<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Model Pembelajaran Discovery Learning Melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) Terhadap Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMP</article-title>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-41aded322b7007615b816338ca2b4549" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>WULANDARI</surname>
            <given-names>FITRIA EKA</given-names>
          </name>
          <email>fitriaekawulandari@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1" />
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2023-05-30">
          <day>30</day>
          <month>05</month>
          <year>2023</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-adc384b776314be8dee50a5cc0205ff9">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Upaya meningkatkan kualitas pendidikan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkatkan kompetensi SDM yang di miliki oleh bangsa, salah satunya dengan meningkatkan kompetensi pendidik[1]. Penyelenggaraan pendidikan dalam pembelajaran melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Guru yang kompeten dapat menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan mampu mengelola pembelajaran lebih baik. Guru dituntut untuk tidak sekedar menyampaikan informasi melainkan mampu mengaktifkan kemampuan berpikir siswa untuk dapat memecahkan masalah.[2] Siswa dapat memecahkan masalah melalui pembelajaran IPA. Menurut Depdiknas pembelajaran IPA tidak hanya menguasai pengetahuan, melainkan menyediakan ruang untuk berkembangnya sikap ilmiah, berlatih dalam proses pemecahan masalah, dan menerapkan dalam kehidupan nyata.[3]</p>
      <p id="_paragraph-13">Pembelajaran IPA memerlukan kegiatan penyelidikan atau eksperimen yang melibatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Selain itu pembelajaran IPA dapat mengembangkan rasa ingin tahu melalui penemuan berdasarkan pengalaman langsung yang dilakukan. Dengan demikian pembelajaran akan lebih menarik bagi siswa melalui kemampuan berpikir kreatif dalam memecahkan permasalahan[2]. Kreativitas memiliki pengertian beragam bagi seseorang guna mengatasi sebuah masalah. [4] Keterampilan berpikir kreatif dapat memfasilitasi siswa dalam pembelajaran IPA. Kemampuan berpikir kreatif merupakan faktor penting dari tujuan pembelajaran karena dapat memberikan pengetahuan kepada siswa dalam kehidupan sehari-hari. Berpikir kreatif dapat mendorong siswa mendapatkan ide baru dan menemukan jawaban sendiri.</p>
      <p id="_paragraph-14">Fakta dilapangan peneliti melakukan pra observasi pada kelas VII di SMP Muhammadiyah 4 Porong dengan membagikan soal keterampilan berpikir kreatif yang berupa soal esay. Hasil data tersebut diperoleh dengan menghitung skor yang diperoleh dari soal keterampilan berpikir kreatif. Setelah dihitung nilai dari masing-masing siswa dapat dilihat melalui kriteria berpikir kreatif. Hasil tes berpikir kreatif diperoleh hasil 73% kurang kreatif dan 27% cukup kreatif. Indikator berpikir lancar mendapat nilai rata-rata 50% dengan kriteria cukup kreatif. Indikator berpikir luwes mendapat nilai rata-rata 13% dengan kriteria kurang kreatif. Indikator berpikir orisinil mendapat nilai rata-rata 3% dengan kriteria kurang kreatif. Indikator berpikir merinci mendapat nilai rata-rata 7% dengan kriteria kurang kreatif. Dengan hasil tersebut keterampilan berpikir kreatif siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 4 Porong masih rendah. Keterampilan berpikir kreatif siswa masih rendah karena dalam proses pembelajaran dikelas masih bersifat teoritis dan berpusat pada guru, didukung dengan hasil wawancara peneliti terhadap guru mata pelajaran IPA di SMP Muhammadiyah 4 Porong.</p>
      <p id="_paragraph-15">Berdasarkan pada hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap temuan yang ada di sekolah pada Guru IPA di SMP Muhammadiyah 4 Porong menyatakan bahwa sekolah sudah menerapkan beberapa model pembelajaran yang di dalamnya telah melakukan kegiatan praktikum damun belum adanya pengemasan permasalahan yang berasal atau diangkat dari permasalahan sekitar siswa dan belum pernah melatihkan siswa dalam mengambil keputusan dalam memecahkan permasalahannya secara mandiri. Pemilihan model pembelajaran yang sangat tepat dalam melatihkan keterampilan berfikir kreatif harus menyesuaikan dengan kondisi lingkunga siswa[5]. Oleh karena itu diperlukan model pembelajaran yang dapat menarik siswa untuk melatihka keterampilan berpikir kreatif siswa.</p>
