Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Future Time Perspective Associated With Career Maturity Among Final Year Students

Perspektif Waktu Masa Depan yang Berkaitan dengan Kematangan Karier di Kalangan Mahasiswa Tingkat Akhir
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Maghfiroh Imega Triyaninda (1), Widyastuti (2)

(1) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Career preparation represents a central developmental task during early adulthood, particularly for university students approaching graduation who must make informed occupational decisions aligned with personal competencies and labor market demands. Specific Background Final-year students frequently encounter uncertainty in career planning, limited occupational information, and difficulty making independent career decisions, indicating varying levels of career maturity. Future Time Perspective is considered a psychological construct reflecting individuals’ perceptions of opportunities and limitations related to their future goals and planning processes. Knowledge Gap Although career maturity has been widely discussed, empirical examination of its statistical relationship with Future Time Perspective among final-year university students remains limited within specific institutional contexts. Aims This study aims to investigate the relationship between Future Time Perspective and career maturity among final-year students at Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Results Using a quantitative correlational design with quota sampling involving 162 students, data analyzed through Spearman correlation revealed a significant positive relationship between Future Time Perspective and career maturity (r = 0.761, p < 0.001). Most respondents demonstrated moderate levels of both Future Time Perspective (72%) and career maturity (65%). Novelty The study provides empirical evidence linking psychological future orientation with career development readiness using validated measurement scales within a higher education population. Implications The findings indicate that clearer future orientation is associated with higher readiness in career decision processes, offering empirical references for career guidance initiatives and student developmental programs in higher education settings.


Highlights:



  • Statistical Analysis Identified a Strong Positive Correlation Between Psychological Future Orientation and Readiness for Occupational Decision Making.

  • Majority of Participants Demonstrated Moderate Levels Across Both Measured Psychological Constructs.

  • Empirical Data Derived From 162 Undergraduate Respondents Using Validated Psychometric Instruments and Spearman Correlation Analysis.


Keywords: Future Time Perspective, Career Maturity, Final Year Students,, Career Development, Quantitative Correlational Study

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Proses perkembangan individu dimulai dari masa kanak-kanak, berlanjut ke masa remaja, kemudian memasuki fase dewasa, dan akhirnya menuju usia lanjut. Masa dewasa awal mencakup periode dari akhir masa remaja hingga pertengahan 20-an, di mana seseorang dihadapkan pada tantangan yang lebih signifikan dibandingkan masa sebelumnya [1]. Mahasiswa sering dianggap sebagai kelompok elit di masyarakat karena mereka memiliki tingkat intelektualitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan rekan sebaya yang bukan mahasiswa atau kelompok usia yang lebih muda maupun lebih tua. Dunia yang dihadapi oleh mahasiswa sangat berbeda dari masa mereka di Sekolah Menengah Atas, terutama dalam hal metode belajar yang lebih menuntut kemandirian dan keaktifan. Ciri-ciri intelektualitas terlihat dari kemampuan untuk menghadapi, memahami, dan menyelesaikan berbagai masalah dengan cara yang lebih efektif dan terstruktur [2]. Super [3] menyebutkan bahwa antara usia 15 hingga 24 tahun, individu mengembangkan kesadaran terhadap diri mereka sendiri dan dunia kerja, serta mulai mencoba berbagai peran baru, sehingga memerlukan Kematangan Karir. Havighurst [4] juga menyatakan bahwa memilih dan mempersiapkan diri untuk karir merupakan tugas perkembangan penting selama masa remaja, karena karir mempengaruhi banyak aspek kehidupan. Dalam era globalisasi saat ini, terdapat banyak peluang dan tantangan dalam memilih dan menetapkan karir, dan kesalahan dalam proses ini dapat mengakibatkan karir yang tidak sesuai dengan harapan [5][6].

Mahasiswa tingkat akhir seharusnya sudah memiliki keterampilan untuk mempersiapkan karir mereka di masa depan. Namun, masih sering ditemukan masalah terkait pemilihan karier di kalangan mereka. Dalam hal ini, mahasiswa memerlukan bimbingan untuk menjelajahi minat dan bakat mereka sesuai dengan harapan dan cita-cita mereka. Berdasarkan perkembangan yang ada, mahasiswa berada pada fase pencapaian pribadi yang bertujuan untuk mencapai kemandirian dan keterampilan. Dengan kemandirian tersebut, individu cenderung menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan karir dan kehidupan pribadi mereka [1]. Mahasiswa diharapkan telah menetapkan tujuan yang spesifik, terutama dalam memilih karir, karena tanpa tujuan yang jelas, hal ini dapat menghambat dan menunda pengembangan potensi mereka.

