaya, serta jenis tugas yang akan diberikan, juga berperan dalam mempengaruhi tingkat student engagement [14]. Keterlibatan yang rendah akan menyebabkan siswa tidak bersungguh-sungguh atau kurang berminat pada pembelajaran di kelas, misalnya, kurang berusaha dalam belajar atau untuk meningkatkan prestasi akademiknya dan tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas, sedangkan keterlibatan yang tinggi mampu membuat siswa terhindar dari delinkuensi remaja, mengurangi angka putus sekolah, dan berperan positif dalam prestasi belajar siswa tersebut [4].

Untuk mengungkap fenomena mengenai student engagement, peneliti melakukan penyebaran kuesioner pada siswa SDN Suko 2 Sidoarjo dengan partisipan sebesar 30 siswa yang terdiri dari kelas V dan VI. Data awal menunjukkan hasil sebanyak 16 siswa dengan tingkat student engagement rendah, sebanyak 6 siswa dengan tingkat student engagement yang sedang, dan sebanyak 8 siswa dengan tingkat student engagement tinggi. Dari observasi yang telah dilakukan menunjukkan adanya beberapa perilaku yang menandakan student engagement yang rendah yaitu, seperti terdapat banyak siswa yang sulit berkonsentrasi, tidak memperhatikan materi atau buku yang sedang dibahas, siswa mengobrol dengan temannya ketika guru sedang memberikan materi, ketika guru tidak berada di kelas siswa menjadi gaduh hingga ada beberapa siswa keluar kelas untuk pergi ke kantin atau hanya sekedar untuk berjalan-jalan. Dapat dilihat pada tabel 1, perilaku yang muncul tersebut termasuk kedalam non engagement seperti sulit berkonsentrasi karena merasa bosan dan negative engagement seperti membuat gaduh di kelas, mengobrol dengan teman, dan tidak memperhatikan buku yang sedang dibahas atau guru yang sedang menjelaskan materi. Perilaku siswa yang mencerminkan keterlibatan rendah meliputi, mengobrol ketika guru sedang mengajar, melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar, tidur ketika kegiatan belajar sedang berjalan, terlambat datang ke sekolah atau saat akan masuk ke kelas, dan membolos [15].

Dari berbagai faktor yang mempengaruhi student engagement salah satu faktor eksternalnya ialah relational learning atau hubungan yang terjalin antar siswa. Relational learning ialah hubungan saling mendukung yang berkembang antara siswa dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, dukungan yang diberikan oleh sesama siswa disebut sebagai peer support [16]. Peer support memiliki lima aspek, yaitu dukungan emosional (emotional support), dukungan penghargaan (esteem support), dukungan instrumental (instrumental support), dukungan informasi (information support), dukungan kelompok (companionship support) [17]. Peer support memiliki peran yang penting di dalam kehidupan remaja, terutama di lingkup lingkungan sekolah. Munculnya perasaan ketika diterima oleh teman sebaya, perhatian yang diberikan, dan dukungan yang didapat mampu meningkatkan kepercayaan diri remaja sehingga membuatnya lebih menyukai dan bersemangat terhadap proses belajar di sekolah [18]. Ketika siswa menyukai sekolah dan sebagian besar aktivitas di dalamnya, kemungkinan besar prestasi akademik siswa akan terpengaruh secara positif. Hal ini karena motivasi intrinsik yang tinggi dan kepuasan terhadap lingkungan belajar yang dapat meningkatkan student engagement dalam proses belajar, sehingga mempengaruhi prestasi akademik sebaliknya, kurangnya peer support berdampak negatif terhadap prestasi akademik siswa dan hubungan sosial mereka dengan teman-teman di sekolah karena siswa merasa kurang termotivasi, tidak percaya diri, dan dapat merasa terisolasi, sehingga hal tersebut mengganggu fokus dan kinerja akademik mereka, serta mempengaruhi interaksi sosialnya di lingkungan sekolah [19]. Peer support atau dukungan sosial dari teman sebaya berhubungan dengan tingginya student engagement di sekolah [20]. Penelitian Wang & Eccles [21] menyatakan seorang siswa akan lebih berpartisipasi secara kognisi dan afeksi ketika berada di sekolah, jika siswa tersebut mempunyai hubungan yang positif antara teman sebaya. Sejalan dengan penelitian [22] yang menyatakan peer support berpengaruh terhadap student engagement pada proses pembelajaran. Ikatan persahabatan yang positif atau lebih dekat akan menjadikan siswa merasa lebih aman dan nyaman dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah dan mampu berpartisipasi secara aktif saat proses pembelajaran. Proses interaksi dengan teman sebaya juga mampu mempengaruhi, merubah, dan memperbaiki perilaku siswa lainnya [23].

Student engagement dapat dipengaruhi dari beberapa faktor, seperti faktor individu ( internal) dan lingkungan (eksternal). Salah satu faktor internal tersebut ialah self-efficacy. Self-efficacy adalah kondisi yang terkait dengan keyakinan pada diri individu terhadap kemampuan mereka. Setiap individu memiliki tingkat kemampuan atau potensi yang berbeda, termasuk kemampuan untuk menggerakkan motivasi ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran [24]. Bandura menjelaskan self-efficacy adalah persepsi individu terhadap kemampuan dan kompetensi mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Individu dengan tingkat self-efficacy yang tinggi cenderung memiliki pemahaman yang baik tentang kemampuan dan kompetensi yang dimiliki, sehingga memungkinkan individu untuk dapat menentukan tujuan hidup atau cita-cita yang ingin dicapai dengan melakukan tindakan yang mendukung pencapaian tujuan tersebut [25]. Self-efficacy memiliki tiga aspek yaitu pertama, efikasi diri sosial (social self-efficacy), kemampuan untuk menjalin hubungan dengan teman sebaya. Kedua, efikasi diri akademik (academic self-efficacy) kemampuan kognitif untuk memproses perilaku belajar, memahami materi, dan mencapai tujuan akademik. Ketiga, efikasi diri emosional (emotional self-efficacy) kemampuan untuk mengatasi emosi negatif [26]. Siswa dengan tingkat self-efficacy yang tinggi cenderung percaya diri terhadap kemampuan dan kompetensi yang dimiliki, sehingga mereka merasa mampu menyelesaikan tugas dan mengatasi berbagai masalah atau tantangan, terlepas dari kondisi yang dihadapi. Sebaliknya, siswa dengan tingkat self-efficacy rendah cenderung meragukan kemampuan yang dimiliki sehingga menghindari tugas-tugas yang sulit atau menantang. Hal ini dapat menghambat kemampuan siswa untuk menyelesaikan tugasnya dengan efektif [27]. Terdapat beberapa alasan yang mendasari siswa menjadi kurang berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, seperti kurang memahami materi, kurang rasa semangat, dan kurang percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki. Hal tersebut yang kemudian menyebabkan siswa tidak mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan [28]

