Login
Section Art and Humanities

Psychological Well Being Predicts Parenting Stress in Mothers of Special Needs Children

Kesejahteraan Psikologis Memprediksi Stres Parenting pada Ibu Anak dengan Kebutuhan Khusus
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Ashil Rizal Achmad Yani Yani (1), Nurfi Laili (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Parenting stress constitutes a complex psychological condition arising from the physical, emotional, and mental demands of childrearing, particularly in families of children with special needs. Specific Background: Mothers of children attending special schools often serve as primary caregivers and encounter sustained caregiving burdens that may relate to personal resilience and psychological well-being. Knowledge Gap: Despite growing research on parenting stress, limited empirical evidence clarifies the relative contribution of resilience and psychological well-being among mothers of children with special needs in Indonesian special school contexts. Aims: This study examines the relationship between resilience and psychological well-being with parenting stress among mothers of children with special needs enrolled in special schools in Sidoarjo. Results: Using a quantitative correlational design with multiple regression analysis on 76 participants, the findings indicate that resilience and psychological well-being jointly account for 27% of the variance in parenting stress, with psychological well-being showing a significant negative association, whereas resilience alone is not statistically significant. Novelty: The study highlights the differential role of psychological well-being compared with resilience within a Implications: These findings underscore the importance of supporting maternal psychological well-being as a central factor associated with parenting stress in families raising children with special needs.


Highlights:




  • Psychological well-being shows a significant negative association with maternal caregiving strain.




  • Combined predictors explain 27% of variability in maternal stress levels.




  • Resilience alone does not reach statistical significance in the regression model.




Keywords:

Parenting Stress; Psychological Well Being; Resilience; Mothers; Special Needs Children

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Setiap orang tua mendambakan anak yang sempurna, namun tidak setiap orang tua mendapatkan hal yang sama kadang ada Anak dengan kebutuhan khusus tidak memiliki kendali atau keinginan untuk dilahirkan dengan kondisi yang berbeda. Mereka datang ke dunia tanpa memandang latar belakang orang tua mereka dan dapat hadir dalam keluarga mana saja, tidak peduli dengan status ekonomi atau tingkat pendidikan orang tua mereka. Bedasarakan informasi DATABOKS, pada tahun pembelajaran 2020/2021, terdapat 144.621 siswa yang bersekolah di sekolah luar biasa (SLB). jumlah tersebut, ada 82.326 murid dengan kebutuhan khusus di SD, 36.884 di SMP, dan 25.411 di SM. Di Jawa Timur, sekitar 2.329 SLB telah dibangun berdasarkan data yang ada pada KEMENDIKBUDRISTEK Indonesia memiliki jumlah SLB terbanyak dengan total 417 sekolah, yang sebagian besar adalah SLB swasta, yaitu sebanyak 346 sekolah.

SLB atau sekolah luar biasa merupakan institusi pendidikan formal yang ditujukan untuk siswa dengan kebutuhan khusus. SLB terdiri dari berbagai elemen yang bertujuan untuk mencapai target pendidikan, dengan menekankan pada proses belajar mengajar bagi murid-muridnya. Oleh karena itu. Sekolah luar biasa ialah sebuah lembaga pendidikan yang secara khusus menawarkan program pendidikan special terhadap siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Sekolah luar biasa membantu orangtua dalam memeberikan edukasi yang diperlukan kepada anak dengan kebutuhan khusus, akan tetapi anak berkebutuhan khusus lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya, yaitu orang tua baik ayah ataupun ibu dalam keseharianya. Menurut Finley metode pengasuhan dari ibu dan ayah memiliki fungsi struktural yang setara, meskipun peran mereka bisa berbeda. Keduanya berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan anak, seperti bermain atau melakukan aktivitas bersama, memberikan perhatian, membangun hubungan persahabatan, dan membantu anak dalam mengembangkan kemampuan intelektual mereka..

Berdasarkan kepada penelitian sebelumnya  dari segi ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus, maka tidak bisa kita bayangkan betapa susah dan sulitnya memiliki anak yang berkebutuhan khusus yang kemungkinan akan menjadi beban baik secara fisik maupun mental, karena akan ada banyak waktu dan perhatian khusus yang harus diberikan pada anak berkebutuhan khusus daripada anak biasa lainya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Harris & McHaleL & Mackenzie Dikatakan secara psikologis, ibu hilangnya harapan ketika melihat anak yang normal akan anak yang normal. Ibu juga menerima kenyataan bahwa anaknya tidak sempurna. Oleh karena itu, anak berkebutuhan khusus dapat mempengaruhi kehidupan orang tua, khususnya ibu, terutama pada tahap awal ketika ibu belum memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk menangani anak, serta mendidiknya agar menjadi mandiri dan mampu menjalani hidupnya.

