Tunggal Arys Saputra (1), Ghozali Rusyid Affandi (2)
General Background: Environmental awareness is a fundamental component in maintaining ecological sustainability and supporting responsible community-based tourism development. Specific Background: Local youth participation is considered essential in preserving natural tourism destinations, particularly in rural communities that rely on environmental resources for socio-economic development. Knowledge Gap: Despite the recognized importance of community attachment, empirical research examining the relationship between sense of belonging and environmental awareness among youth in tourism-based rural settings remains limited. Aims: This study aimed to examine the relationship between sense of belonging and environmental awareness among youth in Gunung Petung Hamlet, Tutur Village, Pasuruan Regency, within the development of Sumber Nyonya waterfall tourism. Results: Using a quantitative correlational design involving 172 respondents selected through accidental sampling, data were collected using sense of belonging and environmental awareness scales and analyzed using simple linear regression. The findings revealed a statistically significant relationship between sense of belonging and environmental awareness (F = 16.700, p < .001). The model summary indicated an R value of 0.299 and R² value of 0.089, demonstrating that sense of belonging accounts for 8.9% of environmental awareness variance, while 91.1% is explained by other variables outside the study. Novelty: This study provides empirical evidence linking community attachment with environmental awareness among rural tourism youth populations. Implications: The findings highlight the importance of strengthening community attachment initiatives to encourage youth participation in environmental preservation and sustainable nature-based tourism development.
Highlights:
Keywords: Sense of Belonging, Environmental Awareness, Youth Participation, Community Tourism, Rural Tourism
Dusun Gunung Petung berada di Desa Tutur atau nama lain dari Dusun Nongkojajar yang terletak di wilayah Kecamatan Tutur berada, di sebelah barat pegunungan Bromo di Kabupaten Pasuruan. Desa tutur terbagi menjadi lima dusun, yaitu Dusun Gunung Petung, Dusun Kadipaten, Dusun Krajan 1, Dusun Krajan 2, dan Dusun Tutur Wetan. Desa Tutur juga memiliki potensi sebagai tempat wisata dengan pemandangan alam yang menawan, seperti air terjun sumber nyonya yang terletak di Dusun Gunung Petung. Akan tetapi kurangnya kesadaran masyarakat tentang potensi wisata tersebut yang menyebabkan wisata ini menjadi vakum pada tahun 2018 hingga saat ini. Telah banyak desa wisata yang bermunculan pada sat ini, akan tetapi tidak banyak pula yang berhasil mendatangkan wisatawan secara kontinu (berkala). Beberapa penyebabnya antara lain seperti infrastruktur yang belum memadai dan belum adanya sistem manajemen yang baik dalam pengelolaan desa wisata [1]. Wisata pedesaan yang berbasis potensi alam, pertanian, sosial dan budaya lokal dapat menjadi cara untuk mengembangkan potensi masyarakat berbasis wisata [2]. Menurut peneliti sebelumnya, perilaku sadar lingkungan dipengaruhi oleh pendidikan dan pendapatan, keterbatasan biaya, serta ketersediaan sarana dan tempat [3].
Selain diberi hak untuk memanfaatkan, manusia juga mempunyai tanggung jawab untuk melindungi dan melestarikan lingkungan agar dapat menciptakan lingkungan yang baik dan sehat. Akan tetapi, kenyataan yang kita hadapi saat ini adalah terjadinya kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kurangnya karakter peduli lingkungan pada manusia [4]. Seperti halnya masyarakat terutama pemuda Gunungpetung yang kurang atas kesadaran pada lingkungannya. Pemuda adalah kelompok usia yang sering dianggap sebagai tulang punggung masyarakat untuk berinovasi di masa depan. Menurut bahasa, pemuda ialah sesosok perempuan dan laki-laki yang telah memasuki tahap usia dewasa, yakni kisaran usia 16 hingga 30 tahun. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 pasal 1 ayat (1), pemuda ialah individu yang sedang dalam tahap perkembangan fisik dan emosional, sehingga mereka menjadi sumber daya manusia yang penting untuk pembangunan, baik sekarang maupun di masa depan. Diharapkan pemuda sebagai generasi penerus, akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, yakni generasi yang akan mengisi ide-ide dan melanjutkan pembangunan dan perkembangan [5]. Kesadaran lingkungan harus ditegakkan dalam jiwa pemuda karena berperan penting dalam upaya memulihkan dan melindungi lingkungan. Menurut Hadzigeorgio dan Skoumios, kesadaran lingkungan dapat membangun hubungan antara individu dan alam serta mendorong perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar [6].