Hasil penelitian [18] dengan sampel sebesar 328 siswa SMA kelas X dari empat SMA yang berbeda menunjukkan bahwa subjective well-being, peer support, dan self-efficacy berpengaruh signifikan terhadap student engagement pada siswa kelas x. diketahui variabel independen yang paling berkontribusi dalam mempengaruhi student engagement ialah variabel self-efficacy, kemudian disusul variabel peer support, dan yang terakhir ialah variabel subjective well-being. Hasil penelitian [29] dengan sampel siswa SMA sebesar 204 siswa, menyatakan bahwa untuk menumbuhkan keterlibatan siswa dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran, peer support mampu menjadi salah satu faktor yang dapat membangun kondisi yang menyenangkan, efektif, dan kondusif. Hasil penelitian [30] dengan sampel sebesar 156 siswa MTs, menggunakan metode statistik regresi yang dilakukan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel self-efficacy terhadap variabel student engagement dengan kontribusi variabel sebesar 34,2%. Hasil penelitian [31] dengan sampel siswa SMP sebesar 186 siswa menunjukkan bahwa Ada hubungan positif dan signifikan antara self efficacy dan student engagement dengan kontribusi pengaruh sebesar 29,1%. Hasil penelitian [32] dengan sampel sebanyak 161 siswa kelas 5 SD Gugus 1 RA. Kartini memberikan hasil bahwa efikasi akademik (X1) dan motivasi belajar (X2) secara simultan mempengaruhi 32% student engagement (Y) dengan 68% faktor lain.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, dapat diperhatikan bahwasanya masih terbatasnya penelitian terkait dengan peer support dan self-efficacy terhadap student engagement pada tingkatan yang berbeda yaitu siswa sekolah dasar serta dari data awal yang telah diperoleh peneliti. Maka, hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian terkait untuk mengetahui bagaimana peranan peer support dan self-efficacy terhadap student engagement pada siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Suko 2 Sidoarjo. Kontribusi penelitian ini ialah untuk memperkaya referensi serta menjadi bahan masukan bagi pengembangan lebih lanjut khususnya di bidang psikologi pendidikan. Selain itu juga membantu memperluas pengetahuan dan menyempurnakan hasil penelitian yang sudah ada sehingga dapat dijadikan bahan perbandingan dan referensi untuk berbagai penelitian selanjutnya.

H1 : Terdapat pengaruh peer support terhadap student engagement.

H2 : Terdapat pengaruh self-efficacy terhadap student engagement.

H3 : Peer support dan self-efficacy, secara bersama-sama mempengaruhi tingkat student engagement.

Metode

Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen dan variabel dependen. Populasi yang digunakan pada penelitian kali ini ialah seluruh siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Suko 2 Sidoarjo yang berjumlah 590 siswa. Jumlah sampel penelitian ini diambil berdasarkan dari tabel Isaac dan Michael yang meliputi 195 siswa dari kelas V dan kelas VI terdiri dari 102 perempuan dan 93 laki-laki yang akan menjadi sampel, rentang usia dari 10-13 tahun. Data sampel pada tabel 2. Adapun alasan memilih siswa kelas V dan VI SDN Suko 2 Sidoarjo menjadi sampel penelitian ialah karena ketidak terlibatan siswa dalam pembelajaran mulai terlihat dari kelas VI sekolah dasar hingga jenjang sekolah menengah pertama dan akan secara konsisten menunjukkan keterlibatan yang rendah pada jenjang sekolah menengah atas [33].

Tabel 2. Data Sampel Penelitian

Teknik pengumpulan sampel pada penelitian ini menggunakan Stratified Random Sampling, yaitu sampel yang diambil berdasarkan tingkatan pada populasi. Teknik pengumpulan data menggunakan skala psikologi dengan model likert. Alat ukur pada penelitian ini menggunakan skala yang telah disusun sesuai dengan variabel yaitu peer support, self-efficacy dan student engagement. Metode yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan jawaban dari responden ialah melalui penyebaran skala pada setiap kelas V dan VI yang ada di Sekolah Dasar Negeri Suko 2 Sidoarjo. Sebelum menyebarkan skala kuesioner untuk pengambilan data, peneliti terlebih dahulu melakukan uji coba (try out) terhadap skala peer support, skala self-efficacy dan skala student engagement yang diberikan kepada 63 siswa.

Skala peer support mengadopsi skala yang dikembangkan oleh [34] berdasarkan konsep dari Sarafino dan Smith (2011). Alat ukur terdiri dari lima aspek yaitu: (1) dukungan emosional; (2) dukungan penghargaan; (3) dukungan instrumental; (4) dukungan informasi; dan (5) dukungan jaringan sosial. Alat ukur terdiri dari 33 butir dengan empat pilihan jawaban yaitu “STS (Sangat Tidak Sesuai)”, “TS (Tidak Sesuai)”, “S (Sesuai)”, “SS (Sangat Sesuai)”. Setelah melalui proses uji validitas (menggunakan uji coba), terdapat sebanyak 6 aitem dengan Corrected Item Total Correction < 0,30 yang dieliminasi, sehingga jumlah akhir yang digunakan dalam penelitian ialah sebanyak 27 aitem. Dengan rincian 18 pernyataan bersifat favorable serta 9 pernyataan bersifat unfavorable. Melalui uji reliabilitas didapatkan nilai dari 27 aitem valid tersebut menunjukkan indeks daya beda bergerak dari 0,320 sampai 0,697. Diperoleh nilai Cronbach’s alpha peer support sebesar 0,895. Contoh butir pada skala peer support ialah “Teman saya mau membantu menyelesaikan masalah ketika saya sedang kesulitan”.