Wawancara pada tanggal 26 Juni 2023 di Tulangan, Sidoarjo, pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus yaitu AA anaknya bersekolah di salah satu SLB di Sidoarjo, AA menjelaskan bahwa ia selalu merasa tidak bahagia dan sepertinya kurang mampu mengelola psikologisnya, selain itu AA juga mengatakan bahwa akhir- akhir ini ia merasa kurang mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, merasa putus asa karena sangat banyak menghabiskan waktu untuk tuntutan pekerjaan dan ia harus mendidik anaknya yang berkebutuhan khusus, selain itu ia merasakan bahwa dirinya stres dalam merawat anaknya. Berdasarkan hasil wawancara diatas terdapat indikator perilaku dari persoalan stres pengasuhan. AA merasa terikat oleh tugas  untuk merawat dan menghadapi anaknya yang berkebutuhan khusus, sehingga ia tidak bisa menyesuaikan diri dan beradaptasi akan keadaannya untuk sekarang ini. Oleh sebab itu pada penelitian sebelumnya dijelaskan bahwa, Ibu yang belum bisa menerima kondisi anaknya yang menyebabkan dirinya merasa tertekan dan tidak berbuat apa pun untuk mendukung perkembangan anaknya. Ibu hanya diam saja, yang dapat memperburuk kondisi keterbelakangan anak. Dalam berberapa kasus ibu yang mengalami parenting stress memiliki gejala seperti mudah lelah secara fisik, sulit tidur dan merasakan kecemasan yang berlebihan dan juga mengabaikan tugas- tugasnya sebagai orang tua, dan bahkan dalam beberapa kasus berat stress pengasuhan dapat menyebabkan mental yang tidak stabil sehingga ibu bisa melampiaskan kepada anak, seperti mencaci, memukul bahkan membunuh anak. Para orangtua memiliki anak berkebutuhan yang berbeda beda dan kondisi emosional serta stres yang dirasakan juga berbeda dari orangtua dengan anak yang normal. Orang tua anak autis mengalami fenomena stres pengasuhan yang tinggi, mencakup baik ayah maupun ibu. Penelitian mengindikasikan bahwa ibu lebih cenderung mengalami tingkat stres pengasuhan dan gejala depresi yang lebih tinggi dibandingkan ayah yang memiliki anak autis. .

Stres pengasuhan adalah rangkaian proses yang menghasilkan kondisi psikologis yang tidak diinginkan serta fisiologis juga muncul saat mencoba menyesuaikan diri dengan tuntutan peran sebagai orang tua. Menurut Deater Deckard, stres pengasuhan terdiri atas tiga komponen: (1) ranah orang tua, yaitu sumber stres dari pihak orang tua sendiri, Komponen ini mencakup stres yang berasal dari karakteristik, kondisi, dan pengalaman orang tua itu sendiri. Ini termasuk faktor-faktor seperti stres pribadi, kesehatan mental dan fisik, keterampilan pengasuhan, serta tekanan dari lingkungan sosial atau pekerjaan. Stres yang muncul dari ranah ini berhubungan dengan bagaimana orang tua mengelola dan merespons tuntutan pengasuhan. (2) ranah anak, yaitu sumber stres dari perilaku anak Komponen ini melibatkan stres yang disebabkan oleh perilaku dan kebutuhan anak. Faktor-faktor dalam ranah ini bisa mencakup tantangan perilaku anak, kebutuhan khusus, atau masalah perkembangan. Perilaku anak yang sulit atau kebutuhan yang tinggi dapat menambah beban stres pada orang tua., dan (3) ranah hubungan orang tua-anakomponen ini mencakup stres yang timbul dari interaksi dan hubungan antara orang tua dan anak. Ini mencakup dinamika hubungan, seperti komunikasi, gaya pengasuhan, dan kualitas interaksi antara orang tua dan anak. Ketegangan atau konflik dalam hubungan ini dapat menyebabkan stres tambahan bagi orang tua., yaitu sumber stres dari interaksi antara orang tua dan anak. .

Menurut Berry & Jones, aspek-aspek dari stres pengasuhan terdiri dari dua dimensi, yaitu pleasuresebagai dimensi positif dan strain sebagai dimensi negatif. Aspek pleasuremenggambarkan perasaan lelah orang tua dalam menjalankan peran sebagai orang tua sehingga mencapai tingkat kelelahan. Sementara itu, aspek strain menggambarkan perasaan orang tua yang tidak mampu menjadi orang tua sebaik sebelumnya. Secara umum stres pengasuhan dapat dipengaruhi oleh tiga faktor yang terdiri dari karakteristik anak, karakteristik orang tua, dan karakteristik demografi.Lebih lanjut bahwa karakteristik orangtua meliputi kepribadian orangtua seperti efikasi diri dan resiliensi serta faktor karakteristik demografi yang meliputi dukungan sosial.Stres pengasuhan yang dialami oleh ibu akan berdampak pada pengasuhan ibu terhadap anak yang didasarkan pada penelitian terdahulu yaitu para ibu yang mengalami stres tinggi cenderung bersikap otoriter, kasar, dan berinteraksi dengan negatif terhadap anak-anak mereka. Stres ini juga menyebabkan kurangnya kualitas dalam hubungan orang tua dan anak, terutama mempengaruhi kehidupan sosial anak . selain itu pengaruh stres terhadap adaptasi lingkungan yang dimiliki oleh ibu anak berkebutuhan khusus, karena ketidakmampuan untuk beradaptasi yang ditunjukkan dari penelitian sebelumnya ketika seorang anak memiliki tingkat kecerdasan yang rendah, hal tersebut dapat meningkatkan tingkat stres dalam proses pengasuhan. Ini disebabkan oleh bertambahnya kebutuhan dan perhatian yang diperlukan oleh anak. Situasi ini dapat berdampak pada ibu yang merawat anak tersebut, sehingga menyebabkan ibu tersebut mengalami stres.

