Achmad Rifa'i Subagyo (1), Ramon Ananda Paryontri (2)
This study discusses the role of parenting patterns in shaping children's discipline character within the family context. General Background: Character education has become a central issue in contemporary educational discourse, particularly regarding the formation of discipline in children from an early age. Specific Background: The family environment, especially parenting patterns, plays a fundamental role in guiding children’s behavioral development and moral internalization. Knowledge Gap: Previous studies have widely addressed character education; however, limited attention has been given to a focused examination of how specific parenting approaches relate to discipline character formation within the family setting. Aims: This research aims to analyze the relationship between parenting patterns and the development of discipline character in children. Results: The findings indicate that parenting patterns are closely associated with the establishment of disciplined behavior, where consistent guidance, supervision, and value internalization contribute to structured behavioral development. Novelty: This study highlights a contextual analysis of parenting practices as a structured foundation for discipline character formation in the family sphere. Implications: The results provide practical recommendations for parents and educators to strengthen discipline character through intentional and consistent parenting strategies.
Keywords: Parenting Patterns, Discipline Character, Character Education, Family Environment, Child Development
Key Findings Highlights:
Parenting approaches are directly related to structured behavioral development in children.
Consistent guidance and supervision support moral internalization processes.
Family-based character formation provides a foundational framework for early behavioral regulation.
Fikriyah mengemukakan bahwa definisi karakter adalah sikap, akhlak, tabiat, kepribadian yang stabil dari hasil sebuah proses secara progresif dan dinamis serta sifat alami seseorang yang digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak [1]. Karakter merupakan penilaian timbal balik individual manusia dengan tuhan, antar manusia, dan lingkngan kepada negara yang terbentuk secara spiritual, logis, dan perilaku yang berdasarkan nilai – nilai hukum, agama, dan budaya [2]. Lestari juga mengemukakan bahwa proses dalam pendidikan karakter perlu dilakukan ketika anak masih dini dan potensi baik sudah dimiliki anak sejak lahir hanya perlu untuk dimaksimalkan dengan cara dibina dan dikembangkan baik dari keluarga, sekolah, maupun Masyarakat [3]. Karakter disiplin adalah bentuk dari keteraturan diri yang mendasarkan pada nilai-nilai, aturan-aturan, pandangan hidup serta sikap tanpa adanya tekanan. Seperti dijelaskan dalam Undang – Undang Nomor 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional tentang pengetian pendidikan karakter adalah memiliki tujuan membentuk kepribadian Tangguh sesuai dengan identitas bangsa Indonesia. Serta peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter hadir dengan pertimbangan dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya untuk memperkuat karakter dengan keterlibatan dan kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masayarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi mental (GNRM). Thomas Lickona Menjelaskan tentang pendidikan karakter yaitu upaya dengan sadar seseorang dalam memahami dan peduli ketika ingin berbuat dengan berdasarkan nilai-nilai etis[4].
Karakter disiplin adalah bentuk dari keteraturan diri yang mendasarkan pada nilai-nilai, aturan-aturan, pandangan hidup serta sikap tanpa adanya tekanan. Tujuan dari disiplin adalah pengembangan diri sendiri dan pengarahan diri sendiri tanpa adanya pengaruh dari luar. Kedisiplinan adalah suatu latihan yang dicerminkan dari tingkah laku agar orang patuh terhadap aturan[5]. Dalam membentuk karakter anak fungsi keluarga yaitu memiliki peran yang begitu penting salah satunya adalah mempersiapkan nilai-nilai positif bagi tumbuh kembang anak sehingga dapat menciptakan fondasi Pendidikan untuk kedepannya[6]. Pembentukan karakter sangat penting karena upaya penanaman kecerdasan dalam berpikir, pengalaman dalam perilaku yang diwujudkan dalam interaksi dengan dirinya sendiri, antar sesama dan lingkungannya. Karakter yang baik akan mengangkat derajat yang tinggi dan mulia bagi dirinya sendiri karena lingkungan akan menilai dari apa yang dilakukannya, serta dalam membentuk karakter tidak luput dari peran orang tua karena lingkungan awal yang dikenal dan menjadikan figur dalam kehidupan anak baik secara fisik maupun psikis . Kedisiplinan menjadi kunci sukses, itulah yang membuat kenapa pembentukan karakter disiplin kepada anak sangat penting dilakukan dan disiplin merupakan sikap yang tidak muncul ketika anak dilahirkan tetapi harus dibentuk oleh lingkungan melalui pola asuh orang tua, guru, serta orang dewaasa disekitarnya. Dalam disiplin mempunyai faktor-daktor yang mempengaruhi diantaranya adalah faktor intern (dalam), ekstern (luar) baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun Masyarakat. Julie Adrews mengatakan bahwa disiplin merupakan bentuk aktivitas manusia yang ememnuhi kebutuhan fisik dalam kehidupan, dan merupakan pengalaman yang dilalui sehingga seseorang dapat mengembangkan kemampuannya dalam mawas diri dan mengerti dirinya [7].
