Business and Economics
DOI: 10.21070/acopen.8.2023.3582

Comparison Between High-Tech and Non-High-Tech Sharia Companies in Indonesia


Komparasi Antara Perusahaan Syariah Kategori High-Tech dan Non High-Tech di Indonesia

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

IFR High-Tech Non High-Tech

Abstract

This study aims to examine and determine the significant difference between the internet financial reporting index of Islamic companies in the high-tech and non- high-tech categories in companies listed on the IDX JII Index in 2014-2018. This research method uses quantitative methods, using all data from the Indonesia Stock Exchange, especially Islamic companies listed on the IDX JII Index. Sampling companies use purposive sampling method and analysis of IFR components, calculate the IFR value, classify the type of company and the T Different test (Independent Samples Test). The results of this study indicate that high-tech and non-high-tech companies have a significant value of 0.025 > 0.05, meaning that there is a significant difference between companies in the high-tech and non-high-tech categories in Islamic companies listed on the JII Index. BEI 2014-2018.

Pendahuluan

Saat ini, kita telah berada dalam sebuah era yang sarat dengan teknologi komunikasi dan informasi. Kemajuan teknologi telah memberikan sumber (resources) informasi dan komunikasi yang amat luas dari apa yang telah dimiliki manusia. Meskipun peranan informasi dalam beberapa dekade kurang mendapat perhatian, namun sesungguhnya kebutuhan akan informasi dan komunikasi itu merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dari kebutuhan sandang dan pangan manusia [1].

Perkembangan dan kemajuan internet memberikan banyak manfaat untuk perusahaan dalam berbagai aktivitas. Salah satunya adalah kebutuhan akan informasi keuangan maupun non keuangan yang akan dapat memberikan keyakinan pada stakeholder atas daya hidup perusahaan yang bersangkutan. Pengguna (stakeholder) membutuhkan informasi sangat bermacam-macam sehingga perubahan pendekatan bisnis dengan penekanan lebih terhadap kebutuhan stakeholder sangat penting. Stakeholder membutuhkan sistem pelaporan yang fleksibel, dimana akan dapat memungkinkan mereka memperoleh informasi dengan cara yang lebih mudah [2].

Website perusahaan didesain untuk berbagai alasan, diantaranya yaitu pengiklanan produk perusahaan, memfasilitasi e-commerce, menarik karyawan potensial, dan meningkatkan image perusahaan. Sebuah laporan keuangan dianggapa sebagai laporan keuangan internet jika dipublikasikan secara penuh di situs perusahaan atau website lain yang tersedia melalui link diwebsite. Penggunaan laporan keuangan internet secara efektif merupakan suatu metode pemasaran perusahaan kepada pemegang saham dan investor [3]. Website menawarkan pengupdatetan informasi yang lebih dinamis (menunjukkan implikasi adanya ketepatan waktu pelaporan), memberikan keleluasaan dalam presentasi, dan memberikan penyebaran informasi yang interaktif, yang tidak mungkin ada dalam bentuk print. Pelaporan keuangan melalui internet atau dikenal dengan internet financial reporting (IFR) yang mencakup informasi finansial seperti laporan keuangan, financial higlights, informasi pemegang saham , dan informasi nonfinansial seperti press release dan FAQ.

Internet Financial Reporting (IFR) telah masuk ke Indonesia didorong oleh adanya Keputusan Ketua Bapepam-LK No. Kep-431/BL/2012 dalam pasal 3 yang menyatakan bahwa emiten atau perusahaan publik yang telah memiliki laman (website) sebelum berlakunya peraturan tersebut, wajib memuat laporan tahunan pada laman (website) masing-masing perusahaan. Kualitas IFR website pada perusahaan go public di Indonesia dengan mensurvey 343 perusahaan hanya 62% perusahaan yang memiliki website dengan kualitas pengungkapan yang bervariasi. Hasil penelitian menunjukan banyak perusahaan belum secara optimal pengungkapan informasi perusahaan melalui website (Yane, 2011). Dengan kata lain, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi pilihan perusahaan untuk melakukan praktik IFR. Perusahaan pengadopsi IFR mempunyai beberapa alasan atau motif mengapa mereka menerapkan praktik IFR. Penggunaan IFR ini menyebabkan pelaporan keuangan menjadi lebih cepat dan mudah, sehingga dapat diakses oleh siapa pun, kapan pun dan dimana pun [4]. Selain itu, penyebarluasan informasi keuangan melalui internet dapat menarik investor dan memberikan image yang baik bagi perusahaan . Hal-hal inilah yang mendorong perusahaan-perusahaan untuk menerapkan praktik IFR.

[5] menyatakan bahwa IFR membantu perusahaan dalam menyebarluaskan informasi mengenai keunggulan-keunggulan perusahaan yang merupakan sinyal positif perusahaan untuk menarik investor . Hal ini berkaitan dengan pengambilan keputusan yang berhubungan dengan investasi dan pinjaman. IFR merupakan respon dari perusahaan untuk menjalin komunikasi dengan stakeholder, khususnya investor, dengan lebih baik dan lebih cepat. [6] berpendapat bahwa ‘‘responsiveness’’ merupakan salah satu hal yang penting untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan mempengaruhi kepercayaan investor pada pasar modal.

Laporan keuangan merupakan salah satu dasar dalam pengambilan keputusan investasi bagi investor. Laporan keuangan memiliki kandungan informasi yang dapat mempengaruhi reaksi investor. Investor dan manajer investasi berhubungan erat dengan risiko dan hasil pengembangan investasi mereka. Pihak-pihak yang bersangkutan membutuhkan informasi dalam pengambilan keputusan untuk membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Sehingga adanya laporan keuangan berfungsi untuk pengambilan keputusan investasi oleh para investor.

Informasi keuangan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi stakeholder suatu perusahaan terutama para investor. Perusahaan memiliki investor yang tersebar dalam berbagai wilayah geografis, dimana para investor ini memerlukan berbagai informasi berkaitan dengan perusahaan sebagai pertimbangan dalam menanamkan modal mereka. Perusahaan memerlukan sarana yang dapat digunakan sebagai media penyebaran informasi secara cepat dan dapat menjangkau berbagai wilayah geografis. Salah satu media yang dapat digunakan untuk menyebarkan informasi melebihi jangkauan geografis adalah internet. Dengan adanya internet laporan keuangan yang bisa diakses secara online dapat dijangkau oleh banyak investor dari berbagai wilayah demografi.

