Login
Section Physics

Negative Correlation Between Emotional Intelligence and Adolescent Aggression

Korelasi Negatif Antara Kecerdasan Emosional dan Agresi Remaja
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Chusnul Widya (1), Lely Ika Mariyati (2)

(1) Program Studi Psikologi Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, , Indonesia
(2) Program Studi Psikologi Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, , Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Adolescence is marked by psychological and emotional transitions that can trigger behavioral instability. Specific Background: Aggressive behavior among students, including physical, verbal, emotional, and cognitive hostility, is increasingly observed, while emotional intelligence is linked to self-awareness, emotional control, empathy, motivation, and social interaction skills. Knowledge Gap: Empirical data examining the statistical relationship between emotional intelligence and aggressive behavior among vocational high school students, particularly in SMK X Sidoarjo, remains limited. Aims: This study investigates the relationship between emotional intelligence and aggressive behavior among vocational adolescents. Results: A quantitative correlational approach involving 289 students revealed a significant negative relationship between emotional intelligence and aggressive behavior (p = 0.012; r = -0.133). Emotional intelligence contributed 1.8% to the variance in aggressive behavior, with most students showing moderate levels of both variables. Novelty: This study provides empirical statistical evidence regarding the association between emotional intelligence and aggressive tendencies in Indonesian vocational adolescents. Implications: The findings offer academic and practical insights for educators and school counseling services in developing emotional intelligence programs to address aggressive tendencies among students.


Highlights:



  • Statistical Testing Confirmed a Significant Inverse Association Between Measured Psychological Variables.

  • Most Participants Demonstrated Moderate Levels Across Both Measured Constructs.

  • The Measured Psychological Predictor Accounted for a Small Proportion of Behavioral Variance.


Keywords: Emotional Intelligence, Aggressive Behavior, Adolescents, Vocational Students, Correlational Study

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Masa remaja adalah masa transisi anak ke dewasa, dimana terjadi pertumbuhan (growth spurth) dan terjadi perubahan – perubahan psikologi serta kognitif [1]. Tugas perkembangan remaja yaitu menerima dirinya sendiri, mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur yang mempunyai hak untuk mempenaruhi orang lain, mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan bergaul dengan teman sebaya, secara individu dan kelompok, juga menemukan manusia kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri [1]

Karakter lain di masa remaja mereka cenderung memiliki emosi yang sangat kuat yang tidak terkendali dan tidak rasional, mudah marah dan emosi mereka cenderung meledak ketika terganggu. masih ditemukan berbagai permasalahan di dunia pendidikan seperti perilaku agresif yang mereka anggap sebagai jalan keluar yang tepat dalam memecahkan masalah. Menurut Elida Priyatno tingkah laku negatif bukan ciri-ciri dari perkembangan remaja yang normal. Pada zaman sekarang banyak ditemukan perilaku negatif pada remaja, salah satunya adalah perilaku agresif[2]

Menurut Nugraheni menjelaskan bahwa perilaku agresif merupakan bentuk perilaku yang menyakiti seseorang secara fisik atau mental ini dapat merugikan diri sendiri dan orang lain yang membuat konsekuensi yang serius yang ada di lingkungannya [3] Pengertian lain menurut Bandura mengklaim bahwa perilaku agresif dipelajari sejak lahir. Perilaku agresif ini dipelajari dari lingkungan sosial, misalnya melalui interaksi dengan keluarga, interaksi dengan teman sebaya dan juga melalui media. melewati tayangan seperti kekerasan.

Aspek pertama dari perilaku agresif Buss dan Perry adalah agresi fisik, seperti menyakiti dan melukai orang lain secara fisik. Kedua, agresi verbal melibatkan perilaku motorik seperti menyakiti atau melukai orang lain. Ketiga, kemarahan emosional atau afektif yang dipengaruhi oleh pengendalian emosi. Terakhir, kemarahan adalah komponen kognitif, seperti halnya perasaan marah dan ketidakpercayaan terhadap orang lain . [5]

Perilaku agresif pada kalangan remaja semakin memprinhatinkan seperti yang banyak diberitakan pada berbagai media. Perilaku agresif memberi dampak negatif seperti pelaku akan merasa hal yang dilakukan itu hal yang biasa, Perselisihan, seperti saling ejek antar sekolah, semakin memprihatinkan. Hal ini dapat membahayakan kedua belah pihak dan menimbulkan perilaku agresif seperti pertengkaran antar siswa [6] Hal ini akan mempengaruhi cara berpikir remaja yang cenderung impulsif, pengawasan orang tua yang kurang, dan peran orang dewasa yang mencontohkan perilaku agresif [7] Dampak dilihatdari pelaku, misalnya pelaku, dijauhi dan tidak disukai orang lain. Namun, efek yang dialami korban misalnya sakit fisik dan emosional.