      <p id="_paragraph-16">Salah satu model pembelajaran yang dipercaya dapat berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa adalah model pembelajaran <italic id="_italic-31">Discovery Learning </italic>yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran <italic id="_italic-32">Discovery Learning</italic> merupakan model pembelajaran yang menekankan pada siswa pentingnya pemahaman atau ide-ide penting melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.[6] Kegiatan belajar mengajar menggunakan metode penemuan atau <italic id="_italic-33">Discovery</italic> dapat menemukan konsep melalui informasi yang diperoleh dari pengamatan atau percobaan.[7] Menurut Hosnan, Model <italic id="_italic-34">Discovery Learning</italic> membutuhkan banyak waktu dikarenakan guru sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing. Meskipun demikian pengetahuan yang diperoleh siswa akan bertahan lama dikarenakan mereka memperolehnya dari pengalaman langsung.[6] Sehingga pembelajaran di sekolah akan tercapai dengan baik.</p>
      <p id="_paragraph-17">Hal ini telah dibuktikan pada penelitian sebelumnya. Menurut penelitian sebelumnya diperoleh bahwa adanya pengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa yaitu dengan rata-rata keterampilan berpikir kreatif siswa pada pre test berbeda dengan post test. Sebagai contoh sebuah penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Neng Yuliawati[8]. Salah satu alternatif untuk lebih menguatkan keterampilan berpikir kreatif siswa dengan menerapkan pendekatan <italic id="_italic-35">Sains Teknologi Masyarakat (STM) </italic>atau yang biasa dikenal dengan sains, teknologi dan masyarakat. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu siswa memahami sains dan pengaruhnya terhadap lingkungan, teknologi dan masyarakat.[9] Dalam hal ini model <italic id="_italic-36">Discovery Learning </italic>dan pendekatan <italic id="_italic-37">Sains Teknologi Masyarakat (STM) </italic>dapat digunakan untuk mengetahui cara siswa berpikir kreatif dalam proses pembelajaran. Dengan <italic id="_italic-38">Sains Teknologi Masyarakat (STM)</italic> siswa diharuskan mempunyai bekal pengetahuan dalam mengambil keputusan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di sekitar.[10] Menurut Sutanto, Pendekatan <italic id="_italic-39">Sains Teknologi Masyarakat (STM)</italic> membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam pembelajaran dan siswa pun kesulitan dalam mengakaitkannya dengan kehidupan sehari-harinya. Meski demikian pendekatan <italic id="_italic-40">Sains Teknologi Masyarakat (STM)</italic> dapat menjadikan siswa lebih kreatif dengan hasil temuannya dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata[9]. Sehingga pembelajaran di sekolah akan tercapai dengan baik. Hal ini telah dibuktikan pada penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Mutia Ulfa dkk. Penggunaan model pembelajaran <italic id="_italic-41">Discovery Learning</italic> dipadu dengan pendekatan <italic id="_italic-42">Sains Teknologi Masyarakat (STM) </italic>diharapkan mampu memberikan hasil yang sesuai[11]. Sesuai dengan penelitian sebelumnya dengan judul yang hampir serupa didapatkan hasil bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran <italic id="_italic-43">Discovery Learning</italic> dengan pendekatan <italic id="_italic-44">Sains Teknologi Masyarakat (STM) </italic>dapat memberikan pengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti dapat melakukan penelitian yang berjudul “ Pengaruh model pembelajaran <italic id="_italic-45">Discovery Learning </italic>dengan pendekatan <italic id="_italic-46">Sains Teknologi Masyarakat (STM) </italic>terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa” untuk melengkapi penelitian sebelumnya.