Internet yang digunakan perusahaan untuk melaporkan informasi keuangan kepada investor biasa disebut Internet Financial Reporting (IFR). Beberapa tahun belakangan ini, Internet Financial Reportingmuncul dan berkembang sebagai media yang paling cepat untuk memberikan informasi mengenai hal-hal yang terkait dengan perusahaan. Internet Financial Reporting merupakan suatu media alternatif yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas hubungan antara investor dan perusahaan dengan lebih efisien dan efektif. Internet Financial Reportingmembawa bentuk baru alat hubungan investor yaitu diskusi interaktif melalui ‘chat’ dengan perwakilan dari perusahaan. Informasi keuangan yang disajikan dalam IFR mencakup laporan keuangan komprehensif, termasuk di dalamnya footnotes, bagian laporan keuangan, financialhighlightsdan ringkasan laporan keuangan selain itu, penyebarluasan informasi keuangan melalui internet juga dapat menarik investor dan memberikan image yang baik bagi perusahaan.

Perusahaan yang memiliki nilai kapitalisasi terbesar yang menggunakan internet finacial reporting untuk mempermudahkan perusahaan menyampaikan informasi kepada investor untuk lebih mudah melihat kinerja keuangan yang ada pada perusahaan.Perusahaan high-tech dan non high-tech juga dapat dilihat dari jenis industrinya. Jumlah informasi yang diungkapkan perusahaan-perusahaan dengan teknologi tinggi dua kali lipat lebih besar daripada perusahaan-perusahaan dengan teknologi rendah.

Indikator pengelompokkan industri berdasarkan high-tech dan non high-tech adalah adanya pengungkapan biaya penelitian dan pengembangan (Research and Development) pada laporan keuangan perusahaan. Perusahaan yang tergolong dalam industri dengan penggunaan tingkat teknologi yang tinggi pada umumnya ingin menunjukkan kesadaran teknologi mereka melalui IFR sebagai salah satu cara untuk menarik para investor.

Conton perusahaan high-tech yaitu perusahaan yang berada dalam industri berbasis teknologi atau berbasis pengetahuan akan mengunakan Intellectual Capital Disclosure (ICD) lebih banyak dari pada industri yang mengandalkan asset fisik untuk menghasilkan profit, seperti halnya perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk yang merupakan perusahaan high-tech. Sedangkan perusahaan non high tech yaitu jumlah informasi yang diungkapkan perusahaan dengan teknologi rendah, seperti halnya perusahaan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk yang merupakan perusahaan non high-tech.

Pengungkapan informasi keuangan dalam website perusahaan merupakan suatu bentuk pengungkapan sukarela yang telah dipraktekkan oleh berbagai perusahaan. Pengungkapan sukarela adalah pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan diluar apa yang telah diwajibkan oleh standar akuntansi atau peraturan badan pengawas. Sehingga tidak semua perusahaan melakukan praktik pengungkapan yang sama, namun sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut. Pengungkapan sukarela merupakan pilihan bebas manajemen perusahaan dalam memberikan informasi akuntansi dan informasi lainnya yang dipandang relevan untuk pembuatan keputusan oleh pemakai laporan keuangannya..

ujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan. Investor suatu perusahaan bukan hanya di dalam negeri saja melainkan juga luar negeri. Kebutuhan pihak eksternal akan informasi keuangan perusahaan membuat tingkat kepentingan informasi keuangan meningkat. Salah satu cara perusahaan untuk menarik para investor luar negeri yaitu harus memiliki kualitas yang bagus dan bersaing dengan perusahaan lain baik dalam negeri maupun luar negeri dalam melaporkan informasi keuangan perusahaan melalui Internet Financial Reporting. Setiap negara memiliki kualitas Internet Financial Reporting yang berbeda dengan negara lain dikarenakan setiap negara tidak memiliki standar atau aturan untuk perusahaan dalam melaksanakan pelaporan keuangan melalui internet. Semakin berkualitas informasi keuangan yang dilaporkan pada Internet Financial Reporting (IFR) semakin banyak pula investor yang tertarik untuk menanamkan modal pada perusahaan.

Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 8/POJK.04/2015 tentang situs web emiten atau perusahaan publik dalam rangka meningkatkan transparansi sekaligus meningkatkan akses pemegang saham serta pemangku kepentingan lainnya atas informasi Emiten atau Perusahaan Publik yang aktual dan terkini sebagai penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik oleh Emiten atau Perusahaan Publik perlu dilakukan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Dalam peraturan tersebut menjelaskan bahwa situs web Emiten atau Perusahaan Publik telah menjadi salah satu sumber informasi yang paling sering digunakan oleh pemodal atau investor. Keberadaan situs web Emiten atau Perusahaan Publik akan meningkatkan penerapan Prinsip Keterbukaan sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal sekaligus meningkatkan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), sehingga dapat lebih menumbuhkan kepercayaan dari pemodal atau investor khususnya pemegang saham, nasabah, masyarakat, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya terhadap Emiten atau Perusahaan Publik.

Menurut BEI, data perusahaan yang masuk ke dalam kategori perusahaan yang siap go publik dengan syarat keterbukaan laporan keuangan sehingga dapat diakses oleh siapapun dan dari manapun menunjukkan jumlah yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

PT. Bursa Efek Indonesia meluncurkan sebuah sistem pelaporan emiten dengan menggunakan eXtensible Business Reporting Language (XBRL) pada 22 Juni 2015 yang wajib diadopsi emiten pada 2016. XBRL merupakan standard format pelaporan bisnis yang telah digunakan secara global oleh berbagai institusi dan regulator pasar modal dunia. Implementasi XBRL memungkinkan informasi bisnis yang dapat didistribusikan secara efisien melalui internet dan dapat langsung diolah sesuai kebutuhan investor dan pengguna data lainnya di seluruh dunia. Dengan terus diperbaruhinya jenis pelaporan IFR yang memang bertujuan untuk diciptakan secara spesifik agar mengkomunikasikan informasi antara pihak bisnis dan pengguna informasi keuangan seperti analis, investor dan regulator, dengan menyajikan format elektronik yang sudah distandarisasi secara umum untuk digunakan dalam pelaporan bisnis.