Skala self-efficacy mengadopsi skala Self-Efficacy Questionnaire for Children (SEQ-C) dari Muris yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh [26]. Alat ukur terdiri dari tiga aspek yaitu: (1) social self-efficacy; (2) academic self-efficacy; (3) emotional self-efficacy;. Alat ukur terdiri dari 24 butir dengan lima pilihan jawaban yaitu “1 (Tidak Sama Sekali)”, “2 (Sedikit)”, “3 (Cukup)”, “4 (Baik)”, dan “5 (Sangat Baik). Setelah melalui proses uji validitas (menggunakan uji coba), terdapat 2 aitem dengan nilai Corrected Item Total Correction < 0,30 yang dieliminasi, sehingga jumlah akhir yang digunakan dalam penelitian sebanyak 22 aitem. Dengan rincian 22 pertanyaan bersifat favorable. Melalui uji reliabilitas didapatkan nilai dari 22 butir aitem valid tersebut menunjukkan indeks daya beda bergerak dari 0,356 sampai 0,664. Diperoleh nilai Cronbach’s alpha self-efficacy sebesar 0,894. Contoh aitem pada skala SEQ-C ialah “Seberapa baik kamu dapat mempertahankan konsentrasimu selama di kelas?”.

Skala student engagement mengadopsi skala yang dikembangkan oleh [35] berdasarkan konsep dari Fredricks (2004). Alat ukur terdiri dari tiga dimensi yaitu: (1) behavioral engagement; (2) emotional engagement; (3) cognitive engagement;. Alat ukur terdiri dari 25 butir dengan lima pilihan jawaban yaitu “STS (Sangat Tidak Setuju)”, “TS (Tidak Setuju)”, “N (Netral)”, “S (Setuju)”, “SS (Sangat Setuju)”. Setelah melalui proses uji validitas (menggunakan uji coba), terdapat sebanyak 5 aitem dengan nilai Corrected Item Total Correction < 0,25 yang dieliminasi, sehingga jumlah akhir yang digunakan dalam penelitian sebanyak 20 aitem. Dengan rincian 8 pernyataan bersifat favorable serta 12 pernyataan bersifat unfavorable. Melalui uji reliabilitas didapatkan nilai dari 20 aitem valid tersebut menunjukkan indeks daya beda bergerak dari 0,282 sampai 0,609. Diperoleh nilai Cronbach’s alpha student engagement sebesar 0,852. Contoh aitem pada skala student engagement ialah “Saya bersemangat mengikuti materi apapun yang diberikan di kelas”.

Analisis data dilakukan menggunakan metode statistik regresi linier berganda untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan yaitu melihat pengaruh antara dua variabel independen (peer support dan self-efficacy) terhadap variabel dependen (student engagement). Sebelum melakukan uji regresi linier berganda, peneliti telah melakukan uji asumsi yang diperlukan sebagai syarat terlaksananya analisis regresi linier berganda. Uji asumsi yang dilakukan meliputi uji normalitas, uji linearitas, uji autokorelasi, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas. Analisis data dilakukan dengan bantuan aplikasi statistik SPSS version 29 for windows. Dengan demikian peneliti telah memastikan bahwa data telah memenuhi syarat asumsi untuk menerapkan analisis regresi linear berganda, dan kemudian melakukan interpretasi dari hasil analisis dengan menggunakan output yang diperoleh dari aplikasi statistik tersebut

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Berdasarkan hasil uji normalitas dengan menggunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov Test (K-S) melalui SPSS version 29 for windows, diperoleh nilai Asymp Sig. sebesar 0,209 (p>0,05), hal ini menunjukkan bahwa residual yang dihasilkan memenuhi asumsi normalitas. Normalitas dalam uji regresi berganda dapat dilihat melalui grafik normalitas pada gambar 1 dan gambar 2, yang membentuk pola mirip dengan garis diagonal karena sebaran data dari satu variabel independen terhadap variabel dependen yang mendekati garis diagonal sehingga terbentuklah pola mirip dengan garis diagonal. Hasil dari uji normalitas berdasarkan grafik menunjukkan bahwa data cenderung mengikuti pola yang mendekati garis diagonal. Dapat diartikan bahwa asumsi normalitas terpenuhi. Selanjutnya, hasil uji linieritas menunjukkan hubungan antara variabel student engagement dengan peer support dengan nilai sig. pada Deviation From Linearity sebesar 0,533 (p>0,05) yang berarti hubungan antara kedua variabel dapat dikatakan linier, dan hubungan antara variabel student engagement dengan self efficacy diperoleh nilai sig. pada Deviation From Linearity sebesar 0,948 (p> 0,05) yang berarti hubungan antara kedua variabel dapat dikatakan linear. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara kedua pasang variabel tersebut dikatakan linier, sehingga asumsi linieritas terpenuhi.

Gambar 1. Grafik Normalitas Student Engagement dengan Peer Support

Gambar 2. Grafik Normalitas Student Engagement dengan Self-Efficacy

Berdasarkan hasil uji autokorelasi diperoleh nilai koefisien Durbin-Watson (d) sebesar 1,885 dengan nilai dL 1,748 kemudian nilai dU sebesar 1,789 dan nilai 4-dU sebesar 2,211. Dengan demikian, karena nilai dU < d < 4-dU (1,789 < 1,885 < 2,211), dapat disimpulkan bahwa tidak ada permasalahan autokorelasi. Selanjutnya, dalam uji multikolinearitas dengan Collinearity Statistics diketahui nilai tolerance untuk variabel peer support dan self-efficacy ialah 0,880 (>0,10), sedangkan nilai VIF sebesar 1,137 (<10,00). Dapat disimpulkan dari nilai Variance Inflation Factor (VIF) untuk kedua variabel independen <10,00 dan nilai tolerance >0,10, menunjukkan tidak terjadi permasalahan multikolinearitas pada penelitian ini. Terakhir, pada uji heteroskedastisitas menunjukkan nilai sig. untuk variabel peer support ialah sebesar 0,241 dan variabel self-efficacy ialah sebesar 0,683 (sig. >0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua variabel tidak ada masalah heteroskedastisitas.

