<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Pengaruh profitabilitas terhadap financial distress, pengaruh likuiditas terhadap financial distress, dan pengaruh laverage terhadap financial distress pada perusahaan sektor pertambangan yang tedaftar di BEI periode 2018 – 2020</article-title>
        <subtitle>The effect of profitability on financial distress, the influence of liquidity on financial distress, and the influence of leverage on financial distress on mining sector companies listed in the IDX for the period 2018 - 2020</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-ab42a058e4965cffb5676b24c099f16a" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>umamah</surname>
            <given-names>Rosita</given-names>
          </name>
          <email>rositaa913@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-0de02407e5f966c13569ec88dfcbf084" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <given-names>Nurasik</given-names>
          </name>
          <email>nurasik@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-03-29">
          <day>29</day>
          <month>03</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="sec-2">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="heading-f17cafae2b8781b7c58e730e2b5b2abd">A. Latar Belakang Masalah</p>
      <p id="paragraph-ded907b08442d93761019d5bbfc074b8">Di era Revolusi Industri 4.0 ini, persaingan antar perusahaan semakin meningkat karena banyaknya perusahaan pendatang baru yang mulai bermunculan. Kondisi ini mengharuskan suatu perusahaan agar selalu siap bersaing dan memikirkan bagaimana strategi bisnis yang tepat untuk terus mempertahankan perusahaan agar tidak terjadi kebangkrutan. Tujuan utama suatu perusahaan adalah untuk memproleh laba yang sebesar-besarnya guna mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Perusahaan yang tidak mampu bersaing kemungkinan akan mengalami financial distress bahkan kebangkutan.</p>
      <p id="paragraph-d69c8a22fadb173e89730920ea00af74">Perusahaan yang menjadi objek penelitian ini adalah perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia. sektor pertambangan merupakan salah satu penopang pembangunan ekonomi suatu Negara [1] , karena perannya sebagai penyedia sumber daya energi yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan perekonomian suatu Negara. Potensi yang kaya akan sumber daya alam akan dapat menumbuhkan terbukanya perusahaan-perusahaan untuk melakukan eksplorasi pertambangan sumber daya tersebut. Perusahaan dalam industri pertambangan umum dapat berbentuk usaha terpadu dalam arti bahwa perusahaan tersebut memiliki usaha eksplorasi, pengembangan dari kontruksi. Produksi, dan pengolahan sebagai satu kesatuan usaha atau berbentuk usaha-usaha terpisah yang masing-masing berdiri sendiri.</p>
      <p id="paragraph-ccfdb7937d3375acb5554d896f760a30">Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan dan Mineral dan Batubara yaitu pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksploitasi, studi kelayakan, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Sektor tambang menjadi sektor yang cukup tertekan hingga kuartal I Tahun 2019 lalu. Tercermin dari raihan laba bersih mereka yang turun cukup dalam. PT Indika Energy Tbk (INDY) harus mencatatkan penurunan laba yang cukup signifikan pada periode kuartal I 2019 hingga 61% menjadi US$ 40,5 juta. Pada pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih INDY mencapai US$ 103,8 juta. PT Bukit Asam Tbk  (PTBA) mencatatkan penurunan laba bersih hingga 21,4% year on year (yoy) menjadi Rp 1,14 triliun. PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) mencatatkan laba mencapai Rp 42,13 miliar, naik 3,35% secara tahunan. PT Bumi Resources Minerals (BRMS) mencetak laba bersih sebesar US$ 86.650. Pada periode yang sama tahun lalu, BRMS mencetak rugi bersih US$ 4,69 juta. Melihat kondisi ini, Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy mengatakan, di kuartal I 2019 lalu memang sektor tambang sangat menantang jika dilihat dari harga komoditas yang belum pulih. Namun secara jangka panjang masih sangat berpotensi karena strategi mereka untuk diversifikasi. </p>
      <p id="paragraph-e88c44ba1163b321338f3c52f156cbb0">Sepanjang 2019 indeks sektor pertambangan tumbuh negatif 12,83%. Ada beberapa faktor yang menyebabkan indeks sektor ini tumbuh negatif. Analis Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai, anjloknya kinerja indeks sektor pertambangan tidak bisa lepas dari turunnya harga batubara sepanjang 2019. Hal ini diakibatkan oleh berlebihnya pasokan (supply) batubara di pasar global. Di sisi lain, Analis Artha Sekuritas Nugroho Rahmat Fitriyanto menilai pergerakan indeks sektor pertambangan diperberat oleh emiten-emiten batubara karena harga batubara yang turun signifikan pada 2019, sehingga menyebabkan harga jual dan marjin ikut tertekan. Ke depan, Nugroho menilai kinerja sektor pertambangan akan bergantung pada kesepakatan dagang antara Amerika Serikat – China. Jika kesepakatan dagang fase I berjalan lancar, maka akan mengarah ke penurunan tensi perang dagang. Dengan demikian, maka tren Purchasing Managers’ Index (PMI) global bisa kembali bangkit dan bakal meningkatkan permintaan semua komoditas, termasuk batubara. Senada, Liza menilai komoditas pertambangan masih bergantung pada perkembangan perang dagang AS-China. Sebab, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump merupakan sumber ketidakpastian yang tidak dapat dikendalikan. Meski dianggap tidak ramah lingkungan, namun energi dari batubara masih tetap akan digunakan. Sebab, batubara merupakan salah satu sumber energi termurah untuk saat ini. Khusus untuk komoditas nikel, Liza menilai harga nikel akan terangkat seiring dengan dilarangnya ekspor bijih nikel. Di sisi lain, Chief Economist dan Analis Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian mengatakan, dalam jangka pendek belum ada sentimen positif yang menggerakkan sektor ini. Namun jika ada data-data perekonomian China yang membaik, maka sektor pertambangan diproyeksikan akan membaik setidaknya pada paruh kedua 2020. Meski demikian, Nugroho menyarankan agar investor mencermati emiten sektor batubara. Sebab, industri batubara sendiri masih menghadapi banyak ancaman seperti tingginya level inventori (cadangan) di China saat ini serta produksi batubara yang masih bertumbuh. Liza merekomendasikan untuk jual untung saham ADRO dengan target harga Rp 1.450 – Rp 1.500 per saham. Untuk saham INCO, Liza merekomendasikan untuk hold dengan target harga Rp 3.750 per saham. Sebab, ada peluang bagi saham INCO untuk menembus level Rp 4.000 per saham. [2]</p>
      <p id="paragraph-bb9a3f184df60d878126bc051d796301">Persaingan antar perusahaan yang semakin ketat menyebabkan biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan akan semakin tinggi [3] , hal ini akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Apabila suatu perusahaan tidak mampu untuk bersaing maka perusahaan tersebut akan mengalami kerugian, yang pada akhirnya bisa membuat suatu perusahaan mengalami financial distress.  Masalah keuangan yang dihadapi suatu perusahaan apabila dibiarkan berlarut-larut dapat mengakibatkan terjadinya kebangkrutan. financial distress terjadi karena perusahaan tidak mampu mengelola dan menjaga kestabilan kinerja keuangan sehingga menyebabkan perusahaan mengalami kerugian operasional dan kerugian bersih untuk tahun yang berjalan [4] . Lebih lanjut, dari kerugian yang terjadi akan mengakibatkan defisiensi modal dikarenakan penurunan nilai saldo laba yang terpakai untuk melakukan pembayaran deviden, sehingga total ekuitas secara keseluruhan pun akan mengalami difisiensi. Kondisi tersebut mengindikasikan suatu perusahaan sedang mengalami kesulitan keuangan (financial distress) yang pada akhirnya jika perushaan tidak mampu keluar dari kondisi tersebut diatas, maka perusahaan tersebut akan mengalami kepailitan. </p>
      <p id="paragraph-858c90138d39fd6dfafb9ac5b7cc0d23">Suatu perusahaan yang dikategorikan mengalami financial distress adalah jika perusahaan tersebut mengalami laba operasi negatif selama dua tahun berturut-turut [5] . Perusahaan yang mengalami laba operasi selama lebih dari setahun menunjukkan telah terjadi tahap penurunan kondisi keuangan suatu perusahaan. Jika tidak ada tindakan perbaikan yang dilakukan manajemen perusahaan maka perusahaan dapat mengalami kebangkrutan. </p>
      <p id="paragraph-d3891ba5beda6c9d126576fc714848d1">Untuk mendeteksi apakah suatu perusahaan mengalami financial distress atau tidak dapat dihitung dengan menggunakan beberapa rasio, yakni profitabilitas, likuiditas, dan leverage. rasio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan, aset dan modal saham tertentu. Rasio ini dicerminkan dalam return on asset (ROA) [6] . Rasio yang menunjukkan efisiensi manajemen aset. Menurut profitabilitas menunjukkan efisiensi dan efektivitas penggunaan aset perusahaan karena rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan penggunaan asset [7] . Dengan adanya efektivitas dari penggunaan aset perusahaan maka akan mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan, maka perusahaan akan memperoleh penghematan dan akan memiliki kecukupan dana untuk menjalanan usahanya. Dengan adanya kecukupan dana tersebut maka kemungkinan perusahaan mengalami financial distress dimasa yang akan datang akan menjadi lebih kecil.</p>
