Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Self Confidence and Social Identity Relate to Peer Conformity Patterns

Kepercayaan Diri dan Identitas Sosial Berkaitan dengan Pola Konformitas Teman Sebaya
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Lisa Nur Aini (1), Widyastuti (2)

(1) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Dosen Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, , Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Adolescence is a transitional developmental stage characterized by significant social, emotional, and cognitive changes, where peer relationships become central in shaping behavioral patterns. Specific Background: Peer conformity represents behavioral and attitudinal adjustment to group norms, while self-confidence and social identity are psychological factors associated with adolescents’ ability to regulate social adaptation and group affiliation. Knowledge Gap: Empirical studies examining the simultaneous relationship between self-confidence, social identity, and peer conformity among junior high school students in Indonesian educational settings remain limited. Aims: This study aimed to analyze the relationship between self-confidence and social identity with peer conformity among students at SMP Negeri 2 Tanggulangin. Results: This quantitative correlational study involved 265 students selected using random sampling. Data were collected using validated Likert scales measuring self-confidence, social identity, and peer conformity, with reliability coefficients of 0.824, 0.799, and 0.906, respectively. Product Moment Pearson correlation and multiple correlation analysis revealed a significant relationship between self-confidence and social identity with peer conformity, with a multiple correlation coefficient of R = 0.501 and significance level F Change < 0.05. The findings indicated a negative relationship, showing that higher levels of self-confidence and social identity were associated with lower peer conformity. Most participants were categorized in moderate levels across the three variables. Novelty: This study provides quantitative evidence demonstrating the combined relationship between self-confidence, social identity, and peer conformity among Indonesian junior high school adolescents. Implications: The findings highlight the importance of developing psychological and social identity competencies within school-based guidance programs to support adolescents’ adaptive social behavior.


Highlights:



  • Higher Psychological Assurance Corresponds With Reduced Adjustment to Group Behavioral Pressure.

  • Strong Group Affiliation Demonstrates an Inverse Association With Behavioral Adaptation to Peers.

  • Majority of Participants Demonstrated Moderate Levels Across Measured Psychosocial Variables.


Keywords: Peer Conformity, Self Confidence, Social Identity, Adolescents, Correlational Study

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Masa remaja adalah masa transisi atau masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan perkembangan kognitif, biologis, dan sosial [1]. Masa tersebut berlangsung dari usia 12 sampai 21 tahun. Masa ini dituntut untuk mencoba melakukan peranan sosial yang baru yang menuntut cara-cara bertingkah laku sosial tertentu. Fase remaja ini, perkembangan seseorang dianggap sebagai upaya mempelajari norma-norma kehidupan dan bermasyarakat untuk dapat beradaptasi dengan baik dalam kehidupannya. Tahapan awal pelaksanaan peranan dan tingkah laku pada remaja berpotensi terkendala dalam membentuk interaksi terhadap lingkungan. Terdapat beberapa karakteristik remaja dalam fase perkembangan sosial yang paling menonjol, antara lain munculnya perasaan tertarik pada lawan jenis, kemandirian bertingkah laku yang artinya remaja memilih dan menentukan sendiri dengan siapa dia akan berteman., kesenangan berkelompok [2].

Perubahan terbesar yang dialami remaja adalah perubahan dalam hubungan sosial mereka: mereka lebih suka bekerja sama dengan teman-temannya. Remaja cenderung mengikuti perilaku kelompok tanpa mempertimbangkan perasaan mereka sendiri. Tindakan yang ditunjukkan oleh individu akan bernilai lebih baik, sama baik, dan lebih buruk dibandingkan dengan perilaku kelompok [3]. Penelitian Condry dkk menemukan bahwa remaja cenderung lebih banyak menghabiskan waktu setiap minggunya dengan teman sebaya mereka dibandingkan dengan orang tua. Dalam penelitian Santrock, jika kelompok teman sebaya yang diikuti memiliki sikap dan perilaku yang dibenarkan secara moral, maka besar kemungkinan remaja tersebut memiliki pertumbuhan kreativitas dan daya nalar yang baik, peningkatan keterampilan sosial dan interaksi yang baik. Sebaliknya, jika suatu kelompok memperlihatkan sikap dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai moral, remaja lebih cenderung berperilaku tidak baik. Santrock berargumen bahwa teman sebaya memegang peran vital dalam perkembangan sosial dengan peran mereka sebagai sahabat, pemberi dukungan secara fisik, pemberi dukungan secara ego, peranan dalam pembanding sosial, dan pemberi kasih sayang [4]. Kondisi remaja yang condong menghabiskan waktu dengan teman sebaya mereka disebut sebagai konformitas teman sebaya.

Gambaran konformitas teman sebaya pada siswa remaja di kalangan SMP ini mencakup pengaruh dalam penampilan fisik untuk menyesuaikan penampilan fisik mereka dengan standar yang dianggap populer atau diterima oleh teman-teman sebaya. Ini termasuk gaya berpakaian, gaya rambut, dan penampilan umum, siswa SMP juga memilih teman sebaya yang memiliki minat, nilai, dan aktivitas yang sama. Konformitas teman sebaya terhadap kelompok sosial ini dapat mempengaruhi pemilihan teman, sehingga siswa merasa lebih diterima dan termasuk. Tingkat konformitas teman sebaya dapat bervariasi di antara siswa dan tergantung pada faktor-faktor individu, lingkungan, dan konteks sosial. Fenomena yang umum terjadi di kalangan remaja sering kali merasa terdapat tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang ditetapkan oleh kelompok teman sebaya mereka [5].

Selama masa remaja awal, yaitu antara usia 13 dan 17 tahun konformitas teman sebaya muncul yang ditunjukkan dengan menyamakan diri dengan teman sebaya dalam hal berpakaian, gaya hidup, perilaku, dan kegiatan lainnya. Menurut Sears dkk, konformitas teman sebaya adalah ketika seseorang menunjukkan perilaku tertentu karena setiap orang lain menampilkan perilaku tersebut. Baron dan Byrne menggambarkan konformitas teman sebaya sebagai jenis pengaruh sosial dimana seseorang mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Menurut Kiesler dalam Jalaluddin Rakhmat, konformitas teman sebaya adalah perubahan perilaku atau kepercayaan yang disebabkan oleh tekanan kelompok yang sebenarnya atau yang dibayangkan [6].

