Naufal Edriansah Purnomo (1), Widyastuti (2)
General Background: Aggressive driving and occupational stress represent complex behavioral and psychological concerns that may threaten driver safety and road user security. Specific Background: Female online motorbike taxi drivers operate in dynamic urban environments that require continuous interaction with traffic demands and service expectations. Knowledge Gap: Empirical evidence examining the statistical relationship between aggressive driving behavior and occupational stress among female online motorbike taxi drivers in Surabaya remains limited. Aims: This study aimed to examine the correlation between aggressive driving and occupational stress among female online motorbike taxi drivers in Surabaya. Results: This quantitative correlational study involved 100 respondents selected through simple random sampling. Measurement utilized validated occupational stress (R=0.920) and aggressive driving scales (R=0.887). Pearson correlation and linear regression analysis using JASP version 0.18.1.0 indicated a statistically significant positive relationship with p < .001. Descriptive analysis showed relatively low levels of both variables among respondents, potentially related to flexible working schedules, social support, and application-based operational assistance. Novelty: This study provides quantitative evidence focusing specifically on female online motorbike taxi drivers in Surabaya using validated behavioral and psychological measurement instruments. Implications: The findings contribute to occupational psychology and transportation safety discussions by highlighting the relationship between driving behavior patterns and psychological working conditions within app-based transportation services.
Highlights:
Keywords: Aggressive Driving, Occupational Stress, Online Motorbike Taxi Drivers, Transportation Safety; Occupational Psychology
Fenomena yang terjadi pada driver ojek online wanita dapat dilihat dari berbagai aspek diantaranya yaitu ketidaksetaraan gender yang sering terjadi karena masyarakat menganggap pekerjaan sebagai driver ojek online tidak cocok untuk wanita, yang menurut paradigma sosial lebih cocok mengurus rumah tangga daripada bekerja. Ini menunjukkan adanya ketidaksetaraan gender dalam sistem sosial yang mendominasi anggapan bahwa pekerjaan ini tidak pantas untuk wanita. Motivasi dan kondisi ekonomi menjadi faktor penting yang memengaruhi seorang wanita menjadi driver ojek online. Banyak perempuan memilih menjadi driver ojek online karena kesulitan ekonomi, termasuk mereka yang sebelumnya bekerja di pabrik dan harus beralih profesi akibat pandemi. Single parents atau perempuan dengan tanggung jawab besar terhadap keluarga sering kali memilih pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu driver ojek online wanita sering menghadapi tantangan fisik dan masalah keamanan, seperti bekerja hingga larut malam dan menghadapi risiko keamanan yang rendah, yang dapat mengancam keselamatan mereka. Meskipun ada anggapan negatif, banyak wanita tetap memilih pekerjaan ini karena kebutuhan ekonomi yang mendesak dan kemudahan akses berkat perkembangan teknologi [1].Beberapa perempuan berhasil dan merasakan kesuksesan dalam pekerjaan ini meskipun harus menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Oleh karena itu, fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan dapat berkontribusi dalam bidang transportasi online meskipun menghadapi berbagai tantangan dan stereotip sosial yang tidak adil.
Stres kerja yang dialami oleh pengemudi ojek online di kota Surabaya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kompleks dan saling berkaitan. Beban kerja yang tinggi, yang mencakup pekerjaan, peran, dan tuntutan interpersonal, merupakan penyebab utama stress kerja. Selain itu, konflik pekerjaan dengan manajemen, penumpang, dan konflik internal juga memperburuk kondisi ini. Stres kerja sering dikaitkan dengan perilaku mengemudi yang agresif, dimana pengemudi yang stres cenderung mengemudi dengan risiko tinggi sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Masalah ekonomi dan keluarga, seperti kesulitan keuangan dan konflik perkawinan, juga berperan penting dalam meningkatkan tingkat stres. Dampak pandemi COVID-19 terhadap kondisi fisik dan mental pengemudi semakin memperburuk keadaan, mengingat menurunnya jumlah pengguna jasa. Kurangnya dukungan sosial meningkatkan beban stres, sedangkan dukungan sosial yang memadai dapat meringankan beban tersebut. Selain itu, kondisi kerja yang kurang memadai seperti lingkungan yang tidak aman dan fasilitas yang minim juga berkontribusi terhadap tingginya tingkat stres kerja [2]. Secara keseluruhan, berbagai faktor tersebut menunjukkan betapa pentingnya memahami dan mengatasi stres kerja pada pengemudi ojek online khususnya wanita di Surabaya.
Penelitian mengenai hubungan agressive driving dengan stres kerja pada pengemudi ojek online wanita di Surabaya menjadi penting mengingat kota Surabaya merupakan salah satu pusat perekonomian dan urbanisasi terbesar di Indonesia dengan jumlah pengemudi ojek online yang cukup banyak. Pengemudi menghadapi berbagai tekanan mulai dari tuntutan pekerjaan yang tinggi, persaingan yang ketat, serta kondisi lalu lintas yang sibuk dan seringkali tidak teratur. Permasalahan sosial ekonomi di sekitar Surabaya berdampak langsung pada kesejahteraan pekerja sektor informal, termasuk pengemudi ojek online, berkurangnya pendapatan dan meningkatnya beban kerja yang berkontribusi terhadap tingginya tingkat stres [3]. Mengingat pentingnya transportasi online bagi mobilitas dan perekonomian kota, memahami faktor-faktor yang mempengaruhi agresivitas berkendara dan stres kerja di kalangan pengemudi ojek online di Surabaya dapat memberikan wawasan yang berguna untuk merancang intervensi yang efektif untuk meningkatkan keselamatan jalan dan kesejahteraan pengemudi.
