Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Fanatisme dan Kohesi Kelompok dalam Agresi Konser KPop

Fanaticism and Group Cohesion in KPop Concert Aggression
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Denysa Firda Hanim (1), Effy Wardati Maryam (2)

(1) a:1:{s:5:"en_US";s:34:"Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ";}, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: The rapid growth of K-Pop fandom in the digital era has intensified collective fan engagement, particularly among young women, creating complex social dynamics within concert settings. Specific Background: Incidents of verbal and physical aggression during K-Pop concerts in Indonesia indicate that emotional attachment and strong group bonds may shape behavioral responses among fans. Knowledge Gap: Previous studies have rarely examined the combined association of fanaticism and group cohesiveness with aggressiveness among female K-Pop fans who have attended live concerts. Aims: This study aims to examine the relationship between fanaticism and group cohesiveness with aggressiveness among K-Pop fans who have watched their idols’ concerts. Results: Using a quantitative correlational design with 159 respondents from K-Pop communities in Sidoarjo, the findings reveal a significant simultaneous relationship (F = 38.374; p < 0.05), with fanaticism contributing 22.7% and group cohesiveness 14.3% to aggressiveness. Novelty: The study focuses specifically on female concert attendees, addressing a limited empirical area within social and behavioral psychology of fandom. Implications: These findings highlight the importance of emotional regulation and group dynamics management in large-scale fan gatherings to reduce aggressive tendencies.


Keywords: Fanaticism, Group Cohesiveness, Aggressiveness, KPop Fans, Concert Behavior


Key Findings Highlights:




  • Fan attachment level shows the strongest statistical contribution to aggressive tendencies.




  • Collective bonding within fandom communities is positively associated with hostile actions.




  • Simultaneous correlation confirms both predictors significantly relate to behavioral escalation during live performances.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Adanya jejaring media sosial dapat memengaruhi budaya di kalangan masyarakat karena media sosial dapat menghasilkan sebuah bentuk budaya[1].Widarti berpandangan budaya banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia diantaranya genre musik K-Pop, gaya berpakaian, dan lain-lain[2]. Budaya Kpop terus terjadi dari tahun ke tahun seiring dengan berkembangnya era digital[4]. Mayoritas penggemar musik K-pop di Indonesia adalah wanita. Kpopers merupakan sekelompok orang yang menyukai musik yang berasal dari Korea Selatan dan diminati hampir seluruh kalangan usia[5].

Menurut Fuschillo penggemar merupakan individu dengan keyakinan positif terhadap seseorang yang terkenal dan menempati peran sosial sebagai fandom. Menurut Kang fandom merupakan komunitas penggemar yang mendukung artis dan dapat berkontribusi pada keberhasilan artisnya dengan berbagai cara[6]. Aktivitas yang sering dilakukan bersama dapat menyebabkan munculnya perilaku agresif, apabila hubungan antar penggemar terdapat konflik yang tidak diselesaikan dengan baik[10].

Perilaku agresif penggemar K-pop sering menyerang satu sama lain dengan fandom berbeda sering disebut perang penggemar (fanwar). Dibuktikan dengan adanya peristiwa yang terjadi saat konser. Berdasarkan berita yang beredar, terdapat boygroup Korea Selatan yaitu NCT 127 sedang mengadakan konser di Indonesia tepatnya di ICE BSD Tangerang pada tanggal 4 dan 5 November 2022. Para penggemar NCT 127 yang mayoritas wanita dewasa awal sedang menonton idolanya sempat mengalami kericuhan saat menuju akhir konser. Muncul aksi dorong-dorongan dari para penggemar yang menyebabkan muculnya perkataan yang kasar antar penggemar, luka memar di tangan dan kaki, sesak nafas bahkan ada 30 orang yang pingsan[12].

