<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Life Cycle Assessment of Sugar Industry Supply Chain: A Comprehensive Analysis of Environmental Impacts</article-title>
        <subtitle>Penilaian Siklus Hidup Rantai Pasokan Industri Gula: Analisis Komprehensif Dampak Lingkungan</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-eda52c995921788fb9bf9fcd6bfa0361" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Cahaya</surname>
            <given-names>Atikha Sidhi</given-names>
          </name>
          <email>atikhasidhi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-f5e95641208ceaadb305a3d63bae7ade" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Sugiarti</surname>
            <given-names>Iis</given-names>
          </name>
          <email>atikhasidhi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
        <contrib id="person-53d0a45617b638f7434e038794e52f8f" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Marodiah</surname>
            <given-names>Inggit</given-names>
          </name>
          <email>atikhasidhi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3" />
        </contrib>
        <contrib id="person-5253d69f0efc07d8db4501782aa9a53e" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Nurmalasari</surname>
            <given-names>Intan Rohma</given-names>
          </name>
          <email>atikhasidhi@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-4" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-4">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2023-08-03">
          <day>03</day>
          <month>08</month>
          <year>2023</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-24312acf73eae50e7fb90da7f6463734">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-16">Definisi <italic id="_italic-161">food</italic><italic id="_italic-162">wast</italic><italic id="_italic-163">age</italic> menurut Siaputra (2019) merupakan makanan layak konsumsi yang mengalami pembuangan baik sebelum atau sesudah masa kadaluarsanya. Makanan sisa yang akhirnya terbuang karena tidak dapat terkonsumsi atau merupakan bahan makanan yang terbuang dikarenakan adanya kelalaian ketika proses produksi, pengolahan, dan distribusi.</p>
      <p id="_paragraph-17">Definisi <italic id="_italic-164">food</italic><italic id="_italic-165">wast</italic><italic id="_italic-166">age</italic>menurut FAO (2015) adalah makanan hasil sisa konsumsi yang terbuang karena kelalaian ketika proses produksi, pengolahan, dan distribusi. Klasifikasi <italic id="_italic-167">food</italic><italic id="_italic-168">waste</italic>dibagi menjadi 2 macam yaitu berdasarkan waktu dan tingkat kemungkinannya.</p>
      <p id="_paragraph-18">Sedangkan <italic id="_italic-169">food</italic><italic id="_italic-170">wast</italic><italic id="_italic-171">age</italic>menurut Ishangulyyev (2019)adalah makanan yang dibeli dan dimasak namun tidak dikonsumsi, limbah makanan dalam tahap konsumsi dapat secara efektif dengan upaya dimasa depan. Ada 4 kriteria yang mempengaruhi <italic id="_italic-172">food</italic><italic id="_italic-173">wast</italic><italic id="_italic-174">age</italic> ukuran dan komposisi, pendapatan, budaya dan faktor demografis.</p>
      <p id="_paragraph-19">Area munculnya <italic id="_italic-175">food</italic><italic id="_italic-176">wast</italic><italic id="_italic-177">age</italic>menurut Betz (2015) dan Gustavsson (2011) juga berbeda, <italic id="_italic-178">food loss</italic> sering terjadi pada saat proses pemanenan dan proses, sedangkan <italic id="_italic-179">food waste</italic> terjadi pada saat distribusi serta penjualan di retail, <italic id="_italic-180">food service</italic> dan pada saat dikonsumsi, di mana perbedaan tersebut terlihat pada gambar 1.</p>