Kota Surabaya merupakan kota terbesar ke-dua di Indonesia setelah DKI Jakarta menurut sensus penduduk yang dilakukan BPS Kota Surabaya Jumlah penduduk Kota Surabaya bulan September 2020 sebanyak 2,87 juta jiwa Jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit dibandingkan jumlah penduduk perempuan, yaitu 1,42 juta penduduk laki-laki dan 1,45 juta penduduk perempuan. Dengan Tingkat populasi yang besar dan arus transportasi yang padat kota Surabaya merupakan lokasi yang tepat untuk dilakukanya penelitian ini [4]. Pada era perkembangan teknologi yang semakin maju ini telah berkembang pula transportasi berbasis online, dimana pelanggan dapat dengan mudah melakukan mobilitas hanya dengan memesan ojek online melalui aplikasi yang ada di smartphone. Pekerjaan sebagai driver ojek online pun banyak diminati tidak hanya oleh pria namun terdapat pula driver ojek online wanita. Salah satu alasan seorang wanita menjadi driver ojek online adalah karena faktor ekonomi dan statusnya sebagai single parents hal ini dapat berpengaruh pada kesehatan mental dan berpotensi menjadi penyebab stress kerja [1]. Ada beberapa faktor yang dapat mengakibatkan timbulnya stress kerja diantaranya faktor usia, status pernikahan, jumlah pendapatan dan lama bekerja [5]. Stress kerja pada driver ojek online merupakan masalah kompleks yang menjadi tanggung jawab driver, perusahaan dan masyarakat. Perusahaan penyedia jasa aplikasi ojek online harus menciptakan lingkungan kerja yang mendukung untuk membantu pengemudi mengelola stres, karena akan berpengaruh terhadap keselamatan driver ojek online, konsumen dan pengguna jalan lain [6]. Fenomena stres di kalangan driver ojek online menjadi perhatian yang cukup besar karena berdampak pada kinerja, motivasi, dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan [7].
Dalam fenomena yang terjadi pada para pekerja wanita, stress kerja dapat muncul sebagai reaksi yang bersifat fisik, psikis dan perubahan perilaku dan juga dapat muncul sebagai perasaan tertekan dalam menjalankan sebuah pekerjaan [8]. Tekanan pekerjaan, konflik antar rekan kerja seperti persaingan antar driver ojek online, kondisi fisik tempat kerja, dan tuntutan lingkungan keluarga juga dapat menimbulkan stres kerja pada driver ojek online [9]. Hal ini sesuai dengan temuan di lapangan saat dilakukan survei awal, beberapa driver ojek online wanita mangaku diantara faktor penyebab stress kerja adalah sulitnya mendapatkan orderan pada jam tertentu, persaingan dengan driver ojek online pria, dan permasalahan perekonomian keluarga semakin memperburuk keaadaan mereka. Berdasarkan penelitian terdahulu oleh Aliyah terhadap driver ojek online di Tangerang ditemukan bahwa driver ojek online wanita cenderung mengalami tingkat stres kerja yang rendah, sebanyak 57,1% diantaranya mengalami tingkat stres kerja yang rendah dan terdapat 42,9% yang mengalami Tingkat stress kerja yang tinggi [10]. namun terdapat penyebab lain yang menyebabkan stress kerja pada driver ojek online yaitu tekanan dari pihak perusahaan dan luar perusahaan seperti orderan fiktif [11]. Sekalipun tingkat stres pada driver online ditemukan cenderung rendah, penelitian Awalia dkk menemukan bahwa driver gojek online perempuan memiliki tingkat stres kerja yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan driver ojek online pria [12]. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan dengan profesi sebagai driver ojek online rentan mengalami stres kerja.
