Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Self Concept Emotional Intelligence and Peer Conformity Among Junior High Students

The Relationship Between Self-Concept and Emotional Intelligence with Peer Conformity Among Students in Junior High School 2 Tanggulangin, Sidoarjo.
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Mirza Asyraqi Rahman (1), Widyastuti (2)

(1) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Dosen Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Adolescence is a developmental phase characterized by rapid social and emotional changes in which peer conformity frequently emerges as adolescents attempt to gain acceptance within social groups. Specific Background: Peer conformity among students is associated with internal psychological factors, including self-concept and emotional intelligence, which shape behavioral adaptation and social interaction. Knowledge Gap: Although prior studies have examined peer conformity, limited empirical evidence simultaneously analyzes the combined relationship of self-concept and emotional intelligence with peer conformity among junior high school students. Aims: This study aims to determine the relationship between self-concept and emotional intelligence with peer conformity among students at State Junior High School 2 Tanggulangin. Results: Using a quantitative correlational design with 265 students selected through stratified random sampling, data were collected using the Tennessee Self Concept Scale Second Edition Short Form, an emotional intelligence scale, and a peer conformity scale, all demonstrating acceptable reliability. Multiple correlation analysis revealed a positive and statistically significant relationship between self-concept and emotional intelligence with peer conformity (R = 0.447; significance = 0.000 < 0.05), with a contribution value of 20%. Novelty: This study provides integrated empirical evidence demonstrating the simultaneous association of self-concept and emotional intelligence with peer conformity among junior high school students using validated psychological instruments. Implications: The findings highlight the importance of developing psychological attributes related to self-perception and emotional regulation as considerations in student social behavior development and educational psychological interventions.


Highlights:



  • Psychological Attributes Jointly Show a Statistically Significant Association With Group Behavioral Alignment.

  • Internal Student Characteristics Collectively Account for 20% Variance in Social Adjustment Patterns.

  • Most Participants Demonstrate Moderate Levels Across Measured Psychosocial Dimensions.


Keywords: Peer Conformity, Self-Concept, Emotional Intelligence, Adolescents, Junior High Students

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Tahap remaja merupakan suatu masa transisi dalam rentang kehidupan manusia, yang dimana masa peralihan antara fase anak-anak dan fase dewasa. Fase remaja identik dengan pubertas, yang dimana pada masa ini terjadi perubahan fisik baik secara internal maupun eksternal. Masa remaja dibagi menjadi 3 yakni, fase remaja awal dengan usia 12 – 15 tahun, remaja madya atau pertengahan dengan usia 15 – 18 tahun, sedangkan untuk remaja akhir dengan kisaran usia 18 – 21 tahun [1]. Pada masa ini remaja berkembang kemampuannya untuk memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik dalam sifat-sifat pribadi, nilai-nilai, minat, maupun perasaan sehingga terdapat dorongan untuk bersosialisasi lebih akrab atau erat dengan lingkungan sosialnya. Masa remaja perlu memiliki sosial yang baik memberikan pengaruh yang besar bagi remaja dalam memandang, menilai, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, supaya dapat diterima oleh lingkungannya[2].

Terdapat beberapa karakteristik dari perkembangan sosial remaja yakni, memerlukan teman, lebih berperilaku merasa dirinya paling penting atau cinta diri sendiri yang berlebihan, berada pada kondisi kebingungan dan kesalahan, memiliki keinginan yang besar untuk mencoba hal baru yang belum diketahui oleh individu untuk mengeksplor atau menjelajah lingkungan[3]. Teman sebaya dapat menimbulkan berbagai dampak baik itu secara negatif maupun positif. Dampak negatif yang ditimbulkan antara lain sulit menerima individu yang tidak memiliki kesamaan, tertutup bagi individu lain dan individu tidak dapat mengatur waktu bermain dengan teman sampai lupa waktu menuntut ilmu. Adapun dampak positif yakni peningkatan softskill seperti kreativitas berkembang, dan memberi semangat remaja untuk rajin belajar menuntut ilmu hingga menyelesaikan tugas secara berkelompok [4]. Perkembangan emosi sangat dibutuhkan atau diperlukan oleh setiap orang dalam melakukan interaksi sosial. Sejak masa anak-anak kecerdasan emosional sudah dibutuhkan dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan sosial-emosional [5]. Selain itu terdapat hal penting yaitu, cara pandang remaja dalam memandang dirinya sendiri. Mengarahkan remaja untuk beradaptasi karena takut akan konsekuensi dari menunjukkan perilaku yang berbeda atau menyimpang. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang menyimpang dari norma kelompok seringkali tidak disukai, ditolak, diejek, dan dikeluarkan dari kelompok[6].

Fenomena konformitas teman sebaya sering terjadi dikalangan remaja, bahkan hampir semua remaja melakukan perilaku konformitas teman sebaya, karenanya remaja lebih sering meluangkan waktunya dengan teman-temannya dengan kehadiran remaja tersebut di suatu kelompok teman sebaya menuntut diri remaja untuk selalu berusaha mengikuti yang diharapkan oleh kelompok baik secara pola pikir maupun tindakan. Dengan demikian bahwa konformitas teman sebaya dapat mendorong individu atau remaja untuk berperilaku dan untuk mengidentifikasi diri remaja sejalan dengan keinginan kelompok secara positif dan secara negatif [7]. Remaja melakukan konformitas teman sebaya tidak hanya pada perilaku yang ditiru. Remaja yang mengalami kesulitan dalam pengambilan keputusan, namun remaja memiliki pertimbangan yang lebih mengacu pada teman sebayanya dari pada orang tuanya dan remaja yang secara sosial tidak mengikuti kelompok akan dikucilkan dengan cara ditolak, diabaikan, dan dikeluarkan dari kehidupan, merasa terluka, marah, sendirian dan tidak memiliki harga diri [8]. Hal ini menunjukkan bahwa betapa besar perubahan yang dialami oleh remaja dalam bersosialisasi. Remaja dapat berpengaruh terhadap perilaku konformitas teman sebaya, hal ini disebabkan karena pergaulan yang diikuti para remaja saat berada pada lingkungannya. Masa remaja merupakan masa remaja yang paling mendapatkan pengaruh dari teman sebaya.

Gambaran konformitas teman sebaya yang dilakukan remaja yakni menganggap bahwa apabila berpakaian dan memakai aksesoris yang sama dengan kelompoknya, maka akan mengalami timbulnya rasa percaya diri dan memiliki peluang besar diterima dalam kelompok. Seorang remaja yang tergabung dalam lingkaran pertemanan cenderung mengembangkan suatu tingkat komitmen yang saling dipahami di dalam kelompok tersebut. Dalam upaya untuk merasa lebih terhubung dan diterima oleh teman-temannya, mereka berupaya meniru perilaku dan norma-norma yang ada di dalam kelompok tersebut[9]. Konformitas teman sebaya terjadi pada fase awal remaja, khususnya antara usia 13 hingga 16 tahun, yang tercermin dalam kecenderungan untuk meniru teman sebaya dalam hal berpakaian, berpenampilan, perilaku, kegiatan, dan aspek lainnya. Sejumlah remaja berpendapat bahwa dengan mengenakan pakaian atau aksesori serupa yang disukai oleh kelompok acuan, maka mereka dapat meningkatkan rasa percaya diri dan peluang diterima oleh kelompok tersebut. Oleh karena itu, remaja lebih suka menghindari kemungkinan penolakan dari teman sebaya dengan mengadopsi sikap konformitas atau kesamaan dengan teman sebaya[10].