Permasalahan yang ditemukan oleh Restu dan Yusri terdapat beberapa siswa dengan berperilaku agresif dengan sengaja, memukul dan mencubit teman, berbicara kasar, menghinadan mengejekmereka,dan merusak properti sekolah dan milik temannya, menyebabkan rasa sakit fisik seperti memar dan luka pada terapis fisik dan membuat siswa merasa sakit hati dengan merendahkan dan merusak sekolah dan sekolah properti Teman. Siswa menunjukkan perilaku agresif ini tidak hanya terhadap teman sebaya tetapi juga terhadap guru, mis. B. dengan berdebat dan mengolok-olok guru saat pembelajaran. Hal ini mengakibatkan siswa yang agresif memutuskan teman-temannya dan membuat guru tidak senang dengan siswa tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakuka Leilly [8] menyatakan bahwa setengah dari sample penelitiannya menunjukkan perilaku permusuhan sepertiga sample berperilaku marah. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa tindakan agresif yang dilakukan siswa seperti B. melukai orang secara fisik sebanyak 35,32 persen, sedangkan tindakan agresif yang dilakukan siswa secara verbal menyakiti orang sebanyak 41,30 persen dan tindakan agresif merusak dan menghancurkan harta benda sebanyak 30,42 persen. Berdasarkan data screening yang dilakukan oleh Rahayu 2018 menunjukkan bahwa terdapat bentuk – bentuk perilaku agresif di SMPN 27 Samarinda dengan 228 siswa yaitu memukul 92,1%, mengejek 91,2%, berkata kasar 81,6%, berkelahi 71.4%, menunjukkan amarah 71,4%, menyindir 70,6%, memiliki sikap balas dendam 57,5%, menendang 48,7%, merusak barang saat marah 39,9%, memaki 39,4%, menampar 32%, memalak 20%, menggigit 79%.

Hasil observasi yang dilakukan oleh Simanjutak (2019)[9] di SMA swasta Advent 1 Medan kelas XII menunjukkan fenomena perilaku agresif seperti Dia tidak memiliki inisiatif untuk bekerja sama dengan teman-temannya, menarik diri, menendang barang, merusak tanaman berbunga, bertengkar dengan teman sebaya. Berdasarkan penjelasan Guru BP dalam satu minggu dapat terjadi tiga kali perkelahian perilaku agresif baik verbal maupun non verbal. Namun sejak diadakan penyuluhan perilaku agresif disekolah tesebut mulai berkurang. Penelitian lain yang dilakukan oleh Herawati (2014) mengemukakan bahwa terdapat beberapa kasus perilaku agresif di SMKN 2 Kota Bengkulu sepreti ucapan kotor, mencemooh, menendang benda sekitar, merusak, meninju dan sebagainya. [10]

Perilaku agresif memiliki beberapa aspek yang dikemukakan oleh Buss dan Perry, misalnya agresi verbal merupakan perilaku motorik, seperti menyakiti dan melukai orang lain melalui tindakan verbal. Agresi fisik didefinisikan sebagai perilaku motorik, seperti menyakiti secara fisik dan melukai orang lain. Kemarahan adalah komponen emosi atau afektif dimana pengendalian emosi mempengaruhi keadaan seseorang. Terakhir, kemarahan bersifat kognitif, seperti perasaan marah dan ketidakpercayaan terhadap orang lain. [6] Berdasarkan hasil kuisioner yang dilakukan oleh peneliti dari 16 remaja di SMK X Sidoarjo pada aspek verbal menyatakan bahwa pada siswa cenderung mengucapkan apa saja yang yang ada dipikirannya entah itu positif maupun negatif saat diganggu temannya dan siswa suka berdebat saat pendapatnya tidak sama dengan temannya atau tidak sependapat. Pada aspek fisik siswa mengakui jika ada teman yang memukulnya maka mereka akan membalasnya dan beberapa diantaranya mereka dapat merusak benda sekitar jika sangat marah. Pada aspek kemarahan mengatakan mereka adalah orang yang mudah marah dan mengakui jika mereka cenderung sulit mengendalikan emosi, dan aspek kebencian mereka merasa sering diperlakukan tidak adil oleh orang sekitarnya dan beberapa siswa juga cenderung berprasangaka buruk saat ada teman yang berbuat baik kepadanya.