      <fig id="figure-panel-32ab3a946b066929c321edd51b3b64c6">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title><italic id="_italic-184">Perbedaan</italic><italic id="_italic-185"> area </italic><italic id="_italic-186">timbulnya</italic>food waste<italic id="_italic-187"> dan </italic>food loss</title>
          <p id="paragraph-488cb80b88332172a72023e4cbdba628" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-940e8e3ef110e7007648430ca8d19563" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="7114 g 1.png" />
      </fig>
      <p id="paragraph-132a278ec5bc11f3ad5a71f616b5db33">
        <bold id="bold-d3de7c84cb3dc0455c0cbefc6562ab0f">Proses Produksi Gula Pasir</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-21">Dalam proses produksi gula mencakup tahap ekstraksi diikuti dengan pemurnian melalui distilasi (penyulingan). Menurut Singgih (2012), proses produksi gula pada Pabrik Gula Sidoarjo yaitu dengan proses <italic id="_italic-188">double</italic><italic id="_italic-189">sulfitasi</italic><italic id="_italic-190"> alkalis </italic><italic id="_italic-191">continue</italic> dan menghasilkan gula dengan jenis SHS sebagai produknya. Sebelum tebu diolah tentunya tebu yang digunakan memiliki beberapa kriteria diantaranya manis, bersih dan segar. Apabila salah satu dari tiga kriteria tersebut tidak memenuhi maka tebu tidak akan diolah.</p>
      <p id="_paragraph-22">Berikut merupakan proses pembuatan gula yang terbagi dalam beberapa tahap dengan beberapa stasiun, yaitu yang pertama stasiun gilingan, dimana pada stasiun gilingan ini terjadi proses pemerahan atau mengekstraksi tebu untuk mendapatkan nira mentah dengan jumlah yang sebanyak banyaknya dan menghasilkan ampas tebu yang sedikit mungkin. Selanjutnya proses kedua yaitu pada stasiun gilingan dimana pada stasiun ini merupakan proses memurnikan atau mnghilangkan zat zat selain gula yang terkandung didalam nira mentah untuk mendapatkan nira encer dengan kualitas dan kuantitas yang bagus. Setelah itu yaitu stasiun penguapan yang mana pada stasiun ini dilakukan proses penguapan air yang sebanyak banyaknya yang terkandung dalam nira encer tanpa merusak sukrosa yang terkandung didalamnya yang dilakukan seefektif dan seeffisien mungkin untuk mendapatkan nira kental dengan kadar brix 60 – 65%. Stasiun berikutnya yaitu stasiun masakan yang merupakan penguapan kedua. Pada stasiun ini akan dilakukan proses memasak nira kental atau proses kristalisai yaitu mengkristalkan sukrosa yang terkandung di dalam nira kental untuk mendapatkan kristal sukrosa yang murni dan seragam. Pada proses pemasakan ini dapat dilakukan pemasakan ke masakan A, Masakan C, dan Masakan D. Selanjutnya yaitu stasiun puteran, dimana pada stasiun ini menggunakan <italic id="_italic-192">centrifugal</italic> untuk memisahkan kristal sukrosa dengan larutan induknya. Stasiun yang terakhir yaitu stasiun penyelesaian, yang akan dilakukan proses pengeringan dan pengayakan gula. Pasda stasiun ini dilakukan pengeringan dikarenakan kristal gula yang keluar dari stasiun puteran masih dalam keadaan basah sehingga perlu dilakukan pengeringan dengan dibawa ke talang goyang, dan kemudian gula kering yang keluar dari talang getar dilakukan pengemasan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-b4c7e2ad1ac8cf05c62be316cac6c448">
      <title>Tinjauan Pustaka dan landasan Teori</title>
      <p id="heading-6e6d803654849f2f0209f60f30074e5b">
