<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Rip Current-Driven Abrasion: Unveiling Effects on Kota Bani Beach</article-title>
        <subtitle>Abrasi yang disebabkan oleh arus: Mengungkap Dampak yang Terjadi di Pantai Kota Bani</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-9d61525aa161479a4bce8212cf5cc5ae" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Putri</surname>
            <given-names>Hestyna Eka</given-names>
          </name>
          <email>supiyati_116@unib.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-64413550b30995c3935522d31b03628d" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Supiyati</surname>
            <given-names>Supiyati</given-names>
          </name>
          <email>supiyati_116@unib.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
        <contrib id="person-325421ed485e7d141fb8eb0c12efb630" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Suwarsono</surname>
            <given-names>Suwarsono</given-names>
          </name>
          <email>supiyati_116@unib.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2023-08-04">
          <day>04</day>
          <month>08</month>
          <year>2023</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-f9cc353a66f621213e470f299b323709">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-13">Pantai memiliki fungsi sebagai <italic id="_italic-36">buffer </italic>atau penghalang dari serangan gelombang, sehingga melindungi tebing pantai dan kontruksi bangunan seperti pemukiman masyarakat di sepanjang garis pantai [1]. Ketika pantai tidak mampu berfungsi sebagai <italic id="_italic-37">buffer </italic>lagi maka dapat menyebabkan kerusakan pada daerah pantai salah satunya abrasi. Abrasi memberikan banyak dampak seperti dapat membahayakan pengunjung pantai ditambah lagi jika tidak memiliki fasilitas pengawasan. Jika terjadi secara terus-menerus dapat menggerus daratan yang menyebabkan kerugian masyarakat sekitar [2]. Faktor alam yang mempengaruhi abrasi adalah arus laut. Salah satu arus yang terdapat dipantai adalah arus <italic id="_italic-38">rip</italic><italic id="_italic-39">current</italic>[3].</p>
      <p id="_paragraph-14"><italic id="_italic-40">Rip current </italic>merupakan arus di dekat pantai yang sangat berbahaya, terkonsentrasi melewati jalur sempit yang mengalir kuat ke arah laut pada zona pecah gelombang (<italic id="_italic-41">surf zone</italic>) dan melintasi gelombang pecah sampai ke lepas pantai [4]. <italic id="_italic-42">Rip current </italic>dapat menjadi penyebab terjadinya abrasi karena kuatnya arus <italic id="_italic-43">rip current </italic>mampu menarik tanah di pesisir pantai, yang mana tanah itu sebelumnya telah terdorong oleh arus <italic id="_italic-44">longshore current </italic>[5]. Setelah dilakukan survei sebelum penelitian <italic id="_italic-45">rip current </italic>banyak ditemukan di kawasan Provinsi Bengkulu, salah satunya di Kabupaten Bengkulu Utara, Kecamatan Putri Hijau tepatnya Pantai Kota Bani. Pantai Kota Bani yang memiliki topografi curam, yaitu daratan lebih tinggi dibanding laut. Kondisi ini menyebabkan rawan mengalami kerusakan akibat abrasi dan sampai saat ini belum ditanggulangi oleh pemerintah. Semakin lama, jika dibiarkan pengikisan tanah di sekitar pantai ini dapat menggerus lahan perkebunan kelapa sawit warga dan akan mengalami banyak kerugian bagi warga sekitar.</p>