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-18">Metode yang digunakan dalam penelitian ini oleh peneliti adalah penelitian eksperimen yang menggunakan metode <italic id="_italic-47">Pre E</italic><italic id="_italic-48">xperiment</italic><italic id="_italic-49">D</italic><italic id="_italic-50">esign</italic> dengan jenis <italic id="_italic-51">One</italic> <italic id="_italic-52">group </italic><italic id="_italic-53">p</italic><italic id="_italic-54">retest- post test</italic><italic id="_italic-55"> design</italic><italic id="_italic-56">.</italic> Rancangan ini hanya membutuhkan satu lokal dengan menggunakan tes awal sebelum diberikan perlakuan. Sehingga hasil dari perlakuan dapat diketahui lebih akurat, dikarenakan dapat mengetahui perbandingan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.[12] Populasi merupakan keseluruhan dari subyek yang diteliti[13]. Adapun desain penelitian sesuai tabel 1.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>Desain Penelitian</title>
          <p id="_paragraph-19">Keterangan :</p>
          <p id="paragraph-2">O<sub id="subscript-1">1</sub> = Tes awal (<italic id="italic-1">Pretest</italic>)</p>
          <p id="paragraph-3">X = Perlakuan pembelajaran model <italic id="italic-2">Discovery learning</italic> dan pendekatan <italic id="italic-3">STM </italic>terhadap kelas eksperimen.</p>
          <p id="paragraph-4">O<sub id="subscript-2">2 </sub>= Tes akhir <italic id="italic-4">(Posttest)</italic></p>
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-da97d1403ec771d8bb518cfe3da101bd">
              <td id="table-cell-5eacf85ffcd755982cc426a0720924a5">Tes</td>
              <td id="table-cell-6bd0bfc00847f1a256350afed537d7b5">Perlakuan</td>
              <td id="table-cell-6377e95f1128a7c813e85835d20acb00">Tes</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-86b6da6c4d3a1eb10e4353ac734ac556">
              <td id="table-cell-38aa1ecfef7defe18ce943eed9bebca8">O1</td>
              <td id="table-cell-43643ea2b626c84defcf83a24372e081">X</td>
              <td id="table-cell-c48a36b0e5294ed7a9d6ec904f1215f9">O2</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-25">Populasi merupakan individu atau kelompok yang akan diteliti dalam suatu penelitian. Yang menjadi populasi dalam penelitian adalah siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 4 Porong yang terdiri dari satu kelas yang berjumlah 14 siswa. Penelitian menggunakan teknik sampling jenuh karena seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian yaitu 14 siswa. Sumber data diperoleh dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari <italic id="_italic-61">pretest</italic> dan <italic id="_italic-62">posttest</italic> dan data sekunder dari jurnal ataupun skripsi. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data rasio didapatkan dari hasil test keterampilanberpikir kreatif. Teknik Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes keterampilan berpikir kreatif. Tes keterampilan berpikir kreatif ini berupa <italic id="_italic-63">esay</italic> dengan dua belas soal yang di dalamnya terdapat empat indikator berpikir kreatif yaitu lancar, luwes, orisinil, dan terperinci. Adapun untuk menghitung kategori berpikir kreatif dilakukan cara sebagaimana bisa dilihat pada gambar 1.</p>
      <fig id="figure-panel-4c26f39c1d2fb309611c89fdc976f75b">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>Rumus Menghitung Kategori Berpikir Kreatif</title>
          <p id="paragraph-24d91f5d0d46854c0eb0c244f8c67ea8" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-fd2fcac817ab26dbf1634eb4547d3f74" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="ax1.JPG" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-27">Kriteria keterampilan berpikir kreatif disajikan pada tabel 2.</p>
      <table-wrap id="_table-figure-2">
        <label>Table 2</label>
        <caption>
          <title>Kriteria keterampilan berpikir kreatif </title>
          <p id="_paragraph-28" />
        </caption>
        <table id="_table-2">
          <tbody>
            <tr id="table-row-24206057020f7f37f01cf181e316ba3b">