Semakin banyaknya anggota kelompok terkadang memunculkan konflik yang tak jarang menimbulkan agresivitas dan menganggap agresi sebagai bentuk loyalitas di dalam kelompok. Agresivitas adalah perilaku yang cenderung menyerang serta menimbulkan kekerasan fisik atau verbal[14]. Menurut Buss dan Perry aspek agresivitas terbagi menjadi empat aspek, diantaranya agresi fisik, agresi verbal, rasa marah, serta permusuhan [15]. Dampak negatif dapat ditimbulkan oleh perilaku agresif yang berasal dari internal pada diri sendiri yakni emosi negatif dan tempramental yang muncul tidak dapat dikontrol dan eksternal yang muncul kepada lingkungan sekitar[16]. Penelitian Soejoethi, menunjukkan bahwa penggemar yang mencintai idolanya secara tidak sadar berperilaku berlebihan cenderung agresif[17]. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa fanatisme dan kohesivitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kecenderungan perilaku agresi. Menurut Scheneiders ledakan emosi sebagai respons terhadap kegagalan diri sendiri adalah perilaku agresif, yang dapat diungkapkan secara verbal atau nonverbal melalui penghancuran sesuatu yang disengaja. Istilah agresivitas mengacu pada penderitaan fisik atau psikologis yang disengaja terhadap orang atau benda akibat keinginan untuk melampiaskan emosi yang terpendam, yang paling umum adalah rasa takut atau frustasi[18].

Berdasarkan survei awal yang telah dilakukan peneliti melalui penyebaran kuesioner online pada tanggal 26 dan 27 Juni 2023 terhadap 31 penggemar K-Pop yang pernah menonton konser, diperoleh hasil bahwa para penggemar yang pernah menonton konser dan mayoritas perempuan berusia 17-35 tahun. Situasi sebelum konser, para penggemar dapat mengantre secara tertib, ketika mengantre tiket juga tidak ada perilaku agresif. Saat konser dimulai terjadi aksi saling mendorong antar penggemar karena para penggemar saling berebut untuk posisi duduknya. Dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa perilaku agresif saat konser seperti saling dorong-dorongan saat masuk ke venue konser untuk memperebutkan kursi, namun para penonton masih bisa menikmati penampilan dari idola. Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa tindakan sesuai dengan salah satu dari aspek agresivitas yaitu aspek agresi fisik (physical).

Munculnya agresivitas tersebut didasari oleh faktor tingginya tingkat fanatisme pada penggemar K-pop. Dalam hal ini sering menimbulkan sebuah kericuhan dan pertengkaran[31]. Fanatisme merupakan suatu bentuk antusiasme pada idolanya secara berlebihan yang menunjukkan pada tingkatan keterlibatan dan ketertarikan terhadap suatu objek fanatik. Perilaku fanatik semakin berkembang dengan semakin banyak dukungan dari orang sekitar yang terlihat dari tingkah laku individu atau kelompok[20].

Perilaku fanatisme penggemar dapat diidentifikasi melalui empat hal, yaitu partisipasi yang bermakna dalam suatu kegiatan untuk suatu objek yang disukai, adanya dorongan dari kelompok untuk bergabung dalam suatu komunitas, adanya keinginan untuk mendapatkan perhatian atau mengekspresikan diri, dan adanya interaksi antar penggemar[21]. Indikator fanatisme mencakup antusiasme yang sangat kuat, keterikatan emosional, dan rasa cinta yang ditunjukkan dalam jangka waktu yang lama dengan memikirkan sesuatu yang diyakini benar dan, pada akhirnya, kebenaran yang diyakini dan dipertahankan dengan tegas[22]. Fanatisme sangat melekat pada identitas penggemar K-Pop. Fanatisme dalam K-pop juga berdampak pada hubungan antar fandom dan memicu timbulnya agresivitas disebabkan oleh tingginya tingkat fanatisme penggemar K-pop[23].

Faktor lain yang mempengaruhi agresivitas adalah kohesivitas kelompok. Menurut Gibson kohesivitas kelompok merupakan kekuatan ketertarikan anggota yang tetap pada kelompoknya daripada terhadap kelompok lain[30]. Penelitian Putra (2018) mengungkapkan adanya hubungan positif antara kohesi kelompok dengan perilaku agresif pada kelompok pendukung Aremania di kota Salatiga. Hasil analisis penelitian ini dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kohesi dan agresi di kalangan suporter sepak bola Aremania di Kota Salatiga[24].