      <p id="_paragraph-15">Penelitian terkait masalah <italic id="_italic-46">rip</italic><italic id="_italic-47">current</italic>dan abrasi telah dilakukan oleh Supiyati, Ratmo dan Suwarsono mengenai identifikasi potensi arus rabak (<italic id="_italic-48">rip</italic><italic id="_italic-49">current</italic>) pernah dilakukan di perairan Pantai Sekunyit Bengkulu Selatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa zona potensi sering terjadinya arus rabak berada di sebelah Tenggara Pantai Sekunyit baik musim barat maupun musim timur [6]. Penelitian menggunakan citra satelit oleh Supiyati, Sulistyo dan Oktami mengenai perubahan garis pantai selama 10 tahun (2006-2016). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 10 tahun terakhir laju rata-rata perubahan garis pantai akibat abrasi sebesar 12,63-18,48 meter/tahun, dengan abrasi tertinggi terjadi di daerah Muara Sambat (Maje) [7]. Berdasarkan permasalahan yang terjadi di Pantai Kota Bani Kecamatan Putri Hijau dan beberapa penelitian sebelumnya, maka Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi zona <italic id="_italic-50">rip</italic><italic id="_italic-51">current</italic>dan mengetahui pengaruh <italic id="_italic-52">rip</italic><italic id="_italic-53">current </italic>terhadap abrasi di Pantai Kota Bani, Kecamatan Putri Hijau.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-f2a53ce03aca108ef2f16acae9f10633">
      <title>Metode </title>
      <p id="_paragraph-17">Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Kota Bani, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara pada tanggal 14 dan 15 Januari 2023 Pengambilan data lapangan dibagi menjadi 2 titik penelitian yaitu di titik abrasi dan tidak terabrasi. titik 1 terletak pada koordinat 3°14'5.57"S dan101°36'50.85"E, titik 2 terletak pada koordinat 3°13'57.17"S dan 101°36'43.84"E. Seperti terlihat pada Gambar 1.</p>
      <fig id="figure-panel-6ab3dd2ab9fe3a84fb0ea6314abd5050">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>Peta Pantai Kota Bani</title>
          <p id="paragraph-fa4d21c2e6460a2c8d23fddebe5c731f" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-c78b98b8ed3f18090eb7ab0d67a920f9" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="7141 g 1.jpg" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-19">Pengambilan data lapangan dimulai dengan tahap persiapan yaitu melakukan survei pantai yang terdampak abrasi dan terdapat arus <italic id="_italic-54">rip current</italic>, kemudian menentukan titik pengambilan data. Selanjutnya, pengambilan data yang pertama yaitu penentuan morfologi pantai dengan mengukur kemiringan pantai disetiap titik lokasi penelitian dengan menggunakan <italic id="_italic-55">clinometer</italic>, mengetahui jenis pantai, dan bentuk pantai. Pengukuran kecepatan arus dengan menggunakan <italic id="_italic-56">current metter. </italic>Pengambilan data lapangan arus laut dilakukan selama 15 menit disetiap titik dengan interval waktu 1 menit dan arah arus dapat dilihat dengan menggunakan kompas. Setelah itu, tinggi gelombang laut diukur menggunakan <italic id="_italic-57">Tide Gauge </italic>selama 2 jam dengan interval waktu 1 menit. Periode gelombang diamati dengan menggunakan <italic id="_italic-58">stopwatch</italic>dengan interval 1 menit dalam 2 jam. <italic id="_italic-59">Rip current </italic>diamati menggunakan foto udara menggunakan <italic id="_italic-60">drone</italic>pada zona terabrasi dan tidak terabrasi.</p>
