Fika Rizki Amaliah (1), Ririn Dewanti Samudera Indriani (2)
General Background: University graduates face increasing challenges in entering the labor market, requiring adequate psychological readiness alongside academic competence. Specific Background: Work readiness among final-year students is closely related to internal psychological factors, particularly self-efficacy, which reflects an individual’s belief in their capability to perform tasks and achieve goals. Knowledge Gap: Although previous studies have examined self-efficacy and work readiness, limited empirical evidence specifically addresses final-year psychology students at Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Aims: This study aimed to determine the relationship between self-efficacy and work readiness among final-year students. Results: Using a quantitative correlational design with 103 students selected from a population of 140, data were analyzed using Pearson Product Moment correlation. The findings revealed a significant positive correlation between self-efficacy and work readiness (r = 0.915; p < 0.05), with an R Square value of 0.719, indicating that 71.9% of work readiness variance is associated with self-efficacy. Novelty: This study provides empirical evidence within the specific context of final-year psychology students in an Indonesian private university. Implications: Strengthening self-efficacy through institutional support and structured training programs may contribute to improving students’ preparedness for workforce transition.
Keywords: Self Efficacy, Work Readiness, Final Year Students, Quantitative Correlational Study, Higher Education
Key Findings Highlights
A strong positive correlation was identified between psychological belief in capability and employment preparedness.
Statistical analysis demonstrated a substantial proportion of variance explained by the independent variable.
Most respondents were categorized in moderate to low levels of employment preparedness.
Pendidikan menjadi kebutuhan pokok bagi setiap individu, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia, karena setiap orang diwajibkan memiliki pengetahuan. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan, baik di sekolah maupun perguruan tinggi [1]. Perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan tinggi dan penelitian yang memberikan gelar akademik serta menyiapkan lulusannya menjadi peneliti dan tenaga kerja profesional. Meskipun zaman terus berkembang, lulusan perguruan tinggi dengan gelar sarjana tidak dapat menjamin pekerjaan yang diinginkan. Saat ini, para lulusan perguruan tinggi menghadapi persaingan ketat dalam mencari pekerjaan, terlihat dari peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi yang tidak dapat terserap di dunia kerja setiap tahunnya [2]. Fenomena ini menjadi topik hangat yang sering dibahas oleh media cetak dan elektronik seiring berjalannya waktu.
Salah satu permasalahan terkini di dunia pendidikan berkaitan dengan kesiapan mahasiswa saat memasuki dunia kerja, yang dikenal sebagai Kesiapan Kerja. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, mereka akan memasuki dunia kerja sebagai tahap baru [3]. Pool dan Sewell menjelaskan bahwa kesiapan kerja merujuk pada kapasitas individu dalam hal keahlian, pengetahuan, pemahaman, dan atribut kepribadian yang menjadi bekal untuk memilih pekerjaan dan mencapai kesuksesan [4]. Sugihartono mengartikan kesiapan kerja sebagai kondisi yang mencerminkan keseimbangan antara kematangan fisik, kematangan mental, dan pengalaman belajar, sehingga individu memiliki kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan atau perilaku tertentu dalam konteks pekerjaan [3]. Pool & Sewell mengidentifikasi empat aspek utama dari kesiapan kerja, yaitu: 1) Keterampilan (Skill): Keterampilan mencakup berbagai kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas yang berkembang dari pelatihan atau pengalaman. Ini termasuk keterampilan interpersonal dan intrapersonal, kreativitas, keterampilan pemecahan masalah, keterampilan berkomunikasi, dan lain sebagainya. 2) Ilmu Pengetahuan (Knowledge): Ilmu pengetahuan menjadi dasar yang memungkinkan individu memiliki kemampuan dan keahlian dalam bidangnya. 3) Pemahaman (Understanding): Pemahaman adalah kemampuan individu untuk memahami dan mengerti informasi yang telah diperoleh, sehingga dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik dan menghasilkan hasil yang memuaskan. 4) Atribut Kepribadian (Personal Attributes): Kepribadian yang sesuai akan menciptakan kenyamanan dalam diri individu, memungkinkan mereka untuk melibatkan diri secara totalitas dalam pekerjaan dan mencapai hasil serta prestasi yang diinginkan. Atribut kepribadian, seperti etika kerja, tanggung jawab, semangat berusaha, kemampuan bekerja sama, optimisme, serta keberanian dalam bertindak dan mengambil keputusan, sangat penting untuk mengembangkan kompetensi individu dalam konteks kerja [5].