        <bold id="bold-9a670774b30b129cbafe9fdf7d85f347">A. Green Supply Chain Management</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-23">Definisi <italic id="_italic-193">Green Supply </italic><italic id="_italic-194">Chain</italic><italic id="_italic-195">Management</italic> (GSCM) dalam penelitian Djunaidi, dkk (2018) adalah suatu upaya dalam jaringan rantai pasok untuk memasukkan isu isu lingkungan yang menyangkut secara kesuluruhan rantai pasok meliputi pemasok, manufaktur, konsumen dan logistik umpan balik dalam sebuah rantai pasok. Konsep <italic id="_italic-196">Green Supply </italic><italic id="_italic-197">Chain</italic><italic id="_italic-198">Management</italic> (GSCM) adalah mengintegrasikan pengelolaan rantai pasok guna penyelamatan lingkungan mulai dari proses perancangan dan pengembangan produk, seleksi pemasok dan proses pengadaan, proses manufaktur, distribusi produk, sampai dengan daur ulang pada masa akhir hidup produk. Konsep ini akan meningkatkan keseimbangan antara kinerja pemasaran dengan permasalahan lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada <italic id="_italic-199">long-term </italic><italic id="_italic-200">survival</italic> tetapi juga berdampak untuk <italic id="_italic-201">long-term </italic><italic id="_italic-202">profitability</italic>, dimana image perusahaan serta keuntungan kompetititf akan ditingkatkan pada masa yang akan datang (Azari, Baihaqi, dan Bramanti 2018).</p>
      <p id="paragraph-754aa9a8a784f0eb6128797add0a81b0">
        <bold id="bold-4487c351b97a3b62fe0430eafa0c8219">B. Life Cycle Assesment</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-24"><italic id="_italic-203">Life </italic><italic id="_italic-204">Cycle</italic><italic id="_italic-205">Assesment</italic> (LCA) adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk menganalisa dampak lingkungan yang terjadi akibat suatu industri dalam berlangsungnya proses proses pembuatan produk. <italic id="_italic-206">Life </italic><italic id="_italic-207">Cycle</italic><italic id="_italic-208">Assesment</italic> (LCA) memiliki kelebihan untuk menganalisa dampak lingkungan yang sering terjadi pada proses proses yang terkait dalam daur hidup suatu produk (Wahyudi, 2017).</p>
    </sec>
    <sec id="heading-7a4dfc11460b45826534c8163cbaeb91">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-25">Metode penelitian ini terdiri dari studi literatur,pengumpulan data penggunaan bahan baku, data produksi, dan data distribusi produk yang akan dianalisa menggunakan metode <italic id="_italic-209">Life </italic><italic id="_italic-210">Cycle</italic><italic id="_italic-211">Assesment</italic> untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari masing masing kegiatan pada industri gula tersebut. Setelah diketahui nilai dampak pada masing masing aktivitas maka akan dilanjutkan pembuatan alternatif perbaikan yang dimana alternatif perbaikan tersebut didapatkan dari hasil wawancara dengan pihak yang ekspert pada bidangnya di PT. Pabrik Gula. Pihak tersebut yaitu kepala bagian pabrikasi serta kepala bagian distribusi dan pemasaran. Setelah dilakukan wawancara maka dilakukan pemilihan alternatif perbaikan yang terbaik dengan cara melakukan pengisisan kuisioner dari pihak yang ekspert dan dilakukan pembobotan dengan menggunakan metode <italic id="_italic-212">Annalitic</italic><italic id="_italic-213"> Network </italic><italic id="_italic-214">Process</italic>untuk mendapatkan rekomondasi perbaikan yang tepat untuk mengurangi dampak pada industri gula . Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan dari perhitungan dan analisa data yang didapatkan, serta menjawab rumusan masalah yang telah dirancangkan. Selain itu juga dilakukan pemberian saran terhadap hal-hal yang mungkin dapat diperbaiki ataupun hal yang kurang dalam penulisan ini.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-9b3cf02b56a1658a766467a722083341">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-26">
