Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Pengaruh Konformitas Teman Sebaya Dan Kontrol Diri Dengan Kepatuhan Terhadap Tata Tertib Sekolah Pada Siswa SMK X di Nganjuk

The Influence of Peer Conformity and Self-Control on Compliance with School Regulations Among Students of SMK X in Nganjuk
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Dita Natasya Halimatussa Diyah (1), Eko Hardi Ansyah (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Student compliance with school regulations remains a central issue in educational psychology, particularly in understanding behavioral discipline among adolescents. Specific Background: School rule violations are frequently associated with limited self-regulation capacity and strong peer group pressure within the school environment. Knowledge Gap: Previous studies have examined self-control and peer conformity separately, yet limited empirical research has simultaneously analyzed their contribution to school rule compliance within a unified regression framework. Aims: This study aims to examine the relationship and contribution of self-control and peer conformity to students’ compliance with school regulations. Results: The findings indicate that self-control shows a significant positive association with compliance behavior, while peer conformity also contributes significantly. Simultaneously, both variables explain a meaningful proportion of variance in students’ adherence to school rules. Novelty: This study integrates internal regulatory factors and social conformity variables in a single predictive model within the context of secondary education. Implications: The results provide an empirical basis for school counselors and educators to design guidance programs focusing on strengthening self-regulation skills and managing peer group dynamics to foster disciplined behavior.


Keywords: Self Control, Peer Conformity, School Rule Compliance, Student Discipline, Educational Psychology


Key Findings Highlights




  1. Internal regulation capacity is strongly associated with adherence to institutional rules.




  2. Group alignment tendencies contribute to behavioral adjustment in academic settings.




  3. Combined predictive modeling explains substantial variance in disciplinary behavior.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Remaja merupakan merupakan masa transisi dari kehidupan masa kanak-kanak (childhood) ke masa dewasa (adulthood). Menurut Santrock remaja merupakan tahap dimana individu berusia 11-18 tahun [1]. Kondisi remaja rentan akan berbagai perilaku negatif seperti halnya kenakalan remaja karena dalam masa tidak stabil [2]. Masa remaja merupakan periode yang sulit untuk ditempuh, sehingga remaja sering dikatakan sebagai kelompok umur bermasalah (the troubleteens). Siswa diartikan sebagai individu yang sedang menempuh pendidikan, yang dalam beberapa literatur juga disebut sebagai anak didik. Menurut Undang-Undang Pendidikan No. 2 Tahun 1989, siswa dikenal sebagai peserta didik [3]. Pendidikan adalah kunci utama dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang unggul dan berkompeten dalam berbagai bidang [4]. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tujuan membentuk generasi bangsa yang berkualitas, tentunya sangat diperlukan suatu aturan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Tujuan peraturan sekolah adalah untuk menciptakan suatu kondisi yang menunjang kelancaran, ketertiban dan suasana yang damai dalam pembelajaran. Peraturan yang membentuk kedisiplinan disebut dengan tata tertib sekolah [5]. Tata tertib merupakan aturan yang wajib dipatuhi dan dijalankan oleh siswa sebagai bentuk kesadaran akan hukum dan peraturan[6].

Jika sekolah tidak memiliki tata tertib yang jelas, akan timbul perilaku yang tidak tertib, tidak teratur, dan tidak terkendali yang pada akhirnya akan mengganggu proses pembelajaran. Tata tertib dibuat agar siswa bisa bertanggung jawab dan bisa berperilaku sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Setiap siswa berbeda-beda dalam menyikapi tata tertib yang berlaku, sehingga menimbulkan adanya respon sikap yang berbeda dalam menyikapi tata tertib tersebut. Menurut Alimah (2019) melanggar tata tertib sekolah adalah tindakan yang dilakukan oleh siswa yang bertentangan dengan tata tertib sekolah. Hal ini dapat merugikan banyak pihak, termasuk siswa itu sendiri, orang tua, guru (sekolah), dan masyarakat sekitar [7].

Menurut irwansa (2016), dampak ketidakpatuhan terhadap tata tertib sekolah terbagi menjadi dua kategori yaitu dari dalam diri siswa dan dari lingkungan sekolah. Dampak yang dirasakan oleh diri siswa meliputi perasaan malu dan kemungkinan dikucilkan oleh teman-temannya. Sementara dampak yang dirasakan siswa dari lingkungan sekolah yaitu pelanggaran tata tertib yang menyebabkan siswa menerima sanksi dari sekolah, mendapatkan poin buruk, dan penurunan nilai sikap dari guru. Pelanggaran yang berulang juga bisa berujung pada skorsing, pemanggilan orangtua, serta dikeluarkannya siswa dari sekolah. Penelitian yang dilakukan oleh Utomo (2019) memberikan hasil bahwa pelanggaran tata tertib sekolah berdampak pada kondisi psikis dan akademik siswa. Dalam hal ini, dampak yang terjadi secara psikis adalah siswa menjadi pribadi yang kurang percaya diri karena sering melakukan pelanggaran tata tertib, sedangkan dampak akademik yaitu ketika mereka tidak memperhatikan guru yang sedang memberikan materi atau bolos tentu saja mereka tidak memahami materi yang disampaikan[8].

Menurut Elizabeth B. Hurlock, menyatakan bahwa jika ketidakpatuhan tata tertib sekolah oleh siswa tidak segera ditindaklanjuti, hal ini dapat menyebabkan gangguan psikologis, di mana ketidakpatuhan cenderung memberikan kepuasan yang mendorong siswa untuk mengulanginya[9]. Jika siswa merasa puas dengan perilaku melanggar, mereka tidak akan memiliki dorongan untuk bersikap baik. Seiring waktu, mereka akan mulai percaya bahwa tindakan mereka tidak layak untuk diterima oleh masyarakat, yang pada akhirnya menyebabkan mereka merasa tidak berharga. Keyakinan ini kemudian dapat berkembang menjadi perasaan ketidakmampuan dan rendah diri, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Oleh karena itu, pelanggaran peraturan sekolah dapat menjadi ancaman serius bagi penyesuaian pribadi dan sosial anak-anak. Urgensi penelitian ini menjadi semakin jelas mengingat bahwa ketidakpatuhan terhadap tata tertib sekolah tidak hanya berdampak pada aspek akademik dan psikis siswa, tetapi juga dapat mempengaruhi perkembangan karakter dan masa depan mereka.

