Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Business and Economics
DOI: 10.21070/acopen.8.2023.3556

Cash Flow, Firm Size, and Earnings Persistence: Debt as Moderator


Arus Kas Operasional dan Ukuran Perusahaan: Implikasi untuk Keberlanjutan Laba dengan Tingkat Utang sebagai Variabel Pemoderasi.

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Operating Cash Flow Earnings persistence Debt level Firm size Moderating variable

Abstract

This quantitative study aims to examine the impact of operating cash flow on earnings persistence, considering debt level as a moderating variable. Additionally, the study investigates the influence of firm size on earnings persistence, also with debt level as a moderating variable. The research employs Moderated Regression Analysis (MRA) using SPSS software. Classical assumption tests, including normality, multicollinearity, autocorrelation, and heteroscedasticity tests, are conducted prior to MRA. The findings align with previous research, indicating that debt level does not moderate the relationship between firm size and firm value. These results contribute to the understanding of the dynamics between operating cash flow, firm size, earnings persistence, and debt level, providing insights for financial decision-makers in managing and interpreting financial performance indicators.

Highlights:

  • This quantitative study examines the influence of operating cash flow on earnings persistence, with debt level as a moderating variable.
  • It also investigates the impact of firm size on earnings persistence, with debt level as a moderating variable.
  • The research utilizes Moderated Regression Analysis (MRA) and conducts classical assumption tests to validate the findings. The results reveal that debt level does not moderate the relationship between firm size and firm value, contributing to the understanding of financial dynamics in organizations.

Keywords: Operating cash flow, Earnings persistence, Debt level, Firm size, Moderating variable.

Pendahuluan

Situasi perekonomian negara yang tidak menentu dan ketatnya persaingan di dunia usaha mendorong manajemen untuk bekerja lebih efektif dan efisien agar perusahaan mampu bertahan dan menjaga eksistensinya sekaligus meningkatkan kinerja manajemen untuk mendapatkan hasil yang optimal bagi perusahaan. Bagi investor, kinerja manajemen menjadi faktor pendorong dalam menilai suatu perusahaan dan membuat keputusan. Persaingan yang semakin meningkat baik di pasar domestik maupun di pasar internasional menuntut perusahaan untuk dapat mempertahankan atau memperoleh keuntungan kompetitif dengan cara memberikan perhatian penuh pada kegiatan operasional dan finansial perusahaan sehingga pelaporan keuangan perusahaan perlu di evaluasi untuk mengetahui kinerja perusahaan

Pelaporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang mengkomunikasikan keadaan keuangan dari hasil operasi perusahaan dalam periode tertentu kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Salah satu komponen pelaporan keuangan adalah laporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Pelaporan keuangan pada perusahaan bertujuan untuk menyediakan informasi yang berguna dalam proses pengambilan keputusan, baik bagi pihak internal maupun pihak eksternal. Pihak eksternal maupun pihak internal perusahaan sering menggunakan laba sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusannya (seperti pemberian kompensasi dan pembagian bonus kepada manajer, pengukur prestasi atau kinerja manajemen, dan dasar penentuan besarnya pengenaan pajak) karena laba dapat memberikan informasi yang penting [1].

Laporan keuangan disusun berdasarkan empat karakteristik kualitatif pokok, salah satunya ialah dapat dipahami. Untuk dapat dipahami, para pemakai laporan keuangan diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai mengenai aktivitas ekonomi, bisnis, akuntansi serta kemauan untuk mempelajari informasi [2]. Namun, sering kali para investor hanya terfokus pada tingkat laba suatu perusahaan. Laba digunakan oleh investor dan kreditor sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi.

Penentuan keputusan investasi yang hanya didasarkan atas laba agregat saja akan menimbulkan kesalahan penetapan harga di pasar. Kesalahan tersebut erat kaitannya dengan adanya asimetri informasi antara manajer dan para pengguna laporan keuangan. Konflik keagenan muncul ketika perusahaan yang memiliki akrual yang tinggi dan arus kas rendah akan dinilai lebih tinggi dari harga wajarnya (overvalued), sehingga akan mendapatkan imbal hasil abnormal yang rendah. Sementara itu, perusahaan yang memiliki akrual yang rendah dan arus kas yang tinggi akan dinilai lebih rendah dari harga wajarnya (undervalued), sehingga mendapatkan imbal hasil abnormal yang tinggi [3].

Laba merupakan keuntungan atas upaya perusahaan dalam menghasilkan dan menjual barang atau jasanya. Laba menjadi dasar dalam pengenaan penghasilan kena pajak, kebijakan pemberian deviden, pedoman dalam investasi, pengambilan suatu keputusan, dan unsur untuk memprediksi kinerja. laba digunakan untuk mengevaluasi manajemen, memperkirakan earning power dan memprediksi laba yang akan datang. Kekuatan laba (earning power) terlihat pada tingkat perusahaan yang diharapkan akan terjadi di masa depan, kekuatan laba diakui sebagai faktor utama dalam penilaian perusahaan. Konsep kekuatan laba melihat stabilitas dan daya tahan laba beserta komponennya

Persistensi laba penting kaitannya dengan keandalan suatu informasi, di mana suatu informasi dapat dikatakan handal bila informasi tersebut dapat mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomi, di antaranya dapat berupa keputusan pembuatan kontrak (contracting decision), keputusan investasi (investment decision) dan pembuat standar (standard setters). Laba yang semakin persisten menunjukkan laba semakin informatif, sebaliknya jika laba kurang persisten, maka laba menjadi kurang informatif. Laba yang persisten dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya arus kas operasi, tingkat hutang, dan ukuran perusahaan. Persistensi laba merupakan laba yang stabil atau komponen yang mampu bertahan dilihat dari laba periode berjalan, sehingga laba yang stabil dan persisten memudahkan manajer dalam meramalkan atau memprediksi laba di masa yang akan datang.

