Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Hardiness Personality and Work Stress Among Female Riders

Ketangguhan, Kepribadian, dan Stres Kerja di Kalangan Penunggang Kuda Wanita
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Resti Kusumawati (1), Widyastuti (2)

(1) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Psikologi, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Female online motorcycle riders operate in high-risk outdoor environments characterized by demanding workloads, economic uncertainty, and minority gender status in a male-dominated occupation, conditions associated with work stress. Specific Background: Work stress encompasses physiological, psychological, and behavioral responses arising from organizational, environmental, and individual factors, while hardiness personality comprising control, commitment, and challenge represents an individual resilience characteristic relevant to occupational settings. Knowledge Gap: Empirical evidence examining the association between hardiness personality and work stress among female online motorcycle riders in Surabaya remains limited. Aims: This study aimed to determine the relationship between hardiness personality and work stress among female online motorcycle riders in Surabaya. Results: Using a quantitative correlational design with quota sampling, 100 respondents completed the Occupational Hardiness Questionnaire (r=0.760) and a Work Stress Scale (r=0.920). Data analysis with Spearman’s rho indicated a significant negative correlation (r = -0.798; p < 0.001), with hardiness personality explaining 60.7% of the variance in work stress. Most respondents demonstrated high hardiness (35%) and low work stress (31%). Novelty: This study provides empirical evidence from a gender-specific occupational group within the Indonesian gig economy, highlighting the central role of hardiness personality in relation to work stress. Implications: Strengthening control, commitment, and challenge orientations may support stress management strategies, occupational safety awareness, and sustainable work participation among female online motorcycle riders.


Highlights:



  • A Strong Inverse Correlation Was Identified Between Psychological Resilience Traits and Occupational Strain (R = -0.798; P < 0.001).

  • The Resilience Construct Accounted for 60.7% of Variance in Job-Related Strain.

  • Most Participants Demonstrated Elevated Resilience Levels Alongside Comparatively Low Strain Scores.


Keywords: Hardiness Personality, Work Stress, Female Online Motorcycle Riders, Occupational Psychology, Surabaya


 

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Kemudahan dalam menjalankan aktivitas pada masyarakat begitu terlihat dari kemunculan inovasi teknologi saat ini, berawal dari upaya mengatasi permasalahan pada jasa transportasi umum kian hari memberikan kemajuan dengan meluncurkan aplikasi transportasi online dengan memberikan keuntungan berupa fitur layanan, seperti diantaranya jasa antar jemput penumpang, jasa mengambil dan mengantarkan pesanan, kemudian baik bekerjasama dengan pihak ekspedisi dengan mengantarkan paket saat itu juga. Bukan hanya itu saja keuntungan yang diberikan pada pengguna aplikasi tersebut, melainkan juga diberikan pada masyarakat yang ingin bergabung menjadi mitra driver ojek online. Hasil pendapatan yang diperoleh cukup menguntungkan, dan tidak adanya keterikatan dalam waktu bekerja. Umumnya kesempatan menjadi mitra driver ojek online seringkali diminati oleh kaum laki-laki. Semakin hari semakin terlihat bahwa perkembangan zaman memberikan dampak dengan kemunculan driver ojek online wanita. Wanita seringkali dipandang sebelah mata karena dianggap lemah, akan tetapi wanita di era saat ini memperlihatkan bahwa era emansipasi semakin maju terlihat bahwa wanita mulai memberanikan dirinya mencari pekerjaan diluar kemampuannya dan tidak pada umumnya. Berdasarkan data dari BPS tahun 2022 menyatakan bahwa pada penduduk produktif terdapat sebanyak 35,57% wanita ikut serta dalam dunia kerja[1]. Wanita yang bekerja harus berperan ganda dengan membagi peran tanggung jawabnya sebagai istri. Beberapa wanita bekerja memiliki alasan bahwa kebutuhan rumah tangga yang tinggi tidak dapat ditopang sepenuhnya oleh suami mengingat tingkat pendapatan dan pengeluaran tidak imbang dalam pemenuhan biaya hidup keluarga, selain itu sebagiannya yang belum berkeluarga beranggapan bahwa dengan bekerja, mereka mampu menghidupi kebutuhannya sendiri dan merasa tidak bergantung dengan orangtua. Wanita bekerja sebagai driver ojek online terkadang hanya menjadikan sampingan kerja/ side job saja. Bekerja sebagai driver ojek online dengan lingkup luar ruangan seperti berkendara di jalanan sepanjang hari dengan jobdesk nya seperti menjemput dan mengantarkan orang dari satu tujuan ke tujuan yang lain dan dihadapkan dengan berbagai resiko akibat seringnya bersinggungan dengan pengguna jalan lainnya. Namun hal tersebut tidak menyurutkan niat para driver ojek online wanita[2]. Wanita dengan pekerjaannya sebagai driver ojek online rupanya merasakan problematika yang ada. Berdasarkan penelitian yang dilakukan R.Yudhistira[3] mengatakan bahwa faktor yang paling berpengaruh dalam kemampuan berkendara pada ojek online adalah faktor kelelahan sebesar 62,85% kelelahan terjadi akibat tidak seimbangnya antara jam kerja, tuntutan beban kerja, total jarak yang ditempuh dengan waktu istirahat hingga pengaruh usia. Mereka bekerja sepanjang hari dengan pendapatan yang tidak menentu, hingga muncul gangguan yang dirasakan seperti kerap bingung dalam mengoperasikan aplikasi saat bekerja, mengalami penolakan oleh customer, kebingungan ketika tidak tau jalan, kesulitan dalam mengantar dan menjemput ketika hujan hingga kerap merasa kelelahan karena keinginan mengejar target hal tersebut seringkali mengalami stres saat bekerja[4] gangguan stress yang dialami driver ojek online mengakibatkan kurangnya konsentrasi dan minim dalam memperhatikan aspek keselamatan diri pada saat bekerja.