Tabel 3. Uji Hipotesis Menggunakan Uji F Simultan

Uji t parsial dilakukan untuk menguji H1 dan H2 pada variabel, sementara uji F simultan dilakukan untuk menguji H3 pada variabel. Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan uji F simultan pada tabel 3, diperoleh nilai Sig. <0,001 (p<0,05) menunjukkan bahwa H3 dapat diterima. hal ini dapat dikatakan bahwa secara simultan variabel peer support dan self-efficacy memiliki pengaruh yang signifikan terhadap student engagement. Dengan demikian, mengindikasikan kedua variabel tersebut mampu mempengaruhi tingkat student engagement.

Tabel 4. Uji Hipotesis Menggunakan Uji t Parsial

Berdasarkan hasil uji t pada tabel 4 menunjukkan bahwa H1 diterima antara peer support dan student engagement dengan nilai sig. sebesar <0,001 (sig.<0,05). Demikian juga, H2 diterima antara self-efficacy dan student engagement dengan nilai sig. <0,001 (sig.<0,05). Selanjutnya ialah nilai thitung. Dengan jumlah responden sebesar 195 orang dan nilai signifikan yang ditetapkan sebesar 0,05, maka diperoleh nilai ttabel ialah sebesar 1,97. Variabel dikatakan berpengaruh signifikan jika nilai thitung > ttabel. Dari hasil analisa didapatkan nilai thitung dari setiap variabel yaitu yang pertama peer support dengan nilai thitung = 8,26 > 1,97 dan self-efficacy dengan nilai thitung = 5,05 > 1,97. Maka kedua variabel independen memiliki nilai thitung > ttabel sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua variabel independen tersebut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

Nilai konstanta diperoleh hasil positif sebesar 17,779. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengaruh yang searah antara variabel peer support dan self-efficacy terhadap variabel student engagement. Dapat disimpulkan jika semua variabel independen bernilai 0% atau tidak mengalami perubahan, maka nilai variabel dependen tersebut ialah 17,779.

Tabel 5. Nilai Koefisien Determinasi

Hasil koefisien determinasi pada tabel 5 dapat dilihat pada nilai R yang diperoleh sebesar 0,649. Hal ini menunjukkan bahwa peer support, self-efficacy memiliki tingkat hubungan yang moderat terhadap student engagement. Nilai Adjusted R Square diperoleh sebesar 0,415 (41,5%) seperti pada tabel 4. Besaran nilai tersebut menjelaskan besaran pengaruh variabel peer support dan self-efficacy terhadap variabel student engagement yaitu sebesar 41,5%, sedangkan 58,5% dipengaruhi oleh faktor dari variabel lainnya yang tidak dibahas pada penelitian ini.

Tabel 6. Uji Korelasi

Untuk memperkuat data yang telah diperoleh, dilakukan uji korelasi menggunakan korelasi Product Moment Pearson untuk mengetahui kontribusi korelasi antar variabel pada tabel 6. Diperoleh hasil bahwa antara variabel peer support dan student engagement terdapat korelasi yang signifikan dengan nilai r=0,586 dan nilai p=<0,001 (p>0,05). Sedangkan antara variabel self-efficacy dan student engagement terdapat korelasi yang signifikan dengan nilai r=0,464 dan nilai p=<0,001 (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kedua variabel independen dengan variabel dependen.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode regresi linier berganda yang telah dilakukan untuk mengetahui peranan dari variabel peer support dan self-efficacy terhadap student engagement, menunjukkan bahwa peer support dan self-efficacy secara signifikan dapat mempengaruhi student engagement. Hasil koefisien determinasi menunjukkan bahwa besar pengaruh dari peer support dan self-efficacy terhadap student engagement sebesar 41,5%, sementara 58,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor dari variabel lain yang tidak terdapat pada penelitian ini. Kemudian berdasarkan dari hasil uji korelasi dengan menggunakan analisis korelasi product moment pearson menunjukkan bahwa peer support memiliki korelasi yang positif dan signifikan terhadap student engagement dibuktikan dengan nilai korelasi sebesar <0,001 (p>0,05) dan nilai koefisien sebesar 0,586, hal ini menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kedua variabel. Demikian pula, dengan self-efficacy memiliki korelasi yang positif dan signifikan terhadap student engagement, dibuktikan dengan nilai korelasi sebesar <0,001 (p>0,05) dan nilai koefisien sebesar 0,464, hal ini menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara keduanya. Kemudian, berdasarkan hasil uji analisis uji F simultan menunjukkan nilai sebesar Sig. <0,001 (Sig. <0,05) dapat diartikan bahwa kedua variabel antara peer support dan self-efficacy secara bersama-sama mampu secara signifikan memprediksi tingkat student engagement pada siswa sekolah dasar.

Berdasarkan hasil analisis uji hipotesis H1 menggunakan uji t parsial menunjukkan bahwa hipotesis pertama diterima antara variabel peer support dengan student engagement, dibuktikan dengan nilai sig. sebesar <0,001 yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara variabel tersebut. Peer support memberikan kontribusi pengaruh terbesar dengan nilai 0,586 terhadap student engagement. Didukung dengan hasil korelasi sebesar <0,001 (p>0,05) bahwa variabel peer support memiliki korelasi yang positif dan signifikan terhadap student engagement. Semakin tinggi peer support yang diperoleh seorang siswa, menjadikan siswa tersebut akan lebih melibatkan diri dengan kegiatan-kegiatan di sekolah (student engagement meningkat) [21]. Sejalan dengan faktor dari student engagement salah satunya faktor eksternal yaitu social support yang diberikan oleh individu untuk teman sebayanya atau dikenal dengan istilah peer support. Peer support adalah rasa empati mendalam yang menyebabkan terbentuknya hubungan pertemanan atau persahabatan antara siswa, yang ditandai dengan saling memahami satu sama lain, saling memberikan nasihat, dan saling bersimpati satu sama lain, seringkali hal ini tidak didapatkan dari orang tua. Siswa memberikan dukungan kepada rekan-rekannya dengan memperhatikan dan memenuhi kebutuhan dasar serta perkembangan siswa itu sendiri, terutama dalam konteks hubungan sosial dan penerimaan di lingkungan sekolah [36].