Dalam upaya untuk memahami situasi dilapangan, peneliti melakukan wawancara yang dilakukan di SMK X di Nganjuk dengan waka kurikulum dan waka kesiswaan pada hari Sabtu tanggal 8 Juli 2023, diketahui bahwa pihak sekolah telah menetapkan beberapa aspek peraturan, di antaranya sopan santun terhadap teman, guru dan karyawan, kedisiplinan, kehadiran siswa, tidak terlibat narkoba, kenakalan remaja, dan kejahatan lainnya kemudian tanggung jawab siswa terhadap kegiatan akademik., didapatkan informasi bahwa setiap hari terdapat siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Kemudian selain peraturan keterlambatan datang kesekolah, ada juga pelanggaran peraturan yang cukup banyak dilanggar oleh siswa yaitu ketidak hadiran ( Alpha ) atau bolos sekolah. Sekolah menetapkan peraturan bahwa ketidak hadiran ( Alpha ) kurang dari sama dengan 24 dalam satu tahun pelajaran. Pada tahun pelajaran 2022/2023 terdapat 57 siswa yang belum memenuhi syarat tidak naik kelas.

Penelitian ini didukung oleh survei awal yang dilakukan oleh peneliti menggunakan googlefrom yang diisi oleh 12 siswa dari SMK X di Nganjuk. Dari 12 siswa 58,3% menyatakan pernah melanggar peraturan sekolah, 8,3 % menyatakan bahwa sangat setuju pernah melanggar peraturan, dan 33,3% menyatakan tidak pernah melanggar peraturan. Dari 12 siswa 16,7% menyatakan bahwa tetap melanggar peraturan sekolah meskipun telah menerima sanksi. Siswa menyatakan bahwa pelanggaran yang pernah mereka lakukan adalah bolos sekolah, terlambat, tidak mengikuti pelajaran dikelas tetapi jajan dikantin sebelum jam istirahat, ramai, tidak mengikuti ekstrakulikuler dan memecahkan jam dinding dikelas. Untuk memastikan tata tertib berfungsi dengan efektif dan mencapai tujuannya, diperlukan kepatuhan dari seluruh warga sekolah. Kepatuhan ini tidak hanya diterapkan dalam kelas tetapi juga dalam aktivitas di sekolah seperti kegiatan ekstrakulikuler, tata tertib berpakaian dan lain sebagainya[10].

Menurut Blass, kepatuhan adalah tindakan menerima dan mengikuti perintah dari orang lain, yang dapat terjadi dalam berbagai bentuk selama individu tersebut menunjukkan sikap patuh terhadap sesuatu atau seseorang, seperti peraturan. Seorang individu dianggap mematuhi perintah atau aturan yang berlaku jika memiliki tiga dimensi kepatuhan yang terkait dengan sikap dan perilaku patuh, yakni mempercayai (belief), menerima (accept), dan melakukan (act). Dimensi mempercayai merujuk pada keyakinan individu terhadap otoritas atau aturan yang berlaku, di mana individu yang memiliki keyakinan kuat terhadap otoritas lebih cenderung menerima dan mengikuti perintah. Dimensi menerima berkaitan dengan sejauh mana individu menerima perintah atau aturan tanpa perlawanan atau keraguan, yang mana ketika individu menerima perintah dengan sepenuh hati, mereka menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi. Dimensi melakukan berhubungan dengan tindakan nyata dari individu dalam mematuhi perintah atau aturan, di mana kepatuhan yang sesungguhnya terlihat dari perilaku nyata yang sesuai dengan instruksi atau ketentuan yang diberikan. Dengan demikian, kepatuhan tidak hanya mencakup tindakan mengikuti perintah, tetapi juga melibatkan aspek kepercayaan dan penerimaan yang mendasari perilaku tersebut [11].

Menurut Eka Rusnaeni kepatuhan terhadap tata tertib adalah segala sesuatu yang harus menjadi nilai moral atau norma sebagai yang harus ditanamkan sejak kecil. Hal ini akan membantu kita memahami pentingnya aturan yang mengikat kita dalam kehidupan sosial[12]. Sedangkan menurut kurnasih (2014), kepatuhan terhadap tata tertib adalah kesadaran akan manfaat peraturan yang kemudian menciptakan kesetiaan terhadap nilai-nilai peraturan yang berlaku dalam kehidupan bersama. Kesadaran ini diwujudkan dalam bentuk perilaku nyata. Seseorang mematuhi peraturan apabila ia menyadari bahwa peraturan tersebut berfungsi untuk melindungi kepentingan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial[13].

Kepatuhan siswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Menurut Brown, faktor internal meliputi aspek-aspek yang berasal dari diri individu itu sendiri seperti kontrol diri, keadaan emosional, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sementara itu, faktor eksternal mencakup elemen-elemen yang berasal dari luar individu, seperti pengaruh keluarga, teman sebaya, sistem sekolah yang mencakup kebijakan dan aturan, lingkungan sekolah, serta faktor demografi seperti usia, etnis, dan jenis kelamin. Selain itu peran guru dan sanksi yang diberikan oleh guru juga turut mempengaruhi kepatuhan siswa[14].

Berdasarkan tahap perkembangan siswa SMK sebagai remaja, mereka memiliki dorongan yang kuat untuk mendapatkan persetujuan dan diterima oleh teman sebaya atau kelompok mereka. Hal ini menyebabkan siswa cenderung meniru tindakan atau perilaku kelompoknya, bahkan jika tindakan tersebut melanggar tata tertib sekolah. Konformitas teman sebaya termasuk ke dalam faktor eksternal yang diduga dapat mempengaruhi kepatuhan pada individu [15]. Menurut Wiggins konformitas adalah kecenderungan untuk mengikuti keinginan dan norma kelompok Anggota kelompok biasanya memiliki rentang usia atau tingkat kematangan yang serupa. Terdapat dua aspek penting dalam konformitas teman sebaya. Yang pertama adalah kerelaan, yaitu suatu sikap dimana individu dengan sukarela mengikuti pandangan dan pendapat kelompok untuk mendapatkan pujian serta menghindari celaan atau kritik. Aspek kedua adalah perubahan, yang mencakup perubahan dalam penampilan, sikap, dan perilaku individu. Perubahan ini dilakukan sebagai bentuk penyesuaian diri dengan lingkungan kelompok, sehingga individu dapat lebih diterima dan berintegrasi dalam kelompok tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Nuraini dengan judul “ Hubungan konformitas teman sebaya dan kontrol diri dengan kepatuhan terhadap peraturan sekolah pada siswa SMK Negeri 6 Yogyakarta“ menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara konformitas teman sebaya dengan kepatuhan terhadap peraturan sekolah artinya semakin tinggi konformitas teman sebaya maka semakin rendah tingkat kepatuhan tehadap peraturan sekolah. Konformitas positif dalam kelompok sebaya dapat memberikan dampak baik bagi remaja. Ketika remaja sering membicarakan kegiatan positif yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, kesesuaian positif ini dapat memotivasi mereka untuk menjadi lebih baik dari teman-temannya. Sebaliknya, konformitas negatif menarik perhatian kelompok sebaya karena memiliki dampak buruk bagi remaja. Remaja yang terlibat dalam konformitas negatif mulai merasa takut akan penolakan atau diabaikan oleh teman-temannya, yang dapat menyebabkan perasaan kesepian atau permusuhan[16].