              <td id="table-cell-ca9aac536dc1c8e1b63b6e5d21ebebed">No.</td>
              <td id="table-cell-1554b9b2c12bc05c07e91d13ee9237ed">Nilai</td>
              <td id="table-cell-bea984f1ad1bfa465f207edcbfb685cd">Kriteria </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-a48b814c4a79ee94c9298cce94860a13">
              <td id="table-cell-983843b8cbf3fac55eaed8cacde1cd40">1</td>
              <td id="table-cell-abb55ab72e67cf85fff7647d5164ace8">68% – 100%</td>
              <td id="table-cell-70b52218e842c5768365b6d27df321a9">Kreatif</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-e1357e1e71f2718d2dc8666769493e18">
              <td id="table-cell-298c11eb3241931248ebb43c1917cbad">2</td>
              <td id="table-cell-745d56d3cf1759c46bb0d936ccb3bffb">33% – 67%</td>
              <td id="table-cell-6e6a73798ceadd55d6a835f21213f8d2">Cukup Kreatif</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-2a9d1f863962f8d140af153e4099449c">
              <td id="table-cell-1820be42faf2460aae6129ac9afef7b1">3</td>
              <td id="table-cell-ce300505600a4fcebe4e45c412f48e54">&lt; 33%</td>
              <td id="table-cell-104300ddbed2837ffc1bf46b136eb522">Kurang Kreatif</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-29">Teknik analisis data menggunakan N- Gain, dimana nilai <italic id="_italic-64">posttest</italic> dikurangi nilai <italic id="_italic-65">pretest </italic>dibagi nilai maksimum dikurangi nilai <italic id="_italic-66">pretest. </italic></p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-30">Penelitian ini menggunakan beberapa metode untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran <italic id="_italic-67">Discovery Learning</italic> dengan Pendekatan <italic id="_italic-68">STM </italic>terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran IPA di SMP Muhammadiyah 4 Porong dijabarkan pada gambar 2.</p>
      <sec id="heading-2fe3b1945a9d0447e946e3695c9a45c5">
        <title>Data <italic id="_italic-69">pretest</italic> dan <italic id="_italic-70">posttest</italic> </title>
        <fig id="figure-panel-6949c92c3de50996028302dab85c1cd1">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <title>Hasil <italic id="italic-d64cc5e69c329250bcc5772bca735d45">pretest</italic> dan <italic id="italic-f05637927e9b68455a1c0db66d0d743b">posttest</italic> yang terdiri dari 14 siswa</title>
            <p id="paragraph-b510558ef6a96fce511dff15a262c14d" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-712426431a25c0b440dd07e98cf60706" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="ax2.JPG" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-34">Berdasarkan nilai <italic id="_italic-77">pretest</italic> keterampilan berpikir kreatif siswa berada pada kategori kurang kreatif yaitu sebanyak 100%. Nilai <italic id="_italic-78">posttest</italic> berada pada kategori cukup kreatif yaitu sebesar 100%. Jumlah rata-rata nilai <italic id="_italic-79">pretest</italic> sebesar 22 dan nilai <italic id="_italic-80">posttest </italic>sebesar 65,5. Berikut gambar 3 untuk memperjelas distribusi frekuensi tersebut.</p>
        <fig id="figure-panel-c17bea1ebede92ce1d583e41ae82018b">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <title>presentase nilai pretest dan post test</title>
            <p id="paragraph-4df22f29102537ee16c6c9a68e2e1df5" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-613a7d16d374c87b6356e54361fe8f5a" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="ax3_2.JPG" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-37">Berdasarkan gambar 3 menunjukkan bahwa frekuensi relatif (%) untuk nilai <italic id="_italic-81">pretest</italic> keterampilan berpikir kreatif siswa pada kategori kurang kreatif yaitu sebanyak 100%. Sedangkan nilai <italic id="_italic-82">posttest</italic> keterampilan berpikir kreatif siswa berada pada kategori cukup kreatif yaitu sebesar 100%. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada nilai <italic id="_italic-83">pretest</italic> 14 siswa masih kurang kreatif. Sedangkan pada nilai <italic id="_italic-84">posttest</italic> 14 siswa sudah cukup kreatif.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-2e473b4d0591e82dfc621dd35cb52927">