Siagian[5] mendefinisikan Stress kerja merupakan kondisi individu yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran dan kondisi fisik seseorang. Stress adalah tekanan yang berpengaruh terhadap keadaan fisik maupun psikis, tekanan tersebut berasal dari dalam maupun luar diri seseorang. Menurut Cookson & Stirk [6]menyatakan bahwa stress adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Menurut Robbins & Judge[7]terdapat tiga aspek pada seseorang yang mengalami stress yakni diantaranya (1) Fisiologis, yakni perubahan terjadi dalam tubuh seperti detak jantung meningkat, gangguan pernafasan, tekanan darah, otot kaku hingga pencernaan bermasalah. (2)Psikologis, yakni permasalahan pada kesehatan mental seseorang seperti rasa ketidakpuasan dengan masalah pekerjaan, merasa tegang dan tekanan dalam pekerjaan, kecemasan dalam menyelesaikan pekerjaan, mudah tersinggung, perasaan bosan dalam lingkungan bekerja dan melakukan tindakan lainnya. (3)Perilaku, yakni perubahan perilaku dalam produktivitasnya seperti muncul perasaan malas saat bekerja, agresif, penurunan kinerja hingga mengkonsumsi barang-barang terlarang. Menurut Beehr & Newman[8] gejala yang dipicu oleh stress dari aktivitas pekerjaan dapat dilihat dari ketiga perspektif. Perspektif yang pertama yakni perspektif karakteristik pribadi yang mana berfokus pada karakteristik individu yang dianggap sebagai penyebab kesehatan yang buruk. Perspektif yang kedua yakni dari faktor lingkungan sebagai penyebab dalam peristiwa peningkatan stress. Dan kemudian perspektif dari interaksi individu dengan lingkungan adalah perspektif yang ketiga dalam melihat stress pada kerja. Disimpulkan bahwa stress kerja mengarah kepada respon fisik, psikologis dan perilaku. Hambatan akibat munculnya stress kerja dapat menyebabkan perubahan dari segi kesehatan fisik, emosional maupun perilaku individu yang menjadikan hasil pekerjaan yang negatif.

Mayoritas wanita yang bekerja mengalami gangguan stress lebih banyak daripada pekerja laki-laki, hal ini dikarenakan tuntutan peran bilamana kesulitan menghabiskan waktu bersama keluarga dan di satu sisi tuntutan tanggung jawab atas keluarga[9]. Di berbagai negara, seringkali masalah yang menjadi keluhan para pekerja ialah mengalami stres kerja. Stress kerja dapat menimbulkan dampak negatif terhadap psikologis dan biologis pada kinerja atau performance pada driver ojek online tersebut. Kerja dibawah tekanan secara berlebihan salah satunya merupakan faktor dari stress kerja[10]. Stress kerja pada driver ojek online sangat mengganggu kenyamanan kepada penumpang dan tentunya pengemudi itu sendiri. Nofrans[6] menyatakan bahwa faktor stress kerja adalah beban kerja yang tinggi, konflik kerja, hubungan antara atasan dan bawahan yang buruk, kondisi lingkungan kerja dan kesulitan finansial. Menurut Robbins [11] ada beberapa faktor penyebab stress kerja yaitu: (1)Faktor Organisasi, dalam menyelesaikan tugas dalam kurun waktu terbatas, beban kerja berlebihan, tuntutan dari bos serta rekan kerja yang tidak menyenangkan. (2)Faktor lingkungan, yang dimana terdapat perubahan situasi bisnis yang menciptakan ketidakpastian ekonomi, bila perekonomian menurun maka orang menjadi semakin mengkhawatirkan kesejahteraan mereka dan kemajuan teknologi bilamana kemajuan teknologi yang pesat membuat karyawan harus mempelajari dari awal dan menyesuaikan diri dengan itu. (3) Faktor individu, yang meliputi tentang kehidupan pribadi karyawan terutama faktor-faktor persoalan keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik kepribadian bawaan, yang dimana gejala stress yang diungkapkan pada pekerjaan itu sebenarnya bisa jadi berasal dari dalam kepribadian orang itu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai driver ojek online rentan mengalami tekanan pekerjaan yang berujung menimbulkan gejala stress kerja. Hal ini didukung dengan hasil penelitian oleh peneliti terdahulu tentang pengendara ojek online di Kota Semarang[3] yang menemukan bahwa pada komunitas ojek online X Tembalang didominasi oleh pengendara dengan tingkat stres kerja sedang sebanyak 70% dan pernah mengalami kecelakaan kerja. Kemudian pada hasil penelitian oleh peneliti terdahulu di Kota Bandung[12] bahwa tingkat stres pada Komunitas Ojek Online (KOMPAS) sebanyak 90% mengalami stress sedang dan sebanyak 71.4% komunitas ojek online pernah mengalami kecelakaan kerja. Sedangkan pada hasil penelitian oleh peneliti terdahulu di Kota Surakarta[13] bahwa pada driver ojek online wanita di kota Surakarta mengalami stress kerja sebesar 63,6% yang tergolong sedang.