Keluarga merupakan komponen yang utama dalam membentuk karakter anak. Orang tua merupakan orang pertama yang mengasuh, membesarkan, membimbing dan mendidik serta memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Keluarga juga sebagai komponen penting dalam kehidupan yang mana didalam keluarga memiliki ikatan, tanggung jawab, kewajiban pada setiap individu yang ada didalamnya. Orang tua juga bertanggung jawab kepada anaknya secara kodrat baik dilihat dari psikologis, pedagogis dan sosiologis. Orang tua adalah orang dewasa yang memikul tanggung jawab pendidikan, karena anak pada masa awalnya berada ditengah–tengah orang tuanya dan anak pertama kali mendapatkan dan mengenal pendidikan dari orang tua . Orang tua adalah sosok pendidik pertama dan utama bagi anak – anaknya, serta lingkungan keluarga mempengaruhi perkembangan kepribadian anak [8].Lingkungan pertama yang dilalui anak adalah keluarga merupakan basis utama dalam memberikan pendidikan. Bahkan orang tua berperan penting terhadap pendidikan yang diajarkan pada anaknya. Orang tua adalah tempat bimbingan pertama kali dalam hal membentuk karakter seorang anak. Anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan berupa material tetapi juga memerlukan kasih sayang, perhatian, dorongan dan keberadaan orang tua di sisinya, dimana orang tua lebih dicondongkan pada sebuah keluarga, tentu saja keluarga adalah sebuah kelompok primer yang paling penting Masyarakat . Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya mempunyai kepribadian baik dilihat dari mental yang sehat serta akhlak yang terpuji. Pembentukan kepribadian anak diperoleh dari proses sosialisasi di dalam keluarga. Preoses sosialisasi ini berlangsung dalam bentuk komunikasi, transaksi atau interaksi antar anggota keluarga, terutama antara orang tua dan anak [9].
Dalam mendidik orang tua memiliki peran yang berbeda – beda, mereka tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak tetapi juga harus saling berkomitmen untuk meluangkan waktunya khususnya dalam mendampingi anak didalam beberapa kegiatannya. Pola asuh anak yang salah dapat memberikan dampak pada gagalnya pembetukan karakter yang baik bagi anak. Pola asuh orang tua yaitu perlakuan orang tua terhadap anak dalam merawat, memelihara, mengajar, mendidik, membimbing, melatih, yang diwujudkan dalam bentuk pendisiplinan, pemberian tauladan, kasih sayang, hukuman, dan kepemimpinan di keluarga melalui ucapan serta tindakan orang tua [10]. Pendidikan merupakan suatu rangkaian atau proses yang dapat mengubah sikap dan perilaku seseorang atau kelompok dalam upaya pengajaran dan pelatihan. Tujuan utama adanya pendidikan yaitu menjadi media dalam mengembangkan potensi dan mencerdaskan manusia agar menyiapkan dalam menghadapi kehidupan yang akan datang.
Baumrind berpendapat bahwa pola asuh memiliki empat jenis yaitu otoriter, permisif, autoritatif dan penalaran. Pola asuh autoritatif yaitu pola asuh yang hangat, terlibat, menunjukkan dukungan dan rasa senang dan menunjukkan rasa tidak senang terhadap tingkah laku yang buruk, pola asuh permisif yaitu tidak menuntut ataupun mengendalikan dan tidak mengomunikasikan peraturan secara jelas serta tidak memaksa untuk mematuhi atau menerima perilaku buruk anak, pola asuh otoriter yaitu memaksakan peraturan tanpa menjelaskan kepada anak secara jelas dan menunjukkan kemarahan serta perasaan tidak senang lalu berkonforntasi dengan anak terhadap perilaku buruknya dan menggunakan hukuman, pola asuh tidak terlibat yaitu secara umum tidak reponsif lalu berusaha memuaskan diri sendiri dan tidak memperdulikan kebutuhan anak dan gagal memonitor setiap kegiatan anak [11]. Menurut Baumrind terdapat 4 aspek dalam pola asuh orang tua yaitu : 1) Kendali atau kontrol dari orang tua, 2) Tuntutan Terhadap tingkah laku matang, 3) Komunikasi antara orang tua dan anak, 4) Cara pengasuhan orang tua terhadap anak [12].