Penelitian ini membahas tentang peranan fanatisme dan kohesivitas kelompok terhadap agresivitas, namun pada penelitian sebelumnya hanya membahas mengenai tingkat agresivitas pada laki-laki belum ada yang membahas mengenai tingkat fanatisme mempengaruhi agresivitas serta tingkat kohesivitas kelompok mempengaruhi agresivitas penggemar K-Pop wanita yang pernah menonton konser. Sehingga pada penelitian ini mencoba melengkapi penelitian sebelumnya dengan memilih subjek wanita yang dapat menjadi pembaruan penelitian.

Berdasarkan fenomena serta teori yang di atas, penelitian terkait agresivitas penggemar K-Pop wanita saat menonton konser masih cukup jarang ditemukan dan dibahas dalam lingkup psikologi. Peneliti tertarik ingin memahami bagaimana fanatisme saling berhubungan dengan kohesivitas kelompok dan agresivitas ditujukan pada penggemar K-Pop wanita yang menonton konser K-Pop. Konser K-Pop merupakan sebuah acara di mana artis K-Pop tampil di depan penggemar secara langsung serta dapat memicu munculnya agresivitas dari para penonton dikarenakan persaingan antar penggemar menyebabkan korban luka ringan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami sejauh mana tingkat fanatisme dan kohesivitas kelompok mempengaruhi munculnya agresivitas penggemar K-Pop wanita serta mengetahui hubungan antara ketiga variabel tersebut.

Metode

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian korelasional kuantitatif yang tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan perubahan suatu faktor terhadap perubahan faktor lainnya dengan menggunakan koefisien korelasi. Dalam penelitian ini variabel X yaitu fanatisme dan kohesivitas kelompok, serta variabel Y adalah agresivitas. Populasi penelitian ini adalah anggota komunitas penggemar K-pop di wilayah Sidoarjo yang pernah menghadiri konser sejumlah 270 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 159 responden dan ditentukan menggunakan rumus Isaac dan Michael dengan margin of error sebesar 5%. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling yang mana sampel diambil sesuai kriteria dan cocok sebagai sumber data. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melakukan survei menggunakan google form dengan skala agresivitas, skala fanatisme, dan skala kohesivitas kelompok untuk pengumpulan data.

Instrumen yang digunakan untuk mengukur adalah skala likert yang memiliki empat pilihan jawaban yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Skala agresivitas dibuat berdasarkan empat jenis yakni fisik, verbal, kemarahan dan permusuhan[20]. Skala ini merupakan adopsi dari skala yang dikembangkan Buss dan Perry yang (Brief Aggression Questionnaire) yang telah diuji oleh peneliti sebelumnya, dengan indeks reliabilitas 0,54 hingga 0,96 dan koefisien reliabilitas 0,81. Skala fanatisme diadopsi dari penelitian Adriani terdiri dari 16 item terbagi dalam empat aspek Jenni Eliani yang disusun dan dimodifikasi menurut aspek fanatisme Goddard dengan aspeknya tingkat kecintaan dan minat yang besar pada idola, sikap individu atau kelompok terhadap kegiatan, waktu yang dihabiskan untuk berkegiatan tertentu, dan dukungan keluarga[11]. Skala kohesivitas kelompok didapatkan reliabilitas sebesar 0,911 menggunakan teori Marvin E. Shaw disusun empat aspek yaitu interaksi, pengaruh sosial, produktivitas dan kepuasan[26]. Teknik analisis menggunakan program JASP for Windows serta uji korelasi berganda (multiple correlation).

Hasil dan Pembahasan

A.Hasil

Data Deskriptif

Figure 1. Tabel 1. Subjek Berdasarkan Usia

Figure 2. Tabel 2. Hasil Analisis Deskriptif Ketiga Variabel

Figure 3. Tabel 3. Hasil Uji Normalitas

Tabel di atas menunjukkan ρ value sebesar 0.200, yang menunjukkan bahwa 0.965 > 0.05, yang berarti data tersebut berdistribusi normal.

Figure 4. Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Tiap Variabel

Pada tabel 3 hasil uji korelasi antara setiap variabel menunjukkan bahwa nilai r adalah 0,556 dan p value sebesar <0,001. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dan saling berkolerasi antara fanatisme dan agresivitas penggemar Kpop yang menonton konser. Selanjutnya menunjukkan bahwa nilai r adalah 0,494 dan nilai p-value <0,005 yaitu sebesar <0,001. Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan positif antara kohesivitas kelompok dan agresivitas penggemar Kpop yang menonton konser.

