Evi Nabella (1), Effy Wardati Maryam (2)
General Background: Prosocial behavior plays a crucial role in adolescent social development and character formation within educational settings. Specific Background: In vocational high schools, students’ social interactions reflect helping, sharing, cooperating, honesty, and generosity, which contribute to a positive school climate. Knowledge Gap: However, empirical data describing the level and distribution of prosocial behavior among vocational high school students remain limited, particularly in specific institutional contexts. Aims: This study aims to describe the prosocial behavior profile of students at SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo. Results: Using a quantitative descriptive design with proportional stratified random sampling, the findings indicate that students’ prosocial behavior generally falls within the moderate category. The helping and cooperating aspects show the highest percentages, while sharing appears at a relatively lower level compared to other dimensions. Novelty: This research provides a context-specific empirical mapping of prosocial behavior among vocational students using a structured multidimensional approach. Implications: The findings offer practical considerations for guidance and counseling programs and character education strategies to strengthen positive social engagement among students in vocational education setting
Keywords: Prosocial behavior, Adolescents, Vocational High School Students, Character Education, Quantitative Descriptive Study
Key Findings Highlights:
Students demonstrate a moderate overall level of social-oriented actions.
Cooperative and helping tendencies dominate the observed dimensions.
Sharing-related actions appear less frequent compared to other indicators.
Perilaku mengabaikan atau tidak memperdulikan orang lain maupun lingkungannya seringkali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari diberbagai tempat. Hal ini menyebabkan hilangnya cinta untuk melakukan kepedulian terhadap sesama atau lingkungan sosialnya. Salah satu lingkungan sosial yang dapat dilihat adalah lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan sosial pertama setelah keluarga tempat siswa berinteraksi. Pengalaman berinteraksi di lingkungan sekolah berperan terhadap perkembangan individu khususnya individu yang berada pada tahap perkembangan remaja. Menurut Hurlock, usia kronologis remaja berkisar antara usia 12-18 tahun. Dimana pada usia tersebut remaja pada umumnya masih berstatus sebagai pelajar atau siswa [1].
Pada titik ini, remaja harus berperilaku prososial untuk menumbuhkan kesadaran tanggung jawab sosial. Baron dan Bryne mendefinisikan perilaku prososial sebagai perilaku yang tidak hanya menolong, tetapi juga berbagi, bekerja sama, dermawan, jujur, dan mementingkan orang lain [2]. Pakar psikologi sosial telah lama memperhatikan perilaku prososial seperti perilaku menolong (helping behavior). Mereka terutama berfokus pada alasan mengapa orang atau kelompok rela mengorbankan waktu, tenaga, dan harta mereka untuk membantu orang lain, serta faktor-faktor yang menyebabkan perilaku prososial ini muncul [3]. Terdapat berbagai macam tindakan perilaku prososial yang dapat dilakukan oleh remaja. Menurut Matondang (2016) terdapat lima aspek perilaku prososial pada remaja yaitu: 1) berbagi 2) kerja sama 3) menolong 4) kejujuran dan 5) kedermawanan [4]. Sebagaimana dijelaskan oleh Yuli Asih et al dalam suatu setting sosial, perilaku prososial yang seringkali muncul adalah tindakan membantu yang ditujukan untuk memberikan bantuan pada orang lain tanpa memiliki alasan lain dibalik perilaku tersebut. Tindakan ini dilakukan sepenuhnya karena kepentingan sendiri, tanpa mengharapkan hasil apa pun dari tindakan tersebut. Untuk melakukan tindakan prososial, seseorang biasanya cenderung memunculkan perilaku membantu orang lain alih-alih berharap mendapatkan imbalan materi atau sosial [5]. Menurut Desmita, perilaku prososial dilakukan secara sukarela untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan hasil dari sumber luar, dan tidak dilakukan untuk kepentingan diri sendiri [6].