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Cintia Kusuma Dewi menunjukkan bahwa tingkat konformitas teman sebaya di SMA Negeri 1 Depok adalah tinggi dengan persentase sebesar 37,70% [11]. Hal ini dapat diartikan masih banyak siswa yang memiliki kecenderungan untuk berperilaku sama seperti teman sebayanya, mungkin karena tekanan kelompok atau hanya karena imajinasinya sendiri. Banyak siswa yang cenderung mengikuti gaya teman sebaya dalam berbicara, berpakaian, dan menggunakan gawai yang populer agar diterima di lingkungan teman sekelas. Pernyataan ini sesuai dengan indikator penyesuaian diri pada aspek kekompakkan dalam skala konformitas teman sebaya.

Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh peneliti menggunakan Google Formulir pada siswa kelas tujuh dan delapan di SMP Negeri 2 Tanggulangin, sebanyak 30 siswa telah memiliki kelompok dan diterima dengan baik oleh kelompoknya. 93,3% mereka cenderung mudah terpengaruh dan diatur oleh kelompoknya, jarang menolak ajakan kelompok dalam beraktivitas, serta sebanyak 96,6% siswa merasa nyaman dan menganggap bahwa kelompok itu penting. Hal ini menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya memiliki peran signifikan dalam membentuk perilaku dan pola pikir siswa. Dapat disimpulkan bahwa siswa SMP Negeri 2 Tanggulangin meunjukan ciri-ciri adanya konformitas teman sebaya.

Setiap remaja berusaha beradaptasi dengan lingkungannya supaya bisa menjalankan hidupnya. Cara yang paling mudah yaitu melakukan perilaku tepat hingga mendapat penerimaan sosial. Melakukan perilaku sesuai norma sosial dalam psikologi sosial juga disebut konformitas [12]. Konformitas teman sebaya sendiri menuju pada identifikasi dan peniruan orang lain, mengatasi konflik dengan berkelompok, dan umumnya untuk mengembangkan ide, nilai, dan aktivitas yang dapat diringkas sebagai karakteristik dan keinginan sekelompok anak muda yang hampir seumuran untuk patuh [7]. Lingkungan teman sebaya juga dapat mempengaruhi konformitas teman sebaya yang diikuti oleh siswa dalam kesehariannya. Hal ini terlihat pada realita saat ini, kebanyakan siswa lebih bergantung pada perilaku negatif teman sebayanya seperti mengabaikan saat guru menjelaskan pada saat pembelajaran, maraknya remaja yang mengikuti dengan kelompoknya, sebagai remaja yang senang menguping atau berbicara sendiri dengan teman sebelahnya daripada mendengarkan guru yang sedang menjelaskan di depan kelas.

Sears mendefinisikan bahwa konformitas teman sebaya merupakan suatu perilaku yang ditampilkan seseorang karena disebabkan orang lain juga menampilkan perilaku tersebut [13]. Baron dan Byrne mendefinisikan konformitas teman sebaya merupakan perubahan sikap dan perilaku yang dialami oleh individu yang sesuai dengan norma sosial dan merupakan bentuk pengaruh sosial pada seseorang [12]. Konformitas teman sebaya menurut Myers, menjelaskan konformitas diperoleh dari tekanan kelompok yang berdasarkan pandangan perilaku dan kepercayaan individu, sedangkan Santrock menjelaskan bahwa konformitas teman sebaya muncul karena adanya sikap atau perilaku individu yang meniru sikap dan perilaku orang lain [14]. Kiesler dan Kiesler, konformitas teman sebaya yakni sebuah perilaku meniru yang menuju pada kelompok tertentu dengan kelompok yang menekankan norma-norma yang harus dipatuhi oleh setiap anggota kelompok [15].

Sears, berpendapat bahwa terdapat aspek-aspek konformitas teman sebaya yakni: 1) Kekompakkan yaitu suatu kekuatan yang menarik remaja untuk bergabung dengan suatu kelompok. 2) Kesepakatan, remaja yang menghadapi keputusan kelompok yang sudah bulat dan mendapat tekanan besar untuk menyesuaikan pendapatnya. 3) Ketaatan adalah tindakan yang dilakukan oleh remaja secara terbuka, sehingga terlihat oleh orang lain meskipun dalam hati mereka tidak setuju[16].

Sears menyebutkan ada 4 faktor yang mempengaruhi konformitas teman sebaya, diantaranya 1) takut akan celaan sosial. Alasan utama konformitas adalah untuk mencapai kesepakatan,atau menghindari kritik kelompok. 2) Takut akan penyimpangan, hampir dalam semua situasi sosial, takut dianggap menyimpang. Setiap individu menempatkan dirinya dalam suatu posisi dan menyadari bahwa posisi tersebut tidak sesuai. Hal ini menunjukkan bahwa individu mengalami penyimpangan dalam pikiran mereka sendiri, yang menyebabkan timbul rasa tidak nyaman dan emosi yang tidak terkendali. Individu cenderung bertindak sesuai dengan prinsip kelompok tersebut tanpa mempertimbangkan akibatnya. 3) Kekompakan kelompok, kekompakan yang tinggi menghasilkan konformitas yang lebih besar. Alasan utamanya yaitu ketika individu merasa dekat dengan anggota kelompok lain, maka individu akan semakin senang diakui dan semakin menyakitkan untuk mencela mereka. 4) Keterikatan pada penilaian bebas, keterikatan sebagai kekuatan total yang menghalangi individu dalam melepaskan argumennya. Orang yang terbuka dan bersungguh-sungguh terikat pada penilaian bebas akan enggan mengubah penilaian kelompok yang berlawanan[17]. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rina Dwi Ayuningrum terdapat beberapa faktor yang memperngaruhi konformitas teman sebaya yaitu kohesivitas, ukuran atau besarnya kelompok, norma sosial deskriptif dan norma sosial injungtif, perbedaan jenis kelamin, suara bulat, status, tanggapan umum atau public respon, stabilitas emosional, kecerdasan, motivasi konsep diri dan konsep diri[18].