Dengan dukungan yang didapatkan dari teman sebaya (peer support), siswa akan memperoleh informasi mengenai materi pembelajaran yang telah diajarkan, siswa yang mempunyai komunitas bersama (kelompok) dapat bertukar informasi atau memecahkan masalah tentang materi pembelajaran yang telah diajarkan secara bersama-sama, dan siswa merasa lebih nyaman dengan adanya individu yang seusianya karena dapat memberikan masukan ketika mengalami permasalahan sehubungan dengan materi pembelajaran tersebut, hal tersebut berdampak signifikan terhadap prestasi siswa [37]. Dukungan informasi yang didapat dari teman sebaya , seperti masukan ketika menyelesaikan permasalahan maupun kesulitan dalam belajar mampu membantu siswa menumbuhkan keinginan untuk mengembangkan kemampuannya (need for competency), hal ini merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi student engagement [38]. Dukungan dari teman sebaya memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan prestasi. Teman sebaya yang memiliki aktivitas atau kegiatan bersama, memiliki komunikasi yang baik, dan menyelesaikan tugas secara bersama akan meningkatkan rasa percaya diri siswa dan membuat semangat karena tidak merasa sendirian. Dukungan-dukungan nyata seperti meminjamkan alat tulis, berbagi keluh kesah, keterbukaan dan saling mendukung akan menambah effort siswa dalam memperoleh ilmu, bersemangat mengerjakan tugas, dan pantang menyerah [39]. Sebuah pertemanan yang berkualitas dan positif akan membuat siswa menjadi lebih giat dan aktif ketika mengikuti rangkaian kegiatan yang ada di sekolah [40]. Penelitian yang dilakukan Demanet dan Van Houtte (2012) dengan melibatkan 11.872 siswa dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama dengan rentang usia dari 7-17 tahun dari 85 sekolah yang ada di Flemish. Diketahui bahwa ketika siswa dipengaruhi secara negatif oleh teman-temannya, siswa tersebut dapat menjadi tidak tertarik terhadap kehidupan akademik dan tidak memiliki keterlibatan dengan sekolahnya [18]. Hasil penelitian [41] dengan jumlah sampel sebesar 160 mahasiswa menggunakan korelasi pearson antara dukungan teman sebaya dengan students engagement didapatkan nilai r sebesar 0,247 dan nilai p sebesar 0,02 (p<0,01). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara dukungan teman sebaya dengan student engagement. Hasil penelitian [42] dengan jumlah sampel sebesar 160 siswa SMP yang menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada dimensi academic peer support terhadap school engagement (F = 11.500, R2 = 22,9%; p < 0,05),

Berdasarkan hasil analisis uji hipotesis H2 menggunakan uji t parsial menunjukkan bahwa hipotesis kedua diterima antara variabel self-efficacy dengan student engagement, dibuktikan pada nilai sig. sebesar <0,001 yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara variabel tersebut. Self-efficacy memberikan kontribusi pengaruh sebesar 0,464 terhadap student engagement. Didukung dengan hasil korelasi sebesar <0,001 (p>0,05) bahwa variabel self-efficacy dengan student engagement memiliki korelasi yang positif dan signifikan. Semakin tinggi student engagement maka semakin tinggi juga self-efficacy siswa, dengan demikian menjadikan siswa dapat lebih berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan sekolah di bidang akademik maupun non akademik serta prestasi belajar yang meningkat [11]. Pernyataan tersebut sejalan dengan Bandura (1997) yang menyatakan setiap individu dengan tingkat self-efficacy tinggi cenderung mampu melawan dan mengatasi kecemasan atau ketakutan yang sedang dirasakan, dikarenakan individu tersebut mampu mengendalikan situasi yang membuatnya cemas atau takut, sehingga dapat mengurangi dampak tidak menyenangkan dari situasi tersebut.

Self-efficacy ialah sebuah keyakinan internal individu terhadap kemampuannya dalam melakukan atau menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan. Siswa yang memiliki self-efficacy tinggi akan berpengaruh positif terhadap pencapaiannya di dalam proses pembelajaran [43]. Self-efficacy bisa mempengaruhi pilihan aktivitas, usaha yang diberikan dalam menjalankan aktivitas, kegigihan ketika menghadapi masalah atau kesulitan, minat, dan prestasi siswa. Ketika siswa percaya pada kemampuan mereka, maka mereka akan mampu untuk mengatur dan melaksanakan tahapan-tahapan untuk mencapai suatu tujuan serta lebih berkomitmen untuk mempertahankan usaha dalam situasi yang sulit dengan mencoba membangun lingkungan belajar yang efektif guna meminimalisir gangguan sehingga dapat menemukan teman belajar yang tepat dan tempat belajar yang kondusif [44]. Sebaliknya, siswa dengan self-efficacy yang rendah akan cenderung menghindar ketika menghadapi tugas maupun mata pelajaran yang dianggap sulit, misalnya menghindar dengan perilaku bermain ponsel ketika pelajaran berlangsung dan mencontek hasil pekerjaan temannya [45]. Penelitian Azila-Gbettor & Abiemo (2020) menyatakan efikasi diri dapat membangun keterlibatan perilaku dan keterlibatan emosional, walaupun aspek personal self-efficacy berpengaruh terhadap keterlibatan siswa dalam belajar, namun aspek persepsi mengenai tingkat kesulitan tugas (level) merupakan aspek yang paling besar pengaruhnya terhadap keterlibatan siswa dalam belajar [46]. Hal ini dikarenakan persepsi siswa terhadap tugas maupun mata pelajaran sangat mempengaruhi perilakunya selama proses pembelajaran berjalan. Siswa akan melakukan tugas-tugas yang mereka anggap mampu dilakukan dan mereka akan cenderung menghindar dari situasi di luar kemampuan mereka. Tingkat ketekunan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran ialah karena hasil dari tingginya efikasi diri yang dimiliki. Salah satu ciri-ciri keterlibatan emosional dan keterlibatan kognitif siswa yaitu mempunyai minat dan tujuan meskipun akan menghadapi berbagai masalah ketika akan mencapainya. Hasil penelitian [31] dengan jumlah sampel sebesar 184 siswa SMP menunjukkan hasil nilai sebesar koefisien (rxy) = 0,512 dengan p = 0,000 < 0,050, dapat disimpulkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara self efficacy dengan student engagement, serta partisipasi variabel sebesar 29,1%.. Hasil penelitian [47] sampel sebesar 84 siswa SMA menunjukkan hasil analisis nilai korelasi pearson antara self-efficacy dan student engagement sebesar 0,947, hal ini mengindikasikan adanya hubungan positif dengan koefisien korelasi yang sangat kuat antara variabel self-efficacy dan student engagement.

