Muhammad Arifin (1), Ramon Ananda Paryontri (2)
General Background: Meaning in life is a central construct in existential psychology and is closely related to psychological well-being, particularly among marginalized populations. Specific Background: Commercial sex workers frequently encounter stigma, social exclusion, and psychological distress that shape their personal identity and life orientation. Knowledge Gap: Previous studies have examined self-concept, social stigma, and mental health among commercial sex workers, yet limited research explores how they construct and internalize meaning in life through a logotherapy framework. Aims: This study aims to describe the process of meaning construction among commercial sex workers using a qualitative phenomenological approach grounded in Viktor Frankl’s logotherapy. Results: Findings indicate that participants derive meaning from personal values, responsibility toward family, spiritual reflection, and adaptive attitudes toward suffering, demonstrating freedom of will and the search for purpose despite adverse conditions. Novelty: This study provides an in-depth phenomenological account of meaning construction among commercial sex workers within a logotherapy lens in the Indonesian context. Implications: The findings contribute to existential psychology literature and offer practical insights for counseling interventions and psychosocial rehabilitation programs targeting vulnerable women.
Keywords: Meaning In Life, Logotherapy, Commercial Sex Workers, Phenomenology, Existential Psychology
Key Findings Highlights:
Participants articulate life purpose through family responsibility and spiritual values.
Adaptive attitudes toward suffering reflect existential freedom of choice.
Phenomenological analysis reveals personal narratives as core sources of life orientation.
Pekerja seks komersial sering kali dianggap sebagai kelompok marginal dalam masyarakat, terpinggirkan baik dari segi sosial maupun hukum. Stigma dan prasangka yang melekat pada profesi ini membuat para pekerja seks komersial sering kali dipandang rendah dan diperlakukan dengan diskriminasi. Padahal, mereka adalah individu yang memiliki kompleksitas kehidupan dan makna hidup yang mendalam. Prostitusi atau pelacuran adalah pekerjaan yang sangat tua sejak kehidupan manusia itu sendiri. Pelacuran berasal dari kata latin pro-stituere atau pro-stauree, yang berarti membiarkan diri melakukan zina, persundalan, percabulan, dan pergendakan. Salah satu penyakit masyarakat yang harus dihentikan adalah pelacuran atau prostitusi, yang juga harus dicegah dan diperbaiki. Istilah WTS atau wanita tunasusila termasuk dalam kategori pekerja seks komersial dalam dunia pelacuran [1].
Menurut Harnani [2] seseorang yang menjual jasanya untuk melakukan hubungan seksual dengan tujuan mendapatkan uang disebut Pekerja Seks Komersial. Pelayanan ini biasanya menggunakan penyewaan tubuh. Sebagai pelaku pelacuran, PSK di Indonesia sering disebut sebagai sundal atau sundel, yang menunjukkan bahwa perilaku perempuan sundal sangat buruk dan menjadi musuh masyarakat. Menurut Koentjoro [3] beberapa faktor sosiokultural yang menyebabkan perempuan menjadi PSK termasuk orang setempat yang menjadi model pelacur yang sukses, lingkungannya yang permisif, peran instigator (penghasut), sosialisasi, dan pendidikan yang tidak efektif untuk meningkatkan status sosial ekonomi. Selain PSK, konsumen, germo/mucikari, dan perantara adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pelacuran[4]. Germo atau mucikari adalah orang yang mendapatkan keuntungan materi dari transaksi seks karena mereka sebagian atau sepenuhnya terlibat dalam mengadakan, memfasilitasi, dan mengendalikan pengelolaan pelacuran, termasuk menyediakan tempat untuk berlangsungnya transaksi, mengawasi pelaksanaan transaksi, dan atau mempekerjakan orang [5].
Kadir menyatakan[6] bahwa banyaknya wanita yang bekerja sebagai pekerja seks di Indonesia bukanlah fenomena yang muncul sendiri. Ada enam alasan umum untuk munculnya pekerjaan ini. Ini termasuk kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan hidup, ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang tengah dilakukan, penghasilan yang dianggap masih kurang karena tidak memiliki kecerdasan yang cukup untuk memasuki sektor formal atau melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, kerusakan atau ketidakutuhan dalam kehidupan keluarga, seperti memiliki anak yatim. Menurut Koentjoro [7] wanita yang bekerja sebagai PSK karena terpaksa akhirnya akan merasa bersalah atau berdosa kepada Tuhannya karena mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang tidak pantas dan tidak dapat diterima di agama mana pun.
Ketika seseorang menemukan makna dalam hidupnya, dia akan lebih mampu mengalami perasaan positif seperti kebahagiaan dan cinta. Setiap orang memiliki makna hidup yang berbeda, karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya. Namun, makna hidup tidak dapat ditemukan sendiri tanpa bantuan[8]. Menurut Bastman[9], makna hidup tidak pernah stabil. Konsep logoterapi mengatakan makna hidup dicapai dengan tiga cara: melakukan sesuatu, mengalami nilai, dan menderita. Karena mereka merasa telah menjadi manusia "seutuhnya", seseorang yang menghayati hidup akan merasa puas dengan hidupnya karena mereka benar-benar tahu untuk apa hidup tersebut. Makna hidup adalah hal-hal yang dianggap penting, berharga, benar, dan dapat dijadikan tujuan hidup [3].
Mereka memiliki tujuan yang jelas untuk kegiatan mereka, baik jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga mereka dapat melakukan sesuatu dengan lebih terarah dan merasakan kemajuan yang telah mereka [10]. Menurut Bastman, Makna hidup adalah hal-hal yang dianggap penting, dirasakan berharga, valid, dan memiliki nilai khusus dan dapat dijadikan tujuan hidup. Seseorang yang memiliki makna hidup akan merasa puas dengan kehidupannya karena merasa menjadi orang yang "berkualitas". Variasi dalam makna hidup berasal dari perbedaan individu, kehidupan sehari-hari, dan sumber pendapatan. Semua variasi tersebut bergantung pada kemampuan untuk menangani kompleksitas, kesulitan, dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan pekerjaan[11]. Perbedaan pemaknaan menjelaskan bagaimana orang menemukan pemenuhan dalam hidup mereka dan memaksimalkan potensi mereka. Untuk mereka yang hidupnya memiliki makna yang relatif kecil, pencarian makna hidup dianggap sebagai proses yang panjang[3].
Menurut Fridayanti [8], ahli logoterapi Viktor Frankl pertama kali memperkenalkan konsep makna hidup dalam bukunya Man's Search for Meaning pada tahun 1985. Menurut Bastman [3], Logoterapi kerangka mendefinisikan konsep pengembangan hidup sebagai berikut: hasrat untuk bermakna (the will to meaning) adalah motivasi utama setiap orang untuk mencapai tujuan mereka. Untuk mencapai tujuan ini, mereka harus membuat makna hidup (proper self image) yang mereka inginkan dan membuat citra diri ideal mereka sebagai individu yang unik dan bermakna (the meaningful life) yang mereka inginkan. Untuk mencapai kebahagiaan (Happiness), mereka harus melakukan kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan ini. Setiap orang menginginkan dirinya menjadi orang yang bermartabat dan berguna bagi dirinya, keluarga, lingkungan kerja, masyarakat sekitar, dan berharga di mata Tuhan. Menurut Frank [7], Semua orang di dunia ini memiliki makna hidup yang berbeda dan unik, tergantung pada cara mereka melihat dan memahaminya.
Makna hidup merupakan konsep yang kompleks dan multidimensional, yang mencakup berbagai aspek sepertitujuan hidup, hubungan interpersonal, dan perasaan keberhargaan. Bagi pekerja seks komersial, makna hidup mungkin muncul dari berbagai sumber yang tidak selalu sama dengan individu-individu lain dalam masyarakat[1]. Misalnya, beberapa pekerja seks mungkin menemukan makna hidup dalam bentuk dukungan finansial yang mereka berikan kepada keluarga, sementara yang lain mungkin merasakan makna melalui hubungan personal dengan klien atau komunitas sesama pekerja seks. Selain itu, dalam konteks pekerja seks komersial, makna hidup juga dapat dipengaruhi oleh dinamika kekuasaan dan otonomi pribadi. Banyak pekerja seks yang memilih profesi ini karena alasan ekonomi atau keterbatasan pilihan, namun mereka tetap memiliki agen dan kemampuan untuk mengarahkan hidup mereka.