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, peneliti melakukan wawancara dengan 8 mahasiswa Psikologi Angkatan 2017 semester akhir Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dengan fokus pada aspek kesiapan kerja. Dari 8 subjek yang diwawancarai, terdiri dari 4 mahasiswa laki-laki dan 4 mahasiswa perempuan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa 5 dari mereka menunjukkan tingkat kesiapan kerja yang rendah, hal tersebut dapat terlihat pada atribut kepribadian mahasiswa yang tidak mampu bekerjasama, tidak memiliki rasa tanggung jawab dan mahasiswa tidak memiliki semangat berusaha.
Wawancara mengungkapkan bahwa mahasiswa tersebut mengalami kesulitan dalam aspek pemahaman dimana mahasiswa kurang mampu dalam memperkirakan dan mempersiapkan suatu hal yang akan terjadi dan tidak dapat mengambil keputusan dengan baik, khususnya ketika dihadapkan pada tugas dan kewajiban dengan standar yang lebih tinggi dari yang mereka pelajari selama kuliah. Beberapa mahasiswa merasa tidak mampu menyelesaikan tugas tersebut atau menganggapnya terlalu sulit. Kurangnya dalam menemukan permasalahan, kurang berinteraksi & komunikasi dengan baik dan dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Hal ini terkait dengan aspek keterampilan dan kepribadian pada mahasiswa. Fenomena ini dapat berdampak merugikan bagi mahasiswa sendiri, bahkan dapat menambah jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi. [6].
Penelitian yang dilakukan oleh Handayani menunjukkan bahwa kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir berada pada kategori rendah sebesar 57.95% dan pada kategori tinggi sebesar 42.05% [7]. Penelitian yang dilakukan oleh Yuwanto menunjukkan hasil kategori subjek terhadap respon skala kesiapan kerja menunjukkan ada 9 subjek (18,4%) memiliki kesiapan kerja pada kategori rendah, 40 subjek (81,6%) memiliki kesiapan kerja pada kategori tinggi. [8]. Penelitian yang dilakukan oleh Angraini, Murisal, & Ardias juga menunjukkan hal yang sama dimana kesiapan kerja pada mahasiswa berada pada kategori rendah sebesar 25% dan mahasiswa yang berada pada kategori tinggi sebesar 75% [9]
Kesiapan kerja yang tinggi dipengaruhi oleh berbagai aspek, menurut Ketut faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja bersumber dari dalam diri individu (intern) dan luar diri individu (ekstern) [10]. Faktor yang terdapat dari dalam diri individu antara lain kemampuan intelegensi, bakat, minat, motivasi, sikap, pengalaman, keterampilan, efikasi diri dan faktor yang terdapat dari luar individu antara lain masyarakat, keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar. Banyak mahasiswa yang belum mengetahui dengan pasti bidang pekerjaan yang ingin dikejar setelah menyelesaikan pendidikan mereka. Hal ini disebabkan oleh kebingungan mayoritas mahasiswa setelah lulus, di mana mereka masih mencari arah pekerjaan yang cocok dengan kemampuan mereka. Dalam konteks ini, individu yang siap memasuki dunia kerja diharapkan memiliki keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), pemahaman (understanding), dan atribut kepribadian (personal attributes) [11].
Efikasi Diri menurut Bandura merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimiliki dalam melakukan tugas atau pekerjaan untuk mencapai suatu hasil atau tujuan tertentu [12]. Sejalan dengan pengertian tersebut, Alwisol mendefinisikan self efficacy sebagai persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu [13]. Selain itu, Baron & Byrne juga mendefinisikan self efficacy sebagai evaluasi individu terhadap kompetensi yang dimiliki dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan, mencapai tujuan, dan mengatasi hambatan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa self efficacy adalah suatu keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya untuk dapat melakukan suatu tugas dan mencapai tujuan tertentu [14].