        <bold id="bold-c51dc2f2524b71299a74f74dc0011c08">A. <italic id="_italic-215">Life </italic><italic id="_italic-216">Cycle</italic><italic id="_italic-217">Assesment</italic> (LCA)</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-27">Untuk mengetahui dampak terhadap lingkungan ang akan ditimbulkan dari limbah yang akan dihasilkan, konsumsi energi yang digunakan serta bahan baku yang digunakan untuk proses pembuatan produk. Pada gambar 2 ini merupakan system boundary, melingkupi semua proses mulai dari proses pengadaan bahan baku dan bahan enolong yang digunakan, proses roduksi gula pasir yang menghasilkan jenis produk gula shs, serta proses distribusi produk yang merupakan penyebaran dan pendistribusian produk jadi.</p>
      <p id="paragraph-3dfabbff931472c6c3b927d2060d68ef">2)<italic id="italic-4cc51b5315ec659cb61664eb6339d8d2"> </italic><italic id="italic-2">Goal and scope</italic></p>
      <fig id="figure-panel-2a184234017ec9c200ae91ba06e6be49">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <title>Ruang Lingkup LCA</title>
          <p id="paragraph-6b15be2302c849cfdec9d801fe6554a9" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-c9176b0ca2095e072d65c562bd174007" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="7114 g 2.png" />
      </fig>
      <p id="paragraph-a5d3e2add93418a29dfc050c82a214cc">
        <bold id="bold-9c03ad5e09dfed9aadf26aa447112539">2) <italic id="italic-1">Life Cycle Inventory</italic></bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-30">Pada <italic id="_italic-218">life</italic><italic id="_italic-219">cycle</italic><italic id="_italic-220">inventory</italic>dilakukan pengumpulan data mulai dari data pengadaan bahan baku, proses produksi yang melipuuti pengguaan bahan baku, energi serta limbah yang dihasilkan dan pada proses distribusi meliputi pendistribusian.</p>
      <p id="paragraph-c41411999bd4b0e2942d5aa796e05f14">
        <bold id="bold-cde70dfe4716860c7f7816afdc190f94">3<italic id="italic-7c834a7e6c550fb8f636b32968f58ed4">) </italic><italic id="italic-4b71889517291081ddead048890de619">Life Cycle Impact Assesment</italic></bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-31">LCIA dilakukan menggunakan perhitungan dengan menentukan dampak yang akan ditimbulkan.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-2">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>Uraian Kategori Dampak</title>
          <p id="_paragraph-34" />
        </caption>
        <table id="_table-2">
          <tbody>
            <tr id="table-row-ac18fc22ffad5d379f2a634507110525">
              <td id="table-cell-596f019c9a07adf0540c994d56bc6b1a">No</td>
              <td id="table-cell-6555e182ef3612e04ce9c359bef69d50">Kategori Dampak</td>
              <td id="table-cell-4e8948170a60cfd668522142c8272b33">Penjelasan</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-1dfbea85ad6015353dd93a01a171ad83">
              <td id="table-cell-7f23617f544c37d5f5120073231999a6">1</td>
              <td id="table-cell-0c2c8b0a5d88065ec727d83a99247b8f">Gas Rumah Kaca</td>
              <td id="table-cell-5ca54cce2c26a0afbeec7ebb34850a32">Dimana energi dari sinar matahari tidak dapat terpantul keluar bumi. Pada keadaan normal energi matahari yang diadsorbsi bumi akan dipantulkan kembali dalam bentuk infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun karena adanya gas rumah kaca sebagian infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan dikembalikan ke bumi.</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-352ac487e17101fb6c6ba3f1351d9d2d">
              <td id="table-cell-97f64cb2e09a98cb2631a409e3d85b33">2</td>
              <td id="table-cell-62dd345041658025c0fad47703ac03cf">Asidifikasi</td>