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kepatuhan yaitu kontrol diri. Menurut Averill kontrol diri adalah kemampuan individu untuk memodifikasi perilaku, kemampuan individu dalam mengelola informasi yang diinginkan dan yang tidak diinginkan, dan kemampuan individu untuk memilih salah satu tindakan berdasarkan sesuatu yang diyakini. Pengertian yang dikemukakan oleh Averill berfokus pada serangkaian kemampuan mengatur dalam memilih tindakan yang sesuai dengan yang diyakininya[17]. Adanya kontrol diri juga mampu mengubah perilaku remaja yang negatif menjadi positif. Remaja dengan kontrol diri yang cukup diharapkan mampu menahan atau mengendalikan tingkah laku negatif agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, serta mampu memposisikan dirinya secara baik dengan keluarga, teman maupun masyarakat. Kontrol diri terdiri dari tiga aspek, yaitu kontrol perilaku, kontrol kognitif, dan kontrol keputusan. Kemampuan mengontrol diri dapat membantu individu untuk berperilaku lebih terarah dan dapat menyalurkan dorongan dari dalam dirinya secara benar, sehingga mencegah dari perbuatan melanggar norma atau peraturan yang berlaku[18]. Menurut Averill terdapat tiga aspek kontrol diri, yaitu kontrol perilaku (behavior control), kontrol konitif (cognitive control), dan mengontrol kepuasan (decisional control)[19].

Penelitian yang dilakukan oleh Tira dengan judul “Kontrol Diri dan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Kepatuhan Santri dalam Melaksanakan Tata Tertib” menunjukkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan dengan arah positif antara kontrol diri dan kepatuhan santri dalam melaksanakan tata tertib hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kontrol diri santri maka semakin tinggi kepatuhan santri dalam melaksanakan tata tertib[20]. Selanjutnya bagaimana jika faktor eksternal dan internal diteliti secara bersamaan seperti penelitian yang dilakukan oleh Novianda dengan judul “Pengaruh Kontrol Diri dan Konformitas Teman Sebaya Terhadap Kepatuhan Tata Tertib Pada Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)” menunjukkan bahwa kontrol diri dan konformitas teman sebaya secara bersama-sama memiliki pengaruh sebesar 24,5 % terhadap tata tertib. Hal ini menunjukkan bahwa kontrol diri dan konformitas teman sebaya berperan dalam kepatuhan terhadap tata tertib siswa. Kemampuan kontrol diri siswa diperlukan untuk membantu mereka berperilaku lebih terarah dan menahan diri dari dorongan negatif di lingkungan teman sebaya, sehingga mencegah perilaku melanggar tata tertib sekolah[21].

Berdasarkan hasil survey dan analisa teori yang telah dijelaskan diatas peneliti menemukan rumusan masalah: apakah ada pengaruh konformitas teman sebaya dan kontrol diri dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah pada siswa SMK X di Nganjuk. Dengan hipotesis minor yang diajukan yaitu konformitas teman sebaya berpengaruh dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah pada SMK X di Nganjuk, dan control diri berpengaruh dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah pada SMK X di Nganjuk Sedangkan hipotesis mayor ialah Konformitas teman sebaya dan kontrol diri berpengaruh dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah pada SMK X di Nganjuk. Berdasarkan pernyataan diatas, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Konformitas Teman Sebaya dan Kontrol Diri Dengan Kepatuhan Terhadap Tata Tertib Sekolah Pada Siswa SMK X di Nganjuk.

Metode

Metode penelitian ini adalah kuantitatif Inferensial. Analisis inferensial digunakan untuk menarik kesimpulan mengenai populasi dengan menggunakan data sampel yang diambil dari populasi tersebut. Teknik ini mencakup berbagai metode seperti uji hipotesis, analisis regresi, analisis varians (ANOVA), dan uji korelasi. Melalui analisis inferensial, peneliti dapat menguji hipotesis, menemukan hubungan antar variabel, membuat prediksi, serta merumuskan kesimpulan yang lebih umum mengenai fenomena yang sedang diteliti[22]. Penelitian ini melibatkan tiga variabel, yang terdiri dari dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini mencakup dua variabel yaitu konformitas teman sebaya (X1) dan kontrol diri (X2), sementara itu variabel terikat (Y) yang diteliti adalah kepatuhan terhadap tata tertib.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK X di Nganjuk tahun ajaran 2022/2023 jumlah Siswa SMK kelas X, XI, dan XII berada pada rentang usia 15-18. Populasi yang berada di SMK X di Nganjuk berjumlah 843 siswa. Teknik pengambilan sampel ditentukan dari jumlah populasi penelitian. Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel acak sederhana (simple random sampling). Sampel acak sederhana (simple random sampling) ialah suatu sampel diambil dengan cara sedemikian rupa sehingga unit penelitian dari populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai bagian dari sampel[23]. Sampel diambil berdasarkan jumlah populasi dengan menggunakan tabel penentuan jumlah sampel Isaac dan Michael dari jumlah populasi 843 dengan taraf kesalahan 5% maka jumlah sampelnya adalah 247 siswa. Pengambilan data dilaksanakan pada 19 Februari 2024.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga jenis skala, yaitu skala konformitas teman sebaya, skala kontrol diri, dan skala kepatuhan terhadap tata tertib. Penelitian ini menggunakan skala likert sebagai instrumen pengukuran. Pernyataan-pernyataan dalam skala tersebut terdiri dari dua jenis aitem, yakni aitem positif (favourable) dan aitem negatif (unfavourable). Setiap memberikan empat pilihan jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS).

