Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Philosophy. Psychology. Religion
DOI: 10.21070/acopen.7.2022.5519

Overview of Consumptive Behavior in High School Students


Gambaran Perilaku Konsumtif pada Siswa Sekolah Menengah Atas

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Consumptive Behavior SMK YAPALIS Krian Students Description Analysis

Abstract

This research is motivated by the number of Consumptive Behaviors of SMK YAPALIS Krian students. This study aims to determine the description of consumptive behavior in students of SMK YAPALIS Krian. The variable in this study is Consumptive Behavior. The sample in this study were students of SMK YAPALIS Krian, totaling 286 students of grade 10 to grade 12. Determination of the sample using proportionate stratified random sampling on students of SMK YAPALIS Krian. Data collection was carried out using a Consumptive Behavior psychology scale with a Likert scale model. The analysis technique used descriptive quantitative with the help of SPSS 18.0 for windows. The results of the analysis of Consumptive Behavior in YAPALIS Krian Vocational High School students obtained the results of 21 students who had very high Consumptive Behavior, 63 students had high Consumptive Behavior, 116 students had moderate Consumptive Behavior, 67 students who have Low Consumptive Behavior and 19 students have Low Consumptive Behavior, it can be said that YAPALIS Krian Vocational School students have Consumptive Behavior with a Medium Category tending to the top

Highlights:

  • Consumptive behavior prevalence: The study highlights the distribution of consumptive behavior among students of SMK YAPALIS Krian, indicating the varying levels of consumption exhibited by the students.

  • Sample size and methodology: The study involved a sample of 286 students from grades 10 to 12, selected through proportionate stratified random sampling, providing a comprehensive representation of the student population.

  • Descriptive analysis results: The analysis revealed that a significant portion of the students exhibited moderate to high levels of consumptive behavior, emphasizing the need for further investigation and potential intervention to address this behavior pattern.

Keywords: Consumptive Behavior, SMK YAPALIS Krian, Students, Description, Analysis

Pendahuluan

Sistem pendidikan nasional pemerintah tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 3 menjelaskan tentang keterkaitan semua komponen pendidikan scara terpadu dengan harapan tercapainya pendidikan nasional sebagai bentuk pembangunan secara berkelanjutan. Selanjutnya pada pasal 1 ayat 1 dan 2 menjelaskan tujuan pendidikan adalah aktifitas sadar dan terencana untuk melahirkan lingkungaan belajar serta proses pembelajaran serta mengembangkan potensi pada sertiap peserta didik didalam masyarakat sebagaimana amanah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman [1]. Selanjutnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 18 ayat 2 dan 3 menjelaskan sekolah menengah kejuruan (SMK) adalah salah satu sekolah lanjutan ditingkat menengah selain sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA) dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan kejuruan adalah pendidikan formal tingkat menengah yang bertujuan untuk menciptakan peserta didik yang lebih unggul dalam kemampuan yang dimiliki. Pendidikan kejuruan terdiri dari Sekolah Menengah Kejuruan, dan Madrasah Aliyah Kejuruan [1]

Menurut [2] selain faktor guru, tujuan dan metode pembelajaran. Siswa merupakan salah satu bagian dari pendidikan yang juga menjadi faktor penting penentu proses kegiatan belajar mengajar. Siswa SMK menurut peraturan bersama antara menteri pendidikan nasional dan mentri agama pasal 7 ayat 3 menjelaskan bahwa usia Siswa SMK paling tinggi 21 tahun pada awal masuk tahun pelajaran baru [3]. Menurut [4] menjelaskan Fase-fase masa remaja dibatasi antara usia 12-21 tahun, terbagi menjadi tiga fase yaitu : 1) individu usia 12-15 tahun tergolong masa remaja awal, 2) individu usia 15-18 tahun tergolong masa remaja pertengahan, 3) individu usia pada usia 18-21 tahun tergolong masa remaja akhir. Kewajiban perkembangan remaja terkait pada desakan terhadap perubahan yang dialami di usia remaja, perubahan yang dialami ada hubunganya dengan sikap dan perilaku pada masa peralihan dalam memasuki usia dewasa. Artinya siswa SMK berada pada fase Remaja. [5]) mengatakan setiap tahap perkembangan menuntut penyesuaian dari tahap perkembangan sebelumnya ke tahap perkembangan selanjutnya. Tuntutan tersebut disebut tugas perkembangan. Menurut Fitriyah (2018) mengatakan konsekuensi adaptasi remaja terhadap perubahan pada aspek biologis, remaja akan melakukan tindakan untuk dapat diterimah oleh tuntutan diri dan lingkungan. Tindakan tersebut salah satunya berkaita dengan berbelanja untuk pemenuhan kebutuhan penampilan diri remaja. Lebih lanjut Fitriyah (2018) mengatakan perilaku berbelanja yang dilakukan oleh remaja cenderung mengarang pada perilaku konsumti. Hasil penelitiannya terhadap perilaku konsumtif pada siswa SMA/remaja menunjukkan sebagian besar perilaku konsumtif remaja bergerak dari sedang ke tinggi yakni 68%. Pada penelitian lain yang di teliti oleh [6]“Gambaran Perilaku Konsumsi Pada Perempuan Dewasa Awal, Sebuah Life History” menyimpulkan bahwa remaja cenderung membeli pakaian terutama model terbaru, yang pada akhirnya hal tersebut mengarah pada perilaku konsumtif.

