Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Philosophy. Psychology. Religion
DOI: 10.21070/acopen.7.2022.5498

Overview Of Emotional Regulation on Kindergarten Teachers In District


Gambaran Regulasi Emosi pada Guru Taman Kanak-KanakĀ  di Kecamatan

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Emotional Regulation Kindergarten teachers Sidoarjo sub-district Descriptive quantitative methods Likert scale model

Abstract

This study aims to see the description of emotion regulation in kindergarten teachers in Sidoarjo sub-district. The data collection method in this study used descriptive quantitative methods. The variable of this research is emotion regulation. The population of this research is all 315 kindergarten teachers in Sidoarjo sub-district, with a sample of 200 teachers using random sampling technique. The data collection technique in this study used a Likert scale model. Analysis of the data in this study using SPSS 16.0 for windows. From the data analysis shows the value of r = 0,895 which means the emotional regulation scale is reliable. And in the category of emotional regulation, kindergarten teachers are in the medium category with a percentage value of (74%) indicating that kindergarten teachers in Sidoarjo sub-district are quite good.

Highlights:

  • The study focuses on describing emotion regulation in kindergarten teachers in Sidoarjo sub-district.
  • Data collection method involves a sample of 200 teachers using random sampling technique.
  • Analysis of data using SPSS 16.0 shows reliable emotional regulation scale and medium level of emotional regulation among kindergarten teachers in Sidoarjo sub-district (74%).

Keywords: Emotion regulation, Kindergarten teachers, Sidoarjo sub-district, Descriptive quantitative methods, Likert scale model

Pendahuluan

Pandemi corona virus atau yang biasa dikenal dengan covid-19 mengubah tatanan kehidupan masyarakat di dunia, termasuk Indonesia, salah satu perubahan nyata adalah penerapan sistem pendidikan “Belajar Dari Rumah” [1]. Rumah sering dianggap sebagai tempat belajar informal. Pembelajaran tidak terstruktur dan siswa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri. Perkembangan teknologi mengubah rumah menjadi lingkungan belajar anak usia 3 hingga 6 tahun “Belajar Dari Rumah” dimana anak-anak tinggal di rumah untuk mengambil pelajaran dengan guru dari lokasi yang berbeda, disebut pembelajaran jarak jauh [2].

Belajar tatap muka berbeda dengan belajar di dalam jaringan yang tidak mudah dilaksanakan, perbedaan yang terlihat adalah siswa tidak bisa berinteraksi dengan pengajar [3]. Sehingga menimbulkan keterbatasan komunimasi, komunikasi yang terbatas menyebabkan keterbatasan guru dalam memberikan informasi. Pendidikan dalam jaringan harus mengutamakan otonomi siswa [4]. Kemandirian ini harus ditanamkan dimasa covid dalam proses pembelajaran.

Prosedur pembelajaran ini memiliki kekurangan dan kelebihan. Keuntungannya adalah siswa lebih leluasa untuk menjalani proses pembelajaran, karena dapat menyesuaikan lokasi belajar tergantung keadaan dan kondisi saat itu. Namun kelemahannya adalah siswa tidak dapat secara langsung berinteraksi dengan guru dan siswa lain dalam kondisi nyata, sehingga mempengaruhi emosi siswa itu sendiri. Selain itu, siswa harus mengandalkan internet jika pendidikan jarak jauh dilakukan secara internet online [5].

Perubahan pembelajaran di sekolah TK menggunakan pendekatan belajar sambil bermain, interaksi dengan siswa lain, guru, sumber belajar, keterlibatan orang tua sebagai pendidik langsung mereka, anak-anak, tetapi sekarang fitur pembelajaran online. Dengan pembelajaran jarak jauh, guru perlu mempersiapkan diri Pengajar yang inovatif akan mampu meningkatkan kualitas dalam kondisi apapun sebagai guru. kesiapan seorang pengajar dalam menjalankan proses pembelajaran sangat besar pengaruhnya terhadap kesuksesan pembelajaran di sekolah dan pengajar yang dipersiapkan dengan baik akan mampu memberikan peningkatan hasil belajar siswa Adapaun pendapat [6]. Pengajar siap melaksanakan proses pembelajaran dengan merancang RPP, melaksanakan menilai dan memantau dengan mempertimbangkan sejumlah faktor yang dianggap penting oleh guru.