Selain itu, sikap konformitas teman sebaya remaja cenderung mengikuti pendapat, opini, kebiasaan, atau kegemaran kelompok lain. John W. Santrock, mengatakan bahwa remaja mendapatkan banyak informasi dan pengalaman penting diluar keluarga mereka melalui kelompok teman sebaya [6]. Dengan ini, tekanan untuk melakukan konformitas teman sebaya berdasarkan dari kenyataan yang mengatur bagaimana seharusnya seseorang bertingkah laku. Konformitas teman sebaya adalah keinginan seseorang untuk disukai dan diterima oleh orang lain, menurut Baron dan Byrne [7]. Konformitas teman sebaya merupakan dampak proses sosialisasi remaja dengan teman sebaya yang memunculkan kecenderungan remaja untuk menyamakan sifat dan sikap dengan kelompok yang diikutinya. Kecenderungan ini menunjukkan adanya upaya adaptasi berupa penyesuaian agar bisa diterima pada kelompok tertentu dalam variasi nilai negatif maupun positif [5].

Dari hasil penelitian Mudrikah Al Adawiyah ditemukan nilai hasil dari tingkat konformitas teman sebaya siswa siswi kelas VII dan VIII SMP Sunan Giri tergolong pada kategori tinggi dengan prosentase 74,11%, data ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk siswa-siswa SMP Sunan Giri melakukan konformitas terhadap teman sebayanya [8]. Hasil penelitian lain oleh Riska Ariana dan Siti Mahmudah menunjukkan signifikansi variabel kepercayaan diri dalam mempengaruhi kecenderungan konformitas teman sebaya dengan tingkat konformitas teman sebaya di SMKN 2 Kediri adalah sebesar 64,6% [9]. Indikator yang digunakan dalam skala konformitas teman sebaya pada penelitian ini yaitu penyesuaian diri, perhatian terhadap kelompok, kepercayaan, persamaan pendapat, penyimpangan pendapat kelompok, harapan orang lain dan tekanan karena hukuman atau ancaman.

Sears dkk, berargumen adanya konformitas teman sebaya akan menjukkan kekhasan pada beberapa aspek, yaitu: 1) Aspek Kekompakan yang dipengaruhi oleh penyesuaian diri yang akan menjadi lebih besar ketika individu memiliki keinginan kuat untuk menjadi bagian dari kelompok tertentu dan mendapatkan perhatian dari kelompok Semakin tinggi perhatian seseorang dalam kelompok, semakin tinggi tingkat rasa takutnya terhadap penolakan, dan semakin kecil kemungkinan untuk tidak menyetujui kelompok. 2) Aspek Kesepakatan dipengaruhi oleh kepercayaan, persamaan pendapat dan penyimpangan terhadap pendapat kelompok. 3) Aspek Ketaatan jika ketaatan tinggi, maka konformitas teman sebayanya juga tinggi. Ketaatan tersebut dapat dipengaruhi oleh meningkatnya perilaku yang diinginkan melalui ganjaran, ancaman atau hukuman karena akan menimbulkan ketaatan yang semakin besar. Semua ini adalah intensif pokok yang digunakan untuk mengubah perilaku seseorang. Seseorang akan rela memenuhi permintaan orang lain hanya karena mereka diharapkan untuk melakukannya. Ketaatan dapat dihasilkan dari harapan orang lain, bahkan jika harapan itu bersifat implisit. Salah satu cara untuk meningkatkan ketaatan adalah menempatkan orang dalam kondisi di mana segala sesuatu diatur sehingga ketidaktaatan hampir tidak mungkin.[10].

Berdasarkan telaah literatur ditemukan empat faktor yang berpengaruh terhadap konformitas teman sebaya, diantaranya: ketakutan atas celaan sosial dan demi memperoleh persetujuan, rasa takut terhadap penyimpangan, kekompakan kelompok bahwasanya bila orang merasa dekat dengan anggota kelompok yang lain akan semakin menyenangkan bagi mereka untuk mengakui dan semakin menyakitkan bila mereka mencela, dan ketertarikan pada penilaian bebas. Penelitian ini menekankan pada pentingnya kepercayaan diri dan identitas sosial [10].

Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang partisipan pada penelitian terdahulu pada siswa SMK/SMA maupun komunitas kelompok. Sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan partisipan dari siswa SMP remaja. Penelitian pendahulu banyak yang menggunakan variabel konformitas teman sebaya sebagai variabel bebasnya (X) penelitian sekarang menggunakan konformitas teman sebaya sebagai variabel terikat (Y). Tempat pengambilan data pada penelitian terdahulu di tingkat SMKN 2 Kediri dan penelitian sekarang pada tingkat SMP di Sidoarjo. Pada penelitian sekarang menggunakan 3 variabel yaitu kepercayaan diri dan identitas sosial sebagai variabel bebas dan konformitas teman sebaya sebagai variabel terikat [9].

Dalam hubungannya dengan konformitas teman sebaya, kepercayaan diri dikaitkan dengan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Oleh karena itu, remaja harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam hubungan sosial yang lebih luas, salah satunya harus memiliki kepercayaan diri yang kuat [11]. Kepercayaan diri adalah komponen kepribadian yang mendorong siswa untuk berhasil dalam belajar dalam interaksi sosialnya. Kecenderungan remaja untuk bertindak berdasarkan preferensi kelompok menunjukkan adanya permasalahan kepercayaan diri yang dihadapi [12].

Menurut Lauster, kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian karena keyakinan akan kemampuan diri untuk tidak terpengaruh oleh orang lain dan mampu bertindak sesuai dengan keinginan sendiri, ceria, optimis, cukup toleran, dan bertanggung jawab [13]. Kepercayaan diri mempengaruhi tingkat konformitas teman sebaya jika tidak memiliki rasa kepercayaan dalam diri yang berpontensi menghasilkan tingkat konformitas teman sebaya yang lebih tinggi. Kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang atas kemampuan dirinya untuk berperilaku dengan kualitas dan target tertentu untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Menurut Bandura dan Lauster, beberapa ciri adanya kepercayaan diri dalam diri suatu individu adalah kemandirian, sikap yang tidak egois, memiliki toleransi, memiliki ambisi, bersikap optimis, tidak pemalu, memiliki keyakinan atas pendapatnya secara tidak berlebihan [14]. Terdapat beberapa aspek-aspek kepercayaan diri dimulai dari memiliki rasa aman, memiliki keyakinan atas kemampuan diri, berupa sikap positif tentang diri, pengertian atas konsekuensi yang akan dihadapi dalam setiap tindakan yang diambil, bersikap lebih toleran, bertanggung jawab atas konsekuensi yang dihadapi, mandiri dalam mengambil keputusan, selalu bersikap positif yang memandang segala hal baik tentang diri, harapan maupun kemampuan, memiliki sikap rasional dalam memandang suatu permasalahan maupun suatu hal serta kejadian melalui pemikiran yang dapat diterima oleh akal sesuai dengan kenyataan. Aspek-aspek tersebut akan menunjukkan indikator-indikator perilaku yang muncul dari siswa yang menunjukkan bahwa siswa memiliki rasa percaya diri [10].