      <p id="paragraph-14c56da3bca094b8fc368cf1774d4c7b">Selain rasio profitabilitas, likuiditas juga dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya financial distress. rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang telah jatuh tempo [8] . Rasio likuiditas yang biasa dipakai dalam berbagai penelitian adalah rasio lancar (current ratio). Current ratio merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. rasio likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan [9] . Perusahaan dapat dikatakan likuid apabila perusahaan tersebut bisa menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya saat jatuh tempo, tetapi apabila perusahaan tidak bisa menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya saat jatuh tempo maka perusahaan tersebut dapat dikatakan tidak likuid atau illikuid. Ketika nilai rasio likuiditas tinggi maka perusahaan memiliki kemampuan memenuhi kewajiban hutang jangka pendeknya, sebaliknya jika nilai rasio likuiditasnya rendah maka perusahaan tidak sanggup untuk melunasi hutang jangka pendeknya. Apabila perusahaan dalam kondisi illikuid maka secara otomatis perusahaan akan mengalami kesulitan keuangan atau financial distress.</p>
      <p id="paragraph-7877108f2ae0b54a98080b30bb56a013">Selain rasio likuiditas, rasio leverage  juga dapat digunakan sebagai indikator untuk memprediksi terjadinya financial distress. rasio utang/leverage menunjukkan seberapa banyak hutang yang digunakan untuk membiayai aset-aset perusahaan [10] . Rasio leverage yang biasa digunakan adalah rasio utang (debt ratio) yaitu total utang dibagi dengan total aktiva. Informasi rasio utang ini juga penting karena melalui rasio utang, kreditur dapat mengukur seberapa tinggi risiko utang yang diberikan kepada suatu perusahaan. Rasio leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar hutang yang digunakan dalam pembelanjaan [11] . Rasio leverage yang terlalu tinggi menyebabkan perusahaan memiliki tingkat hutang tinggi yang bisa membebani perusahaan pada saat jatuh tempo, sehingga penting bagi perusahaan untuk memperhatikan tingkat leverage agar perusahaan bisa membayar kewajibannya. Apabila perusahaan tidak bisa membayar kewajibannya maka akan sangat mengganggu aktivitas operasional perusahaan dan akan menyebabkan berkurangnya tingkat pendapatan.</p>
      <p id="paragraph-95cb77d9361c84d1757961470cd8cbf3">Berdasarkan latar belakang masalah dan penelitian terdahulu tentang prediksi kondisi financial distress, peneliti tertarik meneliti rasio profitabilitas, likuiditas, dan leverage untuk memprediksi financial distress  yang terjadi pada perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Alasan peneliti menggunakan variabel tersebut adalah mengacu pada penelitian terdahulu [12]. Variabel rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini dipandang cukup relevan untuk masing-masing rasio keuangan, yaitu rasio profitabilitas sebagai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba, rasio likuiditas sebagai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban saat ini, rasio leverage sebagai rasio keuangan yang menjelaskan sejauh mana perusahaan menggunakan sumber dana yang berasal dari hutang terhadap pendanaan aktiva.</p>
      <p id="paragraph-6858178e71522dbccc638e24857d7845">Dalam penelitian ini terjadi ketidak konsistenan hasil antara beberapa peniliti yaitu , yang “Kekuatan Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur Di BEI” bahwa rasio likuiditas (current ratio) dan rasio profitabilitas (profit margin on sales) tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi financial distress perusahaan meskipun bertanda negatif sedangkan rasio profitabilitas (return on total assets) dan rasio leverage (current liabilitas total asset) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kondisi financial distress perusahaan [13] .</p>
      <p id="paragraph-26bfc4bfb5025ea216c398b4551fe27b">“Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Kondisi Financial Distress Perusahaan Otomotif” bahwa likuiditas yang diukur dengan current ratio tidak berpengaruh terhadap financial distress perusahaan, likuiditas yang diukur dengan quick ratio berpengaruh negatif terhadap financial distress perusahaan, likiuditas yang diukur dengan cash ratio tidak berpengaruh terhadap  financial distress perusahaan, profitabilitas berpengaruh negatif terhadap financial distress perusahaan, financial leverage yang diukur dengan total liabilities to total asset tidak berpengaruh terhadap financial distress perusahaan [14] . menunjukkan bahwa likuiditas tidak berpengaruh terhadap kondisi financial distress. Profitabilitas berpengaruh terhadap kondisi financial distress [15] . Financial leverage tidak berpengaruh terhadap kondisi financial distress. Arus kas dari aktivitas operasi berpengaruh terhadap kondisi financial distress perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Dari beberapa penelitian terdahulu dapat penulis simpulkan bahwa dari penelitian terdahulu banyak menunjukkan hasil yang berpengaruh negatif. Hal tersebut menjadi alasan penulis ingin meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh profitabilitas, likuiditas, dan leverage terhadap financial distress. </p>
      <p id="paragraph-c89406e89edfb9250ef326fd5cc9af07">Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan sektor pertambangan yang merupakan satu kategori perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia. Sektor ini menjadi menarik untuk dijadikan sebagai objek penelitian karena dari tahun lalu industri tersebut cenderung mengalami kesulitan keuangan maupun operasional.  Hal tersebut dapat dilihat dari penurunan laba yang cukup signifikan dan turunnya harga batubara sepanjang 2019 yang disebabkan oleh oversupply. Selain itu perusahaan sektor pertambangan khususnya di bidang batubara diketahui memiliki hutang yang jauh lebih besar. Penggunaan hutang, terutama pada hutang jangka panjang yang sangat besar tentu akan memudahkan sektor pertambangan dalam membiayai segala kebutuhan usahanya yang memerlukan dana sangat besar dan waktu yang cukup lama untuk memperoleh hasil dari usahanya tersebut. Akan tetapi sektor pertambangan harus menanggung resiko financial yang semakin tinggi karena beban bunga serta angsuran pokok pinjaman yang ditanggung semakin meningkat dan sebagai konsekuensinya kemungkinan perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan akan semakin besar. </p>
      <p id="paragraph-77daeb5bea8ee2ea36dbfaa6b8ff5c06">Dari penjelasan diatas, maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Dan Leverage Terhadap Financial Distress Pada Perusahaan Sektor Pertambanganyang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”</p>
    </sec>
    <sec id="sec-17">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="heading-e4aef41766a8b09aed52a367a6528631">A. Jenis Penelitian</p>
      <p id="_paragraph-12">Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, menurut (Sugiyono, 2017) penelitian kuantitatif adalah salah satu metode penelitian dengan data penelitiannya berupa angka-angka, digunakan untuk meneliti populasi dan sampel tertentu, menggunakan alat penelitian, dengan analisis data bersifat statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan sesuai variabel-variabel yang akan diteliti. Lokasi penelitian ini adalah Bursa Efek Indonesia. Data diperoleh dari situs resmi http://www.idx.co.id</p>
      <p id="paragraph-de7d949e8b87b419b81f184236d19c77">B. Definisi Operasional, Identifikasi Variabel, dan Indikator Variabel.</p>
      <p id="_paragraph-13">Definisi operasional adalah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati [16]. Definisi operasional pada variabel-variabel dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut :</p>
      <p id="paragraph-66d6228dc47fc2a28c2ad90fb8d05397">1. Definisi Operasional</p>
      <p id="paragraph-5000d0dbadbac300757989e2ee98497a">a. Profitabilitas</p>
      <p id="_paragraph-14">rasio profitabilitas mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Rasio profitabilitas secara umum ada 4 (empat) yaitu: <italic id="_italic-20">Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Investment, Return on Equity.</italic>[17]</p>
      <p id="paragraph-3f8dc143acf3ffd5e90701fb60f123b4">b. Likuiditas</p>
      <p id="_paragraph-15">rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi liabilitas jangka pendeknya. Dalam kelompok ini terdapat 3 (tiga) rasio yang biasa digunakan yaitu: <italic id="_italic-21">Current Ratio, Quick Ratio, Cash Ratio.</italic>[18]</p>
      <p id="paragraph-c121f802c9666663101c6760f424e2a9">c. Leverage</p>
      <p id="_paragraph-16">rasio <italic id="_italic-22">leverage </italic>adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang [19]. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam kategori <italic id="_italic-23">extreme </italic><italic id="_italic-24">leverage </italic>(utang ekstrem) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Rasio <italic id="_italic-25">leverage </italic>secara umum ada 8 (delapan) yaitu: <italic id="_italic-26">Debt to Equity Ratio, Debt to Total Asset</italic>, <italic id="_italic-27">Long Term Debt to Total Capitalization, Times Interest Earned Ratio, Times Interest Earned, Cash Flow Coverage, Fixed Charge Coverage,</italic> dan <italic id="_italic-28">Cash Flow Adequancy.</italic></p>