Kehidupan memiliki makna, dan individu selalu berusaha mencarinya sebagai tujuan hidup mereka di dunia. Menurut Frankl[12], ada tiga prinsip penting dalam pencarian ini: pertama,setiap individu memiliki kebebasaan untuk menemukan makna hidup. Kedua, setiap individu merealisasi hidup mereka agar lebih bermakna. Ketiga, melakukan evaluasi terhadap pecapaian makna hidup. Makna hidup tidak mudah ditemukan dan memerlukan usaha melalui proses dan cara yang tepat. Manusia juga memiliki kemampuan untuk menentukan sikap dan membuat keputusan tentang apa yang akan mereka pilih dan lakukan dalam menghadapi situasi mereka. Jika suatu kondisi dianggap tidak dapat diubah, individu dapat mengubah cara pandangnya terhadap situasi tersebut hingga mereka menemukan makna di balik peristiwa yang terjadi[13].
Dengan memahami makna hidup yang terlibat dalam pekerjaan seks komersial, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam pengembangan kebijakan dan intervensi sosial yang lebih sensitif terhadap kebutuhan dan hak asasi manusia pekerja seks komersial. Makna hidup seseorang, termasuk pekerja seks komersial, dapat bervariasi tergantung pada pengalaman, keyakinan, dan tujuan individu. Penelitian ini juga berfokus pada bagaimana pekerja seks komersial memenuhi kebutuhan emosional dan seksual mereka. Dinamika ini menantang pandangan simplistik bahwa pekerja seks hanyalah korban atau individu tanpa kendali atas kehidupan mereka.Tujuan penelitian ini untuk memahami bagaimana mereka mengatasi tantangan dan menemukan makna dalam pekerjaan mereka, kita dapat menghargai kompleksitas identitas dan keberadaan mereka.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pendekatan metode fenomenologi. 2 orang pekerja seks komersial menjadi subjek utamanya. Penelitian ini memilih informan secara purposive sampling. Kriteria yang digunakan untuk memilih informan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut: Subjek bekerja sebagai pekerja seks komersial, beroperasi di sekitar area terminal Larangan, sudah bekerja sebagai pekerja seks komersial selama kurang lebih 1 tahun[14]. Terdapat 2 teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi dan wawancara, jenis observasi yang dilakukan yaitu observasi non-partisipan dan penelitian ini menggunakan jenis wawancara semi terstruktur, peneliti meminta persetujuan informan terdahulu sebelum melakukan wawancara. serta, penggunaan gadget sebagai alat untuk mengumpulkan hasil data wawancara. Untuk menguji keabsahan datanya maka digunakan teknik triangulasi data sumber dimana data yang dikumpulkan dari wawancara dari berbagai individu. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis secara tematik dengan melalui tiga tahapan. Diantaranya, data wawancara yang telah diperoleh dipaparkan dengan apa adanya. Kemudian, coding data secara sistematis untuk mengidentifikasi tema dan subtema yang sesuai dengan fokus penelitian. Beberapa pernyataan yang diperoleh akan dikelompokkan dan dianalisis dengan literatur yang relevan untuk pengembangan tema utama yang menggambarkan makna hidup pekerja seks komersial.
Sesuai dengan hasil analisis data wawancara dan observasi di lapangan pada 2 subjek memperoleh 3 tema utama dan masing-masing dari tiga tema utama ini menjadi lebih kecil dan memiliki beberapa subtemaa, tema pertama adalah proses menemukan makna hidup dengan 5 sub tema diantaranya, identitas diri, konsep diri, kontrol diri, penerimaan diri, motivasi kerja, dan kepuasan kerja. Tema kedua yaitu realisasi makna hidup dengan 5 sub tema diantaranya, kontrol diri, regulasi diri, strategi coping, etos kerja, iklim kerja. Tema ketiga yaitu proses evaluasi pencapaian makna hidup dengan 7 sub tema diantaranya, kecemasan,depresi,pesimisme,defense mechanisme,penyesuaian diri, dukungan sosial, dan perilaku diskrimanasi. Makna hidup seorang pekerja seksual dapat dikaitkan dengan aspek kebermaknaan hidup menurut Viktor Frankl[15], yang mengemukakan bahwa makna hidup adalah sesuatu yang memberikan nilai khusus bagi seseorang dan memungkinkan mereka untuk menjalani kehidupan dengan tujuan dan makna yang jelas. Analisis ini menggunakan teori Viktor Frankl, yang menekankan pencarian makna sebagai esensi dari keberadaan manusia.
Menemukan Makna hidup
Menemukan makna hidup pada seorang pekerja seks komersial adalah proses yang kompleks dan dinamis. PSK harus menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, seperti stigma dan diskriminasi dari masyarakat, serta tekanan dari lingkungan sekitar. Namun, dengan dukungan sosial yang kuat, pekerja seks komersial dapat meningkatkan keberanian dan keyakinan dalam menjalani kehidupan sebagai pekerja seks komersial. Pekerja seks komersial sering mengalami konflik identitas antara peran profesional dan pribadi. Stigma sosial yang kuat menyebabkan banyak PSK merasa identitas mereka direndahkan. Dalam menemukan makna hidup pekerja seks komersial melalui beberapa aspek, diantaranya:
Identitas diri seorang pekerja seks komersial pekerja seks komersial adalah proses yang kompleks dan dinamis. Pekerja seks komersial harus menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, seperti stigma dan diskriminasi dari masyarakat, serta tekanan dari lingkungan sekitar. Dalam tahap ini, pekerja seks komersial mengalami kesedihan dan keputusasaan karena tidak memiliki tujuan hidup yang jelas dan tidak memiliki dukungan sosial yang cukup. Namun, dengan dukungan sosial yang kuat, pekerja seks komersial dapat meningkatkan keberanian dan keyakinan dalam menjalani kehidupan sebagai pekerja seks komersial. Mereka dapat belajar dari pengalaman hidup mereka sendiri dan orang lain, serta memiliki tujuan hidup yang jelas dan spesifik. Dalam tahap ini, pekerja seks komersial mulai memiliki nilai-nilai seperti kesadaran diri, keberanian, dan kejujuran, serta memiliki makna hidup yang jelas dan berarti. Dengan demikian, pekerja seks komersial dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan mencapai kehidupan yang lebih baik. Sesuai dengan hasil wawancara:
Subjek pertama :status saya janda anak 5, Saya sudah nikah 3 kali dan mereka tuh pada males kerja. Saya nikah umur 19 tahun mas.
Lalu yang kedua, nggak kerja pengangguran dia dan suka mabuk-mabukan sama main judi, makanya sampe kelilit utang. Dan pernikahan saya itu Cuma 8 bulan cerai.
Subjek kedua:masih single,dimulai dari masalah keluarga, orang tua saya broken home. Kemudian saya tinggal dengan ibu saya, ayah saya tinggal dengan adik saya.
Identitas diri pada seorang pekerja seks komersial terdiri dari konsep diri pekerja seks komersial dibentuk oleh jati diri sebelum menjadi pekerja seks komersial dan pemaknaan diri subjekctif sebagai pekerja seks komersial. Hal yang kuat mempengruhi konsep diri pekerja seks komersial adalah pengalaman melewati situasi dilematis terkait pertentangan moral yang alami serta kemampuan menuemukan makna atas kenyataan dirinya menjadi seorang pekerja seks komersial. Konflik identitas menghambat pencarian makna hidup [6].
Konsep diri pada seorang pekerja seks komersial terdiri dari konstruksi jati diri sebelum menjadi pekerja seks komersial dan pemaknaan diri subjektif sebagai pekerja seks komersial. Konsep diri pekerja seks komersial diwarnai oleh konsep diri semu karena sifat suka berbohong untuk menutupi aibnya dengan memakai topeng dalam bentuk topeng sosial dan topeng moral. Hal yang kuat berpengaruh pada konsep dirinya adalah pemaknaan pada tahap dilematis terkait pertentangan moral yang dialami atas kenyataan dirinya menjadi pekerja seks komersial. Namun, dengan dukungan sosial yang kuat, pekerja seks komersial dapat meningkatkan keberanian dan keyakinan dalam menjalani kehidupan sebagai pekerja seks komersial.
Subjek kedua “saya memilih sendiri, karena status kerjaan saya yang seperti ini mas.