Faktor lain yang ditemukan mempengaruhi konformitas teman sebaya adalah identitas sosial. Terdapat korelasi positif antara kepercayaan diri dan identitas sosial. Siswa dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi cenderung memiliki identitas sosial yang lebih kuat dan jelas. Baron & Byrne, identitas sosial adalah sebuah konsep dan karakteristik unik yang dimiliki seseorang dari segi nama, karakteristik, dan sebagainya yang membedakan dari orang lain [15]. Baron dan Byrne mengartikan identitas sosial sebagai suatu persepsi sosial yang ingin dimunculkan seseorang dari orang lain sebagai atribut sosial, misalnya saja gender dan ras [16]. Teori identitas sosial yang dikemukakan Hogg, berbunyi sebuah pengetahuan seseorang, bahwa mereka termasuk dalam kelompok sosial. Barker, identitas sosial adalah persamaan dan perbedaan, soal personal dan sosial, soal apa yang dimiliki secara bersama-sama dengan beberapa orang dan apa yang membedakannya dengan orang lain [17]. Taifel mengklasifikasikan identitas sosial sebagai bagian konsep yang dikembangkan oleh pengetahuan keanggotaan dalam kelompok sosial yang mengutamakan signifikansi secara nilai dan emosional. Seorang anggota kelompok akan memahami dan mengetahui identitas sosial yang dibawakan kelompoknya dan menyesuaikan diri dengan identitas tersebut sehingga menciptakan ikatan emosi terhadap kelompok [18].

Menurut Tajfel perkembangan dalam teori identitas sosial terbagi menjadi tiga komponen : 1) Komponen kognitif (self categorization) kesadaran kognitif tentang keanggotaan kelompok seseorang mengkategorisasikan dirinya dengan kelompok tertentu, yang menentukan kecenderungan mereka untuk berperilaku sesuai dengan keanggotaan kelompok mereka. 2) Komponen evaluasi (group self esteem) menunjukkan persepsi positif atau negatif seseorang terhadap anggota kelompoknya. Komponen evaluasi ini menekankan persepsi yang dimiliki seseorang terhadap anggota kelompoknya. 3) Komponen Emosional (affective commitment) condong terhadap besarnya perasaan emosional yang dibentuk seseorang terhadap kelompoknya [19]. Komitmen afektif akan berdampak signifikan secara positif terhadap kelompok yang dievaluasi karena berfokus pada kontribusi terhadap identitas sosial yang positif [20].

Hasil dari penelitian terdahulu dengan judul “Hubungan Antara Identitas Sosial dengan Konformitas Pada Klub Motor Ford Supermoto Squad” menghasilkan nilai koefisien korelasi (r) = 0,344 serta nilai signifikansi 0.000 (p<0,05), yang menunjukkan keberadaan korelasi positif yang signifikan antara konformitas dan identitas sosial di klub motor Fort Supermoto dengan asumsi bahwa peningkatan perilaku konformitas yang dilakukan klub motor akan diikuti dengan peningkatan identitas sosial, begitu pula ketika terajadi penurunan perilaku konformitas maka akan berdampak pada penurunan identitas sosial [16].

Gambaran pengaruh identitas sosial terhadap konformitas teman sebaya menunjukkan bahwa teman sebaya memainkan peran penting dalam pembentukan identitas remaja. Konformitas terhadap teman sebaya dapat memberikan ruang bagi remaja untuk merasa diterima di lingkungan sosial, tetapi juga dapat mengurangi kemampuan mereka untuk membuat identitas diri mereka sendiri. Dukungan sosial teman sebaya juga berpengaruh terhadap identitas diri remaja, dengan cara memberikan informasi dan perbandingan tentang dunia diluar keluarga [21]. Identitas sosial seseorang dibentuk oleh kelompok sosialnya. Dengan demikian, identitas sosial dapat mempengaruhi konformitas teman sebaya menunjukkan keselarasan pernyataan dalam penelitian Utami dan Silalahi yang menunjukkan keberadaan hubungan yang kritis antara kepribadian identitas sosial dan konformitas teman sebaya. Semakin tinggi identitas sosial maka semakin tinggi juga konformitas teman sebaya yang akan terjadi demikian pula sebaliknya semakin rendah identitas sosial maka akan semakin rendah konformitas teman sebaya yang terjadi [17].

Berdasarkan penjelasan mengenai kepercayaan diri dan identitas sosial terlihat bahwa dua variabel tersebut dibutuhkan oleh siswa pada tingkat SMP. Terdapat hubungan negatif antara kepercayaan diri individu dan tingkat konformitas teman sebaya. Hal ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi cenderung lebih mampu menentukan pilihannya sendiri dan kurang dipengaruhi oleh tekanan atau konformitas dari teman sebaya. Kepercayaan diri dan konformitas teman sebaya diatur oleh identitas sosial. Lebih spesifik, individu dengan identitas sosial yang kuat dalam kelompok tertentu mungkin cenderung lebih mematuhi terhadap norma-norma kelompok tersebut, terlepas dari tingkat kepercayaan diri individu tersebut. Interaksi antara identitas sosial dan kepercayaan diri memengaruhi konformitas teman sebaya. Individu dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan identitas sosial yang kuat dalam kelompok tertentu cenderung menunjukkan tingkat konformitas yang lebih rendah dibandingkan dengan individu dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah dan identitas sosial yang kuat. Hal ini diharapkan mampu untuk membuat konformitas teman sebaya terkendali dan terkontrol.

Dari penjelasan latar belakang tersebut mengenai kepercayaan diri dan identitas sosial terlihat bahwa dua variabel tersebut dibutuhkan oleh siswa SMP. Hal ini yang menyebabkan peneliti tertarik untuk mengambil penelitian dengan judul hubungan antara kepercayaan diri dan identitas sosial dengan konformitas teman sebaya pada siswa SMP Negeri 2 Tanggulangin. SMPN 2 Tanggulangin dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki beberapa kepentingan. Pertama, SMPN 2 Tanggulangin memiliki populasi yang relatif besar dan homogen, yang memungkinkan penelitian untuk menjangkau lebih banyak siswa dan meningkatkan reliabilitas hasil. Kedua, SMPN 2 Tanggulangin memiliki variasi dalam tingkat kepercayaan diri dan konformitas teman sebaya siswa, yang memungkinkan penelitian untuk menemukan variasi dan pola yang lebih jelas dalam hubungan antara kepercayaan diri dan konformitas teman sebaya dengan perilaku siswa. Ketiga, SMPN 2 Tanggulangin memiliki sumber daya dan fasilitas yang memadai untuk penelitian, seperti guru bimbingan dan konseling yang dapat membantu dalam pengumpulan data dan analisis hasil. Dengan demikian, SMPN 2 Tanggulangin dipilih sebagai lokasi penelitian untuk memperoleh hasil yang lebih akurat dan reliabel dalam meneliti hubungan antara kepercayaan diri dan identitas sosial dengan konformitas teman sebaya pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan konformitas teman sebaya. Hubungan antara identitas sosial dengan konformitas teman sebaya yang dilakukan pada siswa SMPN 2 Tanggulangin, Sidoarjo.