Berdasarkan keadaan dilapangan, peneliti melakukan wawancara dengan lima orang driver ojek online wanita yang ditemui pada hari Minggu tanggal 28 Mei 2023 di Jalan Siwalankerto Kota Surabaya, menunjukkan bahwa driver ojek online wanita mengalami perubahan Psikologis, ketika mencari orderan di suatu pangkalan beberapa driver ojek online wanita kerap risih, muncul perasaan tegang karena mendapat cuitan godaan dari driver ojek online laki-laki. Lalu perasaan was-was karena kerap digoda ketika berboncengan dengan lawan jenis. Tak hanya itu, kecemasan akan pendapatan yang diperoleh, rata-rata berkisar Rp24.000/hari nya jika belum menuntaskan target sebanyak 15 orderan sehingga tidak memperoleh bonus insentif sekitar Rp30.000 dan pada perubahan Fisiologis, mereka ternyata merasa keberatan ketika menerima orderan paket yang melebihi berat kapasitas yang harus dibawa, disaat perjalanan pengiriman seringkali merasa deg-deg an dalam berkendara dan merasakan kesakitan pada punggung dan juga pusing dikepala. Tak hanya itu yang saja, adanya perubahan Perilaku yakni muncul rasa malas bekerja ketika sudah mendapat suspend atau diberhentikan sementara, sekitar tujuh hari karena sering mendapat pembatalan yang dilakukan oleh konsumen. Perubahan kondisi tersebut pada akhirnya memicu stres kerja pada driver ojek online wanita yang mana ketidakpastian akan ekonomi, adanya tuntutan tugas yang berlebih hingga masalah pribadi terkadang mengganggu saat dalam bekerja.

Berdasarkan hasil wawancara pada driver ojek online wanita ternyata stress tidak hanya berasal dari faktor lingkungan saja, perubahan yang terjadi secara tidak pasti dalam lingkungan pekerjaan dapat mempengaruhi tingkat stress di kalangan driver ojek online, faktor organisasional juga mengalami tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu tertentu demi memperoleh pendapatan yang lebih dan juga dari faktor individual yang berkaitan dengan situasi atau kondisi yang mempengaruhi kehidupan secara individual seperti faktor ekonomi, keluarga dan kepribadian dari driver ojek online tersebut[14]. Dalam hal ini dapat ditelaah bahwa salah satu faktor yang dapat meminimalisir tingkat stress kerja pada driver ojek online yakni berasal dari faktor individu. Kepribadian “Hardiness” atau kepribadian “Hardy” merupakan faktor individu dalam karakteristik kepribadian yang mampu memberikan peran besar dalam menghadapi stress kerja.

Salah satu jenis kepribadian yang tahan terhadap tekanan stres kerja baik bersifat langsung, maupun tidak langsung adalah Kepribadian Hardiness. Kreitner dan Kinicki[15] mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki Hardiness Personality maka menjadikannya tidak mudah terkena disstres karena ketika melihat stressor mereka menganggap sebagai suatu tantangan yang positif. Sedangkan menurut Kobasa[16], bahwa individu yang mempunyai kepribadian Hardiness memiliki kontrol diri, komitmen, dan siap dalam menghadapi tantangan artinya perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri maupun di luar diri dilihat sebagai suatu kesempatan untuk tumbuh dan bukan sebagai suatu ancaman terhadap dirinya. Peneliti menetapkan konsep Hardiness Personality yang telah dirumuskan oleh Kobasa pada tahun 1979 yang merupakan tiga dimensi dalam kemampuan individu yakni Control, Commitment dan Challenge untuk mengurangi efek gejala stress dari peristiwa kehidupan penuh tekanan. Yang demikian aspek kepribadian hardiness dijelaskan oleh Kobasa[17] antara lain: (1) Control atau keyakinan bahwa individu dapat mengatasi permasalahan yang terjadi dalam hidupnya, (2) Commitment atau keyakinan bahwa individu mampu melibatkan dirinya dengan kemampuan yang dimiliki untuk menjalani aktivitas yang sedang dihadapi. (3) Challenge, bahwa permasalahan yang terjadi dalam kehidupan dianggap sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri, bukan sebagai suatu ancaman.

Pada hasil penelitian terdahulu oleh F.E.dkk Riyanti[18] ditemukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara hardiness dengan stres kerja pada perawat instalasi rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas (r=-0,641) bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara hardiness dengan stres kerja yakni semakin kuat hardiness maka semakin rendah stres kerja yang dialami perawat, dan sebaliknya semakin lemah hardiness maka semakin tinggi stres kerja yang dialami perawat. Pada hasil penelitian terdahulu oleh S.Safira[19] bahwa terdapat hubungan yang negatif dengan nilai -0,739 pada taraf signifikan 0,000 yang menunjukkan bahwa hardiness dipengaruhi oleh stress kerja dengan kategori sedang. Kemudian pada hasil penelitian terdahulu oleh A. Arciana D dan K.Astuti[20] menunjukkan, ada hubungan negatif antara kepribadian hardiness dengan stres kerja pada anggota Polri di Polresta Yogyakarta. Peran kepribadian hardiness terhadap penurunan stres kerja sebesar 40%.