Perilaku prososial adalah segala bentuk perilaku yang bersifat sukarela memberikan manfaat materi, fisik, at au psikologis kepada individu atau kelompok [7]. Oleh karena itu, perilaku prososial sangat penting. Perilaku prososial memiliki efek positif, termasuk sosialisasi yang baik dengan lingkungan mereka, kepekaan terhadap lingkungan mereka, peningkatan empati, kepekaan terhadap lingkungan mereka, keterbukaan, dan tanggung jawab [8]. Raposa et al. menyatakan bahwa perilaku prososial juga dapat membantu mengurangi efek negatif dari stres sehari-hari dan menciptakan emosi sejahtera bagi seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Rachmasari & Sakti (2024) menyebutkan bahwa orang yang memiliki perilaku prososial yang rendah cenderung menunjukkan perilaku tidak acuh terhadap kesusahan atau masalah yang dihadapi orang lain, rendahnya empati untuk menolong dan terlibat memberikan pertolongan. Selain itu, dampak negatif dari rendahnya perilaku prososial adalah kesulitan bekerjasama dengan orang lain, enggan membantu dan terkesan kurang acuh kepada orang lain, minimnya empati, hingga antisosial . Dengan demikian, setiap orang diharapkan memiliki perilaku prososial yang baik [9].
Perilaku prososial sudah menjadi bagian dari culture masyarakat Indonesia yang sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Di mana anak-anak dididik untuk berperilaku prososial di rumah, mereka diajarkan untuk membantu ibunya membersihkan rumah, memasak, dan melakukan tugas lainnya. Karena itu, tindakan prososial ini seharusnya sudah menjadi kebiasaan dan pilihan seorang remaja. Karena setiap orang memiliki keinginan alami untuk membantu orang lain. Namun, hal tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi di era digital saat ini, dimana perilaku prososial cenderung rendah. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Cahyaningrom dan Darmawan, kurangnya perilaku prososial adalah masalah yang sering dihadapi siswa SMA. Perilaku ini termasuk sikap apatis, hanya membantu sebatas teman dekat, enggan berbagi ilmu kepada orang lain, serta rendahnya kepedulian kepada orang yang membutuhkan [10]. Hasil penelitian Lestari & Partini menunjukkan bahwa dari 30 siswa di SMAN 8 Surakarta, terdapat siswa yang enggan meminjamkan buku catatan sebanyak 4,2 persen, 3 persen tidak peduli terhadap masalah temannya, tidak tergugah untuk berderma sebanyak 1,8 persen, dan 1,2 persen memilih untuk tetap diam ketika melihat temannya bertengkar [11]. Penelitian yang dilakukan oleh Hariyanto et al turut menjelaskan fenomena tersebut, bahwasannya jiwa sosial remaja pada saat ini cenderung tergolong rendah. Hal tersebut tercermin pada rendahnya rasa tolong menolong, kurangnya kepedulian terhadap orang lain, yang mendukung pandangan bahwa remaja memiliki perilaku prososial yang rendah [12].
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan penulis kepada lima siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo, yang menunjukkan bahwa dua dari tiga siswa mengalami masalah dengan perilaku prososial, seperti kecenderungan siswa lain untuk tidak acuh saat melihat temannya kesulitan, serta rendahnya kerja sama antar teman, yang menyebabkan mereka tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Adanya tindakan saling mencontek pada saat ulangan atau bahkan biasa dilakukan pada saat mengerjakan pekerjaan rumah juga sering terjadi. Serta kurangnya rasa saling menolong antar teman yang sedang dibully baik secara verbal dikarenakan takut terkena imbasnya sehingga dibiarkan saja.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Saleem et al., perilaku prososial yang rendah pada individu juga beriringan dengan rendahnya tanggung jawab sosial, kecenderungan menyakiti orang lain, serta rawan terlibat pada perilaku agresi lainnya. Remaja yang tidak menunjukkan perilaku prososial juga mungkin menunjukkan perilaku agresif tersebut akan berkembang menjadi perilaku yang tidak diinginkan dan bahkan ditolak oleh kelompok sebaya mereka. Hal ini selaras dengan teori Leko et al. bahwa perilaku prososial yang rendah pada remaja inilah yang menyebabkan hilangnya kepekaan sosial dan kepedulian sosial terhadap lingkungan mereka. Hal ini menghasilkan remaja yang individualis dan egois [13]. Pada penelitian yang dilakukan oleh Hamidah di tujuh daerah provinsi Jawa Timur menunjukkan hasil adanya penurunan tingkat kepedulian sosial serta kepekaan remaja terhadap situasi di sekelilingnya. Remaja mungkin lebih terkonsentrasi pada mencapai kesuksesan pribadi daripada ikut berkontribusi pada lingkungan sekitar mereka. Hal tersebut akan berakibat pada sikap apatis, yang akhirnya akan mengurangi kontribusi sosialnya [14].