Hasil wawancara menunjukkan adanya perilaku yang selalu ingin mengikuti trend dan fashion yang ada saat ini sehingga menimbulkan keinginan untuk selalu berbelanja yang berlebihan dan berulang pada barang yang hanya menimbulkan kesenangan bukan kebutuhan yang akhirnya mengarah pada pemborosan. Perilaku tersebut merupakan gambaran pada aspek perilaku konsumtif: perilaku impulsive, mencari kesenangan dan pemborosan

Aspek dari perilaku konsumtif menurut [7] terdiri dari : impulsif, mencari kesenangan (Non-rational) dan pemborosan (Wasteful buying). Berdasarkan perilaku konsumtif tersebut Terdapat ciri-ciri dari perilaku konsumtif menurut [8] ada delapan ciri perilaku konsumtif, yakni: 1) membeli produk dengan harapan mendapatkan hadiah, 2) kemasan yang eksklusif, 3) mempertahankan penampilan pribadi dan gengsi, 4) berbelanja karena tergiur diskon 5) pembelian barang untuk mempertahankan status sosial, 6) dampak public figure yang mempromosikan barang, 7) persepsi jika membeli produk atau berbelanja benda dengan harga tinggi akan meningkatkan kepercayaan diri yang tinggi, dan 8) mencoba secara berlebih berbagai produk pada kategori yang sama dengan merk beragam.

[5] Berpendapat jika ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif. yaitu faktor eksternal mencakup kebudayaan dan kebudayaan khusus, kelas sosial, kelompok sosial dan kelompok referensi, keluarga. Sedangkan faktor iternal mencakup motivasi dan harga diri, pengamatan dan proses belajar, kepribadian dan konsep diri. Berdasarkan kajian sebelumnya peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang perilaku konsumtif remaja pada siswa SMK Yapalis Krian. Mengingat fenomena perilaku konsumtif teradi disekolah tersebut serta SMK Yapalis Krian merupakan salah satu sekolah yang cukup besar di kecamatan Krian dengan jumlah peserta didik 1620 di tahun ajaran 2021 sd 2022.

Metode Penelitian

Metode kuantitatif deskriptif digunakan untuk penelitian ini. Menurut [8] metode kuantitatif adalah metode penelitian berdasarkan sesuai filsafat positivisme, yaitu menilai gejala/fenomena ini dapat dikelompokkan, relatif tetap, konkrit, teramati, terukur serta hubungan gejala yang sifatnya sebab akibat. Sedangkan deskriptif adalah penelitian yang tidak membuat perbandingan variabel itu pada sample yang lain serta mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain. Data yang dikumpulkan ini bersifat deskriptif sehingga tidak untuk mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi, maupun mempelajari implikasi. Penyajian hasi analisis penelitian deskriptif dalam penelitian ini berupa frekuensi dan persentase, yaitu dengan menggunakan tabel frekuensi serta grafik untuk memberikan kejelasan serta pemahaman keadaan data yang disajikan. Azwar (dalam Muttaqin 2009). Subjek untuk penelitian saat ini adalah SMK Yapalis Krian berjumlah 1.620 siswa. Penelitian ini menggunakan proportionate stratified random sampling. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan skala psikologi yaitu skala psikologi Perilaku Konsumtif sebagai teknik pengumpulan data yaitu skala Likert yang disusun disusun oleh [7]

Nilai validitas serta Uji validitas ini menggunakan pertimbangan professional judgment. Teknik korelasi menggunakan proportionate stratified random sampling dengan bantuan program spss 18.0 for wimdows. Hasil uji koefisien reliabilitas pada skala pola asuh demokratis memiliki nilai Cronbach's Alpha 0, 0.821 > 0,6 maka skala Perilaku Konsumtif dapat dinyatakan reliabel.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Dari hasil dari uji normalitas pada Perilaku Konsumtif memiliki nilai Sig. (2-tiled) 0,338 > 0,05 yang berarti data pada skala Perilaku Konsumtif berdistribusi normal.

