Maulidia Bati Awwahah (1), Eko Hardi Ansyah (2)
General Background: Learning motivation is a central component in educational achievement and student development, shaped by internal and external determinants. Specific Background: Previous evidence indicates that family environment and self-regulation capacity are critical determinants associated with students’ engagement, goal orientation, and academic participation, particularly within Islamic secondary school contexts. Knowledge Gap: Earlier studies frequently investigated family harmony and self-regulation independently, with limited empirical examination of their combined relationship with learning motivation among MTs students. Aims: This study examines the relationship between family harmony and self-regulation with learning motivation among students at MTs Fadllillah. Results: Using a quantitative inferential design with 228 students selected through accidental sampling, data were collected using validated psychological scales and analyzed through multiple linear regression. Findings demonstrated a statistically significant relationship between family harmony and self-regulation with learning motivation, indicated by F(2,225) = 118.209 and p < 0.001. The coefficient of determination showed that both variables contributed 51.2% to learning motivation variance. Partial analysis also revealed significant relationships between family harmony and learning motivation, as well as between self-regulation and learning motivation. Novelty: This research integrates internal and external determinants of learning motivation simultaneously within an Islamic junior secondary education setting, providing a comprehensive analytical perspective. Implications: The findings provide empirical evidence supporting the importance of supportive family relationships and self-management capacity in strengthening student engagement, offering insights for educational practitioners and policymakers in designing student development strategies.
Highlights:
Keywords: Family Harmony, Self Regulation, Learning Motivation, MTS Students, Multiple Linear Regression
Motivasi belajar merupakan elemen penting dalam proses pendidikan yang memengaruhi pencapaian akademik dan pengembangan keterampilan siswa. Motivasi belajar mengacu pada dorongan internal dan eksternal yang mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar, menetapkan tujuan, dan berusaha mencapai hasil akademik yang optimal. Motivasi ini memainkan peran krusial dalam menentukan seberapa baik siswa dapat mengatasi tantangan, berkomitmen terhadap tugas-tugas akademik, dan secara umum, seberapa besar mereka berpartisipasi dalam kegiatan belajar [1].
Di era pendidikan modern, tantangan dalam mempertahankan motivasi belajar semakin kompleks. Berbagai faktor, baik individu maupun lingkungan, dapat mempengaruhi tingkat motivasi siswa. Penelitian menunjukkan bahwa motivasi yang tinggi berkorelasi positif dengan prestasi akademik, keterlibatan dalam kegiatan sekolah, serta perkembangan keterampilan pribadi dan sosial. Sebaliknya, motivasi yang rendah dapat mengakibatkan hasil akademik yang buruk, ketidakaktifan dalam pembelajaran, dan dampak negatif pada kesejahteraan mental siswa [2].
Bukti empiris dari penelitian terdahulu berkaitan dengan problem motivasi belajar pada siswa MTs adalah sebagai berikut. Penelitian Sari, N. [3], menemukan bahwa sekitar 37% siswa memiliki motivasi belajar yang rendah akibat kurangnya keharmonisan dalam keluarga mereka. Berdasarkan penelitian oleh Amalia, R. [4], ditemukan bahwa sekitar 40% siswa memiliki motivasi belajar yang rendah karena kurangnya kemampuan regulasi diri. Penelitian Rahman, A. [5], menunjukkan bahwa sekitar 42% siswa memiliki motivasi belajar yang rendah karena kurangnya dukungan dari keluarga. Hasil penelitian Fitriani, N. [6], menunjukkan bahwa sekitar 39% siswa memiliki motivasi belajar yang rendah karena kurangnya penerapan metode pembelajaran aktif. Penelitian oleh Yulianto, A. [7], menemukan bahwa sekitar 35% siswa memiliki motivasi belajar yang rendah karena interaksi yang kurang efektif antara guru dan siswa. Berdasarkan pada beberapa penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa masih banyak siswa yang memiliki tingkat motivasi belajar rendah dan hal tersebut membutuhkan banyak perhatian agar tidak berdampak negatif pada siswa.
Perbedaan motivasi belajar antara siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan MTs (Madrasah Tsanawiyah) seringkali dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan kurikulum, lingkungan belajar, dan tujuan pendidikan masing-masing. Motivasi belajar siswa SMP biasanya didorong oleh keinginan untuk mencapai prestasi akademik yang baik dalam mata pelajaran umum seperti Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris. Kurikulum yang umum dan penilaian yang berbasis pada pencapaian akademik sering kali menjadi faktor utama dalam memotivasi siswa SMP. Siswa mungkin lebih termotivasi oleh tujuan jangka pendek seperti mendapatkan nilai baik atau mendapatkan penghargaan dalam kompetisi akademik [8]. Motivasi belajar siswa MTs seringkali dipengaruhi oleh integrasi antara mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama Islam. Motivasi dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama dan tujuan jangka panjang untuk memperoleh pemahaman agama yang lebih mendalam serta penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Siswa MTs mungkin merasa termotivasi oleh harapan untuk mencapai prestasi baik dalam bidang agama dan umum, serta oleh dorongan untuk menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari [9]. Lingkungan belajar di SMP mungkin lebih fokus pada pengembangan keterampilan akademik dan sosial. Motivasi siswa SMP seringkali dipengaruhi oleh interaksi dengan guru, teman sebaya, dan partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler yang tidak terkait dengan agama [10]. Lingkungan belajar di MTs seringkali mencakup unsur-unsur keagamaan yang signifikan, seperti pengajian dan kegiatan keagamaan. Motivasi siswa MTs dapat dipengaruhi oleh suasana belajar yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan interaksi dengan komunitas yang memiliki orientasi keagamaan. Kegiatan keagamaan dan dukungan dari lingkungan yang religius dapat memperkuat motivasi siswa untuk belajar dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama [11]. Siswa SMP mungkin lebih fokus pada pencapaian tujuan akademik yang bersifat umum, seperti melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dan meraih prestasi dalam mata pelajaran. Motivasi siswa SMP sering didorong oleh tujuan pendidikan yang bersifat akademik dan pragmatis [12]. Siswa MTs seringkali memiliki tujuan pendidikan yang lebih integratif, yaitu mencapai pemahaman akademik sekaligus pemahaman agama. Motivasi belajar siswa MTs mungkin dipengaruhi oleh harapan untuk menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga baik secara moral dan spiritual [13]. Keluarga dan komunitas sekitar SMP mungkin lebih fokus pada pencapaian akademik dan pengembangan keterampilan non-agama. Motivasi siswa seringkali dipengaruhi oleh dukungan keluarga dalam hal pendidikan akademik dan kegiatan sosial [14]. Keluarga dan komunitas di MTs mungkin memberikan dukungan yang lebih terfokus pada pendidikan agama dan penerapan nilai-nilai Islam. Motivasi siswa MTs seringkali dipengaruhi oleh harapan keluarga untuk menerapkan nilai-nilai agama dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Kegiatan ekstrakurikuler di SMP mungkin mencakup klub akademik, olahraga, seni, dan kegiatan sosial. Motivasi siswa SMP seringkali didorong oleh partisipasi dalam kegiatan yang dapat meningkatkan keterampilan dan prestasi akademik. Kegiatan ekstrakurikuler di MTs dapat mencakup aktivitas keagamaan seperti pengajian, hafalan Al-Qur'an, dan kegiatan dakwah. Motivasi siswa MTs dapat dipengaruhi oleh partisipasi dalam kegiatan yang mendukung pengembangan spiritual dan moral sesuai dengan ajaran agama [15].