              <td id="table-cell-52ad73183ed9b7bf37293d98849b0c18">Dikenal sebagai hujan asam terjadi ketika emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida bereaksi di atmosfer dengan air, oksigen, dan oksidan hingga terbentuk berbagai senyawa asam</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-e9630db5d18004dd91dc97d06b0669cc">
              <td id="table-cell-238776354679e8816c54f498d0b666b7">3</td>
              <td id="table-cell-51d5ceedfd8b50c8b5149bcae0120a58">Eutrophikasi</td>
              <td id="table-cell-007fa76598b367b93e36f1dd5b84bcc5">Penurunan kualitas air yang disebabkan oleh pembebanan gizi, yang menyebabkan pergeseran dalam komposisi spesies dan peningkatan produktivitas biologis seperti ganggang. Nitrogen dan fosfor adalah dua zat yang paling terlibat dalam eutrophikasi.</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-35">Dalam tabel 1 dilakukan perhitungan dampak yang ditimbulkan berdasarkan kategori dampaknya yaitu pada GRK yang dihasilkan di pabrik gula dianalisis berdasarkan kandungan CO<sub id="_subscript-8">2</sub>, N<sub id="_subscript-9">2</sub>O, dan CH<sub id="_subscript-10">4</sub> yang dikonversi menjadi CO<sub id="_subscript-11">2-eq</sub>. Dampak terhadap <italic id="_italic-226">asidifikasi</italic>dianalisis berdasarkan kandungan SO<sub id="_subscript-12">2</sub>, NO<sub id="_subscript-13">x</sub>, dan NH<sub id="_subscript-14">3</sub> yang dikonversi menjadi SO<sub id="_subscript-15">2-eq</sub>, Sedangkan dampak <italic id="_italic-227">eutrofikasi</italic> berdasarkan kandungan NO<sub id="_subscript-16">x</sub>, NH<sub id="_subscript-17">3</sub>, PO<sub id="_subscript-18">4</sub><sup id="_superscript-8">3-</sup> dan <italic id="_italic-228">Nutrien</italic> (N dan P) yang dikonversi menjadi PO<sub id="_subscript-19">4</sub><sup id="_superscript-9">3—</sup><sub id="_subscript-20">eq</sub><sub id="_subscript-21">.</sub></p>
      <fig id="figure-panel-0deb9d1fdf38be83ff64cb98d5399308">
        <label>Figure 3</label>
        <caption>
          <title>Perhitungan Emisi Pada Pengadaan Barang</title>
          <p id="paragraph-9c6b36c3285bf56d144240776f32f0f2" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-cbb1169c6b6f99269f42b66f34884562" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="7114 tabel 1.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-39">Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa pada proses pengadaan bahan baku menghasilkan dampak terhadap rumah kaca sebesar 37.919.479,40 ton CO<sub id="_subscript-27">2 </sub>dan <italic id="_italic-230">asidifikasi</italic> sebesar 3.221,94 ton SO<sub id="_subscript-28">2</sub>.</p>
      <fig id="figure-panel-5ea307e269c0e5ab32ca55f85024b2c3">
        <label>Figure 4</label>
        <caption>
          <title>Perhitungan Emisi Pada Produksi</title>
          <p id="paragraph-995996d92aac1872a37bdbfaf88660f5" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-78edce56494e02c91173905b5a88e0f8" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="7114 tabel 2.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-43">Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa pada proses produksi gula pasir menghasilkan dampak terhadap rumah kaca sebesar 11.211.395,03 ton CO<sub id="_subscript-35">2</sub> , <italic id="_italic-233">asidifikasi</italic> sebesar 492.915,17 ton SO<sub id="_subscript-36">2</sub> dan <italic id="_italic-234">eutrophikasi</italic> sebesar 11.115,25 ton PO<sub id="_subscript-37">4</sub><sup id="_superscript-13">3- </sup>.</p>
      <fig id="figure-panel-1f6467ccbe3b83972121526039883a12">
        <label>Figure 5</label>
        <caption>
          <title>Perhitungan Emisi Emisi Pada Proses Distribusi</title>