Salah satu faktor yang mempengaruhi persistensi laba adalah arus kas operasi yang terkandung dalam laba saat ini yang mewakili sifat transitori dan permanen laba. Data aliran kas merupakan indikator keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan akuntansi karena aliran kas relatif sulit untuk dimanipulasi. Sehingga semakin tingginya aliran kas operasi terhadap laba maka akan semakin tinggi pula kualitas laba dan aliran kas yang positif akan memberi gambaran terhadap kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba di masa depan. Arus kas Operasi merupakan data yang dapat dilihat untuk mengetahui berapa kas yang dikeluarkan untuk menghasilkan laba dalam pengoperasiannya. Arus kas operasi yang berjumlah positif maka akan menyumbangkan laba dan sebaliknya, karena arus kas operasi dianggap sebagai faktor utama dalam menentukan keberlanjutan laba dimasa yang akan datang (Salsabila, Pratomo danNurbaiti, 2016). Logikanya jika arus kas operasi dapat meningkat dan bernilai positif, maka akan meningkatkan laba perusahaan, sehingga komponen dalam laporan laba atau rugi meningkat menjadi baik.

Ukuran dari sebuah perusahaan juga ikut menentukan nilai perusahaan. Total aktiva merupaka proksi yang paling tepat untuk mengukur ukuran perusahaan. Nilai total aktiva mencerminkan harta atau kekayaan perusahaan. Dalam teori akuntansi positif ukuran perusahaan dinyatakan dalam hipotesis biaya politis yaitu bahwa perusahaan besar dan bukannya perusahaan kecil kemungkinan besar akan mememilih akuntansi untuk menurunkan laporan persistensi laba. ukuran perusahaan dapat dinyatakan dalam total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar. Semakin besar total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran perusahaan itu. Ketiga variabel ini digunakan untuk menentukan ukuran perusahaan karena dapat mewakili seberapa besar perusahaan tersebut. Ukuran perusahaan (size) merupakan suatu indikator dari kekuatan financial suatu perusahaan. Perusahaan besar lebih memiliki kepercayaan investor dibandingkan dengan perusahaan kecil karena perusahaan besar dianggap memiliki kondisi yang stabil. Sehingga memudahkan perusahaan dalam mendapatkan modal. semakin besar ukuran atau skala perusahaan maka akan semakin mudah pula perusahaan memperoleh sumber pendanaan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Semakin baik dan semakin banyaknya sumber dana yang diperoleh, maka akan mendukung operasional perusahaan secara maksimum, sehingga akan meningkatkan harga saham dari perusahaan.

Tingkat hutang merupakan faktor faktor pendorong naiknya persistensi laba. Hutang merupakan salah satu cara untuk mendapat tambahan pendanaan dari pihak eksternal, dengan konsekuensi perusahaan akan menjalin ikatan kontrak dengan kreditur. Ikatan kontrak berisi mengenai janji pembayaran utang dengan nominal dan batasan waktu yang ditentukan. Pada satu sisi, utang akan menambah modal dari perusahaan namun di sisi yang lain, utang menimbulkan konsekuensi perusahaan untuk harus selalu membayar bunga dan pokok pada saat jatuh tempo tanpa memperhatikan kondisi keuangan perusahaan. Tetapi pecking order theory menyatakan bahwa menerbitkan utang merupakan sumber pendanaan yang paling aman dibanding dengan cara yang lain.

Salah satu industri yang mendominasi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu industri pertambangan. Persaingan industri pertambangan membuat setiap perusahaan semakin meningkatkan kinerja agar tujuannya dapat tercapai. Jika nilai suatu perusahaan diproksikan dengan harga saham maka memaksimalisasi nilai suatu perusahaan sama dengan memaksimalisasi harga pasar saham. Jadi dapat disimpulkan bahwa harga saham merupakan indeks yang tepat untuk mengukur nilai perusahaan. Berdasarkan alasan itulah, maka tujuan manajemen keuangan dinyatakan dalam bentuk memaksimalisasi harga saham perusahaan Naik turunnya harga pasar saham di pasar modal menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dibicarakan terkait dengan isu naik turunnya persistensi laba itu sendiri. Berikut ini merupakan tabel harga penutupan saham per sub sektor tahun 2014 sampai dengan tahun 2019 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang bisa dilihat pada tabel 1 berikut ini:

SUB SEKTOR Tahun
2014 2015 2016 2017 2018 2019
Batu Bara 94.117 71.428 50.562 28.011 51.586 54.292
Minyak dan Gas Bumi 5.636 5.359 8.019 3.177 3.767 2.014
Logam dan Mineral Lainnya 11.550 9.075 8.260 7.464 8.676 9.762
Batu-batuan 141 139 252 180 141 162
Table 1.Harga Penutupan Saham pada Sektor Pertambangan

Tabel 1. menunjukkan harga penutupan saham setiap sub sektor pertambangan yang terdaftar di BEI. Adanya peningkatan dan penurunan harga saham secara lebih jelas dapat diketahui dengan melihat persentase harga penutupan saham dari setiap sub sektor yang terdaftar di BEI selama tahun 2015 sampai dengan 2019 pada tabel 2 berikut ini:

SUB SEKTOR Tahun Rata-Rata
2015 2016 2017 2018 2019
Batu Bara -24% -29% -45% -4% 5% -19%
Minyak dan Gas Bumi -5% 50% -60% 13% -47% -10%
Logam dan Mineral Lainnya -21% -9% -10% 2% 13% -5%
Batu-batuan -1% 81% -29% 9% 15% 15%
Table 2.Persentase Harga Penutupan Saham pada Sektor Pertambangan

Tabel 2 menunjukkan adanya peningkatan dan penurunan harga penutupan saham selama tahun 2015 sampai dengan tahun 2019. Dari rata-rata selama 5 tahun tersebut, sektor pertambangan yang mengalami peningkatan harga penutupan saham tertinggi adalah sub sektor batu batuan dengan rata-rata harga penutupan saham sebesar 15%. Sedangkan sub sektor pertambangan yang mengalami penurunan harga penutupan saham adalah sub sektor minyak dan gas bumi dengan rata-rata harga penutupan saham sebesar -10%. sub sektor logam dan mineral lainnya dengan rata-rata harga penutupan saham sebesar -5%, dan sub sektor pertambangan yang mengalami penurunan terbesar adalah sub sektor batubara dengan rata-rata harga penutupan saham sebesar-19%.