Pengertian stress kerja menurut Beehr dan Newman adalah suatu keadaan yang timbul dalam interaksi antara manusia dengan pekerjaan, stress kerja merupakan suatu keadaan yang timbul dari interaksi antara manusia dan pekerjaan serta dikarakterisasikan oleh perubahan manusia yang memaksa mereka untuk menyimpang dari fungsi normal, stress kerja terdiri dari tiga aspek yaitu aspek psikologis, aspek fisik dan aspek perilaku [13]. terdapat beberapa penelitian lain yaitu penelitian Khoirunnisa dkk. yang mengkaji tentang faktor faktor yang berhubungan dengan stress kerja pada driver ojek online, hasil dari penelitian menyatakan bahwa variabel yang mempunyai hubungan signifikan dengan stres kerja antara lain umur, masa kerja, pendapatan, dukungan sosial, dan hubungan interpersonal [14]. Penelitian yang dilakukan oleh Wibowo dan Handayani yang juga menyatakan adanya hubunga dukungan sosial, beban kerja dengn stress kerja dengan nilai signifikansi 0,008 (p<0,01) [15]. Pengertian stress kerja menurut Behr dan Newman adalah kondisi yang ditandai oleh perubahan manusia yang menyimpang dari fungsi normal seorang karyawan yang muncul akibat interaksi antara manusia dan pekerjaanya. Menurut Behr dan Newman stress kerja terdiri dari tiga aspek yaitu aspek fisik, prilaku, dan psikologis. Stres merupakan bagian umum dari pengalaman kerja, sering kali diungkapkan melalui perasaan tidak puas terhadap pekerjaan, namun juga diwujudkan dalam berbagai emosi yang kuat seperti kemarahan, frustrasi, permusuhan dan kekesalan [13]. Penelitian terdahulu yang mengkaji variabel stress kerja diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Siahaan yang menyatakan Stres kerja pada pekerja wanita disebabkan oleh kepemimpinan dan konflik peran ganda. Konflik peran ganda memainkan peran penting dalam menghubungkan lingkungan kerja fisik dengan stres kerja, tetapi tidak memediasi pengaruh kepemimpinan terhadap stres kerja[8].
Menurut James dan Nahl aggressive driving adalah perilaku mengemudi dibawah pengaruh gangguan emosi, dan mengakibatkan pelanggaran yang dapat memengaruhi keselamatan pengendara lain. Aggressive driving terdiri dari tiga aspek yaitu impatience and inattentiveness, power struggle, recklessness and road rage [16]. Perilaku aggressive driving adalah tindakan mengemudi yang mengganggu ketertiban umum dan mengancam keselamatan orang lain, yang dilakukan dengan sengaja dan dengan tujuan tertentu [17].
Berdasarkan temuan penelitian terdahulu terhadap pengemudi bus, terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres kerja dengan kecenderungan perilaku aggressive driving [18]. Penelitian lain tentang hubungan aggressive driving dan driver ojek online di kota kupang menunjukan terdapat hubungan yang kuat antara tingkat stres dengan perilaku aggressive driving pada driver ojek online. dimana sebagian besar menunjukkan tingkat stres normal dan rendahnya tingkat perilaku agresif mengemudi [19]. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang telah di lakukan di kota Surabaya menunjukan bahwa ada keterkaitan antara stres kerja dan perilaku mengemudi agresif pada pengemudi ojek online, data dianalisis menggunakan metode korelasi Spearman Rho, yang menunjukkan korelasi sebesar 0,521 dengan signifikansi p < 0,05 [2]. Hasil penelitian terdahulu tentang stress kerja diketahui terdapat hubungan antara beban kerja dengan nilai p (0.009), lama masa kerja (0.016) dan usia (0.006) dengan stress kerja pada driver ojek online di kota banjarbaru pada tahun 2020 [20]. Temuan ini menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut mempunyai peran yang signifikan dalam mempengaruhi tingkat stres kerja pada pengemudi ojek online, sehingga dapat menjadi dasar penting untuk mengembangkan strategi manajemen stres yang lebih efektif di masa yang akan datang
Populasi penelitian ini merupakan driver ojek online berjenis kelamin wanita di Kota Surabaya yang aktif dalam kegiatan pengiriman barang dan jasa transportasi. Sampel terdiri dari beragam latar belakang dan karakteristik yaitu jenis mitra yang berbeda, usia, status perkawinan, latar belakang pendidikan dan lama pengalaman bekerja. Berdasarkan penelitian penelitian terdahulu yang mengkaji tentang aggressive driving dan stress kerja pada driver ojek online di kota Surabaya ditemukan bahwa jika sesorang driver dengan tingkat aggressive driving yang tinggi memiliki tingkat stress kerja yag tinggi. Gejala stres yang dialami oleh pengemudi ojek online bisa terlihat dari kemudahan mereka marah dan merasa gelisah. Saat mengalami stres, pengemudi tersebut lebih rentan terhadap perilaku agresif, seperti melanggar aturan lalu lintas, mengemudi dengan kecepatan tinggi, melakukan penyalipan, dan menunjukkan ekspresi kemarahan di jalan. Namun belum ditemukan penelitian yang dilakukan pada populasi driver ojek online berjenis kelamin wanita, sehingga penelitian ini penting untuk mengetahui bagaimana hubungan anatara aggressive driving dan stress kerja dan diharapkan akan menekan dampak negatif dari kedua variabel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara aggressive driving dan stress kerja pada driver ojek online wanita di kota Surabaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jenis kuantitatif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel [21]. Variabel kontrol dalam penelitian ini yaitu aggressive driving sedangkan untuk variabel terikat yaitu stress kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah driver ojek online wanita yang beroprasi di wilayah Surabaya, berdasarkan data dari salah satu mitra yakni Go-Jek terdapat 675 driver aktif. Teknik pegumpulan sampel yang digunakan adalah simpel random sampling yaitu teknik pengambilan anggota sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang terdapat dalam populasi tersebut, teknik random sampling dapat dilakukan apabila populasi homogen. Sampel diambil sebanyak 100 responden pada driver ojek online berjenis kelamin wanita di Kota Surabaya. Menurut sugiyono [22] Jumlah sampel tersebut sudah cukup untuk mewakili driver ojek online wanita di kota Surabaya.