Saat ini penyampaian informasi oleh emiten disampaikan melalui IDXnet. Data yang disampaikan emiten sebagian besar belum dapat digunakan secara optimal oleh pengguna data karena:

  1. Informasi detail hanya terdapat dalam format pdf dan disertakan dalam lampiran;
  2. Struktur penyajian laporan yang masih terdapat perbedaan antar Emiten:
  3. Validasi data yang dilakukan masih manual

Pengguna data, khususnya investor, banyak mengalami hambatan untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat. Oleh sebab itu, XBRL dapat menjawab tantangan dalam pengolahan data yang lebih cepat. Metode pelaporan berbasiskan XBRL berfungsi untuk menyamakan standar format pelaporan yang berbeda–beda, sehingga memudahkan pengguna dalam mengolah data. Dengan penyamaan standar pelaporan tersebut, maka pelaporan emiten juga dapat digunakan dalam berbagai bahasa.

No. Tahun Kasus Sumber
1 2017 Masih banyak kendala investasidi daerah dikarenakan koordinasi, integrasi dan standarisasi yang kurang dan memiliki format laporan yang berbeda-beda terutama adanya perusahaan yang masih menggunakan laporan manual https://finance.detik. com/berita- ekonomibisnis/3441375/masa lah-utama-sulitnyainvestasi- masuk-keri-ada-di-daerah
2 2015 Banyak emiten lokal yang tidak memiliki website dan jika ada hanya menyajikan dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut perlu dibenahi agar memenuhi kriteria GCG yaitu keterbukaan informasi di web http://www.idx.co.id/idid/beranda/perusahaa ntercatat/xbrl/tentan gxbrl.aspx
3 2015 Investor mengalami hambatanuntuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat dikarenakan data yang disampaikan emiten sebagian besar belum dapat digunakan secara optimal, struktur penyajian laporan berbeda-beda dan masih manual. http://www.infobank news.com/ojk-cuma2- emiten-yang-gcgnya-diakui- di-asiatenggara/
4 2015 Hanya ada 2 perusahaan yangtercatat di BEI lolos dalam 50 besar penerap GCG di Asia Tenggara. Perusahaan lokal masih banyak yang kurang dalam memenuhi kriteria keterbukaan dan pengungkapan informasi dalam website. http://www.infobank news.com/ojk-cuma2- emiten-yang-gcgnya-diakui- di-asiatenggara/
5 2015 Penerapan GCG tingkat ASEANpada emiten–emiten di Indonesia dianggap masih kalah jauh jika dibandingkan dengan emiten–emiten di lima negara besar ASEAN. Proses penilaian GCG ASEAN tersebut terkait dengan pengungkapan dan transparansi informasi emiten di website http://www.infobank news.com/ojktargetkan-15- emitenraih-gcg-tingkatasean/
Table 1.Kasus Mengenai Praktik Internet Financial Reporting dan Keterbukaan Informasi di Website Perusahaan

Pengungkapan informasi pada website juga merupakan sebagai suatu upaya dari perusahaan untuk mengurangi asimetri informasi antara perusahaan dengan pihak luar. Pengungkapan informasi pada website tersebut merupakan suatu sinyal dari perusahaan pada pihak luar, salah satunya berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya dan akan mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang akan datang

Di Indonesia Undang-Undang No. 8 tahun 1995 tentang peraturan pasar modal mengatur tentang ketepatan waktu laporan keuangan. Pada tahun 2012, BAPEPAM mengeluarkan lampiran keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal BAPEPAM Nomor : Kep-431/BL/2012 yang isinya mewajibkan bagi setiap emiten atau perusahaan publik yang pernyataan pendaftrannya telah menjadi efektif ,wajib menyampaikan laporan tahunan kepada Bapepam dan Laporan Keuangan paling lama 4 bulan setelah tahun buku berakhir dan dalam keputusan tersebut juga dijelaskan bahwa laporan tahunan wajib dimuat dalam website perusahaan publik bersamaan dengan disampaikan laporan tahunan dan laporan keuangan tersebut kepada Bapepam. Peraturan tersebut bertujuan untuk memudahkan para investor dapat lebih cepat dalam memperoleh informasi keuangan guna sebagai dasar pengambilan keputusan.

BAPEPAM akan mengenakan sanksi administrasi dan denda sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Undang-Undang pada perusahaan yang terlambat menyampaikan laporan keuangan. Hal ini di dukung oleh undang-undang BEI No. II.6.3 dan II.6.4 menyatakan bahwa BEI mengenakan sanksi bagi perusahaan yang terlambat dalam menyerahkan laporan keuangan ke BEI. Beberapa sanksi yang dikenakan mulai dari teguran tertulis pertama, menyebutkan jenis kewajiban yang tidak dipenuhi. Dilanjutkan dengan teguran tertulis kedua serta pengenaan denda sebesar Rp 10.000.000,00 yang segera di setor ke rekening BEI. Setelah 30 hari kalender terhitung sejak tanggal teguran tertulis pertama perusahaan tetap tidak memenuhi kewajibannya dan sanksi terakhir adalah penghentian sementara perdagangan apabila perusahaan tidak memperbaiki kelalaiannya dalam kurun waktu 30 hari sejak diterimanya teguran tertulis kedua.

Namun, di Indonesia faktanya menunjukkan bahwa setiap tahunnya masih terus terjadi keterlambatan penyampaian laporan keuangan walaupun sanksi nyata telah di berikan oleh BAPEPAM kepada perusahaan-perusahaan yang telah melanggar peraturan. Berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan oleh BEI, pada tahun 2012 terdapat 12 perusahaan yang terlambat menyampaikan laporan keuangan perusahaan per 31 Desember 2012. Periode tahun 2013, meningkat menjadi 17 perusahaan yang terlambat per 31 Desember 2013 dan pada tahun 2014 ada 4 perusahaan yang terlambat menyampaikan laporan keuangannya di website pada periode 31 Maret 2014 .