Peneliti juga melakukan uji homogenitas. Uji Homogenitas dilakukan pada variabel Perilaku Konsumtif yang menggunakan teknik Homogeneity of Variances dengan syarat nilai signifikansi > 0,05 maka skala yang disebar oleh peneliti dinyatakan berdistribusi normal. Berikut tabel uji normalitas pada skala Perilaku Konsumtif.

Berdasarkan hasil Uji Normalitas dan uji Homogenitas diatas, maka peneliti dapat melanjutkan pengujian menggunakan One Way Anova dengan bantuan SPSS 18.0 for windows. Dari hasil uji korelasi terdapat nilai signifikansi adalah 0, 396 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata Tingkat Konsumtif Siswa Kelas X, XI dan XII tersebut adalah sama atau tidak ada perbedaan.

Uji Beda dilakukan pada variabel Perilaku Konsumtif yang menggunakan teknik Independent Sample T-Test dengan syarat nilai signifikansi > 0,05 maka skala yang disebar oleh peneliti dinyatakan tidak terdapat perbedaan Perilaku Konsumtif antara Laki-laki dan Perempuan. Berikut tabel uji beda pada skala Perilaku Konsumtif. Dari hasil dari uji normalitas pada Perilaku Konsumtif memiliki nilai Sig. 0,228 > 0,05 yang berarti data pada Perilaku Konsumtif tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Laki-laki dan Perempuan.

Kategorisasi Perilaku Konsumtif
Total Siswa %
Sangat Tinggi 21 7%
Tinggi 63 23%
Sedang 116 41%
Rendah 67 22%
Sangat Rendah 19 7%
Total 286 100%
Table 1.Kategori Skor Subjek

Berdasarkan kategori skor subjek pada siswa SMK YAPALIS Krian tingkat Perilaku Konsumtif yang ditunjukkan pada tabel 4.6 dapat diketahui dari 286 siswa pada kategori Perilaku Konsumtif terdapat 7% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif sangat tinggi, 23% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif tinggi, 41% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif sedang, 22% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif rendah dan 7% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif sangat rendah.

Jurusan Subyek Skor Total Hasil Prosentase
Teknik dan Bisnis Sepeda Motor 36 2582 72 35%
Multimedia 168 11321 67 33%
Akuntansi dan Keuangan Lembaga 82 5240 64 31%
Jumlah 286 203 100%
Table 2.Perilaku Konsumtif Berdasarkan Jurusan

Prosentase Perilaku Konsumtif Berdasarkan Jurusan pada siswa SMK YAPALIS Krian, tingkat Perilaku Konsumtif yang ditunjukkan pada tabel 4.7 dapat diketahui 35% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif pada Jurusan Teknik Dan Bisnis Sepeda Motor, kemudian terdapat 33% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif pada Jurusan Multimedia serta 31% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif pada Jurusan Akuntansi Dan Keuangan Lembaga. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Perilaku Konsumtif Sangat Tinggi berada pada Jurusan Teknik Dan Bisnis Sepeda Motor memiliki nilai 35%.

Prosentase Faktor Yang Paling Mempengaruhi
Motivasi 115 40%
Harga Diri 33 11%
Pengamatan 48 17%
Proses Belajar 16 6%
Kepribadian 61 21%
Konsep Diri 13 5%
Total 286 100%
Table 3.Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif

Berdasarkan hasil dari table Prosentase Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif menunjukkan bahwa Motivasi memiliki hasil tertinggi yaitu 40% dengan jumlah Subjek 155 siswa, Harga Diri memiliki hasil 11% dengan jumlah Subjek 33 siswa Pengamatan memiliki hasil 17% dengan jumlah Subjek 48 siswa, Proses Belajar memiliki hasil 6% dengan jumlah Subjek 16 siswa, Kepribadian memiliki hasil 21% dengan jumlah Subjek 61 siswa dan Konsep Diri memiliki hasil 6% dengan jumlah Subjek 13 siswa.

