Business and Economics
DOI: 10.21070/acopen.7.2022.3506

Factors Affecting Income Smoothing in Manufacturing Companies Listed on the IDX (2016-2019 Period)


Faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba (Income Smoothing) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI (Periode 2016-2019)

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Company Size Profitability Debt Ratio Tax Profit Treatment

Abstract

This study aims to determine the Factors Affecting Income Smoothing (Study on Food and Beverage Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange 2016-2019). The sampling method used is purposive sampling method. The number of companies that were sampled in this study were 13 Food and Beverages Listed on the IDX for the 2016-2019 period. The data used is secondary data. The data analysis method used in this research is Multiple Linear Regression. The results of this study indicate that company size has an effect on income smoothing in food and beverage companies listed on the Indonesia stock exchange in 2016-2019. Profitability Affects Income Smoothing in Food and Beverage Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange in 2016-2019. Debt Ratio Affects Income Smoothing in Food and Beverage Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange in 2016-2019. Taxes have an effect on Income Smoothing in Food and Beverage Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange in 2016-2019.

Pendahuluan

Perkembangan perekonomian dan teknologi yang terjadi saat ini sangat berkaitan erat dengan persaingan yang terjadi antar perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus mempertahankan kestabilan operasional perusahaan agar dapat meningkatkan kualitas perusahaan. Laporan keuangan adalah laporan yang paling penting yang diterbitkan setiap tahunnya oleh perusahaan kepada pemegang saham yang berisi tentang laporan keuangan dasar dan opini manajemen atas operasi perusahaan selama tahun lalu serta prospek perusahaan dimasa yang akan datang [1]. Dari pengertian tersebut terlihat jelas bahwa laporan keuangan merupakan indikator yang paling penting untuk menyampaikan informasi bagi pihak-pihak internal maupun eksternal perusahaan. Pihak internal yaitu manajemen, diaman manajemen adalah yang menyajikan laporan keuangan. Pihak eksternal yaitu pemegang saham, kreditor, karyawan, pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan menggunkan laporan keuangan sebagai dasar dalam mengevaluasi kinerja manajemen perusahaan. Salah satunya yaitu informasi dari perolehan laba khususnya laba perusahaan yang go public dan perusahaan yang go public wajib mempertanggung jawabkan laporan keuangannya pada para pemegang saham. Pernyataan tersebut mendukung penelitian yang dilakukan oleh [2] menyatakan bahwa untuk perusahaan-perusahaan go public wajib mempertanggung jawabkan laporan keuangannya serta segala aktivitasnya kepada para pemegang saham agar dana yang telah dikeluarkan oleh pemegang saham dapat digunakan secara efektif dan efisien sehingga pemegang saham dapat meraskan uang yang telah diinvestasikan”. Kebanyakan pemegang saham hanya melihat laba perusahaan, sehingga pihak manajemen berusaha agar laba dalam laporan keuangan selalu terlihat baik sehingga membuat para pemegang saham meningkatkan investasinya. Dibuktikan dalam penelitian [3] yang menyatakan bahwa laba perusahaan yang selalu meningkat menunjukkan bahwa kinerja manajemen adalah baik dan pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan (stabilitas kinerja). Laba menunjukkan nilai dan kapabilitas perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Hal tersebut yang mendasari investor lebih memusatkan perhatian pada laba perusahaan dibandingkan informasi lainnya.

Laba merupakan komponen laporan keuangan yang bertujuan untuk menilai kinerja manajemen perusahaan, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang, menaksir resiko dalam investasi atau meminjamkan dana. Manfaat lain dari informasi laba yaitu untuk menilai perubahan potensi sumber daya ekonomis yang mungkin dapat dikendalikan di masa depan, menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada, dan untuk perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya. Hal ini yang menjadikan laba sangat penting dalam pengambilan keputusan oleh para pengguna laporan keuangan [4].

Kondisi inilah yang mendorong manajemen untuk melakukan kebijakan akuntasi yang sesuai dengan kepentingan perusahaan guna untuk memajukan perusahaan. Tindakan tersebut diukur berdasarkan laba, yang akan cenderung melakukan perataan laba. Tanpa disadari hal tersebutlah yang mendorong manajemen untuk melakukan perataan laba (income smoothing) dengan tujuan untuk keuntungan perusahaan tanpa melihat dampak jangka panjangnya. Manajemen sadar akan pentingnya informasi mengenai laba, karena itu manajemen melakukan perataan laba, “dibuktikan dalam penelitian [5] yang menyatakan bahwa dengan melakukan perataan laba untuk mengatasi berbagai konflik yang timbul antara manajemen dengan pemangku kepentingan lainnya”. tujuan manajemen melakukan tindakan tersebut yaitu untuk kepentingan perusahaan. Akan tetapi tanpa disadari terkadang tindakan tersebut bertentangan dengan tujuan perusahaan.