Kesejahteraan psikologis adalah kondisi di mana seseorang tidak terbebani oleh tekanan mental, memiliki pandangan positif terhadap kehidupannya, memiliki tujuan hidup yang jelas, membentuk hubungan yang baik dengan orang lain, dan mampu mengelola tindakan mereka sesuai dengan tujuan hidup yang telah ditetapkan. . Pada penelitian sebelumnya, Kesejahteraan psikologis ibu dengan anak berkebutuhan khusus bervariasi. Menurut Syahidah, kesejahteraan psikologis ibu dengan anak berkebutuhan khusus cenderung rendah, karena mereka masih tidak sepenuhnya menerima situasi mereka, merasa malu, marah, dan kecewa. Selain itu, mereka sering menghadapi sindiran karena mempunyai anak dengan kebutuhan khusus dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial mereka. Tugas harian dan aspek mengasuh anak biasa bisa menjadi sumber stres bagi orang tua yang anaknya menunjukkan tantangan perilaku. Secara umum, Orang tua anak-anak dengan disabilitas perkembangan mengalami tingkat stres yang lebih tinggi.

Hubungan stres dan kesejahteraan psikologis ibu ada menunjukkan dampak signifikan dari kecacatan anak pada kesejahteraan psikologis orang tua. hal ini disebabkan oleh stres karena kelahiran dan tuntutan yang terkait dengan membesarkan seorang anak dengan kecacatan selalu mempengaruhi orang tua. Perawatan orang tua untuk anak dengan kecacatan perkembangan adalah tanggung jawab besar, yang dapat melebihi perawatan anak biasa . Resiliensi adalah keterampilan individu untuk mengatasi dan beradaptasi dengan negativitas dalam kondisi sulit yang dialami. Resiliensi merupakan konsep yang melibatkan faktor risiko, faktor perlindungan, dan pemahaman, serta terkait dengan adaptasi positif. Faktor risiko merujuk pada fitur individu atau lingkungan yang menghalangi individu untuk beradaptasi dengan negativitas di sekitarnya. Di sisi lain, faktor perlindungan mengacu pada kemampuan individu dalam menghadapi situasi negatif di mana mereka terlibat, melawan lingkungan berisiko yang mereka hadapi, dan kemampuan mereka untuk beradaptasi berdasarkan pengalaman tersebut. Terdapat studi nasional dan internasional dalam konteks ini yang melibatkan keluarga, orangtua, dan ibu dengan anak-anak berkebutuhan khusus (Culhacik et al., ; Strnadová, ; Sünbül & Gördesli ) . Penelitian terkait Hubungan stres dan resiliensi, menyebutkan bahwa ketika seorang ibu tidak mampu untuk beradaptasi dengan kondisi dimana ia memiliki anak berkebutuhan khusus yang yang berpengaruh terhadap stres yang disebabkan oleh kelelahan dan . Hal ini sejalan pada penelitian pendahulu bahwa Reivich dan Shatte menyatakan bahwa individu yang memiliki tingkat resiliensi yang baik dapat berhasil mengatasi masalah yang dihadapinya, meskipun mungkin prosesnya berlangsung secara bertahap. Resiliensi mencakup berbagai dimensi mulai dari empati, optimisme, pengendalian emosi, efikasi diri dan kemampuan menganalisis masalah.

Fenomena Ibu adalah pengasuh utama bagi anaknya khususnya pada seorang anak berkebutuhan khusus yang memerlukan perhatian lebih sehingga dapat menyebabkan stres pengasuhan pada ibu. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memahami kaitan antara resiliensi dan kesejahteraan psikologis dengan stres pengasuhan yang dialami oleh ibu dengan anak dengan berkebutuhan khusus di SLB Sidoarjo . Hipotesis dalam penelitian ini untuk mengetahui peranan antara resiliensi dan kesejahteraan psikologis dengan stres pengasuhan pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Resiliensi dan Kesejahteraan psikologis dapat berperan terhadap stres pengasuhan ataukah tidak dapat berperan kepada stres pengasuhan karena Menurut penelitian Bonanno dan Mancini, setiap individu diharapkan menghadapi situasi traumatis dalam hidupnya. Namun, tidak semua orang menghadapi kesulitan tersebut dengan cara yang sama.

Metode

Metode penelitian kuantitatif korelasional digunakan pada penelitian ini untuk menentukan hubungan antara variabel kesejahteraan psikologis dan resiliensi terhadap untuk memahami kaitan antara resiliensi dan stres pengasuhan pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus. Penelitian korelasional adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara dua variabel atau lebih . Populasi yang akan ditetapkan sebagai subjek dalam penelitian adalah ibu dengan anak berkebutuhan khusus yang anaknya sedang mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa di kabupaten Sidoarjo, ukuran sampel yang digunakan adalah seusai dengan Teknik pengukuran sampel dari Rumus Cochran

Figure 1.

Ket:

Z : Confidence level 95%

p : population proportion 5%

q : propotion of failure 50 %

e : margin eror 1%

Teknik sampling yang digunakan adalah non-probabilitas, yaitu pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Jenis sampel non-probabilitas yang digunakan adalah sampling insidental, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan bertemu dengan peneliti. Sampel diambil apabila subjek yang kebetulan ditemui dianggap cocok sebagai sumber data sesuai dengan kriteria yang dimaksud, yaitu ibu dengan anak yang sedang bersekolah di sekolah luar biasa di Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan 3 variabel yaitu resiliensi, kesejahteraan psikologis dan stres pengasuhan.