Figure 5. Tabel 5. Hasil Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa nilai signifikansi untuk pengaruh fanatisme (X1) dan kohesivitas kelompok (X2) terhadap agresivitas (Y) adalah 0,001 < 0,05, dan nilai F hitung sebesar 38,374 (>2,66). Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh fanatisme (X1) dan kohesivitas kelompok (X2) terhadap agresivitas(Y) pada saat yang sama.

Figure 6. Tabel 6. Sumbangan Efektif

Berdasarkan tabel 6 hasil uji sumbangan efektif dapat diketahui bahwa dari variabel fanatisme dan kohesivitas kelompok masing-masing sebesar 22,7% (0,227x 100) dan 14,3 % (0,143 x 100) sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa variabel fanatisme memberikan sumbangan efektif yang lebih tinggi terhadap variabel agresivitas pada penggemar Kpop saat menonton konser.

Analisis lainnya yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk melihat angka perbedaan agresivitas, fanatisme, dan kohesivitas kelompok menurut kategori umur. Adapun hasil dari analisis lain yang ditambahkan yang telah dilakukan adalah tingkat agresivitas pada penggemar Kpop ditinjau dari kelompok usia menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,412 (p < 0,05), yang kedua tingkat fanatisme pada penggemar Kpop ditinjau dari kelompok umur menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,796 (p < 0,05), dan yang terakhir dari tingkat kohesivitas kelompok pada penggemar Kpop ditinjau dari kelompok usia menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,210 (p <0,05), ini berarti tingkat agresivitas, fanatisme, kohesivitas kelompok dari penggemar Kpop berdasarkan kelompok umur dari setiap variabel termasuk signifikan.

Pembahasan

Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa nilai F 38,374 dengan nilai taraf signifikansi p 0,001 < 0.05 yang menunjukkan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa fanatisme dan kohesivitas kelompok memiliki pengaruh yang signifikan dengan agresivitas pada penggemar Kpop saat menonton konser. Selanjutnya, pada hasil sumbangan efektif variabel independent terhadap variabel dependent yaitu menunjukkan bahwa variabel fanatisme sebesar 22,7% dan kohesivitas kelompok 14,3%, dapat disimpulkan bahwa fanatisme memberikan sumbangan efektif yang lebih tinggi terhadap variabel agresivitas pada penggemar Kpop saat menonton konser. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayati (2023) yang menjelaskan bahwa fanatisme berpengaruh signifikan terhadap munculnya agresivitas[23].

Berdasarkan hasil analisis yang sudah dilakukan diperoleh hasil bahwa fanatisme memberikan pengaruh sebesar 55,6% terhadap agresivitas penggemar K-Pop yang pernah menonton konser. Menurut Thorne & Bruner penggemar dengan pemahaman fanatisme akan memilih untuk lebih menunjukkan dirinya dalam bidang yang diminati, seperti menghabiskan waktu untuk menghadiri kegiatan kelompok yang sama dengan minatnya[24]. Rasa fanatisme begitu besar kepada artis K-Pop melekat dalam diri penggemar wanita yang menjadikan idola sebagai sumber inspirasi dan panutan. Ciri-ciri fanatisme yaitu sering mengikuti setiap perkembangan karir, kegiatan idolanya, mengoleksi merchandise, serta rela menghabiskan waktu dan uang untuk menonton konser secara langsung[32].

Secara terpisah fanatisme dengan agresivitas memiliki hubungan signifikan. Dalam penelitian yang dilakukan Pamungkas (2020) mengemukakan bahwa perilaku fanatisme di kalangan penggemar Kpop dapat menekankan munculnya agresivitas. Kedua variabel memiliki hubungan positif dan signifikan, dimana fanatisme menyumbang sebesar 52% terhadap agresivitas penggemar Kpop. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi Fanatisme penggemar Kpop maka semakin tinggi agresivitas pada penggemar Kpop begitupun sebaliknya[11]. Penggemar yang memiliki tingkat fanatisme yang tinggi cenderung memperlihatkan agresivitas yang tinggi pula. Selain itu, fanatisme juga dapat memicu agresivitas yang sering merujuk pada tindakan saling serang dan berebut kekuasaan di antara kelompok penggemar[28]. Hamilton mengatakan bahwa individu yang memiliki fanatisme tinggi akan cenderung memaksakan pemikirannya kepada orang lain serta mengutamakan emosi yang berkenaan dengan kecintaannya pada sesuatu hal[13].

