Login
Section Clinical Research

Parity Dominates Preeclampsia Risk Among Third Trimester Pregnancies

Paritas Mempengaruhi Risiko Preeklampsia pada Kehamilan Trimester Ketiga
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Astutik ashari (1), Hesty Widowati (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Univesrsitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Preeclampsia remains a major contributor to maternal mortality and morbidity worldwide, particularly in developing countries, and continues to challenge antenatal health services. Specific Background: In Indonesia, the incidence of preeclampsia is substantial, and clinical observations indicate that maternal characteristics such as parity, body mass index (BMI), and antenatal care (ANC) attendance are frequently associated with its occurrence. Knowledge Gap: Previous findings have shown inconsistencies regarding the magnitude and pattern of associations between these maternal factors and preeclampsia, necessitating further contextual evidence from local healthcare settings. Aims: This study aimed to examine the relationship between parity, BMI, and ANC history with preeclampsia among third trimester pregnant women at a hospital in Sidoarjo. Results: Using a cross-sectional analytic design with 250 respondents selected through simple random sampling, chi-square analysis demonstrated statistically significant associations for parity (p=0.022), BMI (p=0.000), and ANC history (p=0.000). Primigravida mothers had 2.157 times higher odds of preeclampsia compared to multigravida, while obesity and incomplete ANC were also significantly associated.  Novelty: This study provides updated hospital-based evidence quantifying comparative odds across three maternal factors within a single analytic model. Implications: Strengthening antenatal surveillance, nutritional monitoring, and targeted counseling for first pregnancies may support maternal health strategies aimed at reducing preeclampsia-related complications.


Highlights:




  • First pregnancy status showed the highest odds ratio among examined maternal characteristics.




  • Obesity category demonstrated a statistically significant association in chi-square testing.




  • Incomplete pregnancy checkups were linked with higher occurrence proportions in the observed cohort.




Keywords:
Parity; Body Mass Index; Antenatal Care; Preeclampsia; Maternal Health

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Tujuan yang dituangkan dalam Agenda 2030 Sustainable Development Goals (SDG’s) salah satunya mencakup penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi maksimum 12. Angka kelahiran hidup per 1000 penduduk dan angka kematian bayi tidak melebihi 25 per 1000 kelahiran hidup. Multiple kondisi dapat terjadi pada bumil dan bahkan berdampak pada kematiannya. Banyak hal menjadi penyebab kondisi tersebut diataranya adalah tekanan darah tinggi, eklampsia serta infeksi atau keadaan medis yang terjadi pada ibu baik sebelum atau selama menjalani kehamilan yang dapat memperburuk kondisi bumil.

Salah satu faktor penyebab kematian ibu adalah kondisi preeklampsia. Preeklampsia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, pembengkakan, dan adanya protein dalam urin yang muncul selama kehamilan. Preeklamsia umumnya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, dan ada kasus yang parah, kondisi ini bisa berkembang menjadi eklampsia yang ditandai dengan kejang tambahan. Di sisi lain, penyakit ini juga bisa menyerang ibu dan janin, baik salah satu maupun keduanya. Pada ibu, dapat terjadi ekspulsi intrakranial, hematoma subscapular hati, pecahnya pembuluh darah hati, gagal ginjal, edema paru kardiogenik atau nonkardiogenik, perasaan sedih atau depresi, pembengkakan laring, dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Pada janin dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan janin dalam kandungan, kelainan plasenta, ruam kulit, gangguan pernafasan, kematian janin dalam kandungan, keluarnya cairan dari ventrikel pada bayi baru lahir, dan infeksi. American Colege of Obstericians and Gynecologits (ACOG) membagi faktor risiko preeklampsia menjadi tiga tingkatan yaitu risiko rendah, sedang dan tinggi. Persalinan dengan bayi cukup bulan sebelumnya termasuk risiko rendah. Nuliparitas, IMT >30 kg/m2, riwayat keluarga dengan preeklampsia, karaktristik sosio demografi, usia >35 tahun, faktor riwayat pribadi (seperti berat bayi lahir rendah sebelumnya dan jarak kehamilan sebelumya lebih dari 10 tahun) termasuk dalam faktor risiko sedang. Untuk faktor risiko tinggi diantaranya riwayat preeklampsia sebelumnya, kehamilan ganda, hipertensi konik, diabetes tipe 1 atau 2, penyakit ginjal, dan gangguan autoimun. Penyakit jantung juga menjadi salah satu faktor risiko preeklampsia.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari faktor risiko terjadinya preeklamsia, namun keberadaan faktor risiko tersebut tidak selalu menyebabkan terjadinya preeklamsia, dan hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan masih menimbulkan inkonsistensi atau perbedaan penelitian. Pada ibu primigravida lebih berisiko mengalami preeklampsia daripada ibu multigravida, hal ini terjadi karena pada ibu primigravida umumya mengalami villi korionik. Keadaan tersebut disebabkan karena belum matangnya pembentukan komponen imunologi atau antibody penghambat yang dibuat oleh HLA-G terhadap antigen plasenta, sehingga proses implantasi trofoblas masuk dalam desidua basalit menjadi terganggu. Sebuah penelitian case control menyimpulkan bahwa adanya hubungan bermakna pada obesitas dengan preeklampsia. Dalam hal ini diduga wanita hamil memiliki kadar antioksidan yang rendah, sedangkan antioksidan berperan dalam menghambat terjdinya preeklampsia.