Pernyataan data diatas ada faktor yangmempengaruhi perilaku agresif tersebut. Menurut Baron & byrne, Perilaku agresif memiliki beberapa faktor Internal ada empat yaitu frustasi, amarah, stress dan kecerdasan emosional. Sedangkan faktor eksternal ada tiga yaitu kekuasaan dan kepatuhan, provokasi, obat–obatan dan alcohol [11] Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan melawan frustasi, mengendalikan dorongan hati, mengatur suasana hati dan mencegah stress yang melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. [12]

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tobing dan Swadnyana ( 2019). Menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan agresivitas dengan arah negatif (r = -0,227; p = 0,000), sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin rendah perilaku agresifnya. Sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional maka semakin tinggi perilaku agresifnya [15]. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mafiroh, (2014) bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan perilaku agresif pada siswa [16]. Nilai koofisien korelasi = -0,002 dengan p= 0,000 (p < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin rendah kecerdasan emosional maka semakin tinggi perilaku agresif. Sebaliknya, semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin rendah perilaku agresif. Penelitian lain yang dilakukan oleh Simanjutak, (2019) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan perilaku agresif pada siswa. Koefisien korelasi sebesar – 0,751 dan p 0,000 <0,01 yang berarti semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin rendah perilaku agresif.Sebaliknya,semakin rendah kecerdasan emosi maka semakin tinggi perilaku agresif. [17]

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berhubungan dengan hati dan kepedulian terhadap sesama manusia, makhluk lain dan alam. Daniel Goleman mengatakan bahwa menurut Salovey, bidang-bidang kecerdasan emosional menentukan kecerdasan pribadi Gardner, yang memunculkan aspek-aspekkecerdasan emosional sebagai berikut:a) Mengenali perasaan sendiri adalah kemampuan untuk mengenali perasaan ketika perasaan itu muncul. Seperti pengetahuan diri, harga diri dan kepercayaan diri. b) Pengelolaan emosi adalah kemampuan individu dalam mengolah emosi agar dapat diekspresikan secara benar atau serasi sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. c) Motivasi diri adalah salah satu kunci keberhasilan. Mampu mengatur emosi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menjadi dasar untuk sukses di bidang apapun. d) Kemampuan mengenali emosi orang lain sangat tergantung pada kesadaran diri emosional. Empati adalah kemampuan untuk mengenali perasaan orang lain dengan berpartisipasi dalam perasaan orang lain. Menurut Goleman, kemampuan mengenali atau peduli terhadap orang lain menunjukkan empati. Individu dengan kemampuan berempati lebih mampu merasakan dan menyimpulkan apa yang dibutuhkan orang lain untuk dapat menerima sudut pandang orang lain dan peka terhadap perasaan orang lain. e) Kemampuan membina hubungan terutama adalah kemampuan mengelola emosi orang lain. Kemampuan ini mendukung popularitas, kepemimpinan, dankesuksesan interpersonal DanielGoleman[19] Remaja dengan kontrol diri yang baik mengalami emosi positif. Remaja didorong secara emosional untuk mengontrol dan mengarahkan impuls emosional mereka mencapai tujuan yang positif. Pemahaman, pemantauan, dan rangsangan emosi yang positif membantu remaja untuk memahami perasaan orang lain, yang pada gilirannya mempengaruhi pembentukan hubungan interpersonal yang baik. Fenomena yang muncul saat ini adalah remaja semakin banyak menggunakan bentuk media sosial. Remaja mengungkapkan perasaannya di media sosial tanpa memikirkan akibatnya. Hal ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosional setiap remaja. Peneliti ingin mendalami dinamika kecerdasan emosional di media sosial secara intensif. Manfaat teoritis dalam penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penelitian di bidang psikologi, terutama yang berkaitan dengan kecerdasan emosi dan perilaku agresif pada ruang lingkup remaja.

Metode

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional. Kuantitatif korelasi karena data yang diperoleh pada penelitian ini berwujud angka (data kuantitatif). Kuantitatif korelasional adalah penelitian yang ingin melihat apakah variabel bebas dan variabel terikat memiliki hubungan atau tidak. Variabel penelitian adalah objek yang dijadikan hal yang diteliti dalam suatu penelitian yang mempunyai berbagai variasi didalamnya [21]. Variabel dalam penelitian ini yaitu variabel X (bebas) dan Y (terikat). Variabel X yaitu kecerdasan emosi dan variabel Y yaitu perilaku agresif.