Peneliti melakukan adaptasi terhadap skala konformitas teman sebaya yang dikembangkan oleh Mulyasri, berdasarkan dimensi-dimensi konformitas teman sebaya yang diuraikan oleh Wiggins. Koefisien validitas aitem yang valid berkisar antara 0,353 hingga 0,635 dengan total 22 aitem yang dinyatakan valid. Uji reabilitas menggunakan Alpha Cronbach menunjukkan koefisien 0,865 yang mengindikasikan bahwa instrumen konformitas teman sebaya memiliki tingkat reabilitas yang sangat kuat [24]. Wiggins mengidentifikasi dua aspek konformitas teman sebaya yaitu, kerelaan dan perubahan. Hasil uji validitas dan reabilitas yang dilakukan pada subjek penelitian menunjukkan bahwa aitem valid berkisar antara 0,303 hingga 0,616 dengan 5 aitem yang tidak lolos uji. Uji reabilitas skala konformitas teman sebaya menunjukkan nilai 0,825. Dari hasil uji tersebut, terdapat 11 aitem favourable dan 6 aitem unfavourable, sehingga skala konformitas teman sebaya akhirnya terdiri dari 17 aitem.

Skala kontrol diri yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasi dari skala yang disusun oleh Ghufron, M. Nur, berdasarkan dimensi-dimensi kontrol diri yang diuraikan oleh Averill. Koefisien validitas aitem valid pada skala ini berkisar antara 0,365 hingga 0,643 dengan 27 aitem yang dinyatakan valid. Uji reabilitas menggunakan Alpha Cronbach menunjukkan koefisien sebesar 0,892 yang menandakan bahwa instrumen kontrol diri memiliki tingkat reabilitas yang sangat kuat. Menurut Averill, terdapat tiga aspek utama dalam kontrol diri yaitu a. kontrol perilaku (behavioral control), b. kontrol kognitif (cognitive control) dan c. kontrol keputusan (decision control)Hasil uji validitas dan reabilitas yang telah diujikan kepada subjek penelitian menunjukkan hasil aitem valid bergerak dari 0,250 sampai 0,516 dengan aitem yang gugur 2 aitem. Uji reabilitas skala kontrol diri yaitu didapat 0.844. Aitem favourable 15 dan unfavourable 10 sehingga menyisakan 25 aitem skala kontrol diri.

Skala kepatuhan terhadap tata tertib diadaptasi dari skala kepatuhan terhadap tata tertib yang disusun berdasarkan dari dimensi – dimensi yang diungkapkan oleh Blass dalam Kusumadewi (2012) yang terdiri dari Mempercayai (belief), Menerima (accept) dan Melakukan (act)[13]. Aitem yang valid 26 aitem bergerak dari 0,343 sampai 0,762. Reliabilitas instrumen kepatuhan terhadap tata tertib yang diukur menggunakan Alpha Cronbach menunjukkan nilai koefisien 0,892 yang mengindikasikan bahwa instrument ini memiliki tingkat reabilitas yang sangat kuat. Uji validitas dan reabilitas yang dilakukan terhadap subjek penelitian menunjukkan nilai validitas berkisar antara 0,311 hingga 0,547 dengan beberapa aitem yang tidak lolos uji. Uji reabilitas skala kepatuhan menghasilkan nilai 0,838 dari total aitem terdapat 13 aitem favourable dan 7 aitem unfavourable sehingga skala kepatuhan akhir terdiri dari 20 aitem.

Teknik yang digunakan untuk menganalisis validitas instrument penelitian menggunakan teknik item rest correlation dari setiap aitem penelitian. Uji reliabilitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan Alpha Chronbach. Analisis validitas dan reliabilitas Intrument penelitian menggunakan software SPSS versi 22.0. Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis multiple regression linier. Multiple regression linier atau sering disebut juga analisis regresi linier berganda merupakan analisis hubungan antara beberapa variabel independen dengan satu variabel dependen[25]. Tujuan dari analisis regresi linier berganda adalah mengetahui seberapa besar pengaruh beberapa variabel bebas terhadap variabel tidak bebas. Adapun software yang digunakan untuk mengolah data menggunakan software SPSS versi 22.0 for Windows.

Hasil dan Pembahasan

Hasil Penelitian

Data demografis adalah proses analisis yang digunakan untuk memeriksa dan memahami karakteristik demografis dari sampel yang diteliti. Uji data demografis membantu peneliti memahami komposisi sampel penelitian. Berdasarkan data demografis yang disajikan terdapat 247 subjek yang terdiri dari 234 laki-laki dan 13 perempuan. Dilihat dari rata-rata nilai konformitas teman sebaya (X1) sebesar 43,08 sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan yang memiliki nilai rata-rata 42,71. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki sedikit lebih cenderung untuk mengikuti tekanan teman sebaya dibandingkan perempuan. Namun untuk kontrol diri (X2) perempuan menunjukkan nilai rata-rata yang sedikit lebih tinggi yaitu 68,87 dan laki-laki 68,58. Ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kontrol diri yang sedikit lebih baik daripada laki-laki. Kepatuhan terhadap tata tertib (Y) menunjukkan nilai yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan, dengan nilai rata-rata sebesar 60,38 dan 60,34. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat kepatuhan terhadap tata tertib yang serupa.

Subjek Jumlah Persentase Konformitas Teman Sebaya (X1) Kontrol Diri (X2) Kepatuhan Terhadap Tata Tertib (Y)
Jenis Kelamin
Laki Laki 234 94,73% 43,08 68,58 60,38
Perempuan 13 5,26% 42,71 68,87 60,34
247 99,99% 43,08502024 68,58299595 60,38866397
Usia
15 Tahun 12 4,85% 42,98 68,60 60,44
16 Tahun 110 44,53% 42,97 68,62 60,38
17 Tahun 125 50,60% 43,11 68,63 60,39
Total 247 99,98% 43,08502024 68,58299595 60,38866397
Table 1. Tabel 1 Uji Data Demografis

Uji Asumsi

Uji asumsi merupakan sebuah rangkaian uji yang bertujuan untuk menentukan terpenuhi atau tidaknya asumsi yang terdapat pada sebuah model pengukuran sebelum melakukan uji regresi linier berganda[26]. Pengabaian atau tidak terpenuhinya asumsi klasik disebut sebagai pelanggaran asumsi klasik. Untuk menghindari pelanggaran ini, perlu dilakukan serangkaian uji asumsi klasik. Adapun uji asumsi yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari uji normalitas, uji linearitas, uji multikolinearitas, dan uji heterokedastisitas. Berikut hasil analisis yang telah di lakukan :

1. Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2018), uji normalitas adalah uji prasyarat penting dalam analisis statistik. Uji ini digunakan untuk menentukan apakah data penelitian terdistribusi secara normal atau tidak, yang merupakan syarat untuk melakukan uji regresi linier berganda. Data dinyatakan terdistibusi normal jika p-value > 0,05[27]. Adapun kriteria untuk sebuah data dapat dikatakan normal adalah nilai p-value > 0,05 Berdasarkan hasil uji normalitas residual dengan metode kolmogorov smirnov yang telah dilakukan, maka ditemukan bahwa residual data terdistribusi secara normal (p-value=.200). Bedasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas telah terpenuhi.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 247
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation 4,09598054
Most Extreme Differences Absolute ,037
Positive ,033
Negative -,037
Test Statistic ,037
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
a. Test distribution is Normal.
Table 2. Tabel 2 Uji Normalitas Residual

2. Uji Linieritas

Uji linearitas merupakan salah satu uji asumsi yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan linear antara variabel-variabel yang diteliti. Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah data memiliki hubungan linear adalah nilai linearity sig < 0,05 [27]. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada tabel 3 diketahui bahwa nilai Sig Deviation Linearity = 0,006 < 0,05 dan Sig. Linearity = 0,000 < 0,05, maka ditemukan bahwa terdapat hubungan linear antara konformitas teman sebaya dengan kepatuhan terhadap tata tertib siswa. Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa nilai Sig Deviation Linearity = 0,188 > 0,05 dan Sig. Linearity = 0.000 < 0,05, maka ditemukan bahwa terdapat hubungan linear antara kontrol diri dan kepatuhan terhadap tata tertib siswa. Dari hasil keduanya dimana nilai (sig < 0,05) maka, dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa asumsi linearitas telah terpenuhi.

ANOVA Table
Sum of Squares df Mean Square F p-value
Kepatuhan Terhadap Tata Tertib * Konformitas Teman Sebaya Between Groups (Combined) 1513,035 31 48,808 2,868 ,000
Linearity 552,109 1 552,109 32,438 ,000
Deviation from Linearity 960,927 30 32,031 1,882 ,006
Within Groups 3659,402 215 17,020
Total 5172,437 246
Table 3. Tabel 3 Uji Liniearitas Konformitas Teman Sebaya - Kepatuhan Terhadap Tata Tertib
ANOVA Table
Sum of Squares df Mean Square F p-value
Kepatuhan Terhadap Tata Tertib * Kontrol Diri Between Groups (Combined) 1140,011 30 38,000 2,036 ,002
Linearity 463,916 1 463,916 24,850 ,000
Deviation from Linearity 676,095 29 23,314 1,249 ,188
Within Groups 4032,426 216 18,669
Total 5172,437 246
Table 4. Tabel 4 Uji Kontrol Diri - Kepatuhan Terhadap Tata Tertib

3. Uji Multikolinearitas

Menurut Ghozali (2018), uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variabel independen dalam sebuah model regresi. Idealnya, model regresi tidak boleh menunjukkan adanya korelasi antara variabel-variabel independen tersebut. Nilai yang digunakan untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah Tolerance > 0,10 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) < 10[28]. Berdasarkan uji multikolinearitas yang telah dilakukan, maka dapat ditemukan bahwa nilai VIF < 10 (VIF=1.001) dan nilai Tolerance (T) sebesar 0,999 > 0,10. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat ditentukan bahwa uji asumsi multikolinearitas telah terpenuhi.

Coefficients a
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t p-value Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 43,163 3,704 11,654 ,000
Konformitas Teman Sebaya ,270 ,046 ,335 5,863 ,000 ,999 1,001
Kontrol Diri ,241 ,045 ,309 5,400 ,000 ,999 1,001
a. Dependent Variable: Kepatuhan Terhadap Tata Tertib
Table 5. Tabel 5 Uji Multikolinearitas

4. Uji Heterokedastisitas

Menurut Ghozali (2018), uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengidentifikasi apakah terdapat perbedaan varians residual antara satu pengamatan dengan pengamatan lainnya. Uji ini dilakukan dengan melihat grafik scatterplot, di mana sumbu Y menunjukkan nilai SRESID dan sumbu X menunjukkan nilai ZPRED. Jika terlihat adanya pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola teratur (misalnya bergelombang, melebar, lalu menyempit), maka hal tersebut menunjukkan adanya heteroskedastisitas.[28]. Berdasarkan grafik, maka dapat ditemukan bahwa titik-titik scatter plot menyebar kesegala arah dan merata pada titik atas sumbu dan titik bawah Y. Bedasarkan hasil tesebut maka dapat disimpulkan bahwa uji Heterokedastisitas telah terpenuhi.

Figure 1. Gambar 1 Grafik Scatterplot Heterokedastisitas

Uji Hipotesis

1. Uji Hipotesis Pertama

Hipotesis yang akan diuji ialah “ Terdapat Pengaruh Konformitas Teman Sebaya dan Kontrol Diri Terhadap Kepatuhan Terhadap Tata Tertib Sekolah Pada Siswa SMK X di Nganjuk”. Uji F dilakukan untuk melihat pengaruh dari keseluruhan variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Jika nilai Signifikan F < 0,05 maka dapat diartikan bahwa variabel bebas secara bersama-sama mempengaruhi variabel terikat.

Model Summary b
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Change Statistics
R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change
1 .450a ,202 ,196 4,113 ,202 30,899 2 244 ,000
Table 6. Tabel 6 Hasil R square pada Uji Hipotesis Pertama
ANOVA a
Model Sum of Squares df Mean Square F p-value
1 Regression 1045,281 2 522,641 30,899 .000b
Residual 4127,156 244 16,915
Total 5172,437 246
Table 7. Tabel 7 Uji F pada Uji Hipotesis Pertama

Bedasarkan hasil uji F yang telah dilakukan, maka ditemukan bahwa model regresi konformitas teman sebaya dan kontrol diri dapat berpengaruh secara signifikan dengan kepatuhan terhadap tata tertib dari siswa pada populasi penelitian. Berdasarkan tabel 6 hasil hipotesis diketahui bahwa nilai R = 0,450 dan nilai F =30,899, p-value. 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian konformitas teman sebaya dan kontrol diri dapat berpengaruh secara signifikan dengan kepatuhan terhadap tata tertib dapat terbukti benar sehingga H1 dapat diterima. Selanjutnya hasil sumbangan efektif yang diberikan konformitas teman sebaya dan kontrol diri dengan kepatuhan terhadap tata tertib dapat dinilai dari nilai R2 =0,202 atau jika dipersentasekan maka menjadi 20,2%. Maka, dapat dikatakan bahwa sekitar 79,8% fenomena kepatuhan terhadap tata tertib pada sampel penelitian dipengaruhi oleh faktor lain yang berada diluar variabel konformitas teman sebaya dan juga kontrol diri.