Berdasarkan fenomena yang telah dipaparkan, penelitian ini penting untuk dilakukan sejalan dengan peran individu terutama yang masih muda sebagai generasi penerus bangsa yang berkemajuan. Dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran terkait pentingnya memupuk perilaku prososial agar tercipta lingkungan dengan individu yang memiliki empati tinggi serta tidak apatis terhadap kesusahan orang lain. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Hanifah dan Hamdan bahwasansnya perilaku prososial yang rendah pada remaja cenderung menumbuhkan perilaku yang sulit diterima atau bertentangan terhadap norma masyarakat [15]. Sebaliknya, tingginya prososial pada remaja cenderung mengembangkan perilaku positif serta memicu kontribusi yang baik pada kehidupan bermmasyarakat. Baron dan Bryne Mengatakan bahwa siswa memiliki banyak aspek perilaku sosial yang baik, 1) berkontribusi saat melihat orang lain memerlukan pertolongan (membantu orang asing yang mengalami kesulitan), 2) mengurangi tindakan pelanggaran dengan menciptakan keamaan dengan tidak melakukan pelanggaran, serta melakukan tindakan preventif untuk meminimalisir terjadinya pelanggaran dengan mempertahankan perilaku moral (menghentikan orang yang melakukan pelanggaran), dan 3) menahan keinginan[16]. Individu yang prososial cenderung menawarkan perlindungan dan bantuan kepada mereka yang kesulitan. Sumber perilaku prososial dapat dilihat dari indikator-indikator perilaku prososial. Dayakisni dan Hudaniah menyebutkan bahwa individu dalam melakukan perilaku prososial terdapat indikator-indikator yang mempengaruhi perilaku prososial atau tidak, indikator-indikator tersebut yaitu situasi, moral, keadaan, emosional, dan perbedaan individu. Perilaku prososial seseorang dapat berbeda-beda tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya [17].
Berdasarkan permasalahan diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai gambaran perilaku prososial pada siswa SMK Sepuluh Nopember di Sidoarjo. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran perilaku prososial pada siswa SMK Sepuluh Nopember di Sidoarjo. Perbadaan dari penelitian sebelumnya yaitu pada penelitian terdahulu adalah, pada penelitian terdahulu menjelaskan atau membahas perilaku prososial sebagai variable yang terkait pada variable lain seperti yang dilakukan oleh Arvianna, dkk (2021) yang berjudul “hubungan antara religiusitas dengan perilaku prososial” , penelitian Oktasavira yang berjudul “Hubungan Antara Attachment Orang Tua Dengan Perilaku Prososial Pada Siswa” [18]. Sedangkan penelitian yang menjelaskan secara deskriptif atau spesifik mengenai perilaku prososial pada siswa SMK Sepuluh Nopember yang sebelumnya masih belum pernah diteliti. Selain itu peneliti mengulas perilaku prososial pada subyek remaja atau siswa SMK yang masih jarang dikaji oleh peneliti lain. Maka dari itu, penelitian ini penting untuk dilakukan guna memberi referensi yang bersifat kebaruan. Penelitian ini bertujuan menjabarkan bagaimana keseluruhan gambaran umum pada perilaku prososial. Terutama pada kalangan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK).