Selain itu, pada ibu dengan nilai IMT yang tinggi atau dengan kata lain mengalami obesitas terjadi peningkatan LDL dan penurunan HDL. Hal ini berkaitan dengan berkeringnya migrasi sitotrifoblus ekstrevili dan bertambahnya apotosis tofoblas sehingga meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya prekelampsia yaitu riwayat kunjungan ANC. ANC merupakan pemeriksaan kehamilan yang bertujuan, memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu dan tumbuh kembang janin. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, serta sosial ibu dan bayi. Seorang ibu hamil minimal mendapatkan pelayanan antenatal 6 kali selama masa kehamilannya, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 2 kali pada trimester kedua dan 3 kali pada trimester ke tiga. Dan Ibu Hamil minimal melakukan kontak dengan dokter selama 2 kali yaitu 1 kali pada trimester I (K1) dan 1 kali pada trimester tiga (K5). Kunjungan ANCsecara rutin dapat mendeteksi dini preeklampsia dalam kehamilan. Ibu hamil sebaiknya secara teratur berkunjung untuk ANCguna menghindari gangguan selama masa kehamilan sehingga dapat mengurangi kemungkinan penyulit saat persalinan. Pelayanan ANC sendiri memiliki tujuan untuk memantau perkembangan kehamilan, mendeteksi dini kemungkinan komplikasi dan penyulit selama masa kehamilan serta mempersiapkan persalinan agar ibu dapat memperhatikan dampaknya.

Badan penelitian dan pengembangan Kesehatan Republik Indonesia mencatat daftar pencetus terbesar tingginya AKI di Indonesia adalah preeklampsia (32,4%) dan perdarahan post partum (20,3%). Preeklampsia di Negara maju sebesar 1,3% - 6%, sedangkan di Negara berkembang sebesar 1,8% - 18%. Insiden preeklampsia di Indonesia sendiri adalah 128.273/tahun atau sekitar 5,3%. Secara global preeklampsia merupakan masalah utama, 10% ibu hamil diseluruh dunia mengalami preeklampsia, dan menjadi penyebab 76.000 kematian ibu hamil dan 500.000 kematian bayi 566 bayi. Angka Kematian Ibu di Indonesia pada tahun 2022 berkisar 183 per 100 ribu kelahiran. Sedangkan di Jawa Timur pada tahun 2021 sebesar 234,7 per 100.000 kelahiran hidup menurun menjadi 93 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2022. Menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2020 Angka Kematian Ibu mencapai 53,1 per 100 ribu kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2021 menurun menjadi 52,4 per 100 ribu kelahiran hidup dan pada tahun 2022 menurun kembali menjadi 51,8 per 100 ribu kelahiran hidup. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan dengan melakukan observasi catatan rekam medik RS. Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan Sidoarjo didapatkan data jumlah kunjungan ibu hamil rata-rata setiap bulan sebanyak 96 ibu hamil dengan jumlah ibu hamil yang mengalami tekanan darah diatas 140/90 mmHg rata-rata perbulan sebesar 0,125 % dari total kunjungan ibu hamil selama satu bulan.