Kematangan Karir mengacu pada kesiapan seseorang dalam memilih jalur karir dan proses pengambilan keputusan karir yang sesuai dengan tahap perkembangan karir yang sedang mereka jalani [11][1]. Creed & Coast [12][1] mendefinisikan Kematangan Karir sebagai kesiapan individu untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangan di berbagai tahap, yaitu tahap pertumbuhan, eksplorasi, pengembangan, pemeliharaan, dan pelepasan. Super [13] berpendapat bahwa Kematangan Karir merupakan kemampuan individu untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangan karir yang khas pada setiap fase perkembangan karir. Menurut Crites, Kematangan Karir adalah keselarasan antara sikap dan perilaku karir yang nyata dengan sikap dan perilaku karir yang diharapkan pada rentang usia tertentu di setiap fase perkembangan [14]. Menjelang akhir masa kuliah, seseorang diharapkan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang dunia kerja dan kesiapan untuk membuat keputusan karir [15][1]. Penelitian oleh M. dkk Subhan [9] menemukan bahwa 56% dari total responden adalah mahasiswa dengan tingkat Kematangan Karir yang rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai dunia kerja, yang tentunya akan mempengaruhi perencanaan karir mereka [8].

Faktor lain yang berkontribusi pada tingginya tingkat pengangguran adalah perencanaan karir yang lemah di kalangan lulusan perguruan tinggi [7]. M. dkk Subhan [9] mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa masih kekurangan pengetahuan, informasi pekerjaan yang terbatas, arah cita-cita yang belum jelas, dan mengalami kebingungan dalam menentukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Penelitian oleh Syamsu & Satrianta [10] menunjukkan bahwa 12% mahasiswa tingkat akhir memiliki Kematangan Karir yang sangat rendah, 24% berada pada tingkat rendah, 8% memiliki Kematangan Karir yang memadai, 9% berada pada tingkat tinggi, dan 5% berada pada tingkat sangat tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa Kematangan Karir mahasiswa tingkat akhir masih tergolong rendah, yang dapat menyulitkan mereka dalam menentukan tujuan karir di masa depan. Rendahnya Kematangan Karir dapat mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan keputusan karir akibat kurangnya pengetahuan tentang diri sendiri (kemampuan dan potensi) serta informasi mengenai dunia kerja [30].

John O. Crites, "Bimbingan kejuruan" telah berkembang jauh sejak Parsons mengusulkan model "persimpangan jalan kehidupan"-nya tentang pengambilan keputusan pekerjaan. Daripada peristiwa sekali seumur hidup, pengambilan keputusan karier kini dilihat sebagai bagian dari proses pengembangan kematangan karier. John O. Crites mengulas dan merangkum penelitian di bidang tersebut, dengan perhatian khusus pada Studi Pola Karir Super, Studi Pengembangan Karier Gribbons dan Lohnes, dan Proyek Pengembangan Kejuruannya sendiri. Crites membahas organisasinya dan revisi ke dalam struktur hierarkis dari lima dimensi kematangan kejuruan yang diusulkan dalam karya Super. Ia kemudian merangkum karyanya untuk mengembangkan Inventaris Kematangan Karier guna mengukur dimensi yang dihipotesiskan, dengan mempertimbangkan faktor kognitif dan non-asli. Akhirnya, ia mengulas penelitian tentang korelasi kematangan karier. Dalam kata penutup singkat, Crites menekankan hubungan timbal balik antara kematangan karier dan pendidikan karier, dan menunjukkan bahwa penelitian tentang kematangan karier dapat menyediakan konsep dan alat yang dibutuhkan pendidikan karier untuk menyusun dan mengevaluasi kurikulum dan program pelatihan. John O. Crites adalah otoritas terkenal di bidang pengembangan karier dan konseling kejuruan. Saat ini menjadi staf di University of Maryland, ia juga mengajar di Columbia, University of Iowa, dan Harvard. Ia banyak menerbitkan karya dan merupakan penulis Career Maturity Inventory [35].