Saya merasa lebih bebas mengatur waktu dan energi saya tanpa harus khawatir tentang komitmen dalam hubungan romantis. mungkin suatu saat nanti saya juga pengen memulai hubungan dengan laki-laki lain secara serius.
tapi untuk saat ini saya masih belum bisa percaya soalnya laki-laki yang saya sayangi baik itu ayah atau pacar saya sama-sama menyakiti hati saya
Konsep diri yang positif adalah dasar untuk menemukan makna hidup. Intervensi psikologis yang bertujuan meningkatkan konsep diri dapat membantu pekerja seks komersial menemukan nilai dan makna dalam hidup mereka, meskipun pekerjaan mereka sering dipandang negatif oleh masyarakat. Mereka dapat belajar dari pengalaman hidup mereka sendiri dan orang lain, serta memiliki tujuan hidup yang jelas dan spesifik. Dalam tahap ini, pekerja seks komersial mulai memiliki nilai-nilai seperti kesadaran diri, keberanian, dan kejujuran, serta memiliki makna hidup yang jelas dan berarti.
Dalam proses penerimaan diri, individu harus memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri, memiliki harapan yang realistik, dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan diri. Sikap penerimaan diri ditunjukkan oleh individu yang memiliki kelebihan dan kelemahan, serta memiliki keinginan untuk terus mengembangkan diri. Penerimaan diri di kalangan pekerja seks komersial bervariasi, dengan beberapa individu mampu menerima diri mereka dan pekerjaan mereka, sementara yang lain merasa malu dan bersalah. penerimaan diri pada pekerja seks komersial ditemukan memiliki dampak positif pada kehidupan mereka, seperti meningkatkan kepuasan diri, meningkatkan kepercayaan diri, dan meningkatkan kemampuan dalam menghadapi stres emosi.
Subjek pertama “jadi karena faktor terlilit utang itu makanya saya mau kerja gini aja biar cepet dapat uang e. Ya jangan sampe tau lah mas, ya paling saya bakal terus terang mas, soal kondisi hidup seperti ini yang maksa saya harus melakukan kerjaan gini.
jelas ada mas tapi saya gk ngurusi omongane wong liyo mas, wong uripku dewe kok. Lapo ngurusi aku, kan dosae tak tanggung dewe. karna suami saya yang dulu terlilit hutang dan diancam dipenjara ya saya mau gak mau ambil kerjaan ini buat lunasin hutang suami saya.
Subjek kedua ” Saya berusaha menjaga batasan yang jelas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Saya juga jujur kepada pasangan saya tentang pekerjaan saya. ya gimana ya mas, namanya jga pekerjaan kugini, yaudah kuturuti aja. ya awalnya ya kaget dan gk nyaman, tapi lama-lama ya terbiasa juga kok.
Penerimaan diri pada pekerja seks komersial terdiri dari beberapa aspek, seperti penerimaan mengenai diri dan penampilan, sikap terhadap kelemahan dan kekuatan diri sendiri dan orang lain, perasaan inferioritas sebagai gejolak penerimaan diri, respon atas penolakan dan kritikan, keseimbangan antara "real self" dan "ideal self", penerimaan diri dan penerimaan orang lain, serta penerimaan diri, spontanitas, dan menikmati hidup[16]. Faktor-faktor pendukung penerimaan diri pada pekerja seks komersial antara lain identifikasi seseorang yang memiliki penyesuaian diri baik, perspektif diri, dan analisis interpersonal. Tahapan proses penerimaan diri pada pekerja seks komersial meliputi tahap denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance [17].
Motivasi kerja pada pekerja seks komersial berperan untuk meningkatkan kinerja dan kualitas hidup. Pekerja seks komersial yang memiliki motivasi kerja yang tinggi cenderung memiliki kepuasan kerja yang tinggi dan memiliki tujuan yang jelas. Gaji juga menjadi faktor yang berperan dalam meningkatkan motivasi kerja pekerja seks komersial, karena pekerja seks komersial yang memiliki gaji yang tinggi cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi karena mereka merasa bahwa pekerjaan mereka dihargai dan memiliki tujuan yang jelas. Motivasi kerja pekerja seks komersial sering didorong oleh kebutuhan ekonomi, dengan sedikit fokus pada makna atau tujuan jangka panjang. Pekerja seks komersial yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, kepuasan pribadi yang tinggi, dan kepuasan kerja yang tinggi cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi karena mereka merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki nilai dan memiliki tujuan yang jelas.
Subjek pertama “nah saya baru nyoba pertama kali kerja di dunia malam dan ternyata uang e banyak, sampe keterusan sampe sekarang. Ya, saya pernah mendapatkan pelanggan yang sangat menghargai dan memperlakukan saya dengan baik.
Pengalaman tersebut sangat berkesan dan membuat saya merasa dihargai dan diakui sebagai orang.
Subjek kedua “namun lama kelamaan menjadi suatu kebiasaan dan tentunya membutuhkan uang untuk hiburan itu jadi mau tidak mau aku juga harus bekerja untuk mandapatkan uang.
Faktor internal dapat meningkatkan motivasi kerja seorang pekerja seks komersial diantaranya kesadaran diri, kepuasan kerja, gaya hidup, keterampilan, motivasi kuat, dan kesadaran tentang kesehatan. Kesadaran diri yang tinggi dapat meningkatkan motivasi kerja pekerja seks komersial karena mereka memiliki tujuan yang jelas dan spesifik untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Kepuasan kerja yang tinggi juga dapat meningkatkan motivasi kerja pekerja seks komersial karena mereka merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki nilai dan memiliki tujuan yang jelas. Motivasi kuat untuk meningkatkan kualitas hidup juga dapat meningkatkan motivasi kerja pekerja seks komersial [18]. Kesadaran tentang kesehatan yang tinggi dapat meningkatkan motivasi kerja PSK karena mereka memiliki kebutuhan yang terpenuhi dan memiliki tujuan yang jelas.
Kepuasan kerja adalah salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan motivasi dan produktivitas seorang pekerja seks komersial. Pekerja seks komersial yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi dan lebih termotivasi untuk bekerja dengan fokus dan tekun. Kepuasan kerja pekerja seks komersial juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kepuasan dengan pekerjaan yang dilakukan, kepuasan dengan lingkungan kerja, dan kepuasan dengan dukungan dari orang lain. pekerja seks komersial yang memiliki kepuasan dengan pekerjaan yang dilakukan cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi karena mereka merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki nilai dan memiliki tujuan yang jelas. Pekerja seks komersial yang memiliki kepuasan dengan lingkungan kerja cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi karena mereka merasa bahwa lingkungan kerja mereka adalah tempat yang nyaman dan produktif. Pekerja seks komersial yang memiliki kepuasan dengan dukungan dari orang lain cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi karena mereka merasa bahwa mereka memiliki dukungan yang kuat dan stabil.
Subjek pertama “nah saya baru coba-coba pertama kali kerja di dunia malam dan ternyata uang e banyak. sampe keterusan sampe sekarang.
Subjek kedua “disisi lain aku cari hiburan di sisi lain kalo aku dapat uang kan juga lumayan untuk kehidupan ku. ya cukup mas, saya merasa mampu menhidupi kehidupan saya dengan caraku sendiri. ya saya nikmati mas, saya bisa hidup mandiri dengan pekerjaan ini. dan pekerjaan ini menurut saya juga tidak perlu capek-capek kerja yaa.
Untuk meningkatkan kepuasan kerja sebagai pekerja seks komersial, pertama-tama perlu diakui bahwa pekerjaan ini tidaklah sesuai dengan nilai-nilai agama dan hukum. Namun, jika seseorang ingin meningkatkan kepuasan kerja dalam pekerjaan ini, maka perlu dilakukan beberapa langkah. Pertama, mereka harus memiliki kesadaran akan perbuatan mereka yang melanggar norma-norma kehidupan dan memiliki niat untuk berubah. Kedua, mereka harus memiliki kemampuan penyesuaian diri untuk menghadapi tantangan dan tekanan yang timbul dari pekerjaan ini. Ketiga, mereka harus memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial dan memiliki motivasi untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan diri sendiri dan keluarga[19]. Dari sudut pandang ekonomi, pelacuran meningkatkan biaya sosial untuk program penegakan hukum seperti razia dan rehabilitasi sosial, terutama bagi pekerja seks. Selain itu, pemerintah dan masyarakat harus berkomitmen untuk membiayai pengobatan dan perawatan yang mahal bagi mereka yang menderita penyakit menular yang ditularkan melalui praktik seks komersial[20].
