Education
DOI: 10.21070/acopen.7.2022.4035

The Relationship Between Self-Regulated Learning and Academic Stress During Online Learning for University Students


Hubungan Antara Self Regulated Learning dengan Stres Akademik Saat Pembelajaran Daring pada Mahasiswa di Universitas

Umsida
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Self Regulated Learning Academic Stress College Students

Abstract

This study aims to determine the relationship between Self Regulated Learning and Academic Stress During Online Learning in Psychology Study Program Students, University of Muhammadiyah Sidoarjo. The variables contained in this study are self-regulated learning as the independent variable and academic stress as the dependent variable. This research uses non - probability sampling technique . The number of samples used were 248 students. The results in this study indicate a correlation coefficient of -0.466 with a significance value of 0.000 <0.05, it can be concluded that there is a negative relationship between self-regulated learning and academic stress. This means that the higher self-regulated learning during online learning, the lower academic stress during online learning experienced by psychology study program students at Muhammadiyah University of Sidoarjo, on the other hand, if self-regulated learning is lower, academic stress during online learning will be higher.

Pendahuluan

Perguruan tinggi merupakan tempat proses pembelajaran dan kegiatan akademik berlangsung bagi mahasiswa dalam menempuh pendidikan. Mahasiswa akan menempuh pendidikan dan mempelajari teori sesuai dengan strata dan jurusan yang dipilihnya. Selain itu, mahasiswa juga dapat belajar berorganisasi untuk menjadi seorang pemimpin serta belajar dalam bermasyarakat. Belajar di perguruan tinggi dilaksanakan dengan suatu sistem, agar tujuan belajar berjalan secara efisien. Sehingga mahasiswa mampu memahami konsep-konsep yang diajarkan.

Dewasa ini, seiring berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi telah dikembangkan sistem pembelajaran daring. Pembelajaran daring yaitu sebuah program pembelajaran dalam jaringan yang bertujuan memberikan layanan pembelajaran bermutu dengan jumlah partisipan tanpa batas dan bersifat terbuka. Pada tahun 2014, sebagai sarana dalam mengikuti arus perkembangan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di Indonesia melaksanakan program Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT). Program tersebut dilaksanakan oleh enam perguruan tinggi ternama di Indonesia. [1]

Sistem pembelajaran daring dianggap strategi yang efektif sebagai pengganti kegiatan belajar mengajar tatap muka selama Pandemi Covid-19. Namun bagi sebagian pelajar sistem pembelajaran ini juga memiliki dampak negatif. Menurut hasil survei Ikatan Psikolog Klinis (IPK) yang dikutip dari Suara.com selama pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia terdapat hambatan belajar yang menjadi masalah psikologis. Hal ini berdasarkan hasil diagnosis yang dilakukan oleh psikologi klinis yaitu sebesar 27,2%. Hambatan belajar tersebut terjadi khususnya pada anak-anak dan remaja. Selain itu, masalah psikologis lain yang ditemukan pada semua usia antara lain 23,9% keluhan stres umum, kemudian 18,9% keluhan kecemasan, keluhan mood swing sebesar 9,1%, dan gangguan kecemasan sebesar 8,8% serta keluhan psikosomatis sebesar 4,7%. [2]

Terdapat survei lain tentang dampak Covid-19 yang dilakukan oleh Persepsi Pelajar Jawa Timur dari Kompas.com, menyebutkan bahwa belajar melalui virtual daring menyebabkan mayoritas dari pelajar mengalami stres dan kejenuhan akibat belajar. Terdapat 88,75% dari 480 responden yaitu pelajar SMP dan SMA di Jawa Timur mengannggap bahwa sistem kegiatan belajar mengajar saat daring ini membuat stres, menjenuhkan dan membosankan [3]. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Harahap tentang studi tingkat stres akademik selama pembelajaran jarak jauh dimasa Covid-19pada mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan dari 300 responden terdapat 39 mahasiswa mempunyai tingkat stres akademik yang tinggi dengan presentase 13%, kemudian sebanyak 225 mahasiswa memiliki stres akademik sedang dengan presentase 75% dan tingkat stres akademik rendah dimiliki oleh 36 mahasiswa dengan presentase 12%.[4]