Metode

Jenis Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode korelasional. Menurut Arikunto, penelitian korelasional (Correlational Studies) merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua atau beberapa variabel [22]. Variabel yang dilibatkan pada penelitian ini adalah variabel konformitas teman sebaya sebagai variabel Y dengan variabel kepercayaan diri sebagai variabel X1 dan variabel identitas sosial sebagai variabel X2.

Populasi pada penelitian ini yaitu remaja yang berada dalam usia yang memenuhi kriteria tingkat SMP yaitu 13-16 tahun. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu sekolah menengah pertama SMPN 2 Tanggulangin, Sidoarjo sebanyak 658 siswa. Jumlah sampel penelitian didasarkan pada tabel Isaac dan Michael dengan taraf kesalahan 5% yaitu sebanyak 227 siswa. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan ini adalah teknik random sampling. Pengambilan sampel anggota dilakukan secara keseluruhan populasi yang ada dalam populasi tersebut.

Pengukuran konformitas teman sebaya dilakukan menggunakan skala konformitas teman sebaya hasil adopsi pada penelitian Nurhoufa Sofiatun untuk mengukur variabel konformitas teman sebaya disusun berdasarkan aspek-aspek konformitas teman sebaya dari teori Sears dkk aspek-aspek skala konformitas teman sebaya: aspek kekompakan (penyesuaian diri dan perhatian terhadap kelompok), aspek kesepakatan (kepercayaan, persamaan pendapat, penyimpangan terhadap pendapat kelompok), aspek ketaatan (tekanan karena ancaman atau hukuman dan harapan orang lain). Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada Skala Konformitas Teman Sebaya diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0.906. Tingginya skor yang diperoleh menunjukkan tingginya tingkat konformitas teman sebaya, berlaku sebaliknya bahwa semakin rendah skor yang diperoleh akan menunjukkan rendahnya tingkat konformitas teman sebaya. Skala ini menggunakan empat pilihan jawaban yakni, Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS) [23].

Untuk mengukur kepercayaan diri diadopsi dari penelitian Suhaibah Ritonga dan disusun berdasarkan aspek-aspek kepercayaan diri dari teori Lauster yaitu: memiliki rasa aman, yakin pada kemampuan diri sendiri, tidak mementingkan diri sendiri dan toleran, bertanggung jawab, mandiri, optimis. Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada Skala Kepercayaan Diri diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0.824. Skala kepercayaan diri menunjukkan semakin tinggi skor total yang d`124icapai subjek berarti taraf kepercayaan dirinya semakin tinggi, sebaliknya semakin rendah skor totalnya maka semakin rendah pula kepercayaan dirinya. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert dengan modifikasi empat pilihan jawaban yakni, Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS) [24].

Pengukuran identitas sosial menggunakan Skala Identitas Sosial yang diadopsi dari penelitian Maryelin Supira yang disusun berdasarkan aspek dari peneliti Tajfel yaitu cognitive component (self categorization), evaluative component (group self esteem), dan emotional component (affective commitment). Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada Skala Identitas Sosial diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0.799 [20]. Semakin tinggi skor identitas sosial maka memiliki identitas sosial yang tinggi juga. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert dengan modifikasi empat pilihan jawaban yakni, Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS).

Uji coba alat ukur pada 100 siswa di SMPN 2 Tanggulangin pada kelas 7 dan 8 sebelum penelitian dilakukan untuk mengetahui tingkatan validitas dan reliabilitas alat ukur yang akan digunakan. Hasil uji reliabilitas yang diperoleh dari skala konformitas teman sebaya yang berjumlah 20 aitem mendapatkan nilai reliabilitas sebesar 0.705, yang berarti reliabel. Hasil uji reliabilitas skslaa kepercayaan diri dengan nilai 0.858 dengan jumlah aitem sebanyak 33 aitem yang berarti hasilnya reliabel, sedangkan skala identitas sosial memiliki nilai reliabilitas sebesar 0.843 dengan sebanyak 16 aitem. Dari hasil uji coba alat ukur yang telah dilakukan semua skala memiliki hasil reliabel jika nilai sebuah data menunjukkan nilai Cronbach.alpha >0.6 maka instrument tersebut dikatakan reliabel.

Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson yang ditujukan untuk mengukur keeratan hubungan secara linier antara variabel bebas (X) kepercayaan diri dan identitas sosial (X2) dengan variabel terikat (Y) konformitas teman sebaya yang mempunyai distribusi data normal. Teknik analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis deskriptif statistik dengan uji hipotesis menggunakan uji korelasi Product Moment untuk uji korelasi sederhana dan perhitungan ANOVA untuk korelasi ganda yang dihitung dengan bantuan program SPSS 26 for Windows.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Hasil kuesioner didapatkan dari 265 remaja di SMPN 2 Tanggulangin. Penelitian ini terdapat dua variabel bebas yaitu kepercayaan diri dan identitas sosial serta memiliki satu variabel terikat yaitu konformitas teman sebaya. Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu digunakan teknik analisis data korelasi berganda, dengan prasyarat yang harus dipenuhi yaitu sampel diambil dengan menggunakan teknik random sampling, distribusi data harus normal (uji normalitas), data harus linier (uji linieritas), dan dilakukannya uji multikolinieritas.

Menurut Sugiyono, “uji normalitas digunakan untuk mengkaji kenormalan variabel yang diteliti apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak [25]. Menurut Sugiyono data dikatakan berdistribusi normal ketika nilai Sig.>0.05 dan tidak berdistribusi normal ketika nilai Sig.<0.05.

Table 1. Hasil Uji Normalitas

Pada tabel 1 dilakukan uji normalitas menggunakan teknik One Sample Kolmogorov-Smirnov Test yang menyatakan bahwa data berdistribusi normal apabila memiliki nilai signifikansi > 0,05. Pada tabel 1 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi Asymp.Sig (2-tailed) sebesar 0.075 > 0,05. Hasil ini dapat diasumsikan bahwa residu yang dihasilkan sudah memenuhi asumsi normalitas.