Berdasarkan fenomena yang terjadi dan hasil yang berbeda dari beberapa penelitian terdahulu maka terdapat ketidak konsistenan dari hasil penelitian terdahulu, oleh karenanya peneliti akan melakukan penelitian ulang dengan perbedaan menambah 1 (satu) variabel intervening yaitu tingkat hutang, karena tingkat hutang yang dimiliki perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan dan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi persistensi laba. Semakin besar suatu tingkat hutang yang dimiliki perusahaan maka diharapkan pertumbuhan labanya tinggi sehingga akan mempengaruhi persistensi laba. Namun disisi lain tingkat hutang yang tinggi juga akan menjadi beban perusahaan dan menjadi ancaman bagi perusahaan jika kondisi perusahaan tidak baik.

Kelebihan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu adanya variable moderating yaitu tingkat hutang yang memoderasi hubungan arus kas operasi dan ukuran perusahaan terhadap persistensi laba sehingga tingkat hutang ini akan menjadi faktor pendukung atau faktor penghambat hubungan arus kas operasi dan ukuran perusahaan dalam mempengaruhi persistensi laba. Moderated Regression Analysis (MRA) atau uji interaksi merupakan aplikasi khusus regresi linier berganda di mana dalampersamaan regresinya mengandung interaksi (perkalian dua atau lebih variabel prediktor). variabel moderasi dapat diketahui dari pengaruh interaksi dua arah antara variabel prediktor dengan variabel moderasi dalam memprediksi variabel respon. Di dalam model MRA, andaikan X1 sebagai variabel prediktor, X2 sebagai variabel moderasi, dan Y sebagai variabel respon, maka kedua variabel X1 dan X2 disebut pengaruh utama dan ditambahkan penaruh interaksi antara X1 dan X2 (X1*X2). Pengaruh interaksi inilah yang membedakan apakah variabel X2 sebagai variabel moderasi atau bukan. Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dalam penelitian ini akan menguji “Pengaruh Arus Kas Operasi Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Persistensi Laba Dengan Tingkat Hutang Sebagai Variabel Moderating (Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI Sub Sektor Batu Bara Periode 2017-2019)”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang dikemukakan diatas, adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah arus kas operasi berpengaruh terhadap persistensi laba dengan tingkat hutang sebagai variabel moderating ?
  2. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap persistensi laba dengan tingkat hutang sebagai variabel moderating ?

Metode Penelitian

Jenis penelitian

penelitian ini merupakan proses yang dilakukan secara bertahap, yakni dari rumusan masalah, tujuan penelitian, dan hipotesi penelitian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menekankan pada pengujian-pengujian teori melalui variabel-variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data ststistik [4].

Definsi Operasional, Identifikasi variabel dan Indikator Variabel

a. Definsi Operasional

Definisi operasional variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1) Arus Kas Operasi

Arus kas operasi merupakan suatu ukuran yang dinyatakan dalam persentase yang digunakan untuk menilai sejauh mana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan persistensi laba pada tingkat yang dapat diterima. arus kas operasi sebagai indikator untuk menilai sehat atau tidaknya perusahaan dan dapat mempengaruhi keputusan investor dalam mengambil keputusan [5]. Aruskas operasi diukur dengan return on asset (ROA) yang dihasilkan dari persistensi laba bersih perusahaan dibagi nilai buku total aset perusahaan.

2) Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan menunjukkan besar atau kecilnya kekayaan (aset) yang dimiliki suatu perusahaan. indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat ukuran perusahaan adalah total aset karena ukuran perusahaan diproksi dengan Ln total aset. Pengunaan natural log (Ln) dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengurangi flektuasi data yang berlebihan tanpa mengubah proporsi dari nilai asal yang sebenarnya [6].

SIZE = Ln (Total Aset)

3) Tingkat Hutang

Tingkat Hutang adalah kemampuan perusahaan atas pengunaan utang untuk membiayai investasi. Variabel ini diukur dengan rasio total hutang, yakni dengan membandingkan total hutang lancar maupun hutang jangka panjang perusahaan dengan total aset yang dimiliki perusahaan [7].

4) Persistensi laba

Persistensi Laba adalah rasio nilai pasar yang menggambarkan kondisi yang terjadi di pasar, pasar ini mampu memberikan pemahaman bagi pihak manajemen perusahaan terhadap kondisi penerapan yang akan dilaksanakan dan dampaknya pada masa yang akan datang. persistensi laba diukur dengan “Price Book Value merupakan rasio untuk mengukur seberapa besar harga saham yang ada dipasar dibandingkan dengan nilai buku sahamnya.

b. Identifikasi Variabel

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya [8].

  1. Variabel Independen (X) yang disebut juga variabel bebas. Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat. Dalam penelitian ini yang berperan sebagai variabel bebas adalah Dalam penelitian ini yang menjadi Variabel bebasnya adalah arus kas operasi, dan ukuran perusahaan.
  2. Variabel Moderating (Z) yang disebut juga variabel moderasi Merupakan variabel yang mendukung atau tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini yang berperan sebagai variabel moderasi dalam penelitian ini adalah tingkat hutang.
  3. Variabel Dependen (Y) yang disebut juga variabel terikat. Merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya veriabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah Persistensi laba.

c. Indikator Variabel

Indikator variabel yang digunakan dalam penelitian ini serta skala pengukurannya, dapat dilihat pada tabel berikut:

No. Variabel Definisi Variabel Indikator
1. Arus kas operasi Arus kas operasimerupakan suatu ukuran yang dinyatakan dalam persentase yang digunakan untuk menilai sejauh mana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan persistensi laba pada tingkat yang dapat diterima. ROA = Hutang LancarCash Ratio = Cash + Efe Hutang LancarCash Ratio = Cash + Efek
2. Tingkat Hutang Tingkat Hutangadalah kemampuan perusahaan atas pengunaan utang untuk membiayain investasi
3. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan menunjukkan besar atau kecilnya kekayaan (aset) yang dimiliki suatu perusahaan SIZE = Ln (Total Aset)
4. Persistensi laba adalah rasio nilai pasar yang menggambarkan kondisi yang terjadi di pasar, pasar ini mampu memberikan pemahaman bagi pihak manajemen perusahaan terhadap kondisi penerapan yang akan dilaksanakan dan dampaknya pada masa yang akan datang 𝑀𝑃𝑆𝑃𝐵𝑉 = 𝐵𝑃𝑆
Table 3.Indikator Variabel