Alat Ukur Resiliensi

Resiliensi adalah kemampuan individu untuk bangkit kembali atau pulih dari kesulitan, stres, atau tantangan hidup. Variabel Resiliensi diukur dengan mendaptasi Brief Resilience Scale dari Smith (BRS) yang memiliki aitem 6 buah yang tebuat dari BRS diberikan kepada masing-masing dari empat sampel ini melalui kuesioner. Kuesioner untuk setiap sampel tidak identik, tetapi mengukur banyak konstruk yang sama. Kuesioner ini menilai berbagai konstruk yang terkait dengan resiliensi, karakteristik pribadi lainnya, gaya coping, hubungan sosial, dan hasil terkait kesehatan. Daftar ukuran di bawah ini menunjukkan ukuran mana yang disertakan untuk setiap sampel.Enam item dari Brief Resilience Scale (BRS) disajikan di Tabel 1. Item 1, 3, dan 5 diungkapkan secara positif, sedangkan item 2, 4, dan 6 diungkapkan secara negatif. Skor BRS dihitung dengan membalik kode (reverse coding) untuk item 2, 4, dan 6, kemudian menghitung rata-rata dari enam item tersebut. Instruksi berikut digunakan untuk mengadministrasikan skala ini. Setelah melalui uji validitas dinyatakan bahwa 6 aitem tersebut valid tidak ada yang gugur, pada uji reliabilitas miliki tingkat reliabilitias 0.836 dan dinyatakan reliabel dan valid.

Alat Ukur Kesejahteraan Psikologis

Kesejahteraan psikologis adalah kondisi di mana individu merasa sehat secara mental dan emosional. Versi 18 item dari Skala Kesejahteraan Psikologis Ryff (Ryff dan Keyes, 1995) adalah instrumen laporan diri yang terdiri dari 18 item yang mengukur enam dimensi kesejahteraan psikologis: otonomi, penguasaan lingkungan, penerimaan diri, pertumbuhan pribadi, hubungan positif dengan orang lain, dan tujuan hidup. Item-item tersebut dinilai pada skala Likert 6 poin, mulai dari 1 (sangat tidak setuju) hingga 6 (sangat setuju). Oleh karena itu, skor total berada dalam kisaran 18–108, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan kesejahteraan yang lebih besar.Pada uji validitas dinyatakan tidak ada aitem yang gugur sehingga 18 aitem tetap digunakan, selain itu pada uji reliabilitasnya mendapatkan skor 0,809 dan dinyatakan valid dan reliabel.

Alat Ukur Stres Pengasuhan

Skala Stres Pengasuhan (SSP) dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari Parental Stress Scale (PSS) yang dikembangkan oleh Berry & Jones (1995). PSS memiliki dua dimensi, yaitu dimensi positif (pleasure) dan dimensi negatif (strain). Terdapat 18 butir dalam alat ukur ini, 8 butir mewakili dimensi pleasure dan 10 butir mewakili dimensi strain, dengan lima pilihan respons (1 = Sangat Tidak Setuju; 5 = Sangat Setuju).Stres pengasuhan dilihat dari skor total partisipan dari dua komponen yang ada, di mana semakin tinggi skor total strain dan semakin rendah skor total pleasure yang dimiliki oleh responden dalam PSS, maka semakin tinggi stres pengasuhan responden. Sebaliknya, semakin rendah skor total strain dan semakin tinggi skor total pleasure yang dimiliki oleh responden dalam PSS, maka semakin rendah pula stres pengasuhan responden. Uji validitas yang dilakukan mneyatakan bahwa ada 2 aitem yang gugur yaiut aitem nomor 3 dan 4 kemudian untuk reliabilitasnya adalah 0,700 sehingga dapat dinyatakan valid dan reliabel.

Analisis Data

Data yang telah ada akan dilakukan pengelolahan data menggunakan uji asumsi normalitas, homogenitas, multikolenieritas dan anlaisa data melalui teknik regresi berganda pada tiga variabel dengan bantuan JASP versi 18 untuk mengetahui peranan antara variabel penelitian resiliensi dan kesejahteraan psikologis dengan varibel stres pengasuhan

Hasil dan Pembahasan

A. Uji Asusmsi Analisis Regresi

Dalam membentuk model regresi, dilakukan pemilihan model terbaik. Terdapat tiga metode untuk memilih model terbaik, yaitu backward, forward, dan stepwise. Dalam penelitian ini, digunakan metode backward untuk memilih model terbaik. Metode backward dijalankan dengan cara mundur. Setiap variabel diregresi terlebih dahulu, kemudian secara bertahap mengeliminasi variabel yang tidak signifikan atau memiliki nilai p yang lebih besar satu per satu..

B. Uji Homoskesdasitas

Figure 2. Uji Homoskesdasitas

Uji homoskedastisitas bisa ditentukan dari sebaran residu yang telah distandardisasi. Sebaran data tersebut diharapkan merata, tidak membentuk pola yang dapat dihubungkan pada garis lurus ke sudut kiri bawah ke kanan atas. Analisis gambar kedua menyatakan bahwa pola sebaran data bersifat tidak beraturan, menyatakan tidak adanya heteroskedastisitas ataupun keberadaan homoskedastisitas.