Realisasi Makna Hidup
Realisasi makna hidup pada seorang pekerja seks komersial dapat menjadi tantangan yang kompleks dan ambigu. Mereka sering dihadapkan dengan stigma dan diskriminasi, serta tekanan sosial dan ekonomi yang tinggi. Namun, beberapa pekerja seks komersial dapat menemukan makna hidup dalam pekerjaan mereka, seperti memiliki kesadaran diri dan kemampuan untuk mengelola kehidupan mereka sendiri. Dengan demikian, realisasi makna hidup pada seorang pekerja seks komersial dapat menjadi suatu proses yang unik dan berbeda-beda, tetapi tetap memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberikan arti pada kehidupan mereka. Dalam merealisasi makna hidup PSK melalui beberapa aspek, diantaranya:
Kontrol diri seorang pekerja seks komersial dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk mempertahankan kontrol atas kehidupannya sendiri. Selain itu, kemampuan individu untuk menentukan nasib sendiri dan memiliki kemandirian juga dapat meningkatkan kontrol diri. Dalam beberapa penelitian, kontrol diri pekerja seks komersial juga dikorelasikan dengan keinginan untuk menghindari ketergantungan dan meningkatkan efikasi diri. Dengan demikian, kontrol diri pekerja seks komersial dapat dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam menentukan bagaimana mereka dapat menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam profesinya.
Subjek kedua : Saya merasa lebih bebas mengatur waktu dan energi saya. Saya berusaha menjaga batasan yang jelas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
PSK yang memiliki kontrol diri yang lebih baik juga cenderung memiliki kehidupan yang lebih stabil dan lebih sedikit terpengaruh oleh tekanan ekonomi. Mereka juga lebih mampu mempertahankan batasan antara kehidupan pribadi dan profesional, sehingga mereka dapat menjaga privasi dan menghindari ketergantungan pada pekerjaan mereka [21]. Dengan demikian, kontrol diri dapat dianggap sebagai salah satu faktor yang penting dalam menentukan bagaimana PSK dapat menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam profesinya. Meningkatkan kontrol diri melalui terapi dan dukungan sosial dapat membantu pekerja seks komersial lebih berdaya dan membuat keputusan yang lebih baik untuk diri mereka sendiri[22].
Regulasi diri seorang pekerja seks komersial dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk mengatur dan mengendalikan perilaku dan keputusan dalam profesinya. Banyak pekerja seks komersial mengalami kesulitan dalam regulasi emosi, yang sering kali mengarah pada perilaku merusak diri. Regulasi diri pekerja seks komersial dapat dilakukan dengan cara mengatur waktu dan aktivitas, serta menghindari perilaku yang dapat merugikan. Mereka juga dapat mengatur batasan antara kehidupan pribadi dan profesional, sehingga mereka dapat menjaga privasi dan menghindari ketergantungan pada pekerjaan mereka.
Subjek pertama : ya paling saya bakal terus terang mas, soal kondisi hidup seperti ini yang maksa saya harus melakukan kerjaan gini. Kalo rencana untuk menjalani hidup lebih baik ada sih.
Tapi kalo buat berhenti sekarang terus buka usaha gitu saya belom ada modal dan belum tau mau usaha apa. Ya sebisa mungkin saya secepatnya bisa punya tabungan dulu yang cukup sampe anak saya bisa sekolah semua. baru saya pikirin kpn berhentinya.
Subjek kedua : Ya monggo mungkin udah waktunya saya membuka hati lagi dan mencoba memulai hidup baru. ya di lakoni ae mas, lek misalkan waktunya udah ya aku juga bakal mikirin buat berhenti.
Regulasi diri memiliki peran dalam pencarian makna hidup. Terapi yang fokus pada teknik regulasi emosi dapat membantu pekerja seks komersial mengelola emosi mereka dengan lebih baik dan menemukan makna hidup yang lebih stabil. Regulasi diri PSK dapat dilakukan dengan cara mengatur waktu dan aktivitas, serta menghindari perilaku yang dapat merugikan. Mereka juga dapat mengatur batasan antara kehidupan pribadi dan profesional, sehingga mereka dapat menjaga privasi dan menghindari ketergantungan pada pekerjaan mereka. Regulasi diri pekerja seks komersial juga dikorelasikan dengan keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan kepuasan dalam profesinya[23].
Strategi coping seorang pekerja seks komersial dapat diartikan sebagai cara individu untuk menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam profesinya. Pekerja seks komersial menggunakan berbagai strategi coping, termasuk coping aktif seperti mencari dukungan dan coping pasif seperti menghindari masalah. Selain itu, kemampuan individu untuk menentukan nasib sendiri dan memiliki kemandirian juga dapat meningkatkan strategi coping.
Subjek pertama : Yo jelas pasti saya bakal diusir sih kayak e mas sama ibu saya, bukan Cuma ibu saya mungkin juga warga kampung saya. Kalo perasaan aman atau tidak aman itu tergantung bagaimana sikap e pelanggan ku biasanya. makanya rata-rata klo ketemu diluar itu aku cuek orang e mas.
Subjek kedua: kalo itu biasanya saya pilih-pilih soal pelanggan. Kalo tampan nya kurang meyakinkan biasanya saya tolak.
Strategi coping seorang pekerja seks komersial dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk mengatur dan mengendalikan perilaku dan keputusan dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi dalam profesinya. Strategi coping yang umum digunakan oleh pekerja seks komersial antara lain adalah problem-focused coping, yaitu strategi yang berfokus pada pemecahan masalah, serta emotion-focused coping, yaitu strategi yang berfokus pada pengelolaan emosi. Strategi coping yang digunakan oleh PSK dapat berbeda-beda tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Misalnya, dalam situasi yang sulit seperti terlilit hutang hingga ancaman penjara, strategi coping yang dipakai adalah emotion-focused, karena diharapkan individu lebih dapat mengelola emosi yang timbul. Sementara itu, dalam situasi yang lebih umum, strategi coping yang dipakai adalah problem-focused, seperti mencari informasi, mencari bantuan dari pihak luar, dan melakukan usaha-usaha tertentu untuk mengubah keadaan[24].
Etos kerja seorang pekerja seks komersial dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mempengaruhi perilaku dan keputusan dalam profesinya. kemampuan individu untuk menentukan nasib sendiri dan memiliki kemandirian juga dapat meningkatkan etos kerja. Etos kerja pekerja seks komersial yang kuat dapat membantu mereka dalam mengatur waktu dan aktivitas, serta menghindari perilaku yang dapat merugikan. Mereka juga dapat mengatur batasan antara kehidupan pribadi dan profesional, sehingga mereka dapat menjaga privasi dan menghindari ketergantungan pada pekerjaan mereka. Etos kerja seorang PSK bervariasi, dengan beberapa menunjukkan profesionalisme tinggi, sementara yang lain bekerja dengan sikap pasrah.
Subjek pertama :Ya kalo mau aman ya pake pengaman mas. disini itu jalan masing-masing mas, tergantung dari masing-masing orang.
Ya saya menawarkan diri mas kalo misalnya ada orang yang keliatan e masih baru datang kesini. kalo dikawasan ini baru kita akrab lagi.
Subjek kedua: ya gimana ya mas, namanya jga pekerjaan kugini, yaudah kuturuti aja.
ga ada sih, semua ku lakuin sendiri. ya saya cuek aja mas, pura-pura gk tau. Kan disini jalan masing-masing, bodoamat sama mereka.
PSK yang memiliki etos kerja profesional cenderung memiliki hubungan yang lebih baik dengan klien. Mereka lebih mampu untuk mengatur waktu dan aktivitas, serta menghindari perilaku yang dapat merugikan. Etos kerja yang kuat dan komitmen terhadap pekerjaan dapat meningkatkan kebermaknaan hidup[25]. Membantu pekerja seks komersial mengembangkan etos kerja yang positif dapat meningkatkan perasaan makna dalam pekerjaan mereka. Pekerja seks komersial yang memiliki etos kerja yang kuat cenderung memiliki kebiasaan self-care yang baik. Hal ini dapat membantu PSK untuk mengelola stres dan menghindari ketergantungan pada pekerjaan mereka[26].
Iklim kerja seorang pekerja seks komersial sering tidak mendukung, dengan banyak yang mengalami diskriminasi dan pelecehan. Mereka sering dihadapkan pada dengan tekanan sosial dan ekonomi yang tinggi, serta diskriminasi yng dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka. Dalam beberapa kasus, pekerja seks komersial dapat menemukan makna hidup dalam pekerjaan mereka, seperti memiliki kesadaran diri dan kemampuan untuk mengelola kehidupan mereka sendiri.
Subjek pertama: Ya saya menawarkan diri mas kalo misalnya ada orang yang keliatan e masih baru datang kesini, kalo yang udah kenal mah biasane dia nge wa aku.