Hasil wawancara dengan kepala dusun Gunung Petung berinisial SJ, yaitu: Memang di dusun ini masyarakatnya kurang bisa untuk memanfaatkan lingkungannya, padahal jika apa yang ada di Dusun ini dikembangkan akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi warga juga seperti air terjun sumber nyonya itu mas, bisa dijadikan wisata. Urgensi penelitian ini terletak pada potensi besar yang dimiliki oleh Dusun Gunung Petung dalam mengembangkan wisata Air Terjun Sumber Nyonya yang indah, namun belum termanfaatkan dengan baik karena kurangnya kesadaran lingkungan dan sense of belonging di kalangan masyarakat setempat, khususnya pemuda. Seiring dengan meningkatnya minat terhadap desa wisata, penelitian ini menjadi krusial untuk mengidentifikasi dan meningkatkan peran sense of belonging sebagai faktor yang dapat mendorong kesadaran lingkungan dan partisipasi aktif dalam pengelolaan wisata. Hasil penelitian ini tidak hanya akan memberikan kontribusi terhadap literatur akademik tentang hubungan antara sense of belonging dan kesadaran lingkungan, tetapi juga menawarkan solusi praktis untuk mengatasi masalah sosial-ekonomi dan lingkungan di Dusun Gunung Petung. Dengan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan pemuda, diharapkan potensi wisata Sumber Nyonya dapat dioptimalkan secara berkelanjutan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat setempat.
Terdapat beberapa aspek yang dapat mempengaruhi kesadaran lingkaran, diantaranya adalah general belief, personal attitude, dan information/knowledge [8]. General belief merupakan suatu keyakinan individu dalam menilai lingkungannya, personal attitude merupakan sikap individu terhadap kondisi lingkungan dengan mementingkan norma dan moral pribadi, serta information/knowledge merupakan pengetahuan seseorang yang berkaitan dengan isu-isu lingkungan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rezkiyah menunjukkan bahwa kontribusi antara sense of belonging terhadap kesadaran lingkungan memiliki nilai R2 sebesar 0,539 yang berarti bahwa sense of belonging memiliki pengaruh cukup signifikan sebesar 53,9% dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 terhadap kesadaran lingkungan [9]. Hasil penelitian lainnya pun juga menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif cukup signifikan antara sense of belonging terhadap kesadaran lingkungan dengan perhitungan sumbangan efektif sebesar 13,9% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain [10]. Menurut teori antroposentrisme, etika hanya diterapkan pada manusia, sehingga segala kewajiban dan tanggung jawab moral manusia terhadap lingkungan hidup sering dianggap berlebihan, tidak relevan, dan tidak sesuai [11]. Artinya, kewajiban dan tanggung jawab terhadap alam hanyalah merupakan suatu perwujudan dari kewajiban dan tanggung jawab moral terhadap sesama manusia, bukan terhadap alam itu sendiri. Jika manusia menunjukkan kepedulian terhadap alam, hal tersebut semata-mata dilakukan karena memberikan manfaat bagi kepentingan manusia saja. Sebaliknya, jika alam tidak memberikan keuntungan bagi manusia, maka alam akan diabaikan. Pengetahuan lingkungan ternyata berpengaruh terhadap kesadaran lingkungan. Madsen menegaskan bahwa masyarakat harus memiliki pengetahuan dan pemahaman dasar mengenai masalah lingkungan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan [12]. Sense of belonging merupakan sebuah dorongan yang dapat membentuk dan mempertahankan hubungan interpersonal yang signifikan dan positif [9]. Ketiga aspek tersebut tentunya berkaitan dengan hasil wawancara yang telah dilakukan bersama Kepala Dusun Gunung Petung karena diketahui bahwa masyarakat Dusun Gunung Petung kurang dapat memanfaatkan lingkungan di sekitarnya kemungkinan dikarenakan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap alam sekitar, kurangnya pengetahuan mengenai sumber daya alam apa saja yang apabila dimanfaatkan dengan baik akan menguntungkan masyarakat sekitar, serta rendahnya sense of belonging yang menyebabkan pemuda Dusun Gunung Petung cenderung kurang dapat mempertahankan komitmen mereka terhadap pelestarian lingkungan.