Perkembangan tingkat penggunaan internet ini menjadi trend bagi perusahaan untuk melakukan corporate internet reporting (CIR),. Corporate internet reporting merupakan penyajian pelaporan informasi keuangan perusahaan melalui media internet. Metode baru dalam penyebaran informasi keuangan yaitu Pelaporan keuangan perusahaan melalui situs perusahaan. Hal ini dilakukan agar pengguna laporan keuangan lebih mudah untuk mendapatkan informasi keuangan perusahaan.

Pengungkapan informasi keuangan dalam website perusahaan merupakan suatu bentuk pengungkapan sukarela yang telah dipraktekkan oleh berbagai perusahaan. Pengungkapan sukarela adalah pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan diluar apa yang telah diwajibkan oleh standar akuntansi atau peraturan badan pengawas. Sehingga tidak semua perusahaan melakukan praktik pengungkapan yang sama, namun sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut. Pengungkapan sukarela merupakan pilihan bebas manajemen perusahaan dalam memberikan informasi akuntansi dan informasi lainnya yang dipandang relevan untuk pembuatan keputusan oleh pemakai laporan keuangannya.

Sejak 3 Juli 2000, di Indonesia ada tempat investasi untuk investor yang menginginkan berinvestasi di perusahaan syariah, yaitu di Jakarta Islamic Index (JII). Alasan pemilihan Jakarta Islamic Index(JII) adalah saham yang dilisting dalam Jakarta Islamic Index (JII) merupakan saham-saham yang berbasis syariah. Dikatakan demikian, karena emiten yang terdaftar dalam Islamic Index akan selalu mengalami proses penyaringan (screening) berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

Saham menjadi halal (sesuai syariah) jika saham tersebut dikeluarkan oleh perusahaan yang kegiatan usahanya bergerak di bidang yang halal atau dalam niat pembelian saham itu adalah untuk investasi, bukan untuk spekulasi. kriteria pemilihan saham syariah melibatkan Dewan Pengawas Syariah, PT Danareksa Investment Management, di mana dipilihnya emiten dengan syarat sebagai berikut, yaitu:

  1. Emiten yang bentuk usahanya tidak memproduksi makanan dan minuman seperti alkohol dan daging babi.
  2. Emiten yang bentuk usahanya tidak mengandung riba, seperti jasa keuangan yang bersifat konvensional ataupun asuransi yang bersifat konvensional.
  3. Emiten yang bentuk usahanya tidak dalam bentuk jasa, seperti hotel.
  4. Emiten yang bentuk usahanya tidak menyebabkan kumudharatan seperti pabrik rokok.
  5. Emiten yang bidang usahanya tidak bergerak di bidang pornografi atau perjudian

Tujuan dari dibuatnya Jakarta Islamic Index adalah untuk meningkatkan kepercayaan investor muslim, terhadap saham-saham perusahaan yang masuk dalam kategori perusahaan yang melaksanakan kegiatannya dengan syariat Islam. Dalam JII terdapat 30 perusahaan yang memang telah diseleksi dengan kriteria tertentu, seperti perusahaan harus menjalankan kegiatan sesuai syariat Islam dan memiliki nilai saham tertinggi diantara perusahaanperusahaan syariah lainnya. Tujuan pembentukan JII adalah untuk meningkatkan kepercayaan investor untuk melakukan investasi pada saham berbasis syariah dan memberikan manfaat bagi pemodal dalam menjalankan syariah Islam untuk melakukan investasi di bursa efek. JII juga diharapkan dapat mendukung proses transparansi dan akuntabilitas saham berbasis syariah di Indonesia. JII menjadi jawaban atas keinginan investor yang ingin berinvestasi sesuai syariah. Dengan kata lain, JII menjadi pemandu bagi investor yang ingin menanamkan dananya secara syariah tanpa takut tercampur dengan dana ribawi. Selain itu, JII menjadi tolak ukur kinerja (benchmark) dalam memilih portofolio saham yang halal.

Dengan hasil penelitian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul “Internet Financial Reporting Index ;Studi Komparasi antara Perusahaan Syariah Kategori High-Tech dan Non High-Tech di Indonesia(Studi Empiris pada Perusahaan Yang Terdaftar di Indeks JII BEI Tahun 2014-2018)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komparasi IFR Index antara perusahaan yang memiliki emiten saham syariah kategori high-tech dan perusahaan non high-tech yang ada di JII tahun 2014-2018, dimana pengelompokkan perusahaan tersebut melihat perkembangan teknologi, internet merupakan salah satu teknologi baru dalam pelaporan keuangan perusahaan. Perusahaan yang tergolong dalam industri dengan penggunaan tingkat teknologi yang tinggi pada umumnya ingin menunjukkan kesadaran teknologi mereka melalui IFR sebagai salah satu cara untuk menarik para investor dan debitur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsi praktik pengungkapan laporan keuangan melalui internet oleh perusahaan serta mengkomparasikan pengungkapan IFR Index antara perusahaan high-tech dan non high-tech.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana perbedaan Internet Financial Reponting Index terhadap perusahaan syariah kategori high-tech dan non high-tech pada perusahaan yang terdaftar di Indeks JII BEI Tahun 2014-2018?”

Metode Penelitian

Pendekatan Penelitian

Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu [7] Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan dalam penelitian, sehingga kesimpulan dan hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan, baik pengumpulan data, analisa data maupun kesimpulan. Berhasil tidaknya suatu penelitian dimaksudkan untuk mendapatkan data yang tepat, relevan dan objektif, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data primer sebagai sumber data, karena menggunakan data penelitian berupa angka-angka dan dianalisis menggunakan statistic [8]. Tujuan penelitian kuantitatif adalah untuk menunjukkan hubungan antar variabel dan mengembangkan teori serta hipotesis yang berkaitan dengan dengan fenomena alam yang terjadi

Rancangan Penelitian

rancangan penelitian didefinisikan sebagai sebuah alur maupun desain yang berbentuk framework untuk penelitian, yang memiliki penjelasan dari berbagai rangkaian ataupun tahapan dari penelitian yang dilakukan dan dapat berupa perincian secara deskriptif ataupun berupa gambar maupun alur. Rancangan penelitian sendiri dari pertama hingga terakhir, yaitu :