Berdasarkan data awal dari survei dan wawancara dengan 7 mahasiswa tingkat akhir yang dilakukan pada 5 Februari 2024, mengacu pada 10 aspek teori Crites, ditemukan bahwa 4 dari 7 mahasiswa sering mencari informasi tentang karir yang ingin mereka jalani. Mereka cukup memahami nilai-nilai dalam pekerjaan yang diminati, tetapi masih belum dapat membuat keputusan sendiri tanpa bergantung pada orang lain dalam memilih pekerjaan. Mereka juga cukup mampu mempertimbangkan berbagai faktor dalam menentukan pekerjaan yang diinginkan, menggambarkan pekerjaan masa depan, serta menilai kemampuan dan kelemahan diri sendiri terkait pekerjaan yang diminati. Meskipun demikian, mereka masih kurang dalam merencanakan pilihan karir masa depan dan belum dapat menyelesaikan masalah dengan berbagai alternatif solusi. Secara keseluruhan, responden masih belum memiliki pandangan yang jelas tentang karir yang akan mereka jalani di masa depan.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat 10 aspek Kematangan Karir yang berlandaskan pada teori Crites [16], yaitu: (1) keterlibatan dalam proses pemilihan, tingkat partisipasi aktif individu dalam proses pengambilan keputusan; (2) orientasi kerja, sejauh mana individu terfokus pada tugas atau kesenangan dalam pekerjaan serta nilai-nilai yang mereka anut di dunia kerja; (3) kemandirian dalam pengambilan keputusan, kemampuan individu untuk membuat keputusan mengenai pilihan pekerjaan secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain; (4) faktor preferensi atau pilihan kejuruan, kemampuan individu dalam menentukan pekerjaan yang diminati serta faktor-faktor yang mempengaruhinya; (5) konsepsi proses pilihan, gambaran individu mengenai bagaimana mereka memilih pekerjaan di masa depan; (6) penilaian diri, kemampuan individu dalam menilai kemampuan dan kelemahan mereka untuk memilih pekerjaan yang sesuai di masa depan; (7) informasi pekerjaan, sejauh mana individu memiliki pengetahuan tentang dunia pekerjaan; (8) pemilihan tujuan, kemampuan individu untuk memahami kemampuan diri mereka dalam memilih pekerjaan yang diminati; (9) perencanaan, kemampuan individu dalam merencanakan pilihan karir mereka di masa depan; (10) penyelesaian masalah, kemampuan individu dalam memecahkan atau menyelesaikan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif solusi.

Kematangan Karir dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: 1) faktor biososial—termasuk usia dan kecerdasan, 2) faktor lingkungan—meliputi status pekerjaan orang tua, lingkungan sekolah, dorongan budaya, dan keterikatan keluarga, 3) kepribadian—seperti konsep diri, tujuan hidup, nilai/norma, fokus kendali, dan bakat khusus, 4) faktor vokasional—Kematangan Karir berkorelasi positif dengan aspirasi vokasional, kesesuaian aspirasi, dan ekspektasi karir, 5) prestasi individu—termasuk prestasi akademik, kebebasan, dan partisipasi baik di dalam maupun di luar sekolah [17].

Menurut Lens, Herrera dkk Salah satu faktor yang memotivasi individu dalam merencanakan pengembangan karir di masa depan adalah Future Time Perspective [18]. Lens, Herrera, dan rekan-rekannya [19][20] juga menjelaskan bahwa Future Time Perspective membantu individu dalam merencanakan pencapaian tujuan mereka baik dalam jangka pendek maupun panjang. Sementara itu, Froehlich et al., [21][20] mendefinisikan Future Time Perspective sebagai persepsi individu mengenai peluang dan batasan yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka. Future Time Perspective mencerminkan variasi daya juang individu terkait dengan pandangan mereka tentang masa depan [22][23]. Cheng et al., [24][1] dalam penelitian mereka menunjukkan bahwa Future Time Perspective adalah variabel penting yang dapat mempengaruhi komitmen seseorang dalam memilih karir secara tidak langsung.

Future Time Perspective (FTP) dapat didefinisikan sebagai "representasi mental tentang masa depan yang dikembangkan oleh individu pada berbagai tahap kehidupannya, serta mencerminkan pengaruh kontekstual baik secara pribadi maupun sosial" [25], atau sebagai "masa kini yang dipengaruhi oleh antisipasi terhadap tujuan masa depan" [26]. Zacher & Frese [29][20] menerapkan teori Future Time Perspective dalam konteks pekerjaan, di mana Future Time Perspective terkait dengan persepsi individu tentang pekerjaan mereka di masa depan dan dapat memprediksi hasil kerja yang penting, seperti kepuasan kerja, keterlibatan, dan kinerja. Future Time Perspective memandang waktu bukan sebagai sesuatu yang bersifat fisik yang kita semua alami bersama, melainkan sebagai fenomena psikologis individu [27]. Penelitian menunjukkan bahwa pandangan mahasiswa tentang masa depan pribadi mereka berfungsi sebagai panduan strategis untuk pembelajaran mereka [28]. Semakin jauh perspektif waktu individu menjangkau ke masa depan, semakin banyak tujuan dan rencana yang mereka miliki untuk mencapainya [27][26].