Perataan laba (income smoothing) merupakan salah satu teknik perekayasaan laba dengan tujuan menampilkan figur arus laba yang stabil [6]. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa manajemen ingin laporan keuangan yang disajikan terlihat stabil sehingga dilakukannya peratan laba tersebut. Dibuktikan dalam penelitian manajemen ingin informasi yang terkandung dalam laporan keuangan tampak lebih stabil sehingga dilakukanlah perataan laba tersebut. Perataan laba (income smoothing) tidak akan terjadi apabila laba yang dihasilkan oleh perusahaan tidak berbeda jauh dengan apa yang diharapkan. Hal tersebut menjelaskan bahwa keputusan pemegang saham untuk berinvestasi sangan di pengaruhi dari laba perusahaan sehingga manajer ingin informasi yang dikeluarkan dari laporan keuangan perusahaan adalah yang sebaik-baiknya dengan tujuan untuk meningkatkan kepercayaan para pemegang saham. Tindakan perataan laba dalam laporan keuangan merupakan hal biasa, namun tindakan ini sebenarnya tidak akan terjadi apabila laba yang diharapkan oleh manajemen perusahaan tidak jauh berbeda dengan laba yang sebenarnya. Oleh karena hal tersebut, manajemen perusahaan cenderung melakukan tindakan yang dapat membuat laporan keuangan perusahaan terlihat baik.

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan total aktiva, pendapatan atau modal dari perusahaan tersebut. Total aktiva dapat digunakan untuk menunjukkan seberapakah besar kecilnya suatu perusahaan, apabila suatu perusahaan memiliki total aktiva besar maka perusahaan tersebut telah terbilang memiliki prospek yang baik dan lebih mampu menghasilkan laba daripada perusahaan dengan total aset kecil [7].

Profitabilitas dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Return On Asset (ROA). ROA dipilih untuk mengukur profitabilitas pada penelitian ini karena dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba. Return on Assets (ROA) merupakan bagian dari salah satu teknik analisis yang lazim digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan [8].

Leverage merupakan hasil dari penggunaan biaya tetap suatu aktiva atau dana untuk memperbesar pengembalian kekayaan pemilik perusahaan. Tujuan perusahaan menggunakan leverage yaitu supaya keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada biaya aset dan sumber dananya. Nilai rata-rata leverage perusahaan yang melakukan perataan laba lebih tinggi daripada non perataan laba. Variabel leverage dalam penelitian ini diukur dengan financial leverage [9].

Pajak adalah suatu kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Besarnya pajak yang akan dibayarkan perusahaan sesuai dengan pendapatan yang telah dikurangi dengan beban-beban perusahaan. Beban pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan akan didasari oleh laba. Semakin tinggi laba yang didapatkan oleh perusahaan maka beban pajak yang harus dibayar oleh perusahaan akanbesar. Sebaliknya, apabila laba rendah maka beban pajak yang akan dibayarkan juga rendah. Manajer akan berusaha agar laba perusahaan terlihat lebih rendah agar beban pajak yang akan dibayarkan perusahaan akan rendah.Oleh karena itu, perusahaan akan cenderung melakukan praktik perataan laba agar dapat meminimalkan pembayaran pajak.

Sehubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya tentang perataan laba (income smoothing) yang masih belum memiliki hasil yang konsisten, maka perlu di lakukannya pengujian ulang. Tujuan dilakukannya penelitian in adalah untuk menguji pengaruh Ukuran Perusahaan,, Profitabilitas, Rasio Hutang, dan Pajak terhadap income smoothing.

Alasan memilihi Perusahaan food and beverages karena Perusahaan food and beverages salah satu sektor yang mampu bertahan dalam kondisi perekonomian Indonesia yang labil, karena masyarakat tetap membutuhkan produk makanan dan minuman. Sektor industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor usaha yang akan terus mengalami pertumbuhan. Selain itu industri makanan dan minuman merupakan cabang industri manufaktur unggulan. Industri makanan dan minuman mempunyai peranan penting dalam pembangunan sektor industri terutama kontribusinya terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) yang tumbuh tinggi. Selain itu, karakteristik atau sifat masyarakat yang cenderung dapat membantu mempertahankan sektor industri barang konsumsi. Terlihat dari performance kinerja keuangan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Dalam siaran persnya di Jakarta menyebutkan, perseroan mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 24,8 persen menjadi Rp1,09 triliun pada kuartal I-2016 dari periode sama tahun sebelumnya Rp870,1 miliar.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, penelitian ini menggunakan periode 2016-2019. Peneliti juga menggunakan perusahaan manufaktur dengan subsector makanan dan minuman untuk mendapatkan hasil ada atau tidaknya praktik perataan laba (income smoothing) oleh perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dan peneliti mengambil judul “ Faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba (Income Smoothing) pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI (Periode 2016-2019) ”.