  1. Langkah pertama untuk peneliti ialah harus menyusun latar belakang terlebih dahulu dari permasalahan juga rumusan masalah untuk penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti.
  2. Langkah kedua ialah mengumpulkan data yang dikerjakan menggunakan observasi, dan dokumentasi agar dapat mengumpulkan berbagai informasi mengenai rumusan masalah dan juga fokus penelitian sampai peneliti sendiri memiliki jawaban atas rumusan masalahnya.
  3. Langkah ketiga ialah melaksanakan uji regresi linier sederhana, dengan menggunakan uji normalitas, uji multikolonieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi.
  4. Langkah keempat ialah melakukan analisis data berdasarkan Untuk tahap analisis data, peneliti akan melaksanakan beberapa proses dari analisis data kuantitatif sampai pendefinisian (intrepretasi) untuk berbagai data yang sebelumya sudah didapatkan.
  5. Langkah kelima ialah analisis data oleh peneliti untuk data yang telah diperoleh, lalu menyusun laporan yang juga telah didapat dalam proses penelitian analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji hipotesis t ( parsial). Laporan tersebut diolah lagi agar dapat disusun dengan lebih baik dan runtut serta memperoleh hasil pembahasan yang diharapkan.
  6. Langkah terakhir ialah menyusun kesimpulan. Rancangan yang telah dijabarkan dilaksnakan seara rinci dan runtut oleh peneliti itu sendiri agar menghasilkan penelitian yang sesuai dengan harapan.

Lokasi Penelitian

waktu yang digunakan dalam penelitian ini dari perencanan sampai penyusunan laporan penelitian adalah bulan Oktober sampai dengan Januari 2020. Adapun wilayah penelitian ini yaitu website perusahaan Syariah yang terdaftar di JII BEI Periode 2014-2018.

Definisi Operasional , Identifikasi Variabel dan Indikator Variabel

Definisi Operasional

1. Variabel Dependen

Variabel dependen (terikat) adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Varabel dependen dalam penelitian ini adalah internet financial reporting. Internet Financial Reporting Index adalah suatu upaya pencantuman informasi keuangan perusahaan melalui internet atau website(Lai, 2015). Dalam menghitung indeks Internet Financial Reporting diukur dengan melihat seberapa luas pengungkapan yang dilakukan perusahaan. Dengan melihat item-item pengungkapan yang mungkin dipenuhi

2. Variabel Independen

Variabel independen adalah tipe variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel lain. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Perusahaan High-Tect dan Non High-Tech adalah nilai dari pengetahuan pegawai, pelatihan-pelatihan bisnis, dan segala informasi yang dimiliki oleh sebuag perusahaan yang memberikan manfaat kompetitif untuk perusahan tersebut. Modal teknologi dianggak sebagai sebuah aset perusahaan, dapat secara luas diartikan sebagai sekumpulan sumber informasi yang dimiliki perusahaan, yang kedudukannya dapat digunakan untuk memperoleh laba, menarik pelanggan-pelanggan baru, menciptakan produk-produk dan inovasi baru atupun peningkatan kualitas bisnisnya. Informasi dan data dalam penelitian ini diperoleh dengan metode content analysis pada laporan tahunan perusahaan. Analisis dilakukan secara menyeluruh terhadap laporan tahunan perusahana, dengan laporan manajemen sebagai bagian dari laporan tahunan perusahaan yang paling banyak menyajikan informasi mengenai financial reportingindex

Identifikasi Variabel

Identifikasi Variabel adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan [9]. Variabel yang digunakan dalam penelitian dapat diklasifikasikan menjadi (1) variabel independen (bebas) , yaitu variabel yang menjelaskan dan mempengaruhi variabel lain, dan (2) variabel dependen (terikat), yaitu variabel yang dijelaskan dan dipengaruhi oleh variabel independen

Indikator Variabel

Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perusahaan yang terdaftar di JII BEI periode tahun 2014 – 2018. Populasi dalam penelitian ini ada 30 perusahaan yang telah mengeluarkan annual report pada website perusahaan yang telah terdaftar di JII.

2. Sampel Penelitian

Pengambilan sampel merupakan proses memilih sejumlah elemen secukupnya dari sebuah populasi sehingga penelitian terhadap sampel dan pemahaman tentang sifat atau karakteristik tersebut pada elemen populasi

Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kuantitatif, teknik analisis data digunakan untuk menjawab rumusan atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal [10]. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis. Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan cara scoring. Pada teknik scoring ini tidak dapat dibedakan bobot untuk setiap item pengungkapan. Tahapan-tahapan dalam menganalisis data pada penelitian ini yaitu sebagai berikut:

  1. Memberikan skor untuk setiap item variabel yang diungkapkan melalui website perusahaan, jika suatu item variabel yang diungkapkan, maka akan diberikan skor satu (1) dan jika tidak diungkapkan akan diberi skor nol (0).
  2. Skor yang diperoleh perusahaan pada ketiga variabel dijumlahkan untuk mendapatkan total skor pengungkapan masing-masing perusahaan.
  3. Menghitung skor kelengkapan pengungkapan (IFR Indeks) dengan menggunakan metode perhitungan yang digunakan cara perhitungan sama seperti indeks pengungkapan pada umumnya (indeks wallace), yaitu dengan cara membagi total skor yang diperoleh dengan skor maksimal yang dapat diperoleh perusahaan apabila mengungkapkan keseluruhan item.

Skor maksimal yang akan diperoleh perusahaan merupaan total item indikator dari ketiga variabel penelitian yang berjumlah 26 item. Dengan rumus perhitungan tersebut, maka semakin banyak item pengungkapan yang akan disajikan, maka semakin tinggi pula skor IFR yang diperoleh. Melakukan eksplorasi terhadap hasil penelitian sesuai dengan hasil yang dipaparkan pada penelitian terdahulu, lalu memberikan kesimpulan secara umum dari hasil penelitian.

Uji Komponen IFR

Setelah data dikumpulkan, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Pada tahap ini, data diolah dan dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya dapat menyimpulkan kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian. berikut tahap analisis data yang dilakukan dalam penelitian.