Faktor–faktor kerusakan akhlak adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap anak–anaknya, tidak terlaksananya pendidikan akhlak sejak kecil (baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun Masyarakat), kurang kerukunan hidup antara orang tua dalam keluarga serta kurangnya bimbingan dan pengarahan terhadap anak dalam hal positif [13]. Penguatan pendidikan karakter yang luhur saat ini sedang krisis dan mengkhawatirkan dalam Masyarakat khususnya anak–anak. Nilai–nilai karakter tergerus oleh arus globalisasi Dimana kemajuan teknologi seperti pisau bermata dua, satu sisi memberikan manfaat bagi manusia dan disisi lain memberikan dampak negatif jika disalahgunakan. Dampak negatif yang ditimbulkan antara lain melihat video porno, seks bebas dan pemerkosaan yang dilakukan oleh anak dibawah umur, serta penyalahgunaan obat-obatan terlarang, semua itu bisa menghilangkan karakter bangsa. Perilaku yang di munculkan anak kebiasaan yang sering dilihat oleh anak baik dilingkungan keluarga, sekolah, maupun Masyarakat. Menurut Hurlock terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua yaitu : 1) Tingkat sosial ekonomi, dimana orang tua yang sosial ekonominya menengah keatas akan lebih banyak bersikap hangat pada anak daripada orang tua yang berasal dari sosial ekonomi yang rendah; 2) Tingkat pendidikan orang tua akan mempengaruhi dalam praktek pola asuhnya karena orangtua yang memiliki pendidikan yang tinggi akan lebih siap karena memiliki pengetahuan yang luas; 3) Kepribadian orang tua dapat mempengaruhi dalam penggunaan pola asuh; 4) Orang tua yang memiliki anak 2 – 3 orang lebih intensif dalam pengasuhannya, dimana interaksi antara orang tua dan anak lebih menekankan perkembangan pribadi dan kerjasama anatar anggota keluarga [12]. Orang tua beranggapan bahwa anak lebih mahir dalam mencari berbagai informasi sehingga orang tua bertanggung jawab untuk mengarahkan anak agar tidak terjerumus dalam hal negatif. Dengan hal ini orang tua juga harus mencerminkan perilaku yang positif agar anak dapat mencontoh perilaku positif dari orang–orang terdekatnya terutama orang tuanya.
Kusmiati berpendapat bahwa pola asuh orang tua dalam membentuk karakter disiplin perannya sangat penting karena untuk melatih kedisiplinan anak, orang tua dan guru dituntut untuk bisa memberikan bimbingan dan pengarahan serta dapat memberikan contoh yang baik untuk anak [10]. Hasil dari penelitian Dayanti mengemukakan bahwa peran orang tua dalam membentuk karakter anak memiliki fungsi dan peran yang sangat penting, anak membutuhkan perhatian dari orang tuanya maka orang tua agar bisa mendampingi dan menjalin komunikasi karena Sebagian orang tua waktunya Sebagian besar dihabiskan bekerja diluar rumah, orang tua juga memberikan kesempatan pada anak dalam menentukan hidupnya agar anak tumbuh menjadi seseorang yang percaya diri, orang tua juga memberikan dorongan motivasi kepada anak agar anak menjadi lebih semangat dalam emncapai target yang telah diimpikannya serta membuat anak pantang menyerah dan mau mencoba lagi, orang tua mengawasi dan mengarahkan anak dalam kehidupannya untuk meminimalisir anak melakukan aktivitas negative dan mengarahkan anak ke aktivitas positif [13].