C. Uji Normalitas

Figure 3. Uji Normalitas dan Linieritas

Figure 4. Q-Q Plot Standardized Residuals

Uji normalitas dapat diamati melalui QQ Plot. Data yang terdistribusi normal akan menghasilkan residu yang mengikuti garis lurus tanpa menyimpang. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada grafik tersebut sehingga data dapat diartikan normal.

D. Uji Multikoleneritas

Coefficients
Collinearity Statistics
Model Unstandardized Standard Error Standardized t p Tolerance VIF
H₀ (Intercept) 48.961 0.599 81.703 < .001
H₁ (Intercept) 71.968 4.607 15.622 < .001
RESILIENSI -0.449 0.237 -0.191 -1.894 0.062 0.982 1.019
KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS -0.243 0.053 -0.459 -4.546 < .001 0.982 1.019
Table 1. Uji Multikolenieritas

Multikolinieritas diperlukan untuk melihat apakah terjadi korelasi yang kuat atau rendah antara variabel (X1) dalam model regresi. Ketidakadaan multikolinieritas terkonfirmasi jika VIF kurang dari 10.00, yang dapat dilihat melalui perangkat lunak JASP dalam tabel koefisien. Dalam tabel tersebut, dapat diamati bahwa variabel independen (X1), yaitu tingkat resiliensi, memiliki toleransi sebesar 0.982 dan VIF sebesar 1.010, begitu juga dengan variabel independen (X2), yaitu tingkat stres dalam pengasuhan, dengan nilai toleransi 0.990 dan VIF 1.010 dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa asumsi multikolineritas dapat terwujud.

E. Uji Analisa Pearson’s Correlations

Pearson's Correlations
Variable RESILIENSI KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS STRES PENGASUHAN
1. RESILIENSI Pearson's r
p-value
2. KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS Pearson's r 0.135
p-value 0.245
3. STRES PENGASUHAN Pearson's r -0.253 -0.484
p-value 0.027 < .001
Table 2. Analisa Pearson’s Correlations

Penelitian ini menggunakan Pearson's Correlations dalam melakukan uji hipotesis pada resiliensi dengan stres pengasuhan menghasilkan skor sebesar -0.253 (p: 0.027 > .001) sedangkan pada kesejahteraan dengan stres pengasuhan skor yang diperoleh yaitu sebesar -0.484 (p: < .001) sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara resiliensi dengan stres pengasuhan sedangkan, kesejahteraan psikologis terhadap stres pengasuhan . Tabel 2 memperlihatkan analisis hasil uji pearson’s correlations

F. Uji Regresi Linier Berganda ANOVA

ANOVA
Model Sum of Squares df Mean Square F p
H₁ Regression 553.631 2 276.816 13.533 < .001
Residual 1.493.250 73 20.455
Total 2.046.882 75
Note. The intercept model is omitted, as no meaningful information can be shown.
Table 3. Analisa Regresi Linier Berganda ANOVA

Tujuan dari uji F adalah untuk menentukan apakah ada pengaruh simultan antara variabel independen (X) dan variabel dependen (Y). Jika nilai signifikansi uji F di bawah 0,05, ini menunjukkan bahwa variabel independen (X) memiliki pengaruh secara bersamaan terhadap variabel dependen (Y). Dengan kata lain, nilai signifikansi atau p harus kurang dari 0,05 untuk memenuhi syarat uji F, nilai uji F 13.533 dengan signifikansi <.001

G . Uji Koefisien Determinasi

Tabel 4. Model Summary Model Summary - STRES PENGASUHAN
Model R Adjusted R² RMSE
H₀ 0.000 0.000 0.000 5.224
H₁ 0.520 0.270 0.250 4.523
Table 4. Model Summary

Hasil dari nilai R² dari resiliensi dan kesejahteraan psikologis terhadap stress pengasuhan adalah 0.270 yang berarti bahwa secara Bersama sama resiliensi dan kesejahteraan psikologis dapat mempengaruhi stress pengasuhan yaitu sebesar 27% dan sisanya dijelaskan oleh hal lain.

H. Hasil Uji Decriptive Statistic

Descriptive Statistics
RESILIENSI KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS STRES PENGASUHAN
Valid 76 76 76
Missing 24 24 24
Mean 13.553 69.737 48.961
Std. Deviation 2.223 9.873 5.224
Shapiro-Wilk 0.949 0.909 0.935
P-value of Shapiro-Wilk 0.004 < .001 < .001
Minimum 7.000 36.000 40.000
Maximum 21.000 88.000 65.000
Table 5. Hasil Uji Decriptive Statistic

Hasil uji deskriptif menunjukkan bahwa tingkat resiliensi ibu adalah 2.223, kesejahteraan psikologis 9.873 sedangakan stres pengasuhan adalah 5.224 seperti yang tersajikan pada table 5

I . Uji Regresi Berdasarkan Coeffients

Coefficients
Collinearity Statistics
Model Unstandardized Standard Error Standardized t p Tolerance VIF
H₀ (Intercept) 48.961 0.599 81.703 < .001
H₁ (Intercept) 71.968 4.607 15.622 < .001
RESILIENSI -0.449 0.237 -0.191 -1.894 0.062 0.982 1.019
KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS -0.243 0.053 -0.459 -4.546 < .001 0.982 1.019
Table 6. Uji Regresi Linier Berganda berdasarkan Coffcients