Perilaku agresif adalah segala bentuk perilaku yang ditujukan untuk menyakiti seseorang dan cenderung menyerang baik secara fisik maupun mental, sehingga menimbulkan kerugian bagi orang lain dan diri sendiri, dengan akibat yang berat baik bagi anak maupun orang di sekitarnya (Nugraheni 2013). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berhubungan dengan hati dan kepedulian terhadap orang yang dicintai, makhluk lain dan alam (Mustari et al, 2021). Subyek penelitian ini merupakan remaja yang bersekolah di SMK “X” Sidoarjo kelas X dan XI yang memiliki populasi sebanyak 1.614 remaja. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik insindental dan mengacu pada tabel issacc dan Michael dengan taraf 5% yaitu sebanyak 289 remaja.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah skala psikologi berupa skala model Likert. Untuk mengukur kecerdasan emosi dengan menggunakan skala adaptasi dari Mafiroh (2014) dengan nilai reliabilitas sebesar 0,867 dengan nilai validitas yang bergerak antara 0.302 – 0.768. Skala terdiri dari 28 aitem pertanyaan dengan mempertimbangkan aspek – aspek yang diungkapkan Dewi (2012). Daniel Goleman mengatakan bahwa menurut Salovey, bidang-bidang kecerdasan emosional mengklasifikasikan kecerdasan pribadi Gardner ke dalam aspek-aspek kecerdasan emosional sebagai berikut:

a) Mengenali perasaan sendiri adalah kemampuan untuk mengenali emosi ketika mereka muncul. Meliputi evaluasi diri dan kepercayaan diri. b) manajemen emosional, yaitu. H. kemampuan individu mengolah emosi agar dapat diekspresikan secara benar atau serasi sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. c) Motivasi diri juga merupakan salah satu kunci keberhasilan. Mampu mengatur emosi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menjadi dasar kesuksesan. d) Kemampuan mengenali emosi orang lain sangat tergantung pada kesadaran diri emosional. Empati adalah kemampuan untuk mengenali perasaan orang lain dengan berpartisipasi dalam perasaan orang lain. Menurut Goleman, kemampuan mengenali atau peduli terhadap orang lain menunjukkan empati. Orang dengan empati yang baik dapat peka terhadap kebutuhan orang lain, membuat mereka lebih dapat menerima sudut pandang orang lain dan peka terhadap perasaannya agar dapat memahami orang lain. e) Kemampuan membangun hubungan terutama adalah kemampuan menghadapi emosi orang lain. Keterampilan ini adalah keterampilan yang mendukung popularitas, kepemimpinan, dan kesuksesan interpersonal [19]

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian

1. Uji Normalitas

Tabel 3.1

Uji Normalitas

Uji Normalitas yang dilakukan oleh peneliti melibatkan bantuan program SPSS 20 for Windows dalam menemukan hasil uji Kolmogrov- Smirnov. Berikut ulasannya :

a. Apabila nilai signifikansi > 0,05, maka distribusinya normal.

b. Apabila nilai signifikansi < 0,05, maka distribusinya tidak normal

Berdasarkan tabel di atas dapat dinyatakan bahwa pada uji normalitas variabel kecerdasan emosional diperoleh Z-score Kolmogorov-Spirnov sebesar 0,939 dan nilai signifikansi 0,341 > 0,05 yang berarti data berdistribusi normal. , perilaku agresif. variabel tersebut memiliki nilai z-score Kolmogorov-Spirnov sebesar 1,319, nilai signifikansi 0,062 > 0,05 yang berarti data berdistribusi normal.

2. Uji Linieritas

Tabel 3.2

Uji Linieritas

Dari tabel di atas terlihat bahwa nilai signifikansi linieritas kecerdasan perilaku agresif adalah 0,026<0>0,05 yang berarti data bersifat linier.

3. Uji Hipotesis

Tabel 3.3

Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil tabel di atas diketahui bahwa Kecerdasan Emosi memiliki skor signifikan 0,012 untuk perilaku agresif, yang berarti 0,012 < 0,05 dan nilai r_xy -0,133 (korelasi negatif). Oleh karena itu, diterima hipotesis bahwa ada hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan perilaku agresif pada siswa usia dini SMK "X" Sidoarjo.

4. Hasil Koefisien Determinan

Tabel 3.4

Hasil Koefisien Determinan

Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi pada tabel di atas diperoleh nilai R-square sebesar 0,018 yang berarti pengaruh variabel kecerdasan emosional terhadap variabel perilaku agresif pada penelitian ini sebesar 1,8%.