Berdasarkan fenomena yang dipaparkan, peneliti ingin mengungkapkan bagaimana Gambaran pola asuh orang tua dalam membentuk karakter disiplin anak melalui aspek-aspek pola asuh orang tua yang ada. Harapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dapat mengetahui bagaimana Gambaran pola asuh orang tua dalam membentuk karakter disiplin anak. Dengan fokus penelitian tentang gambaran pola asuh orang tua dalam membentuk karakter disiplin anak maka peneliti bertujuan untuk mendeskripsikan realitas pola asuh yang dilakukan oleh orang tua dalam membentuk karakter disiplin.
Penelitian dilakukan di Desa Suruh, Kec. Sukodono Kab Sidoarjo dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi adalah memahami masalah secara (verstehen) yaitu memahami obyek menurut dengan pengertian dari subyek sendiri. Penelitian fenomenologi tentang bagaimana masing–masing individu memberikan makna dari setiap peristiwa atau pengalaman hidup yang mereka alami [14]. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam melalui wawancara yang dilakukan langsung kepada subjek penelitian, sumber data penelitian yaitu 2 orang tua. Analisis Miles and Huberman dalam [15] mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu 1) Data Reduction (Reduksi Data) yaitu data yang diperoleh dari lapangan yang sudah memadai dicatat dengan teliti dan rinci Dimana reduksi data merangkum,mencari tema dan pola untuk memberikan gambaran yang lebih jelas; 2) Data Display (Penyajian Data) menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori; 3) Conclusion Drawing/ Verivication adalah kesimpulan awal yang masih bersifat sementara dan akan berubah jika ditemukan bukti – bukti kuat yang mendukung pada pengumpulan data berikutnya. Dalam pengumpulan data menggunakan Teknik triangulasi,Dimana triangulasi sebagai Teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari beberapa Teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Susan Stainback dalam [15] tujuan dari triangulasi bukan mencari kebenaran tentang fenomena, tetapi lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan. Triangulasi sumber dilakukan dengan mengecek data yang didapatkan dari orang tua dengan mengecek data dari hasil wawancara untuk memastikan data yang diperoleh.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan metode wawancara bersama subjek ditemukan bahwa adanya perbedaan anatara Subjek I dengan Subjek II tentang pola asuh orang tua dalam membentuk karakterk disiplin anak. Adapun hal yang dialami Subjek I dalam kontrol orang tua kurang baik dikarenakan sebagai orang tua tidak mengetahui seluruh aktivitas yang dilakukan anak ketika diluar rumah walaupun sudah di kontrol agar tidak keluar rumah anak tetap keluar rumah lewat jendala kamar tanpa seijin orang tua serta peran ayah yang kurang dalam mengontrol aktivitas anak yang mengakibatkan anak tidak bisa membagi waktunya, dan ketika orang tua sangat jengkel orang tua tidak peduli pada anak mau pulang atau tidak, anak pertama adalah perempuan lebih nurut dibandingkan anak kedua yang laki-laki karena menurut subjek anak laki-laki lebih keras. Sedangkan Subjek II dalam dalam kontrol orang tua baik karena selalu mengontrol semua kegiatan yang dilakukan anak ketika dirumah maupun diluar rumah, ketika anak ada kegiatan diluar orang tua selalu berkomunikasi dengan anak serta mencari informasi ke guru atau orang tua temannya apakah memang ada kegiatan, serta anak harus nurut apa yang dikatakan orang tua terutama tentang tugas, kewajiban, atau beribadah.
Orang tua juga membatasi anak mengikuti kegiatan diluar seperti karang taruna karena orang tua paham dengan kondisi di lingkungan, tetapi orang tua selalu mensupport anak ketika mengikuti acara keagamaan. Orang tua juga selalu mengingatkan anak terkait tugas dan kewajibannya dirumah pada anak kedua karena adanya perbedaan anak pertama dan kedua, dimana anak pertama tanpa diingatkan sudah melakukan tugas dan kewajiban rumah. Dari pemaparan hasil diatas didukung oleh hasil penelitian Tyas orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter orang tua selalu mengingatkan dan mengatur terkait kedisiplinan dan terdapat sanksi jika anak tidak searah dengan peraturan yang dibuat orang tua dimana orang tua mengontrol ketat anaknya dengan penekanan pada peraturan tertentu, orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis anak diberi kebebasan tetapi masih dalam batasan-batasan orang tua dan orang tua tanggap pada kebutuhan anaknya terutama dalam meningkatkan disiplin dimana dengan diberikan kebebasan pada anak diharapkan mampu membantu anak dalam memilih yang terbaik bagi kehidupannya, dan orang tua yang menerapkan pola asuh permisiforang tua acuh terhadap kedisiplinan anak dan tidak adanya peraturan atau sanksi dalam penerapan serta kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak dimana memberikan kebebasan sepenuhnya tanpa adanya batasan-batasan maupun aturan terhadap anak [4].