Jenis penelitian kuantitatif deskriptif ini digunakan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan hasil statistik dari fenomena saat ini, sehingga hasil penelitian ini tidak berisi hubungan, keterkaitam, atau perbedaam antara satu variabel dengan variabel lain. Perilaku prososial adalah variabel penelitian ini. Penelitian ini melibatkan 210 siswa dari kelas X dan XI FKK (FatmasiKlinis dan Komunitas) di SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo yang berusia antara 16 dan 18 tahun. Tabel Issac & Michael digunakan untuk mengambil sampel dari 131 siswa kelas X dan XI FKK (FarmasiKlinis dan Komunitas), dengan taraf kesalahan 5%. Dalam penelitian ini, teknik sampel proporsional stratified random sampling digunakan. Azwar menjelaskan bahwa metode ini dapat digunakan ketika populasi memiliki komponen atau anggota yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional [19].
Pengambilan data menggunakan model skala likert dengan alat ukur adopsi dari jurnal Balengka dengan nilai reabilitas 0,889 [20]. Aitem penelitian yang digunakan ini sebanyak 50 item pernyataan yang mengacu pada teori perilaku prososial menurut Mussen seperti tindakan berbagi (sharing), menolong (helping), menyumbang (donating), kerjasama (cooperative) dan jujur (honesty). Item valid dalam penelitian ini memiliki koefisien bergerak 0,619–0.930 dan reliabilitas 0,978. Analisis menggunakan statistik deskriptif, yang berarti hasil penelitian disajikan dalam bentuk narasi atau deskripsi dari tabel, diagram, grafik, atau presentase yang disajikan.
bentuk tabel, diagram lingkaran, grafik, atau perhitungan peresentase dengan kalimat deskriptif.
1. Kategorisasi
Sumber : Data diolah SPSS, 2023
Hasil tabel 1 menunjukka bahwa presentase perilaku prososial pada siswa kelas X dan XI FKK (FarmasiKlinis dan Komunitas) yang berjumlah 131 siswa dominan pada taraf sedang. Dalam hal ini diketahui bahwa siswa yang memiliki perilaku prososial pada taraf sedang sebanyak 96,2% atau 126 siswa. Sebanyak 2,3% atau 3 siswa yang berada pada taraf tinggi, dan 1,5% atau 2 siswa berada pada taraf rendah.
2. Tingkatan Perilaku Prososial pada Siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo Berdasarkan Aspeknya
Figure 1. Diagram 1. Gambaran Aspek-Aspek Perilaku Prososial
Diagram 1 menujukkan gambaran aspek-aspek perilaku prososial pada siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo. Diagram tersebut memperlihatkan apabila siswa dominan pada aspek membantu (helping) dan kerjasama (cooperating) yang sama-sama mendapatkan nilai 93,1%. Fitri et al. [21] mendukung hasil penelitian ini. Fitri et al. menyatakan apabila indikator membantu pada peserta didik berada dalam kategori yang baik. Artinya peserta didik mampu untuk memberikan ketersediaannya dalam membantu atau memberikan pertolongan dan dukungan pada orang lain yang sedang mengalami kesulitan dengan baik. Selain itu penelitian ini juga mengungkap jika aspek kerjasama pada perserta didik berada dalam kategori cukup baik karena mereka bersedia untuk bekerjasama untuk menerima pendapat atau masukan dari orang lain. Menurut Yunita & Yusfarani siswa masih belum mempunyai rasa ketersediaan dalam berbagi dengan siswa lain. Pernyataan tersebut menunjukkan jika perilaku sosial pada aspek berbagi (sharing) siswa lemah atau rendah. Siswa kurang menekankan perhatian pada norma-norma prososial yang akhirnya bisa menimbulkan perilaku antisosial atau tidak mempunyai peduli dengan keadaan lingkungan. Seperti pada hasil penelitian ini yang memperlihatkan dalam aspek berbagi (sharing) berada dalam kategori paling rendah dengan nilai sebesar 67,2%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku prososial pada siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo berada pada kategori sedang. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar perilaku prososial siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo memiliki nilai presentase sebesar 96,2% [22]. Menurut Eisenberg, perilaku prososial adalah ketika seseorang berusaha mengubah keadaan fisik atau mental penerima sehingga penolong merasa sejahtera atau puas secara psikologis atau material. Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa keempat aspek prososial didominasi oleh skor sedang. Namun, aspek yang paling dominan dimiliki oleh siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo adalah aspek membantu (helping) dan kerjasama (cooperating). Dalam hal ini, sebanyak 93.1% atau 122 dari 131 siswa menyatakan bahwa ia memiliki perilaku membantu (helping) yang sedang, dengan indikator perilaku berupa memberi bantuan baik berupa uang, dukungan moril, dan mau turut terlibat membantu menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh temannya. Selain itu pada aspek kerjasama (cooperating), terdapat 93.1% atau 122 dari 131 siswa yang memiliki kerjasama sedang dengan indikator perilaku berupa bekerja sama dengan siswa lain untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan baik berupa pelajaran di kelas, ketika praktik, maupun pekerjaan rumah (PR).
Dilihat dari aspek berbagi (sharing) diketahui bahwa aspek berbagi, tergolong dalam kategori "sedang". Dengan nilai presentase 67.2% atau 88 responden masuk ke dalam kategori "sedang", hal ini menunjukkan sebagian besar responden siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo melakukan tindakan berbagi (sharing). Hal ini juga menunjukkan bahwa siswa kelas X dan XI FKK SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo cenderung melakukan perilaku berbagi dalam tingkat yang cukup wajar. Hal tersebut ditunjukan oleh Siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo dalam melakukan tindakan berbagi yang mereka lakukan yaitu bersedia memberikan waktu mendengarkan masalah orang lain dan memberikan atensinya untuk memahami kesulitan orang lain. Namun masih ada sedikit pengecualian yaitu kesediaan siswa dalam hal berbagi perasaan ketika mengalami kesulitan dalam belajar Meskipun mereka tidak terlalu aktif dalam berbagi, tetapi juga tidak menunjukkan ketidakpedulian yang signifikan terhadap kebutuhan orang lain [23]. Menurut Hurlock dalam penelitian Sari dan Eliza (2021: 246), berbagi merupakan anak yang mau mambagi apa yang dimilikinya kepada teman sebaya. Perilaku berbagi dapat membantu mengembangkan rasa empati siswa, karena mereka harus memahami kebutuhan dan perasaan orang lain untuk dapat berbagi dengan mereka. Hal ini dapat berdampak positif pada kemampuan siswa untuk memahami dan bersikap lebih peka terhadap orang lain di masa depan.
Kemudian aspek membantu (helping), sebagian besar responden menunjukkan bahwa pada dimensi membantu, tergolong dalam kategori "sedang". Dengan nilai presentase sebesar 93.1% atau 122 responden berada dalam kategori "sedang". Hal ini menunjukkan bahwa siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo memiliki kesediaan untuk membantu teman atau orang lain yang membutuhkan [24]. Hal tersebut didukung oleh Mussen, berpendapat bahwa perilaku prososial memiliki beberapa komponen. Salah satunya adalah membantu, yang berarti bersedia membantu atau membantu orang lain yang mengalami kesulitan, baik materil maupun moril. Dengan cara ini, mungkin mendorong siswa untuk bekerja sama satu sama lain.