Masih tingginya angka kejadian preeklampsia saat ini sehingga diperlukan suatu tindakan pencegahan yang dapat dilakukan dengan kerjasama antarlintas sektoral meskipun kejadian preeklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan cara memberikan Komunikasi informasi edukasi yang memadai dan menerapkan pengawasan yang baik terhadap ibu hamil, sehingga target penurunan Angka kematian ibu dapat tercapai. Komunikasi indikasi edukasi tentang manfaat istirahat dan pola makan bermanfaat dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu di tempat tidur, tetapi pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, diet protein, rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan berat badan sedang perlu dianjurkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil yaitu status paritas, IMT, riwayat pemeriksaan ANC.

Metode

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, desain penelitian observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional.Variabel independen dalam penelitian adalah paritas, Indeks Massa Tubuh dan Riwayat ANC, sedangkan variabel dependen adalah kejadian preeklampsia pada ibu hamil trimester III. Populasi keseluruhan dalam penelitian sebanyak 672 ibu hamil selama periode Januari – Juli 2023 yang didapat berdasarkan data sekunder dari rekam medis. Jumlah sampel dihitung dengan menggunakan rumus slovin, sehingga didapatkan sampel sebesar 250 responden. Sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan kriteria data rekam medik lengkap, dan umur kehamilan > 28 minggu,. Sampel pada penelitian ini diambil menggunakan metode probability sampling dengan tehnik simpel random samplingdiambil secara interval 3 . Pengumpulan data dilakukan dengan mengobservasi data rekam medik yang sesuai dengan kriteria penelitian. Hasil pengumpulan data diolah dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan tabulasi silang. Data dianalisis menggunakan uji statistik chi square ρ value < ά 0,05 maka terdapat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen atau ada hubungan antara paritas, IMT dan riwayat pemeriksaan ANC dengan kejadian preeklampsia. Prinsip etika penelitian yang digunakan adalah menjaga kerahasiaan data yang diperoleh dengan cara mencantumkan inisial atau kode responden.

Hasil dan Pembahasan

A. Karakteristik Responden berdasarkan data umum

No Data Umum Jumlah Frekuensi (%)
Pendidikan
1 SD 11 4
2 SMP 67 27
3 SMA 137 55
4 PT 35 14
Usia
1 < 21 tahun 9 4
2 21-35 tahun 183 73
3 > 35 Tahun 58 23
Pekerjaan
1 Bekerja 76 30
2 Tidak Bekerja 174 70
Usia Kehamilan
1 27-34 Minggu 36 14
2 35-40 minggu 214 86
Total 250 100
Table 1. Karakteristik Responden Berdasarkan data umum

Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai latar belakang pendidikan SMA sebanyak 137 responden (55%). Berdasarkan usia ibu hamil didapatkan data sebagian besar termasuk dalam kategori usia 21-35 tahun sebanyak 183 responden (73%). Berdasarkan pekerjaan responden menunjukkan bahwa sebagian besar tidak bekerja sebanyak 174 respnden (70%) dan berdasarkan usia kehamilan menunjukan bahwa sebagian besar responden dalam kategori usia kehamilan 35-40 minggu sebanyak 214 responden (86%). Berdasarkan data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa masih banyak ibu yang memiliki latarbelakang pendidikan rendah, usia ibu hamil sebagain besar masuk dalam usia tidak beresiko, ibu hamil banyak yang tidak memiliki pekerjaan dan juga usia kehamilan rata-rata pada usia trimester III (35-40 minggu).

B. Karakteristik variabel dengan kejadian Preeklampsia

Karakteristik Variabel Kejadian Preeklampsia Total p Value OR
Prekelampsia Tidak Preeklampsia
f % f % f %
Paritas Primigravida 34 25 103 75 137 100 0.022 2.157
Multigravida 15 13 98 87 113 100
IMT Tidak Obesitas (<25) 16 8 178 92 194 100 0,000 0.06
Obesitas (> 25) 33 59 23 41 56 100
Riwayat ANC Lengkap 25 12 178 88 203 100 0,000 0,135
Tidak Lengkap 24 52 23 48 47 100
Table 2. Analsis Bivariat karakteristik variabel dengan kejadian preeklampsia

Tabel 2 menunjukkan bahwa kejadian preeklampsia berdasarkan paritas lebih banyak pada primigravida sebesar 25% dibandingkan dengan multigravida sebesar 13 %, berdasarkan IMT kejadian preeklampsia lebih banyak pada obesita (>25) sebesar 33% dibandingkan dengan tidak obesitas sebesar 16% dan berdasarkan riwayat ANC kejadian preeklampsia lebih banyak pada riwayat ANC tidak lengkap sebesar 52% dibandingkan dengan riwayat ANC lengkap sebesar 12%. Hal ini menunjukkan bahwa paritas dengan primigravida, IMT dengan obesitas serta riwayat ANC tidak lengkap mempengaruhi kejadian preeklampsia.