Kokkinen mengidentifikasikan tiga elemen kesadaran lingkungan berupa motivasi, pengetahuan lingkungan, dan keterampilan [9][12]. Untuk mencapai kesadaran lingkungan, terdapat beberapa tahapan menggambarkan perkembangan seseorang, antara lain: (1) dorongan untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan, didorong oleh kekhawatiran tentang kesehatan; (2) pemahaman individu tentang berbagai fakta terkait masalah lingkungan mulai berkembang; (3) individu mulai memahami tanggung jawab dan kesadaran lingkungan secara lebih profesional dan luas; serta (4) kesadaran lingkungan menjadi bagian penting dari keterampilan profesional yang tercermin dalam aktivitas sehari-hari mereka.
Terdapat empat faktor yang mempengaruhi kesadaran lingkungan menurut Neolaka, antara lain: (a) faktor ketidaktahuan; (b) faktor kemiskinan; (c) faktor kemanusiaan; dan (d) sense of belonging. Dari keempat faktor tersebut, faktor kemanusiaan dan sense of belonging merupakan salah satu faktor yang penting karena manusia adalah makhluk berakal yang dapat mengerti hal yang benar dan salah [10]. Faktor kemanusiaan sangat dominan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Manusia diharapkan dapat menjaga hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan agar keseimbangan ekosistem tidak terganggu. Ketika seseorang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, maka mereka tidak akan melakukan hal-hal yang dapat merugikan manusia yang lainnya melainkan menjaga lingkungan tempat mereka tinggal. Dengan begitu seseorang yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi akan lebih sadar akan lingkungannya sehingga dapat mempertahankannya demi kepentingan bersama. Pada tahap ini, kehidupan mulai mencapai keseimbangan, dan manusia menyadari bahwa mereka adalah bagian dari keseluruhan lingkungan, sehingga individu merasa menjadi bagian integral dari lingkungan tersebut. Inilah yang dikenal sebagai sense of belonging.
Sense of belonging diartikan sebagai pengalaman terlibatnya individu dalam suatu lingkungan, yang membuat mereka merasa menjadi suatu bagian terpenting dari lingkungan tersebut. Sense of belonging memiliki dua aspek, yaitu keterlibatan yang dihargai dan kesesuaian [13]. Terbentuknya sense of belonging dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:. Berbagai faktor yang mempengaruhi sense of belonging antara lain: (1) interaksi sosial; (2) kepercayaan; (3) persamaan antara anggota; (4) kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu; (5) keluarga; dan (6) umur [10]. Menurut Goodenow, sense of belonging adalah perasaan diterima, dihargai, merasa termasuk atau terlibat, serta mendapatkan dukungan dari orang lain dan lingkungannya, dengan perasaan bahwa dirinya adalah bagian yang penting dan berharga dalam aktivitas maupun kehidupan kelompok [14].
Peran sense of belonging terhadap kesadaran masyarakat sangat penting dalam berbagai aspek sosial. Perasaan ini merujuk pada individu yang merasa diterima dan merupakan bagian dari suatu komunitas. Hal ini mempengaruhi perilaku, partisipasi, dan komitmen mereka dalam kegiatan komunitas tersebut [15]. Sense of belonging adalah pengalaman seseorang yang terlibat dalam suatu kelompok atau situasi tertentu dan merasa dirinya bagian dari kelompok tersebut. Ini melibatkan upaya untuk melindungi, merawat, dan memelihara apa yang dimiliki bersama. Masyarakat dengan sense of belonging yang tinggi akan berusaha merawat dan mengembangkan lingkungannya untuk mencapai prestasi lebih baik. Merawat lingkungan akan lebih mudah jika ada kepedulian dalam masyarakat. Semakin peduli seseorang terhadap lingkungan, semakin aktif partisipasinya dalam menjaga lingkungan [16].