        <title>Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Tiap Indikator</title>
        <p id="_paragraph-39">Keterampilan berpikir kreatif terdapat 4 indikator yaitu kelancaran <italic id="_italic-85">(fluency),</italic> luwes <italic id="_italic-86">(flexibility),</italic> orisinil <italic id="_italic-87">(originality),</italic> merinci <italic id="_italic-88">(elaboration).</italic> Data hasil keterampilan berpikir kreatif siswa setiap indikator bisa dilihat pada tabel 3. </p>
        <table-wrap id="_table-figure-4">
          <label>Table 3</label>
          <caption>
            <title>Hasil keterampilan berpikir kreatif siswa setiap indikator</title>
            <p id="_paragraph-40" />
          </caption>
          <table id="_table-4">
            <tbody>
              <tr id="table-row-666d2ec85f3637e7c3bb600199481f7c">
                <td id="table-cell-3dc11d0f267e6cff6dfaf89a0a75eed2">Indikator Berpikir Kreatif</td>
                <td id="table-cell-2e8df3f508444ba60bafe7ab30ff6bc4">Rata- Rata (%)</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-45552bdbca321136eaeeb6859116398e">
                <td id="table-cell-710af3c5669467f7cee9c9a9650b4ece">Lancar (fluency)</td>
                <td id="table-cell-7c6a3ccb17d07dd28abb7d66806f2b02">79%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a1df592d0492bd254af42cb20de093a7">
                <td id="table-cell-55e1361ecb2dcb9738bb306185b60ff9">Luwes (flexibility)</td>
                <td id="table-cell-94e47d93fd0e445e5d983af622ab534f">69%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8b9b6b952d981a80f6b9e3dd16644359">
                <td id="table-cell-88db5cb1db8854edf355e02c2fb83114">Orisinil (originality)</td>
                <td id="table-cell-df50c7dec53701fd3e6cec45ca2b790b">24%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-b4ca0ddcbf760638bf94d980f968cb22">
                <td id="table-cell-8378cc84ef6f5e3864c10b97e18e2ca8">Merinci (elaboration)</td>
                <td id="table-cell-3f516fc8a9f5d38642b5dee761fa0a75">52%</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-41">Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa indikator keterampilan berpikir kreatif siswa yang tertinggi yaitu indikator kelancaran (fluency) sebesar 79%. Dan paling rendah pada indikator orisinil (originality) yaitu sebesar 24% Sedangkan pada indikator luwes (flexibility) sebesar 69% dan merinci (elaboration), sebesar 52%. Berikut hasil persentase rata-rata indikator berpikir kreatif siswa untuk setiap indikator sebagaimana bisa diihat pada gambar 4.</p>
        <fig id="figure-panel-944f5ef7c152a843de48aaf1e2ae35d6">
          <label>Figure 4</label>
          <caption>
            <title>Hasil Presentase Indikator Berfikir Kreatif</title>
            <p id="paragraph-9cb901563012117ef99a8f5c7fb07019" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-e89dfeaa990b81cc386be49da2bd71c5" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="ax4.JPG" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-43">Berdasarkan Gambar 4 didapatkan bahwa indikator keterampilan berpikir kreatif siswa yang tertinggi yaitu indikator lancar <italic id="_italic-93">(fluency)</italic> sebesar 79%. Dan paling rendah pada indikator orisinil <italic id="_italic-94">(originality)</italic> yaitu sebesar 24% Sedangkan pada indikator luwes <italic id="_italic-95">(flexibility)</italic> sebesar 69% dan merinci <italic id="_italic-96">(elaboration),</italic> sebesar 52%. Pada keterampilan berpikir kreatif harus memenuhi ke empat indikator tersebut yaitu berpikir lancar luwes, orisinil dan merinci. Selain itu dapat efektif jika terdapat peningkatan dari <italic id="_italic-97">pretest </italic>dan <italic id="_italic-98">posttest</italic>. Berdasarkan data dan perhitungan, diperoleh nilai rata-rata pretest sebesar 22 sedangkan nilai rata-rata posttest sebesar 65,5. Pada nilai pretest seluruh siswa tergolong kategori kurang kreatif.</p>