Populasi dan Sampel

a. Populasi

No. Kode Saham Nama Perusahaan Alamat
1. ADRO Adaro Energy Tbk. Gedung Menara karya, Lantai 23, Jalan H.R. Rasuna Said Blok X-5, Kav. 1-2, Jakarta Selatan 12950.
2. ARII Atlas Resources Tbk. Sampoerna Strategic Square, South Tower, Lantai 18, Jalan Jenderal Sudirman, kav 45-46, Jakarta Selatan.
3. ATPK Bara Jaya International Tbk. Wisma GKBI lantai 39, Jalan Jenderal Sudirman No. 28, Jakarta 10210.
4. BORN Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk. Gedung Menara Merdeka Lantai 29, Jalan Budi Kemuliaan I No. 2, Jakarta 10110.
5. BRAU Berau Coal Energy Tbk. Sampoerna Strategic Square, North Tower, Lantai 15, Jalan Jenderal Sudirman, Kav. 45-46, Jakarta 12930.
6. BSSR Baramulti Suksessarana Tbk. Sahid Sudirman Centre, Suite C-D, Lantai 56, Jalan Jenderal Sudirman N0. 86, Jakarta 10220
7. BUMI Bumi Resources Tbk. Gedung Bakrie Tower, Lantai 12,Rasuna Epicentrum, Jalan H.R.
8. BYAN Bayan Resources Tbk. Gedung Office 8, Lantai 37, SCBD Lot 28, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190.
9. CPDW PT Indo Setu Bara Resources Tbk. Mayapada Tower 19th FI-05a, Jalan Jenderal Sudirman, Kav. 28, Karet Setiabudi, Jakarta 12920.
10. DEWA Darma Henwa Tbk Gedung Bakrie Tower Lantai 8, Rasuna Epicentrum, Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan Jakarta12940.
11. DOID Delta Dunia Makmur Tbk Cyber 2 Tower, Lantai 28, JalanH.R. Rasuna Said Blok X-5 No. 13, Jakarta12950.
12. GEMS Golden Energy Mines Tbk Sinar Mas Land Plaza, menara II, Lantai 6, Jalan M.H. Thamrin Kav. 51, Jakarta 10350.
13. GTBO Garda Tujuh Buana Tbk Gedung menara Hijau Lantai 9, JalanM.T. Haryono Kav. 33, Jakarta Selatan 12770.
14. HRUM Harum Energy Tbk Deutsche Bank Building, Lantai 9, Jalan Imam Bonjol No. 80,Jakarta Pusat10310.
15. ITMG Indo Tambangraya Megah Tbk Pondok Indah Office Tower III, Lantai 3, Jalan Sultan Iskandar Muda, Pondok Indah Kav. V-TA, Jakarta Selatan 12310.
Table 4.Populasi Penelitian

b. Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dengan teknik berdasarkan pertimbangan (jugment sampling) yang merupakan tipe pemilihan sampel secara acak yang informasinya diperoleh dengan mengunakan pertimbangan tertentu. Teknik penarikan sampel purposive ini dilakukan dengan cara memilih sampel dari suatu populasi berdasarkan pada informasi yang tersedia. Pertimbangan dalam pemilihan sampel pada umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian, yaitu:

Keterangan Jumlah
1. Perusahaan Pertambangan Sub Sektor Batu Bara yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2019. 24
2. PerusahaanPertambanganSubSektorBatuBarayangDelisting dari Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2019 (3)
3. PerusahaanpertambanganSubSektorBatuBarayang berpindah sektor selama tahun 2017-2019 (1)
4. Perusahaan Pertambangan Sub Sektor Batu Bara yang tidak mempublikasikan laporan keuangannya secara 5 tahun berturut-turut selama 2017-2019. (5)
Perusahaan Pertambangan Sub Sektor Batu Bara yang terpilih menjadi sampel 15
Total pengamatan (15 x 3 tahun) 45
Table 5.Hasil Pemilihan Sampel PenelitianBerdasarkan Kriteria pada Perusahaan Pertambangan Sub Sektor Batu BaraTahun 2015- 2017

Berdasarkan populasi penelitian diatas, maka sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perusahaan Pertambangan Sub Sektor Batu Bara yang memiliki kriteria pada table 3.2 yaitu sebanyak 15 perusahaan.

Teknik Pengumpulan Data

Metode dalam penelitian ini adalah menggunakan metode dokumentasi dari data-data yang dipublikasikan yaitu mengumpulkan data dari dokumen - dokumen yang sudah ada. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan periode 2015-2017.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data ialah kegiatan dalam mengelompokkan data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan, Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi moderasi (Moderated Regression Analysis) dengan menggunakan software program SPSS (Statistic Program for Social Science) versi 22. sebelum dilakukan pengujian Moderated Regression Analysis (MRA) maka akan dilakukan uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi dan uji heterokedastisitas [9].

Analisis Uji Asumsi Klasik

Data penelitian yang digunakan adalah sekunder, untuk memenuhi syarat yang ditentukan sebelum uji hipotesis melalu uji t maka perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi klasik yang dipergunakan yaitu normalitas, multikolinieritas, autokolerasi dan heteroskedastisitas yang secara detail dapat dijelaskan sebagai berikut ini :

a. Uji Normalitas

tujuan uji normalitas adalah Untuk mengetahui apakah data pada persamaan regresi yang dihasilkan berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Persamaan regresi dikatakan baik jika mempunyai data variabel bebas dan variabel terikat berdistribusi mendekati normal atau normal sama sekali. Pada kutipan [10] dasar pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasarkan probabilitas (Asymtotic Significance), yaitu:

  1. Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah normal.
  2. Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah tidak normal.

b. Uji Multikolinearitas

uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Metode yang dapat digunakan untuk menguji terjadinya multikolinieritas dapat dilihat dari matrik korelasi variabel - variabel bebas. Pada matrik korelasi, jika antar variabel bebas terdapat korelasi yang cukup tinggi (umumnya di atas 0,90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinieritas. Selain itu dapat juga dilihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Batas dari nilai tolerance adalah ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF adalah ≥10.

c. Uji Autokorelasi

uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t-1 sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan antara satu dengan lainnya. Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, dilakukan dengan uji Durbin Watson Test.