Berdasarkan survei awal yang telah dilakukan di MTs. Fadllillah, 68,7% subjek tidak menyelesaikan semua tugas sekolah tepat waktu. Sebanyak 60,9% subjek tidak mencari bahan tambahan di luar pelajaran sekolah untuk memperdalam pemahamannya. Selain itu, 60,9% subjek tidak berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang baik dalam setiap mata pelajaran. Sebanyak 66,7% subjek tidak yakin bahwa usaha kerasnya dalam belajar akan membawa hasil yang baik di masa depan. Terakhir, 65,2% subjek tidak menetapkan tujuan belajar untuk setiap mata pelajaran dan berusaha mencapainya. Menyelesaikan semua tugas sekolah tepat waktu dan menetapkan tujuan belajar untuk setiap mata pelajaran dan berusaha mencapainya merupakan bagian dari aspek komitmen. Mencari bahan tambahan di luar pelajaran sekolah untuk memperdalam pemahaman merupakan bagian dari aspek inisiatif. Meyakini bahwa usaha keras dalam belajar akan membawa hasil yang baik di masa depan merupakan bagian dari aspek optimisme. Komitmen, inisiatif, dorongan, dan optimisme adalah aspek-aspek motivasi belajar. Karena banyak subjek yang tidak memenuhi aspek-aspek motivasi belajar, maka bisa disimpulkan bahwa mayoritas subjek memiliki tingkat motivasi belajar yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang disurvei mengalami kesulitan dalam mempertahankan motivasi untuk belajar.
Rendahnya motivasi belajar dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif pada individu, baik dalam konteks akademis maupun dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa akibat yang bisa timbul dari rendahnya motivasi belajar. Prestasi akademik yang rendah. Menurut Zimmerman, B.J. [16] siswa yang kurang termotivasi cenderung tidak berusaha maksimal dalam studi mereka, yang bisa berujung pada nilai yang rendah dan prestasi akademik yang buruk. Penurunan minat dan keterlibatan. Menurut Deci, E.L. & Ryan, R.M. [17] kurangnya motivasi dapat membuat siswa kurang tertarik dan kurang terlibat dalam kegiatan belajar, yang bisa mengurangi pemahaman dan keterampilan yang diperoleh. Ketidakhadiran dan ketidakdisiplinan. Menurut Eccles, J.S. & Wigfield, A. [18] siswa yang tidak termotivasi mungkin lebih sering absen atau terlambat, serta lebih cenderung menunjukkan perilaku tidak disiplin di kelas. Rendahnya percaya diri. Prestasi akademik yang rendah dapat mengurangi rasa percaya diri siswa, yang bisa berdampak negatif pada aspek lain dari kehidupan mereka. Stres dan kecemasan. Menurut Pintrich, P.R. & De Groot, E.V. [19] ketika siswa merasa tidak mampu atau tidak termotivasi untuk belajar, mereka mungkin mengalami peningkatan tingkat stres dan kecemasan, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mental mereka. Peluang karir yang terbatas. Menurut Bandura, A. [20] dalam jangka panjang, rendahnya motivasi belajar dapat membatasi peluang karir dan perkembangan profesional, karena kurangnya keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan di dunia kerja. Hubungan sosial yang terganggu. Siswa yang kurang termotivasi mungkin merasa terasing dari teman-teman sebaya yang lebih berprestasi, yang bisa mempengaruhi hubungan sosial mereka.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar terbagi menjadi dua: internal dan eksternal. Faktor internal meliputi minat dan bakat, di mana siswa yang tertarik dan merasa berbakat dalam subjek tertentu lebih termotivasi untuk belajar. Tujuan dan aspirasi, baik jangka pendek seperti mendapatkan nilai baik maupun jangka panjang seperti melanjutkan pendidikan, sangat berpengaruh. Rasa percaya diri dalam kemampuan belajar dan regulasi diri, termasuk pengaturan waktu dan pengelolaan stres, juga penting. Faktor eksternal mencakup dukungan orang tua, kondisi sosioekonomi keluarga, dan keharmonisan keluarga yang memberikan dukungan emosional. Lingkungan sekolah, termasuk kompetensi guru dan dukungan teman sebaya, meningkatkan motivasi. Metode pengajaran interaktif dan penggunaan teknologi membuat pembelajaran lebih menarik. Kesehatan fisik dan mental yang baik, materi pelajaran yang relevan, dan partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler juga berperan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa [21].
Untuk menentukan keharmonisan keluarga sebagai variabel X1 dan regulasi diri sebagai variabel X2, beberapa penelitian terdahulu dapat dijadikan dasar. Berikut adalah beberapa studi yang relevan. Menurut Berg, B.L. [22], studi ini menunjukkan bahwa hubungan keluarga yang harmonis memiliki korelasi positif dengan motivasi belajar siswa. Siswa yang berasal dari keluarga yang mendukung dan harmonis cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengalami konflik dalam keluarganya. Hasil penelitian Lamborn, S.D. [23] menunjukkan bahwa dukungan emosional dari keluarga sangat berpengaruh terhadap prestasi akademik dan motivasi belajar siswa. Keharmonisan keluarga memberikan lingkungan yang stabil dan mendukung bagi siswa untuk belajar dengan efektif. Penelitian oleh Zimmerman, B.J. [24] meneliti tentang regulasi diri dalam konteks pendidikan dan menemukan bahwa siswa yang memiliki kemampuan regulasi diri yang baik cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi. Regulasi diri membantu siswa mengelola waktu, menetapkan tujuan, dan mengatasi hambatan dalam belajar. Penelitian oleh Pintrich, P.R., & De Groot, E.V. [25] menemukan bahwa regulasi diri yang baik, termasuk strategi kognitif dan manajemen sumber daya, berhubungan erat dengan motivasi dan kinerja akademik. Siswa yang mampu mengatur diri mereka sendiri dalam proses belajar cenderung mencapai hasil yang lebih baik. Dengan mengacu pada penelitian-penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa keharmonisan keluarga dan regulasi diri adalah faktor-faktor penting yang mempengaruhi motivasi belajar siswa. Penelitian ini dapat memberikan landasan teoritis yang kuat untuk mengeksplorasi pengaruh antara kedua variabel ini dengan motivasi belajar dalam konteks siswa MTs [26].