        <p id="_paragraph-44">Kurangnya kreativitas siswa, dikarenakan pada pembelajaran siswa tidak menunjukkan rasa keingin tahuannya dan kurangnya pertanyaan yang diajukan terhadap materi tersebut. Markey dan Loewenstein dalam Raharja [14] bahwasannya rasa ingin tahu merupakan awal dari tolak ukur adanya kaingin tahuan untuk mendapatkan informasi terhadapap sesuatu dalam proses pembelajaran. Sehinggga dengan adanya rasa ketidak ingin tahuan siswa ini akan mempengaruhi bagaimana proses pembelajaran selanjutnya. Pada nilai <italic id="_italic-99">posttest</italic> seluruh siswa tergolong kategori cukup kreatif. Berdasarkan data keterampilan berpikir kreatif siswa setiap indikator. Pada indikator lancar <italic id="_italic-100">(fluency),</italic> diperoleh persentase yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan pada tahap awal penggabungan model pembelajaran <italic id="_italic-101">Discovery Learning </italic>denganpendekatan <italic id="_italic-102">Sains Teknologi Masyarakat (STM)</italic>, siswa diberikan kesempatan untuk menjelaskan masalah pada kehidupan sehari hari, baik yang mereka alami sendiri ataupun permasalahan yang pernah mereka lihat sehingga rasa ingin tahu dari siswa dapat terasa sebagai dasar dalam pembelajaran. Sehingga keterampilan berpikir kreatif siswa pada komponen <italic id="_italic-103">fluency </italic>menjadi terlatih dan berdampak positif pada meningkatnya nilai mereka dari <italic id="_italic-104">pretest</italic> ke <italic id="_italic-105">posttest.</italic> Selanjutnya diikuti oleh indikator luwes <italic id="_italic-106">(flexibility)</italic> dengan nilai persentase tertinggi kedua. Hal ini dikarenakan pada penggabungan model pembelajaran <italic id="_italic-107">Discovery Learning </italic>denganpendekatan <italic id="_italic-108">Sains Teknologi Masyarakat (STM)</italic>, siswa diberi kesempatan memberikan solusi terhadap suatu masalah dengan mengaitkannya pada bidang sains, teknologi dan juga bagaimana penerapan ataupun dampak dari sains dan teknologi itu bagi masyarakat. Siswa dituntut untuk lebih luwes dalam menyikapi permasalahan dan mencari solusi atas permasalahan tersebut. Siswa dituntut untuk melihat suatu permasalahan dan mencari solusinya dari berbagai sudut pandang. Sehingga keterampilan berpikir kreatif siswa pada komponen <italic id="_italic-109">flexibility</italic> menjadi terlatih dan berdampak positif pada meningkatnya nilai mereka dari <italic id="_italic-110">pretest</italic> ke <italic id="_italic-111">posttest.</italic></p>
        <p id="_paragraph-45">Pada indikator orisinil <italic id="_italic-112">(originality)</italic> dengan nilai persentase terendah. Penggabungan model pembelajaran <italic id="_italic-113">Discovery Learning </italic>denganpendekatan <italic id="_italic-114">STM </italic>siswa diberi kesempatan untuk menemukan penyelesaian baru dalam pembelajaran. Namun hasil temuan dari siswa sudah pernah terpikirkan oleh orang lain. Bahkan masing-masing jawaban semua sama. Sehingga dapat dikatakan bahwa hasil nilai pada indikator orisinil tergolong rendah. Rendahnya persentase rata-rata tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan baru siswa dalam menjawab soal yang diberikan. Pada indikator merinci dengan nilai persentase tertinggi ketiga setelah lancar dan luwes, dari persentase terlihat bahwa kemampuan berpikir terperinci siswa sudah cukup bagus. Sedangkan selebihnya masih kurang bagus dalam menyelesaikan soal dengan baik dan benar. Hal ini dikarenakan pada penggabungan model pembelajaran <italic id="_italic-115">Discovery Learning </italic>denganpendekatan <italic id="_italic-116">Sains Teknologi Masyarakat (STM)</italic>, siswa diberikan kesempatan untuk merincikan penyelesaian masalah, namun siswa merasa cukup kesulitan untuk memberikan alasan, memaparkan langkah-langkah menyelesaikan soal dan bingung harus memulai dari mana.</p>