5. Kategorisasi

Tabel 3.5

Standart Deviation dan Mean

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa pada skala kecerdasan emosi memiliki nilai mean teoritik (µ) sebesar 84,4083 dan standar deviasinya (σ) 7,02718. Selanjutnya skala perilaku agresif memiliki nilai mean teoritik (µ) sebanyak 69,4602dan standar deviasinya (σ) 1,.00186. Data ini dapat digunakan sebagai penentuan kategorisasi di bawah ini pada variabel kecerdasan emosi dan perilaku agresif.

Tabel 3.6

Kategorisasi

Tabel 3.7

Kategorisasi Skor Subjek

Berdasarkan tabel kategorisasi skor subjek di atas dapat disimpulkan bahwa remaja di SMK “X” memiliki kecerdasan emosi dan perilaku agresif dalam taraf sedang.

B. Pembahasan

Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku agresif pada siswa usia dini SMK X Sidoarjo. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara kecerdasan emosional dengan perilaku agresif. Kecerdasan emosional terkait perilaku agresif memiliki skor signifikan 0,000, artinya 0,000<; 0,05 dan nilai r_xy sebesar -0,377 (korelasi negatif). Artinya, semakin tinggi kecerdasan emosional maka semakin rendah tingkat perilaku agresif. Sebaliknya, semakin rendah kecerdasan emosional maka semakin tinggi perilaku agresifnya.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian sebelumnya oleh Illahi et al. (2018) menegaskan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan perilaku agresif pada remaja di MAN 1 Tanah Datar dengan koefisien korelasi sebesar -0,431 dengan perilaku agresif pada remaja. memiliki hubungan yang relatif kuat. Pria 1 Tanah Datar secara keseluruhan berada pada kategori tinggi dengan frekuensi 86 dan persentase 48,31%. Artinya sebagian besar anak muda di MAN 1 Tanah Datar memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Kecerdasan emosional pada remaja berasal dari mampu merasakan dan memahami bagaimana mengelola emosinya untuk mengambil keputusan yang terbaik, serta mampu memahami emosi orang lain melalui interaksi sosial. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Dewi dan Savira (2017) menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel kecerdasan emosional dan variabel perilaku agresif di media sosial adalah p=0,000 (p<0,05). Nilai signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05, sehingga dapat dikatakan terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel. Kemampuan individu untuk memahami dan mengungkapkan apa yang dia rasakan dan apa yang orang lain rasakan (Qomariyah, 2012). Kecerdasan emosional memiliki efek positif pada individu ketika individu memahami emosi mereka sendiri dan orang lain. Namun, kecerdasan emosional juga dapat terpengaruh secara negatif ketika individu melebih-lebihkan apa yang mereka dan orang lain rasakan (Wahyudiono, 2012).

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2021) ini diperoleh rxy= -0,319 pada nilai signifikan (p) = 0,002 (p < 0.01). Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat dikatakan bahwa terdapat ada hubungan negatif antara kecerdasan emosi dengan perilaku agresif pada siswa, artinya jika kecerdasan emosi diperoleh tinggi maka perilaku agresif siswa semakin rendah dan sebaliknya.

Simpulan

Berdasarkan hasil Analisa dan pembahasan terkait dengan hubungan antara kecerdasan emosi dengan perilaku agresif pada siswa SMK X Sidoarjo, dapat diperoleh kesimpulan melalui hasil uji korelasi antara kecerdasan emosi dengan perilaku agresif pada remaja di SMK X Sidoarjo memiliki nilai signifikansi kecerdasan emosi terhadap perilaku agresif sebesar 0,012 yang artinya 0,012 < 0,05 dengan nilai r_xy sebesar -0,133 (berkorelasi negatif).

Berdasarkann hasil uji koefisien determinasi pada tabel diatas menunjuukan nilai R Square sebesar 1,8% yang berarti variabel kecerdasan emosi dalampenelitian ini memberikan sumbangan sebesar 1,8% terhadap variabe lperilaku agresif dan 98,2%% memiliki hubungan dengan variabel lain. Hasil peneliti ini diharapkan dapat menyumbang ilmu untuk peneliti lain.Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih belum sempurna, terdapat kelemahan, kekurangan dan keterbatasan untuk memperdalam teori yang sudah di dapat. Peneliti berharap agar peneliti selanjutnya dapat memperdalam juga memperbaiki teori ini. Kurangnya mengeksplor teori yang didapat untuk memperkayapenelitian dan hasil dari penelitian itu sendiri.Peneliti memahami akan hal ini karena keterbatasan waktu yang menyita waktu dan pikiran.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terimakasih kepada pihak sekolah karena bersedia untuk di jadikan tempat penelitian. Dan juga terimakasih kepada responden karena telah mau meluangkan waktunya untuk mengisi kuisioner yang telah disebarkan.