Penelitian tersebut juga didukung oleh Schultz dan Schultz [21] menjelaskan bahwa individu lebih mampu melawan stress jika memiliki tingkat hardiness yang tinggi dan percaya bahwa dapat mengontrol suatu problematika dalam hidupnya. Perubahan perilaku yang terjadi ketika driver ojek online wanita memiliki kepribadian hardiness yang tinggi, mereka mampu mengontrol emosi nya, berani menghadapi suatu tantangan dengan baik dan percaya bahwa kemampuan yang dimilikinya mampu mengatasi masalah, sesuai dengan ketiga aspek dalam kepribadian hardiness, sehingga stress kerja pada driver ojek online akan rendah. Kepribadian hardiness menjadikan individu mempunyai strategi coping yang tepat sebagai solusi dalam menghadapi tantangan maupun masalah dalam hidupnya. Apabila tingkat stress kerja pada driver ojek online rendah, memberikan dampak positif baik dari segi kesehatan fisik maupun mental pada driver ojek online yakni hilangnya rasa malas, peningkatan dalam produktivitas, keseimbangan emosional terjaga, sehingga driver ojek online dapat mengingat pada aspek keselamatan dalam bekerja. Sebaliknya, jika stress kerja tinggi maka driver ojek online wanita akan mengalami penurunan kinerja yang disebabkan oleh perasaan tidak nyaman saat bekerja, gangguan kesehatan seperti pusing, merasa cepat lelah hingga menurunnya kefokusan yang berakibat kecelakaan dalam bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara Hardiness Personality dengan Stress Kerja pada Driver Ojek Online Wanita di Surabaya..

Metode

Dalam penelitian ini metode yang digunakan yakni metode Kuantitatif korelasional. Penelitian kuantitatif merupakan metode pengambilan data sampel atau populasi tertentu dengan menggunakan kuesioner, yang selanjutnya dijadikan dalam data statistik dan digunakan dalam uji hipotesis[22]. Teknik dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasional, yang bertujuan untuk melihat adanya kaitan antara Hardiness Personality sebagai variabel X dan Stress Kerja sebagai variable Y.

Populasi pada penelitian ini menggunakan Driver ojek online di wilayah Surabaya dengan jumlah 675 driver ojek online aktif berdasarkan data dari salah satu mitra yakni Go-Jek. Untuk teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling, quota sampling artinya teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan[23]. Peneliti memiliki karakteristik sampel yang akan dicari yakni dengan total 100 Driver ojek online khususnya yang berjenis kelamin perempuan di wilayah kota Surabaya. Menurut Sugiyono[24] mengemukakan bahwa ukuran sampel yang layak dalam penelitian antara 30 sampai dengan 500.

Pada penelitian ini dalam pengukuran Kepribadian Hardiness digunakan Skala Occupational Hardiness Questionnaire (OHQ) milik Jimenez, Munoz, Hernandez, dan Balmco pada tahun 2014 yang berdasarkan teori dari Kobasa, yang diadopsi dari penelitian Adani,Sabrina W[8] terdapat ciri-ciri kepribadian hardiness didalamnya seperti komitmen (commitment), kontrol (control) dan tantangan (challenge). Semakin tinggi skor hardiness yang dimiliki responden, maka semakin tinggi sikap hardiness pada responden, sebaliknya jika perolehan skor yang didapatkan responden rendah maka sikap hardiness yang dimiliki responden pun rendah, Skala Kepribadian Hardiness terdiri dari 15 aitem dengan nilai r=0.878. Sedangkan pada pengukuran stres kerja dalam penelitian ini menggunakan Skala Stres Kerja yang berdasarkan teori dari Beehr & Newman pada tahun 1978 yang diadopsi dari penelitian Adani,Sabrina W terdapat aspek pada stres kerja didalamnya seperti aspek psikologis, aspek fisiologis dan aspek perilaku. Semakin tinggi skor Skala Stres Kerja maka semakin tinggi stres kerja yang dialami dan sebaliknya, semakin rendah skor Skala Stress Kerja, maka semakin rendah pula stres kerjanya. Skala stres kerja terdiri dari 20 aitem. Penelitian kali ini untuk teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, dan masing-masing menggunakan skala likert dengan mengisi jawaban sangat sesuai(SS), sesuai (S), tidak sesuai(TS), dan sangat tidak sesuai(STS).

Kemudian peneliti telah menguji reliabilitas pada skala Occupational Hardinesss Questuonaire (OHQ) yang dihasilkan nilai Cronbach Alpha sebesar r=0,760 dimana nilai signifikansi >0,70 yang berarti skala tersebut reliable. Dan juga pada Skala Stres Kerja bahwa nilai Cronbach Alpha sebesar r=0,920 dimana nilai signifikansi >0,70 yang berarti skala tersebut reliable. Dan untuk uji Validitas pada kedua alat ukur yang dipakai peneliti, bahwa hasil secara keseluruhan pada alat ukur tersebut didapatkan nilai sebesar <0,001 dapat dinyatakan alat ukur tersebut dianggap valid, yang dimana p-value <0,05 (Alpha 5%).

Analisa data yang digunakan adalah korelasi product moment pearson yakni analisis untuk mengukur keeratan hubungan secara linier antara dua variabel yang mempunyai distribusi data normal[25]. Kemudian nantinya data akan diolah dengan uji korelasi Pearson dan dalam pengolahannya peneliti menggunakan alat bantu JASP 15.0 for windows.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Driver ojek online merupakan subjek pada penelitian ini dengan kriteria berjenis kelamin wanita di wilayah kota Surabaya, diperoleh sebanyak 100 driver ojek online wanita sebagai responden dari berbagai macam mitra transportasi ojek online dan rentang usia berkisar 21-50 tahun, dan dengan masa kerja 1 hingga lebih dari 4 tahun dan berstatus lajang dan berkeluarga. Kemudian peneliti mengambil sampel dengan teknik kuota sampling dan juga melakukan pendekatan langsung pada responden dengan memberikan penjelasan pengisian pada kuesioner agar sesuai dengan kriteria dalam pemenuhan data yang dibutuhkan peneliti.