Konsep diri bukanlah bawaan dari lahir maupun keturunan dari orang tua. konsep diri tercipta dari pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun masyarakat. Konsep diri adalah salah satu faktor yang mempengaruhi dan membentuk perilaku seseorang. Dimana perilaku tersebut tercermin dalam hasil respon dan pendapat seseorang tentang orang tersebut. Konsep diri berkembang dari proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan lingkungannya. Perkembangan konsep diri dipengaruhi oleh konsep diri primer, sehingga dengan semakin luas lingkungan individu bergaul dan berinteraksi, maka perubahan konsep diri tersebut menjadi alat ukur untuk menilai dirinya berdasarkan pengalaman individu yang sudah diperoleh dari lingkungan sekitarnya serta mengendalikan emosinya dalam berinteraksi dengan lingkungannya [19]. Kecerdasan emosional merupakan salah satu kemampuan penting, karena remaja merupakan sebagai pelajar, remaja masih memiliki tanggung jawab penting yang masih memiliki sifat emosional yang tidak terkendali. Remaja dengan kecerdasan emosi tinggi stabil secara sosial, ramah dan humoris, dan tidak cengeng. Mereka memiliki kemampuan yang hebat untuk menghadapi orang atau masalah, bertanggung jawab dan memiliki visi moral, mereka penyayang dan hangat dalam hubungan. Kehidupan emosional mereka kaya tetapi alami, mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia sosial di sekitar mereka. Orang-orang muda dengan keterampilan emosional yang berkembang dengan baik lebih mungkin berhasil dalam studi mereka dan mengadopsi pola pikir yang mendorong produktivitas mereka.

Fitts mengartikan konsep diri sebagai kesadaran atau persepsi individu tentang dirinya sendiri. Konsep diri berfungsi sebagai kerangka acuan (frame of reference) yang digunakan individu saat berinteraksi di lingkungannya dan berdampak pada perilakunya. Dengan memahami konsep diri individu, lebih mudah untuk memahami dan memprediksi tingkah laku individu tersebut[20]. Terdapat beberapa aspek konsep diri menurut Fitts yaitu identitas diri, diri perilaku, penerimaan atau penilaian diri [21].

Penelitian yang dilakukan oleh Rina Dwi Ayuningrum, konsep diri remaja memiliki efek yang positif dan signifikan terhadap konformitas teman sebaya di kelas VIII SMP Negeri 4 Ulujami Kabupaten Pemalang. Dengan kata lain, semakin tinggi konsep diri siswa, maka semakin tingi pula konformitas teman sebayanya. Hal ini remaja dengan konsep diri yang kuat akan lebih mampu mengendalikan perilaku meraka yang dapat mengarah pada perilaku positif maupun negatif.

Faktor internal lain yang juga mempengaruhi konformitas teman sebaya pada remaja adalah kecerdasan emosional. Penelitian yang dilakukan oleh Desi Kuswijayanti dkk, hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dan konformitas siswa kelas VIII SMPN 1 Kandangan Temanggung. Dengan kata lain, semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, semakin rendah konformitasnya, dan sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional seseorang, semakin tinggi konformitasnya[12].

Goleman menjelaskan kecerdasan emosional sebagai sebuah kekuatan atau keahlian individu, yang dimana terdiri berbagai macam keahlian dalam mendukung diri atau memotivasi diri, memecahkan masalah, mengendalikan kontrol diri, mengendalikan stress, dan lain sebagainya. Goleman juga berpendapat bahwa kecerdasan emosional yaitu kebalikan dari intelektual individu, yang dimana berperan sebagai kesadaran diri sendiri, dan kontrol dorongan hati, kedisiplinan, semangat dan motivasi pada diri maupun empati dan kemampuan dalam bersosial [22]. Kecerdasan emosional sangat penting dan harus dimiliki setiap seseorang, hal ini didukung oleh Goleman dalam pendapatnya, bahwa setiap keberhasilan seseorang ditentukan oleh seimbangnya antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional, dan kedua hal itu saling melengkapi [23]. Goleman, berpendapat lima dimensi atau aspek penting kecerdasan emosional, aspek tersebut merupakan kesatuan yang saling mendukung satu dengan yang lain. Kelima aspek tersebut yakni pertama mengenali emosi diri (Self-Awareness), pengelolaan emosi (Self-Management), memotivasi diri sendiri (Self-Motivation), mengenali emosi orang lain (Relation Management), dan pembinaan hubungan (social awareness) [22].

Perkembangan anak muda menyebabkan seringnya terjadi perubahan emosi atau suasana hati, mereka tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya sendiri dan sudah mulai memahami perasaan orang lain. Perkembangan umum lainnya termasuk perkembangan sosial dengan peningkatan kemandirian dan hubungan yang lebih dekat dengan teman sebaya. Ini sering menjadi alasan terjadinya konformitas kaum muda. Remaja merasa perlu menyesuaikan diri dengan teman sebayanya dalam kelompok pertemanan, sehingga remaja bersikap seperti teman sebayanya [24]. Konformitas teman sebaya membuat pengaruh kuat pada tingkah laku maupun sifat remaja. Tekanan konformitas berawal dari norma-norma yang disetujui pada suatu kelompok, baik tersirat dan tersurat yang membuat paksaan remaja dalam berperilaku seperti norma yang telah disepakati [7]. Memiliki konsep diri dan kecerdasan emosional tinggi dapat memberikan hal-hal positif bagi remaja salah satunya mampu mengenali perasaan diri sendiri, mengetahui kelebihan dan kekurangan diri. Hal ini menggambarkan bahwa konsep diri dan kecerdasan emosional mempengaruhi remaja dalam melakukan konformitas positif maupun negatif. Konformitas teman sebaya yang cukup kuat memotivasi remaja sebagai individu untuk melakukan sesuatu yang merugikan atau melanggar norma sosial. Jadi dengan memiliki konformitas teman sebaya yang baik dapat memberikan hal – hal positif bagi remaja salah satunya bertukar pendapat atau pikiran mengenai pembelajaran atau ilmu, selain itu juga dengan memiliki konformitas teman sebaya dapat mempererat pertemanan dengan teman.

Berdasarkan latar belakang tersebut serta melihat penjelasan mengenai konsep diri dan kecerdasan emosional terlihat bahwa dua variabel tersebut dibutuhkan oleh siswa SMP. Kondisi inilah yang membuat peneliti tertarik untuk mengambil penelitian ini terkait hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosional dengan konformitas teman sebaya pada siswa SMP Negeri 2 Tanggulangin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan konformitas teman sebaya, hubungan kecerdasan emosional dengan konformitas teman sebaya, hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosional dengan konformitas teman sebaya pada siswa SMP Negeri 2 Tanggulangin.

Metode

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan jenis korelasional. Menurut Sugiyono, menjelaskan bahwa pendekatan kuantitatif merupakan penelitian yang dilandasi oleh filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan [25]. Penelitian kuantitatif memiliki tujuan untuk menguji teori, menguji generalisasi yang memiliki nilai prediktif dan menunjukkan pengaruh antar variabel. Penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasional yang bertujuan untuk melihat adanya hubungan antara Konsep diri (X1), Kecerdasan emosional (X2) dan konformitas teman sebaya (Y).