Berdasarkan berbagai penjelasan di atas, diharapkan penelitian ini dapat menunjukkan adanya pengaruh variabel sense of belonging terhadap variabel kesadaran lingkungan masyarakat, khususnya pemuda Gunung Petung, karena dalam penelitian sebelumnya sense of belonging masih dikaitkan dengan lingkungan kerja. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah mengungkap sejauh mana pengaruh sense of belonging terhadap kesadaran pemuda Gunung Petung dalam membangun wisata air terjun Sumber Nyonya Kabupaten Pasuruan. Dengan berbagai tinjauan tersebut serta adanya penelitian sebelumnya yang membahas tentang variabel sense of belonging dikaitkan dengan kesadaran lingkungan kerja, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran Sense of belonging terhadap Kesadaran Pemuda Gunung Petung dalam Membangun Wisata Air Terjun Sumber Nyonya Kabupaten Pasuruan”.
Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif dengan metode korelasional. Penelitian korelasional adalah penelitian yang mengukur pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen [17]. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana.
Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah Pemuda Dusun Gunung Petung Desa Tutur Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. Populasi penelitian ini diidentifikasi oleh peneliti adalah Pemuda Gunung Petung Desa Tutur Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan jumlah penduduk terdapat 336 warga diidentifikasi. Dengan jumlah sampel 172 pemuda diambil menggunakan tabel isaac dan michael dengan taraf kesalahan 5% menggunakan teknik incidental sampling [18]. Pada metode ini partisipan dipilih berdasarkan ketersediaan dan kesiapan mereka untuk berpartisipasi [19][20].
Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu sense of belonging yang merupakan variabel independen dan kesadaran lingkungan sebagai variabel dependen. Metode pengumpulan data ini menggunakan 2 skala, yaitu skala sense of belonging dan skala kesadaran lingkungan. Kedua skala tersebut diadopsi dan dimodifikasi dari skala yang sudah ada, untuk skala kesadaran lingkungan diadopsi dari skala yang dikembangkan oleh Alvionita Rizqi Aulia, memiliki 3 aspek yaitu General Belief, Personal Attitudes, Information/Knowledge yang di kembangkan oleh Sanchez dan Lafuente, yang terdiri dari 23 aitem favorable dan unfavorable dengan nilai reliabilitas 0.914 [21]. Sedangkan untuk skala sense of belonging diadopsi dari Silsy Dwina Cahyanti dengan aspek value involvement, memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,855 yang sebelumnya memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,854 dengan jumlah aitem sebanyak 19 aitem [20]. Kedua skala disusun berdasarkan model Likert dengan pemberian skor 4 – 3 – 2 – 1 untuk pertanyaan atau pernyataan bersifat positif (favorable) dan 1 – 2 – 3 – 4 untuk pertanyaan atau pernyataan bersifat negatif (unfavorable). Penskalaan model ini memiliki empat alternatif jawaban yaitu, SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), dan STS (Sangat Tidak Setuju) [22].
Analisis Data
Data yang terkumpul akan dilakukan pengolahan data menggunakan uji asumsi normalitas, linieritas, dan uji hipotesis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan bantuan program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) for windows untuk mengetahui peran antara variabel independen yaitu sense of belonging terhadap variabel dependen yaitu kesadaran lingkungan.
Hasil
A. Deskriptif Data Penelitian
Analisis data deskriptif penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran umum mengenai respons dari sampel penelitian terhadap kedua variabel yang diperoleh di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai minimum Kesadaran Lingkungan adalah 54 sementara Sense of belonging adalah 29. Sedangkan nilai maksimum untuk Kesadaran Lingkungan adalah 69 sementara untuk Sense of belonging adalah 62. Nilai mean untuk variabel Kesadaran Lingkungan sebesar 61,52 lalu untuk Sense of belonging sebesar 46,94. Standar deviasi untuk variabel Kesadaran Lingkungan sebesar 2,951 sementara untuk variabel Sense of belonging sebesar 6,629 seperti yang tertera pada tabel 1 di bawah ini.