Pada penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu pertama, penelitian hanya dilakukan pada satu lokasi (sekolah) sehingga kurang dapat menggambarkan hasil antar variabel dengan lingkup wilayah dan cakupan subjek yang lebih luas. Kedua, penelitian ini menggunakan survey self report yang memiliki beberapa kekurangan, diantaranya: kemungkinan responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga tidak mencerminkan kondisi yang akurat tentang responden, Selain itu, variasi dari variabel independen yang digunakan untuk memahami variabel dependen masih terbatas, oleh sebab itu, perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan penggunaan variabel lain yang lebih beragam dan mampu mempengaruhi student engagement dalam proses pembelajaran.

Simpulan

Kesimpulan hasil penelitian ini mengenai peranan peer support dan self-efficacy terhadap student engagement pada siswa kelas V dan VI di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Suko 2 Sidoarjo, menunjukkan bahwa peer support dan self-efficacy dapat mempengaruhi secara signifikan terhadap student engagement pada siswa kelas V dan VI. Dari kedua variabel independen dengan pengaruh terbesar terhadap student engagement ialah peer support, kemudian disusul dengan variabel self-efficacy. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa dukungan sosial teman sebaya atau peer support memberikan pengaruh terbesar terhadap tingkat student engagement siswa. Munculnya perasaan ketika diterima oleh teman sebaya, perhatian yang diberikan, dan dukungan yang didapat mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa sehingga membuatnya lebih menyukai dan bersemangat terhadap proses belajar di sekolah, sehingga motivasi intrinsik dan kepuasan terhadap lingkungan belajar akan meningkat. Hal tersebut dapat berdampak meningkatkan student engagement. Dukungan yang diperlukan siswa adalah dukungan yang mencakup pencapaian akademik dan non-akademik, namun tetap memprioritaskan pada pencapaian akademik untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, setelah siswa dapat menentukan tujuan atau cita-citanya, siswa diharapkan mampu mencari atau menciptakan lingkungan yang mendukung tujuan tersebut. Orang tua diharapkan dapat memberikan dukungan yang positif terhadap segala pencapaian yang telah didapatkan serta memperhatikan lingkungan pertemanan anak agar terhindar dari lingkungan pertemanan yang berdampak negatif dan membantu jika anak (siswa) mengalami kesulitan mengenali diri sendiri dengan melakukan konsultasi kepada bimbingan konseling di sekolah atau orang yang ahli di bidang tersebut untuk membantu siswa dalam mengenali diri sendiri dan orang tua dapat mengarahkan ke aktivitas yang diminati untuk mengasah bakat serta kemampuannya. Untuk guru diharapkan mampu mengenali tanda-tanda student engagement rendah (negatif) atau gejala ketidak terlibatan siswa dengan kegiatan pembelajaran, seperti siswa yang mulai masuk tanpa keterangan atau membolos, tidak memperhatikan saat guru memaparkan materi, meminta tugas yang lebih mudah, muncul rasa bosan dan ketertarikan yang menurun terhadap kegiatan belajar. Ketika guru menemukan perilaku tersebut muncul dari siswa, sebaiknya guru segera melakukan pendekatan ke siswa tersebut atau meningkatkan kreatifitas dalam mengajar untuk dapat segera memperbaiki situasi dan memperbanyak metode mengajar. penelitian selanjutnya diharapkan mampu mengembangkan pemahaman lebih lanjut tentang student engagement dengan faktor yang sama ataupun faktor lain dari variabel yang belum diungkapkan pada penelitian ini.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan penelitian ini. Terutama kepada pihak sekolah SDN Suko 2 yang telah memberi izin guna melakukan penelitian di lingkungan sekolah, dan juga para siswa yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi sampel dalam penelitian ini.

References

A. Munadlir, “STRATEGI SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL,” JPSD J. Pendidik. Sekol. Dasar, vol. 2, no. 2, pp. 114–130, 2016, doi: https://dx.doi.org/10.12928/jpsd.v3i1.6030.

M. Guswanti, “Hubungan Antara Self-Efficacy Dengan Students Engagement Di Madrasah Tsanawiyah Darel Hikmah Pekanbaru,” ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU, 2021. [Online]. Available: https://repository.uin-suska.ac.id/46477/2/SKRIPSI MAULIDYA GUSWANTI.pdf

S. N. Lanuari, “KERANGKA BIMBINGAN UNTUK PENGEMBANGAN KETERLIBATAN BELAJAR SISWA (STUDENT ENGAGEMENT),” Universitas Pendidikan Indonesia, 2016. [Online]. Available: http://repository.upi.edu/25727/

M. Junianto, K. Bashori, and N. Hidayah, “Gambaran Student Engagement pada Siswa SMA (Studi Kasus pada Siswa MAN 1 Magelang),” Insight J. Pemikir. dan Penelit. Psikol., vol. 17, no. 1, pp. 47–57, 2021, doi: 10.32528/ins.v17i1.3615.

I. W. Dharmayana, Masrun, A. Kumara, and Y. G. Wirawan, “Keterlibatan siswa (student engagement) sebagai mediator kompetensi emosi dan prestasi akademik,” J. Psikol. UGM, vol. 39, no. 1, pp. 76–94, 2012, doi: https://doi.org/10.22146/jpsi.6968.

G. Garvin and J. Jeannefer, “Hubungan Antara Student Engagement Dan Kecenderungan Delinkuensi Remaja,” J. Muara Ilmu Sos. Humaniora, dan Seni, vol. 1, no. 2, p. 88, 2018, doi: 10.24912/jmishumsen.v1i2.1006.