Table 1. Deskripsi Responden Penelitian (N=100)

Tabel 1. Dapat menunjukkan sebaran deskripsi responden penelitian dengan kriteria responden yang berdasarkan rentang usia yang terbagi 3 kelompok dengan total responden sebanyak 100. Responden pada usia 21-30 tahun terdapat 32 responden dengan persentase 32%. Lalu terdapat 27 responden(27%) yang termasuk pada usia 31-40 tahun, sedangkan pada usia 41-50 tahun sebanyak 41 responden(41%). Kemudian berdasarkan pada status perkawinan berkeluarga sejumlah 77 responden(77%) dan lajang sebanyak 23 responden(23%). Selanjutnya untuk mitra driver ojek online di wilayah kota Surabaya, sebanyak 48 responden dari mitra Gojek(48%) dan sisanya sebanyak 52 responden dari mitra Grab(52%).

Berdasarkan lama waktu bekerja pada driver ojek online wanita di kota Surabaya yakni sejumlah 20 responden dengan lama bekerja 1 tahun dengan persentase 20%, kemudian sebanyak 41 responden dengan persentase 41% dengan lama bekerja selama 2 tahun dan sebanyak 37 responden dengan lama bekerja selama 3 tahun dengan presentase 37% dan sisanya 2 responden dengan lama bekerja lebih dari 4 tahun dengan presentase 2%.

Table 2. Variable Hardiness Personality (X)

Pada deskriptif variable Hardiness Personality (X) diperoleh total nilai terendah yaitu 48.000 dan tertinggi 60.000, adapun rata-rata total variable Hardiness Personality (X) yaitu 56.990 dengan standar deviasi sebesar 2.976. Sedangkan pada variabel Stress Kerja (Y) diperoleh total nilai terendah yaitu 20.000, dan tertinggi yaitu 61.000, adapun rata-rata total variable Stress Kerja sebesar 33.870 dengan standar deviasi sebesar 10.965.

Berdasarkan hasil analisis, data responden dikategorisasikan dalam empat kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, rendah dan sangat rendah. Pada variabel Hardiness Personality diketahui bahwa 35 responden yang termasuk tingkat kategori tinggi (35%).

Table 3. Tingkat Kategori Hardiness Personality

Table 4. Tingkat Kategori Stress Kerja

Dan sedangkan pada variabel Stress kerja ditemukan sebanyak 31 responden yang termasuk dalam kategori rendah (31%).

Pada uji asumsi, peneliti menggunakan teknik Saphiro-Wilk ketika melakukan uji normalitas. Data dapat dikatakan sesuai jika hasil berdistribusi normal apabila memiliki nilai p>0,05. Diperoleh bahwa hasil uji normalitas dengan nilai sebesar 0,950 yang dimana nilai sig= <0,001 yang berarti bahwa data peneliti merupakan hasil distribusi sebaran data nya dianggap tidak normal, dilihat pada tabel 5 hasil uji normalitas:

Table 5. Uji Normalitas

Dikarenakan data tidak berdistribusi normal maka selanjutnya pada saat uji hipotesis menggunakan uji non-parametric yakni dengan teknik korelasi Spearman rho.

Table 6. Hasil Uji Hipotesis

Berdasarkan pada tabel 6 di atas menunjukkan bahwa korelasi Spearman-rho menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar -0,798 dengan nilai signifikansi sebesar p<0,001. Hal ini menunjukkan bahwa variabel Hardiness Personality memiliki hubungan yang negatif terhadap variabel Stress Kerja pada driver ojek online wanita di kota Surabaya. Artinya semakin tinggi Hardiness Personality maka semakin rendah stress kerja pada driver ojek online wanita di kota Surabaya dan begitu sebaliknya.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil data yang diperoleh, dengan total responden sebanyak 100 orang yang merupakan driver ojek online wanita di wilayah Kota Surabaya. Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Hardiness personality dengan stress kerja pada driver ojek online wanita di Kota Surabaya. Berdasarkan perolehan data yang didapat dan dilakukan uji analisis data, maka diperoleh hasil uji korelasi Spearman Rho ditemukan bahwa variabel Hardiness Personality berhubungan negatif dengan Stress Kerja. Hubungan tersebut terlihat dari nilai koefisien korelasi r= -0,798 ; p=0,001 (p<0,001). Artinya, ketika driver ojek online wanita memiliki kepribadian Hardiness yang tinggi, maka tingkat stress kerjanya lebih rendah, begitu sebaliknya. Temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan Ihksan[15]. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara Hardiness Personality dan Stress kerja pada karyawan pemasaran di PT.FIF cabang Binjai dan PT.FIF cabang Marelan dengan sumbangan variable X terhadap variable Y sebesar 58% dan sisanya 41,8% dari faktor lain terhadap stress kerja. Kemudian didukung juga oleh penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan S.Safira [19]. Didapatkan bahwa hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kepribadian tahan banting (Hardiness) dengan stress kerja pada karyawan sales PT.Alfa Scorpi Pasir Putih, diketahui bahwa Hardiness memberikan sumbangan efektif sebesar 54,6% terhadap penyebab terjadinya stess kerja.