Subjek kedua : kalo daerah sini gk ada mas, soalnya udah pada tau kalo disini emang lokasinya . Jadi masyarakatnya biasa aja sama kami. Palingan ya ada teman yang ngehubungi saya gitu atau orang-orang baru yang mau booking saya yaudah tinggal wa atau chat di michat. Kalo komunitas ga ada.
Pekerja seks komersial dihadapkan dengan berbagai tantangan dalam iklim kerja mereka. Salah satu permasalahan yang paling signifikan adalah stigma yang melekat pada mereka. Stigma ini dapat berupa pandangan negatif masyarakat terhadap pekerja seks komersial, yang dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka. Stigma ini dapat menyebabkan pekerja seks komersial merasa tidak dihormati dan tidak diakui sebagai subjek yang berhak hidup layak[27]. Selain stigma, pekerja seks komersial juga menghadapi berbagai tantangan lainnya, seperti keamanan yang tidak terjamin dan risiko penularan penyakit seksual. Mereka sering dihadapkan dengan tekanan dari pemasok jasa seks komersial dan masyarakat yang tidak menghormati mereka[22].
Evaluasi Pencapaian Makna Hidup
Evaluasi pencapaian makna hidup seorang pekerja seks komersial dapat dilakukan dengan memahami bagaimana mereka menemukan makna hidupnya dalam kehidupan. Dalam sintesis, evaluasi pencapaian makna hidup seorang pekerja seks komersial menunjukkan bahwa makna hidup mereka terbentuk dari hasil pengalaman kegagalan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, serta dinamika mental yang terjadi dalam menghadapi situasi dan kondisi peran sosial sehari-hari[21]. Mereka menemukan makna hidupnya melalui pengalaman hidup yang kompleks dan menemukan pegangan atau pedoman hidup yang sesuai dengan cara pandang masing-masing subjek. Dalam men-evaluasi penapaian makna hidup PSK melalui beberapa aspek, diantaranya:
Tingkat kecemasan yang tinggi ditemukan di antara pekerja seks komersial, terutama terkait stigma sosial, kekerasan, dan ketidakpastian ekonomi. Kecemasan pada pekerja seks komersial adalah suatu kondisi psikologis yang dialami oleh individu yang bekerja dalam industri seksual. Kecemasan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kecemasan terhadap menurunnya kesehatan, kecemasan moral, kecemasan terhadap razia, dan kecemasan terhadap kekerasan dan pelecehan seksual. Kecemasan ini dapat berupa kecemasan neoritis dengan tingkat kecemasan berat, kecemasan moral dengan tingkat kecemasan ringan, dan kecemasan terhadap razia dengan tingkat kecemasan berat [24].
Subjek pertama : Saya kerja jadi gini tuh gara-gara suami saya yang ke dua tadi suka main judi sampe terlilit utang dan diancam dipenjara yang saya takutkan itu, takut kena penyakit. sama takut dikasarin sama pelanggan apalagi diperkosa rame-rame.Saya lebih takut kalo sampe kena razia mas
Subjek kedua: Ayah sudah menikah lagi. Jadi tidak ada yang peduli terhadap saya. sepertinya keluarga saya gk tau mas, walaupun tau juga mereka jg gk peduli dengan saya.
Kecemasan kerja pada pekerja seks komersial adalah suatu masalah yang umum ditemui. Faktor internal seperti khawatir akan masa depan, ingin memiliki keluarga yang ideal, takut kepada aparat penegak hukum, dan berpikir untuk menekuni profesi lain juga dapat mempengaruhi kecemasan pekerja seks komersial. Selain itu, faktor eksternal seperti kebutuhan keluarga sudah terpenuhi, hutang sudah lunas, trauma dihajar pelanggan, dan dorongan suami dapat mempengaruhi keputusan PSK untuk berhenti dari pekerjaannya. Dalam hal ini, kecemasan pekerja seks komersial dapat berpengaruh pada penerimaan diri (self acceptance) mereka.
Depresi yang dialami oleh pekerja seks komersial dari aspek psikologis dapat dikaitkan dengan berbagai faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kesejahteraan mental mereka. Psikologis pekerja seks komersial sering terpengaruh oleh pengalaman traumatis, seperti kekerasan fisik, emosional, dan seksual yang mereka alami dalam pekerjaan sehari-hari. Stigma sosial yang melekat pada pekerjaan mereka juga menambah beban psikologis, menyebabkan perasaan malu, bersalah, dan rendah diri yang mendalam. Selain itu, ketidakpastian ekonomi dan ketidakstabilan pekerjaan dapat menambah tekanan mental, memicu kecemasan yang berkelanjutan dan memperburuk gejala depresi.
Subjek kedua: saat saya mempunyai niat serius ingin menikah dengan dia, ternyata dia malah selingkuh dengan cewek lain. mulai dari situ saya mulai depresi.
semakin tidak ada yang peduli terhadap saya dan orang-orang yang ada disekitar saya juga tidak ada yang sayang.
hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk keluar masuk ke tempat malam dan minum alkohol sebagai pelarian untuk mencari hiburan agar saya lupa masalah yang pernah ada.
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang sering dialami oleh pekerja seks komersial. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tingginya prevalensi depresi di kalangan pekerja seks komersial mencakup stigma sosial, kekerasan, kondisi kerja yang tidak aman, dan isolasi sosial. Penelitian menunjukkan bahwa pekerja seks komersial sering menghadapi diskriminasi dan pengucilan, yang dapat memperburuk perasaan rendah diri dan meningkatkan risiko depresi. Selain itu, kekerasan fisik dan emosional yang dialami oleh pekerja seks komersial, baik dari pelanggan maupun penegak hukum, juga menjadi faktor signifikan yang memicu gangguan mental ini.
Pekerja seks komersial sering kali mengalami perasaan pesimis yang dipicu oleh berbagai faktor internal dan eksternal yang mereka hadapi. Perasaan pesimis ini muncul dari ketidakpastian masa depan, kurangnya stabilitas finansial, dan tingginya risiko kesehatan serta kekerasan yang melekat pada pekerjaan mereka. Stigma sosial dan diskriminasi yang mereka terima dari masyarakat semakin memperburuk situasi, membuat mereka merasa tidak dihargai dan terasing. Kondisi kerja yang berbahaya dan penuh tekanan, ditambah dengan kurangnya dukungan sosial dan akses terbatas ke layanan kesehatan mental, memperkuat perasaan putus asa dan hilangnya harapan akan perbaikan hidup.
Subjek kedua: walaupun tau juga mereka juga gak peduli dengan saya. Buktinya mereka gk pernah ada yang nanyain kabar saya bagaimana.
iya mas, emang ada yang laki-laki yang mau menerima saya dengan kondisi hidupku yang kayak gini .
PSK sering kali memiliki pandangan pesimis tentang masa depan mereka, merasa terjebak dalam situasi tanpa harapan. Perasaan pesimis merupakan salah satu dampak psikologis yang sering dialami oleh pekerja seks komersial, dipicu oleh kondisi hidup dan pekerjaan yang penuh tantangan serta stigma negatif dari masyarakat[27].
Pekerja seks komersial sering menggunakan mekanisme pertahanan (defense mechanism) sebagai cara untuk menghadapi tekanan emosional dan psikologis yang mereka alami dalam pekerjaan mereka. Mekanisme ini bisa berupa penyangkalan, di mana mereka menolak untuk mengakui realitas penuh dari bahaya dan stigma yang mereka hadapi sehari-hari, sebagai upaya untuk melindungi diri dari stres yang berlebihan. Disosiasi juga umum terjadi, di mana pekerja seks komersial mungkin memisahkan diri dari pengalaman emosional mereka saat berinteraksi dengan klien untuk mengurangi dampak psikologis dari pekerjaan tersebut. Rasionalisasi juga kerap digunakan, di mana pekerja seks komersial membenarkan pekerjaan mereka dengan alasan finansial atau sebagai satu-satunya cara untuk mendukung diri sendiri atau keluarga.
Subjek pertama: gak ada yang tau, kalo sudah menunjukkan tanda-tanda mau kasar gitu ya mas, biasanya saya tegur dan kalo ditegur dia tetap gitu. Langsung saya ancam.
Jadi disini mas, kita yang kerja tuh sudah bayar sewa keamanan sama preman sini, jadi kalo ada pelanggan yang macam-macam kita langsung ancam mereka.