Future Time Perspective diketahui berkorelasi positif dengan Kematangan Karir, seperti yang dibuktikan oleh penelitian Cheng et al.,[24][20]. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa individu dengan Future Time Perspective yang tinggi cenderung memiliki Kematangan Karir yang lebih baik. Ketika mahasiswa memiliki Future Time Perspective yang tinggi, dampaknya adalah mereka tidak akan merasa cemas menghadapi persaingan dunia kerja, karena mereka sudah memiliki kesiapan matang dari segi mental dan kognitif, serta telah membuat keputusan yang mantap mengenai pemilihan karir atau pekerjaan yang sesuai dengan diri mereka [32]. Menurut peneliti terdahulu, ketika mahasiswa memiliki Future Time Perspective yang tinggi, mereka tidak akan merasa cemas menghadapi persaingan dunia kerja karena sudah memiliki persiapan matang baik dari segi mental dan kognitif, dan telah memantapkan diri dalam memilih karir atau pekerjaan yang sesuai dengan individu masing-masing [1].

Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk menyelidiki hubungan antara Future Time Perspective dengan Kematangan Karir pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Penelitian tentang Kematangan Karir pada mahasiswa tingkat akhir ini juga memiliki manfaat sebagai kontribusi pada pengetahuan dan pemahaman tentang Kematangan Karir secara umum. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu untuk mencari tahu hubungan antara Future Time Perspective dengan Kematangan Karir pada Mahasiswa Tingkat Akhir Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hipotesis penelitian ini yaitu mahasiswa tingkat akhir Universitas Muhammadiyah Sidoarjo memiliki tingkat kematangan karir yang tinggi.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui seberapa besar keterkaitan antara Future Time Perspective dan Kematangan Karir pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Future Time Perspective menjadi variabel bebas dan Kematangan Karir menjadi variabel terikat. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan sampling kuota. Sampling kuota yaitu teknik untuk menentukan sampel dari populasi berdasarkan ciri-ciri tertentu hingga jumlah kuota terpenuhi [31]. Populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswa tingkat akhir yang sedang menempuh skripsi di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tahun ajaran semester genap dengan total sampel sebanyak 162. Hal ini dikarenakan populasi tidak diketahui jumlah pastinya, namun kuota untuk setiap kategori subjek berdasarkan karakteristik tertentu sudah terpenuhi.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala Future Time Perspective mengadaptasi dari skala peneliti terdahulu yang disusun oleh Zacher & Frese [29] dalam 3 aspek, yaitu sisa waktu yang dirasakan, fokus pada peluang, fokus pada keterbatasan. Dalam skala ini terdapat 24 aitem pernyataan, dengan koefisien cronbach alpha 0,870. Skala yang digunakan dalam penelitian yaitu skala likert yang tersedia dalam empat pilihan jawaban, terdiri dari sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), setuju (S), sangat setuju (SS). Adapun instrumen yang digunakan pada skala Kematangan Karir yaitu skala yang diadaptasi dari peneliti terdahulu mengadopsi skala Muslimah [1] dan berdasarkan aspek-aspek yang terdapat dalam teori Crites, meliputi involvement in the choice process, orientation toward work, independence in decision-making, preference or vocational choice factors, conceptions of choice process, self appraisal, occupational information, goal selection, planning, problem solving. Pada skala ini terdiri dari 40 aitem pernyataan, dengan koefisien cronbach alpha 0,870. Model skala yang digunakan pada alat ukur ini yaitu skala likert yang tersedia dalam empat alternatif jawaban yaitu sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), setuju (S), sangat setuju (SS).

Hasil uji coba dilakukan pada 30 mahasiswa semester akhir pada tanggal 1 Bulan Juli 2024. Menggunakan skala kematangan karir yang diperoleh berjumlah 40 aitem, didapatkan nilai reliabilitas sebesar 0,870. Adapun uji coba skala future time perspective diperoleh 24 aitem, dan diperoleh nilai reliabilitas sebesar 0,870 [1].

Dalam menentukan berhubungan atau tidaknya antara dua variabel maka data dianalisis menggunakan perhitungan statistik korelasi spearman menggunakan aplikasi JASP, yang digunakan untuk mengungkap ada atau tidaknya hubungan antara future time perspective dan kematangan karir. Teknik analisis data menggunakan korelasi Spearman yang bertujuan untuk mengukur kekuatan hubungan secara linier antar variabel yang memiliki distribusi data normal [27]. Selanjutnya, data akan dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dengan bantuan JASP 19 for Windows yang digunakan oleh peneliti dalam pengolahan data.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Penelitian ini membahas tentang bagaimana hubungan antara future time perspective dengan kematangan karir pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hasil analisis sebagai berikut:

Tabel 1. Karakteristik Responden

Pada tabel 1. menunjukkan menunjukkan bahwa pada penelitian ini mayoritas responden berasal dari mahasiswa semester 8 sebanyak 138 dengan prosentase sebesar 85%, lalu sebanyak 23 mahasiswa semester 10 dengan prosentase sebanyak 14%, dan sisanya 1 mahasiswa semester 12 dengan prosentase 1%.