Selanjutnya subjek Tuntutan Terhadap Perilaku Matang kepada anak. Untuk subjek I pemberlakuan hukuman kurang berlaku bagi anak karena anak sering membelot dari hukuman bahkan orang tua kadang mengancam tetapi dihiraukan dengan anak khususnya anak kedua, dimana penyebab anak sering membelot adalah orang tua khususnya ayah jika jengkel terhadap anak akan memukulinya yang akhirnya anak enggan mau dirumah. Hal ini sangat berbeda sekali dengan subjek II dimana hukuman sangat berlaku bagi anak yang melanggar peraturan yang telah disepakati antara orang tua dengan anak. Hukumana bagi anak sangat berpengaruh dalam aktivitas sehari-hari anak karena orang tua menginginkan anak bertanggung jawab atas apa yang telah disepakati bersama, hukuman yang diberikan adalah tidak diberikannya uang saku pada anak melainkan dimasukkan kedalam buku Tabungan anak. Adapun hadiah antara subjek I dan subjek II sama-sama memberikan hadiah jika anak melakukan tugas yang diberikan oleh orang tua seperti memberikan makanan atau barang yang diinginkan anak bahakan terkadang diberikan uang tip pada anak, tetapi jika barang terlalu mahal orang tua memberitau pada anak agar menabung terlebih dahulu dan akan ditambah dengan orang tua.dari data diatas didukung oleh hasil penelitian Yuliarti pemberian reward agar anak lebih termotivasi dalam melakukan aktivitas dan punishment dilakukan agar anak memperbaiki perilaku dan akhlak yang menyimpang.dari pedoman-pedoman yang ada .
Kemudian aspek komunikasi yang dilakukan orang tua pada anak dalam membentuk karakter disiplin. Dalam subjek I interaksi yang dilakukan orang tua dan anak sangat minim, hal ini menjadikan komunikasi yang dilakukan oleh orang tua dan anak juga sangat minim karena anak jarang sekali dirumah dan orang tua tua tidak bisa berkomunikasi dengan anak ketika anak sedang berada diluar rumah, terkadang orang tua juga memberikan saran serta motivasi untuk anaknya agar sekolah dengan giat dan bisa mengatur waktunya, dan ketika orang tua marah pada anak karena tidak bisa diatur itu dihiraukan oleh anak serta anak selalu menyembunyikan dari orang tua uneg-uneg atau permasalahan yang dihadapinya. Menurut subjek waktu komunikasi yang apling efektif yaitu ketika hujan dan wifi trouble baru bisa komunikasi antara orang tua dan anak. Adapun subjek II dalam komunikasi dengan anak yaitu orang tua selalu menanyakan seluruh aktivitas anak dan membuat peraturan dengan kesepakatan bersama antara orang tua dan anak dalam membagi tugas dirumah, orang tua akan memberikan masukan pada anak jika dirasa dibutuhkan dan juga orang tua juga merasa kesahalan anak terkadang tidak luput dari kesahalan orang tua. Orang tua akan memberikan waktu untuk anak mengeluarkan uneg-uneg yang dirasakan dan orang tua akan memilah kegiatan anak dengan mempertimbangkan serta diberitau ke anak dampaknya. Orang tua juga sering menasehati anak agar tidak mengambil hak orang lain dan ketika merasa benar maka perjuangkan tetapi jika salah maka harus meminta maaf, serta orang tua juga jika merasa salah akan meminta maaf kepada anak. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Kayanto dimana komunikasi penting karena anak mencari jati dirinya dengan membutuhkan perhatian yang lebih dari orang tua dan ketika anak merasa orang tua terlalu sibuk untuk menunjukkan kasih sayang dalam keluarga yang akhirnya merasa bahwa mereka lebih baik dengan teman dan menjadikan buruk dalam perilaku, kurangnya pola asuh dapat menyebabkan anak menjadi remaja yang nakal .