N. S. Galugu and Baharudin, “Hubungan Antara Dukungan Sosial, Motivasi Berprestasi dan Keterlibatan Siswa Di Sekolah,” J. Islam. Educ. Manag., vol. 3, no. 2, pp. 53–64, 2017, doi: https://doi.org/10.19109/elidare.v3i2.1925.

C. Devina, J. Savitri, and D. A. Mogot Pandin, “Pengaruh Parent Autonomy Support terhadap School Engagement pada Siswa Kelas IV-VI SD ‘X’ di Kota Bandung,” Humanit. (Jurnal Psikologi), vol. 1, no. 1, pp. 11–24, 2017, doi: 10.28932/humanitas.v1i1.399.

I. S. Arif, Psikologi Positif: Pendekatan Saintifik Menuju Kebahagiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016.

V. A. Putri, “HUBUNGAN SCHOOL ENGAGEMENT DENGAN RESILIENSI AKADEMIK PADA MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM RIAU,” UNIVERSITAS ISLAM RIAU ABSTRAK, 2022. [Online]. Available: https://repository.uir.ac.id/17309/1/188110123.pdf

F. R. Agustina and D. Rusmawati, “Hubungan Antara Efikasi Diri Akademik Dengan Student Engagement Pada Santri Di Pondok Pesantren Mahasiswa Bina Khoirul Insan Semarang,” J. EMPATI, vol. 11, no. 5, pp. 332–336, 2022, doi: 10.14710/empati.0.36741.

M. Junianto, K. Bashori, and N. Hidayah, “Validitas dan Reliabilitas Skala Student Engagement,” J. RAP (Riset Aktual Psikol. Univ. Negeri Padang), vol. 11, no. 2, p. 139, 2020, doi: 10.24036/rapun.v11i2.109771.

N. Gladisia, N. Laily, and N. S. E. Puspitaningrum, “Gambaran Student Engagement dalam Pembelajaran di Era New Normal,” J. Psikol. J. Ilm. Fak. Psikol. Univ. Yudharta Pasuruan, vol. 9, no. 1, pp. 26–46, 2022, doi: 10.35891/jip.v9i1.2763.

D. R. Pradhata and A. Muhid, “Jurnal Penelitian Psikologi Mastery Goal Orientation , Social Support dan Student,” J. Penelit. Psikol., vol. 12, no. 1, pp. 18–24, 2021, doi: doi.org/10.29080/jpp.v12i1.488.

J. A. Fredricks, P. C. Blumenfeld, and A. H. Paris, “School Engagement: Potential of the Concept, State of the Evidence,” Rev. Educ. Res., vol. 74, no. 1, pp. 59–109, 2004, doi: https://doi.org/10.3102/00346543074001059.

R. Gibbs and J. Poskitt, Student Engagement in the Middle Years of Schooling (Years 7-10). New Zealand, 2010. [Online]. Available: www.educationcounts.govt.nz/publications%0D

R. Istiqomah, S. Amany, and R. Sovitriana, “Dukungan Sosial Teman Sebaya Dan Efikasi Diri Dengan Kecemasan Menghadapi Ujian Pada Siswa Kelas XI SMAN 53 Jakarta Raka,” IKRAITH-HUMANIORA, vol. 7, no. 3, pp. 159–165, 2023, doi: https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v7i3.

T. Nurmalita, N. H. Yoenanto, and D. Nurdibyanandaru, “The Effect of Subjective Well-Being, Peer Support, and Self-Efficacy on Student Engagement of Class X Students of Four High Schools in Sidoarjo Regency,” ANIMA Indones. Psychol. J., vol. 36, no. 1, pp. 36–68, 2021, doi: //doi.org/ 10.24123/aipj.v36i1.2879.

K. R. Wentzel, A. Battle, S. L. Russell, and L. B. Looney, “Social supports from teachers and peers as predictors of academic and social motivation.,” Contemp. Educ. Psychol., vol. 35, no. 3, pp. 193–202, 2010, doi: https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2010.03.002.

D. B. Estell and N. H. Perdue, “Social support and behavioral and affective school engagement: The effects of peers, parents, and teachers.,” Psychol. Sch., vol. 50, no. 4, pp. 325–339, 2013, doi: https://doi.org/10.1002/pits.21681.

F. A. Gunawan, F. I. R. Dewi, and S. Tiatri, “Hubungan Peer Support Dengan School Engagement Pada Siswa Sd,” J. Muara Ilmu Sos. Humaniora, dan Seni, vol. 1, no. 2, p. 55, 2018, doi: 10.24912/jmishumsen.v1i2.967.

A. . Arifani, “Peer Attachment dan Student Engagement pada Siswa SMA,” Universitas Islam Indonesia, 2018. [Online]. Available: https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/6763

F. J. Fiana and M. Ridha, “Disiplin Siswa di Sekolah dan Implikasinya dalam Pelayanan Bimbingan dan Konseling,” KONSELOR | J. Ilm. Konseling, vol. 2, no. April, pp. 26–33, 2013, doi: https://doi.org/10.24036/02013231733-0-00.

A. Ferdyansyah, E. E. Rohaeti, and M. M. Suherman, “Gambaran Self Efficacy Siswa Terhadap Pembelajaran,” FOKUS (Kajian Bimbing. Konseling dalam Pendidikan), vol. 3, no. 1, p. 16, 2020, doi: 10.22460/fokus.v3i1.4214.

E. Jung, W. Hwang, S. Kim, H. Sin, Y. Zhang, and Z. Zhao, “Relationships Among Helicopter Parenting, Self-Efficacy, and Academic Outcome in American and South Korean College Students,” J. Fam. Issues, vol. 40, no. 18, pp. 2849–2870, 2019, doi: https://doi.org/10.1177/0192513X19865297.

R. Affandi, Widyastuti., and M. Amir, “Adaptation and Validation of the Self-Efficacy Questionnaire for Children (SEQ-C) for Indonesian Orphanage Students,” J. Kependidikan, vol. 8, no. 3, pp. 521–533, 2022, doi: https://doi.org/10.33394/jk.v8i3.5809.