Kriteria yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya gejala autokorelasi adalah sebagai berikut:

1. Nilai DW < 1,10 berarti ada autokorelasi.

2.Nilai DW antara 1,10 s.d. 1,54 berarti tanpa kesimpulan. Nilai DW antara 1,55 s.d. 2,46 berarti tidak ada autokorelasi.

3.Nilai DW antara 2,46 s.d. 2,90 berarti tanpa kesimpulan.

4.Nilai DW > 2,91 berarti ada autokorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda maka disebut heterokedastisitas. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang tetap, maka disebut homoskedastisitas. Heterokedastisitas menunjukkan bahwa varians dari setiap error bersifat heterogen yang berarti melanggar asumsi klasik yang mensyaratkan bahwa varians dari error harus bersifat homogennya. Pengujian heterokedastisitas dilakukan dengan menggunakan grafik Scatterplot of Regression Studendized Residual. Ada tidaknya masalah heterokedastisitas dapat dilihat pada grafik plot antara nilai prediksi (ZPRED) dengan residualnya (SRESID) dengan mendeteksi ada tidaknya pola tertentu dalam grafik tersebut. Dasar pengambilan keputusannya adalah jika titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur seperti gelombang, melebar, kemudian menyempit, maka terjadi heteroskedastisitas. Namun jika titik-titik ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Analisis Regresi Moderasi (Moderated Regression Analysis)

Analisis Moderated Regression Analysis (MRA) adalah menguji hubungan kausal antara variabel independen dengan variabel dependen yang diperkuat atau diperlemah dengan adanya variabel pemoderasi. Berikut adalah Persamaan untuk Moderated Regression Analysis (MRA)

Y = a + b1(X1*Z) + b2 (X2*Z) + e

Keterangan:

Y : Persistensi laba

a : Konstanta

X1 : Arus Kas Operasi

X2: Ukuran Perusahaan

Z : Tingkat Hutang

b1-b3 : Koefisien regresi

e : error penelitia

Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel independent dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

Pengujian Hipotesis Menggunakan Uji Parsial (Uji t)

Uji statistik t digunakan untuk menunjukkan dan mengukur seberapa jauh pengaruh masing-masing variabel independen yang dimasukan dalam model terhadap variabel dependen secara individual. Uji t dilakukan dengan membandingkan nilai statistik thitung>ttabel atau dengan melihat kolom signifikansi pada masing-masing t-hitung dengan signifikansi < 0,05. Hal ini mampu menyatakan bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen.

Kriteria yang diteteapkan dengan membandingkan nilai t-hitung dengan t-tabel dengan menggunakan tabel harga kritis t tabel dengan tingkat signifikasi yang telah ditentukan sebesar 0,05 (alpha=0,05). Kriteria untuk penerimaan atau penolakan hipotesis nol (Ho) yang digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Ho diterima apabila thitung berada di daerahpenerimaan Ho, dimana thitung< ttabel atau Sig > α (0,05) yang artinya Hipotesis ditolak
  2. Ho ditolak apabila berada di daerah penolakan Ho, dimana thitung> ttabel atau Sig < α (0,05)yang artinya Hipotesis diterima

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Analisis Data Penelitian

Untuk menjawab hipotesis yang..dibuat, maka dilakukan analisis data dengan menggunakan program SPSS versi 22. Analisis yang dilakukan adalah Pengujian asumsi klasik, analisis regresi linier berganda dan pengujian hipotesis.

Analisis Statistik Deskriptif Data Penelitian

Statistik deskriptif adalah proses pengumpulan, penyajian dan peringkasan yang,,berfungsi untuk memberikan gambaran data yang diteliti secara memadai. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan program statistik SPSS versi 22 dan memperoleh hasil statistik deskriptif sebagai berikut:

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Arus Kas Operasi 42 -.31 .46 .0521 .014606
Ukuran Perusahaan 42 2.01 22.06 14.5883 4.93240
Tingkat Hutang 42 .00 1.86 .7398 .54371
Persistensi Laba 42 -64485.89 34550.25 -1760.2858 -13865.83411
Valid N (listwise) 42
Table 6.Statistik Deskriptif

1. Variabel Arus Kas Operasi (X1)

Berdasarkan hasil pengujian statistik deskriptif pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai minimum variabel arus kas operasi (X1) sebesar -0,31 dan nilai maksimum sebesar 0,46. Hal tersebutmenunjukkan bahwa besarnya1nilai variabel variabel arus kas operasi (X1) pada sampel penelitian ini berkisar antara -0,31sampai 0,46. dengan rata-rata (mean) sebesar 0,0521pada standar deviasi sebesar 0,014606. Nilai rata-rata (mean) lebih besar dari standar deviasi, yaitu 0,0521>0,014606yang berarti bahwa sebaran nilai variabel arus kas operasi (X1) baik. Data tersebut bersifat homogen, tidak ada kesenjangan yang terlalu besar antara nilai terendah dan tertinggi variabel arus kas operasi (X1) selama periodepenelitian.

2. Variabel Ukuran Perusahaan (X2)

Berdasarkan hasil pengujian statistik deskriptif pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai minimum variabel ukuran perusahaan (X2) sebesar 2,01 dan2nilai maksimum sebesar 22,06. Hal tersebutmenunjukkan bahwa besarnya nilai variabel variabel ukuan perusahaan (X2) pada sampel penelitian ini berkisar antara 2,01 sampai 22,06. dengan rata-rata (mean) sebesar 14.5883pada standar deviasi sebesar 4.93240. Nilai rata-rata (mean) lebih besar dari standar deviasi, yaitu 14.5883>4.93240yang berarti bahwa sebaran nilai variabel ukuran perusahaan (X2) baik. Data tersebut bersifat homogen, tidak ada kesenjanganmyang terlalu besar antara nilai terendah dan tertinggi variabel ukuran perusahaan (X2) selama periodepenelitian.