2. Uji Hipotesis kedua dan ketiga

Uji hipotesis kedua dalam penelitian ini ialah adanya pengaruh konformitas teman sebaya dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah pada siswa SMK X di Nganjuk. Pada tabel 8 menunjukkan hasil bahwa konformitas teman sebaya memiliki sumbangan efektif 8,83 % pada variabel kepatuhan terhadap tata tertib. Kemudian uji hipotesis ketiga adanya pengaruh kontrol diri dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah pada siswa SMK X di Nganjuk. Hasil pada tabel 8 menunjukkan bahwa sumbangan efektif kontrol diri 7,21% terhadap variabel kepatuhan terhadap tata tertib.

VARIABEL KOEFISIEN REGRESI (BETA) KOEFIESIEN KORELASI (Rxy) R SQUARE Sumbangan Efektif
Konformitas Teman Sebaya 0,270 0,327 0,202 8,83%
Kontrol Diri 0,241 0,299 7,21%
Table 8. Tabel 8 Uji Hipotesis kedua, ketiga dan Sumbangan Efektif

3. Persamaan Regresi

Setelah melakukan analisis regresi linear dengan menggunakan SPSS, maka didapatkan persamaan model linear sebagai berikut:

Y = a + b 1 X1 + b 2 X2 Y = 43,163 + 0,270 X1 + 0,241 X2

43,163 adalah Constant untuk variabel kepatuhan terhadap tata tertib, apabila variabel konformitas teman sebaya dan kepatuhan terhadap tata tertib = 0, sehingga jika diasumsikan nilai kepatuhan terhadap tata tertib adalah 43,163 + 0,270 (X1) merupakan nilai koefisien regresi variabel konformitas teman sebaya terhadap kepatuhan terhadap tata tertib Hal tersebut menunjukkan apabila variabel konformitas teman sebaya mengalami kenaikan sebesar 0,270 artinya terdapat korelasi positif signifikan antara variabel tersebut. Selanjutnya nilai 0,241 (X2) merupakan nilai koefisien regresi variabel kontrol diri terhadap kepatuhan terhadap tata tertib, hal tersebut menunjukkan apabila variabel kontrol diri mengalami peningkatan sebesar 0,241 artinya terdapat korelasi positif signifikan antara kedua variabel tersebut seperti gambar pada tabel dibawah ini.

Coefficients a
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t p-value
Model B Std. Error Beta
1 (Constant) 43,163 3,704 11,654 ,000
Konformitas Teman Sebaya ,270 ,046 ,335 5,863 ,000
Kontrol Diri ,241 ,045 ,309 5,400 ,000
Table 9. Tabel 9 Persamaan Regresi

Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Pengaruh Konformitas Teman Sebaya dan Kontrol Diri dengan Kepatuhan terhadap Tata Tertib Sekolah pada siswa SMK X di Nganjuk”. Dari hasil uji normalitas residual ditemukan bahwa p-value 0,200 > 0,05 hal ini menunjukkan data terdistribusi normal, dan dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas telah terpenuhi. Berdasarkan hasil uji linearitas ditemukan hubungan linear antara variabel-variabel yang diteliti. Nilai Sig. linearity sebesar 0,000 menunjukkan adanya hubungan linear antara konformitas teman sebaya dan kepatuhan terhadap tata tertib siswa. Nilai Sig. linearity sebesar 0,000 menunjukkan adanya hubungan linear antara kontrol diri dan kepatuhan terhadap tata tertib siswa. Dengan nilai Sig. Linearity yang < 0,05 pada kedua analisis, dapat disimpulkan bahwa asumsi linearitas telah terpenuhi.

Berdasarkan hasil uji multikolinearitas nilai (VIF) sebesar 1,001 < 10.00 dan nilai Tolerance sebesar 0,999 > 0,10 menunjukkan bahwa tidak ada masalah multikolinearitas antara variabel independen. Variabel-variabel tersebut tidak saling mempengaruhi satu sama lain secara berlebihan, maka asumsi multikolinearitas telah terpenuhi. Hasil uji heteroskedastisitas berdasarkan grafik yang dihasilkan terlihat bahwa titik-titik scatter plot menyebar secara merata diseluruh arah, baik diatas maupun bawah sumbu Y. Maka hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pola yang jelas dalam sebaran residual. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asumsi heteroskedastisitas telah terpenuhi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya dan kontrol diri bersama-sama memberikan sumbangan efektif terhadap kepatuhan terhadap tata tertib sekolah sebesar 20,2% berdasarkan r square = 0,202. Dengan demikian sekitar 79,8% dari variabel ini dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil uji F yang telah dilakukan, ditemukan bahwa model regresi yang melibatkan konformitas teman sebaya dan kontrol diri memiliki pengaruh signifikan dengan kepatuhan terhadap tata tertib siswa pada populasi penelitian. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa nilai R = 0,450 dan F = 30,899 dengan p-value 0,000 < 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa konformitas teman sebaya dan kontrol diri berpengaruh signifikan dengan kepatuhan terhadap tata tertib terbukti benar, sehingga H1atauhipotesis mayor dapat diterima.

Hipotesis minor pertama yang diajukan yaitu konformitas teman sebaya berpengaruh dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah pada SMK X di Nganjuk. Dari hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya memberikan sumbangan efektif sebesar 8,83% terhadap variabel kepatuhan terhadap tata tertib sekolah. Ini mengindikasikan bahwa konformitas teman sebaya memang memiliki peran penting dalam mempengaruhi kepatuhan siswa terhadap tata tertib sekolah. Kemudian hipotesis minor kedua yang diajukan yaitu kontrol diri berpengaruh dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah pada SMK X di Nganjuk. Dari hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa kontrol diri berkontribusi sebesar 7,21% terhadap variabel kepatuhan terhadap tata tertib. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa untuk mengkontrol diri atau mengendalikan diri juga berpengaruh dalam meningkatkan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah, meskipun tidak sebesar pengaruh konformitas teman sebaya.

Berdasarkan hasil analisis regresi, konstanta untuk variabel kepatuhan terhadap tata tertib adalah 43,163 yang berarti bahwa jika nilai variabel konformitas teman sebaya dan kontrol diri sama dengan nol, maka nilai kepatuhan terhadap tata tertib diprediksi sebesar 43,163. Koefisien regresi 0,270 untuk variabel konformitas teman sebaya menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu kesatuan pada variabel konformitas teman sebaya akan meningkatkan nilai kepatuhan terhadap tata tertib sebesar 0,270 yang menandakan adanya korelasi positif dan signifikan. Demikian pula koefisien regresi 0,241 untuk variabel kontrol diri menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu kesatuan pada variabel kontrol diri akan meningkatkan nilai kepatuhan terhadap tata tertib sebesar 0,241 yang juga menunjukkan korelasi positif dan signifikan antara kontrol diri dan kepatuhan terhadap tata tertib. Dengan demikian variabel konformitas teman sebaya dan kontrol diri memiliki pengaruh positif signifikan dengan kepatuhan terhadap tata tertib di kalangan siswa SMK X di Nganjuk.