Table 2. Hasil Uji Linearitas Variabel Kepercayaan Diri Dengan Konformitas Teman Sebaya

Pada hasil tabel 2 deviation from liniearity pada variabel kepercayaan diri (X1) dengan konformitas teman sebaya (Y) diperoleh hasil 0.839. Sedangkan dari variabel identitas sosial (X2) dengan konformitas teman sebaya (Y) diperoleh hasil 0.06. Uji linieritas dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan linier atau menunjuk pada satu garis sejajar diantara variabel tergantung dan variabel bebas. Menurut Sugiyono, uji linieritas digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y) apakah linier atau tidak. Jika nilai sig > 0.05, maka hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen adalah linier [22]. Artinya data penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara variabel kepercayaan diri dan identitas sosial dengan konformitas teman sebaya.

Table 3. Hasil Uji Multikolinearitas

Menurut Ghozali, uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Adanya multikolinearitas dapat dilihat dari variance inflation factor (VIF) dan tolerance value. Jika nilai VIF ≤ 10 dan nilai Tolerance ≥ 0.1 maka dinyatakan tidak terjadi multikolinearitas dalam model korelasi [26]. Uji multikolinearitas pada tabel 3 output “Coefficients” pada bagian “Collinearity Statistics” diketahui nilai tolerance untuk variabel Kepercayaan Diri (X1) dan Identitas Sosial (X2) adalah 0.953 > 0.10. sementara nilai VIF untuk variabel Kepercayaan Diri (X1) dan Identitas Sosial (X2) adalah 1.05 < 10.00. Mengacu pada dasar pengambilan keputusan dalam uji multikolinearitas, disimpulkan bahwa tidak terdapat indikasi multikolinearitas pada kedua variabel.

Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dilaksanakan melalui korelasi berganda untuk menemukan hubungan antara dua variabel atau bahkan lebih, dan kekuatan hubungan tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis korelasi product moment antara kepercayaan diri (X1) dengan konformitas teman sebaya (Y). dan analisis korelasi product moment antara antara identitas sosial (X2) dengan konformitas teman sebaya (Y). Analisis korelasi berganda (R) digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen dengan variabel dependen (Y) secara bersama-sama. Pada penelitian ini, peneliti akan mencari hubungan kepercayaan diri (X1) dan identitas sosial (X2) secara bersama-sama dengan konformitas teman sebaya (Y) dengan menggunakan SPSS 26.

Table 4. Hasil Uji Korelasi Berganda

Pada tabel 4 model summary diatas terlihat koefisien korelasi berganda antara kepercayaan diri dan identitas sosial dengan konformitas teman sebaya memperoleh nilai R (koefisien korelasi) sebesar 0.501 yang signifikan pada level 0.000. Menurut Sugiyono jangkauan nilai yang dijadikan pedoman interpretasi koefisien korelasi adalah 0.00-0.199 untuk sangat rendah, 0.20-0.399 untuk rendah, 0.40-0,599 untuk sedang, 0.60-0.799 untuk kuat dan 0.80-1.000 untuk sangat kuat [27]. JBerdasarkan data diatas, ditemukan adanya hubungan yang sedang antara kepercayaan diri dan identitas sosial dengan konformitas teman sebaya, serta pada tabel 4 menunjukkan nilai R Square sebesar 0.251, artinya bahwa sebesar 25.1% variabel kepercayaan diri dan identitas sosial mempengaruhi konformitas teman sebaya.

Table 5. Kategorisasi Variabel

Hasil dari kategorisasi pada tabel 5menunjukkan bahwa pada variabel konformitas teman sebaya terdapat 22 subjek dengan konformitas teman sebaya rendah, 194 subjek dengan konformitas sedang, dan 49 subjek dengan konformitas tinggi. Pada variabel kepercayaan diri, 26 subjek termasuk dalam kategori rendah, 200 subjek dalam kategori sedang, dan 39 subjek dalam kategori tinggi. Pada variabel identitas sosial terdapat 24 subjek termasuk dalam kategori rendah, 195 subjek dalam kategori sedang, dan 49 subjek dalam kategori tinggi.

Tabel 5 menunjukkan bahwa variabel konformitas teman sebaya memiliki persentase terbesar sebanyak 73% dalam kategorisasi sedang dengan subjek sebanyak 194 siswa dan siswa, untuk variabel kepercayaan diri dengan prosentase tertinggi yaitu 75% dengan total subjek sebanyak 200 dengan kategorisasi sedang, dan variabel identitas sosial diperoleh hasil kategorisasi sedang 74% dengan jumlah subjek 195 siswa dan siswa.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian diatas diperoleh populasi sebanyak 265 siswa SMPN 2 Tanggulangin. Hasil penelitian ini menggunakan bantuan software SPSS 26 menunjukkan hubungan dari ketiga variabel. Pada variabel kepercayaan diri (X1) dan identitas sosial (X2) dengan variabel konformitas teman sebaya (Y) terdapat hubungan negatif yang signifikan. Hal ini dikarenakan kepercayaan diri dan identitas sosial memiliki keterikatan dalam hubungan konformitas teman sebaya. Untuk itu remaja dituntut memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri untuk hubungan sosial yang lebih luas. Hasil analisis data menunjukkan bahwa hubungan variabel kepercayaan diri dan identitas sosial dengan konformitas teman sebaya memiliki koefisiensi korelasi (R) sebesar 0.501 Nilai ini menunjukkan bahwa adanya arah hubungan yang negatif. Dengan demikian, maka hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara kepercayaan diri dan identitas sosial dengan konformitas teman sebaya pada siswa SMPN 2 Tanggulangin, Sidoarjo dapat diterima. Hipotesis kepercayaan diri berpengaruh negatif terhadap konformitas teman sebaya. Identitas sosial berpengaruh negatif terhadap konformitas teman sebaya. Kepercayaan diri dan identitas sosial secara simultan berpengaruh negatif terhadap konformitas teman sebaya.

Table 6. Data Demografis Subjek

Pada tabel 6 didapatkan hasil responden didapatkan sebanyak 265 siswa. Dari jumlah tersebut, deskripsi responden berdasarkan kelamin menunjukkan bahwa responden terbaanyak adalah laki-laki, yaitu sebanyak 135 orang dengan persentas 51%. Sementara itu, responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 130 dengan persentase 49%. Pada rentang berdasarkan kelas diperoleh bahwa kelas 8 lebih banyak dengan frekuensi 148 dengan persentase 56%. Dengan demikian, mayoritas responden survei ini adalah siswa laki-laki dan kelas 8.