      <p id="_paragraph-20">Selanjutnya, data hasil kecepatan dan arah arus di pantai Kota Bani, Kecamatan Putri Hijau digambarkan dalam grafik kecepatan dan arah arus yang diolah dengan <italic id="_italic-61">Software Microsoft Excel</italic>. Setelah itu, data hasil tinggi dan perioda gelombang di Pantai Kota Bani, Kecamatan Putri Hijau digambarkan dalam grafik tinggi dan periode gelombang terhadap waktu yang diolah dengan <italic id="_italic-62">Software</italic><italic id="_italic-63">Microsoft</italic><italic id="_italic-64">Excel</italic>. Selanjutnya tinggi dan perioda gelombang diolah dengan melakukan perhitungan menggunakan persamaan 1 untuk menentukan nilai <italic id="_italic-65">irribaren</italic>yang kemudian disesuaikan dengan klasifikasi untuk menentukan tipe gelombang pecah Pantai Kota Bani [8].</p>
      <fig id="figure-panel-5570aa33ef091826d93f2ea6a7c4ab4e">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-b2cab5e83f20d60150dc57137b136bb2" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-28ccdaafa9b7800352c6243a1339d418" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="7141 g 2.jpg" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-28">Keterangan :</p>
      <p id="_paragraph-29">𝐻𝑏 : Tinggi gelombang pecah (m)</p>
      <p id="_paragraph-30">𝑁i : Bilangan <italic id="_italic-66">Irribaren</italic></p>
      <p id="_paragraph-31">𝛽 : Sudut kemiringan pantai (°)</p>
      <p id="_paragraph-32">𝜆 : Panjang gelombang (m) (dapat dihitung menggunakan persamaan 2) T : Periode (detik)</p>
      <p id="_paragraph-33">g : Kecepatan gravitasi (m/𝑠<sup id="_superscript-7">2</sup>)</p>
      <p id="_paragraph-34">d : Kedalaman gelombang pecah (m) (dapat dihitung menggnakan persamaan 3)</p>
      <p id="_paragraph-35">Hasil foto udara menggunakan <italic id="_italic-67">drone </italic>di diolah menggunakan <italic id="_italic-68">Software ArcGIS </italic>untuk pemetaan zona yang berpotensi munculnya <italic id="_italic-69">rip current </italic>di Pantai Kota Bani. Analisis data yang dilakukan dalam model penelitian ini menggunakan metode secara deskriptif dan kuantitatif. Secara deskriptif yaitu dengan menganalisis data hasil pengolahan dalam bentuk gambar dan grafik, seperti grafik kecepatan arus laut dan gelombang laut. Analisis secara kuantitatif berdasarkan hasil dari pengukuran dan menghitung nilai bilangan <italic id="_italic-70">irribaren (</italic>𝑁i) untuk menentukan tipe gelombang pecah.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-fe7425cb0c694a33ad9b15173e76b0b7">
      <title>Hasil dan Pembahasan </title>
      <p id="paragraph-7d52743d07c4474a36c3b3af3910a352">
        <bold id="bold-6649e20a8826942c212d9e49d5bc5dd6">A. Morfologi Pantai</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-37">Hasil pengukuran morfologi Pantai Kota Bani tergolong cukup curam pada setiap titiknya. Titik 1 ini berada di daerah pantai yang terabrasi sedangkan titik 2 berada di daerah pantai yang tidak terabrasi. Kemiringan pantai tertinggi berada di titik 2 yaitu dengan kemiringan 18° dan titik 1 memiliki kemiringan yang rendah yaitu dengan kemiringan 16° dengan rata-rata kemiringan pantainya sebesar 17°. Morfologi pantai memiliki pengaruh akan kondisi gelombang laut [9]. Kemiringan pantai yang curam dapat menjadi faktor penyebab terjadinya abrasi karena dapat menimbulkan <italic id="_italic-71">run up </italic>gelombang yang mana <italic id="_italic-72">longshore current </italic>dan <italic id="_italic-73">rip current </italic>bekerja secara sistematis membawa material ke arah laut [5]. Berdasarkan hasil pengukuran Pantai Kota Bani termasuk pantai yang curam dan memiliki jenis pantai yang berbatu dan berpasir dengan bentuk pantai yang lurus.</p>
      <p id="paragraph-ae18077af72e65a2881c443cdf2ca095">