Aspek berdemawan (donating), sebagian besar responden menunjukkan bahwa dalam dimensi berdermawan, berada dalam kategori "sedang". Terlihat dengan hasil presentase sebesar 92.4% atau 121 responden berada dalam kategori "sedang". Hal ini menunjukkan adanya perilaku dermawan yang dilakukan oleh siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo dengan memberikan secara sukarela sebagian barang, tenaga atau materi kepemilikkannya kepada temannya yang membutuhkan [25]. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan White & Dhal (2019) yang menyatakan bahwa perilaku donasi merupakan salah satu bentuk perilaku prososial, yaitu dengan membantu orang tertentu atau membantu masyarakat luas. Dengan hal itu maka diharapkan siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo dapat meningkatkan rasa percaya diri dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Selanjutnya Aspek Kerjasama (cooperating), Hasil riset menunjukkan bahwa pada dimensi kerjasama, tergolong dalam kategori "sedang". Dapat dilihat bahwa 93.1% atau 122 responden berada dalam kategori "sedang". sebagai indikator perilaku prososial, hal ini menunjukkan bahwa siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo mampu bekerja sama dalam kelompok, menempatkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi seperti menyelesaikan tugas kelompok bersama, saling bekerjasa dalam menyelesaikan tugas bersama. Marion (2015) menyebutkan kerja sama sebagai bekerja sama, yang merupakan kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan, dan juga bekerja sama, yang merupakan kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama, biasanya dengan cara yang menguntungkan, memberi, atau menolong satu sama lain, dan menyenangkan [26].
Sedangkan pada aspek jujur (honesty), Dari hasil penelitian, terlihat bahwa dalam aspek kejujuran, berada dalam kategori "sedang". Dengan presentase sebesar 90.8% atau 119 responden berada dalam kategori "sedang". menyoroti pentingnya integritas dalam perilaku prososial. Kejujuran menciptakan lingkungan di mana setiap individu dapat saling percaya dan mengandalkan [27]. Hal ini menunjukkan siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo memiliki tingkat kejujuran yang baik. Oleh karena itu, siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo dapat meningkatkan kepercayaan diri dan orang lain setiap saat. Hal tersebut didukung oleh Sultonurohman (2017) yang menyatakan bahwa individu yang memiliki kejujuran cenderung menunjukkan perilaku yang baik sehingga bisa menumbuhkan kepercayaan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Utami, et al., (2020) menambahkan bahwa aspek komunikasi yang efektif dibangun dengan adanya kejujuran sehingga dapat menumbukan rasa saling percaya antar sesama. Akan tetapi hal ini juga berlaku sebaliknya, dimana jika siswa SMK Spuluh Nopember Sidoarjo bersikap tidak jujur. Maka akan kesulitan untuk mempercayai diri sendiri dan tidak dipercayai orang lain.
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan atau kekurangan karena tema yang digunakan umum dan terjadi pada populasi yang luas. Selain itu, karena penelitian ini hanya menggunakan satu variabel, peneliti menyadari bahwa perilaku prososial dapat dikaitkan dengan banyak variabel psikologis lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul "Gambaran Perilaku Prososial pada Siswa SMK Sepuluh Nopember di Sidoarjo", dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial pada siswa SMK tersebut memiliki variasi yang dapat dikategorikan sebagai "sedang" pada berbagai aspek yang diteliti, seperti berbagi, membantu, berdermawan, kerjasama, dan jujur. Meskipun mayoritas siswa berada pada kategori "sedang" dalam setiap aspek, namun aspek yang paling dominan dimiliki oleh siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo adalah aspek membantu (helping) dan kerjasama (cooperating). Kedua aspek tersebut unggul karena sebanyak 122 dari 131 siswa menyatakan bahwa mereka memiliki dan melakukan aspek- aspek tersebut. Perilaku membantu (helping) memiliki indikator perilaku berupa memberi bantuan baik berupa uang, dukungan moril, dan mau turut terlibat membantu menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh temannya. Selain itu pada aspek kerjasama (cooperating) siswa memiliki kerjasama yang cukup baik dengan indikator perilaku berupa bekerja sama dengan siswa lain untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan baik berupa pelajaran di kelas, ketika praktik, maupun pekerjaan rumah (PR).