Subjek kedua: melindungi diriku ya palingan cek kesehatan, soale disisi lain aku juga takut kena penyakit itu jadi setiap melayani aku pake pengaman juga.
ya biasa aja, misal kalo aku pulang kerumah ya aku biasa aja dari pakaian gitu biasa jadi ga ada yang curiga. nggak mas, saya dari rumah pake pakaian biasa ae. Tapi saya ba w a baju salin di tas, nanti disini baru ganti
Pekerja seks komersial menghadapi berbagai konflik dan kecemasan dalam hidupnya. Mereka harus menghadapi penolakan masyarakat dan stigma yang terkait dengan pekerjaan mereka. Untuk mengelola kecemasan ini, pekerja seks komersial menggunakan berbagai mekanisme defensif yang tidak disadari. Menurut Sigmund Freud, ada sembilan jenis mekanisme defensif yang digunakan, termasuk penyangkalan, fiksasi, rasionalisasi, proyeksi, sublimasi, pemindahan, regresi, reaksi formasi, dan agresi. Salah satu contoh mekanisme defensif yang digunakan PSK adalah rasionalisasi, di mana mereka mencari motif pengganti atas superego yang menolak pekerjaan mereka dan tetap mengikuti keinginan id atas dasar kesenangan[28].
Penyesuaian diri adalah proses yang penting bagi seorang pekerja seks komersial untuk menghadapi berbagai tantangan dan tekanan yang timbul dari pekerjaannya. Mereka harus dapat mempersiapkan fisik dan psikisnya untuk menghadapi resiko yang terkait dengan pekerjaannya, seperti penularan infeksi penyakit seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan. Mereka harus dapat mengelola stres dan depresi yang timbul dari kegagalan mereka untuk melakukan penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan.
Subjek pertama: Sampe saat ini belom ada sih mas, soalnya gk ada yang tau kalo sebenarnya aku kerja gini. Jadi selama gk ketahuan ya aku aman-aman ae
subjek kedua: Jika ada laki-laki yang dapat menerima dan memahami pekerjaan saya, tentu saja saya akan mempertimbangkannya.
Pekerja seks komersial yang terlilit hutang dan menghadapi ancaman penjara sering kali mengalami tekanan yang luar biasa, yang berdampak signifikan pada kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari. Ketakutan akan tindakan hukum dan beban finansial yang berat menciptakan stres kronis yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka. Dalam upaya untuk mengatasi situasi ini, pekerja seks komersial mungkin mengembangkan strategi koping yang tidak sehat, seperti isolasi sosial yang semakin memperburuk kondisi mereka. Selain itu, pengalaman negatif dan trauma yang dialami dalam pekerjaan membuat mereka sulit untuk mempercayai orang lain, terutama laki-laki, yang berusaha masuk ke dalam kehidupan pribadi mereka. Hal ini mengakibatkan hambatan dalam menjalin hubungan yang sehat dan stabil[28].
Pekerja seks komersial sering kali menghadapi tingkat dukungan sosial yang rendah dan perilaku diskriminasi yang signifikan dari masyarakat. Stigma negatif yang melekat pada pekerjaan mereka menyebabkan pekerja seks komersial dijauhi dan dihakimi, yang mengakibatkan isolasi sosial dan hilangnya dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas. Perilaku diskriminatif ini tidak hanya terjadi dalam interaksi sehari-hari, tetapi juga dapat terwujud dalam bentuk kebijakan dan layanan publik yang tidak ramah atau bahkan memusuhi mereka.
Subjek pertama: terus saya cerita keteman saya, nah disitu teman saya ngajak kerja dan ternyata diajak kerja gini. Jadi saya ikut teman saya kerja gini yang penting hati-hati aja kerjanya.Harapan saya itu agar masyarakat dapat mulai melihat kami sebagai manusia yang juga
Subjek kedua: Saya merasa tidak didukung oleh masyarakat atau lingkungan sekitar.
Dukungan sosial rendah dapat mempengaruhi perilaku diskriminatif yang diperoleh oleh seorang pekerja seks komersial dalam kehidupannya sehari-hari. Dukungan sosial yang rendah dapat menyebabkan individu tersebut merasa tidak aman dan tidak diterima oleh masyarakat, sehingga mereka cenderung untuk menutup diri dan mengisolasi diri dari orang lain. Mereka cenderung untuk menutup diri dan mengisolasi diri dari orang lain, sehingga mereka tidak dapat memperoleh dukungan sosial yang diperlukan untuk mengelola stres dan depresi yang timbul dari pekerjaannya [29]. Dukungan sosial rendah dapat berakibat pada perilaku diskriminatif yang diperoleh oleh pekerja seks komersial.
Penelitian ini dilakukan pada minggu pertama bulan mei hingga minggu kedua bulan juni, peneltian ini dilakukan di terminal larangan, dusun larangan kecamatan candi, sidoarjo. 2 orang subjek yang bekerja sebagai seorang pekerja seks komersial, yang pertama berusia 36 tahun dan kedua berusia 29 tahun. Sesuai hasil pemaknaan hidup pada seorang pekerja seks komesial.
Pertama yaitu tahap, menemukan Makna hidup, identitas diri seorang pekerja seks komersial adalah proses yang kompleks dan dinamis, diwarnai oleh tantangan seperti stigma, diskriminasi, dan tekanan lingkungan. Subjek sering mengalami kesedihan dan keputusasaan karena kurangnya tujuan hidup yang jelas dan dukungan sosial. Namun, dukungan sosial yang kuat dapat meningkatkan keberanian dan keyakinan mereka dalam menjalani kehidupan sebagai PSK. Sama seperti penelitian terdahulu oleh [6] dimana dalam memaknai pekerjaannya sebagai bentuk pelarian yang membutuhkan mental kuat untuk terus menerus menipu diri sendiri, di mana pekerjaan tersebut dianggap sebagai dosa dan haram menurut ajaran agama.Dengan belajar dari pengalaman diri dan orang lain, mereka dapat mengembangkan tujuan hidup yang jelas dan nilai-nilai seperti kesadaran diri, keberanian, dan kejujuran. Konsep diri pekerja seks komersial mencakup jati diri sebelum menjadi pekerja seks komersial dan pemaknaan diri subjektif sebagai pekerja seks komersial. Mereka sering menghadapi konflik moral yang menciptakan konsep diri semu, di mana mereka menutupi aib dengan "topeng" sosial dan moral. Dukungan sosial yang kuat membantu mereka dalam proses penerimaan diri, yang penting untuk meningkatkan kepuasan diri, kepercayaan diri, dan kemampuan menghadapi stres emosi. Sejalan dengan hasil penelitian dari [2] Pengalaman buruk di masa lalu membuat pekerja seks berusaha memenuhi kebutuhan mereka melalui orang lain, seperti pengertian, kasih sayang, penerimaan, dan kebutuhan akan respon timbal balik. Pemenuhan akan kebutuhan kebebasan ini kemudian mendorong mereka untuk masuk dan bertahan dalam dunia prostitusi.
Motivasi kerja pekerja seks komersial berperan penting dalam meningkatkan kinerja dan kualitas hidup mereka. Motivasi ini sering didorong oleh kebutuhan ekonomi dan kepuasan kerja, yang dipengaruhi oleh gaji, lingkungan kerja, dan dukungan sosial.relevan dengan penelitian dari [19] menyatakan dari segi moral dan naluri, pekerja seks komersial tetaplah manusia yang memerlukan makan dan cara untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, mereka menggunakan tubuh mereka sebagai modal kerja, karena itulah yang mereka miliki. Meski hal ini melanggar norma-norma masyarakat dan membuat mereka menerima pandangan negatif serta cemoohan, jual diri sering kali menjadi pilihan terakhir saat tidak ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lama kelamaan, hal ini berubah menjadi ketergantungan karena mereka bisa mendapatkan uang dengan mudah hanya dengan memuaskan nafsu para pelanggan, dan mereka sendiri juga merasakan kepuasan dari hal tersebut. Pekerja seks komersial dengan motivasi kerja yang tinggi cenderung memiliki kepuasan kerja yang tinggi, merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki nilai, dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri serta menghadapi berbagai tantangan. Kepuasan kerja yang tinggi meningkatkan motivasi dan produktivitas pekerja seks komersial, menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman dan produktif. Hasil ini diperkuat oleh penelitian dari [2] yang menyatakan Pekerja seks terdorong untuk membuktikan bahwa kondisi finansial mereka telah membaik dibandingkan sebelumnya. Hal ini terlihat dari kemampuan mereka membiayai kebutuhan anak, rutin mengirim uang setiap bulan, dan memenuhi kebutuhan pribadi mereka sendiri.