Populasi dari penelitian ini yaitu siswa siswi dari sekolah SMP Negeri 2 Tanggulangin yang berusia 13 – 15 tahun yang berjumlah 650 siswa dan jumlah sampel penelitian menurut Isaac dan Michael dengan taraf kesalahan 5% yaitu sebanyak 265 sampel. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Tanggulangin, Sidoarjo. Untuk pengambilan sampel menggunakan teknik stratified random sampling yaitu dilakukan dengan membagi seluruh populasi menjadi kelompok-kelompok homogen yang disebut strata. Ukuran sampel yang layak dalam penelitian yakni 30 sampel hingga 500 sampel [24].

Pengumpulan data atau instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner atau angket yang dikembangkan dengan menggunakan skala likert. Kuesioner menurut Sugiyono [26] yaitu, cara mengumpulkan informasi atau data yang dilaksanakan dengan cara memberi beberapa pertanyaan kepada subjek untuk diteliti. Pada penelitian memakai tiga alat ukur atau skala psikologi yaitu skala konformitas teman sebaya, skala kecerdasan emosional, dan skala konsep diri.

Pengukuran konformitas teman sebaya menggunakan Skala Konformitas yang diadopsi dari penelitian Nurhoufa Sofiatun dengan nilai reliabilitas sebesar 0,906 dan disusun dengan aspek konformitas teman sebaya yang dikemukakan oleh Sears, yakni kekompakan, kesepakatan, dan ketaatan. Skala ini disusun menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif jawaban, yaitu: Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Setuju (S) dan Sangat Setuju (SS). Skala ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana konformitas subjek pada aspek-aspek konformitas.

Pengukuran konsep diri menggunakan Tennessee Self Concept Scale Second Edition Short Form (TSCS 2nd) merupakan Skala Konsep Diri yang dikembangkan oleh Fitts & Warren dalam bentuk Short Form, dengan nilai reliabilitas sebesar 0,833 dan disusun dengan aspek konsep diri oleh Fitts & Warren, yaitu identitas diri, diri perilaku, penerimaan atau penilaian diri. Skala ini disusun menggunakan Skala Likert dengan 5 alternatif jawaban, yaitu 1 = selalu salah, 2 = sebagian besar salah, 3 = sebagian salah dan sebagian benar, 4 = sebagian besar benar, dan 5 = selalu benar.

Pengukuran kecerdasan emosional peneliti menggunakan Skala Kecerdasan Emosional yang diadopsi dari penelitian Dian Masruroh dengan nilai reliabilitas sebesar 0,862 dan disusun dengan aspek yang dikemukakan oleh Goleman yakni pengendalian emosi, pengelolaan emosi, motivasi diri, pengendalian emosi orang lain dan membina hubungan. Skala ini disusun menggunakan skala Likert dengan 4 alternatif jawaban, yaitu: Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Setuju (S) dan Sangat Setuju (SS).

Uji coba alat ukur dilaksanakan sebelum penelitian dilakukan dan untuk mengetahui berapa besar tingkat validitas dan reliabilitas alat ukur yang digunakan dalam penelitian. Pelaksanaan uji coba alat ukur dilakukan di SMP Negeri 2 Tanggulangin dengan jumlah subjek 100 siswa pada kelas 7 dan kelas 8. Hasil uji reliabilitas skala konformitas teman sebaya berjumlah 20 aitem dan mendapatkan nilai reliabilitas sebesar 0,705, yang artinya reliabel. Hasil uji reliabilitas skala konsep diri yang berjumlah 17 aitem dengan nilai reliabilitas sebesar 0,798, yang artinya reliabel. Sedangkan hasil skala kecerdasan emosional dengan jumlah 20 aitem dan dengan nilai reliabilitas sebesar 0,614 yang artinya reliabel, karena apabila nilai koefisien reliabilitas > 0,6 maka memiliki reliabilitas yang baik dan dapat dipercaya atau reliabel.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, korelasi berganda, yaitu analisis yang digunakan untuk melihat hubungan dua variabel atau bahkan lebih, dimana dua variabel merupakan variabel independen dan satu lagi merupakan variabel dependen. Peneliti akan menggunakan alat bantu dengan SPSS 25.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Penelitian ini diperoleh populasi sebesar 265 siswa SMP. Penelitian ini terdapat dua variabel bebas yaitu konsep diri dan kecerdasan emosional, dan satu variabel terikat yaitu konformitas teman sebaya. Sebelum diadakan uji hipotesis dengan teknik analisis data, maka ada prasyarat yang harus dipenuhi yaitu sampel diambil dengan menggunakan teknik random sampling, distribusi data harus normal (uji normalitas), data harus linier (uji linieritas), dan dilakukannya uji multikolinieritas.

Tabel 1. Demografis Subjek Penelitian

Berdasarkan tabel 1, dapat diketahui bahwa dari 265 responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 135 siswa atau 51%, dan perempuan sebanyak 130 siswa atau 49%. Sedangkan berdasarkan kelas, kelas 7 memiliki jumlah siswa sebanyak 117 siswa atau 44% dan kelas 8 berjumlah 148 siswa atau 56%. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa siswa pada kelas 7 dan kelas 8 didominasi oleh siswa laki-laki, dan kelas 8 memiliki jumlah siswa lebih banyak daripada kelas 7.

Pada penelitian ini uji normalitas sebaran dilakukan terhadap ketiga variabel penelitian yang dilakukan secara simultan (bersamaan). Uji normalitas ini dilakukan untuk mengetahui data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Penelitian ini peneliti menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov Test. Kaidah yang digunakan yaitu apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (sig > 0,05) maka distribusinya dikatakan normal.

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas

Adapun hasil uji normalitas mendapatkan hasil bahwa data Konformitas Teman Sebaya, Konsep Diri dan Kecerdasan Emosional memiliki nilai Asymp. Sig sebesar 0,070. Nilai Asymp. Sig. dari data tersebut lebih dari 0,05 sehingga data dapat dikatakan bahwa data variabel Konformitas Teman Sebaya, Konsep Diri dan Kecerdasan Emosional berdistribusi normal.

Uji linearitas dalam penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui apakah hubungan antara ketiga variabel yang diteliti memiliki hubungan yang linear. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji normalitas dengan Anova. Kaidah yang digunakan yaitu apabila hasil signifikansi (sig) linearity, apabila nilai signifikansi (sig) deviation from signifikansi linearity > 0,05 maka dikatakan hubungan tersebut linier.

Tabel 3. Hasil Uji Linieritas

Hasil yang didapatkan dari deviation from linearity untuk variabel konsep diri dengan konformitas teman sebaya (X1Y) yaitu sebesar 0,309. Sedangkan variabel kecerdasan emosional dengan konformitas teman sebaya (X2Y) yaitu sebesar 0,054. Nilai Deviation from Linearity Sig. > 0.05 maka ada hubungan yang linier secara signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen, sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut memenuhi asumsi linearitas.

Uji multikolinearitas diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya variabel independen yang memiliki kemiripan antara variabel independen dalam satu model. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai toleransi dan nilai Variance Inflation Factor (VIF).