Bedasarkan hasil data penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditemukan bahwa sampel dengan tingkatan kepatuhan terhadap tata tertib yang rendah sebanyak 9 siswa atau 3,6%, selanjutnya sampel yang memiliki tingkatan kepatuhan terhadap tata tertib yang sedang sebesar 215 siswa atau 87,0%. Adapun sampel penelitian yang berada pada tingkatan kepatuhan terhadap tata tertib yang tinggi sebanyak 23 siswa atau sebanyak 9,3%. Bedasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa masih ada beberapa siswa yang memiliki tingkat kepatuhan terhadap tata tertib yang rendah jika dibandingkan dengan sesama sampel penelitiannya, sehingga hal tersebut bisa menjadi catatan bahwa masalah kepatuhan terhadap tata tertib yang rendah masih dapat ditemukan pada siswa SMK X di Nganjuk.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan beberapa hasil penelitian serupa sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Hanifa dan Muslikah [29] menemukan bahwa konformitas teman sebaya berpengaruh secara positif dan signifikan kepada kepatuhan siswa terhadap tata tertib sekolah (r=0,261,p-value < 0.001). Selanjutnya penelitian lain yang dilakukan oleh Amsari dan Nurhadianti [30] menemukan juga bahwa kontrol diri dan kepatuhan terhadap tata tertib siswa santri memiliki hubungan positif yang signifikan (r = 0,433, p-value < 0.001 )[30]. Penelitian lain oleh Febriani dan Sugiarti [31] menunjukkan bahwa kontrol diri siswa berpengaruh terhadap kedisipinan dan juga kepatuhan siswa terhadap peraturan dengan motivasi belajar sebagai variabel intervening [31]. Berdasarkan hasil penelitian ini juga hasil penelitian terdulu, maka dapat dikatakan bahwa konformitas teman sebaya dan kontrol diri dengan kepatuhan terhadap tata tertib siswa saling memiliki korelasi antara satu dengan yang lainnya.

Konformitas pada teman sebaya sendiri termanifestasi dengan menirukan atau menyamakan diri dengan teman sebaya, dimana pada remaja umumnya berusia 13 hingga 17 tahun yang umumnya dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Adapun bentuk penyesuaian dari konformitas sendiri dapat berdampak secara positif seperti remaja yang taat kepada peraturan sekolah atau melakukan kegiatan positif lainnya, atau bisa juga dapat berdampak negatif seperti melakukan kenakalan remaja [32]. Hal ini menandakan bahwa lingkungan kelompok dari siswa akan sangat berpengaruh kepada kepatuhan siswa terhadap tata tertib sekolah, sementara itu konformitas sendiri tidak dapat dihindari karena konformitas adalah konsekuensi sebagai akibat penyesuaian siswa agar dapat diterima oleh lingkungan sebayanya, tetapi konformitas dapat dibekali juga dengan kesadaran diri agar siswa juga mampu memilah perilaku mana yang dapat menguntungkan dan mana yang dapat merugikan dirinya [33].

Kontrol diri juga faktor yang berkaitan dengan variabel konformitas teman sebaya dan juga kepatuhan terhadap tata tertib, dimana individu dengan kontrol diri yang baik mampu untuk menerima stimulus dari luar, memilih, dan selanjutnya menunjukkan perilaku yang tepat yang dapat menguntungkan dirinya atau tidak menimbulkan kerugian, hal ini berbeda dengan individu yang memiliki kontrol diri yang rendah dimana biasanya individu akan tidak mampu untuk memilah stimulus, sehingga dia akan cenderung melakukan perilaku yang bisa merugikan dirinya sendiri atau dapat menimbulkan masalah seperti melanggar tata tertib sekolah [34].

Siswa dengan kontrol diri yang baik juga akan lebih mudah melakukan penyesuaian kepada beberapa tata tertib sekolah yang baru diberikan, dimana mereka akan lebih mudah memahami maksud dari aturan yang diberikan dan selanjutnya menjalankan dan mengikuti sesuai tanggung jawabnya sebagai siswa[35], hal ini akan berbeda dengan siswa dengan kontrol diri yang rendah, yang biasanya akan kesulitan untuk menerima aturan baru dan akan lebih menolak jika teman sebayanya juga memiliki sikap menolak tanpa mempertimbangkan maksud dari aturan tersebut. Hal ini menandakan pula bahwa kontrol diri berpengaruh kepada kemampuan kognitif siswa untuk mempertimbangkan konsekuensi yang dihadapi ketika melanggar aturan, sehingga dia mampu untuk mengambil keputusan yang matang dan selanjutnya menunjukkan perilaku mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah [36]. Sembiring [37] dalam penelitiannya menemukan bahwa kondisi lingkungan keluarga dapat berpengaruh kepada kepatuhan siswa akan tertib. Selanjutnya Aman dan Rusmawati menemukan bahwa school well-being dapat berpengaruh kepada kecenderungan siswa untuk mematuhi tata tertib . Beberapa topik tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk penelitian lebih lanjut mengenai kepatuhan siswa akan tertib.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan penelitian ini diantaranya adalah beberapa responden yang tidak diawasi secara langsung pengisiannya oleh peneliti, sehingga dapat menimbulkan hasil data yang kurang akurat dan selanjutnya menimbulkan intepretasi yang kurang akurat. Responden mungkin cenderung memberikan jawaban yang dianggap lebih baik atau diterima oleh peneliti atau lingkungan sosial. Penelitian ini menemukan besarnya kontribusi kedua variabel relative kecil hanya sebesar 20,2 %, ini menunjukkan bahwa ada banyak faktor lain yang mungkin lebih dominan mempengaruhi kepatuhan siswa yang tidak teridentifikasi dalam penelitian ini.

IV . KESIMPULAN

Bedasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara konformitas teman sebaya dan kontrol diri dengan kepatuhan terhadap tata tertib siswa. Hasil ini juga membuktikan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti terbukti benar sehingga hipotesis dapat diterima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya dan kontrol diri memiliki hubungan korelasi positif dengan kepatuhan terhadap tata tertib siswa.