Keharmonisan keluarga adalah kondisi di mana anggota keluarga memiliki hubungan yang harmonis, saling mendukung, dan memberikan perhatian serta kasih sayang satu sama lain. Ini ditandai oleh komunikasi yang baik, kepercayaan, rasa saling menghormati, dan adanya dukungan emosional serta fisik di antara anggota keluarga. Keharmonisan keluarga mencakup komunikasi efektif, dukungan emosional, kepercayaan, rasa hormat, kebersamaan, peran dan tanggung jawab yang jelas, serta kasih sayang yang ditunjukkan melalui tindakan dan kata-kata positif. Keharmonisan keluarga sangat penting karena memberikan lingkungan yang aman dan mendukung bagi perkembangan anak-anak, termasuk dalam aspek akademik. Siswa yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi, merasa lebih percaya diri, dan lebih mampu mengatasi tantangan dalam belajar [25].
Regulasi diri adalah kemampuan seseorang untuk mengatur dan mengendalikan pikiran, emosi, dan perilaku dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Ini melibatkan kemampuan untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi tindakan, serta membuat penyesuaian yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Regulasi diri mencakup manajemen waktu yang efektif, pengaturan emosi untuk mengatasi stres dan kecemasan, penetapan tujuan yang jelas, pemantauan kemajuan, dan motivasi diri. Kemampuan regulasi diri sangat penting dalam konteks pendidikan karena membantu siswa untuk tetap fokus, termotivasi, dan produktif, serta mengatasi tantangan dalam proses belajar [27].
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh keharmonisan keluarga terhadap motivasi belajar siswa, serta menilai bagaimana regulasi diri, termasuk kemampuan dalam mengatur waktu dan mengelola emosi, mempengaruhi motivasi belajar. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara keharmonisan keluarga dan regulasi diri serta dampaknya terhadap motivasi belajar siswa. Selain itu, penelitian ini akan mengeksplorasi dampak gabungan dari kedua faktor tersebut terhadap motivasi belajar dan memberikan rekomendasi untuk peningkatan motivasi belajar berdasarkan temuan yang diperoleh [28].
Penelitian ini menggabungkan dua faktor penting, yaitu keharmonisan keluarga (faktor eksternal) dan regulasi diri (faktor internal), yang sebelumnya sering kali diteliti secara terpisah. Dengan pendekatan ini, penelitian ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai interaksi antara faktor-faktor eksternal dan internal dalam mempengaruhi motivasi belajar siswa [29].
Meskipun banyak penelitian yang telah dilakukan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, penelitian ini fokus pada siswa sekolah menengah pertama, yang merupakan tahap penting dalam perkembangan akademik dan psikologis siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan penelitian yang ada dan memberikan wawasan yang lebih spesifik terkait kelompok usia ini.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji tiga hipotesis utama. Hipotesis pertama adalah adanya pengaruh antara Keharmonisan Keluarga dan Regulasi Diri terhadap Motivasi Belajar siswa MTs. Fadllillah.
Hipotesis kedua adalah ada pengaruh antara Keharmonisan Keluarga terhadap Motivasi Belajar siswa MTs. Fadllillah. Hipotesis ini mengusulkan bahwa tingkat keharmonisan dalam keluarga akan mempengaruhi tingkat motivasi belajar siswa.
Hipotesis ketiga adalah adanya pengaruh antara Regulasi Diri terhadap Motivasi Belajar siswa MTs. Fadllillah. Hipotesis ini menyatakan bahwa regulasi diri siswa, yaitu kemampuan untuk mengendalikan pikiran, emosi, dan tindakan dalam proses belajar, akan berpengaruh terhadap motivasi belajar mereka. Regulasi diri yang baik diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa karena mereka mampu mengatur tujuan, memonitor kemajuan, dan tetap berfokus pada tugas-tugas akademik.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif inferensial yaitu suatu bentuk penelitian yang melakukan analisis terhadap hubungan antar variabel dengan pengujian hipotesis.
A. Populasi sampel dan teknik sampling
Populasi penelitian adalah 558 siswa MTs Fadllillah. Sampel penelitian dipilih dengan teknik pengambilan accidental sampling. Accidental sampling adalah metode pengambilan sampel di mana sampel dipilih berdasarkan kemudahan akses atau ketersediaan, bukan secara acak [30]. Sampel dihitung dengan menggunakan software Raosoft Sampling sehingga terdapat 228 responden dalam penelitian ini.
B. Instrumen penelitian
Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu keharmonisan keluarga dan regulasi diri yang merupakan variabel bebas, dan variabel terikatnya yaitu motivasi belajar. Pada teknik pengumpulan data ini menggunakan 3 skala psikologi yang terdiri dari skala keharmonisan keluarga, skala regulasi diri, dan skala motivasi belajar. Peneliti menggunakan skala likert dalam penyusunan skala. Skala likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala likert hingga variabel hendak diukur dan dapat dijabarkan jadi penanda variabel.
Alat ukur keharmonisan keluarga
Skala yang digunakan diadopsi dari skripsi Widya Wulan Dari [31]. Hawari (1997) membuat skala psikologis untuk mengukur keharmonisan keluarga, yang terdiri dari enam aspek: kehidupan beragama dalam keluarga, waktu yang dihabiskan bersama keluarga, komunikasi yang baik, saling menghargai, sedikit konflik, dan hubungan atau ikatan yang kuat [31].
Dalam skala di atas, skala Likert menggunakan empat pilihan jawaban: Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Pernyataan disusun berdasarkan bentuk positif dan negatif. Untuk item yang positif, penilaian untuk Sangat Setuju (SS) diberi nilai 4, Setuju (S) diberi nilai 3, Tidak Setuju (TS) diberi nilai 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 1. Untuk item yang negatif, penilaian untuk Sangat Setuju (SS) diberi nilai 1, Setuju (S) diberi nilai 2, dan Tidak Setuju (TS) diberi nilai 3 dan Sangat Tidak Setuju diberi nilai 4.