Berdasarkan uraian latar belakang yang dikemukakan diatas, adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah ukuran perusahaan mempengaruhi perataan laba ?
  2. Apakah profitabilitas mempengaruhi perataan laba ?
  3. Apakah rasio hutang mempengaruhi perataan laba ?
  4. Apakah pajak mempengaruhi perataan laba ?

Metode Penelitian

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif inferensial, karena untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perataan laba (income smoothing) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2019. Penelitian ini menitik beratkan pada pengujian hipotesis, mengukur variabel yang sedang diteliti dan menghasilkan kesimpulan yang dapat digeneralisasi [10].

Definisi Operasional, Identifikasi Variabel dan Indikator Variabel

a. Definisi Operasional

Variabel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu variabel independen dan variabel dependen.

1) Variabel Dependen (Variabel Terikat)

Variabel dependen (terikat) adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Perusahaan Perata Laba.

Income smoothing merupakan suatu alternatif yang dapat digunakan oleh pihak manajemen perusahaan untuk mengurangi variabilitas jumlah laba yang dilaporkan perusahaan, agar laba yang dilaporkan sesuai dengan target yang dinginkan. Rumus yang digunakan sebagai berikut :

Indeks perataan laba : (CV ∆I / CV ∆S)

Dimana:

∆I = perubahan laba dalam satu periode

∆S = perubahan penjualan dalam satu periode

CV= koefisien variasi dari variabel, yaitu standar deviasi dibagi dengan nilai yang diharapkan. Dalam rumus ini nilai yang diharapkan adalah nilai rata-rata.

Jadi,

CV ΔI = σ Net Income/ x̄ Net Income

CV ΔS = σ Net Sales x̄Net Sales

Keterangan :

σ Net Income = Standar Deviasi Laba Setelah Pajak

σ Net Sales = Standar Deviasi Penjualan Bersih

x̄ Net Income = Rata-Rata Laba Setelah Pajak

x̄ Net Sales = Rata-Rata Penjualan Bersih

Apabila nilai Indeks Eckel lebih besar atau sama dengan 1 (Indeks Eckel >1) maka perusahaan tidak melakukan praktik perataan laba (CV ΔS < CV ΔI), tetapi apabila nilai Indeks Eckel lebih kecil dari 1 (Indeks Eckel < 1) maka perusahaan melakukan praktik perataan laba (CV ΔS > CV ΔI).

2) Variabel Independen (Variabel Bebas)

Variabel independen adalah tipe variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel lain. Variabel Independen dalam penelitian ini adalah :

Ukuran Perusahaan adalah skala untuk menentukan besar kecilnya suatu perusahaan. Ukuran perusahaan dapat diukur dengan beberapa cara, antara lain total aktiva, total penjualan, dan jumlah karyawan yang bekerja di perusahaan. Ukuran perusahaan dihitung dengan menggunakan logaritma natural dari total aktiva, dapat dirumuskan sebagai berikut :

Ukuran Perusahaan =Ln Total Aktiva

Keterangan :

Ln Total Aktiva : Logaritma natural dari total aktiva

Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam periode tertentu.

Profitabilitas perusahaan diukur dengan ROA. ROA biasanya dipakai oleh perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan tersebut dalam menghasilkan laba dengan menggunakan aset-aset yang dimiliki (Abripayu, 2011). ROA dapat dirumuskan sebagai berikut:

Rasio Hutang

Rasio hutang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang. Rasio hutang dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Debt to Equity Ratio (DER). DER merupakan salah satu rasio hutang yang diperoleh melalui total hutang dibagi dengan total equity. DER dapat dirumuskan sebagai berikut :

Pajak

Pajak diukur dengan tarif pajak efektif atau effektive tax rate (ETR) yang dihitung dengan membagi beban pajak dengan laba sebelum pajak. ETR dapat dirumuskan sebagai berikut :

b. Identifikasi Variabel

Variabel diartikan sebagai segala sesuatu yang menjadi objek pengamatan penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi perataan laba (income smoothing). Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis penelitian, maka variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:

  1. Ukuran Perusahaan
  2. Profitabilitas (ROA)
  3. Rasio Hutang (DER)
  4. Pajak (ETR)

Populasi dan Sampel

Populasi

Dalam penelitian ini data populasi yang digunakan adalah semua perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Periode pengamatan yang dilakukan dari periode 2016-2019. Perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI periode 2016-2019 ada 15 perusahaan. Alasan peneliti menggunakan perusahaan-perusahaan yang melakukan pratik manajemen laba tahun 2016-2019 karena peneliti ini berfokus pada perusahaan yang melakukan pratik manajemen laba pada tahun tersebut [11].

Sampel

Perusahaan yang menjadi sampel dari penelitian ini dipilih menggunakan metode purposive sampling, dimana sampel dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu atau karakteristik tertentu [12].