Diketahui bahwa hasil penelitian ini menunjukkan tingkat variabel Stress Kerja sebesar 31% yang tergolong rendah, hal tersebut dapat disebabkan oleh pertama, sebagian besar driver ojek online wanita menganggap bahwa kepribadian hardiness sangat diandalkan dalam bekerja untuk mengurangi munculnya stress kerja. Yang kedua, ketika dihadapkan dengan tekanan kerja sebagai driver ojek online wanita menjelaskan bahwa mereka terbiasa dan menganggap suatu hal yang positif dengan mewujudkan Hardiness sehingga mereka dapat mengurangi terjadinya stress kerja, yang berdasarkan dari penelitian S.N.Jannah[4]. Pilihan menjadi driver ojek online wanita rupanya opsi terakhir agar dapat diterima bekerja, ditambah desakan dalam memenuhi kebutuhan keluarga hal tersebut sesuai dengan penelitian Y.Maulidya Syevtiandini[2] yang mengatakan bahwa kebutuhan ekonomi mempengaruhi kecenderungan perempuan untuk berpartisipasi dipasar kerja agar dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga. Hal tersebut menjadikan driver ojek online wanita harus membangun tekad yang kuat dan membiasakan pada lingkungan kerja yang tidak familiar dengannya, walaupun sering dihantui akan resiko di jalanan. Sejalan dengan penelitian yang disampaikan oleh M.Meylina[26] untuk menjadi seorang perempuan yang mengerjakan pekerjaan dengan resiko tinggi, para pengemudi ojek online membutuhkan keberanian yang besar dalam menjalaninya. Mereka mengetahui hal yang harus dilakukan dalam menghadapi permasalahan dengan membuat mereka lebih semangat dalam bekerja, yakni dengan mengingat kewajiban dalam membiayai kehidupannya. Driver ojek online wanita yang memiliki kepribadian Hardiness tinggi cenderung dapat memaknai pekerjaannya menjadi suatu hal yang menyenangkan. Sesuai dengan teori Kobasa[27]menjelaskan bahwa kepribadian tangguh yang dimiliki individu seperti kontrol diri, komitmen, dan siap dalam menghadapi tantangan artinya peristiwa yang terjadi pada individu baik memberikan perubahan dari luar maupun dalam dirinya dianggapnya sebagai suatu kesempatan untuk tumbuh dan bukan dianggapnya sebagai ancaman terhadap dirinya. Meskipun persaingan cukup ketat dalam mencari orderan dengan kaum laki-laki, tidak menyurutkan semangat driver ojek online wanita dalam mengejar target bonus setiap harinya karena mereka percaya rezeki dari Tuhan tidak akan tertukar melainkan sudah tertakar, Vagni & Pajardi[8]mengungkapkan bahwa individu yang berkomitmen dalam menjalankkan aktivitasnya termasuk dalam menjalankan pekerjaannya, merupakan individu yang mampu percaya pada kebenaran akan aktivitas yang dilakukannya. Hal tersebut mampu membuat driver ojek online wanita tidak mudah menyerah dan melanjutkan pekerjaannya meskipun rasa ketidakberdayaan muncul menghalangi .

Hasil analisis pada penelitian ini ditemukan bahwa driver ojek online wanita yang dijadikan responden berdasarkan dari usia paling banyak dengan rentang usia di angka 41 hingga 50 tahun sebanyak 41 responden dan sisanya tersebar dari usia 21 hingga 40 tahun, kemudian dari status perkawinan yakni sebanyak 77 responden yang berkeluarga dan sisanya lajang. Data tersebut dapat disimpulkan bahwa responden yang ditemui kebanyakan ibu rumah tangga, dengan ikut serta bekerja membantu perekonomian keluarga yakni menjadi driver ojek online. Mengingat peran dan tugas sebagai ibu rumah tangga tidak sedikit dan seringkali menimbulkan stress bilamana beban yang ditanggung begitu berat dan sulitnya mengatasi masalah jika tidak dapat meregulasi emosinya. Pada penelitian ini besaran efek Hardiness personality terhadap Stress kerja tergolong besar. Hardiness personality mampu menjelaskan sebesar 60,7% dari varians Stress kerja. Tingkat stress kerja pada subjek sebesar 31% yang mana angka tersebut tergolong rendah. Artinya, ketika driver ojek online wanita memiliki kepribadian Hardiness yang tinggi, maka tingkat stress kerjanya lebih rendah, begitu sebaliknya. Menurut teori Robbins[28] bahwa usia, kondisi fisik, faktor kepribadian maupun dari luar individu merupakan faktor penyebab stress. Variabel kepribadian Hardiness (Hardiness Personality) salah satunya yang mampu membedakan individu dengan individu lainnya dalam menghadapi stress. Seseorang yang memiliki kepribadian Hardiness (Hardiness Personality) merasa dirinya menjadi lebih kuat, optimis mampu menghadapi tantangan karena menganggap masalah sebagai tantangan yang mampu dilewati dan menjadikan sebagai suatu hikmah dari suatu keadaan tersebut. Driver ojek online wanita dengan kepribadian Hardiness lebih mampu mengatasi stress kerja, meski diberikan kemudahan dalam waktu bekerja yang cukup fleksibel, dibalik hal itu beban kerja yang tinggi dirasakan bilamana tidak dapat membagi waktu kerja dengan waktu istirahat, bekerja tidak mengenal waktu istirahat yang semesti dapat mempengaruhi kinerja berkendara. Disisi lain juga mereka merasa tetap optimis dan kuat dalam persaingan mencari orderan sebanyak-banyaknya dengan driver ojek online lainnya terutama laki-laki. Pada hasil penelitian ini diketahui bahwa responden memiliki tingkat Hardiness Personality sebesar 35% yang termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menandakan bahwa driver ojek online wanita di Surabaya sudah dapat mengelola stress nya dengan baik dan dapat mengimplementasikan kepribadian Hardiness (Hardiness Personality)dalam kehidupan sehari-hari. Kepribadian Hardiness mampu membantu individu untuk meminimalisirkan stress kerja yang dihadapi, sesuai dengan teori dari penelitian terdahulu.