      <p id="paragraph-9e5497711a032691014692c98ddc96ef">d. Financial Distress</p>
      <p id="_paragraph-17"><italic id="_italic-29">financial distress</italic> merupakan tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. Apabila hal ini tidak segera diselesaikan akan berdampak besar pada perusahaan-perusahaan seperti hilangnya kepercayaan dari <italic id="_italic-30">stakeholder</italic>, dan bahkan perusahaan akan mengalami kebangkutan. Kriteria perusahaan yang mengalami <italic id="_italic-31">financial distress</italic> adalah : (1) beberapa tahun memperoleh laba bersih operasi negatif; (2) menghentikan pembayaran deviden; dan (3) mengalami restrukturisasi besar atau penghentian usaha.</p>
      <p id="paragraph-5e602d100e5c82cb1432c22a69611913">2. Identifikasi Variabel</p>
      <p id="paragraph-2">a. Definisi Variabel Dependen</p>
      <p id="_paragraph-18">Variabel dependen disebut juga variabel terikat oleh karena perubahan yang terjadi di variabel ini dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel dependen adalah hasil dari variabel independen (perlakuan). Hasil dari suatu penelitian eksperimen dilihat pada variabel dependen [20]</p>
      <p id="paragraph-9484618d54a0f74f50bf8273b84f46d1">1) Financial Distress</p>
      <p id="_paragraph-19"><italic id="_italic-34">financial distress</italic> merupakan tahap penurunan kondisi keuangan perusahaan dan apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut maka akan menyebabkan perusahaan mengalami kebangkrutan [21]. <italic id="_italic-35">Financial distress</italic> berawal ketika perusahaan mengalami kerugian operasional yang terus menerus sehingga menyebabkan defisiensi modal. <italic id="_italic-36">Financial distress</italic> ini dapat dilihat dengan berbagai cara, seperti kinerja perusahaan yang semakin menurun, ketidakmampuan perusahaan membayar kewajibannya, adanya penghentian pembayaran dividen, masalah arus kas yang dihadapi perusahaan, kesulitan likuiditas, adanya pemberhentian tenaga kerja, dan kondisi-kondisi lainnya yang mengindikasikan kesulitan keuangan yang dihadapi oleh perusahaan. Untuk mendeteksi <italic id="_italic-37">financial distress</italic> suatu perusahaan dapat dilakukan dengan menggunakan rasio keuangan perusahaan. Secara umum rasio profitabilitas, likuiditas, dan <italic id="_italic-38">leverage</italic> berlaku sebagai indikator yang signifikan.</p>
      <p id="paragraph-4782ed5a565f33af43bb0b7d7155be86">C. Indikator Variabel</p>
      <table-wrap id="_table-figure-1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>Indikator Variabel</title>
          <p id="_paragraph-21" />
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-fc5892a14b199a9e35be3d16d39fe43a">
              <td id="table-cell-71182195e6794dbdc850e5bfdf1cf79d">Variabel Yang Diukur</td>
              <td id="table-cell-f2339de215b42846dd5f723f31683aa6">Skala</td>
              <td id="table-cell-e6fcf4871aa2204cbc93c82707d267d4">Cara Pengukuran</td>
              <td id="table-cell-715aa94fe6b5e5285c09fdd4f256c40c">Sumber</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-c6b0043dec84a36c689f7b1b730d4132">
              <td id="table-cell-cf85b1cc9f2cff4787e2be13d30b4c65">Profitabilitas</td>
              <td id="table-cell-83b882b71db7e8b1cd04eea53e0ff578">Rasio</td>
              <td id="table-cell-8580f11eec07b4c6406479721c561ad0">ROA =</td>
              <td id="table-cell-b03783c6fdc69ad6b06374621bd02d43">(Murhadi, 2015)</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-5d1d38b88ee429fd1bfa5a237abd779a">
              <td id="table-cell-b67585f8ce5865a667f748fb9820819b">Likuiditas</td>
              <td id="table-cell-0518d5da797eed040604f78f02e6187b">Rasio</td>
              <td id="table-cell-c81750af60229718d9d0c1042c3b011b">Current Ratio = </td>
              <td id="table-cell-3d48b60461edfaa8a5037aae2e850a0f">(Fahmi, 2015)</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-34cc30c9bbc5fdc1b51a0deacec45a51">
              <td id="table-cell-b85000351b2561885843ef3cfdac3a09">Leverage</td>
              <td id="table-cell-d98d73eb30a548734737d208aa1f2a73">Rasio</td>
              <td id="table-cell-f64aa2eb717591272a81ebc1c58a2e98">Debt Ratio = </td>
              <td id="table-cell-8ecc8b2e43a7a44da654169f0532caba">(Fahmi, 2015)</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-791540620c631ce4e75ae5a800b6a47c">
              <td id="table-cell-750257767a8c2d4c1d90b6538750a925">Financial Distress</td>
              <td id="table-cell-5ca0056b4a9701672f2ecedc74dc83be">Variabel Dummy</td>
              <td id="table-cell-f7ba57b150b29be9940208be9e94c7d4">Perusahaan yang memiliki laba bersih negatif selama 2 Tahun berturut-turut diberi angka = 1perusahaan yang memiliki laba bersih positif selama 2 tahun berturut-turut diberi angka = 0pada periode Tahun 2016-2018</td>
              <td id="table-cell-cf3cedb5ae9c917ba3ec6c13fb093616">(An Nasution, 2016)</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="paragraph-e56633448d441c1c8e6d12128941f84d">D. Populasi dan Sampel</p>
      <p id="_paragraph-22">Populasi merupakan keseluruhan objek yang memenuhi syarat-syarat tertentu dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Populasi yang akan diamati dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di BEI selama periode 2016-2018. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 41 perusahaan yang berasal dari sektor pertambangan Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan kriteria- kriteria tertentu yang diduga dapat mewakili populasi dan sampel dalam penelitian. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel yang didasarkan pada kriteria tertentu. Kriteria yang akan digunakan adalah:</p>
      <p id="paragraph-28b2baf1a7ffcaf307fbdf53de23ab89">1. Tercatat sebagai emiten yang masih terdaftar sejak tahun 2018 – 2020.</p>
      <p id="paragraph-77684372c22cbdc6a13f4e298b6fedb8">2. Perusahaan yang secara terus menerus melaporkan laporan keuangannya dari tahun 2018 – 2020.</p>
      <p id="paragraph-3">3. Perusahaan yang menyampaikan data secara lengkap selama periode pengamatan tahun 2018 – 2020berkaitan dengan variabel profitabilitas, likuiditas, dan leverage.</p>
      <p id="_paragraph-23">Berdasarkan pemilihan sampel dari kriteria diatas, sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 34 perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2016-2018 yang telah memenuhi kriteria sampling.</p>
      <p id="paragraph-7246c50a2129c5892ef991aa8ec4c054">E. Jenis dan Sumber Data</p>
      <p id="_paragraph-24">Dalam penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif. Data kuantitatif merupakan data yang dinyatakan dalam angka (skala numerik) dan menunjukkan nilai suatu besaran ataupun variabel yang diwakilinya. Data kuantitatif bersifat <italic id="_italic-43">time series</italic>, yang berarti data tersebut menggambarkan suatu perkembangan dari waktu ke waktu dan kemudian digunakan untuk melihat hal-hal yang mempengaruhi perubahan dalam rentang waktu tertentu [24] Sumber data pada penelitian ini menggunakan data sekunder. data sekunder merupakan sumber yang secara tidak langsung memberikan data kepada para pengumpul data, yaitu data yang diperoleh melalui orang lain atau atau diperoleh dari dokumen [25]. Penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari <italic id="_italic-44">annual report </italic>perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2016-2018 yang diakses melalui website resmi Bursa Efek Indonesia yaitu www.idx.co.id.</p>
      <p id="paragraph-df04b3cc879cba784c01ac4053a116a8">F. Teknik Pengumpulan Data</p>
      <p id="paragraph-0d4fff79474268552c8dae4bbf11592a">1. Studi Pustaka</p>
      <p id="_paragraph-25">Studi pustaka dilakukan dengan mengkaji berbagai penelitian terdahulu dan literatur buku sebagai bahan referensi yang berkaitan dengan masalah pada penelitian ini serta akan digunakan sebagai pedoman teori. Data tersebut diperlukan untuk analisis terhadap permasalahandan pencatatan teori-teori yang telah dipelajari pada peristiwa yang terjadi.</p>
      <p id="paragraph-ba8e23d24d5b61a9597d0744eafcb3d4">2. Dokumentasi</p>
      <p id="_paragraph-26">Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data sekunder (dokumentasi) yang diperoleh dari beberapa buku, jurnal, dan artikel yang ada kaitannya dengan judul penelitian ini. Studi dokumentasi pada penelitian ini dilakukan dengan menganalisis <italic id="_italic-45">annual report </italic>perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018.</p>
      <p id="_paragraph-27">Untuk menghitung profitabilitas, likuiditas, dann <italic id="_italic-46">leverage</italic> data yang dikumpulkan dari laporan laba rugi yaitu diihat dalam <italic id="_italic-47">annual report </italic>yang diterbitkan perusahaan setiap tahunnya. Sebagai berikut:</p>
      <list list-type="bullet" id="list-2118f8df3ad88675a4e55d8e8f54e5d3">
        <list-item>