Pembahasan

Berdasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti pada tanggal 4-6 Desember 2021 dengan subjek siswa SMK YAPALIS Krian dengan memberikan skala Perilaku Konsumtif diketahui hasil analisis data menunjukkan adanya Perilaku Konsumtif pada siswa SMK YAPALIS Krian yang menunjukkan hasil yang sedang. Hal ini dapat dibuktikan dengan diperoleh nilai 116 siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif dengan kategori sedang. Hasil analisis kategorisasi Perilaku Konsumtif sebagian kecil menunjukkan kurang lebih 29% memiliki perilaku konsumtif rendah, artinya masih ada sebagian besar siswa SMK YAPALIS Krian memiliki perilaku konsumtif yang sedang ke atas yaitu kurang lebih 71%.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh [9] dengan judul “Hubungan Antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo” juga menunjukkan bahwa mayoritas perilaku konsumtif pada siswa di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo berada dikategori sedang sebesar 39%. Hal ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa perlaku konsumtif identik dengan usia remaja. Menurut [10]) bahwa sikap konsumtif yang timbul di kalangan remaja pada usia 15-18 tahun dapat diartikan hidup dengan keinginan membeli barang-barang yang tidak diperlukan. Berkonsumsi dalam hal ini tidak lagi dilakukan karena produk tersebut memang dibutuhkan, namun berkonsumsi dilakukan karena alasan-alasan lain seperti sekedar mengikuti arus mode, hanya ingin mencoba produk baru, ingin terlihat menarik serta memperoleh pengakuan sosial dan sebagainya[11]. Hasil dari komparasi kelas 1, 2, 3 adalah tidak ada perbedaan tingkah perilaku konsumtif pada siswa kelas 1, 2 dan 3 karena mereka masih satu kelompok usia remaja yang sama. Menurut Hasil dari komparasi kelas 1, 2, 3 adalah tidak ada perbedaan tingkah perilaku konsumtif pada siswa kelas 1, 2 dan 3 karena mereka masih satu kelompok usia remaja yang sama. Menurut [12]) menyatakan bahwa salah satu lapisan konsumen dalam melakukan kegiatan konsumsi adalah remaja, remaja memiliki kemampuan berkonsumsi yang irasional. Perasaan senang tersebut timbul saat individu merasa keinginan nya untuk mendapatkan suatu barang dapat terwujud. Sehingga timbul perilaku membeli yang tidak rasional karena saat merasa senang berbelanja secara berlebihan tanpa berfikir panjang untuk di kemudian hari serta kegunaan dan manfaat terlebih dahulu demi mencapai kesenangan yang bersifat sesaat saja sehingga tanpa disadari perilaku tersebut dapat menimbulkan pemborosan [13].

[9] menyatakan ketika remaja sudah merasa senang dan menganggap bahwa kegiatan belanja yang berlebihan merupakan suatu kewajaran demi mengejar kepuasan dan kesenangan, maka perilaku konsumtif ini yang menyebabkan pemborosan. Menurut [5], terdapat perilaku konsumtif yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu dari dalam diri individu (internal) dan faktor dari luar diri individu (eksternal). Faktor dari dalam diri individu seperti: motivasi dan harga diri, pengamatan dan proses belajar, kepribadian dan konsep diri. Sedangkan faktor dari luar seperti : kebudayaan dan kebudayaan khusus, kelas sosial, kelompok sosial dan kelompok refrensi, keluarga Dari hasil diatas motivasi merupakan faktor tertinggi dari siswa untuk berperilaku konsumtif [14]. [15] jadi motivasi yang tinggi pada konsumen sangat berpengaruh dalam diri seseorang dalam melakukan sesuatu atau membeli barang yang diinginkan tanpa pertimbangan secara matang.

Simpulan

Berdasrkan pada penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat perilaku konsumtif pada siswa SMK Yapalis Krian, peneliti melakukan analisa data yang menunjukkan adanya sebagian besar perilaku konsumtif yang sedang ke atas pada pada siswa SMK Yapalis Krian. Hasil penelitian tersebut menunjukkan 41% siswa SMK Yapalis Krian memiliki Perilaku Konsumtif yang sedang, 23% menunjukkan perilaku konsumtif yang tinggi dan 7% menunjukkan perilaku konsumtif yang sangat tinggi. Peneliti juga menghitung berdasarkan jurusan, dapat diketahui 35% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif pada Jurusan Teknik Dan Bisnis Sepeda Motor, kemudian terdapat 33% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif pada Jurusan Multimedia serta 31% siswa yang memiliki Perilaku Konsumtif pada Jurusan Akuntansi Dan Keuangan Lembaga. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Perilaku Konsumtif Sangat Tinggi berada pada Jurusan Teknik Dan Bisnis Sepeda Motor memiliki nilai 35%.