Limitasi atau keterbatasan pada penelitian ini yakni terdapat pada jumlah subjek yang menjadi responden, peneliti belum menyeluruh mencari responden di wilayah Kota Surabaya, driver ojek online yang berjenis kelamin wanita yang difokuskan pada penelitian ini tentunya sangat minim ditemui di jalanan, peneliti juga belum menemukan suatu komunitas driver ojek online wanita di wilayah Kota Surabaya. Kemudian keterbatasan waktu dan tempat penelitian saat menemui driver ojek online wanita untuk dijadikan responden, seringkali mereka enggan menyempatkan untuk diwawancarai maupun mengisi kuesioner dikarenakan mendapat orderan dan hambatan ketika di area warung kopi seringkali driver ojek online teralihkan dengan orang sekitar dan suara musik yang ada, sehingga sering muncul miskomunikasi ketika berinteraksi secara langsung atau memberikan penjelasan dalam teknis pengisian kuesioner. Pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah responden secara menyeluruh dan mencari suasana yang nyaman ketika melakukan proses pengumpulan data agar dapat memberikan gambaran yang lebih luas dan representatif tentang fenomena yang diteliti.

Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa hipotesis pada penelitian ini diterima. Dilihat pada hasil uji korelasi Spearman-Rho ditemukan bahwa nilai Spearman-Rho -0,798 dengan nilai signifikansi 0,001 yakni variabel X (Hardiness Personality) berhubungan negatif dengan variabel Y (Stress Kerja).

Dari hasil kesimpulan diatas, maka dapat diberikan saran untuk driver ojek online wanita agar tetap memperhatikan keselamatan dalam bekerja maka pentingnya meminimalisir tingkat stress kerja dengan mempertahankan kepribadian Hardiness nya dan melihat pada tatanan jam istirahatnya, seringkali lupa untuk istirahat dapat mempengaruhi kinerja hingga timbul kecelakaan. Maka agar diharuskan untuk mengatur manajemen waktunya, manajemen stress dan menerapkan pola hidup sehat dengan istirahat yang teratur. Dan pada penelitian selanjutnya, disarankan agar mencari lebih banyak lagi kaitannya dengan faktor stress kerja pada driver ojek online dan juga diharapkan melakukan upaya untuk mengambil subjek yang lebih banyak dan dapat memperbaiki kekurangan penelitian ini guna memperkuat hasil pembahasan mengenai hubungan Hardiness personality dengan stress kerja.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih terutama disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat kuasanya peneliti diberikan kemudahan dan kelancaran hingga terselesaikannya penelitian ini dan kemudian kepada seluruh driver ojek online wanita di kota Surabaya yang telah bersedia menjadi responden oleh peneliti dan berkontribusi membantu atas jalannya penelitian. Serta semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang turut membantu peneliti dengan selalu memberikan support.

References

D. Y. Victorine and T. A. Gutama, “RELASI GENDER DALAM KELUARGA PEREMPUAN OJEK-ONLINE DI SURAKARTA (Studi Deskriptif Pada Keluarga Perempuan Ojek-Online Go-Jek di Surakarta),” J. Dev. Soc. Chang., vol. 2, no. 2, p. 33, 2020, doi: 10.20961/jodasc.v2i2.41665.

Y. Y. Maulidya Syevtiandini, Erningsih, “Kendala Perempuan Sebagai Driver Ojek Online di Kota Padang Maulidya,” vol. 5, p. 6, 2021.

R. Yudhistira, A. Pratama, H. Koesyanto, and I. Artikel, “Kejadian Kecelakaan Pada Pengemudi Ojek Online,” HIGEIA (Journal Public Heal. …, vol. 4, no. Special 1, pp. 13–24, 2020, [Online]. Available: https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia/article/view/34997%0Ahttps://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia/article/download/34997/17012.

S. N. Jannah, “PROBLEMATIKA DRIVER OJEK ONLINE ( GOJEK ) PEREMPUAN DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN SKRIPSI PEREMPUAN DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN KELUARGA DI KABUPATEN JEMBER TAHUN 2022,” 2023.

Suhadi and Sukurni, “Hubungan Beban Kerja Dengan Stres Kerja Perawat Di RSI Nashrul Ummah Lamongan,” Hosp. Majapahit, vol. 12, no. 3, pp. 9–17, 2020.

Sagala, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stres Pada Pengemudi Ojek Online Di Komunitas Grab Menteng Pasar Merah ( Gm-Pasmer ) Medan Skripsi Oleh : Fachrurozi Sagala Fakultas Psikologi Universitas Medan Area Medan Pengemudi Ojek Online Di Komunitas Grab Menteng Pas,” 2023.

F. I. Pendidikan and U. N. Surabaya, “HUBUNGAN ANTARA TUNTUTAN PEKERJAAN DENGAN STRES KERJA Qori Setyo Ningrat Olievia Prabandini Mulyana,” no. 2011, pp. 99–108, 2020.