          <p>Untuk menghitung profitabilitas, data yang dikumpulkan dari laporan laba rugi menggunakan rumus ROA yaitu perbandingan laba bersih dengan total aktiva.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Untuk menghitung likuiditas, data yang dikumpulkan dari neraca yaitu menggunakan rumus <italic id="_italic-48">current ratio</italic> yaitu perbandingan aset lancar dengan kewajiban lancar.</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-28">Untuk menghitung <italic id="_italic-49">leverage, </italic>data yang dikumpulkan dari neraca yaitu menggunakan rumus <italic id="_italic-50">debt ratio </italic>yaitu perbandingan total utang dengan total aktiva.</p>
      <p id="paragraph-7f6f6f3904e75180b8b82995d5e3c4c4">G. Teknik Analisis</p>
      <p id="_paragraph-29">Metode analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik analisis kuantitatif. Dalam penelitian ini analisis kuantitatif dilakukan dengan cara mengkuantifikasi data-data penelitian sehingga menghasilkan informasi yang dibutuhkan dalam analisis. Terdapat tiga uji yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu uji statistik deskriptif, uji asumsi klasik dan analisis regresi linier berganda.</p>
      <p id="paragraph-32288facdb11efce78416d6abf388968">3. Uji Statistik Deskriptif</p>
      <p id="_paragraph-30">Penelitian statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskriptif suatu data yang dapat dilihat dari nilai rata-rata (<italic id="_italic-51">mean</italic>), standar deviasi, varians dan range statistik [26]Dalam penelitian ini statistik deskriptif dilihat dari nilai rata-rata, standar deviasi, maksimum maupun minimum.</p>
      <p id="paragraph-72d436252d46fd7299b279042b2bdcd8">4. Uji Asumsi Klasik</p>
      <p id="_paragraph-31">Pengujian asumsi klasik bertujuan untuk menghasilkan model regresi yang baik. Untuk menghindari kesalahan dalam pengujian asumsi klasik maka jumlah sampel yangdigunakan harus bebas dari bias.</p>
      <p id="paragraph-21613c825ab62abc45ce943408abf7cd">a. Uji Normalitas</p>
      <p id="_paragraph-32">Uji normalitas dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi, variabel pengganggu atau residual mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal atau mendekati normal Dalam penelitian ini akan dilakukan pengamatan terhadap nilai residual dan juga distribusi variabel-variabel yang akan diteliti. Uji normalitas yang digunakan adalah uji Kolmogrov-Smirnov (K-S). Dasar pengambilan keputusan dalam uji K-S adalah apabila nilai signifikansi atau nilai probabilitas &gt; 0,05 atau 5% maka data terdistribusi secara normal dan apabila nilai probabilitas &lt; 0,05 atau 5% maka data tidak terdistribusi normal</p>
      <p id="paragraph-545423e63c576f276605a605a4405aeb">b. Uji Multikolinearitas</p>
      <p id="_paragraph-33">Uji Multikolinearitas memiliki tujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi korelasi antara variabel independen. Multikolinearitas didapat dari nilai toleransi dan lawannya yaitu Variance<italic id="_italic-52"> Inflation Factor </italic>(VIF). Untuk pengambilan keptusan dalam menentukan ada atau tidaknya multikolinearitas yaitu dengan kriteria sebagai berikut :</p>
      <list list-type="bullet" id="list-09ce61ba0aa709e67bbbf66dd323c504">
        <list-item>
          <p>Jika nilai VIF &gt; 10 atau jika nilai tolerance &lt; 0,10 maka terjadi multikolinearitas dalam model regresi.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Jika nilai VIF &lt; 10 atau jika nilai tolerance &gt; 0,10 maka tidak terjadi multikolinearitas dalam model regresi.</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="paragraph-70fc1e3dba3faf737a8c86192fddfca8">c. Uji Heteroskedastisitas</p>
      <p id="_paragraph-34">Uji heteroskedastisitas :bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan <italic id="_italic-53">variance </italic>dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas Dalam penelitian ini, uji heteroskedastisitas menggunakan uji Glejser. Untuk mengetahui tidak adanya heteroskedastisitas ditunjukkan dengan tidak ada satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen nilai Absolut Residual (AbsRes). Jika hasil pengujian menunjukkan signifikansi pada uji t &gt; 5% maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas. Jika hasil pengujian menunjukkan signifikansi pada uji t &lt; 5% maka terjadi heterosdektasitas.</p>
      <p id="paragraph-ce0d195e56b7cb601edbc2212c7ab3ec">d. Uji Autokorelasi</p>
      <p id="_paragraph-35">Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji ada atau tidaknya korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t- 1 (sebelumnya) di dalam model regresi linier. Jika terjadi korelasi, maka dapat disimpulkan terdapat masalah atau <italic id="_italic-54">problem </italic>autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain.</p>
      <p id="paragraph-51a0b8b912e63d89d081c3f7e775faf3">5. Analisis Regresi Linier Berganda</p>
      <p id="_paragraph-36">Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda karena untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Analisis regresi linier berganda dilakukan dengan uji individual (uji t), uji simultan (uji f) dan uji koefisien determinasi (R<sup id="_superscript-4">2</sup>). Model regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-37">Y <sub id="_subscript-1">i</sub> = α + β <sub id="_subscript-2">1</sub> X <sub id="_subscript-3">1</sub> + β <sub id="_subscript-4">2</sub> X <sub id="_subscript-5">2</sub> + β <sub id="_subscript-6">3</sub> X <sub id="_subscript-7">3</sub> + є</p>
      <p id="_paragraph-38">Keterangan :</p>
      <p id="_paragraph-39">Y= <italic id="_italic-55">Financial Distress </italic></p>
      <p id="_paragraph-40">α = Konstanta</p>
      <p id="_paragraph-41">β= Koefisien Regresi</p>
      <p id="_paragraph-42">X<sub id="_subscript-8">1</sub> = Profitabilitas</p>
      <p id="_paragraph-43">X<sub id="_subscript-9">2</sub> = Likuiditas</p>
      <p id="_paragraph-44">X<sub id="_subscript-10">3</sub>= <italic id="_italic-56">Leverage</italic></p>
      <p id="_paragraph-45">є = Error/Tingkat Kesalahan</p>
      <p id="paragraph-a95ac5019f4289dca2256754f0bac967">6. Uji Hipotesis</p>
      <p id="paragraph-bda6c12e471a664eff13dcca7bd9964e">1. Uji T</p>
      <p id="_paragraph-46">Uji t dimaksudkan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerapkan variabel dependen Jika p-<italic id="_italic-57">value </italic>&lt; tingkat signifikansi maka variabel independen tersebut secara terpisah atau secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Jadi hipotesis dapat diterima. Nilai t sendiri dalam penelitian ini menggunakan tingkat signifikasi 5%. Kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis adalah Ha diterima dan H0 ditolak ketika <italic id="_italic-58">t-static </italic>&gt; 1,96. Untuk menolak atau menerima hipotesis menggunakan probabilitas, maka Ha diterima jika nilai p &lt; 0,05.</p>
      <p id="paragraph-25962251e7f0631d34183dc74819ef4b">2. Koefisien Determinasi (R2)</p>
      <p id="_paragraph-47">Uji ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model regresi ini dalam menjelaskan dan menerangkan variabel dependen. Nilai R<sup id="_superscript-5">2</sup> yang rendah menunjukkan bahwa kemampuan dari variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen sangat terbatas. Pada setiap tambahan satu variabel independen, maka R<sup id="_superscript-6">2</sup> pasti akan meningkat tidak memandang apakah variabel tersebut berpegaruh secara signifikan atau tidak terhadap variabel dependen. Maka dari itu, untuk jumlah variabel independen yang lebih dari dua lebh baik menggunakan koefisien determinasi yang telah disesuaikan (<italic id="_italic-59">Adjusted </italic>R<sup id="_superscript-7">2</sup>) Semakin tinggi nilai R<sup id="_superscript-8">2</sup>berarti semakin baik model prediksi dari penelitian yang diajukan. Sebagai contoh, jika R<sup id="_superscript-9">2</sup>sebesar 0,7 artinya variasi perubahan variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 70% , sedangkan 30% dapat dijelaskan oleh variabel lain</p>
    </sec>
    <sec id="sec-18">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-a6c7319d4c1c1d2ccbd8328b20e165cc">
        <title>Hasil Penelitian</title>
        <p id="_paragraph-48">Penelitian ini menggunakan model regresi linier berganda untuk melakukan pengujian terhadap hipotesis yang dibangun dalam penelitian. Untuk mendapatkan hasil yang terbebas dari bias, maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik.</p>
        <p id="paragraph-e995c10968f4ea86a017374e73096cc9">a. Uji Asumsi Kasik</p>
        <p id="_paragraph-49">Untuk mendapatkan hasil pengujian hipotesis yang terbebas dari bias dalam model regresi linier berganda, maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik dalam penelitian ini menggunakan 4 (empat) uji, yaitu :uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas. Uji asumsi klasik dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS 20,0.</p>
        <p id="paragraph-8146363fb4399176e4d31ac62f51011f">b. Uji Normalitas</p>
        <p id="_paragraph-50">Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji <italic id="_italic-60">Kolmogorov-Smirnov</italic> dengan melihat tingkat signifikansinya. Residual dinyatakan terdistribusi normal jika nilai signifikansi <italic id="_italic-61">Kolmogorov-Smirnov</italic> &gt; 0,05. Hasil uji <italic id="_italic-62">Kolmogorov-Smirnov</italic> menunjukan nilai signifikan sebesar 0,000.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-2">