Tabel 2. Kategorisasi Future Time Perspective

Tabel 2. terlihat bahwa kategorisasi responden pada variabel Future time perspective (X) tersebut 116 dengan kategori sedang sebesar 72%, 26 responden menempati kategori tinggi sebesar 16% lalu sisanya sebanyak 20 responden dalam kategori rendah yaitu sebesar 12%. Jumlah total responden 162.

Tabel 3. Kategorisasi Kematangan Karir

Sedangkan, pada tabel 3. Kategorisasi responden pada variabel Kematangan Karir (Y) terdapat 105 responden dalam kategori sedang sebanyak 65%, 31 responden dalam kategori rendah dengan prosentase sebesar 19% sedangkan sisanya berada dalam kategori tinggi sebanyak 26 responden dengan prosentase sebesar 16%.

Tabel 4. Uji Normalitas

Tabel 4. Menunjukkan hasil uji asumsi yang dilakukan oleh peneliti menggunakan teknik Saphiro -Wilk ketika melakukan uji normalitas. Jika nilai signifikansi p dari uji normalitas lebih besar dari 0.05 (> 0.05), uji normalitas dianggap normal. Nilai signifikansi yang diperoleh 0.008 yang dimana nilai p < 0.05, maka dapat diartikan data berdistribusi tidak normal.

Tabel 5. Uji Hipotesis

Berdasarkan tabel 5. Setelah didapatkan uji normalitas yg menghasilkan data tidak normal, maka dilakukan uji hipotesis korelasi spearman menghasilkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,761 dengan nilai signifikansi sebesar <0,001. Jenis hubungan Future Time Perspective (X) memiliki hubungan positif terhadap variabel Kematangan Karir (Y) pada mahasiswa akhir Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Berarti, semakin tinggi Future Time Perspective maka semakin tinggi pula tingkat Kematangan Karir pada mahasiswa tersebut, begitu pula sebaliknya.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dengan total 162 responden yang merupakan mahasiswa tingkat akhir Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Tujuan dari hasil penelitian ini yaitu untuk menyelidiki keterkaitan antara Future Time Perspective dengan Kematangan Karir pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Berdasarkan perolehan data yang kemudian dilakukan uji analisis data, maka diperoleh hasil uji korelasi Spearman ditemukan bahwa variabel Future Time Perspective memiliki hubungan yang positif dengan Kematangan Karir. Hal tersebut terlihat dari nilai koefisien korelasi r= 0,761 (p value = 0.001). Artinya, ketika mahasiswa memiliki Future Time Perspective yang tinggi, maka tingkat Kematangan Karir akan semakin tinggi. Berlaku sebaliknya, apabila tingkat Future Time Perspective mahasiswa rendah, maka tingkat Kematangan Karir yang dialami akan semakin rendah.

Hasil penelitian ini sebagai pendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Subekti yang menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara Future Time Perspective dengan Kematangan Karir pada mahasiswa tingkat akhir Universitas X dengan tingkat Future Time Perspective pada kategori sedang dengan nilai prosentase 38% [1]. Kemudian, mendukung penelitian yang dilakukan oleh Grashinta bahwa sebesar 13,9% terdapat hubungan yang positif antara Future Time Perspective dengan Kematangan Karir, sedangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi Kematangan Karir sebesar 86,1% [31]. Apabila Future Time Perspective yang dirasakan seseorang mengalami peningkatan, maka Kematangan Karir akan mengalami peningkatan juga khususnya pada mahasiswa tingkat akhir. Sedangkan, ketika Future Time Perspective seseorang menurun, maka Kematangan Karir juga menurun. Hasil ini juga sesuai dengan beberapa penelitian internasional. Beberapa penelitian tersebut diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Cheng menunjukkan adanya hubungan positif antara Future Time Perspective dan Kematangan Karir, di mana Future Time Perspective merupakan konstruk penting yang dapat mempengaruhi komitmen individu dalam pemilihan karir secara tidak langsung [24]. Penelitian ini sejalan dengan temuan Walker dan Tracey[32], yang menyatakan bahwa Future Time Perspective merupakan salah satu kunci penting dalam pengambilan keputusan karir. Future Time Perspective dapat memotivasi mahasiswa dalam pengembangan karir mereka di masa depan [19]. Kesamaan antara hasil penelitian ini dengan penelitian sebelumnya memperkuat pernyataan dimana terdapat hubungan searah antara Future Time Perspective dan kematngan karir.

Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat variabel Kematangan Karir dengan persentase sebesar 65% yang termasuk kedalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswi memiliki Kematangan Karir yang cukup tinggi terhadap keterlibatan, pengenalan, kemandirian, faktor preferensi atau pilihan kejuruan, konsepsi proses pilihan, pengukuran diri, informasi pekerjaan, pemilihan tujuan, perencanaan, penyelesaian masalah yang kurang baik dalam dirinya. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yakni faktor biososial/umur sebagian dari mahasiswa merasa belum cukup memiliki kesiapan dalam pengambilan keputusan karir, faktor lingkungan (keluarga, sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya) yang kurang baik/menjadi penghambat bagi sebagian besar mahasiswa, lalu kepribadian (motivasi, sikap dan nilai, kepercayaan diri, keterampilan sosial, gaya pengambilan keputusan, kemampuan mengelola stres) yang merasa belum cukup mampu untuk memilih dan merencanakan karir, selanjutnya faktor vokasional (minat karir, kemampuan dan keterampilan, pendidikan dan pelatihan, kebutuhan pasar kerja, kesiapan karir) yang masih belum sepenuhnya mengerti dan siap tentang dunia kerja. Sejalan dengan menurut Chi, Leuty, Bullock Yowell & Dahlen [33] didapati rendahnya Kematangan Karir mahasiswa yang memberi dampak negatif terhadap emosional dan prestasi mahasiswa. Sikap mahasiswa menjadi tidak memliki keranian dan rendah kepercayaan dirinya untuk menggapai sesuatu yang diinginkannya. Sedangkan dampak terhadap prestasi mahasiswa seperti nilai IPK nya yang rendah [34].

Hasil analisis pada penelitian ini ditemukan bahwa mayoritas responden berasal dari mahasiswa semester 8. Dari data tersebut dapat disimpulkan, bahwa sebagian besar responden yang ditemui sedang dalam tahap akhir perkuliahan, dimana beban tugas serta tuntutan akademik yang tinggi dapat menimbulkan stress. Pada beberapa mahasiswa, stress dapat menjadi pemicu kekhawatiran tentang karir yang akan dihadapi di masa depan. Kekhawatiran akan karir di masa depan membuat mahasiswa merasa tidak tahu keputusan atau perencanaan seperti apa yang harus dibuat. Sehingga, banyak dari mereka yang memilih untuk meminta pendapat dari orang lain untuk membuat atau mengambil keputusan mengenai karir apa yang cocok dengan diri mereka. Kurangnya perencanaan tersebut menjadikan rendahnya Kematangan Karir pada mahasiswa semester akhir. Pada hasil penelitian ini diketahui, bahwa responden memiliki tingkat Future Time Perspective sebesar 72% yang tergolong cukup tinggi. Selain Future Time Perspective yang menjadi faktor Kematangan Karir individu, juga ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Kematangan Karir meliputi faktor biososial, faktor lingkungan, kepribadian, faktor vokasional, prestasi individu.

Penelitian ini memiliki keterbatasan terkait faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi Kematangan Karir selain Future Time Perspective. Hal ini berdampak pada kemampuan untuk menggeneralisasi hasil penelitian. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dapat meningkatkan jumlah responden secara menyeluruh dan menciptakan suasana yang nyaman selama proses pengumpulan data, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih luas dan representatif mengenai fenomena yang diteliti.

Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa hipotesis pada penelitian ini diterima. Pada hasil uji korelasi Spearman dengan nilai koefisien korelasi r= 0,761 (p value <.001). Hal ini menunjukkan antara variabel X (Future Time Perspective) memiliki hubungan positif yang signifikan dengan variabel Y (Kematangan Karir). Future Time Perspective memberi efek yang cukup besar terhadap Kematangan Karir. Tingkat Kematangan Karir pada subjek mencapai 65%, yang tergolong tinggi. Ini berarti bahwa semakin tinggi Future Time Perspective mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat Kematangan Karir mereka, dan sebaliknya, semakin rendah Future Time Perspective, semakin rendah tingkat Kematangan Karirnya.

Dari hasil kesimpulan di atas, maka dapat memberikan saran untuk mahasiswa untuk memikirkan dan membuat rencana karir masa depan seperti apa yang diinginkan. Hargai diri sendiri untuk setiap usaha dan kemajuan yang berhasil dicapai. Dan pada penelitian selanjutnya, disarankan agar mencari lebih banyak lagi keterkaitan dengan faktor Kematangan Karir dan lebih menggeneralisasikan untuk segala tingkat pendidikan.

Ucapan Terima Kasih

Kami mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kuasa-Nya yang telah memberikan kemudahan serta kelancaran dalam proses penelitian ini hingga selesai. Kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua responden yang telah berkontribusi dalam penelitian ini, khususnya mahasiswa tingkat akhir Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

References

A. R. Subekti, “Hubungan Antara Future Time Perspective Dengan Kematangan Karir Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Universitas Islam Sultan Agung Kota Semarang,” J. Ilm. Sultan Agung, Vol. 000, No. September, Pp. 261–269, 2022.

M. Efendy And A. Haryanti, “Konsep Diri Dan Kematangan Karir Pada Mahasiswa Tingkat Akhir,” J. Penelit. Psikol., Vol. 1, No. 01, Pp. 21–29, 2020.