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa meskipun siswa secara umum memiliki tingkat perilaku prososial yang "sedang", masih ada ruang untuk perbaikan dan pengembangan. Penting bagi institusi pendidikan dan para pengajar untuk lebih fokus pada pembentukan sikap-sikap positif, seperti kerjasama, dan jujur, agar siswa dapat lebih aktif dalam berpartisipasi dalam kegiatan prososial. Tindakan pencegahan dan intervensi perlu dilakukan agar siswa dapat menginternalisasi dan mengaplikasikan perilaku prososial dalam berbagai aspek kehidupan mereka, serta mengurangi kemungkinan tumbuhnya sikap individualis dan perilaku tidak jujur di masa depan.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucap syukur dan berterimakasih banyak kepada jajaran pihak yang membantu kelancaran penelitian hingga tercipta jurnal ilmiah yang berkebaruan ini. Terimakasih kepada Kepala Sekolah SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian pada siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo.Terimakasih kepada Guru Kelas/Wali kelas yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian pada Siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo. Tak lupa peneliti berterimakasih banyak kepada responden penelitian ini, yaitu Siswa SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo.
[1] F. Suryaningsih, S. M. Karini, and N. A. Karyanta, “Hubungan antara Self-Disclosure dengan Stres pada Remaja,” Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa, vol. 4, no. 4, pp. 300–310, 2016.
[2] L. P. Ruliati, Y. Damayanti, and D. L. Anakaka, “Analisis Perkembangan Moral Terhadap Perilaku Prososial Remaja Akhir,” vol. 1, no. 2, pp. 112–123, 2019.
[3] M. Hadori, “Perilaku Prososial (Prosocial Behavior): Telaah Konseptual Tentang Altruisme dalam Perspektif Psikologi,” Pengembangan Pemikiran dan Kebudayaan, vol. 8, no. 1, pp. 1–13, 2014.
[4] G. Adio and R. Maria, “Adaptasi Kelompok Usia Produktif Saat Pandemi Covid-19,” Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, vol. 2, no. 2, pp. 142–149, 2020.
[5] S. Yuliati, “Gambaran Perilaku Prososial Siswa SMP Negeri di Kabupaten Y pada Situasi Pandemi Covid-19,” Jurnal Pendidikan dan Konseling, vol. 4, no. 4, pp. 4257–4263, 2022.
[6] D. R. Jauhari, “Gambaran Perilaku Prososial Remaja pada Siswa MTs,” Quanta, vol. 2, no. 2, pp. 67–74, 2018.
[7] M. D. A. Noya, “Hubungan antara Internal Locus of Control dengan Perilaku Prososial pada Pelajar di SMA Negeri 1 Halmahera Utara,” Jurnal Hibualamo, vol. 2, no. 1, pp. 10–17, 2018.
[8] R. Elistantia, Yusmansyah, and D. Utaminingsih, “Hubungan Dukungan Sosial Orang Tua dengan Perilaku Prososial,” ALIBKIN (Jurnal Bimbingan Konseling), vol. 6, no. 1, pp. 1–11, 2018.
[9] S. Rachmasari and H. Sakti, “Hubungan antara Kecerdasan Spiritual dengan Perilaku Prososial,” Jurnal Empati, vol. 13, no. 1, pp. 50–55, 2023.
[10] S. Suparmi and S. Sumijati, “Pelatihan Empati dan Perilaku Prososial pada Anak Usia Sekolah Dasar,” Psikodimensia, vol. 20, no. 1, pp. 46–55, 2021.
[11] E. Wulandari and Satiningsih, “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Prososial pada Siswa Kelas XI,” Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 5, no. 3, pp. 1–6, 2018.
[12] U. Suroso, F. Maramis, and M. J. Farid, “Meningkatkan Perilaku Prososial Pelajar Sekolah Menengah Atas melalui Pembelajaran Karakter,” Jurnal Psikologi Indonesia, vol. 9, no. 1, pp. 88–104, 2020.