Table 1. Deskriptif Data Empirik
B. Kategorisasi
C. Uji Asumsi
Dilakukannya uji asumsi bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dapat memenuhi standar analisis atau tidak. Uji asumsi dalam penelitian ini mencakup uji normalitas, uji linieritas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas. Berikut hasil uji analisis dari masing-masing asumsi tersebut:
a. Uji Normalitas
Tujuan dilakukannya uji normalitas dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah data bersifat normal dan apakah sudah memenuhi standar dalam analisis atau tidak. Hasil uji normalitas ditunjukkan dalam tabel di bawah ini:
Table 2. Hasil Uji Normalitas
Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa data menunjukkan distribusi normal, terlihat dari hasil uji normalitas menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) = 0,200 > 0,05.
b. Uji Linieritas
Uji linieritas dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen dan variabel dependen dalam penelitian ini memiliki hubungan linier atau tidak dengan taraf signifikansi Sig. < 0.05 dan nilai Sig. Deviation From Linearity > 0,005.
Table 3. Hasil Uji Linieritas
c. Uji Hipotesis
Uji Hipotesis pada penelitian ini untuk mengetahui adakah pengaruh sense of belonging terhadap variabel kesadaran lingkungan menggunakan regresi linear sederhana yang diolah dengan menggunakan software JASP 0.13.1.0. Tabel di bawah ini merupakan hasil uji regresi linear sederhana.
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang tercantum dalam tabel 4 dan 5 di bawah ini, diperoleh nilai F = 16,087 dan nilai R = 0,299 dengan Sig. = 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian dapat diterima, yang berarti terdapat pengaruh antara sense of belonging terhadap kesadaran lingkungan yang signifikan. Besar pengaruh sense of belonging terhadap kesadaran lingkungan terdapat pada tabel 4 di bawah ini. Diperoleh nilai R2 = 0.089 atau yang berarti variabel sense of belonging memiliki pengaruh sebesar 8,9% terhadap variabel kesadaran lingkungan.
Table 4. Hasil Uji Hipotesis
Table 5. Hasil Uji F
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sense of belonging memiliki pengaruh signifikan terhadap kesadaran lingkungan. Nilai R² sebesar 0,089 artinya bahwa sense of belonging memberikan kontribusi sebesar 8,9% terhadap variabel kesadaran lingkungan. Meskipun kontribusi ini tampak kecil, signifikansi statistik yang ditunjukkan oleh uji hipotesis menggarisbawahi pentingnya sense of belonging dalam konteks kesadaran lingkungan. Individu yang memiliki rasa keterikatan dengan komunitasnya cenderung memiliki kesadaran lingkungan yang lebih tinggi[23]. Hal ini menunjukkan bahwa sense of belonging bukan sekadar perasaan sosial, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan.
Kesadaran lingkungan adalah kondisi di mana seseorang memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungan, baik di tempat tinggal maupun tempat kerja. Hal ini cenderung dapat mempengaruhi perilaku dan perkembangan orang lain. Menurut pandangan lain, perilaku individu terhadap lingkungan terbentuk dari pemahaman, sikap, dan perilakunya sendiri. Kesadaran lingkungan (Environmental Awareness) berfungsi sebagai penghubung antara pengetahuan dan pemahaman individu tentang lingkungan. Kemampuan seseorang untuk memahami hubungan antara tindakan manusia dan keadaan lingkungan di sekitarnya dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan aman disebut sebagai kesadaran lingkungan [24].
Pengelolaan lingkungan, terutama dalam konteks wisata alam seperti air terjun Sumber Nyonya, memerlukan partisipasi aktif dari komunitas lokal. Dengan meningkatkan sense of belonging di kalangan pemuda, kesadaran dan partisipasi mereka dalam pelestarian lingkungan dapat ditingkatkan. Keterlibatan aktif ini penting untuk memastikan bahwa aktivitas wisata tidak merusak ekosistem yang ada. Sense of belonging yang tinggi mendorong pemuda untuk merasa bertanggung jawab dan peduli terhadap kelestarian alam di sekitar mereka. Ini dapat diterjemahkan menjadi perilaku nyata seperti menjaga kebersihan, ikut serta dalam konservasi, dan mendukung inisiatif lingkungan [24].