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa fanatisme dan kohesivitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kecenderungan perilaku agresi. Menurut Scheneiders ledakan emosi sebagai respons terhadap kegagalan diri sendiri adalah perilaku agresif, yang dapat diungkapkan secara verbal atau nonverbal melalui penghancuran sesuatu yang disengaja[29]. Istilah agresivitas mengacu pada penderitaan fisik atau psikologis yang disengaja terhadap orang atau benda akibat keinginan untuk melampiaskan emosi yang terpendam, yang paling umum adalah rasa takut atau frustasi[18]

Goddard menjelaskan bahwa terdapat beberapa aspek dari fanatisme seorang penggemar, diantaranya besarnya minat dan kecintaan terhadap objek atau idola, dikarenakan perasaan kecintaan yang begitu besar cenderung akan mendorong dirinya untuk lebih mendukung idola yang disukainya[26]. Perbuatan individu maupun kelompok, dalam hal ini menjadi esensi yang begitu penting mengingat ini merupakan sikap seseorang untuk memulai sesuatu yang akan dilakukan. Seberapa lamanya individu menaruh atensi pada objek atau idolanya. Dan yang terakhir adanya dukungan dari keluarga, selain karena dukungan pribadi, dukungan keluarga juga dapat menjadi hal yang dapat mempengaruhi timbulnya fanatisme[7].

Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kohesivitas kelompok memberikan pengaruh sebesar 49,4% terhadap terhadap agresivitas penggemar K-Pop yang pernah menonton konser. Dalam penelitian ini didapatkan bahwa arah hubungan kohesivitas kelompok dan agresivitas adalah positif. Kohesivitas kelompok penggemar K-pop dapat berhubungan dengan agresivitas, terutama dalam bentuk agresi verbal[9]. Kohesi kelompok memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku agresif dalam kelompok. Faktor-faktor seperti hirarki dan identitas, dapat menyebabkan munculnya kecenderungan agresivitas dalam sebuah kelompok, mengamati interaksi yang kompleks antara dinamika sosial dan agresivitas[3]. Hasil penelitian tersebut didukung penelitian oleh Fachrezi dan Triwardhani (2022) yang menyatakan bahwa setiap anggota kelompok yang memiliki nurani dalam dirinya menjadi faktor internal yang dapat membentuk kohesivitas pada komunitas Cinta Wisata[19]. Kohesivitas kelompok yang tinggi dapat meningkatkan adanya agresivitas dan begitupun sebaliknya[25]. Hal ini seperti dinyatakan Hal ini dapat disebabkan oleh adanya tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok seperti yang dikemukakan oleh Festinger, Schacter, dan Black [27].

Adapun keterbatasan penelitian ini terdapat pada metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif memilliki keterbatasan pada jawaban responden yang cenderung singkat sehingga peneliti tidak mendapatkan jawaban yang mendalam. Penelitian ini hanya mempertimbangkan hubungan fanatisme dan kohesivitas kelompok tanpa mempertimbangkan variabel, faktor serta dampak yang lain seperti kontrol diri maupun faktor psikologis lain juga dampak yang terjadi ketika variabel tersebut ada perbedaan dengan penelitian ini.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa fanatisme dan kohesivitas kelompok dengan agresivitas pada penggemar Kpop yang menonton konser memiliki korelasi yang signifikan dan berhubungan positif. Penggemar Kpop cenderung berperilaku agresif saat konser apabila tingkat fanatisme yang dimiliki individu semakin tinggi serta kohesivitas kelompok menciptakan lingkungan di mana saat menonton konser penggemar merasa terhubung secara emosional.