          <label>Table 2</label>
          <caption>
            <title>Uji Normalitas</title>
            <p id="_paragraph-52">Data diolah, 2021</p>
          </caption>
          <table id="_table-2">
            <tbody>
              <tr id="table-row-12817fab1a1cbfd5700d072e8d3ee96c">
                <td id="table-cell-86da06d890de53e9ff00bc82ce1dbc7a" colspan="2">One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4b1b234a812456da2151724f4dd6b961">
                <td id="table-cell-a4a09eaf9b621b50b218841194a2ac2e" />
              </tr>
              <tr id="table-row-3219a13b4982e0c6120cff95193b2cfe">
                <td id="table-cell-6889a2ab1392148b9863b05900359ff3" />
                <td id="table-cell-e7e00c22d84ffa0afba17f17561d1999">Unstandardized Residual</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-b3e13fb42776966ebe1d18f17aa1eef9">
                <td id="table-cell-af2cbb92e86ac423c13219f30fc787f1">N</td>
                <td id="table-cell-7a324b99c3c2b6e73522b8dacc3e1157">34</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-70ac6a66268699fb2fa40d2694c518f9">
                <td id="table-cell-863728b79f8e14fb4d69acd46b9e39da">Kolmogorov-Smirnov Z</td>
                <td id="table-cell-c810faa17d417d0fb3c71685d091d055">2.715</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-63f139922a1e1ce8e67e6c6fe04b666c">
                <td id="table-cell-91099f7640ca153754e5e9fce182ba13">Asymp. Sig. (2-tailed)</td>
                <td id="table-cell-aa4d45cfbffae45bed92f1e87ad0cde6">.103</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-54">Berdasarkan hasil normalitas diatas menunjukkan bahwa uji kolmogorov smirnov menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.103 yang lebih besar dari 0.05 (α=5%), sehingga berdasarkan nilai signifikansi tersbut dapat dikatakan data terdistribusi normal.</p>
        <p id="paragraph-772080f2722afd8215b61e46b6b779ba">c. Uji Autokorelasi</p>
        <p id="_paragraph-55">Model regresi linier berganda yang baik adalah regresi yang terbebas dari gejala autokorelasi. Uji autokorelasi dilakukan dengan membandingkan antara nilai Durbin-Watson (dW) dengan nilai dU. Jika nilai Durbin-Watson terletak pada rentang dU ≤ dW ≤ 4 – dU, maka data penelitian terbebas dari gejala autokorelasi. Berdasarkan tabel Durbin-Watson untuk taraf signifikan (α) = 5%, jumlah data pengamatan (n) =34, dan jumlah variable bebas (k) = 3, diperoleh nilai dU = 1.8061. Hasil uji autokorelasi disajikan dalam tabel 4.4 dibawah ini.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-3">
          <label>Table 3</label>
          <caption>
            <title>Hasil Uji Autokorelasi</title>
            <p id="_paragraph-57">data diolah, 2022.</p>
          </caption>
          <table id="_table-3">
            <tbody>
              <tr id="table-row-3ac75cd40d580fb913ce1e8bf7406346">
                <td id="table-cell-ede3957ef7dd99264fa3d824ec131a58">d U</td>
                <td id="table-cell-2fedd74f75b744d9f8f48d04cb520f7a">dW</td>
                <td id="table-cell-b212a2455614a5ab5e0e8dff6a7c91d7">dL</td>
                <td id="table-cell-387a09bb2267d479064ea8c5722a9e15">4 – dU</td>
                <td id="table-cell-c4719a5882dd73d195c977b207a2b21b">HASIL</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8f845541daa0981fe850207b5e63260c">
                <td id="table-cell-3daae8beee487ef83bebdc46331183d7">1,6519</td>
                <td id="table-cell-0dae76d303d9f87e2f14374275088912">1.907</td>
                <td id="table-cell-4ede6920a81f973d5bf33f66412cbde9">1,2707</td>
                <td id="table-cell-b1d6d2a583d5b2c40a7be3579c5c9930">2,3481</td>
                <td id="table-cell-83a4f1fdd6e6426c7b007fc45e405eea">dU ≤ dW ≤ 4 – dU</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-59">Berdasarkan nilai Durbin-Watson(dW) yang diperoleh dari tabel Durbin-Watson pada tingkat signifikasi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa data penelitian tidak mengalami gejala autokorelasi. Hal ini ditunjukkan dari nilai Durbin-Watson terletak pada rentang dU ≤ dW ≤ 4 – dU.</p>
        <p id="paragraph-4c04854eb8bc30aa1b18e82d093d7026">d. Uji Multikolinieritas</p>
        <p id="_paragraph-60">Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi linier yang baik adalah model regresi yang tidak ditemukan gejala adanya korelasi antar variabel bebas. Uji multikolinieritas dilakukan dengan menggunakan nilai <italic id="_italic-63">tolerance</italic> atau nilai <italic id="_italic-64">Variance Inflation Factor</italic> (VIF). Jika nilai <italic id="_italic-65">tolerance</italic> &lt; 0,1 atau nilai VIF &gt; 10, maka data penelitian mengalami gejala korelasi antar variable bebas (gejala multikolinieritas). Hasil uji multikolinieritas dalam penelitian ini disajikan pada table 4.5 di bawah ini.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-4">
          <label>Table 4</label>
          <caption>
            <title>Hasil Uji Multikolinieritas</title>
            <p id="_paragraph-63">data diolah, 2021.</p>
          </caption>
          <table id="_table-4">
            <tbody>
              <tr id="table-row-3b776639f59bd4618f501e31b2cf72c2">
                <td id="table-cell-c35ba45b7f1cc63cf9d5ab73d4b1565d" rowspan="2" colspan="2">Model</td>
                <td id="table-cell-447fde238497353aa59904690cb1cac8" colspan="2">Collinearity Statistics</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e822ec543eee0731ef2b193a97260132">
                <td id="table-cell-915124abf6c4081ddb85a278c63efc80">Tolerance</td>
                <td id="table-cell-0d28d530053b19abcbc76b36ad465ba8">VIF</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-57c683413be7d61aac28357f0bb6ebed">
                <td id="table-cell-8d567beb87bfb470b99e53bffd5a61ef" rowspan="4">1</td>
                <td id="table-cell-dd9d9f5ac802226042b3a64ec62c495d">(Constant)</td>
                <td id="table-cell-9a45d9d50cfeee0fa77faba48894f10c" />
                <td id="table-cell-d49cffafe4645c124b20bca7fad64c85" />
              </tr>
              <tr id="table-row-76a94778601847f1fbf8d2bd94d1933b">
                <td id="table-cell-4da037fd4f5fcbff8f6c5b189157fcb6">PROFITABILITAS</td>
                <td id="table-cell-8c264bdc2d2e1704efa832d5769c126f">.738</td>
                <td id="table-cell-f77bdb266224875bfbf0176f960e5ab9">1.356</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-6caff222e05adb31183e527dda2427aa">
                <td id="table-cell-527d1f5f611b84f7d5df30c2d09976ab">LIKUIDITAS</td>
                <td id="table-cell-2d1b7218a0a41bdf67376249534309bd">.411</td>
                <td id="table-cell-954588162cb66939ad76d1577cc85cdf">2.431</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8ffafd2d7bfefaef6a31d6305569c1fe">
                <td id="table-cell-55def40eab26d38f139af25f4f71151f">LEVERAGE</td>
                <td id="table-cell-655db47fd9d18a916b3229168173d6e2">.398</td>
                <td id="table-cell-273015d2cb7c97e9ebea64633458a9ae">2.514</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-65">Berdasarkan nilai <italic id="_italic-67">tolerance</italic> dan VIF yang terdapat pada Tabel 4.5, maka dapat disimpulkan bahwa data penelitian tidak mengalami gejala multikolinieritas. Hal ini ditunjukkan dari nilai <italic id="_italic-68">tolerance </italic>&gt; 0,1 atau nilai VIF &lt; 10.</p>
        <p id="paragraph-8eb42847b475d6f74e3a3a7ec4699238">e. Uji Heteroskedastisitas</p>
        <p id="_paragraph-66">Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi linier memiliki kesamaan varians <italic id="_italic-69">residual</italic> dari satu pengamatan ke pengamatan yang lainnya. Jika varians dari satu <italic id="_italic-70">residual</italic> ke <italic id="_italic-71">residual</italic> lainnya tetap, maka dapat dikatakan bahwa data pengamatan adalah homoskedastisitas. Model regresi yang baik adalah model regresi yang tidak mengalami kesamaan <italic id="_italic-72">residual</italic> dari satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji Glejser. Data tidak mengalami gejala heteroskedastisitas jika data seluruh variabel yang digunakan mempunyai nilai Signifikan hitung (Sig) &gt; 0,05, untuk model regresi terhadap nilai residual yang dihasilkan. Hasil uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini disajikan dalam tabel 4.6 di bawah ini.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-5">
          <label>Table 5</label>
          <caption>
            <title>Hasil Uji Heteroskedastisitas</title>
            <p id="_paragraph-68">data diolah, 2022.</p>
          </caption>
          <table id="_table-5">
            <tbody>
              <tr id="table-row-023a9cbd547ddf7beebce2f8b3a57315">
                <td id="table-cell-d1ba75e5eb44454572d3898ef8745aae" colspan="2">Model</td>
                <td id="table-cell-ee0ba827c86b22ba9bc22d12f7375e2f">t</td>
                <td id="table-cell-ff6ab8c838251bcf25689ce0107e3bc1">Sig.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-ecfc7e3609d72dc6a62c215850b42a86">
                <td id="table-cell-8d59b89372acfcee6518e3b79f43e0c3" rowspan="4">1</td>
                <td id="table-cell-c29ff17f7e9f6d1eeaeaa1752e4a48ef">(Constant)</td>
                <td id="table-cell-f053bd780ce72d22e098bb86d89e0a5f">3.743</td>