Dalam penelitian ini dengan hasil kategorisasi yang diperoleh dari variabel konformitas teman sebaya menunjukkan bahwa 22 subjek memiliki konformitas rendah, 194 subjek memiliki konformitas sedang, dan 49 subjek memiliki konformitas tinggi. Konformitas teman sebaya yang rendah dapat berarti bahwa subjek tersebut tidak terlalu mempengaruhi perilaku mereka oleh teman sebaya, sedangkan konformitas tinggi dapat berarti bahwa subjek tersebut sangat mempengaruhi perilaku mereka oleh teman sebaya. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki konformitas sedang, yang berarti bahwa mereka memiliki tingkat adaptasi yang relatif stabil terhadap tekanan sosial dari teman sebaya. Dalam kategorisasi pada variabel kepercayaan diri menunjukkan bahwa 26 subjek memiliki kepercayaan diri rendah, 200 subjek memiliki kepercayaan diri sedang, dan 39 subjek memiliki kepercayaan diri tinggi. Kepercayaan diri yang rendah dapat berarti bahwa subjek tersebut memiliki self-doubt yang lebih tinggi dan cenderung untuk mengevaluasi diri mereka secara negatif, sedangkan kepercayaan diri yang tinggi dapat berarti bahwa subjek tersebut memiliki self-confidence yang lebih tinggi dan cenderung untuk mengevaluasi diri mereka secara positif. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki kepercayaan diri sedang, yang berarti bahwa mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang relatif stabil namun masih bisa terpengaruh oleh teman sebaya dalam beberapa situasi. Sedangkan hasil kategorisasi identitas sosial menunjukkan bahwa 24 subjek memiliki identitas sosial rendah, 195 subjek memiliki identitas sosial sedang, dan 49 subjek memiliki identitas sosial tinggi. Identitas sosial yang rendah dapat berarti bahwa subjek tersebut memiliki identitas yang kurang jelas dan kurang stabil, sedangkan identitas sosial yang tinggi dapat berarti bahwa subjek tersebut memiliki identitas yang jelas dan stabil. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki identitas sosial sedang, yang berarti bahwa mereka memiliki tingkat identitas yang relatif stabil dan mereka dapat menyesuaikan diri dalam beberapa aspek namun tetap mempertahankan beberapa keyakinan pribadi.

Dari hasil penelitian "Hubungan Kepercayaan Diri dengan Konformitas Pada Remaja" yang ditulis oleh Bimsi, Emma, dan Marina, analisis data menunjukkan adanya signifikansi dalam korelasi dengan r=0,344 antara variabel kepercayaan diri dan konformitas pada level 0,001. Nilai ini menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara kedua variabel dengan arah hubungan positif. [12]. Penelitian terdahulu dengan judul “Hubungan Antara Identitas Sosial dengan Konformitas Pada Klub Motor Ford Supermoto Squad” menggunakan analisis statistic dengan hasil koefisien korelasi (r) = 0,344 dan nilai signifikansi 0.000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara konformitas dengan identitas sosial pada Klub Fort Supermoto Squad, dengan kesimpulan peningkatan perilaku konformitas yang dilakukan klub motor akan meningkatkan identitas sosial pada klub motor dan berlaku sebaliknya adanya penurunan konformitas berpengaruh terhadap penurunan identitas sosial terhadap klub motor yang berdasarkan hasil uji analisis data menyatakan bahwa hipotesis dalam penelitian diterima [16].

Kepercayaan diri diartikan Lauster sebagai sesuatu didapatkan melalui pengalaman hidup. Kepercayaan diri termasuk ke dalam salah satu aspek kepribadian mempercayai kemampuan diri sendiri dengan tidak mudah terpengaruh oleh tindakan orang lain, serta mampu bertindak sesuai kehendak, gembira, sikap optimis, memilliki sikap yang toleran, dan bertanggung jawab. Tanpa adanya kepercayaan diri akan banyak menimbulkan masalah pada diri sendiri. Kepercayaan diri diperlukan baik bagi seseorang secara individual maupun kelompok [28] dan identitas sosial Tajfel & Turner menyatakan bahwa identitas sosial seseorang ditentukan dari kelompok mana ia bergabung. Sehingga seseorang akan tertarik untuk turut tergabung dalam kelompok yang dianggap menarik serta mampu menghasilkan keuntungan bagi mereka yang bergabung [18]. Konformitas teman sebaya dalam artian seseorang menampilkan bersikap dan bertingkah laku tertentu untuk menyesuaikan dengan budaya kelompok tertentu supaya dapat diterima dan sejalan dalam kelompok tersebut [29]

Perkembangan remaja dengan teman sebaya adalah bagian penting dari kehidupan remaja yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan mereka. Perkembangan sosial, emosional, dan kognitif remaja sangat dipengaruhi oleh teman sebaya mereka. Mereka memiliki kemampuan untuk memberikan dukungan sosial, membantu orang menemukan identitas mereka, dan menjadi sumber dukungan dan pemahaman. Perilaku, prinsip, dan perspektif remaja sering dipengaruhi oleh teman sebaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan diri dan identitas sosial memiliki korelasi dengan konformitas teman sebaya didasarkan pada kecenderungan seseorang untuk berperilaku sesuai dengan pandangan mereka terhadap diri mereka. Orang dengan tingkat kepercayaan diri rendah berusaha untuk mengkompensasi dengan berperilaku seperti teman sebaya mereka sebagai bentuk kamuflase. Zobua dan Nurdjaya [30] menyatakan konformitas pada remaja umumnya terjadi karena ketidakinginan untuk dipandang berbeda oleh teman sebaya. Fenomena ini menunjukkan pengaruh kuat teman sebaya terhadap remaja yang tidak dapat dipandang remeh. Satu sama lainnya, remaja memiliki ikatan hubungan yang kuat. Terutama pada kelompok teman sebaya yang mampu dijadikan wadah untuk menerapkan prinsip hidup bersama melalui kerja sama [8].

Penelitian ini dapat membuktikan bahwa adanya hubungan antara kepercayaan diri dan identitas sosial tergantung pada berbagai faktor. Identitas sosial merupakan aspek yang mempengaruhi konformitas, sehingga adanya identitas sosial pada seseorang akan berdampak pada individu yang tidak mudah dipengaruhi. Kepercayaan diri berkaitan dengan pengaruh yang dimunculkan pada identitas sosial sehingga individu tersebut tidak mudah terpengaruh atas pandangan negatif orang lain terhadapnya. Pengaruh kepercayaan diri terhadap identitas sosial dapat dilihat pada perilaku remaja, yang memiliki urgensi untuk disukai, dan diterima pada kelompok teman sebaya tujuan mereka. Remaja mengutamakan perspektif teman sebaya terhadap dirinya, dengan pandangan positif yang dapat mempengaruhi tingkat identitas sosial. Faktor yang mempengaruhi identitas sosial antara lain adalah kohesivitas kelompok, yang dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri. Pengaruh kepercayaan diri terhadap identitas sosial juga dapat dilihat pada tingkat kesepakatan, ketaatan, dan kompliansi yang ada dalam kelompok. Dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kepercayaan diri dan identitas sosial dapat berpengaruh pada tingkat konformitas teman sebaya, terutama jika individu memiliki kepercayaan diri yang positif dan identitas sosial yang positif.