  1. Analisis isi pembahasan secara mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis di situs web. Tahapan yang akan dilakukan adalah mengklasifikasi informasi IFR kedalam komponen insrumen pengungkapan IFR yaitu isi, ketepatan waktu, teknologi yang digunakan, dan udkungan pengguna pada perusahaan dan memberi tanda check list pada komponen pengungkapan IFR.
  2. Melakukan pengukuran IFR, setelah itu dilakukan penjumlahan sub-komponen pengungkapan pada perusahaan. Penjumlahan item pengungkapan dikategorikan dalam empat komponen yaitu isi, ketepatan waktu, teknologi yang digunakan dan dukungan pengguna.
  3. Mengklasifikasikan perusahaan high-tech dan non high-tech adalah adanya pengungkapan biaya penelitian dan pengembangan pada laporan keuangan perusahaan.
  4. Uji t pengujian dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan jumlah item IFR yang diungkapkan antara perusahaan high-tech dan perusahaan nonhigh-tech.

1. Uji Statistik Deskriptif

Uji statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi dari suatu data yang dilihat dari jumlah sampel, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), dan standar deviasi dari masing-masing variabel pada suatu penelitian.

2. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah sevaran data yang dijadikan sampel sudah berdistribusi normal. Metode pengujian normalitas data menggunakan uji Kolmogrov-Smirnov. Jika sampel berasal dari suatu populasi yang terdistribusi normal, maka nilai signifikansi lebih dari 0,05

3. Pengujian Normalitas

Pada penelitian ini digunakan uji t yaitu uji beda 2 rata-rata (independent samples t test) untuk melihat perbandingan pengungkapan IFR pada official website antara perusahaan high-tech dan perusahaan non high-tech pada perusahaan yang terdaftar di Indeks JII BEI tahun 2014-2018.

Ha1 : Terdapat perbedaan yang signifikan antara IFR perusahaan high-tech dan nonhigh-tech

Ho1 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara IFR perusahaan high-tech dan non high-tech

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Pengukuran IFR Indeks

IFR dapat diidentifikasi dengan melakukan analisis isi (content analysis) yaitu melakukan penelitian secara mendalam terhadap isi situs web serta informasi yang diungkapkan oleh perusahaan. Analisis isi dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen/alat pengungkapan IFR yang terdiri dari empat komponen. Informasi yang telah diungkapkan dalam situs web diklasifikasikan ke dalam empat komponen tersebut antara lain isi, ketepatan waktu pelaporan, teknologi yang digunakan dan dukungan pengguna.

Analisis isi diawali dengan melihat situs web perusahaan yang tercantum dalam daftar perusahaan di Indeks JII BEI Tahun 2014-2018. Jika terdapat ditus web perusahaan yang tidak tercantum maka peneliti menggunakan search engine untuk mencari alamt situs web tersebut. Selanjutnya peneliti mengakses situs web perusahaan yang sudah diperoleh untuk menguji aksebilitasnya. Peneliti melakukan akses situs web perusahaan. Setelah teruji aksesbilitasnya, peneliti melakukan investigasi pada masing-masing situs web satu per satu dan menelusuri secara menyeluruh setiap link yang terdapat dalam situs web dengan frekuensi mengunjungi sebanyak dua hingga empat kali. Data-data mengenai informasi IFR yang diperoleh selanjutnya diklasifikasi dalam komponen instrumen pengungkapan IFR antara lain isi, ketepatan waktu, teknologi yang digunakan dan dukungan pengguna. Dalam komponen-komponen juga terdapat beberapa item tertentu.

Informasi IFR yang telah diklasifikasikan lalu diukur dengan menggunakan alat pengungkapan IFR (IFR Disclosure Instruments) berupa skala dummy. Apabila item dalam komponen tersebut diungkapkan maka diberi skor 1. Namun apabila tidak diungkapkan maka diberi skor 0. Selanjutnya skor dari item-item tersebut dijumlahkan dan diberi prosentase sesuai dengan kategori masing-masing komponen antara lain sebagai berikut:

Item Komponen Jumlah Perusahaan % Sampel
Bahasa Inggris 27 90%
Kutipan Saham 25 83,3%
Menggunakan format HTML dan PDF 30 100%
Laporan Tahunan 30 100%
Laporan Triwulan 29 96,6%
Grafik Harga Saham 22 73,3
Table 2.Jumlah Perusahaan Berdasarkan Item Pengungkapan

Diketahui bahwa dari seluruh perusahaan, 30 perusahaan (100%) telah mengungkapkan laporan keuangan secara lengkap di dalam situs web perusahaan dengan format yang berbeda diantaranya format HTML dan PDF, namun semua perusahaan yang dijadikan sample penelitian menerapkan format PDF dalam laporan keuangannya. Laporan keuangan secara lengkap terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan kinerja keuangan, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan.

2) Ketepatan Waktu/Timeliness

Jumlah perusahaan yang memberikan informasi berdasar ketepatan waktu dalam situs web mereka disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Item Komponen Ketepatan Waktu Jumlah Perusahaan % Sampel
Press release 27 90%
Updateberita 26 86,6%
Konsisten melaporkan quarterly report 23 76,6%
Updatekutipan saham 26 86,6%
Konsisten dalam memberikan vision statement 22 73,3%
Table 3.Jumlah Perusahaan Berdasarkan Item Ketepatan Waktu

Dapat diketahui bahwa item yang paling sering muncul dalam ketepatan waktu diatas adalah siaran pers/press release dan update berita serta upditekutipan saham di 30 perusahaan atau 90% dan 86,6% disitus web perusahaan melakukan press release atau mencantumkan hasil siaran persnya. Pada umumnya perusahaan mengungkapkan siaran pers untuk menunjukkan update informasi tentang perusahaan serta memiliki visi yang jelas dalam perusahaanna dan diungkapkan melalui media web. Selain itu perusahaan mengungkapkan update mengenai kutipan saham. Dalam kutipan saham, perusahaan mengungkapkan perkembangan harga pasar saham serta kegiatan pertukaran saham menurut tanggal investasi yang rutin diperbarui baik secara per jam, harian, hingga mingguan.