Dalam mengukur variabel stress kerja penelitian ini menggunakan skala stress kerja berdasarkan teori dari Beehr dan Newman dimana di dalamnya terdapat gejala-gejala stres kerja seperti gejala psikologis, gejala fisiologis dan gejala perilaku [13]. Skala ini diadopsi dari penelitian Widiatmoko [23]. Skala stres kerja terdiri dari 20 aitem yang memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0.915. Sedangkan pada pengukuran skala aggressive driving menggunakan adopsi skala aggressive driving dari penelitian yang dilkukan oleh Sari [24] yang terdiri dari 20 aitem yang memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0.874. Skala aggressive driving Ini berdasarkan teori dari dari James dan Nahl [16] yang mencakup tindakan disengaja yang dapat membahayakan pengguna jalan lain, melibatkan agresi fisik, verbal, atau gerak, serta menunjukkan emosi negatif. Perilaku agresif driving juga dapat tercermin dalam pengambilan risiko, ketidakpatuhan terhadap peraturan lalu lintas, dan tindakan seperti mengebut serta tidak memberi jalan pada orang lain. Dalam pengambilan data penelitian ini menggunakan model skala likert diamana sampel diminta untuk memilih (SS) sangat sesuai, (S) sesuai, (TS) tidak sesuai dan (STS) sangat tidak sesuai pada skala stress kerja sedangkan untuk skala aggressive driving juga menggunakan skala likert namun dengan pilihan jawaban (SS) sangat sering, (S) sering, (KD) kadang kadang dan (TP) tidak pernah. Kedua instrumen tersebut disebarkan kepada sampel menggunakan bantuan google form dengan pertimbangan efisiensi dan kemudahan akses bagi para driver ojek online selaku sampel penelitian.
Berdasarkan hasil uji coba alat ukur yang dilakukan pada 100 sampel diketahui pada skala stress kerja dihasilkan nilai Chronbach Alpha sebesar R= 0,920 dimana nilai signifikansi >0,70 yang berarti skala stress kerja reliabel. Sedangkan pada skala aggressive driving dihasilkan nilai Chronbach Alpha sebesar R=0,887 dimana nilai signifikansi > 0,07 yang berarti skala aggressive driving reliabel. Sedangkan pada uji Validitas pada kedua alat ukur yang dipakai peneliti, hasil secara keseluruhan pada alat ukur tersebut didapatkan nilai sebesar <0,001 yakni bahwa pada validitas kedua alat ukur tersebut dianggap valid, yang dimana p-value <0,05 (Alpha 5%).
Analisis data yang dilakukan untuk menguji hipotesis yang nantinya akan digunakan untuk penarikan kesimpulan menggunakan analisis korelasi untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar dua variabel. Teknik analisis yang digunakan adalah Korelasi Pearson’s dan regresi tunggal dengan bantuan aplikasi JASP versi 0.18.1.0, dengan pertimbangan korelasi Pearson’s dapat menguji data interval untuk dapat menguji seberapa erat hubungan antara dua variabel yang dengan syarat data sudah terdistribusi secara normal [22]. Sedangkan uji regresi digunakan untuk menghitung adanya kemampuan variabel aggressive driving untuk memprediksi tingkat stress kerja. Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu melakukan uji asumsi klasik yaitu uji normalitas dan linearitas.
A. Hasil
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah driver ojek online wanita di kota Surabaya. Ditemukan sebanyak 100 driver dari berbagai mitra transportasi ojek online dengan rentang usia antara 21 hingga 50 tahun.
Tabel 1. Deskripsi Demografik Sampel
Tabel 1 menunjukan sebaran deskriptif statistik responden penelitian ini, dari 100 responden, usia 21-30 tahun sebanyak 32 orang, usia 31-40 tahun sebanyak 27 orang (27%), dan usia 41-50 tahun sebanyak 41 orang (41%). Berdasarkan status perkawinan, sebanyak 77 responden (77%) sudah menikah dan 23 responden (23%) masih lajang. Dari mitra ojek online di Surabaya, 48 responden (48%) berasal dari Go-Jek dan 52 responden (52%) dari Grab. Berdasarkan masa kerja, 20 responden (20%) sudah bekerja selama 1 tahun, 41 responden (41%) selama 2 tahun, 37 responden (37%) selama 3 tahun, dan 2 responden (2%) lebih dari 4 tahun.
Tabel 2. Statistik Deskriptif
Pada deskripsi variabel Aggressive driving (X), total nilai terendah yang diperoleh adalah 24 dan yang tertinggi adalah 67, dengan rata-rata total sebesar 41,12 dan standar deviasi sebesar 10,76. Sementara itu, untuk variabel Stress Kerja (Y), total nilai terendah yang diperoleh adalah 20.000 dan yang tertinggi adalah 61.000, dengan rata-rata total sebesar 33.870 dan standar deviasi sebesar 10.965.