Berdasarkan pertanyaan sederhana yang diajukan secara acak kepada mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, terdapat 26 mahasiswa dari 32 respon mahasiswa menunjukan bahwa 53,1% mahasiswa merasa ingin menangis ketika mendapatkan tugas yang banyak dan 46,9% merasa kesulitan berkosentrasi dalam memahami materi. Mahasiswa merasa mudah marah ketika mendapatkan banyak tugas akademik yaitu sebanyak 62,5%. Kemudian 62,5% mahasiswa dapat mengerjakan tugas dengan sistem kebut semalam. Hal ini menggambarkan bahwa mahasiswa bekerja secara berlebihan dengan tugas yang dikerjakan dalam semalam. Mahasiswa juga merasa kehilangan nafsu makan ketika mendapatkan banyak tugas sebanyak 46,9% serta terdapat 53,2% mahasiswa merasa sakit kepala ketika mengerjakan tugas.

Adapun penelitian yang sesuai yang dilakukan oleh Karos, penelitian dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 60 Mahasiswa Psikologi Halu Oleo. Berdasarkan hasil yang diperoleh yaitu sebesar 85% atau 51 mahasiswa menyebutkan pernah mengalami stres sewaktu mengikuti kegiatan akademik, kemudian 15% atau 9 mahasiswa lainnya mengaku tidak pernah mengalami stres akademik. [5]

Menurut kamus psikologi, stres adalah suatu ketegangan atau tekanan, suatu konflik dan tekanan batin [6]. Mahasiswa terbebani dengan permasalahan seperti tugas yang menumpuk, buruknya manajemen waktu sehingga menyebabkan stres pada mahasiswa, apabila tuntutan tersebut belum terselesaikan dan banyaknya aktivitas yang harus dijalani [7]. Jadi, stres akademik merupakan stres yang melampaui kemampuan adaptasi dari individu yang mengalaminya yang ditimbulkan dari tuntutan akademik. [8]

Menurut Busari mengatakan bahwa stres akademik terjadi ketika terdapat tuntutan akademik pada seseorang dimana tuntutan itu dianggap melampaui kemampuan penyesuaian dirinya. Terdapat empat aspek dari stres akademik yaitu (1) aspek kognitif, (2) aspek afektif, (3) aspek behavior dan (4) aspek fisiologis [9]. Selain itu terdapat faktor yang mempengaruhi stress akademik menurut Oljenik dan Holschuh antara lain (1) faktor internal yaitu keyakinan, kepribadian dan pola pikir, serta (2) faktor eksternal yaitu aktivitas yang banyak dengan waktu yang terbatas, pelajaran lebih padat, tekanan untuk berprestasi, dorongan meniti tangga sosial dan orang tua yang sering berlomba. [7]

Apabila stres yang terjadi tidak dapat dikendalikan oleh mahasiswa maka kondisi kognitif, fisiologis dan perilaku akan bertambah buruk. Sehingga mahasiswa harus dapat mengatur dan mengelolah waktu, mengukur kemampuan dirinya dan merancang serta merencanakan kegiatannya sehingga mahasiswa tidak mengalami stres akademik. Seorang mahasiswa yang memiliki perencanaan dalam pelaksanaan kegiatan strategi belajarnya dapat mencerminkan bahwa mahasiswa tersebut mempunyai pengaturan waktu yang baik. Pernyataan tersebut juga sesuai dengan Hardjana yang mengatakan bahwa seseorang yang memiliki pengaturan waktu yang baik bisa mencegah seseorang tersebut dari stres. [6]

Perencanaan dalam pelaksanaan strategi belajar adalah suatu bentuk dari self regulated learning. Menurut Zimmerman menyatakan mahasiswa yang mempunyai self regulated learning yaitu individu yang aktif dalam proses belajar secara metakognitif, motivasional dan behavioral. Aspek dari self regulated learning antara lain (1) metakognisi, (2) motivasi dan (3) perilaku. Apabila seorang mahasiswa mempunyai self regulated learning rendah maka potensi stres akademik yang muncul akan tinggi. [6]