3. Variabel Tingkat Hutang (Z)

Berdasarkan hasil pengujian statistik deskriptif pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai minimum variabel tingkat hutang (Z) sebesar -0,00 dan nilai maksimum sebesar 1,86. Hal tersebutmenunjukkan bahwa besarnya nilai variabelkvariabel tingkat hutang (Z) pada sampel penelitian ini berkisar antara 0,00 sampai 1,86 dengan rata-rata (mean) sebesar 0,7398pada standar deviasi sebesar .54371. Nilai rata-rata (mean) lebih besar dari standar deviasi, yaitu 0,7398>0,54371yang berarti bahwa sebaran nilai variabel tingkat hutang (Z) baik. Data tersebut bersifat homogen, tidak adajkesenjangan yang terlalu besar antara nilai terendah dan tertinggi variabel tingkat hutang (Z) selama periodepenelitian.

4. Variabel Persistensi Laba (Y)

Berdasarkan hasil pengujian statistik deskriptif pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai minimum variabel persistensi laba (Y) sebesar -64485.89 dan nilai maksimum sebesar 34550.25. Hal tersebutmenunjukkan bahwa besarnya nilai variabel persistensi laba (Y) pada sampel penelitian ini berkisar antara -64485.89 sampai 34550.25. dengan rata-rata (mean) sebesar -1760.2858 pada standar deviasi sebesar -13865.83411. Nilai rata-rata (mean) lebih besar dari standar deviasi, yaitu-1760.2858>-13865.83411yang berarti bahwa sebaran nilai variabel persistensi laba (Y) baik. Data tersebut bersifat homogen, tidak ada kesenjanganuyang terlalu besar antara nilai terendah dan tertinggi variabel persistensi laba (Y) selama periode penelitian.

Pengujian Asumsi klasik

Pengujian asumsi klasik dimaksudkannuntuk menghasilkan parameter model penduga yang baik. Sehingga dapat dipastikan bahwa data telah terbebass dari permasalahan asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini dilakukan untuk hipotesis yang meliputi pengujian normalitas, multikolinearitas, heterokedastisitas dan autokeorelasi. Hasil pengujian uji asumsi klasik menggunakan program SPSS Versi 22 sebagai berikut :

1. Uji Normalitas

Uji normalitas data digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependent, variabel independent, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak, Untuk mempermudah perhitungan aakan digunakan software SPSS versi 22.0, sehingga diperoleh output sebaga berikut:

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 42
Normal Parametersa,b Mean 0E-7
Std. Deviation 11740.37222263
Most Extreme Differences Absolute .149
Positive .149
Negative -.132
Kolmogorov-Smirnov Z .963
Asymp. Sig. (2-tailed) .312
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Table 7.Uji Normalitas

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai asymp.sig sebesar 0,312(0,312> 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua data yang..digunakan dalam penelitian ini berdistribusi normal.

2. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Untuk mempermudah perhitungan akan digunakan software SPSS versi 22.0, sehingga diperoleh output sebaga berikut:

Tabel 7. Uji Multikolonieritas

Coefficients a
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 Arus Kas Operasi .994 1.006
Ukuran Perusahaan .993 1.007
Tingkat Hutang .993 1.007
a. Dependent Variable: Persistensi Laba
Table 8.

Berdasarkannhasil pengujian diperoleh nilai VIF untuk variable arus kas operasi sebesar 1,006 (1,006< 10), varabel ukuran perusahaan sebesar 1,007 (1,007 < 10)dan tingkat hutang sebesar 1,007 (1,007< 10). sehingga dapat dinyatakan bahwa regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini bebas dari multikolinieritas.

3. Uji Heterokedasititas

Pada gambar Scatterplot diatas terlihat titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk sebuah polaa tertentu yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.

4. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsii klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara residuall pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi, Untuk mempermudah perhitungan akan digunakan software SPSS versi 22.0, sehingga diperoleh output sebaga berikut:

Model Summary b
Model Durbin-Watson
1 1.876a
a. Predictors: (Constant), Tingkat Hutang, Arus Kas Operasi, Ukuran Perusahaan
b. Dependent Variable: Persistensi Laba
Table 9.Uji Autokorelasi

Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai DW (Durbin-Watson) sebesar 1,876 (berada diantara 1,55 s/d 2,46) berarti regresi bergandaa yang digunakan dalam penelitian ini tidak terkena autokorelasi.

Analisis Regresi Moderasi

Setelah mengetahui nilai dari masing-masing variabel, maka langkah selanjutnya yaitu melakukan analisis regresi moderasi. Perhitungan..akan digunakan software SPSS versi 22.0, sehingga diperoleh output sebaga berikut:

Coefficients a
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 3926.857 4977.733 .789 .435
Arus Kas Operasi 25874.855 14439.399 .273 1.792 .081
Ukuran Perusahaan 460.989 328.498 .164 1.403 .169
Arus Kas Operasi*Tingkat Hutang 103585.187 18701.458 .863 5.539 .000
Ukuran Perusahaan*Tingkat Hutang 137.909 207.916 .075 .663 .511
a. Dependent Variable: Persistensi Laba
Table 10.Analisis Regresi Moderasi

Berdasarkan tabel 9 dapat diketahui model regresinya yaitu:

Y = 3926,857+ 103585.187+ 137.909+ e

Berdasarkan hasil persamaan yang diperoleh dapat dijelaskan makna dan arti dari koefisien regresi sebagai berikut:

  1. Dari persamaan tersebut, nilai konstanta adalah 3926,857. Hal ini menunjukkan bahwa jikaa nilai variabel interaksi arus kas operasi dengan tingkat hutang dan variabel interaksi ukuran perusahaan dengan tingkatthutang sama dengan nol.maka nilai variabel presistensi laba..sebesar 3926,857.
  2. Koefisien regresi variabel interaksi arus kas operasi dengan tingkat hutang sebesar 103585.187. menunjukkan besar pengaruh variabel interaksi arus kas operasi dengan tingkat hutang terhadap persistensi laba.nilai variabel interaksi arus kas operasi dengan tingkat hutang bertanda positif (+), hal ini menunjukkan pengaruh yang searah. Artinya jika variabel variabel interaksi arus kas operasi dengan tingkat hutang mengalami kenaikan satu satuan, maka persistensi laba(Y) akan mengalami penungkatan sebesar 103585.187..
  3. Koefisien regresi variabel interaksi ukuran perusahaan dengan tingkat hutang sebesar 137.909. Menunjukkan besar pengaruh variabel interaksi ukuran perusahaan dengan tingkat hutang terhadap persistensi laba. Nilai variabel interaksi ukuran perusahaan dengan tingkathutang bertanda positif (+), hal ini menunjukkan pengaruh yang searah. Artinya jika variabel variabel interaksi ukuran perusahaan dengan tingkat hutang mengalami kenaikan satu satuan, maka persistensi laba (Y) akan mengalami penungkatan sebesar 137.909.

Koefisien Korelasi

Hasil pengolahan data uji koefisien korelasi dan determinasi terlihat pada tabel sebagai berikut:

Model Summary b
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .756a .572 .526 9549.04398
a. Predictors: (Constant), Ukuran Perusahaan*Tingkat Hutang, Arus Kas Operasi*Tingkat Hutang, Ukuran Perusahaan, Arus Kas Operasi
b. Dependent Variable: Persistensi Laba
Table 11.Hasil Analisis Koefisien Determinasi dan Korelasi

Pada tabel diatas diketahui nilaihkoefisien korelasi (R) sebesar 0,756. Untuk melihat besar hubungan variabel bebas dengan variabel terikat. Maka bisa dilihat pada tabel dibawah ini.

Interval Koefisien Korelasi Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat Rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat kuat
Table 12.Interpretasi Koefisien Korelasi

Berdasarkan klaster tabel koefisien korelasi pada tabel 11 diatas, maka dapatt dinyatakan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara variabel arus kas operasi, ukuran perusahaan, variabel interaksi arus kas operasi dengan tingkat hutang danvariabel interaksi ukuran perusahaan dengan tingkat hutang dengan variabelpersistensi laba.

Koefisien Determinasi

Berdasarkanhhasil analisis yang dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan program stastistik SPSS versi 22,0 pada tabel 11 diatas diperoleh nilai koefisien determinasi (R-Square) sebesar 0,572. Hal ini menunjukkan variabel arus kas operasi, ukuran perusahaan, variabel interaksi arus kas operasi dengan tingkat hutang dan variabel interaksi ukuran perusahaan dengan tingkat hutangdapat mempengaruhi variabel nilai perusahaan sebesar 57,2%, sedangkan 42,8% dipengaruhi oleh variabel bebas lain yang tidak dimasukkan pada penelitian ini

Pengujian Hipotesis

1. Pengujian Hipotesis 1 menggunakan -t

Pengujian hipotesis dengan uji-t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas..terhadap variabel terikat. Untuk mempermudah perhitungan digunakan software SPSS versi 22.0. adapun hasil pengujian menggunakan..uji-t diperoleh hasil sebagai berikut:

Coefficients a
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 3926.857 4977.733 .789 .435
Arus Kas Operasi 25874.855 14439.399 .273 1.792 .081
Ukuran Perusahaan 460.989 328.498 .164 1.403 .169
Arus Kas Operasi*Tingkat Hutang 103585.187 18701.458 .863 5.539 .000
Ukuran Perusahaan*Tingkat Hutang 137.909 207.916 .075 .663 .511
a. Dependent Variable: Persistensi Laba
Table 13.Pengujian Hipotesis uji t

Dari hasil diatas diperoleh hasil pada hipotesis pertama yang berbunyi “Arus kas operasi berpengaruh..terhadap Persistensi labayang dimoderasi oleh tingkat hutang“. Dimana pengujian hipotesis diperoleh nilai t-hitung sebesar 5,539 dengan nilai signifikan sebesar 0,000. Adapun ketentuan pada uji-t sebagai berikut :

  1. Jika nilai sig. < 0,05, maka Hipotesis diterima
  1. Jika nilai sig. > 0,05, maka Hipotesis ditolak

Karena nilai signifikan sebesar 0,000 (0,000 < 0,05) maka dapat dikatakan bahwa hipotesis diterima yang artinya tingkat hutang mampu memoderasi pengaruh Arus kas operasi terhadap Persistensi laba. Sehingga hipotesis yang diajukan olehp peneliti yang berbunyi “Arus kas operasi berpengaruh terhadap Persistensi labayang dimoderasi oleh tingkat hutang” diterima dan terbukti kebenarannya.

Pengujian Hipotesis 2 menggunakan uji-t

Dari hasil..diatas diperoleh hasil pada hipotesis kedua yang berbunyi “Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap Persistensi labayang dimoderasi oleh tingkat hutang“. Dimana pengujian hipotesis diperoleh nilai t-hitung sebesar 0,663 dengan nilai signifikan sebesar 0,511. Adapun ketentuan pada uji-t sebagai berikut:

  1. Jika nilai sig. < 0,05, maka Hipotesis diterima
  1. Jika nilai sig. > 0,05, maka Hipotesis ditolak
  1. Jika nilai sig. < 0,05, maka Hipotesis diterima
  2. Jika nilai sig. > 0,05, maka Hipotesis ditolak
  3. Jika nilai sig. < 0,05, maka Hipotesis diterima
  4. Jika nilai sig. > 0,05, maka Hipotesis ditolak

Karena nilai signifikan sebesar 0,511 (0,511< 0,05) maka dapat dikatakannbahwa hipotesis ditolak yang artinya variabel tingkat hutang tidak mampu memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap Persistensi laba. Sehingga hipotesis yang diajukan oleh peneliti yang berbunyi “ukuran perusahaan berpengaruh terhadap Persistensi laba yang dimoderasi oleh tingkat hutang” ditolak dan tidak terbukti kebenarannya.