Dengan demikiran, peneliti memberikan saran bagi penggemar Kpop yang mayoritas yang menginjak di usia dewasa awal ini diharapkan mampu mengontrol diri sendiri saat menonton konser dan diharapkan diharapkan agar menjaga sikap untuk tidak bersikap fanatik guna mengurangi timbulnya agresivitas. Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengkaji variabelvariabel lainnya yang memiliki hubungan dengan agresivitas, sehingga diperoleh hasil yang lebih komprehensif dan menemukan bahwa ada faktor-faktor lain yang berhubungan dengan agresivitas.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota komunitas penggemar NCT (Nctzen) dan penggemar Army yang telah berpartisaspi menjadi responden penelitian.

References

[1] M. B. T. Sampurno, T. C. Kusumandyoko, and M. A. Islam, “Budaya Media Sosial, Edukasi Masyarakat, dan Pandemi Covid-19,” Salam: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i, vol. 7, no. 5, 2020, doi: 10.15408/sjsbs.v7i5.15210.

[2] F. K. Simbar, “Fenomena Konsumsi Budaya Korea pada Anak Muda di Kota Manado,” Holistik, no. 18, pp. 1–20, 2016.

[3] N. Istiani and A. Islamy, “Fikih Media Sosial di Indonesia,” Asy-Syar’iyyah: Jurnal Ilmu Syari’ah dan Perbankan Islam, vol. 5, no. 2, pp. 202–225, 2020, doi: 10.32923/asy.v5i2.1586.

[4] W. Program, “Konformitas dan Fanatisme Remaja kepada Korean Wave (Studi Kasus pada Komunitas Penggemar Grup Musik CN Blue),” Jurnal Komunikasi, vol. 2, pp. 2579–3292, 2016.

[5] I. P. Putri, F. D. P. Liany, and R. Nuraeni, “K-Drama dan Penyebaran Korean Wave di Indonesia,” PTVF, vol. 3, no. 1, p. 68, 2019, doi: 10.24198/ptvf.v3i1.20940.

[6] N. M. S. Wulayani and A. A. I. V. Aristyawati, “Joy Being a Fans: Analisis Faktor yang Mempengaruhi Psychological Well-Being pada Kpopers Indonesia,” Jurnal Psikologi, vol. 13, pp. 116–122.

[7] T. Kartika and E. Darminto, “Konsep Diri Remaja Ditinjau dari Kegemarannya terhadap Musik Pop Korea (Korean Pop),” Jurnal Psikologi Pendidikan, 2014.

[8] H. Tirtawijaya and I. N. Alfian, “Pengaruh Fanatisme terhadap Tingkat Agresi Verbal Penggemar K-Pop di Media Sosial,” BRPKM: Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental, vol. 10, pp. 1–11, 2022.

[9] J. Kang et al., “Alliance for My Idol: Analyzing the K-Pop Fandom Collaboration Network,” in Proc. CHI Conf. Human Factors in Computing Systems, 2019, pp. 1–6, doi: 10.1145/3290607.3312906.

[10] S. W. Masruroh, “Media Sosial dan Fanatisme (Studi Deskriptif Kualitatif Fanatisme EXO Fandom di Twitter pada Tahun 2020),” 2020.

[11] J. Eliani, M. S. Yuniardi, and A. N. Masturah, “Fanatisme dan Perilaku Agresif Verbal di Media Sosial pada Penggemar Idola K-Pop,” Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 3, no. 1, p. 59, 2018, doi: 10.21580/pjpp.v3i1.2442.

[12] I. Isa, “Media Korsel Soroti Konser NCT 127 di RI Disetop Usai Penonton Rusuh,” CNN Indonesia, Nov. 05, 2022. [Online]. Available: https://www.cnnindonesia.com

[13] B. Bilqis, “Stray Kids Gelar Konser 2 Hari di Jakarta, 12–13 November,” CNN Indonesia, Sep. 29, 2022. [Online]. Available: https://www.cnnindonesia.com

[14] M. C. Chaq, S. Suharnan, and A. P. Rini, “Religiusitas, Kontrol Diri dan Agresivitas Verbal Remaja,” Fenomena, vol. 27, no. 2, pp. 1–8, 2019, doi: 10.30996/fn.v27i2.1979.

[15] I. D. Romadhona, “Konformitas dan Perilaku Agresi Verbal Remaja Penggemar K-Pop,” 2021.