[13] R. Dewi and D. Darmawansyah, “Peningkatan Perilaku Prososial melalui Layanan Bimbingan Kelompok,” Original Article, vol. 2, no. 1, pp. 1–8, 2022.
[14] N. D. Leko, S. Saragih, and A. E. Ariyanto, “Perilaku Prososial pada Remaja Ditinjau dari Penalaran Moral dan Tanggung Jawab,” Jurnal Ilmiah Indonesia, vol. 1, no. 1, 2020.
[15] H. Niva, “Penerapan Pendekatan Cinematherapy untuk Meningkatkan Perilaku Prososial,” Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling, vol. 2, no. 1, pp. 41–48, 2016.
[16] F. D. Hanifah and S. R. Hamdan, “Kontribusi Religiusitas terhadap Perilaku Prososial Guru Sekolah Inklusi,” Jurnal Psikologi Islam dan Budaya, vol. 4, no. 1, pp. 67–80, 2021.
[17] R. R. Ayudhia and I. F. Kristiana, “Hubungan antara Hardiness dengan Perilaku Prososial,” Empati, vol. 5, no. 2, pp. 205–210, 2016.
[18] E. Megawati and Y. K. Herdiyanto, “Hubungan antara Perilaku Prososial dengan Psychological Well-Being pada Remaja,” Jurnal Psikologi Udayana, vol. 3, no. 1, pp. 132–141, 2016.
[19] L. F. Arvianna, N. A. Mashabi, and U. Hasanah, “Hubungan antara Religiusitas dengan Perilaku Prososial pada Remaja,” JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan), vol. 8, no. 1, pp. 67–80, 2021.
[20] N. Oktasavira, “Hubungan antara Attachment Orang Tua dengan Perilaku Prososial,” Empati: Jurnal Bimbingan dan Konseling, vol. 8, no. 1, pp. 96–109, 2021.
[21] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2012.
[22] K. B. Balengka, D. Y. Khairun, and R. Rahmawati, “Perilaku Prososial Siswa dan Implikasi Program dalam Bimbingan Pribadi Sosial,” Personifikasi: Jurnal Ilmu Psikologi, vol. 12, no. 1, pp. 84–99, 2021.
[23] H. Fitri, I. Astuti, and Y. Yuline, “Analisis Perilaku Prososial Peserta Didik Kelas VIII,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 10, no. 12, pp. 1–8, 2021.
[24] Yunita and D. Yusfarani, “Analisis Perilaku Prososial Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2,” Jurnal Ilmiah P2M STKIP, vol. 7, no. 2, pp. 108–117, 2020.
[25] K. Y. Anjani, “Hubungan antara Empati dengan Perilaku Prososial pada Siswa SMK,” Psikologi, vol. 5, pp. 1–6, 2018.
[26] U. Hasanah et al., “Bukber (Bulan Kita Berbagi) pada Masa Pandemi Covid-19,” Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 1, no. 1, 2021.
[27] A. Solihat, E. E. Rohaeti, and T. Alawiyah, “Gambaran Perilaku Prososial Siswa Kelas VII,” Fokus, vol. 4, no. 3, pp. 241–249, 2021.
[28] D. Laksmidewi et al., “Pengaruh Daya Tarik Perasaan Bersalah dalam Pesan Donasi,” Jurnal Ilmiah Manajemen, vol. 11, no. 1, pp. 22–35, 2021.
[29] N. Hasanah and R. Drupadi, “Perilaku Prososial Anak Selama Pandemi Covid-19,” Buana Gender, vol. 5, no. 2, 2020.
[30] N. Liza and S. Wahyuni, “Peranan Guru Bimbingan dan Konseling dalam Pemberian Layanan Informasi untuk Mengembangkan Perilaku Jujur Siswa,” Manajemen Pendidikan Islam, vol. 4, no. 2, pp. 381–394, 2023.