Kriteria dari pemilihan sampel adalah sebagai berikut :

  1. Perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
  2. Perusahaan yang telah menerbitkan laporan keuangan per 31 Desember dari tahun 2016-2019
  3. Menggunakan mata uang rupiah dalam laporan keuangan perusahaan
  4. Perusahaan yang mengungkapkan laporan keuangannya di web

Ada 13 perusahaan yag digunakan sampel , sebagai berikut :

Tabel 1. Kriteria penelitian

No Kriteria Sampel Jumlah Perusahaan
1. Perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo periode tahun 2016 - 2019 15
2. Perusahaan yang tidak lengkap Menyajikan laporan keuangan pada periode tahun 2016 - 2019 (2)
3. Perusahaan yang tidak mengungkapkan laporan keuangannya di web (0)
4 Tidak Menggunakan mata uang rupiah dalam laporan keuangan perusahaan (0)
6 Jumlah perusahaan yang diteliti 13
7 Jumlah observasi 13 x 4 tahun 52
Table 1.

Teknik Analisis

Statistik Deskriptif

Analisis data penelitian ini adalah analisis kuantitatif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bantuan SPSS (Statistical Package for Social Science) sebagai alat untuk menganalisis data. Analisis ini diawali dengan statistik deskriptif, dan Uji Asumsi Klasik. Uji asumsi klasik ini terdiri dari Uji Multikolinearitas, Uji Normalitas, Uji Heterokedasitas, Dan Uji Autokorelasi. Selanjutnya data yang terkumpul dilakukan analisis regresi berganda dan uji hipotesis yang berupa koefisien determinasi (R2 ), Koefisien korelasi (R), dan uji t.

Statistik deskriptif digunakan untuk dapat menggambarkan berbagai karakteristik data yang berasal dari suatu sampel. Statatistik deskriptif seperti mean, median, modus, presentil, desil, quartile berupa bentuk analisis angka maupun gambar/diagram.

Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dalam penelitian perlu dilakukan karena dalam menguji model regresi berganda apakah dalam penelitian tersebut variabel pengganggu atau nilai residualnya memiliki distribusi normal atau tidak. Uji Kolmogorov Smirnov satu arah juga dapat untuk menguji uji normalitas data. Jika signifikannya > 0,05 maka variabel berdistrubusi normal dan sebaliknya jika signifikannya < 0,05 maka variabel tidak terdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Metode yang digunakan untuk menguji adanya multikoliniearitas ini dapat dilihat dari nilai tolerance atau variance inflantion factor (VIF). Batas yang ditentukan untuk menunjukkan adanya multikolinearitas atau tidak dari nilai tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10.

c. Uji Heterokedasitas

Untuk mengetahui ada atau tidaknya heterokedasitas pada penelitian ini, maka penelitian ini diuji dengan cara melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen (ZPRED) dan dengan residualnya (SRESID). Dasar analisis yang digunakan untuk menguji ada atau tidaknya heterokedasitas adalah sebagai berikut:

  1. Jika dalam pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu secara teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka menandakan telah terjadinya heterokedasitas.
  2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta terdapat titik yang menyebar di atas dan di bawah angka 0 yang ada pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heterokedasitas.

d. Uji Autokorelasi

Pengambilan keputusan ada atau tidaknya autokorelasi:

  1. Nilai DW < 1,10 : ada autokorelasi
  2. Nilai DW antara 1,10 s.d 1,54 : tanpa kesimpulan
  3. Nilai DW antara 1,55 s.d 2,46 : tidak ada autokorelasi
  4. Nilai DW antara 2,46 s.d 2,90 : tanpa kesimpulan
  5. Nilai DW > 2,91 : ada autokorelasi

Pengujian Hipotesis

1. Uji Koefisien Korelasi

Jika besarnya nilai R mendekati angak 1 berarti variabel independen memiliki pengaruh yang kuat terhadap variabel dependen. Begitu pula sebaliknya, jika besarnya nilai R jauh dari angka 1 berarti pengaruh variabel independennya masih lemah terhadap variabel dependen.

2. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) yaitu koefisien yang menunjukkan presentase pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen. Presentase tersebut menunjukkan tentang seberapa besar variabel independen yang dapat menjelaskan variabel dependennya. Semakin tinggi koefisien determinasinya atau nilai R2 semakin mendekati 100% maka semakin baik variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependennya.

3. Analisis Regresi Linear Berganda

Dimana model yang akan digunakan yaitu sebagai berikut:

Keterangan :

IS = Perataan laba (income smoothing)

α = Intercept

β = Konstanta

SIZE = Ukuran Perusahaan

ROA = Profitabilitas

DER = Rasio Hutang

ETR = Pajak

4. Uji t (Uji parsial)

Uji ini dilakukan untuk melihat nilai thitung dan nilai signifikan t setiap variabel pada output hasil regresi menggunakan SPSS 25 dengan significance (α = 5%). Sedangkan ttabel memiliki nilai sesuai tabel t.