Berdasarkan paritas didapatkan nilai p<0,05 (p-value0,022) artinya paritas memiliki hubungan bermakna dengan kejadian preeklampsia. Risiko ibu primigravida mengalami preeklampsia sebesar 2,157 kali dibandingkan dengan ibu multigravida. Hal ini menunjukkan bahwa paritas seseorang dapat mempengaruhi terjadinya preeklampsia. Menurut penelitian Prasetyo,Wijayanegara dan Yulianti yang Dikutip Oleh Palupi menjelaskan bahwa terdapat hubungan karakteristik ibu (pekerjaan, usia dan paritas ) dengan terjadinya preeklamsia. Menurut Benson dan Pernoll menjelaskan bahwa penyebab preeklamsia belum diketahui pasti, namun beberapa hipotesis menyebutkan preeklamsia dapat disebabkan beberapa hal seperti status paritas primigravida atau kehamilan yang terjadi >10 tahun sejak kelahiran terakhir, primimaternitas, riwayat preeklamsia sebelumnya, riwayat keluarga dengan preeklamsia, kehamilan kembar, kondisi medis tertentu, adanya proteinuria, umur >40 tahun, obesitas, dan fertilitas in vitro. Secara teori, primigravida lebih berisiko untuk mengalami preeklampsia daripada multigravida karena preeklampsia biasanya timbul pada wanita yang pertama kali terpapar virus korion. Hal ini terjadi karena pada wanita tersebut mekanisme imunologik pembentukan blocking antibody yang dilakukan oleh HLA-G (human leukocyte antigen G) terhadap antigen plasenta belum terbentuk secara sempurna, sehingga proses implantasi trofoblas ke jaringan desidual ibu menjdi terganggu, Primigravida juga rentan mengalami stress dalam menghadapi persalinan yang akan menstimulasi tubuh untuk mengeluarkan kortisol .

Menurut peneliti sebagian besar ibu yang mengalami preklampsia pada penelitian ini terjadi pada ibu primigravida. Hal ini terjadi karena pada ibu primigravida belum memiliki pengalaman dalam menghadapi proses persalinan dan juga masih beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada dirinya yang akan menjadi seorang ibu sehingga mereka rentan mengalami stress dalam menghadapi proses persalinan. Stress yang terjadi dapat menyebabkan ibu terjadi peningkatan pelepasan corticotropic-releasing hormone (CRH) oleh hipotalamus, yang kemudian menyebabkan peningkatan kortisol. Peningkatan hormon kortisol ini bertujuan agar ibu primigravida dapat mempersiapkan tubuh dalam menghadapi semua stressor yang datang kepadanya melalui peningkatan respon simpatis yang akan meningkatkan curah jantung dan mempertahankan tekanan darah, pada ibu dengan preeklampsia tidak mengalami peristiwa tersebut sehingga peningkatan besar volume darah langsung meningkatkan curah jantung dan tekanan darah. Pada paritas multigravida relatif tidak berisiko mengalami kejadian preeklamsia, hal ini terjadi karena preeklamsia biasanya timbul pada wanita yang pertama kali terpapar vilus korion.

Berdasarkan IMT didapatkan nilai p < 0,05 (p-value 0,000) berarti ada hubungan bermakna antara ibu dengan obesitas terhadap kejadian preeklampsia. Ibu dengan status gizi obesitas memiliki risiko 0,06 kali dibandingkan ibu tidak obesitas. Hal ini senada dengan penelitian Dewi yang menunjukkan hasil yaitu ada hubungan yang bermakna antara Obesitas (p-value = <0,001) OR=9,9 yang artinya ibu hamil dengan obesitas berisiko 9-10 kali mengalami preeklampsia dibandingkan ibu hamil yang tidak obesitas. Didukung pula dengan penelitian Bardja yang menunjukkan bahwa kenaikan berat badan (p=0,000), berisiko secara signifikan dengan kejadian preeklampsia berat pada ibu hamil di RSUD Arjawinangun tahun 2019.