Dimensi self efficacy menurut Bandura dibagi menjadi tiga, yakni: 1) Dimensi Tingkat (Magnitude/Level): Terkait dengan persepsi individu terhadap tingkat kesulitan suatu tugas dan bagaimana hal tersebut memengaruhi pemilihan tingkah laku yang akan dicoba atau dihindari. Secara umum, individu cenderung mencoba tugas yang dianggap mampu mereka lakukan, sementara mereka menghindari tugas yang dianggap sulit atau di luar kemampuan mereka. 2) Dimensi Kekuatan (Strength): Berkaitan dengan seberapa kuat keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimilikinya. Keyakinan yang lemah rentan terhadap pengaruh faktor-faktor yang tidak mendukung, sementara keyakinan yang kuat mendorong individu untuk bertahan dalam usahanya, meskipun dihadapkan pada hambatan atau kegagalan. Dimensi ini juga terkait erat dengan dimensi tingkat, di mana semakin tinggi tingkat kesulitan tugas, semakin melemah keyakinan individu untuk menyelesaikannya. 3) Dimensi Generalisasi (Generality): Terkait dengan persepsi individu terhadap sejauh mana kemampuan yang dimilikinya dapat diterapkan pada berbagai aktivitas atau konteks tugas. Pertanyaan mendasar terkait apakah kemampuan yang dimiliki hanya berlaku untuk aktivitas atau konteks tertentu, atau apakah kemampuan tersebut dapat diterapkan pada serangkaian aktivitas dan konteks yang beragam. Cara individu melihat luasnya kemampuan mereka dalam menyelesaikan tugas akan memengaruhi perilaku dan upaya yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan [15].
Self efficacy memainkan peran krusial dalam kesiapan kerja mahasiswa tingkat akhir dengan membentuk motivasi, kepercayaan diri, kemampuan mengatasi hambatan, serta kemampuan pengambilan keputusan yang efektif. Tingkat self efficacy yang tinggi membantu mahasiswa menghadapi tantangan di lingkungan kerja dengan lebih siap dan percaya diri, mempengaruhi kualitas kinerja mereka, dan bahkan berpotensi memengaruhi kesejahteraan mental mereka ketika menghadapi transisi dari dunia perkuliahan ke dunia kerja. Oleh karena itu, pembangunan self efficacy menjadi esensial dalam upaya mempersiapkan mahasiswa tingkat akhir untuk meraih kesuksesan dalam karir mereka [16].
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa efikasi diri sangat berperan penting terhadap kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir, semakin tinggi efikasi diri mahasiswa, maka semakin tinggi juga kesiapan kerja mahasiswa tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara efikasi diri dengan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah 140 mahasiswa Prodi Psikologi di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Jumlah sample pada penelitian ini menggunakan rumus Isaac& Michael dengan taraf kesalahan5% sehingga menghasilkan 103. Teknik sampling yang digunakan oleh peneliti yaitu accidental sampling. Menurut Sugiyono teknik accidental sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja pasien yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data [17]. Penelitian ini menggunakan dua skala yang disusun oleh peneliti, yaitu skala efikasi diri dan kesiaapan kerja dengan menggunakan skala model Likert. Skala efikasi diri memiliki nilai reliabilitas sebesar 0.773 dengan jumlah aitem sebanyak 32 dan skala kesiapan kerja memiliki nilai reliabilitas sebesar 0.910 dengan jumlah aitem sebanyak 32.
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif yang menggunakan statistik inferensial. Teknik ini adalah sebuah teknik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi yang jelas dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random. Analisis yang digunakan dalam statistik inferensial adalah analisis korelasi product moment Pearson’smenggunakanaplikasi spss.
Uji normalitas variabel Efikasi diri dan Kesiapan kerja. Beirdasarkan dari data tabeil 1 Kolmogorof-smirnov dapat dikeitahui nilai signifikansi yaitu 0,020 beirarti nilai teirsebut lebih dari 0,05 (0,020 < 0,05) dan dapat dikatakan bahwa data distribusi normal.
Dalam tabel dibawah ini dikeitahui bahwa nilai signifikansi linearity Efikasi diridan kesiapan Kerja dengan nilai sebesar 0,000 kurang dari 0,05 (0,000 < 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa variabel tersebut linier. Dikeitahui bahwa nilai signifikansi deviation from linearity dengan nilai sebesar 0,434 lebih dari 0,05 (0,433 < 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa variabel tersebut linier.
Hasil analisis uji hipotesis di bawah ini diketahui bahwa nilai koeifisien korelasi rxy = 0,915 deingan nilai signifikansinya 0,000 (p < 0.05). Maka dapat diartikan adanya hubungan yang signigikan antara Efikasi Diridengan Kesiapan Kerja. Jadi semakin tinggi Efikasi Dirimaka akan semakin tinggi juga Kesiapan Kerja yang dimiliki oleh karyawan, sebaliknya semakin rendah eefikasi Dirimaka akan semakin rendah juga Kesiapan Kerja yang dimiliki.