Guru mempersiapkan kurikulum sebagai kerangka kerja teroganisir yang menggambarkan isi dan proses pembelajaran untuk membantu anak mencapai tujuan kurikulum, yang dilakukan guru adalah untuk membantu anak mencapai tujuan, dan konteks dimana proses belajar mengajar berlangsung. Program ini untuk anak-anak dari lahir sampai dua tahun. Setiap pengalaman belajar dan kegiatan sehari-hari adalah bagian dari program mengganti popok, makan mandi dan menghibur anak-anak adalah bagian dari program.

Perlunya pendidikan dengan metode yang sudah ada untuk melatih perkembangan pada anak dan juga mengasah kemampuan motorik serta bahasa anak dalam berkehidupan di lingkungan sekitar, dalam perkembangan fisik, anak sangat aktif dalam berbagai kegiatan. Hal ini bermanfaat untuk perkembangan otot besar dan kecil, perkembangan bahasa juga meningkat. Anak dapat memahami perkataan orang lain dan mapu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu. Perkembangan kognitif ( kemapuan berfikir) yang sangat pesat, tercermin diri rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa anak-anak sering mempertanyakan segala sesuatu yang mereka lihat, bentuk permainan mereka masih bersifat pribadi, bukan permainan sosial. Meskipun kegiatan menyenangkan dilakukan oleh anak-anak secara bersama-sama. [7]

Masa anak-anak, sejak lahir sampai dengan usia delapan tahun, harus dirangsang secara optimal agara potensi perkembangannya terwujud secara maksimal. Untuk merangsangnya, harus melalui program inovatif berbasis penelitian dunia nyata, serta layanan terpadu antara sekolah dan rumah. Strategi pembelajaran yang baik ini berdasarkan hasil penelitian perkembangan pembelajaran dapat menumbuhkan dan mengembangkan neuron otak. Melalui pembelajaran yang mengaktifkan panca indra anak dan anak mengalami aktivitas belajarnya secara langsung, maka struktur otak akan berkembang dengan baik. Setiap sekolah mengevaluasi kurikulum yang digunakan saat ini, selalu meningkatkan strategi pembelajaran, mengelola ruang kelas yang nyaman bagi guru saat mengajar, menenangkan anak untuk belajar, menilai dan mengamati perkembangan setiap anak untuk mengetahui keunikan anak. Program inovatif ini menenkankan pengelolaan kelas dan kenikmatan positif dari interaksi para guru dan anak.

Selama masa pandemi tidak mudah melaksanakan pendidikan anak usia dini, hal ini yang membuat kesulitan tersendiri untuk para guru, pendidikan jarak jauh menjadi sebuah tantangan untuk para guru, siswa dan orang tua. Belajar luar jaringanmemerlukan sebagaian sarana dan prasarana untuk memenuhinya, antara lain, Hp/komputer/laptop, paket kuota data internet, sinyal internet, dan aplikasi yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran jarak jauh, antara lain zoom, kelas, rup, pertemuan dan lainnya. Jika fasilitas tersebut tidak dapat terlengkapi, pelatihan luar jaringan dapat menghadapi banyak kesulitan. Kesulitan dan tantangan pembelajaran dalam jaringan dengan sistem online akan berdampak pada pengajar anak usia dini dan wali murid siswa. Diantara penyebabnya adalah siswa TK yang berada pada masa anak usia dini, dimana proses pembelajarannya memerlukan berbagai alat bantu pembelajaran, bimbingan belajar dan diawasi langsung oleh guru dan orang tua. Siswa TK tidak dapat mengejar pembelajaran dalam jaringan secara mandiri. Sebab itu ada bermacam kesukaran yang dihadapi guru TK selama pandemi covid-19.

Menurut [8] Kemampuan regulasi emosi merupakan cara individu dalam mengelola dan mengekspresikan emosinya. Regulasi emosi mencakup kemampuan untuk menilai dan memodifikasi respons emosional untuk berperilaku dengan cara tertentu sesuai dengan keadaan saat ini [9]. Menurut [10] Regulasi emosi yang rendah dikaitkan dengan: (a) perilakunya tidak terkontrol, (b) tidak konstruktif, (c) perilaku agresi, (d) perilaku sosial rendah dan mudah dipengaruhi emosi negatif.

Seorang guru dituntut untuk selalu mengelola emosinya dengan baik agar dapat menyelesaikan tugas yang diembannya. Memang, guru tidak selalu dihadapkan pada kondisi positif seperti kelas yang kondusif atau siswa yang patuh dengan motivasi dan perilaku yang baik. Namun guru juga akan menghadapi kondisi negatif seperti lingkungan kelas yang buruk, kerjasama siswa yang buruk dan sulit diatur. Kondisi negatif yang sering muncul di lingkungan belajar mau tidak mau akan menyebabkan guru merasakan emosi negatif.