D. J. Linda, “Gambaran Kematangan Karir Pada Mahasiswa Tingkat Akhir,” Nhk技研, Vol. 151, No. 2, Pp. 10–17, 2015.

D. S. Almaida And D. A. Febriyanti, “Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kematangan Karir Pada Siswa Kelas Xi Smk Yayasan Pharmasi Semarang,” J. Empati, Vol. 8, No. 1, Pp. 87–92, 2019, Doi: 10.14710/Empati.2019.23579.

Winona I. K. Patanduk, “Perbedaan Kematangan Karir Mahasiswa Tingkat Akhir Di Kota Makassar Ditinjau Dari Jenis Kelamin,” Pp. 53–54, 2018.

R. Hidayati, “Layanan Informasi Karir Membantu Peserta Didik Dalam Meningkatkan Pemahaman Karir,” J. Konseling Gusjigang, Vol. 1, No. 1, 2015, Doi: 10.24176/Jkg.V1i1.258.

R. Agustina And Y. S. Dwanoko, “Analisis Future Time Perspective (Ftp) Dan Kematangan Karir Terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa Sistem Informasi Menghadapi Dunia Kerja Bidang Informatika,” Smatika J., Vol. 11, No. 01, Pp. 43–47, 2021, Doi: 10.32664/Smatika.V11i01.571.

B. Rayi Waskitorini And Daliman, “Pengaruh Konsep Diri Dan Perhatian Orang Tua Terhadap Kematangan Karir Mahasiswa Tingkat Akhir,” Pp. 1–11, 2023.

K. Karir Mahasiswa Prodi Ekonomi Dalam Pemilihan Karir Mhd Subhan, W. Purnama Sari, S. Amat, And A. Yazid Abu Bakar, “Kematangan Karir Mahasiswa Prodi Ekonomi Dalam Pemilihan Karir,” Educ. Guid. Couns. Dev. Journal, Vol. 2, No. 2, Pp. 50–54, 2019.

D. W. Anandita, “Kematangan Karir Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Psikologi Unp Ditinjau Dari Jenis Kelamin,” Vol. 6, No. 4, Pp. 203–207, 2023.

M. C. Rehfuss And P. H. Sickinger, “Assisting High School Students With Career Indecision Using A Shortened Form Of The Career Construction Interview,” Hilos Tensados, Vol. 1, No., Pp. 1–476, 2019.

L. Prideaux And P. A. Creed, “Career Decision And Career Indecision: A Review Of The Accrued Evidence,” Aust. J. Career Dev., Vol. 10, No. 3, Pp. 7–12, 2001.

J. B. Konseling, D. Kecerdasan, E. Dengan, K. Karir, S. Maesaroh, And S. Saraswati, “Prediksi Locus Of Control Internal Dan Kecerdasan Emosi Dengan Kematangan Karir,” Vol. 6, No. 1, Pp. 90–103, 2020.

P. Paulina Br Manurung And N. Naomi Aritonang, Hubungan Antara Kematangan Karir Dengan Kecemasan Menghadapi Dunia Kerja Pada Fresh Graduate Jurusan Psikologi Universitas Putra Indonesia “Yptk” Padang, Vol. 3, No. 3. 2023. [Online]. Available: Https://J-Innovative.Org/Index.Php/Innovative/Article/View/3057

S. Coertse And J. M. Schepers, “Some Personality And Cognitive Correlates Of Career Maturity,” Sa J. Ind. Psychol., Vol. 30, No. 2, Pp. 56–73, 2004, Doi: 10.4102/Sajip.V30i2.150.

N. Muslimah, “Hubungan Antara Nilai Kerja Dengan Kematangan Karir Mahasiswa Vokasi Tingkat Akhir,” Curr. Neurol. Neurosci. Rep., Vol. 1, No. 1, Pp. Iii–Vii, 2018, [Online]. Available: Https://Doi.Org/10.1016/J.Jns.2018.09.022%0ahttp://Dx.Doi.Org/10.1016/J.Ejphar.2009.04.058%0ahttp://Dx.Doi.Org/10.1016/J.Brainres.2015.10.001%0ahttp://Www.Pubmedcentral.Nih.Gov/Articlerender.Fcgi?Artid=2854659&Tool=Pmcentrez&Rendertype=Abstract%0ahttp://W

D. E. Super, “A Life-Span, Life-Space Approach To Career Development,” J. Vocat. Behav., Vol. 16, No. 3, Pp. 282–298, 1980, Doi: 10.1016/0001-8791(80)90056-1.

R. Kurniawati And D. K. Dewi, “Pengaruh Future Time Perspective Terhadap Kematangan Karir Mahasiswa Tingkat Akhir” Character J. Penelit. Psikol., Vol. 9, Pp. 153–163, 2022.