Berdasarkan hasil analisis di bawah ini diperoleh nilai R Square adalah 0,719 x 100 % = 71,9 %. Maka dapat diketahui bahda pengaruh Efikasi diri dengan kesiapan sebesar 71,3% sedangkan 28,1% dipengaruhi oleh faktor psikologis lain.
Selain menghitung berdasarkan hasil SPSS terkait sumbangan efektif, peneliti juga menghitung berdasarkan kategorisasi sehingga diperoleh data sebagai beriku :
Berdasarkan skor subjek diatas dapat disimpulkan bahwa dari 103 mahasiswa terdapat 4 mahasiswa yang memiliki efikasi diri sangat rendah (4%), 30 mahasiswa dengan kategori rendah (29%), 40 sedang (39%), 18 tinggi (17%), dan 11 mahasiswa tergolong sangat tinggi (11%). Adapun kesiapan kerja yang didapat dari skor diatas adalah 2 mahasiswa tergolong sangat rendah (2%), 55 mahasiswa tergolong rendah (53%), 17 mahasiswa sedang (17%), 17 mahasiswa tinggi (17%), dan 12 mahasiswa tergolong sangat tinggi (12%).
Hasil analisis dikeitahui bahwa nilai koeifisien korelasi rxy = 0,942 deingan nilai signifikansinya 0,000 (p < 0.05). Maka dapat diartikan adanya hubungan positif yang signigikan antara Efikasi Diridengan Kesiapan Kerja. Jadi semakin tinggi Efikasi Dirimaka akan semakin tinggi juga Kesiapan Kerja yang dimiliki oleh karyawan, sebaliknya semakin rendah eefikasi Dirimaka akan semakin rendah juga Kesiapan Kerja yang dimiliki. Mahasiswa yang memiliki efikasi diri tinggi seringkali lebih siap untuk bekerja karena mereka merasa mampu menghadapi tantangan dan memiliki keyakinan dalam kemampuan mereka untuk sukses. Penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri dapat mempengaruhi kesiapan kerja melalui pengembangan keterampilan dan motivasi untuk belajar dan berkembang.
Sejumlah penelitian sebelumnya yang membahas efikasi diri dan kesiapan kerja menghasilkan temuan serupa, seperti yang terungkap dalam penelitian oleh Prisrilia dan Widawati [4]. Menurut hasil penelitian tersebut, efikasi diri memiliki pengaruh sebesar 35,5% terhadap kesiapan kerja fresh graduate di kota Bandung, sementara 64,5% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian tersebut. Dengan kata lain, peningkatan self-efficacy sebesar 1% dapat meningkatkan kesiapan kerja dalam dunia kerja. Dari total 145 subjek penelitian, 79 orang (45,5%) memiliki efikasi diri tinggi, sementara 66 orang lainnya (54,5%) memiliki efikasi diri yang rendah.
Efikasi diri merupakan keyakinan seseorang atas kemampuannya untuk menyelesaikan tugas atau menghadapi tantangan tertentu. Dalam konteks mahasiswa tingkat akhir, efikasi diri menjadi penting karena menentukan seberapa yakin mereka dalam menghadapi dunia kerja. Mahasiswa dengan efikasi diri tinggi cenderung lebih percaya diri dalam kemampuan mereka untuk berhasil dalam pekerjaan yang mereka pilih. Mereka juga lebih siap untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang mungkin muncul selama transisi dari kehidupan akademik ke profesional [18].
Kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir dapat diartikan sebagai kondisi di mana individu merasa siap untuk memasuki dan berpartisipasi dalam dunia kerja. Ini mencakup keterampilan teknis yang diperlukan untuk pekerjaan, serta keterampilan non-teknis seperti komunikasi, kerjasama tim, dan pemecahan masalah. Kesiapan ini juga dipengaruhi oleh pengalaman magang, partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan pemahaman tentang etika kerja [19].