Untuk menentukan apakah variabel independen (X) mempengaruhi variabel dependen (Y), digunakan uji t. Jika nilai signifikan (sig) kurang dari 0,05, maka variabel independen (X) memiliki pengaruh parsial terhadap variabel dependen (Y), dan nilai signifikansi ini ditampilkan dalam kolom P. Berdasarkan tabel yang diberikan, kesejahteraan psikologis mempengaruhi stres pengasuhan dengan nilai sig = 0,001 < 0,05. Sebaliknya, resiliensi tidak mempengaruhi stres pengasuhan, dengan nilai sig 0.062 > 0,05.

Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara resiliensi yang dialami ibu dengan anak berkebutuhan khusus dan kesejahteraan psikologis meraka terima terhadap stres pengasuhan menggunakan analisis regresi dengan JASP. 018.30.

Penelitian ini menguji peranan resiliensi dan kesejahteraan psikologis terhadap kecenderungan stres pengasuhan pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus di SLB Sidoarjo. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara resiliensi dan kesejahteraan piskologis terhadap stres pengasuhan pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus di SLB sidoarjo, artinya ketika ibu yang resiliens dan memiliki kesejahteraan psikologis yang baik, maka ibu dapat mengatasi stres dengan lebih efektif. Sebaliknya, resiliensi dan kesejahteraan psikologis yang tidak baik dapat meningkatkan stres pengasuhan, karena orang tua kurang mampu menghadapi tantangan. Resiliensi dan kesejahteraan psikologis secara bersama-sama memiliki kontribusi sebesar 27.0% terhadap stres pengasuhan..

Resiliensi memiliki peranan sebesar 0,064% terhadap stres pengasuhan. Hal yang sama ditemukan dalam penelitain sebelumnya oleh Rima pada tahun 2020 terkait resiliensi dan stres pengasuhan pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus yang menyatakan bahwa peranan resiliensi terhadap stres pengasuhan cenderung rendah . Menurut Rutter menyebutkan bahwa kondisi resiliensi bukanlah sifat bawaan melainkan hasil interaksi antara individu dengan linkungan mereka yang berarti bahwa ibu belum bisa menghasilkan resiliensi melalui pengalaman menjadi ibu dengna anak berkebutuhan khusus sehingga kondisi ini tentunya akan berdampak pada resiliensi ibu dengan anak berkebutuhan khusus. Resiliensi merupakan kemampuan individu untuk bertahan, beradaptasi dalam situasi menekan, mampu mengatasi, melalui, serta mampu untuk pulih kembali dari keterpurukan

Kesejahteraan psikologis memiliki pengaruh sebesar 27,0% terhadapstres pengasuhan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh park ae-son tentang hubungan kesejahteraan psikologis dan stres pengasuhan pada ibu bahwa kedua variabel tersebut bearah negatif artinya semakin tinggi kesejahteraan psikologis maka akan diikuti juga semakin semakin rendah stress pengasuhan yang dihadapi ibu.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesejahteraan psikologis lebih berpengaruh daripada resiliensi terhadap stres pengasuhan. Kesejahteraan psikologis yang baik sering kali memberikan landasan yang stabil untuk pengembangan resiliensi. Individu yang merasa pusa dan bahagia dengan hidup mereka mungkin lebih siap untuk menghadapi dan mengatasi stres dengan cara yang lebih efektif. Individu mampu untuk sejahtera secara psikologis namun belum resiliens yang berarti bahwa individu tersebut mampu untuk menerima kondisi dirinya sekarang akan tetapi belum bisa bangkit sehingga dapat dikatakan sebagai individu yang resiliens sehingga dirinya masih mengalami stres dalam pengasuhanya.Selain itu, penelitian sebelumnya menyatakan bahwa semakin rendah kesejahteraan psikologisnya maka rentan untuk emngalmi stres dan depresi penelitian sebelumnya oleh suwoto juga menyatakan bahwa ibu dengan anak berkebutuhan khusus lebih mudah.

Hubungan antara resiliensi dengan stres pengasuhan memiliki skor negaitf -0,253 dengan signfikansi > 0,027 yang berarti hubungannya tidak signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu terkait hubungan resiliensi dan stres pengasuhan Namun, tidak semua keluarga mengalami stres yang sama, karena pendekatan mereka terhadap pengasuhan mungkin berbeda, dan karakteristik pribadi orang tua dan anak, iklim keluarga, serta keadaan sosial-ekonomi keluarga mungkin berbeda. Semua faktor ini sangat mempengaruhi kondisi orang tua dan persepsi mereka tentang kemampuan serta kepercayaan diri mereka sebagai orang tua.Ini mungkin membantu menjelaskan dinamika yang relevan mengenai tidak adanya efek buffering dari resiliensi untuk mengurangi stres orang tua pada orang tua dari anak-anak dengan kebutuhan khusus. Sehingga, adanya atau tidaknya penguatan melalui ketahanan, tidak akan mempengaruhi stres orang tua yang dirasakan oleh orang tua dari anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Kesejahteraan Psikologis dengan Stres Pengasuhan memiliki skor negatif -0,484 < 0.01 yang berarti hubungannya adalah negatif, artinya semakin tinggi stres pengasuhan maka semakin rendah kesejahteraan psikologisnya begitupula sebaliknya. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh costa bahwa yang menyatakan bahwa stres pengasuhan berkorelasi negatif dengan kesejahteraan orang tua. Orang tua dengan anak ASD mengalami kesedihan yang mendalam, depresi, menyalahkan diri sendiri dan mengalami ketidakberdayaan. Studi lainnya oleh Frantz et al. (2018) menyatakan bahwa peningkatan stres orang tua cenderung berdampak negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan orang tua secara keseluruhan