                <td id="table-cell-85c9f3c2cc561d0e06893b781ff0c6da">.000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-eb2773d02e9da2d91a36371e58869be3">
                <td id="table-cell-c119369b745a93e13f9e2e87625a177f">PROFITABILITAS</td>
                <td id="table-cell-da2af58161928f8a099ed66184d72dc0">-1.956</td>
                <td id="table-cell-dde99a8d7570aa74c8534d90c1fda189">.052</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f4845247f6c0bac58a704eda622fbc98">
                <td id="table-cell-92bbcdeea77a45b202925baf41ff0a05">LIKUIDITAS</td>
                <td id="table-cell-52858d86fc3eea5a21d725d97a64bcf5">.191</td>
                <td id="table-cell-4541a08e6b49e732373d6d8bacc8f780">.849</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-beadf6d46ef62e5bc78fb64986a3dd2b">
                <td id="table-cell-cb9198edc77124ea0d45f72a45132090">LEVERAGE</td>
                <td id="table-cell-04aa89eda77f5ac32f2c6c591eb06664">-2.140</td>
                <td id="table-cell-4cd713fbde3dd13815ad89889ab8bb71">.134</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-70">Berdasarkan hasil pengujian heteroskedastisitas pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi tiap-tiap variabel independen lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi.</p>
        <p id="paragraph-e26b0fda0c04b40c7b3f1e94b1e1492d">f. Analisis Regresi dan Hasil Pengujian Hipotesis</p>
        <p id="_paragraph-71">Analisis model regresi linier berganda bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari profitabilitas (ROA), likuiditas (CR), <italic id="_italic-74">Leverage</italic> dan ukuran perusahaan (SIZE) terhadap <italic id="_italic-75">financial distress</italic> (FD).</p>
        <p id="paragraph-8a241586930e4db5aff4fd01e2dfbe40">1. Analisis Regresi Linier Berganda</p>
        <table-wrap id="_table-figure-6">
          <label>Table 6</label>
          <caption>
            <title>Hasil Uji Regresi Linear Berganda</title>
            <p id="_paragraph-73">data diolah, 2022.</p>
          </caption>
          <table id="_table-6">
            <tbody>
              <tr id="table-row-a80df4c0cec1c498a15d908fb7c72e65">
                <td id="table-cell-32ec5ab12121f394ecaa3c06cc29245a" rowspan="2" colspan="2">Model</td>
                <td id="table-cell-d7052b6106390d6e3f111c55407da46e" colspan="2">Unstandardized Coefficients</td>
                <td id="table-cell-84535a5ab807a11c374069d420a93f67">Standardized Coefficients</td>
                <td id="table-cell-8822614c546ccd1f4353c1da6c3523bf" rowspan="2">t</td>
                <td id="table-cell-1ef746bb1c8247dd559072c8a7d69336" rowspan="2">Sig.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a2842c939ffa0551e843da438354e259">
                <td id="table-cell-cba3674e1554ea311fcc47de3cd38cfe">B</td>
                <td id="table-cell-d65c4e6414c223572c35886d986083b4">Std. Error</td>
                <td id="table-cell-baa97dbdbf0661b10f81463a68a01d10">Beta</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-40b7155be910ba68381ad7345201eb5f">
                <td id="table-cell-d8c12b24ebded1d37355f9997a7e145a" rowspan="4">1</td>
                <td id="table-cell-dfd0abfd35f71e241e56261064c53cdf">(Constant)</td>
                <td id="table-cell-5f9367806df1f8579f7ee2b07e590ef9">21.817</td>
                <td id="table-cell-93ebe77c02978c5a15b21e71336c9c8d">7.028</td>
                <td id="table-cell-fbcbe9cdc01dd597a72df46e09b577be" />
                <td id="table-cell-434b39e2c2d63d8544bd68fd4350e7af">3.104</td>
                <td id="table-cell-da43b3239eb7235790c6f89257038c4f">.002</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e7cb34423170f95a8a1ad6ce5b806337">
                <td id="table-cell-3c8adccb9c6c100686236a0ad8faea46">PROFITABILITAS</td>
                <td id="table-cell-f7329f68a1dfb3b080d45daccb37a26c">11.565</td>
                <td id="table-cell-ed6e2fe7b9dfeb98703e75c8a6661554">5.958</td>
                <td id="table-cell-1dfa8167085bae231dc425027446ced0">.145</td>
                <td id="table-cell-ad8f807772d917950dc90b159131a9f1">1.941</td>
                <td id="table-cell-5f338e820517082850c6dc80f91fd5ed">.054</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-487302f66a7d61ae9aa04809c395b852">
                <td id="table-cell-3858752f248affe75c3c293dbce4e742">LIKUIDITAS</td>
                <td id="table-cell-b331fe91ee2aa2d51f5b49c3dc70da0c">.547</td>
                <td id="table-cell-5fd8941d6bd1d2b21c842a1dd106aa32">.459</td>
                <td id="table-cell-66fcc555db9bc67d43766d009098a145">.120</td>
                <td id="table-cell-7f4c56d2620a36b2bf78cdc8152ff4fe">1.191</td>
                <td id="table-cell-21e9fc8a025a043e90fc9bb670a64edb">.235</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-fd48c973cf66e3964ff68e367d46a600">
                <td id="table-cell-1a910af8a6687adc0c65355e04b92756">LEVERAGE</td>
                <td id="table-cell-5735820d2b07400caeb9898fd5cbb4fb">-7.982</td>
                <td id="table-cell-ea7cac86cde9f29aa7f222459666343e">2.776</td>
                <td id="table-cell-be730d896ae3c924df9e71497b2e96e4">-.293</td>
                <td id="table-cell-314be50337328fde503636b0905ca12e">-2.875</td>
                <td id="table-cell-ac09f7c35292adc8631bcc0bcdc7c14d">.005</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-75">Berdasarkan hasil yang terdapat pada Tabel 5, maka dapat disusun persamaan regresi linier berganda sebagai berikut.</p>
        <p id="_paragraph-76">Y = 21.817 + 11.565 X1 + 0.547 X2 -7.982 <italic id="_italic-77">X3</italic> + e</p>
        <p id="_paragraph-77">Berdasarkan persamaan regresi linier berganda diatas, maka dapat dilihat seberapa besar pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap <italic id="_italic-78">financial distress</italic>. Penjelasan pengaruh masing-masing variabel berdasarkan persamaan regresi linier berganda diatas adalah:</p>
        <list list-type="bullet" id="list-41917193c37154f8c8b03b9a4d79898e">
          <list-item>
            <p>Nilai konstanta (intercept) sebesar 21.817, hal ini menunjukkan jika seluruh variabel bebas yang digunakan tidak mengalami perubahan, maka nilai <italic id="_italic-79">financial distress</italic> akan mengalami kenaikan sebesar 21.817 dan berdampak terhadap meningkatnya kebangkrutan perusahaan sebesar 21.817 yang disebabkan oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Nilai koefisien regresi profitabilitas sebesar 11.565 dan bertanda positif. Hal ini menunjukkan bahwa profitabilitas memiliki hubungan yang searah dengan <italic id="_italic-80">financial distress</italic> dan mengandung arti jika profitabilitas meningkat satu kali, maka nilai <italic id="_italic-81">financial distress</italic> akan mengalami kenaikan sebesar 11.565. Artinya semakin tinggi profitabilitas, maka <italic id="_italic-82">financial distress</italic>juga akan meningkat</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Nilai koefisien regresi likuiditas sebesar 0.547 dan bertanda positif. Hal ini menunjukkan bahwa likuiditas memiliki hubungan yang searah dengan <italic id="_italic-83">financial distress</italic> dan mengandung arti jika likuiditas meningkat satu kali, maka nilai <italic id="_italic-84">financial distress</italic> akan mengalami kenaikan sebesar 0.547. Artinya semakin tinggi likuiditas, maka <italic id="_italic-85">financial distress</italic>juga akan meningkat</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Nilai koefisien regresi <italic id="_italic-86">Leverage</italic> sebesar -7.982 dan bertanda negatif. Hal ini menunjukkan bahwa <italic id="_italic-87">Leverage</italic> memiliki hubungan yang tidak searah dengan <italic id="_italic-88">financial distress</italic> dan mengandung arti jika <italic id="_italic-89">Leverage</italic> meningkat satu kali, maka nilai <italic id="_italic-90">financial distress</italic> akan mengalami penurunan sebesar 7.982. Artinya semakin tinggi Leverage, maka <italic id="_italic-91">financial distress</italic>juga akan menurun</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Nilai <italic id="_italic-92">error</italic> pada persamaan regresi ini adalah sebesar 4.69095958. Nilai ini lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai standar deviasi variabel Beta (Y) yaitu <italic id="_italic-93">financial distress</italic> sebesar 5.28942889. Hal ini berarti bahwa model regresi yang digunakan sudah baik.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="paragraph-f9b1b93dcc6b1c779a4b6a77a0a70f31">g. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)</p>
        <p id="_paragraph-78">Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat (Ghozali, 2011:98).</p>
        <table-wrap id="_table-figure-7">
          <label>Table 7</label>
          <caption>
            <title>Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)</title>
            <p id="_paragraph-80">data diolah, 2022.</p>
          </caption>
          <table id="_table-7">
            <tbody>
              <tr id="table-row-9d3000ab5343f837e3ed055b29fabba9">
                <td id="table-cell-a2ea9e51e5fcc07bef8d0811f1a921ed" colspan="2">Model</td>
                <td id="table-cell-509bbcb93d320e27f34a7b9e8c3a037c">F</td>