Tabel 4. Hasil Uji Multikolinieritas

Hasil Colinearity Statistics diketahui nilai tolerance untuk variabel Konsep Diri (X1) dan Kecerdasan Emosional (X2) adalah 0.941 lebih besar dari 0,10. Sedangkan nilai VIF untuk variabel X1 dan X2 adalah 1,063 < 10.00. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinieritas dalam model korelasi.

Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dapat dilakukan melalui korelasi berganda untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara dua variabel atau bahkan lebih, dan seberapa kuat hubungan tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis korelasi product moment antara Konsep Diri (X1) dengan Konformitas Teman Sebaya (Y). dan analisis korelasi product moment antara antara kecerdasan emosional (X2) dengan konformitas teman sebaya (Y). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis Korelasi Product Moment dari Pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel yang dianalisis dengan menggunakan SPSS 25.

Analisis Korelasi Berganda (R) antara konsep diri (X1) dan kecerdasan emosional (X2) secara bersama-sama dengan konformitas teman sebaya (Y). Analisis korelasi berganda (R) digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen dengan variabel dependen (Y) secara bersama-sama. Pada penelitian ini, peneliti akan mencari hubungan konsep diri (X1) dan kecerdasan emosional (X2) secara bersama-sama dengan konformitas teman sebaya (Y) dengan menggunakan SPSS 25.

Tabel 5. Hasil Korelasi Berganda

Berdasarkan tabel 5, diperoleh nilai signifikansi F change 0,000 lebih kecil dari signifikan 0,05 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel konsep diri (X1) dan kecerdasan emosional (X2) secara simultan dengan konformitas teman sebaya (Y). Berdasarkan tabel 6 diperoleh nilai R sebesar 0,447, artinya terdapat hubungan positif dan signifikan antara konsep diri dan kecerdasan emosional secara simultan dengan konformitas teman sebaya. Berdasarkan tabel 5 juga diperoleh nilai R Square sebesar 0,200, yang artinya pengaruh konsep diri dan kecerdasan emosional terhadap konformitas teman sebaya pada siswa SMP Negeri 2 Tanggulanginn sebesar 20%.

Table 6. Kategorisasi Variabel

Tabel 6 menunjukkan bahwa pada variabel konformitas teman sebaya terdapat 33 subjek dengan konformitas teman sebaya rendah, 185 subjek dengan konformitas sedang, dan 47 subjek dengan konformitas tinggi. Pada variabel konsep diri, 39 subjek termasuk dalam kategori rendah, 190 subjek dalam kategori sedang, dan 36 subjek dalam kategori tinggi. Pada variabel kecerdasan emosional, 34 subjek termasuk dalam kategori rendah, 191 subjek dalam kategori sedang, dan 40 subjek dalam kategori tinggi.

Tabel 6 menunjukkan bahwa variabel konformitas teman sebaya memiliki persentase terbesar sebesar 70% dalam kategori sedang, variabel konsep diri sebesar 72%, dan variabel kecerdasan emosional sebesar 72% dalam kategori sedang.

B. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dari ketiga variabel yakni variabel konsep diri dan kecerdasan emosional dengan variabel konformitas teman sebaya pada siswa SMP menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan, dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan terdapat hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosional dengan konformitas teman sebaya pada siswa SMP Negeri 2 Tanggulangin dapat diterima. Adapun hasil yang didapatkan adalah nilai korelasi r =0,447 yang signifikan pada level 0,000 dengan arah hubungan ketiga variabel yaitu positif. Temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh desi [12]. Hasil penelitian meunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh penting pada perilaku konformitas teman sebaya, hal ini disebabkan karena rendahnya kecerdasan emosional yang menjadikan sesorang kurang mampu dalam mengendalikan diri dan emosinya. Kemudian didukung juga oleh penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan Nadya Alisa [27]. Didapatkan bahwa hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dan konformitas teman sebaya pada mahasiswa, Semakin positif konsep diri mahasiswa maka semakin rendah perilaku konformitas teman sebaya.

Pada penelitian ini, konsep diri pada Siswa SMP berdasarkan kategorisasi menunjukkan bahwa sebanyak 72% berada dalam kategori sedang. Ini menandakan bahwa mayoritas siswa memiliki pandangan yang seimbang terhadap diri mereka sendiri, di mana mereka tidak menganggap diri mereka terlalu rendah atau terlalu tinggi, memungkinkan mereka untuk memiliki pandangan yang positif terhadap diri sendiri. Namun, dalam situasi lain, sebanyak 15% siswa dinilai memiliki konsep diri rendah. Ini menandakan bahwa sebagian siswa SMP melihat diri mereka negatif dan fokus pada kekurangan mereka. Sementara itu, sebanyak 13% siswa termasuk dalam kategori tinggi. Ini menunjukkan bahwa mereka mampu menerima kekurangan mereka dengan bijaksana, mendukung diri mereka sendiri dengan cara yang positif, dan memanfaatkan potensi mereka sebaik mungkin.

Dalam kaitannya dengan siswa SMP, kecerdasan emosional menunjukkan bahwa sebanyak 72% dari mereka masuk dalam kategori sedang. Ini menandakan bahwa mayoritas siswa memiliki kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi pada tingkat yang memadai. Namun, sebesar 13% siswa ditempatkan dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian siswa mengalami kesulitan dalam mengatur emosi mereka sendiri dan kurang mampu untuk memahami perasaan orang lain, yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk berempati dan berinteraksi secara positif dalam lingkungan sekitarnya. Di sisi lain, sebesar 15% siswa termasuk dalam kategori tinggi. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan yang baik dalam memahami dan mengatur emosi mereka sendiri.

Dalam penelitian terhadap siswa SMP, konformitas teman sebaya menunjukkan bahwa sebanyak 70% dari mereka masuk dalam kategori sedang. Ini mengindikasikan bahwa mayoritas siswa tidak secara signifikan dipengaruhi oleh perilaku teman sebayanya. Namun, sebesar 12% siswa ditempatkan dalam kategori rendah. Ini menandakan bahwa sebagian siswa cenderung mudah terpengaruh dan mengikuti arus kegiatan atau gaya yang ditetapkan oleh kelompok mereka. Di sisi lain, sebesar 18% siswa termasuk dalam kategori tinggi. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mudah terpengaruh oleh teman sebaya dan lingkungan kelompok mereka.

Konsep diri adalah representasi yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri, yang terbentuk melalui pengalaman yang didapat dari interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Ini tidaklah diwarisi, melainkan tumbuh dan berkembang dari pengalaman hidup individu. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rina Dwi, yang menyatakan bahwa konsep diri adalah gambaran mengenai dirinya sendiri baik yang berhubungan dengan aspek fisik, sosial, dan psikologis yang ada dalam diri individu sendiri. Konsep diri remaja memiliki peranan penting untuk meyeimbangkan perilaku pada remaja dengan tatacara perilaku pergaulannya dengan teman sebayanya [18].