References

Arta Adi Kusuma, “Pengaruh Motivasi dan Lingkungan Terhadap Kinerja Karyawan Hotel Mulya Semarang,” 2013

Khamim Zarkasih Putra “Memahami Ciri dan Tugas Perkembangan Masa Remaja” Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, vol. 17, no. 1, 2017.

Yoshi Restu and Yusri, “Studi Tentang Perilaku Agresif Siswa Di Sekolah,” Ilmiah Konseling., vol. 2, no. 1, 2013

Lailiya Nugraheni, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Agresif Anak Usia Dini dan Penanganan Konselor di TK Bina Anak Sholeh (BAS Tuban),BK Unesa, vol.4 no. 1, 2013.

Erni Agustina Setyowati, Titin Suprihatin, and Rohmatun, “Gambaran Agresifitas Anak dan Remaja Di Area Beresiko” Prosiding Temu Ilmiah X Ikatan Psikologi Prkembangan Indonesia., 2017.

Resti Septina Damayanti, dkk., “Korfomitas dan Kematangan Emosi dengan Perilaku Agresi Siswa SMK di Jakarta Timur,” Ikraith-humanira, vol. 2, no. 3, 2018.

Adelina rahmawati and Setya Asyanti, “Fenomena Perilaku Agresif Pada Remaja dan Penanganan Secara Psikologis,” Prosiding Semnas penguatan individu di era revolusi informasi.

Ulya Illahi,dkk, “Hubungan Antara Kecerdasam emosi dengan perilaku agresif remaja dan implikasinya dalam bimbingan dan konseling,” JRTI, vol. 3, no. 2, pp. 68–74, 2018.

Geandra Ferdiansa, and Neviyarni S, "Anasis Perilaku Agresif Siswa",Jurnal Riset Tindakan Indonesia, vol. 5, no. 2, pp. 8-12, 20

Leilly Puji Rahayu, “Pengaruh pola asuh orang tua dan kontrol diri terhadap perilaku agresif,” Jurnal Psiko Borneo, vol. 6, no. 2, 2018.

Grace Olivia C.N. Simanjuntak, “Hubungan Kecerdasan emosional dengan perilaku agresif pada siswa di Perguruan SMA swasta ADVENT 1 Medan,” Skripsi, 20219.

Anna Ayu Herawati, I Wayan Darmayana, Afifatus Sholihah., “Kecerdsana emosional dan perilaku agresif siswa Vokasi, Vol. 16, no. 1 ” 2017.

Dimas Prasetya Putra. P, “Hubungan antara antara tingkata stres dengan agresivitas pada caregiver lansia,”skripsi, 2021.

Ni Made Wahyu Indra Riyani Artha dan Sipriyadi, “Hubungan antara kecerdasan emosi dan self efficai dalam pemecahan masalah penyesuaian diri remaja awal" jurnal Psikologi Udayana vol.1 no. 1, 2013

Putu Agus Swadnyana dan David Hizkia Tobing, “Hubungan antara kecerdsaan emosional dan agresivitas pada remaja madya di SMA Dwi Jendra Denpasar,” Jurnal psikologi Udayana, vol. 6, no. 1, 2019

Imanium Mafiroh, “Hubungan antara tingkat kecerdasan dengan perilaku agresif remaja pada siswa kelasXI di SMA Negeri Klerek tahun ajaran 2013/2014,”skripsi., 2014

Wulandari, Burhanudin, Nuryanti Mustari, pengaru kecerdasan emosional terhadap kinerja pegawai di kantor Kecamatan Sape Kabupaten Bima" . vol. 2 no. 1, 2021.

Retno Susilowati, “Kecerdasan emosional anak usia dini,” vol 6 no 1, 2018

Waya Ratna Dewi dan Siti Ina Safira, “kecerdassan emosi dan perilaku agresi di sosial media pada remaja" Jurnal psikologi teori dan terapan, vol. 7, no. 2, 2017

Zarina Parasayu, “Hubungan antara konformitas dan perilaku agresif pada remaja,” Skripsi, 2018

Periantalo, J. (2016). Penelitian Kuantitatif Untuk Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.