                <td id="table-cell-d013cf0ea8c911e6a186b569d381f7cb">Sig.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-7a9140a0415b571175e5d6ef9f91c586">
                <td id="table-cell-3fd335129cc01bb7dae8695a8432992b" rowspan="3">1</td>
                <td id="table-cell-17f54a1d6b92f9e701c68f06b621e80f">Regression</td>
                <td id="table-cell-7ac03fe78647aaa90efbaf048fba7e4a">13.893</td>
                <td id="table-cell-b27068fc601b26653b8e58eb93379b97">.000b</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-aa984227ee5d22462cc18c0c6749e54d">
                <td id="table-cell-2644e57fc40db0e14ecce2f6e6463d35">Residual</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-bc0584ab620a0c1b7b2d65b291ef26d3">
                <td id="table-cell-29075617093cc34722343933e38c7b87">Total</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-82">Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa variabel independen profitabilitas (ROA), likuiditas (CR), dan <italic id="_italic-94">Leverage</italic> terhadap <italic id="_italic-95">financial distress</italic> (FD) mempunyai signifikansi F hitung sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa secara simultan profitabilitas (ROA), likuiditas (CR), <italic id="_italic-96">Leverage</italic> berpengaruh terhadap financial distress (FD).</p>
        <p id="paragraph-4a90710bbd73596d59cd7cfd6d027946">h. Koefisien Determinasi (Uji R2)</p>
        <p id="_paragraph-83">Koefisien determinasi (R<sup id="_superscript-11">2</sup>) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R<sup id="_superscript-12">2</sup> yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Imam Ghozali, 2006:97).</p>
        <table-wrap id="_table-figure-8">
          <label>Table 8</label>
          <caption>
            <title>Hasil Uji R<sup id="_superscript-13">2 </sup>(Koefisien Determinasi)</title>
            <p id="_paragraph-85">Data diolah 2022</p>
          </caption>
          <table id="_table-8">
            <tbody>
              <tr id="table-row-150ce64ace535560670d09151587ed23">
                <td id="table-cell-63c6e19079cfd098ce04705b9f4dc723">Model</td>
                <td id="table-cell-500d4c6f975d1ef6e13e93c62da96e6e">R</td>
                <td id="table-cell-914d2af5e66d2c212542c99e987bad7d">R Square</td>
                <td id="table-cell-68192812ac9f63bcc9cd681b5008db12">Adjusted R Square</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-cddf4dd6cd26ef2b291ff564d90b7b03">
                <td id="table-cell-2638b046399fb3c32969db36b1d24948">1</td>
                <td id="table-cell-a0a0f475c33bb89fe8dcfd01d01e5fb8">.521</td>
                <td id="table-cell-b34597c7511d603da92134443c7dcd90">.271</td>
                <td id="table-cell-728b34b094b40c44a800bd454f6fad54">.213</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-87">Dari Tabel 7 dapat disimpulkan bahwa profitabilitas (ROA), likuiditas (CR), <italic id="_italic-97">Leverage</italic> dapat menjelaskan variabel dependen <italic id="_italic-98">financial distress</italic> (FD) sebesar nilai <italic id="_italic-99">Adjusted</italic> R <italic id="_italic-100">Square</italic> sebesar 0,271 atau sekitar 27,1%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini dapat memprediksi <italic id="_italic-101">financial distress</italic> (FD) 27,1% , sedangkan sisanya sebesar 22,9% diprediksi oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini.</p>
        <p id="paragraph-3946624f8dd471243d01e92702e11dbb">i. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji t)</p>
        <p id="_paragraph-88">Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2011:98). Pengujian hipotesis dengan uji t pada penelitian ini digunakan untuk menguji dan mengetahui pengaruh variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen secara parsial.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-9">
          <label>Table 9</label>
          <caption>
            <title>Hasil Uji t</title>
            <p id="_paragraph-90">data diolah, 2022.</p>
          </caption>
          <table id="_table-9">
            <tbody>
              <tr id="table-row-b5e5ffb75a14144eea6b57aa2f876b0a">
                <td id="table-cell-8bbb0891c2e15f3ba27dd352adfee9a5" rowspan="2" colspan="2">Model</td>
                <td id="table-cell-49f0bc91eec0d435ddb2fd53df95eb85" colspan="2">Unstandardized Coefficients</td>
                <td id="table-cell-a987ce20c3b9dd16aba067e9f05be977">Standardized Coefficients</td>
                <td id="table-cell-91b2dbf837a2455d0dd7035bb27e4970" rowspan="2">t</td>
                <td id="table-cell-40200c5ddc339eaf8b1c98897d19980f" rowspan="2">Sig.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-5695e754d62d075e90fe112c4c072b01">
                <td id="table-cell-71ee12f0b440fabb275bd4b95b90844c">B</td>
                <td id="table-cell-7f77ca37b6d0b65fdb2a9016d2d817e2">Std. Error</td>
                <td id="table-cell-1fc977521d986d8c839b1012393f5dc0">Beta</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-04c8ad9c2a6acf67399df5ee629062ea">
                <td id="table-cell-b869dfaf434e5f877d1a8fc2253d647e" rowspan="4">1</td>
                <td id="table-cell-7e311739d0f834e49c6760f8be53b401">(Constant)</td>
                <td id="table-cell-15e59ffadaad5640af88ee6d1d5efd73">21.817</td>
                <td id="table-cell-b921c6cc51a700bfb2d99bcfc00fbe13">7.028</td>
                <td id="table-cell-7a9dace1b7744e791303315385847fc0" />
                <td id="table-cell-f75e40acac9890584c3a3ca78311fceb">3.104</td>
                <td id="table-cell-0dc4866452e4b10faf8900fe2c64c2e2">.002</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-370a5d75284957f81279bbd23c862206">
                <td id="table-cell-535213b62ad40149795a27df7f57c7b8">PROFITABILITAS</td>
                <td id="table-cell-4a1a60630b46e67c756742769a147e33">11.565</td>
                <td id="table-cell-49e18b5743d34d7d70508f9655ed0eaa">5.958</td>
                <td id="table-cell-3264ad6273d32ec7056b9a04a895cd64">.145</td>
                <td id="table-cell-59dfd63facbdb9c9db61f9bd93d65360">1.941</td>
                <td id="table-cell-2a794c3351efb4bde12dbe4fb73853bc">.054</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-9b2d15a0023a9896ef1e98f4d7e1dfb9">
                <td id="table-cell-5a57b28d7cf14b4131415508ba313148">LIKUIDITAS</td>
                <td id="table-cell-95cc256c1db245c0f02ced7e5f0d977b">.547</td>
                <td id="table-cell-d761fcad88e4db67694a5716614d2c44">.459</td>
                <td id="table-cell-7668ac3b33a62480fe7a50d057cc3ee1">.120</td>
                <td id="table-cell-fef299423263fc06f27a6168430cf7d1">1.191</td>
                <td id="table-cell-2ca3fd263495ec6028948faa3420f609">.235</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e5fae6982bb475325849b54a16273e1a">
                <td id="table-cell-cec929972cdb1b0480c75a1844f0e722">LEVERAGE</td>
                <td id="table-cell-ce1dd1eb4610190f6fb60af448ea97ac">-7.982</td>
                <td id="table-cell-17b07ec5f739885fb60bfb9b63990afc">2.776</td>
                <td id="table-cell-1c7fde04c38626b857945900ed5273ee">-.293</td>
                <td id="table-cell-05de90ab2c0b7168050235b6890407f7">-2.875</td>
                <td id="table-cell-6c6d828ea5f3705cf2b5ce5982c8ce82">.005</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-92">Berdasarkan table diatas dapat dijabarkan hasil uji t antara lain :</p>
        <p id="paragraph-ca0e83b65720424d688c7ff193bf08e8">a) Nilai signifikansi sebesar 0,054. Ini berarti H1 ditolak, artinya profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap <italic id="italic-1">financial distress</italic> karena nilai signifikansi lebih besar dari 0.05.</p>
        <p id="paragraph-3eb6019bd7e4f5dde55b88485faf0b6c">b) Nilai signifikansi sebesar 0,235. Ini berarti H2 ditolak, artinya likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap <italic id="italic-2">financial distress</italic> karena nilai signifikansi lebih besar dari 0.05.</p>
        <p id="paragraph-efb708ab5b905656f49ee5bc8751d8d4">c) Nilai signifikansi sebesar 0,005. Ini berarti H3 diterima, artinya <italic id="italic-3">Leverage</italic> berpengaruh signifikan terhadap <italic id="italic-4">financial distress</italic> karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-6beee1053d1ae43c39d100db91621cfd">
        <title>Pembahasan</title>
        <p id="heading-ea36875526558cdc644645210de799bb">a) Hubungan antara Profitabilitas dengan <italic id="italic-64782b8e73582ccfcf18f7de5f7b0f49">Financial Distress</italic></p>
        <p id="_paragraph-94">Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis menunjukkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap <italic id="_italic-103">financial distress. </italic>Hal ini berarti bahwa tinggi atau rendahnya nilai profitabilitas tidak mempengaruhi kemungkinan adanya <italic id="_italic-104">financial distress</italic>. Profitabilitas yang tinggi dapat menunjukan bahwa perusahaan tersebut telah melakukan efisiensi terhadap risiko-risiko keuangan dengan perolehan laba yang telah dicetak dengan baik. hasil tersebut mendukung atau sesuai dengan penelitian [27] bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap <italic id="_italic-105">financial distress</italic></p>