Seseorang yang memiliki konsep diri yang kuat cenderung memiliki sikap optimis, berani menghadapi tantangan baru, siap menghadapi keberhasilan maupun kegagalan, penuh percaya diri, antusias, merasa berharga, mampu menetapkan tujuan hidup, serta memiliki pola pikir yang positif. Sebaliknya, individu dengan konsep diri yang rendah cenderung kurang percaya diri, takut gagal sehingga enggan mencoba hal baru atau menantang, merasa rendah diri, pesimis, dan mungkin menunjukkan berbagai tanda inferioritas[28]

Kecerdasan emosional merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengelola dan mengarahkan emosinya dengan kecerdasan, mengatur keseimbangan emosi, serta mengekspresikan mereka melalui keterampilan seperti kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Penelitian ini sejalan dengan Desi Kuswijayanti, Kecerdasan emosional juga dapat mempengaruhi tingkat konformitas teman sebaya dalam perilaku. Ini terjadi karena kurangnya kecerdasan emosional membuat seseorang kesulitan mengontrol dorongan emosionalnya dan kurang mampu menghargai atau memahami perasaan orang lain[12].

Kecerdasan emosional yang baik terlihat melalui kemampuan untuk sensitif terhadap pengelolaan emosi, yang kemudian membentuk kerangka dalam perilaku, interaksi sosial, dan pengambilan keputusan yang tepat. Dalam konteks hubungan sosial, remaja perlu beradaptasi dengan individu di luar lingkungan keluarga mereka, seperti teman sebaya di lingkungan mereka. Kecerdasan emosi memiliki peranan penting dalam interaksi dengan individu lain, termasuk sangat dibutuhkan dalam dunia kerja dan berinteraksi seperti yang diungkapkan dalam penelitian Wisker dan Poulis kecerdasan emosi dapat mempengaruhi perilaku adaptif yang akhirnya berpengaruh terhadap individu tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konformitas muncul ketika seseorang melakukan sesuatu karena tekanan untuk sesuai dengan yang dilakukan orang lain, bahkan tindakan tersebut merupakan cara-cara yang menyimpang atau dianggap tidak sesuai. Remaja yang memiliki tingkat konformitas teman sebaya yang tinggi akan mengikuti norma kelompok dan cenderung lebih tergantung pada aturan dan norma tersebut, sehingga mereka lebih melihat tindakan mereka sebagai bagian dari upaya kelompok, bukan hasil dari keputusan pribadi mereka [29]. Ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Safri Mardison yang menunjukkan bahwa remaja mengubah perilaku mereka untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, baik ada tekanan langsung maupun tidak. Ketika ada atau tidak ada tuntutan langsung dari teman sebaya, norma-norma tak tertulis dari kelompok tersebut dapat berpengaruh besar pada perilaku, konsep diri dan kecerdasan emosional remaja yang menjadi bagian dari kelompok tersebut [30]. Konformitas adalah dampak sosial dimana seseorang berupaya menyesuaikan perilaku dan pandangannya agar sejalan dengan norma yang berlaku, menerima ide atau aturan yang ada. Ini adalah cara individu berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya[31]. Taylor, Peplau, & Sears menjelaskan bahwa keinginan kita untuk diterima dan disukai oleh orang lain, sebagian besar mendasari kecenderungan remaja untuk melakukan konformitas teman sebaya terhadap norma sosial. Oleh karena itu, wajar jika rasa takut akan penolakan oleh orang lain sejalan dengan usaha kita untuk menyesuaikan diri dan melakukan konformitas teman sebaya[32].

Responden terbanyak pada penelitian ini adalah responden laki-laki dengan jumlah 135 siswa (51%). Hal ini dapat menggambarkan bahwa siswa laki-laki lebih banyak dari pada siswa perempuan dalam SMP Negeri 2 Tanggulangin. Viviani Lim dan Raja Oloan Tumanggor berpendapat bahwa Laki-laki dan perempuan dapat menghadapi tekanan sosial dari kelompok sosial mereka untuk mengikuti norma-norma tertentu. Kelompok laki-laki memberikan tekanan lebih besar untuk menunjukkan konformitas terhadap teman sebaya, sehingga laki-laki tampak lebih konformis dibandingkan perempuan. Situasi ini menunjukkan bahwa siswa laki-laki merasa khawatir apabila mereka tidak mengikuti atau tidak setuju dengan kebiasaan kelompok mereka dan akan berdampak pada relasi sosial mereka di sekolah[33].

Konsep diri dan kecerdasan emosional dengan konformitas teman sebaya pada siswa SMP berada pada kategori sedang. Hal ini disebabkan oleh keinginan atau harapan remaja untuk menjadi sama dengan kelompoknya, oleh karena itu remaja menyesuaikan atau menyamakan diri dengan perilaku yang umum dilakukan oleh kelompok tersebut, selain itu juga remaja mengalami kesulitan dalam mengelola emosi mereka sendiri dan dalam memahami serta berinteraksi dengan emosi orang lain. Ini dapat mempengaruhi kemampuan mereka dalam menjalin hubungan sosial mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Winkel & Hastuti dalam Safri Mardison, kebutuhan remaja dalam rentang usia sekitar 12-15 tahun, kebutuhan siswa sangat dipengaruhi oleh aspek psikologis yang meliputi keinginan untuk diperhatikan, diakui, dan dicintai, serta dorongan untuk mencapai kemandirian yang semakin besar. Remaja juga menginginkan penghargaan atas prestasi mereka dari orang dewasa dan teman sebayanya, serta memiliki hubungan persahabatan yang baik dengan teman sebaya mereka. Selain itu, mereka perlu merasa aman dengan perubahan fisik yang mereka alami selama masa remaja[30].

Hasil penelitin ini menunjukan bahwa sumbangan efektif yang diberikan konsep diri dan kecerdasan emosional dengan konformitas teman sebaya pada siswa SMP Negeri 2 Tanggulangin dalam penelitian ini sebesar 20%, yang menunjuukan bahwa konsep diri dan kecerdasan emosional pada remaja merupakan faktor yang berhubungan dengan konformitas teman sebaya. Sementara 80% sumbangan lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. 20% ditunjukkan oleh koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,200.

Penelitian diatas dapat membuktikan bahwa adanya hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosional bergantung pada berbagai faktor. Konsep diri dan kecerdasan emosional merupakan aspek yang mempengaruhi konformitas teman sebaya, sehingga dengan adanya konsep diri dan kecerdasan emosional dalam diri remaja dapat membuatnya tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain. Konsep diri dan kecerdasan emosional memiliki keterkaitan yang erat. Konsep diri yang baik dan positif dapat mendukung perkembangan kecerdasan emosional yang baik, dan sebaliknya, kecerdasan emosional yang baik juga dapat mempengaruhi konsep diri remaja. Remaja cenderung memberikan perhatian besar pada bagaimana mereka dipandang oleh teman-teman sebaya mereka, dan apabila pandangan tersebut positif, hal itu dapat berdampak signifikan pada perkembangan konsep diri mereka serta tingkat kecerdasan emosional. Dalam konteks ini, pandangan positif dari teman sebaya bukan hanya memperkuat konsep diri mereka, tetapi juga membantu dalam kemampuan mereka untuk memahami dan mengelola emosi dengan lebih baik. Dapat disimpulkan bahwa hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosional remaja sangat mempengaruhi tingkat konformitas mereka dengan teman sebaya. Hal ini menjadi lebih signifikan ketika remaja memiliki konsep diri yang positif, yang membantu mereka untuk memahami diri mereka sendiri. Kecerdasan emosional yang kuat memberikan remaja kemampuan untuk mengelola emosi mereka dengan bijaksana, bahkan dalam situasi sosial yang menantang. Dengan demikian, hal ini dapat membantu mereka untuk tetap setia pada nilai-nilai dan keyakinan mereka sendiri, serta mengurangi pengaruh tekanan konformitas dari teman sebaya.