Resiliensi dan kesejahteraan psikologis memliki pengaruh dan hubungan dengan stres pengasuhan baik secara bersama sama maupun sendiri sendiri sehingga penelitian hubungan antara resiliensi dan kesejahterana psikologis dengan stres pengasuhan terdapat hubungan negatif dan signfikan artinya semakin tinggi stres pengasuhan maka kesejahteraan dan resiliensinya rendah.

Simpulan

Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan ataupun individual kesejahteraan psikologis dan resiliensi memiliki pengaruh yang dapat memberikan dampak yang singifikan kepada stres pengasuhan dari Ibu anak berkebutuhan khusus di SLB sidoarjo, sumbangan efektif dari kesejahteraan psikologis dan resiliensi sebesar 24,2 dan 75,8 % lainya dijelaskan oleh faktor lain seperti religiusitas, dukungan sosial dan faktor – faktor lainya. Rekomendasi yang dapat diberikan penelitian ini adalah untuk menguatkan kesejahteraan psikologis yang dimiliki oleh ibu dengan anak berkebutuhan khusus, Jika ibu sejahtera, maka perkembangan anak cenderung lebih baik dalam membangun pertumbuhan dan perkembangan mereka. Rekomendasi yang dapat diberikan penliti bedasarakna hasil peneltiian ini adalah memebrikan penguatan pada ibu sehingga dirinya akan dapat melakukan yang terbaik pada pengasuhan anaknya hingga ia dewasa.Secara toeritis penelitian ini memberikan pengetahuan dan diharapkan kepedanya para penenliti dapat melakukan yang lebih baik.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para narasumber yang telah bersedia mengikuti progres pihak sekolah slb yang ada di sidoarjo serta dosen pembimbing, teman-teman, dan keluarga atas dukungan serta bimbingannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Tanpa kalian, pencapaian ini tidak mungkin terwujud khususnya pada ibu yang telah membantu dalam doanya sehingga dapat terselesaikan semoga kedepannya bisa dapat pasangan untuk diriku sendiri. Semoga hasilnya bermanfaat bagi banyak orang. Terima kasih.

References

[1] D. Miranda, “Strategi Coping Dan Kelelahan Emosional (Emotional Exhaustion) Pada Ibu Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus,” Jurnal Psikologi, vol. 1, no. 2, pp. 64–71, 2013.

[2] L. Y. A. K. P. Fauziah Nasution, “Pengertian Pendidikan, Sistem Pendidikan Sekolah Luar Biasa, Dan Jenis-Jenis Sekolah Luar Biasa,” Jurnal Edukasi Nonformal, vol. 3, no. 2, pp. 422–427, 2022.

[3] F. M. Tatar, “Hubungan Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan Dengan Kenakalan Remaja Di Kota Banda Aceh,” Jurnal Psikologi, 2017, doi: 10.13170/jp.11.1.8315.

[4] S. Prameswari, “Hubungan Keterlibatan Ibu Dan Self-Compassion Pada Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus,” Jurnal Penelitian Dan Pengukuran Psikologi, vol. 8, no. 2, p. 95, 2019, doi: 10.21009/JPPP.

[5] M. Maulina, “Coping Aktif Stress Pengasuhan Orangtua Dengan Anak Retardasi Mental: Literature Review,” Humanitas, vol. 5, no. 2, pp. 149–164, 2021.

[6] M. Maulina, “Coping Aktif Stress Pengasuhan Orangtua Dengan Anak Retardasi Mental: Literature Review,” Humanitas, vol. 5, no. 2, pp. 149–164, 2021.

[7] N. D. Rahmawati and Y. I. Aviani, “Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Parenting Stress Pada Ibu Dengan Anak Tunagrahita Di Kota Sawahlunto,” Jurnal Psikologi, 2023.

[8] A. F. Tri et al., “Hubungan Antara Hardiness Dengan Tingkat Stres Pengasuhan Pada Ibu Dengan Anak Autis,” Jurnal Psikologi, 2022.

[9] I. F. Kristiana, “Self-Compassion Dan Stres Pengasuhan Ibu Yang Memiliki Anak Dengan Hambatan Kognitif,” Jurnal Psikologi Klinis, 2020.

[10] E. Noviati, I. Sukmawati, and Y. Rahayu, “Stress Level Of Mothers With Children With Special Needs,” Science Midwifery, vol. 10, no. 1, 2021.

[11] N. Angelia and D. Rusmawati, “Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Stres Pengasuhan Pada Ibu Yang Memiliki Anak Dengan Autisme,” Jurnal Psikologi, 2020.