Dari kedua subjek memiliki perbedaan Cara Pengasuhan Orang Tua Dalam Disiplin terhadap anak. Subjek I merasa bahwa anak kurang disiplin dalam melakukan tugas rumah terutama anak kedua terkadang meminta imbalan jika melakukan tugas rumah, anak ketika dirumah sebagian besar waktu dihabiskan didalam kamar jika tidak dikamar maka anak keluar dari rumah serta kurang bisa mengatur waktu dalam aktivitas sehari-hari dan untuk anak pertama cukup nurut karena membantu mengerjakan tugas rumah yang diperintah oleh orang tua dan sering dirumah karena merasa rentan ketika sering keluar rumah. Untuk subjek II yaitu ada perbedaan antara anak pertama dan kedua dimana anak pertama bisa melakukan aktivitas tanpa dituntun oleh orang tua tetapi anak kedua harus selalu dituntun dalam melakukan tugas rumah karena jika tidak diingatan akan lalai. Orang tua dalam mendidik disiplin yaitu diawali contoh oleh orang tua kemudian mengajak anaknya melakukan bersama-sama sehingga menjadi kebiasaan dan dimulai dari kecil dan terkadang ketika anak tidak melihat orang tua melakukannya anak akan protes pada orang tua karena tidak melakukannya. Hasil penelitian Rindawan mengatakan bahwa membentuk dan mendidik karakter anak dibutuhkan proses yang Panjang dam melelahkan, Adapun cara agar anak dapat memiliki kepribadian yang baik adalah : 1) Menanamkan nilai-nilai agama, 2) Menerapkan disiplin, 3) Menegur bila anak berbuat salah, 4) Memuji bila anak berperilaku yang baik, 5) Membantu memecahkan masalah yang diihadapi anak, 6) Menyediakan waktu dengan anak, 7) Menyediakan fasilitas belajar yang sesuai dengan kemampuan orang tua, 8) Memahami dan mendalami perasaan anak, 9) Mengola emosi orang tua, 10) Memberikan contoh yang baik [16].
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti memberikan kesimpulan bahwa gambaran pola asuh orang tua dalam membentuk karakter disiplin anak berdasarkan aspek pada kedua subjek yang dijadikan dalam penelitian adalah kontrol orang tua, kedua subjek berbeda dalam mengontrol anak dan memberikan dampak yang berbeda semakin baik kontrol orang tua pada maka anak juga akan nurut pada kontrol yang diberikan orang tua, kemudian aspek tuntutan terhadap tingkah laku matang kedua subjek memberikan reward pada anak untuk memotivasinya dalam beraktivitas dan juga memberikan punishment atau arahan jika anak melakukan kesalahan agar anak belajar dari kesalahan dan tidak mengulanginya, lalu pada aspek komunikasi antara kedua subjek berbeda yang mana semakin banyak komunikasi anak akan berani mengungkapkan perasaan yang mengganggu dirinya serta orang tua selalu mencoba untuk berkomunikasi secara efektif dengan anak, kemudian aspek cara pengasuhan orang tua dalam disiplin dari kedua subjek terdapat kesamaan bahwa anak kedua memiliki kendala yang sama yaitu kurang bisa disiplin dan orang tua mengajarkan tentang kedisiplinan.
Kemudian aspek lain yang mempengaruhi yaitu kontrol diri orang tua antara kedua subjek memiliki kontrol diri yang berbeda hal ini akan membuat anak akan tertutup pada orang tua dan sebagai orang tua harus bisa meregulasikan emosinya, kemudian aspek dukungan sosial bagi kedua subjek pada anak akan mempengaruhi sosial anak dan dukungan sosial dilakukan orang tua baik ayah maupun ibu agar anak juga lebih bisa termotivasi pada kegiatan sosialnya.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti mengucapkan puji Syukur kehadirat Allah SWT atas berkat, Rahmat, dan karunia-Nya dalam memberikan ilmu pengetahuan, pengalaman kesabaran, kekuatan, kesempatan dalam menyelesaikan penelitian ini. Peniliti menyadari bahwa penelitian ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Terimakasih kepada semua orang yang telah memberikan waktu, tenaga, pikirannya sehingga peneliti menyelesaikan penulisan penelitian ini. Maka dari itu, peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada orang tua yang menyediakan waktunya untuk berkontribusi dalam penelitian ini.