References

  1. Kemendikbud, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,” Pendidikan, pp. 8–30, 2020, [Online]. Available: http://piaud.uin-suka.ac.id/media/dokumen_akademik/43_20210506_Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.pdf
  2. J. Vamela, H. Adelina, and Y. Nurmalisa, “Persepsi siswa tentang Proses Pembelajaran oleh Guru non PKn di SMA Bina Mulya Kedaton Bandar Lampung,” J. Penelit. Pendidik., 2012.
  3. Simpuh.kemenag.go.id, Peraturan Bersama Antara Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama Nomor 04/VI/PB/2011 Nomor MA/111/2011 Tenteng Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-Kanak/Raudhatul Athfal/Bustanul Athfal dan Sekolah/Madrasah. 2011, pp. 1–8.
  4. B. A. B. Ii and A. Remaja, “tahapan umur remaja I Puspita - ‎2017.pdf,” Univ. medan area, no. Sarwono 2006, pp. 13–38, 2011, [Online]. Available: http://repository.uma.ac.id/bitstream/123456789/1234/5/13.860.0063_file5.pdf
  5. M. D. Wardhani, “Hubungan antara Konformitas dan Harga Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri,” Pendidikan, pp. 34–39, 2009.
  6. R. Umami and Nurcahyati, “Gambaran Perilaku Konsumsi Pada Perempuan Dewasa Awal, Sebuah Life History,” J. Penelit. Psikol., vol. Volume 01, no. 2, pp. 1–6, 2013, [Online]. Available: file:///F:/semester 7/SKRIPSI/WPS/1862-3453-1-PB.pdf
  7. K. Fitriyah, “Hubungan Harga Diri dengan Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa Di Universitas Muhammadiyah Malang,” pp. 1–17, 2016, [Online]. Available: https://eprints.umm.ac.id/34367/1/jiptummpp-gdl-khilidfitr-44442-1-softfile-i.pdf
  8. R. Adiputra and C. Moningka, “Gambaran Perilaku Konsumtif Terhadap Sepatu Pada Perempuan Dewasa Awal,” Psibernetika, vol. 5, no. 2, pp. 76–90, 2012.
  9. A. Q. Thohiroh, “Perilaku Konsumtif Melalui Online Shopping Fashionpada Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadyah Surakarta,” 2015.
  10. Andaryanti and Endang, “Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Perilaku Konsumtif Terhadap Pakaian Pada Siswi Kelas Xi Sman 1 Pati,” J. empati, vol. 7, no. Nomor 4, pp. 60–66, 2018.
  11. M. Khairat, N. A. Yusri, and S. Yuliana, “Hubungan Gaya Hidup Hedonis Dengan Perilaku Konsumtif Pada Mahasiswi,” Al-Qalb J. Psikol. Islam, vol. 9, no. 2, pp. 130–139, 2019, doi: 10.15548/alqalb.v9i2.861.
  12. U. Anggraeni and I. Barlian, “Pengaruh Literasi Ekonomi Terhadap Perilaku Konsumtif Belanja Online Pada Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sriwijaya,” 2022, [Online]. Available: https://repository.unsri.ac.id/71179/%0Ahttps://repository.unsri.ac.id/71179/57/RAMA_87203_06031181823012_0030046011_01_front_ref.pdf
  13. A. Asri, “Pengaruh Kepercayaan Diri Terhadap Perilaku Konsumtif Pada Siswa Kelas Xi Sma Negeri 1 Babelan,” JPPP - J. Penelit. dan Pengukuran Psikol., vol. 1, no. 1, pp. 197–202, 2017, doi: 10.21009/jppp.011.26.
  14. T. Y. S. dan F. Suyasa, “Perbandingan perilaku konsumtif berdasarkan metode pembayaran,” Phronesis, no. December, 2005.
  15. M. Kaunang, J. Sepang, and R. Rotinsulu, “Analysis of Effect of Motivation , Perceptions , Quality of Service , and Promotion To the Purchase Decision of Honda Motorcycle in,” Berk. Ilm. Efisiensi, vol. 15, no. 05, pp. 585–597, 2015.