        <bold id="bold-f303187f42837eca4fa6f2d174ff0ff2">B. Arus Laut</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-38">Pengukuran kecepatan arus di Pantai Kota Bani dilakukan selama 15 menit dengan interval waktu 1 menit pada setiap titiknya. Berdasarkan hasil pengukuran, kecepatan arus laut cenderung bersifat fluktuatif yaitu mengalami peningkatan atau penurunan [10].</p>
      <p id="_paragraph-39">Pengukuran titik 1 di zona terabrasi diperoleh kecepatan arus maksimumnya sebesar 1,9 m/s dan kecepatan arus minimum 0,8 m/s sehingga kecepatan rata-rata sebesar 1,18 m/s. Pengukuran titik 2 di zona tidak terabrasi diperoleh kecepatan arus maksimumnya sebesar 1,7 m/s dan kecepatan arus minimum 0,6 m/s sehingga kecepatan rata-rata sebesar 1,09 m/s. Grafik dapat dilihat pada Gambar 2. Kecepatan arus laut yang terjadi dikarenakan oleh gaya dorong angin yang bertiup diatas laut serta perbedaan kemiringan yang signifikan [11]. Sehingga, semakin kencang angin maka semakin besar kecepatan arus yang dihasilkan begitupun sebaliknya.</p>
      <fig id="figure-panel-4753c45d06010b8e535397c024e924e2">
        <label>Figure 3</label>
        <caption>
          <title>Kecepatan arus Pantai Kota Bani : (a.) Zona terabrasi, (b.) Zona tidak terabrasi</title>
          <p id="paragraph-4910beb0d7df5c0550b474e44241c566" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-5d4c8718805af38c217a83f9fec53009" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="7141 g 2 new.jpg" />
      </fig>
      <p id="paragraph-3b4d989f0431980651e978c5a3ef42b0">
        <bold id="bold-3a798a2acd96c12b9e09c005c9167cff">C. Gelombang Laut</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-42">Gelombang laut di Pantai Kota Bani tergolong cukup tinggi, dari hasil pengukuran gelombang tertinggi mencapai 1,72 m dan terendah 0,01 m dengan rata-rata ketinggian mencapai 0,80 m/s pada zona terabrasi sedangkan di zona tidak terabrasi ketinggian gelombangnya 1,37 m/s dan terendah 0,2 m/s sehingga ketinggian rata-ratanya sebesar 0,33 m/s. Berdasarkan hasil pengukuran tinggi gelombang menunjukkan bahwa tinggi gelombang tertinggi berada di di zona terabrasi. Grafik dapat di lihat pada Gambar 3.</p>
      <fig id="figure-panel-eb58bb047db2caa9b1088c49e6e93afe">
        <label>Figure 4</label>
        <caption>
          <title>Ketinggian Gelombang Pantai Kota Bani : (a.) Zona Terabrasi, (b.) Zona Tidak Terabrasi Pengambilan data lapangan periode gelombang dan tinggi gelombang yang dilakukan pada pukul 11:44 WIB</title>
          <p id="paragraph-43341411d2d7fbd4fcedd0fa5341c5bb" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-304c16ee7950b3f956ce7eff309c79ab" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="7141 g 3.jpg" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-45">Pengambilan data lapangan periode gelombang dan tinggi gelombang yang dilakukan pada pukul 11:44 WIB sampai dengan 18:29 WIB.  Periode tertinggi berada di titik 2 zona tidak terabrasi dengan nilai 9,08 s dan periode terendah dengan nilai 0,2 s yang berada di titik 1. Penentuan tipe gelombang pecah dilihat dari nilai Ni, berdasarkan hasil perhitungan gelombang diklasifikasikan sebagai tipe <italic id="_italic-76">plunging </italic>dengan Ni tertinggi yaitu 2,3 dan terendah yaitu 0,4. Gelombang tipe <italic id="_italic-77">plunging</italic>merupakan gelombang yang pecah sempurna sehingga biasa membentuk celah terowongan (<italic id="_italic-78">barrel</italic>) [12]. Gelombang pecah tipe <italic id="_italic-79">plunging </italic>adalah yang paling efektif dalam membentuk kondisi <italic id="_italic-80">rip</italic><italic id="_italic-81">current.</italic>Selain itu<italic id="_italic-82">,</italic>tipe gelombang pecah <italic id="_italic-83">plunging</italic>dapat menyebabkan erosi [13].</p>