Terdapat beberapa aspek utama yang menjadi dasar pembentukan sense of belonging instrument menurut Hagerty, antara lain: (1) Valued Environment (dihargai dan keterlibatan) yang merupakan pengalaman seseorang terkait perasaan diterima, dibutuhkan, dan dihargai. (2) Fit (sesuai) yaitu keyakinan bahwa sifat-sifat seseorang sesuai dengan sistem atau tempat mereka tinggal. (3) Antecedent atau hadirnya rasa memiliki [25]. Ciri-ciri konsep kesadaran lingkungan antara lain kesadaran peduli akan lingkungan hidup, mampu untuk memahami sumber kerusakan yang ada pada lingkungan, memiliki pengetahuan mengenai keamanan serta kesehatan akan lingkungan, memiliki rasa akan tanggung jawab penuh dalam memelihara serta mencegah adanya kerusakan lingkungan [26].
Berdasarkan aspek-aspek sense of belonging dan ciri-ciri konsep kesadaran lingkungan tersebut, apabila saling dikaitkan maka: (1) individu yang merasa dihargai akan cenderung lebih peduli akan lingkungan yang mereka tinggali. (2) rasa keterlibatan dapat membuat individu merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. (3) ketika individu merasa sesuai dengan komunitasnya, maka mereka akan lebih mudah dalam memahami isu-isu lingkungan yang relevan dengan tempat tinggal mereka. (4) individu dengan rasa memiliki yang kuat cenderung memiliki tanggung jawab penuh dalam memelihara lingkungan yang mereka tinggali serta rasa memiliki juga dapat meningkatkan kesadaran individu akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup mereka [27][28].
Meningkatkan sense of belonging di kalangan pemuda tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek dalam bentuk peningkatan kesadaran lingkungan, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang. Pemuda yang memiliki sense of belonging yang kuat cenderung mempertahankan komitmen mereka terhadap pelestarian lingkungan seiring waktu [29]. Mereka menjadi agen perubahan yang dapat mempengaruhi orang lain dan membangun komunitas yang lebih peduli terhadap lingkungan. Ini berarti bahwa intervensi yang berfokus pada peningkatan sense of belonging memiliki potensi untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan dalam perilaku dan sikap terhadap lingkungan [28].
Pendekatan multidisipliner yang melibatkan ilmu psikologi, sosiologi, dan lingkungan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana sense of belonging dan kesadaran lingkungan saling berkaitan. Penelitian dengan pendekatan ini dapat menggali faktor-faktor psikologis dan sosial yang mendasari sense of belonging, serta bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi dengan aspek-aspek lingkungan [29]. Walaupun penelitian ini memberikan wawasan penting tentang pengaruh antara sense of belonging dan kesadaran lingkungan, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Ukuran sampel yang terbatas mungkin tidak sepenuhnya mewakili populasi pemuda di Gunung Petung. Selain itu, penelitian ini hanya berfokus pada satu variabel independen saja, yakni sense of belonging. Variabel lain seperti tingkat pendidikan, akses informasi, dan pengalaman pribadi mungkin juga berpengaruh terhadap kesadaran lingkungan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sense of belonging memiliki pengaruh signifikan terhadap kesadaran lingkungan di kalangan pemuda di Gunung Petung. Analisis deskriptif data menunjukkan nilai kesadaran lingkungan dengan nilai kategorisasi rendah 33, sedang 112, tinggi 27 dan sense of belonging memiliki nilai dengan kategorisasi rendah 26, sedang 127, tinggi 19. Uji normalitas, linieritas menunjukkan bahwa data memenuhi standar analisis statistik yang diperlukan. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa variabel sense of belonging memberikan kontribusi sebesar 8,9% terhadap variabel kesadaran lingkungan secara signifikan dengan nilai F = 16,087 dan taraf signifikansi Sig. = 0,000 < 0,05.
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat penting bagi Dusun Gunung Petung dan para pembaca artikel ini. Bagi Dusun Gunung Petung, hasil penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan pemuda melalui penguatan sense of belonging. Kesadaran yang lebih tinggi ini sangat penting untuk pengelolaan dan pelestarian lingkungan sekitar, termasuk pengembangan potensi wisata Air Terjun Sumber Nyonya. Dengan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan komunitas, dusun dapat mengoptimalkan potensi wisata secara berkelanjutan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Selain itu, peningkatan sense of belonging di antara pemuda juga dapat memperkuat ikatan komunitas dan mendorong kerjasama dalam menjaga lingkungan, serta mengatasi sikap apatis yang dapat menghambat perkembangan sosial dan ekonomi.