Menurut [11] Ada empat stressor guru di tempat kerja, yaitu tugas yang terlalu banyak, siswa yang nakal, orang tua, rekan kerja dan situasi sekolah. Kemampuan guru dalam meregulasi emosi semakin menarik perhatian peneliti dalam beberapa tahun terakhir. pengaruhnya dalam kehidupan guru. Senada dengan hal tersebut [12] Menyatakan bahwa orang yang memahami emosi diri sendiri dan dapat membaca emosi orang lain lebih efektif dalam melakukan pekerjaannya.Pernyataan ini juga berlaku bagi para guru dalam pelaksanaan pembelajarannya, terlebih lagi pada era kerja sama saat ini di manaperan guru semakin menantang. Oleh sebab itu, regulasi emosi menjadi hal yang vital dalam peningkatan keprofesian guru.

Metode penelitian

Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan tipe penelitian yang penyajian datanya berupa angka dan dianalisis menggunakan statistik [13]. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Kuantitatif deskriptif bertujuan untuk membuat gambaran suatu situasi dengan menggunakan angka mulai dari pengumpulan data, interpretasi data, hingga bentuk dan hasil [14] Populasi penelitian ini adalah sebanyak 315 Guru TK di Kecamatan Sidoarjo, Karena ini penelitian kuantitatif deskriptif maka peneliti tidak bisa digunakan sebagai dasar penentuan 200 orang sebagai sampel.

Teknik yang dipakai peneliti yakniteknik random sampling. Karena peneliti mengambil sampel acak dari seluruh populasi yang ada [15]. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah skala psikologi likert yang berisi Regulasi Emosi dengan melalui g-form. Analisis data menggunakan spss 16.0 for windows serta microsoft excel.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

KATEGORI RENTANG NILAI F %
Tinggi M+1SD < = X 31 16%
Sedang M-1SD < = X < M +1SD 147 74%
Rendah X < M - 1SD 22 11%
Total 200 100%
Table 1. Kategorisasi Pada Regu lasi Emosi

Rumus yang digunakan yakni

Skor Kategorisasi
M + 1SD < = X Tinggi
M - 1SD < = X < M + 1SD Sedang
X < M - 1SD Rendah
Table 2.Rumus

Figure 1. Chart Kategorisasi Pada Regu lasi Emosi

Kategorisasi Skala Regulasi Emosi Tabel 1.Gambaran dari kategori regulasi emosi yang mana pada guru TK di kecamatan sidoarjo dari 200 guru di kategori ‘tinggi’ sebanyak 31 orang dengan presentase 16%, kategori ‘sedang’ sebanyak 147 orang dengan presentase 74% dan pada kategori ‘rendah’ sebanyak 22 orang dengan presentase 11%. Ini dapat disimpukan bahwa regulasi emosi pada guru TK di kecamatan sidoarjo berada pada kategori sedang.

KATEGORI RENTANG NILAI F %
Tinggi M+1SD < = X 21 10%
Sedang M-1SD < = X < M +1SD 111 56%
Rendah X < M - 1SD 68 34%
Total 200 100%
Table 3.Tingkat Kategori Regulasi Emosi Berdasarkan Aspek Menerima Respon

Figure 2.Chart Kategori Regulasi Emosi Berdasarkan Aspek Menerima Respon

Berdasarkan hasil Tabel 3. Dapat dilihat bahwa regulasi emosi berdasarkan aspek menerima repson pada guru TK di kecamatan sidoarjo , dari 200 guru dengan kategori ‘tinggi” sebanyak 21 orang dengan presentase 10%, kategori ‘sedang’ terdapat 111 orang dengan presentase 56% dan kategori ‘rendah’ sebanyak 68 orang dengan presentase 34%. Dari sini bisa disimpukan bahwa aspek reguasi emosi pada aspek menerima respon pada guru TK dikecamatan sidoarjo berada dalam kategori sedang.