Tabel 3. Kategorisasi Stress Kerja
Berdasarkan hasil analisis, data responden dikategorisasikan dalam empat kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, rendah dan sangat rendah. Pada variable stress kerja diketahui bahwa 20 responden yang termasuk tingkat kategori sangat tinggi (20%), 28 responden termasuk tingkat kategori tinggi (28%), 31 responden kategori rendah (31%), dan 21 responden termasuk dalam kategori sangat rendah (21%).
Tabel 4. Kategorisasi Aggressive Driving
Pada variable aggressive driving diketahui bahwa 19 responden yang termasuk tingkat kategori sangat tinggi (19%), 30 responden termasuk tingkat kategori tinggi (30%), 32 responden kategori rendah (32%), dan 19 responden termasuk dalam kategori sangat rendah (19%).
Hasil analisis uji normalitas menunjukkan bahwa data berdistribusi normal, yang ditandai dengan terbentuknya kurva normal melengkung membentuk lonceng terbalik seperti yang terlihat pada gambar 1. Berdasarkan hasil uji linieritas, diketahui bahwa data dari variabel Aggressive driving dan stress kerja linier. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 2.
Table 5. Uji Korelasi Pearson
Hasil uji hipotesis menggunakan uji korelasi Pearson’s menunjukan bahwa aggressive driving memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kriteria hubungan sangat kuat dengan Tingkat stress kerja dengan nilai R = 0943 dan nilai signifikansi p = <.001
Table 6. Uji Linear Reggression
Berdasarkan analisis data menggunakan linear regression diperoleh hasil R 0.943 dan R² 0.888 artinya ini merupakan sumbangan efektif variabel independent terhadap variabel dependen. Nilai varians dari stress kerja dapat diprediksi oleh aggressive driving sebanyak 88%.
B. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan aggressive driving dan stress kerja pada driver ojek online wanita di wilayah Kota Surabaya berdasarkan data yang diperoleh dari jumlah responden sebanyak 100 yang ditentukan dari teknik simple random sampling. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan korelasi pearson’s diketahui nilai R 0,943 dengan nilai P < 0.001 dan berdasarkan uji regresi linier diketahui nilai F= 779.9 dengan taraf signifikansi P < 0.001 yang menunjukan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak yang artinya terdapat hubungan positif yang signifikan anatara kedua variabel dan dapat diketahui bahwa tingginya tingkat aggressive driving dapat memprediksi tingginya tingkat stress kerja pada driver ojek oneline wanita. Hasil ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Pertiwi [2] yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara stress kerja dan aggressive driving pada pengemudi ojek online kota Surabaya.
Untuk mengetahui seberapa besar sumbangan efektif variabel independent terhadap variabel dependen dapat diketahui berdasarkan hasil yang menunjukan bahwa nilai R 0.943 dan R² 0.888 yang artinya varians dari stress kerja yang mampu diprediksi dari aggressive driving itu sebesar 88%. Berdasarkan analisis tersebut maka dapat menunjukkan bahwa ketika driver ojek online wanita memiliki tingkat aggressive driving yang tinggi, maka dapat diketahui pula memiliki tingkat stress kerja yang tinggi, begitu juga sebaliknya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa perilaku aggressive driving yang timbul akibat tekanan dan tuntutan pekerjaan, berpengaruh besar terhadap tingkat stress yang dialami driver ojek online wanita, hal yang sama juga terjadi pada stress kerja, tingkat stress kerja yang tinggi akan memperburuk perilaku aggressive driving yang akan mengganggu pekerjaan driver dan berpotensi merugikan pengguna jalan lain. Hasil penelitian ini melengkapi penelitian terdahulu oleh Pertiwi [2] yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara stress kerja dan aggressive driving dan memiliki pengaruh sebesar 27% . Berdasarkan penelitian ini maka dapat diketaui bahwa variabel aggressive driving juga memiliki hubungan dan memiliki pengaruh bagi variabel stres kerja dengan sumbangan varians sebesar 88%.
Berdasarkan data demografi penelitian ini ditemukan bahwa jumlah responden yang berstatus berkeluarga sebesar 77% lebih banyak dari responden yang berstatus lajang yang hanya sebanyak 23%, dari data tersebut maka dapat diketahui bahwa mayoritas responden adalah ibu rumah tangga yang juga memerankan peran ganda sebagai pencari pendapatan demi menghidupi keluarga. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Riskasari [25] faktor ini dapat memengaruhi stress kerja karena akan banyak permasalahan muncul ketika ibu rumah tangga yang mempunyai tanggung jawab besar di rumah juga harus bekerja untuk menambah penghasilannya, sehingga dapat menimbulkan tekanan dan beban kerja yang berlipat ganda.