Skala keharmonisan keluarga dari 40 aitem, terdapat 12 aitem yang gugur memiliki skor Corrected Item-Total Correlation (indeks daya beda rxy) < 0,300, yaitu aitem nomor 1, 3, 4, 7, 8, 12, 17, 21, 25, 30, 35, 40. Dan 28 aitem lainnya valid memiliki skor Corrected Item-Total Correlation (indeks daya beda rxy) > 0,300, yaitu aitem nomor 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 26, 27, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 39, dan 40 dengan skor reliabilitas (keandalan) Cronbach Alpha 0,837, yang berarti skala keharmonisan keluarga tergolong reliabel. Nilai reliabilitas setelah dilakukan try out adalah 0,856.
Alat ukur regulasi diri
Skala yang digunakan diadopsi dari skripsi Rimalia Anggraini. Berdasarkan hasil uji coba validitas variabel regulasi diri siswa pada tabel menghasilkan dari 56 butir pertanyaan yang diujicobakan ternyata 38 butir pertanyaan yang valid atau mempunyai nilai yang sah untuk dijadikan instrumen penelitian yaitu aitem nomor 1, 3, 4, 7, 8, 9, 12, 13, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 25, 26, 27, 28, 30, 31, 32, 33, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 49, 52, 53, 54, 55. Sedangkan aitem tidak validnya berjumlah 18 yaitu aitem nomor 2, 5, 6, 10, 11, 14, 20, 24, 29, 34, 35, 36, 37, 39, 48, 50, 51, 56. Dengan skor reliabilitas (keandalan) Cronbach Alpha 0,864, yang berarti skala regulasi diri tergolong reliabel. Nilai reliabilitas setelah dilakukan try out adalah 0,789.
Alat ukur motivasi belajar
Skala yang digunakan diadopsi dari skripsi Biyati Akhu Arumi [32]. Dalam penelitian ini, alat ukur motivasi belajar diukur dengan skala yang dibuat oleh Muzsalifah Zahrotul Jannah. Skala ini didasarkan pada aspek motivasi belajar yang diusulkan oleh Cherniss dan Goleman pada tahun 2001. Faktor-faktor ini termasuk optimisme, inisiatif, komitmen, dan keinginan untuk belajar [32].
Hasil pengujian validitas yang dilakukan pada skala motivasi belajar menunjukkan bahwa tidak ada item yang gugur, sehingga jumlah item yang valid tetap lima belas. Dengan koefisiensi 0,814, skala motivasi belajar dianggap reliabel. Nilai reliabilitas setelah dilakukan try out adalah 0,801.
C. Prosedur Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan penelitian multiple regression. Desain penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keharmonisan keluarga dan regulasi diri terhadap motivasi belajar pada siswa MTs. Fadllillah. Data akan dikumpulkan melalui kuesioner offline yang disebarkan secara langsung kepada siswa MTs. Fadllillah.
D. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul akan dilakukan pengolahan data menggunakan uji asumsi normalitas, uji linearitas, uji multikolinieritas, uji homokedastisitas, dan uji hipotesis, serta melalui teknik analisis regresi linier berganda pada ketiga variabel dengan bantuan Statistical JASP versi 17 untuk mengetahui pengaruh antara variabel dependen yaitu keharmonisan keluarga dan regulasi diri terhadap variabel independen yaitu motivasi belajar. Regresi linier berganda merupakan model regresi linear dengan melibatkan lebih dari satu variabel independen.
A. Hasil
Deskriptif data penelitian
Penelitian ini dilakukan di MTs. Fadllillah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2024 melalui pembagian skala keharmonisan keluarga, skala regulasi diri dan skala motivasi belajar kepada peserta yang selanjutnya dilakukan penilaian. 28 item merupakan skala keharmonisan keluarga, 38 item merupakan skala regulasi diri sedangkan 15 aitem merupakan skala motivasi belajar. Berikut data demografis subjek digambarkan pada tabel 1.
Tabel 1. Data Demografis Subjek
Uji asumsi
Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yang terdiri dari uji normalitas, uji linearitas dan uji homoskedastisitas (referensi).
Uji normalitas.
Uji normalitas adalah suatu prosedur statistik yang digunakan untuk menentukan apakah data sampel berasal dari distribusi normal atau tidak. Distribusi normal, atau distribusi Gauss, adalah distribusi probabilitas yang sering diasumsikan dalam banyak analisis statistik karena memiliki sifat-sifat matematis yang menarik dan karena banyak fenomena alam dan sosial cenderung mengikuti distribusi ini [33].
Data disebut normal jika distribusinya mendekati distribusi normal atau distribusi Gaussian, yang merupakan distribusi probabilitas simetris berbentuk lonceng di sekitar nilai mean [33]. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data pada variabel keharmonisan keluarga, regulasi diri, dan motivasi belajar sudah berdistribusi normal berdasarkan uji normalitas. Garis mengikuti histogram yang artinya distribusi data sudah normal dengan kata lain asumsi uji normalitas data sudah terpenuhi. Bisa dilihat pada gambar 1 tampak bahwa distribusinya normal karena yang mendekati nol atau mendekati rata-rata banyak. Jadi dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal.
Standardized Residuals Histogram
Gambar 1. Uji Normalitas
Uji linieritas.
Uji linieritas adalah prosedur statistik yang digunakan untuk menentukan apakah pengaruh antara dua variabel atau lebih dapat diwakili dengan baik oleh model linier, yaitu sebuah garis lurus pada grafik scatter plot. Dalam konteks regresi linier, uji linieritas bertujuan untuk memastikan bahwa asumsi hubungan linier antara variabel independen dan variabel dependen terpenuhi. Jika asumsi ini tidak terpenuhi, maka hasil analisis regresi linier mungkin tidak akurat atau dapat menyesatkan [34].
Data disebut linier jika terdapat hubungan linier antara variabel independen (prediktor) dan variabel dependen (respon). Dalam konteks regresi linier, ini berarti bahwa perubahan dalam variabel independen menghasilkan perubahan proporsional dalam variabel dependen, dan hubungan ini dapat diwakili dengan baik oleh garis lurus dalam plot scatter.[34] Berdasarkan hasil uji linearitas pada Partial Regression Plot untuk Keharmonisan Keluarga terhadap Motivasi Belajar dan Regulasi Diri terhadap Motivasi Belajar menunjukkan data yang linier karena membentuk garis lurus. Sebaran data mendekati garis linier yang menghubungkan antara Keharmonisan Keluarga terhadap Motivasi Belajar dan Regulasi Diri terhadap Motivasi Belajar. Gambar 2 dan 3 menyajikan pemeriksaan hasil uji linearitas yang dilakukan pada Plot Regresi Parsial.