Implikasi praktis dari penelitian ini adalah dengan memberikan edukasi kepada siswa terkait kontrol diri dan juga memilih lingkungan teman yang baik agar terhindar dari beberapa perilaku yang tidak menaati tata tertib siswa. Hal ini dapat dilakukan oleh guru sekolah dan juga orang tua sebagai figure utama yang menjadi panutan dari siswa. Adapun secara teoritis, penelitian ini dapat menyumbang khasanah terkait fenomena kepatuhan siswa kepada tata tertib sekolah, dimana hasil dari penelitian ini dapat menjadi referensi atau dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait kepatuhan terhadap tata tertib sekolah.

Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana konformitas teman sebaya dan kontrol diri berpengaruh terhadap kepatuhan siswa terhadap tata tertib. Pemahaman ini dapat digunakan oleh pihak sekolah untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam mendidik dan mengarahkan siswa. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan program yang lebih fokus pada pengaruh konformitas teman sebaya dan pengembangan kontrol diri, ini bisa membantu siswa dalam mengembangkan sikap yang lebih positif dan patuh terhadap tata tertib sekolah. Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan bagi peneliti lain yang tertarik untuk mengeksplorasi lebih lanjut mengenai fakto-faktor yang mempengaruhi kepatuhan siswa terhadap tata tertib. Peneliti lain dapat mengembangkan studi ini dengan menambahkan variabel baru atau menggunakan metodologi yang berbeda.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada SMK X di Nganjuk yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian di lingkungan sekolah. Selanjutnya peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada para responden yang telah bersedia menjadi responden dari penelitian ini.

References

[1] S. P. Ragita and N. A. Fardana, “The Role of Father Involvement in Parenting Toward Emotional Maturity in Adolescents,” Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental, vol. 1, no. 1, pp. 417–424, 2021.

[2] J. Mutiara and H. G. Ari, “Juvenile Delinquency Among Senior High School Students in Bandung,” Aliansi Journal of Politics Security and International Relations, 2021.

[3] A. Riyanto, “Adolescent Well-Being in the Educational Process,” SAINTEK Journal of Industrial Science and Technology, vol. 1, no. 2, pp. 84–94, 2021.

[4] M. S. Dessy, “Peer Group Social Support and School Rule Compliance,” 2020.

[5] N. A. Arsaf, “Factors Causing School Rule Violations,” Jurnal Sosialisasi, 2015.

[6] G. B. B. Aryadi and Y. Bahari, “Analysis of School Rule Violations,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa.

[7] S. S. Melelo, “Family Environment and Student Compliance,” 2023.

[8] W. Ramadhani et al., “School Rule Violations and Guidance Interventions,” Jurnal UNTAN, 2019.

[9] S. B. Utomo and M. Nursalim, “School Rule Violations and Counseling Handling,” Jurnal BK UNESA, 2019.

[10] S. Aulia, “Punishment and Student Deterrence,” Jurnal Bimbingan Konseling, 2020.

[11] F. Usmita et al., “Improving Student Compliance with School Rules,” Hawa Journal of Community Empowerment, 2023.

[12] T. Blass, “The Milgram Paradigm After 35 Years,” Journal of Applied Social Psychology, vol. 29, no. 5, pp. 955–978, 1999.

[13] E. Rusnaeni, “Analysis of Student Compliance with School Regulations,” 2014.

[14] A. N. Simbolon, “Religiosity and School Rule Compliance,” 2022.

[15] A. D. Rahmawati, “Boarding School Students’ Compliance,” 2015.

[16] M. N. S. Bila, “Peer Conformity, Self-Control, and School Rule Compliance,” 2016.

[17] N. P. K. Meilani and D. H. Tobing, “Peer Conformity in Adolescents: A Systematic Review,” Innovative Journal of Social Science Research, 2023.

[18] D. M. Ramadona and S. Mamat, “Self-Control: Definition and Factors,” Journal of Innovative Counseling, 2019.

[19] R. D. Nurani, “Peer Conformity and Self-Control Toward School Compliance,” 2018.

[20] F. A. Abnindanti and T. I. Pratiwi, “Cognitive Behavior Modification for Academic Procrastination,” Jurnal BK UNESA, 2020.

[21] T. P. Amsari and R. D. D. Nurhadianti, “Self-Control and Peer Support in Boarding School Compliance,” IKRA-ITH Humaniora, 2020.

[22] E. H. A. Rizki Noviananda, “Self-Control and Peer Conformity on School Compliance,” 2024.

[23] B. W. Sari, Integrating Quantitative and Qualitative Methods. PT Green Pustaka Indonesia, 2024.

[24] Triyono, “Sampling Techniques in Research,” Info Kesehatan, 2003.

[25] D. Mulyasri, “Juvenile Delinquency and Peer Conformity,” 2010.

[26] R. N. Fauziyah, Multiple Linear Regression in Health Research. Poltekkes Bandung, 2020.

[27] M. N. Malay, Practical Data Analysis Using SPSS and JASP. CV Madani Jaya, 2022.

[28] F. A. Sabrina et al., “Classical Assumption Test in OLS Regression,” Jurnal Ilmiah Manajemen Ekonomi dan Akuntansi, 2023.

[29] N. Norfai, Data Management Using SPSS. 2020.

[30] M. Jusmansyah, “Financial Ratio and Stock Price Analysis,” Jurnal Ekonomi dan Manajemen, 2020.

[31] H. P. Hanifa and M. Muslikah, “Peer Conformity by Gender and School Compliance,” EDUKASI Journal of Counseling, 2019.

[32] T. P. Amsari and R. D. D. Nurhadianti, “Self-Control and Peer Support in Boarding School Rules,” 2020.

[33] U. F. Febriani and R. Sugiarti, “Self-Control, Parental Support, and Discipline,” Philanthropy Journal of Psychology, 2021.

[34] K. Meilani and D. H. Tobing, “Peer Conformity in Adolescents: Systematic Review,” 2023.

[35] S. Fahmi and D. Sukma, “Peer Conformity and Student Discipline,” Journal of Neo Counseling, 2021.

[36] A. Triastutik and A. Sutoyo, “Self-Control and School Discipline,” Indonesian Journal of Guidance and Counseling, 2020.

[37] E. Ratnasari and T. N. E. D. Soeharto, “Self-Control and Student Discipline,” 2021.

[38] D. Rahayu and G. R. Affandi, “Self-Control and Students’ Compliance Behavior,” Academic Open, 2022.

[39] T. U. B. Sembiring, “Family Environment and Rule Compliance,” REKOGNISI Journal of Education, 2021.

[40] I. Amal and D. Rusmawati, “School Well-Being and Rule Compliance,” Jurnal EMPATI, 2019.