Pembahasan

1. Pengaruh Arus Kas Operasi Terhadap Persistensi laba yang dimoderasi Tingkat Hutang

Hasil pengujian hipotesis 1 menggunakan Uji-t. diperoleh nilai t-hitung sebesar 5,539 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 (0,000 < 0,05). Dari hasil tersebut maka dapat dinyatakan Hipotesis diterima yang artinya tingkatthutang mampu memoderasi pengaruh Arus kas operasi terhadap Persistensi laba. Sehingga hipotesis yang diajukan oleh peneliti yang berbunyi “Arus kas operasi berpengaruh terhadap Persistensi labayang dimoderasi oleh tingkat hutang” diterima dan terbukti kebenarannya. Persistensi laba yang tinggi menjadi salah satu harapan utama dari para investor. Setiap perusahaan yang akan berusaha memaksimalkan persistensi laba secara terus-menerus mengusahakan pertumbuhan darii penjualan dan penghasilannya. Profit atau laba yang tinggi memberikan prospek perusahaan yang baik sehingga dapat memicu investor untuk ikut meningkatkan permintaan saham. Semakin baik arus kas operasi perusahaan berarti prospek perusahaan di masa depan dinilai semakin baik dimata investor. Apabila kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham akan meningkat. Dengan meningkatnya harga saham maka semakin tinggi pula persistensi laba.

Besarnya tingkat hutang perusahaan akan menyebabkan perusahaan meningkatkan persistensi laba dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja yang baik di mata auditor dan investor.Dengan kinerja yang baik tersebut maka diharapkan kreditur tetap memiliki kepercayaan terhadap perusahaan,, sehingga mudah meminjamkan dana, dan memberikan kemudahan dalam proses pembayaran.

2. Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Persistensi laba yang dimoderasi Tingkat Hutang

Hasil pengujian hipotesis 2 menggunakan Uji-t. diperoleh nilai t-hitung sebesar 0,663 dengan nilai signifikan sebesar 0,511 (0,511 > 0,05). Dari hasill tersebut maka dapat dinyatakan Hipotesis ditolak yang artinya tingkat hutang tidak mampu memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap Persistensi laba. Sehingga hipotesis yang diajukan oleh peneliti yang berbunyi “ukuran perusahaan berpengaruh terhadap Persistensi laba yang dimoderasi oleh tingkat hutang” ditolak dan tidak terbukti kebenarannya. Besarnya .tingkat hutang perusahaan akan menyebabkan perusahaan meningkatkan persistensi laba dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja yang baik di mata auditor dan investor. Namun semakin tinggi nilai ini tentunya semakin berisiko keuangan perusahaan tersebut. Semakin besar tingkat hutang menunjukkan semakin besar biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk membiayai hutang tersebut. Semakin besar proporsi hutang maka semakin besar risikoyang harus diderita oleh perusahaan. Pada titik tertentu, kenaikan hutang perusahaan menunjukkan bahwa keuangan perusahaan tidak cukup sehat untuk mendanai kesejahteraan bisnisnya.

Semakin besar ukuran dan skala perusahaan maka akan semakinnmudah pula perusahaan memperoleh sumber pendanaan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Semakin baik dan semakin banyaknya sumber dana yang diperoleh, maka akan mendukung operasional perusahaan secara maksimum, sehingga akan meningkatkan harga saham dari perusahaan Meningkatnya harga saham perusahaan menanndakan adanya peningkatan persistensi laba. Namun tingkat hutang mengandung konsekuensi perusahaan harus membayar bunga dan pokok pada saat jatuh tempo, jika perusahaan tidak mampu membayar, maka akan menimbulkan risiko kegagalan sehingga seberapa besar tingkat hutang yang diinginkan sangat tergantung pada stabilitas kondisi keuangan perusahaan.

Simpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Tingkat hutang mampu memoderasi pengaruh Arus kas operasi terhadap Persistensi laba pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI sub Sektor Batu Bara Periode 2017 – 2019. Hasil didapat,,setelah melakukan Pengujian hipotesis menggunakan uji-t dan diperolehnilai signifikan < 0,05. Dimana hasil tersebut menunjukkan variabel tingkat hutang mampu memoderasi, Sehingga hipotesis dinyatakanditerima dan terbukti kebenarannya.
  2. Tingkat hutang tidak mampu memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap Persistensi labapada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di BEI sub Sektor Batu Bara Periode 2017 – 2019. Hasil didapat setelah melakukan Pengujian,,hipotesis menggunakan uji-t dan diperolehnilai signifikan > 0,05. Dimana hasil tersebut menunjukkan variabel tingkat hutang tidak mampu memoderasi, Sehingga hipotesis dinyatakan ditolak dan terbukti kebenarannya.

References

  1. Agus Sartono, Manajemen Keuangan, Teori dan Aplikasi, 4th ed. Yogyakarta, 2016.
  2. Ghozali, “Metode Penelitian,” J. Chem. Inf. Model., vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2018.
  3. I. Ghozali, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2011.
  4. J. Hartono, Teori portofolio dan analisis investasi (edisi Kesebelas). 2017.
  5. Kasmir, “analisi laporan keuangan jakarta Rajawali Persada,” J. Bus. Bank., 2019, doi: 10.14414/jbb.v6i2.1299.
  6. M. K. dan D. M. Rusydi, “Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Aggresive Tax Avoidance.,” Simp. Nas. Akunt. XVI, pp. 1–19, 2015.
  7. Sugiyono, “Metode Penelitian,” Metod. Penelit., 2015.
  8. Sugiyono, “Sugiyono, Metode Penelitian,” Penelitian, 2017.
  9. V. C. Ehiedu and G. Toria, “Audit indicators and financial performance of manufacturing firms in Nigeria,” Linguist. Cult. Rev., vol. 6, no. July 2021, pp. 14–41, 2021, doi: 10.21744/lingcure.v6ns1.1887.
  10. W. Damayanti, “Transparansi Dan Akuntabilitas Pemerintah Desa Dalam Pengelolaan Alokasi Dana Desa (Studi kasus: Desa Tegiri dan Desa Sumberagung Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri),” Dr. Diss. Univ. Muhammadiyah Surakarta, 2018, [Online]. Available: http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/60002.