Partial Regression Plots (Motivasi Belajar vs Keharmonisan Keluarga)
MB vs. KK
Gambar 2. Uji Linieritas
Partial Regression Plots (Motivasi Belajar vs Regulasi Diri)
MB vs. RD
Gambar 3. Uji Linieritas
Uji multikolinieritas.
Uji multikolinieritas adalah prosedur statistik yang digunakan untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dalam model regresi, yaitu situasi di mana dua atau lebih variabel independen dalam model memiliki hubungan linear yang sangat kuat. Multikolinieritas dapat menyebabkan kesulitan dalam mengestimasi koefisien regresi secara akurat, meningkatkan kesalahan standar, dan mengurangi kemampuan model untuk menentukan pengaruh individu dari setiap variabel independen [35].
Data disebut memiliki multikolinieritas ketika terdapat hubungan linier yang kuat antara dua atau lebih variabel independen dalam model regresi. Multikolinieritas dapat menyebabkan beberapa masalah dalam analisis regresi, seperti kesulitan dalam mengestimasi koefisien regresi secara akurat, peningkatan kesalahan standar, dan penurunan keandalan pengujian statistik [35]. Uji multikoliniearitas dilakukan untuk mengetahui ada atau tidak persamaan fungsi antara variabel bebas dengan variabel lainnya, model penelitian yang bisa dikatakan bebas dari multikolinieritas ialah model korelasi yang nilai VIF (Variance Inflation Factor) < 10.00 dan T (Tolerance) > 0,10. Berikut adalah hasil dari uji multikolinieritas. Berdasarkan tabel 4 diperoleh nilai Tolerance sebesar 0,787 dan VIF sebesar 1,271, yang mana sudah memenuhi untuk nilai T > 0,01 dan nilai VIF < 10,00. Maka bisa disimpulkan jika tidak ditemukan adanya multikolinieritas dari kedua variabel bebas di dalam penelitian seperti dalam tabel 4.
Uji homoskedastisitas.
Uji homoskedastisitas adalah prosedur statistik yang digunakan untuk menguji apakah varians dari residual (kesalahan) dalam model regresi tetap konstan di seluruh rentang nilai variabel independen. Homoskedastisitas adalah asumsi penting dalam regresi linier klasik, yang menyatakan bahwa varians dari kesalahan (residual) tidak berubah ketika nilai variabel independen berubah [36].
Terlihat pada gambar 4 bahwa garis landai. Artinya residual disini tidak dipengaruhi oleh variabel-variabel lain. Scatter plotnya acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu sehingga bisa disismpulkan bahwa uji homoskedastisitas terpenuhi. Berdasarkan hasil uji homoskedastisitas pada Residuals Plot untuk Motivasi Belajar terhadap Keharmonisan Keluarga dan Regulasi Diri yang menunjukkan data terdistribusi dengan acak yang seimbang dan dinyatakan bahwa asumsi homoskedastisitas terpenuhi. Analisis hasil uji homoskedastisitas pada Residuals Plot terdapat pada Gambar 4.
Residuals vs. Predicted
Gambar 4. Uji Homoskedastisitas
Uji hipotesis
Uji hipotesis pertama.
Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah ada pengaruh antara keharmonisan keluarga dan regulasi diri secara bersama-sama terhadap motivasi belajar siswa MTs. Fadllillah. Hasil pengujian hipotesis melalui metode analisis regresi linier berganda dengan menggunakan aplikasi JASP ver. 17 menunjukkan bahwa F(2,225) = 118.209, p<.001 sebagaimana ditunjukkan dalam tabel 3. menunjukkan bahwa hipotesis diterima. Artinya bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara keharmonisan keluarga dan regulasi diri terhadap motivasi belajar pada siswa MTs. Fadllillah. Selain itu, Koefisien Determinasi diketahui nilai R Square sebesar 0,512.
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai R sebesar 0,716 dan nilai Rsquare sebesar 0,512. Koefisien korelasi (nilai R) antara keharmonisan keluarga dan regulasi diri terhadap motivasi belajar sebesar 71,6%. Sebaliknya nilai Rsquare menunjukkan bahwa variabel keharmonisan keluarga dan regulasi diri memberikan kontribusi sebesar 51,2% terhadap motivasi belajar sebagai nilai determinannya (0,512). 48,8% dari nilai sisanya, atau 0,488 dipengaruhi oleh faktor tambahan yang tidak dipertimbangkan dalam penelitian ini.
Tabel 2. Hasil R Square pada Uji Hipotesis Pertama
Tabel 3. Hasil Uji F pada Hipotesis Pertama
Uji hipotesis kedua dan ketiga.
Uji hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh antara keharmonisan keluarga terhadap motivasi belajar pada siswa MTs. Fadllillah. Pada tabel 4, nilai T = 6,207 menunjukkan bahwa koefisien variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Ini berarti bahwa variabel independen tersebut berkontribusi secara substansial dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Dan nilai p = < 0,001 menunjukkan bahwa koefisien variabel independen signifikan secara statistik, berarti ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara keharmonisan keluarga terhadap motivasi belajar.
Uji hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh antara regulasi diri terhadap motivasi belajar pada siswa MTs. Fadllillah. Pada tabel 4, nilai T = 9,609 menunjukkan bahwa koefisien variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Ini berarti bahwa variabel independen tersebut berkontribusi secara substansial dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Dan nilai p = < 0,001 menunjukkan bahwa koefisien variabel independen signifikan secara statistik, berarti ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara regulasi diri terhadap motivasi belajar.
Persamaan regresi
Setelah melakukan perhitungan data penelitian dengan menggunakan software JASP maka didapatkan hasil persamaan regresi dengan analisis jalur sebagai berikut:
47,101 merupakan nilai konstanta, artinya apabila variabel keharmonisan keluarga dan motivasi belajar = 0, maka nilai awal motivasi belajar adalah 43,747 + 0,182 (X1) merupakan nilai koefisien regresi variabel keharmonisan keluarga terhadap motivasi belajar, hal ini menunjukkan apabila variabel keharmonisan keluarga mengalami kenaikan satu kesatuan maka variabel motivasi belajar akan mengalami peningkatan sebesar 0,182 atau 18,2% artinya terdapat korelasi positif signifikan antara kedua variabel tersebut. 0,170 (X2) merupakan nilai koefisien regresi variabel regulasi diri terhadap motivasi belajar, hal ini menunjukkan apabila variabel regulasi diri mengalami kenaikan satu kesatuan maka variabel motivasi belajar akan mengalami peningkatan sebesar 0,170 atau 17,0% artinya terdapat korelasi positif signifikan antara kedua variabel tersebut seperti yang digambarkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. Persamaan Regresi
Sumbangan Efektifitas
Sumbangan efektif dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5. Variabel keharmonisan keluarga memberikan sumbangan efektif terhadap variabel motivasi belajar sebesar 18,22% dan regulasi diri memberikan sumbangan efektif terhadap variabel motivasi belajar sebesar 33,01%. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini regulasi diri memiliki kontribusi terbesar terhadap motivasi belajar.