          <p id="paragraph-c184142bc1a2c91d0d951ba22c323d7b" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-87d826bbf7955db3e07e4ee6b04c5b02" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="7114 tabel 3.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-47">Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa pada proses distribusi produk menghasilkan dampak terhadap rumah kaca sebesar 344.197.619 ton CO<sub id="_subscript-43">2</sub> dan <italic id="_italic-236">asidifikasi</italic> sebesar 28.801,24 ton SO<sub id="_subscript-44">2.</sub></p>
      <p id="paragraph-834c7b6adc171364fbe23dc639b812d4">
        <bold id="bold-30828000c9a160dc0abe65973c07eb2d">4) Interpretasi Hasil </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-48">Dari hasil perhitungan dampak menggunakan life cycle assesment dapat diketahui bahwa pada ruang lingkup pada pengadaan bahan baku yang memiliki kontribusi besar terhadap lingkungan yaitu gas rumah kaca (GRK) dengan jumlah 37.919.479,40 ton CO<sub id="_subscript-45">2 </sub><italic id="_italic-247">asidifikasi</italic> sebesar 3.221,94 ton SO<sub id="_subscript-46">2</sub> dan <italic id="_italic-248">eutrophikasi</italic> sebesar 0 ton PO<sub id="_subscript-47">4</sub><sup id="_superscript-15">3-.</sup> Emisi terbesar pada proses pengadaan bahan baku bersumber dari penggunaan solar untuk transportasi pengiriman bahan baku dari supplier ke PT. Pabrik Gula. Pada proses produksi yang memiliki kontribusi besar terhadap lingkungan yaitu gas rumah kaca (GRK) dengan jumlah 11.211.395,03 ton CO<sub id="_subscript-48">2</sub> yang bersumber dari energi listrik, ampas tebu, limbah cair, dan blotong. Pada <italic id="_italic-249">asidifikasi</italic> yaitu dengan jumlah 492.915,17 ton SO<sub id="_subscript-49">2</sub> serta <italic id="_italic-250">eutrophikasi</italic> sebesar 11.115,25 ton PO<sub id="_subscript-50">4</sub><sup id="_superscript-16">3- </sup>yang berasal dari belerang, blotong, energi listrik, dan limbah cair. Pada roses distribusi yang memiliki kontribusi besar terhadap lingkungan yaitu pada gas rumah kaca (GRK) dengan jumlah 344.197.619, <italic id="_italic-251">asidifikasi</italic> sebesar 28.801,24 ton SO<sub id="_subscript-51">2</sub>, serta pada <italic id="_italic-252">eutrophikasi</italic> sebesar 0 ton PO<sub id="_subscript-52">4</sub><sup id="_superscript-17">3-</sup>. Emisi terbesar pada proses distribusi ini berasal dari pembakaran penggunaan bahan bakar solar untuk pengiriman produk.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-787bb837bc25c842cf8c7bcf1e820684">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-49">Aktivitas <italic id="_italic-253">supply</italic><italic id="_italic-254">chain</italic> industri gula yang meliputi proses pengadaan bahan baku, proses produksi, dan proses distribusi menghasilkan dampak diantaranya efek gas rumah kaca, <italic id="_italic-255">asidifikasi</italic> dan <italic id="_italic-256">eutrophikasi</italic>. Total dampak pada proses pengadaan bahan baku yaitu sebesar 37.919.479,40 ton CO<sub id="_subscript-53">2</sub> pada gas rumah kaca, 3.221,94 ton SO<sub id="_subscript-54">2</sub> pada <italic id="_italic-257">asidifikasi</italic><italic id="_italic-258">. </italic>Pada proses produksi sebesar 11.211.395,03 ton CO<sub id="_subscript-55">2</sub> pada gas rumah kaca, 492.915,17 ton SO<sub id="_subscript-56">2</sub> pada <italic id="_italic-259">asidifikasi</italic> dan 11.115,25 ton PO<sub id="_subscript-57">4</sub><sup id="_superscript-18">3- </sup>pada <italic id="_italic-260">eutrophikasi</italic>. Sedangkan pada proses distribusi sebesar 344.197.619 ton CO<sub id="_subscript-58">2</sub> pada gas rumah kaca, 28.901,24 ton SO<sub id="_subscript-59">2</sub> pada <italic id="_italic-261">asidifikasi</italic><italic id="_italic-262">. </italic></p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>