Pentingnya hubungan ini terlihat dalam persiapan mahasiswa untuk masa depan mereka. Universitas dan pendidik dapat membantu meningkatkan efikasi diri mahasiswa dengan menyediakan dukungan, sumber daya, dan umpan balik yang konstruktif. Dengan demikian, mahasiswa dapat meningkatkan kesiapan kerja mereka dan memasuki dunia kerja dengan rasa percaya diri yang lebih besar dan potensi untuk sukses yang lebih tinggi.Penelitian yang dilakukan oleh Radiansyah dan Aldino menghasilkan hasil uji hipotesis menggunakan analisis statistik product moment. Analisis ini menghasilkan nilai korelasi (r) sebesar 0,410, dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan positif yang sangat signifikan antara efikasi diri dan kesiapan kerja. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat efikasi diri, semakin tinggi pula kesiapan kerja yang dimiliki, dan sebaliknya, semakin rendah efikasi diri, semakin rendah kesiapan kerja yang dimiliki [20].
Dari hasil ini, dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang diajukan oleh peneliti dapat diterima. Temuan ini konsisten dengan hipotesis bahwa terdapat hubungan positif antara efikasi diri dan kesiapan kerja. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa tingkat efikasi diri adalah salah satu faktor yang secara positif mempengaruhi kesiapan kerja. Variabel efikasi diri memiliki rerata empirik (RE) sebesar 42,7 dan rerata hipotetik (RH) sebesar 48,5, menunjukkan tingkat efikasi diri yang tinggi. Dengan persentase terbanyak berada pada kategori tinggi, dapat disimpulkan bahwa siswa kelas XII SMKN 1 Kedawung memenuhi aspek-aspek efikasi diri yang dijelaskan oleh Bandura, seperti Tingkat Kesulitan Tugas, Tingkat Kekuatan, dan Luas Bidang Tugas [21].
Penelitian diatas sejalan dengan hasil yang diperoleh peneliti yaitu sebagai berikut, dapat disimpulkan bahwa dari 103 mahasiswa terdapat 4 mahasiswa yang memiliki efikasi diri sangat rendah (4%), 30 mahasiswa dengan kategori rendah (29%), 40 sedang (39%), 18 tinggi (17%), dan 11 mahasiswa tergolong sangat tinggi (11%). Adapun kesiapan kerja yang didapat dari skor diatas adalah 2 mahasiswa tergolong sangat rendah (2%), 55 mahasiswa tergolong rendah (53%), 17 mahasiswa sedang (17%), 17 mahasiswa tinggi (17%), dan 12 mahasiswa tergolong sangat tinggi (12%).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan anatara variabel efikasi diri dengan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir universitas Muhammadiyah sidoarjo angkatan 2017, jadi semakin tinggi efikasi diri mahasiswa tingkat akhir maka semakin tinggi pula kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir, begitupun sebaliknya semakin rendah efikasi diri mahasiswa maka akan semakin rendah juga tingkat kesiapan kerja yang didapat oleh mahasiswa tingkat akhir.
Limitasi dalam penelitian ini adalah pada subjek populasi yang diteliti, penelitian sebaiknya dilakukan pada populasi yang lebih besar, keterbatasan atau limitasi juga terdapat pada variable penelitian yang terlalu terbatas, seharusnya peneliti juga bisa menggunakan variable lain seperti psychological well being atau praktik kerja atau perencanaan karir.
Bagi mahasiswa tingkat akhir diharapkan dapat meningkatkan efikasi diri sehingga dapat meningkatkan kesiapan kerja yang tinggi, untuk Universitas Muhammadiyah Sidoarjo diharapkan untuk memberikan pelatihan dan pengarahan agar dapat meningkatkan efikasi diri untuk mahasiswa tingkat akhir dan untuk peneliti selanjutnya yang berkeinginan untuk melakukan penelitian kesiapan kerja diharapkan untuk menambah variabel varabel yang lain, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih luas dari penelitian ini.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti menguccapan terimakasih kepada pihak Universitas Muhammadiyah Sidoarjo karena telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian di tempat tersebut. Selain itu peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada responden mahasiswa dan mahasiswi karena terlah bersedia memberikan informasi yang menjadi data penelitian ini melalui pengisian kuesioner.
[1] D. Annisa, “Jurnal Pendidikan dan Konseling,” Jurnal Pendidikan dan Konseling, vol. 4, no. 1980, pp. 1349–1358, 2022.