Limitasi atau kelemahan pada penelitian ini terutama terletak pada jumlah subjek yang terbatas. Penelitian ini hanya difokuskan pada satu sekolah. Penelitian selanjutnya lebih baik dilakukan dengan melibatkan beberapa sekolah yang tersebar di wilayah Sidoarjo. Hal ini akan memberikan gambaran yang lebih luas dan representatif tentang fenomena yang diteliti, memungkinkan identifikasi pola atau tren yang mungkin bervariasi antar sekolah. Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berbeda dengan yang mungkin digunakan dalam penelitian serupa lainnya. Oleh karena itu, penting bagi peneliti berikutnya untuk melakukan uji coba alat ukur pada populasi penelitian yang berbeda guna memahami kualitas alat ukur tersebut dalam konteks populasi yang berbeda pula. Adanya potensi bias dalam pengumpulan data disebabkan oleh metode pengambilan data secara daring, yang mana dapat menghasilkan respons yang tidak terwakili secara sempurna dari populasi yang diteliti. Untuk mengatasi masalah ini, ada kemungkinan bagi peneliti berikutnya untuk melakukan pengumpulan data secara langsung, yang memungkinkan mereka untuk mengamati dan mengelola langsung proses pengumpulan data, serta berinteraksi secara langsung dengan responden untuk memastikan kesesuaian dan keakuratan data yang terkumpul.

Simpulan

Dari penelitian dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ada korelasi positif yang signifikan antara konsep diri dan kecerdasan emosional dengan tingkat konformitas teman sebaya di SMP Negeri 2 Tanggulangin. Koefisien korelasi yang ditemukan adalah 0,447 dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti hipotesis pada penelitian ini diterima, yaitu terdapat hubungan positif yang signifikan, artinya apabila semakin tinggi konsep diri dan kecerdasan emosional seseorang, maka tingkat konformitas teman sebaya cenderung lebih rendah. Sebaliknya, semakin rendah tingkat konsep diri dan kecerdasan emosional seseorang, maka tingkat konformitas teman sebaya cenderung lebih tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat konformitas, konsep diri, dan kecerdasan emsional yang berada pada kategori sedang.

Berdasarkan dari hasil kesimpulan diatas, maka dapat diberikan saran terutama untuk siswa SMP Negeri 2 Tanggulangin, diharapkan untuk dapat mengantisipasi, mengelola, dan menangani tekanan tinggi konformitas teman sebaya yang mereka alami, sehingga mereka dapat lebih percaya diri dan memiliki strategi dalam menghadapi tekanan dari teman-teman sebayanya. Kemudian pada penelitian selanjutnya, disarankan untuk dapat meneliti lebih banyak kaitannya dengan faktor-faktor psikologis terkait konformitas teman sebaya pada siswa dan juga diharapkan untuk mengambil subjek yang lebih luas untuk dapat memperbaiki penelitian ini guna memperkuat hasil pembahasan mengenai hubungan konsep diri dan kecerdasan emosional dengan konformitas teman sebaya

Ucapan Terima Kasih

Puji dan syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT, atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya yang telah memberikan ilmu pengetahuan, pengalaman, kekuatan, kesabaran, dan kesempatan untuk menyelesaikan penelitian ini. Meskipun demikian, peneliti benar-benar menyadari bahwa penelitian ini tidak akan berhasil tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Banyak orang telah memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya hingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan penelitian ini. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada siswa-siswi SMP Negeri 2 Tanggulangin yang telah menyediakan waktunya untuk berkontribusi dalam penelitian ini.

References

D. P. & N. N. A. F. Rizkyta, “Hubungan Antara Persepsi Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dan Kematangan Emosi Pada Remaja,” Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, vol. 6, no. 2, hlm. 1–13, 2017, [Daring]. Tersedia pada: http://url.unair.ac.id/5e974d38

A. Syahraeni, “Pembentukan Konsep Diri Remaja,” Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam, vol. 7, no. 1, hlm. 61–76, Mei 2020, doi: 10.24252/al-irsyad%20al-nafs.v7i1.14463.

K. Z. Putro, “Memahami Ciri dan Tugas Perkembangan Masa Remaja,” APLIKASIA: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama, vol. 17, no. 1, hlm. 25–32, 2017, doi: 10.14421.

K. Yunanda, L. Parwata, A. A. I. Agung, R. Sudiatmika, N. L. Pande, dan L. Devi, “Pengaruh Teman Sebaya, Orang Tua, dan Guru Terhadap Masalah Belajar Anak Superior,” JPPSI: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sains Indonesia, vol. 1, no. 1, hlm. 1–11, 2018, doi: 10.23887/jppsi.v1i1.21911.

D. Basaria, “Gambaran Kecerdasan Emosi pada Remaja di Pulau Jawa dan Bali,” Provitae Jurnal Psikologi Pendidikan, vol. 12, no. 1, hlm. 81–100, 2019, doi: 10.24912/provitae.v12i1.5055.

E. Wardati dan M. Diterbitkan, Buku Ajar Psikologi Sosial: Penerapan Dalam Permasalahan Sosial. 2019. doi: 10.21070/2019/978-602-5914-69-0.

B. A. Ganta, C. H. Soetjiningsih, dan A. Info, “Hubungan Konformitas Teman Sebaya dan Kecenderungan Kenakalan Remaja Laki-Laki,” Jurnal Imiah Psikologi, vol. 10, no. 2, hlm. 404–411, 2022, doi: 10.30872/psikoborneo.

R. Rahmayanthi, “Konformitas Teman Sebaya dalam Perspektif Multikultural,” JOMSIGN: Journal of Multicultural Studies in Guidance and Counseling, vol. 1, no. 1, hlm. 71–82, 2017, doi: 10.17509/jomsign.v1i1.6052.