Tabel 5. Hasil Uji Hipotesis Kedua, Ketiga, dan Sumbangan Efektif
B. Pembahasan
Studi ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh antara keharmonisan keluarga dan regulasi diri terhadap motivasi belajar. Hasil pengujian hipotesa menunjukkan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak, dengan nilai F = 118.209 dan nilai taraf signifikansi p = 0,001 < 0.05, yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara keharmonisan keluarga dan regulasi diri terhadap motivasi belajar. Berdasarkan hasil, ditemukan bahwa nilai R = 0,716 dan R2 = 0,512, yang menunjukkan bahwa varians motivasi belajar yang dapat dijelaskan oleh keharmonisan keluarga dan regulasi diri sebesar 51,2%, dan varians lainnya dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dibahas di sini.
Hasil selanjutnya menunjukkan bahwa ada korelasi signifikan antara masing-masing variabel independen dan variabel dependent. Untuk variabel keharmonisan keluarga, diperoleh hasil dengan nilai p = 0,001, yang menunjukkan bahwa ada korelasi signifikan antara motivasi belajar dan variabel independen. Keharmonisan keluarga sangat penting untuk menentukan keinginan siswa untuk belajar. Interaksi antara anggota keluarga dan dinamika dalam sistem memengaruhi perkembangan individu di dalamnya. Menurut teori sistem keluarga, keluarga adalah sistem yang selalu berubah. Faktor-faktor seperti komunikasi yang terbuka, dukungan emosional, saling penghargaan, dan memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarga adalah bagian dari keharmonisan keluarga.
Dalam konteks motivasi belajar siswa, keharmonisan keluarga menciptakan lingkungan yang mendukung eksplorasi, belajar, dan pengembangan diri. Siswa yang merasa diterima dan didukung oleh keluarga cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan akademik. Mereka juga lebih mungkin untuk memiliki motivasi intrinsik, di mana keinginan untuk belajar dan mencapai prestasi berasal dari dalam diri mereka sendiri, bukan hanya karena tekanan eksternal [37].
Selain itu, keharmonisan keluarga juga memengaruhi persepsi siswa terhadap nilai pendidikan dan keinginan mereka untuk mencapai tujuan akademik. Siswa yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang harmonis cenderung menganggap pendidikan sebagai prioritas penting dalam hidup mereka dan memiliki motivasi yang tinggi untuk meraih kesuksesan di sekolah. Mereka juga mungkin lebih mampu mengatasi rintangan dan hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar, karena mereka memiliki dukungan yang kuat dari keluarga.
Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya peran keluarga dalam membentuk motivasi belajar siswa. Para pendidik dan orang tua perlu memahami betapa pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang sehat dan harmonis untuk mendukung perkembangan akademik dan psikologis anak-anak mereka. Investasi dalam membangun hubungan yang positif dan mendukung di dalam keluarga dapat berdampak besar pada motivasi belajar siswa dan pada akhirnya, pada pencapaian akademik mereka [38].
Ditinjau dari variabel regulasi diri diperoleh hasil p = 0,001< 10 yang artinya bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap motivasi belajar. Regulasi diri merujuk pada kemampuan individu untuk mengendalikan pikiran, emosi, dan perilaku mereka sendiri untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Konsep ini menjadi pusat perhatian dalam psikologi, terutama dalam konteks motivasi belajar siswa. Teori kontrol diri (self-control theory), yang dikembangkan oleh para ahli seperti Roy Baumeister dan Walter Mischel, menekankan bahwa regulasi diri adalah kunci dalam mencapai tujuan dan mengatasi godaan serta distraksi yang mungkin menghalangi pencapaian tersebut.
Dalam konteks pendidikan, regulasi diri memainkan peran penting dalam membentuk motivasi belajar siswa. Siswa yang memiliki kemampuan untuk mengatur waktu, memprioritaskan tugas, dan menetapkan tujuan belajar yang jelas cenderung memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik. Mereka juga lebih mungkin untuk memperoleh hasil yang baik dalam ujian dan tugas-tugas akademik karena mereka mampu mengelola waktu dan energi mereka secara efektif [39].
Selain itu, regulasi diri juga memengaruhi sikap siswa terhadap pembelajaran dan tanggapan mereka terhadap kesulitan yang mungkin mereka hadapi. Siswa dengan tingkat regulasi diri yang tinggi cenderung memiliki sikap yang lebih positif terhadap tantangan akademik dan melihatnya sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang. Mereka juga lebih mungkin untuk menggunakan strategi belajar yang efektif, seperti memecah materi pelajaran menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau mencari bantuan ketika diperlukan.
Lebih jauh lagi, regulasi diri juga memainkan peran dalam memotivasi siswa untuk mengejar tujuan-tujuan jangka panjang. Siswa yang mampu menetapkan tujuan yang realistis dan mengembangkan rencana tindakan yang konkret untuk mencapainya cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi. Mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya usaha yang konsisten dan tekun dalam mencapai kesuksesan akademik [40].
Oleh karena itu, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pembangunan keterampilan regulasi diri dalam konteks pendidikan. Para pendidik perlu memberikan perhatian khusus pada pengembangan keterampilan ini melalui strategi pembelajaran yang mendukung, seperti memberikan umpan balik yang konstruktif, melatih siswa dalam teknik pengaturan waktu, dan membantu mereka mengidentifikasi tujuan belajar yang realistis. Dengan meningkatkan regulasi diri siswa, kita dapat membantu mereka memperoleh motivasi belajar yang lebih tinggi dan meraih prestasi akademik yang lebih baik.
Sedangkan ditinjau dari kedua variabel hasil uji hipotesa menunjukkan bahwa nilai F 118,209 kemudian nilai p di bawah 0.001 yang berarti kedua variabel yakni keharmonisan keluarga dan regulasi diri secara bersama-sama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap motivasi belajar.