[12] R. M. Wahyudi, H. Lubis, and E. T. Putri, “Hubungan Kebersyukuran Dengan Kesejahteraan Psikologis Ibu Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus Di Kota Balikpapan,” Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 9, pp. 820–828, 2021, doi: 10.30872/psikoborneo.

[13] R. M. Wahyudi, H. Lubis, and E. T. Putri, “Hubungan Kebersyukuran Dengan Kesejahteraan Psikologis Ibu Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus Di Kota Balikpapan,” Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 9, pp. 820–828, 2021, doi: 10.30872/psikoborneo.

[14] S. L. J. R. Bhatnagar and G. Kangri Vishwavidyalaya, “Psychological Well-Being Of Parents In Relation To Early Intervention Of Their Intellectually Disabled Children,” International Journal Of Creative Research Thoughts, 2021.

[15] M. Ozsavran and T. K. Ayyildiz, “The Effect Of Mandala Art Therapy On The Comfort And Resilience Levels Of Mothers Who Have Children With Special Needs: A Randomized Controlled Study,” Child: Care, Health And Development, 2023, doi: 10.1111/cch.13110.

[16] N. Ali and A. D. Ariana, “Hubungan Antara Resiliensi Dan Stress Pengasuhan Pada Ibu Dengan Anak Gangguan Spektrum Autism Di UPTD Anak Berkebutuhan Khusus Sidoarjo,” Jurnal Psikologi, 2021.

[17] W. Djap, A. Mustikasiwi, O. Hermawati, D. Irawan, and E. Santosa, “The Resilience Of Single Mothers With Special Needs Children In Supporting Their Education And Fulfilling Their Needs During The COVID-19 Pandemic,” Indonesian Journal Of Disability Studies, vol. 8, no. 2, pp. 425–439, 2021, doi: 10.21776/ub.ijds.2021.008.02.10.

[18] F. Wahyuni and A. Muktadir, “Hubungan Antara Pendidikan Dalam Keluarga Dengan Sikap Rasa Hormat Siswa Kelas IV SD Negeri 03 Kota Pagar Alam,” Jurnal Pendidikan Dasar, 2017.

[19] J. E. Bartlett, J. W. Kotrlik, and C. C. Higgins, “Organizational Research: Determining Appropriate Sample Size In Survey Research,” Information Technology, Learning, And Performance Journal, vol. 19, no. 1, pp. 43–50, 2001.

[20] B. W. Smith, J. Dalen, K. Wiggins, E. Tooley, P. Christopher, and J. Bernard, “The Brief Resilience Scale: Assessing The Ability To Bounce Back,” International Journal Of Behavioral Medicine, vol. 15, no. 3, pp. 194–200, 2008, doi: 10.1080/10705500802222972.

[21] D. Garcia, M. Kazemitabar, and M. H. Asgarabad, “The 18-Item Swedish Version Of Ryff’s Psychological Wellbeing Scale: Psychometric Properties Based On Classical Test Theory And Item Response Theory,” Frontiers In Psychology, vol. 14, 2023, doi: 10.3389/fpsyg.2023.1208300.

[22] D. Kumalasari, I. A. A. Gani, and E. Fourianalistyawati, “Adaptasi Dan Properti Psikometri Parental Stress Scale Versi Bahasa Indonesia,” Jurnal Psikologi Ulayat, 2022, doi: 10.24854/jpu527.

[23] G. Theofani and E. Sediyono, “Multiple Linear Regression Analysis On Factors That Influence Employees Work Motivation,” Sinkron, vol. 7, no. 3, pp. 791–798, 2022, doi: 10.33395/sinkron.v7i3.11453.

[24] R. Wahyuminati, D. Z. Uyun, and M. Si, “Hubungan Antara Resiliensi Dan Dukungan Sosial Dengan Stres Pengasuhan Pada Orang Tua Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus,” Jurnal Psikologi, 2020.

[25] P. Stres et al., “The Effect Of Parenting Stress On Mothers’ Resilience With Children With Special Needs,” Islamika Granada, vol. 4, no. 3, 2024, doi: 10.51849/ig.v4i3.261.

[26] A. Seon Park, “Relationship Between Parenting Stress And Psychological Well-Being Of Mothers With Children With Autism,” Journal Of Special Education Research, 2012.

[27] B. B. George, A. A. Dangroo, K. K. Sahu, and P. Arun, “Stress, Coping, And Resilience Among Mothers Of Children With Attention Deficit Hyperactivity Disorder,” International Journal Of Psychosocial Social Work, vol. 15, no. 1, 2024, doi: 10.29120/IJPSW.2024.v15.i1.614.

[28] I. G. A. A. S. L. C. Astiti and T. Debora Valentina, “Kesejahteraan Psikologis Orang Tua Dengan Anak Berkebutuhan Khusus: Literature Review,” Innovative: Journal Of Social Science Research, vol. 4, pp. 8214–8228, 2024.

[29] P. R. U. R. C. P. Dimala, “Stress And Burnout For Parents Of Children With Special Needs: A Review From Resilience And Social Support,” Journal Of Disability Studies, 2024.

[30] L. P. Rais, T. H. Dahlan, and M. Baihaqi, “Interkorelasi Antara Stres Pengasuhan, Kepuasan Pernikahan, Dan Kesejahteraan Pada Orang Tua Dengan Anak Autism Spectrum Disorder Di Kota Palembang,” Jurnal Psikologi Klinis, 2022.