Untuk meningkatkan sense of belonging para pemuda gunungpetung diharapkan para perangkat desa dari dusun gunungpetung dapat lebih sering menjalin komunikasi dengan baik lagi dan melakukan kontak sosial kepada masyarakatnya terutama para pemuda yang ada di dusun gunungpetung agar masyarakat merasa mereka juga bagian penting dalam lingkungan dan dapat tergerak untuk memajukan potensi yang ada didusunnya. Terdapat beberapa cara yang mungkin dapat diterapkan oleh para pengurus desa tersebut, diantaranya peningkatan infrastruktur, mengadakan pelatihan dan edukasi untuk para pemuda, mengadakan sosialisasi dan promosi terkait wisata alam tersebut, pembentukan kelompok kerja, bekerjasama dengna pihak eksternal, serta monitoring dan evaluasi. Sedangkan bagi pembaca, penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya sense of belonging dalam mempengaruhi perilaku individu dalam konteks komunitas dan lingkungan. Selain itu, penelitian ini menawarkan model pengembangan komunitas yang menekankan peran sense of belonging sebagai pendorong inisiatif pelestarian lingkungan dan pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Dengan menyediakan data empiris yang relevan, penelitian ini juga dapat menjadi referensi berharga bagi penelitian lanjutan atau pengembangan program serupa di daerah lain
Saran untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya melibatkan sampel yang lebih besar dan lebih beragam untuk meningkatkan generalisasi temuan. Dan mungkin bisa menambahkan variabel lain seperti tingkat pendidikan, akses informasi, dan pengalaman pribadi mungkin juga berpengaruh terhadap kesadaran lingkungan dan perlu dieksplorasi lebih lanjut.
A. Nurhayati, “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelompok Tani Salak Melalui Pelatihan Pengolahan Buah Salak di Desa Brambang Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan,” Soeropati, vol. 2, no. 2, pp. 127–140, 2020, doi: 10.35891/js.v2i2.2065.
R. A. Lestari, “Reformasi Birokrasi Sebagai Pelayan Publik,” Din. Gov. J. Ilmu Adm. Negara, vol. 9, no. 1, 2019, doi: 10.33005/jdg.v9i1.1421.
N. Purwanto, “Perilaku Sadar Lingkungan Pemukim Bantaran Sungai Jelai, Kabupaten Sukamara,” J. Pembang. Wil. Kota, vol. 14, no. 1, p. 41, 2018, doi: 10.14710/pwk.v14i1.17348.
L. M. A. Sa’ban, A. Sadat, and A. Nazar, “Jurnal PKM Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat Dalam Perbaikan Sanitasi Lingkungan,” Din. J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 5, no. 1, pp. 10–16, 2020, doi: 10.31849/dinamisia.v5i1.4365.
T. Abdillah, Pemuda dan Perubahan Sosial. Jakarta: Jalan Sutra, 2010.
E. Maulana and H. C. Haryanto, “Bagaimana Kondisi Kesadaran Lingkungan Terkait Pencemaran Udara yang Dimiliki Oleh Masyarakat Perkotaan? (Studi Pendahuluan Pada Masyarakat Di Jakarta),” Inq. J. Ilm. Psikol., vol. 11, no. 1, pp. 40–50, 2020, doi: 10.51353/inquiry.v11i1.415.
A. Kollmuss and J. Agyeman, “Mind the Gap : Why do people act environmentally and what are the barriers to pro-environmental behavior ? Mind the Gap : why do people act environmentally and what are the barriers to,” vol. 4622, 2010, doi: 10.1080/13504620220145401.
A. S. Keraf, Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2010.
S. B. Fiandiras and R. Rosyidah, “Pengaruh Sense of Belonging Terhadap Kesadaran Lingkungan Masyarakat Sekitar Wisata Pantai Tlangoh Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan,” J. Psikol. Poseidon, vol. 6, no. 1, pp. 1–14, 2023, doi: 10.30649/jpp.v6i1.77.