Limitasi dalam penelitian ini terletak pada kurangnya jumlah lingkup subjek yang terbatas dan penelitian ini hanya terfokuskan pada satu sekolah. Bagi peneliti selanjutnya alangkah lebih baik bila memiliki beberapa instansi sekolah yang bisa dijadikan subjek untuk penelitian agar penelitian ini lebih memiliki gambaran dan cakupan yang lebih luas mengenai fenomena yang akan diteliti dari berbagai sekolah sebagai perbandingan untuk penelitian. Penelitian ini juga memiliki keterbatasan dalam heterogenitas dan homogenitas subjek penelitian dapat membatasi generalisasi hasil penelitian ke populasi yang lebih luas. Selain itu instrument atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian lainnya, peneliti selanjutnya bisa menggunakan instrument penelitian lain maupun metode pengukuran dapat mempengaruhi hasil penelitian karena masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Misalnya, metode pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala Likert bagi peneliti selanjutnya bisa menggunakan metode pengukuran yang dengan skala nominal maupun lainnya yang dapat memberikan hasil yang lebih akurat dalam mengukur tingkatan fenomena yang diteliti. Dalam penelitian yang akan datang, peneliti disarankan untuk mempertimbangkan penggunaan Online Survey Tools untuk pengisian online, peneliti dapat menggunakan alat ukur yang didapatkan dari tokoh lainnya dan mengintegrasikannya dengan platform survei online yang populer seperti Google Forms, SurveyMonkey, lain sebagainya. Hal ini dapat berpotensi menimbulkan bias dan bisa menggantinya dengan pengisian offline, peneliti dapat menggunakan metode paper test. Hal ini dapat membantu dalam pengumpulan data yang lebih detail dan dapat digunakan untuk responden yang tidak memiliki akses internet.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian siswa SMPN 2 Tanggulangin memiliki hubungan negatif yang signifikan antara kepercayaan diri, identitas sosial, dan konformitas teman sebaya. Hal tersebut berdasarkan pada nilai koefisien korelasi berganda antara kepercayaan diri dan identitas sosial dengan konformitas teman sebaya yang memperoleh nilai R (koefisien korelasi) sebesar 0.501. Berdasarkan keterangan menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sedang antara kepercayaan diri dan identitas sosial dengan konformitas teman sebaya. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis diterima, terkait adanya hubungan negatif yang signifikan, dengan tingginya tingkat kepercayaan diri dan identitas sosial maka akan semakin rendah tingkat konformitas teman sebaya. Begitu pula sebaliknya rendahnya tingkat kepercayaan diri dan identitas sosial yang dimiliki seseorang akan berdampak pada tingginya tingkat konformitas teman sebaya. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat konformitas, kepercayaan diri, dan identitas sosial yang sedang. Ini menunjukkan bahwa memiliki identitas sosial dan kepercayaan diri yang kuat untuk mengurangi pengaruh tekanan sosial dari teman sebaya. Identitas sosial dan kepercayaan diri yang kuat dapat membantu individu untuk memiliki pandangan yang lebih jelas tentang diri mereka sendiri dan nilai-nilai yang mereka anut, sehingga mereka dapat lebih mudah menolak tekanan sosial yang tidak sesuai dengan nilai-nilai mereka. Dengan demikian, penelitian ini menyarankan bahwa pendidikan yang fokus pada pengembangan identitas sosial dan kepercayaan diri dapat membantu siswa untuk menjadi lebih tahan tekanan sosial dan membuat keputusan yang lebih bijak dalam hidup mereka.

Penelitian ini diakui memiliki beberapa limitasi yang penting untuk dipertimbangkan dalam rangka peningkatan kualitas dan generalisasi hasil penelitian di masa mendatang. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif dan representatif, peneliti selanjutnya disarankan untuk melibatkan beberapa sekolah sebagai subjek penelitian. Hal ini akan membantu dalam membandingkan data dari berbagai sekolah dan memberikan cakupan yang lebih luas mengenai fenomena yang diteliti. Peneliti di masa mendatang harus mempertimbangkan pengambilan sampel yang lebih beragam dalam hal usia, latar belakang sosial ekonomi, dan lokasi geografis. Peneliti selanjutnya menggunakan kombinasi metode pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dan survei dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang fenomena yang diteliti. Pendekatan metodologi campuran ini dapat mengurangi bias dan meningkatkan keandalan serta validitas hasil penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kepercayaan diri, identitas sosial, dan konformitas teman sebaya di kalangan remaja. Penelitian ini memiliki kebaruan (novelty) yang dapat memberikan kontribusi signifikan pada literatur dan praktik di bidang psikologi sosial dan pendidikan. Banyak penelitian terdahulu telah mengkaji hubungan antara konformitas dengan kepercayaan diri atau identitas sosial secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan kedua faktor tersebut. Pendekatan ini memberikan perspektif yang lebih komprehensif tentang bagaimana faktor kepercayaan diri dan faktor identitas sosial secara bersama-sama mempengaruhi konformitas teman sebaya.

Ucapan Terima Kasih

Dengan penuh rasa syukur, peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi besar terhadap pelaksanaan dan penyelesaian penelitian ini. Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Sekolah dan guru di SMP Negeri 2 Tanggulangin, Sidoarjo yang telah memberikan izin dan dukungan penuh untuk pelaksanaan penelitian ini di lingkungan sekolah. Peneliti juga menghargai kerjasama yang diberikan dalam mengatur waktu dan tempat bagi kami untuk melakukan pengumpulan data. Partisipasi tersebut sangat berharga dan akan menjadi kontribusi yang sangat penting bagi terselesaikannya penelitian ini. Peneliti juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada setiap siswa dan siswa dari SMP Negeri 2 Tanggulangin, Sidoarjo yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Terima kasih kepada pihak Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan fasilitas dan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung penelitian ini. Dukungan dari universitas sangat penting dalam memastikan penelitian berjalan dengan lancar. Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat yang besar dan memberikan kontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pemahaman di bidang yang dipelajari.

References

J. R. Batubara, “Adolescent Development (Perkembangan Remaja),” Sari Pediatri, vol. 12, no. 1, hal. 21, 2016, doi: 10.14238/sp12.1.2010.21-9.

T. Burg, “Perkembangan Sosial Remaja,” hal. 104–121, 1997.

R. S. P. Fauziah, “Pertumbuhan Dan Perkembangan Peserta Didik Secara Sosial Students ’ Development On Social Aspect,” jurnal sosial humaniora, vol. 4, no. 2, hal. 101–107, 2013.