Sejalan juga dengan Montalvo dan Torres mengemukakan bahwa stres akademik dapat dikurangi apabila self regulated learning yang dimiliki mahasiswa ditunjukkan dengan adanya keteraturan dalam kebiasaan belajar sehingga mahasiswa mampu menerapkan strategi belajar untuk mencapai hasil yang optimal. Mahasiswa yang sering mengerjakan tugas dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) atau sehari sebelum pengumpulan dan hanya membaca atau mengulang materi dan belajar ketika akan ujian memperlihatkan rendahnya self regulated learning yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut, sehingga dapat menimbulkan juga tingginya tingkat stres akademik. [6]

Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti mengambil judul “Hubungan antara self regulated learning dengan stres akademik saat pembelajaran daring pada mahasiswa prodi psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Menurut Azwar metode yang mempelajari sejauh mana kaitan antar variabel berdasarkan koefisien korelasi [10]. Subjek penelitian yaitu 248 mahasiswa prodi psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling merupakan pengambilan sampel yang anggota populasi dilakukan secara acak, tanpa perlu melihat strataatau tingkatan yang terdapat dalam populasi tersebut sehingga populasi dianggap homogen. [11]

Skala Likert digunakan sebagai teknik pengumpulan data dengan skala self regulated learning (α = 0.927) dan skala Stres Akademik (α = 0.922). Dalam penelitian ini memakai dua skala psikologi yaitu skala self regulated learning dan skala stres akademik. Terdapat tiga aspek yang diukur dalam skala self regulated learning antara lain metakognitif, motivasi dan behavioral. Sedangkan aspek skala stres akademik mengukur empat aspek yaitu kognitif, afektif, behavioraal dan fisiologis. Teknik analisis data yang dipakai adalah teknik kuantutatif statistik inferensial dengan menggunakan korelasi product moment yang bertujuan untuk mengetahui korelasi antar variabel self regulated learning sebagai varibel bebas (x) dengan stres akademik sebagai varibel terikat (y) dengan bantuan program SPSS 24.0 for windows.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil uji normalitas pada tabel 1 dapat dilihat bahwa nilai signifikansi yaitu sebesar 0,200 > 0,05. Sehingga menunjukkan data dalam penelitian terdistribusi normal.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 248
Normal Parametera,b Mean .0000000
Std.Deviation 11.20980125
Most Extreme Difference Absolute .051
Positive .045
Negative -.051
Test Statistic .051
Asymp.Sig.(2-tailed) .200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefor Significance Corection.
d. This is a lower bound of the true significance.
Table 1.Uji Normalitas

Hasil uji linieritas dapat disimpulan bahwa varibel self regulated lerning dan stres akademik memiliki hubungan yang linier. Hal tersebut ditunjukan dengan nilai F Linierity sebesar 75.042 dengan signifikasi 0,000 < 0,05. Berikut hasil uji linieritas pada tabel 2.

ANOVA Table
Sum of Square Df Mean Square F Sig.
Stres Akademik * Self Regulated Learning Between Groups (Combined) 16492.193 45 366.493 3.199 .000
Linearity 8597.665 1 8597.665 75.042 .000
Deviation from Linearity 7894.528 44 179.421 1.566 .021
Within Groups 23143.404 202 114.571
Total 39635.597 247
Table 2.Uji Linieritas

Berdasarkan hasil uji hipotesis dapat ditunjukan dari nilai koefisien korelasi pearson sebesar -0,466 dengan signifikasi 0,000 < 0,05. Sehingga ada hubungan yang negatif antara self regulated lerning dengan stres akademik. Apabila semakin tinggi tingkat self regulated learning yang dimiliki maka akan rendah tingkat stres akademik pada mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, namun ketika tingkat self regulated learning rendah maka akan tinggi tingkat stres akademik. Berikut hasil uji hipotesis pada tabel 3.

Correlation
Self Regulated Learning Stres Akademik
Self Regulated Learning Pearson Corelation 1 -.466**
Sig.(2-tailed) .000
N 248 248
Stres Akademik Pearson Corelation -.466** 1
Sig.(2-tailed) .000
N 248 248
**. Corelation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Table 3.Uji Hipotesis

Hasil sumbangan efektif menunjukkan bahwa nilai R Square sebesar 0,217. Hal itu dapat dimanai bahwa variabel self regulted learning (X) berpengaruh terhadap variabel stres akademik (Y) sebanyak 21,7%. Kemudian sisanya 78,3% dipengaruhi variabel lain atau variabel yang tidak diteliti. Berikut hasil uji hipotesis pada tabel 4.

Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .466a .217 .214 11.233
a. Predictor: (Constant), Self Regulated Learning
b. Dependent Variable: Stres Akademik
Table 4.Sumbangan Efektif

Berdasarkan hasil kategorisasi stres akademik pada tabel 5 ditemukan bahwa terdapat 33 mahasiswa dengan tingkat stres akademik yang tinggi dengan persentase 13,3%, sebanyak 184 mahasiswa pada tingkat stres akademik yang sedang dengan persentase 74,2% dan 31 mahasiswa mempunyai tingkat stres akademik yang rendah dengan persentase sebesar 12,5%.

Kategorisasi
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tinggi 33 13.3 13.3 13.3
Sedang 184 74.2 74.2 87.5
Rendah 31 12.5 12.5 100.0
Total 248 100.0 100.0
Table 5.Uji Kategorisasi Variabel Stres Akademik

Hasil uji kategorisasi variabel self regulated learning pada tabel 6 menunjukan bahwa terdapat 47 mahasiswa yang mempunyai tingkat self regulated learning yang tinggi dengan persentase sebesar 19%, kemudian 158 mahasiswa yang memiliki tingkat self regulated learning yang sedang dengan tingkat persentase 63,7% dan sebanyak 43 mahasiswa memiliki tingkat self regulated learning yang rendah dengan persentase 17,3%.

Kategorisasi
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tinggi 47 19.0 19.0 19.0
Sedang 158 63.7 63.7 82.7
Rendah 43 17.3 17.3 100.0
Total 248 100.0 100.0
Table 6.Uji Kategorisasi Variabel Self Regulated Learning

B. Pembahasan

Berdasarkan pemaparan hasil penelitian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan negatif antara self regulated learning dengan stres akademik pada mahasiswa prodi psikologi di universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang ditunjukkan dari hasil korelasi sebesar -0,466 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Jadi dapat diartikan semakin tinggi tingkat self regulated learning maka akan rendah tingkat stres akademik pada mahasiswa, namun apabila tingkat self regulated learning rendah maka tinggi tingkat stres akademik.

Hasil penelitian ini searah dengan studi Arabzadeh, Kadivar, Nikdel dan Kavousian (2012) pada 200 mahasiswa di universitas Tehran Tarbiat Moallem Iran juga memiliki korelasi self regulated learning dengan stres akademik yang berlawanan [12]. Studi lain menurut Kirana dan Juliartiko (2021) ditemukan bahwa tingkat stres akademik cukup tinggi memiliki hubungan dengan pengaturan diri dan kontrol diri dalam proses belajar sehingga dapat menghambat kemampuan mahasiswa dalam menggunakan keterampilan fungsi eksekutif tersebut. [13]

Stres akademik disebabkan oleh tuntutan akademik pada seseorang yang dianggap melampaui kemampuan penyesuaian diri seseorang. Jadi mahasiswa harus dapat mengatur dan mengelolah waktu, mengukur kemampuan dirinya dan merancang serta merencanakan kegiatannya sehingga tidak mengalami stres akademik. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Montalvo dan Torres mahasiswa yang mempunyai self regulated learning yang baik ditunjukkan dengan oleh keteraturan dalam strategi belajar yang diterapkan untuk mencapai hasil yang baik. Sehingga mahasiswa yang mengalami stres akademik dapat dikurangi. [6]

Berdasarkan tabel kategori self regulated learning didapatkan 47 mahasiswa (19%) mempunyai self regulated learning tinggi lalu 158 mahasiswa (63,7%) mempunyai self regulated learning sedang. Serta 43 mahasiswa (17,3%) mempunyai self regulated learning yang rendah. Kemudian pada tabel kategori stres akademik didapatkan 33 mahasiswa (13,3%) dengan stres akademik yang tinggi. Kemudian 184 mahasiswa (74,2% ) dengan kategori stres akademik yang sedang. Sedangkan yang terakhir 31 mahasiswa (12,5%) termasuk dalam kategori stres akademik yang rendah.