Usia responden yang didapatkan dalam penelitian ini berada dalam rentang usia paling muda 21 tahun dan usia paling tua 50 Tahun. Menurut penelitian terdahulu tentang hubungan umur dan jenis kelamin pada stress kerja yang dilakukan oleh awalia [12] menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, individu menjadi lebih rentan terhadap stres kerja. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi fisik dan kognitif yang menyertai penuaan, yang dapat memengaruhi kinerja di tempat kerja. Pekerja yang lebih tua sering mengalami penurunan dalam daya ingat, kecepatan berpikir, dan kemampuan memecahkan masalah, serta penurunan kekuatan fisik dan ketahanan tubuh. Faktor-faktor ini secara signifikan meningkatkan risiko stres kerja, yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan individu dan produktivitas organisasi. Jumlah responden yang didapatkan dalam penelitian ini berjumlah 100 yang masing masing berusia 21-30 tahun sebanyak 32%, usia 31-40 sebanyak 27 %, dan yang terbanyak yaitu usia 41-50 sebanyak 41%.
Masa bekerja atau lama bekerja driver ojek online wanita yang didapatkan dalam penelitian ini dimulai dari 1 tahun sebanyak 22%, 2 Tahun sebanyak 41%, 3 tahun sebanyak 37%, dan lebih dari 4 tahun sebanyak 2%. Hasil penelitian sebelumnya oleh Fadillah [20] menunjukkan bahwa masa kerja mempengaruhi tingkat stres pada pengemudi ojek daring. Data menunjukkan pengemudi dengan masa kerja 0-12 bulan mengalami stres ringan sebesar 52,9%, pengemudi dengan masa kerja 13-24 bulan mengalami stres sedang sebesar 45,8%, dan pengemudi dengan masa kerja 25-36 bulan mengalami stres sedang sebesar 54,1%. Pengemudi dengan masa kerja lebih lama cenderung memiliki pemahaman dan keterampilan yang lebih baik dalam pekerjaannya, sehingga membantu mengurangi risiko stres karena mereka lebih berpengalaman dalam mengelola tantangan pekerjaan.
Pada variabel stress kerja diketahui hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kategori stress kerja dengan jumlah terbanyak adalah pada kategori rendah sebanyak 31% yang berarti kebanyakan driver ojek online wanita dapat melakukan pekerjaanya dengan normal tanpa adanya penyimpangan yang diakibatkan oleh gangguan fisik, psikologis, dan perilaku, hal yang sama juga berlaku untuk kategori sangat rendah sebanyak 21%. Walaupun demikian tingkat stress kerja sangat tinggi juga ditemukan sebanyak 20% dan tingkat stress kerja tinggi 28% yang berarti sebagian driver ojek online wanita memiliki gangguan yang perlu diperhatikan agar tidak berdampak negatif bagi pekerjaan mereka. Temuan ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Aliyah [10] yang menyatakan bahwa jumlah driver ojek online yang mengalami stress kerja lebih sedikit daripada driver ojek online yang tidak mengalami stress kerja.
Sedangkan berdasarkan kategorisasi pada variabel aggressive driving menunjukkan bahwa tingkat aggressive driving yang paling banyak adalah pada kategori rendah yaitu 32% sedangkan untuk kategori tinggi ada di tingkat 30%, sisanya adalah kategori sangat tinggi sebanyak 19% dan sangat rendah sebanyak 19%. Berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa persentase driver ojek online wanita yang memiliki perilaku aggressive driving dengan ketegorisasi rendah lebih besar daripada persentase driver ojek online wanita yang memiliki perilaku aggressive driving dengan kategorisasi tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Nugraha [26] yang menyatakan bahwa tingkat perilaku aggressive driving pada wanita tergolong rendah daripada laki laki, meskipun demikian perilaku aggressive driving masih ditemukan pada driver ojek online wanita.
Meskipun hasil penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara varabel aggressive driving dengan stress kerja namun dapat diketahui bahwa tingkat stress kerja dan aggressive driving pada driver ojek online wanita kota Surabaya cenderung rendah yang artinya jika driver ojek online memiliki tingkat stress yang rendah maka akan tidak terlihat pula perilaku aggressive driving pada driver tersebut. Hal ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Samara [27] yang menyatakan bahwa rendahnya tingkat stress kerja pada driver ojek online wanita di kota Kupang dipengaruhi oleh tingkat aggressive driving yang rendah.