[16] S. Fitri, M. Intan, and R. Luawo, “Gambaran Agresivitas pada Remaja Laki-Laki Siswa SMA,” Jurnal Bimbingan Konseling, vol. 5, no. 2, pp. 155–168, 2016.

[17] M. Marsinondang and F. I. R. Dewi, “Self-Control and Aggressive Behavior in Adolescent Fans of Korean Pop (K-Pop),” in Proc. 3rd Tarumanagara Int. Conf. Applications of Social Sciences and Humanities, vol. 655, pp. 1403–1407, 2022, doi: 10.2991/assehr.k.220404.224.

[18] W. Yulianti, “Instagram sebagai Media Fan War Penggemar K-Pop,” Jurnal Komunikasi Digital, vol. 3, no. 8, pp. 2003–2005, 2022.

[19] S. Mezura, “Hubungan Kontrol Diri dengan Celebrity Worship pada Dewasa Awal Penggemar K-Pop,” Skripsi, Universitas Negeri Jakarta, 2019.

[20] E. D. Watiningsih, “Pengaruh Fanatisme, Anonimitas dan Trait Kepribadian Big Five terhadap Agresi Verbal Penggemar K-Pop di Media Sosial,” Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020.

[21] P. Yulianti, “Perilaku Komunikasi Mahasiswa Penggemar K-Pop di Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq Jember,” Skripsi, UIN KHAS Jember, 2022.

[22] N. P. Agnensia, “Fan War Fans K-Pop dan Keterlibatan Penggemar dalam Media Sosial Instagram,” 2021.

[23] N. Nufus, “Hubungan antara Konformitas dan Fanatisme dengan Agresi Verbal pada Penggemar K-Pop di Media Twitter,” Skripsi, UIN Walisongo, 2023.

[24] A. Nurpratami, N. Fakhri, and A. N. Hamid, “Fanatisme dan Kontrol Diri dengan Agresi Verbal Penggemar K-Pop di Media Sosial,” Jurnal Psikologi, vol. 9, no. 2, pp. 178–195, 2022, doi: 10.35891/jip.v9i2.2531.

[25] H. R. D. Pamungkas, “Hubungan antara Fanatisme dengan Perilaku Agresif Verbal pada Remaja Penggemar Korean Pop (K-Pop),” Skripsi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, 2020.

[26] S. N. Nurfadhilah and I. Rachmawati, “Sentimen Fans K-Pop terhadap Kohesivitas Kelompok,” BCSCM, vol. 3, no. 2, pp. 820–824, 2023, doi: 10.29313/bcscm.v3i2.8862.

[27] D. A. Anggraini, S. A. P. Putri, and I. R. A. Permitasari, “Pengaruh Fanatisme dan Kohesivitas terhadap Kecenderungan Perilaku Agresi Suporter Sepak Bola Panser Biru PSIS Semarang,” 2023.

[28] A. R. Rinata and S. I. Dewi, “Fanatisme Penggemar K-Pop dalam Bermedia Sosial di Instagram,” Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, vol. 8, no. 2, pp. 13–21, 2019, doi: 10.14710/interaksi.8.2.13-21.

[29] M. A. Sovia and F. F. Tantiani, “Kualitas Pertemanan dan Kohesivitas pada Mahasiswa Anggota Komunitas Virtual di Bidang Kesehatan Mental,” Jurnal Psikologi, vol. 16, no. 1, pp. 23–39, 2023, doi: 10.35760/psi.2023.v16i1.6910.

[30] D. Herman and N. Widiastuti, “Kohesivitas Kelompok dalam Komunitas XTC (PAC Cimenyan),” Medialog: Jurnal Ilmu Komunikasi, vol. 3, no. 2, pp. 157–167, 2020, doi: 10.35326/medialog.v3i2.696.

[31] X. Didelot and P. Ribeca, “KPop: Accurate, Assembly-Free, and Scalable Comparative Analysis of Microbial Genomes,” bioRxiv, 2022, doi: 10.1101/2022.06.22.497172.

[32] S. H. Juwita, “Tingkat Fanatisme Penggemar K-Pop dan Kemampuan Mengelola Emosi pada Komunitas EXO-L di Kota Yogyakarta,” Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, vol. 4, no. 7, pp. 273–286, 2018.