Kedua yaitu tahap, Realisasi makna hidup bagi pekerja seks komersial adalah proses yang kompleks dan bervariasi, sering kali menghadapi stigma, diskriminasi, serta tekanan sosial dan ekonomi. Beberapa pekerja seks komersial menemukan makna hidup dalam pekerjaan mereka melalui kesadaran diri dan kemampuan mengelola kehidupan. Pada penelitian yang dilakukan oleh [6] menyatakan, seseorang berhasil menemukan makna hidup meski masih menderita sebagai pekerja seks komersial, dengan menerima dukungan sosial dan memiliki figur atau model pembelajaran. Kesadaran akan keadaan diri dan keluarga mulai muncul, memperhatikan lingkungan sekitar, serta keinginan untuk melindungi hal-hal penting dan berharga dalam hidup. Kesadaran ini memungkinkan seseorang untuk mengambil hikmah dari pengalaman hidup, merencanakan masa depan dengan berani dan optimis, dan akhirnya merasakan kebahagiaan meskipun masih berstatus sebagai pekerja seks komersial saat ini. Kontrol diri pekerja seks komersial dipengaruhi oleh faktor religius dan spiritual, yang dapat meningkatkan harapan dan kemandirian mereka.menurut peneltian yang dilakukan oleh [26] menyatakan, Kedua subjek menjadi PSK karena kebutuhan ekonomi, yang sesuai dengan teori Koenjoro. Menurut teori ini, orang-orang dalam situasi tersebut cenderung melakukan pekerjaan apa pun untuk bertahan hidup, termasuk prostitusi yang umumnya dilakukan oleh banyak wanita. Regulasi diri penting untuk mengatur perilaku dan keputusan, serta menjaga batasan antara kehidupan pribadi dan profesional. Relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh [18] Alasan mereka belum berhenti sebagai PSK adalah karena mereka menjadi tulang punggung keluarga, sehingga sulit untuk meninggalkan pekerjaan ini dan mencari pekerjaan lain, terutama karena mereka tidak memiliki pendidikan yang memadai untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Strategi coping pekerja seks komersial meliputi coping aktif, seperti mencari dukungan, dan coping pasif, seperti menghindari masalah. Menurut Bastaman dalam penelitian [26] menyatakan bahwa seseorang akan merasa dirinya bermakna dan berharga ketika ada seseorang yang dekat dan saling mempercayai, yang memberikan dukungan dan bantuan saat dibutuhkan, seperti dukungan sosial (social support). Etos kerja pekerja seks komersial yang kuat membantu mereka mengatur waktu dan aktivitas, menghindari perilaku merugikan, dan menjaga privasi. Namun, iklim kerja sering kali tidak mendukung, dengan diskriminasi dan pelecehan yang memengaruhi kualitas hidup mereka. Meski demikian, beberapa pekerja seks komersial mampu menemukan makna hidup dalam profesinya, meningkatkan kesadaran diri dan kemampuan mengelola kehidupan mereka. Pada penelitian yang dilakukan oleh [6] menyatakan, motif sebab atau because motive adalah proyeksi dari pengalaman individu yang mengandung makna dalam tindakannya dan dapat dipahami oleh orang lain. Hal ini berlaku bagi pekerja seks komersial perempuan, di mana melalui motif sebab mereka berusaha memberikan makna pada tindakan mereka terhadap orang lain. Pilihan untuk menjadi pekerja seks komersial dilakukan dengan alasan berbeda oleh subjek penelitian, yang didasari oleh berbagai motif sebab yang mencerminkan pengalaman mereka.
Terakhir yaitu tahap, Evaluasi pencapaian makna hidup seorang pekerja seks komersial dapat dilakukan dengan memahami bagaimana mereka menemukan makna hidupnya dalam kehidupan. Kecemasan pada pekerja seks komersial adalah suatu kondisi psikologis yang dialami oleh individu yang bekerja dalam industri seksual. Kecemasan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kecemasan terhadap menurunnya kesehatan, kecemasan moral, kecemasan terhadap razia, dan kecemasan terhadap kekerasan dan pelecehan seksual [30]. Dalam hal ini, kecemasan PSK dapat berpengaruh pada penerimaan diri (self acceptance) mereka. Penelitian menunjukkan bahwa pekerja seks komersial yang memiliki self acceptance tinggi cenderung memiliki keberhasilan, pemahaman diri, dan konsep diri yang stabil, serta tidak adanya hambatan lingkungan[31]. Penelitian menunjukkan bahwa PSK sering menghadapi diskriminasi dan pengucilan, yang dapat memperburuk perasaan rendah diri dan meningkatkan risiko depresi. Selain itu, kekerasan fisik dan emosional yang dialami oleh pekerja seks komersial, baik dari pelanggan maupun penegak hukum, juga menjadi faktor signifikan yang memicu gangguan mental ini. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Sex Research mengungkapkan bahwa pekerja seks komersial yang mengalami kekerasan memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi untuk mengalami depresi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kekerasan[32] .
Studi yang dipublikasikan dalam Archives of Sexual Behavior mengungkapkan bahwa banyak pekerja seks komersial merasa terjebak dalam situasi mereka tanpa adanya jalan keluar yang jelas, yang menimbulkan pandangan hidup yang pesimistis. Ketidakstabilan finansial, risiko kesehatan, dan kekerasan yang sering mereka alami di tempat kerja meningkatkan perasaan putus asa dan hilangnya harapan akan masa depan yang lebih baik [33]. Dalam penelitian lain, Koentjoro[2] mengemukakan bahwa wanita pekerja seks komersial mengalami konflik dalam dirinya, baik konflik kepentingan antara rasa membutuhkan uang dan perasaan berdosa, atau juga karena adanya perasaan tidak aman akan statusnya sebagai pekerja seks komersial dalam masyarakat. Mengamati kenyataannya, keletihan fisik dan mental sehingga menimbulkan rasa frustrasi. Penelitian dalam Journal of Trauma & Dissociation menunjukkan bahwa penggunaan mekanisme pertahanan ini dapat membantu PSK bertahan dalam jangka pendek, namun seringkali tidak memadai untuk mengatasi trauma jangka panjang yang dapat terjadi akibat dari kekerasan dan marginalisasi sosial [34]. Dalam penelitian [35] menunjukkan bahwa ketidakpercayaan dan ketakutan terhadap pengkhianatan atau kekerasan sering menghalangi PSK untuk membuka diri dan membentuk ikatan emosional yang kuat, yang pada gilirannya memperkuat perasaan kesepian dan keterasingan. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa diskriminasi dan stigma sosial ini memperburuk kesehatan mental PSK, meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Dukungan sosial rendah mempengaruhi perilaku diskriminatif yang diperoleh oleh pekerja seks komersial dalam kehidupannya sehari-hari[20].
Fenomena pekerja seks komersial (PSK) mencerminkan situasi kompleks yang seringkali melibatkan tekanan sosial dan ekonomi. Meskipun mereka menyadari dampak moral dan psikologis dari pekerjaan ini, banyak PSK tetap memilih untuk melanjutkan karena kebutuhan finansial untuk mendukung keluarga. Penyesuaian diri menjadi aspek penting bagi PSK, yakni kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan situasi yang mereka hadapi, serta menerima diri mereka apa adanya. Dalam hal ini, dukungan sosial memainkan peran krusial, karena dapat membantu PSK merasa lebih diterima, dihargai, dan memperoleh dukungan emosional yang dibutuhkan. Selain itu, Sikap positif terhadap diri sendiri dan kemampuan untuk menerima kekurangan serta kelebihan juga sangat berpengaruh. Penerimaan diri yang baik dapat meningkatkan kepuasan diri dan kepercayaan diri. Motivasi PSK sering kali didorong oleh kebutuhan ekonomi, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh kepercayaan diri. Kemampuan untuk mengatur emosi dan perilaku membantu mereka dalam menemukan makna hidup yang lebih stabil.
Ucapan Terima Kasih
Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penelitian ini. Kepada subjek penelitian, terima kasih telah berpartisipasi dan memberikan waktu serta informasi yang sangat berharga. Semoga hasil dari penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif bagi kita semua.
[1] F. Anjana and M. Nasrifah, “Analisis Fenomena Kehidupan Seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang Berkeluarga di Desa Sidomulyo Kabupaten Probolinggo,” Jurnal Sosial Humaniora, 2021.
[2] I. K. W. Pujhana and D. H. Tobing, “Perjalanan Wanita Pekerja Seks Komersial (PSK): Sebuah Kebebasan, Pembuktian Diri dan Cinta,” Jurnal Psikologi Udayana, 2020.