  1. Jika t hitung < t tabel dan signifikansi lebih besar dari α, maka hipotesis tersebut ditolak (koefisien regresi tidak signifikan) yang berarti dengan secara individual variabel independen tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
  2. Jika t hitung > t tabel dan signifikan lebih kecil dari α, maka hipotesis tersebut diterima (koefisien regresi signifikan) yang berarti secara individual variabel independen mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen [13].Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Analisis Statistik Deskriptif

Tabel 2. Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Ukuran Perusahaan 52 24.09 32.20 28.3404 1.78095
Profitabilitas 52 .58 39.00 11.1796 9.11925
Rasio hutang 52 .45 334.00 154.2056 68.70591
Pajak 52 .00 6.93 2.4715 .98353
Perataan Laba 52 .01 124125.00 3442.8223 183.99767
Valid N (listwise) 52
Table 2.

Berdasarkan hasil perhitungan pada table 2 tersebut menunjukkan bahwa jumlah pengamatan dalam penelitian ini ada 13 Perusahaan Makanan dan Minuman yang menjadi sample dimana 13 perusahaan tersebut dikalikan periode tahun pengamatan (4 tahun), sehingga observasi dalam penelitian ini sebanyak 52 observasi (13 x 4 = 52). Berdasarkan perolehan data diketahui hasil sebagai berikut :

Perataan Laba ( Y 1 )

Perataan Laba mempunyai nilaiminimumsebesar 0.01, dengan nilai maksimum sebesar 124125.00, sedangkan nilai rata-ratanya (mean) sebesar 3442.8223 dengan nilai standar deviasi sebesar 183.99767 menunjukkan simpangan data yang nilainya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-ratanya sehingga menunjukkan bahwa data variabel Perataan Laba sudah normal.

Ukuran Perusahaan ( X 1 )

Ukuran Perusahaan mempunyai nilaiminimumsebesar 24.09, dengan nilai maksimum sebesar 32.20, sedangkan nilai rata-ratanya (mean) sebesar 28.3404 dengan nilai standar deviasi sebesar 1.78095 menunjukkan simpangan data yang nilainya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-ratanya sehingga menunjukkan bahwa data variabel Ukuran Perusahaan sudah normal.

Profitabilitas (X2 )

Profitabilitas mempunyai nilaiminimumsebesar 0.58, dengan nilai maksimum sebesar 39.00, sedangkan nilai rata-ratanya (mean) sebesar 11.1796 dengan nilai standar deviasi sebesar 9.11925 menunjukkan simpangan data yang nilainya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-ratanya sehingga menunjukkan bahwa data variabel Profitabilitas sudah normal.

Rasio H utang (X3 )

Rasio hutang mempunyai nilaiminimumsebesar 0.45, dengan nilai maksimum sebesar 334.00, sedangkan nilai rata-ratanya (mean) sebesar 154.2056 dengan nilai standar deviasi sebesar 68.70591 menunjukkan simpangan data yang nilainya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-ratanya sehingga menunjukkan bahwa data variabel Rasio hutang sudah normal.

Pajak (X3 )

Pajak mempunyai nilaiminimumsebesar 0,00, dengan nilai maksimum sebesar 6.93, sedangkan nilai rata-ratanya (mean) sebesar 2.4715 dengan nilai standar deviasi sebesar 0.98353 menunjukkan simpangan data yang nilainya lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-ratanya sehingga menunjukkan bahwa data variabel Pajak sudah normal.

Uji Asumsi Klasik

Uji Normalitas

Ukuran Perusahaan Profitabilitas Rasio hutang Pajak
N 52 52 52 52
Normal Parametersa,b Mean 28.3404 11.1796 54.2056 .4715
Std. Deviation 1.78095 9.11925 68.70591 .98353
Most Extreme Differences Absolute .161 .162 .251 .375
Positive .131 .162 .251 .375
Negative -.161 -.123 -.217 -.317
Test Statistic .161 .162 .251 .375
Asymp. Sig. (2-tailed) . 65 2 c . 57 2 c . 65 0 c . 23 0 c
Table 3.Hasil Uji Normalitas dengan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Perataan Laba
N 52
Normal Parametersa,b Mean 3442.8223
Std. Deviation 18683.99767
Most Extreme Differences Absolute .535
Positive .535
Negative -.427
Test Statistic .535
Asymp. Sig. (2-tailed) . 300 c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Table 4.

Berdasarkan hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test diketahui bahwa angka signifikan setiap variabel menunjukkan angka lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas dan dapat di lanjutkan ke pengujian selanjutnya.

Uji Multikolinieritas

Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 (Constant)
Ukuran Perusahaan .958 1.043
Profitabilitas .803 1.246
Rasio hutang .528 1.893
Pajak .524 1.907
a. Dependent Variable: Perataan Laba
Table 5.Hasil Uji Multikolinieritas

Berdasarkan table diatas menunjukkan bahwa hasil uji multikolinieritas, nilai tolerance masing-masing variabel independen > 0,10 sedangkan nilai VIF < 10. Dengan demikian, hasil uji multikolinieritas dalam penelitian ini tidak terjadi multikolinieritas dalam model regresi.