Selain pengaruh langsungnya, adanya interaksi antara keharmonisan keluarga dan regulasi diri dalam mempengaruhi motivasi belajar siswa. Teori integrasi sosial-kehidupan (social integration theory) dari ahli psikologi George Herbert Mead dapat menjelaskan fenomena ini dengan menekankan bahwa individu menginternalisasikan norma-norma dan nilai-nilai dari lingkungan sosial mereka, termasuk lingkungan keluarga, yang kemudian membentuk regulasi diri mereka. Dengan kata lain, lingkungan keluarga yang harmonis dapat membantu memperkuat kemampuan regulasi diri siswa, yang pada gilirannya mempengaruhi motivasi belajar mereka.
Adapun limitasi penelitian ini hanya mempertimbangkan pengaruh keharmonisan keluarga dan regulasi diri terhadap motivasi belajar, tanpa memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi motivasi belajar seperti faktor lingkungan sekolah, dukungan sosial, atau faktor psikologis lainnya.
Penelitian ini mengkaji pengaruh keharmonisan keluarga dan regulasi diri terhadap motivasi belajar siswa di MTs. Fadllillah. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara keharmonisan keluarga dan motivasi belajar siswa. Siswa yang mengalami keharmonisan keluarga cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan emosional dan lingkungan keluarga yang harmonis berperan penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Regulasi diri juga berpengaruh positif terhadap motivasi belajar. Siswa yang memiliki keterampilan regulasi diri yang baik, seperti kemampuan mengelola waktu dan menetapkan tujuan, menunjukkan tingkat motivasi belajar yang lebih tinggi. Ini mengindikasikan bahwa pengembangan kemampuan regulasi diri dapat memperkuat motivasi belajar siswa. Hasil penelitian ini menggarisbawahi pentingnya peran keluarga dan keterampilan regulasi diri dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Untuk meningkatkan motivasi belajar, disarankan agar sekolah dan orang tua bekerja sama dalam menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan mendukung pengembangan regulasi diri siswa. Program bimbingan dan pelatihan untuk mengembangkan regulasi diri siswa juga dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan motivasi belajar dan hasil akademik.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua responden yang sudah berpartisipasi untuk menyukseskan penelitian ini, tak lupa ucapan terimakasih kepada MTs. Fadllillah yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.
J. S. Sigiro, F. Alexander, and M. A. Al-ghifari, “Dampak Keluarga Broken Home pada Kondisi Mental Anak,” Pros. Semin. Nas. Ilmu Ilmu Sos., vol. 01, no. 2, pp. 766–775, 2022, [Online]. Available: https://ojs.uniska-bjm.ac.id/index.php/AN-NUR/article/view/2498
S. Rahman, “Pentingnya Motivasi Belajar Dalam Meningkatkan Hasil Belajar,” Merdeka Belajar, no. November, pp. 289–302, 2021.
R. P. Nurdiyanti and E. Christiana, “Pengaruh Tingkat Keharmonisan Keluarga Dengan Motivasi Belajar Siswa Ditinjau Dari Perbedaan Jenis Kelamin Siswa Di Sma,” J. Mhs. Bimbing. Konseling, vol. Volume 1 N, pp. 256–266, 2013, [Online]. Available: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-bk-unesa/article/view/1948
N. Rizqiyah, “Pengaruh Strategi Regulasi Diri Dalam Belajar Dan Dukungan Sosial Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa-siswi SMP Hasanuddin Sepanjang Gondanglegi (Skripsi),” Skripsi, pp. 1–188, 2016, [Online]. Available: http://etheses.uin-malang.ac.id/6004/1/12410024.pdf
R. Pratiwi and E. Christiana, “Bimbingan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya,” J. Mhs. Bimbing. Konseling, vol. 1, no. 1, pp. 256–266, 2013.
D. D. Cahyono, M. K. Hamda, and E. D. Prahastiwi, “Pimikiran Abraham Maslow Tentang Motivasi Dalam Belajar,” TAJDID J. Pemikir. Keislam. dan Kemanus., vol. 6, no. 1, pp. 37–48, 2022, doi: 10.52266/tadjid.v6i1.767.
R. Nugraha and Suyadi, “Regulasi Diri Dalam Pembelajaran,” Jurnal Tarbiyah al-awlad, vol. 9, no. 2. pp. 121–135, 2019. [Online]. Available: https://www.ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/alawlad/article/view/1917
M. M. Buoy, “The Influence of Parental Involvement on Academic Motivation The Influence of Parental Involvement on Academic Motivation and Achievement in College Students and Achievement in College Students The Influence Of Parental Involvement On Academic Motivation ,” 2014, [Online]. Available: https://thekeep.eiu.edu/honors_theses
A. Noviansyah, “Pengaruh lingkungan madrasah terhadap motivasi belajar peserta didik mts daarul ikrom kecamatan kedondong kabupaten pesawaran,” 2022.
A. Hafizoglu and S. Yerdelen, “The Role of Students’ Motivation in the Relationship between Perceived Learning Environment and Achievement in Science: A Mediation Analysis,” Sci. Educ. Int., vol. 30, no. 4, pp. 251–260, 2019, doi: 10.33828/sei.v30.i4.2.
J. S. Ulfa, “Peranan Guru Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa DI MTS Mazaakhirah Baramuli Kelas VIII Pinrang,” pp. 1–23, 2016, [Online]. Available: http://ejurnal.iainpare.ac.id/index.php/latihan/article/view/1709
R. Setiawan et al., “The Impact of Teaching Innovative Strategy on Academic Performance in High Schools,” Sci. Respository, Petra Christ. Univ., vol. 25, no. 5, pp. 1296–1312, 2021, [Online]. Available: http://repository.petra.ac.id/19048/
I. I. F. Syukri, S. S. Rizal, and M. D. Al Hamdani, “Pengaruh Kegiatan Keagamaan terhadap Kualitas Pendidikan,” J. Penelit. Pendidik. Islam, vol. 7, no. 1, p. 17, 2019, doi: 10.36667/jppi.v7i1.358.
T. Bisma Yunas, M. Aliza Rachmawati, and P. Psikologi, “Kemampuan Mengajar Guru Dan Motivasi Belajar Fisika Pada Siswa Di Yogyakarta,” Psychopolytan J. Psikol., vol. 1, no. 2, pp. 60–75, Jul. 2018, Accessed: Nov. 20, 2022. [Online]. Available: http://jurnal.univrab.ac.id/index.php/psi/article/view/448
H. J. LESILOLO, “Penerapan Teori Belajar Sosial Albert Bandura Dalam Proses Belajar Mengajar Di Sekolah,” KENOSIS J. Kaji. Teol., vol. 4, no. 2, pp. 186–202, 2019, doi: 10.37196/kenosis.v4i2.67.