F. Amalia, A, “Hubungan Sense of Belonging dengan Partisipasi Masyarakat pada Bank Sampah di Wilayah Kecamatan Kemayoran,” 2020.
E. Kokkinen, “Measuring Environmental Awareness in The World,” pp. 9–54, 2013.
T. Theodoridis and J. Kraemer, Raising Environmental Awareness In The Baltic Sea Area. 1999.
B. M. K. Hagerty and K. Patusky, “Developing a measure of sense of belonging,” Nurs. Res., vol. 44, no. 1, pp. 9–13, 1995, doi: 10.1097/00006199-199501000-00003.
M. Muhaeminah, “Game therapy untuk meningkatkan sense of belonging anak panti asuhan,” J. Ilm. Psikol. Terap., vol. 3, no. 1, pp. 32–53, 2016, [Online]. Available: http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jipt/article/view/2125
L. Zanbar, “Sense of Belonging and Commitment as Mediators of the Effect of Community Features on Active Involvement in the Community,” City Community, vol. 19, no. 3, pp. 617–637, 2020, doi: 10.1111/cico.12420.
A. F. Amalia, A. P. Dian, and Y. Shahibah, “Hubungan Sense of Belonging Dengan Partisipasi Masyarakat Pada Bank Sampah Di Wilayah Kecamatan Kemayoran,” Edukasi IPS, vol. 4, no. 1, pp. 30–39, 2020, doi: 10.21009/eips.004.1.04.
John W. Creswell, Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.
H. Retnawati, “Teknik Pengambilan Sampel,” Ekp, vol. 13, no. 3, 2015.
I. Etikan, “Comparison of Convenience Sampling and Purposive Sampling,” Am. J. Theor. Appl. Stat., vol. 5, no. 1, p. 1, 2016, doi: 10.11648/j.ajtas.20160501.11.
S. D. Cahyanti, “Hubungan antara Sense Of Belonging dengan Keterlibatan Pegawai Negri Sipil Rutan Kelas II B Pekanbaru,” Corp. Gov., vol. 10, no. 1, pp. 54–75, 2020.
A. R. Aulia, “Pengaruh Kesadaran Lingkungan Terhadap Perilaku Masyarakat dalam Mengurangi Sampah Plastik di Kelurahan Pondok Labu,” Univ. Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pp. 1–91, 2019.
S. Hadi, Analisis Butir untuk Instrumen Angket, Tes, dan Skala Nilai. Yogyakarta: FP UGM, 1991.
L. N. Lestari and D. K. Dewi, “Perbedaan Sense Of Belongingness Ditinjau dari Tahun Angkatan pada Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya,” Character J. Penelit. Psikol., vol. 07, no. 2, pp. 52–61, 2020.
R. Irawan, S. Mersa, and J. Mulyono, “Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Fisik Di Desa Negara Nabung Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur Dalam Pembangunan,” Adm. J. Ilm. Adm. Publik dan Pembang., vol. 9, no. 1, pp. 43–50, 2018, doi: 10.23960/administratio.v9i1.63.
Laura O. Walz, The Relationship between College Students’ Use of Social Networking Sites and Their Sense of Belonging. United States: University of Hartford, 2009.
M. Potabenko, “Research on Enviromental Awareness in Ukraine,” 2004.
F. Felicia, Rostiana, and A. Malik Gismar, “Peran Sense of Belonging terhadap Stres Digital dengan Locus of Control sebagai Moderator,” J. Muara Ilmu Sos. Humaniora, dan Seni, vol. 6, no. 3, pp. 650–659, 2023, doi: 10.24912/jmishumsen.v6i3.19149.2022.
Z. A. A. A. Attamimi, “Hubungan antara sense of belonging dengan organizational citizenship behavior (ocb) pada karyawan yayasan bakii cilacap.,” Universitas Negeri Semarang, 2019.
H. Kurniawan, I. A. Brahmasari, I. Aju, and B. Ratih, “Proceeding International Conference on Economic Business Management, and Accounting (ICOEMA)-2022 Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya-2022 The effect of empowering leadership, locus of control and sense of belonging on t,” pp. 822–849, 2022.