Uji Autokorelasi

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 .859a .829 .955 18165.25033 1. 9 42
Table 6.Hasil Uji Autokorelasi

Berdasarkan hasil uji autokorelasi, nilai Durbin-Watson sebesar 1.942. Sehingga nilai DW antara 1,55 s/d 2,46. Hal ini menunjukkan tidak terjadi autokorelasi.

Uji Heterokedastisitas

Dari gambar scatter plot terlihat titik-titik menyebar secara acak dan tidak ada kecenderungan untuk membentuk pola tertentu, maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.

Analisis Regresi Linear Berganda

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 83697.838 42206.408 2.983 .053
Ukuran Perusahaan 2903.538 1458.911 .277 2.990 .002
Profitabilitas 370.239 311.338 .181 2.189 .000
Rasio hutang 51.180 50.937 .188 3.005 .007
Pajak 1415.312 3571.092 .075 2.396 .004
Table 7.Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda

Pada table tersebut mengenai hasil pengolahan SPSS, maka dapat dibuat persamaan regresi berganda sebagai berikut:

Y = 83697.838 + 2903.538 + 370.239 + 51.180 + 1415.312

Persamaan regresi linier berganda diatas dapat diartikan bahwa :

  1. Konstanta adalah sebesar 83697.838. Hal ini berarti jika tidak dipengaruhi Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, , Rasio hutang Dan Pajak maka besarnya Perataan Laba sebesar 83697.838.
  2. Koefisien variabel Ukuran Perusahaan sebesar 2903.538. Hal ini berarti jika terjadi peningkatan Ukuran Perusahaan sebesar satu satuan maka Perataan Laba juga mengalami peningkatan sebesar 2903.538 dengan asumsi bahwa faktor lainnya adalah konstan atau tetap.
  3. Koefisien variabel Profitabilitas sebesar 370.239. Hal ini berarti jika terjadi peningkatan Profitabilitas sebesar satu satuan maka Perataan Laba juga mengalami peningkatan sebesar 370.239 dengan asumsi bahwa faktor lainnya adalah konstan atau tetap.
  4. Koefisien variabel Rasio hutang sebesar 51.180. Hal ini berarti jika terjadi peningkatan Rasio hutang sebesar satu satuan maka Perataan Laba juga mengalami peningkatan sebesar 51.180 dengan asumsi bahwa faktor lainnya adalah konstan atau tetap.
  5. Koefisien variabel Pajak sebesar 1415.312. Hal ini berarti jika terjadi peningkatan Pajak sebesar satu satuan maka Perataan Laba juga mengalami peningkatan sebesar 1415.312 dengan asumsi bahwa faktor lainnya adalah konstan atau tetap.

Pengujian Hipotesis

a. Uji Koefisien Determinasi (R²)

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 . 8 59 a . 8 29 .955 18165.25033 1.942
Table 8.Hasil Uji R Square

Pada table diatas diketahui bahwa nilai koefisien korelasi R adalah 0,859 atau mendekati 1. Artinya terdapat hubungan (korelasi) yang kuat antara variabel bebas yang meliputi Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Rasio hutang Dan Pajak terhadap variabel terikat yaitu Perataan Laba.

Adapun analisis determinasi berganda, dari tabel diatas diketahui presentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang ditujukan oleh nilai R square adalah 0,829 maka koefisien determinasi berganda 0,829 x 100%= 82,9% dan sisanya 100%-82,9%= 17,1%. Hal ini berarti naik turunnya variabel terikat yaitu Nilai Perusahaan dipengaruhi oleh veriabel bebas yaitu Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Rasio hutang Dan Pajak sebesar 82,9%. Sedangkan sisanya sebesar 17,1% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