Menurut peneliti IMT yang dimiliki oleh ibu hamil dapat mempengaruhi terjadinya preklampsia. IMT diukur untuk menggambarkan berat badan ibu hamil, di mana pada IMT dengan kategori obesitas menunjukkan adanya kenaikan berat badan yang berlebihan pada ibu hamil sehingga mempengaruhi terjadinya preeklampsia melalui beberapa mekanisme. Ibu hamil yang mempunyai IMT dalam kategori obesitas membutuhkan lebih banyak darah untuk dapat mensuplai oksigen dan makanan di dalam jaringan tubuh mereka. Hal ini memicu terjadinya peningkatan curah jantung yang berdampak terhadap kenaikan tekanan darah ibu.

Berdasarkan pemeriksaan ANC diperoleh nilai p < 0,05 (p-value 0,000) berarti ada hubungan bermakna antara riwayat pemeriksaan ANC dengan kejadian preeklampsia. Ibu dengan riwayat pemeriksaan ANC tidak lengkap memiliki risiko mengalami preeklampsia sebesar 0,135 kali dibandingkan dengan riwayat ANC lengkap. Menurut penelitian Ritongan didapatkan data bahwa hasil uji Chi-square memperlihatkan bahwa nilai p= 0.002 lebih kecil dari 0.05, hal ini berarti riwayat ANC memiliki hubungan signifikan dengan kejadian preeklampsia. Penelitian ini didukung oleh penelitian lain yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemeriksaan ANC dengan kejadian preeklampsia (p value= 0,031, OR= 3,273 dengan 95% CI= 1,224-8,748). Pemeriksaan ANC < 6 kali akan meningkatkan risiko preeklampsia.

Menurut peneliti riwayat pemeriksaan ANC yang kurang atau tidak lengkap akan mempengaruhi terjadinya preeklampsia pada ibu hamil. Hal ini disebabkan karena dengan ANC yang rutin dan teratur serta lengkap ibu dapat mengetahui adanya kelainan kehamilan yang sedang dialami, dengan begitu ibu dapat mengantisipasi dan mencegah agar tidak mengalami preeklampsi, namun ibu yang tidak teratur atau tidak lengkap dalam melakukan kunjungan ANC berdampak terhadap terlambatnya ibu mengetahui adanya kelainan yang dialami pada masa kehamilan, sehingga ibu berisiko mengalami komplikasi kehamilan salah satunya adalah preeklampsia. Adanya ibu hamil yang tidak lengkap dalam pemeriksaan ANC ditunjang dengan latar belakang pendidikan ibu sebagian besar SMA sebanyak 137 responden (55%) menyebabkan ibu masih kurang memahami dengan baik mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan ANC secara teratur dan lengkap selama masa kehamilan.

Berdasarkan fakta dan teori yang ditemukan dapat disimpulkan bahwasannya pemeriksaan ANC menjadi salah satu kegiatan yang penting dan wajib untuk dilakukan oleh ibu hamil selama masa kehamilan, karena dengan melaksanakan pemeriksaan ANC secara rutin dan lengkap akan membantu ibu untuk memperoleh informasi terkait perawatan pada masa kehamilan, mendapatkan vitamin dan informasi terkait asupan gizi yang harus dikonsumsi selama hamil dan dapat mendeteksi secara dini adanya kelainan pada masa kehamilan sehingga mencegah terjadinya komplikasi kehamilan seperti preeklampsia.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor paritas, IMT dan riwayat pemeriksaan ANC mempunyai hubungan signifikan terhadap kejadian preeklampsia pada ibu hamil di RS. Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan Sidoarjo.

Diharapkan untuk tenaga kesehatan dapat memberikan komunikasi, informasi dan edukasi terhadap ibu hamil saat melakukan pemeriksaan ANC sehingga ibu dapat lebih memahami tentang cara menjaga kesehatan selama masa kehamilan sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi kehamilan salah satunya preeklampsia.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada RS. ‘Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan yang telah bersedia untuk menjadi tempat penelitian. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga dan teman telah memberikan dukungan serta doa yang tiada henti sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir secara tepat waktu. Serta saya ucapkan terima kasih kepada diri saya sendiri yang telah meluangkan tenaga dan pikiran dan waktu dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

References

[1] R. Rismawati, S. Notoatmodjo, and L. Ulfa, “Faktor Risiko Terjadinya Preeklampsia Ibu Bersalin,” Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan, vol. 11, no. 1, 2021.

[2] S. Susiana, “Angka Kematian Ibu: Faktor Penyebab Dan Upaya Penanganannya,” Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI, vol. 11, no. 24, 2019.