W. Lens, M. P. Paixão, D. Herrera, And A. Grobler, “Future Time Perspective As A Motivational Variable: Content And Extension Of Future Goals Affect The Quantity And Quality Of Motivation,” Jpn. Psychol. Res., Vol. 54, No. 3, Pp. 321–333, 2012, Doi: 10.1111/J.1468-5884.2012.00520.X.

A. R. Subekti, “Hubungan Antara Future Time Perspective Terhadap Kematangan Karir Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Di Universitas Islam Sultan Agung Kota Semarang,” Braz Dent J., Vol. 33, No. 1, Pp. 1–12, 2022.

D. E. Froehlich, S. A. J. Beausaert, And M. S. R. Segers, “Great Expectations: The Relationship Between Future Time Perspective, Learning From Others, And Employability,” Vocat. Learn., Vol. 8, No. 2, Pp. 213–227, 2015, Doi: 10.1007/S12186-015-9131-6.

N. Stocks, “Pengaruh Konformitas Dan Future Time Perspective Terhadap Pengambilan Keputusan Karir,” Pp. 1–23, 2016.

M. Betts, “Future Time Perspective: Examination Of Multiple Conceptualizations And Work-Related Correlates,” No. May, Pp. 1–84, 2013, [Online]. Available: Https://Smartech.Gatech.Edu/Bitstream/Handle/1853/47569/Betts_Matthew_J_201305_Mast.Pdf

C. Cheng, L. Yang, Y. Chen, H. Zou, Y. Su, And X. Fan, “Attributions, Future Time Perspective And Career Maturity In Nursing Undergraduates: Correlational Study Design,” Bmc Med. Educ., Vol. 16, No. 1, Pp. 1–8, 2016, Doi: 10.1186/S12909-016-0552-1.

A. Eren And K. V. Tezel, “Factors Influencing Teaching Choice, Professional Plans About Teaching, And Future Time Perspective: A Mediational Analysis,” Teach. Teach. Educ., Vol. 26, No. 7, Pp. 1416–1428, 2010, Doi: 10.1016/J.Tate.2010.05.001.

A. M. Cohen, S. N. Raja, Y. Shir, And S. M. Frank, “Placing Motivation And Future Time Perspective Theory In A Temporal Perspective,” Anesthesiology, Vol. 80, No. 6, Pp. 1416–1417, 1994, Doi: 10.1097/00000542-199406000-00048.

J. Husman And D. F. Shell, “Beliefs And Perceptions About The Future: A Measurement Of Future Time Perspective,” Learn. Individ. Differ., Vol. 18, No. 2, Pp. 166–175, 2008, Doi: 10.1016/J.Lindif.2007.08.001.

J. C. Hilpert, J. Husman, G. S. Stump, W. Kim, W. T. Chung, And M. A. Duggan, “Examining Students’ Future Time Perspective: Pathways To Knowledge Building,” Jpn. Psychol. Res., Vol. 54, No. 3, Pp. 229–240, 2012, Doi: 10.1111/J.1468-5884.2012.00525.X.

H. Zacher And M. Frese, “Remaining Time And Opportunities At Work: Relationships Between Age, Work Characteristics, And Occupational Future Time Perspective,” Psychol. Aging, Vol. 24, No. 2, Pp. 487–493, 2009,

P. R. Titis Novia Lestari, “Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Kematangan Karir Pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto Yang Sedang Menempuh Skripsi,” Psycho Idea, Pp. 1–9, 2013.

I. M. D. M. Adnyana, “Konsep Umum Populasi Dan Sampel Dalam Penelitian,” Metod. Penelit. Pendekatan Kuantitatif, Vol. 14, No. 1, Pp. 103–116, 2021.

A. Grashinta, A. P. Istiqomah, And E. P. Wiroko, “Pengaruh Future Time Perspective Terhadap Kematangan Karir Pada Mahasiswa,” J. Psikol. Pendidik. Dan Konseling J. Kaji. Psikol. Pendidik. Dan Bimbing. Konseling, Vol. 4, No. 1, P. 25, Jun. 2018, Doi: 10.26858/Jpkk.V4i1.4981.

J. Chi, M. E. Leuty, E. Bullock-Yowell, And E. R. Dahlen, “Work Value Differentiation And Profile Elevation: What Do They Predict?,” J. Career Assess., Vol. 27, No. 4, Pp. 693–710, 2019, Doi: 10.1177/1069072718813368.

A. Y. A. B. Mhd Subhan, Hasgimianti, Wardani Purnama Sari, Salleh Amat, “Kematangan Karir Mahasiswa Prodi Ekonomi Dalam Pemilihan Karir,” Educ. Guid. Couns. Dev. Jounal, Vol. 2, No. 2, Pp. 50–54, 2019.

J. O. Crites, “Career Maturity,” Natl. Counc. Meas. Educ., Vol. 4, P. 9, 1973.