KATEGORI RENTANG NILAI F %
Tinggi M+1SD < = X 49 25%
Sedang M-1SD < = X < M +1SD 142 70%
Rendah X < M - 1SD 9 5%
Total 200 100%
Table 4.Tingkat Kategori Regulasi Emosi Berdasarkan Aspek Strategi Mengatur Emosi

Figure 3.Chart Kategori Regulasi Emosi Berdasarkan Aspek Strategi Mengatur Emosi

Berdasarkan hasil Tabel 4 Dapat dilihat bahwa regulasi emosi berdasarkan strategi mengatur emosi pada guru TK di kecamatan sidoarjo , dari 200 guru dengan kategori ‘tinggi” sebanyak 49 orang dengan presentase 25%, kategori ‘sedang’ terdapat 142 orang dengan presentase 70% dan kategori ‘rendah’ sebanyak 9 orang dengan presentase 5%. Dari sini bisa disimpukan bahwa aspek reguasi emosi pada aspek menerima respon pada guru TK dikecamatan sidoarjo berada dalam kategori sedang.

KATEGORI RENTANG NILAI F %
Tinggi M+1SD < = X 29 15%
Sedang M-1SD < = X < M +1SD 144 72%
Rendah X < M - 1SD 27 13%
Total 200 100%
Table 5.Tingkat Kategori Regulasi Emosi Berdasarkan Aspek Tetap Pada Tujuan

Figure 4.Tingkat Kategori Regulasi Emosi Berdasarkan Aspek Tetap Pada Tujuan

Berdasarkan hasil Tabel 5 Dapat dilihat bahwa regulasi emosi berdasarkan aspek tetap pada tujuan pada guru TK di kecamatan sidoarjo , dari 200 guru dengan kategori ‘tinggi” sebanyak 29 orang dengan presentase 15%, kategori ‘sedang’ terdapat 144 orang dengan presentase 72% dan kategori ‘rendah’ sebanyak 27 orang dengan presentase 13%. Dari sini bisa disimpukan bahwa aspek reguasi emosi pada aspek menerima respon pada guru TK dikecamatan sidoarjo berada dalam kategori sedang.

KATEGORI RENTANG NILAI F %
Tinggi M+1SD < = X 72 36%
Sedang M-1SD < = X < M +1SD 99 50%
Rendah X < M - 1SD 29 14%
Total 200 100%
Table 6.Tingkat Kategori Regulasi Emosi Berdasarkan Aspek Mengendalikan Perilaku Emosi

Figure 5.Chart Presentase Aspek Mengendalikan Perilaku Emosi

Berdasarkan hasil Tabel 6 Dapat dilihat bahwa regulasi emosi berdasarkan aspek mengendalikan perilaku emosi pada guru TK di kecamatan sidoarjo , dari 200 guru dengan kategori ‘tinggi” sebanyak 72 orang dengan presentase 36%, kategori ‘sedang’ terdapat 99 orang dengan presentase 50% dan kategori ‘rendah’ sebanyak 29 orang dengan presentase 14%. Dari sini bisa disimpukan bahwa aspek reguasi emosi pada aspek menerima respon pada guru TK dikecamatan sidoarjo berada dalam kategori sedang.

Pembahasa

Berdasarkan hasil analisa data di atas, penelitian menunjukan bahwa 22 (10%) regulasi emosi pada guru TK di kecamatan sidoarjo rendah, 147 (74%) regulasi emosi guru TK sedang , 31 (16%) regulasi emosi guru TK tinggi. Hal tersebut menunjukan bahwa jumlah terbesar guru yang memiliki regulasi emosi dalam penelitian ini adalah pada kategori sedang yakni sebanyak (74%) dari keseluruhan guru TK yang ada di 66 sekolah dikecamatan sidoarjo.

Menurut [16] Ada empat aspek dari Regulasi emosi yang mendasarkan individu yakni Acceptance of emotional response (menerima respon), Strategis to emotion regulation (strategi mengatur emosi), Engaging in goal directed behavior (tetap pada tujuan), Control emotional responses (mengendalikan perilaku emosi). Dari hasil perhitungan deskriptif yang ada, para guru TK di kecamatan sidoarjo memiliki nilai sedang dari semua aspek yang artinya para guru TK cukup mampu dalam meregulasi emosi dalam berbagai hal.