[2] A. Rahman, S. A. Munandar, A. Fitriani, Y. Karlina, and Yumriani, “Pengertian Pendidikan, Ilmu Pendidikan dan Unsur-Unsur Pendidikan,” Al Urwatul Wutsqa Kajian Pendidikan Islam, vol. 2, no. 1, pp. 1–8, 2022.
[3] S. Rahayu, Harifuddin, Firdaus, Syamsurijal, and A. Imran, “Hubungan Efikasi Diri dengan Kesiapan Kerja pada Mahasiswa yang Sedang Mempersiapkan Skripsi,” Information Technology Education Journal, vol. 2, no. 3, pp. 52–56, 2023, doi: 10.59562/intec.v2i3.477.
[4] A. B. Prisrilia and L. Widawati, “Pengaruh Efikasi Diri terhadap Kesiapan Kerja Lulusan Baru di Kota Bandung pada Masa Pandemi Covid-19,” in Bandung Conference Series: Psychology Science, 2021, pp. 12–18.
[5] D. Ratnawati, “Hubungan Prestasi Belajar, Persepsi Dunia Kerja, dan Jiwa Kewirausahaan dengan Kesiapan Kerja Mahasiswa PTM,” VANOS Journal of Mechanical Engineering Education, vol. 1, no. 1, pp. 1–9, 2016.
[6] A. Latif, A. M. Yusuf, and Z. M. Efendi, “Hubungan Perencanaan Karier dan Efikasi Diri dengan Kesiapan Kerja Mahasiswa,” Konselor, vol. 6, no. 1, pp. 29–38, 2017.
[7] P. M. Handayani, “Profil Kesiapan Kerja Mahasiswa Program Studi S1 Psikologi Universitas Islam Indonesia,” Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2020.
[8] D. Yuwanto, M. D. Mayangsari, and H. H. Anward, “The Relationship of Self-Efficacy and Working Readiness on Students Who Are Preparing Theses,” Jurnal Ecopsy, vol. 1, no. 4, pp. 161–168, 2016.
[9] D. I. Angraini, M. Murisal, and W. S. Ardias, “Pengaruh Keterampilan Komunikasi terhadap Kesiapan Kerja Lulusan Sarjana Sumatera Barat,” Al-Qalb Journal of Islamic Psychology, vol. 12, no. 1, pp. 84–100, 2021.
[10] F. Suyanto, E. Rahmi, and A. Tasman, “Pengaruh Minat Kerja dan Pengalaman Magang terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang,” Jurnal Ecogen, vol. 2, no. 2, pp. 187–196, 2019.
[11] N. A. Brilian, “Pengaruh Efikasi Diri terhadap Kesiapan Kerja pada Fresh Graduate Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang,” UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2022.
[12] R. Efendi, “Self-Efficacy: Studi Indigenous pada Guru Bersuku Jawa,” Journal of Social and Industrial Psychology, vol. 2, no. 2, pp. 1–7, 2013.
[13] Alwisol, “Self-Efficacy Anak Didik Pemasyarakatan di Lapas Anak Kelas IIA Blitar,” UIN Malang, 2009.
[14] J. Priska, E. Rahmawati, and S. Utomo, “Pengaruh Self-Efficacy, Motivasi dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT PLN Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya,” Jurnal Bisnis dan Pembangunan, vol. 9, no. 1, pp. 83–98, 2020.
[15] M. S. Muna, N. Khotimah, and Y. J. Zuhaira, “Self-Efficacy Guru terhadap Dinamika Pembelajaran Online di Masa Pandemi Covid-19,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 5, pp. 3113–3122, 2021.
[16] C. D. Iswanti and Z. N. Fahmawati, “The Relationship Between Self-Efficacy and Career Decision Making in Students at Senior High School,” Academic Open, vol. 7, pp. 1–10, 2022.
[17] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2016.
[18] M. K. Sariroh and J. E. Yulianto, “Hubungan Efikasi Diri Akademik dengan Kesiapan Kerja Mahasiswa Tingkat Akhir pada Universitas X Surabaya,” 2019.
[19] L. Faukhana, “Hubungan Antara Efikasi Diri dengan Kesiapan Kerja pada Mahasiswa UPGRIS Fakultas Teknik dan Informatika,” Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 2022.
[20] I. S. Nabila and D. Nastiti, “The Effect of Self-Regulation and Self-Efficacy on Academic Procrastination in Working Students of Muhammadiyah Sidoarjo,” 2022.
[21] A. Bandura, Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1977.