B. Mardi Saputro dan T. Noor Edwina Dewayani Soeharto, “Hubungan Antara Konformitas Terhadap Teman Sebaya Dengan Kecenderungan Kenakalan Pada Remaja,” Insight, vol. 10, no. 1, hal. 1–15, 2012.

S. Mardison, “Konformitas Teman Sebaya Sebagai Pembentuk Perilaku Individu,” Jurnal Al-Taujih, vol. 2, no. 1, hal. 78–90, 2016, doi: 10.15548/atj.v2i1.941.

M. M. Hati dan I. Setyawan, “Konformitas Teman Sebaya Dan Asertivitas Pada Siswa SMA Islam Hidayatullah Semarang,” Jurnal Empati, vol. 4, no. 4, hal. 191–196, 2015, doi: https://doi.org/10.14710/empati.2015.14318.

K. Martasari dan D. Arisandy, “Kohesivitas Teman Sebaya dalam Konformitas Pada Remaja Sekolah,” Jurnal Ilmiah Psyche, vol. 12, no. 1, hal. 01–10, 2018, doi: 10.33557/jpsyche.v12i1.583.

M. A. Adawiyah, “Hubungan antara konformitas teman sebaya dengan kenakalan remaja pada siswa-siswi Kelas VII dan VIII di SMP Sunan Giri Probolinggo,” hal. 134, 2016.

R. Ariana, “Pengaruh Kepercayaan Diri Terhadap Konformitas Teman Sebaya Pada Siswa Kelas XI Smk Negeri 2 Kediri,” Universitas slam Negeri Maulana Malik Ibrahim, 2018.

A Dyan Mardiana R, “Pengaruh Antara Kepercayaan Diri Dan Konfirmitas Teman Sebaya Terhadap Kemandirian Siswa Kelas VIII MTS Al-Yasini,” UIN Malang, 2017.

Z. Tanjung dan S. Amelia, “Menumbuhkan Kepercayaan Diri Siswa,” JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia), vol. 2, no. 2, hal. 2–6, 2017, doi: 10.29210/3003205000.

M. D. Mayara, B. H., Yuniarrahmah, E., & Mayangsari, “Hubungan Kepercayaan Diri Dengan Konformtas Pada Remaja,” jurnal ecopsy, vol. 3, 2016, doi: 10.20527/ecopsy.v3i2.2652.

E. Fitri, N. Zola, dan I. Ifdil, “Profil Kepercayaan Diri Remaja serta Faktor-Faktor yang Mempengaruhi,” JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia), vol. 4, no. 1, hal. 1–5, 2018, doi: 10.29210/02017182.

S. R. N. Hidayati dan S. I. Savira, “Hubungan Antara Konsep Diri dan Kepercayaan Diri Dengan Intensitas Penggunaan Media Sosial Sebagai Moderator Pada Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Surabaya,” Character: Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 8, no. 03, hal. 1–11, 2021.

K. R. A. Putri, “Hubungan Antara Identitas Sosial dan Konformitas dengan Perilaku Agresi pada Su-porter Sepakbola Persisam Putra Samarinda,” Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 1, no. 3, hal. 140–147, 2013, doi: 10.30872/psikoborneo.v1i3.3324.

Merdawati, “Hubungan Antara Identitas Sosial Dengan KOnformitas Pada Klub Motor Fort Supermoto Squad,” Universitas Islam Riau, 2021.

F. Utami dan B. Silalahi, “Hubungan Antara Identitas Sosial Dan Konformitas Pada Anggota Komunitas Virtual Kaskus Regional Depok,” Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur & Teknik Sipil), vol. 5, hal. 93–98, 2013.

E. J. Sari, “Pengaruh Brand Personality Terhadap Kepercayaan Merk Dan Daya Tarik Perusahaan Calon Pelamar Kerja Pada Shopee,” S1 thesis, UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA., no. 1979, hal. 1–23, 2021.

M. D. Wibisono dan M. Sasia, “Pengembangan Skala Identitas Sosial : Validitas, Dan Analisis Faktor Eksploratori,” Proyeksi, vol. 15, no. 1, hal. 58, 2020, doi: 10.30659/jp.15.1.58-67.

M. Supira, “Peranan Identitas Sosial Terhadap Kohesivitas Kelompok Pada Anggota Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA),” Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2020.

Y. A. Saputro dan R. Sugiarti, “Pengaruh Dukungan sosial teman sebaya dan Konsep Diri terhadap Penyesuaian Diri pada Siswa SMA Kelas X,” PHILANTHROPY: Journal of Psychology, vol. 5, no. 1, hal. 59, 2021, doi: 10.26623/philanthropy.v5i1.3270.

I. Oktaviyanti dan A. N. K. Rosyidah, “Korelasi Antara Hasil Tes Lisan Dengan Hasil Tes Tertulis Pada Mahasiswa Pgsd Unram,” Inteligensi : Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 2, no. 1, hal. 9–19, 2019, doi: 10.33366/ilg.v2i1.1514.

N. Sofiatun, “Hubungan Antara Konformitas Teman Sebaya Dengan Kenakalan Remaja Di SMPN 2 Bunut,” UIN SUSKA RIAU, 2021.

S. Ritonga, “Hubungan Kepercayaan Diri dan Komunikasi Interpersonal dengan Interaksi Sosial Siswa SMP Muhammadiyah 04 Medan,” Tesis: Program Pascasarjana Universitas Medan Area, hal. 1–117, 2017.

N. Shabrina, D. Darmadi, dan R. Sari, “Pengaruh Motivasi dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan CV. Muslim Galeri Indonesia,” Jurnal Madani: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Humaniora, vol. 3, no. 2, hal. 164–173, 2020, doi: 10.33753/madani.v3i2.108.

Ghozali, “Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Pelanggan Noach Cafe And Bistro,” Agora, vol. 7, no. 2, hal. 1–5, 2018.

D. Sugiyono, Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. 2010.

M. N. Ghufron dan R. R. Suminta, Teori-Teori Psikologi (Efikasi Diri), vol. 21, no. 2. AR-RUZZ MEDIA, 2018.

F. S. Yelvita, “Hubungan Konformitas Teman Sebaya Dengan Kenakalan Remaja Pada Siswa Madrasah Tsanawiyah Swasta Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya,” UIN Ar-Raniry, 2022.

D. R. Ayuningrum, “Pengaruh Konsep Diri Remaja Terhadap Konformitas Teman Sebaya Siswa Kelas Viii Di Smp Negeri 4 Ulujami Kabupaten Pemalang,” Universitas Negeri Semarang, 2019.