Temuan bahwa tingkat stres kerja dan perilaku aggressive driving di kalangan pengemudi ojek online wanita di Surabaya cenderung rendah dapat dijelaskan oleh faktor-faktor tertentu yang meringankan stres dan perilaku agresif. Fleksibilitas dalam jadwal kerja yang ditawarkan oleh platform ojek online memungkinkan pengemudi untuk mengatur waktu mereka sendiri, mengurangi tekanan yang sering dikaitkan dengan pekerjaan dengan jam kerja yang tetap. Selain itu, adanya dukungan sosial dari pengemudi dan fitur-fitur dalam aplikasi yang memudahkan pekerjaan sehari-hari berkontribusi terhadap pengurangan stres. Penelitian oleh Samara [27] menunjukkan bahwa di kota Kupang, tingkat stres kerja yang rendah dikaitkan dengan rendahnya tingkat perilaku agresif mengemudi, dan temuan ini konsisten dengan hasil penelitian di Surabaya, yang menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang mendukung dan manajemen kerja yang fleksibel memainkan peran penting dalam mengurangi stres kerja dan perilaku agresif di jalan.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan yaitu jumlah subjek yang menjadi responden terbatas dan peneliti belum sepenuhnya mencari responden di seluruh wilayah Kota Surabaya. Fokus penelitian adalah pada perempuan pengemudi ojek online yang jumlahnya sangat sedikit di lapangan dan belum adanya komunitas perempuan pengemudi ojek online di wilayah tersebut juga menjadi kendala. Selain itu, keterbatasan waktu dan ruang penelitian menyebabkan kesulitan dalam pengumpulan data, karena banyak pengemudi ojek online wanita yang kesulitan dalam wawancara atau pengisian kuesioner karena kesibukannya dalam menerima pesanan. Lingkungan yang tidak kondusif, seperti area kedai kopi yang bising, seringkali menimbulkan miskomunikasi saat berinteraksi langsung atau penjelasan teknis pengisian kuesioner. Meskipun sampel yang diperoleh sebanyak 100 orang dengan teknik kuota sampling, namun seluruh sampel berasal dari Surabaya dan hanya berjenis kelamin perempuan. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan sampel dari berbagai kota dan berjenis kelamin laki-laki agar populasinya lebih heterogen. Penggunaan metode penelitian kualitatif juga disarankan untuk mendalami masalah stres kerja dan aggressive driving, sehingga mengurangi bias dan memperkaya hasil penelitian. Dengan demikian, diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat menambah jumlah responden secara keseluruhan dan mengupayakan suasana nyaman saat mengumpulkan data, sehingga memberikan gambaran yang lebih luas dan representatif terhadap fenomena yang diteliti.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis pada penelitian ini diterima. Diterimanya hipotesis ini dapa dilihat dari terdapatnya hubungan positif yang signifikan antara aggressive driving dengan stress kerja berdasarkan hasil uji korelasi Pearson’s dengan nilai R=0,943 dan dengan nilai p= <.001. . Hal ini juga menunjukan bahwa perilaku aggressive driving dapat memprediksi tingkat stress kerja yang dapat dilihat dari hasil uji Linear reggression dengan nilai R² 0.888 yang artinya tingginya stress kerja dapat dilihat dari tingginya aggressive driving sebesar 88%. Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian penelitian sebelumnya yang menyatakan terdapat hubungan signifikan antara variabel stress kerja dan aggressive driving.
dari penelitian maka dapat dirumuskan saran dan masukan yakni pada driver ojek online wanita agar selalu menjaga kesabaran dan mematuhi peraturan lalu lintas agar tidak terjadi kecelakaan yang berdampak negatif tidak hanya bagi driver ojek online namun juga dapat merugikan pengguna jalan lain, Selain itu diharapkan untuk driver ojek online wanita agar dapat melakukan manajemen stress dan melakukan gaya hidup sehat dengan istirahat yang teratur. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk dapat meneliti lebih banyak lagi faktor faktor yang berhubungan dengan stress kerja dan juga dapat meneliti pada jenis subjek yang berbeda sehingga dapat memberikan pengetahuan tentang faktor faktor apa saja yang berhubungan dengan stress kerja.
Ucapan terimakasih dan puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, atas segala berkat, rahmat, dan karunia-Nya yang telah memberikan penulis kemudahan dalam terselesainya penelitian ini dan ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada seluruh mitra driver ojek online wanita di kota Surabaya yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi responden pada penelitian ini, dan berkontribusi terhadap terselasaikanya penelitian ini.
Sundari, “Fenomena Driver Ojek Online Wanita Sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender: Ditinjau Dari Teori Talcott Parsons”.
F. A. Pertiwi, “Stress Kerja Dengan Aggressive Driving Pada Pengemudi Ojek Online di Surabaya,” Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Surabaya, 2020. [Daring]. Tersedia pada: http://repository.untag-sby.ac.id/4468/
S. A. Ul Haque, E. A. Ariyanto, R. A. Martin, M. Rizal, dan A. E. K. Sari, “The Socio-Economic Status On Surabaya Residents’ Resilience During The New Normal Period (A Review),” Sci. Int.(Lahore), vol. 33, no. 3, hlm. 187–190, 2021.
“Hasil Sensus Penduduk 2020 Kota Surabaya.” Badan Pusat Statistik Kota Surabaya, 21 Januari 2021.
M. Rosmaweni, “Analisis Faktor Risiko Stress Kerja Pada Pengemudi Ojek Online Wanita di Kota Palembang Tahun 202,” Univeritas Sriwijaya, Palembang, 2021.
I. Muhidin, “Pengaruh Stres Kerja, Motivasi Kerja dan Keselamatan Kerja Terhadap Kinerja Driver Ojek Online,” Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, 2021. [Daring]. Tersedia pada: https://eprints.ums.ac.id/94881/11/Naskah%20Publikasi-2.pdf
W. W. A. Putra, “Hubungan Beban Kerja dan Konflik Kerja Dengan Stress Kerja Pada Driver Ojek Online di Masa Pandemi Corona (COVID-19),” Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, 2021.
E. Siahaan, “Faktor Pemicu Stress Kerja dan Konflik Peran Ganda (Studi Kasus Pada Pekerja Wanita di Industri Pengolahan Karet):,” Talenta Conf. Ser. Local Wisdom Soc. Arts LWSA, vol. 1, no. 1, Art. no. 1, Okt 2018, doi: 10.32734/lwsa.v1i1.135.