      <p id="paragraph-60bafa409beccaca782f853a799f7709">
        <bold id="bold-14ccdf68a76e8e71874e90338751a7d8">D. Rip Current</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-46">Pengambilan data <italic id="_italic-84">rip current </italic>diperoleh dengan pengukuran langsung di lokasi penelitian menggunakan <italic id="_italic-85">drone DJI Mavic Pro. Drone </italic>digunakan dengan ketinggian kurang lebih 60 m di atas pantai. Pengambilan foto udara <italic id="_italic-86">rip</italic><italic id="_italic-87">current</italic>ini dilakukan pada pukul 11:00 WIB. <italic id="_italic-88">Rip</italic><italic id="_italic-89">current</italic>dapat diidentifikasi sebagai celah pada garis gelombang dari pantai menuju laut. Hasil pengamatan kemunculan <italic id="_italic-90">rip current </italic>pada zona terabrasi lebih banyak ditemukan <italic id="_italic-91">rip current</italic>dibanding zona tidak terabrasi [14]. Dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4.</p>
      <fig id="figure-panel-de0ec8a31dbcb9e03d90767a1fb51d0b">
        <label>Figure 5</label>
        <caption>
          <title>Kemunculan <italic id="_italic-92">rip</italic><italic id="_italic-93">current</italic>zona terabrasi</title>
          <p id="paragraph-bf80817eebfc9a183938a28be9db957a" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-cdf519e18f885729afdf5a6b98692e24" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="7141 g 3 new.jpg" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-48">Zona terabrasi memiliki kemiringan yang cukup rendah sehingga <italic id="_italic-94">rip current </italic>banyak ditemukan di daerah tersebut seperti yang telah dijelaskan oleh Setyawan, Setiyono dan Rochaddi bahwa <italic id="_italic-95">rip current </italic>yang biasa terlihat di pantai dengan kemiringan yang relatif landai dan semakin landai kemiringan pantai maka semakin besar <italic id="_italic-96">rip</italic><italic id="_italic-97">current </italic>yang terjadi [15]. Hal ini juga dipengaruhi oleh tinggi gelombang, kecepatan arus yang tinggi dan waktu pengamatan juga dapat menjadi pengaruh banyak sedikitnya <italic id="_italic-98">rip</italic><italic id="_italic-99">current</italic>yang muncul.</p>
      <fig id="figure-panel-fb484d3b90636e305526d6af7e200a9b">
        <label>Figure 6</label>
        <caption>
          <title>Kemunculan <italic id="_italic-100">rip</italic><italic id="_italic-101">current</italic>zona tidak terabrasi</title>
          <p id="paragraph-75fd712c8e811673d73adb1d8365fd04" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-5f19494d497d8c8e3c8eb474ebf94022" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="7141 g 4.jpg" />
      </fig>
    </sec>
    <sec id="heading-ab64e0238e322ac6cdfaa7da59316c4f">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-50">Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kemunculan <italic id="_italic-102">rip current </italic>sering terjadi pada zona terabrasi yang menunjukkan bahwa <italic id="_italic-103">rip current </italic>menjadi salah satu penyebab terjadinya abrasi di Pantai Kota Bani. Pada zona terabrasi di peroleh tipe gelombang pecah di Pantai Kota Bani yaitu tipe <italic id="_italic-104">plunging </italic>dengan nilai <italic id="_italic-105">irribaren </italic>0,3-2,3 dan kemiringan pantai tertinggi sebesar 18°<italic id="_italic-106">. </italic>Kecepatan arus tertinggi 1,9 m/s dan tinggi gelombang sebesar 1,72 m.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>