[3] P. Rembulan, “Hubungan Konsep Diri Dengan Makna Hidup pada Pekerja Seks Komersial (PSK) yang Menjalani Rehabilitasi di Panti Sosial Bina Karya Wanita Harapan Mulia Jakarta Barat,” Psikologi Kreatif Inovatif, vol. 2, no. 3, pp. 26–36, Jul. 2022, doi: 10.37817/Psikologikreatifinovatif.V2i3.2504.
[4] E. S. Eko, “Dampak Penutupan Lokalisasi Puger Kulon terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Puger Kabupaten Jember,” Wacana, vol. 10, no. 1, pp. 532–543, Jun. 2023, doi: 10.37304/Wacana.V10i1.8227.
[5] B. Rusyidi and N. Nurwati, “Penanganan Pekerja Seks Komersial di Indonesia,” Jurnal Pengabdian dan Penelitian kepada Masyarakat, vol. 5, no. 3, p. 303, Jan. 2019, doi: 10.24198/Jppm.V5i3.20579.
[6] R. A. T. Prakoso, “Identitas Diri Perempuan Pekerja Seks Komersial,” Jurnal Psikologi, 2020.
[7] W. Chaidir and J. M. R. Tuapattinaja, “Kebermaknaan Hidup pada Pekerja Seks Komersil (PSK),” Psikologia, vol. 13, no. 3, pp. 153–161, Sep. 2019, doi: 10.32734/Psikologia.V13i3.2275.
[8] H. S. Qoriah and Y. T. Ningsih, “Gambaran Makna Hidup pada Beberapa Kalangan Masyarakat di Indonesia: Sebuah Kajian Literatur,” Jurnal Psikologi Teori dan Terapan, 2021.
[9] L. Wijayanti and S. Damawiyah, “Pemahaman Makna Hidup dalam Perspektif Kesehatan pada Lansia di Panti Werdha,” Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, vol. 5, no. 2, Dec. 2020, doi: 10.30651/Jkm.V5i2.6418.
[10] H. E. Setiawan and H. Sakti, “Penemuan Makna Hidup pada Residivis di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Semarang,” Jurnal Empati, vol. 8, no. 1, pp. 40–48, Mar. 2019, doi: 10.14710/Empati.2019.23572.
[11] S. Ritaudin, “Persepsi Tokoh Masyarakat terhadap Aspek Politik Eksistensi Pekerja Seks Komersial (PSK) di Eks Lokalisasi Rawa Laut Panjang Selatan Bandar Lampung,” Tapis, vol. 15, no. 1, pp. 171–201, Jun. 2019, doi: 10.24042/Tps.V15i1.4303.
[12] V. E. Frankl, Man’s Search for Meaning. Boston, MA, USA: Beacon Press, 2006.
[13] D. Oleh, “Logoterapi dalam Meningkatkan Kebermaknaan Hidup Ditinjau Menurut Konseling Islam,” Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 2021.
[14] D. Firmansyah and Dede, “Teknik Pengambilan Sampel Umum dalam Metodologi Penelitian: Literature Review,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik, vol. 1, no. 2, pp. 85–114, Aug. 2022, doi: 10.55927/Jiph.V1i2.937.
[15] M. Anieg, “Makna Hidup Sufi di Era Modern,” Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, vol. 13, 2022.
[16] R. Fadhlah, “Makna Hidup pada Pekerja Seks Komersial,” Undergraduate Thesis, Universitas Medan Area, Medan, Indonesia, 2023.
[17] N. Netrawati, Y. Syukur, and A. Setiawan, “Improving the Self-Concept of Women Commercial Sex Workers with Group Counseling Solution-Focused Brief Counseling Approach,” Sawwa Journal of Gender Studies, vol. 18, no. 2, pp. 285–306, Oct. 2023, doi: 10.21580/Sa.V18i2.18516.
[18] C. R. Sayoga, S. Niman, and L. Livolina, “Motivasi Pekerja Seks Komersial untuk Berhenti dari Pekerjaannya di PKBI Klinik Mawar Bandung,” Jurnal Keperawatan, 2022.
[19] E. L. Sari, “Social Behavior of Sex Commercial Workers on the Road Bambu Kuning Pekanbaru,” Jurnal Sosiologi, 2021.
[20] T. S. Beattie, B. Smilenova, S. Krishnaratne, and A. Mazzuca, “Mental Health Problems Among Female Sex Workers in Low- and Middle-Income Countries: A Systematic Review and Meta-Analysis,” PLOS Medicine, vol. 17, no. 9, p. e1003297, Sep. 2020, doi: 10.1371/journal.pmed.1003297.
[21] E. Kuswatun, “Konseling Religius: Suatu Proses Penemuan Makna Hidup Remaja Gagal Menikah,” Jurnal Konseling Religi, 2021.
[22] T. S. Mulati and P. Ratnasari, “Perilaku Pekerja Seks Komersial terhadap Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Lokalisasi Kalinyamat Bandungan,” Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2020.
[23] B. A. Pangestu, Y. Yuhastina, and A. Rahman, “Socio-Cultural Adaptation Strategies of Former Commercial Sex Workers in Building Public Acceptance in Surakarta,” JIDS, vol. 6, no. 2, pp. 162–174, Feb. 2023, doi: 10.38043/Jids.V6i2.3704.
[24] P. P. Santih, I. R. Hardika, and I. W. Damayana, “Strategi Coping Stres Waria Pekerja Seks Komersial di Denpasar Bali,” Jurnal Psikologi Udayana, vol. 6, no. 1, 2022.
[25] V. Hidayat, “Kebermaknaan Hidup pada Mahasiswa Semester Akhir,” Jurnal Psikologi Integratif, vol. 6, no. 2, p. 141, Jan. 2019, doi: 10.14421/Jpsi.V6i2.1491.
[26] Z. E. Akbar and Nurmina, “Gambaran Makna Hidup pada PSK Remaja yang Menjalani Rehabilitasi di PSKW Andam Dewi Solok,” Causalita, vol. 2, no. 1, pp. 20–30, Feb. 2024, doi: 10.62260/Causalita.V2i1.103.
[27] M. P. Persada, “Labelling Masyarakat terhadap Anak Pekerja Seks Komersial di Jombang,” Jurnal Sosiologi, 2020.
[28] R. Rahman and Y. Y. Putra, “Gambaran Defense Mechanism pada Perempuan yang Berprofesi sebagai WTS,” Jurnal Psikologi Klinis, 2021.
[29] A. Aswar, M. Munaing, and J. Justika, “Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Kualitas Hidup ODHA di Kota Makassar,” Jurnal RAP, vol. 11, no. 1, p. 80, Sep. 2020, doi: 10.24036/Rapun.V11i1.109551.
[30] R. Dewi, “Sumber Makna Hidup bagi Narapidana di Lapas Kelas IIA Banda Aceh,” JSAI, vol. 1, no. 3, pp. 212–216, Nov. 2020, doi: 10.22373/Jsai.V1i3.766.
[31] Z. Utami and H. Z. Wadjo, “Perlindungan Hukum terhadap Pekerja Seks Komersial Anak di Kabupaten Kepulauan Aru,” Jurnal Hukum, vol. 1, no. 1, 2021.
[32] S. H. Cook, E. P. Wood, F. Kapadia, and P. N. Halkitis, “Adult Attachment Anxiety Is Protective Against the Effects of Internalized Homophobia on Condomless Sex Among Young Sexual Minority Men: The P18 Cohort Study,” The Journal of Sex Research, vol. 61, no. 5, pp. 742–749, Jun. 2024, doi: 10.1080/00224499.2023.2167192.
[33] B. M. King, “The Influence of Social Desirability on Sexual Behavior Surveys: A Review,” Archives of Sexual Behavior, vol. 51, no. 3, pp. 1495–1501, Apr. 2022, doi: 10.1007/s10508-021-02197-0.
[34] C. Kruger, “Culture, Trauma and Dissociation: A Broadening Perspective for Our Field,” Journal of Trauma and Dissociation, vol. 21, no. 1, pp. 1–13, Jan. 2020, doi: 10.1080/15299732.2020.1675134.
[35] W. M. Y. Hailitik and M. E. Setianingrum, “Hubungan antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Psychological Well-Being pada Pekerja Seks Komersial di Panti Rehabilitasi,” Jurnal Psikologi, vol. 11, no. 2, pp. 137–150, Nov. 2019, doi: 10.31001/J.Psi.V11i2.543.