Y. I. Mahendra, D. Setiawan, A. H. Fawwazir, D. Ratna, dan M. Ulyna, “Analisis pengaruh stress kerja terhadap ojek online di Kota Medan,” vol. 1, no. 4, 2022.
A. A. Aliyyah, N. W. Sitasari, dan G. R. Prihandini, “Gambaran Stres Kerja Pada Driver Gojek dan Grab di Masa Pandemi COVID-19 di Tangerang,” vol. 2, 2021.
D. S. Roeseno dan A. Sobirin, “Studi Fenomenologi Stres Kerja Driver Grab: Sebab, Respon dan Konsekuensi,” Selekta Manajemen: Jurnal Mahasiswa Bisnis & Manajemen, vol. 02, no. 04, hlm. 31–50, 2023.
M. J. Awalia, N. Medyati, dan Z. Giay, “Hubungan Umur Dan Jenis Kelamin Dengan Stress Kerja Pada Perawat Di Ruang Rawat Inap Rsud Kwaingga Kabupaten Keerom,” Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan, vol. 5, no. 2, 2021.
T. A. Beehr dan J. E. Newman, “Job Stress, Employee Health, and Organizational Effectiveness: A Facet Analysis, Model, and Literature Review,” Pers. Psychol., vol. 31, no. 4, hlm. 665–699, Des 1978, doi: 10.1111/j.1744-6570.1978.tb02118.x.
K. Khoirunnisa, L. Effendi, M. Fauziah, dan T. Srisantyorini, “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Stres Kerja Pada Pengendara Ojek Online Saat Terjadi Pandemi COVID-19 Di Kota Tangerang Selatan Tahun 2020,” Environ. Occup. Health Saf. J., vol. 1, no. 2, Art. no. 2, Apr 2021, doi: 10.24853/eohjs.1.2.217-232.
S. A. Wibowo dan A. Handayani, “Hubungan antara Dukungan Sosial dan Beban Kerja dengan Stress Kerja pada Mitra Pengemudi Ojek Online di Komunitas Gojek X,” Psisula Pros. Berk. Psikol., vol. 2, no. 0, Art. no. 0, Des 2020, doi: 10.30659/psisula.v2i0.13083.
J. James dan D. Nahl, Aggressive Driving is Emotionally Impaired Driving. Global Conference on Aggressive Driving. Hawaii: University of Hawaii, 2000.
F. P. Hasanah, “PERILAKU AGGRESSIVE DRIVING: APAKAH BERHUBUNGAN DENGAN THE BIG FIVE PERSONALITY? SKRIPSI,” Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru, 2022.
R. A. A. Safitri, “Pengaruh Antara Stress Kerja Dengan Kecendrungan Aggressive Driving Pengemudi Bus Harapan Jaya,” Universitas Islam Negri Sunan Ampel, Surabaya, 2023. Diakses: 30 April 2024. [Daring]. Tersedia pada: http://digilib.uinsa.ac.id/66702/4/Riyan%20Ajeng%20Ayu%20Safitri_J71216086%20OK.pdf
Y. R. S. Samara, K. Lidia, dan I. M. B. Setiawan, “HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN PERILAKU AGGRESSIVE DRIVING PADA PENGEMUDI OJEK ONLINE DI KOTA KUPANG,” 2022.
A. I. Fadillah, A. Fauzan, dan E. Ariyanto, “Hubungan Beban Kerja, Masa Kerja dan Usia Dengan Stress Kerja Pada Pengemudi Ojek Online di Kota Banjarbaru Tahun 2020,” 2020.
B. F. Farzin, I. Rusdiyani, dan S. Khoisah, “Hubungan Reward Orang Dengan Sikap Percaya Diri Anak (Penelitian Kuantitatif Korelasional Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Islam Tirtayasa Serang-Banten),” JPP PAUD UNTIRTA, vol. 5, no. 2, hlm. 91–90, 2018.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, vol. 19. Bandung: CV Alfabeta, 2013.
S. A. Widiatmoko, “Hubungan Kepribadian Hardiness (Hardiness Personality) dan Kebersyukuran terhadap Stres Kerja di Masa New Normal pada Pengemudi Ojek Online,” Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2022.
N. A. D. Sari, “Hubungan Kematangan Emosi Dengan Aggressive Driving Pada Siswa Kelas XII SMK Diponegoro Tumpag,” Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, 2020.
W. Riskasari, “Konflik Peran Ganda Wanita Berkarir,” 2016.
G. Nugraha, P. K. Handayani, dan R. W. Linsiya, “Gambaran Aggressive Driving Behavior Pada Ojek Online di Kabupaten Jember,” Universitas Muhammadiyah Jember, Jember, 2022.
Y. R. S. Samara, K. Lidia, dan I. M. B. Setiawan, “Hubungan Tingkat Stres Dengan Perilaku Aggressive Driving Pada Pengemudi Ojek Online di Kota Kupang,” Cendana Med. J., vol. 10, no. 1, Art. no. 1, Mei 2022, doi: 10.35508/cmj.v10i1.6811.