S. adani Widiatmoko, “HUBUNGAN KEPRIBADIAN HARDINESS (HARDINESS PERSONALITY) DAN KEBERSYUKURAN TERHADAP STRES KERJA DI MASA NEW NORMAL PADA PENGEMUDI OJEK ONLINE,” הארץ, no. 8.5.2017, pp. 2003–2005, 2022.

Fatmawaty Mallapiang, Wardah, Nildawati, and Azriful, “Pengaruh Peran Ganda Terhadap Kejadian Stres Kerja Pada Guru Wanita Selama Masa Pandemi Covid 19,” J. Sipakalebbi, vol. 6, no. 1, pp. 38–51, 2022, doi: 10.24252/sipakallebbi.v6i1.28983.

S. Farisi and I. H. Pane, “Pengaruh Stress Kerja Dan Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja Pada Dinas Pendidikan Kota Medan,” Semin. Soc. Sci. Eng. Hum., vol. 1, no. 1, pp. 29–42, 2020.

S. R. Ritonga and S. Syafrizaldi, “Faktor-Faktor Stres Kerja Pada Karyawan PT. LNK Cabang Stabat,” J. Divers., vol. 5, no. 1, pp. 37–42, 2019, doi: 10.31289/diversita.v5i1.2266.

K. F. Kuswardian, S. B. Rahimah, and R. K. Sakinah, “Gambaran Derajat Stres Kerja dan Kejadian Kecelakaan Kerja pada Komunitas Ojek Online di Kota Bandung,” Bandung Conf. Ser. Med. Sci., vol. 3, no. 1, pp. 210–215, 2023, doi: 10.29313/bcsms.v3i1.5865.

W. W. A. Putra, “Hubungan Beban Kerja Dan Konflik Kerja Dengan Stress Kerja Pada Driver Ojek Online Di Masa Pandemi Corona (Covid-19),” J. Psikol., 2021.

D. F. Sari, A. N. Priyatama, and R. N. Kusumawati, “Hubungan antara Optimisme dan Work-Life Balance dengan Stres Kerja pada Driver Gojek Wanita di Grup Gojek Srikandi Surakarta,” vol. 6, no. 1, pp. 61–73, 2021.

M. N. Ihksan, “Aspek-aspek Stres Kerja,” 2018.

W. Septiningsih and M. Iqbal, “Karakter Kepribadian Tahan Banting ( Hardiness ) sebagai Prediktor Stres Kerja ( Work Stress ) pada Anggota Polri,” vol. 3, no. 2, pp. 56–69, 2021.

N. Pancarani, “PENGARUH KEPRIBADIAN TAHAN BANTING (HARDINESS) TERHADAP STRES KERJA PADA PENGAJAR MUDA DI GERAKAN INDONESIA MENGAJAR,” Bitkom Res., vol. 63, no. 2, pp. 1–3, 2018, [Online]. Available: http://forschungsunion.de/pdf/industrie_4_0_umsetzungsempfehlungen.pdf%0Ahttps://www.dfki.de/fileadmin/user_upload/import/9744_171012-KI-Gipfelpapier-online.pdf%0Ahttps://www.bitkom.org/ sites/default/files/ pdf/Presse/Anhaenge-an-PIs/ 2018/180607 -Bitkom.

F. E. dkk Riyanti, “Hubungan Antara Hardiness Dengan Stres Kerja Di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas,” J. Empati, vol. 8, no. 3, pp. 15–24, 2020, [Online]. Available: https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/view/26491.

S. Safira, “Hubungan hardiness dengan stres kerja pada karyawan sales di PT. Alfa Scorpii Pekanbaru,” 2021.

A. arciana dodik dan K. Astuti, “HUBUNGAN ANTARA KEPRIBADIAN HARDINESS DENGAN STRESS KERJA PADA ANGGOTA POLRI BAGIAN OPERASIONAL DI POLRESTA YOGYAKARTA,” Andy Arciana dodik &Kamsiah Astuti, vol. 5, no. 3, pp. 248–253, 2012.

R. Afnuhazi, “Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Stres Kerja Perawat Di Ruang Rawat Ambun Suri Rsud Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi,” J. Akad. Baiturrahim Jambi, vol. 8, no. 1, p. 126, 2019, doi: 10.36565/jab.v8i1.110.

H. Ahyar et al., Buku Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif, no. March. 2020.

D. Firmansyah, “Teknik Pengambilan Sampel Umum dalam Metodologi Penelitian : Literature Review General Sampling Techniques in Research Methodology : Literature Review,” vol. 1, no. 2, pp. 85–114, 2022.

Z. Abdussamad, BUKU PENELITIAN KUANTITATIF. .

“Prof_dr_sugiyono_metode_penelitian_kuant.pdf.” .

M. Meylina, Y. Apriati, and L. Azkia, “Perempuan Pengemudi Ojek Online ‘Mba Jeck’ di Kota Banjarmasin,” J. Empirika, vol. 6, no. 1, p. 44, 2022, doi: 10.47753/je.v6i1.115.

G. Januari, “Hardiness Pada Mahasiswa yang Bekerja,” vol. 6, no. 1, pp. 15–22, 2019.

E. G. Wulansari, “Stres Kerja dengan Produktivitas Kerja Karyawan di PT Politama Pakindo Ungaran,” J. Psikol. Perseptual, vol. 5, no. 1, p. 1, 2020, doi: 10.24176/perseptual.v5i1.5002.