Regulasi emosi adalah kapasitas untuk mengontrol dan menyesuaikan emosi yang timbul pada tingkat intensitas yang tepat untuk mencapai suatu tujuan. Yang meliputi kemampuan untuk mengatur perasaan,reaksi fisiologis, kognisi yang berhubungan dengan emosi dan rekasi berhubungan dengan emosi. Pada proses ini diharapkan pada guru yang mempunyai regulasi emosi tinggi diharapkan mampu mengatur segala hal yang ada pada dirinya untuk mencapai suatu tujuan yang baik dan tetap menjalakan kewajibannya [17]

Karena peran guru di sekolah sangat penting yang mana dapat mempengaruhi perkembangan siswa dan siswinya dan juga mempunyai peran penting untuk membimbing dengan berbagai komunikasi dan interaksi yang baik [18].

Menurut [19] Individu yang mempunyai regulasi emosi dapat mengendalikan dirinya sendiri apabila sedang marah dan dapat mengatasi masalahnya tersebut. Selain itu juga dapat mengolah berbagai perasaan yang ada pada dirinya sendirisehingga menjadikan perasaan yang negatif ke perasaan yang lebih positif.

Kekurangan dalam penelitian ini adalah hanya menggunakan satu variabel saja , dan keterbatasan subjek, serta proses awal pada wawancara untuk menggali informasi yang lebih dalam mengenai regulasi emosi yang dialami para guru, Serta keterbatasannya mengenai pengetahuan para guru yang mengisi kuesioner di g-form, sehingga pada penelitian ini kurang maksimal.

Simpulan

Secara keseluruhan hasil penelitian yang diperoleh bahwa kategori regulasi emosi pada guru TK di kecamatan sidoarjo berada pada kategori sedang dengan nilai 74%. yang mana hal ini diketahui rata rata para guru dapat mengatur dan mengolah berbagai macam perasaan yang timbul untuk tetap bersikap profesional sebagai pengajar yang mana peran guru sangat penting untuk perkembangan siswa-siswinya.

Pada keseluruhan aspek Acceptance of emotional response (menerima respon),Strategis to emotion regulation (strategi mengatur emosi),Engaging in goal directed behavior (tetap pada tujuan), Control emotional responses (mengendalikan perilaku emosi) dapat dilihat bahwa para guru cukup baik dan mampu dalam meregulasi emosi dalam berbagai hal.

References

  1. Kemendikbud. (2020). Kemendikbud Terbitkan Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah. Kemendikbud.Go.Id. Media Masa. 29 Mei 2020 : 3.
  2. Vartiainen, J., Dan Aksela, M. (2019). Science At Home. New York. Vol. 7 , No1
  3. Teguh Wahyono. (2015). Manajemen Kearsipan Modern Dan Distribusinya. Yogyakarta: Gava Media
  4. Diana. (2020). Pemasaran. Yogyakarta: Penerbit ANDI
  5. Nazerly. (2020). Pembelajaran Daring Pada Anak. Jakarta: Gramedia.
  6. Hanifa, N. (2017). Meningkatkan Kreativitas Melalui Kegiatan Bermain Warna. Jurnal PG-Paud Trunojoyo.
  7. Vol 4. Hal 81-82.
  8. Jackman. (2009). Early Education Curriculum A Child Connection To The World. Australia: Delmar.
  9. Gross, J, J, Dan Thompson, R, A. (2007). Emotion Regulation.
  10. New York. Vol. 3, No 24.
  11. Thompson, R. A. (1994). Emotion Regulation : A Theme In Search Of Definition.
  12. New York: Ohn Willey Sons, Inc.
  13. Strongman, K.T. (2003). The Psyhcology Of Emotion, From Everyday Life To Theory. 5th edition.
  14. New york: Mc Graw Hill.
  15. Ramdhani. Stressor Pada Guru. Jakarta: Bumi Aksara.
  16. Robbins, Stephen P. & Timothy A. Judge. 2008. Organizational Behavior Edisi12. Salemba Empat. Jakarta.
  17. Sugiyono. (2016). Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Penerbit Alfabeta.
  18. Arikunto, S. (2006). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara.
  19. Sugiyono. (2013). Metedologi penelitian kuantitatif kuaitatif. Bandung: CV Alfabeta.
  20. Gratz, K, L, dan Roemer, L. (2004). Multidimensional asessment of emotion regulation and dysregulation. Pyschopatology and behavioral asessment. Vol. 26, no1.
  21. Shaffer. (2005). An International System Or Human Cytogenetic Nomenclature. Jakarta: Gramedia.
  22. Dwijandono, Soenardi. (2008). Tes Bahasa Pegangan Bagi Pengajar Bahasa. Jakarta: Indeks.
  23. Reivich, K. Dan Shatte, A. (2002). The resilience factor : 7 essential skills for overcoming obstacles. Broadway Books.