[1] S. Fikriyah, A. Mayasari, U. Ulfah, and O. Arifudin, “Peran Orang Tua terhadap Pembentukan Karakter Anak dalam Menyikapi Bullying,” Jurnal Tahsinia, vol. 3, no. 1, pp. 11–19, 2022, doi: 10.57171/jt.v3i1.306.
[2] A. Taufik and M. Akip, “Pembentukan Karakter Disiplin bagi Siswa,” Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman, vol. 11, no. 2, pp. 122–136, 2021, doi: 10.33367/ji.v11i2.1674.
[3] D. R. R. Tyas, Pola Asuh Orangtua Tunggal dalam Membentuk Karakter Disiplin Belajar Siswa Studi Kasus MI Miftahul Ulum Karangploso Malang. Malang: Universitas Negeri Malang, 2020.
[4] I. Lestari and N. Handayani, “Pentingnya Pendidikan Karakter pada Anak Sekolah Khususnya SMA/SMK di Zaman Serba Digital,” Guru Pencerah Semesta, vol. 1, no. 2, pp. 101–109, 2023, doi: 10.56983/gps.v1i2.606.
[5] A. A. Saetban, “Internalisasi Nilai Disiplin melalui Perencanaan Orang Tua dalam Membentuk Karakter Baik Remaja,” Jurnal Pendidikan, pp. 90–98, 2020.
[6] R. F. P. Putra and Widyana, “Peran Penting Dukungan Sosial Orangtua terhadap Karakter Siswa dalam Menghadapi Era Society 5.0,” G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling, vol. 4, no. 2, pp. 150–160, 2020.
[7] Y. E. Ayu, “Pola Asuh Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini,” Yogyakarta: STPMD APMD, 2019.
[8] F. Utami, “Pengasuhan Keluarga terhadap Perkembangan Karakter Disiplin Anak Usia Dini,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 5, no. 2, pp. 1777–1786, 2021, doi: 10.31004/obsesi.v5i2.985.
[9] H. Hendri, “Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Konsep Diri pada Anak,” At-Taujih: Bimbingan dan Konseling Islam, vol. 2, no. 2, pp. 56–65, 2019, doi: 10.22373/taujih.v2i2.6528.
[10] E. Kusumawardani, Urgensi Pelibatan Orangtua untuk Anak Remaja. Jakarta: Bayfa Cendekia Indonesia, 2023.
[11] I. Dayanti, “Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Remaja Usia 12–15 Tahun di Desa Sedonglor Kabupaten Cirebon,” Al-Tarbiyah: Jurnal Pendidikan, vol. 1, no. 1, pp. 1–10, 2022.
[12] K. Sunarty, Pola Asuh Orangtua dan Kemandirian Anak. Makassar: Edukasi Mitra Grafika, 2015.
[13] E. Kusmiati et al., “Pola Asuh Orang Tua dalam Membentuk Disiplin Anak di Masa Pandemi,” PERNIK: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 4, no. 2, pp. 78–92, 2021, doi: 10.31851/pernik.v4i2.5424.
[14] L. W. Rositania, S. D. Ardianti, and Khamdun, “Pola Asuh Orang Tua dalam Pembentukan Disiplin Belajar Anak Selama Pembelajaran Daring,” Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 2, no. 1, pp. 30–42, 2021.
[15] M. S. R. Guna et al., “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Kemampuan Pengambilan Keputusan Mahasiswa Pria Etnis Sumba di Salatiga,” Jurnal Psikologi, vol. 14, no. 1, pp. 340–352, 2019.
[16] Z. Abdussamad, Metode Penelitian Kualitatif. Makassar: CV Syakir Media Press, 2021.
[17] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2013.
[18] L. Yuliarti, “Konsep Reward dan Punishment dalam Mendidik Anak di Lingkungan Keluarga Menurut Perspektif Pendidikan Islam,” Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2021.
[19] Y. Karyanto, “Komunikasi Interpersonal antara Orangtua dengan Anak dalam Membentuk Kepribadian Anak yang Beriman dan Bertakwa,” Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, vol. 7, no. 2, pp. 2598–2608, 2023, doi: 10.58258/jisip.v7i1.4569.
[20] I. K. Rindawan, I. M. Purana, and F. K. Siham, “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Disiplin pada Anak dalam Lingkungan Keluarga,” Jurnal Pacta Sunt Servanda, vol. 1, no. 2, pp. 53–63, 2020, doi: 10.23887/jpss.v1i2.361.