b. Uji t (Uji parsial)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 83697.838 42206.408 2 .983 .053
Ukuran Perusahaan 2903.538 1458.911 .277 2 .990 .0 0 2
Profitabilitas 370.239 311.338 .181 2 .189 . 00 0
Rasio hutang 51.180 50.937 .188 3 .005 . 0 0 7
Pajak 1415.312 3571.092 .075 2 .396 . 00 4
Table 9.Hasil Uji Parsial (Uji t)
  1. Pengujian dengan menggunakan regresi linear berganda pada hipotesa Ukuran Perusahaan Berpengaruh Terhadap Perataan Laba menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,002, lebih kecil dari 0,05 dan diperoleh nilai t hitung 2.990 dan t tabel 1.67722. Karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 2.990 > 1.67722 dan tingkat signifikan 0,002 < 0,05, sehingga H1 yang menyatakan bahwa variabel Ukuran Perusahaan Berpengaruh Terhadap Perataan Laba diterima.
  2. Pengujian dengan menggunakan regresi linear berganda pada hipotesa Profitabilitas Berpengaruh Terhadap Perataan Laba menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000, lebih kecil dari 0,05 dan diperoleh nilai t hitung 2.189 dan t tabel 1.67722. Karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 2.189 > 1.67722 dan tingkat signifikan 0,000 < 0,05 ,sehingga H2 yang menyatakan bahwa variabel Profitabilitas secara parsial mempunyai pengaruh terhadap Perataan Laba diterima.
  3. Pengujian dengan menggunakan regresi linear berganda pada hipotesa Rasio Hutang Berpengaruh Terhadap Perataan Laba menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,007, lebih kecil dari 0,05 dan diperoleh nilai t hitung 3.005 dan t tabel 1.67722. Karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 3.005 > 1.67722 dan tingkat signifikan 0,007 < 0,05, sehingga H3 yang menyatakan bahwa variabel Rasio Hutang Berpengaruh Terhadap Perataan Laba diterima.
  4. Pengujian dengan menggunakan regresi linear berganda pada hipotesa Pajak berpengaruh terhadap Perataan Laba menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,004, lebih kecil dari 0,05 dan diperoleh nilai t hitung 2.396 dan t tabel 1.67722. Karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 2.396 > 1.67722 dan tingkat signifikan 0,004 < 0,05 ,sehingga H4 yang menyatakan bahwa variabel Pajak secara parsial mempunyai pengaruh terhadap Perataan Laba diterima.

No. Uraian Hasil Keterangan
1 Hipotesis 1 :Ukuran Perusahaan Berpengaruh Terhadap Perataan Laba Diterima 2.990 > 1.67722 0,002 < 0,05
2 Hipotesis 2 :Profitabilitas Berpengaruh Terhadap Perataan Laba Diterima 2.189 > 1.67722 0,000 < 0,05
3 Hipotesis 3 :Rasio Hutang Berpengaruh Terhadap Perataan Laba Diterima 3.005 > 1.67722 0,007 < 0,05
4 Hipotesis 4 :Pajak berpengaruh terhadap Perataan Laba Diterima 2.396 > 1.67722 0,004 < 0,05
Table 10.Hasil Pengujian Hipotesis

Pembahasan

Ukuran Perusahaan Berpengaruh Terhadap Perataan Laba

Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan menurut berbagai cara, antara lain : total aktiva, log size, nilai pasar saham dan lain-lain. Besar kecilnya assets size suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuannya dalam menanggung risiko yang mungkin akan timbul akibat berbagai situasi yang dihadapi perusahaan yang berkaitan dengan operasinya, Ismail (2004). Besaran perusahaan dipandang sebagai salah satu faktor pendorong perataan laba. Beberapa penelitian sebelumnya berhasil membuktikan bahwa semakin besar perusahaan, maka semakin besar pula indeks perataan labanya. Ukuran perusahaan diindikasikan berpengaruh terhadap perataan laba. Hal ini dikarenakan perusahaan besar banyak mendapat perhatian dari para analis, investor dan pemerintah. Perusahaan besar dianggap mempunyai kemampuan lebih besar sehingga dibebani biaya yang lebih tinggi, misalnya biaya pajak yang lebih tinggi. Perusahaan besar cenderung untuk menghindari fluktuasi laba yang drastis. Apabila perusahaan besar melaporkan kenaikan laba yang drastis, akan dibebani pajak yang besar. Sebaliknya, apabila perusahaan melaporkan penurunan laba yang drastis, menunjukkan perusahaan tersebut sedang mengalami krisis atau kesulitan. Dengan demikian perusahaan cenderung untuk meratakan labanya.

Profitabilitas Berpengaruh Terhadap Perataan Laba

Profitabilitas perusahaan merupakan tingkat kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atau laba. Profitabilitas merupakan tingkat keuntungan bersih yang berhasil diperoleh perusahaan dalam menjalankan operasionalnya. Profit (laba) yang diperoleh perusahaan merupakan tolok ukur investor dalam menilai kinerja manajemen dan menjadi pertimbangan bagi keputusan investasi. Perhatian investor yang besar pada tingkat profitabilitas perusahaan dapat mendorong manajer untuk melakukan perataan laba. income smoothing berkaitan dengan jumlah aktual dari profit atau loss yang diperoleh oleh perusahaan. Perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang rendah memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan tindakan perataan laba. Profitabilitas yang rendah dianggap tidak menarik perhatian pihak investor, untuk mengimbanginya, maka perusahaan melakukan kebijakan perataan laba agar nilai perusahaan meningkat. Tindakan tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa walaupun perusahaan memiliki tingkat profitabilitas rendah, namun memiliki laba yang stabil dan memiliki risiko yang rendah.