Data diatas menunjukkan bahwa mahasiswa prodi psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo paling besar proporsi jumlahnya ada di dalam kategori sedang pada variabel self regulated learning. Dan pada variabel stres akademik, presentase terbesar juga termasuk pada kategori sedang. Hasil ini menujukkan bahwa mahasiswa prodi psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo beradaptasi dan memonitor strategi belajarnya dengan cukup baik pada proses pembelajaran daring. Namun di sisi lainnya, mereka juga masih tetap mengembangkan rasa stres berkenaan dengan tuntutan akademik di perkuliahan. Menurut Tekeng, self regulated learning diperlukan mahasiswa untuk mengetahui keterampilan yang mereka miliki agar dapat memahami kebutuhannya, mengontrol atau memperhatikan perilaku dalam belajar, menyelaraskan antara ativitas dan perilaku dengan tuntutan akademik yang dihadapi. [13]

Selain itu, data tersebut juga sesuai dengan hasil hipotesis yaitu adanya hubungan negatif self regulated learning dengan stres akademik. Apabila banyak mahasiswa mempunyai strategi belajar yang mampu diterapkan dengan baik dan keteraturan dalam kebiasaan belajar maka stres akademik yang dialami dan dirasakan mahasiswa dengan tingkat yang sangat tinggi akan semakin sedikit. Sebaliknya jika mahasiswa belum memiliki keteraturan dalam kebiasaan belajar serta belum mampu dengan baik dalam menerapkan strategi belajarnya maka akan mengalami stres akademik. Sejalan dengan Misra dan McKean bahwa tingkat stres akademik pada mahasiswa dapat berkurang apabila mahasiswa memiliki manajemen waktu yang efektif, sebaliknya apabila manajemen atau pengaturan waktu yang dimiliki kurang baik dan efektif maka akan meningkatkan tingkat stres mahasiswa [14]. Kemudian ditegaskan oleh pendapat Hardjana bahwa seseorang yang memiliki pengaturan waktu yang baik bisa mencegah seseorang tersebut dari stres. [6]

Hasil lain dari penelitian ini adalah besar pengaruh variabel x (variabel independent) yaitu self regulated learning terhadap variabel y (variabel dependent) yaitu stres akademik. Nilai (R) yaitu -0,466 sedangkan untuk sumbangan efektif (R Square) yaitu sebesar 0,217 atau setara 21,7%. Angka ini dapat dimaknai bahwa variabel self regulated learning (X) berpengaruh sebesar 21,7% terhadap variabel stres akademik (Y). Sedangkan 78,3% sisanya dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti oleh peneliti.

Berdasarkan hasil pemaparan diatas mahasiswa yang memiliki selfregulated learning yang baik akan dapat untuk mengatur dan mengelolah waktu, mengukur kemampuan dirinya serta merencanakan kegiatan mereka. Selain itu, mahasiswa memiliki kemampuan observasi diri serta evaluasi diri yang baik dapat meningkatkan kinerjanya dalam belajar dan mempertahankan motivasi dalam diri sehingga minat dalam mengerjakan sesuatu dapat selalu ditingkatkan. Hal ini merupakan bentuk strategi dalam menekan stres akademik yang mungkin dialami oleh mahasiswa. strategi ini pula dapat digunakan untuk mengatasi tuntutan akademik selama pembelajaran daring. Sesuai yang dikemukakan menurut Sarafino mahasiswa yang terbebani oleh permasalahannya sendiri seperti manajemen waktu yang buruk dan tugas yang menumpuk sehingga dapat menimbulkan stres pada mahasiswa apabila tuntutan tersebut belum atau tidak dapat terselesaikan dan banyaknya aktivitas yang harus dijalani. [7]

Keterbatasan atau kekurangan pada penelitian ini yaitu selain self regulated learning ada variabel lain yang mempengaruhi stres akademik yang tidak bisa dikontrol oleh peneliti. Peneliti belum menggambarkan dan mengkategorisasikan perbedaan stres akademik berdasarkan jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki pada mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Peneliti berharap agar penelitian ini lebih dikembangkan lagi oleh peneliti selanjutnya.

Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah adanya hubungan negatif self regulated learning dengan stres akademik pada mahasiswa prodi psikologi universitas Muhammadiyah Sidoarjo, didapati dari hasil koefisien korelasi pearson yaitu -0,466 dengan angka signifikasi 0,000 < 0,05. Hal tersebut bisa diartikan bahwa apabila semakin tinggi tingkat self regulated learning maka akan rendah tingkat stres akademik pada mahasiswa, sebaliknya apabila tingkat self regulated learning rendah maka tingkat stres aksdemik akan tinggi. Selain itu, variabel self regulated learning (X) mempunyai pengaruh sebesar 21,7% terhadap variabel stres akademik (Y).

References

  1. Y. Bilfaqih and M. N. Qomarudin, “Esensi pengembangan pembalajaran daring,” Deepublish, vol. 1, no. 1, p. 131, 2015, doi: 10.1109/ICASI.2017.7988469.
  2. R. dan L. K. F. Halidi, “Survei 23 Persen Remaja Alami Stres Karena Belajar Daring.” [Online]. Available: https://www.suara.com/health/2020/10/14/225135/survei-23-persen-remaja-alami-stres-karena-belajar-daring.
  3. E. Pranita, “Anak Stres Belajar Daring? Ini Saran Psikolog untuk Mencegahnya,” Kompas.com. [Online]. Available: https://www.kompas.com/sains/read/2020/10/26/193317623/anak-stres-belajar-daring-ini-saran-psikolog-untuk-mencegahnya?page=all.
  4. A. C. P. Harahap, D. P. Harahap, and S. R. Harahap, “Analisis Tingkat Stres Akademik Pada Mahasiswa Selama Pembelajaran Jarak Jauh Dimasa Covid-19,” Biblio Couns J. Kaji. Konseling dan Pendidik., vol. 3, no. 1, pp. 10–14, 2020, doi: 10.30596/bibliocouns.v3i1.4804.
  5. K. A. Karos, W. Suarni, and I. S. Sunarjo, “Self Regulated Learning dan Stres Akademik pada Mahasiswa,” J. Sublimapsi, vol. 2, no. 3, p. 62, 2021, doi: 10.36709/sublimapsi.v2i3.17962.
  6. M. R. E. Putri, “Hubungan Antara Self Regulated Learning dan Stres Akademik Pada Mahasiswa,” Skripsi, 2017, [Online]. Available: https://repository.usd.ac.id/8332/1/121414071_full.pdf.
  7. A. Amalia, “Hubungan antara emotional well being dengan stres akademik pada mahasiswa kebidanan,” Skripsi, 2019, [Online]. Available: http://digilib.uinsby.ac.id/31663/2/Anita Amalia_J71215049.pdf.
  8. R. Q. Delmi, “Kesehatan sosial-emosional dan stres akademik pada siswa sekolah menengah atas di sma negeri 2 balikpapan,” Skripsi, 2018, [Online]. Available: https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/9539.
  9. S. R. Gobel, “Kecerdasan emosi dan stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir di yogyakarta,” Skripsi, 2018, [Online]. Available: https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/14159.
  10. S. Azwar, Metode Penelitian Psikologi, Edisi II. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2017.
  11. S. dan M. A. S. Siyoto, Dasar Metodologi Penelitian, Cetakan 1. Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015.
  12. M. Arabzadeh, F. Nikdel, P. Kadivar, J. Kavousian, and K. Hashemi, “The Relationship of Self-Regulation and Self-Efficacy With Academic Stress in University Students,” Int. J. Educ. Psychol. Community, vol. 2, no. II–2, pp. 102–113, 2012, [Online]. Available: http://www.marianjournals.com/files/IJEPC_articles/Vol_2_no_2_2012/Arabzadeh_et_al_2_2_2012.pdf.
  13. A. Kirana and W. Juliartiko, “Self Regulated Learning dan Stres Akademik Saat Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19 Pada Mahasiswa Universitas X di Jakarta Barat,” J. Psikol., vol. 14, no. 1, pp. 52–61, 2021, [Online]. Available: https://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/psiko/article/view/3566/pdf.
  14. H. Martini, “Hubungan Antara Self Regulated Learning dan Stress Akademik Pada Mahasiswa,” Skripsi, 2012, [Online]. Available: https://repository.usd.ac.id/29165/2/079114101_Full%5B1%5D.pdf.