M. Bloom, “Self-regulated learning: Goal setting and self-monitoring,” Lang. Teach., vol. 37, no. 4, p. 46, 2014, doi: 10.37546/jalttlt37.4-6.
E. L. Deci, R. M. Ryan, R. J. Vallerand, and L. G. Pelletier, “Motivation and Education: The Self-Determination Perspective,” Educ. Psychol., vol. 26, no. 3–4, pp. 325–346, 2014, doi: 10.1080/00461520.1991.9653137.
E. A. Skinner and M. J. Belmont, “Motivation in the Classroom: Reciprocal Effects of Teacher Behavior and Student Engagement Across the School Year,” J. Educ. Psychol., vol. 85, no. 4, pp. 571–581, 2014, doi: 10.1037/0022-0663.85.4.571.
C. Yang and A. Stivers, “Investigating AI languages’ ability to solve undergraduate finance problems,” J. Educ. Bus., vol. 99, no. 1, pp. 44–51, 2024, doi: 10.1080/08832323.2023.2253963.
Zimmerman, Becoming a Self-Regulated Learner: Beliefs, Techniques, and Illusions, vol. 5841, no. JUNE 2002. 2022. doi: 10.1207/s15430421tip4102.
A. Manab, “Memahami regulasi diri: Sebuah tinjauan konseptual,” Psychol. Humanit., pp. 7–11, 2016.
Emda Amna, “Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran,” Lantanida J., vol. 5, no. 2, pp. 93–196, 2017.
B. Konseling et al., “Danang Wahyudi Abstrak Pengaruh Keharmonisan Keluarga Dan Pergaulan Siswa Terhadap Kinerja Akademik,” vol. 1, pp. 90–98.
I. Irmansyarif, “Dampak Keharmonisan Keluarga dan Pola Asuh Orangtua terhadap Prestasi Belajar Siswa SDN 113 Pana,” AL MA’ARIEF J. Pendidik. Sos. dan Budaya, vol. 2, no. 1, pp. 30–38, 2020, doi: 10.35905/almaarief.v2i1.1540.
M. Tosin, “Pengaruh Keharmonisan Keluarga Terhadap Motivasi Belajar Siswa Mi Bustanul Ulum Batu,” Ekomadania J. Islam. Econ. Soc., vol. 4, no. 1, pp. 61–78, 2020.
Z. Zamsir, R. Prajono, and S. M. Sari, “Pengaruh Motivasi Belajar dan Persepsi Kesadaran Metakognisi Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI SMAN 4 Wangi-Wangi,” J. Jendela Pendidik., vol. 1, no. 03, pp. 134–148, 2021, doi: 10.57008/jjp.v1i03.22.
R. Erlina, “Hubungan Antara Regulasi Diri Dengan Motivasi Belajar Pada Siswa SMA,” 2019. [Online]. Available: http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/18272
N. P. S. Siregar, “Pengaruh Regulasi Diri Dalam Belajar Dandukungan Sosial Teman Sebaya Terhadapresiliensi Pada Siswa Sma Tunas Harapanmandiri Rantau Prapat,” 2022.
A. Pratiwi, Hubungan keharmonisan keluarga dengan konsep diri siswa kelas VIII DI MTs. AL Ulum Medan. 2019. [Online]. Available: http://repository.uinsu.ac.id/13492/%0Ahttp://repository.uinsu.ac.id/13492/1/skrpsi finish PDF.pdf
J. W. Creswell and J. D. Creswell, Mixed Methods Procedures. 2018.
W. W. Dari, “Hubungan Antara Keharmonisan Keluarga Dengan Perilaku Agresif Pada Remaja Di Sltp Yayasan Perguruan Islam Amir Hamzah,” pp. 1–98, 2018.
Biyati Akhu Arumi, “Pengaruh Fasilitas Belajar Terhadap Motivasi Belajar Siswa di SMP Negeri 1 Babat Kabupaten Lamongan,” pp. 1–74, 2021, [Online]. Available: http://etheses.uin-malang.ac.id/33607/%0Ahttp://etheses.uin-malang.ac.id/33607/1/17410011.pdf
I. Sintia, M. D. Pasarella, and D. A. Nohe, “Perbandingan Tingkat Konsistensi Uji Distribusi Normalitas Pada Kasus Tingkat Pengangguran di Jawa,” Pros. Semin. Nas. Mat. Stat. dan Apl., vol. 2, no. 2, pp. 322–333, 2022.
Prof. Dr. Sugiarto, “Teori Regresi,” Stat. Ekon. dan Bisnis, vol. 51, no. 1, p. 51, 2018.
E. Yaldi et al., “Penerapan Uji Multikolinieritas Dalam Penelitian Manajemen Sumber Daya Manusia,” J. Ilm. Manaj. dan Kewirausahaan, vol. 1, no. 2, pp. 94–102, 2022, doi: 10.33998/jumanage.2022.1.2.89.
C. Mokosolang, J. Prang, and M. Mananohas, “Analisis Heteroskedastisitas Pada Data Cross Section dengan White Heteroscedasticity Test dan Weighted Least Squares,” d’CARTESIAN, vol. 4, no. 2, p. 172, 2015, doi: 10.35799/dc.4.2.2015.9056.
A. I. Irawan, N. D. Aliyah, and D. Darmawan, “Pengaruh Lingkungan Keluarga, Kemandirian Belajar, dan Media Belajar terhadap Motivasi Belajar Siswa di MI Babussalam Krian Sidoarjo,” J. Educ., vol. 6, no. 3, pp. 16220–16233, 2024.
S. Hairiyah and S. Arifin, “Peran Keluarga Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak Sejak Dini,” J. Kariman, vol. 8, no. 02, pp. 279–294, 2020, doi: 10.52185/kariman.v8i02.150.
R. Ruminta, S. Tiatri, and H. Mularsih, “Perbedaan Regulasi Diri Belajar Pada Siswa Sekolah Dasar Kelas VI Ditinjau Dari Jenis Kelamin,” J. Muara Ilmu Sos. Humaniora, dan Seni, vol. 1, no. 2, p. 286, 2018, doi: 10.24912/jmishumsen.v1i2.1463.
D. P. Harahap, “Meningkatkan Self Regulated Learning pada Siswa Melalui Strategi Belajar Berdasar Regulasi Diri,” J. Educ., vol. 5, no. 3, pp. 7056–7068, 2023, doi: 10.31004/joe.v5i3.1494.