        <p id="_paragraph-46">Hasil peningkatan nilai tersebut dihitung menggunakan uji N-Gain sehingga diperoleh nilai rata- rata N- Gain sebesar 0,38. Sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran <italic id="_italic-117">Discovery Learning</italic> dengan Pendekatan <italic id="_italic-118">Sains Teknologi Masyarakat (STM)</italic> dalam kategori sedang sehingga cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa. Peningkatan ini didukung oleh tahapan penggabungan pada pembelajaran <italic id="_italic-119">Discovery Learning</italic> dan pendekatan <italic id="_italic-120">Sains Teknologi Masyarakat (STM)</italic>. Selain itu didukung oleh penelitian terdahulu dari skripsi yang terpublikasi secara internasional yaitu pada penelitian Ratu Betta Rudibyani yang menyatakan bahwa model <italic id="_italic-121">discovery learning</italic> efektif dan berpengaruh tinggi dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif pada penguasaan asam dan basa.[15] Selain itu juga didukung oleh penelitian dari Mardia Rahman yang menyatakan bahwa model <italic id="_italic-122">discovery learning</italic> efektif untuk pembelajaran karena model ini dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari masalah yang mereka hadapi [16] Selain itu tahapan dalam discovery learling mengorientasikan siswa dalam menemukan dan merumuskan masalah dimana pada kondisi ini tahapan luwes dan lancer dalam berfikir kreatif di latihkan. Langkah selanjutnya adalah merencanakan jalan keluar permasalahan melalui percobaanataupun cara-cara lain yang dapat dilakukan oleh siswa dimana hal ini mengajarkan siswa dalam berfikir orisinil. Pada tahapan melakukan percobaan siswa dilatih untuk memiliki indikator berpikir kreatif yaitu berpikir elaboratif. Selanjutnya siswa melakukan analisis data yang terah mereka temukan. Pada tahapan ini siswa dilatih untuk berpikir lancar, luwes, dan elaboratif. Setelah melakukan analisis data siswa diminta untuk menyimpulkan hasil dari percobaan yang telah mereka buat. [17] Tidak hanya model pembelajaran <italic id="_italic-123">discovery learning</italic> namun juga pendekatan <italic id="_italic-124">STM</italic> dari skripsi Weni Eka Wahyuni yang terpublikasi secara internasional yang menyatakan bahwa pendekatan <italic id="_italic-125">sains teknologi masyarakat</italic> dapat meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa smp.[18] Hal ini dikarenakan pada tahapan penggabungan antara model <italic id="_italic-126">Discovery Learning</italic> dan pendekatan <italic id="_italic-127">STM, </italic>[19] penggunaan pendekatan STM dalam proses pembelajaran mengaitkan dengan kondisi lingkungan siswa sehingga menghadirkan dunia nyata siswa dalam pembelajaran. menekankan pada siswa untuk lebih aktif dalam belajar dan mendorong siswa untuk menemukan penyelesaian masalah dalam pembelajaran selain itu Sejalan dengan Wulandari [20] menyatakan untuk melatihkan siswa pada keterampilan berfikir kreatif terutama pada indikator merinci dalam melakukan hal-hal detail dalam hal ini adalah melakukan eksperimen yang sesuai dengan prosedur percobaan yang telah ditetapkan oleh siswa sebgai langah dalam memecahkan permasalahan.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-47">Berdasarkan apada hasil penelitian yang dilakukan pada siswa di SMP 4 porong di ketahui bahwa kreativitas siswa sebelum dan stelah perlakukan porong setelah penggunaan model <italic id="_italic-128">Discovery Learning </italic><italic id="_italic-129">dengan</italic>Pendekatan<italic id="_italic-130"> STEM </italic>dapat disimpulkan menpunyai pengaruh yang sedang terhadap kreativitas siswa. Adapun kriteria yang paling tinggi adalah pada indikator lancer, yang tertinggi ke dua adalah luwes, yang ketiga merinci dan yang terakhir adalah original sehingga dengan adanya hasil penelitian ini makan model pembelajaran <italic id="_italic-131">discovery learning </italic>dengan pendekatan STM dapat di gunakan sebgai upaya dalam melatihan keterampilan berfikir kreatif.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-5">
      <title>Ucapan Terima Kasih</title>
      <p id="_paragraph-48">Ucapan terima kasih pada sekolah SMP 4 Porong dan Universitas Muhammadiyah SIdoarjo yang telah memberikan akses peneliti dalam mengimplementasikan beberapa model pembelajaran sebagai sarana dalam pengembangan ilmu Pendidikan</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>