[3] S. Almaida, S. Dhewi, and E. Handayani, “Hubungan Pola Makan, Paritas, Dan Sikap Ibu Dengan Kejadian Preeklampsia Di RSUD Kuala Pembuang Kabupaten Seruyan Tahun 2021,” Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Kalimantan, vol. 4, no. 2, 2021.

[4] H. M. M. Tendean and F. W. Wagey, “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Preeklampsia,” e-Clinic, vol. 9, no. 1, 2019, doi: 10.35790/ecl.9.1.2021.31960.

[5] R. Muzalfah, Y. D. P. Santik, and A. S. Wahyuningsih, “Kejadian Preeklampsia Pada Ibu Bersalin,” Higeia Journal of Public Health Research and Development, vol. 2, no. 3, 2018, doi: 10.15294/higeia.v2i3.21390.

[6] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/2015/2023,” Jakarta, Indonesia, 2023.

[7] D. R. Fadilah and S. R. Devy, “Antenatal Care Visits and Early Detection of Pre-Eclampsia Among Pregnant Women,” International Journal of Public Health Science, vol. 7, no. 4, p. 248, Dec. 2018, doi: 10.11591/ijphs.v7i4.14769.

[8] T. Ekasari and M. S. Natalia, “Pengaruh Pemeriksaan Kehamilan Secara Teratur Terhadap Kejadian Preeklampsia,” Jurnal Ilmu Kesehatan, vol. 3, no. 1, pp. 24–28, 2019.

[9] A. Setyawati and R. Widiasih, “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Preeklampsia Di Indonesia,” Jurnal Perawat Indonesia, vol. 2, no. 1, p. 32, 2018.

[10] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Profil Kesehatan Indonesia 2021. Jakarta, Indonesia: Kementerian Kesehatan RI, 2022.

[11] Badan Pusat Statistik, Profil Kesehatan Ibu Dan Anak 2022. Jakarta, Indonesia: Badan Pusat Statistik, 2023.

[12] Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Profil Kesehatan Sidoarjo 2022. Sidoarjo, Indonesia: Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, 2023.

[13] D. I. F. Kuswarini and A. F. Wieminaty, “Hubungan Pola Makan Dan Status Gizi Terhadap Kejadian Pre-Eklampsia Di RSIA Srikandi Jember,” Medical Journal of Al Qodiri, vol. 4, no. 1, 2019.

[14] I. M. S. Adiputra et al., Metodologi Penelitian Kesehatan. Denpasar, Indonesia: Yayasan Kita Menulis, 2021.

[15] W. Renny and Y. Yuliastanti, “Pengaruh Stress Pada Ibu Hamil Trimester III Terhadap Aktivitas Janin Yang Dikandung Di Wilayah Puskesmas Grabag I Kabupaten Magelang,” Jurnal Kebidanan, vol. 12, no. 2, pp. 129–266, 2020.

[16] R. Baroah, M. Jannah, E. N. Windari, and D. S. Wardani, “Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Pada Ibu Hamil Dalam Menghadapi Persalinan Dengan Skor Prenatal Attachment Di Praktik Mandiri Bidan Rina Malang,” Journal of Issues in Midwifery, vol. 4, no. 1, pp. 12–19, Apr. 2020, doi: 10.21776/ub.joim.2020.004.01.2.

[17] R. R. Palupi and S. Cholifah, “Relation of Preeclampsia With The Consumption of Calcium and Aspirin in Pregnancy (Pemberian Suplemen Kalsium Dan Aspirin Dengan Kejadian Preeklamsia Pada Ibu Hamil),” Umsida Preprint, 2023.

[18] A. Dewie, A. V. Pont, and A. Purwanti, “Relationship of Age, Gestational Age, and Obesity With Preeclampsia in The Working Area of Puskesmas Kampung Baru Kota Luwuk,” Promotif: Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 10, no. 1, pp. 21–27, 2020.

[19] S. Bardja, “Faktor Risiko Kejadian Preeklampsia Berat/Eklampsia Pada Ibu Hamil,” EMBRIO: Jurnal Kebidanan, vol. 12, no. 1, pp. 18–30, 2020.

[20] A. P. P. Ritonga and A. Ariati, “Hubungan Faktor Risiko Ibu Dengan Kejadian Preeklampsia Di RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2018–2020,” Jurnal Kedokteran STM (Sains Dan Teknologi Medik), vol. 6, no. 1, pp. 106–112, 2023.