3) Teknologi

Item komponen berkaitan dengan pemanfaatan teknologi ang tidak dapat disediakan oleh media cetak serta teknologi multimedia yang digunakan dalam situs web perusahaan. Jumlah perusahaan yang menggunakan item teknologi dalam situs web terdapat pada tabel sebagai berikut:

Item Komponen Teknologi Jumlah Perusahaan % Sampel
Download plug-in 30 100%
Online feedback and support 23 76,6%
Teknologi multimedia 20 66,6%
Alat analisis 25 83,3%
XBRL 27 90%
Table 4.Jumlah Perusahaan Berdasarkan Item Teknologi

Beberapa perusahaan telah menyediakan kontak e-mail yang bertujuan sebagai media umpan balik antara pengguna IFR dan perusahaan memiliki kontak e-mail yang langsung terhubung secara online. Selain kontak e-mail, terdapat perusahaan memiliki layanan 24 jam secara online serta request information di dalam situs web mereka. Selain itu perusahaan yang menggunakan teknologi multimedia dalam situs web adalah sebanyak 20 (66,6%) berupa klip iklan, video profil perusahaan maupun galeri foro. Sedangkan alat analisis ang tersedia dalam situs web seperti auto chart dan online tools telah disediakan oleh 25 perusahaan (83,3%). Sedangkan penggunaan XBRL (Extensible Bussiness Reporting Language) ada 27 perusahaan yang menggunakan program XBRL dalam situs webnya.

4) Dukungan Pengguna

Dukungan penggunaan dapat menunjukkan bahwa perusahaan menerapkan alat yang mana memfasilitasi pengguna situs web. Item dan jumlah perusahaan yang meyediakan fasilitas dukungan pengguna dalam situs web disajikan dalam tabel berikut:

Item Komponen Dukungan Pengguna Jumlah Perusahaan % Sampel
Memiliki FAQ (frequency answare 15 50%
Link untuk kehalaman utama 25 83,3%
Link untuk ke atas 20 66,6%
Sitemap 20 66,6%
Pencarian 24 80%
Design website yang konsisten 30 100%
Banyaknya dua kali klik untukmendapatkan informasi 0
Table 5.Jumlah Perusahaan Berdasarkan Item Dukungan Pengguna

Dilihat dari data diatas memiliki FAQ dalam situs web bertujuan untuk mengurangi jumlah e-mail yang dikirim ke perusahaan, namun perusahaan ang memanfaatkan fasilitas tersebut hanya sebanyak 15 (50%). Sedangkan sebanyak 25 perusahaan memiliki link untuk kehalaman utama dalam situs web mereka. Berbeda dengan link ke halaman utama, perusahaan yang menyediakan link ke atas dalam situs web mereka hanya 20 (66,6%). Sebuah peta situs sangat berguna untuk menunjukkan struktur dari situs web perusahaan hanya pada satu halaman sehingga dapat mempermudah akses yang dilakukan pada situs web tersebut. terdapat 20 (66,6%) yang menyediakan sitemap di situs web mereka. Selain itu kemudian dalam mendapatkan informasi di dalam web dengan alat ukur seberapa banyak klik yang harus dilakukan untuk menemukan informasi tidak ada perusahaan memiliki tingkat kesulita (lebih dari 2x klik) di websitenya untuk mengakses informasi perusahaan. Dan semua perusahaan menerapkan design website yang konsisten.

Mengklasifikasikan Perusahaan High-tech dan Non High-tech

Setelah diketahui IFR, peneliti mengklasifikasikan perusahaan- perusahaan dalam perusahaan high-tech dan non high-tech. dalam pengklasifikasian perusahaan antara high-tech dan non high-tech pada dasarnya dilihat dari indikator adanya pengungkapan biaya penelitian dan pengembangan (research and development) pada laporan keuangan perusahaan. jenis industri berdasarkan ada tidaknya pengungkapan biaya penelitian dan pengembangan pada laporan keuangan. Dengan demikian jenis industri memiliki pengaruh terhadap keputusan perusahaan dalam menerapkan praktik IFR. Diantaranya 30 perusahaan yang diteliti, terdapat 15 perusahaan high-tech yang mengungkapkan biaya-biaya yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan seperti biaya pengembangan software, biaya pengembangan karyawan. Sedangkan terdapat 15 perusahaan yang termasuk non high-tech karena dalam laporan keuangan perusahaan seperti laporan laba rugi komersial tidak terdapat biaya yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan. Berikut tabel perusahaan high-tech dan non high-tech.

No Nama Perusahaan Pengungkapan Biaya Penelitian dan Pengembangan.
Biaya Pengembangan Software
Biaya Pengembangan Karyawan
Ada Tidak Ada
1 PT. Adaro Energy Tbk Adapengembangan security digital dan training karyawan
2 PT. AKR Corporindi Tbk Adanya Research and Development pengembangan kompetensi pegawai
3 PT. Aneka Tambang(Persero) Tbk Pengembangan TI, Biaya Pengelolaan Ketenagakerjaan
4 PT. Astra International Tbk Tidak Ada
5 PT. Barito Pasific Tbk Adanya Research and Development, pengembangan sistem TI
6 PT. Bumi Serpong Damai Tbk Tidak Ada
7 PT. Ciputra DevelopmentTbk Tidak Ada
8 PT XL Axiata Tbk Pengembangan digital, pengembangan SDM
9 PT Indofood CBP SuksesMakmur Tbk Tidak Ada
10 PT. Vale Indonesia Tbk Tidak Ada
11 PT. Indofood Sukses Makmur tbk Tidak Ada
12 PT. Kalbe Farma Tbk Tidak Ada
13 PT. Lippo Karawaci Tbk Tidak Ada
14 PT. MatahariDepartement Store Tbk Pengembangan dan penguatan IT System
15 PT. PP London Sumatra Indonesia Tbk Adanyapengembangan kompetensi SDM TI
16 PT. Hanson International Tbk Adanya Research and Development
17 PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk Tidak Ada
18 PT. Tambang Batu BaraBukit Asam (Persero)Tbk Tidak Ada
19 PT. PP (Persero) Tbk Tidak Ada
20 PT. Pakuwon Jati Tbk Pengembangan dan penguatan IT System
21 PT. Surya Citra Medika Tbk Adanya Research and Development
22 PT. Semen Indonesia(Persero) Tbk Pengembangan digital, pengembangan SDM
23 PT. Summarecon Agung Tbk Tidak Ada
24 PT. TelekomunikasiIndonesia (Persero) Tbk Pengembangandan penguatan IT System
25 PT. Chandra AsriPetrochemical Tbk Pengembangan digital, pengembangan SDM
26 PT. United Tractors Tbk Tidak Ada
27 PT. Unilever Indonesia Tbk Pengembangan dan penguatan IT System
28 PT. Wijaya Karya(Persero) Tbk Adanya Research and Development
29 PT. Waskita BetonPrecast Tbk Tidak Ada
30 PT. Waskita Karya(Persero) Tbk Tidak Ada
Table 6.Pengungkapan Biaya Research and Development

Kesimpulan :

15 Perusahaan Hightech

15 erusahaan Non Hoghtech

Uji Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
IFR30 .47 .92 .6905 .12785
Perusahaan_High_Tect_dan30_Non_High_Tech 23 45 33.83 6.265
Valid N (listwise) 30
Table 7.Hasil Uji Statistik Deskriptif

Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel perusahaan high tech dan non high tech memiliki nilai terendah sebesar 23 dan nilai tertinggi sebesar 45 dengan nilai rata-rata sebesar 33.83 dan standar deviasinya sebesar 6.625.