Rasio Hutang Berpengaruh Terhadap Perataan Laba

Leverage ratio digunakan untuk mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang. Hal ini mengindikasikan seberapa besar tingkat risiko perusahaan yang dapat berdampak pada nilai perusahaan. Diduga bahwa semakin tinggi tingkat leverage ratio, maka semakin besar risiko yang harus ditanggung oleh investor. Oleh karena itu, agar tidak menambah tingkat risiko menjadi semakin tinggi, maka pihak manajemen cenderung tidak melakukan manipulasi terhadap laporan keuangan, termasuk manajemen terhadap laba. Hutang yang besar mengakibatkan risiko semakin meningkat. Jadi, semakin besar financial leverage, maka risiko yang ditanggung oleh pemilik modal dan kreditur juga akan semakin meningkat. Dengan menggunakan asumsi bahwa investor atau pihak kreditur adalah risk averse (menghindari atau menolak risiko), maka investor atau kreditur akan enggan menanamkan modal atau meminjamkan dananya bila perusahaan yang bersangkutan memiliki rasio leverage yang besar. Rasio leverage yang tinggi mengindikasikan tingginya hutang yang ditanggung oleh perusahaan. Semakin tinggi rasio leverage maka semakin tinggi risiko yang harus ditanggung oleh investor yang akan berinvestasi pada perusahaan, dan semakin rendah kecenderungan manajer untuk melakukan praktik perataan laba. Tindakan manajer untuk tidak melakukan perataan laba ini dikarenakan manajer ingin mengurangi tingkat risiko dengan melaporkan laba aktual dan untuk menunjukkan bahwa perusahaannya juga merupakan lahan yang menarik untuk menanamkan modal bagi para investor.

Pajak Berpengaruh Terhadap Perataan Laba

Pajak merupakan faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba dengan alasan bahwa manajer ingin membayar pajak seminimal mungkin. Laba yang terlalu tinggi akan meningkatkan pajak yang harus dibayar oleh perusahaan, sedangkan penurunan laba yang terlalu rendah akan memperlihatkan kinerja perusahaan yang buruk, oleh sebab itu terdapat kemungkinan bahwa manajemen membuat laba yang dilaporkan tidak berfluktuasi dengan cara melakukan perataan laba untuk menghindari pembayaran pajak yang terlalu tinggi. Hal ini akan membuat manajemen berusaha untuk menggeser laba dari satu tahun ke tahun berikutnya agar diperoleh pembayaran pajak yang paling minimal.

Kesimpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Ukuran Perusahaan Berpengaruh Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2019
  2. Profitabilitas Berpengaruh Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2019
  3. Rasio Hutang Berpengaruh Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2019
  4. Pajak berpengaruh terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2019

References

  1. Brigham and E. Houston, “Dasar-dasar Manajemen Keuangan Terjemahan. Edisi 10.,” Jakarta: Selemba Empat., 2018.
  2. I. Setyaningtyas, “Analsis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba (Income Smoothing).,” J. Ekon., 2014.
  3. Wulandari, “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Income Smoothing dan Pengaruhnya Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Yang Terdaftar di BEI.,” J. Akunt., 2013.
  4. A. L. Simamora, “Pengaruh Manajemen Laba terhadap Penghindaran Pajak Dimoderasi oleh Political Connection,” Skripsi, 2017.
  5. A. Sugiarto, “Analisa Pengaruh Beta, Size Perusahaan, Der Dan Pbv Ratio Terhadap Return Saham,” J. Din. Akunt., vol. 3, no. 1, pp. 8–14, 2012, doi: 10.15294/jda.v3i1.1939.
  6. E. Mariski and L. Susanto, “FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSISTENSI LABA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI,” J. Multiparadigma Akunt. Tarumanagara, 2020.
  7. E. S. Dewi Teresia and H. Hermi, “PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN, UKURAN PERUSAHAAN DAN KEPUTUSAN KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PERTUMBUHAN PERUSAHAAN SEBAGAI VARIABEL MODERATING,” J. Magister Akunt. Trisakti, 2016, doi: 10.25105/jmat.v3i1.4969.
  8. Winingsih, “Pengaruh Free Cash Flow, Leverage, Likuiditas, Profitabilitas, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba,” Skripsi, Univ. Muhammadiyah Surakarta, 2017.
  9. K. Setiadewi and I. Purbawangsa, “Pengaruh Ukuran Perusahaan Dan Leverage Terhadap Profitabilitas Dan Nilai Perusahaan,” E-Jurnal Manaj. Univ. Udayana, vol. 4, no. 2, p. 242366, 2015.
  10. I. Ghozali, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21 Update PLS Regresi. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2013.
  11. Sugiyono (2015:15) and Zainal Arifin (2011:29), “Metode Penelitian,” pp. 22–27, 2015.
  12. W. Sujarweni, Metodologi penelitian (bisnis & ekonomi). Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2015.
  13. M. Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan. Jakarta: Kencana, 2017.