        <p id="_paragraph-95">Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk melihat kemampuan perusahaan menghasilkan profit. profitabilitas menunjukkan efisiensi dan efektivitas penggunaan aset perusahaan karena rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan penggunaan asset [28]. Salah satu rasio profitabilitas yang sering digunakan adalah <italic id="_italic-106">Return On Assets</italic> (ROA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas yang diukur menggunakan ROA tidak berpengaruh terhadap <italic id="_italic-107">financial distress</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-96">Hasil penelitian lain yang sejalan dengan penelitian [29] bahwa rasio profitabilitas <italic id="_italic-108">(profit margin on sales) </italic>tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi <italic id="_italic-109">financial distress</italic> perusahaan meskipun bertanda negatif sedangkan rasio profitabilitas <italic id="_italic-110">(return on total assets)</italic> berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kondisi <italic id="_italic-111">financial distress </italic>perusahaan. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan.</p>
        <p id="paragraph-dcc68118f6cbf31f1811e00070e82488">b) Hubungan antara Likuiditas dengan Financial Distress</p>
        <p id="_paragraph-97">Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis menunjukkan bahwa likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap <italic id="_italic-112">financial distress. </italic>Likuiditas merupakan suatu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Likuiditas sangat penting bagi suatu perusahaan dikarenakan berkaitan dengan mengubah aset menjadi kas. Likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan untuk membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat pada waktunya. Likuiditas perusahaan ditunjukkan oleh besar kecilnya aktiva lancar yaitu aktiva yang mudah untuk diubah menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, dan persediaan.</p>
        <p id="_paragraph-98">Likuiditas adalah kemampuan ketepatan waktu perusahaan membayar kewajiban financial jangka pendeknya, jika <italic id="_italic-113">current ratio</italic> rendah artinya kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban juga rendah karena aktiva yang dimiliki perusahaan tidak cukup untuk membayar kewajiban perusahaan dan perusahaan tersebut mengalami kondisi penurunan keuangan dikhawatirkan perusahaan tersebut mengalami <italic id="_italic-114">financial distress</italic> [30]</p>
        <p id="_paragraph-99">Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa likuiditas yang diukur menggunakan <italic id="_italic-115">current ratio</italic> tidak berpengaruh terhadap <italic id="_italic-116">financial distress</italic>. Perusahaan dengan nilai likuiditas besar atau kecil tidak akan berdampak besar pada kondisi keuangan perusahaan dan perusahaan belum tentu mengalami masalah keuangan. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian bahwa likuiditas tidak berpengaruh terhadap <italic id="_italic-117">financial distress</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-100">ketidakmampuan membayar kewajiban secara tepat waktu akan langsung dirasakan oleh kreditor, terutama kreditor yang berhubungan dengan operasional perusahaan (supplier). hal ini telah mengindikasikan adanya sinyal<italic id="_italic-118"> distress</italic> yang menyebabkan adanya penundaan pengiriman dan masalah kualitas produk. Apabila perusahaan mampu mendanai dan melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan baik maka potensi perusahaan mengalami <italic id="_italic-119">financial distress</italic> akan semakin kecil.</p>
        <p id="paragraph-737cea95d088574de05be9022907b0b7">c) Nilai signifikansi sebesar 0,005. Ini berarti H3 diterima, artinya <italic id="_italic-122">Leverage</italic> berpengaruh signifikan terhadap <italic id="_italic-123">financial distress</italic> karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0.05.</p>
        <p id="_paragraph-101">Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis menunjukkan bahwa <italic id="_italic-124">Leverage</italic> berpengaruh signifikan terhadap <italic id="_italic-125">financial distress. </italic>Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa <italic id="_italic-126">Debt to Asset Ratio</italic> (DAR) berpengaruh terhadap <italic id="_italic-127">financial distress</italic> Hal tersebut berarti bahwa semakin besar pendanaan perusahaan yang berasal dari hutang, maka akan semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut akan mengalami <italic id="_italic-128">financial  distress</italic>, hal ini dikarenakan semakin besar kewajiban perusahaan dalam melunasi hutang tersebut.</p>
        <p id="_paragraph-102">Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ni Made Suma Sari1 dan Gde Herry Sugiarto Asana (2020) bahwa <italic id="_italic-129">Leverage</italic> berpengaruh terhadap <italic id="_italic-130">financial distress</italic>. Berdasarkan hasil penelitian bahwa <italic id="_italic-131">leverage (current liabilitas total asset) </italic>berpengaruh signifikan terhadap kondisi <italic id="_italic-132">financial distress </italic>perusahaan. Perusahaan sebaiknya harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan darimana sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang-utang perusahaan tersebut.</p>
        <p id="_paragraph-103">rasio <italic id="_italic-133">leverage</italic> merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang. <italic id="_italic-134">leverage</italic> menekankan pada peran penting pendanaan utang bagi perusahaan dengan menunjukkan persentase aktiva perusahaan yang didukung oleh pendanaan utang. semakin besar jumlah utang maka semakin besar potensi perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan kebangkrutan, kebangkrutan biasanya diawali dengan terjadinya <italic id="_italic-135">moment</italic> gagal bayar, hal ini disebabkan semakin besar jumlah hutang, semakin tinggi probabilitas <italic id="_italic-136">financial distress</italic>. Perusahaan dengan banyak kreditor akan semakin cepat bergerak ke arah <italic id="_italic-137">financial distress</italic>, dibanding perusahaan dengan kreditor tunggal. Apabila suatu perusahaan pembiayaannya lebih banyak menggunakan utang, hal ini beresiko akan terjadi kesulitan pembayaran di masa yang akan datang akibat utang lebih besar dari aset yang dimiliki. Jika keadaan ini tidak dapat diatasi dengan baik, potensi terjadinya <italic id="_italic-138">financial distress </italic>pun semakin besar.</p>
        <p id="_paragraph-104">Terdapat berbagai sumber pendanaan dalam perusahaan salah satunya yaitu hutang, khususnya pada perusahaan <italic id="_italic-139">go public</italic> tentu tidak bisa lepas dari hutang untuk membiayai jalannya operasional perusahaan. Sehubungan dengan itu perusahaan yang menggunakan hutang untuk pendanaannya maka dapat dikatakan perusahaan tersebut memiliki <italic id="_italic-140">Leverage</italic>. <italic id="_italic-141">Leverage</italic> adalah rasio yang menunjukan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang, dan juga menunjukan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (Munawir, 2014:32). Rasio <italic id="_italic-142">Leverage</italic> ini menekankan pada seberapa besar proporsi hutang yang digunakan dalam pendanaan aset suatu perusahaan. Rasio <italic id="_italic-143">Leverage</italic> yang digunakan dalam penelitian ini adalah <italic id="_italic-144">Debt to Asset Ratio</italic> (DAR). DAR merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur bagian aktiva yang digunakan dalam menjamin keseluruhan kewajiban atau hutang yang dimiliki perusahaan.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="sec-19">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-105">Berdasarkan hasil penelitian, dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain :</p>
      <list list-type="bullet" id="list-d51dcc14cd6b221e0725ac57fa478cb5">
        <list-item>
          <p>Perencanaan Pendidikan lingkungan hidup di SD Muhammadiyah 1 Krembung dimulai dari beberapa Langkah yang meliputi Pemilihan materi pembelajaran di sekolah dasar, kemudian Melakukan analisis tujuan pembelajaran dan Pendidikan lingkungan hidup yang akan dicapai, setelah itu Melakukan analisis tujuan terhadap permasalahan lingkungan hidup yang telah dihubungkan dengan bahasan, Menyusun alat evaluasi dan yang terakhir yaitu Membuat peta konsep pembelajaran berorientasi pendidikan lingkungan hidup.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Penerapan Pendidikan lingkungan hidup di SD Muhammadiyah 1 Krembung mengacu pada indikator Pendidikan lingkungan di sekolah maupun di kelas, Sebagian besar telah terealisasi, meliputi Pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah, Tersedianya tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan, Pembiasaan hemat energi, Melakukan pembiasaan memisahkan jenis sampah organik dan non-organik, Menyediakan peralatan kebersihan, Memprogram cinta bersih lingkungan, Membersihkan halaman sekolah</p>
        </list-item>
      </list>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>