D. Nur Ariyani, “Hubungan Antara Konformitas Teman Sebaya Dengan Citra Tubuh Pada Siswa Kelas Viii Di Smp Negeri 2 Kalasan,” Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, vol. 4, no. 8, hlm. 407–414, Agu 2018, Diakses: 29 Januari 2024. [Daring]. Tersedia pada: https://journal.student.uny.ac.id/index.php/fipbk/article/download/12581/12127

A. Humaida, N. Erlyani, dan F. K. Ekaputri, “Pengaruh Konformitas Kelompok Terhadap Minat Siswa Mengikuti Ekstrakurikuler Pramuka Di Man 2 Banjar,” Jurnal Kognisia, vol. 2, no. 1, hlm. 1–4, 2019, doi: 10.20527/jk.v2i1.1594.

C. K. Dewi, “Pengaruh Konformitas Teman Sebaya TerhadapPerilaku Bullying Pada Siswa SMA Negeri 1 Depok Yogyakarta,” 2015.

D. Kuswijayanti, U. Tagela, dan Setyorini, “Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Konformitas Siswa Kelas VIII SMPN 1 KANDANGAN, Kabupaten Temanggung Tahun Ajaran 2018/2019,” Jurnal Psikologi Konseling1, vol. Vol. 14, no. 1, hlm. 362–372, Jun 2019, doi: 10.24114/konseling.v14i1.13733.

A. D. M. R, “Pengaruh Antara Kepercayaan Diri dan Konformitas Teman Sebaya terhadap Kemandirian Siswa Kelas VIII MTs Al-Yasini,” Malang, Sep 2017.

C. Kusuma Dewi, “Pengaruh Konformitas Teman Sebaya Terhadap Perilaku Bullying Pada Siswa SMA Negeri 1 Depok Yogyakarta,” Jurnal Bimbingan dan Konseling, vol. 4, no. 10, hlm. 1–12, 2015, Diakses: 12 Oktober 2023. [Daring]. Tersedia pada: https://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/fipbk/article/view/271/249

Y. W. Eshasiwi, “Hubungan Trait Big-Five Personality dan Harga Diri Terhadap Konformitas Teman Sebaya,” Psikoborneo, vol. 3, no. 4, hlm. 424–432, 2015, doi: 10.30872/psikoborneo.v3i4.3882.

R. S. Damayanti, R. Sovitriana, E. Nilawati, dan F. A. Widyayani, “Konformitas dan Kematangan Emosi dengan Perilaku Agresi Siswa SMK di Jakarta Timur,” IKRAITH-humanira, vol. 2, no. 3, hlm. 74–79, Nov 2018.

R. Ariana, “Pengaruh Kepercayaan Diri Terhadap Konformitas Teman Sebaya pada Siswa Kelas XI SMK Negeri 2 Kediri,” Malang, Des 2018.

R. D. Ayuningrum, “Pengaruh Konsep Diri Remaja Terhadap Konformitas Teman Sebaya Siswa Kelas VIII Di SMP Negeri 4 Ulujami Kabupaten Pemalang,” Universitas Negeri Semarang, Semarang, 2019.

Ranny, R. A. A. M, E. Rianti, S. H. Amelia, M. N. N. Novita, dan E. Lestariana, “Konsep Diri Remaja dan Peranan Konseling,” Jurnal Penelitian Guru Indonesia, vol. 2, no. 2, hlm. 40–47, 2017, doi: 10.29210/02233jpgi0005.

A. N. Mochtan, “Pengaruh Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Konsep Diri Siswa SMA di Tanggerang Selatan,” Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, 2019.

A. W. Wahid, A. Larasati, A. Ayuni, dan F. Nashori, “Optimisme Remaja yang Tinggal di Panti Asuhan Ditinjau dari Kebersyukuran dan Konsep Diri,” Humanitas (Monterey N L), vol. 15, no. 2, hlm. 160, Agu 2018, doi: 10.26555/humanitas.v15i2.8725.

A. Nisa Fitri Tiarasari dan B. Muchsini, “Hubungan Antara Resiliensi dan Self-Compassion dengan Kecerdasan Emosional Pada Mahasiswa,” Tata Arta" UNS, vol. 6, no. 3, hlm. 13–28, Des 2020, Diakses: 12 Oktober 2023. [Daring]. Tersedia pada: https://jurnal.uns.ac.id/tata/article/view/59132/34523

F. Oktaviani, P. Tommy, dan Y. S. Suyasa, “Uji Validitas Isi (Content Validity) Alat Ukur Kecerdasan Emosional Tarumanagara,” Prosiding Seri Seminar Nasional (SERINA), vol. 1, no. 1, hlm. 597–604, 2021, doi: 10.24912/pserina.v1i1.17463.

A. A. Syachri, H. Handoko, I. S. Pratama, dan Z. Ramadon, “Hubungan Konformitas Peer Group dengan Quarter Life Crisis Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta,” Saskara: Indonesia Journal of Society Studies, vol. 2, no. 2, hlm. 63–77, 2022, doi: 10.21009/Saskara.022.05.

Wijaya Purnadeka, “Pengaruh Kecerdasan Emosi dan Konformitas Teman Sebaya Terhadap Agresivitas Verbal Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Semarang Tahun Ajaran 2019/2020,” 2020. Diakses: 5 Oktober 2023. [Daring]. Tersedia pada: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/42410

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatifm Kualitatif dan R&D, 19 ed. ALFABETA, 2013.

N. Alisa Darman dan Rinaldi, “Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Konformitas Pada Mahasiswa Yang Berorganisasi,” Jurnal Riset Psikologi, vol. 3, no. 1, hlm. 1–12, 2019, doi: 10.24036.

R. O. Cahyaningsih dan D. K. Dewi, “Hubungan antara Konsep Diri dengan Konformitas dalam Gaya Berpakaian pada Mahasiswa,” Character: Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 0, no. 3, hlm. 1–7, 2019.

H. Faramitha, “Hubungan Konformitas Teman Sebaya dengan Konsep Diri Remaja dan Implikasinya Bagi Layanan Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 6 Barru,” Jurnal Edukasi Saintifik, vol. 3, no. 2, hlm. 101–110, 2023.

S. Mardison, “Konformitas Teman Sebaya Sebagai Pembentuk Perilaku Individu,” Jurnal Al-Taujih: Bingkai Bimbingan dan Konseling Islami, vol. 2, no. 1, hlm. 78–90, 2016.

A. Ramadhani, “Hubungan Konformitas dengan Prokrastinasi dalam Menyelesaikan Skripsi Pada Mahasiswa Tingkat Akhir yang Tidak Bekerja,” Psikoborneo, vol. 4, no. 3, hlm. 383–390, 2016.

M. Khairati dkk., “Konformitas Sebagai Prediktor Pengambilan Keputusan Untuk Menjadi Pelaku Demonstrasi pada Mahasiswa di Kota Makassar,” Edupsycouns : Journal Of Education, Psychology and Counseling, vol. 4, no. 1, hlm. 1–13, 2022.

V. Lim dan R. O. Tumanggor, “Konformitas Teman Sebaya Pada Siswa Sekolah Menengah Ditinjau Dari Gender Siswa,” INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, vol. 3, no. 6, hlm. 7393–7403, 2023, Diakses: 29 April 2024. [Daring]. Tersedia pada: https://j-innovative.org/index.php/Innovative