Uji Independent Samples Test

Group Statistics

IFR Perusahaan High Tech N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
15 37.47 9.334 3.636
Non High Tech15 34.20 6.394 1.651
Table 8.Hasil Group Statistics

Berdasarkan hasil tabel diatas menggambarkan rata-rata pengungkapan IFR pada perusahaan high tech lebih tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan non high tech. Hal ini dibuktikan dengan jumlah rata-rata pengungkapan IFR pada perusahaan hightechsebesar 37.47, sedangkan rata- rata pengungkapan pada perusahaan non high tech sebesar 34.20.

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means
Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of theDifference
F Lower Upper
IFR Equal variances assumed 1.391 .389 2.316 28 .025 .733 2.324 5.494 4.027
Equal variances notassumed 2.316 27.998 .025 .733 2.324 5.494 4.027
Table 9.Hasil Uji Independent Samples Test

Dalam pengujian hipotesis pada tabel diatas menggunakan uji T karena uji T merupakan bagian uji beda (compare means test). Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa besarnya nilai T hitung (equl variance assumed) adalah 2.316. Sig (2-tailed) pada penelitian ini yaitu 0.025. hasil yang diperoleh untuk T tabel pada signifikansi 0,05:2 = 0,025 (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) 30-2 = 28 sebesar 1.993, sehingga nilai t hitung < t tabel (2.316<1.993) dan signifikansi > 0,05 maka H0 ditolak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengungkapan IFR antara perusahaan high tech dan non high tech terdapat perbedaan yang signifikan

Pembahasan

Hasil penelitian yang dilakukan menggunakan SPSS 24.0 menunjukkan bahwa variabel high tech dan non high tech memiliki nilai signifikan sebesar 0.025 > 0,05, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan Internet FinancialReportingIndex(IFR) terhadap perusahaan hightechdan nonhigh tech. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara pengungkapan IFR perusahaan high tech dan non high tech salah satunya disebabkan oleh pelaporan keuangan melalui internet. Pelaporan keuangan melalui internet untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat dikarenakan data yang disampaikan emiten sebagian besar terdapat di dalam website perusahaan. Dengan demikian perusahaan harus memberikan informasi secara cepat dan tepat agar investor tidak terhambat akan informasi yang sudah di perbaharui oleh perusahaan.

Perusahaan memanfaatkan website mereka untuk membangun komunikasi yang lebih cepat dan lebih baik dengan mengungkapkan segala informasi penting yang ditujukan pada berbagai pihak, khususnya investor . Perusahaan high tech dan non high techjuga dapat dilihat dari jenis industrinya. Perusahaan yang berada dalam industri berbasis teknologi atau berbasis pengetahuan akan menggunakan Intellectual Capital Disclosure (ICD) lebih banyak dari pada industri yang mengandalkan asset fisik untuk menghasilkan Profit (Suwardjono, 2017). Jenis industri berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan intellectual capital, jumlah informasi yang diungkapkan perusahaan-perusahaan dengan teknologi tinggi (high tech companies) dua kali lebih besar dari pada perusahaan-perusahaan dengan teknologi rendah (low-tech companies).

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari 30 perusahaan yang menjadi sampel penelitian maka didapatkan hasil simpulan bahwa penggunaan Internet Financial Reporting (IFR) antara perusahaan high tech dan non high tech mempunyai perbedaan terhadap perusahaan yang terdaftar di indeks JII BEI tahun 2014-2018. Perusahaan high tech yang menunjukkan bahwa presentase jumlah perusahaan lebih banyak menggunakan IFR dalam websitenya (15 perusahaan). Selain itu, masih ada sekitar 15 perusahaan yang masih belum memanfaatkan teknologi informasi dalam websitenya utnuk menggunakan IFR.

References

  1. A. M. Lipunga, “Internet Financial Reporting in Malawi Internet Financial Reporting in Malawi,” no. May, 2014, doi: 10.5539/ijbm.v9n6p161.
  2. D. Puspitaningrum and S. Atmini, “2nd Annual International Conference on Accounting and Finance ( AF 2012 ) Corporate governance mechanism and the level of internet financial reporting : Evidence from Indonesian companies,” vol. 2, no. Af, pp. 157–166, 2012, doi: 10.1016/S2212-5671(12)00075-5.
  3. E. R. Fadilah, “FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTERNET FINANCIAL REPORTING ARTIKEL,” 2019.
  4. J. H. Mustakini, “Metode Penelitian Bisnis. Edisi ke-6. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada.,” 2014.
  5. M. Noor, A. Ali, and N. A. Ismail, “An empirical study on the indexes of internet financial reporting : The case of Malaysia,” vol. 6, no. 5, pp. 2086–2100, 2012, doi: 10.5897/AJBM11.1596.
  6. R. Pada, P. Manufaktur, Y. Terdaftar, and D. I. Bei, “Analisis perbedaan ketepatan waktu,” vol. 5, no. 2, pp. 146–156, 2013.
  7. R. S. Ummami and H. Widodo, “LEVERAGE , DAN UKURAN DEWAN KOMISARIS TERHADAP IFR ( INTERNET FINANCIAL REPORTING ) PADA PERUSAHAAN FARMASI DI INDONESIA DAN SINGAPURA PERIODE 2015-2018,” 2018.
  8. Sugiyono, “Sugiyono, Metode Penelitian,” Penelitian, 2017.
  9. Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta, 2016.
  10. Sugiyono, “Metode Penelitian,” Metod. Penelit., 2015.