A. N. Faizah and L. F. Panduwinata, “Jurnal Inovasi Pendidikan Ekonomi Pengaruh Efikasi Diri dan Regulasi Diri terhadap Stress Akademik,” J. Inov. Pendidik. Ekon., vol. 12, no. 1, pp. 41–50, 2022, doi: https://doi.org/10.24036/011166930.

D. Pramisjayanti and R. N. Khoirunnisa, “Hubungan Antara Self-Efficacy Dengan Student Engagement Pada Siswa SMP X Kelas VIII Selama Masa Pandemi Covid-19,” Character J. Penelit. Psikol., vol. 9, no. 1, pp. 46–55, 2022, [Online]. Available: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/44709

I. F. Putri, “Hubungan Antara Peer Support Dengan Student Engagement Pada Siswa Sma X Di Pekanbaru,” UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU, 2023. [Online]. Available: https://repository.uin-suska.ac.id/74235/

I. D. A. Urfa, “PENGARUH EFIKASI DIRI DAN KONSEP DIRI TERHADAP KETERLIBATAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN FIQIH KELAS VIII MTs NEGERI NGANJUK TAHUN PELAJARAN 2016/2017,” SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KEDIRI, 2017. [Online]. Available: https://etheses.iainkediri.ac.id/2358/

A. R. Saragih, “Hubungan teacher support dan self efficacy dengan student engagement pada siswa smp karya bunda,” UNIVERSITAS MEDAN AREA MEDAN, 2023. [Online]. Available: https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/19841

M. W. Septiana, “PENGARUH EFIKASI AKADEMIK DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KETERLIBATAN BELAJAR SISWA,” Universitas Negeri Jakarta, 2021. [Online]. Available: http://repository.unj.ac.id/20079/

R. Audas and J. D. Willms, Engagement and Dropping Out of School : A Life-Course Perspective. Human Resources Development Canada, 2002. [Online]. Available: http://sbisrvntweb.uqac.ca/archivage/15292281.pdf

N. R. Fadhilah, “Hubungan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Student Well-Being pada Siswa MAN 2 Kampar,” UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU, 2019. [Online]. Available: https://repository.uin-suska.ac.id/22835/

W. P. Wibowo et al., “PENGARUH KONSEP DIRI , KECERDASAN EMOSIONAL,” UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA, 2019. [Online]. Available: https://repository.unair.ac.id/83715/

S. M. Kiefer, K. M. Alley, and C. R. Ellerbrock, “Teacher and Peer Support for Young Adolescents’ Motivation, Engagement, and School Belonging,” RMLE Online, vol. 38, no. 8, pp. 1–18, 2015, doi: 10.1080/19404476.2015.11641184.

S. Patty, S. Wijono, and A. Setiawan, “Fakultas Psikologi, Program Studi Magister Sains Psikologi, Universitas Kristen Satya Wacana,” Psikodimensia, vol. 15, no. 2, pp. 204–235, 2016, doi: https://doi.org/10.24167/psiko.v15i2.989.

P. A. S. Moreira, A. Dias, C. Matias, J. Castro, T. Gaspar, and J. Oliveira, “School effects on students’ engagement with school: Academic performance moderates the effect of school support for learning on students’ engagement,” Learn. Individ. Differ., vol. 67, pp. 67–77, 2018, doi: https://doi.org/10.1016/j.lindif.2018.07.007.

A. A. A. R. Wijaya and P. N. Widiasavitri, “Hubungan dukungan sosial teman sebaya terhadap motivasi berprestasi pada remaja awal di Kota Denpasar,” J. Psikol. Udayana, vol. 6, no. 02, p. 261, 2019, doi: 10.24843/jpu.2019.v06.i02.p05.

A. D. Lynch, R. M. Lerner, and T. Leventhal, “Adolescent academic achievement and school engagement: an examination of the role of school-wide peer culture,” Youth Adolesc, vol. 42, no. 1, pp. 6–19, 2013, doi: 10.1007/s10964-012-9833-0.

Novitasari and M. Pratama, “Hubungan Antara Dukungan Teman Sebaya Dengan Student Engagement Pada Mahasiswa Di Sumatera Barat,” Nusant. J. Ilmu Pengetah. Sos., vol. 9, no. 2, pp. 480–485, 2022, doi: http://dx.doi.org/10.31604/jips.v9i2.2022.480-485.

T. D. P. Biantoro and J. Savitri, “Pengaruh Academic Peer Support Terhadap School Engagement Pada Siswa Smp ‘X’ Di Bandung,” Provitae J. Psikol. Pendidik., vol. 16, no. 2, pp. 63–72, 2023, doi: 10.24912/provitae.v16i2.26704.

M. A. Nur, “Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Prestasi Belajar Matematika Melalui Keterlibatan Belajar Siswa Kelas Xi Sma Negeri 2 Bulukumba,” Infin. J. Mat. dan Apl., vol. 2, no. 1, pp. 1–10, 2021, doi: 10.30605/27458326-54.

E. Oliver, I. Archambault, C. M. De, and B. Galand, “Student Self-Efficacy, Classroom Engagement, and Academic Achievement: Comparing Three Theoretical Frameworks,” J Youth Adolesc, vol. 48, no. 2, pp. 326–340, 2019, doi: 10.1007/s10964-018-0952-0.

E. A. Linnenbrink and P. R. Pintrich, “THE ROLE OF SELF-EFFICACY BELIEFS INSTUDENT ENGAGEMENT AND LEARNING INTHECLASSROOM,” Read. Writ. Q., vol. 19, no. 2, pp. 119–137, 2010, doi: https://doi.org/10.1080/10573560308223.

D. Mukaromah, S. Sugiyo, and M. Mulawarman, “Keterlibatan Siswa dalam Pembelajaran ditinjau dari Efikasi Diri dan Self Regulated Learning,” Indones. J. Guid. Couns. Theory Appl., vol. 7, no. 2, pp. 14–19, 2018, doi: https://doi.org/10.15294/ijgc.v7i2.17949.

Yunita, “The Relationship Between Self Efficacy and Student Engagement in Students,” Edumaspul J. Pendidik., vol. 7, no. 1, pp. 623–630, 2023, [Online]. Available: https://ummaspul.e-journal.id/maspuljr/article/view/5571